6
TEORI PENDUKUNG
2.1 Jaringan Lokal Akses Tembaga (Jarlokat) 2.1.1 Instalasi Kabel Tembaga
Ditinjau dari jenis menurut instalasinya, kabel Tembaga dapat
dibagi menjadi tiga macam yakni :
• Kabel Tanah Tanam Langsung (KTTL)
• Kabel Duct
• Kabel Udara (KU)
2.1.2 Isolasi Konduktor Kabel Tembaga
Ditinjau dari isolasi konduktor pada kabel, maka kabel dapat dibagi
menjadi dua, yakni :
• Kabel dengan isolasi Polyethylene (PE) • Kabel dengan isolasi Foam Skin
Kabel dengan isolasi Foam Skin hanya untuk kabel tanah dan kabel duck.
Jenis kabel tersebut, baik untuk yang berisolasi PE, maupun Foam
Skin, konstruksinya telah ditetapkan dengan Standar Industri Indonesia.
Spesifikasi teknik untuk KTTL dengan isolasi konduktor dari PE
telah diatur dalam SII No. 0617-82 (STEL.K.007-78), sedangkan
untuk KTTL dengan isolasi konduktor dari Foam Skin telah diatur
dalam standar POSTEL No. 69/POSTEL/89
Spesifikasi teknik untuk Kabel Duck dengan isolasi konduktor dari
PE diatur dalam SII No. 0618-82 (STEL.K.008-78) untuk kabel
Duck berisi Jelly dan SII No. 0619-82 (STEL.K.009-78) untuk kabel Duck tanpa Jelly, sedangkan untuk kabel konduktor dari
Foam Skin diatur dalam standar POSTEL No. 59/POSTEL/88 untuk kabel yang berisi Jelly dan No. 68/POSTEL/69 untuk yang
tidak berisi Jelly.
Sesuai dengan standar tersebut di atas, diameter urat kabel
(konduktor) yang dipakai adalah 0,4 mm, 0,6 mm, dan 0,8 mm.
Spesifikasi teknik untuk Kabel Udara dengan isolasi Polyethylene
(PE) diatur dalam SII No. 0611-82 (STEL.K.001).
Diameter urat untuk Kabel Udara adalah 0,6 mm, 0,8 mm, dan 1
mm.
2.1.3 Kapasitas Kabel Tembaga
Kapasitas dari masing-masing jenis kabel adalah seperti terlihat
2.1.4 Jenis Penggunaan Kabel Tembaga
2.1.4.1 Kabel Tanah Tanam Langsung (KTTL)
Gambar 2.1 Konstruksi Umum Kabel Tanah Tanam
Langsung
Tabel 2.1 Kapasitas Kabel Tanah Tanam Langsung
No Jenis Kabel Kapasitas Yang Ada
1 Isolasi konduktor PE : Ф urat 0,4 mm 10”, 20”, 30”, 40”, 50”, 60”, 80”, 100”, 120”, 150”, 200”, 250”, 300”, 400”, 500”, 600”, 800”, 1000”, 1200” 2 Ф urat 0,6 mm 10”, 20”, 30”, 40”, 50”, 60”, 80”, 100”, 120”, 150”, 200”, 250”, 300”, 400”, 500”, 600”, 800” 3 Ф urat 0,8 mm 10”, 20”, 30”, 40”, 50”, 60”, 80”, 100”,
120”, 150”, 200”, 250”, 300”, 400”
4 Isolasi konduktor
Foam Skin dengan diameter urat 0,4 mm 100”, 120”, 150”, 200”, 250”, 300”, 400”, 500”, 600”, 800”, 1000”, 1200”, 1400”, 1600”, 1800”, 2000”, 2200”, 2400” 5 Ф urat 0,6 mm 100”, 120”, 150”, 200”, 300”, 400”, 500”, 600”, 800”, 1000”, 1200”, 1400” 6 Ф urat 0,8 mm 100”, 120”, 150”, 200”, 250”, 300”, 400”, 500”, 600”, 800”
Kegunaan dari masing- masing lapisan yaitu :
1. Urat-Urat Kabel
Fungsinya sebagai penghantar dan menyambungkan
perangkat di sisi server pelanggan dengan sentral
2. Isolasi Berwarna Polyethylene/Foam Skin
Berfungsi sebagai isolator antar konduktor dan kode warna
dalam perhitungan urat kabel.
3. Pita Pelilit Kode Warna
Berfungsi untuk mempermudah perhitungan urat kabel.
4. Pembungkus Inti Kabel
Berfungsi untuk membalut inti kabel supaya padat dan
bulat, dan juga berfungsi sebagai pelindung atau bantalan
5. Lapisan Aluminium Foil
Fungsinya sebagai pelindung elektris terhadap induksi dari
tegangan asing dari luar.
6. Kulit Dalam Kabel (PE Hitam)
Funsinya adalah sebagai berikut :
• Pelindung kemungkinan masuknya air
• Bantalan antara lapisan Armouring dengan lapisan Aluminium.
7. Armouring Baja
Armouring dapat berupa plat atau pita Baja atau berupa kawat Baja. Fungsinya adalah :
• Sebagai pelindung mekanis terhadap benturan benda tajam atau keras.
• Sebagai pelindung elektris terhadap induksi tegangan asing dari luar.
8. Kulit Luar Kabel (PE Hitam)
Funsinya adalah :
• Sebagai pelindung kemungkinan masuknya air • Sebagai bantalan pada waktu penarikan kabel
2.1.4.2 Kabel Duct
Gambar 2.2 Konstruksi Umum Kabel Duct
Kegunaan dari masing-masing lapisan dari no 1 sampai no
6 adalah sama dengan pada Kabel Tanah Tanam Langsung
(KTTL).
