• Tidak ada hasil yang ditemukan

Judul Proyeksi Perusahaan yang (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Judul Proyeksi Perusahaan yang (1)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Judul

(2)

Daftar Isi

KATA PENGANTAR...2

BAB I PENDAHULUAN...3

1.1. Latar Belakang Penelitian...3

1.2. Permasalah Studi...4

1.3. Tujuan Studi...5

1.4. Ruang Lingkup Penelitian...5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...6

2.1. Pengertian Go Public...6

2.2. Perkembangan Aktivitas Go Public di Indonesia dari tahun 2004 - 2011...6

2.3. Faktor yang Mendorong Suatu Perusahaan Memutuskan untuk Melakukan Go Public...7

2.4. Keuntungan dan Tantangan Bagi Perusahaan yang Melakukan Go Public...9

2.5. Indikator Kesuksesan Melakukan Go Public...10

2.6. Perhitungan Nilai Saham dengan Model Valuasi Discounted Cash Flow (Model DCF)...11

2.7. Hipotesis...13

BAB III METODOLOGI PENELITIAN...14

3.1. Metode Penelitian...14

3.2. Jenis dan Sumber Data...14

3.3. Metode Pengumpulan Data...14

3.4. Metode dan Teknik Pengumpulan Data...15

(3)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkatNya kepada penulis, proposal penelitian ini dapat terselesaikan.

Ucapan terima kasih sebagai penghargaan yang tulus disampaikan kepada Prof. Dr. Jogiyanto, M.B.A., Ak. yang telah membimbing penulis selama 6 bulan dalam kelas Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Proposal penelitian ini dibuat sebagai tugas akhir mata kuliah Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Besar harapan penulis, proposal penelitian ini mendapatkan nilai yang maksimal dan lebih pada itu, proposal penelitian ini disetujui oleh Bapak Jogiyanto untuk dilaksanakan sebagai penelitian sesungguhnya. Yang pada akhirnya, proposal penelitian ini dapat menjadi bahan penulis dalam membuat skripsi.

Topik yang diangkat oleh penulis dalam proposal penelitian ini adalah topik yang diminati oleh penulis. Penulis berharap Bapak memiliki ketertarikan yang sama atas topik yang diangkat oleh penulis. Dengan pengembangan materi yang lebih luas, apabila Bapak bersedia membimbing penulis lebih lanjut akan menjadi kesempatan yang baik untuk penulis. Jika Bapak berkenan dapat menghubungi penulis melalui email gerry.sondakh@gmail.com.

Yogyakarta, 2 Januari 2013

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian

Salah satu indikator kemajuan perekonomian suatu Negara adalah kinerja pasar modal di Negara yang bersangkutan. Pasar modal di Indonesia memainkan peranan yang penting dalam perekonomia nasional. Hal itu diperlihatkan dengan tren yang terus meningkat. Manfaat keberadaan pasar modal tidak hanya dirasakan oleh sektor swasta tetapi juga turut dirasakan sektor pemerintah yang terbukti dari beberapa kali sudah menerbitkan obligasi Negara yang sangat diminati oleh masyarakat. Penerbitan obligasi Negara ini menjadi salah satu pendapatan Negara dalam APBN.

Krisis yang terjadi pada tahun 2008 telah menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia memiliki kinerja yang baik. Disaat Negara-negara lain mengalami kejatuhan di sektor keuangan dan pasar modal karena banyak kehilangan kepercayaan investor, pasar modal Indonesia menunjukkan kinerja yang positif dan mengalami peningkatan. Hal ini dapat terjadi karena Indonesia dapat menjaga kestabilan kondisi makro ekonominya melalui kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang pada akhirnya tetap menjaga kepercayaan investor karena iklim investasi tetap terjaga.

Salah satu ciri adanya pasar modal pada suatu Negara adalah semakin bertambahnya jumlah perusahaan yang melakukan Initial Public Offering atas sahamnya atau dengan kata lain melakukan go public. Dengan melakukan go public ini berarti perusahaan tersebut akan berbagi kepemilikan perusahaan dengan para pembeli saham.

(5)

Dari sisi investor, keberadaan pasar modal akan memberikan banyak alternative investasi. Saat ini, di setiap indutri sudah memiliki sekuritas yang diperdagangkan tidak bertumpu pada satu industri saja. Selain itu, akan memberikan kemungkinan keuntungan yang lebih besar.

