1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) dimana penyakit ini menyerang saluran pernapasan (Citra et al. 2020). Kasus COVID-19 pertama kali terdeteksi di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China dan terus mengalami peningkatan hingga tersebar di dunia. Penyebaran kasus COVID-19 memiliki pengaruh terhadap perekonomian, khususnya terhadap harga saham yang berpengaruh pada indeks saham.
Tabel 1.1
Indeks Saham di China, Thailand, Indonesia, dan Singapura
Negara Simbol Indeks
Saham Indeks Saham Keterangan
China SSE 50 Shanghai Stock Exchange
SSE 50 adalah indeks saham di China yang memiliki likuiditas tinggi yang terdaftar di SSE.
Thailand SET50 Stock Exchange of Thailand
SET50 adalah indeks pasar utama Thailand yang mengukur semua kinerja saham biasa yang terdaftar di SET.
Indonesia LQ45 LQ45
LQ45 adalah indeks yang digunakan untuk mengukur kinerja harga saham dari 45 perusahaan dimana memiliki kapitalisasi pasar yang relatif besar, likuiditas tinggi dan fundamental yang baik di BEI.
Singapura STI Straits Times Index
STI adalah indeks yang digunakan untuk mengukur kinerja 30 perusahaan teratas yang terdaftar di SGX.
Sumber: Data yang telah diolah (Investing.com, 2020)
1.2. Latar Belakang
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang secara resmi diakui oleh World Health Organization (WHO) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) dimana penyakit
2
ini menyerang saluran pernapasan (Citra et al. 2020). Kasus COVID-19 pertama kali terdeteksi di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Pengumuman darurat global dinyatakan oleh WHO karena kasus COVID-19 menyebar secara cepat pada 30 Januari 2020 dan pada tanggal 11 Maret 2020, kasus COVID-19 dicirikan oleh WHO sebagai pandemi (World Health Organization, 2020). Ilmuan China mengaitkan penyakit COVID-19 dengan virus family yaitu Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) virus dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Gejala COVID-19 dapat terdeteksi dalam 14 hari, setelah terpapar melalui orang yang telah terpengaruh sehingga membuat COVID-19 tidak mudah untuk dikonfirmasi pada tahap awal gejala (Liu et al. 2020).
Virus corona COVID-19 termasuk ke dalam sebuah pandemi yang dinyatakan oleh WHO karena virus tersebut telah menyebar ke seluruh dunia. Pandemi adalah penyebaran virus yang terjadi secara cepat di seluruh dunia. Pandemi yang disebabkan oleh COVID-19 menjadikan pemerintah di seluruh dunia untuk melakukan berbagai jenis langkah pencegahan virus corona COVID-19 (Sebayang 2020). Lockdown adalah salah satu upaya pencegahan yang dilakukan di beberapa negara seperti China, Italia, Spanyol, Prancis, Irlandia, Belgia, Polandia, Argentina, Yordania, Belanda, Denmark, Malaysia, Filipina, dan Libanon (Aida 2020). Lockdown merupakan penutupan suatu wilayah yang bertujuan untuk mengurangi penyebaran virus (Adrian 2020).
Selain lockdown, beberapa negara khususnya di Asia Tenggara melakukan pencegahan penyebaran COVID-19 dengan upaya yang berbeda-beda. Pemerintah Thailand menutup fasilitas publik seperti sekolah, universitas, bar, bioskop, arena olahraga, dan tempat hiburan lainnya untuk mencegah penyebaran COVID-19 (CNN Indonesia 2020). Berbeda dengan Thailand, pemerintah Indonesia melakukan kebijakan physical distancing untuk mencegah penyebaran COVID-19, strategi yang dilakukan seperti menggunakan masker, melakukan rapid test, memberikan edukasi mengenai isolasi mandiri, dan melakukan isolasi rumah sakit apabila isolasi mandiri tidak memungkin untuk dilakukan (Wibowo 2020). Sedangkan pemerintah Singapura melakukan upaya nasional untuk mencegah
3 penyebaran COVID-19, seperti karantina, pencegahan kasus impor, dan social distancing (Iswara 2020).
