• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persediaan Surplus dan Persediaan Mati. Hidayat Wiweko,S.E.,M.Si.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Persediaan Surplus dan Persediaan Mati. Hidayat Wiweko,S.E.,M.Si."

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

M

j

M

j

P

P

di

di

Modul ke:

Manajemen

Manajemen Persediaan

Persediaan

Persediaan Surplus dan Persediaan Mati

Fakultas P St di Hidayat Wiweko,S.E.,M.Si. EKONOMI & BISNIS Program Studi Manajemen

(2)

MODUL 13 : Persediaan Surplus dan Persediaan Mati

Perhitungan Persediaan Surplusdan Persediaan Mati

Penghapusan dan Penyisihan Persediaan Mati

Terjadinya Persediaan Surplus dan Persediaan Mati

Rasio Persediaan Surplusdan Persediaan Mati

Persediaan Barang Bekas ModelPerhitungan yangLain

Persediaan Barang Bekas Perbaikan

Perhitungan dan Pelaporan Penatausahaan Persediaan

Surplusdan Persediaan Mati

Pemanfaatan Persediaan e tu ga da e apo a Barang Limbah Pemanfaatan Persediaan Surplus Penyimpanan Persediaan ISO9000dan ISO14000

(3)

A.

Perhitungan Persediaan Surplusdan

P

di

M ti

Persediaan Mati

Sebelum membicarakan mengenai persediaan surplus

g

p

p

dan persediaan mati, perlu dibicarakan terlebih dahulu

apa yang di maksud dengan persediaan surplus dan

persediaan mati :

p

Persediaan surplus ialah barang dalam persediaan yang

melebihi keperl an ata keb t han per sahaan

melebihi keperluan atau kebutuhan perusahaan.

Persediaan mati menunjukkan pada persediaan yang

Persediaan mati menunjukkan pada persediaan yang

tidak bergerak, atau tidak digunakan untuk waktu yang

cukup lama.

(4)

1.Persediaan Surplus

Sebelum menentukan atau menghitung apakah ada persediaan surplus atau tidak perlu terlebih dahulu persediaan surplus atau tidak, perlu terlebih dahulu ditentukan apa yang dianggap jumlah persediaan yang dianggap wajar atau tidak berlebih seperti contoh :

1. Perusahaan A: Tingkat persediaan dianggap wajar atau tidak berlebih apabila tidak melebihi kebutuhan selama 24 bulan.

2. Perusahaan B: Tingkat persediaan dianggap wajar apabila

tidak melebihi kebutuhan selama 2 kali waktu pemesanan atau pengadaan barang.

3. Perusahaan C: Tingkat persediaan dianggap wajar apabila

tidak melebihi kebutuhan selama 2 kali waktu pemesanan ditambah persediaan pengaman.

(5)

Contoh Perhitungan Persediaan Surplus

Misalnya, perusahaan B di atas memiliki persediaan suatu Misalnya, perusahaan B di atas memiliki persediaan suatu barang sebanyak 950 satuan. Waktu pemesanan barang rata – rata adalah 6 bulan. Pemakaian rata – rata barang tersebut

d l h 50 b l adalah 50 satuan per bulan.

Maka : Maka :

Tingkat persediaan yang dianggap wajar adalah sebesar 50 satuan x 6 x 2 = 600 satuan.

Dengan demikian, untuk barang dimaksud terdapat surplus atau persediaan berlebih sebanyak 350 satuan.

(6)

2.Persediaan Mati

Waktu tidak bergerak pada persediaan mati ditentukan oleh masing –g p p g masing perusahaan. Jadi, perlu juga suatu ketentuan yang bersifat kuantitatif. Beberapa contoh yang dilakukan oleh perusahaan adalah:

1. Perusahaan A menetapkan bahwa barang persediaan yang tidak bergerak selama 5 tahun atau lebih dapat dianggap sebagai

d

persediaan mati.

2. Perusahaan B menetapkan bahwa barang persediaan yang tidak bergerak selama 3 tahun atau lebih dapat dianggap sebagai persediaan mati.

