i
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI
DAN PENDIDIKAN BIOLOGI
Inovasi dalam Penelitian dan Pembelajaran Biologi
Salatiga, 26 Januari 2019
Penerbit:
FAKULTAS BIOLOGI
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
ii
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
EDITOR
Agna Sulis Krave, Ph.D Desy Fajar Priyayi, M.Pd Rully Adi Nugroho, Ph.D Dr.V. Irene Meitiniarti, M.PDr. Sri Kasmiyati., M.Si
Dr. Elizabeth Betty Elok Kristiani, M.Si Drs. Sucahyo., M.Sc
Risya Pramana Situmorang, M.Pd Slamet Basuki
Ruth Gabriella
ISBN: 978-602-61913-2-8
Penerbit:
Fakultas Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana
Redaksi:
Gedung C Jl. Diponegoro 52-60, Salatiga 50711 Indonesia Telp/ Fax: (0298) 321212 ext: 323; (0298) 321433
Website: http://biologi.uksw.edu
Cetakan pertama, Maret 2019
Hak cipta dilindungi Undang-undang
Dilarang memperbanyak buku ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa seijin tertulis dari penerbit
iii
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
KATA PENGANTAR
Salam damai sejahtera bagi kita semua.Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah melimpahkan berkat dan karuniaNya sehingga Prosiding Seminar Nasional Biologi Dan Pendidikan Biologi UKSW 2019 dapat terbit sesuai dengan tenggang waktu yang telah ditentukan oleh Panitia. Seluruh makalah yang terdapat di dalam prosiding ini merupakan kumpulan makalah yang telah lolos seleksi oleh tim reviewer dan telah dipresentasikan pada Seminar Nasional Biologi Dan Pendidikan Biologi 2019, yang diselenggarakan Fakultas Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana.
Kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh peserta seminar yang telah mempresentasikan hasil penelitian dan memberikan informasi tentang berbagai strategi inovatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengajaran dan pembelajaran biologi di lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia.
Seminar Nasional Biologi Dan Pendidikan Biologi 2019 ini mengangkat tema “Inovasi dalam Penelitian dan Pembelajaran Biologi”. Panitia menghadirkan Prof. I Gusti Putu Suryadarma, Bapak Kilala Tilaar, dan Dr. Budi Setiadi Daryono sebagai pemakalah utama yang akan menyampaikan materi tentang pembelajaran kreatif, inovasi dalam pemanfaatan sumberdaya hayati asli indonesia untuk pengembangan produk jamu, kosmetika dan nutraseutika, serta discovery dan inovasi dalam teknik rekayasa genetika pada melon. Peserta seminar nasional yang mempresentasikan hasil penelitiannya ini berasal dari Salatiga, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Bogor, Tasikmalaya, Surabaya, Lubuklinggau, dan Kupang. Selain itu, seminar ini juga diikuti oleh beberapa mahasiswa yang berasal dari universitas dan lembaga pendidikan di pulau Jawa.
Seminar nasional ini dapat terselenggara berkat kerjasama yang baik dari seluruh panitia seminar dan semua pihak yang mendukung terselenggaranya acara seminar nasional ini. Oleh karena itu, perkenankan kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat. Penghargaan setinggi-tingginya kami sampaikan kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras demi suksesnya kegiatan. Kami menyadari bahwa penyelenggaraan seminar ini mungkin masih ada kekurangan baik dalam penyajian acara, pelayanan administrasi dan keterbatasan fasilitas. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Akhir kata, sebagai bentuk akhir dari proses pertanggungjawaban seminar, maka prosiding ini diterbitkan. Semoga prosiding ini dapat ikut berperan dalam penyebaran hasil kajian dan penelitian di bidang biologi dan pendidikan biologi dan mendukung atmosfir penelitian yang baik dan budaya riset yang kuat, berkelanjutan dan berkualitas sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi biologi. Kami menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penyusunan prosiding ini sehingga masukan dan saran sangat kami harapkan. Terimakasih.
Salatiga, 20 April 2019 Ketua Panitia,
iv
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
SAMBUTAN DEKAN FAKULTAS BIOLOGI
Puji syukur kepada Tuhan bahwa seminar nasional Biologi dan Pendidikan Biologi, Fakultas Biologi yang ke dua tahun 2019 ini telah berlangsung dengan baik. Pada Seminar Nasional tahun 2019 ini bertema INOVASI DALAM PENELITIAN DAN PEMBELAJARAN
BIOLOGI. Tema ini dibuat dengan sengaja untuk memotivasi bagi pemerhati, pengamat dan
pemran dalam bidang Biologi serta Pendidikan Biologi untuk lebih berinovasi dan kreatif. Dalam menghadapi pasar bebas Asia Tenggara yang dikenal dengan sebutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), diperlukan perubahan yang mendasar dalam penelitian dan pembelajaran khususnya bidang Biologi. Persaingan yang ketat akan semakin tampak, oleh sebab itu dalam mempersiapkan peserta didik dibutuhkan kreatif dan inovatif.
Bagaimana dunia pendidikan dan pembelajaran kita beradaptasi dengan kondisi tersebut? Ajang forum ilmiah seminar nasional ini dibutuhkan sebagai ajang komunikasi bersama, dengan saling tukar ilmu dan pengalaman untuk mengembangkan bidang Biologi dan Pendidikan Biologi bersama-sama. Semoga hasil dari forum ilmiah/diskusi ini dapat memantik ide-ide baru dan mengembangkan daya cipta.
Semoga prosiding ini bermanfaat bagi kalangan akademis, pemerintah dan industri untuk melihat peluang-peluang kerjasama dengan berbagai pihak. Salam Inovasi.