Tabel 2.2 Kapasitas Kabel Duct isolasi Polyethylene dan
Foam Skin
No. Jenis Isolasi Kapasitas Yang Ada
Kabel Duct tanpa Jelly
berisolasi Poliethyline dengan
diameter urat
1 0,4 mm 150”, 200”, 250”, 300”,
400”, 500”, 600”, 800:,
2 0,6 mm 150”, 200”, 250”, 300”,
400”, 500”, 600”, 800:,
1000”, 1200”
3 0,8 mm 150”, 200”, 250”, 300”,
400”, 500”, 600”
Kabel Duct tanpa Jelly
berisolasi Foam Skin dengan
diameter urat : 4 0,4 mm 100”, 120”, 150”, 200”, 250”, 300”, 400”, 500”, 600”, 800:, 1000”, 1200”, 1400”, 1600”, 1800”, 2000”, 2200”, 2400” 5 0,6 mm 100”, 120”, 150”, 200”, 250”, 300”, 400”, 500”, 600”, 800:, 1000”, 1200”, 1400”, 1600”, 1800” 6 0,8 mm 100”, 120”, 150”, 200”, 250”, 300”, 400”, 500”, 600”, 800:, 1000”
Kabel Duct berisi Jelly
berisolasi Poliethyline dengan
diameter urat :
80”, 100”, 120”, 150”, 200”, 250”, 300”, 400”, 500”, 600”, 800”, 1000”, 1200” 8 0,6 mm 10”, 20”, 30”, 40” 50”, 60”, 80”, 100”, 120”, 150”, 200”, 250”, 300”, 400”, 500”, 600”, 800” 9 0,8 mm 10”, 20”, 30”, 40” 50”, 60”, 80”, 100”, 120”, 150”, 200”, 250”, 300”, 400”
Kabel Duct berisolasi Foam
Skin dengan diameter urat :
10 0,4 mm 100”, 120”, 150”, 200”, 250”, 300”, 400”, 500”, 600”, 800”, 1000”, 1200”, 1400”, 1600”, 1800”, 2000”, 2200”, 2400” 11 0,6 mm 100”, 120”, 150”, 200”, 250”, 300”, 400”, 500”, 600”, 800”, 1000”, 1200”, 1400” 12 0,8 mm 100”, 120”, 150”, 200”, 250”, 300”, 400”, 500”, 600”, 800”
2.1.4.3 Kabel Udara
Gambar 2.3 Konstruksi Umum Kabel Udara
Kegunaan masing-masing bagian dari no 1 sampai no 6
adalah sama dengan pada Kabel Tanah Tanam Langsung
(KTTL), sedangkan no 7 yakni kawat baja yang dipilin
berfungsi sebagai penguat sendiri (Self-Supporting).
Tabel 2.3 Kapasitas Kabel Udara Dengan Isolasi
Polyethylene
No. Jenis Isolasi Kapasitas Yang Ada
Kabel Udara berpenguatan sendiri
berisolasi Polyethyline dengan
0,6 mm, 0,8 mm, dan 1,0 mm 10”, 20”, 30”, 40”, 50”,
60”, 80”, 100”, 120”
2.1.4.4 Kabel Rumah
Kabel Rumah (Indoor Cable) adalah kabel yang dibuat
untuk diinstalasi di dalam gedung. Kabel tersebut dibuat
berdasarkan SII No. 0709-83 untuk kabel rumah multi pair
tanpa screen dan SII No. 0710-83 untuk kabel yang
memakai screen, sedangkan untuk kabel yang mempunyai
pair tunggal tanpa screen sesuai dengan SII No. 0612-82. Konstruksi kabel rumah multipair dengan screen adalah
seperti pada gambar 2.4.
Keterangan gambar :
1. Penghantar
2. Isolasi berwarna dari bahan Polyvinyl Chloride (PVC)
berfungsi sebagai isolasi antara penghantar dan kode
warna.
3. Quadding, yakni masing-masing urat kabel dipilin
menjadi empatan (Quad).
4. Pita lilit yang Non Higroskopis, berfungsi agar urat
kabel menjadi kompak dan sebagai pelindung dari uap
air.
5. Screen, terbuat dari pita Aluminium, dililitkan secara
Helical, berfungsi sebagai pelindung elektris dan pengikat urat-urat kabel.
6. Pelindung luar kabel terbuat dari bahan Polyvinil
Chloride (PVC) berwarna abu-abu.
Kapasitas kabel adalah seperti terlihat pada tabel2.4.
Tabel 2.4 Kapasitas Kabel Rumah Multipair, Diameter
Konduktor 0,6 mm, Dengan Dan Tanpa Memakai Screen.
Ф (mm) Kapasitas Kabel
2.1.5 Susunan Urat Kabel
2.1.5.1 Empatan (Quad)
Susunan urat kabel pada kabel udara, kabel tanah tanam
langsung, dan kabel rumah yang mempunyai kapasitas
sepuluh pair keatas adalah dengan cara empat penghantar
berisolasi dipilin bersama-sama membentuk empatan
(quad).
2.1.5.2 Susunan Tiap Satuan Dasar
Lima empatan berurutan dari nomor 1 sampai 5 dipilin
bersama membentuk satuan dasar (satuan 10 pasang).
