74
PEMAKNAAN IDENTITAS DIRI KOMITE HIJABERS
COMMUNITY PADANG
Sitti Hutari Mulyani
Universitas Putra Indonesia YPTK Padang Email: [email protected]
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana Komite
Hijabers Community memaknai identitas dirinya sebagai bagian dari Hijabers Community. Subjek
pada penelitian ini adalah empat orang perempuan yang menjadi Komite Hijabers Community Padang dan tinggal di kota Padang.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan desain penelitian fenomenologis, yaitu untuk mengungkap, mempelajari, dan memahami suatu fenomena beserta konteksnya yang khas dan unik yang dialami oleh individu yang bersangkutan. Sumber utama data diperoleh dengan wawancara. Data analisis yang digunakan adalah analisis tematik (thematic analysis), untuk menemukan pola atau tema yang didapatkan dari data-data atau informasi pada saat melakukan wawancara serta mengungkapkan tema yang dimunculkan melalui teknik koding.
Pada penelitian ini diperoleh hasil penelitian yang disimpulkan bahwa dua diantara empat subjek tidak memenuhi keempat aspek identitas diri yaitu aspek sosial, keanggotaan dalam kelompok dan dukungan teman sebaya. Aspek fisik, penampilan fisik dan persepsi terhadap penilaian dari orang lain. aspek personal, kepercayaan diri, harga diri dan kontrol diri. dan aspek keluarga, perilaku remaja dan orang tua.
Kata kunci : Pemaknaan Identitas Diri, Hijabers Community
1.
PENDAHULUAN
Aspek fashion semakin menyentuh kehidupan sehari-hari setiap orang. Fashion mempengaruhi apa yang kita kenakan, kita makan, bagaimana kita hidup, dan bagaimana kita memandang diri sendiri. Fashion juga memicu pasar dunia untuk terus berkembang, produsen untuk berproduksi, pemasar untuk menjual dan konsumen untuk membeli. Cara berpakaian yang mengikuti fashion juga memperlihatkan kepribadian dan idealisme kita (dalam Savitrie, 2008)
Malcolm Bernard (dalam Berek, 2014) dalam karyanya „Fashion as Communication‟ menjelaskan bahwa Fashion merupakan fenomena cultural, dalam artian fashion merupakan cara yang digunakan suatu kelompok atau individu untuk mengonstruksi dan mengkomunikasikan identitasnya dan orang cenderung membuat penilaian berdasarkan atas apa yang dipakai oleh orang lain. Berbicara mengenai perkembangan Trend Fashion di Indonesia, tidak terlepas dari sikap masyarakat yang sudah lebih terbuka pada pengetahuan global karena majunya teknologi dan arus informasi. Hal ini mengakibatkan trend mode di Indonesia saat ini dalam perkembangan dunia
75 budaya barat, trend mode Indonesia tetap memunculkan gaya khas budaya Indonesia, seperti mode style berhijab yang menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim.
Seiring dengan berkembangnya fashion hijab di Indonesia saat ini juga berkembang komunitas hijab seperti yang dikenal dengan komunitas “hijabers”, dan masih banyak komunitas-komunitas hijab lainnya yang bermunculan dan memiliki cirri khas atau gaya masing-masing. Saat ini komunitas-komunitas tersebut sudah berkembang di beberapa daerah-daerah di Indonesia seperti Jakarta, Yogyakarta, Padang, Aceh, dan beberapa daerah lainnya.
Sarason (dalam wibowo, dkk, 2013) mendefinisikan komunitas sebagai suatu jaringan hubungan yang tersedia, saling mendukung, dan didalamnya orang-orang dapat memenuhi kebutuhan mereka. Komunitas memiliki makna yang lebih terbatas dibandingkan masyarakat. Menurut Duffy dan Wong (dalam wibowo, dkk, 2013) pengertian komunitas adalah pertama, merujuk ke suatu tempat atau daerah seperti pemukiman warga. Kedua, komunitas merupakan interaksi relasional atau ikatan social yang menghubungkan individu dalam suatu kebersamaan. Contohnya adalah komunitas Moge (motor gede; pengendara/pemilik sepeda motor berukuran besar), filatelis (pengumpul perangko), kuliner, dan sebagainya. Ketiga, komunitas dimaknai juga sebagai kekuatan kolektif. Makna ini terwujud dalam bentuk komunitas yang ada di kehidupan kita sehari-hari seperti rukun tetangga (RT), rukun warga (RW), karang taruna, majelis taklim, paroki gereja, termasuk juga organisasi professional dan peminatan seperti Ikatan Psikologi Seluruh Indonesia (IPSI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Dalam kehidupannya, manusia memang pada dasarnya akan merasakan kesulitan jika hidup tanpa bantuan orang lain. Sebab kehidupan berhubungan erat dengan interaksi yang hanya terjadi jika melibatnya dua orang atau lebih. Interaksi manusia dalam masyarakat menjadi lebih kompleks ketimbang hanya interaksi antar dua pribadi. Sebab, disaat itulah manusia akan mulai mencari jati diri melalui kebersamaan dengan orang lain sekaligus membentuk identitas diri (Hardiyanti, 2012).
