• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keywords : Training, Goal Clarity, Support Superior and SAKD Usefulness.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Keywords : Training, Goal Clarity, Support Superior and SAKD Usefulness."

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PELATIHAN, KEJELASAN TUJUAN, DAN DUKUNGAN

ATASAN TERHADAP KEGUNAAN SISTEM AKUNTANSI

KEUANGAN DAERAH (SAKD)

(STUDI EMPIRIS PADA PEMERINTAH KOTA BUKITTINGGI)

Zurriya Yuswanita1, Ethika, SE, M.Si2, Popi Fauziati, SE,M.Si2

Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta

E-mail1 : [email protected]

E-mail2 : [email protected] E-mail2 : [email protected]

Abstract

Since the change of accountancy record from local financial manual (MAKUDA) in 1981 to computerization which make the civil servant in making financial report should be accurate, relevant, and valuable. The aim of this research is for determining the influence of training, goal clarity and support superior against the use of local government system which using multiple regression analysis. The object of this research is the civil servant of financial department in Bukittinggi. The methodology of aggregation data use purposive sampling. This research has four variables which three variable are dependent variable: training, goal clarity, and support superior and one independent variable is SAKD usefulness. Based on the result of data analysis and testing hypothetical, the conclusion can be got is goal clarity and support superior has significant effect to SAKD usefulness, then training variable doesn’t has significant effect against SAKD usefulness. The value of determination coefficient show that training, goal clarity and support superior are together effect the independent (SAKD usefulness) is 35,10%, then 64,90% is effected by others variable which doesn’t explain in this research.

Keywords : Training, Goal Clarity, Support Superior and SAKD Usefulness.

1. PENDAHULUAN

Pengertian otonomi daerah menurut Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan

perundang-undangan. Pemerintah daerah

selaku badan yang memiliki kewenangan dalam melakukan pemanfaatan dana publik

harus dapat menyediakan informasi

keuangan yang dibutuhkan secara relevan, tepat waktu, akurat, dan dapat dipercaya. Untuk itu pemerintah daerah membutuhkan sebuah sistem dan prosedur pengelolaan keuangan yang baru guna menggantikan sistem yang selama ini digunakan yaitu Manual Administrasi Keuangan Daerah (MAKUDA) yang telah dipakai di daerah– daerah semenjak tahun 1981. Sistem ini tidak

(2)

2 mendukung lagi kebutuhan pemerintah

dalam menghasilkan laporan keuangan yang dibutuhkannya.

Sistem akan berjalan baik jika ada dukungan dari beberapa pihak seperti dukungan direksi dan pimpinan. Melalui

dukungan dari pihak-pihak tersebut

diharapkan semua anggota pada organisasi dapat digerakan dalam penyatuan visi dan

misi pemanfaatan sistem. Selain dari

pemanfaatan sistem baru tentu akan timbul kepanikan dalam pengoperasiannya sehingga memunculkan rasa prustasi setelah masa pengimplementasikan sistem tersebut. Dalam

sistem yang berbasis teknologi akan

pemanfaatannya akan efektif apabila

pengguna merasakan banyak manfaat dari sistem. Berhasilnya penggunaan sebuah

sistem dan prosedur keuangan yang

berdasarkan teknologi informasi jika

pengguna yang menjadi objek tujuan

dibuatnya sistem bisa menggunakan

perangkat dengan maksimal tanpa terjadinya masalah pada organisasi setelah sistem baru tersebut digunakan.

Dalam penelitian Nurlaela dan

Rahmawati (2010) tentang pengaruh faktor keperilakuan organisasi terhadap kegunaan sistem akuntansi keuangan daerah (SAKD)

menyatakan bahwa tidak berhasil

membuktikan adanya hubungan positif

pelatihan dan kejelasan tujuan dengan kegunaan SAKD. Namun hasil yang berbeda

dengan dukungan atasan, hasil dari

penelitiannya menyatakan bahwa adanya hubungan positif dukungan atasan dengan kegunaan SAKD.