Pita pengikat dililitkan pada setiap satuan sebagai kode
satuan. Untuk kabel kapasitas 10 pasang , pita pengikat
tidak diberikan. Jadi, hanya kabel 20 pasang ke atas yang
mempunyai pita pengikat lilitan.
Adapun ketentuan pita pengikat adalah sebagai berikut : • Satuan awal (penunjuk) berwarna merah.
• Satuan berikutnya berwarna putih dan kuning bergantian.
• Bila pusat inti kabel hanya terdiri atas satu satuan, maka pengikat satuan dari pusat inti kabel diambil
\ 2.1.5.3 Susunan Tiap Satuan 50 Pasang
Sepuluh satuan dasar dari nomor 1 sampai nomor 5 dipilin
bersama membentuk satuan 50 pasang. Untuk kabel
berukuran 50 pasang, tidak memakai pita pengikat.
2.1.5.4 Pasangan Cadangan
Pasangan cadangan ditambahkan pada kabel yang
diproduksi. Jumlah pasangan cadangan maksimum 2 % dari
kapasitas kabel
2.1.5.5 Bahan-Bahan Kabel
2.1.5.5.1 Penghantar
Penghantar harus terbuat dari bahan Tembaga
lunak hasil proses Annealing dan memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
• Merata kualitasnya
• Berupa kawat padat bulat, mengkilap dan bersih.
• Bebas dari segala cacat 2.1.5.5.2 Isolasi
Masing-masing penghantar akan dibungkus
merata dengan isolasi Poliethyline berwarana.
Poliethyline yang memenuhi sifat-sifat
persyaratan yang berlaku.
2.1.5.5.3 Pita Pengikat Satuan
Pita pengikat satuan terbuat dari bahan
Poliethyline atau bahan plastik yang sejenis. 2.1.5.5.4 Petrojelly
Celah-celah inti kabel harus diisi dengan
Petrojelly. Petrojelly harus memenuhi ketentuan yang berlaku.
2.1.5.5.5 Pita Pembungkus Inti
Pita pembungkus inti dipasang secara
Longitudinal atau dibelitkan secara Helikal dengan tumpang tindih secukupnya. Pita
pembungkus inti terbuat dari bahan kertas, kain
katun, PE (plastik transparan) atau bahan lain
yang sesuai.
2.1.5.5.6 Pelindung Elektris
Pelindung elektris harus terbuat dari pita
Aluminium setebal kira-kira 0,2 mm berlapis
Poliethyline pada kedua sisinya. Lapisan
Aluminium ini dipasang secara Longitudinal di
atas pita pembungkus inti kabel dengan tumpang
2.1.5.5.7 Selubung Dalam
Inti kabel yang telah diberi lapisan pembungkus
inti dan Aluminium dilapisi selubung Poliethyline
berwarna hitam. Bila selubung telah diberikan,
tumpang tindih pita Aluminium harus melekat
dengan erat, selubung harus merekat pada lapisan
pita Aluminium. Selubung dalam harus terbuat
dari bahan kompon Poliethyline yang memenuhi
sifat-sifat persyaratan yang berlaku.
2.1.5.5.8 Pelindung Mekanis
Pelindung mekanis harus terbuat dari pita Baja
atau kawat Baja yang digalvanisasikan. Pelindung
mekanis terdiri atas dua lapis pita Baja dengan
tebal nominal 0,3 mm. Kedua lapisan pita Baja
dililitkan searah secara Helikal sedemikian rupa
sehingga lapisan luar menutupi celap pita lapisan
dalam. Untuk kabel-kabel dengan diameter
dibawah pelindung mekanis kurang dari 15 mm,
dapat dipergunakan kawat-kawat baja.
2.1.5.5.9 Selubung Luar
Kabel yang telah diberi pelindung mekanis
dilapisi lagi selubung Poliethyline berwarna
kompon Poliethyline yang memenuhi persyaratan
yang berlaku.
2.1.6 Sifat-Sifat Kelistrikan 2.1.6.1 Tahanan Penghantar
Tahanan penghantar dalam kabel harus memnuhi
ketentuan seperti tabel 2.5
Tabel 2.5 Tahanan Konduktor per km
Diameter Urat ф mm Tahanan Maksimum ohm/km
0,4 150 0,6 65 0,8 36,5 0,9 29 1,0 23 2.1.6.2 Tahanan Isolasi
Tahanan isolasi yang diukur antara masing-masing
penghantar dalam kabel dengan bundel sisa penghantar
dalam kabel tersebut bersama lapisan Aluminiumnya,
tidak boleh kurang dari 10.000 mega ohm kilometer pada
Tahanan isolasi diukur dengan tegangan searah 500 volt
dan pembacaan dilakukan setelah satu menit, pada saat
penunjukan telah mantap. Bila pembacaan telah
melampaui 10.000 mega ohm kilometer, maka ketentuan
waktu tidak perlu dipenuhi.
2.1.7 Kelebihan dan Kekurangan Kabel Tembaga
2.1.7.1 Kelebihan
• Harganya murah
• Instalasi perangkat lebih cepat dan mudah • Mudah didapat dan fleksibel
• Menggunakan satu medium untuk semua • Sistem penyambungan lebih mudah 2.1.7.2 Kekurangan
• Kemampuan layanan yang diberikan terbatas
• Daerah cakupan layanan terbatas (tergantung pada ukuran kabel
• Dimensi fisik membutuhkan infrastruktur yang lebih besar
• Operasi dan pemeliharaan tidak efisien
• Perluasan atau penambahan kapasitas tidak fleksibel • Rentan terhadap gangguan listrik, radio, dan mudah berkarat sehingga penggunaannya tidak bisa untuk
• Tidak dapat mentransmisikan sinyal cahaya • Kapasitas bandwidth kecil
• Banyak titik sambungan yang bisa menyebabkan jaringan error.
