DAMPAK PENYALURAN DANA BERGULIR USAHA MIKRO
TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN
PENGUSAHA MIKRO
(Studi Kasus Industri Mikro di Kota Payakumbuh)
TESIS
SRI ESSA RAMADHANI 0906586820
FAKULTASEKONOMI
PROGRAM MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK JAKARTA
DAMPAK PENYALURAN DANA BERGULIR USAHA MIKRO
TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN
PENGUSAHA MIKRO
(Studi Kasus Industri Mikro di Kota Payakumbub)
TESIS
SRI ESSA RAMADHANI 0906586820
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Ekonomi
FAKULTASEKONOMI
PROGRAM MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK KEKHUSUSAN EKONOMI PERENCANAAN KOTA DAN DAERAH
JAKARTA DESEMBER 2010
Saya yang bertanda tangan dibawah ini dengan sebenamya menyatakan bahwa tesis ini saya susun tanpa tindakan plagiarisme sesuai dengan peraturan yang berlaku di Universitas Indonesia.
Jika di kemudian hari temyata saya melakukan tindakan plagiarisme, saya akan bertanggungjawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh Universitas Indonesia kepada saya.
Jakarta, 8 Desember 2010
~~
(SRI ESSA RAMADHANI)Tesis ini adalah basil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.
Nama
: SRI ESSA RAMADHANINPM : 0906586820
Tanda Tangan
~
Tesis ini diajukan oleh Nama
NPM
Program Studi Judul Tesis
: SRI ESSA RAMADHANI : 0906586820
: Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik
: Dampak Penyaluran Dana Bergulir Mikro Terhadap Peningkatan Pendapatan Pengusaha Milcro
(studi kasus Industri mikro di Kota Payakumbuh)
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi pada Program Studi Magister Perencanaan Dan Kebijakan Publik Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.
DEWAN PENGUJI
Pembimbing : Muliadi Widjaja, Ph.D ( )
Penguji :Dr. Widyono Soetjipto rvvr)
Penguji : Darlis Rabai, SE.,MA
Ditetapkan di :Jakarta Tanggal
Alhamdulillahirobbil a'lamin, Segala rasa Syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan tesis ini. Tesis ini di tulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Master Ekonomi Jurusan Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pada kesempatan ini secara khusus penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besamya kepada Bapak Muliadi Widjaja, Ph.D., selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan tesis ini.
Selain itu, penulis juga menyadari sepenuhnya, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan tesis ini, sangatlah sulit untuk menyelesaikan tesis ini. Oleh karena itu, ucapan terima kasih penulis haturkan kepada:
I. Ketua Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MPKP) FEUI beserta staf administrasi program yang telah banyak memberikan kemudahan dalam proses perkuliahan.
2. Para dosen pengajar yang telah memberikan wawasan selama mengikuti perkuliahan, Dewan Penguji Bapak DR. Widyono soetjipto, dan Bapak Darlis Rabai, SE.MA, yang telah memberikan masukan untuk kesempumaan tesis ini, 3. Bapak hendri Refdinal, Msi selaku Kepala BLUD Dana Bergulir, Bapak Ermi,
B, selaku sekretaris BLUD Kota Payakumbuh, serta Karyawan dan Karyawati BLUD lainnya, yang telah meluangkan waktu, memberikan data yang diperlukan dan diskusinya untuk penyelesaian tesis ini,
4. Ternan-ternan di Disperindag, DPPKA, Bappeda,dan Organisasi atas datanya dan informasinya,
5. Pengusaha Industri pangan Kota Payakumbuh, sebagai responden saya, yang telah bersedia meluangkan waktu untuk wawancara.
6. Suamiku, Pradhana Kataluba tercinta dan anandaku Arkan Ataya Pradhana tersayang yang telah berkorban waktu, perasaan, materi untuk studi mama,
tanpa Doa kalian saya tidak akan sanggup melewati semua ini.
8. Rekan-rekan MPKP Angkatan XXI kelas Pagi Bappenas yang telah memberi wama dalam hari-hari yang terlewati di taman kuning, memberikan bantuan baik selama masa perkuliahan maupun dalam penyelesaian tesis ini. Semoga, semangat persaudaraan itu akan selalu teijalin dalam untaian silaturahim selamanya.
Akhir kata, semoga Allah SWT selalu memberikan perlindungan bagi kita semua, kemudahan dalam mengarungi kehidupan dan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga tesis ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Salemba, Desember 2010
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama NPM
: SRI ESSA RAMADHANI : 0906586820
Program Studi : Magister Perencanaan Dan Kebijakan Publik Departemen : Ekonomi
Fakultas : Ekonomi Jenis karya : Tesis
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive
Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
"Dampak Penyaluran Dana Bergulir Usaha Mikro Terhadap Peningkatan Pendapatan Pengusaha Mikro (studi Kasus Industri Mikro di Kota Payakumbuh)" beserta perangkat yang ada Gika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non eksklusif 1m Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pemyataan ini saya buat dengan sebenamya.
Dibuat di : Jakarta
Pada tanggal : 8 Desember 2010
Yang menyatakan,
Nama
Program Studi Judul Tesis
: SRI ESSA RAMADHANI
: Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik
: Dampak Penyaluran Dana Bergulir Usaha Mikro terhadap Peningkatan Pendapatan Pengusaha Mikro
(Studi Kasus Industri Mikro di Kota Payakumbuh)
Dana bergulir merupakan program pemerintah Kota Payakumbuh dalam rangka memperluas akses masyarakat untuk memperoleh modal usaha khususnya bagi pengusaha mikro. Di Kota payakumbuh program ini sudah ada semenjak tahun 2003. Sampai akhir tahun 2009 dana yang digulirkan telah mencapai Rp. 29.851.500.000,-. Sasarannya adalah sektor pertanian, perdagangan, industri, petemakan, koperasi dan usaha lainnya.
Melihat perkembangan perekonomian Kota Payakumbuh, sektor industri mengalami pertumbuhan yang lambat Kota Payakumbuh, padahal kedepan sektor ini akan menjadi leading sector bagi sektor ekonomi lainnya. Sehingga perlu upaya konkrit dari pemerintah Kota Payakumbuh untuk mewujudkan hal tersebut, termasuk memberikan kemudahan akses dana bagi sektor industri. Diharapkan dengan adanya program dana bergulir mikro semakin banyak pengusaha mikro khususnya sektor industri memperoleh akses dana untuk mengembangkan usaha. Dengan demikian bisa lebih meningkatkan pendapatan pengusaha industri dan meningkatkan pertumbuhan sektor industri.
Penelitian ini akan mengevaluasi Program dana bergulir dari segi penggunaan input, perolehan output, outcome, manfaat dan dampak program terhadap masyarakat/nasabah pemanfaat dana bergulir. Di mana dampak program akan dilihat melalui peningkatan pendapatan pengusaha sektor industri dengan melakukan uji beda dua rata-rata. Berdasarkan hasil evaluasi program temyata ditemukan bahwa penyaluran dana bergulir belum disertai pembinaan oleh pengelola terhadap nasabah (sektor industri) sehingga pengusaha tersebut berkembang secara otodidak saja. Selanjutnya berdasarkan uji beda dua rata-rata pendapatan pengusaha mikro sektor industri meningkat sesudah memperoleh dana bergulir.
Dari hasil penelitian, direkomendasikan beberapa kebijakan yang mungkin dapat diterapkan oleh BLVD Dana Bergulir Usaha Mikro Kota payakumbuh dalam usaha peningkatan pendapatan pengusaha mikro sektor industri di Kota payakumbuh.
Kata kunci:
Evaluasi program dana bergulir, peningkatan pendapatan pengusaha mikro, sektor industri, Kota Payakumbuh.
Study Programme Title
Mmter
Of
Planning And Public Policy: The Impact of of Micro- Ventures' Revolving-Fund Distribution Against The Increased Income of Micro Entrepreneurs
(Micro-Industry Case Study in Payakumbuh)
Revolving-Fund Program is a Payakumbuh City Government Program in order to expand access to the community to obtain venture capital, especially for Micro- Ventures. The Program has already existed since the year 2003 in Payakumbuh. By the end of 2009 the funds revolved has reached Rp. 29.851.500.000,- directed towards the agricultural, trade, industry, farming, cooperatives and other sectors.
In the future , the industry sector will be the front runner of the economy development in Payukumhuh, but unfortunately it is still developing at a slow rate. It needs concrete efforts of the Payukumbuh Governments to accomplish this, including providing the ease of access to funds for industry sectors. It is expected that The Micro Revolving-Fund Program could provide more micro-entrepreneurs, particularly in the industry sector, the ease of access to obtain funds to develop their business, thus able to further improve the proceeds of
entrepreneurs and the growth in the industrial sector.
This Research will evaluate the Revolving-Fund Programs in terms of the input, output, outcome, earnings, benefits and impacts of the program to the community/customer that make use of the program. To evaluate the impact of the program, it will be viewed through the increased in the proceeds of industry sectors entrepreneurs using two-test average.
