• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kawasan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Kawan konservasi terdiri dari kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam dan tanan buru. Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. (UU Nomor 5 tahun 1990, UU Nomor 41 tahun 1999).

Taman nasional merupakan salah satu bentuk dari kawasan pelestarian alam selain Taman hutan raya dan taman wisata alam (PP Nomor 28 tahun 2011). Jumlah taman nasional di Indonesia saat ini yaitu 51 Taman Nasional baik di daratan maupun di perairan. Menurut UU Nomor 5 tahun 1990, taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Dari tujuan tersebut, sangat dimungkinkan untuk mendorong pariwisata sebagai bagian dari upaya konservasi taman nasional.

Pariwisata berbasiskan kelestarian ekologi dan sosial (ekowisata) saat ini semakin luas dikenal sebagai salah satu daya tarik ekonomi yang menguntungkan dan terus dipromosikan secara gencar dalam upaya konservasi hutan hujan tropika. Banyak daerah yang memiliki kondisi alam yang asli dan budaya lokal yang sangat potensial untuk kegiatan wisata telah rusak oleh karena ketidaktahuan dalam pemanfaatan, perencanaan dan pengelolaannya (Dit PP, 2007).

Pada tahun 2014, pariwisata alam menyumbangkan pendapatan negara sebesar Rp.68.777.475.354,- dari sektor pajak. Jumlah ini jauh meningkat dibandingkan tahun 2008 dimana penerimaan pajak dari pariwisata alam sebesar Rp.5.948.142.157,-. Penerimaan tersebut diharapkan dapat meningkat lagi dimasa

(2)

yang akan datang agar masnfaat ekonomi kawasan konservasi dapat lebih terlihat dan dirasakan oleh masyarakat (Dit KSDAE, 2015).

Menurut Choy (1997) dalam Fandeli dan Nurdin (2005), ekowisata merupakan bentuk kegiatan wisata yang meletakan lingkungan sebagai objek utamanya dengan tetap dapat memberi manfaat baik secara ekologi, sosial maupun ekonomi kepada masyarakat lokal sehingga sumber daya alam yang ada dapat dimanfaatkan secara lestari. Berkembangnya ekowisata harus dapat memenuhi lima aspek berikut: (1) keaslian lingkungan alam dan budaya (2) keberadaan dan dukungan masyarakat lokal (3) pendidikan dan pengalaman (4) keberlanjutan dan (5) kemampuan manajemen dalam pengelolaan ekowisata.

Ekowisata tidak hanya diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara regional maupun lokal untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, namun juga kelestarian sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati sebagai obyek dan daya tarik wisata. Ekowisata mengutamakan upaya konservasi sumberdaya alam, pengembangan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan secara baik, benar, bertanggung jawab serta berkelanjutan. Pengembangan ekowisata harus menggunakan kaidah-kaidah keberlanjutan yang dapat menciptakan peluang peningkatan ekonomi bagi masyarakat lokal dan memberikan perlindungan kawasan konservasi dan lindung, membuka ruang untuk memberikan penghormatan hak atas sumberdaya alam, baik bersifat perorangan maupun kelompok demi terciptanya keuntungan dan kesetaraan kepentingan sosial, ekonomi dan lingkungan.

Taman Nasional Kutai (TNK) merupakan salah satu taman nasional yang ada di Indonesia. Taman nasional ini terletak di pesisir Kalimantan Timur dengan luas 198.629 ha berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.325/Menhut-II/1995 tanggal 29 Juni 1995. Kawasan ini memiliki potensi ekowisata yang masih cukup besar, namun sampai saat ini hanya beberapa lokasi yang sudah dikembangkan. Salah satu objek wisata alam tersebut yaitu Sangkima dengan potensi hutan hujan tropis dataran rendah. Selain itu terdapat juga objek wisata alam lain di TNK yaitu Prevab yang merupakan habitat alami orangutan.