Salatiga, 20 April 2019 Dekan Fakultas Biologi,
v
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
DAFTAR ISI
Halaman Cover ………. i
Editor ……….………...………. ii
Kata Pengantar………..……… iii
Sambutan Dekan Fakultas Biologi ………..………..………. iv
Daftar Isi ……….……….………. v
Materi Pembicara Utama 1 ……….………..………. 1
Materi Pembicara Utama 2 ………..………..……… 12
BIOLOGI ERA CAHAYA Oleh Anggara Mahardika, AB Susanto, Bibin Bintang Andriana, Hidetoshi Sato ……… 25
ANALISIS KUALITAS AIR SUMUR DI SEKITAR KAWASAN INDUSTRI TEKSTIL KOTA CIMAHI (STUDI KASUS AIR SUMUR WARGA DI KELURAHAN MELONG, KECAMATAN CIMAHI SELATAN, KOTA CIMAHI) Oleh Shinta Atilia Diatara, Chay Asdak, Edy Suryadi ……….………. 35
DEKOLORISASI PEWARNA TOSCA MENGGUNAKAN KOAGULAN FERRO SULFAT DAN LUMPUR AKTIF DARI PABRIK TEKSIL DI SALATIGA PADA KONDISI AEROB Oleh Agustien Sri Noerwahju, V. Irene Meitiniarti, Sri Kasmiyati ……….. 48
EFEKTIVITAS MEDIA CAMPURAN AMPAS TEBU DAN KARDUS TERHADAP PRODUKTIVITAS JAMUR MERANG (Volvariella volvaceae) Oleh Suparti dan Agustina Ratnaningrum ……….……… 59
KONSENTRASI KLOROFIL PADA BERBAGAI VARIASI SUHU PENGERINGAN DENGAN VACUUM DRYING PADA SUP KRIM DARI RUMPUT LAUT (Caulerpa sp.) Oleh Dhanang Puspita, Windu Merdekawati, Arisia Putri Sandy Mahendra………. 66
EFEKTIVITAS MEDIA CAMPURAN AMPAS TEBU DAN SABUT KELAPA TERHADAP PRODUKTIVITAS JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) Oleh Supartidan Utami Anggriyatno ……….……….. 72
PENGARUH GENOTIPE TERHADAP PEMBENTUKAN SPOROFIT DADI MASSA PROTALUS PAKIS EMAS (Cibotium barometz (L.) J. Sm.) SECARA IN VITRO Oleh Yupi Isnaini dan Titien Ngatinem Praptosuwiryo ……….……… 79
ISOLASI DAN KARAKTERISASI DUA ISOLAT BAKTERI PELARUT FOSFAT DARI TANAH PERTANIAN DI KABUPATEN SEMARANG, INDONESIA Oleh Chrisseptina Damayanti, V. Irene Meitiniarti, Rully Adi Nugroho ………. 86
ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI ENDOFIT YANG MEMPUNYAI AKTIVITAS AMILOLITIK PADA UMBI TALAS (Colocasia esculenta L.) Oleh Destik Wulandari, Desi Purwaningsih ……….………..……….. 93
ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI PENGHASIL SELULASE DAN XILANASE DARI TAMAN NASIONAL LORE LINDU Oleh Luciasih Agustini dan Lisna Efiyanti ……….……….. 97
BIODIVERSITAS MIKROORGANISME YANG DIISOLASI DARI PROSES PEMBUATAN MINUMAN BERALKOHOL ‘CIU’ DI JAWA TENGAH Oleh Luciasih Agustini ……….………. 109
INTROGRESI SEKUENS DNA PENYANDI CRISPR: Cas9:sgRNA KE DALAM GENOM PADI (Oryza sativa Linn.) DENGAN GEN TARGET OsSWEET11 Oleh Ivan Tjahja Pranata ……….……….………. 118
POTENSI PENGEMBANGAN KEANEKARAGAMAN ANGGREK SPESIES GUNUNG API PURBA NGLANGGERAN, YOGYAKARTA SERTA USAHA KONSERVASINYA Oleh Amru Rizal Basri, Alim El Hakim, Fauzana Putri, Nureni Dhuha Mustika, Endang Semiarti ………. 128
KINERJA RUMAH KACA KONTRUKSI BAMBU PADA PENGERINGAN TEMBAKAU MOLE SUMEDANG (Nicotiana tobaccum L.) Oleh Lala Romlah ……….……….………. 136
vi
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
KONSERVASI EX-SITU Artocarpus spp. DI KEBUN RAYA BOGOR SEBAGAI SARANA EDUKASI BUAH KHAS INDONESIA
Oleh Popi Aprilianti ……….……….………. 145
STRUKTUR KOMUNITAS MAKROFAUNA BENTIK DI PANTAI PRAPAT AGUNG, PANTAI KARANG SEWU GILIMANUK, DAN PANTAI CEKIK, BALI BARAT
Oleh Putri Afin Nurhayati, Jordan Oktavio Marcelino, Aulia Umi Rohmatika, Moch. Affandi ……….. 154 PEMODELAN MATEMATIKA PENGOLAHAN LEACHATE
Oleh William Wijaya, Dhira Satwika, Suhardi Djojoatmodjo ……… 162
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MELALUI LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) EDUECOTOURISM BERBASIS POTENSI LOKAL
Oleh Hafidhah Hasanah, I.G.P. Suryadarma ……… 170
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) BERBASIS KEARIFAN LOKAL DATARAN TINGGI DIENG DENGAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP
Oleh Laras Auliantika Hapsari, I.G.P. Suryadarma ……… 179
MEMPROMOSIKAN KONSERVASI MANGROVE MELALUI PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP TEMATIK, DI KABUPATEN INDRAMAYU
Oleh Hendra Gunawan, Sugiarti, Diah Zuhriana, Suherna ………. 187
25
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
BIOLOGI ERA CAHAYA
Anggara Mahardika1,3, AB Susanto2, Bibin Bintang Andriana3, Hidetoshi Sato3
1) Fakultas Biologi, UKSW
2) Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang 3) Faculty of Science and Technologi, Kwansei Gukuin University, Japan
Dikirim (submitted) ke Jurnal BIOTA, Fakultas Teknobiologi UAJY
ABSTRAK
Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini sangatlah cepat. Berbagai metode pendekatan untuk mengungkap kebenaran semakin canggih. Biologi merupakan ilmu yang mempelajari peristiwa yang terjadi pada sebuah kehidupan mulai dari tingkat molekul, sel, jaringan, organ sampai dengan sistem komplek makluk hidup. Metode ekstraksi, biopsi, pewarnaan, labeling seakan sudah menjadi metode yang ketinggalan jaman jika dibandingkan dengan metode yang memanfaatkan peran cahaya. Alat penganalisa berbasis cahaya selain Raman yang telah pula banyak digunakan yaitu Infra merah dekat (NIR), FTIR, UV Spektroskopi. Kandungan air yang umumnya terdapat pada sampel biologi menjadi masalah yang cukup serius bagi alat-alat tersebut. Raman spektroskopi, alat analisa berbasis cahaya laser dengan panjang gelombang cahaya tampak. Alat ini menggunakan cahaya mengamati fenomena perubahan kimia yang terjadi pada makhluk hidup secara langsung tanpa merusak dan mematikan makluk hidup itu sendiri. Keunggulan Raman spektroskopi dibandingkan dengan metode sebelumnya ialah kecepatan dan keakuratan pengukuran hingga 1 detik per titik sempel, tidak merusak atau membunuh sampel, tanpa labelisasi dan pewarnaan, tidak tergganggu dengan kandungan air pada sempel biologi. Hasil-hasil penelitian pada paparan ini menunjukkan bahwa Raman dapat menganalisa kandungan kimia dan perubahan kimia pada sampel biologi tanpa adanya perlakuan ekstrasi. Raman telah berhasil menganalisa dan membedakan jenis dan kandungan lemak pada sel hidup diatom Thalassiosira pseudonana. Raman yang di kombinasikan dengan chemometric juga telah berhasil membedakan kualitas rumput laut berdasarkan kandungan karaginanya dan dapat pula mengetahui jumlah kandungan karaginanya secara akurat. Pada bidang mikrobiologi, Raman juga sukses memonitoring aktivitas enzim amilase dengan menganalisa jenis gula sebagai hasil reaksi enzimatiknya. Secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa Raman spektroskopi merupakan alat penganalisa yang sangat efektif dan efisien untuk dunia biologi.
