• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN TRANSPORTASI MODERN D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN TRANSPORTASI MODERN D"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

Penelitian Media, Teknologi, Dan Masyarakat

Teknologi Masa Depan

(Studi Kasus Opini Masyarakat Surabaya Mengenai

Sarana Transportasi Modern dan Kaitannya dengan

Kemacetan Lalu Lintas)

Oleh tim peneliti :

Ketua

Kevin Aditya Yudha P

(B76213070)

Anggota

1.Dwi Amrina Rosyada

(B36213016)

2.Halimatus Sa’diyah

(B06213018)

3.Hanifuddien El- Kholily (B06213020)

E-mail : [email protected]

Mahasiswa Kelas 2F2

Dosen Pembimbing :

Yusuf Amrozi, M.MT

PRODI ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun laporan penelitian ini tepat pada waktunya. Laporan penelitian ini membahas tentang opini masyarakat surabaya mengenai sarana transportasi modern dan kaitannya dengan lalu lintas

Dalam penyusunan laporan penelitian ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan, akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan penelitian ini. Semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.

Penulis menyadari bahwa laporan penelitian ini jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan laporan penelitian selanjutnya.

Demikianlah sebagai pengantar kata, dengan iringan serta harapan semoga laporan penelitian sederhana ini dapat diterima dan bermanfaat bagi para pembaca. Penulis mengucapkan ribuan terima kasih yang tidak terhingga, semoga segala bantuan dari semua pihak mudah-nudahan mendapat amal baik yang diberikan oleh Allah SWT. Amiin.

Surabaya, 11 Juni 2014

(3)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Transportasi merupakan sebuah kunci yang memiliki peranan penting sebagai pengembangan sebuah wilayah.Kegagalan peran transportasi memiliki dampak yang luas terhadap bidang sosial, ekonomi, politik dan perkembangan wilayah itu sendiri. Di dalam kontruksi sosial-politik transportasi merupakan diwujudkan sebagai sebuah hak asasi sesorang di dalam aksesbiltas mobilsasi.Pada umunya kebijakan sistem transportasi di Indonesia masih berpihak kepada pengembangan transportasi jalan terutama pada kebijakan kendaraan bermotor (terutama sepeda motor) yang semakin tidak dapat dikendalikan jumlahnya.Salah satu sisi angkutan umum semakin dimarginalkan dan kurang mendapat perhatian yang cukup serius oleh Pemerintah sebagai sebuah kebijakan.

Transportasi tak lepas halnya dari kemacetan juga berimbas pada wilayah permukiman penduduk. Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk, misalnya Jakarta dan Surabaya. Kemacetan lalu lintas menjadi permasalahan sehari-hari di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Seringkali aktifitas terhambat karena kemacetan yang seringkali terjadi di kota-kota besar. Sehingga pertumbuhan ekonomi di suatu negarapun dapat terhambat. Macet pun dapat menjadi akibat dari kecelakaan dan konflik antar pengendara yang terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Kadang pengendara yang tidak sabar akan mudah tersulut emosinya dan akan terjadi konflik bahkan saling senggol ataupun jatuh di jalan saat kemacetan. Hal ini terjadi terutama pada pengguna sepeda motor.

(4)

Bahkan kini kemacetan di Surabaya justru bertambah parah. Jika sebelumnya kemacetan hanya terjadi di saat pagi hari (jam berangkat kantor) dan sore hari (jam pulang kantor), kini kemacetan nyaris terjadi sepanjang hari di banyak titik di jalan-jalan di Surabaya.

Kemacetan adalah kondisi dimana terjadi penumpukan kendaraan di jalan. Penumpukan tersebut disebabkan karena banyaknya kendaraan tidak mampu diimbangi oleh sarana dan prasana lalu lintas yang memadai. Akibatnya, arus kendaraan menjadi tersendat dan kecepatan berkendara pun menurun. Rata-rata kecepatan berkendara di Jakarta saat ini berada di kisaran 15 km/jam, yang menurut standar internasional angka ini tergolong sebagai macet. Angka ini di bawah angka kecepatan berkendara di kota di dunia, seperti misalnya Tokyo. Data ini menunjukkan bahwa kondisi kemacetan di Surabaya cukup parah di bawah angka kemacetan Jakarta. Kemacetan ini disebabkan karena melonjaknya jumlah kendaraan bermotor yang ada di Surabaya. Tingginya tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor di Surabaya ini tidak diimbangi oleh meningkatnya sarana dan prasarana lalu lintas yang memadai. Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Surabaya diperkirakan berada di kisaran 5-10% per tahun dengan motor sebagai porsi terbesar penyumbangnya. Berbanding kontras dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor, pertumbuhan panjang jalan bahkan kurang dari 1% per tahunnya. Akibatnya, kendaraan bermotor semakin menumpuk di jalanan Surabaya dan kemacetan pun tidak terhindari.

(5)

yang kurang baik yang memicu menurunya kesejahteraan masyarakat di wilayah pinggiran. Penyebabnya transportasi yang mahal dan hanya mengandalkan transportasi publik yang dinilai kurang manusiawi.Melihat kondisi tersebut perlu dilakukan intervensi maupun penanganan yang serius berkenaan dengan upaya meningkatkan penggunaan angkutan umum yang bersifat massal, cepat, efisien dan murah oleh masyarakat sebagai sarana mobilisasinya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa penyebab kemacetan lalu lintas di Suurabaya menurut pandangan masyarakat ? 2. Bagaimana keadaan transportasi umum di Surabaya menurut pandangan masyarakat ? 3. Menurut opini masyarakat, seperti apa transportasi umum modern yang perlu

direalisasikan di Surabaya ?

4. Apa saja kemungkinan efek yang timbul setelah diterapkannya transportasi umum modern tersebut ?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui penyebab kemacetan lalu lintas di Surabaya menurut pandangan masyarakat kota Surabaya dan sekitarnya.

2. Untuk mengetahui keadaan sarana transportasi umum di Surabaya menurut pandangan masyarakat kota Surabaya dan sekitarnya.

3. Untuk mengetahui opini masyarakat kota Surabaya mengenai model sarana transportasi umum modern yang perlu dan cocok direalisasikan di kota Surabaya.

4. Untuk mengetahui kemungkinan efek yang timbul setelah diterapkannya sarana transportasi umum modern di Surabaya.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

Untuk menambahkan sumber-sumber literatur mengenai perilaku masyarakat dalam menggunakan sarana transportasi terlebih pada transportasi umum.

(6)

Dalam hal ini untuk membantu para stakeholder dalam bidang transportasi, untuk dapat menentukan tindakan terhadap pengembangan dan pembangunan sarana transportasi umum modern yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat juga sesuai dengan tata letak kota Surabaya yang pada akhirnya dapat membantu mengurangi angka kemacetan di kota Surabaya.

