• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengaruh Dana Pihak Ketiga, Capital Adequacy Ratio, Non Performing Loan, Loan to Deposit Ratio, dan Return on Asset terhadap Penyaluran Kredit Bank Pembangunan Daerah di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Analisis Pengaruh Dana Pihak Ketiga, Capital Adequacy Ratio, Non Performing Loan, Loan to Deposit Ratio, dan Return on Asset terhadap Penyaluran Kredit Bank Pembangunan Daerah di Indonesia"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

Sebagai menambah referensi, informasi dan wawasan untuk mendukung penelitian

selanjutnya yang berkaitan dengan faktor- faktor yang mempengaruhi kebijakan

penyaluran kredit kepada masyarakat, atau sebagai bahan kepustakaan serta sumber

pengetahuan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bank

Bank adalah suatu bada usaha lembaga keuangan, yaitu suatu badan yang

berfungsi sebagai financial intermediary atau perantara keuangan dari dua pihak, yakni

pihak yang kelebihan dana dan pihak yang kekurangan dana. Karena demikian eratnya

kaitan antara bank dan uang, maka bank disebut juga sebagai suatu lembaga yang

berniaga uang. Bank menerima simpanan uang dari masyarakat (to receive deposits)

dalam bentuk giro, deposito, dan tabungan. Kemudian uang tersebut dikembalikan lagi

kepada masyarakat dalam bentuk kredit (to make loans).

Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tentang

perbankan “Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam

bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan

atau dalam bentuk lain-lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Sebagai lembaga keuangan, kegiatan bank sehari-hari tidak akan terlepas dari bidang

keuangan”.

Menurut Dendawijaya (2005: 14) “Bank adalah suatu badan usaha yang tugas

(2)

menyalurkan dana dari pihak yang berkelebihan dana kepada pihak yang

membutuhkan dana atau kekurangan dana pada waktu yang ditentukan”.

Menurut Prof. G. M. Verryn Stuart (dalam Hasibuan, 2007:2), “Bank is a

company who satisfied other people by giving a credit with the money they accept as a

gamble to the other, eventhough they should supply the new money”. (Bank adalah

badan usaha yang wujudnya memuaskan keperluan orang lain, dengan memberikan

kredit berupa uang yang diterimanya dari orang lain, sekalipun dengan jalan

mengeluarkan uang baru kertas atau logam).

Pengertian Bank Menurut PSAK Nomor 31 dalam Standar Akuntansi Keuangan

yaitu “Bank adalah suatu lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan antara

pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana dan pihak-pihak yang memerlukan dana,

serta sebagai lembaga yang berfungsi memperlancar lalu lintas pembayaran”. Bank

sebagai lembaga perantara keuangan memberikan jasa-jasa keuangan baik kepada

pihak yang membutuhkan dana dan pihak yang memiliki dana. Bank memiliki fungsi

pokok sebagai berikut (Siamat, 2005: 88):

1. Menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang lebih efisien dalam kegiatan

ekonomi.

2. Menciptakan uang.

3. Menghimpun dana dan menyalurkan kepada masyarakat.

4. Menawarkan jasa-jasa keuangan lain.

(3)

7. Menyediakan jasa-jasa pengelolaan dana.

Dari pengertian tersebut dapat dijelaskan secara lebih luas lagi, bahwa bank

merupakan perusahaan yang dalam aktivitasnya selalu berkaitan dalam bidang

keuangan. Aktivitas perbankan yang pertama adalah menghimpun dana dari

masyarakat luas yang dikenal dengan istilah kegiatan funding. Aktivitas menghimpun

dana berupa mengumpulkan atau mencari dana dari masyarakat yang dilakukan oleh

bank dengan cara memasang berbagai strategi agar masyarakat mau menanamkan

dananya dalam bentuk simpanan. Jenis simpanan yang dapat dipilih antara lain

tabungan, giro, dan deposito.

Akitivitas perbankan yang kedua adalah kredit (lending). Setelah memperoleh

dana dalam bentuk simpanan dari masyarakat, maka oleh perbankan dana tersebut

diputarkan kembali atau disebut dengan kredit. Dalam pemberian kredit juga

dikenakan jasa pinjaman kepada debitur dalam bentuk bunga dan biaya administrasi.

Sedangkan bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah dalam bentuk bagi hasil atau

penyertaan modal.

Besarnya bunga kredit sangat dipengaruhi oleh besarnya bunga simpanan.

Semakin besar bunga simpanan maka semakin besar pula bunga pinjaman dan

demikian sebaliknya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kegiatan utama dari perbankan

adalah menghimpun dana (funding) dan menyalurkan dana (lending).

(4)

Bank Pembangunan atau sering disebut BPD merupakan bank yang seluruh

sahamnya, dan akte pendiriannya dimiliki oleh pemerintah daerah, sehingga seluruh

keuntungan bank ini dimiliki oleh pemerintah (Kasmir, 2008: 20). BPD memiliki

peranan dalam menggerakkan perekonomian daerah dan berfungsi sebagai penyimpan

uang daerah dan kontributor utama Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Undang-undang No. 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Bank

Pembangunan Daerah mengatur mengenai fungsi, lapangan kerja, cara mengurus, dan

cara menguasai serta bentuk hukum dari Bank Pembangunan Daerah dalam rangka

Ekonomi Terpimpin, dengan tujuan untuk mempercepat terlaksananya usaha-usaha

pembangunan yang merata di seluruh Indonesia. Untuk mewujudkan hal tersebut,

maka perlu adanya pengerahan modal dan potensi di daerah-daerah untuk pembiayaan

pembangunan daerah.