Upaya pemerintah disetiap negara untuk mencegah penyebaran COVID-19 menimbulkan dampak penurunan perekonomian di masing-masing negara. Penurunan dapat dilihat dari segi bisnis seperti pusat perbelanjaan yang sudah dibatasi sehingga semakin berkurang minat masyarakat untuk berkunjung. Beberapa pusat perbelanjaan yang tidak dapat bertahan akhirnya harus melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Selain pusat perbelanjaan, upaya tersebut berdampak juga terhadap sektor perhotelan, sektor restoran dan sektor transportasi. Pembatasan sosial menjadikan banyak perhotelan dan restoran tutup. Ada pun sektor transportasi yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan penumpang baik dari transportasi darat, udara, dan laut karena adanya pembatasan wilayah (Ramadhani, 2020).
The International Monetary Fund (IMF) adalah organisasi internasional yang bertujuan untuk mendorong stabilitas keuangan internasional, memfasilitasi perdagangan internasional, memperluas lapangan kerja, dan mengurangi kemiskinan secara global (International Monetary Fund 2017). IMF memprediksi output ekonomi secara global akan mengalami penurunan akibat pandemi virus corona yang mengharuskan warga di setiap negara untuk melakukan social distancing dan karantina wilayah (BBC News Indonesia, 2020). Selain itu, IMF juga memprediksi kerugian yang akan dialami oleh perekonomian global adalah sebesar US $12 trilliun dan 95% negara di dunia akan mengalami pertumbuhan ekonomi dalam zona negatif (Kompas.com 2020).
Pasar modal dalam perekonomian suatu negara berperan penting sebagai sarana pendapatan bagi perusahaan yang didapatkan dari pemegang saham untuk pengembangan usaha, penambahan modal kerja, ekspansi dan lain-lain. Selain itu, pasar modal juga berperan sebagai sarana investasi untuk masyarakat, sehingga masyarakat dapat menempatkan dana yang dimiliki kedalam instrumen-instrumen pasar modal. Pasar modal dapat diartikan sebagai suatu pasar yang memiliki berbagai instrumen didalamnya yang diperjualbelikan seperti: obligasi; saham;
4
reksa dana; instrumen derivative; dan instrumen lainnya yang bersifat jangka Panjang (Bursa Efek Indonesia, 2018). Pasar modal dapat meningkatkan pendapatan negara melalui dividen yang dibagikan kepada pemegang saham yang dikenakan pajak oleh pemerintah, sehingga dengan adanya pemasukan dari pajak tersebut, dapat meningkatkan pendapatan suatu negara (Pasha 2019).
Efisiensi pasar merupakan harga saham yang bergerak secara fluktuatif dapat disebabkan oleh adanya informasi baru yang diterima (Sunaryo 2019:135). Artinya, apabila terdapat informasi baru maka pemegang saham akan menyesuaikan informasi tersebut sehingga harga sahamnya akan berfluktuasi. Tidak ada pihak yang dapat memperkirakan harga saham dengan pasti, tetapi perkiraan harga saham harus dapat dilakukan menggunakan informasi hari ini walaupun tidak terjamin kebenarannya (Handini & Astawinetu 2020:256).
COVID-19 dapat menyebabkan infeksi terhadap tubuh manusia sehingga menimbulkan kasus warga negara yang terinfeksi, sembuh, dan kasus meninggal dunia. Penelitian ini khusus untuk meneliti kasus pertama COVID-19 yang ada di China, Thailand, Indonesia dan Singapura. Kasus pertama COVID-19 terdeteksi secara acak di masing-masing negara. Untuk itu, pengumuman kasus pertama COVID-19 di masing-masing negara tersebut diumumkan pada waktu yang berbeda-beda.