3. Perusahaan C menetapkan bahwa barang yang diketahui sudah tidak mungkin digunakan lagi dapat dianggap sebagai persediaan mati

(7)

Contoh Perhitungan Persediaan Mati

Perusahaan dalam perhitungan l di d

surplus di atas pada suatu saat mempunyai persediaan barang sebanyak 2.100 satuan, dan menggunakan ketetapan persediaan

Jadi, setiap perusahaan akan selalu mengalami salah satu dari kemungkinan berikut ini:

menggunakan ketetapan persediaan mati seperti contoh perusahaan B, sehingga perusahaan tersebut memiliki:

g

1. Tidak mempunyai persediaan surplus / mati.

memiliki:

Persediaan surplus sebanyak (2.100 600) atau 1 500 satuan

2. Mempunyai persediaan surplus (saja).

3. Mempunyai persediaan surplus dan persediaan mati

– 600) atau 1.500 satuan.

Di antara surplus tadi, terdapat persediaan mati sebanyak 2.100 – 36 (50) = 300 satuan

dan persediaan mati.

4. Mempunyai persediaan mati (saja).

(8)

Ada perusahaanp yangy g menggunakangg istilah lain untuk menggambarkan persediaan surplus dan persediaan mati. Istilah – istilah lain yang digunakan tersebut, misalnya:

1. Obsolescence 2. Obsolete

3. Redundant, dan 3. Redundant, dan 4. Scrap

(9)

B.

Terjadinya Persediaan Surplusdan

Persediaan Mati

Beberapa sebab yang mungkin dapat dilakukan oleh para pengambilp y g g p p p g keputusan atau oleh mereka yang terkait dengan penggunaan barang antara lain :

1. Perhitungan yang kurang teliti sehingga mengakibatkan pembelian barang terlalu banyak.

2. Kesalahan perhitungan ramalan penggunaan yang akan datang. 3. Penggunaan formula yang kurang tepat.

4 Pencatatan data mengenai persediaan persediaan yang salah 4. Pencatatan data mengenai persediaan persediaan yang salah.

5. Perubahan program yang tidak dikomunikasikan kepada pengambil keputusan.

6. Perubahan program yang terlambat dikomunikasikan kepada pengambil keputusan.

(10)

Lanjutan …

7. Perubahan proses produksi.

7. Perubahan proses produksi.

8. Perubahaan penggunaan jenis suatu barang.

9. Penghentian penggunaan suatu peralatan (berakibat surplusg p gg p ( p / mati pada suku cadang).

10. Penerimaan barang salah pesan.

11. Penerimaan barang salah kirim.

12. Pembelian barang yang tidak standar.

13. Perubahan penentuan barang standar.

14. Turun mutu selama persediaan.

15 M t i l ti l ( b l )

15. Material yang tinggal guna (obsolescense).

(11)

C.

ModelPerhitungan yangLain

Rumus yangdapat digunakan adalah sebagai berikut:

Di mana

t* : Persediaan dalam kurun waktu ekonomis, dalam tahun

P : Harga satuan pembelian

Ps : Harga satuan penjualan kembali C : Biaya pemesanan per pesanan

t* = P – Ps + C/Q + Q

PF 2R

Q : Jumlah lot pembelian dalam satuan barang F : Persentase biaya penyediaan per tahun R : Pemakain barang per tahun

PF 2R

Surplus terjadi apabila: t > t*

Dimana t adalah persediaan dalam kurun waktu, dinyatakan dalam tahun.

(12)

Contoh Soal

Suatu barang tersedia di gudang sebanyak 200 satuan dengan harga satuan Suatu barang tersedia di gudang sebanyak 200 satuan dengan harga satuan pembeliannya ialah $20, dan mempunyai data penggunaan tahunan sebesar 100 satuan. Jumlah lot pembelian ialah 20 satuan dan biaya pembelian ialah $10 per pesanan Biaya pemesanan barang dicatat sebesar 25% Apabila harga penjualan pesanan. Biaya pemesanan barang dicatat sebesar 25%. Apabila harga penjualan kembali atau salvage value dari barang itu misalnya $15 persatuan, apakah ada jumlah yang dapat dianggap surplus?

