• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Akhir Management Trainee Pengemb

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Akhir Management Trainee Pengemb"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

Disusun Oleh :

NURRAHMAN WAHID, S.E

(2)

i

HALAMAN PENGESAHAN

Makalah akhir yang berjudul :

OPTIMALISASI

STOCK

DENGAN

MENGGUNAKAN

PENGEBONAN MATERIAL “SISTEM LOT SIZE” PADA

PRODUKSI SWH TIPE 150 LXC DI PT WIKA INDUSTRI ENERGI

PERIODE OKTOBER

DESEMBER 2013

ini telah diperiksa dan disahkan pada : Hari/Tanggal :

Mengesahkan,

(3)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah

akhir dengan judul "

OPTIMALISASI

STOCK

DENGAN

MENGGUNAKAN PENGEBONAN MATERIAL “SISTEM LOT

SIZE” PADA PRODUKSI SWH TIPE 150 LXC DI PT WIKA

INDUSTRI ENERGI PERIODE OKTOBER

DESEMBER 2013

" ini dengan baik.

Penulis dalam menyelesaikan tugas ini banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Bapak Firmansyah, ST yang telah membimbing penulis dalam masa management trainee dan pengerjaan makalah.

2. Bapak Agus Walujo, S.E yang telah membimbing penulis dalam masa management trainee.

3. Bapak Kotot, S.T yang telah membimbing penulis dalam pengerjakan makalah. 4. Bapak Heru.W, S.T yang telah membimbing penulis dalam pengerjakan

makalah.

5. Segenap rekan-rekan PT WIKA Industri Energi yang telah mendukung dan membantu penulis dalam menjalani masa management trainee dengan baik. Demikian sepatah kata dari penulis, saran yang membangun sangat dinantikan, semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, February 2014

(4)

iii

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ... i

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi ... iii

Bab I Pendahuluan ... 1

1.1Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Makalah... 3

1.3 Tujuan Penelitian dan Sasaran Peneitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.5 Batasan Makalah ... 4

1.6 Sistematika Penulisan ... 4

Bab II Landasan Teori... 7

2.1 Pengertian Pabrik / Industri ... 7

2.2 Pengertian dan Jenis-Jenis Proses Produksi ... 12

2.2.1 Pengertian Produksi ... 12

Bab III Metodologi Penelitian ... 27

3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasioanal Variabel ... 27

(5)

iv

3.4.5 Analisis Data Realisasi Produksi... 29

3.5 Obyek Penelitian ... 30

Bab IV Analisa Sistem ... 31

4.1 Deskripsi Umum Perusahaan ... 31

4.1.1 Sejarah Perusahaan ... 31

4.1.2 Struktur Organisasi ... 33

4.1.3 Proses Produksi ... 35

4.1.4 Permintaan Produksi ... 39

4.1.5 Kebutuhan Material ... 39

4.1.6 Rencana Produksi ... 40

4.1.7 Bon Stock Material ... 42

4.1.8 Realisasi Produksi ... 43

4.1.9 WIP ... 44

4.1.10 Prosedur Bon ... 45

4.1.11 Analisis gap material Oktober ... 46

4.1.12 Analisis gap material November ... 50

4.1.13 Analisis gap material Desember ... 53

Bab V Perancangan Sistem Lot ... 56

5.1 Pengantar ... 56

5.2 Analisa Penerapan Usulan ... 59

5.2.1 Analisis Oktober ... 59

5.2.2 Analisis November ... 63

5.2.3 Analisis Desember ... 67

Bab VI Kesimpulan Dan Saran ... 76

6.1 Kesimpulan ... 76

6.2 Saran ... 78

(6)

v

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Variabel, Indikator dan skala Pengukuran ... 27

