• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

46

BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Profil Putusan MK

Dalam bagian ini penulis ingin memberikan gambar besar dari putusan MK yang menjadi dasar konstitusionalitas berlakunya sistem pemilihan noken atau aklamasi di Papua. Profil putusan MK ini terbagi dalam dua bagian penting, yaitu latar belakang permohonan yang diajukan dan pertimbangan yang dipakai MK terlebih yang pertimbangan-pertimbangan yang mempunyai pengaruh besar pada pemberlakuan sistem pemilihan noken.

1. Latar Belakang Permohonan

Duduk perkara Putusan MK Nomor 47-81/PHPU.A-VII/2009 memperkarakan sengketa hasil pemilihan umum yang dimohonkan oleh dua orang Calon Anggota DPD Provinsi Papua, yaitu Pdt. Elion Numberi (Rohaniawan) selaku Pemohon I dan Hasbi Suaib (Swasta) selaku Pemohon II yang merasa bahwa haknya dicederai dalam proses penghitungan suara hasil pemilihan umum yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum pusat (Termohon I), Komisi Pemilihan Umum Provinsi Papua (Turut Termohon II), serta Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Yahukimo (Turut Termohon III).

(2)

47

Terdapat dua permasalahan dalam duduk perkara atau latar belakang yang dimohonkan oleh Pemohon I (Pdt. Elion Numberi), yaitu (a.) Pemohon seharusnya merupakan calon anggota DPD Provinsi Papua yang meraih peringkat suara terbanyak ke-5 (lima) berdasarkan Lampiran II.32. Surat Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 255/Kpts/KPU/TAHUN 2009 tentang Penetapan dan Pengumuman Hasil Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota Secara Nasional Dalam Pemilu Tahun 2009, hanya saja karena terdapat ketidakcermatan penyusunan peringkat suara sah calon, yang di mana dalam susunan peringkat tersebut tidak terdapat peringkat 1 (satu), sehingga peringkat tertinggi adalah 2 (dua) dan peringkat suara pemohon menjadi peringkat 6 (enam); (b.) Permasalahan kedua yang dimohonkan oleh Pemohon I, karena menurut pemohon terdapat perolehan suara fiktif di Kabupaten Provinsi Papua.

Sedangkan yang menjadi permasalahan dalam duduk perkara Pemohon II (Hasbi Suaib) adalah bahwa proses penghitungan suara calon anggota DPD Provinsi Papua di Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Mimika dan Kabupaten Nabire dilaksanakan tidak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD, karena berdasarkan keterangan saksi Pemohon, di empat kabupaten tersebut, KPUD tidak melakukan penghitungan dan rekapitulasi perolehan suara calon anggota DPD. Rekapitulasi hanya dilakukan di tingkat KPU Provinsi Papua. Bukti dari

(3)

48

tidak dilakukannya rekapitulasi tersebut, hingga batas waktu yang ditentukan, baik Pemohon maupun saksi Pemohon, tidak pernah mendapatkan hasil rekapitulasi perolehan suara calon anggota DPD. Alasan lain yang menguatkan karena kenyataannya, di ke empat kabupaten tersebut tidak dilakukan pengumuman perolehan suara tingkat PPS sebagaimana yang disyaratkan oleh Pasal 181 UU Nomor 10 Tahun 2008.

2. Pertimbangan MK

Pertimbangan Hukum MK terbagi dalam beberapa bagian, bagian pertama mahkamah menimbang tentang kewenangannya untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo. Kedua, tentang kedudukan hukum (legal standing) dari para pemohon yang mengajukan permohonan. Ketiga, tentang tenggang waktu pengajuan permohonan. Keempat adalah pertimbangan MK tentang pokok permohonan yang diajukan.

Namun dalam bagian ini penulis hanya akan membahas pertimbangan MK tentang pokok permohonan yang diajukan. Dalam pokok permohonan berdasarkan fakta-fakta yang telah dicermati dari permohonan dan keterangan para Pemohon, jawaban Termohon dan Turut Termohon, bukti-bukti tertulis, serta keterangan saksi hukum tersebut Mahkamah menimbang hal-hal berikut, bahwa pemilihan umum di Kabupaten Yahukimo tidak diselenggarakan berdasarkan peraturan

(4)

perundang-49

undangan yang berlaku (UU 10/2008 yang telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) karena tidak dengan cara pencontrengan surat suara, melainkan dengan “kesepakatan warga” atau “aklamasi” dan hasilnya tetap dimasukkan ke dalam rekapitulasi hasil penghitungan suara yang dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2009 di KPU Provinsi Papua.

Tetapi di lain sisi, Mahkamah juga dapat memahami dan menghargai nilai budaya yang hidup di kalangan warga Papua (Yahukimo) dalam hal pemilihan secara kolektif (kesepakatan warga atau aklamasi), karena menurut pertimbangan mahkamah jika dipaksakan pemilihan umum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dikhawatirkan akan timbul konflik di antara kelompok-kelompok warga setempat. Bagian pertimbangan Mahkamah ini merupakan ratio decidendi dari topik utama yang diangkat oleh penulis, yang akan diuraikan lebih jauh dalam pembahasan.

B. Sistem Noken Dalam Demokrasi

1. Pertemuan Demokrasi Pancasila dan Luber jurdil

Kita mengetahui bahwa adanya pemilihan umum dengan prinsip LUBER JURDIL merupakan indikasi atau hasil dari adanya demokrasi

(5)

50

dalam suatu negara. Namun bagaimana dengan demokrasi Pancasila? penggunaan prinsip ini dalam demokrasi Pancasila menjadi dilematis, dikarenakan salah satu nilai yang dianut oleh demokrasi Pancasila adalah mengedepankan musyawarah mufakat, hal ini berarti yang seharusnya diutamakan dalam pemilu bukanlah one man one vote melainkan pemilihan secara aklamasi atau sama seperti sistem noken yang mengedepankan musyawarah mufakat.

