• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KEPUTUSAN PENGADILAN TATA USAHA NEGARA KOTA BANDAR LAMPUNG No: 03G2013PTUN-BL Budi Mulyono, Syamsir Syamsu, Marlia Eka Putri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS KEPUTUSAN PENGADILAN TATA USAHA NEGARA KOTA BANDAR LAMPUNG No: 03G2013PTUN-BL Budi Mulyono, Syamsir Syamsu, Marlia Eka Putri"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KEPUTUSAN PENGADILAN TATA USAHA NEGARA KOTA BANDAR

LAMPUNG No: 03/G/2013/PTUN-BL

Budi Mulyono, Syamsir Syamsu, Marlia Eka Putri

Hukum Administrasi Negara, Fakultas Hukum Universitas lampung

Jl Prof. Soemantri Bojonegoro No.1 Gedung meneng Bandar Lampung 35145

Email: [email protected]

ABSTRAK

7 January 2013, Bupati Pesawaran mengeluarkan SK No: 821.22/06/IV/03/2013 yang isinya

pemberhentian sementara Sekkab Pesawaran atas nama Kesuma Dewangsa. SK ini di

keluarkan secara sepihak oleh Bupati Pesawaran tanpa berkomunikasi terlebih dahulu dengan

Gubernur Lampung. Sedangkan sesuai dengan ketentuan Pasal 122 ayat (3) UU No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah “Sekretaris daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Kabupaten/Kota diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul Bupati/Wali

Kota sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dari ketentuan tersebut jelas bahwa SK Bupati

Pesawaran cacat yuridis (cacat wewenang). Berpedoman dari pasal tersebut di atas akhirnya

Kesuma Dewangsa yang merasa di rugikan dari di keluarkannya SK oleh Bupati berinisiatif

mengajukan Gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara. Setelah di ajukannya gugatan dan

melalui proses pemeriksaan admnistrasi di sidangkanlah perkara tersebut.

PengadilanTata Usaha Negara (PTUN) Bandar Lampung yang memeriksa, memutus dan

menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara pada tingkat pertama, dengan acara biasa, yang

dilangsungkan di Gedung Pengadilan Tata Usaha Negara Bandar Lampung di jalan Pangeran

Emir M. Noer Nomor 27 Bandar Lampung, mengeluarkan KeputusanNo:

821.22/06/IV/03/2013 tentang Gugatan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Pesawaran Kesuma

Dewangsa terhadap Bupati Pesawaran Aries Sandi Darma Putra ditolak.Putusan PTUN

Bandar Lampung ini artinya menguatkan SK Bupati Pesawaran Aries Sandi Darma Putra No:

821.22/06/IV/03/2013 tentang pemberhentian sementara Sekkab Pesawaran atas nama

Kusuma Dewangsa. Putusan sidang No: 03/G/2013/PTUN-BL menyatakan telah menolak

gugatan penggugat dan menguatkan SK Bupati Pesawaran Aries Sandi Darma Putra serta

menghukum penggugat untuk membayar biaya perkara. Berdasarkan uraian yang telah

(2)

Bagaimana dasar pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara tersebut? b) Bagaimana

eksekusi terhadap putusan perkara No:3/G/2013/PTUN-BL tersebut?

Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum yuridis

empiris.Sumber data menggunakan data primer dan data sekunder. metode pengumpulan data

yang digunakan adalah studi pustaka dan studi lapangan. Pengolahan data dilakukan melalui

tahap-tahap pemeriksaan data (editing), penandaan data (coding), rekonstruksi data

(reconstruction) dan sistematisasi data (systematizing). Analisis data menggunakan analisis

kualitatif, artinya menguraikan data yang telah diolah secara rinci kedalam bentuk

kalimat-kalimat (deskriptif). Analisis kualitatif yang dilakukan bertitik tolak dari analisis yuridis

empiris, yang pendalamannya dilengkapi dengan analisis komparatif dengan menggunakan

bahan-bahan hukum primer.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan maka : a) Dasar pertimbangan

Hakim adalah Pasal 97 ayat (7) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Jo Undang-Undang

Nomor 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, putusan Peradilan Tata Usaha

Negara dapat berupa gugatan ditolak, gugatan dikabulkan, gugatan tidak terima dan gugatan

gugur. b) Eksekusinya dilakukan dengan Eksekusi putusan Pengadilan Tata Usaha Negara

tegas menyatakan dalam eksekusi putusan Pengadilan Tata Usaha Negara tidak

dimungkinkan upaya paksa dengan menggunakan aparat keamanan. Istimewanya, Presiden

selaku kepala pemerintahan dimungkinkan campur tangan dalam pelaksanaan putusan

Pengadilan Tata Usaha Negara.

kata kunci : putusan, dasar pertimbangan dan eksekusi

ABSTRACT

7 January 2013, the Regents Pesawaran issued Decree No: 821.22/06/IV/03/2013 the

contents of suspension Sekkab Pesawaran on behalf Kesuma Dewangsa . The decree issued

by the Regent Pesawaran unilaterally without first communicating with the Governor of

Lampung . While in accordance with the provisions of Article 122 paragraph ( 3 ) of Law no.

32 of 2004 on local government " Secretary of areas referred to in paragraph ( 1 ) of the

District / City and appointed by the Governor upon the recommendation of the Regent /

(3)

Pesawaran juridical defects ( defects of authority ) . Guided by the foregoing article Kusuma

Dewangsa finally feel disadvantaged by the decree of the Regent in keluarkannya initiative

Lawsuit filed to the Administrative Court . Once in ajukannya lawsuit and through the

process of Administrative examination in the case sidangkanlah .

Pengadilan Tata (PTUN ) Videos that examine, decide and resolve disputes State

Administration on the first level , with regular events , which took place at the Courthouse

Administrative Prince Bandar Lampung on the road Emir M. Noer No. 27 Bandar Lampung ,

mengeluarkanKeputusanNo : 821.22/06/IV/03/2013 about Lawsuit District Secretary (

Sekkab ) Pesawaran Kusuma Dewangsa against Regent Pesawaran Aries opposing such

ditolak. Putusan Password Darma Putra Bandar Lampung Regent Decree reinforces this

means Pesawaran Aries Password Darma Putra No: 821.22/06/IV/03/2013 about layoffs

Sekkab Pesawaran on behalf of Kusuma Dewangsa . No verdict : 03/G/2013/PTUN-BL states

have rejected the plaintiff's claim and strengthen Regent Decree Pesawaran Aries Password

Darma Putra and punish plaintiffs to pay court costs . Based on the description that has been

stated above, which are at issue in this study are : a) How does the consideration of the judges

in deciding cases ? b ) How does the execution of the court decision No: 3/G/2013/PTUN-BL

these ?