Based on the results of the evaluation, the revolving-fund distribution is not complemented by coaching by the administrator to the customer (industrial sector), as a consequence they developed themselves as self-taught entrepreneurs. Based on the two-test average, the industry sectors' micro entrepreneurs ' proceeds increased after acquiring the Revolving-Fund
As a conclusion, it is recommended that some policies may be applied by the Payakumbuh's BLUD Micro-Ventures' Revolving-Fund in increasing the revenue of micro-entrepreneurs in the industrial sector in Payakumbuh City.
Key Word:
Revolving-Fund Program Evaluation, increase in revenue of micro-entrepreneurs, industry sectors, Payakumbuh City.
HALAMAN JUDUL ... . SURA T PERNY AT AAN BEBAS PLAGIARISME... ... n PENY AT AAN ORISINALIT AS... m LEMBAR PENGESAHAN... .. IV
KAT A PENGANT AR... .. v
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vn ABSTRAK ... viii
DAFTAR lSI... X DAFT AR GAMBAR... xii
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFT AR LAMPI RAN ... XIV 1. PENDAHULUAN. .. ... ... ... .. . .. ... ... . ... . . .... .. .. ... .. . ... ... ... .... .. 1
1.1. La tar Belakang... . . . ... ... ... 1
1.1.1. Peranan Lembaga Keuangan Mikro... . . . .. 1
1.1.2. Perkembangan Industri Skala Kecil di Payakumbuh... .... 6
1.2. Perumusan Masalah... ... 10 1.3. Tujuan Penelitian... .. 11 1.4. Manfaat Penelitian... 11 1.5. Metodologi... ... 11 1.5.1. Pendekatan Penelitian... 11 1.5.2. Sumber Data ... ·... 11
1.5.3. Populasi dan Sampel... .. . ... .. . . .. . . ... . . .. . . ... 12
1.5.4. Metode Analisis... ... ... . .. ... ... .. . . .... ... ... ... . . ... ... . ... 12
1.5.5. Peralatan Pemantauan dan Evaluasi Program... 12
1.6.Kerangka Berfikir ... 14
1.7.Ruang Lingkup ... 15
1.8.Sistematika Penulisan ... 15
2. TINJAUAN PUST AKA... 16
2.1. Kerangka Teori... .. 16
2.1.1. Teori Pertumbuhan dan Pembangunan Ekonomi Daerah... ... 16
2.1.2. Konsep Pendapatan... .. 16
2.1.3. Konsep Modal... 18
2.1.4. Pengertian Kredit... .. 20
2.2. Usaha Skala Kecil Dan Mikro ... 21
2.3. Kerangka Kerja Logis Evaluasi Kinerja ... 23
2.4. Penelitian Terdahulu... 24
2.4.1 Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro... 24
2.4.2 Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)... .. . 25
2.4.3 Permodalan Nasional Berhard... 25
2.4.4 Program Microcredit di Bangladesh ... 26
2.4.5 Banking for the poor evidance in India ... 27
4. METODE PENELITIAN ... 41
4.1. Pendekatan Penelitian... .. 41
4.2. Jenis Dan Somber Data... 41
4.3. Metode Pemilihan Sampel.. ... 42
4.4. Teknik Pengumpulan Data... 42
4.5. Metode Analisa Data... 42
4.5.1. Uji Beda Dua Rata-Rata . . . 42
4.5.2. Kerangka Kerja Logis . . . .. 43
4.6. Ruang Lingkup... ... 46
5. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 47
5. 1. Hasil Analisa Kusioner. . . 4 7 5 .2. Hasil Evaluasi Pelaksanaan Program Dana Bergulir U saba Mikro... . . . 57 5.2.1. Evaluasi Input... 58 5.2.2 Evaluasi Output... 60 5.2.3 Evaluasi Hasil ... 65 5.2.4 Manfaat Program ... 66 5.2.5 Dampak Program ... 68
5.3. Hasil Uji Beda Dua Rata-Rata ... 70
6. PENUTUP ... 73 6.1. Kesimpulan... .. 73 6.2. Rekomendasi Kebijakan ... 74 6.3. Keterbatasan Penelitian.... .. . .. . .. ... ... . . . ... ... ... ... ... .. . ... .. . .. .. .. 74 DAFTAR PUSTAKA ... 76 XI
Gambar 3.1. Struktur Organisasi BLUD Penyaluran Dana Bergulir Mikro
Kota Payakwnbuh... .. 36 Gambar 3.2. Mekanisme Penyaluran Dana Bergulir Usaha Mikro... 39 Gambar 5.1. Persentase Jmnlah Jenis Kelamin Responden... 51 Gambar 5.2. Persepsi Responden terhadap Peningkatan Pendapatan setelah
menerima Dana Bergulir ... 55 Gambar 5.3 Persepsi Responden terhadap Pembinaan oleh BLUD ... 56
Tabell.2. Tabell.3. Tabel 1.4. Tabel 1.5. Tabel 1.6. Tabel3.1. Tabel3.2. Tabel3.3. Tabel 5.1. Tabel 5.2. Tabel5.3. Tabel5.4. Tabel5.5. Tabel5.6. Tabel5.7. Tabel5.8. Tabel5.9. Tabel5.10. Tabel 5.11. Tabel 5.12. Tabel5.13. Tabel 5.14. Tabel 5.15. Tabel 5.16. Tabel 5.17. Tabel 5.18. Tahun 2007... 3
Perkembangan Dana yang telah digulirkan tahun 2003 - 2009... 4
Jumlah Nasabah Dana Bergulir Usaha Mikro berdasarkan Lapangan U saha tahun 2009... . . 4
Perkembangan Sektor lndustri Kota Payakumbuh tahun 2005 - 2008... . . . 7
Tiga Besar Potensi lndustri Skala Kecil Kota Payakumbuh Tahun 2008 - 2009... 9
Matrik Kerangka Kerja Logis... 13
Pertumbuhan Ekonomi berdasarkan Lapangan Usaha Kota Payakumbuh tahun 2002- 2006 ... 30
Jumlah Penduduk Usia 15 tahun ke atas yang bekerja menurut Lapangan Usaha ... 31
Kondisi Surplus BLUD Dana Bergulir Kota Payakumbuh Tahun 2003 s/d 2009... .. 40
Responden berdasarkan Jenis Hasil Produk lndustri Pangan... 48
Responden berdasarkan Tingkat Umur. ... 49
Responden berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 49
Sumber Infonnasi Responden tentang Program Dana Bergulir BLUD ... 50
Persepsi Responden terhadap Ada atau Tidaknya Pertemuan Khusus yang dilakukan BLUD ... 51
Persepsi Responden terhadap Pengajuan Kredit. ... 52
Persepsi Responden terhadap Lama Waktu Realisasi Kredit. ... 53
Pemanfaatan Kredit Dana Bergulir oleh Responden ... 58
Rencana Bisnis Anggaran BLUD Dana Bergulir tahun 2009 ... 60
Jumlah Setoran PAD Dana Bergulir tahun 2004- 2009 ... 62
Daftar Belanja Operasional Dana Bergulir dari tahun 2003-2009 .. 62
Rekapitulasi Rencana dan Realisasi Anggaran Kegiatan Pelayanan Operasional BLUD Dana Mikro tahun 2009 ... 63
Rekapitulasi Rencana dan Realisasi Anggaran Kegiatan Pendukung Operasional BLUD Dana Bergulir. ... 64
Kondisi Aset BLUD Dana Bergulir Mikro tahun 2009... 65
Peningkatan Produksi Responden sesudah memperoleh Dana Bergulir ... 67
Peningkatan Pendapatan Responden sesudah menerima Dana Bergulir.. . . 69
Tabel Paired Samples Correlation ... 70
Tabel Output Paired Samples Test.. ... 71
Lampiran I Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran
5
Lampiran 6Peta Wilayah Administrasi Kota Payakumbuh
Rekomendasi penelitian
Kuesioner Penelitian... 81
Hasil Output SPSS.. . . 86
Data Respo:nden... ...
95
Matrik Kerangk.a Kerja Logis... 97
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.1.1 Peranan Lembaga Keuangan Mikro.
Undang Undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah telah melahirkan konsep desentralisasi dan otonomi daerah, di mana desentralisasi adalah penyerahan kewenangan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengatur rumah tangga daerahnya sendiri berdasarkan prakarsa dan aspirasi rakyat dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia. Desentralisasi cenderung ke penyerahan keuangan dan otonomi lebih kepada penyerahan wewenang.
Dengan demikian Pemerintah Daerah memiliki wewenang untuk meningkatkan pembangunan daerahnya dan meningkatkan taraf hidup serta mengentaskan kemiskinan masyarakatnya. Berdasarkan hal tersebut Pemerintah Daerah terus berupaya membantu masyarakat agar pendapatan perkapita mereka meningkat sehingga pertumbuhan ekonomi juga meningkat seperti yang tercermin dalam PDRB (Pendapatan Domestik Regional Bruto) yang terus meningkat.