Pasar modal di Indonesia dinilai sedang mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Salah satu indicator yang dapat dilihat adalah indeks harga gabungan (IHSG) walaupun mengalami fluktuasi tetapi menunjukkan tren yang menaik. Walaupun pada tahun 2008 sempat mengalami penurunan yang cukup tajam tetapi dapat diatasi dengan baik dan sekarang mengalami peningkatan.

Walaupun kondisi pasar modal terus berkembang sampai saat ini, jumlah perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2002-2009 belum berkembang cukup baik. Akan tetapi pada tahun 2011, berdasarkan data yang diperoleh dari BEI Indonesia mencetak rekor perusahaan yang melakukan IPO tertinggi yaitu sebanyak 25 perusahaan. Angka ini akan menjadi awal yang sangat baik untuk tahun-tahun kedepannya. Sampai pada Desember 2012 ini, jumlah perusahaan yang telah tercatat di dalam BEI yang dapat menjual sahamnya sebanyak 460 perusahaan.

Aktivitas IPO sesungguhnya sangat dibutuhkan bagi perkembangan pasar modal Indonesia karena dapat meningkatkan jumlah saham atau obligasi yang ditawarkan. Dengan begitu, investor akan semakin banyak piihan dan diharapkan dapat meningkatkan minat investasi masyarakat, Selain itu, dengan semakin banyaknya julah sekuritas yang ditawarkan akan semakin meningkta kemampuan untuk melakukan diversifikasi portofolio yang dapat menurunkan risiko investasinya.

Atas hal-hal diatas, maka penelitian ini bermaksud untuk melakukan analisis lebih mendalam lagi mengenai potensi perusahaan melakukan IPO saham di pasar modal Indonesia pada tahun 2013 dan seterusnya.

1.2. Permasalah Studi

(6)

pada saat IPO, dan juga menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi sedikitnya aktivitas perusahaan yang melakukan IPO sebelum tahun 2010 dan akankah kondisi tersebut terulang kembali pada tahun-tahun ke depan.

Jika dilihat sebelum terjadi krisis global pada tahun 2008, iklim pasar modal di Indonesia terbilang cukup menjanjikan, kondisi makro ekonomi Indonesia pun tergolong sangat mendukung tetapi perkembangan perusahaan yang melakukan go public belum seperti yang diharapkan.

1.3. Tujuan Studi

Tujuan penelitian ini dilakukan, antara lain:

1. Meneliti estimasi jumlah perusahaan yang berpotensi melakukan IPO pada tahun 2013 dan tahun seterusnya.

2. Melakukan perhitungan estimasi harga saham perdana bagi perusahaan yang akan melakukan IPO dengan model valuasi Discounted Cash Flow (Model DCF). 3. Meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi atau mendorong perusahaan

memutuskan untuk IPO

4. Meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pasar modal di Indonesia

1.4. Ruang Lingkup Penelitian

(7)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Go Public

Dalam pasar modal, istilah Initial Public Offering (IPO) saham atau sering disebut dengan go public dapat definisikan sebagai kegiatan untuk pertama kalinya saham suatu perusahaan ditawarkan atau dijual kepada public atau masyarakat. Istilah IPO dapat dihubungkan pula dengan penawaran obligasi perusahaan.

Definisi lain mengenai IPO adalah adalah penawaran saham di pasar perdana yang dilakukan oleh perusahaan yang hendak go public dan juga merupakan langkah awal yang menentukan dalam kelangsungan hidup perusahaan publik (Almillia dan Silvy, 2003).

Menurut Undang-undang No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal mendefinisikan penawaran umum sebagai kegiatan penawaran efek yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam undang-undang dan peraturan pelaksanaannya.

2.2. Perkembangan Aktivitas Go Public di Indonesia dari tahun 2004 - 2011

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 20110 5

10 15 20 25 30

Jumlah Perusahaan IPO di Indonesia

(8)

Sumber : Bapepam – LK, diolah sendiri.