Approach to the problem which is used in this research is the data empiris. Sumber juridical

legal research using primary data and secondary data . Data collection methods used are

literature studies and field studies . Data processing is done through the stages of examination

of the data ( editing ) , tagging the data ( coding ) , the data reconstruction ( reconstruction )

and systematization of data ( systematizing ) . Analysis of data using qualitative analysis ,

meaning that the data has been processed outlining in detail in the form of sentences (

descriptive ) . Qualitative analysis starts from the analysis of empirical jurisdiction , that his

approach comes with a comparative analysis using primary legal materials .

Based on the research and discussion that is done then : a) Basic considerations judge is

Article 97 paragraph ( 7 ) of Law No. 5 of 1986 Jo Law No. 9 of 2004 on the State

Administrative Court , the decision of the State Administrative Court can be a lawsuit denied

, a lawsuit is granted , the lawsuit does not accept and fall lawsuit . b ) Execution Execution

decision made by the Administrative Court expressly stated in the execution of the decision

(4)

Special, made possible the President as head of government interference in the

implementation of the decision of the Administrative Court .

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Salah satu ciri Negara hukum modern

adalah adanya perlindungan hukum

terhadap hak asasi manusia termasuk

perlindungan hukum terhadap warga

negara dari tindakan sewenang-wenang

penguasa. Dalam kehidupan berbangsa dan

bernegara, selalu terjadi interaksi

hubungan antara pejabat Negara dan

masyarakat. Hubungan interaksi tersebut

kebanyakan biasanya terjadi karena

adanya tugas-tugas pemerintahan dan

pembangunan yang dilakukan oleh pejabat

negara dalam rangka meningkatkan

kesejahteraan masyarakat. Hubungan

antara pejabat administrasi negara sebagai

pelaksana urusan pemerintahan dan

pembangunan dengan masyarakat, sering

terjadi benturan kepentingan yang

melibatkan kedua pihak. Benturan

kepentingan ini biasanya diakibatkan oleh

adanya keputusan pejabat negara.

Pada dasarnya sengketa Tata Usaha

Negara terjadi karena adanya seseorang

atau badan hukum perdata yang merasa

kepentingannya dirugikan oleh suatu

Keputusan Tata Usaha Negara, yaitu suatu

penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh

Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara

yang berisi tindakan hukum Tata Usaha

Negara yang berdasarkan peraturan

perundang-undangan yang berlaku, yang

bersifat konkrit, individual, dan final, yang

menimbulkan akibat hukum bagi

seseorang atau badan hukum perdata.

Gugatan yang diajukan oleh seseorang

atau badan hukum yang merasa dirugikan

tersebut haruslah dengan alasan-alasan

sesuai yang diatur dalam Pasal 53 ayat (2)

UU No 5 Tahun 1986, yaitu:

Alasan-alasan yang dapat digunakan

dalam gugatan sebagaimana dimaksud

dalam ayat (1) adalah :

a. Keputusan Tata Usaha Negara yang

digugat itu bertentangan dengan

peraturan perundang-undangan yang

berlaku;

b. Badan atau Pejabat Tata Usaha

Negara pada waktu mengeluarkan

keputusan sebagaimana dimaksud

dalam ayat (1) telah menggunakan

wewenangnya untuk tujuan lain dari

maksud diberikannya wewenang

tersebut;

c. Badan atau Pejabat Tata Usaha

Negara pada waktu mengeluarkan

(5)

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

setelah mempertimbangkan semua

kepentingan yang tersangkut dengan

keputsan itu seharusnya tidak sampai

pada pengambilan atau tidak

pengambilan keputusan tersebut.

Sesuai prinsip Negara hukum, keputusan

pejabat negara yang merugikan

kepentingan masyarakat, dapat dilakukan

gugatan terhadap keputusan yang

dikeluarkan oleh pejabat negara. Tindakan

Badan/Pejabat Tata Usaha Negara tidak

selamanya sesuai dengan keinginan

masyarakat, walaupun tindakan tersebut

dilakukan untuk menjalankan urusan

pemerintahan. Tindakan suatu

Badan/Pejabat Tata Usaha Negara

seringkali bertentangan atau merugikan

kepentingan masyarakat. Pertentangan

antara keputusan Pejabat Tata Usaha

Negara dengan kepentingan masyarakat

secara individu seringkali terjadi dalam

kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tindakan hukum Badan/Pejabat Tata

Usaha Negara dituangkan dalam bentuk

Keputusan tertulis, dalam rangka

menjalankan tugas pemerintahan. Disatu

sisi, keputusan tersebut diambil atas dasar

kewenangan yang diberikan, namun disisi

lain, pelaksanaan keputusan tidak boleh

mengurang hak-hak warganegara. Setiap

keputusan Badan/pejabat Tata Usaha

Negara harus berdasarkan prinsip Negara

hukum, oleh karena itu, keputusan tersebut

tidak boleh melanggar hak-hak warga

negara.

Perlindungan terhadap hak-hak warga

Negara merupakan salah satu pilar utama

Negara hukum. Salah satu bentuk

perlindungan terhadap hak-hak warga

Negara adalah adanya Peradilan Tata

Usaha Negara yang berwenang untuk

menguji keputusan Badan/Pejabat Tata

Usaha Negara yang dianggap merugikan

kepentingan masyarakat. Bagi setiap orang

yang merasa kepentinganya dirugikan oleh

adanya Keputusan Badan/Pejabat Tata

Usaha Negara dapat mengajukan gugatan

untuk melindungi hak-hak yang

dimilikinya.

Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN)

merupakan salah satu lembaga

pelaksanaan kekuasaan kehakiman yang

member keadilan bagi masyarakat dari

tindakan sewenang-wenang oleh

Badan/Pejabat Tata Usaha Negara. Setiap

warga Negara berhak mengajukan gugatan

terhadap keputusanBadan/Pejabat Tata

Usaha Negara, apabila keputusan tersebut

merugikan kepentingan orang yang

bersangkutan. Peradilan Tata Usaha

Negara yang sebelumnya diatur dalam

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986,

dianggap masih belum secara signifikan

melindungi kepentingan masyarakat.

(6)

2004, member perubahan bagi kemajuan

hukum yang melindungi kepentingan

individu sebagai warga negara.

Berdasarkan Pasal 1 angka 4

Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 tentang

Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN),

sengketa Tata Usaha Negara adalah

sengketa yang timbul dalam bidang Tata

Usaha Negara antara orang atau badan

hukum perdata dengan Badan atau Pejabat

Tata Usaha Negara, baik di pusat maupun

di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya

Keputusan Tata Usaha Negara, termasuk

sengketa kepegawaian berdasarkan

peraturan perundang-undangan yang

berlaku. Pasal 1 angka 5 Gugatan adalah

permohonan yang berisi tuntutan terhadap

Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dan

diajukan ke Pengadilan untuk

mendapatkan putusan;

Objek sengketa di Peradilan Tata Usaha

Negara dapat dikatakan memenuhi Pasal 1

angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun

2009 tentang Perubahan Kedua Atas

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986

tentang Peradilan Tata Usaha Negara disebutkan “Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu Penetapan Tertulis yang

dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata

Usaha Negara yang berisi tindakan Hukum

Tata Usaha Negara yang berdasarkan

Peraturan Perundang-undangan yang

berlaku, yang bersifat Konkrit, individual

dan Final, yang menimbulkan akibat

Hukum bagi seseorang atau badan Hukum Perdata”.

