CRITICAL REVIEW
PERUBAHAN SOSIAL DAN PERAN MASYARAKAT DALAM
PENGEMBANGAN
KAWASAN WISATA KEPULAUAN KARIMUN JAWA
Ditulis oleh:
Dhimas Yogi N. (3610100009)
Afidah Mushollina F. (3611100022)
Pisces Eria (3613100038)
PENDAHULUAN
Kota-kota di Indonesia memiliki berbagai daya tarik mulai dari kebudayaan maupun keindahan alamnya yang memiliki ciri khas masing-masing. Pemerintah kemudian tergerak untuk mengembangkan pembangunan pada sektor wisata. Salah satunya Jawa Tengah tepatnya berada di Taman Nasional kepulauan Karimun Jawa. Pengembangan wilayah tersebut meningkatkan perekonomian dan memberikan lapangan pekerjaan masyarakat sekitar. Pendapatan Karimunjawa untuk negara berasal dari tiket masuk, wisata selam, homestay dan sumberlain yang termasuk ke dalam PNBP mencapaiRp. 21.510.000 pada tahun 2009, pendapatan ininaik dari Rp. 12.422.500 pada tahun 2008 (Susetiono,dkk. 2010: 17).
Pengembangan kawasan yang dilakukan pemerintah sedikit banyak mengubah aktifitas masyarakat di sekitarnya. Masyarakat yang sebelumnya mayoritas bermatapencaharian nelayan berpindah menjadi pedagang, pemilik penginapan, penyedia jasa dan lain lain. Selain itu, turis asing maupun lokal juga dapat mengubah aktifitas atau kebiasaan masyarat setempat.
Oleh karena itu dilakukan penelitian Perubahan Sosial dan Peran Masyarakat dalam Pengembangan Kawasan Wisata Kepulauan Karimun Jawa ini. Berikut tujuan penelitian ini secara garis besar: 1) mengetahui sejauh mana pengembangan Kawasan Wisata Karimunjawa menyebabkan perubahan sosial pada masyarakatnya. 2) Mengkaji perubahan sosial yang ada di kepulauan Karimunjawa sebagai dampak dari pengembangan kawasan wisata kepulauan Karimunjawa. 3) Mendeskripsikan peran penduduk dalam melaksanakan program pengembangan Kawasan Wisata Kepulauan Karimunjawa.
REVIEW
Dalam proses penetapan Kepulauan Karimun-jawa sebagai Taman Nasional Laut ini terdapat beberapa pertimbangan yang diambil seperti perlindungan berbagai aneka biota laut yang merupakan sumberdaya alam yang tiada ternilai dan juga keindahan alamnya yang sering disebut wisatawan lebih menarik dari Pulau Bali. Dengan adanya penetapan ini, maka biota laut tidak dapat dirusak atau perjualbelikan. Selain melindungi biota laut, Taman Nasional Laut ini juga memberikan peluang yang bagus utuk masyarakat setempat dan pendapatan daerahnya.
kesejahteraan. Selain itu juga terdapat penduduk sementara atau pengunjung yang umumnya memiliki tujuan dan asal yang bervariasi seperti untuk rekreasi, penelitian atau tujuan lainnya. Secara sosiologis masyarakat Kepulauan Karimunjawa heterogen, terbentuk oleh kebutuhan akan pengembangan kehidupan dan kebutuhan hidup terhadap sosial ekonomi. Kegiatan wisata ini akan menyebabkan berkembangnya pergaulan, interaksi dan proses-proses sosial masyarakat Jawa, Bugis dan Madura, yang membawa nilai-nilai sosial-budaya kelompok masyarakatnya. Pada masa-masa yang akan datang, kelompok-kelompok masyarakat tersebut akan mengalami interaksi dan proses-proses sosial dengan bangsa-bangsa pendatang dalam kategori pengunjung dan investor.