Namun juga disini penulis melihat bahwa pemilu dengan LUBER JURDIL sangat sarat dengan dengan demokrasi Pancasila. Sama halnya dengan salah satu prinsip Yang dikemukakan oleh Jimly Asshidiqie tentang demokrasi Pancasila bahwa :

“Kebebasan / persamaan adalah dasar demokrasi. Kebebasan dianggap sebagai sarana mencapai kemajuan dan memberikan hasil maksimal dari usaha orang tanpa pembatasan dari penguasa. Dengan prinsip persamaan semua orang dianggap sama tanpa dibeda-bedakan dan memperoleh akses dan kesempatan bersama untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensinya. Kebebasan yang dikandung dalam demokrasi Pancasila ini tidak berarti Free Fight Liberalism yang tumbuh di Barat, tapi kebebasan yang tidak mengganggu hak dan kebebasan orang lain.”1

Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa Demokrasi Pancasila mengakui dan menghormati hak dan kewajiban dari masing-masing individu khususnya dalam penentuan nasib individu itu sendiri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemilu dengan LUBER JURDIL merupakan bentuk aktualisasi dari pengakuan dan penghormatan terhadap hak dan kewajiban individu dalam demokrasi Pancasila. Dengan demikian dengan

1

(6)

51

adanya adanya pemilu yang LUBER dan JURDIL merupakan indikasi atau hasil dari terciptanya demokrasi dalam suatu negara. Hasil pemilu seperti inilah yang diharapkan oleh masyarakat banyak, karena pemilu ini memberikan kebebasan kepada masyarakat dalam memilih. Kebebasan dalam memilih menjauhkanmasyarakat dari tekanan baik secara fisik (uang maupun kekerasan) maupun tekanan secara emosional (hati nurani) dalam memilih pemimpin.

2. Sistem Noken dan Demokrasi

Seperti yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya, walaupun sulit untuk mendefinisikan tentang demokrasi, tetapi pada intinya demokrasi berarti berbicara tentang kedaulatan rakyat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bentuk kedaulatan rakyat yang secara langsung dan tidak langsung ini pun menjadi dilematis dalam penggunaan sistem pemilihan noken. Partisipasi rakyat secara langsung dalam pemilu untuk memilih wakil rakyat (legislative) maupun memilih pemimpin rakyat (eksekutif) tentu sangat demokratis, karena bentuk kedaulatan rakyat diaktualisasikan melalui pemberian suaranya secara langsung.

Berbeda dengan partispasi rakyat secara tidak langsung dalam sistem pemilihan noken. Di mana dalam hal pemilihan wakil rakyat dan pemimpin rakyat justru diwakilkan oleh kepala suku. Jimly Asshiddqie mengatakan bahwa ada perbedaan pergantian pejabat di negara-negara otoriterian dan totaliter dengan negara demokrasi. Di negara-negara totaliter dan otoritarian, pergantian pejabat ditentukan oleh sekelompok

(7)

52

orang saja. Kelompok orang yang menentukan itu bersifat oligarkis dan berpuncak di tangan satu orang. Sementara di lingkungan negara-negara yang menganut paham demokrasi, praktik yang demikian itu tidak dapat diterapkan. Di negara-negara demokrasi, pergantian pejabat pemerintahan eksekutif dan legislatif ditentukan secara langsung oleh rakyat, yaitu melalui pemilihan umum (general election) yang diselenggarakan secara periodik.

Sifat oligarkis dari sistem noken dikatakan oleh Titi Anggraini, selaku direktur eksekutif Perludem saat wawancaranya bersama dengan CNN. Titi mengatakan “ dalam sistem noken cenderung ada main mata oleh kandidat (caleg/calon kepala daerah) dengan kepala suku dalam pesta bakar batu, di sini terjadi marketing politik, tetapi marketing politik tersebut tidak kepada pemilih melainkan kepada kepala suku untuk membeli dukungan.”2

3. Sistem Noken dan Demokrasi Pancasila

Berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi Pancasila yang dibagikan oleh Jimly Asshiddiqie pada bab sebelumnya, yaitu adanya 1.)

2

Femi afriadi, “Polemik Sistem Noken Pilkada Papua”, CNN Indonesia, 31 Maret 2018,

(8)

53

kebebasan/persamaan 2.) Kedaulatan rakyat, dan 3.) pemerintahan yang terbuka dan bertanggung jawab.3

Jimly Asshiddiqie menjelaskan bahwa dengan adanya prinsip persamaan semua orang dianggap sama tanpa dibeda-bedakan dan

memperoleh akses dan kesempatan bersama untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensinya. Prinsip ini merepresentasikan sila ke-5 yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Bagian ini dikaitkan dengan pemilu sebagai pesta demokrasi seharusnya mampu mengintegrasikan macam-macam budaya yang berbeda dalam suatu prosedur pemilu yang sama secara nasional, sehingga dapat menimbulkan rasa keadilan dan persamaan baik bagi pemilih maupun bagi kandidat yang dipilih.

Sehingga jika melihat sistem pemilihan noken di papua yang mempunyai prosedur pelaksanaan berbeda dari daerah-daerah lain ini, justru tidak merepresentasikan prinsip persamaan yang dianut dalam demokrasi Pancasila. Lebih jauh lagi prinsip persamaan ini harusnya dapat dirasakan tiap rakyat, terutama dalam hal pemberian hak suaranya dalam pesta demokrasi.

Prinsip kedua yaitu kedaulatan rakyat, seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya tentang sistem noken dan demokrasi. Kedaulatan rakyat harus diaktualisasikan secara langsung, bukan berarti bahwa semua

3

Jimly Asshiddiqie, Hukum Tata Negara & Pilar-Pilar Demokrasi,Sinar Grafika,Jakarta,2011, hal 198-234, dikutip dari Agustam, “Konsepsi dan Implementasi Demokrasi Pancasila Dalam Sistem

(9)

54

rakyat harus memimpin dan menjadi wakil atas dirinya dalam suatu negara kesatuan dengan begitu saja. Tetapi dalam kedaulatan rakyat sama seperti yang dikatakan oleh Solon, John Locke, Montesque, dan JJ Rouseau bahwa “kekuasaan rakyatlah yang tertinggi, yang mana memberikan sebagian haknya pada penguasa untuk kepentingan bersama.” Sehingga karena dalam menjalankan kedaulatan rakyat, rakyat diwakilkan oleh pemimipin dan wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat, maka tidak tepat apabila pilihan terhadap pemimpin dan wakilnya harus diwakilkan oleh pihak lain, dalam konteks sistem noken ini adalah kepala suku.