Gambar 1.1
Kasus COVID-19 di China Pada Desember 2019 - Maret 2020 Sumber: Data yang telah diolah (National Health Commission, 2020)
-100000 -80000 -60000 -40000 -20000 0 20000 40000 60000 3 1 /1 2 /2 0 1 9 4 /1 /2 0 2 0 8 /1 /2 0 2 0 1 2 /1 /2 0 2 0 1 6 /1 /2 0 2 0 2 0 /1 /2 0 2 0 2 4 /1 /2 0 2 0 2 8 /1 /2 0 2 0 1 /2 /2 0 2 0 5 /2 /2 0 2 0 9 /2 /2 0 2 0 1 3 /2 /2 0 2 0 1 7 /2 /2 0 2 0 2 1 /2 /2 0 2 0 2 5 /2 /2 0 2 0 2 9 /2 /2 0 2 0 4 /3 /2 0 2 0 8 /3 /2 0 2 0 1 2 /3 /2 0 2 0 1 6 /3 /2 0 2 0 2 0 /3 /2 0 2 0 2 4 /3 /2 0 2 0 2 8 /3 /2 0 2 0
5 China merupakan negara yang pertama kali melaporkan mengenai kasus COVID-19 pada tanggal 31 Desember 2019 (World Health Organization, 2020). Dapat dilihat pada Gambar 1.1 bahwa China memiliki kasus tertinggi dalam periode tersebut yaitu pada tanggal 13 Februari 2020 sebanyak 47.645 warga negara yang terinfeksi virus corona. Setelah itu, kasus COVID-19 di negara tersebut mulai menurun hingga minus yang dimana menandakan bahwa warga negara China yang sembuh lebih banyak dibandingkan dengan warga negara yang terinfeksi dan meninggal dunia. Penurunan tersebut terus terjadi hingga akhir bulan Maret 2020.
Adanya kasus COVID-19 pertama kali di China menjadikan bursa efek di negara tersebut menurun, hal ini juga berdampak terhadap bursa efek di negara lain (Saragih 2020). Bursa efek yang dimiliki China yaitu Shanghai Stock Exchange (SSE) didirikan pada tanggal 26 November 1990 dan mulai beroperasi secara formal pada tanggal 19 Desember 1990 (Shanghai Stock Exchange 2019). Setiap bursa efek memiliki indeks terbaik yang terdiri dari perusahaan-perusahaan besar. Di China, SSE 50 adalah indeks yang memiliki likuiditas tinggi dan digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan yang terdiri dari 50 perusahaan terbesar di negara tersebut (China Securities Index Co.Ltd 2020).
Adapun negara pertama di luar China yang melaporkan adanya kasus COVID-19 adalah Thailand yakni pada tanggal 13 Januari 2020 (World Health Organization, 2020). Kasus warga negara yang terinfeksi, meninggal dunia, dan sembuh dari virus corona di Thailand dapat dilihat pada Gambar 1.2.
6
Gambar 1.2
Kasus COVID-19 di Thailand Pada Desember 2019 - Maret 2020 Sumber: Data yang telah diolah (Thai PBS Daily Report, 2020)
Pada Gambar 1.2 dapat dilihat bahwa kasus COVID-19 di Thailand pertama kali ditemukan sebanyak lima warga negara yang terinfeksi virus corona, kemudian kasus tersebut bertambah dan berkurang setiap harinya. Pada awalnya, tidak banyak warganegara Thailand yang terinfeksi virus corona, bahkan kasus tersebut minus untuk beberapa hari. Hal tersebut menandakan bahwa warga negara yang sembuh lebih banyak dibandingkan dengan warga negara yang terinfeksi dan meninggal dunia. Akan tetapi, kasus COVID-19 di Thailand mulai meningkat pada tanggal 15 Maret 2020 dan negara tersebut memiliki kasus tertinggi pada tanggal 30 Maret 2020 yaitu sebanyak 1.252 warga negara yang terinfeksi virus corona. Setelah itu, kasus COVID-19 mulai menurun hingga akhir bulan Maret 2020.
