7 BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Katarak
2.1.1 Pengertian katarak
Katarak adalah kekeruhan lensa mata atau kapsul lensa yang mengubah gambaran yang diproyeksikan pada retina. Katarak merupakan penyebab umum kehilangan pandangan secara bertahap (Springhouse Co). Derajat disabilitas yang ditimbulkan oleh katarak dipengaruhi oleh lokasi dan densitas keburaman. Intervensi diindikasikan jika visus menurun sampai batas klien tidak dapat menerima perubahan dan merugikan atau memengaruhi gaya hidup klien (yaitu visus 5/15). Katarak biasanya mempengaruhi kedua mata tetapi masing-masing berkembang secara independen (Istiqomah, 2012).
Katarak berasal dari kata Yunani Katarrhakies, Inggeris Cataract, dan Latin cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa terjadi akibat kedua-duanya. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama. Katarak umumnya merupakan penyakit pada usia lanjut, akan tetapi dapat juga akibat kelainan kongenital, atau penyulit penyakit mata lokal menahun. Bermacam-macam penyakit mata dapat mengakibatkan katarak seperti glaukoma, ablasi, uveitis, retinitis pigmentosa bahan toksik khusus (kimia dan fisik) (ilyas dan yulianti, 2014).
Berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa katarak adalah kekeruhan lensa mata yang diakibatkan oleh hidrasi dan denaturasi protein lensa sehingga mengakibatkan penglihatan menjadi terganggu .
2.1.2 Etiologi
Menurut irawan (2008) dalam Erman et al (2014) Katarak adalah penyakit degeneratif yang dipengaruhi berbagai faktor faktor yaitu : 2.1.2.1 Umur
2.1.2.2 Jenis kelamin 2.1.2.3 Genetik 2.1.2.4 Pendidikan 2.1.2.5 Pekerjaan
2.1.2.6 Status sosial ekonomi 2.1.2.7 Status kesehatan 2.1.2.8 Lingkungan 2.1.2.9 Riwayat merokok
2.1.3 Patofisiologi
2.1.3.1 Kelainan bawaan :
Adanya gangguan proses perkembangan embrio saat dalam kandungan dan kelainan pada kromosom secara genetik dapat menimbulkan kekeruhan lensa saat lahir. Pada umumnya kelainan tidak hanya pada lensa tetapi juga pada bagian tubuh yang lain sehingga berupa suata sindrom.
2.1.3.2 Proses penuaan :
Seiring dengan bertambahnya usia, lensa mata akan mengalami pertambahan berat dan ketebalannya dan mengalami penurunan daya akomodasi. Setiap pembentukan lapisan baru dari serat kortikal secara konsentris, nukleus lensa akan mengalami kompresi dan pengerasan (nuclear
sclerosis). Modifikasi kimia dan pembelahan proteolitik crystallins (lensa protein) mengakibatkan pembentukan kumpulan protein dengan berat molekul yang tinggi. Kumpulan protein ini dapat menjadi cukup banyak untuk menyebabkan fluktuasi mendadak indeks bias lokal lensa, sehingga muncul hamburan cahaya dan mengurangi transparansi dari lensa. Modifikasi kimia dari protein nukleus lensa juga dapat meningkatkan pigmentasi, sehingga lensa tampak berwarna kuning atau kecoklatan dengan pertambahan usia termasuk didalamnya adalah penurunan konsentrasi glutation dan kalium, dan peningkatan konsentrasi natrium dan kalsium dalam sitoplasma sel lensa. Patogenesis yang multifaktorial dan tidak sepenuhnya dipahami.
2.1.3.3 Penyakit sistemik :
Adanya kelainan sistemik yang tersering menyebabkan katarak adalah diabetes mellitus. Dasar patogenesis yang melandasi penurunan visus pada katarak dengan diabetes adalah teori akumulasi sorbitol yang terbentuk dari aktivasi alur polyol pada keadaan hiperglikemia yang mana akumulasi sorbitol dalam lensa yang merupakan dasar patofisiologi terbentuknya katarak. Dan yang kedua adalah teori glikosilasi protein, dimana adanya AGE akan mengganggu struktur sitoskeletal yang dengan sendirinya akan berakibat pada turunnya kejernihan lensa.