Salah satu cara mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat adalah dengan konsep pembangunan masyarakat (community
development) dimana pemerintah dan masyarakat berintegrasi untuk melakukan
pembangunan secara swadaya dan melakukan kegiatan bersama guna meningkatkan kondisi ekonomi, sosial dan kultural serta mengidentifikasikan kebutuhannya secara bersama. Perlu dilakukan pemberian akses yang lebih luas kepada masyarakat miskin untuk menjadi produktif seperti dalam pepatah disebutkan "jangan berikan umpannya tapi berikanlah kailnya", sehingga sangat relevanjika diupayakan lembaga Keuangan Mikro (LKM) sebagai salah satu pilar keuangan nasional.
Lembaga keuangan mikro dengan kemiskinan sangat erat kaitannya karena lembaga keuangan mempunyai fungsi sebagai intermediasi dalam aktifitas ekonomi. Hal ini berarti jika usaha kecil dapat memanfaatkan lembaga keuangan
ini akan memberikan nilai tambah sehingga dengan usaha produktif yang dilakukan masyarakat ini bisa meningkatkan pendapatan mereka.
Di Kota Payakumbuh upaya community development 1ru terus ditingkatkan, upaya membentuk lembaga keuangan mikro juga telah diupayakan salah satunya dengan adanya program kredit dana bergulir. Pada awalnya program pemberian kredit dana bergulir yang dikelola pemerintah daerah ditujukan untuk menghindari praktek ijon dalam masyarakat, di mana bagi masyarakat miskin yang cenderung tidak memiliki akses ke Bank mereka akan meminjam dana ke tengkulak yang bunganya sangat tinggi, sehingga hanya menambah kesulitan masyarakat untuk membayar apalagi mengembangkan usaha.
Melihat indikasi tersebut pada tahun 2002 pemerintah daerah mengambil kebijakan melalui pemberian kredit kepada masyarakat dalam bentuk PER (Pemberdayaan Ekonomi Rakyat) yang dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Payakumbuh tahun 2002. Sistim ini tidak memerlukan agnnan sehingga sangat memudahkan bagi masyarakat untuk memperoleh tambahan modal usaha.
Namun karena koordinasi yang tidak bagus maka program ini tidak beljalan dengan lancar dana yang tersedia sebesar Rp. 1,5 Milyar hanya mampu diserap sebanyak 59% dengan pengembalian kredit yang macet, sehingga merugikan pemerintah kota Payakumbuh. Berdasarkan hal tersebut Pemerintah Kota Payakumbuh dibawah koordinasi Sekretariat Daerah c/q Bagian Perekonomian mengambil alih hutang masyarakat sehingga dibentuk lembaga Badan pengelola Dana Bergulir (BPDB) dengan Keputusan Walikota Payakumbuh Nomor 29 tahun 2003. Terakhir pada tahun 2008 berdasarkan Peraturan Walikota (Perwako) Payakumbuh Nomor 14 Tahun 2008 Badan pengelola Dana Bergulir dijadikan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Dana Bergulir Penguatan Modal Usaha Mikro Kota Payakumbuh.
Dana Bergulir pada BLUD adalah program pemerintah daerah yang termasuk kepada pengeluaran pembiayaan daerah, yaitu pengeluaran dana yang bersumber dari APBD yang ditempatkan pada pengelola Dana Bergulir (BLUD) untuk disalurkan kepada usaha mikro di mana semua penerimaannya akan dibayarkan kembali ke daerah pada tahun bersangkutan atau pada tahun anggaran
berikutnya. Anggaran yang dikeluarkan untuk program ini dapat kita lihat pada tabel 1.1 berikut :
Tabell.l
Ko d .. M d IBLUDD D lSI o a ana B ergo 1r ota aya um u sampa1 ta
r
K P k b h h un 200 7No. Sumber Dana Nilai (Rp. Juta)
I. Pengembalian Dana PER Tahun 2002 350,42
2. APBD Tahun 2003 2.170,00 3. APBD Tahun 2004 1.500,00 4. APBD Tahun 2005 4.400,00 5. APBD Tahun 2006 5.000,00 6. APBD Tahun 2007 6.000,00 Jumlah 19.420,42
Sumber : data olahan dan laporan BLUD
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa investasi Pemerintah untuk dana bergulir sudah sebanyak Rp. 19.420.420.000,-. Untuk tahun berikutnya sampai sekarang pertambahan modal diperoleh dari basil laba usaha dana bergulir terse but.
Berdasarkan Peraturan Walikota (Perwako) nomor 14 tahun 2008, tujuan dana bergulir BLUD ini adalah:
I. Mengoptimalkan pemberdayaan usaha mikro, melalui koordinasi dan sinkronisasi penganggaran, pelaksanaan dan pemantauan dana bergulir; 2. Memperluas akses pendanaan usaha mikro;
3. Mewujudkan keberpihakan Pemerintah Kota Payakumbuh dalam upaya pengembangan usaha produktif dan kesejahteraan masyarakat;
4. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemanfaatan dana bergulir untuk pengentasan kemiskinan, pengembangan ekonomi daerah pada sektor informal dan formal perkotaan.
Sedangkan sasaran penyaluran dana bergulir adalah bidang usaha meliputi :
1. Pertanian, petemakan dan perikanan, 2. Perdagangan;
3. Industri kecil dan rumah tangga; 4. Jasa;
5. Usaha ekonomi rakyat lainnya.
Sampai saat ini perkembangan jumlah dana yang digulirkan dan jwnlah penerima Dana bergulir tersebut dapat kita lihat pada tabel 1.2 berikut :
Tabel1.2
P k er em angan ana yang e a b D t I h d. tgu r an a un li k t h 2003 2009
-No. Nama Kecamatan Jwnlah Nasabah Jwnlah
(orang) Pinjaman (Rp) I. Kec. Payakumbuh barat 553 12.123.000.000
2. Kec. Payakumbuh Utara 287 5.955.000.000
3. Kec. Payakumbuh Timur 355 6.556.000.000 4. Kec. Payakumbuh Selatan 141 2.984.000.000 5. Kec. Lamposi Tigo Nagori 113 2.233.500.000
Total 1.449 29.851.500.000
Sumber : Iaporan Tahunan BLUD tahun 2009
Dengan rincian jwnlah nasabah dan jumlah dana persektor ekonomi terlihat pada tabel berikut :
Tabel1.3
Jumlah Nasabah Dana Bergulir Usaha Mikro Berdasarkan L apangan sa a a un U h T h 2009
JUMLAH JUMLAHDANA
NO LAPANGAN USAHA NASABAH (Rp)
(Unit/Orang) 1. Koperasi 67 9.543.500.000,-2. Perdagangan 971 12.792.416.150,-3. lndustri Mikro 110 1.823.500.000,-4. Petemakan 219 3.379.500.000,-5. Pertanian 49 1.186.346.600,-6. Lain-lain 33 1.126.237.250,-Jumlah 1.449
29.851.500.000,-Sumber : Data dwlah dan Laporan Keuangan BLUD Tahun 2009
Di mana sektor perdagangan mendominasi jwnlah pemmJam yaitu sebanyak 971 orang denganjwnlah penyaluran dana sebesar Rp. 12.792.416.150,-. Hal ini berkaitan dengan keberadaan K12.792.416.150,-.ota Payakwnbuh sebagai pusat Perdagangan yang memenuhi kebutuhan Kota Payakwnbuh sendiri dan
Berikutnya adalah sektor Petemakan. Payakumbuh di tingkat propinsi memiliki komoditi unggulan yaitu bidang industri makanan ringan dan sapi potong, karena kondisi alam Kota Payakumbuh yang membuat petemakan sapi maupun ayam dapat berkembang dengan cukup baik.
Selanjutnya posisi ketiga baru ditempati oleh sektor industri. Terlihat masih sedikit pengusaha sektor ini yang memperoleh dana bergulir mikro, jumlah dana yang baru disalurkan sampai tahun 2009 tersebut sejumlah Rp. 1.823.500.000,-. Padahal potensi pengusaha Industri terutama makanan ringan atau sektor pangan sangat besar.
Kota Bukittinggi sebagai Kota Wisata yang betjarak 33 Km dari Payakumbuh, merupakan pasar potensial untuk industri pangan khas daerah, begitu juga dengan Propinsi Riau merupakan pasar yang menjanjikan untuk penjualan produk khas Kota Payakumbuh. Mengingat, permintaan akan produk tersebut terbilang cukup tinggi, ma)(a komitmen pemerintah Kota Payakumbuh harus serius mengembangkan sektor industri guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Kota Payakumbuh, khususnya industri mikro. Pada sub bab berikut kita akan lihat bagaimana perkembangan sektor industri ini.
Pada intinya penyaluran kredit dana bergulir oleh BLUD dimaksudkan untuk membantu golongan ekonomi lemah yang telah memiliki usaha tertentu dengan harapan pendapatannya akan meningkat setelah menerima kredit program ini dan usahanya bisa berkembang sebagai multiplier efeknya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Namun demikian tidak dapat dikatakan bahwa dengan tersedianya kredit ini dapat memecahkan masalah keuangannya, bisa saja tetjadi setelah memperoleh kredit tidak dapat dimanfaatkan secara efisien sehingga jangankan meningkatkan pendapatan, kreditnya saja tidak dapat dikembalikan. Sehingga tujuan pemerintah semula tidak dapat tercapai.