Pengadilan Tinggi Usaha Negara (PTUN)

Bandarlampung yang memeriksa,

memutus dan menyelesaikan sengketa

Tata Usaha Negara pada Tingkat Pertama,

dengan Acara Biasa, yang dilangsungkan

di Gedung Pengadilan Tata Usaha Negara

Bandar Lampung di jalan Pangeran Emir

M. Noer Nomor 27 Bandar Lampung,

mengeluarkan Keputusan No:

821.22/06/IV/03/2013 tentang Gugatan

Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Pesawaran

Kesuma Dewangsa terhadap Bupati

Pesawaran Aries Sandi Darma Putra

ditolak. Majelis PTUN menilai

pemberhentian yang dilakukan Bupati

Pesawaran Aries Sandi Darma Putra

kepada Kesuma Dewangsa merupakan

pemberhentian sementara, bukan bersifat

definitif. Kesimpulan majelis hakim ini

diberikan setelah siding berjalan hampir

dua bulan dan telah melewati proses

pemeriksaan administrasi.

Putusan PTUN Bandar Lampung ini

artinya menguatkan SK Bupati Pesawaran

Aries Sandi Darma Putra No:

821.22/06/IV/03/2013 tentang

pemberhentian sementara Sekkab

Pesawaran atas nama Kusuma Dewangsa.

Putusan sidang No: 03/G/2013/PTUN-BL

(7)

penggugat dan menguatkan SK Bupati

Pesawaran Aries Sandi Darma Putra serta

menghukum penggugat untuk membayar

biaya perkara. PTUN Bandar lampung

yang memeriksa, memutus dan

menyelesaikan sengketa Tata Usaha

Negara pada Tingkat Pertama, dengan

Acara Biasa, yang dilangsungkan di

Gedung Pengadilan Tata Usaha Negara

Bandar Lampung di Jalan Pangeran Emir

M. Noer Nomor 27 Bandar Lampung,

telah menjatuhkan Putusan dalam sengketa

antara Ir. Kesuma Dewangsa, M.M.

sebagai penggugat dan Bupati Pesawaran

sebagai tergugat. Bahwa penggugat dalam

surat gugatannya tertanggal 7 Januari 2013

yang didaftar di Kepaniteraan Pengadilan

Tata Usaha Negara Bandar Lampung pada

tanggal 28 Januari 2013 dengan Register

Perkara Nomor : 3/G/2013/PTUN-BL, dan

telah diperbaiki pada tanggal 13 Februari

2013 telah mengemukakan alasan-alasan

sebagai berikut bahwa penggugat diangkat

dalam jabatannya sebagai Sekretraris

Daerah (Sekda) kabupaten Pesawaran

dengan pangkat golongan Pembina Utama

Muda (IV/c) 01-10-2005 berdasarkan

Keputusan Gubernur Lampung Nomor :

821.21/473/II.09/2010 tanggal 24

September 2010 tentang Pengangkatan

Pegawai Negeri Sipil ke dalam Jabatan

Sekretaris Daerah Kabupaten Pesawaran

dan bahwa selama menjabat sebagai

Sekretaris Daerah Kabupaten Pesawaran,

penggugat telah melaksanakan tugas dan

kewajiban dengan sebaik-baiknya sesuai

dengan peraturan perundang-undangan

yang berlaku. Yang menjadi obyek

Sengketa adalah Keputusan Bupati

Pesawaran Nomor : 821.22/06/IV.03/2013

tanggal 7 Januari 2013 tentang

Pemberhentian Sementara Sekretaris

daerah Kabupaten Pesawaran atas nama :

Ir. Kesuma Dewangsa, M.M.

Sehubungan dengan upaya menemukan

atau mencari hukumnya, tidak sekedar

mencari undang-undangnya untuk dapat

diterapkan pada peristiwa konkret yang

dicarikan hukumnya. Kegiatan tersebut

tidaklah semudah yang dibayangkan.Guna

mencari atau menemukan hukumnya atau

undang-undangnya untuk dapat diterapkan

pada peristiwa konkret, peristiwa konkret

itu harus diarahkan kepada

undang-undangnya, sebaliknya undang-undangnya

harus disesuaikan dengan peristiwanya

yang konkrit (Mertokosumu, 1988: 60).1

Diperlukan kehati-hatian dan kecermatan

dalam pembuatan putusan di PTUN,

mengingat asas setiap putusan PTUN

mempunyai kekuatan mengikat

ergeomnes, sesuai dengan karakter hukum

publik sengketa tata usaha negara.

Prinsip penting yang harus diperhatikan

mengenai prosedur putusan pengadilan

1 Mertokosumu, sudikno. 1988. Hukum

(8)

adalah putusan Pengadilan harus

diucapkan dalam sidang terbuka untuk

umum (Pasal 108 ayat 1). Sanksi terhadap

tidak dipenuhinya prinsip tersebut, putusan

Pengadilan tersebut menjadi tidak sah dan

tidak mempunyai kekuatan hukum (Pasal

108 ayat 3).Apabila salah satu pihak atau

kedua belah pihak tidak hadir pada waktu

putusan Pengadilan diucapkan, atas

perintah Hakim Ketua Sidang, salinan

putusan itu disampaikan dengan surat

tercatat kepada yang bersangkutan.

II. METODE PENELITIAN

2.1Pendekatan Masalah

Pendekatan masalah merupakan proses

pemecahan atau penyelesaian masalah

melalui tahap-tahap yang telah ditentukan

(Abdulkadir Muhammad, 2002, hlm:

113).2 Pendekatan masalah yang

digunakan dalam penelitian ini adalah

penelitian hukum yuridis normatif yaitu

jenis penelitian yang dilakukan dengan

cara mengumpulkan dan mempelajari

buku-buku, dokumen-dokumen, dan

peraturan perundang-undangan yang ada

kaitannya atau hubungannya dengan

pembahasan yang sedang dibahas dan

2 Muhammad, Abdulkadir. 2002. Hukum

dan Penelitian Hukum. Citra Aditya Bakti. Bandung.

yuridis empiris. Pendekatan masalah yang

dilakukan dalam penelitian ini

menggunakan langkah-langkah sebagai

berikut:

1. Mengidentifikasi sumber hukum yang

menjadi rumusan masalah;

2. Mengidentifikasi dan

menginventarisir ketentuan normatif

bahan hukum primer dan bahan

hukum sekunder berdasarkan rincian

pokok bahasan;

3. Mengkaji secara komperhensif

analisis bahan hukum primer dan

bahan hukum sekunder berdasarkan

rincian pokok bahasan;

4. Hasil kajian sebagai jawaban

permasalahan dideskripsi secara

lengkap, rinci, jelas dan sistematis

dalam bentuk laporan hasil penelitian.