Sejalan dengan hasil penelitian oleh Latifah dan Sabeni (2007) yang memperoleh hasil bahwa tidak berhasil membuktikan adanya hubungan positif pelatihan dan kejelasan tujuan dengan kegunaan SAKD. Namun untuk dukungan atasan hasil yang diperoleh berbeda dengan pelatihan dan kejelasan tujuan. Hasil dari penelitiannya menyatakan bahwa adanya hubungan positif dukungan atasan dengan kegunaan SAKD.

Sedangkan penelitian yang dilakukan

oleh Mranani dan Lestiorini (2011)

menyatakan bahwa tidak adanya pengaruh positif pelatihan dan kejelasan tujuan terhadap SAKD, tidak diterima. Sedangkan untuk dukungan atasan hasil penelitiannya menyatakan bahwa adanya pengaruh positif dukungan atasan terhadap kegunaan SAKD, tidak diterima.

Berdasarkan uraian ringkas latar

belakang masalah peneliti merasa tertarik untuk meneliti kembali tentang bfaktor-faktor organisasional yang mempengaruhi kegunaan sistem keuangan daerah. Oleh sebab itu peneliti melakukan sebuah replikasi penelitian yang telah dilakukan oleh Nurlaela dan Rahmawati (2010). Penelitian yang dilakukan adalah penelitian empris. Secara umum penelitian ini lebih sederhana dari penelitian sebelumnya yaitu model yang digunakan hanya melihat pengaruh langsung

(3)

3 antara variabel independen dengan variabel

dependen. Selain itu, peneliti menggunakan tempat dan waktu observasi yang berbeda. Penelitian terdahulu telah dilakukan di pulau Jawa sedangkan pada penelitian ini dilakukan

di kota Bukitinggi Sumatera Barat,

diharapkan hasil yang diperoleh di dalam penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada penelitian yang senada terhadap topik ini.

Tujuan penelitian ini yaitu ingin

membuktikan secara empiris: pengaruh pelatihan, kejelasan tujuan dan dukungan

atasan terhadap kegunaan SAKD di

Pemerintah Kota Bukittinggi.

2. TELAAH TEORI DAN

PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Sistem Akuntansi Keuangan Daerah

(SAKD)

Sistem akuntansi keuangan daerah

menurut peraturan yang lama (Kepmendagri Nomor 29 tahun 2002) dalam Halim (2008) adalah sistem akuntansi yang meliputi proses

pencatatan, penggolongan, penafsiran,

peringkasan transaksi atau kejadian

keuangan, serta pelaporan keuangannya

dalam rangka pelaksanaan Anggaran

Pendapatan Belanja Daerah (APBD)

dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum. Pengertian lain tentang SAKD ini menurut Halim (2008) adalah suatu proses pengidentifikasian,

pengukuran, pencatatan dan pelaporan

transaksi ekonomi (keuangan) dari entitas pemerintah daerah atau Pemda (kabupaten, kota, atau provinsi) yang dijadikan informasi

dalam rangka pengambilan keputusan

ekonomi yang diperlukan oleh pihak-pihak

eksternal entitas pemda. Pihak-pihak

eksternal yang memerlukan informasi yang dihasilkan oleh akuntansi keuangan daerah antara lain: dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD), badan pengawas keuangan (BPK), investor, kreditur, donatur, analis ekonomi, pemerhati pemda, rakyat, pemda lain, dan pemerintah pusat.

2.2 Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006

Secara garis besar SAKD menurut Halim (2008) terdiri dari :

a. Akuntansi Penerimaan Kas

Akuntansi penerimaan kas adalah

serangkaian proses baik manual maupun terkomputerisasi, mulai dari pencatatan, penggolongan, dan peringkasan transaksi dan atau kejadian keuangan hingga pelaporan

keuangan dalam rangka pertanggung

jawaban pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang berkaitan dengan penerimaan kas pada SKPD dan atau SKPKD.

