• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE WAYWARD MIND AN INTIMATE HISTORY OF THE UNCONSCIOUS OLEH : GUY CLAXTON ABACUS 401 HALAMAN ISBN-13:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "THE WAYWARD MIND AN INTIMATE HISTORY OF THE UNCONSCIOUS OLEH : GUY CLAXTON ABACUS 401 HALAMAN ISBN-13:"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Benar, kita sekarang bisa memberi petunjuk bagaimana otak

membuat kita mendengar suara, merasa depresi, kehilangan arah dan kembali dengan ilham. Kita bahkan bisa berisiko dengan ide mengenai bagaimana pengalaman romantis dan religius yang membangkitkan dasar kagum dan penyatuan bisa merefleksikan kerja tak wajar dalam cerebral corteks.

MENETAPKAN PIKIRAN: APA GUNANYA BAWAH SADAR

Ada banyak aspek pengalaman manusia yang sepertinya tidak masuk dalam “akal sehat”. Mimpi, perubahan mood, kreativitas, “kendali otomatis” hanya beberapa contoh. Semuanya mengungkap kekurangan pengetahuan kita tentang pikiran kita, dan kendali terhadapnya yang kurang dari yang kita inginkan, dari yang kita anggap sesuai.

Karena tidak ada penanganan yang jelas, kita membungkusnya, atau kita merasa harus mengajukan berbagai penjelasan. Ada dorongan untuk membuat hal-hal tersebut masuk akal – akrab, terungkap kata-kata, termasuk juga yang memiliki aroma liar.

Daniel Dennet mengumpamakan dengan cukup bagus mengenai pengadaan kendali pengalaman kita. “Taktik fundamental kita akan perlindungan diri, kendali diri, dan definisi diri bukanlah dengan memintal jaring, atau membangun dam, tapi bercerita. Meski

beberapa dari ceritanya adalah mengenai penyebab kelelahan mental, atau kegagalan panen, cerita lainnya yang paling penting

berhubungan dengan psikologi dan fisiologi – kenapa dan bagaimana kita berpikir dan merasa dan bertindak dan melihat seperti yang sudah terjadi.

Permasalahannya adalah bahwa cerita tidak hanya menghasilkan hipotesa untuk tindakan: tapi juga menjadi tempat dan jaminannya sendiri. Dan kebutuhan untuk bertahan pada mitos yang

menyamankan bisa jadi lebih penting daripada menguji keakuratan

1

note

AQUARIUS

Copyright © 2014 AQUARIUS RESOURCES powered by : BACAKILAT. • All Rights Reserved • www.aquariusnote.com

cerita. Narasi budaya kita membenarkan kebingungan ini, mereka memberi makna dan nilai terhadap kemalangan, mereka menawarkan pola dan rancangan dimana kita melihat sebagai kebetulan dan kesialan.

Apakah psikologi budaya masyarakat seperti sebutannya

memasukkan gambaran bawah sadar, dan bayangan macam apakah itu, akan sangat mempengaruhi bagaimana kehidupan itu dijalani. Apakah pada awal abad duapuluh satu, kita memiliki bayangan yang akurat dan koheren mengenai pondasi tak terlihat dari pikiran, atau sebuah kumpulan potongan kuno yang membuat kita nyaman tapi tak bernilai itulah yang dianggap paling penting.

Ada dua jenis cerita yang orang belajar untuk jalankan: cerita implisit, yang kita sebut “masuk akal”. Dan eksplisit, yang kita sebut

‘penjelasan’. Implisit – atau bawah sadar – menentukan kebiasaan dan nilai harian. Cerita itu seringkali tidak tersampaikan dengan kata-kata tapi mendasari penilaian intuitif sosial mengenai apa itu ‘normal’, ‘jelas’, ‘intelek’, ‘pantas’, ‘baik’, atau ‘benar’, dan sebaliknya apa yang dianggap sebagai ‘bodoh’, ‘nakal’, ‘jelek’, atau ‘jahat’.

SUPERNATURAL: PEMANDANGAN MAGIS DAN DALANG TAK BERWUJUD

Dua ribu tahun sebelum masehi, dengan piramid Cheop dan Sphinx agung sudah mendekati usia seribu tahun, Mesir kuno di tengah kerajaan lembah Nil telah memiliki beberapa aspek bawah sadar yang terkelola dengan baik. Dengan menggunakan gambaran seperti pengemudi kapal nasional, mereka menciptakan dunia mistis yang memperhatikan kosmologi moral, dan psikologi yang menjelaskan secara rumit penyebab kematian dan mimpi.

Dari awal yang menjanjikan dan penuh gambar inilah sejarah empat ribu tahun bawah sadar itu dimulai. Perjalanannya sendiri belum banyak peristiwa, dan seperti halnya dewa Matahari, perjalanannya melewati siklus timbul tenggelam, pengabaian dan kejayaan.

Tentu saja, Kita hanya tahu bawah sadar dari metafora dan teori. Kita tidak bisa menempelnya di dinding atau mengambil gambar. Dan gambaran simbolis ini harus diambil dari dunia yang sekarang ini. Dunia modern penuh dengan konsep dan artifak dimana kita bisa mengambil inspirasi metafora – pompa air dan komputer digital memberi kita gambaran cara kerja hati dan pikiran.

Secara kasar kita bisa membagi sumber analogi itu menjadi dua: alam dengan pemandangan, cuaca dan binatang, dan manusia dengan kekuatan, kebijakan, kepercayaan, dan pengaruh. Seperti yang kita lihat, keduanya sudah lama dijalankan sampai saat ini. Bawah sadar masih sebagian dianggap sebagai “tempat”, sebagian dianggap

sebagai kumpulan kekuatan impersonal, dan sebagai kumpulan sub-personal.

Pada jaman Pleistocene, intelektual manusia memulai proses

peningkatan secara dramatis. Dan alasan utamanya, menurut psikolog Inggris Nicholas Humphrey adalah kebutuhan untuk memahami apa yang dipikirkan oleh teman dan orang-orang yang Anda kenal. Jika Anda bisa menyaring pengalaman individu Anda menjadi mode internal kebiasaan dan watak mereka, Anda bisa menempatkan diri Anda pada posisi mereka, menyimpulkan tujuan mereka,

mengantisipasi apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, dan mengimbangi mereka.

Ketika Anda mendengarkan suara terdalam saat tidak ada orang lain, Anda tidak bisa melihat bibir orang lain bergerak. Jadi suara itu pasti ada di sana, tapi Anda tidak bisa melihatnya. Dengan mentalitas seperti itu, maka cukup masuk akal untuk menyumbat ruang kosong penjelasan, dengan dewa atau jiwa, yang nyata tapi tak terlihat. Jika Anda memiliki lebih dari satu suara di kepala Anda – atau jika

orang-orang sekitar Anda mendengar suara yang berbeda – pantheon Anda akan melebar, dan perasaan Anda hidup di dunia supernatural yang padat akan menguat dan stabil.

Kisah mengenai keberadaan dewa harus didukung oleh beberapa pemahaman mengenai bagaimana mereka berkomunikasi dengan ‘mahkluk fana’. Ada beberapa kemungkinan. Pertama, yang sudah dieksplorasi, adalah mereka langsung berbicara kepada ‘saya’ (manusia), dan mengatakan apa yang harus saya lakukan, atau mencegah saya berbuat sesuatu yang nantinya menjadi bencana. Mereka bisa melakukannya secara langsung, dalam tak sadar, dalam mimpi, atau secara tidak langsung, melalui medium atau semacam perantara.

Kemungkinan kedua adalah bahwa mereka mungkin mengaduk-aduk pikiran atau emosi saya secara langsung tapi terpisah, seperti seseorang yang menyetel radio tanpa memberitahu tahu saya apa tujuannya, sehingga saya merasa bodoh, terinspirasi, atau melankolis, tanpa paham ‘kenapa’ atau ‘bagaimana bisa’.

PENEMUAN JIWA: BERPENDARNYA BAWAH SADAR

Kematian adalah satu dari aspek membingungkan paling fundamental dan universal dari kehidupan manusia. Tubuh seorang teman atau keluarga yang baru saja mati serupa dengan mereka dalam

pandangan tertentu, dan juga tidak sama dalam kekakukannya. Ke mana semua energi, semua kepribadian itu menghilang?

Jika saya tidak lagi bisa melihat mereka yang pergi, tapi masih

mendengar suara mereka, mungkinkah jiwa mereka hidup di semacam dunia non material? Otto Rank berkata: keyakinan primitif mengenai jiwa awalnya tidak lain dari kepercayaan mengenai keabadian, yang secara kuat menyangkal kekuatan kematian ... pemikiran mengenai kematian itu bisa didukung dengan memastikan kesempatan kedua bagi seseorang, setelah dunia ini…

Apa yang berhubungan dengan bawah sadar, di masyarakat manapun, cenderung merefleksikan pesan yang secara struktural berada pada cara masyarakat berfungsi. Kecenderungan untuk tidak melawan masyarakat cukup kuat, karena jika melakukannya bisa dianggap gangguan dalam norma sosial.

Model pikirannya menawarkan sejumlah cara keluar dari dilema ini; Anda bisa bersikap seaneh mungkin dan menghindari stigma sosial yang sudah dibuat, jika ternyata kurangnya tuntutan Anda itu bukan semata-mata karena sikap takut, tapi bagian dari “takdir terucap” yang berhubungan dengan bawah sadar Anda.

Khayalan dari imajinasi manusia – jiwa yang abadi, hidup, sadar – menyapu bersih misteri inti dari keberadaan manusia, dan

menyediakan ukuran kepastian, di tengah-tengah semua peristiwa yang tampak kacau dan tak masuk akal. Tak kalah pentingnya, ketakutan akan kematian dikurangi oleh keyakinan bahwa kematian bukanlah akhir.