Tidak hanya SSE yang mengalami penurunan bursa efek lain juga mengalami hal tersebut, seperti bursa efek yang dimiliki oleh Thailand yaitu Stock Exchange of Thailand (SET) yang didirikan pada tanggal 1 Januari 1991 (Shanghai Stock Exchange 2019). SET50 adalah indeks pasar utama yang mengukur semua kinerja saham biasa yang terdaftar di SET (Trading Economics 2020). Sebelum adanya kasus COVID-19, indeks saham Thailand menjadi posisi teratas yang menggantikan Singapura pada bulan Mei 2019 dikarenakan penguatan harga baht (The Star 2020). Setelah adanya kasus COVID-19 di Thailand dengan berbagai
-200 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 3 1 /1 2 /2 0 1 9 4 /1 /2 0 2 0 8 /1 /2 0 2 0 1 2 /1 /2 0 2 0 1 6 /1 /2 0 2 0 2 0 /1 /2 0 2 0 2 4 /1 /2 0 2 0 2 8 /1 /2 0 2 0 1 /2 /2 0 2 0 5 /2 /2 0 2 0 9 /2 /2 0 2 0 1 3 /2 /2 0 2 0 1 7 /2 /2 0 2 0 2 1 /2 /2 0 2 0 2 5 /2 /2 0 2 0 2 9 /2 /2 0 2 0 4 /3 /2 0 2 0 8 /3 /2 0 2 0 1 2 /3 /2 0 2 0 1 6 /3 /2 0 2 0 2 0 /3 /2 0 2 0 2 4 /3 /2 0 2 0 2 8 /3 /2 0 2 0
7 upaya pencegahan yang telah dilakukan oleh pemerintah di Thailand menjadikan pendapatan dari sektor pariwisata di negara tersebut menjadi menurun (Setiaji 2020).
Adapun kasus COVID-19 yang ditemukan di Indonesia pertama kali pada tanggal 2 Maret 2020 (Detiknews 2020). Kasus warga negara yang terinfeksi, meninggal dunia, dan sembuh dari virus corona di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 1.3.
Gambar 1.3
Kasus COVID-19 di Indonesia Pada Desember 2019 - Maret 2020 Sumber: Data yang telah diolah (Satuan Tugas Penanganan COVID-19, 2020)
Pada Gambar 1.3 dapat dilihat bahwa kasus COVID-19 di Indonesia pertama kali ditemukan sebanyak enam warga negara yang terinfeksi virus corona, kemudian kasus tersebut bertambah dan berkurang setiap harinya. Indonesia memiliki kasus tertinggi dalam periode tersebut pada tanggal 25 Maret 2020 yaitu sebanyak 1.042 warga negara yang terinfeksi virus corona. Kasus tersebut kemudian mulai menurun hingga akhir bulan Maret 2020.
Kasus COVID-19 juga menyebabkan pengaruh yang cukup besar terhadap pasar modal di Indonesia dan salah satu pihak yang berada didalamnya adalah Bursa Efek Indonesia (BEI) yang merupakan suatu lembaga untuk menyelenggarakan dan menyediakan sistem serta sarana dalam penawaran jual beli
0 200 400 600 800 1000 1200 3 1 /1 2 /2 0 1 9 4 /1 /2 0 2 0 8 /1 /2 0 2 0 1 2 /1 /2 0 2 0 1 6 /1 /2 0 2 0 2 0 /1 /2 0 2 0 2 4 /1 /2 0 2 0 2 8 /1 /2 0 2 0 1 /2 /2 0 2 0 5 /2 /2 0 2 0 9 /2 /2 0 2 0 1 3 /2 /2 0 2 0 1 7 /2 /2 0 2 0 2 1 /2 /2 0 2 0 2 5 /2 /2 0 2 0 2 9 /2 /2 0 2 0 4 /3 /2 0 2 0 8 /3 /2 0 2 0 1 2 /3 /2 0 2 0 1 6 /3 /2 0 2 0 2 0 /3 /2 0 2 0 2 4 /3 /2 0 2 0 2 8 /3 /2 0 2 0
8
efek. Adapun LQ45 yaitu indeks yang digunakan untuk mengukur kinerja harga saham dari 45 perusahaan dimana memiliki kapitalisasi pasar yang relatif besar, likuiditas tinggi, dan fundamental yang baik (Bursa Efek Indoensia 2018). Sebelum adanya kasus COVID-19, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia naik sebesar 5,5% dalam dollar AS selama tahun 2019 (The Star 2020).
