• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Hukum Internasional dengan Huku

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hubungan Hukum Internasional dengan Huku"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Hubungan Hukum Internasional dengan Hukum Nasional

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seperti kebanyakan orang ketahui bahwa selain adanya hukum nasional yang mengatur dan berlaku di suatu negara juga terdapat hukum lain yang lebih tinggi yang mengatur hubungan antara negara-negara di dunia maupun subjek hukum lainnya. Adanya hukum internasional dan hukum nasional ini juga menjadi pokok bahasan yang menarik untuk di bahas yang mana dalam kaitan antar keduanya. Pertanyaan yang timbul tentang keberadaan kedua hukum tersebut apakah keduanya terpisah dan dapat dikatakan berdiri sendiri-sendiri atau keduanya merupakan bagian dari suatu sub sistem yang lebih besar yaitu tatanan sistem hukum yang lebih besar lagi.

Hubungan antara hukum internasional dengan hukum nasional masih menarik, karena selalu ada perkembangan saling mempengaruhi antara keduanya dan terkadang saling bertentangan dalam beberapa kaedahnya. Ketika sebagian akademisi masih mempertanyakan status hukum internasional dalam hukum nasional, di saat yang sama hukum internasional telah benar-benar nyata dan mampu mempengaruhi tatanan hukum nasional dalam semua aspek. Sebagaimana dibahas di atas bahwa dilihat dari pembentukannya ada perbedaan yang jelas antara hukum internasional dengan hukum nasional (State Law/al Qonun al Dakhily),yang tentunya skala penerapannya juga berbeda. Apakah hukum internasional mempunyai kekuatan memaksa sebagaimana hukum nasional juga sudah dibahas secara teoretis di atas. Namun, jika sebuah negara sebagai personalitas internasional mengakui kaedah tertentu dalam hukum internasional dan berkehendak untuk menaatinya, apakah dengan begitu secara serta merta kaedah internasional dapat diterapkan di dalam hukum nasional?

Dengan adanya dua hukum yang berperan penting dalam pengatuan tatanan kehidupan individu ataupun negara akan melahirkan suatu kombinasi hukum dalam penyelesaian masalah-masalah baik masalah kenegaraan maupun individu atau subyek hukum yang lainya. Munculnya suatu masalah atau fenomena yang menyulitkan hukum internasional ataupun hukum nasional mengatasinya akan mempersulit untuk penegakan hukum dalam menentukan hukum mana yang didahulukan mengingat berlakunya hukum internasional tersebut tidaklah mutlak dan harus menyesuaikan dengan hukum nasional dalam suatu negara tertentu.

(2)

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah, diantaranya : 1.2.1 Bagaimana hubungan hukum internasional dengan hukum nasional? 1.2.2 Bagaimana penerapan hukum internasional ditingkat nasional?

BAB III PEMBAHASAN

2.1 Hubungan Hukum Internasional dengan Hukum Nasional

Tentang hubungan hukum internasional dan hukum nasional terdapat dua teori yang utama. Yakni teori monoisme dan dualisme. Teori monoisme menyatakan bahwa hukum internasional dan hukum nasional masing – masing merupakan dua aspek dari satu sistem hukum. Struktur hukum intern menetapkan bahwa hukum mengikat individu secara perorangan dan secara kolektif. Hukum internasional mengikat individu secara kolektif sedangkan hukum nasional mengikat individu secara perorangan. Teori dualisme menyatakan bahwa hukum internasional dan hukum nasional masing – masing merupakan dua sistem hukum yang berbeda secara intrinsik. Triepel menyatakan bahwa hukum internasional berbeda dengan hukum nasional karena berbeda subyek dan sumbernya. (Sugeng Istanto, 1994 : 8)

Selain teori monoisme dan dualisme diatas terdapat juga teori koordinasi yang bisa dikatakan sebagai kelompok moderat. Teori ini beranggapan apabila hukum internasional memiliki lapangan berbeda sebagaimana hukum nasional, sehingga kedua sistem hukum tersebut memiliki keutamaan di wilayah kerjanya masing – masing. Kelompok ini beranggapan hukum internasional dengan hukum nasional tidak bisa dikatakan terdapat masalah pengutamaan. Masing – masing berlaku dalam eranya sendiri. Oleh karena itu tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah diantara hukum internasional atau hukum nasional. Anzilotti berpahaman bahwa hukum nasional ditujukan untuk ditaati sedangkan hukum internasional dibentuk dengan dasar persetujuan yang dibuat antar Negara ditujukan untuk dihormati. Pemahaman anzilotti ini pada saat ini sangat diragukan. Karena jika hukum internasional hanya didasarkan pada persetujuan, sebagaimana tercermin dalam prinsip pacta sunt servanda, maka persoalan – persoalan yang bersama dan mendesak seperti perlindungan terhadap lingkungan dan HAM akan menemui jalan buntu. Dengan demikiann, perbedaan antara hukum nasional dan hukum internasional sebagaimana yang dikemukakan oleh kelompok dualisme tersebut diatas untuk kurun waktu sekarang ini sudah tidak relevan lagi. Hal ini disebatkan karena sudah terjadi perubahan dan perkembangan yang sangat mendasar atas struktur masyarakat internasional maupun hukum internasional itu sendiri. (Jawahir Thontowi, Pranoto Iskandar 2006 : 82)

(3)

dualisme atau monisme. pada hubungan antara hukum internasional dengan hukum nasional. Paham dualisme adalah perpanjangan tangan dari positivisme klasik yang malandaskan kaedah hukum internasional atas dasar kehendak mutlak negara sebagai personalitas internasional. Dualisme memandang bahwa sistem hukum internasional sama sekali terpisah dari sistem hukum nasional, keduanya mempunyai posisi yang berbeda. Ada dua perbedaan fundamental dari kedua sistem hukum tersebut, yaitu; Subyek hukum, subyek hukum nasional adalah individu-individu, sedangkan subyek hukum internasional adalah negara-negara. Sumber hukum, sumber hukum nasional adalah kehendak negara tersebut secara mutlak yang dikeluarkan oleh badan legislatif negara dan harus ditaati, sedangkan sumber hukum internasional adalah kehendak bersama dari negara-negara yang mempunyai kekuatan menaati atau menolak yang sama, dan dilandaskan atas norma Pacta Sunt Servanda.