2.2 Jaringan Lokal Akses Kabel Serat Optik (Jarlokaf)
Berdasarkan definisi, akses berarti bagaimana pelanggan dihubungkan
dengan ke sentral komunikasi. Pengertian yang lebih umum yaitu akses
berkaitan dengan hubungan pelanggan ke jaringan. Penggunaan teknik
transmisi optik dapat memungkinkan biaya transmisi dikurangi dalam
tiga dekade.
2.2.1 Pengertian Kabel Serat Optik
Kabel Serat Optik merupakan pemandu gelombang Dielektrika
Optik yang beroperasi pada frekuensi optis (cahaya). Karakteristik Kabel Serat Optik akan menentukan kapasitas serat dalam
membawa informasi dan mempengaruhi respon pemandu
gelombang. Persyaratan yang dibutuhkan oleh Kabel Serat Optik
adalah
• Tidak putus saat gaya rentang (Tensile Force) bekerja pada Kabel Serat Optik
• Tidak mengalami perubahan kualitas perambatan cahaya akibat tekanan dari samping seperti misalnya Microbending • Serat Optik ditempatkan secara khusus didalam Kabel Serat
• Pada sambungan Kabel Serat Optik harus diberi penguat 2.2.2 Struktur Kabel Serat Optik
Gambar 2.5 Susunan Kabel Serat Optik
2.2.2.1 Inti (Core)
• Bagian yang paling utama dinamakan bagian inti (core), dimana gelombang cahaya yang dikirimkan akan merambat dan mempunyai indeks bias lebih
besar dari lapisan kedua.
• Terbuat dari bahan Kuarsa dengan kualitas sangat tinggi
• Memiliki diameter 10 µm – 50 µm. Ukuran core sangat mempengaruhi karakteristik Serat Optik
2.2.2.2 Cladding
• Terbuat dari bahan gelas dengan indeks bias lebih kecil dari core
• Hubungan indeks bias antara core dan cladding akan mempengaruhi perambatan cahaya pada core
(mempengaruhi besarnya sudut kritis)
2.2.2.3 Coating
• Terbuat dari bahan plastik
• Berfungsi untuk melindungi Serat Optik dari kerusakan
2.2.3 Jenis Kabel Serat Optik 2.2.3.1 Step Index Multimode
Gambar 2.6 Step Index Multimode
• Indeks bias core konstan
• Ukuran core besar (50µm) dan dilapisi Cladding yang sangat tipis
• Penyambungan kabel lebih mudah karena memiliki core yang besar
• Hanya digunakan untuk jarak pendek dan transmisi data bit rate rendah
2.2.3.2 Grade Index Multimode
Gambar 2.7 Grade Index Multimode
• Core terdiri dari sejumlah lapisan gelas yang memiliki indeks bias yang berbeda, indeks bias
tertinggi terdapat pada pusat core dan
berangsur-angsur turun sampai ke batas core-Cladding
• Cahaya merambat karena Difraksi yang terjadi pada core sehingga rambatan cahaya sejajar dengan sumbu serat
• Dispersi minimum
• Harganya lebih mahal dari Serat Optik SI karena proses pembuatannya lebih sulit
2.2.3.3 Step Indeks Single Mode
Gambar 2.8 Step Index Single Mode
• Serat Optik SI Monomode memiliki diameter core yang sangat kecil dibandingkan ukuran Claddingnya • Cahaya hanya merambat dalam satu mode saja yaitu
sejajar dengan sumbu Serat Optik
• Digunakan untuk transmisi data dengan data bit rate tinggi
2.2.4 Jenis Pipa Kabel Serat Optik
2.2.4.1 Jenis Pipa Longgar (Loose Tube)
Serat Optik ditempatkan didalam pipa longgar (Loose Tube)
yang terbuat dari bahan PBTP (Polybutylene Terepthalete)
serta berisi Jelly. Saat ini sebuah Kabel Serat Optik
maksimum mempunyai 8 Loose Tube dan masing-masing
Loose Tube berisi 12 Serat Optik.
Fungsi dan bagian-bagian Kabel Serat Optik jenis Loose
Tube :
• Loose Tube, berbentuk tabung longgar yang terbuat dari bahan PBTP (Polybutylene Terepthalete) yang
berisi Thixotropic Gel dan Serat Optik ditempatkan
didalamnya. Konstruksi Loose Tube yang berbentuk
longgar tersebut mempunyai tujuan agar Serat Optik
dapat bebas bergerak, tidak langsung mengalami
tekanan atau gesekan yang dapat merusak Serat
Optik pada saat instalasi kabel Serat Optik.
Thixotropic Gel adalah bahan semacam Jelly yang berfungsi melindungi Serat Optik dari pengaruh
mekanis dan juga untuk menahan air. Sebuah Loose
Tube dapat berisi 2 sampai dengan 12 Serat Optik. Sebuah Kabel Serat Optik dapat berisi 6 sampai
dengan 12 Loose Tube.
• HDPE Sheat atau High Density Polyethylene Sheat, yaitu bahan sejenis Polyethylene keras yang
sebagai bantalan untuk melindungi Serat Optik dari
pengaruh mekanis pada saat instalasi.