Kemudian berdasarkan Undang-undang No. 13 Tahun 1962 tentang

Ketentuan-ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah pada pasal 4 Bank Pembangunan Daerah

didirikan dengan maksud khusus untuk menyediakan pembiayaan bagi pelaksanaan

usaha-usaha pembangunan daerah dalam rangka pembangunan nasional.

BPD terdapat pada daerah tingkat I dan tingkat II masing-masing provinsi.

Modal BPD sepenuhnya dimiliki oleh Pemerintah Daerah (Pemda) masing-masing

tingkatan. Sampai saat ini ada 26 BPD yang ada di Indonesia, rata-rata setiap provinsi

mempunyai 1 (satu) BPD tetapi ada juga BPD yang harus melayani 2 (dua)

(5)

Jakarta, BPD Bali, BPD Sumatera Utara, BPD Jambi, BPD Sulaweasi Utara

(www.bi.go.id).

2.3 Kredit

Menurut Kasmir (2008: 101) kata berasal dari kata Yunani “Credere” yang

berarti kepercayaan, atau berasal dari bahasa Latin “Creditum” yang berarti

kepercayaan akan kebenaran. Pengertian tersebut dibakukan oleh pemerintah dengan

dikeluarkannya Undang-undang Pokok Perbankan Nomor 14 Tahun 1967 bab 1 pasal 1

ayat 2 yang merumuskan pengertian kredit sebagai berikut: “Kredit adalah penyediaan

uang atau yang disamakan dengan itu berdasarkan persetujuan pinjam meminjam

antara bank dengan lain pihak peminjam berkewajiban melunasi hutangnya setelah

jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga yang telah ditentukan”.

Selanjutnya pengertian kredit tersebut disempurnakan dengan Undang-Undang

Nomor 10 Tahun 1998 pasal 1 ayat 1 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7

Tahun 1992, yang mendefinisikan “Kredit adalahpenyediaan uang atau tagihan yang

dapat disamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam

meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk

melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.

Proses perkreditan dilakukan secara hati-hati oleh bank dengan maksud untuk

mencapai sasaran dan tujuan pemberian kredit. Ketika bank menetapkan keputusan

pemberian kredit, maka sasaran yang hendak dicapai adalah aman, terarah, dan

(6)

nilai ekonomi yang telah diserahkan. Terarah maksudnya adalah bahwa penggunaan

kredit harus sesuai dengan perencanaan kredit yang telah ditetapkan. Menghasilkan

berarti pemberian kredit tersebut harus memberikan kontribusi pendapatan bagi bank,

perusahaan debitur, dan masyarakat umumnya (Taswan, 2006: 310).

Menurut Warjiyo (2004: 284), “Mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui

saluran uang secara implisit beranggapan bahwa semua dana yang dimobilisasi

perbankan dari masyarakat dalam bentuk uang beredar dipergunakan untuk pendanaan

aktivitas sektor riil melalui penyaluran kredit perbankan”.

Menurut Retnadi (2006: 1), “Kemampuan menyalurkan kredit oleh perbankan

dipengaruhi oleh berbagai hal yang dapat ditinjau dari sisi internal dan eksternal bank.

Dari sisi internal bank terutama dipengaruhi oleh kemampuan bank dalam

menghimpun dana masyarakat dan penetapan tingkat suku bunga. Dan dari sisi

eksternal bank dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, peraturan pemerintah, dan lain-lain”.

Menurut Dendawijaya (2005: 49) mengemukakan bahwa “Dana-dana yang

dihimpun dari masyarakat dapat mencapai 80%-90% dari seluruh dana yang dikelola

bank dan kegiatan perkreditan mencapai 70%-80% dari kegiatan usaha bank”. Menurut

Abdullah (2005: 84) mengatakan, “Tujuan pemberian kredit guna mendapatkan nilai

tambah baik bagi nasabah (debitur) maupun bagi bank sebagai kreditur”.

2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyaluran Kredit Perbankan

Besarnya jumlah kredit yang disalurkan oleh bank merupakan usaha bank dalam

(7)

menyalurkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan. Penyaluran kredit

merupakan kegiatan usaha yang mendominasi pengalokasian dana bank. Penggunaan

dana untuk penyaluran kredit ini mencapai 70% -80% dari volume usaha bank.

Menurut Siamat (2005: 349), terkonsentrasinya usaha bank dalam penyaluran

kredit tersebut disebabkan beberapa alasan yaitu:

1. Sifat usaha bank yang berfungsi sebagai lembaga intermediasi antara unit surplus

dan unit defisit.

2. Penyaluran kredit merupakan memberikan keuntungan dari selisih bunga yang

pasti sehingga besarnya pendapatan dapat diperkirakan.

3. Melihat posisinya dalam bidang pelaksanaan kebijakan moneter, perbankan

merupakan sektor usaha yang kegiatannya paling diatur pemerintah.