KEKASARAN YANG BISU: BAWAH SADAR DIOLAH, DIHILANGKAN, DAN MUNCUL KEMBALI

Ada dua gambaran psikologis, yang secara luas diketahui sepanjang periode pertengahan yang perlu diperhatikan karena merupakan satu-satunya sebelum jaman Renaissance, yang menarik kesimpulan akan keberadaan aktivitas dan struktur mental bawah sadar dari observasi langsung, dan berusaha untuk menggambarkan secara eksplisit apa yang mungkin terjadi pada tatanan mental.

Yang pertama adalah cermin Plotinus, filsuf Neoplatonis abad ketiga. Plotinus adalah penyimpangan psikologis, dan observasinya membuat dia yakin bahwa proses bawah sadar muncul setiap waktu. Perasaan bisa muncul tanpa kita menyadarinya, dia berkata; ketiadaan persepsi sadar bukanlah bukti ketiadaan dari aktivitas mental.

Untuk menjelaskan apa yang menurutnya merupakan fakta yang sudah jelas bahwa kita menjadi sadar akan proses pikiran hanya ketika kita memperhatikannya, kita membayangkan bahwa ada sudut

equivalen cermin dalam jiwa yang menentukan apakah aktivitas jiwa itu terefleksi dalam kesadaran atau tidak.

Gambaran pemandu kedua adalah ingatan sebagai sebuah

penyimpanan pengetahuan yang kadang-kadang sulit dicari: ruang bawah tanah gelap dari pikiran, atau buku hati, yang tulisannya tidak selalu mudah untuk dipahami.

Gambaran ruang bawah tanah itu adalah berkat Agustine, yang seperti Plotinus, memikirkan manusia secara psikologis dan juga fisik. Dia sadar bahwa “karya spiritual” ini membutuhkan kejujuran dengan diri sendiri – tapi dia juga tahu bahwa itu tidaklah mudah, pikirannya sendiri seringkali hilang dan muncul sendiri, dan membuka ingatan dan pikiran yang menyakitkan.

Orang-orang yang hidup di abad pertengahan memiliki gambaran yang cukup kuat mengenai interioritas mereka, dan gambaran ini dalam beberapa cara menekankan fakta bahwa kita adalah misteri bagi diri sendiri, dan pengetahuan mengenai diri sendiri hanya bisa didapatkan dengan kerja keras dan kemurahan hati Tuhan. Tapi kesemuanya benar-benar terdapat dalam kerangka moral dan emosional dari ketakutan dan harapan: ketakutan bahwa dosa Anda akan terungkap, dan terlalu berat untuk membuat Anda bisa diterima di sorga.

Orang mulai sadar bahwa mereka bisa berpikir untuk diri sendiri, tapi tentu saja kebangkitan kebebasan berpikir tidak muncul tanpa tentangan. Untuk pihak Gereja, jika orang-orang biasa mulai meragukan otoritas mereka yang sebelumnya tanpa keraguan merupakan ancaman yang nyata yang harus di‘periksa’, dan muncul penyelidikan dimana “polisi pikiran” pertama Orwellian, secara kejam berusaha membongkar pikiran rakyat dan menghukum mereka atas keraguan mereka yang semakin kuat.

INKUBATOR INTELEKTUAL: KOGNISI DAN KREATIVITAS Eksplorasi dari apa yang sekarang dikenal sebagai bawah sadar kognitif sudah berjalan baik di abad dua belas, dan sudah berjalan selama dua ribu tahun. Orang dengan kecenderungan untuk mengobservasi dan bertanya-tanya mengenai tindakan, dorongan, pemikiran dan persepsi selalu menemukan banyak hal yang membingungkan mereka.

Sampai dan sepanjang abad pertengahan, metafora memori lebih berupa jenis yang pasif, model “tablet lilin” diperbaharui sejalan dengan teknologi bibliografi yang berkembang – pertama adalah gulungan, kemudian coded, dan akhirnya buku dan perpustakaan. Ingatan berisi pengetahuan seperti halnya buku berisi kata-kata. Chaucer misalnya, sering menggunakan gambaran ingatan sebagai sebuah wadah. Ingatannya disebut dengan male of the mail, yang artinya tas traveling dari kulit.

Kurang lebih, metafora umum untuk pikiran dikembangkan oleh penyelidik yang melakukan pendekatan terhadap bawah sadar dalam cara yang lebih bijak dan penuh rasa ingin tahu daripada kaum romantik atau psikiatris.

Kaum romantik tidak tertarik akan rincian proses – mereka menolak cara-cara mekanistis atas pendekatan terhadap sesuatu selembut dan sejelas versi mereka terhadap bawah sadar. Bagi mereka, analisa gamblang seperti itu sama dengan memotong-motong bunga hanya untuk melihat bagian-bagiannya – sebuah kekerasan yang dilakukan tanpa sadar. Lagi pula minat utama mereka adalah kekayaan dan sifat tak terlukiskan dari pengalaman itu sendiri.

Di sisi lain, sang ahli klinis, sebagian besar tertarik akan kemungkinan dari perilaku/tindakan, dan teori mereka terhadap bawah sadar lebih didorong atas hal-hal pragmatis.

Salah satu hal yang sudah diungkap oleh studi sains adalah seberapa cepat dampak dari persepsi bawah sadar itu bisa menjadi riak pada sistem ingatan. Misalnya, apa yang Anda dengar tanpa sadar melalui satu telinga bisa mempengaruhi bagaimana Anda menafsirkan apa yang Anda dengar secara sadar melalui telinga lainnya, dalam beberapa ratus detik

Ahli anatomi, penulis essai dan puisi kebangsaan Amerika Oliver Wendell Holmes menyinggung satu untaian dalam sejarah bawah sadar yang belum kita perhatikan dengan jelas, meski kehadirannya sudah dirasakan, yaitu kreativitas. Sepanjang sejarah, fakta bahwa pemikiran bijak, dan metafora bermanfaat bisa muncul, tak terdeteksi dalam pikiran manusia telah menjadi keanehan terbesar dalam sifat manusia.

Aristoteles, meski awalnya dia mendukung teori Tuhan, akhirnya mengacu pada penjelasan somatik: kreativitas mencerminkan kelebihan halus dari kemarahan hitam (Sebuah kelimpahanan yang sangat ekstrim yang mengarah ke melankolis – sehingga membentuk kaitan pertamanya, yang bertahan sampai sekarang, antara kreativitas dan depresi).

KELUHURAN DAN SUBLIMINAL

Kode dasar dari otak adalah seperti bahasa, dan otak “mengajari” dengan menggabungkan pernyataan jelas dengan cara logis. Pandangan ini sangat diinspirasi oleh asumsi yang sangat

mendominasi tapi merupakan asumsi yang salah total bahwa pikiran (bisa dianggap otak), terstruktur seperti mesin digital.

Ada permasalahan dengan metafora komputer. Pertama adalah bahwa metafora itu berdasarkan pada model kartesia dari pemikiran

manusia, dan karenanya dari awal sudah tidak lengkap, untuk menawarkan dasar dari fenomenal non-rasional. Jadi, sejak lama, pengalaman tersebut diabaikan.

Dan permasalahan kedua, secara kasar, tidak ada seorang pun yang menemukan silogisme dalam cuping sementara, atau sebuah CPU dalam cortex prefrontal. Bahkan bagian otak yang khusus untuk bahasa ternyata awalnya dirancang untuk mengontrol bentuk non-verbal dari tindakan dan persepsi.

Dengan kekuatan rumit dari rangsangan dan kekangan, otak bisa menyerupai komputer. Caranya adalah sebagai berikut:

· Dengan menahan pengaruh on-line dari tujuan dan perhatiannya, otak bisa berpikir dengan cara yang lebih terpisah dari tujuan langsungnya.

· Dengan menghalangi “penyebaran” tambahan dari aktivitas sekitar epicenter konseptual, saya bisa mengoperasikan dasar dari

prototipe, dan fungsionalitasnya membuat semua rincian beraneka ragam yang membungkus tulang konseptual, dan

mengembalikannya ke contoh nyata. Saya bisa memutar argumen mengenai “otak” dan saya sedang melakukannya sekarang tanpa khawatir realitanya akan kacau.

· Dengan mengaktifkan model-otak saya mengenai “Anda”, dan meredam otak saya untuk sementara, saya bisa mengubah settingan awal syaraf mengenai sudut pandang dan prioritas, sehingga pelatihan saya mengenai pikiran berjalan pada arah yang berbeda. Saya bisa meletakkan diri saya pada posisi Anda, dan melihat sisi argumen yang lain.

· Dan juga dengan pengaktifan pelarangan yang bijak, saya bisa menghalangi sejumlah konsep dan kecenderungan kebiasaan yang selalu aktif, sehingga mengikuti struktur pemikiran yang lebih ketat dengan cara linear.

SEMOGA ANDA MENIKMATI AQUARIUS NOTE INI. HAPPY READING! P P P P P P P MENETAPKAN PIKIRAN SUPERNATURAL PENEMUAN JIWA KEKASARAN YANG BISU INKUBATOR INTELEKTUAL KELUHURAN DAN SUBLIMINAL MINDMAP CONTENT

2

4

3

1

8

5

6

Learn More in Less Time

note

AQUARIUS

Dari permulaan sejarah, lebih banyak orang yang seperti saya daripada kebanyakan orang lainnya. Sifat memberontak dari pikiran itu telah membingungkan dan menyusahkan orang-orang, dan semua

masyarakat manusia telah mengatakan banyak cerita supaya mereka menjadi nyaman, atau setidaknya ilusi kendali akan pikiran ini, di

depan penyimpangan tersebut.