Selain itu, kasus COVID-19 di Singapura pertama kali ditemukan pada tanggal 23 Januari 2020 (World Health Organization, 2020). Kasus warga negara yang terinfeksi, meninggal dunia, dan sembuh dari virus corona di Singapura dapat dilihat pada Gambar 1.4.
Gambar 1.4
Kasus COVID-19 di Singapura Pada Desember 2019 - Maret 2020 Sumber: Data yang telah diolah (Ministry of Health, 2020)
Pada Gambar 1.3 dapat dilihat bahwa kasus COVID-19 di Singapura pertama kali ditemukan sebanyak lima warga negara yang terinfeksi virus corona, kemudian kasus tersebut bertambah dan berkurang setiap harinya. Singapura memiliki kasus tertinggi dalam periode tersebut pada tanggal 25 Maret 2020 yaitu sebanyak 66 warga negara yang terinfeksi virus corona. Walaupun demikian, di Singapura terdapat beberapa hari sebelum adanya kasus tertinggi negara tersebut
-20 -10 0 10 20 30 40 50 60 70 3 1 /1 2 /2 0 1 9 3 /1 /2 0 2 0 6 /1 /2 0 2 0 9 /1 /2 0 2 0 1 2 /1 /2 0 2 0 1 5 /1 /2 0 2 0 1 8 /1 /2 0 2 0 2 1 /1 /2 0 2 0 2 4 /1 /2 0 2 0 2 7 /1 /2 0 2 0 3 0 /1 /2 0 2 0 2 /2 /2 0 2 0 5 /2 /2 0 2 0 8 /2 /2 0 2 0 1 1 /2 /2 0 2 0 1 4 /2 /2 0 2 0 1 7 /2 /2 0 2 0 2 0 /2 /2 0 2 0 2 3 /2 /2 0 2 0 2 6 /2 /2 0 2 0 2 9 /2 /2 0 2 0 3 /3 /2 0 2 0 6 /3 /2 0 2 0 9 /3 /2 0 2 0 1 2 /3 /2 0 2 0 1 5 /3 /2 0 2 0 1 8 /3 /2 0 2 0 2 1 /3 /2 0 2 0 2 4 /3 /2 0 2 0 2 7 /3 /2 0 2 0 3 0 /3 /2 0 2 0
9 memiliki kasus minus dimana menandakan bahwa warga negara Singapura lebih banyak sembuh dari pada terinfeksi, bahkan meninggal dunia. Namun, setelah adanya kasus tertinggi, kasus di negara tersebut mengalami penurunan dan peningkatan hingga akhir bulan Maret 2020.
Kasus COVID-19 juga memberikan pengaruh terhadap bursa efek yang dimiliki oleh Singapura yaitu Singapore Exchange (SGX). Salah satu indeks SGX adalah The Straits Times Index (STI) yaitu indeks yang digunakan untuk mengukur kinerja 30 perusahaan teratas yang terdaftar di bursa tersebut (Singapure Exchange 2020). Sebelum adanya kasus COVID-19, Singapura memiliki indeks saham terbesar di Asia Tenggara setidaknya dari tahun 2003 ketika Bloomberg yaitu perusahaan informasi mulai mengumpulkan data yang ada (The Star 2020).