(3)

Sangkima menjadi favorit di Taman Nasional Kutai karena letaknya yang cukup strategis. Kawasan ini terletak di jalan poros Bontang – Sangatta KM 37. Berdasarkan zonasi yang ada di Taman Nasional Kutai, Sangkima berada di zona pemanfaatan (BTNK, 2013). Hal ini didasarkan pada Peraturan Menteri Kehutanan nomor P.56/Menhut-II/2006 tanggal 29 Agustus 2006 tentang Pedoman Zonasi Taman Nasional disebutkan bahwa zona pemanfaatan adalah bagian taman nasional yang letak, kondisi dan potensi alamnya, yang terutama dinamfaatkan untuk kepentingan pariwisata alam dan kondisi/jasa lingkungan lainnya. Zona ini berfungsi untuk pengembangan pariwisata alam dan rekreasi, jasa lingkungan, pendidikan, penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan, kegiatan penunjang budidaya.

Gambar 1. Peta Zonasi Taman Nasional Kutai (BTNK, 2013)

Sangkima saat ini menghadapi tekanan. Salah satunya keberadaan masyarakat di dalam kawasan Taman Nasional Kutai yang terus memerluas perambahan mendekati ekowisata Sangkima. Pengelolaan terhadap ekowisata Sangkima masih jauh dari persyaratan usaha wisata dimana harus ada aspek pendidikan, peningkatan pendapatan, keterlibatan masyarakat dan konservasi (BTNK, 2011). Diperlukan adanya kerjasama yang baik dengan pemerintah

(4)

Kabupaten Kutai Timur untuk dapat menangani masalah tersebut karen keberadaan masyarakat di dalam kawasan secara langsung maupun tidak langsung dapat memberi tekanan terhadap wisata alam Sangkima. Ketika wisata alam Sangkima terus berbenah dengan melakukan beberapa perbaikan dan penambahan sarana dan prasarana wisata ternyata aktivitas masyarakat di sekitar objek tersebut juga tidak berkurang seperti aktivitas perladangan dan lain sebagainya. Belum ada kajian bagaimana potensi wisata alam Sangkima dan apakah memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar.

Menurut Balai Taman Nasional Kutai (2015), terjadi peningkatan jumlah wisatawan yang melakukan aktivitas wisata yang cukup drastis dari tahun 2008 – 2013. Pihak pengelola belum melakukan pembatasan terhadap jumlah wisatawan karena belum ada kajian terhadap hal tersebut terkait daya dukung kawasan sebagai objek dan daya tarik wisata alam. Soemarwoto (1988) dalam Fandeli (2002) menyatakan bahwa daya dukung objek wisata alam merupakan kemampuan objek wisata alam untuk menampung wisatawan pada satu waktu tertentu dengan luasan yang memadai. Dari kondisi tersebut maka perlu dilakukan kajian untuk menganalisis potensi dan daya dukung ekowisata Sangkima sehingga dapat dirumuskan alternatif kebijakan pengelolaan sebagai kawasan konservasi. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi stakeholders dalam menyelesaikan permasalahan pengelolaan kawasan untuk mewujudkan kawasan yang secara ekologis tetap lestari dan secara ekonomis menguntungkan.

Menurut Fandeli dan Nurdin (2005), arah pengelolaan taman nasional (termasuk Taman Nasional Kutai) harus dilakukan secara nasional. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga agar pengembangan ekowisata dapat berjalan secara lestari. Wiratno dkk, (2004) dalam Fandeli dan Nurdin (2005) menyusun alternatif pengelompokan dan arah pengelolaan taman nasional di Indonesia. Taman Nasional Kutai dikelompokan dalam kriteria tingkat konflik antar sektor dalam masyarakat dengan arah pengelolaan manajemen kolaboratif.