Lembaga peradilan negara tidak dapat menjadikan hukum internasional sebagai sumber materil di pengadilan nasional, kecuali kaedah internasional tersebut telah melewati proses transformasi, dan begitu juga sebaliknya. Walaupun terdapat perbedaan fundamental antara kedua kaedah hukum, bukan berarti tidak ada sinkronisasi dalam tatanan praktis. Contoh, aturan internasional tentang Warga Negara Asing yang terdapat pada perjanjian internasional memerlukan instrumen nasional pada pelaksanaanya melalui aturan yang dikeluarkan oleh badan legislatif negara.

Paham kedua, paham monisme. Penganut monisme menganggap semua hukum sebagai suatu ketentuan tunggal yang tersusun dari kaedah-kaedah hukum mengikat, baik mengikat negara-negara, individu-individu atau kesatuan lain yang juga merupakan personalitas internasional. sebagai penganut monisme berpendapat bahwa kaedah hukum baik itu internasional maupun nasional lahir melalui hipotesa-hipotesa yang saling berkaitan antara satu dan lainnya, dan merupakan satu kesatuan walaupun hipotesa tersebut masih dalam tatanan abstrak. Dari hipotesa tersebut akan muncul sebuah struktur hukum yang bersifat universal, yang mengikat segenap individu baik itu sebagai hukum internasional maupun sebagai hukum nasional.

(4)

Sebagian berpendapat bahwa tidak secara keseluruhan preferensi diberikan kepada hukum internasional, karena dilihat dari sejarahnya hukum internasional merupakan cabang ilmu baru setelah adanya hukum nasional. Penganut primat hukum internasional mencoba menjawab bahwa mata rantai yang menghubungkan hukum internasional dengan hukum nasional bukan mata rantai sejarah, namun mata rantai teknis dan secara teknis hukum internasional mempunyai kewenangan lebih tinggi dari pada hukum nasional. Primat hukum nasional di atas hukum internasional: primat ini didukung oleh penganut paham monisme, menurutnya hukum internasional tidak lain adalah hanya perpanjangan tangan dari hukum nasional, karena hukum internasional terbentuk atas dasar kehendak negara, secara tidak langsung hukum internasional tunduk kepada yang membentuknya, Negara. Hukum tertinggi Negara adalah konstitusi maka, konstitusi mempunyai preferensi lebih dari pada hukum internasional. Kritik yang ditujukan pada pandangan ini adalah, mengesampingkan kaedah-kaedah hukum internasional yang tidak berasal perjanjian internasional melainkan dari tatakrama internasional, yang membentuk opini publik internasional untuk taat terhadap kaedah tertentu sebelum negara tersebut melahirkan kehendaknya. Bahkan, cukup berlebihan jika hukum internasional harus menyesuaikan dengan kaedah hukum nasional. Dalam beberapa kasus, pengadilan internasional telah memutuskan preferensi hukum internasional atas hukum nasional. Mayoritas negara-negara dunia baik secara eksplisit maupun implisit menganut paham monisme dengan primat hukum internasional di atas hukum nasional, ada keterkaitan antara hukum internasional dengan hukum nasional dan kaedah hukum nasional

seyogyanya selaras dengan kaedah hukum internasional.

(http://fsqcairo.blogspot.com/2010/03/prolog-pembahasan-tentang-hubungan.html).  Perbedaan antara hukum internasional dengan hukum nasional

Disamping memiliki hubungan satu sama lain hukum internasional dan hukum nasional juga memiliki perbedaan. Terdapat perbedaan – perbedaan yang krusial antara hukum nasional dengan hukum internasional, pertama adalah objek pengaturan dari kedua sistem hukum itu sendiri terdapat perbedaan. Hukum internasional memiliki negra sebagai objek utama dari pengaturan. Sedangkan hukum nasional lebih menekankan pada pengaturan hubungan antar individu dengan individu dan Negara dalam wilayah jurisdiksi dari masing – masing Negara. Akan tetapi, pengertian ini tidak menutup kemungkinan akan terjadinya tumpang tindih mengingat pada perkembangan selanjutnya hukum internasional, sesuai dengan hakikatnya, ‘supreme’ dibanding hukum HAM internasional. Dalam hukum HAM internasional, Negara dibawah pengawasan organ – organ traktat missal the human rights committee, sebagai organ dengan fungsi quasy-judicial dari konvensi internasional tentang Hak-hak sipil dan politik, internasional Conenant Law Civil and Political Right ( ICCPR)

(5)

Dan terakhir, perbedaan yang sangat menonjol dapat dibuktikan melalui prinsif-prinsif hukum internasional yang sangat mendasarkan pada prinsif persamaan subjek Negara sebagai dasar terbentuknya hukum .( Jawahir dan Pranoto, 2006,78). Seperti yang dapayt dilihat dalam proses pembentukan huku kebiasaan atau traktat, yang menuntut supaya terdapatnya persetujuan dari Negara-negara atas dasar persamaan. Hal mana prinsif ini tidak begitu menonjol dalam hukum nasional yang serba tersentralisir.

Oleh karena itu, Lauterpacht menegaskan hukum nasional yaitu suatu hukum yang berdaulat atas subjek individu, sedangkan hukum bangsa-bangsa merupakan suatu hukum yang berada di bawah, melainkan hukum yang berdaulat antara Negara-negara, dan oleh karena itu hukum ini lebih lemah ( International Law is a law of sovereign over individual subjected to his sway, the law of nation is a law not above, but between, sovereign, and is therefore a weaker law) . ( Jawahir dan Pranoto, 2006, 79)

Pengutamaan Hukum Internasional Atau Hukum Nasional

Kelsen, dengan menggunakan doktrin hierarkinya menyatakan bahwa hukum internasional harus diutamakan bila postulat fundamental yang bertentangan itu termasuk hukum internasional. Sebaliknya apabila postulat fundamental hal yang bertentangan itu termasuk hukum nasional maka hukum nasionalah yang harus diutamakan. Teori hierarkinya kelsen menyatakan bahwa ketentuan hukum berlaku dan mengikat berdasarkan ketentuan hukum atau prinsif hukum lain yang lebih tinggi yang akhirnya berdasarkan postulat fundamental. Postulat fundamental ini dapat merupakan bagian dari hukum internasional atau dapat pula merupakan bagian dari hukum nasional.