Pengumuman mengenai kasus COVID-19 memberikan pengaruh terhadap pasar saham dunia. Bursa saham di dunia mengalami penurunan harga efek yang mempengaruhi indeks harga saham (Taufik 2020). Setelah adanya kasus COVID-19 dan upaya lockdown maupun karantina yang dilakukan oleh pemerintah di China menyebabkan penurunan perekonomian negara China pada bulan Maret 2020, antara lain: output pabrik menurun sebesar 1,1%; penjualan ritel turun sebesar 15,8%; pengangguran sebesar 5,9%; dan adanya pembatasan ekspor dan impor (BBC News Indonesia, 2020). Berbeda dengan China, social distancing yang dilakukan oleh pemerintah di Thailand menjadikan pendapatan pariwisata sebagai sumber pendapatan perekonomian utama menurun (Setiaji 2020). Selain itu, aktivitas ekspor di Thailand juga ikut menurun dan menjadikan Produk Domestik Buruto (PDB) negara tersebut minus (Suhendra 2020). Menurut Badan Pusat Statistik (2020) PDB merupakan jumlah nilai dari barang dan jasa berdasarkan periode tertentu yang dihasilkan oleh unit ekonomi suatu negara.
Selain Thailand, perekonomian di Indonesia juga menjadi lambat karena pemerintah di Indonesia melakuan upaya pencegahan seperti work from home (WFH), penundaan acara pemerintah dan swasta, dan physical distancing. Akibat dari adanya upaya pencegahan tersebut menjadikan perusahaan swasta di Indonesia mengalami gangguan, seperti: penjual retail di pasar tradisional dan pasar modern
10
menjadi menurun; penjualan mobil pada bulan Januari dan Februari menurun sebesar 2,4%; selain itu, perjalanan wisata secara domestik ataupun internasional juga ikut menurun. Adapun jumlah kunjungan wisatawan mancanegara menurun sebesar 7,62% pada bulan Januari, sedangkan wisatawan nusantara menurun sebesar 3,1% (Sugianto 2020). Hal tersebut juga berpengaruh terhadap PDB di Indonesia. Berbeda dari Indonesia, pemerintah di Singapura yang menerapkan lockdown parsial dengan menghentikan aktivitas di tempat kerja dan di sekolah secara sementara menyebabkan aktivitas ekonomi dan usaha di Singapura mengalami penurunan. Hal ini menyebabkan sektor konstruksi, retail dan pariwisata yang berkontribusi dalam perekonomian di Singapura mengalami penurunan (Ramadhani, 2020).
Adanya upaya pemerintah di masing-masing negara dalam melakukan pencegahan penyebaran COVID-19 menjadikan PDB yang dimiliki di masing-masing negara berbeda dengan prediksi sebelum adanya kasus COVID-19. Perbedaan PDB yang dimiliki oleh China, Thailand, Indonesia dan Singapura dapat dilihat pada Tabel 1.2.
Tabel 1.2
PDB di China, Thailand, Indonesia dan Singapura Pada Periode April 2020
Negara Prediksi Realisasi
China 1,9% 0,7%
Thailand 3,7% 2,5%
Indonesia 5,3% 2,3%
Singapura 2,5% -1%
Sumber: Data yang telah diolah (International Monetary Fund, 2020); Association of and Nations, 2020)
Pada Tabel 1.2 dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan antara prediksi PDB yang dimiliki oleh masing-masing negara dan realisasi PDB di masing-masing negara dengan adanya COVID-19, khususnya pada awal pandemi COVID-19 yaitu pada bulan April 2020. Negara China memiliki perdiksi PDB sebesar 1,9% sebelum terjadinya pandemi COVID-19, sedangkan realisasi PDB pada bulan April 2020 sebesar 0,7%. Adapun perbedaan prediksi dan realsisasi PDB di Thailand. Negara
11 Thailand memiliki prediksi PDB sebesar 3,7% sebelum adanya pandemi COVID-19, sedangkan realisasi PDB pada bulan April 2020 sebesar 2,5%. Hal tersebut menandakan bahawa prediksi dan realisasi PDB di Thailand berbeda sebesar 1,2%. Selanjutnya, Indonesia memiliki prediksi PDB sebesar 5,3% sebelum adanya pandemi COVID-19, sedangkan realisasi PDB pada bulan April 2020 sebesar 2,3%. Hal tersebut menandakan bahwa di Indonesia memiliki perbedaan yang cukup jauh yaitu sebesar 3%. Selain Indonesia negara yang memiliki perbedaan cukup jauh antara prediksi dan realisasinya adalah Singapura. Prediksi PDB yang dimiliki oleh Singapura adalah sebesar 2,5%, sedangkan realisasi PDB pada bulan April 2020 -1%. Perbedaan antara prediksi dan realisasi PDB yang dimiliki oleh Singapura adalah sebesar 3,5%.