2.1.3.4 Trauma :
Adanya trauma akan mengganggu struktur lensa mata baik secara makroskopis maupun mikroskopis. Hal ini diduga menyebabkan adanya perubahan struktur lensa dan gangguan keseimbangan metabolisme lensa sehingga katarak dapat terbentuk.
2.1.3.5 Penyakit mata lainnya :
Adanya glaukoma dan uveitis menyebabkan gangguan keseimbangan elektrolit yang menyebakan kekeruhan lensa (Budiono, 2013).
2.1.4 Stadium katarak
2.1.4.1 Katarak insipien :
Kekeruhan lensa tahap awal dengan visus yang relatif masih baik
2.1.4.2 Katarak imatur :
Kekeruhan lensa mulai terjadi dapat terlihat oleh bantuan senter, terlihat iris shadow, visus > 1/60.
2.1.4.3 Katarak matur :
Kekeruha lensa terjadi menyeluruh, dapat terlihat dengan bantuan senter, tidak terlihat iris shadow, visus 1/300 atau light perception positif.
2.1.4.4 Katarak hipermatur :
Katarak hipermatur terjadi ketika massa lensa mengalami kebocoran melalui kapsul lensa, sehingga kapsul lensa menjadi berkerut dan menyusut (Budiono, 2013).
2.1.5 Gejala – gejala katarak 2.1.5.1 Kabur
Penderita pada umumnya dating saat kekeruhan terjadi pada kedua mata meski derajat katarak kedua mata berbeda. Kekaburan yang dirasa bersifat perlahan dan penderita merasa melihat melalui kaca yang buram. Pada tahap awal kekeruhan lensa penderita dapat melihat bentuk akan tetapi tidak dapat melihat detail.
2.1.5.2 Silau
Katarak menyebabkan gangguan pembiasan lensa akibat perubahan bentuk, struktur dan indeks bias lensa. Segala jenis
katarak pada umumnya akan mengeluh silau akan tetapi terbanyak pada katarak sub kapsular posterior.
2.1.5.3 Gangguan penglihatan berwarna
Lensa yang bertambah kuning atau kecoklatan akan menyebabkan gangguan diskriminasi warna, terutama pada spectrum cahaya biru (Budiono, 2013).
2.1.6 Jenis katarak
2.1.6.1 Katarak kongenital
Katarak kongenital adalah kekeruhan pada lensa yang timbul pada saat pembukaan lensa. Kekeruhan sudah terdapat pada waktu bayi lahir. Katarak ini sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menderita rubella, diabetes mellitus, toksoplasmosis, hipoparatiroidisme, galaktosemia. Ada pula yang menyertai kelainan bawaan pada mata itu sendiri seperti mikroftalmus, aniridia, koloboma, keratokonus, ektopia lentis, megalokornea, heterokronia iris. Kekeruhan dapat dijumpai dalam bentuk arteri hialoidea yang persisten, katarak polariss anterior, posterior, katarak aksialis, katarak zonularis, katarak stelata, katarak totalis dan katarak kongenital membranasea.
2.1.6.2 Katarak primer
Katarak primer, menurut umur ada tiga golongan yaitu katarak juvenilis (umur <20 tahun), katarak presenilis (umur sampai 50 tahun) dan katarak senilis (umur >50 tahun). Katarak primer dibagi menjadi 4 stadium :
a. Stadium insipient
Jenis katarak ini adalah stadium paling dini. Visus belum terganggu, dengan koreksi masih bisa 5/5-5/6. Kekeruhan terutama terdapat pada bagian perifer berupa bercak-bercak seperti jari-jari roda.
b. Stadium imatur
Kekeruhan belum mengenai seluruh lapisan lensa, terutama terdapat di bagian posterior dan bagian belakang nucleus lensaa. Shadow test positif. Saat ini mungkin terjadi hidrasi korteks yang menyebabkan lensa menjadi cembung sehingga indeks refraksi berubah dan mata menjadi miopia. Keadaan ini disebut intumesensi. Cembungnya lensa akan nmendorong iris ke depan, menyebabkan sudut bilik mata depan menjadi sempit dan menimbulkan komplikasi glaukoma.
c. Stadium matur
Pada saat ini terjadi pengeluaran air sehingga lensa akan berukuran normal kembali. Saat ini lensa telah keruh seluruhnya sehingga semua sinar yang masuk pupil dipantulkan kembali. Shadow test negatif. Di pupil tampak lensa seperti mutiara.
d. Stadium hipermatur (katarak morgagni)
Korteks lensa yang seperti bubur telah mencair sehingga nukleus lensa turun karena daya beratnya. Melalui pupil, nucleus terbayang sebagai setengah lingkaran di bagian bawah dengan warna berbeda dari yang di atasnya yaitu kecoklatan. Saat ini juga terjadi kerusakan kapsul lensa yang menjadi lebih permeable sehingga isi korteks dapat keluar dan lensa menjadi kempis yang di bawahnya terdapat nucleus lensa. Keadaan ini disebut katarak morgagni.