Starke, yang juga menganut monoisme, tidak menyetujuai pengutamaan hukum nasional terhadap hukum internasional berdasrakan pada dua alasan yaitu : pemberian pengutamaan kepada hukum nasional (negara) yang jumlahnya lebih dari 150 di dunia akan menimbulkan anarkhi. Disamping itu, pengutamaan hukum nasional terhadap hukum internasional akan mengakibatkan ketergantungan berlakunya hukum internasional pada hukum nasional. Dengan kata lain, bila hukum nasional berubah hukum internasional akan menjadi berubah pula. Pendapat itu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Hukum internasional berlaku tanpa tergantung pada hukum nasioanal. Konferensi London tahun 1831 menetapkan bahwa perjanjian internasional tetap berlaku bagi negara pihak meskipun terjadi perubahan intern di negara tersebut. Strake berpendapat bahwa dalam hal terdapat pertentangan hukum internasional dan hukum nasional, hukum internasional mendapat pengutamaan. Starke membandingkan hubungan antara hukum internasional dengan hukum nasional itu seperti halnya hubungan antara hukum negara federal dengan negara bagiaannya. Dalam negara federal, negara bagian bebas menetapkan hukumnya sendiri tetapi dibatasi oleh konstitusi federal. Demikian juga halnya dalam masyarakat internasional, negara berdaulat menetapkan hukum negaranya, tetapi kedaulatannya dibatasi oleh hukum internasional. Starke mengatakan bahwa tidak semua ketentuan hukum internasional harus diutamakan terhadap hukum nasional. Hanya hukum konstitusi internasional yang mendapat pengutamaan terhadap hukum nasional.

(6)

sebagai dasar tuntutan diperadilan internasional. Dengan demikian, hukum nasional suatu negara dapat juga diutamakan berlakunya terhadap hukum internasional.

2.2 Penerapan hukum internasional ditingkat nasional

Kedudukan hukum internasional dalam peradilan nasional suatu Negara terkait dengan doktrin ‘inkorporasi’ dan doktrin ‘transformasi’. Doktrin inkorporasi menyatakan bahwa hukum internasional dapat langsung menjadi bagian dari hukum nasional. Dalam hal suatu Negara menandatangani dan meratifikasi traktat, maka perjanjian tersebut dapat secara langsung mengikat terhadap para warga Negara tanpa adanya sebuah legislasi terlebih dahulu. Contoh seperti amerika serikat, inggris, kanada, Australia dan Negara – Negara lainnya.

Sedangkan doktrin terakhir menyatakan sebaliknya tidak terdapat hukum internasional dalam hukum nasional sebelum dilakukannya ‘transformasi’ yang berupa pernyataan terlebih dahulu dari Negara yang bersangkutan. Dalam yang berupaya pernyataan terlebih dahulu dari Negara yang bersangkutan. Dalam kata lain, traktat dapat digunakan sebagai sumber hukum nasional di pengadilan sebelum dilakukannya ‘transformasi’ ke dalam hukum nasional.

Doktrin inkorporasi beranggapan bahwa hukum internasional merupkan bagian yang secara otomatis menyatu dengan hukum nasional. Dan doktrin ini lebih mendekati pada teori monoisme yang tidak memisahkan antara kedua system hukum nasional dan system hukum internasional. Sedangkan doktrin transformasi menuntut adanya tindakan positif dari Negara yang bersangkutan. Sebagaimana doktrin ini juga dikembangkan oleh teori dualisme, mendapatkan contohnya di Negara – Negara asia tenggara, termasuk juga di Indonesia.

Indonesia

Di Indonesia pemerintah secara terang – terangan mengakui akan pentingnya hukum internasional. Sehingga tidak perlu kiranya untuk membahas mengenai alasan mengapa hukum internasional dapat mengikat Negara – Negara baru, yang pada umumnya merupakan akibat dari proses dekolonisasi.

1. Hukum Kebiasaan Internasional

Berkenaan dengan hukum kebiasaan, praktek Indonesia belum menampakkan adanya sikap yang tegas. Namun, untuk beberapa hal, Indonesia menerima hukum kebiasaan internasional sebagai bagian dari hukum nasional Indonesia. Misalnya, hukum kebiasaan yang berlaku di laut, seperti tentang hak lintas damai bagi kapal – kapal asing di laut teritorial Indonesia diakui dan diterapkan oleh Indonesia serta dihormati pula oleh kapal – kapal asing, terutama sekali setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan.

(7)

diukur dari garis pangkal normal. Sampai disini dapat dikemukakan bahwa terdapat kesesuaian antara kaedah hukum kebiasaan internasionl mengenal lebar laut territorial dengan hukum atau undang-undang Indonesia mengenai hal yang sama.

Akan tetapi, pada tanggal 13 desember 1957 indonesia secara sepihak mengklaim lebar leut territorial 12 mil laut berdasarkan penarikan garis pangkal lurus dari ujung ke ujung. Konsekuensinya, Stb Tahun 1939 nomor 442 tersebut sepanjang menyangkut lebar laut territorial dan system penarikan garis pangkal normal dinyatakan tidak berlaku. Tindakan ini menunjukkan bahwa Indonesia lebih mengutamakan undang – undang atau hukum nasionalnya walaupun undang – undang nasionalnya itu lahir belakangan dibandingkan dengan hukum kebiasaan internasional tersebut.

2. Hukum Perjanjian Internasional

Beda halnya dengan sikap pemerintah Indonesia terhadap perjanjian internasional. Dalam prakteknya, sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dipengaruhi oleh beberapa sebab. Pertama,perubahan sistem pemerintahan yang pernah berlaku dalam sejarah perkembangan ketatanegaraan Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan Indonesia praktek Indonesia belumlah begitu jelas. Karena pada masa itu (antara tahun 1945-1950) Indonesia masih dalam taraf mempertahankan diri dan eksistensinya, terhadap ancaman dan serangan dari pihak luar maupuhn serangan dari dalam negeri. Dalam kondisi demikian, Indonesia tidak mudah untuk menata kehidupan ketatanegaraan dan konstitusinya secara baik dan normal.

Kedua, perubahan konstitusi Republik Indonesia Serikat ( 27 desember1949- 17 agustus 1950 dan pada masa berllakunya UUDS RI tahun 1950- 1959 praktek Indonesia menunjukan kecenderungan yang ketat terhadap masuknya perjanjian internasional menjadi hukum nasional Indonesia. Adapun pada masa berlakunya kembali UUD 1945, sebagai landasan yuridis bagi berlakunya suatu perjanjian internasional didalam hukum nasional Indonesia. Pada pasal 11 UUD 1945 setelah amandemen, yang berbunyi sebagai berikut, ‘ presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian denga Negara lain’. Dominasi kekuasaan eksekutif dalam hubungan luar negeri, tampaknya jauh lebih terjamin dalam ketentuan pasal 11,12, UUD 1945 sbelum di amandemen.