• Aluminium Tape atau lapisan Aluminium
ditempatkan diantara kulit kabel dan Water
Blocking berfungsi sebagai konduktivitas elektris dan melindungi kabel dari pengaruh mekanis
• Flooding Gel adalah bahan campuran Petroleum, Synthetic dan Silicon yang mempunyai sifat anti air. Flooding Gel merupakan bahan pengisi yang digunakan pada Kabel Serat Optik agar kabel
menjadi padat.
• PE Sheath adalah bahan Polyethylene yang
menutupi bagian Central Strength Member.
• Central Strength Member adalah bagian penguat yang terletak ditengah-tengah Kabel Serat Optik.
Central Strength member dapat merupakan pilinan Kawat Baja atau Solid Steel Core atau Glass
Reinforced Plastic. Central Strength Member mempunyai kekuatan mekanis yang tinggi yang
diperlukan pada saat instalasi.
• Peripheral Strain Elements terbuat dari bahan Polyramid yang merupakan elemen pelengkap optik yang diperlukan untuk menambah kekuatan Kabel
Serat Optik. Polyramid mempunyai kekuatan tarik
tinggi.
2.2.4.2 Jenis Alur (Slot)
Gambar 2.10 Kabel Serat Optik Slot
Serat Optik ditempatkan pada alur (slot) didalam silinder
yang terbuat dari bahan PE (Polyethylene), pada saat ini
telah dibuat di Jepang kabel jenis slot dengan kapasitas
1000 serat dan 3000 serat.
Fungsi dan bagian-bagian Kabel Serat Optik jenis slot : • Kulit Kabel, terbuat dari bahan jenis Polyethylene
keras, berfungsi sebagai bantalan untuk melindungi
Serat Optik dari pengaruh mekanis saat instalasi • Aluran, terbuat dari bahan Polyethylene berfungsi
untuk menempatkan sejumlah Serat Optik. Untuk
Serat Optik, diperlukan 13 aluran (slot) dan 1 slot
berisi 10 Fiber Ribbons. 1 Fiber Ribbons berisi 8
Fiber.
• Central Strength Member adalah bagian penguat yang terletak di tengah-tengah Kabel Serat Optik.
Central Strength Member terbuat dari pilinan Kawat Baja yang mempunyai kekuatan mekanis
yang tinggi yang diperlukan pada saat instalasi.
2.2.5 Karakteristik Mekanis
2.2.5.1 Fiber Bending (Tekukan Serat)
Tekukan serat yang berlebihan (terlalu kecil) dapat
mengakibatkan bertambahnya Optical Loss
2.2.5.2 Cable Bending (Tekukan Kabel)
Tekukan kabel pada saat instalasi harus dijaga agar tidak
terlalu kecil, karena hal ini dapat merusak serat sehingga
menambah Optical Loss.
2.2.5.3 Tensile Strength
Tensile strenght yang berlebihan dapat merusak kabel atau
serat
2.2.5.4 Crush
Crush atau tekanan yang berlebihan dapat mengakibatkan serat retak atau patah, sehingga dapat menaikkan Optical
2.2.5.5 Impact
Impact adalah beban dengan berat tertentu yang dijatuhkan dan mengenai Kabel Serat Optik. Berat beban yang
berlebihan dapat mengakibatkan serat retak atau patah,
sehingga dapat menaikkan Optical Loss.
2.2.5.6 Cable Torsion
Torsi yang diberikan kepada kabel yang dapat merusak
selubung kabel dan serat.
2.2.6 Spesifikasi Kabel Serat Optik
Berikut di bawah ini spesifikasi Kabel Serat Optik, warna Serat
Optik, warna tabung loose tube.
Tabel 2.6 Spesifikasi Kabel Serat Optik
Jumlah Loose Tube Jumlah Serat per Loose Tube Diameter luar/dalam Loose Tube (mm) Diameter luar kabel (mm) Jumlah Serat 6 2 2,2x1,4 13 4-12 6 4 2,2x1,4 13 4-24 6 6 2,5x1,5 13,5 6-36 6 12 3,5x2,5 16 12-72 8 4 2,2x1,4 15 24
8 6 2,5x1,5 16 24-48
8 12 3,5x2,5 17,5 24-96
2.2.7 Warna Serat Optik
Tabel 2.7 Warna Serat Optik
1 2 3 4 5 6
Biru Orange Hijau Cokelat Abu-Abu Putih
7 8 9 10 11 12
Merah Hitam Kuning Ungu Pink Turquoise
2.2.8 Kode Warna Tabung Loose Tube
Tabel 2.8 Warna Tabung Loose Tube
No.Tabung Warna
1 Biru
2 Orange
3 Hijau
5 Abu-Abu
6 Putih
7 Merah
8 Hitam
2.2.9 Tanda Pengenal Kabel Serat Optik
Kabel Serat Optik harus diberi tanda pengenal yang tidak mudah
hilang yang tertera pada kulit kabel di sepanjang kabel.