AN INTIMATE HISTORY OF THE UNCONSCIOUS

OLEH : GUY CLAXTON

ABACUS · 401 HALAMAN

ISBN-13: 978-0349116547

THE WAYWARD MIND

Jika Anda yakin bahwa “intelektual itu sudah tetap”, maka tidak ada gunanya mencoba lebih pintar, tapi jika Anda yakin bahwa otot mental Anda bisa dilatih kekuatannya, maka berusaha keras memecahkan masalah punya manfaat melatih pikiran seperti halnya dua puluh menit berlari di treadmill

(2)

Benar, kita sekarang bisa memberi petunjuk bagaimana otak

membuat kita mendengar suara, merasa depresi, kehilangan arah dan kembali dengan ilham. Kita bahkan bisa berisiko dengan ide mengenai bagaimana pengalaman romantis dan religius yang membangkitkan dasar kagum dan penyatuan bisa merefleksikan kerja tak wajar dalam cerebral corteks.

MENETAPKAN PIKIRAN: APA GUNANYA BAWAH SADAR

Ada banyak aspek pengalaman manusia yang sepertinya tidak masuk dalam “akal sehat”. Mimpi, perubahan mood, kreativitas, “kendali otomatis” hanya beberapa contoh. Semuanya mengungkap kekurangan pengetahuan kita tentang pikiran kita, dan kendali terhadapnya yang kurang dari yang kita inginkan, dari yang kita anggap sesuai.

Karena tidak ada penanganan yang jelas, kita membungkusnya, atau kita merasa harus mengajukan berbagai penjelasan. Ada dorongan untuk membuat hal-hal tersebut masuk akal – akrab, terungkap kata-kata, termasuk juga yang memiliki aroma liar.

Daniel Dennet mengumpamakan dengan cukup bagus mengenai pengadaan kendali pengalaman kita. “Taktik fundamental kita akan perlindungan diri, kendali diri, dan definisi diri bukanlah dengan memintal jaring, atau membangun dam, tapi bercerita. Meski

beberapa dari ceritanya adalah mengenai penyebab kelelahan mental, atau kegagalan panen, cerita lainnya yang paling penting

berhubungan dengan psikologi dan fisiologi – kenapa dan bagaimana kita berpikir dan merasa dan bertindak dan melihat seperti yang sudah terjadi.

Permasalahannya adalah bahwa cerita tidak hanya menghasilkan hipotesa untuk tindakan: tapi juga menjadi tempat dan jaminannya sendiri. Dan kebutuhan untuk bertahan pada mitos yang

menyamankan bisa jadi lebih penting daripada menguji keakuratan

cerita. Narasi budaya kita membenarkan kebingungan ini, mereka memberi makna dan nilai terhadap kemalangan, mereka menawarkan pola dan rancangan dimana kita melihat sebagai kebetulan dan kesialan.

Apakah psikologi budaya masyarakat seperti sebutannya

memasukkan gambaran bawah sadar, dan bayangan macam apakah itu, akan sangat mempengaruhi bagaimana kehidupan itu dijalani. Apakah pada awal abad duapuluh satu, kita memiliki bayangan yang akurat dan koheren mengenai pondasi tak terlihat dari pikiran, atau sebuah kumpulan potongan kuno yang membuat kita nyaman tapi tak bernilai itulah yang dianggap paling penting.

Ada dua jenis cerita yang orang belajar untuk jalankan: cerita implisit, yang kita sebut “masuk akal”. Dan eksplisit, yang kita sebut

‘penjelasan’. Implisit – atau bawah sadar – menentukan kebiasaan dan nilai harian. Cerita itu seringkali tidak tersampaikan dengan kata-kata tapi mendasari penilaian intuitif sosial mengenai apa itu ‘normal’, ‘jelas’, ‘intelek’, ‘pantas’, ‘baik’, atau ‘benar’, dan sebaliknya apa yang dianggap sebagai ‘bodoh’, ‘nakal’, ‘jelek’, atau ‘jahat’.

SUPERNATURAL: PEMANDANGAN MAGIS DAN DALANG TAK BERWUJUD

Dua ribu tahun sebelum masehi, dengan piramid Cheop dan Sphinx agung sudah mendekati usia seribu tahun, Mesir kuno di tengah kerajaan lembah Nil telah memiliki beberapa aspek bawah sadar yang terkelola dengan baik. Dengan menggunakan gambaran seperti pengemudi kapal nasional, mereka menciptakan dunia mistis yang memperhatikan kosmologi moral, dan psikologi yang menjelaskan secara rumit penyebab kematian dan mimpi.

Dari awal yang menjanjikan dan penuh gambar inilah sejarah empat ribu tahun bawah sadar itu dimulai. Perjalanannya sendiri belum banyak peristiwa, dan seperti halnya dewa Matahari, perjalanannya melewati siklus timbul tenggelam, pengabaian dan kejayaan.

Tentu saja, Kita hanya tahu bawah sadar dari metafora dan teori. Kita tidak bisa menempelnya di dinding atau mengambil gambar. Dan gambaran simbolis ini harus diambil dari dunia yang sekarang ini. Dunia modern penuh dengan konsep dan artifak dimana kita bisa mengambil inspirasi metafora – pompa air dan komputer digital memberi kita gambaran cara kerja hati dan pikiran.

Secara kasar kita bisa membagi sumber analogi itu menjadi dua: alam dengan pemandangan, cuaca dan binatang, dan manusia dengan kekuatan, kebijakan, kepercayaan, dan pengaruh. Seperti yang kita lihat, keduanya sudah lama dijalankan sampai saat ini. Bawah sadar masih sebagian dianggap sebagai “tempat”, sebagian dianggap

sebagai kumpulan kekuatan impersonal, dan sebagai kumpulan sub-personal.

Pada jaman Pleistocene, intelektual manusia memulai proses

peningkatan secara dramatis. Dan alasan utamanya, menurut psikolog Inggris Nicholas Humphrey adalah kebutuhan untuk memahami apa yang dipikirkan oleh teman dan orang-orang yang Anda kenal. Jika Anda bisa menyaring pengalaman individu Anda menjadi mode internal kebiasaan dan watak mereka, Anda bisa menempatkan diri Anda pada posisi mereka, menyimpulkan tujuan mereka,

mengantisipasi apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, dan mengimbangi mereka.

Ketika Anda mendengarkan suara terdalam saat tidak ada orang lain, Anda tidak bisa melihat bibir orang lain bergerak. Jadi suara itu pasti ada di sana, tapi Anda tidak bisa melihatnya. Dengan mentalitas seperti itu, maka cukup masuk akal untuk menyumbat ruang kosong penjelasan, dengan dewa atau jiwa, yang nyata tapi tak terlihat. Jika Anda memiliki lebih dari satu suara di kepala Anda – atau jika

orang-orang sekitar Anda mendengar suara yang berbeda – pantheon Anda akan melebar, dan perasaan Anda hidup di dunia supernatural yang padat akan menguat dan stabil.

Kisah mengenai keberadaan dewa harus didukung oleh beberapa pemahaman mengenai bagaimana mereka berkomunikasi dengan ‘mahkluk fana’. Ada beberapa kemungkinan. Pertama, yang sudah dieksplorasi, adalah mereka langsung berbicara kepada ‘saya’ (manusia), dan mengatakan apa yang harus saya lakukan, atau mencegah saya berbuat sesuatu yang nantinya menjadi bencana. Mereka bisa melakukannya secara langsung, dalam tak sadar, dalam mimpi, atau secara tidak langsung, melalui medium atau semacam perantara.

Kemungkinan kedua adalah bahwa mereka mungkin mengaduk-aduk pikiran atau emosi saya secara langsung tapi terpisah, seperti seseorang yang menyetel radio tanpa memberitahu tahu saya apa tujuannya, sehingga saya merasa bodoh, terinspirasi, atau melankolis, tanpa paham ‘kenapa’ atau ‘bagaimana bisa’.

PENEMUAN JIWA: BERPENDARNYA BAWAH SADAR

Kematian adalah satu dari aspek membingungkan paling fundamental dan universal dari kehidupan manusia. Tubuh seorang teman atau keluarga yang baru saja mati serupa dengan mereka dalam

pandangan tertentu, dan juga tidak sama dalam kekakukannya. Ke mana semua energi, semua kepribadian itu menghilang?

Jika saya tidak lagi bisa melihat mereka yang pergi, tapi masih

mendengar suara mereka, mungkinkah jiwa mereka hidup di semacam dunia non material? Otto Rank berkata: keyakinan primitif mengenai jiwa awalnya tidak lain dari kepercayaan mengenai keabadian, yang secara kuat menyangkal kekuatan kematian ... pemikiran mengenai kematian itu bisa didukung dengan memastikan kesempatan kedua bagi seseorang, setelah dunia ini…

Apa yang berhubungan dengan bawah sadar, di masyarakat manapun, cenderung merefleksikan pesan yang secara struktural berada pada cara masyarakat berfungsi. Kecenderungan untuk tidak melawan masyarakat cukup kuat, karena jika melakukannya bisa dianggap gangguan dalam norma sosial.

Model pikirannya menawarkan sejumlah cara keluar dari dilema ini; Anda bisa bersikap seaneh mungkin dan menghindari stigma sosial yang sudah dibuat, jika ternyata kurangnya tuntutan Anda itu bukan semata-mata karena sikap takut, tapi bagian dari “takdir terucap” yang berhubungan dengan bawah sadar Anda.

Khayalan dari imajinasi manusia – jiwa yang abadi, hidup, sadar – menyapu bersih misteri inti dari keberadaan manusia, dan

menyediakan ukuran kepastian, di tengah-tengah semua peristiwa yang tampak kacau dan tak masuk akal. Tak kalah pentingnya, ketakutan akan kematian dikurangi oleh keyakinan bahwa kematian bukanlah akhir.