(5)

B. Rumusan Masalah

Secara filosofis, suatu kawasan ditetapkan sebagai kawasan konservasi untuk dapat memberikan 3 dimensi manfaat, yaitu : (1) manfaat ekologis yang berarti mampu melestarikan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya, (2) manfaat ekonomi yang berarti mampu memenuhi berbagai kebutuhan hidup manusia, dan (3) manfaat sosial yang berarti mampu menciptakan kesempatan kerja dan berusaha serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan konservasi secara optimal (Widada, 2008). Wisata alam Sangkima merupakan hamparan hutan tropis dataran rendah. Kawasan ini juga merupakan habitat beberapa jenis satwa burung, primata dan berbagai jenis satwa lainnya.

Keberadaan masyarakat di dalam Taman Nasional Kutai merupakan masalah yang sampai saat ini belum bisa diatasi oleh pengelola. Bahkan keberadaan masyarakat sudah semakin medekati wisata alam Sangkima. Aktivitas wisata dan keberadan masyarakat di sekitar kawasan wisata alam Sangkima dapat memberikan resiko terhadap penurunan kualitas kawasan dengan fungsi utama sebagai kawasan konservasi. Menurut Fandeli dan Nurdin (2005), elemen yang dapat terpengaruh akibat aktivitas alam diantaranya ekosistem, keadaan flora dan fauna.

Sebagai kawasan konservasi, pengembangan wisata alam harus dilakukan dengan sekecil mungkin memberikan dampak terhadap ekosistem. Setiap aktivitas

 Bukit Tigapuluh  Kayan Mentarang  Betung Kerihun  Gunung Palung  Lorenz  Teluk Cendrawasih  Wakatobu  Rawa Aopa Watomohai  Siberut  Takabonerate  Bukit Baka Bukit Raya  Lore Lindu

 Karimun Jawa  Bogani Nani Wartabone  Gunung Leuser  Kerinci Seblat  Berbak  Way Kambas  Kutai  Kepulauan Seribu  Gunung Halimun  Danau Sentarum  Bukit Barisan Selatan  Tanjung Puting  Wasur  Bunaken  Meru Betiri  Komodo  Bali Barat  Gunung Gede Pangrango  Bromo Tengger Semeru  Baluran  Ujung Kulon  Kalimutu  Alas Purwo Tingkat ketergantungan masyarakat tradisional

Tingkat konflik antar sektor dalam masyrakat

Tingkat pengelolaan Pengelolaan bersama

masyarakat lokal

Manajemen kolaboratif Kemandirian pengelolaan Taman Nasional Arah Pengelolaan Kriteria Pengelompokan

Gambar 2. Alternatif Pengelompokan dan Arah Pengelolaan Taman Nasional (Wiratno dkk, 2004 dalam Fandeli dan Nurdin, 2005)

(6)

yang dilakukan didalamnya harus sangat terbatas, bukan wisata massal melainkan wisata minat khusus (special interest tourism). Menurut Fandeli dan Nurdin (2005), wisata minat khusus mengandung empat unsur yang harus menguntungkan lingkungan dan masyarakat. Unsur tersebut yaitu: (1) terjadinya proses belajar, (2) pemberian penghargaan dan pemahaman terhadap alam, (3) pengkayaan pengetahuan, (4) petualangan.

Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Sangkima dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Pengelola belum melakukan pembatasan jumlah kunjungan karena belum ada kajian mengenai kapasitas daya dukung kawasan wisata alam Sangkima.apabila hal ini berlangsung terus dikhawatirkan akan memberikan dampak negatif terhadap kelangsungan wisata alam Sangkima.

Pengelola wisata alam Sangkima dalam hal ini Balai Taman Nasional Kutai sedang mendesain bagaimana agar wisata alam Sangkima bisa dikembangkan sebagai objek wisata namun dampak terhadap kawasan dapat ditekan. Pembangunan fasilitas sebagai penunjang keberadaan objek wisata dirancang agar tidak merusak/memberi tekanan terhadap kawasan.