Kata kunci: biologi, raman, cahaya
PENDAHULUAN
Di era revolusi industri 4.0 semuanya dituntut untuk serba otomatis dan cepat di segala bidang dan tidak menutup kemungkinan untuk bidang penelitian biologi. Pada saat ini, teknologi penelitian semakin maju dan beberapa metode konvensional seperti ekstraksi, distruksi, labeling dan pewarnaan sudah mulai ditinggalkan. Penggunaan pelarut kimia pada proses ekatraksi yang berpotensi mencemari lingkungan pun mulai dapat ditekan dengan adanya kemajuan teknologi. Penggunaan alat berbasis cahaya yang dapat menganalisa sebuah sampel secara cepat dan akurat seakan menjadi kebutuhan dalam sebuah penelitian.
Cahaya dapat dikategorikan dalam berbagai jenis berdasarkan panjang gelombang elektromagnetiknya mulai dari ultraviolet, cahaya tampak, hingga infra merah (Polfer and Dugourd, 2013). Pemanfaatan cahaya pada alat penelitian yang paling umum ialah spektroskopi ultraviolet – visible (UV-Vis). Spektroskopi UV-Vis merupakan spektroskopi
26
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
berbasis serapan (absorpsi) cahaya pada sebuah sampel. Spektroskopi UV-Vis banyak digunakan pada berbagai penelitian seperti mikrobiologi, molekuler dan pigmen natural. Di sisi lain, sempel yang digunakan dalam pengukuran UV-Vis memerlukan perlakuan yang dapat merusak sempel seperti ektraksi baik secara fisik maupun kimiawi.
Near Infrared Spectroscopy (NIR) atau infra merah dekat juga merupakan alat penganalisa berbasis serapan yang sedikit atau bahkan tanpa memerlukan perlakuan pada sempel (Teixeira dos Santos et al., 2016). NIR menggunakan sumber cahaya pada panjang gelombang inframerah yang dapat digunakan untuk menanalisa sebuah sampel secara langsung tanpa proses ekstraksi. NIR banyak digunakan pada berbagai industri untuk menganalisa kualitas produk bedasarkan kandungan kimianya dalam waktu yang relatif singkat dan akurat. Akan tetapi, dalam penelitian biologi, NIR sedikit mengalami kendala yaitu adanya kandungan air yang umum terdapat pada sempel. Ikatan kimia air dapat memberikan serapan yang sangat kuat sehingga seluruh informasi pada spektra sampel akan tertutup oleh spektra air (Gierlinger dan Schwanninger, 2007). Pengeringan merupakan salah satu upaya yang sering digunakan guna menguragi efek tumpang tindih pada spektra air dan informasi kandungan kimia pada sempel. Di sisi lain, pengeringan pada sempel berakibat rusaknya sempel dan berubahnnya kandungan kimia pada sempel terutama sempel biologi. Sebagai solusi efek kandungan air pada spektra, alat penganalisa berbasis cahaya lainya yang dapat digunakan ialah Raman spektroskopi.
Raman spektroskopi merupakan alat penganalisa yang menggunakan sumber cahaya laser pada panjang gelobang cahaya tampak hingga infra merah dekat. Berbeda dengan UV-Vis dan NIR, Raman mengunakan prinsip sebaran cahaya (scatering light) atau dikenal dengan Raman scatering (Ferraro et al., 2003). Raman spektroskopi sangat cocok digunakan dalam penelitian biologi karena tidak memerlukan perlakuan apapun terhadap sempel, tidak merusak sempel, tanpa pewarnaan dan labelisasi dan tidak terpengaruh dengan kandungan air yang ada pada sempel biologi (Teixeira dos Santos et al. 2016). Paparan ini menunjukkan bahwa Raman dapat berkontribusi dalam penelitian biologi sebagai alat penganalisa yang sangat cepat dan akurat.
METODE PENELITIAN
Bahan penellitian meliputi kultur murni diatom Thallasiosira pseudonana, rumput laut kering asin Kappahycus alvarezii, enzim murni alfa dan beta amilase, refine karaginan, selulosa, berbagai jenis asam lemak murni yaitu palmitic acid (PA), palmitoleic acid (POA),
eicosapentaenoic acid (EPA), myristic acid (MA), air laut buatan, gula murni (glukosa dan
maltosa), dan tepung (starch), larutan penyangga fosfat pH 7.0. Alat yang digunakan meliputi Raman spectroskopi yang dikombinasikan dengan konfokal mikroskop, botol kultur, selang aerasi, pisau potong, cawan petri.
Analisa kandungan asam lemak pada diatom. Diatom ditumbuhkan pada gelas
kultur menggunakan air laut buatan dan diaerasi secara terus menerus dan diterangi menggunakan lampu neon. Diatom dipanen saat pertumbuhan pada fase log. Kandungan berbagai jenis asam lemaknya (lipid droplet), asam lemak murni pada diatom diukur menggunakan Raman yang telah dikombinasikan dengan konfokal mikoskop.
Analisa kandungan karaginan pada rumput laut. Rumput laut kering dicuci
menggunakan air bersih sebanyak tiga kali untuk membersikan sempel dari kotoran. Rumput laut kemudian direndam dengan larutan garebaam NaCl 3.5% selama 24 jam sampai kembali ke bentuk basahnya. Rumput laut selanjutnya dipotong melintang pada thalusnya dan di kelompokan menjadi 3 berdasarkan ukuran thalus. Kandungan karaginan,
27
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
berbagai konsentrasi campuran refine karaginan dan selulosa pada potongan melintang rumput laut diukur menggunakan Potongan melintang rumput laut kemudian di ukur menggunakan spektroskopi Raman dengan metode pengukuran 3 dimensi.
Monitoring reaksi enzim amilase: Enzim alfa dan beta amilase direaksikan dengan
subtrat tepung (Starch) 1% pada larutan penyangga fosfat pH 7.0. Sampel diambil tiap satuan waktu 1, 5, 10, 15, 30, 45, 60, 90, 120 menit. Sampel diambil sebanyak 5 microliter dan diteteskan pada cawan petri berbahan kuarsa untuk diukur menggunan Raman spektroskopi. Berbagai konsentrasi (0 – 10.000 mg/l) starch, glukosa dan maltosa murni dikukur dengan alat yang sama dan dibuat kurva standart untuk memonitoring aktifitas enzim alfa dan beta amilase.