Adapun tanda pengenal tersebut meliputi : • Nama pabrik pembuat
• Tahun pembuatan Ø Tipe Serat Optik:
• SM : Single Mode
• GI : Grade Indeks
• SI : Step Indeks
Ø Pemakaian Kabel Serat Optik :
• D : Duct
• A : Aerial
• B : Buried
• S : Submarine
• I : Indoor
Ø Jenis Kabel Serat Optik :
• LT : Loose Tube
• TB : Tight Buffered Ø Struktur Penguat :
• SS : Solid Steel Core
• WS : Standred Wire Steel
• GRP : Glass Reinforced Plastik
2.2.10 Kelebihan dan Kekurangan Kabel Serat Optik 2.2.10.1 Kelebihan
• Bandwidth lebar • Redaman kecil
• Kebal terhadap induksi
• Keamanan rahasia informasi lebih baik • Aman dari bahaya listrik
• Penambahan kanal atau kapasitas terpasang lebih mudah
• Tidak berkarat • Lebih ekonomis
• Tahan temperatur tinggi • Konsumsi daya rendah 2.2.10.1 Kekurangan
• Tidak menyalurkan energi listrik pada sistem Repeater, Transmiter, dan Receiver perlu
• Perangkat sambung relatif lebih sulit, karena terbuat dari gelas Silica, memerlukan penanganan yang lebih
hati-hati
• Perangkat terminasi mahal • Perbaikan lebih sulit
2.3 Perangkat Jaringan Lokal Akses Kabel Serat Optik dan Jaringan Lokal Akses Kabel Tembaga
2.3.1 Perangkat Jaringan Lokal Akses Kabel Serat Optik 2.3.1.1 Optical Line Terminal Equipment (OLTE)
OLTE merupakan perangkat yang digunakan untuk
transmisi menggunakan media Kabel Serat Optik. Banyak
sekali bentuk, ukuran, dan merek dari OLTE tersebut. Pada
dasarnya, semua cara kerja dari OLTE tersebut adalah
sama, yaitu mengubah sinyal dengan daya listrik menjadi
sinyal dengan daya optik dan sebaliknya. Fungsi utama
OLTE sebagai berikut :
• Mengubah sinyal dengan daya listrik menjadi sinyal dengan daya optik dan sebaliknya
• Menggabungkan sinyal-sinyal pelayanan (service bit) dengan sinyal utama
• Memancarkan dan menerima sinyal dengan daya optik • Memberikan pengamanan bagi petugas dengan dilengkapi
• Menyediakan kanal order wire untuk kordinasi antar petugas
2.3.1.2 Optical Time Domain Reflectometer (OTDR)
OTDR adalah sebuah sistem yang digunakan untuk
mengukur dan mengetes dari Serat Optik. Sebuah Serat
Optik yang telah dipasang dan berjalan hanya dapat diukur
dan dites oleh OTDR, baik dalam hal panjang gelombang
Multimode atau Single Mode.
Gambar 2.11 OTDR
Powermeter biasa hanya bisa mengukur total redaman dari Serat Optik yang tengah berjalan. OTDR dapat menganalisa
setiap jarak akan Insertion Loss, Reflection, dan Loss yang
muncul pada setiap titik, serta dapat menampilkan
OTDR juga dapat memaintenance akan redaman
maksimum yang diijinkan akibat radius bending baik
Macro Bending (redaman geometri yang terjadi pada saat instalasi) atau Micro Bending ( redaman geometri akibat
adanya ketidakteraturan pada bidang batas yang idealnya
adalah datar terjadi pada saat pabrikasi). Parameter di atas
dapat diukur oleh OTDR, sehingga dalam penyambungan
dapat diantisipasi redaman terlalu tinggi.
Funsi utama OTDR sebagai berikut : • Mengukur Loss per satuan panjang
Loss pada saat instalasi Kabel Serat Optik mengasumsikan
redaman Serat Optik tertentu dalam Loss satuan panjang.
OTDR dapat mengukur redaman sebelum dan setelah
instalasi sehingga dapat memeriksa adanya
ketidaknormalan seperti bengkokan (bend) atau beban yang
tidak diinginkan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara :
X [dBw] = A [dBw] – α . L [dB]
X : Besarnya daya untuk jarak L
A : Daya awal yang diberikan OTDR ke fiber optik,
untuk OTDR mini A max adalah 31 dBw
α : Redaman (dB/km)
L : Panjang (km)
Sehingga dengan membaca grafik X dan L, akan didapat α
akan dapat disimpulkan apakah telah terjadi
ketidaknormalan.
• Mengevaluasi sambungan dan konektor
Pada saat instalasi OTDR dapat memastikan apakah
redaman sambungan dan konektor masih berada dalam
batas yang diperbolehkan • Fault location
Fault seperti letaknya Serat Optik atau sambungan dapat terjadi pada saat atau setelah instalasi, OTDR dapat
menunjukkan lokasi fault atau ketikdaknormalan tersebut.
Hal ini dapat dilakukan dengan melihat jarak terjadinya end
to fiber pada OTDR, jika kurang dari jarak sebenarnya, maka pada jarak tersebut terjadi kebocoran atau keretakan
(asumsi settingan OTDR benar). End to fiber pada OTDR
ditandai dengan adanya < 3 dB (dapat disesuaikan dengan
mensetting) yang berfluktuasi. OTDR, Pulse Width,
Dispersi, Rise Time merupakan domain waktu, sedangkan Bandwidth, merupakan domain Frekuensi.
2.3.2 Perangkat Jaringan Lokal Akses Kabel Tembaga 2.3.2.1 Asymmetric Digital Subscriber Line (ADSL)
ADSL merupakan salah satu dari beberapa jenis DSL,
disamping SDSL, GHDSL, IDSL, VDSL, dan HDSL. DSL
tembaga, sering disebut juga sebagai teknologi suntikan
atau Injection Technology yang membantu kabel telepon
biasa dalam menghantarkan data dalam jumlah besar. DSL
sendiri dapat tersedia berkat adanya sebuah perangkat yang
disebut Digital Subscriber Line Access Multiplexer. Untuk
mencapai tingkat kecepatan yang tinggi, DSL
menggunakan sinyal Frekuensi hingga 1 MHz. Lain halnya
untuk ADSL, sinyal frekuensi yang dipakai hanya berkisar
antara 20 KHz sampai 1 MHz.