1.5 Sistematika Penulisan

1. Bab I - Pendahuluan: berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika pembahasan

2. Bab II – Tinjauan Pustaka: berisi konsep atau terminologi yang di teliti dan teori yang digunakan

3. Bab III - Metodologi penelitian: berisi Jenis dan pendekatan penelitian (kuantitatif atau kualitatif

(7)

BAB II DASAR TEORI

1.1 Media, Teknologi dan Masyarakat 1. Transportasi

Pengertian transportasi yang dikemukakan oleh Nasution (1996) diartikan sebagai pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Sehingga dengan kegiatan tersebut maka terdapat tiga hal yaitu adanya muatan yang diangkut, tersedianya kendaraan sebagai alat angkut, dan terdapatnya jalan yang dapat dilalui. Proses pemindahan dari gerakan tempat asal, dimana kegiatan pengangkutan dimulai dan ke tempat tujuan dimana kegiatan diakhiri. Untuk itu dengan adanya pemindahan barang dan manusia tersebut, maka transportasi merupakan salah satu sektor yang dapat menunjang kegiatan ekonomi (thepromoting sector) dan pemberi jasa (the servicing sector) bagi perkembangan ekonomi. Pengertian lainnya dikemukakan oleh Soesilo (1999) yang mengemukakan bahwa transportasi merupakan pergerakan tingkah laku orang dalam ruang baik dalam membawa dirinya sendiri maupun membawa barang-barang. Selain itu, Tamin (1997:5) mengungkapkan bahwa, prasarana transportasi mempunyai dua peran utama, yaitu: (1) sebagai alat bantu untuk mengarahkan pembangunan di daerah perkotaan; dan sebagai prasarana bagi pergerakan manusia dan/atau barang yang timbul akibat adanya kegiatan di daerah perkotaan tersebut.

Dengan melihat dua peran yang di sampaikan di atas, peran pertama sering digunakan oleh perencana pengembang wilayah untuk dapat mengembangkan wilayahnya sesuai dengan rencana. Misalnya saja akan dikembangkan suatu wilayah baru dimana pada wilayah tersebut tidak akan pernah ada peminatnya bila wilayah tersebut tidak disediakan sistem prasarana transportasi. Sehingga pada kondisi tersebut, parsarana transportasi akan menjadi penting untuk aksesibilitas menuju wilayah tersebut dan akan berdampak pada tingginya minat masyarakat untuk menjalankan kegiatan ekonomi. Hal ini merupakan penjelasan peran prasarana transportasi yang kedua, yaitu untuk mendukung pergerakan manusia dan barang.

(8)

(1997:4) bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki keterkaitan dengan transportasi, karena akibat pertumbuhan ekonomi maka mobilitas seseorang meningkat dan kebutuhan pergerakannya pun menjadi meningkat melebih kapasitas prasarana transportasi yang tersedia. Hal ini dapat disimpulkan bahwa transportasi dan perekonomian memiliki keterkaitan yang erat. Di satu sisi transportasi dapat mendorong peningkatan kegiatan ekonomi suatu daerah, karena dengan adanya infrastruktur transportasi maka suatu daerah dapat meningkat kegiatan ekonominya. Namun di sisi lain, akibat tingginya kegiatan ekonomi dimana pertumbuhan ekonomi meningkat maka akan timbul masalah transportasi, karena terjadinya kemacetan lalu lintas, sehingga perlunya penambahan jalur transportasi untuk mengimbangi tingginya kegiatan ekonomi tersebut. Pentingnya peran sektor transportasi bagi kegiatan ekonomi mengharuskan adanya sebuah sistem transportasi yang handal, efisien, dan efektif. Transportasi yang efektif memiliki arti bahwa sistem transportasi yang memenuhi kapasitas yang angkut, terpadu atau terintegrasi dengan antar moda transportasi, tertib, teratur, lancar, cepat dan tepat, selamat, aman, nyaman dan biaya terjangkau secara ekonomi.Sedangkan efisien dalam arti beban publik sebagai pengguna jasa transportasi menjadi rendah dan memiliki utilitas yang tinggi.

a. Angkutan Umum Penumpang (AUP)

Angkutan umum penumpang adalah angkutan penumpang yang dilakukan dengan sistem sewa atau bayar, seperti angkutan kota (bus, mini bus, dsb), kereta api, angkutan air, dan angkutan udara (Warpani,1990). Tujuan utama keberadaan AUP ini adalah menyelenggarakan pelayanan angkutan yang baikdan layak bagi masyarakat. Menurut Stewart dan David (1980), dalam Warpani (1990), memilih pangsa pasar angkutan umum penumpang menjadi beberapa perjalanan antara lain:

(9)

 Perjalanan kerja adalah perjalanan yang dilakukan dengan maksud bekerja. Untukperjalanan jenis ini, pelayanan angkutan hendaknya meminimumkan waktu (haruscepat dan tepat waktu).

 Perjalanan santai, perjalanan jenis ini seperti: pergi arisan, makan di luar rumah,nonton dan sebagainya. Perjalanan ini yang memuaskan bergantung pada tujuanperjalanan tersebut dan para pelakunya.

 Perjalanan liburan, perjalanan ini dilakukan untuk tujuan liburan.

 Perjalanan wisata, perjalanan ini dilakukan untuk tujuan wisata.

(10)

b. Peranan Angkutan Umum

Angkutan Umum berperan dalam memenuhi kebutuhan manusia akanpergerakan ataupun mobilitas yang semakin meningkat, untuk berpindah dari suatu tempat ke tempat lain yang berjarak dekat, menengah ataupun jauh. Angkutan umum juga berperan dalam pengendalian lalu lintas, penghematan bahan bakar atau energi, dan juga perencanaan & pengembangan wilayah.(Warpani, 1990).

Esensi dari operasional angkutan umum adalah memberikan layanan angkutan yang baik dan layak bagi masyarakat dalam menjalankan kegiatannya, baikuntuk masyarakat yang mampu memiliki kendaraan pribadi sekalipun (Choice), dan terutama bagi masyarakat yang terpaksa harus menggunakan angkutan umum (Captive). Ukuran pelayanan angkutan umum yang baik adalah pelayanan yang aman, cepat, murah, dan nyaman.(Warpani, 1990).