Spektral prosesing. Semua spektra yang diperoleh dari hasil pengukuran
menggunakan Raman spektroskopi akan dilakukan prosesing seperti penghapusan
backgroud spektra yang menggangu seperti spektra air atau spektra yang tidak diperlukan.
Spektra kemudian akan disamakan jarak piksel wavenumber-nya dengan interpolasi. Efek kemiringan spektra yang disebabkan oleh flouresensi sempel akan di koreksi dengan menggunakan pengurangan polinomial keenam. Pada tahap akhir, spektra akan dinormalisasikana menggunakan band tertentu yang dimiliki oleh semua sempel dan tidak mengalami perubahan karena adanya perlakuan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sampel biologi yang pada umumnya mengandung air menjadi sebuah tantangan bagi dunia spektroskopi terutama spektroskopi yang berbasis serapan dengan sumber cahaya infra merah (Gierlinger and Schwanninger, 2007). Hal ini dikarenakan serapan energi pada molekul air yang terlalu kuat yang menyebabkan getaran (vibrational) pada ikatan kimia hidrogen dan oksigen. Pada penelitian ini, digunakan Raman spektroskopi pada sempel yang mengandung air seperti sempel biologi. Raman spektroskopi dapat digunakan untuk melihat struktur dan kandungan kimia pada sebuah sempel sehingga dapat mengetahui karakteristik sempel tersebut seperti sidik jari (Gierlinger and Schwanninger, 2007). Di sisi lain, Raman juga memiliki kelemahan yaitu dengan efek fluoresensi dari sempel yang mengandung pigmen seperti sempel tanaman yang mengandung pigmen klorofil (Kish et al., 2016). Pada sempel berpigmen, elektron akan tereksitasi sampai dengan batas level elektronik (electronic stage) yang menyebabkan efek tumpang tindih spekta dan menutupi band-band kandungan kimia pada sempel. Banyak metode untuk mengatasi efek fluoresensi pada raman spektroskopi antara lain menggunakan laser dengan panjang gelombang yang lebih tinggi dan mendekati infra merah (1064 nm), menyinari sempel dengan laser selama beberapa detik sebelum pengukuran guna mengilangkan pigmen pada titik pengukuran (auto bleaching), mempersempit lubang masuknya cahaya yang menuju ke detektor dan menghilangkan pigmen pada sempel.
Raman yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan laser dengan panjang gelombang 785 nm. Pemilihan panjang gelombang memiliki keuntungan dan kerugian. Pada panjang gelombang cahaya tampak atau panjang gelombang pendek seperti 532 nm memiliki energi yang lebih besar sehingga spektra yang dihasilkan memiliki informasi yang lebih jelas tentang kandungan kimia sempel. Besarnya energi pada laser 532 nm akan mempercepat eksitasi pigmen pada sampel dan terjadi tumpang tindih spektra fluorenensi sehingga menutupi informasi pada sempel. Sedangkan penggunaan laser dengan panjang gelobang mendekati infra merah akan lebih sedikit efek pada fluoresensi namun energi yang
28
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
dihasilkan sangat rendah sehingga informasi kandungan kimia pada sempel menjadi tidak jelas (Hirschfeld dan Chase, 1986; Schrader et al., 1991; Sato et al., 1995a; 1995b).
Diatom merupakan makluk hidup sel tunggal yang memiliki pigmen untuk berfotosintesis. Diatom merupakan produsen primer pada rantai makan di laut sehingga sangat penting untuk dikaji dan diteliti (Falkowski et al. 1998; Smetacek, 1999). Sebagai sumber makan utama di laut, diatom memiliki kandungan beberapa nutrien yang salah satunya adalah asam lemak (Yu et al. 2009) Penelitian asam lemak pada diatom ini dilakukan oleh Kin et al. (2015). T. pseudonana ditumbuhkan pada kondisi nutrisi yang rendah sehingga memacu pembentukan asam lemak. Sel tunggal diatom dalam keadaan hidup kemudian diukur menggunakan Raman dengan laser pada panjang gelombang 785 nm. Strategi untuk mengetahui jenis asam lemak pada diatom adalah dengan cara mengukur spektra dari berbagai jenis asam lemak murni. Gambar 1 menunjukan spektra berbagai asam lemak dan asam lemak total pada diatom. Raman spektra asam lemak total pada diatom memiliki 4 band kuat pada 1265, 1304, 1440, 1660 cm-1 dan 1 band sedang pada
1080 cm-1. Band 1265 cm-1 merupakan penciri dari asam lemak EPA dan POA, sedangkan
1304 dan 1440 cm-1 adalah penciri dari asam lemak POA, PA, MA. Selanjutnya, band 1660
cm-1 merupakan band penciri asam lemak EPA dan POA. Band berukuran sedang 1080 cm-1
terdapat hampir pada semua asam lemak kecuali EPA. Hasil analisis menunjukkan bahwa raman telah berhasil mengidentifikasi kandungan asam lemak pada diatom T. pseudonana.
Gambar 1. Raman spektra dari EPA (a), POA (b), PA (c), MA (c), dan total asam lemak pada diatom T.pseudonana (e).
Hasil penelitian berikutnya adalah penentuan kualitas rumput laut K. alvarezii berdasarkan kandungan karaginannya. K. alvarezii adalah rumput laut yang banyak ditemukan pada perairan tropis seperti di Indonesia. Menurut Ask et al. (2001), K. alvarezii merupakan komoditas penting bagi hasil produksi kelautan Indonesia. Dalam jurnal tahunan Food and Agriculture Oragnization 2016, Indonesia tercatat sebagai lima besar penghasil rumput laut dunia dengan kapasitas produksi mencapai 10 juta ton per tahun. Rumput laut
K. alvarezii merupakan penghasil karaginan berjenis kappa. Karaginan memiliki banyak
kegunaan dan sangat dibutuhkan di berbagai industri seperti makanan, kosmetik, kesehatan, dan obat. Tingginya kebutuhan di berbagai industri terhadap karaginan
29
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
dikarenakan karakteristik karaginan yang dapat berfungsi sebagai pengental, penstabil, dan agen pembentuk gel (Distantina et al., 2011; Pereira et al., 2013; Necas dan Bartosikova, 2013; Azevedo et al., 2013). Pada indutri pengolahan karaginan, kualitas rumput laut menjadi penting untuk dapat menghasilakan karaginan dalam jumlah besar dan mutu yang baik. Potongan melintang K. alvarezii diukur menggunakan Raman spektroskopi pada mode 3 dimensi untuk membedakan rumput laut berdasarkan kandungan karaginannya. Tiga bagian thallus berbeda ukuran digunakan untuk menganalisa sebaran karaginan pada thallus (gambar 2). Spektra dari karaginan murni, selulosa, bagian luar dan dalam rumput laut digunakan untuk menganalisa kandungan dan sebaran karaginan dalam K. alvarezii (gambar 3).