Identitas diri jelas diperlukan individu agar dapat menjalankan kehidupannya. Individu yang tidak memiliki pemahaman yang baik mengenai dirinya, akan lebih besar kemungkinannya hidup dalam ketidakpastian serta tidak mampu menyadari keunggulan maupun kekurangan yang ada pada dirinya. Individu tersebut akan menjadi individu yang tidak percaya diri dan tidak memiliki kebanggaan pada dirinya sendiri. Identitas diartikan sebagai cara hidup tertentu yang sudah dibentuk pada masa-masa sebelumnya dan menentukan peran sosial yang harus dijalankan, Rumini dan Sundari (Purwanti, 2013). Seseorang akan mengevaluasi kembali pemahaman tentang sifat seseorang dengan melihat apa yang sebenarnya penting untuk seseorang berkaitan dengan identitas diri (dalam Purwanti, 2013).
Salah satu ciri identitas dalam sebuah kelompok adalah cara berbusana dan berperilaku anggota kelompok. Busana adalah cerminan status yang dapat menginformasikan tingkat ekonomi dan status sosial pemakainya, Surtiretna (dalam Fachri, 2013). Demikian juga dengan penganut agama islam yang memiliki jati diri tersendiri dalam berbusana terutama para muslimah, menggunakan busana tertutup ditambah dengan penutup kepala yang disebut jilbab.
Jilbab menurut Walid (dalam Fachri, 2013) adalah pakaian yang mewujudkan upaya untuk penutupan aurat sesempurna mungkin. Dikalangan bangsa Arab sebelum Islam, perempuan yang berjilbab umumnya dipandang sebagai perempuan yang merdeka, Surtiretna (dalam Fachri, 2013). Merdeka disini dalam artian sebagai perempuan yang suci dan bermartabat, mereka bukan budak-budak yang bisa direndahkan. Setelah Islam datang, Islam memerintahkan kepada seluruh umatnya yang perempuan agar berjilbab dengan tujuan untuk menutup aurat dan agar mudah dikenal.
Melihat fenomena yang terjadi dilapangan mengenai perkembangan komunitas Hijabers beserta hal-hal yang menyertainya, membuat peneliti merasa tertarik untuk lebih melihat Pemaknaan Identitas Diri Komite Hijabers Community Padang di Kota Padang.
76
2.
TINJAUAN LITERATUR
a) Pengertian Identitas Diri
Identitas diri merupakan prinsip kesatuan yang membedakan diri seseorang dengan orang lain. Individu harus memutuskan siapakah dirinya sebenarnya dan bagaimanakah peranannya dalam kehidupan nanti, Kartono dan Gulo (dalam Purwanti, 2013). Identitas menurut Chaplin (2011) adalah (1) diri atau aku individual, (2) kepribadaian, (3) suatu kondisi kesamaan dalam sifat-sifat karakteristik yang pokok.
Dalam ilmu psikologi, konsep identitas umumnya menunjukan kepada suatu
kesadaran akan kesatuan dan kesinambungan pribadi, Ahmadi dan shaleh (dalam Purwanti, 2013) Munculnya perasaan identitas diri. Anak mulai sadar akan identitasnya yang berlangsung terus sebagai seorang yang terpisah. Anak mempelajari namanya, menyadari bahwa bayangan dalam cermin hari ini adalah bayangan dari orang yang sama seperti yang dilihatnya kemarin, dan percaya bahwa perasaan tentang ”saya” atau ”diri” tetap bertahan dalam menghadapi pengalaman-pengalaman yang berubah-ubah.b) Aspek-aspek Idnetitas Diri
Menurut Guneri dkk (dalam Purwanti, 2013) aspek-aspek identitas diri yaitu:
a. Sosial, keanggotaan dalam kelompok dan pemenuhan peran, merupakan aspek utama dalam pembentukan identitas sosial remaja. Keanggotaan dalam kelompok merupakan fasilitas penting dalam menunjang validasi diri. Penerimaan teman sebaya juga memiliki pengaruh yang penting dalam pembentukan identitas diri remaja.