Ekowisata menjadi sangat penting dalam menyelesaikan berbagai permasalahan lingkungan dengan melibatkan masyarakat lokal untuk turut aktif dalam pengelolaannya. Dukungan dari berbagai pihak menjadi nilai positif dalam pengembangan objek wisata. Pilihan kebijakan pengelolaan kolaborasi, pemerintah dan masyarakat merupakan ragam pengelolaan yang diambil berdasarkan keadaan spesifik lokal, mensinkronkan kepentingan pemerintah dan masyarakat, meminimalkan resistensi dan memaksimalkan sinergitas pemangku kepentingan diharapkan dapat diimplementasikan dalam mendukung pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

 Bagaimana potensi wisata alam Sangkima untuk dikembangkan menjadi ekowisata?

 Berapa daya dukung untuk dikembangkan sebagai ekowisata?  Bagaimana strategi pengembangan wisata alam Sangkima?

(7)

C. Kerangka Pendekatan Penelitian

 Mengidentifikasi Potensi Wisata alam Sangkima  Mengetahui daya dukung kawasan

 Merumuskan strategi pengembangan

Permasalahan Latar Belakang Tujuan dan Manfaat Metode

layak melebihi positif

negatif tidak

melebihi tidak

layak

Peluang Ancaman Kelemahan Keunggulan Analisis Tekanan terhadap TN Kutai yang semakin berat namun aktivitas

wisata alam di Sangkima yang yang terus meningkat

 Bagaimana potensi Wisata alam Sangkima?  Bagaimana daya dukung kawasan?

 Bagaimana strategi pengembangan?

Keberlanjutan Pariwisata Alam  Environment  Community Empowerment  Local Economic  Culture Analisis Potensi ODTWA Analisis Daya Dukung Analisis Stakeholder Matriks SWOT AHP

Strategi dan Rekomendasi Pengembangan Hasil

(8)

D. Keaslian Penelitian

Beberapa penelitian yang memiliki tema tentang kajian potensi ekowisata maupun strategi pengembangannya yang dilaksanakan di lokasi lain tersaji pada tabel berikut.

Tabel 1. Beberapa Penelitian dengan Tema Serupa

No Nama Judul Penelitian Metode Hasil

1. Erni Yuniarti, 2005

Strategi

Pengembangan Wisata Alam di Balai Taman Nasional Betung Kerihun Kalimantan Barat Analisis supply demand, analisis SWOT

Balai Taman Nasional Betung Kerihun memiliki potensi sumberdaya alam dan budaya yang potensial untuk dikembangkan. Rekomendasi yang diberikan yaitu pengembangan untuk wisata penelitian maupun wisata budaya. Perlu dilakukan penataan sarana dan prasaran yang dapat menunjang peningkatan kegiatan wisata alam di kawasan tersebut.

2. Mohammad Ramli, 2009 Strategi Pengembangan Wisata di Pulau Bawean Kabupaten Gresik

Analisis SWOT, AHP Pulau Bawean berpotensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata. Strategi pengembangannya menggunakan sumberdaya potensial yang ada. Selain itu harus dibangun kerjasama antar stakeholder. Engadaan fasilitas wisata juga merupakan upaya yang harud dilakukan untuk dapat mengembangkan pulau Bawean sebagai objek wisata di Kabupaten Gresik.

3. Hariadi Siswantoro, 2012

Kajian Daya Dukung Lingkungan Wisata Alam Taman Wisata Alam Grojogan Sewu Kabupaten

Karanganyar

Penilaian daya dukung, penilaian persepsi pelaku wisata terhadap wisatawan, SWOT, wawancara mendalam dan AHP

Daya dukung lingkungan efektif TWA Grojogan Sewu yaitu sebesar 1.002 orang per hari. Nilai ini masih lebih besar daripada nilai aktual jumlah wisatawan sebesar 926 per hari. Berdasarkan hasil AHP, strategi pengelolaan TWA yaitu peningkatan ekonomi kreatif terhadap masyarakat local dalam menghasilkan produk dan jasa wisata.