4. Sumber dana utama bank berasal dari dana masyarakat sehingga secara moral

mereka harus menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit.

Warjiyo (2004: 83) menyebutkan bahwa “Perilaku perbankan dalam penyaluran

kredit selain dipengaruhi oleh dana yang tersedia yang bersumber dari Dana Pihak

Ketiga (DPK), juga dipengaruhi oleh persepsi bank terhadap prospek usaha debitur dan

kondisi perbankan itu sendiri seperti permodalan atau Capital Adequacy Ratio (CAR),

jumlah kredit macet atau Non Performing Loan (NPL), dan Loan to Deposit Ratio

(LDR) yang merupakan perbandingan antara kredit yang diberikan terhadap Dana

Pihak Ketiga. Selian itu, ada indikator lain yang juga berpengaruh terhadap keputusan

bank untuk menyalurkan kredit kepada debitur, yakni faktor rentabilitas atau tingkat

(8)

2.4.1 Dana Pihak Ketiga (DPK)

Menurut Dendawijaya (2005: 49), “dana-dana yang dihimpun dari masyarakat

dapat mencapai 80% - 90% dari seluruh dana yang dikelola oleh bank dan kegiatan

penyaluran perkreditan yang optimal mencapai 70% - 80% dari total aktiva bank”.

Dana Pihak Ketiga (DPK) dibutuhkan suatu bank dalam menjalankan operasinya.

Dendawijaya (2005: 56), mendefinisikan “Dana Pihak Ketiga adalah dana berupa

simpanan dari masyarakat”. Bank dapat memanfaatkan dana dari pihak ketiga ini untuk

ditempatkan pada pos-pos yang menghasilkan pendapatan bagi bank, salah satunya

yaitu dalam bentuk kredit.

Pertumbuhan dana pihak ketiga akan mengakibatkan pertumbuhan kredit yang

pada akhirnya Loan to Deposit Ratio (LDR) juga akan meningkat. Masyarakat yang

kelebihan dana dapat menyimpan dananya di dalam bank dalam bentuk tabungan,

deposito, giro, dan sertifikat deposit. Semakin banyak dana yang dimiliki suatu bank,

maka semakin besar peluang bagi bank tersebut untuk melakukan kegiatan-kegiatan

dalam mencapai tujuannya. Peranan bank sebagai lembaga keuangan tidak terlepas dari

(9)

Menurut Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004

dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank atau dana yang bersumber dari

pihak ketiga dan dihimpun oleh sektor perbankan adalah:

1. Tabungan (saving deposit) adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat

dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik

dengan cek, bilyet giro. Dana tabungan biasanya dimiliki oleh masyarakat dengan

kegiatan bisnis relatif kecil, bahkan tidak ada.

2. Deposito berjangka (time deposit) adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat

dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan

bank. Dana yang berasal dari deposito adalah dana termahal yang harus

ditangggung oleh bank. Dana dari simpanan berjangka pada umumnya dihimpun

dari pengusaha menengah dan masyarakat dari golongan menengah atas yang bukan

bisnis.

3. Giro (demand deposit) adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap

saat dengan cek, bilyet giro, sarana pemerintah pembayaran lainnya, atau dengan

pemindah bukuan. Dana giro umumnya digunakan oleh pengusaha dengan likuiditas

tinggi, sehingga pergerakan dananya sangat cepat. Memiliki rekening giro untuk

pengusaha merupakan kebutuhan mutlak demi kelancaran bisnis dan urusan

pembayaran.

4. Sertifikat deposito (certificate of deposit) adalah simpanan dalam bentuk deposito

(10)

2.4.2 Capital Adequacy Ratio (CAR)

Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio permodalan yang

menunjukkan kemampuan bank dalam menyediakan dana untuk keperluan

pengembangan usaha dan menampung risiko kerugian dana yang diakibatkan oleh

kegiatan operasi bank. Dendawijaya (2005: 121) menyatakan bahwa “Capital

Adequacy Ratio merupakan rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva

bank yang mengandung risiko (kredit penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank

lain) untuk dibiayai dari dana modal bank sendiri, disamping memperoleh dana-dana

dari sumber-sumber di luar, seperti dana masyarakat, pinjaman (utang) dan lain-lain”.

Sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 26/5/BPPP tanggal 29 Mei

1993 besarnya CAR yang harus dicapai oleh suatu bank minimal 8% sejak akhir tahun

1995, dan sejak akhir tahun 1997 CAR yang harus dicapai minimal 9%. Menurut

Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/15/PBI/2008 menjelaskan “Bank wajib

menyediakan modal minimum sebesar 8% dari Aktiva Tertimbang Menurut Risiko

(ATMR)”. Dengan demikian semakin tinggi jumlah penyaluran kredit, maka akan

besar risiko kredit terhadap bank dan cadangan CAR yang disediakan bank harus lebih

besar, sehingga memungkinkan adanya pengaruh jumlah penyaluran kredit terhadap

CAR.

Menurut Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004

(11)

CAR adalah rasio modal terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR).