2.1.6.3 Katarak komplikata
Katarak jenis ini terjadi sekunder atau sebagai komplikasi dari penyakit lain. Penyebab katarak jenis ini adalah :
a. Gangguan okuler, karena retinitis pigmentosa, glaucoma, ablasio retina yang sudah lama, uveitis, miopia maligna.
b. Penyakit sistemik, diabetes mellitus, hipoparatiroid, sindrom down, dermatitis atopic.
c. Trauma, trauma tumpul, pukulan, benda asing di dalam mata, terpajam panas yang berlebihan, sinar –X, radioaktif, terpajam sinar matahari, toksik kimia.
Merokok meningkatkan risiko berkembangnya katarak, demikian pula dengan peminum berat. Kadang – kadang katarak terjadi lagi setelah operasi jika kapsul lensa ditinggalkan utuh selama operasi kataral (Dewit, 1998) dalam (Istiqomah, 2012).
2.1.7 Pencegahan
Menurut ilyas (2006) umumnya katarak terjadi bersamaan dengan bertambahnya umur yang tidak dapat dicegah. Pemeriksaan mata secara teratur sangat perlu untuk mengetahui adanya katarak. Bila telah berusia 60 tahun sebaiknya mata diperiksa setiap tahun. Pada saat ini dapat juga kecepatan berkembangnya katarak dengan :
2.1.7.1 Tidak merokok, karena merokok mengakibatkan meningkatkan radikal bebas dalam tubuh sehingga resiko katarak akan bertambah.
2.1.7.2 Atur makanan sehat, makan yang banyak buah dan sayur 2.1.7.3 Lindungi mata dari sinar matahari, karena sinar ultra violet
mengakibatkan katarak mata
2.1.7.4 Jaga kesehatan tubuh seperti kencing manis dan penyakit lainnya.
2.1.8 Penatalaksanaan
Dalam Aspiani (2014) menjelaskan bahwa pembedahan dilakukan bila ketajaman penglihatan sudah menurun sehingga mengganggu
pekerjaan. Jenis pembedahan untuk katarak:
2.1.8.1 Extracapsular Cataract Extractie (ECCE) Isi lensa dikeluarkan setalah pembungkus depan dibuat lubang sedang pembungkus belakang ditinggalkan. Dengan teknik ini terdapat ruang bebas ditempat bekas lensa sehingga memungkinkan menempatkan lensa pengganti yang disebut sebagai lensa tanam bilik mata belakang (posterior chamber intraocular lens). Dengan teknik ini sayatan lebih kecil (10-11 mm), sedikit jahitan dan waktu penyembuhan lebih pendek.
2.1.8.2 Intra Capsular Cataract Extractie (ICCE) Adalah mengeluarkan lensa dalam keadaan lensa utuh. Dilakukan dengan membuka/menyayat selaput bening dan memasukkan alat melalui pupil, kemudian menarik lensa keluar. Seluruh lensa dengan pembungkus atau kapsulnya dikeluarkan dengan lidi (probe) beku (dingin). Pada operasi dibuat sayatan selaput bening yang cukup luas, jahitan yang banyak (14-15 mm) sehingga penyembuhan lukanya memakan waktu yang lama.
2.1.8.3 Fakoemulsifikasi, dimana jenis pembedahan ini digunakan untuk mencegah astigmatisme pasca bedah EKE, maka luka dapat diperkecil dengan tindakan bedah fakoemulsifikasi. Pada tindakan ini lensa yang katarak di fragmentasi dan diaspirasi.
