BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Menurut buku yang ditulis oleh Pulung Nurtanto Andono, T. Sutojo, dan Muljono, steganografi sendiri merupakan seni atau teknik untuk menyembunyikan pesan ke dalam media digital, sehingga orang lain tidak menyadari adanya suatu pesan rahasia di dalam media digital atau media penampung pesannya. Steganografi menggunakan 2 properti yaitu, wadah penampung dan data yang akan disembunyikan[1]. Teknik steganografi yang digunakan dalam menyembunyikan pesan pada media digital memiliki berbagai macam metode penyisipan, seperti yang ditulis dalam jurnal Siti Rohayah, Ginanjar Wiro Sasmito, dan Oman Sumantri, steganografi terdiri dari metode: LSB (Least
Significant Bit), algorithm and transformation, redundant pattern encoding, dan speed spectrum[2]. Steganografi juga bisa dikatakan sebagai teknik untuk
mengamankan pesan yang bersifat rahasia, jadi hanya dapat dilihat atau diketahui oleh pihak yang berwenang saja.
Metode LSB menurut buku Gregory Kipper, merupakan metode subtitusi steganografi di mana bit paling kanan dalam notasi biner diganti dengan sedikit dari pesan tertanam[3]. Pada jurnal yang ditulis oleh N. Wong, Hardy, Megawan Sunario, dan Andri, LSB adalah metode domain spasial yang paling sederhana, tradisional, dan populer. Namun, LSB tidak mempertimbangkan bit lain selain bit
LSB, atau bit warna lain selain warna biru, karena dikatakan bahwa mata manusia
relatif tidak sensitif terhadap wana biru sehingga lebih mudah untuk menyembunyikan bit yang tersembunyi[4].
Menurut buku Darma Putra, cahaya adalah suatu radiasi elektromagnetik yang menstimulasi sistem penglihatan mata manusia. Cahaya ditampilkan sebagai distribusi energi spektrum L(λ) di mana λ adalah panjang gelombang cahaya yang bisa diterima oleh sistem penglihatan mata manusia. Panjang gelombang cahaya yang dapat diterima mata manusia adalah 350 hingga 780 nm[5]. Pada buku Nur Faridah, Mata manusia yang telah beradaptasi dengan cahaya biasanya memiliki
kepekaan maksimum terhadap cahaya di sekitar 555 nm, disekitar cahaya tampak[6].
Pada buku Darma Putra juga membahas tentang citra warna yang terbagi menjadi 3, yaitu 8 bit, 16 bit, 24 bit. Pada citra warna 8 bit terdapat palet warna sebanyak 256 dengan setiap paletnya memiliki pemetaan nilai RGB(red, greean,
blue) tertentu. Lalu pada citra warna 16 bit dalam urutan bitnya, nilai merah dan
biru menempati 5 bit di kanan dan kiri. Pada komponen warna hijau menempati 5 bit ditambah 1 bit ekstra. Pemilihan komponen warna hijau sebanyak 6 bit ini karena penglihatan mata manusia lebih sensitif terhadap warna hijau. Pada citra warna 24 bit setiap poin informasi pixel RGB(red, greean, blue) masing-masing disimpan ke dalam 1 byte data. Pada 8 bit pertama ditempati oleh warna biru, lalu nilai warna hijau pada 8 bit kedua dan pada 8 bit terakhir adalah warna merah[5].
Untuk sensitivatas mata manusia, buku Darma Putra juga menyatakan bahwa mata manusia lebih sensitif terhadap warna hijau[5], dinyatakan juga pada jurnal yang ditulis oleh N. Wong, Hardy, Megawan Sunario, dan juga Andri, bahwa mata manusia juga relatif tidak sensitif terhadap warna biru[4]. Adapula jurnal yang ditulis oleh MA Chunhong, Kim Heewoong, Zhao Baojie, yang menyatakan bahwa mata manusia sensitif terhadap warna campuran, seperti campuran warna hijau dan merah yang menjadikan warna kuning dan mata manusia tidak sensitif terhadap campuran warna hijau dan biru yang menjadikan warna cyan[7]. Dapat disimpulkan bahwa mata manusia memiliki sensitivitas warna yang berbeda-beda dan dikatakan pula mata manusia lebih sensitif terhadap warna hijau dan kuning serta tidak sensitif terhadap warna biru dan cyan.