Perkembangan jumlah perusahaan yang go public mengalami fluktuasi dari tahun 2004 sampai dengan 2011. Jumlah terkecil terjadi pada tahun 2005, yaitu hanya terdapat 8 perusahaan yang melakukan IPO atau go public. Setelah itu mengalami kenaikan sampai pada tahun 2007 dengan jumlah 24 perusahaan yang go public. Akan tetapi, mengalami penurunan pada tahun selanjutnya menjadi hanya 17 perusahaan pada tahun 2008 dan semakin menurun pada pada tahun 2009 menjadi 12. Penurunan pada tahun 2008 dan 2009 lebih disebabkan dengan krisis global yang terjadi di dunia. Perusahaan belum berani mengambil langkah go public saat krisis.

Akan tetapi setelah tahun 2009, perusahaan yang melakukan IPO menunjukkan tren positif atau menaik. Pada tahun 2010 meningkat drastis menjadi 22 perusahaan dan pada tahun 2011 mencapai rekor tertinggi dengan 25 perusahaan melakukan IPO. Angka ini menunjukkan sinyal yang positif untuk tahun berikutnya. Banyak perusahaan yang sudah menyadari manfaat dari melakukan go public.

2.3. Faktor yang Mendorong Suatu Perusahaan Memutuskan untuk Melakukan Go Public

Berdasarkan hasil riset dan survey lapangan yang dilakukan oleh Brau dan Fawcett (2004) mengenai empat motivasi perusahaan saat memutuskan untuk melakukan go public menunjukkan bahwa motivasi-motivasi tersebut antara lain:

 Melakukan go public sebagai salah satu langkah strategis perusahaan. Go Public

(9)

Go Public sebagai strategi para pemegang saham untuk keluar dari perusahaan.

Dengan go public para pemegang saham dapat menjual kepemilikan sahamnya dan mendapatkan keuntungan dari investasi atas kepemilikan saham perusahaan.

Go Public dilakukan untuk menekan cost of capital perusahaan berdasarkan Modigliani & Miller (1963) dan Scott (1976). Berdasarkan penelitian yang dilakukan mereka, perusahaan akann memutuskan untuk melakukan go public apabila perusahaan dapat menurunkan cost of capital dan juga dapat meningkatkan nilai perusahaan.

 Melakukan go public dapat membuka kesempatan perusahaan untuk melakukan akuisisi (Zingales, 1995). Dengan melakukan go public, perusahaan akan mendapatkan dana dari pihak luar, kelebihan dana tersebut dapat digunakan untuk melakukan akuisisi atas perusahaan lain. Hal sebaliknya juga mungkin terjadi, perusahaan akan diakuisisi oleh perusahaan lainnya dengan harga saham pasar.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, motivasi terbesar suatu perusahaan memutuskan untuk melakukan go public adalah agar dapat melakukan akuisisi. Dengan melakukan akuisisi, perusahaan dapat mengembangkan usaha dan perusahaannya.

Selain motivasi, kapan waktu untuk melakukan go public juga menjadi pertimbangan perusahaan. Secara garis besar terdapat tiga teori terkait dengan waktu untuk melakukan

go public, antara lain:

 Perusahaan akan memutuskan untuk melakukan go public saat kondisi pasar saham sedang mengalami peningkatan karena perusahaan dapat mendapatkan harga saham yang menguntungkan. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lucas dan McDonald (1990), Pagano, Panetta, dan Zingales (1998), dan Lowery (2002)

 Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Lowery dan Schwert (2002) kapan waktu

melakukan IPO juga ditentukan oleh maraknya kegiatan IPO. Kinerja harga saham perusahaan lain yang sukses akan mempengaruhi keinginan perusahaan untuk melakukan IPO.

(10)

Dari hasil penelitian Brau dan Fawcett menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan menentukan kapan waktu melakukan go public adalah kondisi pasar yang sedang meningkat. Dengan begitu akan mendapatkan jumlah penawaran yang besar dan padaharga penawaran yang baik.

2.4. Keuntungan dan Tantangan Bagi Perusahaan yang Melakukan Go Public.

Perusahaan akan memperoleh manfaat saat memutuskan untuk melakukan go public. Dalam artikel yang berjudul “The Unseen Benefits of Going Public” (2005), Andrew Green menjelaskan beberapa manfaat yang diperoleh perusahaan jika melakukan

go public, yaitu:

 Memperluas akses terhadap modal.

