• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembangunan Melalui Pendekatan Millenium Development Goals (MDGs) Yang Disempurnakan di Wasur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pembangunan Melalui Pendekatan Millenium Development Goals (MDGs) Yang Disempurnakan di Wasur"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

© W W F Indonesia - Program

2014

CASE

STUDY

I D N

Pembangunan Melalui Pendekatan

Millenium Development Goals (MDGs)

Yang Disempurnakan di Wasur

(2)

Diterbitkan oleh WWF Indonesia - Program Papua

Pembangunan Melalui Pendekatan

Millenium Development Goals (MDGs)

Yang Disempurnakan di Wasur

Kesehatan Ibu dan Bayi Merupakan Bagian dari Program MDGs ©WWF Indonesia - Program Papua

"Millenium Development Goals (MDGs) atau Tujuan Pembangunan Milenium merupakan

komitmen bersama para pemimpin dunia, dalam rangka mempercepat pembangunan manusia melalui pemberantasan kemiskinan yang harus dicapai pada tahun 2015."

(3)

Judul : Pembangunan Melalui Pendekatan Millenium Development Goals (MDGs) Yang Disempurnakan di Wasur

Penulis : Paschalina Ch. M. Rahawarin & Maria Yekbat

Editor : Hans Beukeboom

Benja V. Mambai

Andhiani M. Kumalasari

Dian Primasari

Grafis dan Tata Letak : Jefri Indra Alfiza

Foto Sampul : WWF Indonesia - Program Papua

Penerbit : WWF Indonesia - Program Papua

Jl. Pos 7 Atas, Kampung Sereh, Sentani- Kabupaten Jayapura Provinsi Papua, 99352

Cetakan Pertama : September 2015

Seri kedua dari studi kasus pengalaman WWF Indonesia - Program Papua dan mitranya dalam konservasi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati di Indonesia terdiri atas lima judul buku, yaitu:

1. Inisiatif Ekonomi Lestari untuk Lorentz

2. Masyarakat Adat dan Pengelolaan Hutan Lestari di Papua

3. Pembangunan Melalui Pendekatan MDGs yang Disempurnakan di Wasur

4. Menuju Pendidikan Dasar untuk Pembangunan Berkelanjutan di Papua

5. Masyarakat Sebagai Pejuang Konservasi di Teluk Cenderawasih

ISBN 978-602-73148-2-5

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit.

(4)

3 Kata Pengantar

Ucapan Terima Kasih

Pengantar Latar Belakang

Gambaran Umum Taman Nasional Wasur

MDGs dan Realitanya di Tanah Papua

Metode Survei Sosial Ekonomi dengan Pendekatan MDGs

Kesimpulan Rekomendasi Daftar Singkatan Daftar Pustaka

Daftar Isi

... 4 ... 5 ... 6 ... 8 ... 9 ... 13 ... 15 ... 43 ... 43 ... 44 ... 45

(5)

Kata Pengantar

Direktur WWF Indonesia - Program Papua

Tanah Papua, wilayah paling ujung timur Indonesia menyimpan banyak cerita yang tidak habis untuk dibagi. Ceritanya pun bisa beraneka ragam, mulai cerita kondisi alamnya yang indah, kerarifan budaya lokal yang masih terjaga dengan baik, maupun ratusan satwa unik dan langka yang hidup menyebar di dalam air, permukaan tanah dan langit Tanah Papua. Harmonisasi kearifan masyarakat lokal dan kekayaan alam yang melimpah merupakan identitas Tanah Papua yang harus terus dijaga eksistensinya.

Sejak WWF Indonesia pertama kali beraktivitas di Tanah Papua, di awal tahun 1980, banyak cerita dan pengalaman menarik terkait isu-isu dan pembelajaran bersama baik itu untuk aksi konservasi maupun pemberdayaan masyarakat. Cerita pengalaman kerja rekan-rekan WWF sebagai 'pejuang konservasi' perlu untuk ditampung agar dapat disebarluaskan. Oleh karena itu, sejak tahun 2011, WWF Indonesia - Program Papua telah mempublikasikan buku studi kasus. Buku ini berisikan rangkuman pengalaman kerja rekan-rekan WWF di lapangan terkait dengan sebuah isu konservasi dan pengelolaan lingkungan di beberapa wilayah di Tanah Papua (Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat).

Pada publikasi tahap 1 tersebut, WWF Indonesia - Program Papua telah mempublikasi 4 (empat) buku studi kasus. Penulisan saat ini adalah untuk publikasi tahap 2 yang terdiri dari 5 (lima) buku. Saya berharap setiap publikasi buku studi kasus ini dapat

memberikan informasi positif dimana banyak orang yang terinspirasi dan bertambah pengetahuannya. Bagi rekan yang menyajikan cerita tersebut, hal ini merupakan sebuah bentuk apresiasi non-materi. Lebih lanjut, melalui buku ini, kinerja WWF untuk isu konservasi dan pengelolaan lingkungan juga dapat disebarluaskan. Tentunya, penulisan buku-buku studi kasus ini belum sempurna sehingga masukan dan saran untuk perbaikan materi buku ini sangat diharapkan.

Atas nama WWF Indonesia - Program Papua, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada semua rekan-rekan penulis, Bapak Efransjah dan semua anggota SMT WWF Indonesia yang telah memberikan dukungan terhadap penulisan dan penerbitan buku studi kasus serta kepada rekan saya Hans Beukeboom (WWF- Netherlands) yang selalu bersedia meluangkan waktu dan tenaga untuk memfasilitasi proses penulisan buku-buku studi kasus. Sekali lagi, Semoga buku ini dapat memberikan inspirasi dan tambahan informasi bagi para pembaca yang ingin memberikan sumbangsih nyata untuk aksi konservasi dan pengelolaan lingkungan.

Terima kasih,

Benja V. Mambai

(6)

Ucapan

Terima Kasih

Syukur kepada Tuhan, karena atas berkat dan perlindungan-Nya, saya dapat

menyelesaikan penulisan buku sederhana ini. Tulisan ini merupakan pengalaman kami dalam melakukan kajian/survey sosial ekonomi dengan pendekatan MDGs (Millenium Development Goals) pada kampung-kampung dimana WWF bekerja, termasuk pada 9 (sembilan) kampung di kawasan Taman Nasional Wasur di Kabupaten Merauke.

Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan:

Terima kasih kami kepada Pak Benja Mambai selaku Direktur Program Papua - WWF Indonesia yang telah memprogramkan penulisan case study untuk staf WWF di Papua dan kami diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman melalui program ini. Ini merupakan penulisan case study kali kedua.

Terima kasih juga untuk Pak Hans Beukeboom (WWF-NL) yang selalu tekun dan kritis dalam melakukan review tulisan-tulisan kami dalam case study ini. Tidak lupa juga rekan Indar dan Andhiani yang sudah membantu membaca kembali dan menyempurnakan tulisan ini.

Untuk masyarakat di Kampung Wasur, Rawa Biru, Yanggandur, Sota, Kuller, Onggaya, Tomer, Tomerauw dan Kondo dan para petugas (kesehatan, para kader kesehatan, para guru dan petugas lainnya), kami sampaikan juga terima kasih atas bantuan dan informasi yang diberikan selama ini.

Kami berharap melalui penulisan ini kami dapat membagi pengalaman kami kepada pihak lain, terutama mereka yang bekerja memperjuangkan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pencapaian target dari tujuan-tujuan MDGs. Dengan lebih banyak pihak yang peduli dan menaruh perhatian terhadap permasalahan MDGs dan

mengupayakan solusinya, maka kesejahteraan masyarakat lewat tujuan-tujuan MDGs ini dapat lebih cepat dicapai.

Kami menyadari bahwa tulisan ini belum sempurna, untuk itu kami menunggu kritik dan saran dari pembaca bagi penyempurnaan tulisan ini.

Salam,

Penulis

(7)

Pengantar

Millenium Development Goals (MDGs) atau Tujuan Pembangunan Milenium merupakan komitmen bersama para pemimpin dunia, dalam rangka mempercepat pembangunan manusia melalui pemberantasan kemiskinan yang harus dicapai pada tahun 2015. Pembangunan Millenium ini kemudian dikenal dengan Deklarasi Millenium yang merupakan hasil kesepakatan para kepala negara pada Konferensi Tingkat Tinggi di New York, Amerika Serikat. Indonesia adalah salah satu dari 189 negara anggota. Dalam tenggang waktu tersisa, semua pihak dianjurkan untuk mengevaluasi kembali sampai sejauh mana target-target MDGs yang telah tercapai.