2. Kemacetan Lalu Lintas

Pengertian Kemacetan Lalulintas

Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan.Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk, misalnya Jakarta. Kemacetan lalu lintas menjadi permasalahan sehari-hari di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Penyebab kemacetan

Kemacetan dapat terjadi karena beberapa alasan:

1. Arus yang melewati jalan telah melampaui kapasitas jalan.

(11)

3. Terjadi banjir sehingga kendaraan memperlambat kendaraan.

4. Ada perbaikan jalan.

5. Bagian jalan tertentu yang longsor.

6. Kemacetan lalu lintas yang disebabkan kepanikan seperti kalau terjadi isyarat sirene tsunami.

7. Karena adanya pemakai jalan yang tidak tahu aturan lalu lintas, Seperti: berjalan lambat di lajur kanan dan sebagainya.

8. Adanya parkir liar dari sebuah kegiatan.

9. Pasar tumpah yang secara tidak langsung memakan badan jalan sehingga pada akhirnya membuat sebuah antrian terhadap sejumlah kendaraan yang akan melewati area tersebut.

10. Pengaturan lampu lalu lintas yang bersifat kaku yang tidak mengikuti tinggi rendahnya arus lalu lintas.

Dampak negatif kemacetan

1. Kemacetan lalu lintas memberikan dampak negatif yang besar yang antara lain disebabkan:

2. Kerugian waktu, karena kecepatan perjalanan yang rendah

3. Pemborosan energi, karena pada kecepatan rendah konsumsi bahan bakar lebih rendah,

4. Keausan kendaraan lebih tinggi, karena waktu yang lebih lama untuk jarak yang pendek, radiator tidak berfungsi dengan baik dan penggunaan rem yang lebih tinggi,

(12)

6. Meningkatkan stress pengguna jalan,

7. Mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti ambulans, pemadam kebakaran dalam menjalankan tugasnya

3. Teknologi

Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.Secara umum, teknologi dapat didefinisikan sebagai entitas, benda maupun tak benda yang diciptakan secara terpadu melalui perbuatan dan pemikiran untuk mencapai suatu nilai.Dalam penggunaan ini, teknologi merujuk pada alat dan mesin yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah di dunia nyata.

Ia adalah istilah yang mencakupi banyak hal, dapat juga meliputi alat-alat sederhana, seperti linggis atau sendok kayu, atau mesin-mesin yang rumit, seperti stasiun luar angkasa atau pemercepat partikel. Alat dan mesin tidak mesti berwujud benda; teknologi virtual, seperti perangkat lunak dan metode bisnis, juga termasuk ke dalam definisi teknologi ini.dan Teknologi juga dapat dipandang sebagai kegiatan yang membentuk atau mengubah kebudayaan. Selain itu, teknologi adalah terapan matematika, sains, dan berbagai seni untuk faedah kehidupan seperti yang dikenal saat ini.Sebuah contoh modern adalah bangkitnya teknologi komunikasi, yang memperkecil hambatan bagi interaksi sesama manusia, dan sebagai hasilnya, telah membantu melahirkan sub-sub kebudayaan baru; bangkitnya budaya dunia maya yang berbasis pada perkembangan Internet dan komputer.

Tidak semua teknologi memperbaiki budaya dalam cara yang kreatif; teknologi dapat juga membantu mempermudah penindasan politik dan peperangan melalui alat seperti pistol atau bedil. Sebagai suatu kegiatan budaya, teknologi memangsa ilmu dan rekayasa, yang masing-masing memformalkan beberapa aspek kerja keras teknologis.

Ada tiga klasifikasi dasar dari kemajuan teknologi yaitu :

(13)

2. Kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (bahasa Inggris: labor-saving technological progress). Kemajuan teknologi yang terjadi sejak akhir abad kesembilan belas banyak ditandai oleh meningkatnya secara cepat teknologi yang hemat tenaga kerja dalam memproduksi sesuatu mulai dari kacang-kacangan sampai sepeda hingga jembatan.

3. Kemajuan teknologi yang hemat modal (bahasa Inggris: capital-saving technological progress). Fenomena yang relatif langka. Hal ini terutama disebabkan karena hampir semua riset teknologi dan ilmu pengetahuan di dunia dilakukan di negara-negara maju, yang lebih ditujukan untuk menghemat tenaga kerja, bukan modalnya.

Banyak orang yang menggunakan teknologi, namun tidak banyak orang yang mengerti apa Definisi Teknologi sebenarnya. Oleh karena itu, banyak orang yang tidak dapat membedakan teknologi. Sebab itu juga, disini saya akan memberikan sedikit penjelasan tentang pengertian teknologi.

Teknologi memiliki banyak definisi yang berbeda-beda.Masing-masing dikemukakan oleh beberapa buku dan ahli dalam bidangnya.Salah satunya dari kamus besar bahasa Indonesia, Poerbahawadja Harahap, dan beberapa ahli lainnya.

Definisi Teknologi Menurut Poerbahawadja Harahap, Teknologi adalah: 1. Ilmu yang menyelidiki cara- cara kerja di dalam tehnik

2. Ilmu pengetahuan yang digunakan dalam pabrik- pabrik dan industri- industri.

Sedangkan definisi Teknologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:1158), Teknologi adalah:

1. Metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis ilmu pengetahuan terapan

2. Keseluruhan sarana untuk menyediakan barang- barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

4. Masyarakat

a. Tinjauan tentang masyarakat

(14)

berarti (ikut serta dan berpartisipasi).Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul, dalam istilahilmiah adalah saling berinteraksi.Suatu kesatuan manusia dapat mempunyai prasarana melalui warga-warganya dapat saling berinteraksi. Definisi lain, masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Kontinuitas merupakan kesatuan masyarakat yang memiliki keempat ciri yaitu: 1) Interaksi antar warga-warganya, 2) Adat istiadat, 3) Kontinuitas waktu, 4) Rasa identitas kuat yang mengikat semua warga (Koentjaraningrat, 2009: 115-118).

Semua warga masyarakat merupakan manusia yang hidup bersama, hidup bersama dapat diartikan sama dengan hidup dalam suatu tatanan pergaulan dan keadaan ini akan tercipta apabila manusia melakukan hubungan, Mac lver dan Page (dalam Soerjono Soekanto 2006: 22), memaparkan bahwa masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan, tata cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok, penggolongan, dan pengawasan tingkah laku serta kebiasaan-kebiasaan manusia. Masyarakat merupakan suatu bentuk kehidupan bersama untuk jangka waktu yang cukup lama sehingga menghasilkan suatu adat istiadat, menurut Ralph Linton (dalam Soerjono Soekanto, 2006: 22) masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama, sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas sedangkan masyarakat menurut Selo Soemardjan (dalam Soerjono Soekanto, 2006: 22) adalah orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan dan mereka mempunyai kesamaan wilayah, identitas, mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang diikat oleh kesamaan.