KEKASARAN YANG BISU: BAWAH SADAR DIOLAH, DIHILANGKAN, DAN MUNCUL KEMBALI

Ada dua gambaran psikologis, yang secara luas diketahui sepanjang periode pertengahan yang perlu diperhatikan karena merupakan satu-satunya sebelum jaman Renaissance, yang menarik kesimpulan akan keberadaan aktivitas dan struktur mental bawah sadar dari observasi langsung, dan berusaha untuk menggambarkan secara eksplisit apa yang mungkin terjadi pada tatanan mental.

Yang pertama adalah cermin Plotinus, filsuf Neoplatonis abad ketiga. Plotinus adalah penyimpangan psikologis, dan observasinya membuat dia yakin bahwa proses bawah sadar muncul setiap waktu. Perasaan bisa muncul tanpa kita menyadarinya, dia berkata; ketiadaan persepsi sadar bukanlah bukti ketiadaan dari aktivitas mental.

Untuk menjelaskan apa yang menurutnya merupakan fakta yang sudah jelas bahwa kita menjadi sadar akan proses pikiran hanya ketika kita memperhatikannya, kita membayangkan bahwa ada sudut

equivalen cermin dalam jiwa yang menentukan apakah aktivitas jiwa itu terefleksi dalam kesadaran atau tidak.

Gambaran pemandu kedua adalah ingatan sebagai sebuah

penyimpanan pengetahuan yang kadang-kadang sulit dicari: ruang bawah tanah gelap dari pikiran, atau buku hati, yang tulisannya tidak selalu mudah untuk dipahami.

Gambaran ruang bawah tanah itu adalah berkat Agustine, yang seperti Plotinus, memikirkan manusia secara psikologis dan juga fisik. Dia sadar bahwa “karya spiritual” ini membutuhkan kejujuran dengan diri sendiri – tapi dia juga tahu bahwa itu tidaklah mudah, pikirannya sendiri seringkali hilang dan muncul sendiri, dan membuka ingatan dan pikiran yang menyakitkan.

Orang-orang yang hidup di abad pertengahan memiliki gambaran yang cukup kuat mengenai interioritas mereka, dan gambaran ini dalam beberapa cara menekankan fakta bahwa kita adalah misteri bagi diri sendiri, dan pengetahuan mengenai diri sendiri hanya bisa didapatkan dengan kerja keras dan kemurahan hati Tuhan. Tapi kesemuanya benar-benar terdapat dalam kerangka moral dan emosional dari ketakutan dan harapan: ketakutan bahwa dosa Anda akan terungkap, dan terlalu berat untuk membuat Anda bisa diterima di sorga.

Orang mulai sadar bahwa mereka bisa berpikir untuk diri sendiri, tapi tentu saja kebangkitan kebebasan berpikir tidak muncul tanpa tentangan. Untuk pihak Gereja, jika orang-orang biasa mulai meragukan otoritas mereka yang sebelumnya tanpa keraguan merupakan ancaman yang nyata yang harus di‘periksa’, dan muncul penyelidikan dimana “polisi pikiran” pertama Orwellian, secara kejam berusaha membongkar pikiran rakyat dan menghukum mereka atas keraguan mereka yang semakin kuat.

INKUBATOR INTELEKTUAL: KOGNISI DAN KREATIVITAS Eksplorasi dari apa yang sekarang dikenal sebagai bawah sadar kognitif sudah berjalan baik di abad dua belas, dan sudah berjalan selama dua ribu tahun. Orang dengan kecenderungan untuk mengobservasi dan bertanya-tanya mengenai tindakan, dorongan, pemikiran dan persepsi selalu menemukan banyak hal yang membingungkan mereka.

Sampai dan sepanjang abad pertengahan, metafora memori lebih berupa jenis yang pasif, model “tablet lilin” diperbaharui sejalan dengan teknologi bibliografi yang berkembang – pertama adalah gulungan, kemudian coded, dan akhirnya buku dan perpustakaan. Ingatan berisi pengetahuan seperti halnya buku berisi kata-kata. Chaucer misalnya, sering menggunakan gambaran ingatan sebagai sebuah wadah. Ingatannya disebut dengan male of the mail, yang artinya tas traveling dari kulit.

Kurang lebih, metafora umum untuk pikiran dikembangkan oleh penyelidik yang melakukan pendekatan terhadap bawah sadar dalam cara yang lebih bijak dan penuh rasa ingin tahu daripada kaum romantik atau psikiatris.

Kaum romantik tidak tertarik akan rincian proses – mereka menolak cara-cara mekanistis atas pendekatan terhadap sesuatu selembut dan sejelas versi mereka terhadap bawah sadar. Bagi mereka, analisa gamblang seperti itu sama dengan memotong-motong bunga hanya untuk melihat bagian-bagiannya – sebuah kekerasan yang dilakukan tanpa sadar. Lagi pula minat utama mereka adalah kekayaan dan sifat tak terlukiskan dari pengalaman itu sendiri.

Di sisi lain, sang ahli klinis, sebagian besar tertarik akan kemungkinan dari perilaku/tindakan, dan teori mereka terhadap bawah sadar lebih didorong atas hal-hal pragmatis.

Salah satu hal yang sudah diungkap oleh studi sains adalah seberapa cepat dampak dari persepsi bawah sadar itu bisa menjadi riak pada sistem ingatan. Misalnya, apa yang Anda dengar tanpa sadar melalui satu telinga bisa mempengaruhi bagaimana Anda menafsirkan apa yang Anda dengar secara sadar melalui telinga lainnya, dalam beberapa ratus detik

Ahli anatomi, penulis essai dan puisi kebangsaan Amerika Oliver Wendell Holmes menyinggung satu untaian dalam sejarah bawah sadar yang belum kita perhatikan dengan jelas, meski kehadirannya sudah dirasakan, yaitu kreativitas. Sepanjang sejarah, fakta bahwa pemikiran bijak, dan metafora bermanfaat bisa muncul, tak terdeteksi dalam pikiran manusia telah menjadi keanehan terbesar dalam sifat manusia.

Aristoteles, meski awalnya dia mendukung teori Tuhan, akhirnya mengacu pada penjelasan somatik: kreativitas mencerminkan kelebihan halus dari kemarahan hitam (Sebuah kelimpahanan yang sangat ekstrim yang mengarah ke melankolis – sehingga membentuk kaitan pertamanya, yang bertahan sampai sekarang, antara kreativitas dan depresi).

KELUHURAN DAN SUBLIMINAL

Kode dasar dari otak adalah seperti bahasa, dan otak “mengajari” dengan menggabungkan pernyataan jelas dengan cara logis. Pandangan ini sangat diinspirasi oleh asumsi yang sangat

mendominasi tapi merupakan asumsi yang salah total bahwa pikiran (bisa dianggap otak), terstruktur seperti mesin digital.

Ada permasalahan dengan metafora komputer. Pertama adalah bahwa metafora itu berdasarkan pada model kartesia dari pemikiran

manusia, dan karenanya dari awal sudah tidak lengkap, untuk menawarkan dasar dari fenomenal non-rasional. Jadi, sejak lama, pengalaman tersebut diabaikan.

Dan permasalahan kedua, secara kasar, tidak ada seorang pun yang menemukan silogisme dalam cuping sementara, atau sebuah CPU dalam cortex prefrontal. Bahkan bagian otak yang khusus untuk bahasa ternyata awalnya dirancang untuk mengontrol bentuk non-verbal dari tindakan dan persepsi.

Dengan kekuatan rumit dari rangsangan dan kekangan, otak bisa menyerupai komputer. Caranya adalah sebagai berikut:

· Dengan menahan pengaruh on-line dari tujuan dan perhatiannya, otak bisa berpikir dengan cara yang lebih terpisah dari tujuan langsungnya.

· Dengan menghalangi “penyebaran” tambahan dari aktivitas sekitar epicenter konseptual, saya bisa mengoperasikan dasar dari

prototipe, dan fungsionalitasnya membuat semua rincian beraneka ragam yang membungkus tulang konseptual, dan

mengembalikannya ke contoh nyata. Saya bisa memutar argumen mengenai “otak” dan saya sedang melakukannya sekarang tanpa khawatir realitanya akan kacau.

· Dengan mengaktifkan model-otak saya mengenai “Anda”, dan meredam otak saya untuk sementara, saya bisa mengubah settingan awal syaraf mengenai sudut pandang dan prioritas, sehingga pelatihan saya mengenai pikiran berjalan pada arah yang berbeda. Saya bisa meletakkan diri saya pada posisi Anda, dan melihat sisi argumen yang lain.

· Dan juga dengan pengaktifan pelarangan yang bijak, saya bisa menghalangi sejumlah konsep dan kecenderungan kebiasaan yang selalu aktif, sehingga mengikuti struktur pemikiran yang lebih ketat dengan cara linear.

SEMOGA ANDA MENIKMATI AQUARIUS NOTE INI. HAPPY READING!

2

note

AQUARIUS

Copyright © 2014 AQUARIUS RESOURCES powered by : BACAKILAT. • All Rights Reserved • www.aquariusnote.com

Jadi keyakinan kita mengenai “kerasukan” atau “telepati” atau “makna mimpi” bisa dengan sendirinya terbukti dan terlindungi. Dan sumber daya pikiran harus didedikasikan untuk memastikan bahwa apapun yang terjadi, kita tidak mungkin salah.