Modal terdiri dari modal inti dan modal pelengkap. ATMR adalah nilai total

masing-masing aktiva bank setelah dikalikan dengan masing-masing-masing-masing bobot risiko aktiva

tersebut. Semakin tinggi CAR, maka semakin besar pula sumber daya finansial yang

dapat digunakan untuk mengantisipasi potensi kerugian yang diakibatkan oleh

penyaluran kredit. Secara singkat dapat dikatakan besarnya nilai CAR akan

meningkatkan kepercayaan diri perbankan dalam menyalurkan kredit.Dengan CAR di

atas 20%, perbankan bisa memacu pertumbuhan kredit hingga 20%-25% setahun.

Adapun kriteria penetapan tingkat peringkat kompsit CAR yang telah ditetapkan

Bank Indonesia sebagai berikut:

Tabel 2.1

Kriteria Penetapan Peringkat Komposit Capital Adequacy Ratio (CAR)

Komponen Sumber: Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004

2.4.3 Non Performing Loan (NPL)

Non Performing Loan (NPL)merupakan rasio yang dipergunakan untuk

mengukur kemampuan dalam meng-cover risiko kegagalan pengembalian kredit oleh

debitur (Darmawan, 2004). Jadi, rasio ini menggambarkan kemampuan manajemen

(12)

risiko yang timbul apabila peminjam tidak dapat mengembalikan dana yang dipinjam

dan bunga yang harus dibayarnya.

Menurut Surat Edaran Bank Indonesia No.3/30/DPNP tanggal 14 Desember

2001, NPL diukur dari rasio perbandingan antara kredit bermasalah terhadap total

kredit yang diberikan. NPL yang tinggi memperbesar biaya, sehingga berpotensi

terhadap kerugian bank. Semakin tinggi rasio ini, maka semakin buruk kualitas kredit

bank yang menyebabkan jumlah kredit yang bermasalah semakin besar. NPL

mencerminkan risiko kredit, semakin kecil NPL semakin kecil pula risiko kredit yang

ditanggung pihak bank. Bank Indonesia menetapkan nilai NPL maksimum adalah

sebesar 5%, apabila bank memperoleh nilai NPL melebihi batas yang diberikan, maka

bank tersebut dikatakan tidak sehat. Dalam Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia

Nomor 31/147/KEP/DIR Tahun 1998 kredit digolongkan menjadi lima, yaitu lancar,

dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet. Komponen kredit

bermasalah di atas merupakan kredit yang kolektibilitasnya digolongkan ke dalam

tingkat kurang lancar, diragukan, dan macet. Dampak dari keberadaan NPL dalam

jumlah besar tidak hanya berdampak pada bank yang bersangkutan, tetapi juga meluas

dalam cakupan nasional yaitu memperlambat laju pertumbuhan perekonomian nasional

bila tidak dapat ditangani dengan tepat.

Menurut Dendawijaya (2005), kemacetan fasilitas kredit disebabkan oleh 2

(dua) faktor, yaitu:

(13)

Dalam hal ini analisis kredit kurang teliti, baik dalam mengecek kebenaran dan

keaslian dokumen maupun salah dalam menghitung rasio-rasio yang ada.

2. Dari pihak nasabah

Kemacetan kredit yang disebabkan nasabah diakibatkan oleh dua hal yaitu, pertama

adanya unsur kesengajaan, kedua adanya unsur tidak sengaja.

Menurut Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/23/DPNP tanggal 31 Mei

2004, NPL dirumuskan sebagai berikut:

Kredit bermasalah adalah kredit dengan kualitas kurang lancar, diragukan, dan

macet. Kredit yang diberikan adalah kredit yang diberikan bank uang sudah ditarik

atau dicairkan bank. Kredit yang diberikan tidak termasuk kredit kepada bank lain.

Kriteria penilaian tingkat kesehatan rasio NPL dapat dilihat pada Tabel 2.2

berikut ini:

Tabel 2.2

Kriteria Penetapan Peringkat Komposit Non Performing Loan(NPL)

Komponen

Peringkat

1 2 3 4 5

Sangat

Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik

Tidak Baik

NPL NPL < 2% 2% < NPL < 5%

5% < NPL <

8% 8% < NPL < 12% NPL > 6% Sumber: Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004

2.4.4 Loan to Deposit Ratio (LDR)

Fungsi utama bank adalah sebagai lembaga perantara keuangan atau financial

(14)

(LDR). Menurut Dendawijaya (2005: 116),“Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah rasio

antara seluruh jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh

bank”. Sedangkan menurut Kasmir (2008), “Loan to Deposit Ratio merupakan rasio

untuk mengukur komposisi jumlah kredit yang diberikan dibandingkan dengan jumlah

dana masyarakat dan modal sendiri yang digunakan”.

Dengan demikian LDR menggambarkan kemampuan bank membayar kembali

penarikan yang dilakukan nasabah deposan dengan mengandalkan kredit yagn

diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Semakin tinggi rasio ini, semakin rendah

kemampuan likuiditas bank. Hal ini dikarenakan penyaluran kredit merupakan salah

satu tujuan dari penghimpunan dana bank, yang sekaligus memberikan kontribusi

pendapatan terbesar bagi bank. Semakin banyak kredit yang disalurkan, maka semakin

tidak likuid (illiquid) suatu bank, karena seluruh dana yang berhasil dihimpun telah

disalurkan dalam bentuk kredit, sehingga tidak terdapat kelebihan dana untuk

dipinjamkan lagi atau untuk diinvestasikan.