Tabel 4.1 Rencana Penjualan 2013 ... 39

Tabel 4.2 Kebutuhan Material ... 40

Tabel 4.3 Rencana Produksi Oktober ... 40

Tabel 4.4 Rencana Produksi November ... 41

Tabel 4.5 Rencana Produksi Desember ... 41

Tabel 4.6 Bon Stock Material Oktober ... 42

Tabel 4.7 Bon Stock Material November ... 42

Tabel 4.8 Bon Stock Material Desember ... 43

Tabel 4.9 Realisasi Oktober ... 43

Tabel 4.10 Realisasi November ... 43

Tabel 4.11 Realisasi Desember ... 44

Tabel 4.12 WIP Oktober ... 44

Tabel 4.13 WIP November ... 44

Tabel 4.14 WIP Desember ... 45

Tabel 4.15 Material Masuk Ke Produksi ... 47

Tabel 4.16 Kebutuhan Produksi ... 47

Tabel 4.17 WIP ... 48

Tabel 4.18 Realisasi Produksi ... 48

Tabel 4.19 WIP ... 49

Tabel 4.20 Realisasi Produksi ... 49

Tabel 4.21 Material Masuk Ke Produksi ... 50

Tabel 4.22 Komponen Yang dibutuhkan ... 50

Tabel 4.23 WIP ... 51

Tabel 4.24 Realisasi Produksi ... 51

Tabel 4.25 WIP ... 52

(7)

vi

Tabel 4.27 Material Masuk ... 53

Tabel 4.28 Komponen Yang Dibutuhkan ... 53

Tabel 4.29 WIP ... 54

Tabel 4.30 Realisasi Produksi ... 54

Tabel 4.31 WIP ... 55

Tabel 4.31 Realisasi Produksi ... 55

Tabel 5.1 Rencana Produksi ... 59

Tabel 5.2 Perencanaan Bon Material Mingguan ... 60

Tabel 5.3 WIP ... 60

Tabel 5.4 WIP ... 61

Tabel 5.5 Perencanaan Bon Material ... 62

Tabel 5.6 Perencanaan WIP ... 62

Tabel 5.7 WIP ... 63

Tabel 5.8 Rencana Produksi ... 63

Tabel 5.9 Perencanaan Bon Material Mingguan ... 64

Tabel 5.10 Perkiraan WIP ... 64

Tabel 5.11 WIP ... 65

Tabel 5.12 Perencanaan Bon Material Mingguan ... 65

Tabel 5.13 Perkiraan WIP ... 66

Tabel 5.14 WIP ... 66

Tabel 5.15 Rencana Produksi ... 67

Tabel 5.16 Perencanaan Bon Material Mingguan ... 67

Tabel 5.17 Perkiraan WIP ... 68

Tabel 5.18 WIP ... 68

Tabel 5.19 Perencanaan Bon Material Mingguan ... 69

Tabel 5.20 Perkiraan WIP ... 69

Tabel 5.21 WIP ... 70

Tabel 5.22 Perbandingan Sistem Lot dengan Sistem Sekarang ... 70

Tabel 5.23 Sistem Lot ... 71

Tabel 5.24 Sistem Sekarang ... 72

(8)

vii

Tabel 5.26 Sistem Sekarang ... 72

Tabel 5.27 Sistem Lot ... 73

Tabel 5.28 Sistem Sekarang ... 73

Tabel 5.29 Sistem Lot ... 73

Tabel 5.30 Sistem Sekarang ... 74

Tabel 5.31 Sistem Lot ... 74

Tabel 5.32 Sistem Sekarang ... 74

Tabel 5.33 Sistem Lot ... 75

Tabel 5.34 Sistem Sekarang ... 75

(9)

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Struktur Organisasi ... 34

Gambar 4.2 Proses Produksi ... 35

Gambar 4.3 Proses Assembling ... 37

(10)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1LATAR BELAKANG

Semakin berkembangnya dunia industri, berbagai perusahaan manufaktur

berlomba-lomba untuk bersaing dalam memproduksi produk yang bermutu dan

digemari masyarakat. Dalam mengejar target yang telah ditetapkan oleh

masing-masing perusahaan, mereka berkomitmen bahwa konsumen adalah

segala-galanya. Untuk mendapatkan kepuasan dari konsumen, salah satu hal yang bisa

ditingkatkan adalah ketepatan waktu produksi hingga pengiriman ke distributor

hingga konsumen akhir.