Jawab : Jawab : P=20 Q=20 Ps=15 F=0,25 C 10 R 100 t* = P – Ps + C/Q + Q C=10 R=100 =20– 15+10/20+20 PF 2R 20x0,252x100 =5,50+1

5 10 Karena t adalah 200 / 100 = 2,0tahun maka terjadi surplus 510

=1,10+0,10 =1,2tahun

tahun, maka terjadi surplus sebanyak 0,8 tahun pemakaian atau sebesar 80 satuan.

(13)

D.

Penatausahaan Persediaan Surplus

dan Persediaan Mati

1. Identifikasi setiap barang yang mengalami surplus / mati.

2. Promosi penggunaan barang surplus dalam salah satu unit per sahaan ke nit lain

perusahaan ke unit lain.

3. Pembuataan daftar persediaan surplus dan persediaan mati untuk berbagai keperluan.

untuk berbagai keperluan.

4. Menyediakan anggaran untuk penghapusan persediaan mati.

5. Mengusahaakan perizinan mengenai penghapusan dan penyelisihan persediaan mati.

(14)

Prosedur tertulis untuk menjamin agar perusahaan melakukan pemanfaatan dan penindak lanjutan

persediaan surplus dan persediaan mati dengan baik persediaan surplus dan persediaan mati dengan baik melalui hal-hal sebagai berikut :

1. Definisi persediaan surplus dan persediaan mati.

2. Cara perhitungan persediaan surplus / mati tersebut.

3. Siapa yang berhak menyatakan persediaan surplus / mati.p y g y p p

4. Cara identifikasi persediaan surplus / mati.

5. Cara penyimpanan persediaan surplus / mati.

6 Administrasi persediaan surplus / mati

6. Administrasi persediaan surplus / mati.

7. Cara menganggarkan penghapusan persediaan mati.

8. Cara – cara penghapusan.

9 i d h

9. Jenis dan cara penghapusan.

10. Perhitungan harga persediaan surplus / mati.

11. Siapa yang berwenang menghapuskan.p y g g g p

12. Siapa yang berwenang menyisihkan.

(15)

E.

Pemanfaatan Persediaan Surplus

1. Digunakan sebagai barang pengganti atau substitusi barang

1. Digunakan sebagai barang pengganti atau substitusi barang lain yang hampir sama.

2. Ditawarkan ke unit kegiatan lain dalam perusahaan atau grup perusahaan yag sama dengan potongan harga.

3. Ditawarkan ke perusahaan lain untuk dibeli dengan harga yang menarik atau ditukar dengan barang lain

yang menarik atau ditukar dengan barang lain.

4. Dikembalikan dengan penjual barang atau ditukar dengan barang lain.g

5. Dijual ke pegawai perusahaan apabila menyangkut barang yang dapat digunakan oleh mereka.

(16)

F.

PenyimpananPersediaanSurplusdan

PersediaanMati

B l k Persediaan mati tidak ada Barang surplus merupakan

persediaan yang masih hidup, belum mati, sehingga masih akan digunakan lagi meskipun dalam

Persediaan mati tidak ada kemungkinan akan digunakan lagi, atau paling – paling mungkin digunakan dalam waktu yang lama,

digunakan lagi meskipun dalam waktu yang mungkin relatif agak lama.

digunakan dalam waktu yang lama, maka cara penyimpanannya harus sedemikian rupa sehingga tidak makan ruangan banyak dan

Oleh karena itu, cara penyimpanannya biasanya tidak

membutuhkan biaya banyak.

Sehingga, persediaan mati

perlu dibedakan atau dipisahkan dari penyimpanan barang persediaan biasa, jadi tetap

Sehingga, persediaan mati penyimpanannya harus disendirikan dan dipisahkan dari persediaan yang masih hidup.

p

disatukan dengan lot lain yang tidak surplus.

