ANALISIS KEPUTUSAN PENGADILAN TATA USAHA NEGARA KOTA BANDAR
LAMPUNG No: 03/G/2013/PTUN-BL
Budi Mulyono, Syamsir Syamsu, Marlia Eka Putri
Hukum Administrasi Negara, Fakultas Hukum Universitas lampung
Jl Prof. Soemantri Bojonegoro No.1 Gedung meneng Bandar Lampung 35145
Email: [email protected]
ABSTRAK
7 January 2013, Bupati Pesawaran mengeluarkan SK No: 821.22/06/IV/03/2013 yang isinya
pemberhentian sementara Sekkab Pesawaran atas nama Kesuma Dewangsa. SK ini di
keluarkan secara sepihak oleh Bupati Pesawaran tanpa berkomunikasi terlebih dahulu dengan
Gubernur Lampung. Sedangkan sesuai dengan ketentuan Pasal 122 ayat (3) UU No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah “Sekretaris daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Kabupaten/Kota diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul Bupati/Wali
Kota sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dari ketentuan tersebut jelas bahwa SK Bupati
Pesawaran cacat yuridis (cacat wewenang). Berpedoman dari pasal tersebut di atas akhirnya
Kesuma Dewangsa yang merasa di rugikan dari di keluarkannya SK oleh Bupati berinisiatif
mengajukan Gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara. Setelah di ajukannya gugatan dan
melalui proses pemeriksaan admnistrasi di sidangkanlah perkara tersebut.
PengadilanTata Usaha Negara (PTUN) Bandar Lampung yang memeriksa, memutus dan
menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara pada tingkat pertama, dengan acara biasa, yang
dilangsungkan di Gedung Pengadilan Tata Usaha Negara Bandar Lampung di jalan Pangeran
Emir M. Noer Nomor 27 Bandar Lampung, mengeluarkan KeputusanNo:
821.22/06/IV/03/2013 tentang Gugatan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Pesawaran Kesuma
Dewangsa terhadap Bupati Pesawaran Aries Sandi Darma Putra ditolak.Putusan PTUN
Bandar Lampung ini artinya menguatkan SK Bupati Pesawaran Aries Sandi Darma Putra No:
821.22/06/IV/03/2013 tentang pemberhentian sementara Sekkab Pesawaran atas nama
Kusuma Dewangsa. Putusan sidang No: 03/G/2013/PTUN-BL menyatakan telah menolak
gugatan penggugat dan menguatkan SK Bupati Pesawaran Aries Sandi Darma Putra serta
menghukum penggugat untuk membayar biaya perkara. Berdasarkan uraian yang telah
Bagaimana dasar pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara tersebut? b) Bagaimana
eksekusi terhadap putusan perkara No:3/G/2013/PTUN-BL tersebut?
Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum yuridis
empiris.Sumber data menggunakan data primer dan data sekunder. metode pengumpulan data
yang digunakan adalah studi pustaka dan studi lapangan. Pengolahan data dilakukan melalui
tahap-tahap pemeriksaan data (editing), penandaan data (coding), rekonstruksi data
(reconstruction) dan sistematisasi data (systematizing). Analisis data menggunakan analisis
kualitatif, artinya menguraikan data yang telah diolah secara rinci kedalam bentuk
kalimat-kalimat (deskriptif). Analisis kualitatif yang dilakukan bertitik tolak dari analisis yuridis
empiris, yang pendalamannya dilengkapi dengan analisis komparatif dengan menggunakan
bahan-bahan hukum primer.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan maka : a) Dasar pertimbangan
Hakim adalah Pasal 97 ayat (7) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Jo Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, putusan Peradilan Tata Usaha
Negara dapat berupa gugatan ditolak, gugatan dikabulkan, gugatan tidak terima dan gugatan
gugur. b) Eksekusinya dilakukan dengan Eksekusi putusan Pengadilan Tata Usaha Negara
tegas menyatakan dalam eksekusi putusan Pengadilan Tata Usaha Negara tidak
dimungkinkan upaya paksa dengan menggunakan aparat keamanan. Istimewanya, Presiden
selaku kepala pemerintahan dimungkinkan campur tangan dalam pelaksanaan putusan
Pengadilan Tata Usaha Negara.
kata kunci : putusan, dasar pertimbangan dan eksekusi
ABSTRACT
7 January 2013, the Regents Pesawaran issued Decree No: 821.22/06/IV/03/2013 the
contents of suspension Sekkab Pesawaran on behalf Kesuma Dewangsa . The decree issued
by the Regent Pesawaran unilaterally without first communicating with the Governor of
Lampung . While in accordance with the provisions of Article 122 paragraph ( 3 ) of Law no.
32 of 2004 on local government " Secretary of areas referred to in paragraph ( 1 ) of the
District / City and appointed by the Governor upon the recommendation of the Regent /
Pesawaran juridical defects ( defects of authority ) . Guided by the foregoing article Kusuma
Dewangsa finally feel disadvantaged by the decree of the Regent in keluarkannya initiative
Lawsuit filed to the Administrative Court . Once in ajukannya lawsuit and through the
process of Administrative examination in the case sidangkanlah .
Pengadilan Tata (PTUN ) Videos that examine, decide and resolve disputes State
Administration on the first level , with regular events , which took place at the Courthouse
Administrative Prince Bandar Lampung on the road Emir M. Noer No. 27 Bandar Lampung ,
mengeluarkanKeputusanNo : 821.22/06/IV/03/2013 about Lawsuit District Secretary (
Sekkab ) Pesawaran Kusuma Dewangsa against Regent Pesawaran Aries opposing such
ditolak. Putusan Password Darma Putra Bandar Lampung Regent Decree reinforces this
means Pesawaran Aries Password Darma Putra No: 821.22/06/IV/03/2013 about layoffs
Sekkab Pesawaran on behalf of Kusuma Dewangsa . No verdict : 03/G/2013/PTUN-BL states
have rejected the plaintiff's claim and strengthen Regent Decree Pesawaran Aries Password
Darma Putra and punish plaintiffs to pay court costs . Based on the description that has been
stated above, which are at issue in this study are : a) How does the consideration of the judges
in deciding cases ? b ) How does the execution of the court decision No: 3/G/2013/PTUN-BL
these ?