Karakteristik sosial masyarakat sebelum adanya penetapan ini yang mayoritas adalah karakteristik masyarakat pesisir. Masyarakat pesisir sebagian besar matapencahariannya di sektor pemanfaatan sumberdaya kelautan seperti nelayan, pembudidaya ikan, penambang pasir dan lain-lain. Penghasilan yang tidak bisa ditebak karena tidak ada waktu panen seperti masyarakat agraris menyebabkan masyarakat pesisir berpenghasilan marginal. Diharapkan setelah adanya penetapan, penghasilah masyarakat setempat yang semula marginal dapat meningkat.
Keuntungan lainnya dari penetapan ini adalah bertambah baiknya prasarana dan sarana wilayah terebut. Contohnya jaringan telepon untuk mempermudah akses para wisatawan maupun masyarakat di kawasan Taman Nasional Laut.
Dibalik keuntungan yang didapatkan dari penetapan tersebut, terdapat juga kekhawatiran yang muncul dari gejala ini. Misalnya saja lunturnya bahasa lokal. Untuk memperbaiki kondisi ekonomi, masyarakat sekitar mempelajari dan menggunakan bahasa yang dipakai para wisatawan untuk mempermudah transaksinya. Selain itu, rumah lokal banyak dirombak menjadi rumah modern untuk menyesuaikan atmosfer daerah wisata. Walaupun ada beberapa yang masih mempertahankan bangunan gaya tradisional. Bangunan gaya tradisional justru lebih menarik wisatawan.
mendapatkan dampak negatifnya sehingga perlu adanya koordinasi antara pemerintah dan warga dalam kegiatan pembangunan.
Kebutuhan akan kondisi politik yang kondusif menghasilkan beberapa forum yang menjadi media komunikasi untuk berbagai kepentingan pengelolaan Karimunjawa. Stakeholders terkait adalah Balai Taman Nasional diharapkan berperan sebagai inisiator forum, masyarakat berperan sebagai pengguna sumberdaya alam dan Muspika berperan sebagai rekanan balai taman nasional dalam melaksanakan penegakan hukum di Karimunjawa. Forum ini berfungsi mencari solusi bagi permasalahan yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya alam di Karimunjawa, termasuk mencari (alternative livelihood) bagi masyarakat Karimunjawa, Forum yang beranggotakan semua pemangku kepentingan di Karimunjawa bertugas mengidentifikasi peran-peran spesifik dari masing-masing pihak, membangun kesepakatan bersama dan koordinasi. Keberadaan forum ini diharapkan mampu mengakomodasi seluruh kepentingan untuk menghindari tumpang tindih pelaksanaan program kerja (Arif. 9 April 2012). Selain partisipasi aktif masyarakat, dibutuhkan juga partisipasi semua pihak yang berkepentingan untuk membuat sistem pengelolaan yang akan diterapkan di Taman Nasional Karimunjawa. Partisipasi ini dilakukan melalui mekanisme konsultasi publik sehingga semua pihak dapat memahami dan menjalankan pengelolaan Karimunjawa. Melalui mekanisme konsultasi publik, peluang untuk melakukan kompromi dalam menjalankan sistem pengelolaan bersama akan semakin besar.
Penetapan wilayah tersebut menjadi kawasan taman nasional laut memberikan efek yang sangat baik dalam hal perkembangan masyarakatnya. Bukan hanya dari aspek ekonomi saja namun juga sosial hingga ke ranah politik. Pemikiran masyarakatnya pun ikut berkembang dan ikut berperan aktif terkait kebijakan. Tentu saja hal tersebut merupakan hal yang baik karenapembangunan sebuah wilayah harus diikutsertai oleh partisipasi para masyarakatnya. Masyarakat yang paling mengetahui keadaan ‘rumah’nya dan masyarakat berhak ikut serta membenahi ‘rumah’nya agar lebih baik lagi.
ANALISA
berperan sebagai rekanan balai raman nasional dalam melaksanakan penegakan.
Fungsi dilakukannya forum stakeholder adalah mencari solusi bagi permasalahan yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya alam di Karimunjawa, termasuk mencari alternative livelihood bagi masyarakat karimunjawa.