Dengan melakukan go public, akses perusahaan dalam mendapatkan modal akan bertambah. Perusahaan akan dengan cepat dapat memperoleh dana karena setiap ahri ada pasar aktif yang akan memperdagangkan sahamnya. Berbeda dengan perusahaan yang belum melakukan go public, mereka akan mempunyai sumber pendanaan yang sangat terbatas.

 Menyediakan likuiditas bagi para pemegang saham.

Oleh karena terdapat pasar yang aktif setiap saat akan memudahkan para pemegang saham jika ingin menjual sahamnya untuk memperoleh keuntungan investasi. Begitupula sebaliknya, apabila investor memiliki keinginan untuk membeli saham juga dapat dengan mudah.

 Menyediakan kompensasi bagi pegawai.

Perusahaan tak jarang memberikan kompensasi berupa sahamnya kepada eksekutif dan pegawainya. Hal ini akan memberikan dampak yang positif karena pegawai perusahaan akan menganggap dirinya menjadi benar-benar bagian dari perusahaan karena memiliki sebagian saham.

 Meningkatkan prestige perusahaan.

(11)

 Publisitas

Perusahaan yang melakukan go public akan lebih mendapatkan sorotan media. Dengan begitu akan memberikan manfaat secara tidak langsung kepada perusahaan untuk mengembangkan usaha dan menjalin relasi dengan pihak lain.

 Menyediakan peluang dilakukannya akuisisi atau merger.

Perusahaan dapat melakukan akuisisi atau merger dengan sahamnya. Dengan memakai cara ini, biaya akuisisi atau merger akan menjadi lebih murah dan mudah. Selain itu, menentukan harga akuisisi juga menjadi mudah karena tersedia harga pasar saham.

Perusahaan yang melakukan go public tidak hanya memperoleh manfaat tetapi juga akan menemui beberapa tantangan. Dalam artikel “Going Public Disadvantage”

(2009) dijabarkan beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh perusahaan. yang go public, antara lain pembagian keuntungan perusahaan, hilangnya aspek kerahasiaan perusahaan, perusahaan menjadi memiliki kewajiban untuk mempublikasikan laporan secara berkala, dan ada kemungkinan kehilangan control perusahaan.

2.5. Indikator Kesuksesan Melakukan Go Public

Penelitian yang dilakukan oleh The Ernst & Young yang bekerja sama dengan

Harvard University Graduate School of Business (1999) berhasil mendapatkan beberapa indikator utama kesuksesan perusahaan dalam melakukan IPO atau go public. Penelitian ini dilakukan atas para eksekutif dari perusahaan yang melakukan IPO pada rentang waktu 1986 – 1996. Indikator atau karakteristik ini dapat digunakan oleh perusahaan demi mendukung kebijakannya dalam hal melakukan go public. Indikator atau karakteristik tersebut antara lain:

 Perusahaan telah memiliki keunggulan kompetitif dalam persaingan.

Hal ini diperlukan pada saat ingin melakukan penawaran kepada publik. Keunggulan kompetitif harus dari kedua sisi, financial maupun non-finansial. Dengan memiliki keunggulan kompetitif, berdasarkan penelitian perusahaan yang sukses dalam IPO dapat menjual sahamnya rata-rata lebih tinggi 20% dari perusahaan yang tidak sukses dalam IPO.

(12)

Go public bukan hanya sekedar event melainkan sebuah proses. Oleh karena itu, sebelum melakukan IPO (go public) perusahaan harus melakukan berbagai persiapan, seperti membuat strategi baru yang lebih baik, mengimplementasikan strategi tersebut, dan lebih meningkatkan internal control. Hal ini dibuktikan kembali dalam penelitian yang dilakukan Ernst & Young pada tahun 2008.

 Perusahaan memiliki kondisi nonfinansial yang baik.

Perusahaan yang ingin melakukan go public harus telah memiliki manajemen yang baik. Indikator non-financial lain yang haru diperhatikan adalah kredibilias dan kualitas manajemen, customer service, kemampuan sumber daya manusia, dan budaya korporasi yang dimiliki perusahaan tersebut.