Approach to the problem which is used in this research is the data empiris. Sumber juridical
legal research using primary data and secondary data . Data collection methods used are
literature studies and field studies . Data processing is done through the stages of examination
of the data ( editing ) , tagging the data ( coding ) , the data reconstruction ( reconstruction )
and systematization of data ( systematizing ) . Analysis of data using qualitative analysis ,
meaning that the data has been processed outlining in detail in the form of sentences (
descriptive ) . Qualitative analysis starts from the analysis of empirical jurisdiction , that his
approach comes with a comparative analysis using primary legal materials .
Based on the research and discussion that is done then : a) Basic considerations judge is
Article 97 paragraph ( 7 ) of Law No. 5 of 1986 Jo Law No. 9 of 2004 on the State
Administrative Court , the decision of the State Administrative Court can be a lawsuit denied
, a lawsuit is granted , the lawsuit does not accept and fall lawsuit . b ) Execution Execution
decision made by the Administrative Court expressly stated in the execution of the decision
Special, made possible the President as head of government interference in the
implementation of the decision of the Administrative Court .
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Salah satu ciri Negara hukum modern
adalah adanya perlindungan hukum
terhadap hak asasi manusia termasuk
perlindungan hukum terhadap warga
negara dari tindakan sewenang-wenang
penguasa. Dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara, selalu terjadi interaksi
hubungan antara pejabat Negara dan
masyarakat. Hubungan interaksi tersebut
kebanyakan biasanya terjadi karena
adanya tugas-tugas pemerintahan dan
pembangunan yang dilakukan oleh pejabat
negara dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Hubungan
antara pejabat administrasi negara sebagai
pelaksana urusan pemerintahan dan
pembangunan dengan masyarakat, sering
terjadi benturan kepentingan yang
melibatkan kedua pihak. Benturan
kepentingan ini biasanya diakibatkan oleh
adanya keputusan pejabat negara.
Pada dasarnya sengketa Tata Usaha
Negara terjadi karena adanya seseorang
atau badan hukum perdata yang merasa
kepentingannya dirugikan oleh suatu
Keputusan Tata Usaha Negara, yaitu suatu
penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh
Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara
yang berisi tindakan hukum Tata Usaha
Negara yang berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, yang
bersifat konkrit, individual, dan final, yang
menimbulkan akibat hukum bagi
seseorang atau badan hukum perdata.
Gugatan yang diajukan oleh seseorang
atau badan hukum yang merasa dirugikan
tersebut haruslah dengan alasan-alasan
sesuai yang diatur dalam Pasal 53 ayat (2)
UU No 5 Tahun 1986, yaitu:
Alasan-alasan yang dapat digunakan
dalam gugatan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) adalah :
a. Keputusan Tata Usaha Negara yang
digugat itu bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
b. Badan atau Pejabat Tata Usaha
Negara pada waktu mengeluarkan
keputusan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) telah menggunakan
wewenangnya untuk tujuan lain dari
maksud diberikannya wewenang
tersebut;
c. Badan atau Pejabat Tata Usaha
Negara pada waktu mengeluarkan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
setelah mempertimbangkan semua
kepentingan yang tersangkut dengan
keputsan itu seharusnya tidak sampai
pada pengambilan atau tidak
pengambilan keputusan tersebut.
Sesuai prinsip Negara hukum, keputusan
pejabat negara yang merugikan
kepentingan masyarakat, dapat dilakukan
gugatan terhadap keputusan yang
dikeluarkan oleh pejabat negara. Tindakan
Badan/Pejabat Tata Usaha Negara tidak
selamanya sesuai dengan keinginan
masyarakat, walaupun tindakan tersebut
dilakukan untuk menjalankan urusan
pemerintahan. Tindakan suatu
Badan/Pejabat Tata Usaha Negara
seringkali bertentangan atau merugikan
kepentingan masyarakat. Pertentangan
antara keputusan Pejabat Tata Usaha
Negara dengan kepentingan masyarakat
secara individu seringkali terjadi dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tindakan hukum Badan/Pejabat Tata
Usaha Negara dituangkan dalam bentuk
Keputusan tertulis, dalam rangka
menjalankan tugas pemerintahan. Disatu
sisi, keputusan tersebut diambil atas dasar
kewenangan yang diberikan, namun disisi
lain, pelaksanaan keputusan tidak boleh
mengurang hak-hak warganegara. Setiap
keputusan Badan/pejabat Tata Usaha
Negara harus berdasarkan prinsip Negara
hukum, oleh karena itu, keputusan tersebut
tidak boleh melanggar hak-hak warga
negara.
Perlindungan terhadap hak-hak warga
Negara merupakan salah satu pilar utama
Negara hukum. Salah satu bentuk
perlindungan terhadap hak-hak warga
Negara adalah adanya Peradilan Tata
Usaha Negara yang berwenang untuk
menguji keputusan Badan/Pejabat Tata
Usaha Negara yang dianggap merugikan
kepentingan masyarakat. Bagi setiap orang
yang merasa kepentinganya dirugikan oleh
adanya Keputusan Badan/Pejabat Tata
Usaha Negara dapat mengajukan gugatan
untuk melindungi hak-hak yang
dimilikinya.
Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN)
merupakan salah satu lembaga
pelaksanaan kekuasaan kehakiman yang
member keadilan bagi masyarakat dari
tindakan sewenang-wenang oleh
Badan/Pejabat Tata Usaha Negara. Setiap
warga Negara berhak mengajukan gugatan
terhadap keputusanBadan/Pejabat Tata
Usaha Negara, apabila keputusan tersebut
merugikan kepentingan orang yang
bersangkutan. Peradilan Tata Usaha
Negara yang sebelumnya diatur dalam
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986,
dianggap masih belum secara signifikan
melindungi kepentingan masyarakat.
2004, member perubahan bagi kemajuan
hukum yang melindungi kepentingan
individu sebagai warga negara.
Berdasarkan Pasal 1 angka 4
Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN),
sengketa Tata Usaha Negara adalah
sengketa yang timbul dalam bidang Tata
Usaha Negara antara orang atau badan
hukum perdata dengan Badan atau Pejabat
Tata Usaha Negara, baik di pusat maupun
di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya
Keputusan Tata Usaha Negara, termasuk
sengketa kepegawaian berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Pasal 1 angka 5 Gugatan adalah
permohonan yang berisi tuntutan terhadap
Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dan
diajukan ke Pengadilan untuk
mendapatkan putusan;
Objek sengketa di Peradilan Tata Usaha
Negara dapat dikatakan memenuhi Pasal 1
angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun
2009 tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara disebutkan “Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu Penetapan Tertulis yang
dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata
Usaha Negara yang berisi tindakan Hukum
Tata Usaha Negara yang berdasarkan
Peraturan Perundang-undangan yang
berlaku, yang bersifat Konkrit, individual
dan Final, yang menimbulkan akibat
Hukum bagi seseorang atau badan Hukum Perdata”.