Sebagai usaha pemberdayaan rakyat sekaligus usaha pengentasan kemiskinan serta dalam rangka pengembangan industri kecil, penyaluran dana bergulir BLUD di Kota Payakumbuh pada prinsipnya memberikan kemudahan
dan keringanan bagi pengusaha mikro. Pola pengelolaan keuangannya fleksibel berupa keleluasaan menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat pada umumnya khususnya pengusaha mikro. Jasa yang ditarik antara 3-6 % dari pinjaman pertahun. Hal ini jelas jauh lebih ringan jika kita bandingkan dengan kredit mikro pada institusi
lain.
1.1.2 Perkembangan Industri Skala Kecil di Payakumbuh
Industri Sumatera Barat didominasi oleh industri skala kecil dan rumah tangga. Jumlah unit industri sebanyak 47.819 unit, terdiri dari 47.585 unit industri kecil dan 234 unit industri besar menengah, dengan perbandingan 203 : I. Nilai produksi industri besar menengah Sumatera Barat mencapai Rp. 1.623 milyar, yaitu 60 % dari total nilai produksi, dan nilai produksi industri kecil hanya mencapai Rp. 1.090 milyar, atau 40% dari total nilai produksi. Pada negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat sumbangsih dari industri kecil ini dapat mencapai 80% dari total nilai produksi 1•
Pengembangan Industri Kecil.dan Menengah (IKM) harus dilanjutkan, karena IKM akan dijadikan basis industri nasional, sehingga IKM dituntut mampu untuk menghasilkan barang yang berkualitas tinggi dan harga yang kompetitif serta disiplin dalam memenuhi kebutuhan konsumen akhir maupun pasokan untuk industri yang lebih hilir.
Kebijakan dalam pengembangan industri di daerah diarahkan untuk meningkatkan daya saing daerah melalui pemanfaatan kekayaan alam, modal atau aset berwujud lainnya, seperti penguasaan teknologi, dan perencanaan yang matang. Pengembangan industri daerah mengedepankan pendekatan berdasarkan
Resource based. Dengan demkian kegiatan industri yang strategis sebagai sarana
memberdayakan sumber daya alam juga akan menstimulus kesejahteraan masyarakat di daerah (Potret 3,5 Tahun RPJM 2005-2009 ,hal 95,2008).
Untuk itu perlu dilakukan beberapa strategi salah satunya dengan mengembangkan industri unggulan daerah. Provinsi Sumatera Barat memiliki beberapa produk unggulan yang harus dikembangkan yang tersebar diseluruh
kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Diantaranya adalah industri kakao, industri basil taut, industri pengolahan makanan ringan, industri gambir, industri semen, industri minyak atsiri, industri min yak jarak dan industri alsintan.
Mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional tahun 2005-2009, saat ini Sumatera Barat memprioritaskan penanganan pada produk unggulan industri kakao, hal ini jJ.Iga sesuai dengan ekpose gubemur Sumatera Barat pada tahun 2008 yang lalu. Sehingga Sumatera Barat merumuskan komoditas unggulan masing-masing kabupaten dan kota dimana Kota Payakumbuh memiliki produk unggulan yaitu industri makanan ringan dan sapi potong.
Pada umumnya industri yang ada di Payakumbuh tergolong menengah ke bawah dan kecil. Mayoritas dari usaha kecil menengah (UKM) ini didominasi oleh usaha rumah tangga (home industri) yang berbentuk formal maupun
informal. Sektor industri ini terdiri dari ; direktorat industri pangan, direktorat industri sandang, direktorat industri kimia dan bahan bangunan, direktorat industri logam dan elektronika dan direktorat industri kerajinan.
Perkembangan sektor industri di Kota Payakumbuh dari tahun 2005 dapat kita lihat pada tabel 1.4 berikut :
Tabel1.4 p er em angan S kt k b e or n us I d t . K t P rl oa aya um u k b b T b a un 2005 2008
-No Rincian 2005 % 2006 % 2007 % 2008 % 1. 2. Unit Usaha 1.160 2,7 1.187 2,3 1.228 (Unit)* Tenaga Kerja 5.998 12,7 6.126 12,9 6.396 (orang)**Sumber :data d10lah dan Payakumbuh Dalam Angka 2009 * persentase pertumbuhan unit usaha dari tahun ketahun **persentase terhadap total tenaga kerja di Kota Payakumbuh
3,3 978 -25,6
14,38 6.396 14,35
Berdasarkan data diatas menunjukkan pertumbuhan unit usaha industri secara ~ata-rata meningkat sampai tahun 2007, dimana pertumbuhan unit usaha tahun 2005 sebesar 2, 7%, tahun 2006 sebesar 2,3%, tahun 2007 sebesar 3,3%.
Selanjutnya pada tahun 2008 mengalami penurunan yang cukup besar mencapai 25,6%. Penurunan ini disebabkan oleh karena sektor Industri pada umumnya didominasi oleh sektor informal, jadi ketika usaha mereka mengalami krisis mereka langsung menutup usaha mereka tersebut. Selain itu penurunan unit usaha ini juga disebabkan oleh krisis ekonomi dunia pada tahun 2008.
Disisi lain, penurunan jumlah unit usaha tersebut tidak meyebabkan berkurangnya jumlah tenaga keija sektor industri. Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa industri yang cukup berkembang dengan baik, sehingga pengusaha sektor informal yang telah menutup usahanya tersebut memilih bekeija pada industri yang lebih besar atau industri formal.(Profil Kota Payakumbuh,2008).
Pada tahun 2009 unit usaha yang bergerak dibidang Industri tersebut meningkat menjadi 1.289 unit usaha atau meningkat sebesar 24,12% dan total tenaga keija sebanyak 6.555 orang dengan total produksi mencapai 111.267.171 ton/tahun. (Dinas Koperindag Kota Payakumbuh,2010). Hal ini disebabkan oleh mulai membaiknya kondisi ekonomi pasca krisis dunia tahun 2008. Kontribusi terbesar terhadap sektor tersebut berasal dari direktorat industri pangan sebanyak 542 unit usaha, baik formal maupun non formal. Berikut adalah tiga besar potensi skala kecil Kota Payakumbuh tahun2009.
Tabell.S
y·
1ga esar PB
o ens1 n usn t . I d t . Sk a a ec1 I K ·1 K oa aya urn u t P k b h T h a un 2009 Tahun Bidang Usaha Unit %* Tenaga %* Jlh produksius aha keija (Rp.OOO/thn)
2009 Kerupuk 239 18,5 1.507 23,0 17.043.293
Pakaian jadi dari tekstil 85 6,5 968 14,7 14.310.579
Roti 105 8,1 492 7,5 7.082.529
Sumber : data dto1ah dan laporan dmas Kopermdag Kota Payakumbuh,20 10 *persentase terhadap total Industri
Potensi industri paling besar berasal dari sektor pangan yaitu jenis usaha kerupuk, sebesar 18,5% dari total unit usaha industri, menyerap tenaga keija sebanyak 23% dari total tenaga keija sektor industri. Posisi ketiga produksi terbesar juga ditempati oleh industri sektor pangan yaitu industri roti, dengan jumlah unit usaha sebanyak 8,1% dan menyerap tenaga kerja sebanyak 7,5% dari
.
seluruh total tenaga keija di sektor industri. Posisi kedua adalah dari sektor %*
15,3 12,8 6,3
industri sandang, yaitu industri pakaian jadi dari tekstil sebesar 6,5% unit usaha dengan jumlah produksi mencapai 12,8%.
Pada umumnya pengolahan ketiga sektor industri 1m masih menggunakan peralatan sederhana. Tenaga keija yang dipakai pada umumnya terdiri dari keluarga dan beberapa tetangga terdekat. Untuk pemasaran, mereka memasarkan sendiri dengan membuka outlet dirumah mereka sendiri, punya tempat (los) di pasar, menjual kepada pedagang lain atau dipasarkan ke daerah lain. Jika ketiga sektor yang dinilai berpotensi in! terns ditingkatkan, maka akan memperbesar kontribusinya terhadap total jumlah industri. Hal ini tentu juga akan bisa meningkatkan jumlah penyerapan tenaga keija, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat nantinya.
Kalau kita lihat distribusi persentase Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Payakumbuh atas harga berlaku menurut lapangan usaha, sumbangan sektor industri masih dibawah 10% terhadap PDRB. Yaitu pada tahun 2006 sebesar 6,66%, tahun 2007 sebesar 6,86% dan tahun 2008 sebesar -6,93%. (Profil Kota Payakumbuh,2008). Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena dalam jangka panjang lapangan usaha industri diharapkan dapat menjadi lapangan usaha andalan dalam perekonomian Kota Payakumbuh sebagai wujud transformasi perekonomian dari daerah pertanian menjadi daerah industri.