Dalam hubungan ini yang paling penting untuk diketahui adalah yang berkenaan dengan pembuatan perjanjian dengan Negara lain. Pembuatan perjanjian tersebut menyangkut Indonesia dan Negara lain yang nantinya perjanjian itu akan mengikat bagi kedua pihak dan akan menjadi bagian dari hukum nasional Indonesia. Akan tetapi, hanya dengan membaca pasal 11 itu saja, masalah yang menjadi pokok bahasan ini belumlah begitu jelas. Bahkan, pasal 11 itu sendiri masih menimblkan berbagai masalah yang membutuhkan jawaban yang tegas.

Pasal 11 UUD 1945 perubahan keempat menyatakan

(i) presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain.

(ii) Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainya yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan Negara, dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

(8)

BAB III PENUTUP

3.1 Simpulan

Tentang hubungan hukum internasional dan hukum nasional terdapat dua teori yang utama. Yakni teori monoisme dan dualisme. Teori monoisme menyatakan bahwa hukum internasional dan hukum nasional masing – masing merupakan dua aspek dari satu sistem hukum. Struktur hukum intern menetapkan bahwa hukum mengikat individu secara perorangan dan secara kolektif. Hukum internasional mengikat individu secara kolektif sedangkan hukum nasional mengikat individu secara perorangan. Teori dualisme menyatakan bahwa hukum internasional dan hukum nasional masing – masing merupakan dua sistem hukum yang berbeda secara intrinsik. Triepel menyatakan bahwa hukum internasional berbeda dengan hukum nasional karena berbeda subyek dan sumbernya.

Selain teori monoisme dan dualisme diatas terdapat juga teori koordinasi yang bisa dikatakan sebagai kelompok moderat. Teori ini beranggapan apabila hukum internasional memiliki lapangan berbeda sebagaimana hukum nasional, sehingga kedua sistem hukum tersebut memiliki keutamaan di wilayah kerjanya masing – masing. Kelompok ini beranggapan hukum internasional dengan hukum nasional tidak bisa dikatakan terdapat masalah pengutamaan. Masing – masing berlaku dalam eranya sendiri. Oleh karena itu tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah diantara hukum internasional atau hukum nasional. Anzilotti berpahaman bahwa hukum nasional ditujukan untuk ditaati sedangkan hukum internasional dibentuk dengan dasar persetujuan yang dibuat antar Negara ditujukan untuk dihormati. Pemahaman anzilotti ini pada saat ini sangat diragukan. Karena jika hukum internasional hanya didasarkan pada persetujuan, sebagaimana tercermin dalam prinsip pacta sunt servanda, maka persoalan – persoalan yang bersama dan mendesak seperti perlindungan terhadap lingkungan dan HAM akan menemui jalan buntu. Dengan demikiann, perbedaan antara hukum nasional dan hukum internasional sebagaimana yang dikemukakan oleh kelompok dualisme tersebut diatas untuk kurun waktu sekarang ini sudah tidak relevan lagi. Hal ini disebatkan karena sudah terjadi perubahan dan perkembangan yang sangat mendasar atas struktur masyarakat internasional maupun hukum internasional itu sendiri.

Disamping memiliki hubungan satu sama lain hukum internasional dan hukum nasional juga memiliki perbedaan. Terdapat perbedaan – perbedaan yang krusial antara hukum nasional dengan hukum internasional, pertama adalah objek pengaturan dari kedua system hukum itu sendiri terdapat perbedaan. Hukum internasional memiliki negra sebagai objek utama dari pengaturan. Sedangkan hukum nasional lebih menekankan pada pengaturan hubungan antar individu dengan individu dan Negara dalam wilayah jurisdiksi dari masing – masing Negara.

(9)

hukum internasional. Hukum internasional tidak memiliki badan-badan seperti legislative, eksekutif dan yudikatif sebagaimna halnya dalam hukum nasional.

Kedudukan hukum internasional dalam peradilan nasional suatu Negara terkait dengan doktrin ‘inkorporasi’ dan doktrin ‘transformasi’. Doktrin inkorporasi menyatakan bahwa hukum internasional dapat langsung menjadi bagian dari hukum nasional.

Sedangkan doktrin terakhir menyatakan sebaliknya tidak terdapat hukum internasional dalam hukum nasional sebelum dilakukannya ‘transformasi’ yang berupa pernyataan terlebih dahulu dari Negara yang bersangkutan.

Doktrin inkorporasi beranggapan bahwa hukum internasional merupkan bagian yang secara otomatis menyatu dengan hukum nasional. Dan doktrin ini lebih mendekati pada teori monoisme yang tidak memisahkan antara kedua system hukum nasional dan system hukum internasional. Sedangkan doktrin transformasi menuntut adanya tindakan positif dari Negara yang bersangkutan. Sebagaimana doktrin ini juga dikembangkan oleh teori dualisme, mendapatkan contohnya di Negara – Negara asia tenggara, termasuk juga di Indonesia.

Di Indonesia pemerintah secara terang – terangan mengakui akan pentingnya hukum internasional. Sehingga tidak perlu kiranya untuk membahas mengenai alasan mengapa hukum internasional dapat mengikat Negara – Negara baru, yang pada umumnya merupakan akibat dari proses dekolonisasi.

Hukum Kebiasaan Internasional

Berkenaan dengan hukum kebiasaan, praktek Indonesia belum menampakkan adanya sikap yang tegas. Namun, untuk beberapa hal, Indonesia menerima hukum kebiasaan internasional sebagai bagian dari hukum nasional Indonesia. Misalnya, hukum kebiasaan yang berlaku di laut, seperti tentang hak lintas damai bagi kapal – kapal asing di laut teritorial Indonesia diakui dan diterapkan oleh Indonesia serta dihormati pula oleh kapal – kapal asing, terutama sekali setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan.

Hukum Perjanjian Internasional

Beda halnya dengan sikap pemerintah Indonesia terhadap perjanjian internasional. Dalam prakteknya, sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dipengaruhi oleh beberapa sebab. Pertama,perubahan sistem pemerintahan yang pernah berlaku dalam sejarah perkembangan ketatanegaraan Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan Indonesia praktek Indonesia belumlah begitu jelas. Karena pada masa itu (antara tahun 1945-1950) Indonesia masih dalam taraf mempertahankan diri dan eksistensinya, terhadap ancaman dan serangan dari pihak luar maupuhn serangan dari dalam negeri. Dalam kondisi demikian, Indonesia tidak mudah untuk menata kehidupan ketatanegaraan dan konstitusinya secara baik dan normal.