Pada gambar 3 dapat diketahui bahwa karaginan memiliki karakter yang khas yaitu adanya band yang kuat pada 850 cm-1 yang merupakan band galaktosa 4- sulfat. Band ini terdapat pada semua bagian rumput laut baik medulari maupun korteks. Di sisi lain, selulosa memiliki band penciri pada 1122 cm-1 berdasarkan hasil pada gambar 3, selulosa terdapat
pada bagian korteks pada rumput laut. Gambar 4 menunjukan hasil pengukuran rumput laut secara 3 dimensi menggunakan Raman spektroskopi. Gambar 4a menunjukan kandungan karaginan yang melimpah pada thallus rumput laut
Gambar 2. Pembagian thallus berdasarkan ukurannya: batang utama (a), batang sekunder (b) dan pucuk (c).
sedangkan gambar 4b menunjukan karaginan yang sangat sedikit. Dari gambar 4 ini dapat diketahui bahwa sebaran karaginan melimpah pada batang berukuran paling besar atau batang utamanya. Hal ini dipengaruhi oleh pertumbuhan dan metabolisme rumput laut itu sendiri. Di sisi lain, gambar 4 juga memberikan informasi bahwa karaginan tersimpan didalam sel di bagian medulari. Penelitian ini membuktikan bahwa raman spektroskopi dapat digunakan untuk mengetahui sebaran dan konsentrasi karaginan pada rumput laut K.
alvarezii tampa melalui proses ekstraksi maupun pewarnaan. Penelitian ini telah
30
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
Gambar 3. Raman spektra dari K. alvarezii di bagian medulari (a) dan cortex (b), selulosa murni (c), dan refine kappa karaginan (d).
Gambar 4. Raman 3D sebaran dan konsentrasi karaginan pada rumput laut yang mengandung banyak karaginan (A) dan sedikit karaginan (B).
Penelitian menunjukkan Raman dapat digunakan untuk memonitoring aktifitas enzim dan dapat mengukur semua komponen yang ada dalam reaksi enzim tersebut. Enzim bekerja secara spesisfik seperti teori kunci dan gembok, sehingga dapat diketahui jenis subtrat dan produknya. Metode yang sering digunakan untuk mengukur aktifitas enzim adalah dengan pewarnaan (kalorimetri) yang kemudian diukur menggunakan spektrometer UV. Pada enzim amilase yang mengkonfersi rantai panjang glukosa menjadi gula sederhana, pengukuran glukosa dan maltosa biasanya menggunakan reagen dinitrosalisilic acid (DNSA) (Miler, 1959). Metode konvensional seperti reagen DNSA digunakan untuk mengukur total gula pereduksi sehingga tidak dapat membedakan produk enzumatik sampai ke jenis gulanya (Tihomirova et al. 2016). Strategi yang sama pada dua penelitian sebelumnya, monitoring aktifitas enzim menggunakan raman spektroskopi. Pertama – tama Raman
31
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
spektra setiap komponen reaksi enzimatik yaitu tepung (starch), glukosa murni, dan maltosa murni diambil menggunakan Raman spektroskopi mengguanakan laser pada panjang gelombang 785 nm. Penentuan konsentrasi setiap komponen pada enzimatik tersebut, dibuat kurva standar dari berbagai konsentrasi setiap komponen enzimatik menggunakan Raman spektroskopi. Sebagai perbandingan, enzimatik juga diukur menggunakan metode konvensional yaitu DNSA reagen.
Gambar 5 menampilkan raman spektra dari setiap komponen yang terlibat dalam reaksi enzim alfa dan beta amilase. Pada gambar ke 5 ini, dilakukan penentuaan area yang digunakan untuk menganalisa konsentrasi setiap komponen enzimatik, yaitu pada jangkauan 450-600 cm-1. Söderholm et al. (1999) melaporkan bahwa area di bawah 600 cm-1
dapat digunakan untuk membedakan jenis – jenis gula.
Gambar 5. Raman spektra dari larutan penyangga fosfat (a), tepung (b), glukosa (c) dan maltosa (d).
Dalam area terpilih, band 479 cm-1 merupakan penciri dari tepung, band 520 dan 541
cm-1 adalah penciri glukosa dan band 518 dan 546 cm-1 adalah penciri dari maltosa. Gambar
6 merupakan hasil estimasi konsentrasi komponen reaksi enzim alfa amilase diukur menggunakan raman (a) dan reagen DNSA(b). Enzim alfa amilase akan memotong rantai panjang glukosa pada tepung menjadi gula sederhana maltosa dan glukosa. Pada gambar 6a dan tabel 1, jumlah velositas maksimum (Vmak) glukosa dan maltosa yang diukur menggunakan Raman spektroskopi sama dengan velositas maksimum pada total gula pereduksi yang diukur menggunakan metode Miller (reagen DNSA). Hal ini berkesuaian dengan teori Miller dimana reagen DNSA mengukur semua gula pereduksi dan tidak dapat memisahkan jenis gula seperti pada Raman spektroskopi.
32
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
Gambar 6. Estimasi konsentrasi komponen enzim alfa amilase yang diukur menggunakan Raman (a) dan reagen DNSA (b).
Tabel 1. Parameter Enzim Alfa Amilase
starch maltose glucose Total Sugar by DNSA Vmak 5630.1 1901.49 1286.08 3241.31
Selain alfa amilase, Raman spektroskopi juga digunakan untuk memonitoring reaksi beta amilase pada penelitian ini. Berbeda dengan alfa amilase yang tergolong endoamilase, beta amilase tergolong dalam exoamilase (Van der Maarel et al. 2002; Wirnt and Stegbauer, 1974). Beta amilase memotong ratai panjang karbohidrat dan menghasikan maltosa dalam jumlah besar dan glukosa dalam jumlah kecil atau bahkan tidak sama sekali. Gambar gambar 7a dan tabel 2 menunjukan bahwa Vmak konsentrasi maltose yang dihasilkan dari reaksi beta amilase sebesar 4386.47 mg/l yang dua kali lebih tinggi dari pada afla amilase yang hanya 1901.49 mg/l.
Gambar 7. Estimasi konsentrasi komponen enzim beta amilase yang diukur menggunakan Raman (a) dan reagen DNSA (b).