Pengadilan Tinggi Usaha Negara (PTUN)
Bandarlampung yang memeriksa,
memutus dan menyelesaikan sengketa
Tata Usaha Negara pada Tingkat Pertama,
dengan Acara Biasa, yang dilangsungkan
di Gedung Pengadilan Tata Usaha Negara
Bandar Lampung di jalan Pangeran Emir
M. Noer Nomor 27 Bandar Lampung,
mengeluarkan Keputusan No:
821.22/06/IV/03/2013 tentang Gugatan
Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Pesawaran
Kesuma Dewangsa terhadap Bupati
Pesawaran Aries Sandi Darma Putra
ditolak. Majelis PTUN menilai
pemberhentian yang dilakukan Bupati
Pesawaran Aries Sandi Darma Putra
kepada Kesuma Dewangsa merupakan
pemberhentian sementara, bukan bersifat
definitif. Kesimpulan majelis hakim ini
diberikan setelah siding berjalan hampir
dua bulan dan telah melewati proses
pemeriksaan administrasi.
Putusan PTUN Bandar Lampung ini
artinya menguatkan SK Bupati Pesawaran
Aries Sandi Darma Putra No:
821.22/06/IV/03/2013 tentang
pemberhentian sementara Sekkab
Pesawaran atas nama Kusuma Dewangsa.
Putusan sidang No: 03/G/2013/PTUN-BL
penggugat dan menguatkan SK Bupati
Pesawaran Aries Sandi Darma Putra serta
menghukum penggugat untuk membayar
biaya perkara. PTUN Bandar lampung
yang memeriksa, memutus dan
menyelesaikan sengketa Tata Usaha
Negara pada Tingkat Pertama, dengan
Acara Biasa, yang dilangsungkan di
Gedung Pengadilan Tata Usaha Negara
Bandar Lampung di Jalan Pangeran Emir
M. Noer Nomor 27 Bandar Lampung,
telah menjatuhkan Putusan dalam sengketa
antara Ir. Kesuma Dewangsa, M.M.
sebagai penggugat dan Bupati Pesawaran
sebagai tergugat. Bahwa penggugat dalam
surat gugatannya tertanggal 7 Januari 2013
yang didaftar di Kepaniteraan Pengadilan
Tata Usaha Negara Bandar Lampung pada
tanggal 28 Januari 2013 dengan Register
Perkara Nomor : 3/G/2013/PTUN-BL, dan
telah diperbaiki pada tanggal 13 Februari
2013 telah mengemukakan alasan-alasan
sebagai berikut bahwa penggugat diangkat
dalam jabatannya sebagai Sekretraris
Daerah (Sekda) kabupaten Pesawaran
dengan pangkat golongan Pembina Utama
Muda (IV/c) 01-10-2005 berdasarkan
Keputusan Gubernur Lampung Nomor :
821.21/473/II.09/2010 tanggal 24
September 2010 tentang Pengangkatan
Pegawai Negeri Sipil ke dalam Jabatan
Sekretaris Daerah Kabupaten Pesawaran
dan bahwa selama menjabat sebagai
Sekretaris Daerah Kabupaten Pesawaran,
penggugat telah melaksanakan tugas dan
kewajiban dengan sebaik-baiknya sesuai
dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Yang menjadi obyek
Sengketa adalah Keputusan Bupati
Pesawaran Nomor : 821.22/06/IV.03/2013
tanggal 7 Januari 2013 tentang
Pemberhentian Sementara Sekretaris
daerah Kabupaten Pesawaran atas nama :
Ir. Kesuma Dewangsa, M.M.
Sehubungan dengan upaya menemukan
atau mencari hukumnya, tidak sekedar
mencari undang-undangnya untuk dapat
diterapkan pada peristiwa konkret yang
dicarikan hukumnya. Kegiatan tersebut
tidaklah semudah yang dibayangkan.Guna
mencari atau menemukan hukumnya atau
undang-undangnya untuk dapat diterapkan
pada peristiwa konkret, peristiwa konkret
itu harus diarahkan kepada
undang-undangnya, sebaliknya undang-undangnya
harus disesuaikan dengan peristiwanya
yang konkrit (Mertokosumu, 1988: 60).1
Diperlukan kehati-hatian dan kecermatan
dalam pembuatan putusan di PTUN,
mengingat asas setiap putusan PTUN
mempunyai kekuatan mengikat
ergeomnes, sesuai dengan karakter hukum
publik sengketa tata usaha negara.
Prinsip penting yang harus diperhatikan
mengenai prosedur putusan pengadilan
1 Mertokosumu, sudikno. 1988. Hukum
adalah putusan Pengadilan harus
diucapkan dalam sidang terbuka untuk
umum (Pasal 108 ayat 1). Sanksi terhadap
tidak dipenuhinya prinsip tersebut, putusan
Pengadilan tersebut menjadi tidak sah dan
tidak mempunyai kekuatan hukum (Pasal
108 ayat 3).Apabila salah satu pihak atau
kedua belah pihak tidak hadir pada waktu
putusan Pengadilan diucapkan, atas
perintah Hakim Ketua Sidang, salinan
putusan itu disampaikan dengan surat
tercatat kepada yang bersangkutan.
II. METODE PENELITIAN
2.1Pendekatan Masalah
Pendekatan masalah merupakan proses
pemecahan atau penyelesaian masalah
melalui tahap-tahap yang telah ditentukan
(Abdulkadir Muhammad, 2002, hlm:
113).2 Pendekatan masalah yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian hukum yuridis normatif yaitu
jenis penelitian yang dilakukan dengan
cara mengumpulkan dan mempelajari
buku-buku, dokumen-dokumen, dan
peraturan perundang-undangan yang ada
kaitannya atau hubungannya dengan
pembahasan yang sedang dibahas dan
2 Muhammad, Abdulkadir. 2002. Hukum
dan Penelitian Hukum. Citra Aditya Bakti. Bandung.
yuridis empiris. Pendekatan masalah yang
dilakukan dalam penelitian ini
menggunakan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Mengidentifikasi sumber hukum yang
menjadi rumusan masalah;
2. Mengidentifikasi dan
menginventarisir ketentuan normatif
bahan hukum primer dan bahan
hukum sekunder berdasarkan rincian
pokok bahasan;
3. Mengkaji secara komperhensif
analisis bahan hukum primer dan
bahan hukum sekunder berdasarkan
rincian pokok bahasan;
4. Hasil kajian sebagai jawaban
permasalahan dideskripsi secara
lengkap, rinci, jelas dan sistematis
dalam bentuk laporan hasil penelitian.
