• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRADISI KEKERASAN DI TUBUH PELAJAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TRADISI KEKERASAN DI TUBUH PELAJAR"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

TRADISI KEKERASAN DI TUBUH PELAJAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh Selamat pagi seluruh hadirin..

Yang terhormat Ibunda kita Dra. Hj. Enda Sandra Ananda selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia

Serta yang saya banggakan saudara-saudariku sekalian kelas XII IPS 1

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga kita dapat hadir di tempat ini.

Tak lupa pula shalawat serta salam kita panjatkan kepada junjungan kita nabiullah Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman islamiah.

Dalam kesempatan ini izinkan saya Lisa Widiyastuti membawakan pidato yang berjudul TRADISI KEKERASAN DI TUBUH PELAJAR

Dewasa ini dunia pendidikan di Indonesia telah banyak dinodai oleh tindak kekerasan. Carut marut dunia pendidikan tidak habis-habisnya menjadi pembahasan. Ditambah dengan adanya tradisi kekerasan akhirnya menambah warna kelam pada sekujur wajah pendidikan serta institusi terkait. Hal ini diyakini sebagai dampak dari arus globalisasi dan modernisasi yang tidak dapat difilterisasi dengan baik. Kita seolah dibuat tercengang dengan tindakan anarkis para pelajar yang umumnya dari kalangan SMA dan sederajat. Sebut saja bullying sesama pelajar, budaya senioritas, dan tawuran antarpelajar yang penyebabnya hanya masalah sepele.

Saudara-saudariku sekalian,

Sering kita jumpai dikalangan pelajar SMA pada saat orientasi siswa, ketika seorang senior diberi wewenang untuk memperkenalkan dan mendekatkan lingkungan sekolah kepada junior kadang kala dapat disalah artikan dengan kekerasan yaitu, bullying yang merupakan kepuasan tersendiri bagi para senior. Sehingga hal ini akan menjadi kebiasaan yang kontinyu atau turun temurun. Ketika para junior sudah menjadi senior, mereka akan melakukan perbuatan yang sama halnya seperti yang pernah mereka alami. Misalnya, saat masa orientasi para junior dimaki-maki, dibentak, bahkan dipukul, dan berbagai kekerasan fisik lainnya. Para junior akan merasa kesal dan menaruh rasa dendam kepada senior yang akan terbawa turun temurun untuk junior selanjutnya. Bukankah hal itu merupakan bom waktu yang bisa meledak kapan saja ?

(2)

dan mengakibatkan trauma fisik maupun mental yang sangat merugikan bagi para pelajar.

Saudara-saudariku yang berbahagia,

Kita sudah pasti tidak asing lagi dengan kata tawuran, atau perkelahian antar pelajar. Tawuran biasanya dipicu oleh hal-hal sepele seperti saling mengejek, pertandingan sepakbola yang kurang sportif, adanya gang-gang sekolah, hingga oknum senior yang mengadu domba. Tentu masih lekat pada ingatan kita akan beberapa pekan yang lalu telah terjadi kasus tawuran yang melibatkan pelajar bahkan berujung pada kematian, untuk tahun 2012 saja telah tercatat 339 kasus yang memakan korban jiwa hingga 82 orang. Apabila dikalkulasi dari tahun 80-an hingga saat ini tawuran rupanya telah memakan ratusan hingga ribuan korban jiwa.

Saudara-saudariku yang budiman,

Pemerintah, Kemendiknas, pihak sekolah, orangtua siswa, hingga siswa itu sendiri harusnya dapat berbagi meja dan memotong tradisi kekerasan ini. Pemerintah dan sekolah sebagai regulator dan lembaga pendidikan harus memberikan efek jera kepada para pelaku dengan memberikan bimbingan secara psikologi serta aturan yang ketat tanpa adanya tarik ulur lagi, orangtua juga harus andil dalam pengawasan serta pembekalan rohani dan pendidikan moral terhadap perkembangan anaknya, adapun para pelajar itu sendiri dapat menjunjung sportivitas dan persaudaraan melalui wadah kreativitas remaja.

Saudara-saudariku,

Pelajar adalah generasi bangsa yang akan mengambil alih tampuk kepemimpinan nantinya, apabila sekarang mereka sudah terbiasa dengan tindak kekerasan, kita tidak akan dapat

membayangkan bagaimana jadinya bangsa ini nantinya. Agar Indonesia terbebas dari kekerasan antar pelajar harusnya kita mampu meningkatkan niat belajar, memupuk tali persaudaraan, senantiasa berkreativitas dan meraih prestasi, serta mengimplementasikan adat Siri’ na Pacce antarsesama. Demi mencetak pemuda-pemudi tunas harapan bangsa. Stop bullying, stop senioritas, dan stop tawuran. Kalau bukan sekarang kapan lagi ? Kalau bukan kita siapa lagi ?

Demikianlah uraian pidato yang dapat saya sampaikan. Semoga dapat memberikan manfaat. Kurang lebihnya mohon dimaafkan.

Referensi

Dokumen terkait

Patofisiologi terjadinya efusi pleura tergantung pada keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura.Dalam keadaan normal cairan pleura dibentuk secara lambat

Kapasitas daya tampung TPA adalah besarnya volume (sampah + tanah timbunan) yang dapat ditampung suatu TPA atau usaha yang telah dilakukan TPA dalam menampung volume sampah (sampah

Berdasarkan Tabel 5 menunjukan hubungan yang sangat erat antara jumlah kecelakaan dengan penyebab kecelakaan yang disebabkan oleh pengemudi yang kurang antisipasi

Karya Tulis ini diajukan untuk diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Wilayah II (LOKTIMAWIL II)

Pada penelitian ini penulis mencoba untuk membangun suatu sistem pemesanan tiket bus secara online agar pemesanan tiket bus lebih mudah untuk dilakukan, dengan adanya sistem

Berikut ini merupakan identifikasi frekuensi saat ini yang dapat dan layak digunakan sebagai frekuensi pelayaran rakyat berdasarkan aturan Internasional ITU Radio Regulation

Dihadapan saodara tersajikan sirup buah kersen, kesediaan sodara diminta untuk memberikan penilaan terhadap kekentalan sirup buah kersen, sesuwai dengan

Berdasarkan tabel 1.3 menggambarkan besar kecilnya rata rata ukuran perusahaan yang ditunjukan pada total aktiva dari 14 perusahaan manufaktur sektor industri makanan