Menurut Emile Durkheim (dalam Soleman B. Taneko, 1984: 11) bahwa masyarakat merupakan suatu kenyataan yang obyektif secara mandiri, bebas dari individu-individu yang merupakan anggota-anggotanya.Masyarakat sebagai sekumpulan manusia didalamnya ada beberapa unsur yang mencakup. Adapun unsur-unsur tersebut adalah: 1. Masyarakat merupakan manusia yang hidup bersama

2. Bercampur untuk waktu yang cukup lama

(15)

Menurut Emile Durkheim (dalam Djuretnaa Imam Muhni, 1994: 29-31) keseluruhan ilmu pengetahuan tentang masyarakat harus didasari pada prinsip-prinsip fundamental yaitu realitas sosial dan kenyataan sosial. Kenyataan sosial diartikan sebagai gejala kekuatan sosial didalam bermasyarakat. Masyarakat sebagai wadah yang paling sempurna bagi kehidupan bersama antar manusia. Hukum adat memandang masyarakat sebagai suatu jenis hidup bersama dimana manusia memandang sesamanya manusia sebagai tujuan bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena setiap anggota kelompok merasa dirinya terikat satu dengan yang lainnya (Soerjono Soekanto, 2006: 22).Beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkanmasyarakat memiliki arti ikut serta atau berpartisipasi, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut society.Bisa dikatakan bahwa masyarakat adalah

sekumpulan manusia yang berinteraksi dalam suatu hubungan sosial. Mereka mempunyai kesamaan budaya, wilayah, dan identitas, mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang diikat oleh kesamaan.

Pengkonsepan Angkutan Umum

Secara umum, angkutan publik berperan pada aspek-aspek keadilan, lingkungan, keselamatan dan efisiensi.Keberadaan angkutan publik dapat mencegah kesalahan presepsi, bahwa angkutan tersebut merupakan upaya akhir dalam melayani orang-orang yang mempunyai upah minimum.

Hal ini dapat menimbulkan polarisasi antara kelompok pemilik kendaraan pribadi dengan aksesibilitas bebas ke semua tujuan serta mobilisasi tinggi dan kelompok yang tidak memiliki kendaraan pribadi dengan aksesibilitas terbatas serta mobilitas rendah.Penyediaan angkutan publik yang memadai dapat mencegah isu ketidak-adilan.Jika orang mau menggunakan angkutan publik dan bersedia meninggalkan kendaraan pribadi, maka jumlah kecelakaan menurun. Hal ini disebabkan karena jumlah kendaraan pribadi di jalan raya berkurang, pengguna jalan tidak terlalu banyak, pengaturan lalu lintas mudah dan operasi semua moda angkutan menjadi aman (Sutomo, 1995 dalam Sudianto, BU, 1999).

(16)

adalah pelayanan yang aman, cepat, murah, dan nyaman.Selain itu, keberadaan angkutan umum penumpang juga membuka lapangan kerja. Ditinjau dengan kacamata perlalu-lintasan, keberadaan angkutan umum penumpang mengandung arti pengurangan volume lalu lintas kendaraan pribadi. Hal ini dimungkinkan angkutan umum penumpang bersifat angkutan massal sehingga biaya angkut dapat dibebankan kepada lebih banyak orang atau penumpang. Banyaknya penumpang menyebabkan biaya per penumpang dapat ditekan serendah mungkin (Warpani,2002).

Dengan demikian pengertian dasar tentang angkutan umum adalah pergerakan perpindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan kendaraan bermotor sesuai dengan jenis angkutannya dan dalam pelayanan jasa angkutan tersebut dipungut bayaran sesuai dengan kebutuhannya (Setijowarno (ed), 2005).

Terminologi Angkutan Umum Massal

Kebijakan transportasi sebaiknya melepaskan fokus pada kendaraan bermotor dan memandang sistem transportasi secara terpadu.Tujuan kebijakan transportasi terpadu adalah untuk menciptakan sistem transportasi yang ramah lingkungan hidup dengan meningkatkan efsisensi dan kinerja sistem transportasi.

Dengan kenaikan efisiensi ini penggunaan bahan bakar menurun sehingga subsidi pemerintah untuk BBM diharapkan juga akan menurun. Sistem transportasi itu juga bersifat berpihak pada rakyat.Bersamaan dengan itu kerusakan kualitas lingkungan hidup menurun dan tingkat keadilan meningkat (Soemarwoto, 2005). Transportasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan perkotaan. Transportasi merupakan kebutuhan turunan yang mutlak dilakukan untuk mendukung berbagai aktifitas masyarakat perkotaan. Pergerakan masyarakat perkotaan berkembang pesat sejalan dengan perkembangan wilayah dan pertumbuhan wilayah yang semakin hari semakin tinggi.Hal ini menimbulkan permasalahan dimana kapasitas prasarana transportasi untuk mendukung pergerakan masyarakat tidak dapat mengantisipasi kebutuhan yang ada.

(17)

sebuah kota harus dapat menyediakan prasarana dan sarana transportasi yang sesuai dengan kebutuhan pergerakan yang ada. Jika tidak, yang terjadi adalah adanya ketidakseimbangan supply-demand yang akhirnya memberikan dampak pada aktifitas masyarakat secara keseluruhan.

Penyediaan prasarana dan sarana transportasi yang memadai berawal dari kapasitas angkut yang sesuai dengan kebutuhan.Hal ini merupakan hal umum yang terjadi di wilayah perkotaan di negara berkembang dimana penyediaan transportasi masih difokuskan padakapasitas angkut. Pada kota yang lebih maju, penyediaan prasarana dan sarana transportasi dituntut untuk dapat memberikan pelayanan pengangkutan yang lebih baik dalam mengakomodir pergerakan.

Hal umum yang terjadi diperkotaan di Indonesia adalah penyediaan prasarana dan sarana angkutan sangat terbatas dengan kualitas pelayanan yang sangat memprihatinkan.Penyediaan angkutan umum masih belum dapat memenuhi kebutuhan akan transportasi. Hal ini terlihat dari masih banyaknya anggota masyarakat yang tidak terlayani oleh angkutan khususnya padapagi dan sore hari.Selain itu, pelayanan angkutan umum yang seadanya, baik dari sisi kendaraan maupun jaringan pelayanan, semakin memperburuk kondisi angkutan umum.Hal ini memicu penggunaan kendaraan pribadi pada masyarakat perkotaan dalam menjalankan aktifitasnya.