Berdasarkan kenyataan tersebut lapangan usaha industri belum memperlihatkan peranan yang cukup dominan dalam PDRB Kota Payakumbuh, hal ini disebabkan oleh berbagai masalah antara lain kurangnya modal, rendahnya kemampuan sumber daya manusia, lemahnya jaringan pemasaran dan lemahnya kelembagaan. Namun dalam jangka panjang lapangan usaha ini diharapkan akan menjadi andalan dalam penyerapan tenaga keija.
Dengan makin berkembangnya pembangunan di wilayah timur Sumatera, terutama sekali Provinsi Riau diharapkan akan semakin membuka peluang bagi masyarakat Kota Payakumbuh untuk memasarkan produk-produknya sebagai akibat meningkatnya permintaan pada daerah tersebut. Untuk itu perlu dilakukan pembenahan dan penge.mb?Dgan lapangan usaha ini sehingga dapat menjadi usaha yang lebih modem dan mempunyai daya saing tinggi.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan Jatar belakang di atas dapat kita lihat bahwa dana yang disalurkan untuk program dana bergulir cukup besar, dan telah mengalami perkembangan. Berdasarkan sasaran dana penyaluran dana bergulir tersebut salah satunya ditujukan untuk sektor industri, terutama industri skala kecil dan rumah tangga. Kontribusi Dana Bergulir masih sedikit terhadap sektor Industri padahal sektor ini berpotensi untuk dikembangkan terutama industri makanan ringan atau produk pangan.
Oisisi lain kita melihat perkembangan sektor industri mengalami peningkatan, meskipun kontribusinya terhadap PDRB masih kecil hal ini menyiratkan jika dilakukan pembinaan dan perhatian yang maJ<:simal tentu nantinya akan juga bisa memberikan kontribusi yang besar terhadap PDRB juga kesejahteraan masyarakat.
Seperti yang kita ketahui kendala yang dimiliki oleh sektor industri adalah kurangnya jumlah modal, sehingga sektor ini menjadi sulit berkembang. Kurangnya akses modal juga menyebabkan melambatnya perkembangan sektor ini. Akses yang terjangkau oleh pengusaha Industri kecil dan rumah tangga di Kota Payakumbuh yang paling memungkinkan adalah Program dana bergulir ini, karena difasilitasi oleh pemerintah. Di mana pemerintah dapat mengambil kebijakan terhadap suatu sektor jika sektor tersebut berpotensi.
Kalau kita baca RPJM Kota Payakumbuh tahun 2007-2012, Kota Payakumbuh bemiat ingin menjadikan sektor industri sebagai leading sektor di Kota Payakumbuh, sehingga seharusnya Pemerintah Konsisten terhadap "niat baik" tersebut, dengan upaya yang seharusnya dilakukan oleh semua Dinas terkait, tidak hanya Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja saja. Tetapi juga seharusnya oleh BLUD sebagai Badan Layanan Umum Daerah yang mengelola program akses dana masyarakat yaitu Dana Bergulir. Namun kenyataan tidak demikian, sehingga terkesan bahwa keinginan mengembangkan sektor industri hanya sebatas impian saja.
Sehingga hal ini mengundang persoalan, bagaimana sebenamya pelaksanaan program dana bergulir ini dan kenapa sektor industri sedikit yang memperoleh dana bergulir, padahal peningkatan sektor industri merupakan program kerja nomor tiga setelah penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kesempatan kerja dalam program pembangunan pemerintah Kota Payakumbuh. Apakah tidak memberikan dampak apa-apa terhadap pengusaha industri, sehingga sektor industri tidak perlu dibantu lagi dari segi permodalan, atau ada penyebab lainnya.
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan pennasalahan diatas, tujuan penelitian ini dilakukan untuk: 1. mengevaluasi program Dana bergulir Mikro di Kota Payakumbuh dari tahun
2003 sampai 2009, bagaimana perencanaannya dari segi input,output, outcome dan manfaat dan bagaimana praktek dilapangan
2. menganalisis dampak program tersebut terhadap sektor industri sehingga dapat direkomendasikan kebijakan yang seharusnya dilakukan oleh BLUD terhadap sektor industri.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumbangan pemikiran untuk Pemerintah Kota Payakumbuh dalam upaya menyusun kebijakan pengembangan perekonomian daerah sehingga mempunyai acuan yang jelas dalam menyusun perencanaan pembangunan daerah terutama kebijakan yang berkaitan dengan Penyaluran Kredit Dana Bergulir oleh Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dan sektor Industri.
1.5 Metodelogi
1.5.1 Pendekatan Penelitian.
Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Kuantitatifyaitu penelitian dengan sasaran penelitian yang luas dengan penekanan analisis numerik. Metode ini digunakan untuk melihat dampak peningkatan pendapatan pengusaha industri mikro dan rumah tangga setelah mengikuti program penyaluran dana bergulir mikro.
Pendekatan kualitatif adalah penelitian dengan sasaran penelitian terbatas namun dengan menggali data lebih dalam (depth interview). Hal ini dilakukan dalam hal memperoleh informasi sebanyak-banyaknya baik dari pihak pengusaha industri mikro dan rumah tangga maupun pihak BLUD sendiri tentang perencanaan, proses, kendala serta manfaat yang diperoleh dari program tersebut. 1.5.2 Sumber Data.
Jenis data yang akan digunakan adalah data primer, yaitu data yang diperoleh dari subjek penelitian disini adalah pengusaha industri mikro penerima kredit dana bergulir usaha mikro, objeknya adalah pendapatan pengusaha tersebut.
Data ini digunakan untuk melihat dampak pemberian bantuan dana bergulir terhadap pengusaha sektor industri pangan. Data primer diperoleh dengan cara pengamatan langsung (field research) dengan melakukan wawancara terhadap responden dan memberikan daftar pertanyaan (kusioner) yang berkaitan dengan objek penelitian, kemudian dilanjutkan dengan depth interview dengan responden terse but.
Data sekunder diperoleh dari literatur hasil penelitian sebelumnya, Badan Layanan Umum Daerah sebagai pengelola program dana bergulir mikro, bagian perekonomian, Dinas Perindustian dan Perdagangan Kota Payakumbuh, BPS Kota Payakumbuh dan Bappeda Kota Payakumbuh serta Dinas terkait yang dirasa perlu.
1.5.3 Populasi dan Sampel.
Pemilihan sam pel akan dilakukan dengan menggunakan teknik purposive
sampling yaitu sampel dipilih bardasarkan penilaian peneliti bahwa dia adalah
pihak yang paling baik untuk dijadikan sampel penelitian. Dengan arti kata sampel yang dipilih adalah bersifat homogen, yaitu, jenis usaha yang digeluti, tahun memperoleh pinjaman, karakteristik dari penerima bantuan, lokasi, sistem dan lama waktu pengembalian bantuan.
1.5.4 Metode Analisis.
Untuk menguji dampak sesudah dan sebelum memperoleh kredit dana bergulir mikro terhadap pendapatan pengusaha dilakukan uji beda dua rata rata, hasil perhitungan dibandingkan dengan t-tabel, pada tingkat a
=
5%, dengan pengujian dua sisi. TerimaHo
jika t-hitung > t-tabel, artinya pendapatan meningkat setelah menerima kredit dana bergulir usaha mikro. Sebaliknya terima H1 jika t-hitung < t-tabel, artinya tidak ada perbedaan atau peningkatan pendapatan setelah menerima kredit dana bergulir usaha mikro. (Triton,2006). Pendapatan yang digunakan adalah pendapatan kotor Pengusaha atau pendapatan sebelum dikurangi pajak.1.5.5 Peralatan Pemantauan dan Evaluasi Program.
Untuk menjawab bagaimana kinerja program penyaluran dana bergulir terhadap peningkatan pendapatan pengusaha industri mikro serta mengetahui
N 0 5 4 3 2 1
sejauh mana kesesuaian antara perencanaan dan kenyataan dilapangan dapat digunakan metode Matrik Kerangka Ketja Logis (KKL).
KKL yang digunakan adalah versi Bappenas yaitu matrik 5 baris 4 kolom. Baris terdiri dari : masukan (input), keluaran (output), Hasil (outcome),
manfaat (benefit) dan sasaran/dampak (impact/Goal). Kolom terdiri dari ringkasan narasi, indikator kinetja, sumber pembuktian, asumsi terpenting (faktor ekstemal). Hasil (outcome), manfaat (benefit) dan sasaran (impact) merupakan tujuan proyek yang diharapkan dapat dicapai dengan diproduksinya output tersebut. Berikut adalah matrik kerangka kerja logis.
