• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

World Health Organization (WHO), 2016 mengartikan kesehatan merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual. Kesehatan juga tidak dipandang dari segi fisik saja, agar dapat tercipta kesehatan yang holistik atau menyeluruh maka diperlukan pula jiwa yang sehat. Menurut pasal 1 UU No. 18, (2004) tentang Kesehatan Jiwa, kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.

Peningkatan gangguan jiwa di belahan dunia semakin besar terlebih di era globalisasi saat ini, hal ini disebabkan oleh pemicu stress yang semakin kompleks. Menurut data WHO (2016), terdapat 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia dan 47,5 juta orang terkena dimensia. (Ministry of Health Republic of Indonesia, 2018) Menunjukkan prevalensi penderita Skizofrenia adalah sekitar 400.000 orang atau 1,7 per mil 1.000 penduduk dan provinsi Jawa Timur menunjukkan angka 2,2 per mil 1.000 penduduk. Berdasasrkan data jumlah penduduk Jawa Timur yaitu 38.005.413 jiwa, maka dapat disimpulkan 83.612 jiwa yang mengalami gangguan jiwa.

Orang dengan gangguan jiwa biasanya terlihat aneh dengan tampilan fisik yang tidak terpelihara, dan berperilaku tidak lazim dibandingkan dengan orang-orang pada umumnya. Pada kondisi tertentu terkadang mereka tampak seperti berbicara sendiri atau berinteraksi dengan sesuatu hal yang tidak jelas, tertawa sendiri, tiba-tiba menangis, merasakan sesuatu yang hanya dirinyalah yang mengetahui alasannya, dan bahkan beberapa diantaranya mengamuk tanpa sebab yang logis. Perilaku seperti ini kerap membuat takut orang-orang disekitarnya dan menyebabkan masyarakat memberi label sebagai orang gila atau orang tidak

(2)

waras yang tidak selayaknya berada dan tinggal bersama dalam lingkungan masyarakat yang dipandang lebih baik kondisi kesehatan jiwanya. Hal ini pada akhirnya memunculkan stigma dan diskriminasi dikhalayak umum yang besar terhadap klien dengan gangguan jiwa dibandingkan klien dengan penyakit medis lainnya (Sulistyorini, 2013).

Orang dengan gangguan jiwa sampai saat ini hak nya sebagai manusia di lingkungan masyarakat masih tercabut. Mereka mendapatkan diskriminasi dan stigmatisasi oleh lingkungan masyarakat bahkan institusi kesehatan dan pemerintahan (Subu, Waluyo, Nurdin, Priscilla, & Aprina, 2018). Dengan adanya stereotipe yang negatif, orang dengan gangguan jiwa yang sudah dikatakan sembuh oleh tenaga kesehatan ketika kembali ke lingkungan masyarakat akan kembali ke kondisi semula yang membuat mereka sulit untuk sembuh (Asti, Sarifudin, & Agustin, 2016). Karena hal tersebut klien akan menarik diri dan enggan bersosialisasi karena merasa dikucilkan oleh lingkungan sekitar. Tidak hanya klien dengan gangguan jiwa yang mendapatkan sikap diskriminalisasi dari lingkungan, akan tetapi pihak keluarga yang merawat klien dengan gangguan jiwa (caregiver) turut menjadi sasaran masyarakat yang menganggap memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa merupakan sebuah aib yang sangat besar. Dari kondisi ini pihak keluarga pun memiliki tingkat beban psikologis dan emosional yang cukup tinggi sehingga dalam merawat sering menunjukkan sikap emosi yang berlebihan, menghardik dan membentak, bahkan sampai memukul. Dari sikap-sikap itulah yang menyebabkan semakin memburuknya kondisi dan meningkatkan risiko kekambuhan pada klien (Dewi, 2018).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Herdiyanto, 2017) mengenai “Stigma Terhadap ODGJ di Bali”. Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan metode Grounded Theory yang melibatkan 67 responden (keluarga penderita gangguan jiwa, penderita gangguan jiwa, dan masyarakat setempat) di Bali dengan tujuan untuk mengeksplorasi bagaimana orang Indonesia menganggap atau memandang gangguan jiwa, dan bagaimana mereka menanggapi stigmatisasi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Penelitian menunjukkan bahwa stigmatisasi pada orang dengan gangguan jiwa disebabkan oleh salah satunya yaitu kepercayaan (kultural

(3)

dan religi), hal ini sejalan dengan kondisi di desa Slorok yang mayoritas penduduk nya masih berpegang teguh pada nilai-nilai budaya. Mereka menganggap gangguan jiwa adalah kondisi dimana seseorang sedang dirasuki oleh makhluk halus atau jin. Terlebih klien disini tinggal sendiri di satu rumah tanpa ada anggota keluarga yang menemani sehingga memunculkan stigma baru di masyarakat bahwasannya di rumah tersebut klien tidak tinggal sendiri tetapi bersama makhluk halus. Hal-hal seperti inilah yang sedang terjadi di masyarakat saat ini dikarenakan faktor kultural dan religi yang salah kaprah.

Pengetahuan dan pendidikan adalah salah satu faktor penyebab munculnya stigma publik terhadap orang dengan gangguan jiwa. Penelitan yang dilakukan oleh (Asti et al., 2016) menunjukkan bahwa 49,3 % responden dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah memberikan labeling buruk terhadap orang dengan gangguan jiwa. Tidak bisa dipungkiri perbedaan tempat tinggal juga sangat mempengaruhi munculnya stigma dikarenakan orang yang tinggal di desa kebanyakan memiliki background pendidikan yang rendah sedangkan orang yang hidup di perkotaan cenderung sudah banyak mengenyam pendidikan sehingga memiliki mind set yang luas dan cukup baik terhadap orang dengan gangguan jiwa.