Prinsip ketiga yang dikemukakan oleh Jimly Asshiddiqie adalah prinsip pemerintahan yang terbuka dan bertanggung jawab. Dalam

prinsip ini ada tiga poin yang bisa dikaitkan dengan penerapan sistem noken, yaitu adanya dewan perwakilan rakyat yang representative, pemilihan umum yang demokratis.

Poin pertama, DPR, DPRD, dan DPD sebagai lembaga yang mewakili rakyat dalam pemerintahan seharusnya dipilih langsung oleh rakyat. Dalam sistem noken yang di mana suara rakyat dalam pemilu cenderung diwakilkan oleh kepala suku rentan terhadap marketing politik yang salah. Walaupun memang dalam pelaksanaan sistem noken diawali dengan duduk bersama atau musyawarah, namun keputusan akhir cenderung dapat diambil sepihak oleh kepala suku, terlebih dengan sifat warga setempat yang bergantung dan tunduk pada keputusan kepala suku, pada akhirnya menghilangkan kedaulatan rakyat itu sendiri. Para kandidat yang

(10)

55

seharusnya meyakinkan rakyat dengan visi misi nya yang menguntungkan rakyat, tidak perlu meyakinkan itu, melainkan cukup dengan meyakinkan kepala suku, dan disinilah rentan terjadinya money politik, seperti kata pepaatah “kalau mau menangkap ular harus dari kepalanya.”

Poin kedua, pemilu yang demokratis, Jimly Asshiddiqie mengatakan tujuan pemilu adalah untuk melaksanakan kedaulatan rakyat dan melaksanakan hak asasi warga negara. untuk menentukan jalannya negara, rakyat sendirilah yang harus mengambil keputusan melalui perantaraan wakil-wakilnya yang akan duduk di lembaga legislatif. Hak-hak politik rakyat untuk menentukan jalannya pemerintahan dan fungsi-fungsi negara dengan benar menurut UUD adalah hak rakyat yang sangat fundamental. Karena itu, penyelenggaraan pemilihan umum, di samping merupakan perwujudan kedaulatan rakyat, juga merupakan sarana pelaksanaan hak-hak asasi warga negara sendiri.

Sehingga dari poin kedua ini, dapat dilihat bahwa agar berjalannya prinsip pemerintahan yang terbuka dan bertanggungjawab dalam demokrasi Pancasila, maka pemberian hak politik rakyat yang sangat fundamental yaitu memilih wakil-wakilnya sendiri di pemerintahan tidak dapat diwakilkan sebagai wujud kedaulatan rakyat dan bukan justru wujud dari kedaulatan beberapa orang atau elite tertentu (oligarkis).

(11)

56

Berbicara tentang sistem pemilihan noken atau aklamasi tentu sangat berkaitan dengan Hak Warga Negara, di mana dalam sistem pemilihan noken terdapat dua hak warga negara yang saling bersinggungan satu sama lain. Kedua hak warga negara tersebut adalah hak budaya dari warga adat dan hak politik warga negara.

Persekutuan hukum atau warga hukum adat (rechtsgemeenschaap) merupakan subyek hukum, sebagaimana pendapat dari Van Vollenhoven.4 Sebagai subyek hukum yang diakui, maka ada hak yang harus dipenuhi. Hak warga adat secara konstitusional diakui di dalam UUD 1945 pada Pasal 18B ayat (2) yang menyatakan : “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan warga hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan warga dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.”. Materi muatan Pasal 18B ayat (2) ini sebagai syarat eksistensi warga hukum adat di Indonesia yang memuat 4 syarat yaitu: pertama,”sepanjang masih hidup” maksudnya daerah atau teritorial warga adat masih bisa mempertahankan eksistensi mereka dan tidak pudar karena pengaruh dari luar komunitasnya. Para anggota persekutuan hukum adat tetap diikat dengan pertalian darah yang kuat. Kedua,”sesuai dengan perkembangan warga” yaitu hal-hal yang menjadi ketentuan-ketentuan tradisionalnya, tidak boleh bertentangan dengan kemajuan warga dewasa

4

Dominikus Rato, Pengantar Hukum Adat, LaksBang PRESSindo, Yogyakarta, 2009, hal., 105.

(12)

57

ini yang tidak dapat menghindarkan dirinya dari pengaruh global. Ketiga, ”prinsip negara kesatuan Republik Indonesia” yang berarti hukum yang diberlakukan dalam warga tersebut benar-benar murni suatu perwujudan dari ketentuan-ketentuan atau kebiasaan-kebiasaan tradisional yang telah secara turun-temurun dilaksanakan. Keempat, ”yang diatur dalam Undang-Undang” berarti bahwa hukum adat yang masih dipegang erat oleh warga hukum adat telah mendapat legitimasi dalam UUD 1945 (Pasal 18B) dan UU.

Sistem noken jika ditinjau dari empat syarat di atas, maka sebenarnya yang terpenuhi hanya syarat pertama, mengapa? Syarat pertama terpenuhi karena eksistensi warga adat di Yahukimo yang masih terjaga sampai sekarang, bentuk eksistensi tersebut dapat dilihat dengan sistem politik adat yang masih terjaga, yaitu sistem kepemimpinan bigman, atau dapat dilihat juga dari upacara adat “bakar batu” yang masih terus dilakukan sebagai bentuk ungkapan syukur warga terhadap momen-momen bahagia seperti kelahiran, perkawinan, dan penobatan kepala suku, atau pun bentuk perayaan sebelum melaksanakan pemilihan umum. Sehingga dapat dilihat dengan jelas bahwa sistem noken memang berada dalam lingkungan warga hukum adat yang hidup dan menjaga eksistensi budaya mereka.