b. Fisik, penampilan fisik memiliki pengaruh penting terhadap identitas diri. Untuk sebagian remaja penilaian dari orang lain berkaitan dengan penampilan fisik mereka memliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan penilaian diri mereka sendiri karena hai ini mempengaruhi persepsi mereka.
c. Personal, meliputi karakteristik kepribadian seperti harga diri, kepercayaan diri dan kontrol diri, selain itu juga berhubungan dengan identitas jenis 23 kelamin yang kuat, dimana pria merasa lebih puas dengan identitas jenis kelamin mereka.
d. Keluarga, memegang peranan penting tergadap pembentukan identitas diri dan perilaku remaja, orang tua adalah tokoh yang paling penting dalam perkembangan identitas diri remaja.
c) Pengertian Komunitas
Menurut Harmaini dkk (2016), Manusia adalah makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari kelompok, Manusia saling membutuhkan satu sama lain. Ketergantungan manusia menjadikan manusia suka hidup berkelompok. Kelompok (group) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia seperti keluarga, organisasi sosial, kelompok olahraga dan musik. Kelompok juga banyak dibahas dalam perspektif keislaman.
Harmaini dkk (2016), Sejak awal islam sudah menjelaskan bagaimana keberadaan manusia di muka bumi ini tidak bisa lepas dari kehidupan sosial. Hal ini ditunjukkan dengan proses penciptaan manusia secara berpasang-pasangan, bersuku-suku, yang bertujuan saling mengenal satu sama lain. Islam sangat menganjurkan Muslim hidup berkelompok atau melakukan ibadah secara berjama‟ah. Banyak Al-Qur‟an dan hadist berbicara pentingnya hidup berkelompok. Diantaranya dalam Qur‟an Surah Al Hujurat: 13 berikut ini:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
77
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang ynag paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Al Hujurat: 13)”
Ruang lingkup kelompok dapat dilihat mulai yang satuan terkecil, yaitu hubungan dua orang tua atau lebih, seperti hubungan dyadic, tim, dan keluarga sampai dengan satuan terluas (global) yaitu, Negara, PBB, Agama, Budaya. Karakteristik kelompok berdasarkan ruang lingkupnya akan berimplikasi pada karakteristik dan dinamika kelompok yang berbeda.
d) Pengertian Hijab
Jilbab atau hijab merupakan pakaian (penutup) wanita yang menutupi seluruh bagian auratnya. Jilbab atau hijab tidak hanya ada pada masa Islam, sebelum masa Islam, hijab sudah dikenal oleh manusia di bumi. Bangsa Yunani Kuno, Romawi, Arab Jahiliyah sudah mengenal istilah hijab tersebut. Bangsa Yunani, sebagai komunitas masyarakat kuno yang paling maju, juga telah mengenal hijab. Pakaian ini telah tersebar luas di rumah-rumah. Mereka membangun dua macam rumah, yang satu untuk laki-laki dan lainya untuk wanita. Kaum wanita mereka tidak berbaur bebas dengan laki-laki dalam sebuah majlispertemuan ataupun tempat umum.
Pemakaian jilbab bisa meredam nafsu laki-laki ketika melihat seorang perempuan. Dalam islam, jilbab tidak mencegah wanita untuk berpartisipasi dalam aktifitas-aktifitas sosial, kebudayaan, dan ekonomi. Hal ini dapat kita lihat bahwa banyak politisi, artis, dan tokoh-tokoh wanita yang tetap bisa menjalankan aktifitasnya dengan menggunakan baju yang tertutup atau jilbab. Munculnya hijab atau jilbab ini pada dasarnya merupakan sarana yang dipakai oleh wanita untuk mendatangkan rasa aman dalam dirinya. Seiring dengan perkembangan jaman, jilbab atau pakaian tertutp ini kehilangan eksistensinya (Riduwan, 2013).
3.
METODOLOGI
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan fenomenologi merupakan salah satu model penelitian kualitatif, fenomenologi adalah adanya keterkaitan antara subjek, lokasi, fenomena yang dialami (Alsa, 2007). Subjek dalam penelitian ini terdiri dari 4 orang. Penelitian ini melibatkan responden yang memiliki karakteristik:
a. Perempuan yang menjadi Komite Hijabes Community Padang. b. Bersedia menjadi responden.
Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dengan menggunakan handphone untuk merekam semua jawaban subjek selama proses wawancara berlangsung.
Wawancara dilakukan dengan menggunakan guide interview atau pedoman wawancara.
4.
ANALISA DAN HASIL
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap dua subjek, didapatkan hasil bahwa :
a. Sosial
Keempat subjek yang menjadi komite hijabers community, tiga diantaranya baru bergabung setahunan lebih, sedangkan satu subjek lainnya adalah ketua sekaligus founder
78 dari Hijabers Community. Tiap subjek memiliki peran ataupun jabatan masing-masing di dalam komunitas seperti ketua, sekretaris, keanggotaan, dan bendahara. Teman sebaya keempat subjek sangat mendukung keputusan mereka untuk menjadi komite HCP. Keempat subjek bergabung di HCP juga karena adanya dukungan dari teman-teman sebaya yang terlebih dahulu sudah bergabung. Hal ini sesuai dengan teori Guneri (dalam Purwanti, 2013) yang menyatakan bahwa penerimaan teman sebaya memberi pengaruh penting dalam pembentukan identitas diri.
Berdasarkan hal tersebut dapat peneliti simpulkan bahwa aspek sosial dapat membentuk atau mempengaruhi identitas diri seseorang.
b. Fisik
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada empat orang subjek, di peroleh hasil bahwa tidak semua subjek memnuhi aspek fisik. Subjek O tidak merasakan adanya perubahan fisik dari segi penampilan pada dirinya setelah bergabung dengan Hijabers
Community Padang. Subjek I merasakan bahwa ada perubahan fisik dari segi penampilan
terhadap dirinya seperti sekarang subjek bisa menggunakan hijab yang lebih stylish dan
trendy karena ketika subjek ingin bergabung dengan Hijabers Community pun subjek
melihat bahwa perempuan yang tergabung didalamnya terlihat lebih fashionable dan
stylish. Subjek R juga tidak mengatakan adanya perubahan fisik dari segi penampilan
dirinya setelah subjek bergabung dengan Hijabers Community karena menurut R penampilannya tetap biasa saja seperti seblum bergabung dengan hijabers. Subjek T mengatakan bahwa ada perubahan fisik dari segi penampilan pada dirinya seperti subjek labih fashionable.
Menurut Guneri (Purwanti, 2013) aspek fisik sangat penting dalam identitas diri, karena untuk sebagian orang penilaian penampilan fisik dari orang lain lebih penting daripada penilaian mereka sendiri karena hal ini mempengaruhi persepsi mereka.
c. Personal
Berdasarkan hasil penelitian, aspek personal tidak secara signifikan mempengaruhi keempat subjek dalam pembentukan pemaknaan identitas diri. Subjek O mengatakan bahwa ada batasan usia untuk menjadi komite atau anggota hijabers community yaitu usia 20 tahun keatas dan subjek O tidak merasa adanya perubahan rasa percaya diri sebelum dan setelah bergabung dengan HCP hanya saja subjek O lebih tau bagaimana cara bicara yang baik terhadap orang yang lebih tua ataupun sebaya, namun O merasa semenjak itu ia lebih bisa mengontrol diri, emosi, dan sikap. Subjek I mengatakan tidak ada batasan usia untuk menjadi komite dan anggota hijabers community karena setiap wanita muslim berjilbab boleh bergabung, subjek I mengatakan rasa percaya mengalami perubahan, I menjadi lebih percaya diri tampil di depan umum dan I lebih bisa mengontrol diri dan lebih sabar. Subjek R mengatakan tidak ada batasan usia untuk menjadi komite dan anggota hijabers karena siapa saja boleh bergabung yang penting perempuan berjilbab, hanya saja tidak ada anggota yang di bawah usia 20 tahun, subjek R juga mengatakan bahwa rasa percaya diri nya terbentuk bukan karena dia menjadi komite hijabers melain kan karena subjek sudah dari dulu percaya diri, namun subjek merasa lebih bisa mengontrol diri dibanding yang dulu. Subjek T mengatakan tidak ada batasan usia untuk menjadi komite dan anggota hijabers, tetapi rata-rata anggotanya yang paling muda adalah mahasiswa, subjek T mengatakan bahwa rasa percaya dirinya juga tidak di pengaruhi karena dia menjadi komite hijabers, melainkan T sudah terbiasa bergabung dengan organisasi-organisasi dikampus, sehingga bagi T itu sama saja, namun T merasa sekarang ia lebih bisa mengontrol diri.