(9)

4. Tatag Muttaqin, 2012

Kajian Potensi dan Strategi

Pengembangan

Ekowisata di Kawasan Cagar Alam Pulau Sempu Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur

Metode survey untuk penggumpulan data. Analisa SWOT untuk menentukan strategi pengembangan

ekowisata dan AHP untuk menentukan keputusan terbaik terhadap beberapa pilihan (ekonomi, lingkungan, sosial)

Berdasarkan analisa SWOT dan AHP, arahan strategi pengembangan ekowisata yaitu: mengevaluasi fungsi dan status kawasan, membangun kesamaan persepsi dan konsep pengembangan ekowisata diantara

stakeholder, Pengembangan ekowisata di kedua

kawasan yaitu Cagar Alam Pulau Sempu sebagai penyedia produk wisata berupa atraksi alam dan Pantai Sendang Biru sebagai penyedia fasilitas wisata dan aksesibilitas, pemberdayaan masyarakat

dalam kegiatan pengelolaan Cagar Alam Pulau Sempu dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dalam pengembangan ekowisata, meningkatkan sarana pendidikan dan meningkatan kualitas produk dan SDM. 5. Hari Purnomo,

2013

Kajian Potensi dan daya Dukung Ekowisata Cagar Alam Pulau Sempu Jawa Timur

Identifikasi dan analisis objek wisata, analisis daya dukung, perumusan alternatif pengelolaan melalui survei, wawancara dan studi pustaka

Cagar alam pulau Sempu memiliki beberapa oobjek wisata yang terdiri dari wisata darat dan wisata pantai. Hasil penilaian daya dukung, kawasan ini masih belum melebihi daya dukung efektif. Berdasarkan hasil analisis SWOT diperoleh alternatif kebijakan pengelolaan yaitu perlu pembagian blok pengelolaan untuk menyelamatkan ekosistem dan kehati, evaluasi terhadap fungsi kawasan cagar alam menjadi tawan wisata alam, meningkatkan koordinasi pemda Kabupaten Malang dengan pengelola kawasan, mengembangkan ekowisata berbasiskan pada ODTWA, kolaborasi pengelola dengan masyarakat sekitar.

6. Ade Saepulloh Abdul Kholik, 2013

Daya Dukung Biofisik Wana Wisata dan Rest Area Urug Kota Tasikmalaya

Analisis deskriptif, indeks kesesuaian wisata, analisis daya dukung

Rata-rata kunjungan wisatawan sebanyak 30 orang per hari. Angka tersebut masih dibawah daya dukung kawasan sebesar 2611 orang per hari. Upaya peningkatan jumlah kunjungan masih dapat dilakukan oleh pengelola. Aktivitas wisata yang dilakukan yaitu outbond dan berkemah.

(10)

7. Sigit Purwanto, 2104

Kajian Potensi dan Daya Dukung Taman Wisata Alam Bukit Kelam untuk Strategi Pengembangan Ekowisata Analisis potensi menggunakan pedoman ADO-ODTWA Ditjen PHKA, 2003. Analsis daya dukung, stakeholder grid, analisis SWOT.

TWABK memiliki potensi objek wisata yang dapat dikembangkan sebagai ekowisata seperti panorama, jalur pendakian, wisata rohani dan wisata agro. Daya dukung efektif sebesar 198 org/hari. Stakeholder dalam pengelolaan TWABK pemerintah pusat, pemerintah daerah, LSM, swasta, akademisi dan pengusaha air minum isi ulang.

8. Nana Winnit Muthmainnah, 2014

Analisis

Pengembangan Wisata Alam Berbasis Daya Dukung di Kawasan Cikole Jayagiri Resort Lembang Jawa Barat

Analisis daya dukung,

SWOT, AHP,

identifikasi persepsi wisatawan dengan Skala Likert

Indikator persepsi wisatawan di kawasan Cikole Jayagiri Resort bernilai baik. Alternatif produk wisata alam yang dapat dikembangkan berdasarkan bobot prioritas yaitu outbond, menikmati pemandangan alam dan berkemah. Tingkat kunjungan ke kawasan ini masih berada di bawah ambang batas daya dukung kawasan.