Tingginya rasio LDR ini, di satu sisi menunjukkan pendapatan bank yang

semakin besar, tetapi menyebabkan suatu bank menjadi tidak likuid dan memberikan

konsekuensi meningkatnya risiko yang harus ditanggung oleh bank, berupa

meningkatnya jumlah NPL atau Credit Risk, yang mengakibatkan bank mengalami

kesulitan untuk mengembalikan dana yang telah dititipkan oleh nasabah, karena kredit

yang disalurkan mengalami kegagalan atau bermasalah.

(15)

menganggur, yang apabila tidak dimanfaatkan dapat menghilangkan kesempatan bank

untuk memperoleh pendapatan yang sebesar-besarnya dan menunjukkan bahwa fungsi

utama bank sebagai financial intermediary tidak berjalan efisien.

Menurut Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/23/DPNP tanggal 31 Mei

2004,LDR dirumuskan sebagai berikut:

Dari penjelasan tersebut disimpulkan bahwa rasio LDR dihitung dari

pembagian kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk antarbank)

dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencakup giro, tabungan, dan deposito (tidak

termasuk antarbank). Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, besarnya standar nilai

Loan to Deposit Ratio (LDR) menurut Bank Indonesia adalah 85%-100%. Tujuan

perhitungan LDR adalah untuk mengetahui serta menilai sampai seberapa jauh suatu

bank memiliki kondisi sehat dalam menjalankan kegiatan operasinya. Dengan kata

lain, LDR digunakan sebagai suatu indikator untuk mengetahui tingkat kerawanan

suatu bank.

Kriteria penilaian tingkat kesehatan rasio NPL dapat dilihat pada Tabel 2.3

berikut ini:

Tabel 2.3

Kriteria Penetapan Peringkat Komposit Loan to Deposit Ratio (LDR)

Komponen

Peringkat

1 2 3 4 5

Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Tidak Baik

(16)

2.4.5 Return on Asset (ROA)

Dapat dipahami secara konsep bahwa dana dari pihak ketiga dihimpun,

kemudian disalurkan oleh bank kepada masyarakat dalam bentuk aktiva produktif

berupa kredit. Kredit merupakan sumber pendapatan dan keuntungan bank yang

terbesar. Dana yang tertanam dalam bentuk kredit yang diberikan merupakan bagian

yang terbesar dari aset operasional. Kredit inilah yang dimaksudkan dengan total aset

yang digunakan untuk menghitung ROA sebuah bank. Oleh sebab itu, setiap perubahan

yang terjadi pada jumlah dana pihak ketiga serta jumlah kredit yang disalurkan akan

berdampak pada perubahan besar kecilnya persentase ROA suatu bank.

Kemudian ROA dipilih sebagai indikator pengukur kinerja keuangan perbankan,

karena ROA digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan di dalam menghasilkan

keuntungan dengan memanfaatkan aset yang dimilikinya. Dengan semakin tingginya

ROA, maka hal tersebut menunjukkan bahwa bank telah menyalurkan kredit guna

mendapatkan keuntungan.

Dendawijaya (2005) mengemukakan bahwa “ROA bertujuan untuk mengukur

kemampuan perusahaan dalam mendayagunakan aset untuk memperoleh laba dan

mengukur hasil total untuk seluruh kreditor dari pemegang saham selaku penyedia

sumber dana”. Dengan kata lain, rasio ini menunjukkan tingkat pengembalian laba

bersih terhadap penggunaan keseluruhan jumlah aset serta dinyatakan dalam bentuk

(17)

Return on Asset (ROA) dapat diukur dengan perbandingan antara laba sebelum

pajak terhadap total aset. Menurut Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP

tanggal 31 Mei 2004, ROA dirumuskan sebagai berikut:

Laba sebelum pajak adalah laba bersih dari kegiatan operasional bank sebelum

pajak. Total aset yang dimilki oleh bank yang bersangkutan. Semakin besar ROA

menunjukkan kinerja keuangan yang semakin baik, karena tingkat return semakin

besar. Bank Indonesia selaku pembina dan pengawas perbankan lebih mengutamakan

nilai profitabilitas suatu bank yang diukur dengan aset yang perolehan dananya

sebagian besar berasal dari simpanan masyarakat (Siamat, 2005). Menurut ketentuan

Bank Indonesia ROA dikatakan cukup baik apabila rasio ROA berkisar antara 0,5%

sampai dengan 1,25%.

2.5 Penelitian Terdahulu

Penelitian-penelitian yang digunakan sebagai bahan referensi dalam penelitian

ini antara lain:

Adawiyah (2012) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Penyaluran

Kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pada PT. Bank Riau Kepri

Provinsi Riau”. Penelitian ini menggunakan variabel dependen yaitu Kredit dan

variabel independen meliputi Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequacy Ratio

(CAR), Return on Asset (ROA), dan Non Performing Loan (NPL). Teknik analisis

(18)

DPK berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Kredit pada PT. Bank Bank

Riau Kepri Provinsi Riau, CAR berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Kredit

pada PT. Bank Bank Riau Kepri Provinsi Riau, sedangkan ROA NPL berpengaruh

positif dan tidak signifikan terhadap Kredit pada PT. Bank Bank Riau Kepri Provinsi

Riau.