33
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
Tabel 2. Parameter Enzim Beta Amilase
Starch Maltosa Glucosa Gula total (metode DNSA)
Vmak 6179.45 4386.47 854.17 4621.29
Di sisi lain, estimasi konsentrasi total gula pereduksi pada reagen DNSA (Gambar 7b) tidak sesuai dengan jumlah Vmak maltose dan glukose pada Raman. Hal ini dikarenakan estimasi berlebih pada glukosa yang diukur mengguanakan Raman. Ketidakakuratan ini terjadi karena kurangnya jumlah sempel yang digunakan pada kurva standart. Pada penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa raman dapat digunakan untuk memonitoring reaksi enzimatik bahkan sampai dengan mengetahui perubahan konsentrasi kimia pada kompone reaski sperti substrat dan produknya yaitu glukosa dan maltosa (Mahardika et al., (2018).
KESIMPULAN
Raman memiliki kemampuan untuk menganalisa berbagai sempel biologi. Kecepatan dan keakuratan Raman dalam mengukur dan menganalisa sempel sampai pada level karakteristik ikan dan kandungan kimia menjawab kebutuhan penelitian masa kini di era revolusi industri 4.0. Kemudahan Raman dalam mengukur sempel dengan tanpa proses ekstraksi, biopsi, pewarnaan dan perlakuan yang merusak sempel berpotensi untuk menkan biaya penelitian, menghemat waktu dan ramah lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Ask E.I., Batibasaga A., Zertuche-González J.A., San M. de. (2003). Three decades of
Kappaphycus alvarezii (Rhodophyta) introduction to non-endemic locations. Proceedings of the 17th International Seaweed Symposium, South Africa, pp 49-57.
Azevedo G., Hilliou L., Bernardo G., Pinto I.S., Adams R.W., Nilsson M., Villanueva R.D. (2013). Tailoring kappa/iota-hybrid carrageenan from Mastocarpus stellatus with desired gel quality through pre-extraction alkali treatment. Journal of Food Hydrocoloid, 31, 94–102.
Distantina P., Wiratni, Fahrurrozi M., Rochmadi, 2011, Carrageenan Properties Extracted from Eucheuma cottonii, Indonesia. International Journal Chemical Molecular
Engineering, 5, 6.
Yu E.T., Zendejas F.J., Lane P.D., Gaucher S., Simmons B.A., Lane T.W. (2009). Triacylglycerol Accumulation and Profiling in the Model Diatoms Thalassiosira pseudonana and
Phaeodactylum tricornutum (Baccilariophyceae) During Starvation. Journal of Applied Phycology, 21(6), 669-681.
Falkowski P.G., Barber R.T., Smetacek V. (1998). Biogeochemical controls and feedbacks on ocean primary production. Science, 281, 200–206.
Ferraro J.R., Nakamoto K., Brown C.W. (2003). Introduction Raman Spectroscopy. Academic Press, New York.
Gierlinger N., Schwanninger M. (2007). The potential of Raman microscopy and Raman imaging in plant research. Spectroscopy, 21, 69–89.
Hirschfeld T., Chase B. (1986). FT-Raman spectroscopy: development and justification. Applied Spectroscopy, 40(2), 133 – 137.
Kish E., Wang K., Llansola-Portoles M.J., Ilioaia C., Pascal A.A., Robert B., Yang C. (2016). Probing the pigment binding sites in LHCII with resonance Raman spectroscopy: The effect of mutations at S123. Biochimica et Biophysica Acta, 1875, 1490–1496.
34
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
Mahardika A., Andriana B.B., Susanto A.B., Matsuyoshi H., Sato H. (2018). Development of Quantitative Analysis Techniques for Saccharification Reactions Using Raman Spectroscopy. Applied Spectroscopy, 72 (11), 1606-1612.
Mahardika A., Susanto A.B., Pramesti R., Matsuyosh H., Andriana B.B., Matsuda Y., Sato H. (2018). Application of imaging Raman spectroscopy to study the distribution of Kappa carrageenan in the seaweed Kappaphycus alvarezii. Journal of Applied
Phycology (in press).
Meksiarun P., Spegazzini N., Matsui H., Nakajima K., Matsuda Y., Sato H. (2015). In vivo study of lipid accumulation in the microalgae marine diatom Thalassiosira pseudonana using Raman spectroscopy. Applied Spectroscopy, 69, 45-51.
Miller G.L. (1959). Use of dinitrosalicylic acid reagent for determination of reducing sugar.
Analytical Chemistry, 31(3), 426–428.
Necas J., Bartosikova L. (2013). Carrageenan: A review. Vet Med, 58(4), 187–205.
Pereira L., Gheda S.F., Ribeiro-Claro P.J.A. (2013). Analysis by vibrational spectroscopy of seaweed polysaccharides with potential use in food, pharmaceutical, and cosmetic industries. International Journal Carbohydrate Chemistry, 7p.
Polfer N. C. and Dugourd P. (2013). Laser Photodissociation and Spectroscopy of Mass-separated Biomolecular Ions, Lecture Notes in Chemistry 83, University of Florida, USA
Sato H., Okada K., Ueharaan K., Ozaki Y. (1995a). Near-Infrared Fourier-Transform Raman study of chlorophyll a in solutions. Photochemical Photobiology, 61(2), 175-182. Sato H., Uehara K., Ishii T., Ozaki Y. (1995b). FT-IR and Near-Infrared FT-Raman study of
aggregation of bacteriochlorophyll c in solutions: evidence for involvement of the ester group in the aggregation. Biochemistry, 34, 7854-7860.
Schrader B., Hoffmann A., Simon A., Sawatzki J. (1991) Can a Raman renaissance be expected via the near-Infrared Fourier-Transform technique. Vibrational
Spectroscopy, 1(3), 239–250.
Smetacek V. (1999). Diatoms and the ocean carbon cycle. Protista, 150, 25–32.
Teixeira dos Santos C.A., Páscoa R.N.M.J., Lopes J.A. (2016). A review on the application of vibrational spectroscopy in the wine industry: from soil to bottle. Trend of Analytical
Chemistry, 88, 100-118.
Tihomirova K., Dalecka B., Mezule L. (2016). Application of conventional HPLC RI technique for sugar analysis in hydrolyzed hay. Agronomy Research, 14(5), 1713–1719.
Van der Maarel M.J.E.C., Van der Veen B., Uitdehaag J.C.M., Leemhuis H., Dijkhuizen L., (2002) Properties and applications of starch-converting enzymes of the α-amylase family. Journal Biotechnology, 94(2), 137-155.
Wirnt R., Stegbauer P. (1974). α- Amylase measurement of reducing sugar in Bergmeyer HU (Ed) method of enzymatic analysis. Academic Press Inc, New York and London. 2: 885-890.
203
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
LAMPIRAN NOTULENSI
A. SIDANG UTAMA Narasumber: Kilala Tilaar
1. Staff Ilmu Kelautan UNDIP Pertanyaan
- Jarang bahan alam yang digunakan dari laut, produk Martha Tilaar yang menggunakan sumber daya laut yang digunakan apa?