(17)

Apabila ruangan gudang terbatas maka dapat disimpan

dengan cara memasukkan ke dalam peti dan melakukan

langkah-langkah berikut ini

1. Setiap peti diberi identifikasi tertentu agarmudah

dikenali.

2. Setiap peti dilengkapi dengan daftar isi persediaan

mati tersebut,sekurang – kurangnya nama barang,

kode barang dan jumlah barang

kode barang,dan jumlah barang.

3. Peti disimpan dalam keadaan aman sedemikian rupa

sehingga apabila barang dijual atau disisihkan masih

sehingga apabila barang dijual atau disisihkan,masih

dalam keadaan baik.

(18)

G.

Penghapusan dan Penyisihan

Persediaan Mati

1. Penghapusan Persediaan Mati

Penghapusan adalah tindakan yang berhubungan dengan pembukuan barang persediaan dalam tata pembukuan keuangan.

2. Penyisihan Persediaan Mati

Penyisihan adalah tindakan yang bersifat fisik, yang dilakukan dengan maksud menyingkirkan secara fisik barang atau persediaan mati tersebut dariy g g p gudang atau halaman perusahaan.

3. Penyisihan Barang Pemerintah

3. Penyisihan Barang Pemerintah

Pada perusahaan milik Negara atau pemerintah wewenang penghapusan masih berada ditangan pimpinan perusahaan tersebut, tetapi wewenang penyisihan berada ditangan menteri keuangan. Untuk perusahaan Negara penyisihan berada ditangan menteri keuangan. Untuk perusahaan Negara tertentu, ada beberapa pengecualian yang diatur tersendiri.

(19)

Beberapa kemungkinan tindakan penyisihan dapat berupa: Beberapa kemungkinan tindakan penyisihan dapat berupa:

1. Membakar, membuang, menanam barang mati tersebut. 1. Membakar, membuang, menanam barang mati tersebut. 2. Menjual kembali kepada penjual semula.

3. Menukarkan kepada penjual semula dengan barang lain.p p j g g 4. Menjual kepada umum.

5. Menjual kepada karyawan.j p y

(20)

H.

Rasio Persediaan Surplusdan

Persediaan Mati

Nilai Persediaan Surplus

Rasio Surplus

=

Nilai Persediaan Total

Nilai Persediaan Mati

Rasio Persediaan mati =

Nilai Persediaan Total

Nilai Persediaan Total

(21)

Contoh Perhitungan Rasio Persediaan

Surplus dan Persediaan Mati

Misalkan dalam perusahaan A terdapat persediaan barang senilai $ 1 000 000 dimana terdapat persediaan surplus senilai $ 130 000 dan 1.000.000, dimana terdapat persediaan surplus senilai $ 130.000 dan persediaan mati senilai $ 23.000. maka perhitungan rasionya menjadi:

$ 130.000 Rasio Surplus =

$ 1.000.000

= 0,13 atau 13%

$ 23.000 Raiso Persediaan Mati =

$ 1 000 000 $ 1.000.000 = 0,023 atau 2,3%

(22)

Apakah nilai 13% atau 2.3 % itu “baik” atau “jelek” memang masih harus dibandingkan lagi dengan rasio perusahaan lain yang sejenis dan harus dibandingkan lagi dengan rasio perusahaan lain yang sejenis, dan kalau dapat perlu dibandingkan lagi dengan rasio perusahaan unggulan (benchmark) untuk mngetahui tingkat efisiensi perusahaan tersebut dalam bidang pencegahan surplus dan persediaan mati

dalam bidang pencegahan surplus dan persediaan mati.

Namun, setidaktidaknya kalau dari tahun ke tahun rasio tersebut dihitung, maka dapat diketahui kemajuan pengolahan persediaan dalam hal dimaksud. Ada perusahaan yang menganggap bahwa batas rasio persediaan mati terhadap seluruh persediaan yang dianggap wajar

p p p y g gg p j

adalah 2.5%. Oleh karena itu, perusahaan mencadangkan anggaran sebesar itu pula untuk penghapusan nilai persediaan mati tersebut pada akhir tahun anggaran.