2.2Data dan Sumber Data
Dalam penelitian ini diperlukan data
primer dan data sekunder, yang bersumber
dari :
1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh
melalui penelitian lapangan (field
research) yang berkaitan dengan
permasalahan yang ada dalam
penelitian ini yang dilakukan pada
Pengadilan Tinggi Usaha Negara
2. Data sekunder, yaitu data yang
diperoleh melalui studi kepustakaan
(library research) terhadap bahan
hukum yang berupa bahan hukum
primer dan bahan hukum sekunder,
yaitu :
a. Bahan hukum primer yaitu antara
lain melalui Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Peradilan
Tata Usaha Negara.
b. Bahan hukum sekunder yaitu
bahan-bahan hukum yang
mempelajari penjelasan terhadap
bahan hukum primer, terdiri dari
literatur-literatur, buku-buku ilmu
pengetahuan yang berkaitan
dengan permasalahan.
c. Bahan hukum tersier yaitu bahan
hukum yang memberikan
informasi, penjelasan, terhadap
bahan hukum primer dan
sekunder yaitu kamus hukum,
majalah, internet, dan informasi
lainnya yang mendukung
penelitian.
2.3Prosedur Pengumpulan Data
Berdasarkan jenis data diatas, maka
metode pengumpulan data yang digunakan
adalah sebagai berikut :
1. Studi Pustaka
Yaitu pengkajian informasi tertulis
mengenai hukum yang berasal dari
berbagai sumber. Pengkajian tersebut
dilakukan dengan cara membaca,
menyadur, mencatat, dan mengutip
literatur-literatur, perundang-undangan,
dokumen, dan pendapat para sarjana dan
ahli hukum yang berkaitan dengan
masalah yang akan dibahas dalam skripsi
ini.
2. Studi Lapangan
Guna melengkapi data yang dibutuhkan
dalam penelitian ini, studi lapang yaitu
dengan menggunakan teknik pengamatan
(observasi) dan melakukan wawancara
dengan Hakim Ketua Andi Maderumpu
S.H.,M.H. dari Pengadilan Tata Usaha
Negara. Adapun teknik wawancara
dilakukan secara bebas terpimpin yaitu
wawancara didasarkan pada daftar
pertanyaan yang telah dipersiapkan
terlebih dahulu oleh peneliti berupa
pertanyaan-pertanyaan pokok yang
kemudian dapat dikembangkan pada saat
wawancara berlangsung di lokasi
penelitian.
2.4Prosedur Pengolahan Data
Setelah melalui tahap pengumpulan data,
selanjutnya dilakukan pengolahan data.
Sehingga data yang diperoleh dapat
digunakan untuk menganalisis
III. HASIL DAN
PEMBAHASAN
3.1Gambaran Umum Peradilan Tata
Usaha Negara Bandar Lampung
Badan Peradilan merupakan pelaksana
Kekuasaan Kehakiman yang bertugas
menyelenggarakan Peradilan guna
menegakkan hukum dan keadilan
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,
dengan tugas pokok memeriksa, memutus,
dan menyelesaikan setiap perkara yang
diajukan kepadanya dan tugas lain
berdasarkan peraturan perundang -
undangan yang berlaku.
Peradilan Tata Usaha Negara adalah
bagian Peradilan yang bertugas untuk
memeriksa, memutus dan menyelesaikan
sengketa Tata Usaha Negara antara orang
Perorangan/Badan Hukum Perdata dengan
Badan/Pejabat Tata Usaha Negara, yang
dilaksanakan oleh Hakim yang khusus
diangkat untuk itu. Dalam Peradilan itu
dilakukan penilaian terhadap Keputusan
Tata Usaha Negara yang dikeluarkan oleh
Badan/Pejabat Tata Usaha Negara yang
diajukan ke Peradilan Tata Usaha Negara.
Di lingkungan Peradilan Tata Usaha
Negara, penyelenggaraan Peradilan
dilaksanakan oleh Pengadilan Tata Usaha
Negara sebagai Peradilan tingkat Pertama
dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
(khusus penyelesaian sengketa melalui
banding administratif) sebagai Peradilan
tingkat Banding serta Mahkamah Agung
sebagai lembaga Peradilan Tertingginya.
Dari Standard Operating Procedures ini
diharapkan seluruh kegiatan pelaksanaan
tugas teknis yudisial maupun non yudisial
dapat dilakukan dengan baik serta dapat
menjadi pedoman pelaksanaan tugas
pokok dan fungsi (Tupoksi), sehingga
hambatan-hambatan untuk mencapai
tujuan dapat diminimalisir. Terlebih lagi
dengan dibentuknya Hakim Pengawas
Bidang dapat memperkokoh pelaksanaan
visi dan misi Pengadilan Tata Usaha
Negara Bandar Lampung.
Dalam rangka usaha berkelanjutan
meningkatkan kemampuan aparat
Pengadilan Tata Usaha Negara Bandar
Lampung, untuk mengemban dan
melaksanakan tugas yang dibebankan oleh
negara, dengan tugas pokok
menyelenggarakan Peradilan guna
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,
maka dengan adanya Standard Operating
Procedures , diharapkan dapat memberi
dampak sebagai berikut :
1. Memberikan kepuasan kepada
masyarakat pencari keadilan atas
pelayanan pengadilan ;
2. Peningkatan disiplin aparat pengadilan
dan kinerja pengadilan ;
3. Memberikan kesan bahwa pengadilan
adalah milik bersama ;
4. Peningkatan kesejahteraan aparat
pengadilan.
Gambaran Umum Putusan Perkara No :
3/G/2013/PTUN-BL.