(4)

4

Akuntansi pengeluaran kas adalah

serangkaian proses baik manual maupun terkomputerisasi, mulai dari pencatatan, penggolongan, dan peringkasan transaksi dan atau kejadian keuangan hingga pelaporan

keuangan dalam rangka pertanggung

jawaban pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang berkaitan dengan pengeluaran kas pada SKPD dan atau SKPKD.

c. Akuntansi Aset

Akuntansi aset pada SKPD meliputi serangkaian proses pencatatan dan pelaporan akuntansi atas perolehan, pemerliharaan,

rehabilitasi, perubahan klasifikasi,

penghapusan, pemindahtanganan, dan

penyusutan terhadap aset tetap yang dikuasai atau digunakan SKPD dan atau SKPKD. Transaksi – transaksi tersebut secara garis besar digolongkan dalam 2 kelompok besar transaksi yaitu penambahan dan pengurangan nilai aset.

d. Akuntansi Selain Kas

Akuntansi selain kas adalah serangkaian

proses baik manual maupun

terkomputerisasi, mulai dari pencatatan, penggolongan, dan peringkasan transaksi dan atau kejadian keuangan hingga pelaporan

keuangan dalam rangka pertanggung

jawaban pelaksanaan APBD yang berkaitan dengan transaksi dan atau kejadian keuangan selain kas pada SKPD dan atau SKPKD.

2.3 Tinjauan Penelitian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis

2.3.1 Pengaruh Pelatihan Terhadap Kegunaan SAKD

Menurut Shield (1995) dalam Mranani dan Lestiorini (2011) berpendapat bahwa pelatihan dalam desain implementasi dan penggunaan suatu inovasi seperti adanya sistem baru memberikan kesempatan bagi

organisasi untuk dapat mengartikulasi.

Dalam penelitian Nurlaela dan Rahmawati

(2010) pengaruh faktor keperilakuan

organisasi terhadap kegunaan sistem

akuntansi keuangan daerah (SAKD)

menyatakan bahwa tidak berhasil

membuktikan adanya hubungan positif

pelatihan dengan kegunaan SAKD.

Latifah dan Sabeni (2007) didalam

penelitiannya tentang pengaruh faktor

keprilakuan organisasi terhadap

implementasi SAKD yang menyatakan bahwa tidak berhasil membuktikan adanya hubungan positif pelatihan dengan kegunaan SAKD. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mranani dan Lestiorini (2011) menyatakan bahwa tidak adanya pengaruh positif pelatihan terhadap SAKD, tidak diterima.

Hipotesis 1 : Pelatihan berpengaruh

signifikan terhadap kegunaan SAKD

(5)

5

2.3.2 Pengaruh Kejelasan Tujuan Terhadap Kegunaan SAKD

Chenhall (2004) dalam Nurlaela dan

Rahmawati (2010) menjelaskan bahwa

kejelasan tujuan didefinisikan sebagai

kejelasan dari sasaran dan tujuan

digunakannya Sistem Akuntansi Keuangan Daerah di semua level organisasi. Sedangkan

menurut Latifah dan Sabeni (2007)

menjelaskan bahwa kejelasan tujuan dapat menentukan suatu keberhasilan sistem karena individu dengan suatu kejelasan tujuan, target yang jelas dan paham bagaimana

mencapai tujuan, mereka dapat

melaksanakan tugas dengan ketrampilan dan kompetensi yang dimiliki.

Dalam penelitian Nurlaela dan

Rahmawati (2010) menyatakan bahwa tidak berhasil membuktikan adanya hubungan positif kejelasan tujuan dengan kegunaan SAKD. Sejalan dengan hasil penelitian oleh Latifah dan Sabeni (2007) yang memperoleh hasil bahwa tidak berhasil membuktikan adanya hubungan positif kejelasan tujuan

dengan kegunaan SAKD. Sedangkan

penelitian yang dilakukan oleh Mranani dan Lestiorini (2011) menyatakan bahwa tidak adanya pengaruh positif kejelasan tujuan terhadap SAKD, tidak diterima.

Hipotesis 2 : Kejelasan tujuan berpengaruh signifikan terhadap kegunaan SAKD

2.3.3 Pengaruh Dukungan Atasan Terhadap Kegunaan SAKD

Chenhall (2004) dalam Nurlaela dan Rahmawati (2010) mengungkapkan bahwa

dukungan atasan diartikan sebagai

keterlibatan manajer dalam kemajuan proyek

dan menyediakan sumber daya yang

diperlukan. Dan menurut Shield (1995) dalam Latifah dan Sabeni (2007) berpendapat bahwa dukungan manajemen puncak (atasan)