(23)

I.

Persediaan Barang Bekas Perbaikan

Persediaan barang bekas adalah barang yang sesudah digunakan dan mengalami kerusakan masih dapat diperbaiki kembali, dan selanjutnya masih dapat digunakan kembali meskipun sudah tidak baru lagi (salvage masih dapat digunakan kembali meskipun sudah tidak baru lagi (salvage materials). Dalam hal perusahaan menempuh usaha ini, beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan antara lain:

1 B di i i i l 4 B b k b ik d

1. Barang persediaaan seperti ini perlu diberi tanda pengenal khusus, agar dapat dikenal dengan mudah.

2 Pemakai barang harus sadar apakah

4. Barang bekas perbaikan dapat digunakan sebagai pengganti barang sama yang baru atau sebagai subtitusi barang yang hampir sama.

2. Pemakai barang harus sadar apakah akan menggunakan barang bekas perbaikan atau barang baru.

3. Penggunaan barang bekas perbaikan

g y g p

5. Harga barang bekas perbaikan ini perlu ditentukan secara baru, misalnya sesuai dengan biaya perbaikannya.

gg g p

ini sejauh mungkin harus didahulukan dan diprioritaskan dari pada membeli barang baru.

6. Pemakai yang mengembalikan barang bekas untuk diperbaiki lagi perlu diberi perangsang dengan mengurai

bi b i d il i i

biaya bagiannya dengan nilai sisa barang bekas yang dikembalikan.

(24)

J.Perhitungan dan Pelaporan

Ada tiga jenis perhitungan persediaan surplus dan persediaan Ada tiga jenis perhitungan persediaan surplus dan persediaan mati yang perlu dilakukan dengan maksud yang berbeda :

1. Perhitungan secara keseluruhan

Hasil perhitungan akan menunjukan prestasi kerja

l l di k l h

pengelolaan persediaan secara keseluruhan.

2. Perhitungan satu per satu

Hasil perhitungan akan menunjukan prestasi kinerja Hasil perhitungan akan menunjukan prestasi kinerja pengelolaan persediaan barang satu demi satu.

3. Perhitungan Kelompok barang

(25)

Tabel 1 Perhitungan Surplus Jenis Kelompok / Barang Nilai Pemakaian 1 tahun Surplus Tubular Goods $ $ $ Pipes 2” Pipes 4” Pipes 6” 5.000 15.000 46 000 1.750 7.600 26 760 1.500 -Pipes 6” 46.000 26.760 -Small tools Spanners 1.500 600 300 Scewdriver 2.100 750 600 Chemicals Caustic Soada 6.450 4.320 -HCI 5.400 2.300 800 Keseluruhan 81.450 44.080 -Tubular Goods 66 000 36 110 Tubular Goods 66.000 36.110 -Small Tools 3.600 1.350 900 Chemicall 11.850 6.620

(26)

-Perusahaan A menetapkan bahwa yang dimaksud dengan persediaan surplus ialah persediaan yang melebihi pemakaian selama dua tahun. Perusahaan tersebut pada suatu saat mempunyai tujuh jenis barang persediaan yang terdiri dari tiga mempunyai tujuh jenis barang persediaan yang terdiri dari tiga kelompok dengan data sebagai berikut:

Dari contoh perhitungan diatas dapat diketahui bahwa apabila dihitung satu persatu, ada surplus sebesar $3.200 ($1.500 + $300 + $600 + $800) dan apabila dihitung per kelompok hanya $300 + $600 + $800), dan apabila dihitung per kelompok, hanya ada surplus sebesar $900, yaitu golongan small tools, dan apabila dihitung secara keseluruhan, sebetulnya tidak ada surplus sama

k li sekali.

(27)

K.

Barang Limbah

Barang limbah adalah barang yang mempunyai karakteristik khusus dan tidak termasuk dalam kategori barang surplus khusus dan tidak termasuk dalam kategori barang surplus ataupun persediaan mati.