Tindakanoperasi katarak dengan teknik fakoemulsifikasi memiliki banyak keunggulan diantaranya:
a) Dengan alat fako seluruh lensa dapat dihancukan dan kemudian disedot/dihisap keluar.
b) Penggunaan lensa tanam hanya cukup ditutup dengan 1 atau 2 jahitan, atau pada kondisi tertentu tidak memerlukan jahitan sama sekali.
c) Masa penyembuhan lebih singkat.
Setelah pembedahan pasien segera diberi obat untuk mengurangi rasa sakit karena operasi katarak adalah suatu tindakan yang menyayat. Antibiotik diperlukan atas dasar kemungkinan terjadinya infeksi karena kebersihan yang tidak sempurna. Pasien diberi obat tetes mata steroid untuk mengurangi reaksi radang akibat tindakan bedah dan diberikan obat tetes mata yang mengadung antibiotik untuk mencegah infeksi.
2.1.9 Komplikasi
Komplikasi post operasi katarak, di antaranya (Aspiani, 2014): 2.1.9.1 Edema kornea
2.1.9.2 Prolapus iris
2.1.9.3 Bilik mata depan yang dangkal 2.1.9.4 Glaukoma
2.1.9.5 Hipermetropia tinggi absolut (menyebabkan kehilangan kekuatan konvergensi sekitar 18 dioptri dan bersifat absolut karena tidak ada bagian yang dapat mengkonpensasi daya akomodasi).
2.1.9.6 Astigmastime
2.1.9.7 Kehilangan daya akomodasi 2.1.9.8 Perubahan persepsi warna
2.2 Konsep usia
2.2.1 Pengertian Usia
Umur atau usia adalah satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau makhluk, baik yang hidup maupun yang mati. Semisal, umur manusia dikatakan lima belas tahun diukur sejak
dia lahir hingga waktu umur itu dihitung (Depkes, 2013). Seiring dengan pertambahan usia, lensa akan mengalami penuaan juga. Keistemewaan lensa adalah terus menerus tumbuh dan membentuk serat lensa dengan arah pertumbuhannya yang konsentris. Tidak ada sel yang mati ataupun terbuang karena lensa tertutupi oleh serat lensa. Akibatnya, serat lensa paling tua berada di pusat lensa (nukleus) dan serat lensa yang paling muda berada tepat di bawah kapsul lensa (korteks). Denga pertambahan usia, lensa pun bertambah berat, tebal, dan keras terutama bagian nukleus. Pengerasan nukleus lensa disebut dengan nuklear sklerosis.selain itu, seiring dengan pertambahan usia, protein lensa pun mengalami perubahan kimia. Fraksi protein lensa dahulunya larut air menjadi tidak larut air dan beragregasi membentuk protein dengan berat molekul yang besar. Hal ini menyebabkan transparansi lensa berkurang sehingga lensa tidak lagi meneruskan cahaya tetapi malah mengaburkan cahaya dan lensa menjadi tidak tembus cahaya (Micell-Ferrari et all 1996 dalam Fadillah 2012). 2.2.2 Jenis perhitungan usia
2.2.2.1 Usia kronologis
Usia kronologis adalah perhitungan usia yang dimulai dari saat kelahiran seseorang sampai dengan waktu penghitungan usia.
2.2.2.2 Usia mental
Usia mental adalah perhitungan usia yang dari taraf kemampuan mental seseorang. Misalkan seorang anak secara kronologis berusia empat tahun akan tetapi masih merangkak dan belum dapat bebicara dengan kalimat lengkap dan berbicara dengan kalimat lengkap dan menunjukan kemampuan yang setara dengan anak berusia satu tahun, maka dinyatakan bahwa usia mental anak tersebut adalah satu tahun.
2.2.2.3 Usia biologis
Usia biologis adalah perhitungan usia berdasarkan kematangan biologis yang dimiliki oleh seseorang.
2.2.3 Kategori usia
2.2.3.1 Menurut Depkes RI (2009) terdapat 9 kategori usia yaitu: a. masa balita = 0-5 tahun
b. masa kanak-kanak = 5-11 tahun c. masa remaja = 12-25 tahun d. masa dewasa = 26-46 tahun e. masa lansia = 46-65 tahun
f. masa manula = 65 tahun sampai atas
2.2.3.2 Menurut WHO menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu: a. usia pertengahan (middle age) = 45-59 tahun b. lanjut usia (elderly) = 60-74 tahun c. lanjut usia tua (old) = 75-90 tahun d. usia sangat tua (very old) = >90 tahun
Dalam penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit katarak di poli mata RSUP Prof. Dr. .R.D Kandou Manado, Mo’utapo (2015) ditemukan bahwa terdapat hubungan antara usia dengan kejadian penyakit katarak di poli mata RSUP. Prof.Dr.R.D Kandou Manado.