Bentuk stigma yang didapatkan oleh orang dengan gangguan jiwa menurut (Putriyani & Sari, 2014) adalah prasangka dan stereotipe buruk yang muncul dari masyarakat sekitar. Hal ini bisa terjadi dikarenakan persepsi masyarakat pada orang dengan gangguan jiwa tidak baik, yang mengganggap orang gangguan jiwa menakutkan dan harus dijauhi karena mengancam keselamatan orang lain. Tidak bisa dipungkiri adanya prasangka dan stereotipe yang buruk memuculkan fenomena baru yaitu diskriminasi. Diskriminasi merupakan sebuah tindakan fisik maupun sosial yang mengharuskan klien dengan gangguan jiwa dikucilkan atau dipojokkan oleh masyarakat sekitar sehingga mereka tidak bisa mendapatkan hak-hak dasar sebagai manusia pada umumnya.

Tingginya angka sigmatisasi di Indonesia menyebabkan mereka rentan terhadap perilaku kekerasan, baik kekerasan fisik maupun mental. Hasil penelitian (Subu et al., 2018) didapatkan sekitar 60% orang dengan gangguan jiwa

(4)

mengalami resiko perilaku kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar. Hal ini secara tidak langsung akan memberi dampak kepada orang dengan gangguan jiwa antara lain kehilangan pekerjaan, pengasingan oleh masyarakat sekitar, ditelantarkan oleh pihak keluarga yang membuat orang dengan gangguan jiwa merasa dirinya disisihkan dari lingkungan sehingga muncul rasa ingin mengakhiri hidupnya karena merasa tidak berguna. Berkembangnya fenomena ini mengakibatkan orang dengan gangguan jiwa yang sudah dinyatakan sembuh tidak sanggup menghadapi beban sosial, sehingga beresiko mengalami kekambuhan. Peran masyarakat dan lingkungan sangat penting dalam proses penyembuhan orang dengan gangguan jiwa.

Penelitian dilakukan di Desa Slorok, Kecamatan Kromengan karena angka orang dengan gangguan jiwa cukup tinggi yaitu 4 orang yang pada kenyataannya orang dengan gangguan jiwa disana mendapatkan perilaku yang tidak sewajarnya dilakukan oleh manusia. Bentuk stigma yang berkembang di masyarakat Desa Slorok mengenai orang dengan gangguan jiwa cukup beragam seperti bulliying verbal, pengurungan penderita gangguan jiwa yang dilakukan oleh pihak keluarga bahkan sampai kekerasan yang pada hakikatnya sebuah bentuk peniadaan hak-hak dasar sebagai manusia. Sehingga pemilihan di Desa Slorok Kecamatan Kromengan didasari oleh rasa tanggung jawab peneliti sebagai anggota masyarakat yang memiliki beban moral untuk mengaplikasikan ilmu di tempat tinggal peneliti.

1.1. Rumusan Masalah Penelitian

Bagaimakanah stigma masyarakat Desa Slorok Kecamatan Kromengan terhadap orang dengan gangguan jiwa?

1.2. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui stigma masyarakat Desa Slorok Kecamatan Kromengan terhadap orang dengan gangguan jiwa?

1.3. Manfaat Penelitian 1.3.1 Bagi Masyarakat

Penelitian ini berguna untuk memberikan informasi, pengetahuan masyarakat tentang stigma pada orang dengan gangguan jiwa supaya

(5)

mereka dapat mengenal dan memperlakukan orang dengan gangguan jiwa sesuai dengan semestinya. Dan juga agar orang dengan gangguan jiwa dan keluarga mendapatkan hak hidup selayaknya orang normal pada umumnya.

1.3.2 Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai masukan pengembangan ilmu keperawatan khususnya dalam bidang keperawatan jiwa.

1.3.3 Bagi Instansi Terkait (Puskesmas)

Penelitian ini berguna sebagai bahan masukan untuk meningkatkan pelayanan khususnya kepada orang dengan gangguan jiwa dan untuk mengingatkan bahwa masih besarnya stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa, agar pihak terkait dapat membuat program untuk mengatasi masalah tersebut

1.3.4 Bagi Peneliti

Memperoleh pengalaman dalam melaksanakan aplikasi ilmu keperawatan selama perkuliahan, kuhusunya dalam pembelajaran keperawatan jiwa tentang stigma masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa.

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu, dapat juga menjadi masukan untuk para orangtua dan masyarakat agar lebih dapat mengetahui bentuk komunikasi verbal dan non verbal yang dilakukan

terhadap penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di Desa.

memiliki peran yang cukup penting dalam membangun daya saing global khususnya SMK dalam pendidikan nasional merupakan bentuk dari satuan pendidikan yang berorientasi

Meskipun demikian, gangguan kejiwaan yang dialami ADHD, yaitu gangguan perilaku dan sikap menentang, tidaklah sama dengan gangguan kejiwaan pada umumnya, karena

Bab kedua akan membahas konsep id, yang meliputi pembahasan tentang jiwa perspektif psikologi; pengertian jiwa, jiwa menurut aliran-aliran dalam psikologi, dan konsep id

Untuk mengetahui adanya hubungan yang signifikan antara komunikasi (verbal dan non-verbal) yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar dengan hasil

Pada penelitian ini penulis menggunakan teori semiotika Saussure untuk memaknai tanda baik itu verbal dan visual, yang bertujuan untuk mengetahui hubungan dari setiap tanda dan

Tabel 1.1 Data pasien berdasarkan Diagnosa Utama dengan Gangguan Jiwa yang pernah dirawat di Panti Gramesia Kabupaten Cirebon 2020 Karakteristik Gangguan Jiwa Jumlah Pasien