dalam suatu inovasi sangat penting

dikarenakan adanya kekuasaan manajer terkait dengan sumber daya. Manajer (atasan) dapat fokus terhadap sumber daya yang diperlukan, tujuan dan inisiatif strategi yang

direncanakan apabila manajer (atasan)

mendukung sepenuhnya dalam implementasi. Penelitian yang dilakukan oleh Latifah dan Sabeni (2007) yang menyatakan bahwa adanya hubungan positif dukungan atasan dengan kegunaan SAKD. Sejalan dengan Mranani dan Lestiorini (2011) menunjukkan

hasil bahwa adanya pengaruh positif

dukungan atasan terhadap kegunaan SAKD, tidak diterima.

Hipotesis 3 : Dukungan atasan

berpengaruh signifikan terhadap kegunaan SAKD

(6)

6

3. METODE PENELITIAN

3.1 Populasi dan Variabel yang Digunakan

Pada penelitian ini yang menjadi

populasinya adalah PNS pada SKPD di kota Bukittinggi, yaitu yang bekerja di bagian keuangan baik dinas, badan, kantor dan kecamatan. Dengan metode pengambilan sampel purposive sampling. Sekaran (2011) mendefenisikan purposive sampling adalah

metode mengumpulkan sampel yang

berdasarkan tujuan penelitian.

Penelitian ini terdapat 2 variabel yaitu variabel terikat dan variabel bebas. Dalam penelitian ini yang menjadi varibel bebasnya adalah SAKD (Sistem Akuntansi Keuangan Daerah). Kuesioner untuk variabel SAKD ini terdapat 9 item pertanyaan yang diukur dengan menggunakan skala Likert 5 poin yaitu dimulai dari angka 1 (Sangat Tidak Setuju), angka 2 (Tidak Setuju), angka 3 (Netral), angka 4 (Setuju) dan angka 5 (Sangat Setuju).

Dan yang menjadi variabel

independennya adalah pelatihan, kejelasan tujuan, dan dukungan atasan. Kuesioner pelatihan terdapat 8 item pertanyaan, dimana pengukuran variabel pelatihan dengan skala Likert 5 poin yaitu dimulai dari angka 1 (Sangat Tidak Setuju), angka 2 (Tidak Setuju), angka 3 (Netral), angka 4 (Setuju) dan angka 5 (Sangat Setuju). Kuesioner kejelasan tujuan terdapat 10 item pertanyaan,

dengan skala yang digunakan untuk

mengukur kejelasan tujuan adalah skala Likert 5 poin yaitu dimulai dari angka 1 (Sangat Tidak Setuju), angka 2 ( Tidak Setuju), angka 3 (Netral), angka 4 (Setuju) dan angka 5 (Sangat Setuju). Dan kuesioner dukungan atasan terdapat 6 item pertanyaan. Skala yang digunakan untuk mengukur dukungan atasan adalah skala Likert 5 poin yaitu dimulai dari angka 1 (Sangat Tidak Setuju), angka 2 (Tidak Setuju), angka 3 (Netral), angka 4 (Setuju) dan angka 5 (Sangat Setuju).

3.2 Metode Analisis Data 3.2.1 Uji Validitas

Uji validitas adalah uji yang digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner menurut Ghozali (2011). Alat uji yang bisa digunakan untuk mengukur tingkat interkorelasi antar variabel dan dapat tidaknya dilakukan analisis faktor adalah Kaiser Meyer Olkin (KMO). Nilai KMO bervariasi dari 0 sampai 1, dan nilai KMO yang dikehendaki adalah harus>0,50 untuk dapat dilakukan analisis faktor menurut Ghozali (2011).

3.2.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas bertujuan untuk

mengetahui sejauh mana hasil pengukuran

tetap konsisten, apabila dilakukan

pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat pengukur yang sama pula menurut Siregar (2013). Untuk mengukur apakah data realibel atau handal dengan menggunakan

(7)

7 koefisien alpha Cronbach. Apabila nilai

Koefisien alpha cronbach>0,6 maka data tersebut dapat dinyatakan realibel atau handal Siregar (2013).