Dengan daya tarik kota, khususnya ekonomi, menjadikan kota-kota besar tersebut tetap menjadi tujuan urbanisasi dan akhirnya menjadikan penduduk pada kota-kota tersebut menjadi sangat tinggi. Tercatat pada tahun 1998/1999, jumlah kota metropolitan yang ada di Indonesia sebanyak 12 kota dengan total jumlah penduduk mencapai 44,3 juta orang (InfrastrukturIndonesia, Bappenas 2003). Jumlah ini didominasi oleh penduduk di wilayah Jabodetabek sebesar kurang lebih 20 juta orang. Diperkirakan pada tahun 2020 nanti, jumlah kota metropolitan menjadi sebanyak 23 kota dengan total penduduk sekitar 92 juta orang. Tahun 2004, kota-kota besar di Indonesia yang memiliki penduduk lebih dari 1 juta orang dijabarkan pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Karakteristik Kota Besar Indonesia tahun 2004

NO KOTA Jumlah Penduduk

(Juta Orang)

(18)

1 Jakarta 12,0 DKI Jakarta 2 Jabotabek 21,13 Jakarta, Bogor, Depok,

Tangerang dan Bekasi

3 Bandung 1,87

-4 Bandung Metropolitan Area 7,60 Kota Bandung, Kota Cimahi dan sebagian Kab. Bandung,sebagian Kab.

Sumedang

5 Metro Semarang 1,25 Semarang dan sekitarnya (Kedungsapur)

6 Yogyakarta 1,00

-7 Angglomerasi Yogyakarta 1,60 Yogyakarta, Bantul, Sleman

8 Surabaya 2,66

-9 Metro Surabaya 6,7 Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Lamongan, Madura

(19)
(20)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Pengertian Metode, Penelitian, dan Metode Penelitian

Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Adapun pengertian dan definisi metode menurut para ahli antara lain :

1. Rothwell & Kazanas : Metode adalah cara, pendekatan, atau proses untuk menyampaikan informasi.

2. Titus : Metode adalah rangkaian cara dan langkah yang tertib dan terpola untuk menegaskan bidang keilmuan.

Penelitian atau riset berasal dari bahasa inggris “research” yang artinya adalah proses pengumpulan informasi dengan tujuan meningkatkan, memodifikasi atau mengembangkan sebuah penyelidikan atau kelompok penyelidikan. Pada dasarnya riset atau penelitian adalah setiap proses yang menghasilkan ilmu pengetahuan. Adapun pengertian penelitian menurut para ahli adalah :

1. Fellin, Tripodi & Meyer (1996) : Penelitian adalah suatu cara sistematik untuk maksud meningkatkan, memodifikasi dan mengembangkan pengetahuan yang dapat di sampaikan (dikomunikasikan) dan diuji (diverifikasi) oleh peneliti lain.

2. Kerlinger (1986: 17-18) : Penelitian adalah investigasi yang sistematis, terkontrol, empiris dan kritis dari suatu proposisihipotesis mengenai hubungan tertentu antarfenomena.

Metode penelitian adalah suatu cara atau prosedur yang dipergunakan untuk melakukan penelitian sehingga mampu menjawab rumusan masalah dan tujuan penelitian. Beberapa pandangan metode penelitian secara umum menurut para ahli :

1. Nasir (1988:51) : Metode penelitian merupakan cara utama yang digunakan peneliti untuk mencapai tujuan dan menentukan jawaban atas masalah yang diajukan.

(21)

Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mengumpulkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris dan sistematis.

Metode penelitian merupakan rangkaian cara atau kegiatan pelaksanaan penelitian yang didasari oleh asumsi-asumsi dasar, pandangan-pandangan filosofis dan ideologis, pertanyaan dan isu-isu yang dihadapi. Suatu penelitian mempunyai rancangan penelitian (research design) tertentu. Rancangan ini menggambarkan prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data dan kondisi arti apa data dikumpulkan, dan dengan cara bagaimana data tersebut dihimpun dan diolah. Tujuan rancangan penelitian adalah melalui penggunaan metode penelitian yang tepat, dirancang kegiatan yang dapat memberikan jawaban yang teliti terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian.

3.2. Metode Penelitian Kuantitatif

Penelitian kuantitatif didasari oleh filsafat positivisme yang menekankan fenomena-fenomena objektif dan dikaji secara kuantitatif. Maksimalisasi objektivitas desain penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angka-angka, pengolahan statistik, struktur dan percobaan terkontrol. Ada beberapa metode penelitian yang dapat dimasukan ke dalam penelitian kuantitatif yang bersifat noneksperimental.

a. Penelitian deskriptif

Penelitian deskriptif (descriptive research) adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau.

Penelitian deskriptif, bisa mendeskripsikan sesuatu keadaan saja, tetapi bisa juga mendeskripsikan keadaan dalam tahapan-tahapan perkembangannya. Penelitian demikian disebut penelitian perkembangan (developmental studies). Dalam penelitian perkembangan ada yang bersifat longitudinal atau sepanjang waktu, dan ada yang bersifat cross sectional atau dalam potongan waktu.

b. Penelitian survei

(22)

1. Informasi dikumpulkan dari sekelompok besar orang untuk mendeskripsikan beberapa aspek atau karakteristik tertentu seperti : kemampuan, sikap, kepercayaan, pengetahuan dari populasi;

2. Informasi dikumpulkan melalui pengajuan pertanyaan (umumnya tertulis walaupun bisa juga lisan) dari suatu populasi;

3. Informasi diperoleh dari sampel, bukan dari populasi. Tujuan utama dari survei adalah mengetahui gambaran umum karakteristik dari populasi.

c. Penelitian Ekspos Facto

Penelitian ekspos fakto (expost facto research) meneliti hubungan sebab-akibat yang tidak dimanipulasi atau diberi perlakuan (dirancang dan dilaksanakan) oleh peneliti. Penelitian hubungan sebab-akibat dilakukan terhadap program, kegiatan atau kejadian yang telah berlangsung atau telah terjadi.

3.3. Metode Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif (qualitative research) adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas social, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.

Penelitian kualitatif mempunyai dua tujuan utama, yaitu pertama, menggambarkan dan mengungkap (to describe and explore) dan keduan menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explain). Kebanyakan penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan eksplanatori. Metode kualitatif secara garis besar dibedakan dalam dua macam, kualitatif interaktif dan non interaktif. Metode kualitatif interaktif, merupakan studi yang mendalam menggunakan teknik pengumpulan data langsung dari orang dalam lingkungan alamiahnya.

a. Studi Kasus

Studi kasus (case study) merupakan suatu penelitian yang dilakukan terhadap suatu “kesatuan sistem”. Kesatuan ini dapat berupa program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang terikat oleh tempat, waktu atau ikatan tertentu. Studi kasus adalah suatu penelitian yang diarahkan untuk menghimpun data, mengambil makna, memperoleh pemahaman dari kasus tersebut.