Tabel1.6
M an t "kK erang1 ka K . L erJa ogas
RINGKASAN INDIKATOR DAN ALAT/CARA/SUMBER ASUMSI
NARASI SASARAN PEMBUKTIAN/ TERPENTING
KINERJA PENJELASAN
Pampak Ukuran yang Alat/cara membuktikan Faktor-faktor ekstemal pasar pemikiran menunjukkan kinerja indikator kinerja. yang diperlukan agar
~ilaksanakan proyek atau Bagaimana dan kemana sasaran paling akhir dari proyek,diadakannya pencapaian sasaran data indikator kinetja pelaksanaan proyek
butput. dapat diperoleh. dapat tercapai
Manfaat Indikasi diperolehnya Alat/cara membuktikan Faktor-faktor ektemal Hal yang diharapkan manfaat setelah output indikator kinetja. yang diperlukan agar dapat dicapai bila dapat berfungsi Bagaimana dan kemana hasil proyek dapat output dapat dengan baik. petunjuk data indikator kinerja memberikan manfaat diselesaikan kuantitatiflkualitatif. dapat diperoleh.
Outcome Indikasi yang Alat/cara membuktikan F aktor-faktor
iLatar be lakang menunjukkan hasil indikator kinerja. ekstemalyang diperlukan tmengadakan output pemanfaatan output Bagaimana dan kemana agar output dapat
selama pelaksanaan data indikator kinerja berfungsi dan tetap dan proyek selesai. dapat diperoleh. memberi hasil setelah
proyek selesai.
Putput Besaran hasil Alat/cara membuktikan Faktor-faktor ekstemal
~asil spesifik yang pengolahan input indikator kinetja. untuk mencapai output diharapkan dari selama umur proyek Bagaimana dan kemana seperti yang diharapkan,
proyek data indikator kinerja bila seluruh input
dapat diperoleh. terpenuhi.
nput: Alat/cara membuktikan F aktor-faktor ekstemal
Kegiatan/dana yang diperlukan menghasilkan indikator kinerja. yang dapat
output Bagaimana dan kemana mempengaruhi
data indikator kinerja tersedianya seluruh input dapat diperoleh. dan dilaksanakan tepat
waktu Sumber :Konsep proyek dan Kerangka kerJa logts perencanaan proyek,2005
1.6 Kerangka Berf1kir
Alur kerangka berfikir pemecahan masalah dapat kita lihat pada diagram berikut:
Latar belakang
Adanya program penyaluran dana bergulir untuk memperluas akses masyarakat akan modal termasuk untuk pengusaha bidang industri mikro dari pemerintah kota Payakumbuh. Industri pangan berpotensi untuk dikembangkan karena pasamya ada.
Harapan
Dengan program dana bergulir sektor industri mikro lebih terperhatikan sehingga bisa meningkatkan pendapatan masyarakat dan kontribusi thd PDRB.
IL...____~
_ ___,I
~
PermasalahanBagaimana perkembangan dana bergulir Mikro, kenapa sektor industri yang akan dijadikan leading sektor oleh Kota Payakumbuh, terkesan tidak mendapat tempat, terbukti dengan sedikitnya pengusaha sektor industri memperoleh dana bergulir
Tujuan Mengevaluasi Program dana bergulir dan melihat dampaknya terhadap sektor industri.
Metode Sumber Data
1. Evaluasi dengan metode KKL I. Data pnmer, kusioner , depth 2. Analisa kualitatif dan kuantitatif - interview
dengan 2. Data sekunder dari
dokumen-Uji beda dua rata-rata. dokumen yang relevan
Diketahui :
~.
I. Kenyataan lapangan perkembangan program dana bergulir oleh BLUD tahun 2003-2009 melaui analisis indicator input,otput,outcome, benefit dan dampak.
2. Dampak dana bergulir terhadap pengusaha sektor industri.
1. 7 Ruang Lingkup
Penelitian dilakukan di Kota Payakumbuh untuk program Dana bergulir usaha mikro secara umwn, yaitu mulai berjalannya program tahun 2003 sampai tahun 2009 berdasarkan dokumen rencana strategis yang ada. Dampak yang dilihat hanya untuk sektor industri. Hal ini dilakukan karena keterbatasan data dan kenyataan lapangan bahwa program penyaluran dana bergulir selalu ada setiap tahun di Kota Payakumbuh dan ditujukan untuk semua sektor usaha yang produktif.
1.8 Sistematika Penulisan BABIPENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan, manfaat, kerangka berfikir, metodologi, ruang lingkup dan sistematika penulisan.
BAB II KERANGKA TEORI
Berisi tentang teori yang digunakan sebagai dasar penelitian, penelitian-penelitian yang dilakukan sebelumnya.
BAB III GAMBARAN UMUM
Berisikan gambaran umum perekonomian Kota Payakumbuh, profil program penyaluran dana bergulir mikro oleh Badan Layanan Umum Daerah Kota Payakumbuh.
BAB IV METOOOLOGI PENELITIAN
Berisikan paparan metode yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian ini, mencakup teknik/ pengumpulan data, sumber data, ruang lingkup dan pengolahan data guna mengetahui dampak program dan evaluasi program.
BAB V HASIL PENELITIAN
Berisi hasil analisa kusioner terhadap kondisi responden yaitu pengusaha industri pangan skala kecil, hasil evaluasi terhadap program dana bergulir mikro oleh BLVD dan hasil uji beda rata-rata terhadap pendapatan responden setelah menerima bantuan program dana bergulir mikro.
BAB VI PENUTUP
2.1 Kerangka Teori.
2.1.1 Teori Pertumbuhan dan Pembangunan Ekonomi Daerah.
Teori ekonomi Neo K1asik mengatakan bahwa pembangunan ekonomi ada 2 konsep pokok, yaitu : keseimbangan (equilibrium) dan mobilitas faktor produksi. Artinya sistem perekonomian akan mencapai keseimbangan alamiah j ika modal dapat mengalir tanpa adanya pembatasan , sehingga modal akan mengalir dari daerah yang berupah tinggi ke daerah yang berupah rendah. Namun teori ini tidak terlalu memiliki dimensi spasial secara signifikan. (Lincolin, 1999)
Teori basis ekonomi menyatakan bahwa faktor penentu utama pertumbuhan ekonomi adalah berhubungan langsung dengan permintaan barang dan jasa dari luar daerah. Pertumbuhan industri-industri yang menggunakan sumber daya lokal, termasuk bahan baku dan tenaga kerja untuk di eksport akan menciptakan peluang kerja dan kekayaan daerah yang lebih besar. Strategi pembangunan dengan penekanan memberikan bantuan (aid) kepada dunia usaha yang mempunyai pasar secara nasional maupun intemasional. Implementasi kebijakan mencakup pengurangan hambatan terhadap perusahaan yang berorientasi eksport di daerah tersebut. (Lincolin, 1999).
2.1.2 Konsep Pendapatan.
Menurut Samuelson dan Nordhaus ( 1997), tujuan pokok dijalankannya suatu usaha perdagangan adalah untuk memperoleh pendapatan, dimana pendapatan tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kelangsungan hidup usaha perdagangannya. Pendapatan yang diterima adalah dalam bentuk uang, dimana uang adalah merupakan alat pembayaran atau alat pertukaran
Selanjutnya, pendapatan juga dapat di definisikan sebagai jumlah seluruh uang yang diterima oleh seseorang atau rumah tangga selama jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun), pendapatan terdiri dari upah, atau penerimaan tenaga kerja, pendapatan dari kekayaan seperti sewa, bunga dan deviden, serta
pembayaran transfer atau penerimaan dari pemerintah seperti tujangan sosial atau asuransipengangguran.
Adapun menurut Lipsey (1995), pendapatan terbagi dua macam, yaitu pendapatan perorangan dan pendapatan disposable. Pendapatan perorangan adalah pendapatan yang dihasilkan oleh atau dibayarkan kepada perorangan sebelum dikurangi dengan pajak penghasilan perorangan. Sebagian dari pendapatan perorangan dibayarkan untuk pajak, sebagian ditabung oleh rumah tangga ; yaitu pendapatan perorangan dikurangi dengan pajak penghasilan. Pendapatan disposible merupakan jumlah pendapatan saat ini yang dapat di belanjakan atau ditabung oleh rumah tangga ; yaitu pendapatan perorangan dikurangi dengan pajak penghasilan.
Sedangkan menurut Gilarso (1998), pendapatan atau penghasilan adalah sebagai balas karya. Pendapatan sebagai balas karya terbagi dalam enam ( 6) kategori, yaitu :
1. upahlgaji yang merupakan balas jasa untuk pekerjaan yang dilaksanakan dalam hubungan kerja dengan orang/instansi lain (sebagai karyawan yang dibayar),
2. laba usaha sendiri yaitu balas karya untuk pekerjaan yang dilakukan sebagai pengusaha yang mengorganisir produksi, mengambil keputusan tentang kombinasi faktor produksi serta menanggung resikonya sendiri entah sebagai petanil tukang/pedagang dan sebagainya,
3. laba perusahaan (perseroan) atau laba yang diterima atau diperoleh perusahaan yang berbentuk atau badan hukum,
4. sewa atas jasa yang diterima oleh pemilik atas penggunaan hartanya seperti tanah, rumah atau barang-barang tahan lama,
5. penghasilan campuran yaitu penghasilan yang diperoleh dari usaha seperti ; petani, tukang, warung, pengusaha kecil, dan sebagainya
6. disebut bukan laba, melainkan terdiri dari berbagai kombinasi unsur-unsur pendapatan, serta bunga atau balas jasa untuk pemakaian faktor produksi uang.