Syarat kedua, “sesuai dengan perkembangan warga” tidak terpenuhi. Dalam skala nasional, pemilu menjadi sebuah ikon yang mempersatukan setiap lapisan warga yang berbeda-beda di tengah keberagaman Nusantara

(13)

58

dengan sistem pemilihan yang kita kenal dengan “one man one vote”. Sistem pemilihan umum telah dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mempersatukan setiap latar belakang suku budaya yang berbeda dan beragam di Indonesia. walaupun terdapat beragam etnis dengan bentuk pemerintahan yang berbeda, misalnya mayoritas daerah jawa yang merupakan bekas kerajaan (monarki), dan yang masih ada sampai sekarang seperti kesultanan Yogja dan solo, tetapi tidak membiarkan kebudayaan tersebut yang bersifat monarki untuk menggeser nilai demokrasi dalam NKRI. Tapi juga di sisi lain, pemerintah NKRI tetap menjaga, menghormati, dan menghargai nilai-nilai budaya warga setempat, hanya saja bentuk penghormatan tersebut bersifat lokal saja dalam lingkup warga adat tersebut dan tidak bercampur aduk dengan pemilu yang lingkup dan dampaknya lebih luas yaitu pada skala regional serta nasional.

Syarat ketiga “prinsip negara kesatuan Republik Indonesia”, dikatakan di atas bahwa syarat ini berarti hukum adat harus benar-benar murni suatu perwujudan dari ketentuan-ketentuan atau kebiasaan-kebiasaan tradisional yang telah secara turun-temurun dilaksanakan. Perlu di kritisi bahwa pemberlakuan sistem noken tidak serta merta karena alasan budaya, tetapi merupakan bagian dari kegagalan pemerintah dalam menyediakan infrastruktur yang memadai dan berdampak pada kesulitan distribusi bahan logistic pemilu. Alasan budaya tidak tepat dipakai, karena dalam budaya warga adat setempat, pemilihan kepala suku atau big man

(14)

59

sendiri tidak diberlangsungkan dengan sistem noken, melainkan

achievement atau pencapaian seperti yang di jelaskan dalam bab 2. Sistem

noken baru muncul ketika pemilu pertama di Papua pada Tahun 1971, setelah Papua Barat melalui Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) pada tahun 1969. Faktor letak geografis yang sulit di wilayah pegunungan tengah Papua dan keterbatasan infrastruktur, menyebabkan logistic pemilu tidak dapat sampai ke tiap kampung, di tambah dengan kurangnya informasi tentang pemilu baik dari segi pelaksanaan dan informasi tentang visi misi calon-calon legislative maupun eksekutif, sehingga agar pemilu tetap dapat berjalan tanpa logistic pemilu, warga tetap melaksanakan pemilu dengan mengantikan kotak suara dengan tas noken dan karena hanya kepala suku atau big man yang mengerti tentang prosedur pelaksanaan dan mengetahui informasi tentang calon legislative atau eksekutif, maka big man lah yang menjadi satu-satunya peserta pemilu mewakili semua warga.

Hak Politik Warga Negara merupakan bagian dari hak-hak yang dimiliki oleh warga negara dimana asas kenegaraannya menganut asas demokrasi. Lebih luas hak politik itu merupakan bagian dari hak turut serta dalam pemerintahan. Hak turut serta dalam pemerintahan dapat dikatakan sebagai bagian yang amat penting dari demokrasi. Hak ini bahkan dapat dikatakan sebagai pengejawantahan atau perwujudan dari demokrasi, sehingga jika hak ini tidak ada dalam suatu negara, maka negara tersebut tidak semestinya mengakui diri sebagai negara demokratis.

(15)

60

Negara-negara yang menganut demokrasi, pada umumnya mengakomodir hak politik warga negaranya dalam suatu penyelenggaraan pemilihan umum, baik itu bersifat langsung maupun tidak langsung.

Konsep di atas menunjukkan bahwa sistem noken merupakan bagian dari demokrasi, yaitu demokrasi tak langsung. Terlihat dalam pelaksanaannya, warga bersepakat bersama untuk memberikan hak suaranya kepada kepala suku atau bigman yang bertindak mewakili seluruh suku untuk memilih wakil rakyat dalam pemerintahan baik eksekutif maupun legislative. Seperti yang diungkapkan oleh Inews, bahwa ada 3 (tiga) alasan dalam penggunaan sistem noken, yaitu: 1) Letak geografis yang menyulitkan distribusi logistic pemilu; 2) Kurangnya pengetahuan warga tentang pemilu; dan 3) budaya warga yang bergantung kepada kepala suku.

Alasan kedua “Kurangnya pengetahuan warga tentang pemilu” menjadi bahan yang pentig untuk diperhatikan dalam pelaksanaan pemilu tak langsung atau sistem noken. Menurut penulis hak politik itu bukan hanya berbicara tentang keterlibatan warga dalam pemerintahan melalui pemilu, tetapi juga bagaimana warga mendapat edukasi politik yang baik dari pemerintah. Pendidikan politik yang berkelanjutan sangat diperlukan dalam rangka untuk menyiapkan rakyat yang cerdas dan pemimpin berkualitas serta berdedikasi tinggi kepada nusa dan bangsa. Rakyat sebagai pelaku utama dan penentu siapa yang berhak menempati kursi kepemimpinan, mendapat tanggung jawab yang sangat besar dalam rangka

(16)

61

pembangunan selanjutnya. Sehingga, jika rakyat hendak memberikan suaranya diwakilkan oleh kepala suku (demokrasi tak langsung) setidaknya mereka sudah paham tentang hak politiknya dan mengerti tentang latar belakang serta visi misi dari setiap calon yang hendak dipilih oleh kepala suku.