2.2Data dan Sumber Data

Dalam penelitian ini diperlukan data

primer dan data sekunder, yang bersumber

dari :

1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh

melalui penelitian lapangan (field

research) yang berkaitan dengan

permasalahan yang ada dalam

penelitian ini yang dilakukan pada

Pengadilan Tinggi Usaha Negara

(9)

2. Data sekunder, yaitu data yang

diperoleh melalui studi kepustakaan

(library research) terhadap bahan

hukum yang berupa bahan hukum

primer dan bahan hukum sekunder,

yaitu :

a. Bahan hukum primer yaitu antara

lain melalui Kitab

Undang-Undang Hukum Acara Peradilan

Tata Usaha Negara.

b. Bahan hukum sekunder yaitu

bahan-bahan hukum yang

mempelajari penjelasan terhadap

bahan hukum primer, terdiri dari

literatur-literatur, buku-buku ilmu

pengetahuan yang berkaitan

dengan permasalahan.

c. Bahan hukum tersier yaitu bahan

hukum yang memberikan

informasi, penjelasan, terhadap

bahan hukum primer dan

sekunder yaitu kamus hukum,

majalah, internet, dan informasi

lainnya yang mendukung

penelitian.

2.3Prosedur Pengumpulan Data

Berdasarkan jenis data diatas, maka

metode pengumpulan data yang digunakan

adalah sebagai berikut :

1. Studi Pustaka

Yaitu pengkajian informasi tertulis

mengenai hukum yang berasal dari

berbagai sumber. Pengkajian tersebut

dilakukan dengan cara membaca,

menyadur, mencatat, dan mengutip

literatur-literatur, perundang-undangan,

dokumen, dan pendapat para sarjana dan

ahli hukum yang berkaitan dengan

masalah yang akan dibahas dalam skripsi

ini.

2. Studi Lapangan

Guna melengkapi data yang dibutuhkan

dalam penelitian ini, studi lapang yaitu

dengan menggunakan teknik pengamatan

(observasi) dan melakukan wawancara

dengan Hakim Ketua Andi Maderumpu

S.H.,M.H. dari Pengadilan Tata Usaha

Negara. Adapun teknik wawancara

dilakukan secara bebas terpimpin yaitu

wawancara didasarkan pada daftar

pertanyaan yang telah dipersiapkan

terlebih dahulu oleh peneliti berupa

pertanyaan-pertanyaan pokok yang

kemudian dapat dikembangkan pada saat

wawancara berlangsung di lokasi

penelitian.

2.4Prosedur Pengolahan Data

Setelah melalui tahap pengumpulan data,

selanjutnya dilakukan pengolahan data.

Sehingga data yang diperoleh dapat

digunakan untuk menganalisis

(10)

III. HASIL DAN

PEMBAHASAN

3.1Gambaran Umum Peradilan Tata

Usaha Negara Bandar Lampung

Badan Peradilan merupakan pelaksana

Kekuasaan Kehakiman yang bertugas

menyelenggarakan Peradilan guna

menegakkan hukum dan keadilan

berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,

dengan tugas pokok memeriksa, memutus,

dan menyelesaikan setiap perkara yang

diajukan kepadanya dan tugas lain

berdasarkan peraturan perundang -

undangan yang berlaku.

Peradilan Tata Usaha Negara adalah

bagian Peradilan yang bertugas untuk

memeriksa, memutus dan menyelesaikan

sengketa Tata Usaha Negara antara orang

Perorangan/Badan Hukum Perdata dengan

Badan/Pejabat Tata Usaha Negara, yang

dilaksanakan oleh Hakim yang khusus

diangkat untuk itu. Dalam Peradilan itu

dilakukan penilaian terhadap Keputusan

Tata Usaha Negara yang dikeluarkan oleh

Badan/Pejabat Tata Usaha Negara yang

diajukan ke Peradilan Tata Usaha Negara.

Di lingkungan Peradilan Tata Usaha

Negara, penyelenggaraan Peradilan

dilaksanakan oleh Pengadilan Tata Usaha

Negara sebagai Peradilan tingkat Pertama

dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara

(khusus penyelesaian sengketa melalui

banding administratif) sebagai Peradilan

tingkat Banding serta Mahkamah Agung

sebagai lembaga Peradilan Tertingginya.

Dari Standard Operating Procedures ini

diharapkan seluruh kegiatan pelaksanaan

tugas teknis yudisial maupun non yudisial

dapat dilakukan dengan baik serta dapat

menjadi pedoman pelaksanaan tugas

pokok dan fungsi (Tupoksi), sehingga

hambatan-hambatan untuk mencapai

tujuan dapat diminimalisir. Terlebih lagi

dengan dibentuknya Hakim Pengawas

Bidang dapat memperkokoh pelaksanaan

visi dan misi Pengadilan Tata Usaha

Negara Bandar Lampung.

Dalam rangka usaha berkelanjutan

meningkatkan kemampuan aparat

Pengadilan Tata Usaha Negara Bandar

Lampung, untuk mengemban dan

melaksanakan tugas yang dibebankan oleh

negara, dengan tugas pokok

menyelenggarakan Peradilan guna

(11)

berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,

maka dengan adanya Standard Operating

Procedures , diharapkan dapat memberi

dampak sebagai berikut :

1. Memberikan kepuasan kepada

masyarakat pencari keadilan atas

pelayanan pengadilan ;

2. Peningkatan disiplin aparat pengadilan

dan kinerja pengadilan ;

3. Memberikan kesan bahwa pengadilan

adalah milik bersama ;

4. Peningkatan kesejahteraan aparat

pengadilan.

Gambaran Umum Putusan Perkara No :

3/G/2013/PTUN-BL.

Putusan Perkara No : 3/G/2013/PTUN-BL

berdasarkan salinan resmi putusan pada

tanggal 2 April 2013 perkara gugatan

antara Penggungat Ir. Kesuma Dewangsa

M.M dan Lawan tergugat Bupati

Kabupaten Pesawaran. Pengadilan Tata

Usaha Negara Bandar Lampung yang

memeriksa, memutus dan menyelesaikan

sengketa Tata Usaha Negara pada Tingkat

Pertama, dengan Acara Biasa, yang

dilangsungkan di Gedung Pengadilan Tata

Usaha Negara Bandar Lampung, telah

menjatuhkan Putusan sebagai berikut

dalam sengketa antara Ir. Kesuma

Dewangsa, M.M, sebagai penggugat dan

Bupati Kabupaten Pesawaran sebagai

tergugat. Menimbang bahwa penggugat

dalam surat gugatannya tertanggal &

Januari 2013 yang didaftar di Kepaniteraan

Pengadilan tata Usaha Negara Bandar

Lampung pada tanggal 28 Januari 2013

dengan Register Perkara Nomor :

3/G/2013/PTUN-BL. Obyek Sengketa

adalah Keputusan Bupati Pesawaran

Nomor : 821.22/06/IV.03/2013 tanggal 7

Januari 2013 tentang Pemberhentian

Sementara Sekretaris Daerah Kabupaten

pesawaran atas nama : Ir. Kesuma

Dewangsa, M.M.