Yayasan WWF Indonesia di Papua sebagai salah satu lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang konservasi turut mendukung deklarasi ini dengan caranya sendiri, yaitu melakukan survei sosial ekonomi dengan pendekatan MDGs pada lokasi-lokasi dimana WWF bekerja di Tanah Papua. Survei ini dilakukan dengan cara menyesuaikan target dan indikator MDGs dalam bentuk sederhana, sehingga data-data lebih mudah dikumpulkan dan mempercepat penanggulangan permasalahan MDGs di lapangan atau di kampung-kampung. Data yang benar dan akurat memungkinkan penanggulangan

permasalahan MDGs di kampung-kampung. Dengan demikian, dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Survei ini dilakukan di 9 (sembilan) kampung dalam kawasan Taman Nasional Wasur, sebagai salah satu kawasan penting yang telah menjadi bagian dari lokasi kerja WWF-Indonesia sebagai mitra Balai Taman Nasional Wasur.

Kajian-kajian sosial ekonomi yang selama ini dilakukan, menggunakan pendekatan 8 (delapan) tujuan MDGs sebagai fokus kajian. Dari 8 tujuan MDGs, terdapat 21 target utama dan indikator-indikatornya yang jika diuraikan lebih lanjut akan cukup panjang dan rumit. Hasilnya, banyak orang berpikir dua kali untuk melakukannya. Ibaratnya, baru melihat saja sudah tidak berminat, apalagi jika harus dilakukan oleh masyarakat awam.

Berikut adalah beberapa metode sederhana yang digunakan tim WWF, yaitu membentuk tim kecil, menyiapkan daftar pertanyaan panduan tentang 8 tujuan MDGs yang

disederhanakan, berkunjung langsung ke kampung (dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan lainnya) dan melaksanakan pendataan bersama masyarakat di kampung. Setelah itu, tim membuat analisis dan melaporkan hasilnya dan memberikan usulan solusi konkritnya kepada instansi pemerintah terkait, kemudian mengantarkan usulan tersebut hingga diimplementasikan oleh pemerintah daerah.

Metode MDGs dilakukan secara bertahap, mulai dari: perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi. Seluruh proses tersebut diawali dengan survei, pengambilan data lapangan, pencarian solusi terhadap permasalahan yang dijumpai di lapangan, koordinasi dan pelaporan terhadap pemerintah atau instansi teknis terkait, serta

(8)

monitoring dan evaluasi secara teratur terhadap program-program yang dilakukan untuk penanggulangan masalah-masalah MDGs tersebut. Agar lebih terarah, indikator yang dimaksudkan telah disiapkan dalam kertas kerja berupa kuesioner, sehingga memudahkan pengambilan data.

Hasil kajian tersebut kemudian menjadi baseline pelaksanaan program WWF-Indonesia di Papua, sekaligus diharapkan menjadi bagian dari referensi pemerintah dalam mengukur dampak pelestarian lingkungan terhadap kesejahteraan masyarakat di kampung-kampung tersebut. Setelah itu, metode dan hasil kajian tersebut dituangkan ke dalam buku dan diharapkan bisa diadopsi oleh pihak yang tengah mencari solusi penanggulangan kemiskinan di Indonesia, khususnya Papua.

Penyusunan Profil Kampung merupakan salah satu strategi untuk mendapatkan data-data capaian MDGs di tingkatan kampung secara sistematis, terkoordinir, dan efektif. Kegiatan penyusunan profil kampung dapat dilakukan secara serentak dan berjenjang mulai dari kampung, distrik, kabupaten, dan provinsi. Penyusunan Profil Kampung ini juga perlu disesuaikan dengan target-target MDGs, sehingga akan diperoleh data-data riill yang berisi pencapaian MDGs di kampung-kampung. Setelah itu, tahapan dan temuan terhadap hasil survei perlu ditindak-lanjuti oleh pemerintah untuk mencari jalan keluar terhadap permasalahan MDGs di kampung.

(9)

Latar

Belakang

Yayasan WWF - Indonesia bekerja di Tanah Papua sejak tahun 1980, dengan wilayah kerja utama di Jayapura untuk program konservasi Cagar Alam Pegunungan Cyclo0p. Kemudian Program WWF Indonesia untuk Papua menyebar di 7 (tujuh) kabupaten lainnya termasuk di Kabupaten Merauke. Untuk Taman Nasional Wasur, Program WWF dimulai sejak tahun 1991 dengan program utama untuk membantu pengelolaan kawasan, melalui penyusunan dokumen RPTN (Rencana Pengelolaan Taman Nasional) dan zonasinya serta melakukan program pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pendampingan penyulingan minyak kayu putih dan melakukan studi ekologi maupun sosial ekonomi.

(10)

Gambaran Umum

Taman Nasional Wasur

a. Area dan Zonasi Taman Nasional Wasur

Taman Nasional Wasur memiliki luas 413.810 ha dengan letak geografis sekitar 12 km dari Kota Merauke, Provinsi Papua. Kawasan ini ditetapkan sebagai area taman nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Mei 1997. Secara administrasi pemerintahan, Taman Nasional Wasur merupakan bagian dari empat distrik (kecamatan), yaitu:

Ÿ Distrik Tanah Miring meliputi daerah tepian Sungai Maro,

Ÿ Distrik Merauke, meliputi Kampung Wasur (di jalur Trans Papua),

Ÿ Distrik Sota meliputi Kampung Rawa Biru, Yanggandur dan Sota (di Jalur Trans Papua),

Ÿ Distrik Naukenjerai yang meliputi Kampung Kuller, Onggaya, Tomer, Tomerau dan Kondo (di pesisir pantai).

Taman Nasional Wasur dikelola dengan sistem zonasi dengan pembagian sebagai berikut: zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, dan zona khusus. Zona khusus melingkupi kampung-kampung dalam kawasan (lihat gambar 1). Salah satu alasan penting mengapa kawasan ini dijadikan kawasan konservasi karena adanya Rawa Biru, area berupa rawa permanen yang kemudian dijadikan sumber air bersih bagi masyarakat kota Merauke. Rawa Biru ini sudah ada sejak zaman pemerintahan Belanda. Selain itu, kawasan ini juga memiliki tipe-tipe ekosistem penting dan unik seperti hutan musim, savana, serta lahan basah yang luas. Hal ini juga merupakan habitat penting bagi burung-burung yang bermigrasi setiap tahun dari berbagai negara.

(11)

Gambar 1. Peta Zonasi Taman Nasional Wasur © W W F Indonesia - Program Papua

(12)

b. Penduduk di Taman Nasional Wasur

Masyarakat adat yang mendiami kawasan ini terdiri dari empat kelompok suku besar, yaitu: Kanume, Marind, Marori-Mengey, dan Yeinan yang bermukin di kawasan penyangga. Kelompok-kelompok suku ini telah hidup turun temurun, jauh sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Mereka hidup secara tradisional dan memegang teguh kearifan budaya serta memiliki totem yang dilambangkan dengan tumbuhan atau satwa liar. Dalam penjelasan selanjutnya, kelompok suku-suku ini disebut sebagai masyarakat adat. Khusus untuk masyarakat Suku Yeinan, meskipun memiliki tanah adat di dalam kawasan, namun kampung-kampung mereka terletak di luar kawasan (di kawasan penyangga taman nasional).

Masyarakat adat keempat suku ini merupakan bagian dari suku besar Masyarakat Adat Marind Anim. Dalam perjalanannya, kelompok suku ini mengalami perkembangan dengan masuknya sejumlah suku dari luar melalui pernikahan atau persahabatan.

Tabel 1. Komposisi Penduduk Menurut Kampung di Taman Nasional Wasur Tahun 2012

Sumber: WWF Indonesia 2012 Nama Kampung Rawa Biru Tomerau Yanggandur Onggaya Kondo Wasur Kuler Tomer Sota Jumlah Laki-laki 129 152 219 189 206 227 278 276 419 2095 Perempuan 124 137 182 145 185 206 277 226 382 1864 Total 253 289 401 334 391 433 555 502 801 3959 Jumlah KK 72 78 84 92 95 110 120 122 229 1002 Jumlah Rumah 48 58 80 67 88 92 103 105 214 855 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jumlah Penduduk

(13)

Berdasarkan komposisi penduduk pada tabel 1, terlihat Sota (ibu kota Distrik Sota) adalah kampung dengan jumlah penduduk terbanyak dengan suku-suku lain (di luar masyarakat adat) terbesar. Program transmigrasi pada tahun 1995 memberi pengaruh pada jumlah populasi kampung tersebut. Sedangkan jumlah populasi terkecil terdapat di Kampung Rawa Biru, memiliki 48 perumahan. Jumlah ini termasuk sedikit, jika dibandingkan dengan total kepala keluarga (KK) sebanyak 72. Maka dapat disimpulkan, rata-rata satu rumah ditempati lebih dari satu kepala keluarga.

c. Sumber Kehidupan Masyarakat di Taman Nasional Wasur

Pada umumnya, masyarakat adat yang hidup dalam kawasan Taman Nasional Wasur bekerja sebagai peramu, yaitu pekerjaan yang dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya alam sekitar, seperti menokok sagu, berburu, dan mengambil ikan di rawa.