Pada penelitian ini selain bertujuan untuk keamanan data, juga bertujuan untuk menguji dan menganalisis perbedaan antara gambar asli dan gambar steganografi dari penyisipan pada 3 layer (Red, Green, Blue) dan juga berbagai bit data citra (1 bit, 2 bit, 3 bit), jika dilihat oleh mata manusia secara langsung. Karena pada proses penyisipan pesan yang dilakukan akan dapat mengubah sedikit atau banyak komponen dari citra cover, sehingga dapat mempengaruhi penglihatan dari mata manusia. Ketika mata manusia dapat melihat perubahan dengan jelas pada citra yang telah disisipi pesan akan disimpulkan bahwa proses penyisipan tidaklah aman. Maka dari itu akan diuji apakah dapat terlihat
perbedaan dari penyisipan pada 3 layer dan juga berbagai bit data citra jika dibandingkan dengan gambar asli untuk menentukan penyisipan pesan di layer mana dan bit keberapa yang dikatakan aman. Dari penyisipan pada 3 warna tersebut akan dilihat perbedaan apa yang terlihat antara gambar asli dan gambar hasil penyisipan pesan. Penelitian ini menggunakan steganografi agar orang lain tidak mudah untuk mengetahui apakah citra tersebut terdapat pesan tersembunyi atau tidak.
Karena penelitian ini untuk menguji dan menganalisis mengenai perbandingan steganografi pada layer warna dan berbagai bit citra, dengan pemilihan metode dasar seperti LSB dirasa dapat diimplementasikan dengan mudah. Sesuai dengan yang ditulis dalam jurnal M. Ricky, F. Setyanongsih, dan M. Dipenogoro, keuntungan dari algoritma LSB ini adalah prosesnya cepat dan mudah[8]. Pada jurnal yang ditulis oleh Anita Putri Ratnasari dan Felix Andika Dwiyanto, menyatakan bahwa metode LSB juga memiliki nilai Mean Square
Error yang kecil dan Peak Signal to Noise Ratio yang besar, sehingga kualitas
citra steganografi hampir menyerupai citra aslinya, proses penyisipan dan ektraksi cepat dan mudah, ukuran citra asli dan citra stego sama, penyisipan dapat dikembangkan dengan menggunakan hingga 8 bit sebagai tempat penyimpanan pesannya[9].
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penilitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana implementasi Steganografi LSB?
2. Apakah dapat terlihat perbedaan antara gambar asli dan gambar steganografi dari penyisipan pada 3 layer dan juga berbagai bit data citra, jika dilihat secara langsung oleh mata manusia?
3. Apakah pesan dapat dikembalikan lagi setelah di ekstraksi?
1.3 Tujuan penelitian
Adapun tujuan dari penilitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengimplementasikan steganografi dengan metode LSB.
2. Menganalisis perbandingan steganografi pada gambar asli dan gambar steganografi dari penyisipan pada 3 layer dan juga berbagai bit data citra.
3. Menguji apakah pesan masih dapat dikembalikan lagi setelah di ekstraksi.
1.4 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dari penilitian ini adalah sebagai berikut: 1. Metode penyisipan yang digunakan adalah LSB.
2. Data yang disisipkan berupa teks berukuran 4410 bytes.
3. Pesan akan disipkan pada bit terakhir gambar yang berbeda beda yaitu 1, 2, 3 paling kanan dari 8 bit.
4. Menggunakan layer warna merah, hijau, biru, sebagai warna untuk penyisipan.
5. Citra warna (RGB 24 bit), berformat .bmp dengan ukuran 500 x 500 yang akan digunakan untuk citra sampul.
6. Menggunakan satu perangkat yang sama untuk proses pengisian kuesioner.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat pada penelitian ini, adalah sebagai berikut:
1. Penggunaan metode LSB sebagai salah satu metode dari steganografi sebagai metode untuk menyembunyikan pesan atau mengamankan pesan agar tidak diketahui oleh pihak yang tidak berwenang.
2. Mengetahui implementasi dari metode LSB.
3. Mengetahui apakah ada perbedaan antara gambar asli dan gambar steganografi dari penyisipan pada 3 layer dan juga berbagai bit data citra, jika dilihat secara langsung oleh mata manusia.
1.6 Skema Penulisan
Adapun skema penulisan dari penilitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bab I Pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan, manfaat, serta skema penulisan.
2. Bab II Landasan Teori yang berisi definisi definisi dari berbagai sumber yang dijadikan acuan dalam membuat analisis yang berhubungan dengan judul yang diambil.
3. Bab III Metode Penelitian yang berisi diagram alir penelitian, implementasi, pengujian, analisis dan evaluasi.
4. Bab IV Hasil dan Pembahasan yang berisi hasil dari penilitan serta pembahasan dari hasil yang telah didapat.
5. Bab V Penutup yang berisi kesimpulan dari hasil tugas akhir dan saran untuk pengembangan penelitian.