9 Agus Erwan, 2016

Analisis Potensi dan Daya Dukung ODTWA Sangkima – Taman Nasional Kutai untuk Pengembangan Ekowisata

Analisis Daerah Operasi ODTWA (Ditjen PHKA, 2003), analisis daya dukung (fisik, riil, efektif) dan analisis strategi pengembangan (SWOT dan AHP)

ODTWA sangkima memiliki potensi wisata yang bisa diukur/dianalisis. Penilaian tersebut untuk mengukur tingkat kelayakan ODTWA. Dalam upaya pengelolaa ekowisata yang berkelanjutan perlu diketahui daya dukung kawasan dan bagaimana strategi pengembangannya. Hasil analisis SWOT kuantitatifkan dengan AHP. Komponen yang dibandingkan dalam AHP yaitu aspek ekonomi, ekologi dan sosial yang bisa digunakan sebagai atraksi penunjang ekowisata.

(11)

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk :

1. Mengidentifikasi dan melakukan penilaian potensi ODTWA Sangkima – Taman Nasional Kutai.

2. Menentukan daya dukung wisata alam Sangkima.

3. Merumuskan strategi pengembangan wisata alam Sangkima.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk memberi masukan dan sebagai bahan pertimbangan bagi para pengambil keputusan dalam pengelolaan wisata alam Sangkima. Dalam pengelolaan dan pengembangan ekowisata harus tetap berpegang pada prinsip ekowisata yaitu barbasis ke alam, adanya keberlanjutan ekologis, memberi manfaat bagi masyarakat lokal, mengandung unsur pendidikan lingkungan dan mengutamakan kepuasan pengunjung. Apabila prinsip tersebut bisa terlaksana maka akan berdampak positif terhadap pengelolaan ekowisata di kawasan konservasi Taman Nasional Kutai. Penelitian ini juga diharapkan memberikan sumbangan pemikiran tentang strategi pengembangan ekowisata sebagaimana yang tertuang dalam kesimpulan penelitian ini.

Gambar

Gambar 1. Peta Zonasi Taman Nasional Kutai (BTNK, 2013)
Gambar 2. Alternatif Pengelompokan dan Arah Pengelolaan Taman Nasional  (Wiratno dkk, 2004 dalam Fandeli dan Nurdin, 2005)
Gambar 3. Kerangka Pendekatan Penelitian
Tabel 1. Beberapa Penelitian dengan Tema Serupa

Referensi

Dokumen terkait

Pendapatan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (2) bersumber dari pendapatan asli Desa terdiri atas hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong

Ia juga mengajak relawan dari mahasiswa IPB University terutama yang tinggal di dalam kampus untuk bersama-sama membantu memberikan makan kucing secara

Hasil penelitian yang diperoleh adalah kasus spondilitis tuberkulosis yang ditemukan pada tahun 2014 sebanyak 44 pasien.. Penyakit ini dapat menyerang segala jenis kelamin dan

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa penguasaan guru terhadap materi pelajaran ketika memberi pelajaran dikategorikan sangat menguasai, pesponden yang

Sehingga dapat dilihat hasil penilaian rata – rata yang dicapai nilai dari kegiatan kondisi awal 64,77 dan pada silkus pertama nilai rata – rata yang dicapai 65,45

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa persentase larutan kapur sirih terbaik untuk bahan perendaman pada pembuatan keripik talas ketan adalah 20% dan lama

Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang hendak diurai melalui program ini adalah: cara meningkatkan penguasaan bidang studi Astronomi para guru

Struktur pasar monopolistik terjadi manakala jumlah produsen atau penjual banyak dengan produk yang serupa/sejenis, namun di mana konsumen produk tersebut