Masyarakat juga hidup dari berkebun dan beternak kecil-kecilan, kemudian hasilnya bisa digunakan untuk makan sehari-hari dan menambah penghasilan. Masyarakat adat Kanume juga membuat kebun kumbili (sejenis ubi jalar) setiap tahun, yang bisa dijadikan sebagai makanan utama. Hidup dalam skala kecil dan lokasi yang jauh dari akses utama menjadi salah satu alasan terbatasnya sumber-sumber keuangan masyarakat dalam kawasan taman nasional ini (Paschalina Ch M Rahawarin, 2007).

Gambar 2. Masyarakat Memanfaatkan Sumber Daya Alam untuk Memenuhi Kebutuhan Hidup © W W F Indonesia - Program Papua

(14)

Tujuan Pembangunan Milenium atau disingkat dalam bahasa MDGs ini memiliki satu tujuan besar, yaitu tercapainya kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat di tahun 2015 melalui 8 (delapan) tujuan. Delapan tujuan tersebut (lihat tabel 2) ditargetkan dapat menjadi acuan untuk mengurangi separuh dari jumlah penduduk dunia yang masih terbelit dalam persoalan-persoalan seperti kelaparan, keterbatasan pendidikan, hak yang tidak merata, kematian ibu dan anak, dan akses terhadap air bersih. Survei sosial ekonomi masyarakat di 9 kampung dalam kawasan Taman Nasional Wasur selanjutnya menggunakan 8 tujuan, 21 target, dan 65 indikator sebagai pedoman standar pencapaian.

MDGs dan Realitanya

di Tanah Papua

Tabel 2 . Tujuan MDGs dengan 21 Target dan 65 Indikator

Sumber: KUKP MDGs, 2012

Tujuan

1. Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan

2. Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua

3. Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan

4. Menurunkan Angka Kematian Anak

5. Meningkatkan Kesehatan Ibu

6. Memerangi HIV/AIDS, Malaria, dan penyakit menular lainnya

7. Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup

8. Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan

Jumlah Target 3 3 3 1 2 3 3 3 21 Indikator 9 3 4 4 8 11 17 9 65 13

(15)

Delapan tujuan MDGs dengan target dan indikatornya secara lengkap dapat dibaca pada website http://www.mdgsindonesia.org. Dalam kajian kasus ini, delapan (8) tujuan MDGs tersebut digunakan sebagai rujukan untuk:

1. Membandingkan target-target yang ditetapkan secara internasional, nasional, regional, dan lokal,

2. Melihat capaian daerah, kendala, dan akar masalahnya,

3. Menganalisa sejauh mana prioritas kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan dasar masyarakat yang dilakukan di lapangan,

4. Menganalisa efisiensi anggaran (apakah terjadi pemborosan atau penggunaan anggaran pada program yang tidak tepat),

5. Menganalisa program dan anggaran yang tidak memihak masyarakat miskin (Pro Poor Planning and Budgeting).

Untuk memperoleh hasil akurat, maka delapan tujuan tersebut dianalisa dengan melihat keberpihakan program pembangunan dan anggaran di kampung target. Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan, yaitu:

1. Melihat langsung kondisi saat ini di lapangan,

2. Memastikan lokasi sebaran kemiskinan, penyebab kemiskinan, dan target grup tersebut,

3. Mengkaji akar masalah dan kondisi melalui data, kajian lapangan dengan melibatkan masyarakat adat, maupun kajian kebijakan,

4. Menentukan tujuan yang akan dicapai secara spesifik,

5. Menentukan strategi/program/kegiatan/jangka waktu untuk mencapai tujuan,

6. Memastikan bahwa anggaran yang disusun akan berjalan efisien dan sesuai dengan perencanaan, agar bisa mencapai tujuan.

(16)

a. Metode Penjaringan Data Kemiskinan Versi Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia

Berdasarkan sumber data utama dari SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) yang dipakai untuk menghitung tingkat kemiskinan di bulan September 2012, terdapat jumlah sampel sebesar ±75.000 rumah tangga. Tujuan dilaksanakannya survei ini agar data kemiskinan dapat disajikan sampai tingkat provinsi. Sebagai informasi tambahan, digunakan pula hasil survei SPKKD (Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar) yang dipakai untuk memperkirakan proporsi dari pengeluaran masing-masing komoditi pokok bukan makanan di Indonesia September 2012 (BPS, 2013).

Hasil capaian MDGs yang selama ini disampaikan oleh pemerintah melalui BPS, umumnya berdasarkan data sekunder yang diproyeksikan, informasinya bersifat makro, dan tidak menyentuh kehidupan masyarakat di kampung. Hasil dari metode yang digunakan oleh BPS lebih banyak berupa perbandingan angka kemiskinan secara makro dan hanya sampai pada level distrik yang dimuat di dalam dokumen/ buku Kabupaten Dalam Angka setiap tahun. Metode ini menampilkan data secara umum, tidak spesifik, dan tidak menunjukkan secara jelas lokasi dimana terjadinya permasalahan tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan satu lagi tahapan kajian untuk mendapatkan informasi yang lebih rinci dan jelas.

Metode Survei Sosial Ekonomi

dengan Pendekatan MDGs

(17)

Gambar 3. Tabel Data Kemiskinan di 20 Distrik Tahun 2012 © Merauke Dalam Angka, 2012

(18)

b. Metode MDGs Versi WWF

WWF-Indonesia telah berkecimpung di kawasan-kawasan konservasi di Papua sejak lama dan menemukan fakta bahwa keseluruhan kawasan telah menjadi hunian masyarakat adat secara turun temurun. Oleh karena itu, perjalanan program konservasi WWF selanjutnya diarahkan sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

Fakta tersebut menjadi acuan bagi WWF untuk mengambil peran lebih banyak dalam program pemberdayaan masyarakat yang diawali dengan sejumlah kajian. Di antaranya adalah kajian tentang keanekaragaman hayati dan ancamannya serta kajian sosial, ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Kajian yang terakhir ini dilakukan dengan menggunakan 8 tujuan MDGs sebagai acuan pertumbuhan penduduk setempat. Selanjutnya, metode ini dilakukan di seluruh wilayah kerja WWF-Indonesia di Papua.

Lantas muncul pertanyaan, seberapa berat dan akurat metodologi yang dilakukan dengan menggunakan tujuan MDGs ini? Apakah metode ini hanya bisa dilakukan oleh pihak akademik? Jawabannya, metode ini tidak tergolong berat dan bisa dilakukan oleh kelompok manapun, baik pemerintah maupun masyarakat sendiri. Hasil dari metode ini pun tergolong akurat, karena berangkat dari analisis akar masalah di wilayah kajian. Hasil kajian kemudian menjadi baseline pelaksanaan program WWF-Indonesia di Papua sekaligus diharapkan menjadi bagian dari referensi pemerintah dalam mengukur dampak pelestarian lingkungan terhadap kesejahteraan masyarakat di kampung-kampung tersebut.

Ada pula metode dan indikator yang digunakan WWF dalam kajian ini, terbagi dalam 9 (sembilan) aspek yaitu:

1. Sejarah kampung

Sejarah berdirinya kampung dan proses perpindahan sampai ke lokasi saat ini, pemilik tanah adat di kampung, suku, dan marga-marga yang mendiami kampung tersebut.

2. Pendidikan

Jumlah sekolah, jumlah murid, jumlah guru, keaktifan proses belajar- mengajar, kondisi gedung sekolah, fasilitas yang dimiliki, peruntukan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), kendala yang dihadapi, dan solusi yang diharapkan.

3. Kesehatan

Sumber air bersih, tempat buang sampah, tempat buang air, jenis penyakit yang sering diderita masyarakat, jumlah kematian ibu & anak, jumlah kelahiran bayi, fasilitas kesehatan dan petugas yang ada di kampung, serta obat-obatan tradisional yang masih digunakan.

(19)

4. Ekonomi

Sumber makanan, sumber penghasilan, harga barang dan BBM, jumlah kios dan pemiliknya, kemudian diperiksa apakah ada konflik dalam pengelolaan SDA.

5. Peran perempuan

Peran perempuan sehari-hari di kampung, perempuan yang mendapatkan peran penting, perempuan diundang dalam pertemuan, perempuan yang ikut mengambil keputusan, perempuan yang dapat menjadi penggerak, dan masih banyak peran penting lainnya.

6. Pengelolaan Sumber Daya Alam

Sketsa tempat-tempat penting masyarakat adat, sebaran SDA, tempat sakral, tempat pamali, penggunaan energi di setiap rumah tangga, dll.

7. Demografi & monografi kampung

Sketsa kampung , letak rumah, tipe dan kondisi rumah, jalan, fasilitas umum, data keluarga, dan kepemilikan yang dilakukan dengan cara sensus.

8. Program pembangunan kampung

Respek, PNPM Mandiri, GERBANGKU dan bantuan pemerintah & lembaga lain, kelembagaan kampung serta melihat apakah ada konflik dalam pemanfaatan bantuan-bantuan tersebut.