(3)

Benar, kita sekarang bisa memberi petunjuk bagaimana otak

membuat kita mendengar suara, merasa depresi, kehilangan arah dan kembali dengan ilham. Kita bahkan bisa berisiko dengan ide mengenai bagaimana pengalaman romantis dan religius yang membangkitkan dasar kagum dan penyatuan bisa merefleksikan kerja tak wajar dalam cerebral corteks.

MENETAPKAN PIKIRAN: APA GUNANYA BAWAH SADAR

Ada banyak aspek pengalaman manusia yang sepertinya tidak masuk dalam “akal sehat”. Mimpi, perubahan mood, kreativitas, “kendali otomatis” hanya beberapa contoh. Semuanya mengungkap kekurangan pengetahuan kita tentang pikiran kita, dan kendali terhadapnya yang kurang dari yang kita inginkan, dari yang kita anggap sesuai.

Karena tidak ada penanganan yang jelas, kita membungkusnya, atau kita merasa harus mengajukan berbagai penjelasan. Ada dorongan untuk membuat hal-hal tersebut masuk akal – akrab, terungkap kata-kata, termasuk juga yang memiliki aroma liar.

Daniel Dennet mengumpamakan dengan cukup bagus mengenai pengadaan kendali pengalaman kita. “Taktik fundamental kita akan perlindungan diri, kendali diri, dan definisi diri bukanlah dengan memintal jaring, atau membangun dam, tapi bercerita. Meski

beberapa dari ceritanya adalah mengenai penyebab kelelahan mental, atau kegagalan panen, cerita lainnya yang paling penting

berhubungan dengan psikologi dan fisiologi – kenapa dan bagaimana kita berpikir dan merasa dan bertindak dan melihat seperti yang sudah terjadi.

Permasalahannya adalah bahwa cerita tidak hanya menghasilkan hipotesa untuk tindakan: tapi juga menjadi tempat dan jaminannya sendiri. Dan kebutuhan untuk bertahan pada mitos yang

menyamankan bisa jadi lebih penting daripada menguji keakuratan

cerita. Narasi budaya kita membenarkan kebingungan ini, mereka memberi makna dan nilai terhadap kemalangan, mereka menawarkan pola dan rancangan dimana kita melihat sebagai kebetulan dan kesialan.

Apakah psikologi budaya masyarakat seperti sebutannya

memasukkan gambaran bawah sadar, dan bayangan macam apakah itu, akan sangat mempengaruhi bagaimana kehidupan itu dijalani. Apakah pada awal abad duapuluh satu, kita memiliki bayangan yang akurat dan koheren mengenai pondasi tak terlihat dari pikiran, atau sebuah kumpulan potongan kuno yang membuat kita nyaman tapi tak bernilai itulah yang dianggap paling penting.

Ada dua jenis cerita yang orang belajar untuk jalankan: cerita implisit, yang kita sebut “masuk akal”. Dan eksplisit, yang kita sebut

‘penjelasan’. Implisit – atau bawah sadar – menentukan kebiasaan dan nilai harian. Cerita itu seringkali tidak tersampaikan dengan kata-kata tapi mendasari penilaian intuitif sosial mengenai apa itu ‘normal’, ‘jelas’, ‘intelek’, ‘pantas’, ‘baik’, atau ‘benar’, dan sebaliknya apa yang dianggap sebagai ‘bodoh’, ‘nakal’, ‘jelek’, atau ‘jahat’.

SUPERNATURAL: PEMANDANGAN MAGIS DAN DALANG TAK BERWUJUD

Dua ribu tahun sebelum masehi, dengan piramid Cheop dan Sphinx agung sudah mendekati usia seribu tahun, Mesir kuno di tengah kerajaan lembah Nil telah memiliki beberapa aspek bawah sadar yang terkelola dengan baik. Dengan menggunakan gambaran seperti pengemudi kapal nasional, mereka menciptakan dunia mistis yang memperhatikan kosmologi moral, dan psikologi yang menjelaskan secara rumit penyebab kematian dan mimpi.

Dari awal yang menjanjikan dan penuh gambar inilah sejarah empat ribu tahun bawah sadar itu dimulai. Perjalanannya sendiri belum banyak peristiwa, dan seperti halnya dewa Matahari, perjalanannya melewati siklus timbul tenggelam, pengabaian dan kejayaan.

Tentu saja, Kita hanya tahu bawah sadar dari metafora dan teori. Kita tidak bisa menempelnya di dinding atau mengambil gambar. Dan gambaran simbolis ini harus diambil dari dunia yang sekarang ini. Dunia modern penuh dengan konsep dan artifak dimana kita bisa mengambil inspirasi metafora – pompa air dan komputer digital memberi kita gambaran cara kerja hati dan pikiran.

Secara kasar kita bisa membagi sumber analogi itu menjadi dua: alam dengan pemandangan, cuaca dan binatang, dan manusia dengan kekuatan, kebijakan, kepercayaan, dan pengaruh. Seperti yang kita lihat, keduanya sudah lama dijalankan sampai saat ini. Bawah sadar masih sebagian dianggap sebagai “tempat”, sebagian dianggap

sebagai kumpulan kekuatan impersonal, dan sebagai kumpulan sub-personal.

Pada jaman Pleistocene, intelektual manusia memulai proses

peningkatan secara dramatis. Dan alasan utamanya, menurut psikolog Inggris Nicholas Humphrey adalah kebutuhan untuk memahami apa yang dipikirkan oleh teman dan orang-orang yang Anda kenal. Jika Anda bisa menyaring pengalaman individu Anda menjadi mode internal kebiasaan dan watak mereka, Anda bisa menempatkan diri Anda pada posisi mereka, menyimpulkan tujuan mereka,

mengantisipasi apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, dan mengimbangi mereka.

Ketika Anda mendengarkan suara terdalam saat tidak ada orang lain, Anda tidak bisa melihat bibir orang lain bergerak. Jadi suara itu pasti ada di sana, tapi Anda tidak bisa melihatnya. Dengan mentalitas seperti itu, maka cukup masuk akal untuk menyumbat ruang kosong penjelasan, dengan dewa atau jiwa, yang nyata tapi tak terlihat. Jika Anda memiliki lebih dari satu suara di kepala Anda – atau jika

orang-orang sekitar Anda mendengar suara yang berbeda – pantheon Anda akan melebar, dan perasaan Anda hidup di dunia supernatural yang padat akan menguat dan stabil.

Kisah mengenai keberadaan dewa harus didukung oleh beberapa pemahaman mengenai bagaimana mereka berkomunikasi dengan ‘mahkluk fana’. Ada beberapa kemungkinan. Pertama, yang sudah dieksplorasi, adalah mereka langsung berbicara kepada ‘saya’ (manusia), dan mengatakan apa yang harus saya lakukan, atau mencegah saya berbuat sesuatu yang nantinya menjadi bencana. Mereka bisa melakukannya secara langsung, dalam tak sadar, dalam mimpi, atau secara tidak langsung, melalui medium atau semacam perantara.

Kemungkinan kedua adalah bahwa mereka mungkin mengaduk-aduk pikiran atau emosi saya secara langsung tapi terpisah, seperti seseorang yang menyetel radio tanpa memberitahu tahu saya apa tujuannya, sehingga saya merasa bodoh, terinspirasi, atau melankolis, tanpa paham ‘kenapa’ atau ‘bagaimana bisa’.

PENEMUAN JIWA: BERPENDARNYA BAWAH SADAR

Kematian adalah satu dari aspek membingungkan paling fundamental dan universal dari kehidupan manusia. Tubuh seorang teman atau keluarga yang baru saja mati serupa dengan mereka dalam

pandangan tertentu, dan juga tidak sama dalam kekakukannya. Ke mana semua energi, semua kepribadian itu menghilang?

Jika saya tidak lagi bisa melihat mereka yang pergi, tapi masih

mendengar suara mereka, mungkinkah jiwa mereka hidup di semacam dunia non material? Otto Rank berkata: keyakinan primitif mengenai jiwa awalnya tidak lain dari kepercayaan mengenai keabadian, yang secara kuat menyangkal kekuatan kematian ... pemikiran mengenai kematian itu bisa didukung dengan memastikan kesempatan kedua bagi seseorang, setelah dunia ini…

Apa yang berhubungan dengan bawah sadar, di masyarakat manapun, cenderung merefleksikan pesan yang secara struktural berada pada cara masyarakat berfungsi. Kecenderungan untuk tidak melawan masyarakat cukup kuat, karena jika melakukannya bisa dianggap gangguan dalam norma sosial.

Model pikirannya menawarkan sejumlah cara keluar dari dilema ini; Anda bisa bersikap seaneh mungkin dan menghindari stigma sosial yang sudah dibuat, jika ternyata kurangnya tuntutan Anda itu bukan semata-mata karena sikap takut, tapi bagian dari “takdir terucap” yang berhubungan dengan bawah sadar Anda.

Khayalan dari imajinasi manusia – jiwa yang abadi, hidup, sadar – menyapu bersih misteri inti dari keberadaan manusia, dan

menyediakan ukuran kepastian, di tengah-tengah semua peristiwa yang tampak kacau dan tak masuk akal. Tak kalah pentingnya, ketakutan akan kematian dikurangi oleh keyakinan bahwa kematian bukanlah akhir.

KEKASARAN YANG BISU: BAWAH SADAR DIOLAH, DIHILANGKAN, DAN MUNCUL KEMBALI

Ada dua gambaran psikologis, yang secara luas diketahui sepanjang periode pertengahan yang perlu diperhatikan karena merupakan satu-satunya sebelum jaman Renaissance, yang menarik kesimpulan akan keberadaan aktivitas dan struktur mental bawah sadar dari observasi langsung, dan berusaha untuk menggambarkan secara eksplisit apa yang mungkin terjadi pada tatanan mental.