(10)
(11)

1 . P e r j a n j i a n i n t e r n a s i o n a l (

) dan pendapat para ahli yang

telahd i a k u i k e p a k a r a n n y a , y a n g m e r u p a k a n s u m b e r h u k u m i n t e r n a s i o n a l tambahan.Mahkamah Internasional juga sebenarnya bisa mengajukan keputusan exa e q u o e t b o n o

, y a i t u d i d a s a r k a n p a d a k e a d i l a n d a n k e b a i k a n , d a n b u k a n berdasa rkan hukum, namun hal ini bisa dilakukan jika ada kesepakatan antar negara-negara yang bersengketa. Keputusan Mahkamah Internasional sifatnyaf i n a l , t i d a k d a p a t b a n d i n g d a n h a n ya m e n g i k a t p a r a p i h a k . K e p u t u s a n j u g a diambil atas dasar suara mayoritas. Yang dapat menjadi pihak hanyalah

negara,n a m u n s e m u a j e n i s s e n g k e t a d a p a t d i a j u k a n k e M a h k a m a h I

Menurut teori Dualisme, hukum internasional dan hukum nasional, merupakandua sistem hukum yang secara keseluruhan berbeda. Hukum internasional dan

hukumn a s i o n a l m e r u p a k a n d u a s i s t e m h u k u m y a n g t e r p i s a h , t i d a k s a l i n g m e m p u n y a i h u b u n g a n s u p e r i o r i t a s a t a u s u b o r d i n a s i . B e r l a k u n ya h u k u m i n t e r n a s i o n a l d a l a m lingkungan hukum nasional memerlukan ratifikasi

menjadi hukum nasional. Kalau ada pertentangan antar keduanya, maka yang diutamakan adalah hukum nasional suatunegara.Sedangkan

menurut teori Monisme, hukum internasional dan hukum nasionalsaling berkaitan satu sama lainnya. Menurut teori Monisme, hukum internasional ituadalah

lanjutan dari hukum nasional, yaitu hukum nasional untuk urusan luar

negeri.Menurut teori ini, hukum nasional kedudukannya lebih rendah dibanding dengan hukuminternasional. Hukum nasional tunduk dan harus sesuai dengan hukum internasional.(Burhan Tsani, 1990; 26)Berangkat dari pentingnya hubungan

(12)

dan Organisasi Internasional), menentukanhak dan kewajiban badan tersebut serta membatasi hubungan yang terjadi antara personhukum tersebut dengan masyarakat sipil.

DAFTAR PUSTAKA

Ardiwisastra Yudha Bhakti, 2003, Hukum Internasional

, B u n g a R a m p a i , A l u m n i , Bandung.Burhantsani, Muhammad, 1990; Hukum dan Hubungan Internasional

, Yo g ya k a r t a : Penerbit Liberty.Disarikan dari paparan ilmiah Abdul Hakim Garuda Nusantara, dalam Dialog Interaktif,“

A r t i P e n g e s a h a n D u a K o v e n a n H A M b a g i P e n e g a k a n H u k u m

, ” d i H o t e l Acacia, Jakarta, pada 9 Maret 2006, yang diselenggarakan oleh Komisi Hukum Nasional RI.Hans Kelsen,

Te o r i U m u m Te n t a n g H u k u m d a n N e g a r a

(terj), (Bandung: Nuansa,2006), hal. 512-513.J.G. Starke, Pengantar Hukum Internasional Buku 2

(terj), (Jakarta: Sinar Grafika,1992), hal. 98. Lihat juga Boer Mauna, Hukum Internasional

, (Bandung:Alumni, 2000), hal. 12-13. Lebih lanjut mengenai pandangan Kelsen ini dapat dilihat dalam beberapa tulisan Kelsen,

Teori Hukum Murni: Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif , hal. 353.

Teori Umum Tentang Hukum dan Negara , hal. 511.

Ibid

, hal. 97.Kusamaatmadja Mochtar, 1999, Pengantar Hukum Internasional

, Cetakan ke-9, PutraAbardin.Mauna Boer, 2003,

Hukum Internasional; Pengertian, Peran dan Fungsi dalam Era Dinamika Global, Cetakan ke-4, PT. Alumni, Bandung.P h a r t i a n a I Wa ya n , 2 0 0 3 ,

Pengantar Hukum Internasional

, P e n e r b i t M a n d a r m a j u , Bandung.S i t u n i F. A . W h i s n u , 1 9 8 9 , Identifikasi dan Reformulasi Sumber-Sumber Hukum Internasional

(13)

Sabtu, 24 Mei 2014

Makalah BAB II Hubungan Hukum Internasional dan

Hukum Nasional PKN

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Hukum Internasional

Hukum Internasional adalah hukum yang berlaku di dua Negara atau lebih yang mengatur tentang aktivitas berskala Internasional. Hukum Internasional merupakan hukum antar Negara atau antar bangsa yang menunjukkan pada kompleks asas dan keedah yang mengatur hubungan

antar masyarakat bangsa-bangsa atau Negara. 2.1.1 Macam-macam Hukum Internasional

Terdapat 2 macam Hukum internasional diantaranya, yaitu:

1. Hukum Publik Internasional merupakan hukum internasional yang

mengatur antara negara yang satu dengan lainnya dalam hubungan internasional (Hukum ini disebut hukum Antarnegara).

(14)

yang berasal dari negara lain (hukum ini disebut hukum antar bangsa). Subjek hukum Internasional terdiri dari : Individu, Negara, Tahta Suci / Vatican, Palang Merah Internasional, Organisasi Internasional. 2.1.2 Asas-asas Hukum Internasional

Berikut ini adalah asas-asas yang berlaku dalam hukum internasional: 1. Asas Teritorial: Negara menjalankan hukum untuk semua orang serta barang yang ada di wilayahnya.

2. Asas Kebangsaan: setiap warganegara dimanapun keberadaanya tetap memperoleh perlakuan hukum dari nearanya.

3. Asa Kepentingan Umum: Negara bisa menyesuaikan diri terhadap seluruh peristiwa atau keadaan yang ada sangkut pautnya dengan kepentingan umum.

2.2 Pengertian Hukum Nasional

Hukum nasional adalah peraturan hukum yang berlaku di suatu Negara yang terdiri atas prinsip-prinsip serta peraturan yang harus ditaati oleh masyarakat pada suatu Negara.