79 Menurut teori Guneri (dalam Purwanti, 2013) mengatakan bahwa harga diri, kepercayaan diri, dan control diri berhubungan dengan identitas diri.
d. Keluarga
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap empat orang subjek diperoleh hasil bahwa subjek O awalnya tidak memberitahukan kepada orang tuanya bahwa ia ingin bergabung dengan hijabers, tetapi setelah bergabung dan orang tua O tau akhirnya O mendapat dukungan dari keluarganya untuk bergabung dengan hijabers karena keluarganya tau hijabers mempunyai banyak kegiatan positifnya. Subjek I juga mendapatkan dukungan dari suami menjadi komite hijabers Karena suami I tau komunitas tersebut memberikan hal-ha positif karena sering dilakukannya pengajian membahsa seputar agama. Subjek R tidak dilarang untuk bergabung dengan komunitas hijabers oleh keluarganya selama kegiatan yang diikuti R positif. Subjek T mendapatkan dukungan yang sangat dari orang tuanya ketika mengatakan ingin bergabung dengan hijabers, bahkan ibu T sendiri juga ingin hadir ke acara-acara hijabers.
Menurut Guneri (dalam Purwanti, 2013) mengatakan bahwa Keluarga, memegang peranan penting tergadap pembentukan identitas diri dan perilaku remaja, orang tua adalah tokoh yang paling penting dalam perkembangan identitas diri remaja.
5.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah peneliti uraikan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat beberapa aspek yang mempengaruhi pemaknaan identitas diri komite Hijabers Community Padang. Secara umum aspek yang mempengaruhi komite dalam memaknai identitas dirinya sebagai anggota Hijabers adalah sosial, personal, keluarga. Berdasarkan hal tersebut dapat peneliti simpulkan bahwa aspek sosial dapat membentuk atau mempengaruhi identitas diri seseorang. aspek fisik sangat penting dalam identitas diri, karena untuk sebagian orang penilaian penampilan fisik dari orang lain lebih penting daripada penilaian mereka sendiri karena hal ini mempengaruhi persepsi mereka. mengatakan bahwa harga diri, kepercayaan diri, dan control diri berhubungan dengan identitas diri. Keluarga, memegang peranan penting tergadap pembentukan identitas diri dan perilaku remaja, orang tua adalah tokoh yang paling penting dalam perkembangan identitas diri remaja.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
Harmaini, dkk. 2016. “Psikologi Kelompok”. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.[2] Riduwan, Faizol. 2013. “Makna Jilbab Bagi Komunitas Hijabers Surabaya”. Jurnal Sosiologi Islam. IAIN Sunan Ampel Surabaya.
[3] Rahma, Fadilah Aulia & Reza, Muhammad. 2013. “Hubungan Antara Pembentukan Identitas Diri Ddengan Perilaku Konsumtif Pembelian Merchandise Pada Remaja”. Jurnal. Universitas Negeri Surabaya.
[4] Alsa, Asmadi. 2007. “Pendekatan Kuantitatif & Kualitatif Serta Kombinasinya Dalam Penelitian Psikologi”. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
[5] Moleong, Lexy J. 2012. “Metodologi Penelitian Kualitatif”. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. [6] Poerwandari, E Kristi. 2011. “Pendekatan Kualitatif Untuk Penelitian Perilaku Manusia”. Jawa Barat:
LPSP3 UI.
[7] Sugiyono. 2013. “Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D”. Bandung: Alfabeta. [8] Papalia, dkk. 2009. “Human Development”. Jakarta: Salemba Humanika.
80 [10] Wibowo, dkk. 2013. “Psikologi Komunitas”. Jawa Barat: LPSP3 UI.
[11] Fachri, Nurul Fadhillah. 2013. “Pemaknaan Identitas Diri Anggota Hijabers Community Di Yogykarta”. e-Skripsi. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
[12] Hardiyanti, Rima. 2012. “Komunitas Jilbab Kontemporer Hijabers Di Kota Makassar”. e-Skripsi. Universitas Hasanuddin Makassar.
[13] Mulyono, Ninin Kholida. 2007. “Proses Pencarian Identitas Diri Pada Remaja Muallaf”. e-Skripsi. Universitas Diponegoro Semarang.
[14] Purwanti, Fisnanin. 2013. “Identitas Diri Remaja Pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Palembang Ditinjau Dari Jenis Kelamin”. e-Skripsi. Universitas Negeri Semarang.
[15] Oppong, Steward Harrison. 2013. “Religion and Identity”. American International Journal of