Barang limbah atau waste merupakan barang yang tidak utuh, yang merupakan hasil dari salah satu hal berikut ini :

a. Sisa dari suatu proses

b. Sisa dari suatu penggunaan

c. Kebocorankebocoran dari suatu tempat penyimpanan

d. Barang atau peralatan yangsudah rusak Si b k ( ki ) t b

(28)

Untuk dapat dianggap sebagai limbah berbahaya (

Untuk dapat dianggap sebagai limbah berbahaya (

hazardous waste ), dua persyaratan perlu dipenuhi,

yaitu:

y

1. Whether the material is a solid waste

2. Whether the solid waste is hazardous

(29)

L.

ISO9000dan ISO14000

ISO 9000 adalah standar manajemen mutu yang perlu

ISO 9000 adalah standar manajemen mutu yang perlu

dilakukan

oleh

perusahaan

yang

dikeluarkan

oleh

International Organization for Standardization.

ISO 14000 adalah standar manajemen lingkungan yang

perlu dilakukan perusahaan atau entitas yang memiliki

sertifikat

seri

ISO

14000

berarti

telah

melakukan

manajemen lingk ngan ses ai dengan ketent an standar

manajemen lingkungan sesuai dengan ketentuan standar

tersebut.

(30)

ISO 9001 butir 15 secara khusus mengatur mengenai

i

k

d

penanganan,

penyimpanan,

pengepakan,

dan

penyampaian.

Keterkaitan persediaan surplus dan persediaan mati

dengan ISO 14000 adalah apabila menyangkut barang

dengan ISO 14000 adalah apabila menyangkut barang

persediaan atau limbah berbahaya ( hazardous waste )

yang dapat mempengaruhi kelestarian dan lindungan

yang dapat mempengaruhi kelestarian dan lindungan

lingkungan.

(31)

Subjek atau topik yangdiatur dalam ISO14000dapat

diklasifikasikan sebagai berikut:

diklasifikasikan sebagai berikut:

EnvironmentalManagement

St d d 2 Product Evaluation Standard Standards

1. Organization Evaluation Standard

2. Product Evaluation Standard

a. Environmental Aspects in a. Environmental Management System p Product Standards (ISO 1460) b i l b li y (ISO 14001, ISO 14004) b. Environmental Auditing

(ISO 14010 ISO 14011 ISO

b. Environmental Labeling

(ISO 14020, ISO 14021, ISO 14022, ISO 14023, ISO 14024).

(ISO 14010, ISO 14011, ISO 14012)

c. Environmental Performance Evaluation

, , )

c. Life Cycle Assessment

(ISO 144040, ISO 14041, ISO )

Evaluation

(32)

Hal- hal berikut ini adalah untuk memahami lebih lanjut

mengenai apa yang tercakup dalam Environmental Management mengenai apa yang tercakup dalam Environmental Management System:

a. Kebijakan. i. Dokumentasi.

a. Kebijakan.

b. Aspek dan dampak lingkungan.

K i l l d

i. Dokumentasi.

j. Prosedur pengawasan.

k. Kesiapan keadaan darurat.

c. Kepentingan legal dan kepentingan lain.

d. Tujuan dan target.

l. Monitor dan pengukuran.

m. Tindakan korektif dan preventif

j g

e. Program manajemen.

f. Struktur dan tanggung j b

preventif.

n. Audit.

o. Penilaian manajemen jawab.

g. Pelatihan, kesadaran, dan kemampuan.