Karena syarat formal gugatan tidak

terpenuhi sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 1 angka (9) Undang-Undang Nomor

: 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua

atas Undang-Undang Nomor : 5 Tahun

1986 tentang Peradilan Tata Usaha

Negara, maka menurut Majelis Hakim

telah cukup alasan menyatakan gugatan

Penggugat tidak diterima (Niet

Onvankelijk Verklaard), maka oleh karena

itu tentang materi pokok sengketanya tidak

perlu dipertimbangkan lagi.

Oleh karena gugatan Penggugat

dinyatakan tidak diterima, maka sesuai

ketentuan Pasal 110 Undang-Undang

Nomor : 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan

Tata Usaha Negara, Pihak Penggugat

dihukum untuk membayar biaya perkara

yang besarnya sebagaimana tersebut dalam

(12)

Sesuai ketentuan Pasal 107

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang

Peradilan Tata Usaha Negara, Hakim

bebas menentukan apa yang harus

dibuktikan, beban pembuktian beserta

penilaian pembuktian, atas dasar itu

terhadap alat-alat bukti yang relevan telah

dipergunakan sebagai bahan pertimbangan

Majelis Hakim dan terhadap bukti-bukti

selebihnya dianggap dikesampingkan dan

tetap dilampirkan menjadi satu kesatuan

dalam berkas perkara.

Mengingat Pasal-pasal dalam

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang

Peradilan Tata Usaha Negara juncto

Undang-undang Nomor 9 Tahun 2004

junctis Undang-Undang Nomor 51 Tahun

2009 serta peraturan perundang-undangan

lain.

3.2Dasar Pertimbangan Majelis Hakim

dalam memutus perkara

Adapun dasar pertimbangan majelis hakim

dalam memutus perkara :

1. Pasal 97 ayat (7) Undang-Undang

Nomor 5 Tahun 1986 Jo

Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang

Peradilan Tata Usaha Negara, putusan

Peradilan Tata Usaha Negara dapat

berupa :Gugatan ditolak, Gugatan

dikabulkan, Gugatan tidak terima dan

Gugatan gugur. Dari macam isi dan sifat

putusan Pengadilan Tata Usaha Negara

tersebut tidak semua putusan dapat

dikenakan Upaya Paksa melainkan

hanya putusan yang memenuhi syarat

saja, antara lain :

2. Putusan yang menyatakan gugatan

dikabulkan, yaitu apabila dari hasil

pemeriksaan di persidangan ternyata

dalil-dalil dari posita gugatan Penggugat

telah terbukti secara formal maupun

materiil dan telah dapat mendukung

petitum yang dikemukakan Penggugat;

3. Putusan bersifat condemnatoir, yaitu

putusan yang sifaynya memberikan

beban atau kewajiban untuk melakukan

tindakan tertentu kepada Badan/Pejabat

Tata Usaha Negara seperti :

a. Kewajiban mencabut Keputusan Tata

Usaha Negara yang dinyatakan

batal/tidak sah.

b. Kewajiban menertibkan Keputusan

Tata Usaha Negara badan/pengganti.

c. Kewajiban mencabut dan

menertibkan Keputusan Tata Usaha

Negara yang baru.

d. Kewajiban membayar ganti rugi.

e. Kewajiban melaksanakan rehabilitasi

dalam sengketa kepegawaian.

1. Putusan yang telah memperoleh

kekuatan hukum tetap (inkraht Van

(13)

tidak dapat diterapkan upaya hukum lagi

terhadap putusan tersebut.

Putusan:

a. Dalam hal pemeriksaan sengketa

sudah diselesaikan, masing-masing

pihak diberikan kesempatan untuk

menyampaikan kesimpulan.

b. Setelah kedua pihak mengemukakan

kesimpulan, maka Hakim Ketua

Sidang menyatakan bahwa sidang

ditunda untuk memberikan

kesempatan kepada Majelis Hakim

bermusyawarah dalam ruangan

tertutup untuk mempertimbangkan

segala sesuatu guna putusan sengketa

tersebut.

c. Putusan dalam musyawarah majelis

diusahakan untuk memperoleh hasil

mufakat, kecuali apabila hal itu

setelah di upayakan dengan

sungguh-sungguh tidak tercapai, maka berlaku

aturan sebagai berikut:

a. Putusan diambil dengan suara

terbanyak.

b. Apabila ketentuan (a) tersebut

juga tidak dihasilkan putusan,

maka musyawarah ditunda

sampai musyawarah berikutnya.

c. Apabila dalam musyawarah

berikutnya tidak dapat diambil

putusan dengan suara terbanyak,

maka suara terakhir, diletakan

pada hakimKetua Majelis yang

menentukan.

d. Putusan Pengadilan dapat

dijatuhkan pada hari itu juga

dalam sidang yang terbuka untuk

umum, atau ditunda pada hari lain

yang harus diberitahukan kepada

kedua belah pihak.

d. Putusan pengadilan dapat berupa:

a. Menolak gugatan, apabila setelah

diperiksa gugatan penggugat tidak

terbukti.

b. Gugatan dikabulkan, berarti dalam

pemeriksaan dapat dibuktikan

bahwa KTUN yang disengketakan

melanggar Peraturan

perundang-undangan dan/atau asas-asas umum

pemerintahan yang baik. Dalam

putusan tersebut dapat ditetapkan

kewajiban yang harus dilakukan

oleh badan atau pejabat Tata Usaha

Negara.

c. Gugatan tidak dapat diterima,

apabila setelah diperiksa gugatan

penggugat tidak berdasarkan

hukum yang berarti gugatan tidak

memenuhi syarat-syarat yang telah

ditentukan. Dalam hal ini

penggugat dapat memasukan

gugatan baru.

d. Gugatan dinyatakan gugur, apabila

penggugat, para penggugat atau

(14)

sidang yang telah ditentukan

meskipun telah di panggil secara

patut tanpa alasan yang jelas.

e. Dalam hal gugatan dikabulkan, maka

dalam putusan Pengadilan tersebut

dapat ditetapkan kewajiban yang harus

dilakukan oleh Badan atau Pejabat Tata

Usaha Negara yang mengeluarkan

keputusan Tata Usaha Negara.

f. Kewajiban diatas berupa:

a. Pencabutan keputusan Tata Usaha

Negara yang bersangkutan; atau

b. Pencabutan keputusan Tata Usaha

Negara yang bersangkutan dan

menerbitkan

c. Keputusan Tata Usaha Negara

yang baru; atauPenerbitkanKTUN

dalam hal gugatan didasarkan pada

pasal 3 (KTUN Fiktif negatif).

g. Kewajiban tersebut dapat disertai

pembebanan ganti rugi.

h. Dalam hal putusan Pengadilan

menyangkut sengketa kepegawaian,

maka di samping kewajiban

sebagaimana tersebut diatas, dapat pula

disertai pemberian rehabilitasi

(pemulihan Penggugat pada harkat,

martabat dan posisi semula). Dalam

Hukum Acara Peradilan Tata Usaha

Negara, putusan pengadilan dibagi

dalam 3 jenis putusan, yaitu:

a. Putusan yang bersifat pembebanan

(condemnatoir). Putusan yang

mengandung pembebanan.