Dewi (2012) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Risiko Kredit,

DPK, Likuiditas, dan Tingkat Efisiensi Usaha pada Volume Kredit”. Penelitian ini

menggunakan variabel dependen yaitu Kredit dan variabel independen meliputi Non

Performing Loan (NPL), Dana Pihak Ketiga (DPK), Loan to Deposit Ratio (LDR),

Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO). Teknik analisis yang

digunakan adalah regresi data panel. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa NPL

berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Kredit pada BPR kota Denpasar,

DPK dan LDR berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kredit pada BPR kota

Denpasar, sedangkan BOPO berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Kredit

pada BPR kota Denpasar.

Oktaviani (2012) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh DPK, ROA,

CAR, NPL, dan Jumlah SBI terhadap Penyaluran Kredit Perbankan (Studi pada Bank

Umum Go Public di Indonesia Periode 2008-2011)”. Penelitian ini menggunakan

variabel dependen yaitu Kredit dan variabel independen meliputi Dana Pihak Ketiga

(DPK), Return on Asset (ROA), Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan

(19)

positif dan signifikan terhadap Kredit pada Bank Umum Go Public di Indonesia, ROA

dan NPL berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Kredit pada Bank Umum

Go Public di Indonesia, sedangkan SBI berpengaruh negatif dan signifikan terhadap

Kredit pada Bank Umum Go Public di Indonesia.

Wijayanto (2012) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Dana Pihak

Ketiga (DPK), Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Return

on Asset (ROA), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Volume Kredit yang

Disalurkan Bank Persero (Studi Empirik pada Bank Persero di Indonesia Periode

2006-2011)”. Penelitian ini menggunakan variabel dependen yaitu Kredit dan variabel

independen meliputi Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequacy Ratio (CAR), Non

Performing Loan (NPL), Return on Asset (ROA), dan Loan to Deposit Ratio (LDR).

Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil penelitiannya

menyatakan bahwa DPK dan ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kredit

pada Bank Persero di Indonesia, sedangkan CAR, LDR, dan NPL berpengaruh positif

dan tidak signifikan terhadap Kredit pada Bank Persero di Indonesia.

Muklis (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “Penyaluran Kredit Bank

Ditinjau dari Jumlah Dana Pihak Ketiga dan Tingkat Non Performing Loans”.

Penelitian ini menggunakan variabel dependen yaitu Kredit dan variabel independen

meliputi Dana Pihak Ketiga (DPK), dan Non Performing Loan (NPL). Teknik analisis

yang digunakan adalah regresi dinamis versi error correction model (ECM). Hasil

penelitiannya menyatakan bahwa DPK berpengaruh positif dan tidak signifikan

(20)

berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Kredit pada PT. Bank Rakyat

Indonesia (Persero) Tbk.

Tabel 2.4 Penelitian Terdahulu No Peneliti/

Tahun Judul Penelitian

Variabel Teknik

Analisis Hasil Penelitian Dependen Independen Kredit pada PT. Bank Riau Kepri Provinsi Riau. 2. CAR berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Kredit pada PT. Bank Riau Kepri Provinsi Riau. 3. ROA dan NPL berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Kredit pada PT. Bank Riau Kepri Provinsi Riau.

2 Dewi

Kredit Non Performing

(21)

Biaya Kredit pada BPR kota Denpasar. 3. BOPO berpengaruh positif dan tidan signifikan terhadap Kredit pada BPR kota Denpasar. Kredit pada Bank Umum Go Public di Indonesia. 2. ROA dan NPL berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Kredit pada Bank Umum Go Public di Indonesia. 3. SBI berpengaruh

Tahun Judul Penelitian

Variabel Teknik

Analisis Hasil Penelitian Dependen Independen

4 Wijayanto (2012)

Pengaruh Dana Pihak

Ketiga (DPK), Capital

Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan

(NPL), Return on Asset

(ROA), dan Loan to

Deposit Ratio (LDR) terhadap Volume Kredit yang Disalurkan Bank Persero (Studi Empirik

Kredit Dana Pihak

(22)

Indonesia Periode 2006-Dana Pihak Ketiga dan

Tingkat Non Performing

Loans

Kredit Dana Pihak

Ketiga

2.6 Kerangka Konseptual

2.6.1 Pengaruh Dana Pihak Ketiga terhadap Penyaluran Kredit

Dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 dikatakan bahwa “bank adalah

badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan

menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk

lainnya, dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak”. Dengan

demikian, bank merupakan bagian dari lembaga keuangan yang memiliki fungsi

intermediasi yaitu menghimpun dana dari masyarakat yang kelebihan dana dan

menyalurkan dana yang dihimpunnya kepada masyarakat yang kekurangan dana

(Abdullah, 2005: 17). Dana Pihak Ketiga merupakan sumber dana bank yang berasal

dari masyarakat sebagai nasabah dalam bentuk simpanan giro, tabungan, dan deposito.