Yang pertama adalah cermin Plotinus, filsuf Neoplatonis abad ketiga. Plotinus adalah penyimpangan psikologis, dan observasinya membuat dia yakin bahwa proses bawah sadar muncul setiap waktu. Perasaan bisa muncul tanpa kita menyadarinya, dia berkata; ketiadaan persepsi sadar bukanlah bukti ketiadaan dari aktivitas mental.

Untuk menjelaskan apa yang menurutnya merupakan fakta yang sudah jelas bahwa kita menjadi sadar akan proses pikiran hanya ketika kita memperhatikannya, kita membayangkan bahwa ada sudut

equivalen cermin dalam jiwa yang menentukan apakah aktivitas jiwa itu terefleksi dalam kesadaran atau tidak.

Gambaran pemandu kedua adalah ingatan sebagai sebuah

penyimpanan pengetahuan yang kadang-kadang sulit dicari: ruang bawah tanah gelap dari pikiran, atau buku hati, yang tulisannya tidak selalu mudah untuk dipahami.

Gambaran ruang bawah tanah itu adalah berkat Agustine, yang seperti Plotinus, memikirkan manusia secara psikologis dan juga fisik. Dia sadar bahwa “karya spiritual” ini membutuhkan kejujuran dengan diri sendiri – tapi dia juga tahu bahwa itu tidaklah mudah, pikirannya sendiri seringkali hilang dan muncul sendiri, dan membuka ingatan dan pikiran yang menyakitkan.

Orang-orang yang hidup di abad pertengahan memiliki gambaran yang cukup kuat mengenai interioritas mereka, dan gambaran ini dalam beberapa cara menekankan fakta bahwa kita adalah misteri bagi diri sendiri, dan pengetahuan mengenai diri sendiri hanya bisa didapatkan dengan kerja keras dan kemurahan hati Tuhan. Tapi kesemuanya benar-benar terdapat dalam kerangka moral dan emosional dari ketakutan dan harapan: ketakutan bahwa dosa Anda akan terungkap, dan terlalu berat untuk membuat Anda bisa diterima di sorga.

Orang mulai sadar bahwa mereka bisa berpikir untuk diri sendiri, tapi tentu saja kebangkitan kebebasan berpikir tidak muncul tanpa tentangan. Untuk pihak Gereja, jika orang-orang biasa mulai meragukan otoritas mereka yang sebelumnya tanpa keraguan merupakan ancaman yang nyata yang harus di‘periksa’, dan muncul penyelidikan dimana “polisi pikiran” pertama Orwellian, secara kejam berusaha membongkar pikiran rakyat dan menghukum mereka atas keraguan mereka yang semakin kuat.

INKUBATOR INTELEKTUAL: KOGNISI DAN KREATIVITAS Eksplorasi dari apa yang sekarang dikenal sebagai bawah sadar kognitif sudah berjalan baik di abad dua belas, dan sudah berjalan selama dua ribu tahun. Orang dengan kecenderungan untuk mengobservasi dan bertanya-tanya mengenai tindakan, dorongan, pemikiran dan persepsi selalu menemukan banyak hal yang membingungkan mereka.

Sampai dan sepanjang abad pertengahan, metafora memori lebih berupa jenis yang pasif, model “tablet lilin” diperbaharui sejalan dengan teknologi bibliografi yang berkembang – pertama adalah gulungan, kemudian coded, dan akhirnya buku dan perpustakaan. Ingatan berisi pengetahuan seperti halnya buku berisi kata-kata. Chaucer misalnya, sering menggunakan gambaran ingatan sebagai sebuah wadah. Ingatannya disebut dengan male of the mail, yang artinya tas traveling dari kulit.

Kurang lebih, metafora umum untuk pikiran dikembangkan oleh penyelidik yang melakukan pendekatan terhadap bawah sadar dalam cara yang lebih bijak dan penuh rasa ingin tahu daripada kaum romantik atau psikiatris.

Kaum romantik tidak tertarik akan rincian proses – mereka menolak cara-cara mekanistis atas pendekatan terhadap sesuatu selembut dan sejelas versi mereka terhadap bawah sadar. Bagi mereka, analisa gamblang seperti itu sama dengan memotong-motong bunga hanya untuk melihat bagian-bagiannya – sebuah kekerasan yang dilakukan tanpa sadar. Lagi pula minat utama mereka adalah kekayaan dan sifat tak terlukiskan dari pengalaman itu sendiri.

Di sisi lain, sang ahli klinis, sebagian besar tertarik akan kemungkinan dari perilaku/tindakan, dan teori mereka terhadap bawah sadar lebih didorong atas hal-hal pragmatis.

Salah satu hal yang sudah diungkap oleh studi sains adalah seberapa cepat dampak dari persepsi bawah sadar itu bisa menjadi riak pada sistem ingatan. Misalnya, apa yang Anda dengar tanpa sadar melalui satu telinga bisa mempengaruhi bagaimana Anda menafsirkan apa yang Anda dengar secara sadar melalui telinga lainnya, dalam beberapa ratus detik

Ahli anatomi, penulis essai dan puisi kebangsaan Amerika Oliver Wendell Holmes menyinggung satu untaian dalam sejarah bawah sadar yang belum kita perhatikan dengan jelas, meski kehadirannya sudah dirasakan, yaitu kreativitas. Sepanjang sejarah, fakta bahwa pemikiran bijak, dan metafora bermanfaat bisa muncul, tak terdeteksi dalam pikiran manusia telah menjadi keanehan terbesar dalam sifat manusia.

Aristoteles, meski awalnya dia mendukung teori Tuhan, akhirnya mengacu pada penjelasan somatik: kreativitas mencerminkan kelebihan halus dari kemarahan hitam (Sebuah kelimpahanan yang sangat ekstrim yang mengarah ke melankolis – sehingga membentuk kaitan pertamanya, yang bertahan sampai sekarang, antara kreativitas dan depresi).

KELUHURAN DAN SUBLIMINAL

Kode dasar dari otak adalah seperti bahasa, dan otak “mengajari” dengan menggabungkan pernyataan jelas dengan cara logis. Pandangan ini sangat diinspirasi oleh asumsi yang sangat

mendominasi tapi merupakan asumsi yang salah total bahwa pikiran (bisa dianggap otak), terstruktur seperti mesin digital.

Ada permasalahan dengan metafora komputer. Pertama adalah bahwa metafora itu berdasarkan pada model kartesia dari pemikiran

manusia, dan karenanya dari awal sudah tidak lengkap, untuk menawarkan dasar dari fenomenal non-rasional. Jadi, sejak lama, pengalaman tersebut diabaikan.

Dan permasalahan kedua, secara kasar, tidak ada seorang pun yang menemukan silogisme dalam cuping sementara, atau sebuah CPU dalam cortex prefrontal. Bahkan bagian otak yang khusus untuk bahasa ternyata awalnya dirancang untuk mengontrol bentuk non-verbal dari tindakan dan persepsi.

Dengan kekuatan rumit dari rangsangan dan kekangan, otak bisa menyerupai komputer. Caranya adalah sebagai berikut:

· Dengan menahan pengaruh on-line dari tujuan dan perhatiannya, otak bisa berpikir dengan cara yang lebih terpisah dari tujuan langsungnya.

· Dengan menghalangi “penyebaran” tambahan dari aktivitas sekitar epicenter konseptual, saya bisa mengoperasikan dasar dari

prototipe, dan fungsionalitasnya membuat semua rincian beraneka ragam yang membungkus tulang konseptual, dan

mengembalikannya ke contoh nyata. Saya bisa memutar argumen mengenai “otak” dan saya sedang melakukannya sekarang tanpa khawatir realitanya akan kacau.

· Dengan mengaktifkan model-otak saya mengenai “Anda”, dan meredam otak saya untuk sementara, saya bisa mengubah settingan awal syaraf mengenai sudut pandang dan prioritas, sehingga pelatihan saya mengenai pikiran berjalan pada arah yang berbeda. Saya bisa meletakkan diri saya pada posisi Anda, dan melihat sisi argumen yang lain.

· Dan juga dengan pengaktifan pelarangan yang bijak, saya bisa menghalangi sejumlah konsep dan kecenderungan kebiasaan yang selalu aktif, sehingga mengikuti struktur pemikiran yang lebih ketat dengan cara linear.

SEMOGA ANDA MENIKMATI AQUARIUS NOTE INI. HAPPY READING!

3

note

AQUARIUS

Copyright © 2014 AQUARIUS RESOURCES powered by : BACAKILAT. • All Rights Reserved • www.aquariusnote.com

Dewa awalnya tidak diciptakan untuk menjelaskan keanehan psikologis kita, tapi untuk membantu pengaturan alam, atau dunia sosial manusia

Saat ini kita cenderung menganggap jika mendengar suara-suara sebagai tanda gangguan jiwa, tapi sepanjang sejarah, hal itu sudah biasa dan seringkali menjadi pengalaman yang berguna. Meski pengalaman setiap orang berbeda-beda

(4)

Benar, kita sekarang bisa memberi petunjuk bagaimana otak

membuat kita mendengar suara, merasa depresi, kehilangan arah dan kembali dengan ilham. Kita bahkan bisa berisiko dengan ide mengenai bagaimana pengalaman romantis dan religius yang membangkitkan dasar kagum dan penyatuan bisa merefleksikan kerja tak wajar dalam cerebral corteks.

MENETAPKAN PIKIRAN: APA GUNANYA BAWAH SADAR

Ada banyak aspek pengalaman manusia yang sepertinya tidak masuk dalam “akal sehat”. Mimpi, perubahan mood, kreativitas, “kendali otomatis” hanya beberapa contoh. Semuanya mengungkap kekurangan pengetahuan kita tentang pikiran kita, dan kendali terhadapnya yang kurang dari yang kita inginkan, dari yang kita anggap sesuai.