2.3 Konsep Riwayat Pekerjaan 2.3.1 Pengertian riwayat pekerjaan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2014) riwayat pekerjaan adalah segala sesuatu yang telah dialami seseorang. Pekerjaan menurut Thomas (2003) dalam Ningrum (2011) adalah kebutuhan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi merupakan cara mencari nafkah, berulang dan banyak tantangan. Menurut Wales (2009) dalam Ningrum (2011) pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas
utama yang dilakukan oleh manusia, dalam arti sempit istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas/kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang.
Menurut Soeroto (1986) dalam Rizali (2010) mendifinisikan pekerjaan adalah kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa bagi diri sendiri dan orang lain, baik orang melakukan dengan dibayar ataupun tidak. Selanjutnya menurut Ida Bagus Mantra dalam Rizali (2010) ditinjau dari aspek ekonomis bekerja itu diartikan sebagai melakukan pekerjaan untuk menghasilkan atau membantu menghasilkan barang dan jasa dengan maksud untuk memperoleh penghasilan baik berupa uang atau barang dalam kurun waktu tertentu.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pekerjaan adalah kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa bagi diri sendiri dan orang lain, sedangkan riwayat pekerjaan adalah segala sesuatu yang telah dialami seseorang.
Menurut Notoatmodjo (2007) jenis pekerjaan dapat berperan didalam timbulnya penyakit melalui beberapa jalan yaitu:
2.3.1.1 Adanya faktor faktor lingkungan yang langsung dapat menimbulkan kesakitan seperti bahan-bahan kimia, gas beracun, radiasi, benda-benda fisik yang dapat menimbulkan kecelakaan dan sebagainya.
2.3.1.2 Situasi pekerjaan yang penuh dengan stres (yang dikenal sebagai faktor yang berperan pada timbulnya hipertensi dan ulcus lambung).
2.3.1.3 Ada tidaknya gerak badan didalam pekerjaan. Di Amerika Serikat ditunjukkan dikalangan mereka yang mempunyai pekerjaan dimana kurang adanya gerak badan.
2.3.1.4 Karena berkerumun dalam satu tempat yang relatif sempit maka dapat terjadi proses penularan penyakit antara para pekerja.
2.3.1.5 Penyakit karena cacing tambang telah lama diketahui terkait dengan pekerjaan di tambang.
2.3.2 Hubungan riwayat pekerjaan dengan kejadian katarak
Faktor terjadinya katarak salah satunya adalah pekerjaan yang banyak terpapar sinar matahari. Dalam penilitian tentang Hubungan pekerjaan tempat tinggal katarak dengan tingkat kematangan katarak, Wahyudi (2013) ditemukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat kematangan katarak senilis dengan pekerjaan responden di rumah sakit william booth semarang. Dapat disampaikan bahwa pekerjaan responden di luar ruangan (lapangan) tingkat kematangan kataraknya terlihat meningkat. Responden pada kelompok pekerja lapangan dengan tingkat kematangan katarak matur persentasenya lebih tinggi (62%) dibanding dengan responden pada kelompok pekerja dalam ruangan (41,9%) demikian juga untuk tingkat kematangan katarak imatur.
Sinar matahari adalah sinar yang berasal dari matahari. Matahari memancarkan energi dalam bentuk cahaya ke segala arah. Energi yang dilancarkan tersebut hanya sebagian kecil yang sampai ke bumi. Namun, sejumlah energi yang kecil tersebut sudah cukup sebagai sumber energi di bumi (Tilong, 2013).
Menurut Nayler dalam Fhatmanathan (2012) sinar matahari, atau lebih spesifiknya, spectrum radiasi elektromagnetik yang berintraksi dengan atmosfer bumi berkisar dari 100 nm sampai sekitar 1 mm. Gelombang elektromagnetik ini dapat dibagi kepada beberapa komponen yaitu: Ultraviolet C (UVC), Ultraviolet B (UVB), Ultraviolet A (UVA), Visible Light, dan Infrared atau Inframerah.