9. Analisa para pihak

Kelompok kepentingan atau lembaga-lembaga di kampung yang datang

bekerja/berkunjung dari luar, jenis program, pengaruh dan manfaat bagi masyarakat, dan peringkat dampak/pengaruh.

10. Pemanfaatan Energi

Sumber Bahan bakar untuk masak, penerangan di rumah, dan lain-lain.

11. Ketahanan Pangan Lokal

Jenis panganan yang dimakan sehari-hari, keberadaanya disekitar kampung, upaya untuk mempertahankanya dan mengembangkannya.

Survei biasanya memakan waktu selama 2 - 3 hari di setiap kampung target (tidak terhitung waktu perjalanan). Jumlah hari bisa berubah berdasarkan kondisi kampung (kecil atau besar) dan jumlah anggota tim survei.

(20)

c. Kelebihan dan Kekurangan dari Masing - Masing Versi

Dalam implementasi di lapangan baik metode versi BPS dan Metode versi WWF memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Adapun penjelasan mengenai kelebihan dan kekurangan masing-masing metode dapat dilihat di tabel 3 dibawah ini.

Tabel 3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Survei MDGs Versi BPS dan WWF

1. Daya jangkau lebih luas:

Distrik/Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi, dan Nasional

2. Memberikan gambaran tentang aspek MDGs pada semua level terendah dan hanya sampai pada distrik/kecamatan

3. Untuk solusi permasalahan, masih menunggu kebijakan dari pemerintah

4. Sensus penduduk dilakukan setiap 10 tahun

5. Data yang diperoleh secara kuantitatif

6. Data yang diperoleh atau diperbaharui setiap tahun dilakukan secara

sampling, sehingga proyeksi atau perkiraan memiliki tingkat akurasi yang sangat lemah

7. Data kemiskinan makro didasarkan pada data sample, sehingga data yang diperoleh berupa estimasi/perkiraan: misalnya, jumlah dan presentasi penduduk miskin di suatu daerah dan tidak dapat menunjukkan alamat dan siapa keluarga miskin

1. Data yang diperoleh langsung pada tingkat kampung

2. Dapat mengetahui sumber masalah, sehingga mudah untuk melakukan penanggulangan secara cepat

3. Solusi terhadap permasalahan dapat segera dilakukan secara cepat dan tepat sasaran

4. Data lebih detail dan akurat (terkini), karena dilakukan secara sensus dari rumah ke rumah dan bisa dilakukan kapan saja

5. Data yang diperoleh secara kuantitatif dan kualitatif

6. Data yang diperoleh memiliki akurasi yang sangat tinggi dan dapat dipercaya

7. Data mikro dan langsung fokus ke kampung dan keluarga, sehingga dapat ditunjukkan di keluarga mana yang terjadi permasalahan

Kelebihan dan Kekurangan

(21)

8. Data kemiskinan mikro dilakukan dengan cara sensus dengan melihat ciri-ciri rumah tangga miskin supaya pendataan dapat dilakukan secara cepat dan hemat biaya.

8. Pengumpulan data dapat dilakukan bersama-sama dengan beberapa kegiatan lainnya, sehingga waktunya lebih efisien serta penghematan biaya.

9. Bantuan pemerintah tidak dapat diberikan langsung kepada keluarga.

9. Bantuan dari pemerintah dapat diberikan secara langsung dan tepat sasaran.

10. Pengambilan dan pengumpulan data Susenas hanya dilakukan oleh petugas BPS.

10. Data dapat diambil dan dikumpulkan oleh pemerintah maupun kelompok-kelompok masyarakat/masyarakat.

tabel lanjutan

Sumber: WWF Indonesia 2009

Selain bisa dilakukan oleh pemerintah maupun kelompok masyarakat, kajian dengan menggunakan 9 aspek indikator ini juga memiliki kelebihan yang bisa menjadi bagian dari upaya peningkatan partisipasi masyarakat dalam program pemerintah. Kelebihan tersebut adalah sebagai berikut:

Ÿ Dilakukan di kampung, sehingga langsung menyentuh kehidupan masyarakat,

Ÿ Informasi jelas, karena dilengkapi dengan foto-foto, peta, sketsa dan tabel (penduduk, pendidikan, kesehatan, ekonomi dengan penjelasan detail dan lain-lain),

Ÿ Jika terjadi masalah, lokasi maupun permasalahannya terlihat jelas,

Ÿ Solusi terhadap masalah dapat segera dilakukan oleh pemerintah,

Ÿ Monitoring dan evaluasi langsung dari program pembangunan untuk mengatasi permasalahan di masyarakat.

d. Temuan Hasil Kajian

Kajian ini dilakukan di 9 kampung dalam dan di sekitar kawasan Taman Nasional Wasur. Tujuan kajian ini adalah untuk mengukur tingkat kemiskinan melalui survei sosial ekonomi. Pendekatan dilakukan dengan mengikuti standar MDGs, yaitu 8 (delapan) tujuan, 21 target dan 65 indikator (sedangkan BPS hanya Indonesia mencantumkan 14 indikator). Berikut adalah 8 tujuan beserta pertanyaan dan pendekatan umum:

Kelebihan dan Kekurangan

(22)

Tujuan 1 - Penanggulangan Kemiskinan dan Kelaparan

Siapa yang miskin?

Jawaban atas pertanyaan di atas bisa dilihat pada kolom pembanding jawaban

berdasarkan pendekatan yang dilakukan oleh BPS dan pendekatan berdasarkan indikator MDGs, seperti yang tertera pada tabel 4. Di dalam tabel ini menunjukkan bahwa tidak semua indikator dapat digunakan untuk mengukur kemiskinan. Mengapa? Sebagai contoh, sumber bahan bakar untuk memasak. Indikatornya adalah keluarga miskin memasak dengan menggunakan bahan bakar kayu, arang atau minyak tanah. Sementara itu, di kampung semua masyarakat maupun petugas menggunakan kayu bakar.

Tabel 4. Indikator menurut BPS dan Relevansinya dengan Masyarakat di Taman Nasional Wasur

No. Indikator BPS Relevansinya dengan Kondisi di 9 kampung yang Disurvei di TN Wasur

Luas lantai 6x6/KK dengan jumlah jiwa 5-8 dan kurang dari 8 m2.

Berlantai papan/kayu, lantai semen, dan lantai tanah.

Dinding rumah terbuat dari papan dan untuk semi permanen setengah dinding batu. Sebagian rumah di kampung adalah rumah bantuan pemerintah.

Rumah bantuan pemerintah dilengkapi dengan WC (yang bergabung dengan rumah utama), tapi tidak digunakan oleh masyarakat.

Masyarakat membuat WC terpisah dari rumah. Selain itu MCK umum yang dibuat di kampung menggunakan dana bantuan PNPM Mandiri-Respek.

Luas lantai bangunan kurang dari 8 m2 per orang.

Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari

tanah/bambu/kayu murahan.

Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu/ rumbia /kayu berkualitas murah/tembok tanpa diplester.

Tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain. 1 2 3 4 21

(23)

tabel lanjutan

Penerangan menggunakan pelita, genset, dan solar cell. Hampir semua kampung memiliki generator sendiri. Lima kampung sudah menggunakan genset, 2 kampung belum, dan 2 kampung sudah menggunakan listrik dari PLN (Wasur dan Sota).

Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.

Sumber air bersih berasal dari sumur. Hanya saat musim kemarau sebagian sumur di kampung tertentu kering, sehingga masyarakat menggunakan air dari bendali (Kampung Onggaya) dan air sumur bor untuk mandi dan cuci (Kuller dan Tomerau). Hal ini tidak bisa dijadikan indikator, karena petugas maupun pedagang juga menggunakan sumur dan bendali.

Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung, sungai/air hujan.

Bahan bakar untuk masak menggunakan kayu bakar, minyak tanah digunakan untuk

penerangan pada pelita. (tidak dapat dijadikan indikator karena petugas pemerintah juga

menggunakan kayu bakar).

Bahan bakar untuk masak sehari-hari adalah kayu bakar, arang atau minyak tanah.

Masyarakat mengkonsumsi ikan, karena ketersediaan di alam masih ada. Sedangkan daging hanya sewaktu-waktu jika ada hasil buruan.

Hanya mengonsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam seminggu.

Masyarakat membeli pakaian di kampung rata-rata setahun 2 kali, yaitu menjelang hari raya Natal dan Paskah.

Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun.

Makan dalam satu hari 1-2 kali, yaitu makan pagi/siang dan malam.

Hanya sanggup makan satu/dua kali dalam sehari.

Rata-rata masyarakat mempunyai kartu

JAMKESMAS dan JAMKESPA, dan masyarakat masih menggunakan pengobatan tradisional. Tidak sanggup membayar

biaya pengobatan di poliklinik/puskesmas. 5 6 7 8 9 10 11

No. Indikator BPS Relevansinya dengan Kondisi di 9 kampung yang Disurvei di TN Wasur

(24)

Minyak kayu putih, jual ikan mentah ke penada ikan asin, jual buah kemiri pakai kulit, jual buah kemiri bersih, hasil buruan, sarang semut basah, sarang semut kering, buah pandan merah, sayur daun ubi, pisang, dan tanaman daun wati.

Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah : petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp.600.000,-/ bulan.

Rata-rata penghasilan masyarakat

Rp. 100.000,- s/d Rp. 500.000,- tiap bulan.

Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga tidak sekolah / tidak tamat SD/hanya SD.

Rata-rata pendidikan tertinggi kepala keluarga Sekolah Dasar (SD). Namun ada juga yang tidak menyelesaikan SD.

Rata-rata masyarakat dikampung tidak memiliki tabungan, karena belum terdapat bank di kampung. Sedangkan jarak antara kampung ke kota cukup jauh.

Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,-seperti sepeda motor kredit/ non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya. 14

13 12

Sumber: WWF Indonesia 2012

Dari keterangan di atas terlihat bahwa sebagian besar masyarakat masih hidup di rumah kurang layak huni dan jumlah terbanyak terlihat di Kampung Tomerauw. Berdasarkan data ini, WWF mengirimkan surat ke Dinas Sosial, Kabupaten Merauke yang dilengkapi dengan data kampung target, sketsa perumahan, jumlah kepala kampung, dan kondisi perumahan. WWF juga menghimbau pemerintah, agar memberikan prioritas pada pembangunan kampung target melalui penganggaran APBD Tahun 2013. Hasilnya adalah pemerintah Kabupaten Merauke menyatakan komitmen untuk membangun 20 unit rumah pada tahap pertama di Kampung Tomerau.

No. Indikator BPS Relevansinya dengan Kondisi di 9 kampung yang Disurvei di TN Wasur

tabel lanjutan

(25)

© W W F Indonesia - Program Papua

Gambar 3. Kondisi Salah Satu Rumah Masyarakat di Kampung Tomerau

Tujuan 2 - Pencapaian Pendidikan Dasar pada Kampung di Taman Nasional Wasur

Analisis data di bawah ini menunjukkan bahwa data BPS yang disajikan sangat makro dan tidak menunjukkan realita yang terjadi. Apabila menggunakan indikator MDGs dengan pendekatan pada tujuan ke-2, secara jelas terlihat bahwa target penyelesaian sekolah dasar praktis tak bisa tercapai, karena data menunjukkan bahwa penurunan terjadi di SD kelas 2 dan seterusnya (data BPS hanya mencantumkan jumlah total murid secara keseluruhan), lihat tabel 4.

(26)

No Nama Kampung Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 4 Kelas 5 Kelas 6 Total L P L L L L L P P P P P 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Wasur Yanggandur Rawa Biru Sota Kuler Onggaya Tomer Tomerau Kondo 19 17 7 29 16 7 7 29 9 140 6 12 6 17 13 8 7 27 5 101 12 7 9 21 7 5 6 5 6 78 6 6 10 16 6 5 4 4 8 65 12 15 4 20 16 3 8 4 8 90 6 15 6 20 10 3 8 5 6 79 15 9 5 10 6 4 5 3 4 61 6 3 3 15 6 3 2 2 10 50 7 7 4 8 5 3 5 1 11 51 3 5 -13 8 -3 4 6 42 7 7 6 17 3 4 4 3 4 55 6 3 3 14 3 4 3 1 6 43 105 106 63 200 99 49 62 88 83 855 Jumlah Tabel 4. Jumlah dan komposisi murid pada Sekolah Dasar di kampung -kampung di Taman Nasional Wasur

(27)

Analisis data yang dilakukan oleh WWF tidak difokuskan pada jumlah murid di setiap kelasnya tetapi juga terkait dengan kondisi sekolah dan ketersediaan tenaga pengajar/ guru. Informasi lengkap dari hasil analisis yang dilakukan oleh WWF dapat dilihat di tabel 5 dibawah ini.

Tabel 5. Data Sekolah, Kondisi Bangunan, Guru dan keaktifan Proses Belajar Mengajar

No. Nama Kampung

Nama

Sekolah Kondisi Sekolah

Nama &

Status Guru Keterangan

Proses belajar mengajar berjalan aktif Dominikus Fernatubun, Dominikus Futunanembun , Urbanus Mulyadi, Paulus M.Ndiken, Ifoni A.M. Asmanita, Anton Paputungan, Yoseph Mahuze, Maria Nagarema, Everdina Yambotop (7 PNS dan 2 Honor Daerah) Gedung permanen, terdiri dari: 6 ruangan kelas, 1 ruangan guru, 1 ruangan perpustakaan, 1 lemari buku, meja, kursi murid dan guru yang dalam kondisi baik, dan 1 bak penampungan air bersih yang berasal dari PDAM SD Negeri

Wasur Wasur

(28)

tabel lanjutan Proses belajar mengajar berjalan aktif Emerikus Renyaan Regina Wermasubun Natalia Katukdoan Viska Desmawati Edmundus Yowali Wilem Rembe (3 PNS dan 3 Honor daerah) Gedung permanen dengan lantai tegel, meja dan kursi sebanyak 30 buah/kelas dan 4 buah lemari di ruangan kelas dan ada penambahan 60 buah. Papan tulis jenis white board, tidak memiliki ruang guru dan perpustakaan, tidak ada lemari buku SD YPPK St.Fransiskus Xaverius Yanggandur Proses belajar mengajar berjalan aktif Saparudin, Hamsina, Letsoin, Hamidah, Nikolaus Ndiken, Romanus Irama, H. Nafi, Fransina Minibro (7 PNS dan 1 Honor Daerah) Gedung permanen, terdiri dari: 3 ruangan kelas, 1 ruang guru, meja dan kursi berjumlah 15 pasang untuk 2-3 anak / kursi. MCK dalam kondisi rusak SD Inpres Rawa Biru Rawa Biru 2 3 No. Nama Kampung Nama

Sekolah Kondisi Sekolah

Nama &

Status Guru Keterangan

(29)

Proses belajar mengajar berjalan aktif Rosalina Luhulima, Nikodemus Urop, Leri Luhulima, Dina Urop, Melkianus Gasper, Lasarus Geojani, Melianus Gebze (3 PNS, 3 Honor dan 1 CPNS) Gedung permanen, terdiri dari: 6 ruangan kelas, 1 ruang guru, 1 perpustakaan, 3 WC memadai dan 2 sumur, meja kursi berjumlah 240 buah dan ada sebagian yang rusak, meja dan kursi guru, dan 1 buah lemari di ruangan guru SD YPK Sota Sota Proses belajar mengajar berjalan aktif P.S. Todingan, Germanaku, Simon Pakaranagan, Sarah Agata P, Agustinus Noya, Barbalina Shukubun, Helena Kimun, Agustina Y. Gelambu, Petronela Farneubun, Yuliana A, Ani SalviaBalagaize, Ona Bernadus (6 PNS, 2 Honor daerah dan 4 Honor Sekolah) Gedung permanen, terdiri dari 6 ruangan kelas dan 1 ruangan guru, meja dan kursi setiap kelas berjumlah 40-60 buah, 10-12 buah kursi dan meja murid rusak, 3 lemari di kelas, meja dan kursi ada 6 buah di ruang guru, 4 perumahan guru, dan 2 gedung yang digunakan SD YPK Kuler Kuler 5 4 tabel lanjutan No. Nama Kampung Nama

Sekolah Kondisi Sekolah

Nama &

(30)

Proses belajar mengajar berjalan aktif Ruth Wally (Kepala sekolah), Johanis Kaize, Mariana K.Samma, Dorsila Gelambu, Atha Yulianus, Else M. Teurupun (3 PNS dan 3 Honor Daerah) Gedung permanen,

terdiri dari 5 ruang kelas dan 1 ruang guru, 1 ruang perpustakaan yang disekat dengan ruangan guru. MCK dan 1 buah sumur air bersih SD YPK Onggaya Onggaya Proses belajar mengajar berjalan aktif S Malio Latuheru, Barbalina Kelujay, Alvin Rida, Dominggas Malioy Pay, Yeni Pay, Welmina Wattimena, Erna Wakem, Obertina Bonara, Yulanda Ndimar, Sherli Ndun. (6 PNS dan 4 Honor Daerah) Gedung permanen, terdiri dari 5 ruangan kelas dan 1 ruang guru, perpustakaan dan kantor yang menempati satu ruangan, dipisahkan oleh sekat. MCK dan air bersih baik, papan tulis jenis white board SD YPK Tomer Tomer 7 6 tabel lanjutan No. Nama Kampung Nama

Sekolah Kondisi Sekolah

Nama &

Status Guru Keterangan

(31)