Alasan ketiga “budaya warga yang bergantung kepada kepala suku.” Menjadi pelengkap penjelasan terhadap alasan kedua. Dalam sebuah pemerintahan adalah sangat baik ketika ada kebergatungan dan kepercayaan warga kepada pemimpin atau wakilnya, tetapi yang perlu dikritisi, yaitu apabila kepercayaan itu tidak diperlengkapi dengan pengetahuan dan edukasi politik yang baik, dapat berbahaya karena kepercayaan warga yang polos dapat diarahkan kepada kepentingan segelintir orang saja. Jika sudah seperti ini, Hak politik rakyat untuk terlibat aktif dalam pemerintahan melalui pemilu justru tidak berlangsung sesuai dengan tujuannya.

5. Realisasi Ratio Decidendi MK terhadap Sistem Pemilihan Noken atau

Aklamasi

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dalam bab 2 tentang ratio

decidendi, yang secara garis besar dapat diartikan sebagai argument atau

alasan yang dipakai oleh hakim dalam pertimbangan hukum yang menjadi dasar sebelum memutus sebuah perkara. Begitu pula dalam Pertimbangan

(17)

62

hakim MK dalam putusan Nomor 47-81/PHPU.A-VII/2009, pada bagian di mana mahkamah menyatakan :

“Mahkamah dapat memahami dan menghargai nilai budaya yang

hidup di kalangan warga Papua yang khas dalam menyelenggarakan pemilihan umum dengan cara atau sistem “kesepakatan warga” atau “aklamasi. Mahkamah menerima cara pemilihan kolektif (“kesepakatan warga” atau “aklamasi”) yang telah diterima warga Kabupaten Yahukimo tersebut, karena jika dipaksakan pemilihan umum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dikhawatirkan akan timbul konflik di antara kelompok-kelompok warga setempat. Mahkamah berpendapat, agar sebaiknya mereka tidak dilibatkan/dibawa ke sistem persaingan/perpecahan di dalam dan antarkelompok yang dapat mengganggu harmoni yang telah mereka hayati. Penerimaan atas cara yang realistis ini tentunya harus dilaksanakan dengan baik oleh penyelenggara atau panitia pemilihan umum, dalam hal ini KPU kabupaten, tetapi dalam kasus a quo tenyata KPU Kabupaten Yahukimo telah melakukan pelanggaran hukum secara terstruktur dan masif. Oleh sebab itu, meskipun menerima caranya yang khas, tetapi karena untuk distrik-distrik tertentu, penyelenggaranya telah melakukan pelanggaran secara terstruktur dan masif, maka demi keadilan Mahkamah menafikan hasil rekapitulasi tersebut agar KPU Kabupaten tetap melaksanakan kewajiban hukumnya.”

Terdapat 2 ratio decidendi yang di pakai MK dalam pertimbangan ini, yaitu: a). karena Mahkamah memahami dan menghargai nilai budaya yang hidup di kalangan warga Papua dalam menyelenggarakan pemilu dengan sistem aklamasi/noken. b). karena jika dipaksakan pemilihan umum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dikhawatirkan akan timbul konflik di antara kelompok-kelompok warga setempat. Menurut penulis kedua alasan ini tidak tepat di jadikan dasar konstitusionalitas sistem noken, mengapa?

(18)

63

Alasan pertama bahwa Mahkamah memahami dan menghargai sistem noken, karena menganggapnya sebagai nilai budaya tidak tepat, seperti yang telah dijelaskan dalam bagian sebelumnya bahwa alasan penggunaan noken bukanlah berdasar pada budaya saja, tetapi juga karena keterbatasan pemerintah dalam mendistribusikan logistic pemilu dan kurangnya informasi tentang pemilu yang dapat diserap oleh warga.

Sedangkan untuk alasan kedua bahwa MK mengkhawatirkan akan timbulnya konflik jika tidak diberlakukan pemilihan dengan sistem noken sungguh tidak berdasar. Dari data yang diberikan oleh Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (PERLUDEM)5 dikatakan bahwa beberapa daerah yang melaksanakan sistem noken merupakan daerah yang tercatat sering pecah konflik kekerasan, hingga menelan korban jiwa. Momentum kekerasannya terjadi hampir pada setiap tahapan penyelenggaraan. Sejak 2010 hingga 2014, daerah-daerah seperti Puncak, Yahukimo, Lanny Jaya, Tolikara, Dogiyai, Jayawijaya sudah menjadi preseden buruk bagi pelaksanaan pemilu dan pilkada. Laporan media mengakumulasi hingga 71 warga negara yang tewas sepanjang momentum tersebut. Hal ini belum menyinggung korban luka-luka serta jumlah harta benda baik milik warga maupun pemerintah yang turut dikorbankan.

5

Perludem adalah organisasi nirlaba mandiri yang menjalankan riset, advokasi, pemantauan, pendidikan, dan pelatihan di bidang kepemiluan dan demokrasi untuk pembuat kebijakan, penyelenggara, peserta, dan pemilih, yang sumber dananya berasal dari penggalangan serta bantuan lain yang tidak mengikat. Terwujudnya negara demokrasi dan terselenggarakannya Pemilu yang mampu menampung kebebasan rakyat dan menjaga kedaulatan rakyat.

(19)

64

Pada tahun 2017, jatuhnya korban jiwa dalam konteks pilkada kembali terjadi. Konflik kekerasan tidak dapat dihindari di 2 kabupaten, yaitu Puncak Jaya dan Intan Jaya. Dihimpun dari sejumlah media lokal dan nasional, korban tewas mencapai 19 orang dengan puluhan luka-luka dan sejumlah fasilitas negara dan pribadi rusak berat. Pilkada Tolikara, kendati tidak lagi menelan korban jiwa seperti tahun 2011 yang lalu, namun sempat menimbulkan kerusuhan yang mengkhawatirkan. Bahkan keributannya menjalar hingga ke Jakarta, saat belasan orang yang diduga merupakan salah satu kelompok pendukung paslon yang kalah, merusak kantor Kemendagri akibat tidak dapat menemui Mendagri di kantornya.