Sinar UV dapat membakar mata, rambut dan kulit jika bagian tubuh tidak dilindungi atau jika terlalu banyak terkena sinar matahari. Sering beraktifitas dibawah sinar matahari tanpa pelindung kulit akan menyebabkan kulit lebih cepat mengalami penuaan. Kulit cepat berkerut dan timbul bercak-bercak hitam yang kita kenal sebagai flek hitam. Sianr UV juga bisa membuat kulit tidak mulus karena menebal atau menipis. Bisa juga muncul benjolan-benjolan atau flek pada kulit bisa berkembang menjadi tumor jinak bahkan kaker kulit, khususnya pada orang yang banyak bekerja dibawah sinar matahari atau sering berjemur dipantai. Tidak heran bila bintik awal kanker kulit dibagian tubuh yang terbuka seperti wajah, kepala, tagan dan bagian yang banyak terpapar sianr matahari (Tilong, 2013).
Tidak hanaya pada kulit, sinar ultraviolet juga berakibat pada mata. Radiasi sinar UV pada mata akan menyababkan terjadinya reaksi oksidasi pada lensa mata yang akan menimbulkan kekeruhan pada lensa. Ini dapat menimbulkan penyakit yang disebut katarak, juga kerusakan pada kornea dan retina (Tilong, 2013).
Menipisnya lapisan ozon serta paparan sinar ultraviolet (UV) dari matahari terlalu tinggi, dapat mempercepat seseorang menderita penyakit mata, diantaranya adalah katarak. Sinar UV dari matahari memang dapat mempertinggi resiko kebutaan karena katarak. Untuk meminimalisir tingkat kebutaan karena katarak yang disebakan paparan sianr UV dari matahari, diharuskan mengenakan topi, kacamata pelindung, payung saat berada diruang terbuka. Menghindari sedapat mungkin mata terkena debu dan asap kendaraan bermotor. Segera mencuci atau membilas air bersih bila terkena debu atau asap kendaraan bermotor dan mengenakan helm dengan penutup mata, bila mengendarai sepeda motor. Ketika berada diruang terbuka, perlu menggunakan alat-alat tersebut. Memang sebagian orang menganggap
hal itu remeh, tapi harus diingat paparan sinar UV yang terlalu tinggi pada mata dapat membahayakan kebutaan. Usia selama ini diyakini sebagai penyebab utama penyakit katarak. Namun, paparan sinar UV matahari juga dapat mempercepat terjadinyakatarak. Paparan sinar matahari terus menerus dan terlalu tinggi, mempercepat kekeruhan lensa. Katarak bisa menyerang mereka yang berusia 50 tahun keatas. Oleh karena itu disaat usia muda dan tidak mengenakan kacamata pelindung mata dan membiarkan langsung paparan sinar matahari. Nanti kalau sudah menginjak usia tua baru dapt merasakannya (Jajeli, 2008).
Salah satu faktor terjadinya katarak, adalah riwayat pekerjaan yang terpapar langsung sinar matahari. Berdasarkan hasil penelitian Mukarrom (2014) yang meneliti tentang hubungan riwayat pekerjaan langsung dibawah sinar matahari dengan kejadian katarak pada pasien di Poliklinik Mata RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat pekerjaan dengan kejadian katarak.
2.4 Konsep Riwayat Merokok 2.4.1 Pengertian riwayat merokok
Perokok adalah seorang yang suka merokok, disebut perokok aktif bila orang tersebut yang merokok secara aktif dan disebut perokok pasif bila orang tersebut hanya menerima asap rokok saja, bukan melakukan aktivitas merokok sendiri (KBBI, 2012).
Menurut Depkes RI (2013) merokok dipercaya dapat memperburuk kondisi mata. Katarak, yaitu memutihnya lensa mata yang menghalangi masuknya cahaya yang dapat menyebabkan kebutaan, 40% terjadi pada perokok. Rokok dapat menyebabkan katarak dengan cara mengiritasi mata dengan terlepasnya zat-zat kimia diparu-paru yang oleh aliran
darah dibawa sampai kemata. Rokok mengandung nikotin yang menyebabkan thrombosis yang dapat berakibat pada gangguan aliran darah ke mata (Cahyono, 2008).