Proses belajar mengajar berjalan aktif Abner Rumsowek, Kateri T.Paliama, Benedikta Kukpit, Yenni Monim, Sostenes Yari Setou, Enjelina Kul. (4 PNS dan 2 Honor) Gedung sekolah permanen dilengkapi fasilitas pendukung SD YPK Tomerauw Tomerau Proses belajar mengajar berjalan aktif. Begitu pula dengan para guru. Kegiatan belajar mengajar terganggu apabila turun hujan atau terlalu terik, karena, sebagian seng di atap sudah rusak dan terbuka. Yuliana Joice Dimara, Sance Dewalek, Aleks Soplanit, Bertila Y. Gelambu, Vottmina RM. Wettino, Gasper Mbete, Daud Mbanggu. (6 PNS dan 1 Honor) Gedung sekolah semi permanen, terdiri dari 5 ruang kelas, 1 ruang guru, kondisi sekolah lantai sekolah telah rusak dan menjadi tanah, atap gedung sekolah rusak dan terbuka , MCK rusak dan 1 buah sumur yang pada musim panas kering SD Inpres Kondo Kondo Sumber: WWF Indonesia 2012 9 8 tabel lanjutan No. Nama Kampung Nama

Sekolah Kondisi Sekolah

Nama &

(32)

Data BPS tidak menunjukkan secara jelas dari tingkat aktivitas proses belajar mengajar di sekolah-sekolah tersebut. Data hanya menunjukkan jumlah siswa per kelas. Tim survei WWF melakukan metode lain, yaitu wawancara dan hasilnya memperlihatkan bahwa proses belajar mengajar tidak berjalan maksimal di sejumlah desa. Berdasarkan temuan ini, WWF mengirimkan surat ke Dinas Pendidikan terkait dan menginformasikan mengenai situasi terkini disertai foto. Dalam surat tersebut disertakan pula data tentang SD Inpres Kondo, sekolah yang lokasinya berbatasan dengan Papua Nugini dan

kondisinya rusak berat. Atas laporan ini, pemerintah mengambil langkah cepat, yaitu melakukan perencanaan rehabilitasi bangunan sekolah di tahun 2013.

Gambar 3. Kondisi Ruangan Kelas di Salah Satu Sekolah

© W W F Indonesia - Program Papua

(33)

Tujuan 3 - Peran Perempuan (Kesetaraan Gender)

Hasil dari tabel di bawah ini menunjukkan, bahwa umumnya aktivitas sehari-hari kaum perempuan adalah mengurus keluarga, berkebun, memangkur sagu, dan mencari ikan. Perempuan mengambil porsi besar dalam pekerjaan domestik.

Gambar 4. Kegiatan Mengurus Anak-anak yang Merupakan Aktivitas Harian Kaum Perempuan © W W F Indonesia - Program Papu a

(34)

Tabel 6. Kegiatan Perempuan Sehari-hari pada Kampung-kampung di TN Wasur

No Nama

Kampung Kegiatan Perempuan Setiap Hari Organisasi

Berkebun, menjaring ikan, mencari kayu bakar, dan mengurus serta mengatur pekerjaan rumah tangga seperti mengurus anak, masak, dan mencuci.

Berkebun (bertani), pancing ikan, mengambil daun minyak kayu putih, ambil kayu bakar, dan juga mengurus rumah tangga. Sesekali ke dusun untuk memangkur sagu atau mengikuti suami berburu dan membuka kebun baru di dusun.

Mengurus anak, berkebun, pangkur sagu, mencari kayu bakar, mengambil daun kayu putih, dan menjaring ikan.

Mengumpulkan kulit bia, mengarit padi, tanam padi pada musim hujan, dan juga memasak minyak kelapa.

Membakar kapur makan, membuat minyak kelapa hasil fermentasi, menjaring ikan dan udang, mencari kayu bakar dan pangkur sagu serta mengurus, serta menjaga anak.

Membakar kapur makan, membuat terasi pada musim udang, membuat ikan asin, mencari sarang semut, membuat minyak kelapa dan kopra, serta ada juga yang menjaring ikan dan udang, mencari kayu bakar, pangkur sagu, serta menjaga anak.

Menjaring ikan dan udang, mencari kayu bakar dan pangkur sagu, serta mengurus keluarga dan menjaga anak.

Mengurus keluarga seperti mengasuh anak, memasak dan mencuci, selain itu mereka juga berkebun, mencari kepiting, maupun mencari kemiri.

PKK PKK tapi tidak aktif PKK tapi tidak aktif PKK dan Aktif PKK tidak aktif PKK tidak aktif PKK tidak aktif, PELWATA dari gereja PKK tidak aktif , PELWATA dari Gereja Mengurus rumah tangga, berkebun, pancing dan

membawa hasil kebun, hasil pancing ikan serta hasil berburu yang dilakukan oleh kaum laki-laki untuk dijual ke pasar. PKK tapi tidak aktif, PELWATA dari gereja Sumber: WWF Indonesia 2012 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Wasur Yanggandur Rawa Biru Kuler Onggaya Tomer Tomerau Kondo Sota

(35)

Gabungan Tujuan 4, 5 dan 6 - Pencapaian Terhadap Kualitas Kesehatan

Hampir semua kampung mempunyai fasilitas kesehatan seperti Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), dan Posyandu. Namun demikian, beberapa fasilitas tersebut kurang terawat bahkan ada yang rusak. Ketersediaan tenaga medis seperti bidan, mantri, dan penyuluh/ pelayanan KB dan Imunisasi sudah tersedia walaupun ada yang tidak bertugas setiap hari. Di beberapa kampung layanan JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan

Masyarakat) dan JAMKESPA (Jaminan Kesehatan Papua) juga tersedia. Beberapa penyakit yang serang diderita masyarakat adalah malaria, diare, penyakit kulit, ISPA, dan TBC. Lebih lanjut, angka kematian ibu melahirkan dan bayi tidak menunjukan angka yang mengkhawatirkan, lihat tabel 7.

(36)

Nama Kampung Kondisi Fasilitas Kesehatan Kematian bayi Kematian Ibu Melahirkan Kelahiran Bayi Penyakit yang sering diderita (tahun 2008-2012) (Tahun 2008-2012) (Tahun 2008-2012) 2008 2009 2010 2011 2012 2008 2009 2010 2011 2012 2008 2009 2010 2011 2012 1 Pustu, 1 Bidan, tersedia kartu J A M K E S M A S , pelayanan K B , tersedia Posyandu dan Kader Kesehatan 1 Pustu, 1 Mantri, kartu J A M K E S M A S , Posyandu, kader Kesehatan, pelayanan K B 1 Pustu, tak ada bidan/perawat, 1 Mantri T N I, P O S Y A N D U , pelayanan K B , kader Kesehatan, dan tersedia dukun bersalin. 1 Puskemas, 1 Dokter,2 Bidan 2 petugas gizi, 6 Perawat, U G D , pelayanan K B , Pemeriksaan ibu hamil, Posyandu, kader kesehatan, dukun bersalin Malaria, Asma, Diare, Penyakit Kulit (Panu dan Kurap.) IS P A , Gastritis (Maag), Rematik, T B C Penyakit kulit, IS P A , T B C , Malaria, Diare, Cacingan, dan Kekurangan Gizi T B paru, IS P A , T B C , Malaria, Kusta 4 kasus, Sipilis 3 Kasus, dan Gizi buruk 5 kasus. 4 5 1 2 3 2 9 2 6 1 5 7 10 5 1 2 3 1 -- - -5 3 2 6 2 9 1 6

Wasur Yanggandur Rawa

Biru Sota 1 2 3 4 -- -No. Tabel 7. Kondisi Kesehatan di Kampung-kampung Kawasan Taman Nasional Wasur

(37)

IS P A , infkesi kulit, T B C , Malaria. Pustu semi permanen, 1 bidan tidak aktif, Posyandu sebulan sekali dari Puskesmas, kader kesehatan 3 orang. Kalau masyarakat sakit, berobat ke Puskesmas di Onggaya. 1 Pustu, 1 Posyandu, 1 Mantri dan 1 Bidan, kader kesehatan, J A M K E S M A S dan J A M K E S P A , serta dukun. Data kelahiran bayi, kematian ibu dan bayi tidak ada 1 Pustu (kondisi rusak), 1 gedung posyandu, 1 bidan, 2 mantri T N I, Posyandu, Pelayanan K B dan Imunisasi, P M T tidak setiap bulan diberikan IS P A , Asam Urat, Gula darah, Darah Tinggi, dan Malaria 1 Pustu, 1 Bidan, kader kesehatan dan pelayanan K B , dan Imunisasi Panas, Batuk Beringus, Malaria, Diare, Cacing, Luka-Luka dan gatal-gatal, T B C , Kusta 2 kasus, Polio 1 kasus. IS P A , Diare, Infeksi Kulit, kusta 1 kasus, T B C 1 kasus, IS P A , Malaria, Rematik, T B C , dan Kurang Gizi. 1 Pustu (tidak terawat), 1 Mantri (belum ada di kampung), kader kesehatan, dukun bersalin, dan pelayanan posyandu 9 11 5 3 2 -1 1 1 1 11 -14 14 11 1 -1 15 -7 6 3 10 1 -2 2 1 -1 -1 10

Kuler Onggaya Tomer Tomerau Kondo

5 6 7 8 9 tabel lanjutan Nama Kampung Kondisi Fasilitas Kesehatan Kematian bayi Kematian Ibu Melahirkan Kelahiran Bayi Penyakit yang sering diderita (tahun 2008-2012) (Tahun 2008-2012) (Tahun 2008-2012) 2008 2009 2010 2011 2012 2008 2009 2010 2011 2012 2008 2009 2010 2011 2012

(38)

Tujuan 7 - Pelestarian Alam Dan Dampak Penggelolaan Sumber Daya Alam (SDA) Terhadap Masyarakat

Untuk melihat bagaimana pelestarian alam menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, tim meminta responden untuk membuat sketsa - sketsa potensi sumber daya alam yang ada di sekitar kampung dan tanah adat mereka. Jika memungkinkan, titik koordinat diambil pada tempat-tempat/dusun yang dianggap penting oleh masyarakat setempat. Hasil sketsa dan titik koordinat tersebut kemudian dianalisa oleh tim GIS, menjadi peta Pengelolaan SDA seperti pada gambar 5 di bawah ini.