Kegiatan bank setelah menghimpun dana dari masyarakat luas adalah menyalurkan

(23)

Berdasarkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998, dapat dikatakan bahwa

besarnya penyaluran kredit bergantung pada besarnya dana pihak ketiga yang dapat

dihimpun oleh perbankan. Umumnya dana yang dihimpun oleh perbankan dari

masyarakat akan digunakan untuk pendanaan aktivitas sektor riil melalui penyaluran

kredit. Dengan demikian menurut (Warjiyo, 2005: 432) dapat dikatakan bahwa

“besarnya penyaluran kredit bergantung kepada besarnya dana pihak ketiga yang dapat

dihimpun oleh perbankan”. Berdasarkan dari penjelasan di atas dapat disimpulkan

bahwa dana pihak ketiga akan mempengaruhi penyaluran kredit pada perbankan.

Dengan demikian, dana pihak ketiga memiliki hubungan dengan penyaluran kredit

yang berarti bila terjadi peningkatan dalam penghimpunan dana pihak ketiga akan

diikuti dengan peningkatan penyaluran kredit. Semakin tinggi dana pihak ketiga yang

berhasil dihimpun oleh perbankan akan mendorong peningkatan jumlah kredit yang

disalurkan, demikian sebaliknya.

Hasil penelitian sebelumnya oleh Dewi (2012),Oktaviani (2012), dan

Wijayanto (2012) Dana Pihak Ketiga (DPK) berpengaruh positif terhadap Kredit

Perbankan. Dengan demikian DPK diprediksi memiliki pengaruh terhadap Kredit

Perbankan.

2.6.2 Pengaruh Capital Adequacy Ratio terhadap Penyaluran Kredit

Capital Adequacy Ratio merupakan rasio permodalan yang menunjukkan

(24)

Berdasarkan dari Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/21/PBI/2001, setiap bank wajib

memenuhi kecukupan modal 8%. Tingkat kecukupan modal pada perbankan

diwakilkan dengan rasio Capital Adequacy Ratio. Capital Adequacy Ratio

memperlihatkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank yang mengandung risiko,

yang dibiayai dari modal sendiri. Semakin tinggi Capital Adequacy Ratio maka

semakin besar pula sumber daya finansial yang dapat digunakan untuk keperluan

pengembangan usaha dan mengantisipasi potensi kerugian yang diakibatkan oleh

kepercayaan diri perbankan dalam menyalurkan kredit. Dengan Capital Adequacy

Ratio di atas 20%, perbankan bisa memacu pertumbuhan kredit hingga 20%-50%

setahun. Kecukupan modal yang tinggi dan memadai akan meningkatkan volume

kredit perbankan (Warjiyo, 2005: 435).

Berdasarkan dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi

Capital Adequacy Ratio, maka semakin besar pula sumber daya finansial yang dapat

digunakan untuk keperluan pengembangan usaha dan mengantisipasi potensi kerugian

yang diakibatkan oleh penyaluran kredit. Dengan demikian kecukupan modal Capital

Adequacy Ratio yang tinggi dan memadai akan meningkatkan volume kredit

perbankan.

Hasil penelitian sebelumnya oleh Adawiyah (2012) CAR berpengaruh negatif

dan signifikan terhadap Kredit Perbankan.Oktaviani (2012) CAR berpengaruh positif

dan signifikan terhadap Kredit Perbankan.Sedangkan Wijayanto (2012) CAR

(25)

2.6.3 Pengaruh Non Performing Loan terhadap Penyaluran Kredit

Dalam menyalurkan kredit, bank mempunyai harapan agar kredit tersebut

mempunyai risiko minimal dalam arti dapat dikembalikan sepenuhnya tepat pada

waktunya dan tidak menjadi kredit bermasalah. Namun pada kenyataannya, bila bank

gagal dalam mengelola risiko tersebut dalam hubungannya dengan perkreditan bank,

akan timbul bermasalah. Non Performing Loan atau kredit bermasalah adalah

banyaknya pinjaman yang mengalami kesulitan dalam pelunasannya. Hal tersebut

diakibatkan karena kesengajaan debitur atau karena sesuatu di luar kendali debitur.

Non Performing Loan merupakan tingkat kredit bermasalah yang dialami oleh

suatu bank yang diakibatkan oleh tidak terbayarnya kewajiban dari para debiturnya

sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan. Non Performing Loan dapat

diketahui dengan membandingkan jumlah pengembalian dana dari nasabah dengan

jumlah dana yang disalurkan oleh bank kepada nasabah. Kredit bermasalah yang tinggi

dapat menimbulkan keengganan bank untuk menyalurkan kredit karena bank harus

membentuk cadangan penghapusan (piutang tak tertagih) dana atau modal bank yang

besar. Bank menyalurkan sejumlah dana untuk kredit yang berasal dari pihak ke satu

(modal bank itu sendiri), dana pihak kedua (dana pinjaman dari pihak luar atau

lembaga lain), dan dana pihak ketiga (simpanan masyarakat).

Dalam kegiatan perbankan yang berkaitan dengan pembiayaan tidak terlepas

dari risiko kredit. Tinggi rendahnya risiko yang dihadapi bank dari seluruh jumlah

pembiayaan yang diberikan ditandai dengan tinggi rendahnya persentase risiko kredit

(26)

dengan jumlah harta keseluruhan. Risiko kredit muncul bila bank tidak bisa

memperoleh kembali cicilan pokok atau bunga pinjaman yang diberikannya sesuai

dengan jangka waktu yang ditentukan (Siamat, 2002: 92).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Non Performing Loan

mencerminkan risiko kredit, semakin tinggi Non Performing Loan maka semakin besar

pula risiko kredit yang ditanggung oleh pihak bank. Akibat tingginya Non Performing

Loan perbankan harus menyediakan pencadangan yang lebih besar sehingga pada

akhirnya modal bank ikut terkikis. Padahal besaran modal sangat mempengaruhi

besarnya ekspansi kredit.