2.4.2 Kandungan rokok
Menurut Muhibah (2011) racun yang paling utama adalah sebagai berikut:
2.4.2.1 Nikotin
Nikotin dapat meningkatkan adrenalin yang membuat jantung berdebar lebih cepat dan bekerja lebih keras, frekuensi jantung meningkat dan kontraksi jantung meningkat sehingga menimbulkan tekanan darah meningkat (Tawbariah et al, 2014)
2.4.2.2 Tar
Tar adalah subtansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru, mengandung bahan-bahan karsinogen (mardjun, 2012).
2.4.2.3 Karbon monoksida (CO)
Merupakan gas berbahaya yang terkandung dalam asap pembuangan kendaraan. CO menggantikan 15% oksigen yang seharusnya dibawa oleh sel-sel darah merah. CO juga dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah dan meninggalkan endapan lemak pada dinding pembuluh darah, menyebabkan pembuluh darah tersumbat.
2.4.3 Jenis rokok
Menurut Mustikaningrum (2010) jenis rokok dibagi menjadi delapan yaitu:
2.4.3.1 Rokok
2.4.3.2 Rokok Organik
Merupakan jenis rokok yang dianggap tidak mengandung bahan adiktif sehingga dinilai lebih aman dibanding rokok modern.
2.4.3.3 Rokok gulungan atau lintingan
Peningkatan pengguna rokok dengan cara melinting sendiri ini sebagian besar disebabkan oleh budaya dan faktor finansial. 2.4.3.4 Bidis
Bidis berasal dari india dan beberapa negara asia tenggara. Bidis dihisap lebih intensif dibandingkan rokok biasa, sehingga terjadi peningkatan pemasukan nikotin yang dapat menyebabkan efek kardiovaskuler.
2.4.3.5 Kretek
Mengandung 40% cengkeh dan 60% tembakau. Cengkeh menimbulkan aroma yang enak, sehingga kretek dihisap lebih dalam daripada rokok biasa.
2.4.3.6 Cerutu
Kandungan tembakaunya lebih banyak dibandingkan jenis lainnya, seringkali cerutu hanya mengandung tembakau saja. 2.4.3.7 Pipa
Asap yang dihasilkan pipa lebih biasa saja dibandingkan asap rokok biasa, sehingga tidak perlu hisapan yang langsung untuk mendapatkan kadar nikotin yang tinggi dalam tubuh.
2.4.3.8 Pipa air
Sediaan ini telah digunakan berabad-abad dengan persepsi bahwa cara ini sangat aman. Beberapa nama lokal yang sering digunakan adalah hookah, bhang, narghile, shisa.
2.4.4 Kategori Perokok:
2.4.4.2 Perokok ringan : < 10 batang / hari 2.4.4.3 Perokok sedang : 10-20 batang / hari 2.4.4.4 Perokok berat : > 20 batang / hari
Dalam penelitian tentang Hubungan Merokok Dengan Katarak Di Poliklinik Mata RSUD DR.Zainoel Abidin Banda Aceh, Putri (2014) ditemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan anatara merokok dengan katarak di poliklinik mata RSUD Dr. Zainoel abidin Banda Aceh. Makin banyak berat derajat merokok maka semakin tinggi terjadinya katarak.
2.5 Kerangka Teori
Gambar 2.1 Kerangka Teori
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Katarak: Usia Jenis kelamin Genetik Pendidikan Pekerjaan Status sosial ekonomi Status gizi Lingkungan Riwayat merokok Proses penuaan Kelainan bawaan Penyakit sistemik DM
Penyakit mata lainnya: Glaukoma dan uveitis
Konsep pekerjaan Gejala
katarak kk katarak Kabur,silau, gangguan penglihatan berwarna Konsep katarak Pengertian, etiologi, patofisiologi, stadium, gejala, jenis, pencegahan, penatalaksanaan,
Kejadian Katarak Pada Pasien
Variabel Bebas Variabel Terikat
Keterangan:
= Tidak Diteliti = Diteliti
2.6 Kerangka Konsep
Gambar 2.2 Kerangka Konsep
Faktor faktor katarak
2.7 Hipotesis
Ada hubungan faktor usia, riwayat pekerjaan, dan riwayat merokok dengan kejadian katarak pada pasien katarak di Poliklinik Mata RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin.
Umur Jenis kelamin Genetik Pendidikan Riwayat pekerjaan Status sosial ekonomi Status kesehatan Lingkungan Riwayat merokok