Putusan Perkara No : 3/G/2013/PTUN-BL
berdasarkan salinan resmi putusan pada
tanggal 2 April 2013 perkara gugatan
antara Penggungat Ir. Kesuma Dewangsa
M.M dan Lawan tergugat Bupati
Kabupaten Pesawaran. Pengadilan Tata
Usaha Negara Bandar Lampung yang
memeriksa, memutus dan menyelesaikan
sengketa Tata Usaha Negara pada Tingkat
Pertama, dengan Acara Biasa, yang
dilangsungkan di Gedung Pengadilan Tata
Usaha Negara Bandar Lampung, telah
menjatuhkan Putusan sebagai berikut
dalam sengketa antara Ir. Kesuma
Dewangsa, M.M, sebagai penggugat dan
Bupati Kabupaten Pesawaran sebagai
tergugat. Menimbang bahwa penggugat
dalam surat gugatannya tertanggal &
Januari 2013 yang didaftar di Kepaniteraan
Pengadilan tata Usaha Negara Bandar
Lampung pada tanggal 28 Januari 2013
dengan Register Perkara Nomor :
3/G/2013/PTUN-BL. Obyek Sengketa
adalah Keputusan Bupati Pesawaran
Nomor : 821.22/06/IV.03/2013 tanggal 7
Januari 2013 tentang Pemberhentian
Sementara Sekretaris Daerah Kabupaten
pesawaran atas nama : Ir. Kesuma
Dewangsa, M.M.
Karena syarat formal gugatan tidak
terpenuhi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 1 angka (9) Undang-Undang Nomor
: 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua
atas Undang-Undang Nomor : 5 Tahun
1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara, maka menurut Majelis Hakim
telah cukup alasan menyatakan gugatan
Penggugat tidak diterima (Niet
Onvankelijk Verklaard), maka oleh karena
itu tentang materi pokok sengketanya tidak
perlu dipertimbangkan lagi.
Oleh karena gugatan Penggugat
dinyatakan tidak diterima, maka sesuai
ketentuan Pasal 110 Undang-Undang
Nomor : 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan
Tata Usaha Negara, Pihak Penggugat
dihukum untuk membayar biaya perkara
yang besarnya sebagaimana tersebut dalam
Sesuai ketentuan Pasal 107
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang
Peradilan Tata Usaha Negara, Hakim
bebas menentukan apa yang harus
dibuktikan, beban pembuktian beserta
penilaian pembuktian, atas dasar itu
terhadap alat-alat bukti yang relevan telah
dipergunakan sebagai bahan pertimbangan
Majelis Hakim dan terhadap bukti-bukti
selebihnya dianggap dikesampingkan dan
tetap dilampirkan menjadi satu kesatuan
dalam berkas perkara.
Mengingat Pasal-pasal dalam
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara juncto
Undang-undang Nomor 9 Tahun 2004
junctis Undang-Undang Nomor 51 Tahun
2009 serta peraturan perundang-undangan
lain.
3.2Dasar Pertimbangan Majelis Hakim
dalam memutus perkara
Adapun dasar pertimbangan majelis hakim
dalam memutus perkara :
1. Pasal 97 ayat (7) Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1986 Jo
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara, putusan
Peradilan Tata Usaha Negara dapat
berupa :Gugatan ditolak, Gugatan
dikabulkan, Gugatan tidak terima dan
Gugatan gugur. Dari macam isi dan sifat
putusan Pengadilan Tata Usaha Negara
tersebut tidak semua putusan dapat
dikenakan Upaya Paksa melainkan
hanya putusan yang memenuhi syarat
saja, antara lain :
2. Putusan yang menyatakan gugatan
dikabulkan, yaitu apabila dari hasil
pemeriksaan di persidangan ternyata
dalil-dalil dari posita gugatan Penggugat
telah terbukti secara formal maupun
materiil dan telah dapat mendukung
petitum yang dikemukakan Penggugat;
3. Putusan bersifat condemnatoir, yaitu
putusan yang sifaynya memberikan
beban atau kewajiban untuk melakukan
tindakan tertentu kepada Badan/Pejabat
Tata Usaha Negara seperti :
a. Kewajiban mencabut Keputusan Tata
Usaha Negara yang dinyatakan
batal/tidak sah.
b. Kewajiban menertibkan Keputusan
Tata Usaha Negara badan/pengganti.
c. Kewajiban mencabut dan
menertibkan Keputusan Tata Usaha
Negara yang baru.
d. Kewajiban membayar ganti rugi.
e. Kewajiban melaksanakan rehabilitasi
dalam sengketa kepegawaian.
1. Putusan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap (inkraht Van
tidak dapat diterapkan upaya hukum lagi
terhadap putusan tersebut.
Putusan:
a. Dalam hal pemeriksaan sengketa
sudah diselesaikan, masing-masing
pihak diberikan kesempatan untuk
menyampaikan kesimpulan.
b. Setelah kedua pihak mengemukakan
kesimpulan, maka Hakim Ketua
Sidang menyatakan bahwa sidang
ditunda untuk memberikan
kesempatan kepada Majelis Hakim
bermusyawarah dalam ruangan
tertutup untuk mempertimbangkan
segala sesuatu guna putusan sengketa
tersebut.
c. Putusan dalam musyawarah majelis
diusahakan untuk memperoleh hasil
mufakat, kecuali apabila hal itu
setelah di upayakan dengan
sungguh-sungguh tidak tercapai, maka berlaku
aturan sebagai berikut:
a. Putusan diambil dengan suara
terbanyak.
b. Apabila ketentuan (a) tersebut
juga tidak dihasilkan putusan,
maka musyawarah ditunda
sampai musyawarah berikutnya.
c. Apabila dalam musyawarah
berikutnya tidak dapat diambil
putusan dengan suara terbanyak,
maka suara terakhir, diletakan
pada hakimKetua Majelis yang
menentukan.
d. Putusan Pengadilan dapat
dijatuhkan pada hari itu juga
dalam sidang yang terbuka untuk
umum, atau ditunda pada hari lain
yang harus diberitahukan kepada
kedua belah pihak.
d. Putusan pengadilan dapat berupa:
a. Menolak gugatan, apabila setelah
diperiksa gugatan penggugat tidak
terbukti.
b. Gugatan dikabulkan, berarti dalam
pemeriksaan dapat dibuktikan
bahwa KTUN yang disengketakan
melanggar Peraturan
perundang-undangan dan/atau asas-asas umum
pemerintahan yang baik. Dalam
putusan tersebut dapat ditetapkan
kewajiban yang harus dilakukan
oleh badan atau pejabat Tata Usaha
Negara.