Menurut Sukimo (2004) pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diterima oleh penduduk atas prestasi kerjanya selama satu periode tertentu, baik harian, mingguan, bulanan ataupun tahunan. Beberapa klasifikasi pendapatan tersebut adalah sebagai berikut :
I. Pendapatan pribadi, yaitu : semua jenis pendapatan yang diperoleh tanpa memberikan suatu kegiatan apapun yang diterima penduduk suatu negara.
2. Pendapat disposibel, yaitu : pendapatan pribadi dikurangi pajak yang harus dibayarkan oleh para penerima pendapatan, sisa pendapatan yang siap dibelanjakan inilah yang disebut pendapatan disposibel.
3. Pendapatan nasional, yaitu : nilai seluruh barang-barang jadi dan jasa-jasa yang diproduksi oleh suatu negara dalam satu tahun.
Sedangkan menurut teori Milton Friedman, 1956 ( dipetik dari Rachmawati 2008), pendapatan masyarakat dapat digolongkan menjadi dua, yaitu pendapatan permanen (permanent income) dan pendapatan semen tara (transitory
income). Pendapatan permanen dapat diartikan :
I. Pendapatan yang selalu diterima pada periode tertentu dan dapat diperkirakan sebelumnnya, misal upah, gaji.
2. Pendapatan yang diperoleh dari hasil semua faktor yang menentukan kekayaan seseorang.
2.1.3 Konsep Modal.
Menurut Snavyly, 1980 (dipetik dari Rachmawati 2008), dalam ilmu ekonomi, istilah modal merupakan konsep yang pengertiannya berbeda-beda, tergantung dari konteks penggunaannya dan aliran pemikiran yang dianut. Secara historis konsep modal juga mengalami perubahan/perkembangan.
Sedangkan Smith, 1776 (dipetik dari Rachmawati 2008), menggunakan istilah modal dan modal berputar, yang didasari oleh kriteria sejauh mana suatu unsur modal terkonsumsi dalam jangka waktu tertentu (misal satu tahun). Jika suatu unsur modal dalam jangka waktu tertentu hanya terkonsumsi sebagian sehingga hanya sebagian (kecil) nilainya menjadi susut, maka unsur tersebut disebut modal tetap (misal mesin, bangunan, dan sebagainya). Tetapi jika unsur
modal terkonsumsi secara total, maka ia disebut modal berputar (misal tenaga kerja, bahan mentah dan sarana produksi).
Selanjutnya Mill, 1848 (dipetik dari Rachmawati, 2008), menggunakan istilah modal dengan arti barang fisik yang dipergunakan untuk menghasilkan barang lain, dan suatu dana yang tersedia untuk mengupah buruh. Pada akhir abad ke-19, modal dalam arti barang fisik yang dipergunakan untuk menghasilkan barang lain, dipandang sebagai salah satu di antara empat faktor utama produksi (tiga lainnya adalah tanah, tenaga kerja dan organisasi atau manajemen). Mill menggunakan istilah modal dengan arti barang fisik yang dipergunakan untuk menghasilkan barang lai~ dan suatu dana yang tersedia untuk mengupah buruh.
Pada akhir abad ke-19, modal dalam arti barang fisik yang dipergunakan untuk menghasilkan barang lain, dipandang sebagai salah satu di antara empat faktor utama produksi (tiga lainnya adalah tanah, tenaga kerja dan organisasi atau manajemen). seseorang sebagai kekayaan yang tidak segera dikonsumsi melainkan, atau disimpan, atau dipakai untuk menghasilkan barang/jasa baru (investasi).
Dengan demikian, modal dapat berwujud barang dan uang. Sejumlah uang menjadi modal apabila ditanam atau di investasikan untuk menjamin adanya suatu kembalian. Dalam arti ini modal juga mengacu kepada investasi itu sendiri yang berupa alat-alat finansial seperti deposito, stok barang, ataupun surat saham yang mencerminkan hak atas sarana produksi, atau dapat pula berupa sarana produksi fisik. Kembalian dapat berupa pembayaran bunga, ataupun klaim atas suatu keuntungan.
Modal yang berupa barang, mencakup modal tetap dalam bentuk bangunan pabrik, mesin-mesin, peralatan transportasi, kemudahan distribusi, dan barang-barang lainnya yang dipergunakan untuk memproduksi barang/jasa baru; dan modal berputar, dalam bentuk barang jadi ataupun setengah jadi yang berada dalam proses untuk diolah menjadi barang jadi.
Dalam konsep Marx, unsur-unsur modal tersebut dapat dibedakan menurut dua macam kriteria. Pertama, dari kriteria proses kerja yaitu faktor obyektif yang berupa sarana produksi, dan faktor subyektif yang berupa tenaga kerja. Kedua, dari segi penetapan nilai, yaitu modal tetap dan modal variabel.
2.1.4 Pengertian Kredit
Salah satu cara untuk memperoleh modal adalah dengan kredit. Kredit merupakan suatu fasilitas keuangan yang memungkinkan seseorang atau badan usaha untuk meminjam uang untuk membeli produk dan membayamya kembali dalam jangka waktu yang ditentukan. UU No. I 0 tahun 1998 menyebutkan bahwa kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Jika seseorang menggunakan jasa kredit, maka ia akan dikenakan bunga tagihan.
Ketika bank memberikan pinjaman uang kepada nasabah, tentu saja bank mengharapkan uangnya kembali. Untuk memperkecil resiko, dalam memberikan kredit bank harus mempertimbangkan beberapa hal yang terkait dengan itikad baik dan kemampuan membayar nasabah untuk melunasi kembali pinjaman beserta bunganya. Hal-hal tersebut terdiri dari karakter, kapasitas, modal, jaminan dan keadaan perekonomian.
Karakter merupakan watak, sifat, kebiasaan debitur (pihak yang berutang) sangat berpengaruh pada pemberian kredit. Kreditur (pihak pemberi utang) dapat meneliti apakah caJon debitur masuk ke dalam Daftar Orang Tercela (DOT) atau tidak. Untuk itu kreditur juga dapat meneliti biodatanya dan informasi dari lingkungan usahanya.
Kapasitas adalah berhubungan dengan kemampuan seorang debitur untuk mengembalikan pinjaman. Untuk mengukumya, kreditur dapat meneliti kemampuan debitur dalam bidang manajemen, keuangan, pemasaran, dan lain-lain.
Dengan melihat banyaknya modal yang dimiliki debitur atau melihat berapa banyak modal yang ditanamkan debitur dalam usahanya, kreditur dapat menilai modal debitur. Semakin banyak modal yang ditanamkan, debitur akan dipandang semakin serius dalam menjalankan usahanya.
Jaminan (agunan) dibutuhkan untuk beljaga-jaga seandainya debitur tidak dapat mengembalikan pinjamannya. Biasanya nilai jaminan lebih tinggi dari jumlah pinjaman.
Keadaan perekonomian di sekitar tempat tinggal calon debitur juga harus diperhatikan untuk memperhitungkan kondisi ekonomi yang akan tetjadi di masa datang. Kondisi ekonomi yang perlu diperhatikan antara lain masalah daya beli masyarakat, luas pasar, persaingan, perkembangan teknologi, bahan baku, pasar modal, dan lain sebagainya.
2.2. Usaha Skala Kecil Dan Mikro.
Penge:rtian usaha mikro dan usaha kecil pada dasamya mengacu pada undang-undang Republik Indonesia nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, kecil dan Menengah, dimana usaha mikro adalah adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:
I. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;
2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
Sedangkan usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
Kriteria usaha kecil adalah sebagai berikut :
I. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;
2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000,00(dua milyar lima ratus juta rupiah).
Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 9 tahun 1995 tentang usaha kecil menengah yang merupakan usaha berskala kecil juga meliputi usaha kecil informal dan usaha kecil tradisional. Pengertian usaha kecil informal
adalah usaha kecil yang belum terdaftar, belum tercatat dan belum berbadan hukum, antara lain petani penggarap, industri rumah tangga, pedagang asongan, pedagang keliling, pedagang kaki lima dan pemulung. Usaha kecil tradisional adalah usaha yang menggunakan alat produksi sederhana yang telah digunakan secara turun temurun yang berkaitan dengan seni dan budaya yang dimiliki dan menghidupi sebagian besar rakyat.
Menurut BPS (2002: 9), batasan mengenai skala usaha didasarkan pada kriteria jumlah tenaga kerja. Berdasarkan kreteria tersebut, skala usaha diklasifikasikan sebagai berikut: (a) usaha kecil 1-19 orang; (b) usaha menengah 20-99 orang; (c) usaha besar lebih dari 1 00 orang.