Disebutkan dalam laporan “The Ernst & Young Guide to the IPO Value Journey”, IPO atau go public sebagai bagian dari Perjalanan Nilai, yaitu perjalanan perubahan dari perusahaan privat yang baik menuju perusahaan public yang Berjaya, yang secara

sustainable menghasilkan nilai bagi para stakeholder-nya.

2.6. Perhitungan Nilai Saham dengan Model Valuasi Discounted Cash Flow

(Model DCF)

Model DCF ini melakukan penilaian atas asset dengan cara melakukan perhitungan

present value atas asset tersebut. Untuk dapat melakukan perhitungan present value ini dibutuhkan data mengenai cash flow, umur dari asset tersebut dan discount rate. Inti dari model ini adalah harga dari asset suatu sekuritas berdasarkan jumlah dari keseluruhan pendapatan yang akan diterima di masa dating dengan diskon sebesar suku bunga saat ini unutk mendapatkan nilai present value nya (Wiesi, 1930).

Teori Wiesi ini selanjutnya dikembangkan oleh Williams (1938) dengan memasukkan konsep dividen dan kesempatan investasi. Menurut pendapatnya dividen masa datang akan tergantung pada earning dimasa datang dan pendistribusian dividen akan bergantung pada kebutuhan re-investasi dari bisnis tersebut.

(13)

Persamaan umum dari model DCF adalah :

Persamaan di atas berdasarkan asumsi bahwa perusahaan memperoleh keuntungan yang sama dan semua keuntungan itu dibagian seluruhnya sebagai dividen. Persamaan akan berubah jika keuntungan berubah atau ada tidak semua keuntungan akan dibagikan sebagai dividen menjadi: perusahaan dalam posisi yang bermasalah karena biasanya earning dari perusahaan akan negative, perusahaan dengan earning yang berbeda-beda, perusahaan mempunyai asset yang tidak digunakan, perusahaan yang mempunyai hak paten, perusahaan dalam proses akuisisi, dan perusahaan private.

Keuntungan melakukan perhitungan dengan metode ini antara lain hasil yang diperoleh dapat lebh rendah dari ekspektasi pasar karena menggunakan nilai fundamental, dengan metode ini akan lebih menunjukkan karakteristik perusahaan dan mengerti bisnisnya. Sedangkan, kerugian dari model ini adalah tidak ada jaminan bahwa suatu perusahaan akan terus tumbuh, memerlukan banyak input untuk melakukan perhitungan, dan input atau informasi yang diperlukan selain sukar untuk memperoleh, mudah untuk dimanipulasi.

2.7. Hipotesis

(14)

H1 : Jumlah perusahaan yang akan melakukan IPO atau go public pada tahun 2013 akan lebih besar dari 25 perusahaan.

H2 : Faktor yang mendorong perusahaan memilih untuk melakukan IPO adalah untuk mendapatkan sumber dana tambahan yang digunakan untuk pertumbuhan perusahaan.

H3 : Perkembangan pasar modal Indonesia di tahun 2013 dan seterusnya akan terus mengalami perkembangan.

(15)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif. Laporan akan disusun berbentuk deskriptif yang diperoleh dari data kualitatif maupun kuantitatif yang didapatkan dari pengumpulan data.

3.2. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Baik data primer maupun data sekunder bersifat kuantitatif dan kualititatif. Data sekunder yang bersifat kuantitatif didapat dari laporan tahunan perusahaan dan data makro ekonomi Indonesia. Data sekunder kualitatif didapat dari hasil penelitian-penelitian sebelumnya. Data primer akan didapatkan dari wawancara dan penyebaran kuisioner terhadap responden.

Data sekunder yang digunakan akan diperoleh dari Biro Pusat Statistik (BPS), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Pusat Riset Pasar Modal, serta Penelitian-penelitian sebelumnya.

3.3. Metode Pengumpulan Data

Untuk mendukung hasil penelitian ini, peneliti mennggunakan dua cara dalam mengumpulkan data yaitu penelitian pustaka dan penelitian lapangan.

a. Penelitian Pustaka

Penelitian pustaka dilakukan guna mendalami materi dan sebagai sumber pelengkap atas materi atau topic yang dijadikan penelitian, dimana data yang dipakai adalah data-data yang terkait dengan penelitian. Sumber data diperoleh dari literatur-literatur dan hasil penelitian lainnya mengenai IPO.

b. Penelitian Lapangan

Metode pengumpulan data kedua yang digunakan adalah dengan studi lapangan yang dilakukan dengan dua cara yaitu:

(16)

Yang akan menjadi responden pada metode ini adalah perusahaan-perusahaan yang diperkirakan memiliki peluang untuk melakukan IPO pada tahun 2013 atau 2014.