(mengenai efektivitas dan kecukupan)

p

(33)

Aspek dan Dampak lingkungan perlu diperhatikan hal

hal sebagai berikut:

hal sebagai berikut:

1 A k a.Sumber asala.Sumber asal f.Emisi gasf.Emisi gas 1.Aspek

Lingkungan limbahlimbah

b.Pembuangan limbah b.Pembuangan limbah buangan mobil buangan mobil g.Penggunaan bahan kimia g.Penggunaan bahan kimia c.Pembuangan air hasil taufan c.Pembuangan air hasil taufan d.Sumber emisi d.Sumber emisi air h.Penggunaan air i.Penggunaan i.Penggunaan energi udara udara e.Emisi udara berbahaya e.Emisi udara berbahaya energi energi j.Penggunaan sumber alami j.Penggunaan sumber alami k Produk tinggal k Produk tinggal guna k.Produk tinggal guna 2 P b 2.Pembuangan Produk

(34)

Lanjutan …

3.Dampakp Lingkungan a.Dampak pada ekologi a.Dampak pada ekologi b. Dampak pada b. Dampak pada c. pada c.Dampak pada polusi

a Dampak pada flora

sumber alam b.Dampak pada

sumber alam

a. Dampak pada tanah pertanian.

a. Dampak pada udara. b. Dampak pada air.

c. Dampak pada tingkat radiasi. d Dampak pada erosi tanah a. Dampak pada flora.

b. Dampak pada fauna. c. Dampak pada diversitas

hayati.

d D k d h bit t b. Dampak pada sumber daya hutan.

c. Dampak pada persediaan air. d. Dampak pada mineral.

d. Dampak pada erosi tanah. e. Dampak pada timbulnya

limbah.

f. Dampak pada tingkat

k i i

d. Dampak pada habitat.

e. Dampak pada pemandangan dan keindahan alam.

d. Dampak pada mineral. e. Dampak pada sumber daya

kelautan.

f. Dampak pada tanah basah. g Dampak pada hutan tadah

kontaminasi.

g. Dampak pada hutan tadah hujan.

(35)

Kesimpulan

• Dalam bab ini, kita mempelajari tentang apa yang dimaksudDalam bab ini, kita mempelajari tentang apa yang dimaksud dengan persediaan surplus dan persediaan mati. Tentang bagaimana cara menghitungnya, memanfaatkannya,

i d l i l i M d l hi hi

menyimpannya, dan lainlain. Model perhitunganperhitungan yang ada dapat membantu manajer dalam menentukan atau menghitung jumlah barang yang harus dipesan. Hal ini sangatg g j g y g p g perlu diketahui agar tidak menjadi beban bagi perusahaan karena biaya yang dikeluarkan untuk penyimpanan dan halhal lainnya sangat besar

(36)

Terima Kasih

Terima Kasih

Gambar

Tabel 1 Perhitungan Surplus Jenis Kelompok /  Barang Nilai Pemakaian1 tahun Surplus Tubular Goods $ $ $ Pipes 2” Pipes 4” Pipes 6” 5.000 15.00046 000 1.7507.600 26 760 1.500-Pipes 6”46.00026.760 -Small tools Spanners 1.500 600 300 Scewdriver 2.100 750 600

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pengawasan pasar modal oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan dan bagaimana

Data kuantitatif yang diperoleh dari Uji validasi Ahli Lapangan (Guru BK) terhadap buku panduan diperoleh rata-rata total 89% yang kemudian diintrepretasikan

Pada hasil olah data yang menggunakan aplikasi SPSS 22 yang hasilnya telah digambarkan di awal pembahasan menyatakan bahwa variabel Tanggung Jawab berpengaruh positif

Dari beberapa penelitian di atas dapat diketahui bahwa persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan penulis lakukan adalah tentang toleransi,

 Dengan demikian, sumberdaya domestik yang harus dikorbankan untuk menghemat atau memperoleh devisa dari proses produksi padi lebih kecil dari sumberdaya domestik yang tersedia

Abdulrachman Saleh menyampaikan rencana-rencana para petugas radio, untuk mempersembahkan Radio Republik Indonesia kepada Presiden dan Pemerintah RI guna perhubungan dengan

Demikian pula berdasarkan status penduduk dalam bekerja pada Agustus 2015 relatif sama dengan Agustus 2014 dimana yang berstatus formal di NTT hanya sebesar 21,40 persen lebih

Visi UPT Perpustakaan Institut Seni Indonesia Yogyakarta adalah mewujudkan perpustakaan sebagai penyedia informasi bidang seni dan budaya yang lengkap dan