Banyak disadari bahwa Usaha Kecil dan Mikro (UKM) mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan, yaitu melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan pemberdayaan masyarakat, peningkatan produktivitas karena meningkatnya capacity building dan penyediaan jaminan sosial terhadap kelompok masyarakat ekonomi bawah. Keberhasilan UKM tidak hanya tergantung kepada produk dan modal melainkan juga pada manajemen yang tepat dalam pengelolaan perusahaan. Salah satu komponen kunci keberhasilan bisnis UKM adalah elemen konteks dalam perkembangan UKM. Elemen konteks ini meliputi pemasaran, teknologi, akses informasi, kesiapan kewirausahaan, jaringan sosial, legalitas, akses modal, dukungan pemerintah dan rencana bisnis.
Beberapa faktor manajemen merupakan komponen kritis dalam menumbuhkan peran industri secara cepat. Faktor manajemen tersebut adalah: (1) sumber-sumber keuangan yang menjamin bahwa pertumbuhan bisnis mampu membiayai pertumbuhan stok, aset tetap, dan sebagainya, yang jika tidak dapat dipenuhi, maka bisnis akan menghadapi krisis likuiditas karena tidak dapat memenuhi kewajiban finansial dalam jangka pendek, atau sering disebut
'overtrading'; (2) system resources dalam bentuk tingkat kepuasan system
mengenai suatu kebijakan, program, proyek, atau kegiatan berdasarkan informasi dan basil analisis, dibandingkan terhadap relevansi, keefektifan biaya dan keberhasilannya untuk keperluan pemangku kepentingan 1•
Evaluasi menurut jenisnya dapat dibagi menjadi : 1. Menurut waktu pelaksanaan :
• Evaluasi Fonnatif
Y aitu dilaksanakan pada waktu pelaksanaan program, bertujuan untuk memperbaiki pelaksanaan program, sehingga akan ditemukan masalah-masalah dalam pelaksanaan program.
• Evaluasi summatif
Dilaksanakan pada saat pelaksanaan program sudah selesai, bertujuan untuk menilai hasil pelaksanaan program, sehingga akan ditemukan capaian dalam pelaksanaan program.
2. Menurut Tujuan;
• Evaluasi proses : bagaimana program berjalan dengan fokus pada
.
masalah penyampaian pelayanan (service delivery).• Evaluasi biaya-manfaat : mengkaji biaya program relatif terhadap penggunaan sumber daya dan manfaat program,
• Evaluasi dampak : apakah program dapat memberikan pengaruh yang diinginkan.
Pemantauan dan evaluasi yang dilakukan merupakan bagian dari upaya pengendalian. Diharapkan pemantauan dan evaluasi dapat digunakan sebagai bahan perbaikan bagi pelaksanaan maupun bagi penyesuaian rencana, ataupun sebagai masukan bagi perencanaan selanjutnya. Kegiatan pemantauan sendiri dapat membantu kegiatan pengendalian, yaitu dengan melakukan tinjauan pada kegiatan yang sedang beljalan secara terns menerus. Sedangkan evaluasi dapat dilakukan pada tahap penyusunan rencana juga dapat dilakukan terhadap kegiatan yang telah selesai dilakukan.(bahan ajar Suyanti, 2008).
Sedangkan KKL untuk pemantauan dan evaluasi fonnatnya sama dengan K K L untuk tahap perencanaanya, hanya saja pada KKL tahap pemantauan dan evaluasi terdapat penambahan kolom pada sisi kanan kolom 5 yang berisi temuan studi /evaluasi yang digunakan untuk membandingkan antara rencana dengan realisasi (Suyanti: 1997).
Dengan penambahan kolom 5 maka akan dianalisa perbandingan indikator-indikator kinelja yang disusun pada tahap perencanaan dengan realisasi setelah proyek berjalan atau berakhir. Hal menunjukkan seberapa jauh proyek dapat mencapai tujuan-tujuannya dan digunakan untuk mengukur kinerja suatu proyek pembangunan, tindakan-tindakan koreksi, dan bahan masukan bagi perencana berikutnya serta dalam pengambilan keputusan. (teknis alat KKL dijelaskan dalam bab metodologi penelitian).
2.4. Penelitian Terdahulu.
2.4.1 Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro.
Adalah bagian dari program pemerintah yang ditujukan untuk mendukung mengembangkan Koperasi dan Usaha kecil Menengah yang layak usahanya untuk mendapat fasilitas kredit I pembiayaan dari kreditur, namun kurang memiliki jaminan yang disyaratkan oleh kreditur. Artinya yang menjadi sasaran adalah koperasi atau pengusaha UKM yang membutuhkan pendanaan dan dinyatakan layak oleh lembaga keuangan namun belum mempunyai agunan yang cukup untuk pembiayaan (Adri Said,2007).
Berdasarkan kesepakatan yang ada, ditetapkanlah 6 bank yang menjadi pelaksana KUR :
1. Bank Rakyat Indonesia 2. Bank Mandiri
3. Bank Bukopin
4. Bank Negara Indonesia 5. Bank Syariah Mandiri 6. Bank Tabungan Negara
Skema KUR adalah :
1. Nilai kredit maksimal perdebitur adalah Rp 500 juta 2. Bunga maksimal 16% pertahun
3.
Pembagian resiko jaminan pelaksana 30%perusahaan penJamm 70% dan Bank
4. Penilaian terhadap kelayakan usaha debitur sepenuhnya menjadi kewenangan bank pelaksana.
5. UMKM dan Koperasi tidak dikenakan lmbal jasa penjaminan (IJP)
Pinjaman ini bersifat tanpa agunan artinya peminjam tidak perlu menggadai asetnya untuk mendapatkan kredit ini karena sudah dijamin pemerintah sebesar 70 % melalui Perum Jamkrindo dan PT Askrindo, sisanya oleh bank itu sendiri. Guna menghindari moral hazard, bank perlu menerapkan pendekatan kehati-hatian dan tidak asal menyalurkan kredit.
Di Indonesia pada tahun pertama penyaluran KUR Mikro sudah dapat membantu 1,67 juta usaha milcro dan akhir tahun 2009 dengan ditambahnya dana penjaminan sebesar Rp 2 Triliun maka KUR diharapkan mencapai Rp 34 Triliun. (Kusmuljono, 2009).
2.4.2 Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)
Y aitu Program pemerintah untuk membantu masyarakat yang tidak memiliki apa-apa sama sekali. Terutama kaum perempuan sebagai tiang rumah tangga yang tujuannya mengentaskan kemiskinan. Dasarnya adalah agar tidak melalukan pinjaman kepada lintah darat. Mereka yang menerima PNPM adalah kelompok-kelompok perempuan rumah tangga miskin (RTM) yang produktif. Dimana terdapat tiga kelompok yang menjadi prioritas :
1. Untuk membantu mereka yang sudah tidak berdaya agar dapat survive. 2. Memberi ikan agar bisa makan,
3. Memberi pembiayaan yang sifatnya untuk usaha produktif melalui kredit mikro.
Dengan demikian semua lapisan masyarakat bisa tersentuh. 2.4.3 Permodalan Nasional Berhard
Program pemerintah yang mengarah kepada kepemilikan aset yang dilakukan oleh Pemerintah Malaysia. Dimana melalui lembaga permodalan Nasional Berhard rakyat kecil bisa memiliki saham perusahaan perusahaan besar yang go public di pasar modal. Dimana dengan program ini para pemuda yang
ingin mengembangkan usaha mendapat dukungan keuangan tennasuk bidang
franchise. (Kusmuljono, 2009).
2.4.4 Program Microcredit di Bangladesh
Program yang digulirkan oleh Grameen Bank (GB), Bangladesh Rural
Advencement Committee (BRAC) dan Bangladesh Rural Development Board's
(BRDB). Merupakan program pengentasan kemiskinan terutama untuk kaum miskin yang produktif. Menyediakan dua program yang pertama menyediakan kredit untuk masyarakat miskin sebagai modal guna meningkatkan produktivitasnya. Kedua program nonkredit berupa bantuan kesehatan, pelatihan, hak dan kewajiban sipil dan infonnasi antara sesama anggota. Kredit dimaksud bisa diberikan perorangan atau bisa per kelompok masyarakat.(Madajewicz, 1999) Penelitian menemukan bahwa :
1. Ada dampak positif yang sangat besar dari program terhadap produktivitas masyarakat yang dibantu oleh program ini sebagai strategi pengentasan kemiskinan.
2. Dampak program nonkredit, dengan adanya program pemmJaman berkelompok dapat meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap kredit, sehingga masyarakat bisa saling bertukar infonnasi untuk pembangunan masyarakatnya.
Penelitian lain di Bangladesh juga mendapatkan bahwa dengan adanya akses kredit bisa meningkatkan konsumsi perkapita, terutama non food. Misalnya meningkatnya aset tanah yang dimiliki. Meningkatnya kesejahteraan bukan hanya terhadap nasabah tapi seluruh masyarakat karena adanya efek spillover pada seluruh masyarakat lokal. Sehingga program ini menjadi efektif memberantas kemiskinan di Bangladesh.(Keman,2002)
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa nasabah yang meminjam perorangan lebih cepat meningkat kekayaannya dibandingkan dengan nasabah yang meminjam secara berkelompok. Karena mekanisme pemmJaman berkelompok mekanismenya kurang efektif dibandingkan dengan pemmJaman individu.