Belum lewat setahun dari pengalaman konflik 2017, pilkada kembali digelar di Papua di tahun 2018, yaitu 1 Pilkada Gubernur Papua dan 7 Pilkada Kabupaten. Penting untuk menjadi perhatian serius karena Pilkada Serentak 2018 di Papua kembali melibatkan 8 daerah yang pernah menyumbang korban jiwa dalam penyelenggaraan pemilu dan pilkadanya: Puncak, Yahukimo, Lanny Jaya, Tolikara, Dogiyai, Jayawijaya, Puncak Jaya, Intan Jaya. Bahkan ketegangan yang meningkat selama Pilkada 2017 di Puncak Jaya, Intan Jaya dan Tolikara belum sepenuhnya menurun. Sisa-sisa dendam, baik dendam politik maupun dendam pribadi karena anggota keluarga yang tewas, diyakini masih ada dan menjadi potensi konflik untuk tiga daerah ini.

(20)

65

Apabila dicermati mekanisme pelaksanaanya, asas Pemilu yang JURDIL LUBER (jujur, adil, langsung, umum, bebas, dan rahasia) tidak berlaku sepenuhnya. Asas umum kepemiluan yang berlaku tergantikan dengan asas JURDIL LUBET (langsung, umum, bebas, dan terbuka). Istilah ini dikembangkan oleh para pemangku kepentingan Papua guna menonjolkan dan menegaskan perbedaan yang prinsipil di pemilu Papua, yaitu prinsip Terbuka. Manifestasi prinsip Terbuka dihadirkan melalui penerapan sistem noken, atau Pemilu Noken. Kotak suara yang biasanya digunakan untuk menampung suara pemilih, digantikan dengan tas noken. Namun tidak seperti di daerah lain pada umumnya, pada hari pemungutan suara pemilih bukan mencoblos di dalam bilik lalu memasukkan surat suara ke tas noken. Akan tetapi pemilih mendeklarasikan—secara langsung maupun tidak—suara yang akan diberikannya kepada calon tertentu kepada publik. Kemudian dikongkritkan dengan memasukkan surat suara ke dalam tas noken yang disediakan penyelenggara. Tidak ada penggunaan bilik pada model pemilihan noken. Karakter inilah yang menjadikan sistem noken berprinsip terbuka. Setiap orang dapat mengetahui pilihan orang lain.

Meskipun istilah LUBET diberikan oleh para pemangku kepentingan di papua untuk menunjukkan adanya asas pemilihan umum yang berbeda dan khusus di Papua, namun sebenarnya asas langsung dan bebas tidak benar-benar ada dalam pelaksanaannya. Seperti yang sudah dijelaskan dalam bab sebelumnya, pelaksanaan sistem noken disetiap kampung

(21)

66

cenderung memiliki varian yang berbeda. Walaupun sudah ada beberapa kampung yang mempraktekkan pemilihan langsung oleh warganya, tetapi masih ada kampung juga yang pemilihannya diwakilkan oleh kepala suku. Sebagai contoh dalam putusan MK No. 47-81/PHPU.A-VII/2009 salah satu yang menjadi permasalahan yang diajukan oleh pemohon adalah adanya kecacatan berupa temuan suara fiktif di kabupaten Yahukimo Provisni Papua.

Sedangkan asas bebas justru memilki kemungkinan tidak ada disetiap kampung atau distrik, dikarenakan disetiap prosesi pemilihan noken selalu diawali dengan pesta bakar batu, yang bertujuan untuk menentukan pilihan kepada calon/partai/paslon siapa warga memberikan suaranya. Walaupun kelihatannya sangat demokratis, karena terjadi musyawarah dalam warga, tetapi kemungkinan tercapainya mufakat bersama itu tidak ada. Keputusan dapat diambil sepihak oleh kepala suku, dengan asumsi pembenaran yang diberikan adalah kepala suku telah bertanggung jawab terhadap ketersediaan kebutuhan dasar warga, sehingga sebagai gantinya warga harus loyal terhadap apa pun keputusannya, dalam hal ini adalah kepada siapa suara semua warga akan diberikan (patron klien).

7. Urgensi Vote by Individuals Pada Sistem Noken

Seperti yang sudah dijelaskan dalam bab sebelumnya bahwa dalam system kepemimpinan big man atau kepala suku terdapat hubungan patron

(22)

67

masyarakat kepada kepala suku, ketiadaan dukungan atau Disloyalty terhadap keputusan big man beresiko terhadap disfungsi peran pelindung (protector) dan penyelamat (savior) dalam hal terjadi krisis atau konflik yang mengancam anggota suku tersebut.

hubungan ini sangat mempengaruhi prinsip kebebasan rakyat dalam menentukan pilihan politiknya. Kebebasan individu dipengaruhi intimidasi baik dari kepentingan kepala suku atau big man dan kepentingan kelompok besar. Selain itu, karena model kepemimpinan bigman yang berdampak pada pemilu yang terwakilkan ini rawan terhadap manipulasi suara dan money

politic.

Hal berikutnya yang menjadi kelemahan system noken dan perlu diberlakukkannya pemilihan umum secara langsung dikarenakan masih terdapat suara fiktif yang muncul dalam perhitungan suara. Perolehan suara fiktif ini juga yang menjadi salah satu pokok permohonan dari pemohon II Hasbi Suaib dalam putusan MK No 47-81. Menurut Zein, sistem noken dikuasai kepala suku yang mendaftarkan anggota sukunya sebagai pemilih, kepada petugas pendaftaran atau Pantarlih. Proses pendaftaran ini tidak dilakukan berdasar prinsip satu orang satu pendaftaran. Sehingga, salah satu kelemahan dari sistem noken adalah ketidakmampuan untuk memantau apakah jumlah pemilih dalam satu suku meningkat atau menurun karena

(23)

68

perkawinan, kematian, dan mobilitas geografis.6 Model inilah yang rentan terhadap manipulasi suara kepala suku atau bigman.

6 Y. Gustaman, “Sistem

Noken di Papua Dinilai Punya Kelemahan”,

https://www.tribunnews.com/nasional/2013/08/20/sistem-noken-di-papua-dinilai-punya-kelemahan, pada tanggal 10 Agustus 2019, pukul 09.00.