- Apa ada potensi dari mikroba laut untuk produk kosmetik? Jawaban
- Laut itu kaya, baru pakai ganggang merah dan ganggang coklat, baru mulai bekerjasama dengan Menteri Susi untuk menggunakan sea cucumber untuk sabun dan sumber collagen. Martha Tilaar di NTB ada pembudidayaan ganggang coklat dan sea cucumber untuk penggunaan bahan dari laut
- Kemungkinan bisa untuk packaging, untuk penggunaan mikroba masih memikirkan bagaimana penggunaannya untuk ke kulit, distribusinya ke konsumen dan ijin dari BPOM
2. Isnaeni (Pusat Penelitian dan Konservasi Tumbuhan) Pertanyaan
- Mohon deskripsikan pemanfaatan dari tanaman anggrek, bagian apa dan untuk apa kegunaannya?
- No animal tested, lalu bagaimana testnya supaya tahu itu aman? Jawaban
- Masih menunggu hasil penelitian tentang pemanfaatan tanaman anggrek, tetapi jika dilihat hasil-hasil penelitian dari luar negeri menunjukan bagian yang dapat digunakan untuk bahan kosmetik yaitu dari akarnya, pemanfaatan bisa dilihat dari kandungan bioaktifnya dari akar, bunga, batang. Belum ada produknya dari Martha Tilaar
- Menggunakan relawan , apakah ada reaksi alergi, menggunakan telur umur 9 hari, menggunakan telur khusus, apakah ada pendarahan di telur atau tidak, artificial kulit manusia dengan uji sel kanker.
3. Anwar (Biologi UNDIP) Pertanyaan
- Side effect dari bahan yang digunakan? Jawaban
- Ada uji toxic, uji logam berat, menggunakan artificial kulit manusia apakah ada reaksi dengan sel-sel kanker atau tidak
4. Dr. Budi Setiadi (UGM) Pertanyaan
- Saran untuk mahasiswa meskipun banyak hasil riset supaya tidak useless? Jawaban
- Mencari celah di market, dosen bisa bantu untuk mencari celah market dan penggunaannya, bias ditanamkan ke mahasiswa, supaya karya bias digunakan ke masyarakat, mencari solusi dari permasalahan disekitar
204
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
Narasumber: Prof. I Gusti Putu Suryadarma
1. Andreas (UKSW) Pertanyaan
- Bagaimana cara yang tepat supaya masyarakat paham dengan biodiversity dan supaya tahu manfaatnya?
Jawaban
- Biodiversitas disesuaikan dengan jaman sekarang, contohnya dengan metode pendekatan terbalik, pikirkan hilirnya dulu seperti manfaat dan fungsinya, baru ke hulunya. Pemahaman akan lebih mudah dengan adanya “kasus” dan kombinasi dengan semua objek biologi serta penerapan dengan teknologi. Guru hanya mengarahkan bukan lagi mengajarkan informasi dan murid yang akan membuka “web” dan menyelesaikan sendiri. Produk disesuaikan dengan objek biologi, objek psikologi dan objek spiritual. Edukasi bisa dilakukan dengan media seperti sosial media dan ecowisata
Narasumber: Dr. Budi Setiadi
1. Peserta dari FMIPA UNNES Pertanyaan
- Apakah diawali dengan menyediakan bibit unggul dulu, dipilih dulu, pemilihan secara fenotif untuk mengawinkan sampai berapa generasi? Sampai dapat melon dengan ukuran kecil?
Jawaban
- Punya koleksi, mengumpulkannya dengan jalan-jalan atau bekerjasama dengan kolega
- Seleksi, tergantung dengan keinginan diri sendiri, dan peluangnya “high risk, high cost, high profit”
- Menggunakan tenaga molekuler
- Skill, tahu arahnya kemana, belajar, mau menunggu dan tidak instan - Branding, berani untuk ekspos, publikasi, original
B. SIDANG PARALEL
Nama Pemakalah: Anggara Mahardika
1. Dhira Satwika (UKDW, Yogyakarta) Pertanyaan
- Apa realisasi dan penggunaan pada masa mendatang dari Raman Spektroskopi? Apakah dapat digunakan pada bidang lain seperti di lingkungan?
Jawaban
- Bisa, seperti yang sudah dilakukan oleh rekan saya
2. Emma Sharon A.K (UKSW, Salatiga) Pertanyaan
- Mengapa Diatom dapat memproduksi asam lemak saat ada cekaman lingkungan, dan bukan kekurangan asam lemak?
Jawaban
- Diatom dapat menyimpan cadangan makanan sebagai bentuk usaha mempertahankan diri saat ada cekaman lingkungan
205
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
Nama Pemakalah: Shinta Atilia Diatara, Chay Asdak, Edy Suryadi
1. Anggara Mahardika (Kwansei Gakuin University) Pertanyaan
- Standar kualitas air yang baik dan buruk yang dimaksud untuk apa?
- Apakah dilakukan penelitian mengenai dampak kesehatan yang ditimbulkan dari pengaruh air sumur dan air sungai di kawasan industri tekstil tersebut?
Jawaban
- Standar untuk air minum
- Belum ada, penelitian yang dilakukan hanya mengenai kualitas air sumur dan air sungai di kawasan tersebut
2. Peni (IAIN, Salatiga) Pertanyaan
- Mengapa melakukan penelitian ini di kawasan industri tekstil yang jelas tercemar?
Jawaban
- Penelitian dilakukan di kawasan tersebut karena pada daerah tersebut terdapat instalasi pengolahan air limbah, tetapi data terkesan ditutup-tutupi oleh pabrik atau industri tekstil disana
3. Dhira Satwika (UKDW, Yogyakarta) Pertanyaan
- Jarak antar lokasi sumur tidak terlalu jauh tetapi hasil nilai krom total antara sungai dan sumur hasilnya sama
- Metode apa yang dilakukan dalam pengukuran krom total? Jawaban
- Pada awalnya sampel direncanakan diambil pada saat kemarau tetapi pada saat penelitian ini berlangsung sudah musim penghujan sehingga dugaan awal berbeda dengan hasil yang didapatkan karena air hujan membuat kualitas air menjadi lebih baik karena terjadi pengenceran
- Dengan metode kimiawi Saran
- Untuk penelitian seperti ini metodologi lebih diperhatikan untuk memperhitungkan adanya faktor-faktor lain
Nama Pemakalah : William Wijaya, Dhira Satwika, Suhardi Djojoatmojo
1. Abigayle Jenne (UKSW, Salatiga) Pertanyaan
- Perbedaan permodelan penelitian ini dengan permodelan matematika biasa? Jawaban
- Tidak ada perbedaan, ini hanya pengolahan biasa hanya dengan pengukuran permodelan matematika, dari hasil yang mengikuti pola tertentu, permodelan ini untuk membangun peramalan hasilnya sehingga mungkin dapat lebih baik
2. Anggara Mahardika (Kwansei Gakuin Univesity) Pertanyaan
- Jika di lapangan, misalnya pada fosfat. Apa yang menyebabkan terjadinya fluktuasi?