(23)
(24)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1. Analisis Data Kualitatif

Surabaya merupakan salah satu kota besar di Indonesia. Jumlah penduduk yang cukup padat ditambah kebutuhan mobilitas yang tinggi mengakibatkan kota ini selalu ramai. Semakin bertambahnya waktu, jumlah penduduk kian meningkat diiringi dengan peningkatan mobilitasnya juga, namun tidak diimbangi dengan sarana dan infrastruktur yang memadai seperti sarana transportasi dan ruas-ruas jalan.

Dalam hal ini, penduduk semakin bertambah, lalu bertambah pula kebutuhan di tiap masing-masing individu. Dimana seharusnya kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dibantu dengan adanya sarana transportasi.

Namun sebaliknya, sarana transportasi malah menjadikan masyarakat lebih sulit dalam pencapaiannya memenuhi kebutuhan mereka. Diakibatkan oleh kemacetan yang terjadi di kebanyakan ruas jalan di dalam kota Surabaya, terlebih pada ruas jalan di pusat kota, beberapa jalan protokol, juga jalan arteri yang menghubungkan Surabaya dengan kota lain. Tidak hanya pada jam sibuk atau jam kerja saja. Namun kini di tiap jamnya, di kebanyakan ruas jalan tersebut mengalami penumpukan kendaraan, hingga bisa terhitung flow per-jamnya mencapai ribuan kendaraan. Salah satu contohnya adalah kemacetan yang terjadi di jalan Pemuda. Tidak hanya pada jam kerja saja ruas jalan ini mengalami penumpukan kendaraan, seperti yang disampaikan oleh salah satu anggota polisi lalu lintas yang bertugas di pos pantau persimpangan jalan pemuda berinisial AW

“Di sini ramainya nggak cuma jam sibuk aja mas, tapi tiap jam juga ramai. Memang pas jam sibuk jalanan disini penuh, sampai kendaraan lajunya kayak bekicot. Kalau dirata-rata, normalnya disini kendaraan lajunya kira-kira antara 20-40kpj (kilometer perjam). Untuk flow-nya sendiri bisa diperkirakan antara 3000 unit perjam kalau pas jam sbuk seperti jam masuk kerja (antara jam 7-10 pagi), jam makan siang (antara jam 11-2 siang), lalu jam pulang kerja (antara jam 5-7 sore). Nah kalau pas jam-jam biasa bisa diperkirakan antara 900-1200 kendaraan perjamnya.”1

Kemacetan yang terjadi di pusat kota memang bisa dibilang cukup parah. Dari hasil wawancara penulis dengan salah satu anggota polisi lalu lintas tersebut didapat hasil bahwa

(25)

kecepatan rata-rata kendaraan di daerah tersebut antara 20-40 kilometer perjam. Dalam skala internasional, kecepatan kendaraan tersebut diklasifikasikan sebagai kategori macet.

Kemacetan yang terjadi, bukan tanpa sebab. Sebenarnya ruas jalan pemuda juga cukup lebar jika diskalakan dengan ruas jalan di pusat kota lainnya. Jalan pemuda memiliki 4 lajur yang menjadi standar lajur jalan protokol Surabaya. Namun pada kenyataannya masih terjadi penumpukan kendaraan.

Menurut pengamatan yang telah dilakukan oleh penulis, kemacetan yang terjadi di daerah tersebut dikarenakan adanya penumpukan kendaraan pribadi roda dua maupun roda empat. Hal ini diperkuat oleh pernyataan AW yang mengemukakan pendapat senada.

”Disini ini bisa dibilang pusat kota mas. Juga salah satu lokasi pusat bisnis di Surabaya. Contohnya ini di depan ada kantor-kantor bank, ada Surabaya (Delta) Plaza, ada WTC mall, ada hotel Sahid, ada stasiun Gubeng. Di sini ini pusat ekonomi mas, apa aja ada di sini. Jadi pasti penuh kendaraan. Dan rata-rata kendaraan yang bikin penuh ya kendaraan pribadi mas, sepeda motor, mobil. Kalau angkot, jarang mas, paling yang sering lewat ya taksi.”2

Hal yang sama terjadi di area persimpangan jalan Demak-Dupak yang menjadi salah satu jalur arteri dan juga merupakan gerbang keluar-masuk kota lain. Di area ini pasti mengalami kemacetan parah terlebih pada jam sibuk seperti jam masuk kerja dan jam pulang kerja. Juga pada saat liburan. Lokasi ini tidak pernah luput dari penumpukan kendaraan yang mengakibatkan kemacetan parah hingga berjam-jam. Di lokasi ini sebenarnya ruas jalan yang disediakan pun cukup lebar. Di sisi jalan Dupak tersedia 6 jalur dengan 2 arah. Di sisi jalan Demak pun sama, disediakan 6 lajur untuk 2 arah. Namun tetap saja macet. Dari informasi yang didapat penulis melalui pengamatan, memang tidak aneh jika di lokasi ini sering terjadi macet. Dikarenakan jalur ini merupakan salah satu jalur arteri yang mudah diakses dari berbagai jalur di Surabaya. Juga merupakan jalur penghubung antara Surabaya dengan kota lain. Seperti pernyataan DA salah satu anggota polisi lalu lintas yang berjaga di pos pantau Demak.

“Ya nggak heran mas kalau di sini tiap hari macet. Apalagi jam sibuk. Pasti penuh, aku sama temen-temen sampai susah ngaturnya. Ini kan jalur arteri mas. Di sana3 kan

uda langsung masuk tol. Ada yang arah Sidoarjo, Malang ada yang arah Gresik. Malah lebih parah kalau pas liburan. Ampun deh mas. Macet total di sini. Banyak mobil pribadi yang bikin jalanan penuh, soalnya pada mau liburan semua.

Lebih-2 Wawancara santai yang dilakukan penulis pada hari senin Lebih-26 Mei Lebih-2014

(26)

lebih ke luar kota. Kan kalau mau luar kota langsung lewat sini terus masuk tol lebih gampang daripada lewat bawah (jalur alternatif).”4

Tidak sepenuhnya penyebab kemacetan adalah kendaraan pribadi. Di balik banyaknya kendaraan pribadi yang beredar saat ini ada latar belakang mengapa masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Penulis memperoleh data pada observasi yang telah dilakukan di jalan Kertajaya. Dengan asumsi pengguna angkutan umum memiliki pendapat yang dapat menguatkan data yang telah diperoleh dari pihak kepolisian sebelumnya. Seperti yang dikatakan oleh salah satu ibu rumah tangga bernama SA.