Sementara untuk penggunaan ADSL di Indonesia seperti
Speedy, kecepatan yang ditawarkan berkisar antara 1024
kbps untuk downstream dan 128 kbps untuk upstream.
Kecepatan downstream inilah yang menjadikan ADSL
lebih cocok untuk penggunaan pribadi. umumnya,
pengguna pribadi lebih banyak kegiatan menerima,
dibandingkan kegiatan mengirim. Seperti mengunduh data,
gambar, musik, ataupun video.
Keuntungan :
- Pembagian Frekuensi menjadi dua, yaitu Frekuensi
tinggi untuk menghantarkan data, sementara Frekuensi
rendah untuk menghantarkan suara dan Faksimile.
- Bagi pengguna di Indonesia yang menggunakan
layanan Speedy, ADSL membuat akses Internet
menjadi jauh lebih murah. Akses Internet tanpa
khawatir dengan tagihan yang tidak sesuai yang
diharapkan.
Kerugian :
- Berpengaruhnya jarak pada kecepatan pengiriman data.
Semakin jauh jarak antara modem dengan komputer,
atau saluran telepon kita dengan Digital Subscriber Line
Access Multiplexer yang terdapat di gardu telepon, maka semakin lambat pula kecepatan mengakses
Internet.
- Penggunaan Kabel Tembaga masih dominan digunakan,
karena Kabel Serat Optik masih belum merata
digunakan. Hal ini menjadi akses Internet belum
maksimal seperti yang diharapkan untuk penggunaan
data saat ini.
2.4 Konfigurasi Jaringan Kabel di PT Aplikanusa Lintasarta 2.4.1 Konfigurasi Jaringan Kabel Serat Optik
Konfigurasi jaringan Kabel Serat Optik dibagi menjadi tiga
macam :
2.4.1.1 Fiber To The Curb (FTTC)
Sinyal terMultipleks ditransmisikan antara sentral data
dan titik konversi optik melalui media transmisi kabel
Serat Optik. Titik konversi Serat Optik terletak di suatu
tempat di luar bangunan sentral data, apakah
ditempatkan dalam kabinet, diatas tiang atau di
Handhole. Terminal pelanggan dengan titik konversi optik dikoneksikan dengan media transmisi tembaga
hingga beberapa ratus meter.
Pembangunan infrastruktur konfigurasi jaringan FTTC,
PT Aplikanusa Lintasarta bekerjasama dengan PT
Telekomunikasi Indonesia.
2.4.1.2 Fiber To The Building (FTTB)
FTTB adalah sistem pelanggan optik yang digunakan
untuk bisnis. Titik konversi optik terletak di dalam
gedung dan biasanya berada di ruang atau tempat
telekomunikasi yang terdapat di Top Roof gedung atau
Basement gedung. Terminal pelanggan dihubungkan dengan titik konversi optik dengan media transmisi
Kabel Tembaga indoor seperti Kabel Tembaga PVC
Gambar 2.14 Fiber To The Building (FTTB)
Pembangunan infrastruktur konfigurasi jaringan FTTB,
PT Aplikanusa Lintasarta telah banyak membangung
mempunyai demand pelanggan yang banyak. Khusus
nya di wilayah DKI Jakarta, hampir seluruh gedung di
sekitar Jalan Thamrin sampai Jalan Sudirman, sudah
terdapat HRB, dengan jumlah kurang lebih 30 HRB.
2.4.1.3 Fiber To The Home (FTTH)
Sental data dan terminal pelanggan di hubungkan
dengan media transmisi Kabel Serat Optik tanpa
menggunakan Kabel Tembaga.
Gambar 2.15 Fiber To The Home (FTTH)
Pembangunan infrastruktur FTTH dilakukan oleh PT
Aplikanusa Lintasarta apabila pelanggan tersebut jauh
dari HRB dan sentral data.
2.4.2 Konfugurasi Jaringan Kabel Tembaga
Konfigurasi jaringan Kabel Tembaga dibagi menjadi tiga macam
2.4.2.1 Konfigurasi Jaringan Catu Langsung
Jaringan Catu Langsung adalah jaringan kabel lokal
data terdekat, yang dihubungkan terlebih dahulu dengan
Main Distribution Frame (MDF) sentral data.
Gambar 2.16 Jaringan Catu Langsung
Keuntungan :
- Biaya rendah, karena tidak memelukan RK
- Pencatatan data lebih sederhana
- Sumber kerusakan lebih kecil
Kerugian :
- Tidak luwes, karena kabel disambung langsung
- Sulit melokalisir gangguan
- Kerugian semakin besar (tidak ekonomis) bila salah
dalam menghitung demand di Daerah Catu
Langsung (DCL)
Infrastruktur konfigurasi jaringan catu langsung PT
Aplikasnusa Lintasarta hanya terdapat di pelanggan
Bank CIMB Niaga yang terdapat di Graha Niaga,
(Arthatel) kawasan Sudirman Central Business District
(SCBD).
2.4.2.2 Konfigurasi Jaringan Catu Tidak Langsung
Jaringan Catu Tidak Langsung adalah jaringan kabel
lokal dimana terminal pelanggan dicatu dari Kotak
Pembagi (KP) terdekat,yang dihubungkan lebih dahulu
dengan Rumah Kabel (RK), kemudian diteruskan ke
MDF. Penyambungan saluran dari KP ke RK sama
seperti pada jaringan langsung (tetap), tetapi
penyambungan seterusnya ke MDF di RK dilakukan
tidak tetap (dengan Jumper Wire). Konfigurasi jaringan
ini dipakai di kota- kota sedang dan besar, dimana
jumlah pelanggan cukup banyak dan jarak cukup jauh
dari sentral data, sehingga pemakaian RK dapat
diimbangi oleh penghematan pemakaian saluran
cadangan.