c. Gugatan tidak dapat diterima,
apabila setelah diperiksa gugatan
penggugat tidak berdasarkan
hukum yang berarti gugatan tidak
memenuhi syarat-syarat yang telah
ditentukan. Dalam hal ini
penggugat dapat memasukan
gugatan baru.
d. Gugatan dinyatakan gugur, apabila
penggugat, para penggugat atau
sidang yang telah ditentukan
meskipun telah di panggil secara
patut tanpa alasan yang jelas.
e. Dalam hal gugatan dikabulkan, maka
dalam putusan Pengadilan tersebut
dapat ditetapkan kewajiban yang harus
dilakukan oleh Badan atau Pejabat Tata
Usaha Negara yang mengeluarkan
keputusan Tata Usaha Negara.
f. Kewajiban diatas berupa:
a. Pencabutan keputusan Tata Usaha
Negara yang bersangkutan; atau
b. Pencabutan keputusan Tata Usaha
Negara yang bersangkutan dan
menerbitkan
c. Keputusan Tata Usaha Negara
yang baru; atauPenerbitkanKTUN
dalam hal gugatan didasarkan pada
pasal 3 (KTUN Fiktif negatif).
g. Kewajiban tersebut dapat disertai
pembebanan ganti rugi.
h. Dalam hal putusan Pengadilan
menyangkut sengketa kepegawaian,
maka di samping kewajiban
sebagaimana tersebut diatas, dapat pula
disertai pemberian rehabilitasi
(pemulihan Penggugat pada harkat,
martabat dan posisi semula). Dalam
Hukum Acara Peradilan Tata Usaha
Negara, putusan pengadilan dibagi
dalam 3 jenis putusan, yaitu:
a. Putusan yang bersifat pembebanan
(condemnatoir). Putusan yang
mengandung pembebanan.
Misalnya Tergugat dibebani untuk
membatalkan surat keputusan yang
digugat; Tergugat dibebani
membayar ganti kerugian atau
Tergugat dibebani melakukan
rehabilitasi. (Pasal 97 ayat 9 butir
huruf a,b,c, pasal 97 ayat 10 dan
11). Contoh: surat pemberhentian
pegawai dibatalkan dan melakukan
rehabilitasi.
b. Putusan yang bersifat pernyataan
(declaratoir). Putusan yang hanya
menegaskan suatu keadaan hukum
yang sah. Misalnya penetapan
dismisal (pasal 62). Contoh
gugatan tidak diterima atau tidak
berdasar. Penetapan perkara
diperiksa dengan acara cepat (pasal
98). Beberapa perkara perlu
digabungkan atau
dipisah-pisahkan, dan lain-lain.
c. Putusan yang bersifat penciptaan
(konstitutif). Putusan yang
melenyapkan suatu keadaan hukum
atau melahirkan atau menciptakan
suatu keadaan hukum baru. (pasal
97 ayat 9 huruf b). (Martiman Prodjohamidjojo, SH, 1993 : 132) Objek sengketa di Pengadilan Tata Usaha
Negara dapat dikatakan memenuhi Pasal 1
angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang Pengadilan Tata Usaha Negara
yang berisi tindakan hukum Tata Usaha
Negara yang berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, yang
bersifat konkrit, individual, dan final yang
menimbulkan akibat hukum bagi
seseorang/badan hukum perdata, dan saat
ini sedang diajukan pengusulan oleh
tergugat untuk pemberhentian secara
definitif dari Sekretaris Daerah Kabupaten
untuk pemberhentian secara definitif dari
Sekertaris Daerah kabupaten Pesawaran
hal ini sangat jelas bahwa keputusan
tersebut masih memerlukan persetujuan
pihak lain (Gubernur). Terhadap
kewenangan tersebut tergugat selaku
Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah
tidak mengharuskan konsultasi terlebih
dahulu kepada Gubernur karena
pemberhentian tersebut hanya bersifat
sementara. Lain halnya apabila
pengangkatan dan pemberhentian
Sekretaris Daerah secara definitif maka
Bupati selaku Pembina Kepegawaian
Daerah harus melakukan konsultasi secara
tertulis kepada Gubernur sesuai dengan
Pasal 14 ayat (2) Peraturan Pemerintah
Nomor 9 Tahun 2003 dan Pasal 122 ayat
(3) Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004
tentang Pemerintah Daerah yang
Penggugat dalilkan adalah pemberhentian
secara definitif, dalam hal ini belum
memahami atas aturan tersebut.
Menurut Pendapat Bapak Andi
Maderumpu S.H.,M.H. selaku Hakim di
PTUN bahwa dalam memutus perkara No:
3/G/2013/PTUN-BL. Hakim melihat atau
mengacu pada ketentuan Pasal 1 angka (9)
UU No. 51 Tahun 2009 tentang perubahan
kedua atas UU No. 5 Tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara yang berbunyi “Keputusan Tata Usaha Negara adalah penetapan tertulis yang dikeluarkan
oleh Badan/Pejabat Tata Usaha Negara
yang berisi tindakan hukum Tata Usaha
Negara berdasarkan Peraturan
Perundang-Undangan yang berlaku, yang bersifat
konkrit, Individual dan Final yang
menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata”. Melihat unsur-unsur dalam pasal tersebut
dapat diketahui bahwa Surat Keputusan
Tata Usaha Negara karena surat keputusan
tersebut belum final dan tidak
menimbulkan akibat hukum. Dikatakan
belum final karena surat keputusan
tersebut masih akan ada tindak lanjut dari
Gubernur selaku pejabat yang berwenang
mengangkat dan memberhentikan
Sekretaris daerah sesuai dengan Pasal 12
ayat (1) Peraturan Daerah Kabupaten
Pesawaran No. 4 tahun 2011 tentang
Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
kabupaten dan Staf Ahli Bupati
Pesawaran. Sedangkan dikatakan tidak
menimbulkan akibat hukum karena
penggugat masih menerima gaji dan
tunjangan jabatan Sekreratis Daerah
setelah dikeluarkannya Surat Keputusan
tersebut sampai dengan Maret 2013.
Dengan melihat hal tersebut maka hakim
dalam perkara ini memutuskan bahwa
gugatan penggugat tidak diterima.