Gambar 5. Peta Potensi dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Kampung Yanggandur

37 © W W F Indonesia - Program Papua

(39)

Untuk bantuan fisik berupa bantuan perumahan masyarakat (Kampung Kondo dan Tomerau), bantuan mesin parut kelapa, alat penyulingan, jaring udang dan ikan serta cool box, bantuan balai kampung, dan fasilitas umum lainnya. Sementara untuk bantuan non fisik yang berupa pelatihan-pelatihan, antara lain pelatihan yang dilaksanakan untuk semua aparat kampung berupa tata kelola pemerintahan kampung, pelatihan penyulingan minyak kayu putih, pembuatan minyak kelapa, pertanian sederhana dan Pelatihan Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga (ERT).

Tujuan 8- Kemitraan Para Pihak Dalam Pembangunan

Tujuan 8 ini merupakan tujuan yang digunakan untuk melihat seberapa besar keterlibatan para pihak dalam pembangunan di kampung-kampung target. Analisis dilakukan secara internal dan eksternal. Telaah terhadap tujuan 8 ini menunjukkan, bahwa bantuan pendanaan dari pemerintah untuk semua kampung berasal dari dana PNPM Mandiri RESPEK dan Dana GERBANGKU. Rata-rata kampung menyerap 300 - 500 juta rupiah per tahun. Tentu saja angka tersebut tak bisa dibilang sedikit.

(40)

Pembangunan perumahan masyarakat, gereja Protestan dan rehab gereja katholik, pembangunan Balai Kampung

Pembangunan Pustu

Pembangunan rumah guru dan gedung sekolah

Alat-alat pertanian dan bibit tanaman, traktor, dan treser, pelatihan budidaya tanaman sawah, hand traktor, gilingan padi, tanaman ubi-ubian, bantuan ternak.

Balai Kampung, Televisi, Solar Panel, dan Parabola

Angkutan Daerah Terpencil

Bantuan mesin jahit

Pelatihan Teknisi

Solar Sell

Pelatihan Bagi Aparat Kampung

Rawa Biru, Yanggandur,Kuler, Kondo, dan Onggaya Rawa Biru

Rawa Biru dan Yanggandur Rawa Biru, Tomerauw, Sota Tomerauw, Yanggandur, dan Sota Tomerauw Wasur Wasur Yanggandur Semua kampung Dinas Sosial Dinas Kesehatan Dinas Pendidikan dan Pengajaran Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Badan Pengelola Perbatasan Daerah Dinas Perhubungan Badan Pemberdayaan Perempuan Balai Latihan Kerja Dinas Pertambangan dan Energi Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung

No Asal Bantuan Jenis Bantuan Nama Kampung

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Tabel.8. Program Pembangunan dan Bantuan yang Masuk di Kampung-kampung di Kawasan Taman Nasional Wasur

(41)

No Asal Bantuan Jenis Bantuan Nama Kampung

Sarana dan prasarana, infrastruktur, diesel kampung, lampu penerangan jalan, diesel kampung, usaha peternakan, usaha kolam ikan, bantuan jaring, saluran air dan irigasi, mesin babat dan penimbunan jalan, sumur umum, pengadaan alat-alat

pertanian, penimbunan halaman PUSTU, gereja dan balai kampung. Pembangunan MCK, box cover, PUSTU, pasar kampung, instalasi pipa air bersih, PMT bagi balita, bayar gaji untuk guru honor, tiang listrik dan instalasi listrik, kabel induk listrik, beasiswa, bohlam lampu

Semua kampung

PNPM Mandiri dan RESPEK

Pembangunan jembatan, pembangunan MCK, PMT bagi balita, PKK, pengadaan bibit pertanian, pengadaan mesin jahit, untuk pengurus dan aparat, kampung, solar cell, televisi, penimbunan jalan, bak air bersih, pengadaan traktor, pembuatan sumur, pal batas kampung, kelompok usaha umbi-umbian, Sanggara Budaya, PUSTU, pendidikan, honor guru, PKK,

fondasi rumah, pasar kampung,

pendidikan, kader Posyandu, operasional gereja Katolik, operasional gereja

Protestan, operasional mesjid, operasional bengkel kampung, dan perahu Johnson

Semua kampung

GERBANGKU

Pelatihan pembuatan keripik pisang, jaring dan cool box, pelatihan dan pendampingan usaha produktif penyulingan minyak kayu putih, kopra, dan minyak kelapa.

Rawa Biru, Tomerauw, Onggaya, dan Sota BTNW

Pelatihan pengelolaan ekonomi rumah tangga dan pendampingan usaha produktif penyulingan minyak kayu putih

Rawa Biru, Tomerauw, dan Onggaya WWF 11 12 13 14 tabel lanjutan

(42)

No Asal Bantuan Jenis Bantuan Nama Kampung

Pelatihan dan pendampingan usaha produktif penyulingan minyak kayu putih

Rawa Biru, Tomerauw, dan Onggaya YWL

Peningkatan kapasitas dan kemampuan di bidang pertanian

Onggaya BPS-E Yasanto

Penyuluhan HIV dan AIDS, dan pendampingan KOMPAK

Sota, Yanggandur, Rawa Biru, Wasur, dan Kondo

BPKM -Yasanto

Pelatihan HIV/AIDS dan pentingnya pendidikan bagi aparat kampung

Sota YAMIKARI

dan WVI

Sumber: WWF Indonesia, 2012

Gambar 6. Kegiatan Pelatihan Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga dan Pengembangan Usaha Produktif Penyulingan Minyak Kayu Putih

© W W F Indonesia - Program Papua 15 16 17 18 tabel lanjutan 41

(43)

e. Cara analisis

Tim WWF melakukan analisis hasil survei dari hasil temuan di lapangan dengan bantuan verifikasi dan pengumpulan informasi tambahan dari beberapa organisasi yang aktif berkegiatan di kampung-kampung. Berikut adalah beberapa organisasi yang terdapat di kampung-kampung dalam TN Wasur, yaitu:

Ÿ Pemerintah Kampung (semua kampung)

Ÿ Badan Permusyawaratan Kampung (BAMUSKAM)

Ÿ Dewan Gereja Katolik ( Wasur, Rawa Biru, Yanggandur, Sota, Tomerau, dan Kondo),

Ÿ Majelis Gereja Protestan (Sota, Onggaya, Tomer, Tomerau & Kondo)

Ÿ Pengurus Mesjid (Sota, Kuller, dan Tomer)

Ÿ PELWATA (Sota, Kuller, Onggaya, Tomer, Tomerau, dan Kondo)

Selain organisasi - organisasi dalam lingkung internal kampung terdapat juga beberapa organisasi eksternal kampung. Organisasi dari luar yang sering berkegiatan di kampung, yaitu: Pemerintah Distrik, Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung, Badan

Pemberdayaan Perempuan dan KB, Dinas Kesehatan, Balai TN Wasur, dan BPKM YASANTO.

(44)

Kesimpulan

Untuk menanggulangi kemiskinan dalam suatu negara diperlukan strategi yang tepat. Ada semboyan yang mengatakan bahwa "No data, no plan and no action." Strategi tersebut hanya dapat efektif jika pemerintah juga memiliki data dan informasi yang akurat dan relevan serta dimulai dari tingkatan yang paling rendah yakni tingkat kampung. Data dan informasi yang akurat dapat dipertanggung jawabkan selama indikator-indikatornya mudah terukur dan disesuaikan dengan kondisi di masing-masing wilayah.

Untuk mendapatkan indikator yang mudah terukur, maka perlu melokalkan indikator yang digunakan di tingkat internasional dan nasional. Saat ini belum semua indikator yang digunakan dapat diterapkan, karena belum sesuai dengan kondisi di lapangan.

Untuk mendapatkan informasi yang benar dari kampung-kampung, tidak sesulit yang dibayangkan. Survei sosial ekonomi dengan pendekatan MDGs ala WWF ini dapat dilakukan secara cepat dan sederhana, namun terbukti dapat mengangkat permasalahan-permasalahan mendasar yang ada di masyarakat sehingga mendapat perhatian dan mudah dicarikan solusinya.