Hasil penelitian sebelumnya oleh Dewi (2012) dan Muklis (2011) NPL

berpengaruh negatif terhadap Kredit Perbankan. Sedangkan Adawiyah (2012),

Oktaviani (2012), Wijayanto (2012) NPL berpengaruh positif dan tidak signifikan

terhadap Kredit Perbankan. Dengan demikian NPL diprediksi memiliki pengaruh

terhadap Kredit Perbankan.

2.6.4 Pengaruh Loan to Deposit Ratio terhadap Penyaluran Kredit

Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam melaksanakan kewajiban yang

segera harus dipenuhi (Sutrisno, 2003: 18). Bank dapat mempertahankan likuiditas,

profitabilitas, dan risikonya dengan mengoptimalkan kinerja manajemen (Abdullah,

2005). Likuiditas dapat diukur dengan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR). Bila rasio

LDR bank belum memenuhi aturan Bank Indonesia, maka bank meningkatkan

(27)

sebaliknya bila LDR bank melampaui ketetapan Bank Indonesia, maka bank harus

menyesuaikan sebab menurunnya volume kredit yang tersalurkan.

Hasil penelitian sebelumnya oleh Dewi (2012) LDR berpengaruh positif dan

signifikan terhadap Kredit Perbankan. Sedangkan Wijayanto (2012) LDR berpengaruh

positif dan tidak signifikan terhadap Kredit Perbankan. Dengan demikian LDR

diprediksi memiliki pengaruh terhadap Kredit Perbankan.

2.6.5 Pengaruh Return on Asset terhadap Penyaluran Kredit

Return on Asset (ROA)adalah perbandingan antara laba sebelum pajak dengan

total aset yang dimiliki oleh bank. ROA menggambarkan seberapa besar penggunaan

aset yang dipakai untuk menghasilkan pendapatan. Semakin tinggi nilai ROA, maka

nilai kredit juga akan semakin besar. Dana yang tertanam dalam bentuk kredit yang

diberikan merupakan bagian yang terbesar dari aktiva operasional. Kredit inilah yang

dimaksudkan dengan total aset yang digunakan untuk menghitung ROA sebuah bank.

Oleh sebab itu, setiap perubahan yang terjadi pada jumlah DPK serta jumlah kredit

yang disalurkan akan berdampak pada perubahan besar kecilnya persentase ROA suatu

bank.

Menurut Dendawijaya (2005) bahwa “Kegiatan perkreditan yang dilakukan bank

mencapai 70%-80% dari kegiatan usaha bank”. Hal tersebut membuktikan bahwa

mayoritas kegiatan usaha bank adalah penyaluran kredit. Oleh karena itu, semakin

(28)

perusahaan untuk memperoleh pendapatan, maka berarti kegiatan kredit yang

dilaksanakan oleh bank telah dioptimalkan untuk memperoleh pendapatan.

Berdasarkan tinjauan pustaka dan hasil penelitian terdahulu diduga bahwa Dana

Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL),

Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Return on Asset (ROA) berpengaruh terhadap

Penyaluran Kredit pada Bank Pembangunan Daerah di Indonesia. Dengan demikian

secara skematis dapat dirumuskan kerangka konseptual penelitian sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

2.7 Hipotesis

Berdasarkan kerangka konseptual,maka hipotesis penelitian iniadalah Dana Dana Pihak Ketiga (X1)

Capital Adequacy Ratio (X2)

Non Performing Loan (X3) Penyaluran Kredit

(Y)

Loan to Deposit Ratio (X4)

Gambar

Tabel 2.4 Penelitian Terdahulu
Penelitian Terdahulu Tabel 2.4
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Referensi

Dokumen terkait

Guna lahan di Kabupaten Teluk Bintuni sebagian besar masih berupa kawasan hutan dengan luas 18 244 km 2 atau sekitar 97.8 persen dari luas wilayah perencanaan..

Zuryanty. Profi:sionalisme Guru Sekolah Dasar. PGSD FIP UNP.. Memformulasikan peta kemampuan guru secara nasional yang diperuntukkan bagi perumusan kebijakan program

Penelitian sebelumnya tentang estimasi parameter model regresi data panel random effect dengan metode generalized least squares ( GLS) yang dilakukan oleh Novi Aulia

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari analisis deskriptif dan setelah diadakan pengujian-pengujian, maka secara umum ditemukan Kecerdasan Emosi Terhadap Perkembangan Jiwa

Catatan : persegi satuan = segiempat yang semua sisinya sama panjang dengan panjang sisinya adalah satu (satu satuan panjang).. Ukurlah panjang sisi benda berbentuk persegi

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1994 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa

Seakan-akan benda (apapun) sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi manusia untuk menunjang segala kebutuhan.. hidup akan gaya. Semakin bagus barang tersebut dengan

item skala kecemasan menghadapi pensiun dapat dilihat pada.