Livelihood atau penghidupan sendiri adalah istilah pembangunan ang menggambarkan kemampuan (capabilities) kepemilikan sumber daya (sosial dan material), dan kegiatan yang dibutuhkan seseorang/masyarakat untuk menjalani kehidupannnya (Ramli, 2007). Secara etiomologis, livelihood dapat diartikan sebagai aset (alam, manusia, finansial, sosial, dan fisik, aktifitas dimana akses atas aset dimediasi oleh kelembagaan dan relasi sosial yang secara bersama mendikte hasil yang diperoleh oleh individu maupun keluarga (Seragih dkk, 2007). Livelihood juga diartikan sebagai upaya yang dilakukan setiap orang untuk memperoleh penghasilan, termauk kapabilitas mereka, aset yang dapat dihitung seperti ketersediaan dan sumberdaya, serta aset yang tak bisa dihitung seperti klaim dan akses.
Selain itu, dengan dilakukannya forum stakeholder dapat mengidentifikasi peran-peran secara spesifik dari masing-masing pihak pemangku kepentingan, membangun kesepakatan bersama, dan koordinasi, dalam pengembangan kawasan pariwisata Karimunjawa.
Selain dilakukan forum stakeholder, dilakukan partisipasi melalui mekanisme konsultasi publik. Konsultasi publik merupakan mekanisme meminta dan menerima umpan balik berbagai stakeholder dalam pembuatan putusan kebijakan. Konsultasi publik terdiri dari dua jenis, yaitu konsultasi tatap muka dan konsultasi lewat media. Konsultasi tatap muka berupa seminar, temu warga, wawancara, dan sebagainya. Sedangkan, konsultasi lewat media berupa media massa cetak dan elektronik, surat, telepon, kuisioner, dan sebagainya.
Masing-masing jenis konsultasi publik memiliki kelemahan. Konsultasi tatap muka memiliki kelemahan. Konsultasi tatap muka memiliki kelemahan, antara lain keterbatasan jangkauan peserta, membutuhkan banyak waktu dan biaya, perlu banyak sumber daya manusia sebagai fasilitastor, serta respon yang beragam dan mungkin tidak semuanya relevan. Sedangkan konsultasi lewat media memiliki kelemahan, antara lain terkesan membuat jarak, tidak langsung memberi respon atas tanggapan, tidak dapat menangkan ungkapan non-verbal dari penanggap.
Baik forum stakeholder maupun konsultasi publik sudah banyak diterapkan di Indonesia. Kedua hal tersebut sangat berpengaruh baik terhadap permasalahan sosial karena mendekati penyelesaian masalah secara triangulasi dari pihak-pihak yang berperan, yang berpengaruh, dan yang berdampak. Antara masyarakat dan pemerintah saling memahami satu sama lain dengan didudukkan bersama dalam satu forum baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam perencanaan, dapat dikatakan dengan perencanaan partisipatif. Perencanaan partisipatif sudah diterapkan hampir di seluruh Indonesia. Perencanaan partisipatif dapat menguntungkan selain dari segi sosial namun juga budaya dan lingkungan setempat. Forum stakeholder dan konsultasi publik merupakan cara dalam menyelesaikan masalah bersama dan merencanakan ke depan yang ditinjau dari berbagai pihak yang memangku kepentingan (stakeholder).
REKOMENDASI
Berdasarkan critical review terkait Perubahan Sosial dan Peran Masyarakat dalam Pengembangan Kawasan Wisata Kepualauan Karimun Jawa, beberapa hal yang dapat penulis rekomendasikan antara lain:
- Dalam mengadakan forum yang melibatkan stakeholder perlu ditinjau rencana tata ruang terkait (RTRW, RDTR, dan lain-lain) sebagai pedoman kegiatan diskusi sebuah forum
- Perlu permasalahan sosial yang lebih spesifik sebagai latar belakang yang kuat dalam mendasari penelitian tersebut