3.2.3 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk

mengetahui apakah populasi data

berdistribusi normal atau tidak. Bila data berdistribusi normal, maka digunakan uji statistik parametrik (Siregar, 2013). Dengan menggunakan metode Kolmogrov-Smirnov

(K-S). Jika hasil Kolmogrov-Smirnov

menunjukkan nilai signifikan di atas 0,05 maka data terdistribusi secara normal. Sedangkan jika hasil Kolmogrov-Smirnov menunjukkan nilai signifikan dibawah 0,05 maka data tidak terdistribusi secara normal (Ghozali, 2011).

3.2.4 Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas adalah untuk

menguji apakah model regresi ditemukan

adanya korelasi antar variabel bebas

(independen) menurut Ghozali (2011). Ada atau tidaknya korelasi sebuah data dapat dilihat dari nilai tolerance dan lawannya, dan Variance Inflation Factor (VIF). Nilai

cutoff yang umum dipakai untuk

menunjukkan adanya multikolonieritas

adalah nilai tolerance <0,10 atau sama dengan nilai VIF>10 menurut Ghozali (2011).

3.3 Pengujian Hipotesis

Secara umum tahapan pengujian

hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:

1. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefesien determinasi (R2) pada intinya

mengukur seberapa jauh kemampuan model

dalam menerangkan variasi variabel

dependen. Nilai koefesien determinasi adalah antara nol dan satu, Ghozali (2011).

2. Uji F-Statistik

Uji statistik F bertujuan untuk

mengetahui apakah semua variabel

independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap varibel dependen atau terikat menurut Ghozali (2011). Dengan kaidah pengujian menurut Ghozali (2011) adalah berdasarkan signifikan, kriterianya adalah signifikasi>0,05 maka Ho diterima dan jika signifikasi<0,05 maka Ho ditolak.

3. Uji t-Statistik

Merupakan suatu uji statistik yang digunakan untuk mengetahui seberapa jauh

pengaruh satu variabel penjelas atau

independen secara individual dalam

menerangkan variasi variabel dependen menurut Ghozali (2011). Dengan asumsi bahwa variabel lain dianggap konsisten, dengan kaidah pengujian untuk uji t adalah berdasarkan signifikan, dengan kriterianya adalah jika signifikasi>0,05 maka Ho

(8)

8 signifikasi<0,05 maka Ho ditolak menurut

Ghozali (2011).

4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Tingkat Pengembalian Data Responden

Data untuk penelitian ini diperoleh dengan cara mengantar langsung kuesioner dan menjeput kembali. Proses pengambilan hampir 4 minggu ,yaitu pada akhir bulan Mei 2013 sampai bulan Juni 2013. Sampel dalam penelitian ini adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) bagian keuangan di SKPD (Satuan Perangkat Kerja Daerah) Kota Bukittinggi. Jumlah kuesioner yang disebarkan adalah 120 kuesioner dengan 9 kuesioner yang tidak kembali. Dari jumlah yang kembali tersebut tidak terdapat kuesioner yang tidak dapat dilakukan dalam analisis akhir, sehingga kuesioner yang kembali dan bisa dilakukan analisis adalah 111 kuesioner.

4.2 Teknik Pengujian Data 4.2.1 Hasil Pengujian Validitas

Dari hasil pengujian validitas terhadap instrumen variabel pelatihan dengan 8 item pertanyaan adalah item valid dengan factor loading terendah sebesar 0,585 sedangkan factor loading tertinggi sebesar 0,730,

dengan nilai KMO sebesar 0,713.

Berdasarkan hasil pengujian dapat

disimpulkan bahwa data yang diperoleh valid. Untuk variabel kejelasan tujuan yang

diukur dengan 10 item pertanyaan adalah item valid dengan factor loading terendah sebesar 0,488 sedangkan factor loading tertinggi sebesar 0,824, dengan nilai KMO sebesar 0,872. Berdasarkan hasil pengujian

dapat disimpulkan bahwa data yang

diperoleh valid.

Untuk variabel dukungan atasan yang diukur dengan 6 item pertanyaan adalah item valid dengan factor loading terendah sebesar 0,791 sedangkan factor loading tertinggi sebesar 0,863, dengan nilai KMO sebesar 0,840. Berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh valid. Dan untuk variabel kegunaan SAKD yang diukur dengan 9 item pertanyaan, adalah item valid dengan factor loading terendah sebesar 0,653 sedangkan factor loading tertinggi sebesar 0,849, dengan KMO sebesar 0,874, berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan data yang diperoleh valid.