Rekomendasi

1. Monitoring dan evaluasi perlu dilakukan secara terbuka dan teratur sehingga kekurangan-kekurangan yang ditemukan dapat segera diatasi,

2. Untuk meningkatkan dampak lebih luas terhadap capaian MDGs ini, maka survei sosial ekonomi dengan pendekatan MDGs ini akan lebih baik jika dilakukan pula di wilayah lain, sehingga permasalahan-permasalahan mendasar dalam kehidupan masyarakat bisa terangkat dan dipastikan program pembangunan sesuai dengan kebutuhan mereka.

(45)

Daftar

Singkatan

AIDS : Acquired Immune Deficiency Syndrome BBM : Bahan Bakar Minyak

BOS : Bantuan Operasional Sekolah

BPS : Badan Pusat Statistik

BAMUSKAM : Badan Musyawarah Kampung

GERBANGKU : Gerakan Pembangunan Kampungku

GIS : Geographic Information System

HIV : Human Immunodeficiency Virus ISPA : Infeksi Saluran Pernapasan atas

JAMKESPA : Jaminan Kesehatan Papua

JAMKESMAS : Jaminan Kesehatan Masyarakat

KOMPAK : Kelompok Penanggulangan AIDs Kampung

MCK : Mandi, Cuci dan Kakus

MDGs : Millenium Development Goals PMT : Pemberian Makanan Tambahan

POSYANDU : Pelayanan Kesehatan Terpadu

PNPM : Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat

PUSTU : Puskesmas Pembantu

RESPEK : Rencana Strategi Pembangunan Kampung

RPTN : Rencana Pengelolaan Taman Nasional SPKKD : Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar

SUSENAS : Survei Sosial Ekonomi Nasional

BPKM YASANTO : Badan Pengembangan Kesehatan Masyarakat Yayasan Santo Antonius

YAMIKARA : Yayasan Mitra Karya Mandiri

YWL : Yayasan Wasur Lestari

(46)

Badan Pusat Statistik, 2013. Berita Resmi Statistik No.06/01/Th.XVI, Jakarta

Balai Taman Nasional Wasur, 2011. Review Zonasi Taman Nasional Wasur Buku Data dan Analisa, Merauke, Papua

Hartoyo, Syahrul Syah, Septiva H.Artati, Jumi Rahayu, Hamong Santono, Mike Verawati, 2012. Mari Bicara Fakta, INFID Jakarta.

http:/ www.mdgsindonesia.org, April 2013

Kantor Urusan Khusus Presiden . Website MDGs Indonesia.org. Untuk Urusan MDGs, Jakarta

M.Firdaus, Wahyu Susilo, Atashendartini Habsjah, Yenny Sucipto, Ulfa Hidayati, Tri Endang Sulistyowati,

Panduan Survei MDGs WWF Indonesia Program Papua ,2009, Paschalina

Rahawarin,2011. Case Study: Minyak Kayu Putih Alternatif Ekonomi Lestari di Taman Nasional Wasur, Merauke.

Paschalina Rahawarin, WWF ID 2009, Panduan Praktis Survey SOSEK dengan Pendekatan MDGs untuk Internal WWF di Papua.

Profil Kemiskinan di Indonesia September 2012, berita resmi statistik Badan Pusat Statistik Indonesia, 06/01/Th.XVI, 2 Januari 2013

Surat Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia No. 282/Kpts-VI/1997, tanggal 23 Mei 1997.

Daftar

Pustaka

(47)

Tentang

Penulis

Biasa dipanggil Linke, lahir di Tanah Merah (Bouven Digoel) pada tanggal 23 April 1965. Menyelesaikan pendidikan dasar sampai SMA di Merauke kemudian melanjutkan pendidikan S1 sampai selesai di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Cenderawasih, Jayapura. Pada tahun 2005, penulis melanjutkan pendidikan S2 pada Program Kajian Ilmu Lingkungan, Program Pasca Sarjana, Universitas Indonesia.

Karir di WWF Indonesia dimulai pada tahun 1991 sebagai Finance & Administration Officer, setelah itu menjadi Environmental Education & Conservation Awarenesss Officer dan dilanjutkan sebagai Community Development Coordinator di Merauke. Tahun 1997-2000 menjabat sebagai Direktur Yayasan Wasur Lestari. Hingga tahun 2005 penulis juga menjabat sebagai Office Manager untuk WWF Kantor Merauke. Sejak tahun 2008 sampai sekarang penulis menjabat Kordinator Program Selatan Papua sekaligus sebagai Community Empowerment Coordinator untuk WWF Indonesia - Program Papua.

Paschalina Ch. M. Rahawarin

(48)

Tentang

Penulis

Maria Lahir di Merauke pada tanggal 13 September 1983, menyelesaikan pendidikan Sarjana Kehutanan pada Universitas Negeri Papua, Manokwari pada tahun 2007.

Bergabung pada Yayasan WWF Indonesia pada akhir tahun 2008 - Agustus 2009 sebagai Volunteer. Pada bulan September 2009-Desember 2009 bekerja sebagai Asisten

Administrasi & Librarian dan Awareness (non staf). Januari 2010 - Juli 2012 bekerja sebagai Asisten Librarian dan Awarness (non staf). Pada bulan Agustus 2012-13 Januari 2013 bekerja sebagai Asisten Awareness dan Forest Officer (non Staf). Pada tahun 2013-2015 diangkat sebagai staf WWF dengan jabatan sebagai Forest Officer untuk Kantor Merauke.

Beberapa studi dan kajian yang pernah diikuti selama bekerja pada Yayasan WWF Indonesia yaitu menggikuti Pelatihan Penggukuran Karbon REDD untuk Selatan Papua di Kabupaten Merauke, 26-28 Mei 2011, Bimbingan Teknis Pengelolaan East Asian

Australian Flyway Partnership (EAAFP) Site Network dan Pelatihan Pengamatan Burung Migran di Taman Nasional Wasur - Kabupaten Merauke, September-Desember 2011. Penulis juga mengikuti dan terlibat dalam Tim Survei Pengambilan Data Karbon terkait dengan REDD+ di Selatan Papua. Tahun 2014 terlibat dalam survei habitat dan populasi burung Cenderawasih dan Kangguru di Kabupaten Merauke.

Maria Yekbat

(49)

w

w

w

.w

w

f.o

r.

CASE

STUDY

-

WWF

-INDONESIA

Tanah Papua memiliki sebaran kelompok bahasa sebanyak 262 yang mencerminkan penyebaran kelompok suku yang ada di Tanah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat)

262

Saat ini WWF-Indonesia memiliki 7 kantor site di Tanah Papua

7

Tanah Papua memberikan sumbangan 50 % terhadap total keanekaragaman hayati di Indonesia

50%

WWF mulai bekerja di Indonesia sejak tahun 1962

1962

Mengapa kami hadir di sini

http://www.wwf.or.id

Untuk menghentikan degradasi lingkungan alami planet ini dan untuk membangun masa depan di mana manusia hidup selaras dengan alam

Gambar

Gambar  1.  Peta  Zonasi  Taman  Nasional  Wasur
Tabel  1.  Komposisi  Penduduk  Menurut  Kampung  di  Taman  Nasional  Wasur  Tahun  2012
Gambar  2.  Masyarakat  Memanfaatkan  Sumber  Daya  Alam  untuk  Memenuhi  Kebutuhan  Hidup
Gambar  3.  Tabel  Data  Kemiskinan  di  20  Distrik  Tahun  2012
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada tabel 4.1 dapat dilihat bahwa status pekerjaan yang paling banyak mengalami gangguan siklus menstruasi dan gangguan proses pematangan folikel ovarium adalah

1. Buku yang berjudul “Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya” karya Arief S. Buku tersebut membahas mengenai media pendidikan secara lebih

Syafruddin Prawiranegara, Kementerian Keuangan RI, Lantai 5-12, Jl.. Lapangan Banteng

Terdapat 1 Program yaitu Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelola Keuangan Sekretariat Daerah dengan Kegiatan Konsolidasi Pelaksanaan Pengelolaan Administrasi

Merujuk pada kinerja yang dilakukan oleh negara pesaing, hal yang cukup penting dilakukan oleh para calon pemasok di Indonesia adalah perhatian atas penguasaan

Melalui chatting di WA group guru mempersiapkan peserta didik secara fisik dan psikis untuk mengikuti pembelajaran, guru memberi motivasi, melakukan apersepsi,

Hasil uji validtas untuk angket budaya organisai dan efektivitas sekolah dapat diketahui bahwa masing- masing dengan jumlah pernyataan 15 didapat semuanya valid karena rhitung

pelayanan kesehatan, pendidikan serta kebutuhan dasar lainnya Memantapkan transformasi birokrasi yang bersih, dinamis dan tangkas berbasis digital untuk meningkatkan