Oleh karena itu, setiap perusahaan manufaktur harus mempunyai standar

produk yang optimal untuk memenuhi kepuasan konsumen. Dalam mencapai hal

tersebut, salah satu faktor yang menunjang adalah sistem produksinya. Di sini lah

diperlukan adanya sistem produksi yang se-efisien mungkin. Sistem produksi

yang efisien dapat diterapkan dengan salah satu cara yaitu pengelolaan material

yang baik dalam proses produksi.

Bagi perusahaan manufaktur, sistem perencanaan dan pengendalian

produksi perlu mendapat perhatian tersendiri. Perencanaan meliputi

merencanakan apa, bagaimana, kapan, dan berapa banyak suatu produk akan

diproduksi. Sedang, pengendalian berarti kontrol terhadap proses produksi agar

(11)

2

Perencanaan dan pengendalian dilakukan sedemikian rupa agar dapat

memenuhi permintaan dari bagian pemasaran akan kebutuhan barang jadi dengan

waktu dan biaya produksi yang sesuai dengan perencanaan. Tetapi yang selama

ini terjadi, ada perusahaan yang tidak menerapkan efisiensi dalam pengelolaan

material pada proses produksi.

Hal tersebut sering menyebabkan terjadinya kehilangan material,

kerusakan, sehingga tidak terjadinya kesesuaian antara rencana produksi dengan

realisasinya. Apabila hal ini terjadi, dikhawatirkan proses produksi akan berhenti.

Dengan berhentinya proses produksi ini, maka target pemenuhan barang jadi tidak

akan tepat waktu dan akan terjadi pembengkakan biaya produksi.

PT. Wijaya Karya Industri Energi adalah salah satu anak perusahaan yang

dimiliki PT. Wijaya Karya yang bergerak dibidang perdagangan dan industri. PT

WIKA Industri Energi didirikan pada tanggal 18 Juni 2010. PT WIKA Industri

Energi memiliki dua bisnis unit yaitu water heater dan photovoltaik.

Bisnis unit yang bergerak pada water heater memproduksi Solar Water

Heater (SWH), Aircond Water Heater (AWH), Electric Water Heater (EWH),

Heat Pump, Pool Heating. Untuk yang bergerak di Photovoltaik memproduksi

Solar Home System (SHS), Solar Street Light System (SSLS), Solar Pumping

System (SPS) serta proyek PLTS dan PLT Hybrid.

Dari semua produk yang dimiliki oleh PT WIKA Industri Energi, produk

SWH 150 LXC yang menghasilkan pemasukan terbanyak untuk perusahaan.

Produk SWH telah diproduksi sejak tahun 1987. Dengan jangkauan pemasaran

(12)

3

Dengan semakin mahalnya harga energi, maka masyarakat

berlomba-lomba untuk mencari energi alternatif untuk mengurangi penggunaan energi

listrik dan energi yang berasal dari bahan bakar fosil. Hal ini membuat permintaan

produk SWH, dan Photovoltaic banyak diminati. Dengan meningkatnya

permintaan dari konsumen maka harus ditunjang dengan proses produksi yang

semakin cepat dan efisien.

Selama bulan Oktober – Desember 2013 terjadi pemesanan sebanyak 689

unit SWH 150 LXC. Untuk mencapai target pemesanan sejumlah tersebut dan

ketepatan waktu, dibutuhkan proses produksi yang efisien. Salah satu yang

mempengaruhi efisiensi produksi adalah pengelolaan material dalam proses

produksi yang baik. Selama ini WINNER menerapkan proses produksi dengan

sistem bon material tanpa menggunakan satuan jumlah dan set. Selain itu waktu

dilakukannya bon dari produksi ke gudang adalah ketika material itu habis.