Karena tidak ada penanganan yang jelas, kita membungkusnya, atau kita merasa harus mengajukan berbagai penjelasan. Ada dorongan untuk membuat hal-hal tersebut masuk akal – akrab, terungkap kata-kata, termasuk juga yang memiliki aroma liar.

Daniel Dennet mengumpamakan dengan cukup bagus mengenai pengadaan kendali pengalaman kita. “Taktik fundamental kita akan perlindungan diri, kendali diri, dan definisi diri bukanlah dengan memintal jaring, atau membangun dam, tapi bercerita. Meski

beberapa dari ceritanya adalah mengenai penyebab kelelahan mental, atau kegagalan panen, cerita lainnya yang paling penting

berhubungan dengan psikologi dan fisiologi – kenapa dan bagaimana kita berpikir dan merasa dan bertindak dan melihat seperti yang sudah terjadi.

Permasalahannya adalah bahwa cerita tidak hanya menghasilkan hipotesa untuk tindakan: tapi juga menjadi tempat dan jaminannya sendiri. Dan kebutuhan untuk bertahan pada mitos yang

menyamankan bisa jadi lebih penting daripada menguji keakuratan

cerita. Narasi budaya kita membenarkan kebingungan ini, mereka memberi makna dan nilai terhadap kemalangan, mereka menawarkan pola dan rancangan dimana kita melihat sebagai kebetulan dan kesialan.

Apakah psikologi budaya masyarakat seperti sebutannya

memasukkan gambaran bawah sadar, dan bayangan macam apakah itu, akan sangat mempengaruhi bagaimana kehidupan itu dijalani. Apakah pada awal abad duapuluh satu, kita memiliki bayangan yang akurat dan koheren mengenai pondasi tak terlihat dari pikiran, atau sebuah kumpulan potongan kuno yang membuat kita nyaman tapi tak bernilai itulah yang dianggap paling penting.

Ada dua jenis cerita yang orang belajar untuk jalankan: cerita implisit, yang kita sebut “masuk akal”. Dan eksplisit, yang kita sebut

‘penjelasan’. Implisit – atau bawah sadar – menentukan kebiasaan dan nilai harian. Cerita itu seringkali tidak tersampaikan dengan kata-kata tapi mendasari penilaian intuitif sosial mengenai apa itu ‘normal’, ‘jelas’, ‘intelek’, ‘pantas’, ‘baik’, atau ‘benar’, dan sebaliknya apa yang dianggap sebagai ‘bodoh’, ‘nakal’, ‘jelek’, atau ‘jahat’.

SUPERNATURAL: PEMANDANGAN MAGIS DAN DALANG TAK BERWUJUD

Dua ribu tahun sebelum masehi, dengan piramid Cheop dan Sphinx agung sudah mendekati usia seribu tahun, Mesir kuno di tengah kerajaan lembah Nil telah memiliki beberapa aspek bawah sadar yang terkelola dengan baik. Dengan menggunakan gambaran seperti pengemudi kapal nasional, mereka menciptakan dunia mistis yang memperhatikan kosmologi moral, dan psikologi yang menjelaskan secara rumit penyebab kematian dan mimpi.

Dari awal yang menjanjikan dan penuh gambar inilah sejarah empat ribu tahun bawah sadar itu dimulai. Perjalanannya sendiri belum banyak peristiwa, dan seperti halnya dewa Matahari, perjalanannya melewati siklus timbul tenggelam, pengabaian dan kejayaan.

Tentu saja, Kita hanya tahu bawah sadar dari metafora dan teori. Kita tidak bisa menempelnya di dinding atau mengambil gambar. Dan gambaran simbolis ini harus diambil dari dunia yang sekarang ini. Dunia modern penuh dengan konsep dan artifak dimana kita bisa mengambil inspirasi metafora – pompa air dan komputer digital memberi kita gambaran cara kerja hati dan pikiran.

Secara kasar kita bisa membagi sumber analogi itu menjadi dua: alam dengan pemandangan, cuaca dan binatang, dan manusia dengan kekuatan, kebijakan, kepercayaan, dan pengaruh. Seperti yang kita lihat, keduanya sudah lama dijalankan sampai saat ini. Bawah sadar masih sebagian dianggap sebagai “tempat”, sebagian dianggap

sebagai kumpulan kekuatan impersonal, dan sebagai kumpulan sub-personal.

Pada jaman Pleistocene, intelektual manusia memulai proses

peningkatan secara dramatis. Dan alasan utamanya, menurut psikolog Inggris Nicholas Humphrey adalah kebutuhan untuk memahami apa yang dipikirkan oleh teman dan orang-orang yang Anda kenal. Jika Anda bisa menyaring pengalaman individu Anda menjadi mode internal kebiasaan dan watak mereka, Anda bisa menempatkan diri Anda pada posisi mereka, menyimpulkan tujuan mereka,

mengantisipasi apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, dan mengimbangi mereka.

Ketika Anda mendengarkan suara terdalam saat tidak ada orang lain, Anda tidak bisa melihat bibir orang lain bergerak. Jadi suara itu pasti ada di sana, tapi Anda tidak bisa melihatnya. Dengan mentalitas seperti itu, maka cukup masuk akal untuk menyumbat ruang kosong penjelasan, dengan dewa atau jiwa, yang nyata tapi tak terlihat. Jika Anda memiliki lebih dari satu suara di kepala Anda – atau jika

orang-orang sekitar Anda mendengar suara yang berbeda – pantheon Anda akan melebar, dan perasaan Anda hidup di dunia supernatural yang padat akan menguat dan stabil.

Kisah mengenai keberadaan dewa harus didukung oleh beberapa pemahaman mengenai bagaimana mereka berkomunikasi dengan ‘mahkluk fana’. Ada beberapa kemungkinan. Pertama, yang sudah dieksplorasi, adalah mereka langsung berbicara kepada ‘saya’ (manusia), dan mengatakan apa yang harus saya lakukan, atau mencegah saya berbuat sesuatu yang nantinya menjadi bencana. Mereka bisa melakukannya secara langsung, dalam tak sadar, dalam mimpi, atau secara tidak langsung, melalui medium atau semacam perantara.

Kemungkinan kedua adalah bahwa mereka mungkin mengaduk-aduk pikiran atau emosi saya secara langsung tapi terpisah, seperti seseorang yang menyetel radio tanpa memberitahu tahu saya apa tujuannya, sehingga saya merasa bodoh, terinspirasi, atau melankolis, tanpa paham ‘kenapa’ atau ‘bagaimana bisa’.

PENEMUAN JIWA: BERPENDARNYA BAWAH SADAR

Kematian adalah satu dari aspek membingungkan paling fundamental dan universal dari kehidupan manusia. Tubuh seorang teman atau keluarga yang baru saja mati serupa dengan mereka dalam

pandangan tertentu, dan juga tidak sama dalam kekakukannya. Ke mana semua energi, semua kepribadian itu menghilang?

Jika saya tidak lagi bisa melihat mereka yang pergi, tapi masih

mendengar suara mereka, mungkinkah jiwa mereka hidup di semacam dunia non material? Otto Rank berkata: keyakinan primitif mengenai jiwa awalnya tidak lain dari kepercayaan mengenai keabadian, yang secara kuat menyangkal kekuatan kematian ... pemikiran mengenai kematian itu bisa didukung dengan memastikan kesempatan kedua bagi seseorang, setelah dunia ini…

Apa yang berhubungan dengan bawah sadar, di masyarakat manapun, cenderung merefleksikan pesan yang secara struktural berada pada cara masyarakat berfungsi. Kecenderungan untuk tidak melawan masyarakat cukup kuat, karena jika melakukannya bisa dianggap gangguan dalam norma sosial.

Model pikirannya menawarkan sejumlah cara keluar dari dilema ini; Anda bisa bersikap seaneh mungkin dan menghindari stigma sosial yang sudah dibuat, jika ternyata kurangnya tuntutan Anda itu bukan semata-mata karena sikap takut, tapi bagian dari “takdir terucap” yang berhubungan dengan bawah sadar Anda.

Khayalan dari imajinasi manusia – jiwa yang abadi, hidup, sadar – menyapu bersih misteri inti dari keberadaan manusia, dan

menyediakan ukuran kepastian, di tengah-tengah semua peristiwa yang tampak kacau dan tak masuk akal. Tak kalah pentingnya, ketakutan akan kematian dikurangi oleh keyakinan bahwa kematian bukanlah akhir.

KEKASARAN YANG BISU: BAWAH SADAR DIOLAH, DIHILANGKAN, DAN MUNCUL KEMBALI

Ada dua gambaran psikologis, yang secara luas diketahui sepanjang periode pertengahan yang perlu diperhatikan karena merupakan satu-satunya sebelum jaman Renaissance, yang menarik kesimpulan akan keberadaan aktivitas dan struktur mental bawah sadar dari observasi langsung, dan berusaha untuk menggambarkan secara eksplisit apa yang mungkin terjadi pada tatanan mental.

Yang pertama adalah cermin Plotinus, filsuf Neoplatonis abad ketiga. Plotinus adalah penyimpangan psikologis, dan observasinya membuat dia yakin bahwa proses bawah sadar muncul setiap waktu. Perasaan bisa muncul tanpa kita menyadarinya, dia berkata; ketiadaan persepsi sadar bukanlah bukti ketiadaan dari aktivitas mental.

Untuk menjelaskan apa yang menurutnya merupakan fakta yang sudah jelas bahwa kita menjadi sadar akan proses pikiran hanya ketika kita memperhatikannya, kita membayangkan bahwa ada sudut

equivalen cermin dalam jiwa yang menentukan apakah aktivitas jiwa itu terefleksi dalam kesadaran atau tidak.