206
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
- Perbedaan valensi fosfat yang menyebabkan perbedaan kelarutannya dalam air. Oksidasi dan reduksi jufa mempengaruhi.
3. Rully Adi Nugroho (UKSW, Salatiga) Pertanyaan
- Penjelasan grafik BOD pada powerpoint dan model penyajiannya, lalu apa saja faktor yang diperhatikan dari pengukuran air lindi?
Jawaban
- Aktifitas lain yang belum teramati misalnya laju fotosintesis, pada penelitian ini hanya melakukan pengamatan pada pertumbuhan kana (Canna Sp.) selain itu agen biologi lain juga belum diperhatikan.
-
Nama Pemakalah : Suparti dan Agustina Padmaningrum
1. Yupi (LIPI Kebun Raya Bogor). Pertanyaan
- Apakah media yang digunakan ini mudah dicari sehingga diteliti? - Berapa efektifkah kita menggunakan media alternatif ini?
Jawaban
- Lahan pertanian sedikit dan merang juga jarang dijumpai, saya mencoba meneliti karna kardus merupakan salah satu limbah dan digunakan juga ampas tebu karena ampas tebu ini hanya dibuang begitu saja dan kedua media ini menjadi ramah lingkungan jika dimanfaatkan.
- Belum ada pengaruh yang signifikan karena belum saya teliti, untuk lebih baik nanti saya akan teliti lebih lanjut.
2. Kas (UKSW) Pertanyaan
- Kontrol atau media pada merang ada atau tidak?
- Kardus yang mana yang harus digunakan untuk membuatnya dan treatment apa yang dilakukan?
Jawaban: - Tidak ada.
- Kardus box yang besar yang tulisannya harus dihilangkan terlebih dahulu dengan cara merendam dan dikelupasi.
Nama Pemakalah: Dhanang P, Windu Merdeka Wati, Arisia Putri S.M
1. Intan Pertanyaan
- Cara untuk mengkonsumsinya kan dengan diseduh dengan air panas, apakah nantinya klorofil yang ada akan berkurang dengan ditambahnya air panas dan proses pengeringan?
Jawaban
- Tidak, mungkin akan berangsur-angsur hilang tapi dalam kurun waktu yang lama karena dari bahan sintetis.
- Untuk tahan lamanya sendiri belum diteliti , karna saya meneliti hanya sampai tahap akhir saja.
2. Dewi (Mahasiswa UKSW) Pertanyaan
207
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
- Berapa nilai absorbansinya ? Jawaban:
- Perbandingannya dengan 2 sendok teh dan untuk perbandingan airnya sendiri belum di uji.
- Semakin tinggi suhu nilai absorbansinya menurun sehingga paling tepat pada suhu 600C.
3. Kas (UKSW) Pertanyaan
- Pada proses pengeringannya itu sebelum dicampur atau sesudah dicampur? Jawaban
- Karena rumput laut ini memiliki potensi, dan dimasukan kedalam vakum sehingga didapatkan bubuk.
Nama Pemakalah: Suparti dan Utami Anggriyatno
1. Yupi(LIPI kebun Raya Bogor). Pertanyaan
- Kira-kira jamur yang dihasilkan ini memiliki perbandingan tidak atau dari segi positifnya dengan hasil dari petani yang lain?
Jawaban:
- Hal positifnya ada dengan menggunakan plastik 1 kg sedangkan para petani menggunakan plastik yang agak besar, dan lebih cepat miseliumnya tumbuh memenuhi baclog. Untuk diameter jamurnya sendiri dibandingkan dengan petani jamur badan buahnya lebih lebar tetapi sedikit jumlah jamurnya dibandingkan dengan petani jamur lainnya.=
Nama Pemakalah : Yupi Isnaini(LIPI Kebun Raya Bogor)
1. Agustina(UNS) Pertanyaan:
- Mengapa dengan kondisi yang sedikit sporofitnya malah banyak? Jawaban:
- Awalnya dilihat dari kondisi nutrisi yang dihutan, saat mengkulturkan banyak studi literatur dan mencari tau media apa yang dipakai dan yang bagus adalah ¼ MS dari ½, ¼. Setelah itu dicari kelebihan dan kekurangan dariunsur haranya. 2. Intan
Pertanyaan:
- Waktu panen yang dihasilkan sampai tumbuh bulu-bulu pada tubuhan paku itu berapa lama?
- Tekstur tanahnya seperti apa? Jawaban:
- Belum tahu, karena belum mencoba menanam di hutan dan yang jelas ini tahunan.
- Untuk tanahnya sendiri agak basah dan ternaungi tidak terlalu pasir tetapi tanah. 3. Kas (UKSW)
Pertanyaan:
- Sejauh mana yang sudah dieksplor ke LIPI? Jawaban:
208
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2019
- Mencoba penyebaran sporofit secara alami tetapi memang lebih enak dikontrol di lab.
Nama Pemakalah: Hafidhah Hasanah, I.G.P. Suryadarma
1. Agus (UKSW) Pertanyaan
- masalah apa yang dihadapi selama penelitian? Jawaban
- Menuju lokasi belum ada akses jalan, belum mendapat perhatian dari pemerintah untuk mengelolah sekolah.
2. Ita (UKSW) Pertanyaan
- LKPD itu kegiaatannya seperti apa? Berapa lama pengembangannya? - Materi apa yang dikembangkan?
Jawaban
- LKPD berisi kegiatan aktivitas di luar ruangan dengan memanfaatkan obyek wisata Batu Ondo. Pengembangan 1 tahun. Penerapan 1-4 kali dalam satu kelas. - Materi Ekosistem biotik abiotic.
3. Desy (UKSW) Pertanyaan
- Bagaimana cara mengukur berpikir kritis?
- Potensi lokal apa saja yag termuat di obyek wisata? Jawaban
- Pretest, posttest, jenis soal pilihan gandaa 10 soal beralasan
- Indikator dari mengobservasi jenis-jenis biota dana biota yang ada disana.
Nama Pemakalah: Laras Auliantika Hapsari, I.G.P. Suryadarma
1. Desy (UKSW) Pertanyaan:
- Apa batasan dari kearifan lokal?Apa saja kearifan lokal yang ada di Dieng? Jawaban:
- Pola perilaku yang ada di lingkungan. Dieng merupakan dataran tinggi yang kebanyakan bertani. Teknik bertani agroforestry, tanaman yang dibudidayakan kentang dan karika. Petani memanfaatkan kotoran ternak yang dijadikan pupuk dan sisa sisa dari tumbuhan yang digunakan bahan pakan ternak.