4.2.2 Hasil Pengujian Reliabilitas

Berdasarkan hasil olah data diketahui bahwa seluruh variabel yang digunakan dalam penelitian memiliki nilai cronbach’s alpha>0,6 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian yang terdiri dari pelatihan, kejelasan tujuan, dukungan atasan dan kegunaan SAKD memiliki tingkat kehandalan yang tinggi sehingga layak untuk terus digunakan dalam tahap pengujian hipotesis.

(9)

9

4.2.3 Hasil Pengujian Normalitas

Berdasarkan proses pengeolahan data yang telah peneliti lakukan, diperoleh hasil bahwa ada beberapa variabel yang dihasilkan

tidak berdistribusi normal dan untuk

memenuhi syarat uji normalitas bahwa data yang dihasilkan harus berdistribusi normal, maka langkah yang dilakukan adalah dengan cara mengganti nilai outlier dengan nilai rata-rata, sehingga seluruh variabel penelitian yang digunakan telah berdistribusi secara

normal karena masing-masing variabel

penelitian yang digunakan dalam penelitian ini memiliki asymp sig (2-tailed) di atas 0,05.

4.2.4 Hasil Pengujian Multikolinearitas

Dari hasil pengolahan data maka didapat hasil nilai TOL untuk variabel pelatihan adalah 0,712 dengan nilai VIF sebesar 1,404, nilai TOL untuk variabel kejelasan tujuan adalah 0,511 dengan nilai VIF sebesar 1,959 dan untuk variabel dukungan atasan adalah dengan nilai TOL 0,580 dan nilai VIF sebesar 1,724. Dapat disimpukan bahwa pada penelitian ini tidak terjadi multikolinearitas karena nilai VIF<10 dan tolerance >0,10.

4.3 Hasil Pengujian Hipotesis

4.3.1 Hasil Pengujian Koefesien Determinasi (R2)

Berdasarkan hasil penelitian diketahui

nilai R2 = 0,351 atau 35,10% artinya

pelatihan, kejelasan tujuan dan dukungan atasan mampu mempengaruhi kegunaan SAKD (Sistem Akuntansi Keuangan Daerah)

sebesar 35,10% sedangkan sisanya 64,90% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak ada dalam model penelitian ini.

4.3.2 Hasil Uji F-Statistik

Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa nilai signifikan yang dihasilkan didalam pengujian adalah sebesar 0,000 didalam tahap pengujiaan data digunakan tingkat kesalahan atau alpha sebesar 0,05. Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa signifikan sebesar 0,000<alpha 0,05. Maka

keputusannya Ho ditolak dan Ha diterima

sehingga dapat disimpulkan bahwa pelatihan, kejelasan tujuan dan dukungan atasan secara

bersama-sama berpengaruh signifikan

terhadap kegunaan SAKD.

4.3.3 Hasil Uji t-Statistik

Untuk membuktikan pengaruh pelatihan, kejelasan tujuan dan dukungan atasan terhadap kegunaan SAKD, maka dilakukan pengujiaan t-statistik. Dari hasil pengujiaan yang telah dilakukan diperoleh ringkasan hasil seperti terlihat pada tabel 4.1 berikut ini:

(10)

10

Tabel 4.1

Hasil Pengujian Hipotesis 1,2 dan 3 Variabel B T Sig Keterangan

(constant) 16,996 5,169 Pelatihan 0,212 1,901 0,60 H1 Ditolak Kejelasan Tujuan 0,243 2,946 0,004 H2 Diterima Dukungan Atasan 0,215 2,015 0,046 H3 Diterima

Sumber Data : Olahan Kuesioner

Berdasarkan hasil dari penelitian dapat dibuat sebuah persamaan regresi yang akan melengkapi hasil yang dikemukan dalam penelitiaan ini yaitu:

Y=16,996+0,212 X1+ 0,243 X2 + 0,215 X3 Dari persamaan yang terbentuk diketahui bahwa nilai koefesien regresi untuk variabel

pelatihan sebesar 0,212 dengan nilai

signifikan yang dihasilkan sebesar 0,60,

dimana nilai signifikan ini berada diatas

0,05 (0,60>0,05). Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa Pelatihan tidak

berpengaruh signifikan terhadap kegunaan SAKD. Karena fenomena yang

terdapat di lapangan: dimana pelatihan yang diadakan berkaitan dengan kegunaan SAKD masih kurang, selain itu latar belakang pendidikan pegawai atau staf di bagian keuangan bukan dari jurusan akuntansi mengakibatkan pencapaian hasil belum

sesuai dengan apa yang diharapkan, pelatihan yang dilaksanakan belum mengikutsertakan seluruh pegawai pada bidang keuangan,

perpindahan jabatan serta disebabkan

bergantinya regulasi baru, pelatihan yang satu belum terampil sudah disusul dengan pelatihan baru ini akan mengakibatkan kebingungan para pengelola keuangan di SKPD.

Untuk variabel kejelasan tujuan dengan nilai koefesien regresi sebesar 0,243 dengan

nilai signifikan ini berada dibawah 0,05

(0,004 < 0,05), hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa variabel Kejelasan

tujuan berpengaruh signifikan terhadap kegunaan SAKD. Hasil penelitian ini

berbeda pada hasil penelitian sebelumnya karena pada penelitian Latifah dan Sabeni (2007) dan Nurlaela dan Rahmawati (2010)

menunjukkan kejelasan tujuan tidak

berpengaruh signifikan terhadap kegunaan SAKD.

Untuk variabel dukungan atasan

diketahui bahwa nilai koefesien regresi sebesar 0,215 dengan nilai signifikan yang dihasilkan sebesar 0,046, dimana nilai

signifikan ini berada di bawah 0,05

(0,046<0,05), hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa Dukungan atasan

berpengaruh signifikan terhadap kegunaan SAKD. Hasil pengujian ini

sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Latifah dan Sabeni (2007) dan Nurlaela dan Rahmwati (2010) menunjukkan bahwa

(11)

11 dukungan atasan berpengaruh signifikan

terhadap kegunaan SAKD.

5. PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, maka didapat beberapa kesimpulan sebagai berikut :

Hasil dari pengujian hipotesis pertama dapat disimpulkan bahwa pelatihan tidak berpengaruh signifikan terhadap kegunaan SAKD. Karena fenomena yang terdapat di lapangan: dimana pelatihan yang diadakan berkaitan dengan kegunaan SAKD masih kurang, selain itu latar belakang pendidikan pegawai atau staf di bagian keuangan bukan

dari jurusan akuntansi mengakibatkan

pencapaian hasil belum sesuai dengan apa

yang diharapkan, pelatihan yang

dilaksanakan belum mengikutsertakan

seluruh pegawai pada bidang keuangan,

perpindahan jabatan serta disebabkan

bergantinya regulasi baru, pelatihan yang satu belum terampil sudah disusul dengan pelatihan baru ini akan mengakibatkan kebingungan para pengelola keuangan di SKPD. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan Nurlaela dan Rahmawati (2010).

Hasil dari pengujian hipotesis kedua dapat disimpulkan bahwa variabel kejelasan tujuan berpengaruh signifikan terhadap kegunaan SAKD. Hasil penelitian ini berbeda pada hasil penelitian sebelumnya

karena pada penelitian Latifah dan Sabeni (2007) dan Nurlaela dan Rahmawati (2010)

menunjukkan kejelasan tujuan tidak

berpengaruh signifikan terhadap kegunaan SAKD.

Hasil dari pengujian hipotesis ketiga dapat disimpulkan bahwa dukungan atasan berpengaruh signifikan terhadap kegunaan SAKD. Hasil pengujian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Latifah dan Sabeni (2007) dan Nurlaela dan Rahmwati (2010) menunjukkan bahwa dukungan atasan berpengaruh signifikan terhadap kegunaan SAKD.

5.2 Keterbatasan Penelitian

Pada penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan, antara lain:

Penelitian ini berasal dari responden yang diberikan secara tertulis dengan kuesioner sehingga memungkinkan adanya bias perpectual yaitu perbedan seseorang dalam memandang sesuatu dan terjadi perbedaan pemahaman, hal ini berbeda apabila data diperoleh melalui wawancara.