Hukum Nasional merupakan sebuah sistem hukum yang dibentuk dari proses penemuan, pengembangan, penyesuaian dari beberapa sistem hukum yang telah ada. Hukum Nasinonal di Indonesia adalah hukum yang terdiri atas campuran dari sistem hukum agama, hukum eropa,

dan hukum adat. Hukum Agama, itu karena mayoritas masyarakat Indonesia memeluk agama Islam,

maka syari’at Islam lebih mendominasi terutama pada bidang kekeluargaan, perkawinan, dan warisan. Sistem Hukum Nasional yang diikuti sebagian besar berbasis pada hukum Eropa continental baik itu hukum perdata maupn hukum pidana. Hukum Eropa yang di ikuti khususnya dari belanda itu karena di masa lampau Indonesia merupakan Negara jajahan Belanda. Sistem Hukum adat juga merupakan bagian dari hukum nasional, karena di Indonesia masih kental dengan aturan-aturan adat setempat dari masyarakat serta budaya yang ada di wilayah Indonesia.

2.3 Hubungan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional

(15)

“ Hukum Internasional merupakan bagian dari hukum pada umumnya. Hal ini tidak dapat dielakan apanila kita hendak melihat hukum internasional sebagai perangkat ketentuan dan asas yang efektif yang benar-benar hidup dalam kenyataan, sehingga mempunyai hubungan dengan hukum nasional”

Karena pentingnya hukum nasional masing-masing negara dalam konstelasi politik dunia dewasa ini, dengan sendirinya penting pula persoalan bagaimanakah hubungan antara berbagai hukum nasional itu dengan hukum internasional.

2.3.1 Beberapa pandangan mengenai Hukum Internasional dan Nasional

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa dalam teori ada dua pandangan tentang hukum internasional yaitu:

- Pandangan yang dinamakan “Voluntarisme” yang mendasarkan berlakunya hukum internasional ini

pada kemauan negara

- Pandangan yang “obyektivitas” yang menganggap ada dan berlakunya hukum internasional ini pada

kemauan negara.

Dari pandangan yang berbeda di atas menimbulkan akibat yang berbeda yaitu:

- Pandangan “Voluntarisme” mengakibatkan adanya hukum internasional dan hukum nasional

sebagai dua satuan perangkat hukum yang hidup berdampingan dan terpisah

- Pandangan obyektivitas menganggapnya dua bagian dari satu kesatuan perangkat hukum . hal ini

erat hubunganya dengan persoalan hubungan hierarki antara kedua perangkat hukum itu baik masing-masing berdiri sendiri maupun dua perangkat hukum itu merupakan dari satu kesatuan dari satu keseluruhan tata hukum yang sama.

a. Aliran Dualisme

Tokoh utama dari aliran ini ialah “Triepel” seorang pemuka aliran positivism dan “Anzilotti”pemuka aliran positivisme dari italia.

Menurut paham dualism, “ daya ikat hukum internasional bersumber pada kemauan negara”, hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem hukum yang terpisah satu dari yang lainnya. Alasan terletak atau didasarkan pada kenyataan diantaranya, yaitu :

1.) Kedua perangkat hukum tersebut yakni hukum nasional dan hukum internasional mempunyai sumber

yang berlainan, hukum nasional bersumber pada “kemauan negara”, sedangkan hukum internasional bersumber pada kemauan bersama masyarakat negara.

2.) Berlaianan subyek hukumnya

(16)

3.) Perbedaan dalam strukturnya

Lembaga yang diperlukan untuk melaksanakan hukum dalam kenyataannya seperti, mahkamah dan organ eksekutif hanya ada dalam hukum nasional.

4.) Daya laku atau keabsahan kaidah hukum nasional tidak terpengaruh oleh kenyataan bahwa hukum

nasional itu bertentangan dengan hukum internasional. Akibat Pandangan Dualisme ini, antara lain :

1.) Kaidah-kaidah dari perangkat hukum yang satu tidak mungkin bersumber atau berdasar pada

perangkat hukum yang lain. (tidak ada persoalan hierarki)

2.) Tidak mungkin ada pertentangan antara kedua perangkat hukum tersebut.

3.) Ketentuan hukum internasional memerlukan tarnsformasi menjadi hukum nasional.

b. Paham Aliran Monisme

Paham monisme didasarkan atas pemikiran kesatuan dari seluruh hukum yang mengatur hidup manusia. Dengan demikian hukum internasional dan hukum nasional merupakan bagian dari satu kesatuan yang lebih besar yaitu hukum yang mengatur kehidupan manusia.

Akibat pandangan ini:

 Bahwa antara dua perangkat ketentuan hukum ini. mungkin ada hubungan

hierarki

Persoalan hierarki anatara dua perangkat hukum (hukum nasional dan hukum internasional) ini. melahrkan beberapa sudut pandang yang berbeda dalam aliran monisme. Mengenai hukum manakah yang utama. Ada pihak yang beranggapan bahwa dalam hubungan antara hukum nasional dan hukum internasional yang utama adalah hukum nasional dan ada pandangan yang sebalinya yaitu bahwa hukum iternasional yang pertama disebut “Paham monisme dengan primat hukum nasional “ dan pandangan yang kedua disebut “ Paham monisme dengan primat hukum internasional”

- Pandangan monisme dengan primat hukum nasional

Menurut pandangan monisme dengan primat nasional ini, hukum internasional itu tidak lain dari atau merupakan lanjutan hukum nasional atau tidak lain dari hukum nasional untuk urusan luar negeri atau “Auszeres Staatsrecht”

(17)

Alasan utama anggapan ini ialah ;

1.) Bahwa tidak ada satu organisasi di atas negara-negara yang mengatur kehidupan negara-negara di

dunia

2.) Dasar hukum internasional yang mengatur hubungan internasional terletak dalam wewenang negara

untuk mengadakan perjanjian internasional Kelemahan paham monisme ini, ialah :

1.) Terlalu memandang hukum itu sebagai hukum yang tertulis saja, sehingga sebagai hukum

internasional dianggap hanya hukum yang bersumberkan perjanjian internasional saja.

2.) Bahwa pada hakikatnya pendirian paham monisme dengan primat hukum nasional ini merupakan

penyangkalan terhadap adanya hukum internasional , sebab apabila terikatnya negara pada hukum internasional digantungkan pada hukum nasional. Hal ini sama-sama saja menggantungkan berlakunya hukum internasional itu pada kemauan negara.

- Paham monisme dengan primat hukum internasional

1.) Hukum nasional itu bersumber pada hukum internasional karena hukum ini secara hierarkis lebih

tinggi dari hukum nasional

2.) Hukum nasional tunduk pada hukum internasional dan pada hakikatnya kekeuatan mengikatnya

berdasarkan “ Pendelegasian wewenang “ dari hukum internasional Kelemahan paham monisme ini :

1.) Pandangan bahwa hukum nasional, itu tergantung kepada hukum internasional (juga kekuatannya )

seolah-olah mendalilkan bahwa hukum internasional telah ada lebih dahulu dari hukum nasional. 2.) Tidak benar bahwa hukum nasional itu kekeuatan mengikatnya diperoleh dari hukum

internasional.