Gambaran pemandu kedua adalah ingatan sebagai sebuah

penyimpanan pengetahuan yang kadang-kadang sulit dicari: ruang bawah tanah gelap dari pikiran, atau buku hati, yang tulisannya tidak selalu mudah untuk dipahami.

Gambaran ruang bawah tanah itu adalah berkat Agustine, yang seperti Plotinus, memikirkan manusia secara psikologis dan juga fisik. Dia sadar bahwa “karya spiritual” ini membutuhkan kejujuran dengan diri sendiri – tapi dia juga tahu bahwa itu tidaklah mudah, pikirannya sendiri seringkali hilang dan muncul sendiri, dan membuka ingatan dan pikiran yang menyakitkan.

Orang-orang yang hidup di abad pertengahan memiliki gambaran yang cukup kuat mengenai interioritas mereka, dan gambaran ini dalam beberapa cara menekankan fakta bahwa kita adalah misteri bagi diri sendiri, dan pengetahuan mengenai diri sendiri hanya bisa didapatkan dengan kerja keras dan kemurahan hati Tuhan. Tapi kesemuanya benar-benar terdapat dalam kerangka moral dan emosional dari ketakutan dan harapan: ketakutan bahwa dosa Anda akan terungkap, dan terlalu berat untuk membuat Anda bisa diterima di sorga.

Orang mulai sadar bahwa mereka bisa berpikir untuk diri sendiri, tapi tentu saja kebangkitan kebebasan berpikir tidak muncul tanpa tentangan. Untuk pihak Gereja, jika orang-orang biasa mulai meragukan otoritas mereka yang sebelumnya tanpa keraguan merupakan ancaman yang nyata yang harus di‘periksa’, dan muncul penyelidikan dimana “polisi pikiran” pertama Orwellian, secara kejam berusaha membongkar pikiran rakyat dan menghukum mereka atas keraguan mereka yang semakin kuat.

INKUBATOR INTELEKTUAL: KOGNISI DAN KREATIVITAS Eksplorasi dari apa yang sekarang dikenal sebagai bawah sadar kognitif sudah berjalan baik di abad dua belas, dan sudah berjalan selama dua ribu tahun. Orang dengan kecenderungan untuk mengobservasi dan bertanya-tanya mengenai tindakan, dorongan, pemikiran dan persepsi selalu menemukan banyak hal yang membingungkan mereka.

Sampai dan sepanjang abad pertengahan, metafora memori lebih berupa jenis yang pasif, model “tablet lilin” diperbaharui sejalan dengan teknologi bibliografi yang berkembang – pertama adalah gulungan, kemudian coded, dan akhirnya buku dan perpustakaan. Ingatan berisi pengetahuan seperti halnya buku berisi kata-kata. Chaucer misalnya, sering menggunakan gambaran ingatan sebagai sebuah wadah. Ingatannya disebut dengan male of the mail, yang artinya tas traveling dari kulit.

Kurang lebih, metafora umum untuk pikiran dikembangkan oleh penyelidik yang melakukan pendekatan terhadap bawah sadar dalam cara yang lebih bijak dan penuh rasa ingin tahu daripada kaum romantik atau psikiatris.

Kaum romantik tidak tertarik akan rincian proses – mereka menolak cara-cara mekanistis atas pendekatan terhadap sesuatu selembut dan sejelas versi mereka terhadap bawah sadar. Bagi mereka, analisa gamblang seperti itu sama dengan memotong-motong bunga hanya untuk melihat bagian-bagiannya – sebuah kekerasan yang dilakukan tanpa sadar. Lagi pula minat utama mereka adalah kekayaan dan sifat tak terlukiskan dari pengalaman itu sendiri.

Di sisi lain, sang ahli klinis, sebagian besar tertarik akan kemungkinan dari perilaku/tindakan, dan teori mereka terhadap bawah sadar lebih didorong atas hal-hal pragmatis.

Salah satu hal yang sudah diungkap oleh studi sains adalah seberapa cepat dampak dari persepsi bawah sadar itu bisa menjadi riak pada sistem ingatan. Misalnya, apa yang Anda dengar tanpa sadar melalui satu telinga bisa mempengaruhi bagaimana Anda menafsirkan apa yang Anda dengar secara sadar melalui telinga lainnya, dalam beberapa ratus detik

Ahli anatomi, penulis essai dan puisi kebangsaan Amerika Oliver Wendell Holmes menyinggung satu untaian dalam sejarah bawah sadar yang belum kita perhatikan dengan jelas, meski kehadirannya sudah dirasakan, yaitu kreativitas. Sepanjang sejarah, fakta bahwa pemikiran bijak, dan metafora bermanfaat bisa muncul, tak terdeteksi dalam pikiran manusia telah menjadi keanehan terbesar dalam sifat manusia.

Aristoteles, meski awalnya dia mendukung teori Tuhan, akhirnya mengacu pada penjelasan somatik: kreativitas mencerminkan kelebihan halus dari kemarahan hitam (Sebuah kelimpahanan yang sangat ekstrim yang mengarah ke melankolis – sehingga membentuk kaitan pertamanya, yang bertahan sampai sekarang, antara kreativitas dan depresi).

KELUHURAN DAN SUBLIMINAL

Kode dasar dari otak adalah seperti bahasa, dan otak “mengajari” dengan menggabungkan pernyataan jelas dengan cara logis. Pandangan ini sangat diinspirasi oleh asumsi yang sangat

mendominasi tapi merupakan asumsi yang salah total bahwa pikiran (bisa dianggap otak), terstruktur seperti mesin digital.

Ada permasalahan dengan metafora komputer. Pertama adalah bahwa metafora itu berdasarkan pada model kartesia dari pemikiran

manusia, dan karenanya dari awal sudah tidak lengkap, untuk menawarkan dasar dari fenomenal non-rasional. Jadi, sejak lama, pengalaman tersebut diabaikan.

Dan permasalahan kedua, secara kasar, tidak ada seorang pun yang menemukan silogisme dalam cuping sementara, atau sebuah CPU dalam cortex prefrontal. Bahkan bagian otak yang khusus untuk bahasa ternyata awalnya dirancang untuk mengontrol bentuk non-verbal dari tindakan dan persepsi.

Dengan kekuatan rumit dari rangsangan dan kekangan, otak bisa menyerupai komputer. Caranya adalah sebagai berikut:

· Dengan menahan pengaruh on-line dari tujuan dan perhatiannya, otak bisa berpikir dengan cara yang lebih terpisah dari tujuan langsungnya.

· Dengan menghalangi “penyebaran” tambahan dari aktivitas sekitar epicenter konseptual, saya bisa mengoperasikan dasar dari

prototipe, dan fungsionalitasnya membuat semua rincian beraneka ragam yang membungkus tulang konseptual, dan

mengembalikannya ke contoh nyata. Saya bisa memutar argumen mengenai “otak” dan saya sedang melakukannya sekarang tanpa khawatir realitanya akan kacau.

· Dengan mengaktifkan model-otak saya mengenai “Anda”, dan meredam otak saya untuk sementara, saya bisa mengubah settingan awal syaraf mengenai sudut pandang dan prioritas, sehingga pelatihan saya mengenai pikiran berjalan pada arah yang berbeda. Saya bisa meletakkan diri saya pada posisi Anda, dan melihat sisi argumen yang lain.

· Dan juga dengan pengaktifan pelarangan yang bijak, saya bisa menghalangi sejumlah konsep dan kecenderungan kebiasaan yang selalu aktif, sehingga mengikuti struktur pemikiran yang lebih ketat dengan cara linear.

SEMOGA ANDA MENIKMATI AQUARIUS NOTE INI. HAPPY READING!

4

note

AQUARIUS

Copyright © 2014 AQUARIUS RESOURCES powered by : BACAKILAT. • All Rights Reserved • www.aquariusnote.com

Bagi Yunani kuno, salah satu dari misteri inti kemanusiaan adalah kemunculan dari konflik terdalam. Saya ingin sukses tapi saya sering gagal. Saya ini mapan tapi hubungan saya selalu penuh masalah. Saya ingin disukai, tapi saya punya cara hidup saya sendiri. Pengalaman dua pikiran, atau satu pikiran tapi tidak diikuti, adalah jauh dari pengalaman modern atau dunia barat.

Referensi

Dokumen terkait

Ujian test tulis diberikan kepada mahasiswa dalam bentuk pilihan ganda sebanyak 100 soal yang terdiri dari 30 butir soal untuk menguji materi hafalan juz amma, 20 butir

PPKA Bodogol atau yang dikenal dengan Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol adalah sebuah lembaga konservasi alam di daerah Lido Sukabumi dan masih merupakan bagian dari

Tabel 3 menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik pada perubahan skor tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku ibu serta tingkat kecukupan energi,

Setelah ada pemberitahuan dokumen siap diambil dengan membawa persyaratan yang di upload.. Akta Nikah yang sudah dilegalisir KUA/Disdukcapil

Hal ini yang dapat meningkatkan nilai kekasaran permukaan yang disebabkan pengendapan zat rokok pada permukaan basis gigi tiruan dan terjadi degradasi yang menyebabkan

maksud untuk memahami makna yang terkandng dalam ajaran tersebut. b) Metode komparatif, yaitu ajaran ajaran islam itu dikomparasikan dengan fakta-fakta yang terjadi dan

perancangan rangkaian astable multivibrator , rangkaian counter , dan rangkaian audio amplifier , maka dapat direalisasikan rangkaian alat penala gitar

In Skopos theory, the translator is required to make the translation version (target text / TT) as communicative as the original version (source text / ST) for the target readers..