Sehingga waktu proses produksi terhambat apabila terjadi line stop yang

diakibatkan keterlambatan bon. Selain itu untuk mencari kesesuaian antara

material masuk dan barang jadi sulit untuk dilakukan. Dari makalah ini akan

diusulkan penerapan sistem Lot untuk mengoptimalkan waktu proses produksi,

mempermudah cek material masuk dengan barang jadi. Apabila hal ini telah

tercapai maka diharapkan akan terjadinya peningkatan efisiensi produksi.

1.2RUMUSAN MAKALAH

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, rumusan makalah dalam

(13)

4

1. Optimalisasi penggunaan stock material pada proses produksi SWH 150

LXC dengan sistem Lot agar sesuai dengan rencana, untuk mencapai

efisiensi produksi.

1.3.TUJUAN PENELITIAN DAN SASARAN PENELITIAN

1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian rumusan makalah di atas, tujuan penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a. Tercapaianya efisiensi dalam penggunaan stock material sehingga

efisiensi produksi tercapai.

2. Sasaran Penelitian

a. Mengidentifikasi penggunaan stock material yang sudah berlangsung

b. Mengevaluasi rencana dengan realisasi penggunaan stock material

c. Membuat rencana optimalisasi penggunaan stock material melalui

sistem Lot

1.4.MANFAAT PENELITIAN

1. Diterapkannya sistem yang lebih evisien yaitu sistem Lot

2. Meningkatkan efisiensi produksi

3. Sebagai bahan evaluasi pada proses produksi

4. Meningkatkan ketercapaian target waktu dan jumlah unit penjualan SWH

150 LXC

1.5.BATASAN MAKALAH

(14)

5

2. Fokus penelitian ini hanya pada pengebonan material dari Biro Produksi

ke gudang

3. Fokus penelitian ini hanya pada produk SWH 150 LXC

4. Evaluasi hanya sebatas bulan Oktober 2013 – Desember 2013

1.6.SISTEMATIKA PENULISAN

Bab I Pendahulan

Bab ini berisikan latar belakang , rumusan makalah, tujuan penelitian dan

sasaran penelitian, manfaat penelitian, batasan makalah serta sistematika

penulisan.

Bab II Landasan Teori

Bab ini berisikan studi literatur mengenai pokok bahasan atau topik yang

diambil dalam penyelesaian permakalahan pada tugas akhir

Bab III Metodologi Penelitian

Bab ini berisi tentang urutan langkah dan metode – metode yang

digunakan dalam menyelesaikan makalah

Bab IV Analisa Sistem

Bab ini berisikan tinjauan umum dan analisa terhadap sistem yang ada,

data– data yang digunakan dalam analisis makalah dan data penunjang

yang digunakan dalam pemecahan makalah.

Bab V Perancangan Sistem Lot

Bab ini berisi tentang perancangan sistem Lot berdasarkan analisis dan

(15)

6

Bab VI Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisi kesimpulan dari penelitian yang dilakukan dan analisis

pengolahan data dan saran bagi aplikasi selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Berisi tentang referensi yang digunakan dalam pembahasan.

LAMPIRAN

(16)

7

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1

Pengertian Pabrik / Industri

Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau

barang setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang memiliki nilai tambah

untuk mendapatkan keuntungan. Usaha perakitan atau assembling dan juga

reparasi adalah bagian dari industri. Hasil industri tidak hanya berupa barang,

tetapi juga dalam bentuk jasa.

Menurut UU No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian industri adalah

kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah

jadi, dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk

penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.

Pabrik (plant atau factory) adalah tempat di mana factor-faktor produksi

seperti manusia, mesin, alat, material, energi, uang (modal/capital), informasi dan

sumber daya alam (tanah, air, mineral, dan lain-lain) dikelola bersama-sama

dalam suatu system produksi guna menghasilkan suatu produk atau jasa secara

efektif, efisien dan aman.