Pengumuman mengenai kasus COVID-19 memberikan dampak yang tidak terduga terhadap kinerja indeks pasar saham di negara-negara besar, seperti penelitian yang dilakukan oleh Liu et al. (2020), dengan judul penelitian “The COVID-19 Outbreak and Affected Countries Stock Markets Response” menggunakan metode event study. Event Study adalah metode yang digunakan untuk mengetahui dampak dari suatu peristiwa tertentu (Hayes 2020). Dalam ekonomi, event study digunakan untuk melihat dampak dari suatu peristiwa terhadap harga sekuritas di suatu perusahaan. Hal utama dalam event study adalah menilai sejauh mana kinerja harga sekuritas tersebut pada saat terjadinya waktu abnormal (Brown and Warner 1980).
Berdasarkan penelitian terdahulu yang diteliti oleh Liu et al. (2020) dimana penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui dampak dari pandemi COVID-19 terhadap indeks saham di Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat, Jerman, Italia, dan Inggris. Penelitian tersebut menggunakan harga penutupan harian dari indeks yang diteliti dengan periode yang dimulai pada 21 Februari 2019 hingga 18 Maret 2020. Dalam penelitian tersebut menggunakan event study method dengan abnormal return dan cumulative abnormal return sebagai variabelnya. Hasil penelitian mengatakan bahwa saham di negara-negara besar yang terkena dampak COVID-19 turun dengan pesat setelah adanya wabah virus corona. Negara di Asia
12
mengalami tingkat pengembalian abnormal yang lebih negatif dibandingkan dengan negara lainnya.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pergerakan return saham selama periode estimate, pre-event, post-event window, dan after event untuk pengumuman kasus pertama COVID-19 di China, sedangkan periode estimate, pre-event, dan post-event window untuk pengumuman kasus pertama 19 di Thailand, Indonesia, Singapura, dan pengumuman COVID-19 oleh WHO terhadap indeks SSE 50, SET50, LQ45, dan STI. Selain itu, bagaimana abnormal return dan cumulative abnormal return pada saat periode lima hari sebelum pengumuman kasus pertama COVID-19 di China, Thailand, Indonesia, Singapura, lima hari setelah pengumuman kasus pertama COVID-19 di China, Thailand, Indonesia, Singapura, dan pengumuman COVID-19 oleh WHO terhadap indeks SSE 50, SET50, LQ45, dan STI dengan menggunakan event study method.
1.3. Rumusan Masalah
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan empat negara yaitu China, Thailand, Indonesia dan Singapura yang dimana China sebagai negara pertama yang memiliki kasus COVID-19, kemudian kasus COVID-19 menyebar di Thailand, Indonesia, dan Singapura yang merupakan negara-negara pemilik indeks saham tertinggi di Asia Tenggara. Negara China memiliki indeks SSE 50, Thailand memiliki indeks SET50, Indonesia memiliki indeks LQ45, dan Singapura memiliki indeks STI yang menjadi objek penelitian. Indeks yang digunakan peneliti di masing-masing negara merupakan indeks yang memiliki kinerja dan likuiditas yang baik. Sebelum dan setelah pengumuman kasus pertama COVID-19 di masing-masing negara tentunya mempengaruhi return indeks yang ada di masing-masing-masing-masing negara. Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, maka terdapat pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana pergerakan return saham selama periode estimate, pre-event, post-event window, dan after event untuk pengumuman kasus pertama COVID-19 di China, sedangkan periode estimate, pre-event, dan post-event
13 window untuk pengumuman kasus pertama COVID-19 di Thailand, Indonesia, Singapura, dan pengumuman COVID-19 oleh WHO terhadap indeks SSE 50, SET50, LQ45, dan STI?
2. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara abnormal return dan juga cumulative abnormal return terhadap indeks SSE 50, SET50, LQ45, dan STI pada saat lima hari sebelum pengumuman kasus pertama COVID-19 di China, Thailand, Indonesia, Singapura, lima hari setelah adanya pengumuman kasus pertama COVID-19 di China, Thailand, Indonesia, Singapura, dan pengumuman COVID-19 oleh WHO?
1.4. Tujuan Penelitian
Dari perumusan masalah yang telah dipaparkan, maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana pergerakan return saham selama periode estimate, pre-event, post-event window, dan after event untuk pengumuman kasus pertama COVID-19 di China, sedangkan periode estimate, pre-event, dan post-event window untuk pengumuman kasus pertama COVID-19 di Thailand, Indonesia, Singapura, dan pengumuman COVID-19 oleh WHO terhadap indeks SSE 50, SET50, LQ45, dan STI.
2. Untuk mengetahui perbedaan yang signifikan antara abnormal return dan juga cumulative abnormal return terhadap indeks SSE 50, SET50, LQ45, dan STI pada saat lima hari sebelum pengumuman kasus pertama COVID-19 di China, Thailand, Indonesia, Singapura, lima hari setelah adanya pengumuman kasus pertama COVID-19 di China, Thailand, Indonesia, Singapura, dan pengumuman COVID-19 oleh WHO.
1.5. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini terbagi menjadi dua aspek yaitu manfaat dari aspek teoritis dan aspek praktis.
1.5.1. Aspek Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan wawasan mengenai dampak dari pengumuman kasus pertama COVID-19 terhadap return indeks khususnya indeks SSE 50, SET50, LQ45, dan STI. Penelitian ini juga
14
diharapkan dapat memberikan referensi untuk penelitian di masa mendatang mengenai dampak suatu peristiwa.
1.5.2. Aspek Praktis
Hasil penelitian ini dapat dijadikan pembelajaran dari suatu peristiwa yang telah terjadi sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap return indeks yang ada di bursa efek China, Thailand, Indonesia, dan Singapura.
1.6. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini berisi mengenai informasi penelitian yang akan dibahas pada setiap bab. Sistematika penulisan yang ditulis oleh peneliti adalah sebagai berikut:
a. BAB I PENDAHULUAN
Bab ini merupakan penjelasan secara umum mengenai penelitian yang berisikan objek penelitian, latar belakang penelitian, perumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian dan sistematika penulisan penelitian.
b. BAB II TINJAU PUSTAKA
Bab ini merupakan penjelasan lebih jelas mengenai isi teori yang diteliti berupa kajian pustaka, penelitian terdahulu, kerangka pemikiran dan hipotesis penelitian.
c. BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini merupakan penjelasan mengenai metodologi yang digunakan dalam penelitian yang berisikan pendekatan, metode penelitian dan teknik yang digunakan untuk mendapatkan populasi dan sampel sehingga dapat dilakukan analisis dan pengujian hipotesis.
d. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini merupakan hasil dari penelitian yang telah dianalisis dan kemudian dibahas lebih detail sehingga mendapatkan hasil yang valid.
e. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini menyampaikan kesimpulan dari hasil penelitian dan saran yang dapat diberikan peneliti untuk objek dan pihak-pihak lain yang membutuhkan.