Misalnya Tergugat dibebani untuk

membatalkan surat keputusan yang

digugat; Tergugat dibebani

membayar ganti kerugian atau

Tergugat dibebani melakukan

rehabilitasi. (Pasal 97 ayat 9 butir

huruf a,b,c, pasal 97 ayat 10 dan

11). Contoh: surat pemberhentian

pegawai dibatalkan dan melakukan

rehabilitasi.

b. Putusan yang bersifat pernyataan

(declaratoir). Putusan yang hanya

menegaskan suatu keadaan hukum

yang sah. Misalnya penetapan

dismisal (pasal 62). Contoh

gugatan tidak diterima atau tidak

berdasar. Penetapan perkara

diperiksa dengan acara cepat (pasal

98). Beberapa perkara perlu

digabungkan atau

dipisah-pisahkan, dan lain-lain.

c. Putusan yang bersifat penciptaan

(konstitutif). Putusan yang

melenyapkan suatu keadaan hukum

atau melahirkan atau menciptakan

suatu keadaan hukum baru. (pasal

97 ayat 9 huruf b). (Martiman Prodjohamidjojo, SH, 1993 : 132) Objek sengketa di Pengadilan Tata Usaha

Negara dapat dikatakan memenuhi Pasal 1

angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun

(15)

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986

tentang Pengadilan Tata Usaha Negara

yang berisi tindakan hukum Tata Usaha

Negara yang berdasarkan peraturan

perundang-undangan yang berlaku, yang

bersifat konkrit, individual, dan final yang

menimbulkan akibat hukum bagi

seseorang/badan hukum perdata, dan saat

ini sedang diajukan pengusulan oleh

tergugat untuk pemberhentian secara

definitif dari Sekretaris Daerah Kabupaten

untuk pemberhentian secara definitif dari

Sekertaris Daerah kabupaten Pesawaran

hal ini sangat jelas bahwa keputusan

tersebut masih memerlukan persetujuan

pihak lain (Gubernur). Terhadap

kewenangan tersebut tergugat selaku

Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah

tidak mengharuskan konsultasi terlebih

dahulu kepada Gubernur karena

pemberhentian tersebut hanya bersifat

sementara. Lain halnya apabila

pengangkatan dan pemberhentian

Sekretaris Daerah secara definitif maka

Bupati selaku Pembina Kepegawaian

Daerah harus melakukan konsultasi secara

tertulis kepada Gubernur sesuai dengan

Pasal 14 ayat (2) Peraturan Pemerintah

Nomor 9 Tahun 2003 dan Pasal 122 ayat

(3) Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004

tentang Pemerintah Daerah yang

Penggugat dalilkan adalah pemberhentian

secara definitif, dalam hal ini belum

memahami atas aturan tersebut.

Menurut Pendapat Bapak Andi

Maderumpu S.H.,M.H. selaku Hakim di

PTUN bahwa dalam memutus perkara No:

3/G/2013/PTUN-BL. Hakim melihat atau

mengacu pada ketentuan Pasal 1 angka (9)

UU No. 51 Tahun 2009 tentang perubahan

kedua atas UU No. 5 Tahun 1986 tentang

Peradilan Tata Usaha Negara yang berbunyi “Keputusan Tata Usaha Negara adalah penetapan tertulis yang dikeluarkan

oleh Badan/Pejabat Tata Usaha Negara

yang berisi tindakan hukum Tata Usaha

Negara berdasarkan Peraturan

Perundang-Undangan yang berlaku, yang bersifat

konkrit, Individual dan Final yang

menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata”. Melihat unsur-unsur dalam pasal tersebut

dapat diketahui bahwa Surat Keputusan

Tata Usaha Negara karena surat keputusan

tersebut belum final dan tidak

menimbulkan akibat hukum. Dikatakan

belum final karena surat keputusan

tersebut masih akan ada tindak lanjut dari

Gubernur selaku pejabat yang berwenang

mengangkat dan memberhentikan

Sekretaris daerah sesuai dengan Pasal 12

ayat (1) Peraturan Daerah Kabupaten

Pesawaran No. 4 tahun 2011 tentang

Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja

(16)

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

kabupaten dan Staf Ahli Bupati

Pesawaran. Sedangkan dikatakan tidak

menimbulkan akibat hukum karena

penggugat masih menerima gaji dan

tunjangan jabatan Sekreratis Daerah

setelah dikeluarkannya Surat Keputusan

tersebut sampai dengan Maret 2013.

Dengan melihat hal tersebut maka hakim

dalam perkara ini memutuskan bahwa

gugatan penggugat tidak diterima.

Ada 3 macam kekuatan yang terdapat pada

putusan hakim yaitu kekuatan mengikat

(resjudicata pro vertate habetur), kekuatan

eksekutorial (suatu putusan pengadilan

yang telah berkekuatan tetap dapat

dijalankan), kekuatan pembuktian (putusan

pengadilan merupakan akta otentik).

2. UU No. 5 Tahun 1986 Pasal 109

Bentuk Putusan:

a. Putusan Pengadilan harus memuat:

d. Kepala putusan yang berbunyi :"DEMI

KEADILAN BERDASARKAN

KETUHANAN YANG MAHA ESA";

e. nama, jabatan, kewarganegaraan, tempat

kediaman, atau tempat kedudukan para

pihak yang bersengketa;

f. ringkasan gugatan dan jawaban tergugat

yang jelas;

g. pertimbangan dan penilaian setiap bukti

yang diajukan dan hal yang terjadi dalam

persidangan selama sengketa itu diperiksa;

h. alasan hukum yang menjadi dasar putusan;

i. amar putusan tentang sengketa dan biaya

perkara;

j. hari, tanggal putusan, nama Hakim yang

memutus, nama Panitera, serta keterangan

tentang hadir atau tidak hadirnya para

pihak.

b. Tidak dipenuhinya salah satu ketentuan

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

dapat menyebabkan batalnya putusan

Pengadilan.