“Aduh mas, iki ae kepekso aku mas numpak len. Biasae aku diterno anakku nang pucang. Lek aku biasae diterno nggawe speda motor, teko omah nang pucang paling setengah jam mas. Tapi lek numpak len ngene isok sak jam lebih. Kesuwen mandek, mlakune yo koyok bekicot. Atek rupane len iki wes gak karuan. Lebih enak nggawe kendaraan dewe mas. Cepet, yo murah cuma bondo bensin tok.”

“Aduh mas, ini saja saya terpaksa naik angkot. Biasanya saya diantar anak saya ke Pucang. Kalau saya biasanya diantar naik motor, dari rumah sampai Pucang mungkin hanya memakan waktu setengah jam. Tapi kalau naik angkot begini bisa satu jam lebih. Terlalu lama ngetem, jalannya juga kayak bekicot. Tampilannya juga tidak terawat. Lebih enak naik kendaraan sendiri mas. Cepat, juga murah cuma modal bensin.” (Terjemahan)5

Dari pernyataan SA tersebut dapat disimpulkan bahwa latar belakang masyarakat lebih suka menggunakan kendaraan pribadi daripada kendaraan umum dikarenakan:

1. Memakan waktu lama, dan tidak efisien 2. Penumpang tidak nyaman

3. Mayoritas angkutan umum tidak terawat dengan baik

Tidak hanya itu, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya, Tunjung Iswandaru menuturkan bahwa perilaku sopir angkutan umum di Surabaya sudah sangat memprihatinkan, seperti berhenti di sembarang tempat untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Hal itu membuat pengendara lainnya terpaksa mengurangi laju kendaraan yang berimbas pada makin parahnya kemacetan. Para pengendara lain bahkan takut berdekatan dengan angkutan umum.

4 Wawancara santai yang dilakukan penulis pada hari senin 26 Mei 2014

(27)

“Menurut hasil penelitian, kemacetan yang diakibatkan ketidaktertiban lalu lintas angkutan umum diperkirakan mencapai 20 persen. Angkutan umum juga seringkali berjalan berganti-ganti lajur yang membuat lalu lintas tidak lancar,”6

Lalu di tengah kondisi yang seperti ini masihkah ada kemungkinan kendaraan umum menjadi pilihan utama masyarakat untuk mobilitas mereka? Seperti apa kendaraan umum yang bisa diterima oleh masyarakat sebagai pemecah masalah kemacetan di Surabaya?

Penulis melontarkan pertanyaan tersebut kepada 3 narasumber yang berbeda. Yang pertama adalah SA sebagai ibu rumah tangga penulis mendapatkan keterangan kendaraan umum yang nantinya akan menjadi pilihan masyarakat.

“Lek aku mas, pengen onok kendaraan umum sing gak nang embong ngene dadi gak mangan dalan. Duwe dalan dewe, enak gak macet. Aku pengen sing model koyok sepur mas tapi susah yo lek nang tengah kota onok sepur.”

“Kalau saya mas, ingin ada kendaraan umum yang tidak mengganggu jalur kendaraan lain jadi tidak memakan jalan raya. Punya jalur sendiri, enak jadinya tidak macet. Yang saya inginkan itu seperti kereta mas. Tapi susah juga ya kalau keretan di tengah kota seperti ini.” (Terjemahan)

Kemudian pendapat yang kedua disampaikan oleh AG sebagai sopir mikrolet.

“Wong-wong wes jarang mas numpak len, wes podo duwe sepeda motor dewe-dewe, duwe mobil dewe-dewe. Lek kepekso yo paling numpak taksi. Seret rejekiku mas. Saiki lek ape dibangun kendaran umum anyar maneh, menurutku seh gak popo mas. Asal gak bentrok ambek trayekku. Leg numpuk ambek trayekku yo mati rejekiku mas.” “Orang-orang sudah jarang naik angkot, sudah punya motor sendiri, sudah punya mobil sendiri. Kalu terpaksa pun paling naik taksi. Rejeki saya seret mas. Sekarang kalau mau dibangun transportasi umum yang baru, menurut saya bagus mas. Asal tidak serarah dengan trayek saya. Kalau numpuk, ya mati rejeki saya mas.” (Terjemahan)

Pendapat ketiga disampaikan oleh DA sebagai salah satu anggota polisi lalu lintas di area Demak.

Transportasi umum memang harus ada. Untuk membantu mobilitas masyarakat lebih mudah. Memang seharusnya begitu. Harus ada revitalisasi transportasi umum di Surabaya ini agar paling tidak, sedikit membantu menurunkan angka kemacetan. Mereka yang menggunakan kendaraan pribadi, kebanyakan tidak nyaman dengan angkutan umum yang ada pada umumnya. Kalau untuk model kendaraannya, itu ada pihak yang memang memiliki hak dan tanggung jawab atas hal itu. Yang penting kendaraan umum tersebut bisa menjadi solusi terbaik bagi masyarakat khususnya warga Surabaya.

(28)

Dari pendapat-pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa transportasi yang lebih efektif adalah sarana transportasi yang memiliki jalur sendiri. Dalam hal ini, penulis melakukan pengamatan di berbagai media massa terkait dengan transportasi umum yang telah diterapkan di beberapa negara maju seperti di Inggris, Belanda, Swiss, dan lain-lain. Kemudian penulis mengambil esensi dari hasil pengamatan tersebut bahwa transportasi yang mungkin bisa diterapkan di Surabaya menurut asumsi masyarakat adalah:

1. Monorail 2. Busway 3. Trem

Ketiga jenis kendaraan umum tersebut akan menjadi pembahasan lebih lanjut terkait jumlah peminatnya.

Kemudian dari permasalahan awal mengenai kemacetan, erat kaitannya dengan realisasi transportasi umum modern dengan sampel 3 jenis kendaraan umum di atas. Masyarakat memiliki opini terkait kemungkinan efek dari realisasi transportasi umum modern di Surabaya. Dalam hal ini pihak kepolisian dan masyarakat awam menjadi fokus perhatian penulis. Terdapat 2 pendapat mengenai kemungkinan efek dari realisasi transportasi umum modern di Surabaya.

Pendapat yang pertama disampaikan oleh SA sebagai ibu rumah tangga.

“Yo pengene seh mas lek onok model kendaraan sing koyok iku mau, harapane isok lebih cepet gak buang-buang waktu. Suroboyo gak macet. Lek kendaraan umum terawat, wong-wong kan podo seneng opomaneh ber-AC. Paling wes gak onok sing nggawe sepeda motor.”