(24)

69

BAB IV

PENUTUP

Dari uraian dan pembahasan penelitian pada bab-bab sebelumnya, maka penulis akhirnya dapat mengemukakan beberapa kesimpulan dan saran sebagai berikut :

A. Kesimpulan

(25)

70

Meskipun dalam tahapan sistem noken terlihat sangat demokratis, karena diawali dengan musyawarah, yang dikemas dalam pesta bakar batu sebelum pemilihan. Namun, pada dasarnya kata mufakat cenderung diambil sepihak oleh kepala suku. Dengan mengingat bahwa dalam statusnya sebagai big man mempunyai hubungan patron klien, yaitu hubungan di mana kepala suku sebagai orang yang bertanggung jawab pada kebutuhan dasar warganya, dan sebagai gantinya warga harus loyal terhadap apapun keputusan kepala suku dalam hal ini keputusan kepala suku untuk memilih para kandidat. Disayangkan, karena ketidak taatan pada keputusan big man berdampak pada disfungsi peran pelindung (protector) dan penyelamat (savior) dalam hal terjadi krisis atau konflik yang mengancam anggota suku tersebut.

Model hubungan seperti ini tentu menganggu demokrasi Pancasila yang harusnya memenuhi prinsip persamaan, kedaulatan rakyat, serta pemerintahan yang terbuka dan bertanggung jawab. Suara rakyat dibungkam dengan iming-iming peran pelindung dan penyelamat oleh sang kepala suku, hal ini mematikan prinsip persamaan warga dan kepala suku yang sama-sama merupakan warga negara Indonesia dan mempunyai hak sama, tetapi juga mematikan prinsip kedaulatan rakyat. Dan untuk prinsip pemerintah yang terbuka dan demokratis harus adanya DPR yang representative. Dalam sistem noken akan sulit menemukan DPR yang representative, apabila marketing politik yang dilakukan justru bukan kepada warga, melainkan kepada kepala suku dan sangat rentan terhadap pelaksanaan politik uang. Sehingga, di mana

(26)

71

dalam tahapan pemilihan umum dengan sistem noken yang berlangsung secara tidak langsung di Indonesia lebih menonjolkan kepada sifat oligarkis, karena pergantian pejabat hanya ditentukan oleh sekolompok orang dan berpuncak pada satu orang.

2. Ratio decidendi yang dipakai MK keliru

Dalam Putusan MK No. 47-81/PHPU.A-VII/2009, MK memakai dua alasan terhadap konstitusionalitas sistem noken, yaitu penghargaan terhadap budaya dan pencegahan agar tidak terjadinya konflik. Menurut penulis kedua alasan MK ini tidak tepat untuk menjadi dasar konstitusionalitas sistem noken.

Pertama, alasan penghargaan terhadap budaya tidak tepat, karena dalam pemilu secara nasional seharusnya sistem yang dipakai harus mampu mengintegrasikan semua budaya yang ada dan beragam di Indonesia. Setiap suku bangsa yang ada di Indonesia pasti memiliki ketua-ketua adat yang sangat dihormati, hanya saja dalam pemilu nasional kedaulatan rakyatlah yang harus diutamakan, bukan ketua-ketua adatnya saja. Hal ini bukan berarti, karena sistem di lingkungan masyarakat adat tidak diberlakukan dalam sistem nasional (pemilu), kemudian MK menganggap negara tidak menghargai hak masyarakat adat. Melainkan penghargaan terhadap masyarakat adat cukup dibatasi dalam wilayah hukum masyarakat adat tersebut saja. Sehingga menurut penulis, dalam hal pemberlakuan sistem noken seharusnya terdapat

(27)

72

batasan pemberlakuannya yaitu hanya melingkupi pada pemilihan kepala daerah (bupati/walikota) ataupun caleg DPRD kota atau kabupaten..

Kedua, alasan pencegahan terhadap konflik tidak tepat digunakan, seperti yang telah dibahas bahwa setiap penyelenggaraan pemilu konflik selalu terjadi. Justru dengan sistem noken yang memiliki prinsip terbuka dalam pemilu rentan terhadap konflik, karena tiap pihak yang kalah tau kepada pihak mana ia harus menyerang. Berbeda jika prinsip rahasia seperti yang ada pada asas pemilu nasional yang diberlakukan, kemungkinan terjadi konflik tidak ada. Prinsip rahasia menjadi jaminan perlindungan terhadap tiap warga yang memberikan suara tanpa perlu adanya tekanan dari pihak lain.

A. Saran

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut:

1. Pembatasan pelaksanaan pemilu dengan sistem noken hanya pada pilkada kabupaten dan pemilihan DPRD kabupaten;

2. Pembangunan infrastruktur yang memadai di daerah pegunungan tengah Papua, agar tidak menjadi penghambat saat distribusi logistic pemilu.; dan 3. Saran kepada KPU daerah agar dapat mengitegrasikan macam-macam

varian pemilihan sistem noken menjadi satu sistem yang sama di setiap distrik.

(28)

73

DAFTAR BACAAN

Budiyanto, Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Sma Kelas XI, Erlangga, Jakarta, 2006.

Darumurti, Krishna D. 2013. Buku Panduan Penelitian dan Penulisan Skripsi. Salatiga: Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana.

Dominikus Rato, Pengantar Hukum Adat, LaksBang PRESSindo, Yogyakarta, 2009 Fadjar, A. Mukhtie. 2010. Konstitusionalisme Demokrasi. Malang: In TRANS Publishing.

IDEA, International. 2002. Standar-Standar International untuk Pemilihan Umum

Pedoman Peninjauan Kembali Kerangka Hukum Pemilu. Sweden: Bulls

(29)

74

Ihromi, T. O. 1993. Antropologi Hukum Sebuah Bunga Rampai. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Isrok dan Dhia Al Uyun, Ilmu Negara (Berjalan dalam Dunia Abstrak), Cetakan kedua, Univwersitas Brawijaya Press (UB Press), Malang, 2012.

Juanda, Hukum Pemerintahan Daerah, Pasang Surut Hubungan Kewenangan Antara

DPRD dan Kepala Daerah, Cetakan pertama, Edisi Kedua, Penerbit P.T

Alumni, Bandung, 2008.