Ada 3 macam kekuatan yang terdapat pada
putusan hakim yaitu kekuatan mengikat
(resjudicata pro vertate habetur), kekuatan
eksekutorial (suatu putusan pengadilan
yang telah berkekuatan tetap dapat
dijalankan), kekuatan pembuktian (putusan
pengadilan merupakan akta otentik).
2. UU No. 5 Tahun 1986 Pasal 109
Bentuk Putusan:
a. Putusan Pengadilan harus memuat:
d. Kepala putusan yang berbunyi :"DEMI
KEADILAN BERDASARKAN
KETUHANAN YANG MAHA ESA";
e. nama, jabatan, kewarganegaraan, tempat
kediaman, atau tempat kedudukan para
pihak yang bersengketa;
f. ringkasan gugatan dan jawaban tergugat
yang jelas;
g. pertimbangan dan penilaian setiap bukti
yang diajukan dan hal yang terjadi dalam
persidangan selama sengketa itu diperiksa;
h. alasan hukum yang menjadi dasar putusan;
i. amar putusan tentang sengketa dan biaya
perkara;
j. hari, tanggal putusan, nama Hakim yang
memutus, nama Panitera, serta keterangan
tentang hadir atau tidak hadirnya para
pihak.
b. Tidak dipenuhinya salah satu ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dapat menyebabkan batalnya putusan
Pengadilan.
c. Selambat-lambatnya tiga puluh hari
sesudah putusan Pengadilan diucapkan,
putusan itu harus ditandatangani oleh
Hakim yang memutus dan Panitera yang
turut bersidang.
d. Apabila HakimKetua Majelis atau dalam
hal pemeriksaan dengan acara cepat
HakimKetua Sidang berhalangan
menandatangani, maka putusan Pengadilan
ditandatangani oleh Ketua Pengadilan
dengan menyatakan berhalangannya
Hakim Ketua Majelis atau Hakim Ketua
Sidang tersebut. Apabila Hakim Anggota
Majelis berhalangan menandatangani, maka
putusan Pangadilan ditandatangani oleh
HakimKetua Majelis dengan menyatakan
berhalangannya Hakim Anggota Majelis
3. Pasal 115 UU No. 5 1986 jo UU No. 9
Tahun 2004
Hanya putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap yang
dapat dilaksanankan
4. Pasal 116 UU No. 5 1986 jo UU No. 9
Tahun 2004
a. Salinan putusan Pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap,
dikirimkan kepada para pihak dengan surat
tercatat oleh Panitera Pengadilan setempat
atas perintahKetua Pengadilan yang
mengadilinya dalam tingkat pertama
selambat lambatnya dalam waktu 14
(empat belas) hari.
b. Dalam hal 4 (empat) bulan setelah putusan
Pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dikirimkan,
tergugat tidak melaksanakan kewajibannya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97
ayat (9) huruf a,Keputusan Tata Usaha
Negara yang disengketakan itu tidak
mempunyai kekuatan hukum lagi.
c. Dalam hal tergugat ditetapkan harus
melaksanakan kewajibannya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf b
dan huruf c, dan kemudian setelah 3 (tiga)
bulan ternyata kewajiban tersebut tidak
dilaksanakannya, penggugat mengajukan
permohonan kepada Ketua
Pengadilansebagaimana dimaksud pada
ayat (1) agar Pengadilan memerintahkan
tergugat melaksanakan putusan Pengadilan
tersebut.
d. Dalam hal tergugat tidak bersedia
melaksanakan putusan Pengadilan yang
telah memperoleh kekuatan hukum tetap,
terhadap pejabat yang bersangkutan
dikenakan upaya paksa berupa
pembayaran sejumlah uang paksa dan/atau
sanksi administratif.
e. Pejabat yang tidak melaksanakan putusan
pengadilan sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) diumumkan pada media massa
cetak setempat oleh Panitera sejak tidak
terpenuhinya ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3).
3.3Eksekusi terhadap putusan perkara No:
3/G/2013/PTUN-BL
Eksekusi putusan PTUN. Rozali Abdullah
(2005: 98) tegas menyatakan dalam
eksekusi putusan PTUN tidak
dimungkinkan upaya paksa dengan
menggunakan aparat keamanan.
Istimewanya, Presiden selaku kepala
pemerintahan dimungkinkan campur
tangan dalam pelaksanaan putusan PTUN.
Menurut pendapat Bapak Andi
Maderumpu S.H.,M.H. selaku Hakim di
PTUN bahwa dalam putusan perkara No :
3/G/2013/PTUN/BL, hakim memutuskan
bahwa gugatan penggugat tidak diterima
maka terhadap putusan tersebut tidak dapat
Putusan PTUN yang telah berkekuatan
hukum tetap, sejalan dengan Pasal 97 ayat
(8) dan ayat (9) UU PTUN, pada dasarnya
dapat berupa:
a. Batal atau tidak sah Keputusan Tata Usaha
Negara ("KTUN") yang menimbulkan
sengketa dan menetapkan Badan/Pejabat
TUN yang mengeluarkan keputusan untuk
mencabut KTUN dimaksud. Paulus
Effendi Lotulung menyebutnya sebagai
eksekusi otomatis. Jika putusan TUN tidak
dipatuhi maka KTUN tersebut tidak
mempunyai kekuatan hukum lagi, tidak
perlu lagi ada tindakan atau upaya lain dari
pengadilan seperti surat peringatan (R.
Wiyono, 2009: 234).
b. Pelaksanaan putusan pengadilan yang
dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf b,
yang mewajibkan pejabat TUN bukan
hanya mencabut tetapi juga menerbitkan
KTUN baru.
c. Selain itu, ada juga putusan yang
mengharuskan pejabat TUN menerbitkan
KTUN sebagaimana dimaksud Pasal 3 UU
PTUN. Pasal 3 mengatur tentang
keputusan fiktif negatif.
Pembentuk Undang-Undang
mengharapkan Badan/Pejabat TUN
melaksanakan putusan secara sukarela.
Namun, keberhasilan pelaksanaan putusan
itu sangat bergantung pada wibawa
pengadilan dan kesadaran hukum para
pejabat (Rozali Abdullah, 2005: 99). 3
Kalau putusan yang sudah berkekuatan
hukum tetap tidak dijalankan juga, maka
UU PTUN menyediakan mekanisme
berupa sanksi administratif dari atasan
Badan/Pejabat TUN bersangkutan. Lewat
ancaman sanksi itu, atasan pejabat yang
mengeluarkan KTUN pada dasarnya
sedang melakukan upaya paksa.