c. Selambat-lambatnya tiga puluh hari

sesudah putusan Pengadilan diucapkan,

putusan itu harus ditandatangani oleh

Hakim yang memutus dan Panitera yang

turut bersidang.

d. Apabila HakimKetua Majelis atau dalam

hal pemeriksaan dengan acara cepat

HakimKetua Sidang berhalangan

menandatangani, maka putusan Pengadilan

ditandatangani oleh Ketua Pengadilan

dengan menyatakan berhalangannya

Hakim Ketua Majelis atau Hakim Ketua

Sidang tersebut. Apabila Hakim Anggota

Majelis berhalangan menandatangani, maka

putusan Pangadilan ditandatangani oleh

HakimKetua Majelis dengan menyatakan

berhalangannya Hakim Anggota Majelis

(17)

3. Pasal 115 UU No. 5 1986 jo UU No. 9

Tahun 2004

Hanya putusan pengadilan yang telah

memperoleh kekuatan hukum tetap yang

dapat dilaksanankan

4. Pasal 116 UU No. 5 1986 jo UU No. 9

Tahun 2004

a. Salinan putusan Pengadilan yang telah

memperoleh kekuatan hukum tetap,

dikirimkan kepada para pihak dengan surat

tercatat oleh Panitera Pengadilan setempat

atas perintahKetua Pengadilan yang

mengadilinya dalam tingkat pertama

selambat lambatnya dalam waktu 14

(empat belas) hari.

b. Dalam hal 4 (empat) bulan setelah putusan

Pengadilan yang telah memperoleh

kekuatan hukum tetap sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dikirimkan,

tergugat tidak melaksanakan kewajibannya

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97

ayat (9) huruf a,Keputusan Tata Usaha

Negara yang disengketakan itu tidak

mempunyai kekuatan hukum lagi.

c. Dalam hal tergugat ditetapkan harus

melaksanakan kewajibannya sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf b

dan huruf c, dan kemudian setelah 3 (tiga)

bulan ternyata kewajiban tersebut tidak

dilaksanakannya, penggugat mengajukan

permohonan kepada Ketua

Pengadilansebagaimana dimaksud pada

ayat (1) agar Pengadilan memerintahkan

tergugat melaksanakan putusan Pengadilan

tersebut.

d. Dalam hal tergugat tidak bersedia

melaksanakan putusan Pengadilan yang

telah memperoleh kekuatan hukum tetap,

terhadap pejabat yang bersangkutan

dikenakan upaya paksa berupa

pembayaran sejumlah uang paksa dan/atau

sanksi administratif.

e. Pejabat yang tidak melaksanakan putusan

pengadilan sebagaimana dimaksud pada

ayat (4) diumumkan pada media massa

cetak setempat oleh Panitera sejak tidak

terpenuhinya ketentuan sebagaimana

dimaksud pada ayat (3).

3.3Eksekusi terhadap putusan perkara No:

3/G/2013/PTUN-BL

Eksekusi putusan PTUN. Rozali Abdullah

(2005: 98) tegas menyatakan dalam

eksekusi putusan PTUN tidak

dimungkinkan upaya paksa dengan

menggunakan aparat keamanan.

Istimewanya, Presiden selaku kepala

pemerintahan dimungkinkan campur

tangan dalam pelaksanaan putusan PTUN.

Menurut pendapat Bapak Andi

Maderumpu S.H.,M.H. selaku Hakim di

PTUN bahwa dalam putusan perkara No :

3/G/2013/PTUN/BL, hakim memutuskan

bahwa gugatan penggugat tidak diterima

maka terhadap putusan tersebut tidak dapat

(18)

Putusan PTUN yang telah berkekuatan

hukum tetap, sejalan dengan Pasal 97 ayat

(8) dan ayat (9) UU PTUN, pada dasarnya

dapat berupa:

a. Batal atau tidak sah Keputusan Tata Usaha

Negara ("KTUN") yang menimbulkan

sengketa dan menetapkan Badan/Pejabat

TUN yang mengeluarkan keputusan untuk

mencabut KTUN dimaksud. Paulus

Effendi Lotulung menyebutnya sebagai

eksekusi otomatis. Jika putusan TUN tidak

dipatuhi maka KTUN tersebut tidak

mempunyai kekuatan hukum lagi, tidak

perlu lagi ada tindakan atau upaya lain dari

pengadilan seperti surat peringatan (R.

Wiyono, 2009: 234).

b. Pelaksanaan putusan pengadilan yang

dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf b,

yang mewajibkan pejabat TUN bukan

hanya mencabut tetapi juga menerbitkan

KTUN baru.

c. Selain itu, ada juga putusan yang

mengharuskan pejabat TUN menerbitkan

KTUN sebagaimana dimaksud Pasal 3 UU

PTUN. Pasal 3 mengatur tentang

keputusan fiktif negatif.

Pembentuk Undang-Undang

mengharapkan Badan/Pejabat TUN

melaksanakan putusan secara sukarela.

Namun, keberhasilan pelaksanaan putusan

itu sangat bergantung pada wibawa

pengadilan dan kesadaran hukum para

pejabat (Rozali Abdullah, 2005: 99). 3

Kalau putusan yang sudah berkekuatan

hukum tetap tidak dijalankan juga, maka

UU PTUN menyediakan mekanisme

berupa sanksi administratif dari atasan

Badan/Pejabat TUN bersangkutan. Lewat

ancaman sanksi itu, atasan pejabat yang

mengeluarkan KTUN pada dasarnya

sedang melakukan upaya paksa.

Mekanisme lain yang disebut dalam UU

PTUN adalah pengenaan uang paksa dan

pengumuman lewat media massa. Pasal

116 ayat (5) UU PTUN menyatakan

pejabat yang tidak melaksanakan putusan

Pengadilan diumumkan pada media massa

cetak setempat oleh panitera sejak tidak

terpenuhinya batas waktu 90 hari kerja.

Begitu batas waktu lewat, penggugat

mengajukan permohonan kepada ketua

pengadilan agar tergugat melaksanakan

putusan. Pasal 116 ayat (6) UU PTUN

menegaskan lebih lanjut, ketua pengadilan

mengajukan ketidakpatuhan ini kepada

Presiden sebagai pemegang kekuasaan

pemerintahan tertinggi dan kepada DPR

untuk menjalankan fungsi pengawasan.

Dari rumusan ini jelas bahwa Presiden

punya kewenangan memaksa pejabat TUN

untuk melaksanakan putusan.