Latif, Yudi, Negara Paripurna, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2011.

Labolo, Muhadam dan Teguh Ilham, Partai Politik dan Sistem Pemilihan Umum Di

Indonesia: Teori, Konsep, dan Isu Strategis, P.T Raja Grafindo Persada,

Jakarat, 2015.

Mahfud MD, Moh dkk. 2012. Demokrasi Lokal Evaluasi Pemilukada di Indonesia. Jakarta: Konstitusi Press (Konpress).

Mansoben, Johszua Robert. 1995. Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. Jakarta: LIPI.

Marzuki, Peter Mahmud. 2005. Penelitian Hukum Edisi Revisi. Jakarta: Kencana. Nas, Jayadi, “Demokrasi dan Demokratisasi: Konsep, Teori, dan Aplikasinya,”

Wacana Indonesia, No. 1, Mei 2005.

Pasaribu, Kholilullah, , Noken Dan Konflik Pemilu Laporan Awal Pilkada serentak di

Papua, Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Jakarta, 2016.

Suratman dan H. Philips Dillah. 2015. Metode Penelitian Hukum. Bandung: Alfabeta. Agustam, “Konsepsi dan Implementasi Demokrasi Pancasila Dalam Sistem

Perpolitikan di Indonesia”, Jurnal TAPIs, Vol.07, No.12,Jauari-Juli, 2011.

Sukriono, Didik, Mengagas Sistem Pemilihan Umum di Indonesia, Jurnal Konstitusi, Volume 2, No. 1, Juni, 2009.

Waluyo, Model Pemilu Dengan SIstem Noken Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal, Jurnal Hukum Samudra Keadilan Volume 13 Nomor 2, 2018.

Pemerintah Republik Indonesia,Undang-Undang Dasar 1945.

Pemerintah Republik Indonesia, Undang-Undang No. 10 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD.

Pemerintah Republik Indonesia, Undang-Undang No. 8 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi.

(30)

75

Pemerintah Republik Indonesia, Undang-Undang No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.

Mahkamah Konstitusi Republik Indnesia, Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 47-81/PHPU.A-VII/2009

Tabloid Jubi. 2017. Di akses dari: http://tabloidjubi.com/artikel-10781-sistem-noken-pilgub-papua-2018-berkurang.html. Diakses pada 20 Februari 2018.

Jimly Asshiddiqie, “Islam, Nomokrasi, Demokrasi, dan Teokrasi”,

http://www.jimly.com/makalah/namafile/190/ISLAM__Teokrasi__Demokrasi__No mokrasi.pdf, dikunjungi pada 22 April 2019.

Aswab Nanda Pratama, “Riwayat Pilkada di Indonesia”, Kompas, https://nasional.kompas.com/read/2018/06/27/06000041/riwayat-pilkada-di-indonesia?page=all, pada tanggal 30 April 2019.

Detik News, “Pemilihan Presiden Dari Masa ke Masa”, https://news.detik.com/berita/2723006/pemilihan-presiden-dari-masa-ke-masa, pada tanggal 29 April 2019.

Suara Karya, “Kondisi Geografis dan Infrastruktur Jadi Kendala Di Pegunungan Arfak”, http://www.suarakarya.id/detail/82096/Kondisi-Geografis-Dan-Infrastruktur-Jadi-Kendala-Di-Pegunungan-Arfak, pada tanggal 20 Januari 2019.

BBC News, “Pengiriman surat suara di Papua kurang satu distrik” https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/12/151207_indonesia_pilk ada_logistik, pada tanggal 20 Januari 2019.

Detik News, “Alasan TNI/POLRI Bantu Distribusikan Logistik Pemilu di Papua”,

https://news.detik.com/berita/d-2542637/ini-alasan-tnipolri-bantu-distribusikan-logistik-pemilu-di-papua, dikunjungi pada tanggal 20 januari 2019 pukul 19.45.

Muhammad Andika Putra, “Survei LIPI: Kualitas Pendidikan Maslah Utama Papua”, 14 Desember 2017, https://www.cnnindonesia.com/nasional/20171214205030-20-262499/survei-lipi-kualitas-pendidikan-masalah-utama-papua, dikunjungi paa tanggal 23 April 2019

Femi afriadi, “Polemik Sistem Noken Pilkada Papua”, CNN Indonesia, 31 Maret 2018, https://www.youtube.com/watch?v=ypVhUhDEtQs,

(31)

Referensi

Dokumen terkait

Sejumlah faktor yang menandai keberadaan peristiwa itu, yakni: (1) setting atau scene yaitu tempat dan suasana peristiwa tutur yang berada di pinggir jalan umum

Setelah pelaksanaan Survei Akreditasi Puskesmas, sebutkan kegiatan yang telah Setelah pelaksanaan Survei Akreditasi Puskesmas, sebutkan kegiatan yang telah

Anak-anak mulai mengenal tentang keterampilan dasar konseling dari kegiatan membaca modul, kegiatan berdiskusi kelompok dengan mendiskusikan secara bersama-sama sub

Pada tugas akhir ini dilakukan penelitian pada NG-PON2 menggunakan delapan kanal TWDM berkapasistas transmisi 80 Gbps TWDM-PON dengan EDFA sebagai pre-amplifier

Hasil diskusi ringan penulis dengan salah satu dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada pertemuan kolegial bimbingan konseling (BK) se Indonesia di Surabaya pada tanggal

Kualitas mengajar guru Bahasa Indonesia dapat diukur dari kecakapan mereka dalam menguasai materi, termasuk pengembangannya, dan kemampuan dalam memiliki metode penyampaian,

Artikel ini merupakan bagian dari Penelitian Tindakan Kelas. Penulisan artikel ini dilatarbelakangi oleh kurangnya kemampuan guru dalam mengenalkan kosakata bahasa Inggris

Secara umum, biaya mutu ini meliputi biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menjamin dihasilkannya produk yang bermutu (dikenal dengan istilah conformance quality cost,