Mekanisme lain yang disebut dalam UU
PTUN adalah pengenaan uang paksa dan
pengumuman lewat media massa. Pasal
116 ayat (5) UU PTUN menyatakan
pejabat yang tidak melaksanakan putusan
Pengadilan diumumkan pada media massa
cetak setempat oleh panitera sejak tidak
terpenuhinya batas waktu 90 hari kerja.
Begitu batas waktu lewat, penggugat
mengajukan permohonan kepada ketua
pengadilan agar tergugat melaksanakan
putusan. Pasal 116 ayat (6) UU PTUN
menegaskan lebih lanjut, ketua pengadilan
mengajukan ketidakpatuhan ini kepada
Presiden sebagai pemegang kekuasaan
pemerintahan tertinggi dan kepada DPR
untuk menjalankan fungsi pengawasan.
Dari rumusan ini jelas bahwa Presiden
punya kewenangan memaksa pejabat TUN
untuk melaksanakan putusan.
3 Rozali Abdullah. 2005. Hukum Acara
Sedangkan, mekanisme uang paksa yang
disebut dalam Pasal 116 ayat (4) UU
PTUN, hingga kini regulasinya belum
jelas. Penjelasan Pasal 116 ayat (4) UU
PTUN hanya menyebutkan pembebanan
berupa pembayaran sejumlah uang
dicantumkan dalam amar putusan pada
saat hakim memutuskan mengabulkan
gugatan penggugat. Setidaknya, masih
menjadi pertanyaan apakah uang paksa itu
digabung bersama gugatan ke PTUN atau
terpisah, siapa yang harus membayar
(pribadi pejabat TUN atau dari anggaran
badan), dan berapa besar uang paksa atau
dwangsom yang dimungkinkan. Ini
masalah krusial yang sering ditanyakan
dan tampaknya perlu segera diatasi
(Mahkamah Agung, 2007: 9).4
Meskipun demikian, sebenarnya sanksi
administratif, pengenaan uang paksa dan
pengumuman di media massa tak perlu
terjadi jika Badan/Pejabat TUN
menjalankan putusan secara sukarela.
Objek sengketa di Peradilan Tata Usaha
Negara dapat dikatakan memenuhi Pasal 1
angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun
2009 tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara disebutkan “ Keputusan Tata Usaha
4 Mahkamah Agung. 2007. Permasalahan
dari Daerah dan jawabannya Bidang Tata Usaha
Negara dan Jajaran Pengadilan Empat
Lingkungan Peradilan seluruh Indonesia di Makasar.
Negara adalah suatu penetapan tertulis
yang dikeluarkan oleh badan atau Pejabat
Tata Usaha Negara yang berisi tindakan
Hukum Tata Usaha Negara yang berisi
tindakan Hukum Tata Usaha Negara yang
berdasarkan Peraturan
Perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat
Konkrit, Individual dan Final, yang
menimbulkan akibat Hukum bagi
seseorang atau Badan Hukum Perdata.
IV. PENUTUP
4.1Kesimpulan
Dari uraian analisis di atas, dapat
disimpulkan bahwa
a. Putusan Tata Usaha Negara Bandar
Lampung Nomor:
03/G/TUN/2013/PTUN-BL. terkait
sengketa Tata Usaha Negara antara Ir.
Kesuma Dewngsa M.M. (Penggugat) yang
menggugat Surat Keputusan Bupati
Kabupaten Pesawaran
No.180/0375/1.02/II/2013 yang
dikeluarkan oleh Bupati Kabupaten
Pesawaran (Tergugat) secara keseluruhan
sudah sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan, baik dari segi isi
putusan maupun maupun sistematika
putusan, begitu juga dengan Subjek,
mengajukan gugatan sudah tepat. Sehingga
hal tersebut mengindikasikan bahwa
Putusan Tata Usaha Negara tersebut dapat
dipertanggungjawabkan secara hukum.
b. Putusan PTUN Bandar Lampung No:
03/G/2013/PTUN-BL memang belum
mempunyai kekuatan hukum tetap. Karena
masih dilakukan pemeriksaan kasasi di
mahkamah konstitusi. Sehingga
berdasarkan Pasal 115 Undang-Undang
No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata
Usaha Negara belum dapat di eksekusi
4.2Saran
Apabila gugatan ini ditolak, mohon kepada
Yang Mulia Majelis Hakim yang
mengadili perkara ini, untuk memberi
jawaban terkait substansi gugatan, dalam
pertimbangan putusannya. Karena hal
yang demikian masih memberi peluang
bagi penggugat dalam upaya lanjutan
untuk mencari keadilan.
DAFTAR PUSTAKA
Daftar Buku
Departemen pendidikan dan kebudayaan. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.
Hamzah, Andi. 1986. Kamus Hukum. Ghalia Indonesia. Jakarta.
HR, Ridwan. 2007. Hukum Administrasi Negara. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta.
Indroharto, 1993. Peradilan Tata Usaha
Negara. CV. Muliasari. Jakarta.
Johan Nasution, Bahder. 2008. Metode Penelitian Ilmu Hukum. CV. Madar Maju. Bandung.
Koentjoro, Diana Halim. 2004. Hukum Administrasi Negara. Ghalia Indonesia, cet.1. Jakarta.
Mertokosumu, Sudikno. 1988. Hukum Acara Perdata. Liberty. Yogyakarta
Muhammad, Abdulkadir. 2002. Hukum dan Penelitian Hukum. Citra Aditya Bakti. Bandung.
Philipus M. Hadjo, et. Al., 1994. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia (Introduction to the Indonesian Administrative Law), Gadjah mada University Press, Yogyakarta.
Rozali Abdullah. 2005. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang No. 9 Tahun 2004
tentang Peradilan Tata Usaha Negara
Undang-Undang No. 5 Tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999
Tentang Penyelenggara Negara yang
Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi,
dan Nepotisme.
UU No. 14 tahun 1970 tentang
ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman
Keputusan Menteri Keuangan RI No.
1129/KKM.01/1991 tentang Tata Cara
Pembayaran Ganti Rugi dan Tata Cara
Pelaksanaanya pada Peradilan Tata Usaha
Negara
Sumber Lain
Mahkamah Agung. 2007. Permasalahan
dari Daerah dan jawabannya Bidang Tata
Usaha Negara dan Jajaran Pengadilan
Empat Lingkungan Peradilan seluruh