3 Rozali Abdullah. 2005. Hukum Acara

(19)

Sedangkan, mekanisme uang paksa yang

disebut dalam Pasal 116 ayat (4) UU

PTUN, hingga kini regulasinya belum

jelas. Penjelasan Pasal 116 ayat (4) UU

PTUN hanya menyebutkan pembebanan

berupa pembayaran sejumlah uang

dicantumkan dalam amar putusan pada

saat hakim memutuskan mengabulkan

gugatan penggugat. Setidaknya, masih

menjadi pertanyaan apakah uang paksa itu

digabung bersama gugatan ke PTUN atau

terpisah, siapa yang harus membayar

(pribadi pejabat TUN atau dari anggaran

badan), dan berapa besar uang paksa atau

dwangsom yang dimungkinkan. Ini

masalah krusial yang sering ditanyakan

dan tampaknya perlu segera diatasi

(Mahkamah Agung, 2007: 9).4

Meskipun demikian, sebenarnya sanksi

administratif, pengenaan uang paksa dan

pengumuman di media massa tak perlu

terjadi jika Badan/Pejabat TUN

menjalankan putusan secara sukarela.

Objek sengketa di Peradilan Tata Usaha

Negara dapat dikatakan memenuhi Pasal 1

angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun

2009 tentang Perubahan Kedua Atas

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986

tentang Peradilan Tata Usaha Negara disebutkan “ Keputusan Tata Usaha

4 Mahkamah Agung. 2007. Permasalahan

dari Daerah dan jawabannya Bidang Tata Usaha

Negara dan Jajaran Pengadilan Empat

Lingkungan Peradilan seluruh Indonesia di Makasar.

Negara adalah suatu penetapan tertulis

yang dikeluarkan oleh badan atau Pejabat

Tata Usaha Negara yang berisi tindakan

Hukum Tata Usaha Negara yang berisi

tindakan Hukum Tata Usaha Negara yang

berdasarkan Peraturan

Perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat

Konkrit, Individual dan Final, yang

menimbulkan akibat Hukum bagi

seseorang atau Badan Hukum Perdata.

IV. PENUTUP

4.1Kesimpulan

Dari uraian analisis di atas, dapat

disimpulkan bahwa

a. Putusan Tata Usaha Negara Bandar

Lampung Nomor:

03/G/TUN/2013/PTUN-BL. terkait

sengketa Tata Usaha Negara antara Ir.

Kesuma Dewngsa M.M. (Penggugat) yang

menggugat Surat Keputusan Bupati

Kabupaten Pesawaran

No.180/0375/1.02/II/2013 yang

dikeluarkan oleh Bupati Kabupaten

Pesawaran (Tergugat) secara keseluruhan

sudah sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan, baik dari segi isi

putusan maupun maupun sistematika

putusan, begitu juga dengan Subjek,

(20)

mengajukan gugatan sudah tepat. Sehingga

hal tersebut mengindikasikan bahwa

Putusan Tata Usaha Negara tersebut dapat

dipertanggungjawabkan secara hukum.

b. Putusan PTUN Bandar Lampung No:

03/G/2013/PTUN-BL memang belum

mempunyai kekuatan hukum tetap. Karena

masih dilakukan pemeriksaan kasasi di

mahkamah konstitusi. Sehingga

berdasarkan Pasal 115 Undang-Undang

No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata

Usaha Negara belum dapat di eksekusi

4.2Saran

Apabila gugatan ini ditolak, mohon kepada

Yang Mulia Majelis Hakim yang

mengadili perkara ini, untuk memberi

jawaban terkait substansi gugatan, dalam

pertimbangan putusannya. Karena hal

yang demikian masih memberi peluang

bagi penggugat dalam upaya lanjutan

untuk mencari keadilan.

DAFTAR PUSTAKA

Daftar Buku

Departemen pendidikan dan kebudayaan. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.

Hamzah, Andi. 1986. Kamus Hukum. Ghalia Indonesia. Jakarta.

HR, Ridwan. 2007. Hukum Administrasi Negara. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta.

Indroharto, 1993. Peradilan Tata Usaha

Negara. CV. Muliasari. Jakarta.

Johan Nasution, Bahder. 2008. Metode Penelitian Ilmu Hukum. CV. Madar Maju. Bandung.

Koentjoro, Diana Halim. 2004. Hukum Administrasi Negara. Ghalia Indonesia, cet.1. Jakarta.

Mertokosumu, Sudikno. 1988. Hukum Acara Perdata. Liberty. Yogyakarta

Muhammad, Abdulkadir. 2002. Hukum dan Penelitian Hukum. Citra Aditya Bakti. Bandung.

Philipus M. Hadjo, et. Al., 1994. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia (Introduction to the Indonesian Administrative Law), Gadjah mada University Press, Yogyakarta.

Rozali Abdullah. 2005. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. Jakarta. Raja Grafindo Persada.

(21)

Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang No. 9 Tahun 2004

tentang Peradilan Tata Usaha Negara

Undang-Undang No. 5 Tahun 1986

tentang Peradilan Tata Usaha Negara

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999

Tentang Penyelenggara Negara yang

Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi,

dan Nepotisme.

UU No. 14 tahun 1970 tentang

ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman

Keputusan Menteri Keuangan RI No.

1129/KKM.01/1991 tentang Tata Cara

Pembayaran Ganti Rugi dan Tata Cara

Pelaksanaanya pada Peradilan Tata Usaha

Negara

Sumber Lain

Mahkamah Agung. 2007. Permasalahan

dari Daerah dan jawabannya Bidang Tata

Usaha Negara dan Jajaran Pengadilan

Empat Lingkungan Peradilan seluruh

Referensi

Dokumen terkait

Judul : Eksistensi Ultra Petita dalam Pelaksanaan Fungsi Peradilan Tata Usaha Negara di Pengadilan Tata.. Usaha

Penerapan Ultra Petita dalam fungsi peradilan Tata Usaha Negara di Pengadilan Tata Usaha Negara Yogyakarta mempunyai kendala teknis, yaitu belum banyak praktisi

Dari hasil penelitian tentang Pelaksanaan Asas Kebebasan Hakim dalam Memutus Sengketa di Pengadilan Tata Usaha Negara Makassar, maka dapat disimpulkan bahwa

Jika mencermati contoh putusan di atas, yang menjadi fakta biasa dalam sengketa Tata Usaha Negara tersebut berdasarkan pada bukti-bukti yang ada

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang Peranan Pengadilan Tata Usaha Negara Yogyakarta dalam menyelesaikan sengketa perangkat Desa Bantul dengan perkara

Gugatan sengketa tanah yang masuk ke pengadilan disebabkan karena permasalahan legalitas kepemilikan tanah di Kota Bandar Lampung, pada umumnya dikarenakan sertipikat

HALAMAN JUDUL RATIO DECIDENDI HAKIM PENGADILAN TATA USAHA NEGARA DALAM MEMUTUS SENGKETA TATA USAHA NEGARA TENTANG LINGKUNGAN HIDUP BERKAITAN DENGAN PENERAPAN ASAS DOMINUS LITIS

Dari hasil observasi yang saya lakukan di PTUN Bandar Lampung Pegawai harus mengambil form pengajuan cuti pada bagian kepegawaian, setelah mengambil form cuti pegawai harus mengisi form