Secara umum akan ada dua kelompok umum dalam kuisioner. Kelompok pertama akan lebih memberikan gambaran atau deskripsi perusahaan yang menjadi responden. Hasil dari pertanyaan kelompok ini akan memberikan informasi mengenai kesiapan perusahaan responden dalam melakukan IPO. Kelompok pertanyaan kedua akan memberikan informasi mengenai pertimbangan perusahaan responden untuk memilih melakukan go public atau tidak.

Seluruh pertanyaan kuisioner akan diberikan dengan bentuk pertanyaan setengah terbuka. Meskipun pertanyaan yang diajukan sudah terdapat pilihan jawaban tetapi masih memilikik kesempatan para responden jika memiliki jawaban lain selain yang diberikan.

 Pengumpulan data melalui wawancara.

Pengumupulan data ini akan dilakukan ke beberapa responden terpilih. Dengan harapan dapat mendapatkan jawaban secara langsung dan masukan atas kuisioner yang telah disebarkan.

3.4. Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Penyebaran kuisioner dilakukan untuk mendapatkan data primer berupa data mengenai perusahaan-perusahaan yang belum melakukan IPO atau go public. Penelitian ini menggunakan data sampel sebagai bagian dari populasi yang diteliti. Pemilihan sample dilakukan dengan teknik sampling secara sederhana atau purposive sampling. Pemilihan teknik dikarenakan sampai saat ini belum terdapat lembaga yang dapat menyediakan satu data terpusat mengenai perusahaan-perusahaan di Indonesia.

(17)
(18)

Daftar Pustaka

1. Brau, James and Fawcett, Stanley, Initial Public Offering: An Analysis of Theory and Practice, 1997

2. Divisi Riset dan Pengembangan, BEI, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perusahaan untuk Memustukan Listing di Bursa, 2006.

3. Ernst & Young, The Ernst & Young Guide to the IPPO Value Journey, 1999.

4. Ernst & Young and Harvard University Graduate School of Business, Managing the Success of the IPO Transformation Process, 1999.

5. Going Public Disadvantages, www.gopublictoday.com, 2009

6. Jogiyanto, Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi Ketujuh, BPFE, Yogyakarta 7. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal

8. Warsono, Kontribusi Pasar Modal Terhadap Perekonomian Indonesia, Usahawan No. 4, 2008

9. www.ilmu-investasi.com

10. www.idx.co.id

Referensi

Dokumen terkait

Pendanaan adalah faktor penting dalam memasukkan berbagai proyek ke dalam daftar yang terdapat dalam cetak biru Masyarakat Ekonomi ASEAN, tetapi tidak ada pembahasan yang

Increased in ionic strength in solution made decreased of Kd value into soil sample due to competition of background salt and radiostrontium into soil samples, and increased in Sr

Berfungsi sebagai penerus putaran dan daya dari poros penggerak ke poros yang digerakkan secara pasti ( tanpa terjadi slip ), dimana sumbu kedua poros terletak pada satu garis

Rangkaian Lampu Penujuk Arah ini Adalah Sebuah Rangkaian Lampu Kedapkedip Sederhana yang Menggunakan 2 (dua) buah IC, Dimana Outputnya diperlihathan Pada Lampu Pijar yang

Dari tiga subkelompok yang termasuk pada kelompok ini, semua subkelompok mengalami peningkatan indeks (inflasi) yaitu subkelompok makanan jadi 0,04 persen;

Here,we introduced and tested LTSM ( Landsat time-series stacks model), an improved Continuous Change Detection and Classification (CCDC) proposed previously

Daily volumetric surface soil moisture from AMSR-E data for 2009 were acquired and used for linear regression analysis between TVDI and AMSR-E datas. The AMSR-E

DAFTAR NAMA TEMPAT, TGL LAHIR ALAMAT TELP, FAX, EMAIL PENDIDIKAN LOKASI JENIS KEGIATAN AN GK.