Penelitian ini memakai tiga variabel yaitu pelatihan, kejelasan tujuan dan dukungan

atasan, sedangkan masih terdapat

kemungkinan variabel lain yang

mempengaruhi kegunaan SAKD.

Sampel pada penelitian ini terbatas pada PNS yang bekerja pada SKPD yang terkait dengan keuangan di Pemerintah Kota Bukittinggi saja, sehingga hasil penelitian

(12)

12 masih kurang bisa digeneralisasi pada semua

instansi pemerintah.

5.3 Implikasi

Berdasarkan dari hasil penelitian dan keterbatasan yang ada diharapkan supaya:

Memperluas sampel penelitiannya yaitu sampel tidak hanya di satu kota saja tetapi dengan sampel penelitian pada seluruh

Pemko di Sumatera Barat, sehingga

diharapkan dapat menghasilkan penelitian yang lebih bisa digeneralisasi. Selain itu penelitian ini juga membahas tentang SIPKD (Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Daerah) karena hampir semua instansi pemerintah menggunakan SAKD (Sistem Akuntansi Keuangan Daerah).

Adanya penambahan variabel-variabel

lain yang mempunyai kemungkinan

berpengaruh terhadap kegunaan SAKD dalam SIPKD seperti kesiapan teknis, dan kesiapan sarana dan prasarana di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

Ghozali, Imam. (2011). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 13. Semarang: Universitas Diponegoro

Halim, Abdul. (2008). Akuntansi Keuangan Daerah. Jakarta: Salemba Empat Latifah, Lyna dan Arifin Sabeni. (2007).

Faktor Keprilakuan Organisasi

Dalam Implementasi Sistem

Akuntansi Keuangan Daerah.

Makasar: Simposium Nasional

Akuntansi 10

Mranani, Muji dan Beti Lestiorini. (2011).

Faktor Keprilakuan Organisasi

Terhadap Kegunaan Sistem

Akuntansi Keuangan Daerah dengan Konflik Kognitif dan Konflik Afektif

sebagai Intervening. Magelang:

Fokus Ekonomi

Nurlaela, Siti dan Rahmawati. (2010).

Pengaruh Faktor Keprilakuan

Organisasi Terhadap Kegunaan

Sistem Akuntansi Keuangan Daerah. Purwokerto: Simposium Nasional Akuntansi 13

Sekaran, Uma. (2011). Metodologi Penelitian Untuk Bisnis. Jakarta: Salemba Empat Siregar, Syofian. (2013). Statistik Parametik Untuk Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Bumi Aksara

Republik Indonesia. Undang-Undang RI. Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji reliabilitas keseluruhan variabel dalam penelitian ini memiliki nilai koefisien Cronbach’s Alpha &gt; 0,6 sehingga dapat disimpulkan bahwa pada setiap variabel keadilan

Dari hasil perhitungan olah data dengan bantuan program komputer statistik SPSS Ver 12 pada lampiran maka dapat diketahui bahwa nilai cronbach alpha dari faktor

Hasil pengujian hipotesis penelitian (H7) menunjukkan bahwa hasilnya tidak signifikan sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel yang digunakan adalah variabel

Dari Tabel 4.3 tersebut di atas dapat diketahui bahwa koefisien Cronbach's Alpha &gt; 0,60 sehingga seluruh pertanyaan dalam kuesioner pada item-item pertanyaan

Dari Tabel 3.3 tersebut di atas dapat diketahui bahwa koefisien Cronbach's Alpha &gt; 0,60 sehingga seluruh pertanyaan dalam kuesioner pada item-item

Berdasarkan ringkasan hasil uji reliabilitas seperti yang terangkum dalam Tabel 4.4, dapat diketahui bahwa nilai koefisien Cronbach Alpha pada variabel Pengalaman

Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa F hitung &gt; F tabel (8,011 &gt; 2,71) sehingga H 0 ditolak dan Ha diterima jadi dapat disimpulkan bahwa

Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa nilai cronbach alpha pada variabel excitement , brand image, brand love, dan word of mouth lebih dari 0,6, maka seluruh variabel