“Ya inginya sih mas kalau ada model kendaraan seperti itu tadi, harapan saya bisa lebih cepat dan tidak membuang waktu dalam mobilisasi. Surabaya tidak macet. Kalau kendaraan umum terawa, orang-orang kan banyak yang suka apalagi ber-AC. Mungkin sudah tidak ada lagi yang menggunakan motor.” (Terjemahan)

(29)

Dari kedua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa kemungkinan efek yang terjadi setelah direalisasikannya sarana transportasi umum modern, akan menurunkan jumlah kendaraan pribadi dan membantu mengurangi angka kemacetan di Surabaya.

4.2. Analisis Data Kuantitatif

Berdasarkan pengamatan dan data kualitatif yang didapat, penulis membuat quesioner yang disebarkan kepada 50 responden. Kemudian didapat hasil sebagai berikut.

Jenis Kelamin

Laki-laki 50%

Perempuan 50%

Usia

Di bawah 15 tahun 12%

Di atas 15 tahun 88%

Pekerjaan

Pelajar/Mahasiswa 48%

Pegawai 22%

Ibu Rumah Tangga 18%

Dll 12%

Respon mengenai quesioner:

Apa penyebab kemacetan di Surabaya?

Kendaraan Umum 48%

Kendaraan Pribadi 34%

Pedagang Kaki Lima 16%

Kurang Perhatian Polisi Lalu Lintas 2%

Model Transportasi umum seperti apa yang sekiranya cocok diterapkan di Surabaya?

Monorail 48%

Busway 38%

(30)
(31)

BAB V PENUTUP

5.1. Konklusi

Kemacetan yang terjadi di Surabaya dikarenakan adanya penumpukan kendaraan pribadi roda dua maupun roda empat di mayoritas ruas jalan di Surabaya. Tidak sepenuhnya penyebab kemacetan adalah kendaraan pribadi. Di balik banyaknya kendaraan pribadi yang beredar saat ini ada latar belakang mengapa masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. masyarakat lebih suka menggunakan kendaraan pribadi daripada kendaraan umum dikarenakan:

1. Memakan waktu lama, dan tidak efisien 2. Penumpang tidak nyaman

3. Mayoritas angkutan umum tidak terawat dengan baik

Tidak hanya itu, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya, Tunjung Iswandaru menuturkan bahwa perilaku sopir angkutan umum di Surabaya sudah sangat memprihatinkan, seperti berhenti di sembarang tempat untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Hal itu membuat pengendara lainnya terpaksa mengurangi laju kendaraan yang berimbas pada makin parahnya kemacetan. Para pengendara lain bahkan takut berdekatan dengan angkutan umum.

Sarana transportasi yang lebih efektif adalah sarana transportasi yang memiliki jalur sendiri. Dalam hal ini, penulis melakukan pengamatan di berbagai media massa terkait dengan transportasi umum yang telah diterapkan di beberapa negara maju seperti di Inggris, Belanda, Swiss, dan lain-lain. Kemudian penulis mengambil esensi dari hasil pengamatan tersebut bahwa transportasi yang mungkin bisa diterapkan di Surabaya menurut asumsi masyarakat adalah:

4. Monorail 5. Busway 6. Trem

(32)

transportasi umum modern yag harus dibangun di Surabaya. Busway menempati posisi kedua dengan perolehan minat 38% dan trem 14%.

(33)

DAFTAR PUSTAKA

BEN-AKIVA, M.E. and LERMAN, S.R. (1985), Discrete Choice Analysis: Theory and Application to Travel Demand, MIT Press, Cambridge.

Hensher, D.A. and Johnson, L.W. (1981), Applied Discrete-Choice Modeling, Croom Helm, London and Wiley, New York.

Lloyd Wright (2002) Opsi Angkutan Massal, GTZ, Germany

LUCE, R. and SUPPES, P. (1965), Preference, Utility and Subjective Probability, Handbook of Mathematical Psychology, Vol. 3, New York.

MANSKI, C. (1977), The Structure of Random Utility Models, Theory and Decision 8: 229-254 McFADDEN, D. (1987), The Choice Theory Approach to Marketing Research, Marketing

Science, Vol 5, pp 275-297.

Miro Fidel (2004), Perencanaan Transportasi, Penerbit Erlangga, jakarta

Ohta, K. (1998) TDM Measures Toward Sustainable Mobility, Journal of International Association of Traffic and Safety Sciences,

PEARMAIN, D., SWANSON, J., KROES, E. and BRADLEY, M. (1991), Stated Preference Technique, A Guide to Practice, 2-nd edition, Steer Davies Gleave and Hague Consulting Group.

Sutomo, 1995 dalam Sudianto BU (1999), Evaluasi Layanan Bus Kota, Seminar Transportasi Penataan dan Pemberdayaan Sistem Transportasi Perkotaan, Jurusan Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang

Setijowarno, Ed. (2005), Penelitian Model Angkutan Massal Yang Cocok untuk Perkotaan, Lembaga Penelitian Unika Soegijapranata Kerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Jawa Tengah dan PT Harsa Halyamulya, Semarang

Warpani Suwardjoko (2002), Pengelolaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Penerbit Institut Teknologi Bandung , Bandung

Gambar

Tabel 2.1 Kriteria Angkutan Umum Ideal
Tabel 2.1. Karakteristik Kota Besar Indonesia tahun 2004

Referensi

Dokumen terkait

Bila skenario moderat ini dipilih pemerintah daerah, secara logika dampaknya menyebabkan terjadi penurunan kendaraan pribadi (76%) dan tingkat kemacetan lalu lintas dan

Kemacetan adalah kondisi dimana arus lalu lintas yang lewat pada ruas jalan yang.. ditinjau melebihi kapasitas rencana jalan tersebut yang mengakibatkan

Survei volume lalu lintas mengaju pada Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997, sedangkan dalam pengumpulan data volume lalu lintas atau banyaknya kendaraan yang

Kemacetan lalu lintas di ruas-ruas jalan dan persimpangan utamanya pada jam-jam sibuk pagi dan sore hari, hal ini disebabkan oleh makin banyaknya pemakaian kendaraan pribadi

Sementara untuk mengetahui volume lalu lintas atau jumlah kendaraan yang akan menjadi masukan perhitungan biaya kemacetan, Q dikonversi dari satuan kendaraan per jam

Kurangnya perambuan di sekitar simpang yang menyebabkan tidak teraturnya kendaraan yang berada disekitar simpang, Banyaknya volume lalu lintas dari arah

monorel di Kota Malang, kemacetan lalu lintas di Jalan Raya Pasar Baru Bojong Gede Kabupaten Bogor (studi kasus area sekitar Stasiun Bojong Gede), efisiensi transportasi

Besarnya jumlah kendaraan parkir pada saat jam puncak sehingga menambah kemacetan lalu lintas di jalan Gardu Jati, banyaknya kendaran yang melakukan parkir dengan