2.4Proses ratifikasi Hukum Internasional menjadi hukum nasional

Ada beberapa cara agar hukum Internasional menjadi hukum nasional, yaitu :

2.4.1 Proses Ratifikasi menurut UUD 1945

Dasar Hukum Perjanjian Internasional dalam ketentuan UUD 1945 setelah mengalami perubahan ialah Pasal 11 yang menyatakan:

(1) Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain. (2) Presiden dalam membuat Perjanjian Internasional lainnya yang

(18)

yang terkait dengan beban keuangan Negara, dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukkan Undang-Undang harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

(3) Ketentuan lebih lanjut tentang Perjanjian Internasional diatur dengan Undang-Undang.

Pasal 11 UUD tersebut satu-satunya Pasal dalam UUD 1945 yang menyebutkan didalamnya adanya kata “Perjanjian Internasional”, oleh karena itu perlu dikaji lebih dahulu dalam konteks apa UUD 1945 tersebut mengatur hal Perjanjian Internasional.

Pasal 11 termasuk dalam Bab III yang berjudul Kekuasaan Pemerintahan Negara yang di dalam substansi pasal-pasalnya mengatur tentang Presiden dalam sistem UUD 1945. Bab III UUD ini mengalami perubahan yang sangat banyak apabila dibandingkan dengan Bab III UUD sebelum perubahan. Disamping perubahan isi pasal-pasal perubahan UUD juga menambahkan pasal-pasal baru dalam Bab III ini yaitu : Pasal 6A, Pasal 7A, Pasal 7B, Pasal 7C.

“Pihak Negara lain secara prima facie dan secara hukum dapat memastikan bahwa apa yang dinyatakan oleh Presiden Indonesia tidak lain adalah pernyataan keinginan Negara Indonesia yang artinya Negara lain tersebut tidak harus perlu berhubungan dengan lembaga Negara yang lain untuk mengetahui maksud atau kehendak Negara Indonesia dalam membuat kesepakatan dengan

pihaknya.”Pasal 11 sebelum perubahan merupakan pasal tunggal tak berayat yang berbunyi:

“Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain”, dan setelah perubahan UUD ketentuan yang terdapat dalam Pasal ini menjadi ayat (1) Pasal 11 tanpa dilakukan perubahan bunyi aslinya. Kedudukan Presiden dalam UUD setelah perubahan berbeda dengan kedudukan Presiden sebelum perubahan, hal tersebut dikarenakan adanya perubahan dalam Pasal 5 ayat (1) UUD. Sebelum perubahan Pasal 5 ayat (1) menyatakan: “Presiden memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat”, sedangkan setelah perubahan Pasal tersebut menjadi berbunyi: “Presiden berhak mengajukan Rancangan Undang-Undang kepada Dewan Perwakilan Rakyat”. Pasal 20 ayat (1) UUD setelah perubahan berbunyi: “Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang”. Dari perubahan Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1) tersebut terjadi pengalihan pembuatan Undang-Undang dari tangan Presiden ke DPR.

Perubahan demikian juga menyebabkan perubahan pada apa yang dimaksud sebagai Kekuasaan Pemerintahan Negara oleh Bab III UUD. Sebelum perubahan UUD, Kekuasaan Pemerintahan Negara yang berada di tangan Presiden meliputi:

(1) kekuasaan eksekutif (vide Pasal 4 ayat (1) UUD);

(2) kekuasaan membentuk Undang-Undang (vide Pasal 5 ayat (1) UUD sebelum perubahan

(19)

Setelah perubahan UUD, Kekuasaaan Pemerintahan Negara yang diatur dalam Bab III menjadi hanya meliputi kekuasaan saja yaitu:

(1) kekuasaan eksekutif;

(2) kekuasaan sebagai kepala Negara.

Bab III UUD mengandung substansi yang berhubungan dengan lembaga Presiden dalam sistem UUD 1945 dimana didalamnya termasuk kewenangan Presiden untuk menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain. Kedudukan Presiden dalam sistem presidensiil menjalankan dua fungsi sekaligus yang melekat yaitu sebagai kepala eksekutif dan sebagai kepala Negara. Dengan adanya Pasal 11 tersebut UUD 1945 menetapkan bahwa Presidenlah yang mewakili Negara dalam melakukan hubungan dengan Negara lain dan bukan lembaga Negara lainnya. Perjanjian perjanjian yang harus mendapatkan persetujuan DPR adalah perjanjian yang mengandung materi sebagai berikut :

a. soal-soal politik atau soal-soal yang dapat memengaruhi haluan politik negara seperti perjanjian-perjanjian persahabatan dan perjanjian-perjanjian perubahan wilayah atau tapal batas.

b. ikatan-ikatan yang demikian rupa sifatnya sehingga dapat memengaruhi haluan politik negara, perjanjian ekonomi atau pinjaman uang

c. soal-soal yang menurut UUD atau menurut sistem perundingan harus diatur dengan undang undang seperti soal kewarganegaraan atau kehakiman.

d. perjanjian lainnya diluar pihak tersebut, biasanya hanya berbentuk agreement yang perlu diberitahukan kepada DPR

2.4.2 Proses Ratifikasi menurut UU No.24 tahun 2000

Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan :

1. Perjanjian Internasional adalah perjanjian, dalam bentuk dan nama tertentu, yang diatur dalam hukum internasional yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik.

(20)

3. Surat Kepercayaan (Credentials) adalah surat yang dikeluarkan olehPresiden atau Menteri yang memberikan kuasa kepada satu atau

beberapa orang yang mewakili Pemerintah Republik Indonesia untuk menghadiri, merundingan, dan/atau menerima hasil akhir suatu pertemuan internasional

4. Organisasi Internasional adalah organisasi antar pemerintah yang diakui Sebagai subjek hukum internasional dan mempunyai kapasitas untuk membuat perjanjian internasional

5. Menteri memberikan pertimbangan politis dan mengambil langkah langkah yang diperlukan dalam pembuatan dan pengesahan perjanjian

internasional, dengan berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat dalam hal yang menyangkut kepentingan publik.

6. Pemerintah Republik Indonesia mengikatkan diri pada perjanjian internasional melalui cara-cara sebagai berikut :

a. Penandatangan; b. pengesahan;

c. pertukaran dokumen perjanjian/nota diplomatik;

d. cara-cara lain sebagaimana disepakati para pihak dalam perjanjian internasional.