Keuntungan :
- Fleksibel, urat Kabel Sekunder bebas dapat
disambungkan dengan urat Kabel Primer sehingga
cadangan Kabel Sekunder sewaktu-waktu dapat
digunakan
- Mudah melokalisir gangguan
- Dapat mencatu pelanggan yang letaknya menyebar
dan jauh dari sentral data
Kerugian :
- Biaya besar karena menggunakan RK
- Sumber gangguan banyak (terminal di MDF, RK,
KP, dan titik sambung kabel sepanjang rute kabel)
- Kadang-kadang sukar mencari tempat RK yang
betul-betul aman.
Infrastruktur jaringan catu tidak langsung PT
Aplikanusa Lintasarta bekerja sama dengan PT
Telekomunikasi Indonesia untuk pelanggan yang jauh
dari sentral data. Dan untuk sekarang ini konfigurasi
jaringan catu tidak langsung oleh PT Telekomunikasi
Indonesia sudah digantikan dengan teknologi Multi
Service Access Node (MSAN) menggunakan sistem Fiber To The Curb (FTTC).
2.4.2.3 Konfigurasi Jaringan Catu Kombinasi
Konfigurasi Jaringan Catu Kombinasi adalah jaringan
kabel lokal dimana catuan terminal pelanggan melalui
dua cara, yakni sebagian dengan konfigurasi jaringan
catu langsung dan sebagian besar dengan konfigurasi
jaringan catu tidak langsung.
Sistem konfigurasi jaringan ini hampir ada di semua
kota sedang dan besar, karena letak sentral data biasanya
terletak pada pusat kota atau pusat kepadatan penduduk,
sehingga lokasi pelanggan menyebar mulai yang dekat
dengan sentral hingga yang jauh dari sental data
tersebut.
Gambar 2.18 Konfigurasi Jaringan Kombinasi
Infrastruktur jaringan catu kombinasi ini PT Aplikanusa
Lintasarta bekerja sama dengan PT Telekomunikasi
Indonesia untuk pelanggan yang jauh dari sentral data.
langsung oleh PT Telekomunikasi Indonesia sudah
digantikan dengan teknologi Multi Service Access Node
(MSAN) menggunakan sistem Fiber To The Curb
(FTTC).
2.5 Packet Internet Gropher (PING)
PING merupakan salah satu program yang digunakan untuk mengecek komunikasi antar komputer dalam sebuah jaringan melalui protocol
Transmission Control Protocol/Internet Protocol (TCP/IP). PING akan mengirimkan Internet Control Message Protocol (ICMP) Echo Request
Message pada IP Address komputer yang dituju dan meminta respons dari komputer tersebut.
Fungsi PING
• Mengetahui status up/down komputer dalam jaringan
• Dapat mengecek apakah sebuah komputer up/down
menggunakan perintah PING, jika komputer tersebut
memberikan respon terhadap perintah PING yang diberikan
maka dikatakan bahwa komputer tersebut up atau hidup • Memonitor availability status komputer dalam jaringan.
PING dapat digunakan sebagai tool monitoring availability komputer dalam jaringan yang merupakan salah satu
indikator kualitas jaringan yaitu dengan melakukan PING
secara periodik pada komputer yang dituju. Semakin kecil
• Mengetahui responsifitas komunikasi sebuah jaringan. Besarnya nilai delay atau latecy yang dilaporkan oleh
PING menjadi indikasi seberapa responsif komunikasi terjadi dengan komputer yang dituju. Semakin besar nilai
delay menunjukkan semakin lambat respon yang diberikan. Sehingga nilai delay ini juga bisa digunakan sebagai
indikator kualitas jaringan.
2.6 Bit Error Rate (BER) Test
Bit Error Rate (BER) Test merupakan pengetesan sejumlah bit digital bernilai tinggi pada jaringan transmisi yang ditafsirkan sebagai keadaan
rendah atau sebaliknya, kemudian dibagi dengan sejumlah bit yang
diterima atau dikirim oleh proses selama beberapa periode yang telah
ditetapkan.
Jumlah Bit Error (kesalahan bit) adalah jumlah bit yang diterima dari
suatu aliran data melalui jalur komunikasi yang telah berubah karena
gangguan noise, nnterferensi, distorsi, kesalahan sinkronisasi bit, dan
Gambar 2.19 Ilustrasi BER test
Sebagai contoh, diasumsikan berikut ini urutan bit yang ditransmisikan :
0 1 0 1 0 1
dan pada alat penerima akan menterjemahkan urutan bit sebagai berikut :
0 1 0 0 0 1
Maka BER pada kasus ini ada 1 kesalahan penafsiran bit (yang bergaris
nilai kesalahan ini dibagi dengan jumlah bit yang dikirim yaitu bit,
sehingga didapatkan 0,166 atau 1,6E-01 atau 16,6 %
Contoh perhitungan nilai BER :
• Bit yang dikirimkan adalah 1.000.000 bit dan 3 bit yang error atau terjadi kesalahan karena kesalahan pada saat pengiriman,
penerimaan, dan lain-lain
• Nilai BER hitung adalah 3/1.000.000 = 0,000003
• Nilai BER dalam format scientific = 3 x 10-6 • 3 x 10-6 dapat ditulis 3 x 10˄ -6 atau 3.0E-06