7. Pembuatan perjanjian internasional dilakukan melalui tahap penjajakan, perundingan, perumusan naskah, penerimaan, dan penandatanganan. 8. Penandatanganan suatu perjanjian internasional merupakan persetujuan atas naskah perjanjian internasional tersebut yang telah dihasilkan dan/atau merupakan pernyataan untuk mengikatkan diri secara definitif sesuai dengan kesepakatan para pihak.

9. Pengesahan perjanjian internasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan undang-undang atau keputusan presiden.

(21)

apabila berkenaan dengan :

a. masalah politik, perdamaian, pertahanan, dan keamanan negara; b. perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara Republik

Indonesia;

c. kedaulatan atau hak berdaulat negara; d. hak asasi manusia dan lingkungan hidup; e. pembentukan kaidah hukum baru; f. pinjaman dan/atau hibah luar negeri.

11. Dalam mengesahkan suatu perjanjian internasional, lembaga pemrakarsa

yang terdiri atas lembaga negara dan lembaga pemerintah, baik departemen maupun non departemen, menyiapkan salinan naskah perjanjian, terjemahan, rancangan undangundang, atau rancangan keputusan presiden tentang pengesahan perjanjian

internasional dimaksud serta dokumen-dokumen lain yang diperlukan. 12. Perjanjian internasional berakhir apabila :

a. terdapat kesepakatan para pihak melalui prosedur yang ditetapkan dalam perjanjian;

b. tujuan perjanjian tersebut telah tercapai;

c. terdapat perubahan mendasar yang menpengaruhi pelaksanaan perjanjian;

d. salah satu pihak tidak melaksanakan atau melanggar ketentuan perjanjian;

e. dibuat suatu perjanjian baru yang menggantikan perjanjian lama; f. muncul norma-norma baru dalam hukum internasional;

g. objek perjanjian hilang;

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Ardiwisastra Yudha Bhakti, 2003, Hukum Internasional, Bunga Rampai, Alumni, Bandung.

http://alisarjuni.blogspot.com/2013/05/hubungan-hukum-internasional-dan-hukum.html

http://isna2464.blogspot.com/2013/01/proses-ratifikasi-hukum-internasional_22.html

http://kicauanpenaku.blogspot.com/2012/12/hubungan-antara-hukum-internasional-dan.html

http://marada08128.blogspot.com/2013/02/hubungan-hukum-internasional-dengan.html

http://temukanpengertian.blogspot.com/2013/08/pengertian-hukum-internasional.html

http://temukanpengertian.blogspot.com/2013/08/pengertian-hukum-nasional.html

Sefriani. 2010. Hukum Internasional. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

Diposkan oleh AS`anrar di 19.03

Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Bagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)

About Me

AS`anrar

(23)

Transelatte

Archives

 ▼ 2014 (28) o ► Juli (1) o ► Juni (2) o ▼ Mei (8)

 Lirik Lagu Dhyo Haw - Always Positive

 Beasiswa Jepang

 Makalah BAB II Hubungan Hukum Internasional dan Hu...

 Cara Membuat Karikatur dengan CorelDRAW

 Setting Desain coreldraw Sebelum Dibawah Ke Jasa P...

 Cara Menghapus Background Putih Pada Objek Foto di...

 Cara meningkatkan performa Coreldraw

 crack corel draw x4 dan x5

o ► April (2) o ► Maret (3) o ► Februari (2) o ► Januari (10)

 ► 2013 (20) Pages - Menu

 Beranda Total Visitor

2,613

Popular Posts

 Sistem Buffer pada tubuh manusia

Buffer adalah zat yang dapat mempertahankan pH ketika ditambah sedikit asam/basa atau ketika diencerkan. Buffer memiliki dua macam : ...

 Asma`ulhusna AL-AZIZ

Pengertian Al Aziz 1. Al-Aziz ( Arab : زيزعلا , Al- Azīz ) merupakan kata dalam bahasa Arab ʿ berakar dari huruf A-Z-Z yang bera...

 Makalah BAB II Hubungan Hukum Internasional dan Hukum Nasional PKN

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Hukum Internasional Hukum Internasional adalah hukum yang berlaku di dua Negara atau lebih yang ...

 Makalah Ahklak dalam pergaulan remaja

(24)

Cara Membuat Karikatur dengan CorelDRAW

Cara Membuat Karikatur dengan CorelDRAW Karikatur adalah sebuah penggambaran potret yang dilebih-lebihkan dengan membuat suatu bent...

 Cheat tempat untuk pokemon emerald GBA

berikut ini adalah beberapa cuil code cheat untuk pokemon emerald GBA visualboy ; Have FUN !.... 1.utk warp ke faraway island(mew), birt...

 crack corel draw x4 dan x5

CorelDRAW Graphics Suite X4 Purchase serial number: DR14B16-9P7XVQF-UDQY8C5-UWU2863-LM552 Activation Code:2ACF-39B8-6426-A6B1-7A77 seri...

 Pengertian Demokrasi liberal

Demokrasi Liberal Demokrasi liberal (atau demokrasi konstitusional ) adalah sistem politik yang melindungi secara konstit...

 Pidato penyuluhan narkoba

Teks Pidato Penyuluhan Narkoba By key'fajar yola-V xhey xha, on December 10th, 2011 Teks Pidato Penyuluhan Narkoba Assalamu’a...

What THE ****.1cak

What THE ****.1cak

Blogger templates

About

Blogger news

Blogroll

divine-music.info

(25)

Referensi

Dokumen terkait

The stages involved in chip removal are: workpiece moves relative to a cutting edge, which then penetrates the surface, the workpiece material near the

Bila fakta yang disajikan berupa fakta umum yang obyektif dan dapat dibuktikan benar tidaknya serta ditulis secara ilmiah, yaitu menurut prosedur penulisan ilmiah, maka karya

Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Contoh 2 yang telah diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, apabila dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun

Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kondisi optimum parameter-parameter yang mempengaruhi proses ekstraksi oleoresin jahe

Terdapat beberapa kegiatan yang dapat mengasah keterampilan motorik kasar anak, diantaranya yaitu dengan menerapkan pembelajaran yang menarik sesuai dengan kurikulum

(1) Komponen retribusi pelayanan kesehatan Rawat Inap sebagaimana dimaksud pada Pasal 11 tidak termasuk tindakan medik non operatif, alat kesehatan bahan habis

Hijab adalah selembar kain yang menutupi aurat rambut wanita dari pandangan yang bukan mukhrimnya, dan pemakaian hijab merupakan salah satu ketentuan yang berlaku dalam