Pabrik – yang dalam istilah asingnya dikenal sebagai factory atau plant –

adalah setiap tempat dimana faktor seperti :

 Manusia,

 Mesin dan peralatan (fasilitas) produksi lainnya,

(17)

8

 Energi,

 Uang (modal/kapital),

 Informasi, dan

 Sumberdaya alam (tanah, air, mineral, dll)

dikelola bersama-sama dalam produksi guna menghasilkan suatu produk atau jasa

secara efektif, efisien, dan aman. Istilah pabrik ini sering diartikan sama dengan

industri, meskipun industri sebenarnya memiliki pengertian yang lebih luas.

Pabrik pada dasarnya merupakan salah satu jenis industri yang terutama akan

menghasilkan produk jadi (finished good product). Seperti halnya yang dijumpai

dalam industri manufaktur.

Dengan pertimbangan aktivitas-aktivitas yang umum dilaksanakan, maka

industri akan dapat diklarifikasikan sebagai :

a) Industri penghasil bahan baku (The primary raw material industries)

Yaitu industri yang aktivitas produksinya adalah mengolah sumber daya

alam guna mengasilkan bahan maupun bahan tambahan lainnya yang

dibutuhkan oleh industri penghasil produk atau jasa. Industri tipe ini

umum dikenal pula sebagai “extractive/primary industry”.

Contoh : industri perminyakan, industri pengolahan biji besi, dll.

b) Industri Manufaktur (The Manufacturing Industries),

Yaitu indusri yang memproses bahan baku guna dijadikan

bermacam-macam bentuk/model produk, baik yang masih berupa produk setengah

jadi (semi finished good) ataupun yang berupa produk jadi (fisnished good

(18)

9

ataupun kimiawi – terhadap input material dan akan memberi nilai tambah

teradap material tersebut.

Contoh : industri permesinan, industri mobil, dll.

c) Industri penyalur (Distribution industries)

Yaitu industri yang berfungsi untuk melaksanakan pelayanan jasa industri

baik unuk bahan baku maupun “finished good product”. Disini bahan baku

ataupun bahan setengah jadi akan didistribusikan dari produsen ke

konsumen. Operasi kegiatan akan meliputi aktivitas pembelian dan

penjualan, penyimpanan, sorting, grading, packaging dan moving goods

(transportasi).

d) Industri pelayanan/ jasa (Service Industries)

Yaitu industri yang bergerak dibidang pelayanan atau jasa, baik untuk

melayani dan menunjang aktivitas industri yang lain maupun langsung

memberikan pelayanan/jasa kepada konsumer.

Jenis / macam-macam industri berdasarkan tempat bahan baku:

1. Industri ekstraktif Industri ekstraktif adalah industri yang bahan baku

diambil langsung dari alam sekitar.

Contoh : pertanian, perkebunan, perhutanan, perikanan, peternakan,

pertambangan, dan lain lain.

2. Industri nonekstaktif Industri nonekstaktif adalah industri yang bahan baku

didapat dari tempat lain selain alam sekitar.

3. Industri fasilitatif Industri fasilitatif adalah industri yang produk utamanya

(19)

10

Contoh : Asuransi, perbankan, transportasi, ekspedisi, dan lain sebagainya.

Golongan / macam industri berdasarkan besar kecil modal.

1. Industri padat modal adalah industri yang dibangun dengan modal yang

jumlahnya besar untuk kegiatan operasional maupun pembangunannya

2. Industri padat karya adalah industri yang lebih dititik beratkan pada

sejumlah besar tenaga kerja atau pekerja dalam pembangunan serta

pengoperasiannya.

Jenis-jenis / macam industri berdasarkan klasifikasi atau penjenisannya

berdasarkan SK Menteri Perindustrian No.19/M/I/1986

1. Industri kimia dasar contohnya seperti industri semen, obat-obatan, kertas,

pupuk, dsb

2. Industri mesin dan logam dasar misalnya seperti industri pesawat terbang,

kendaraan bermotor, tekstil, dll

3. Industri kecil

Contoh seperti industri roti, kompor minyak, makanan ringan, es, minyak

goreng curah, dll

4. Aneka industri misal seperti industri pakaian, industri makanan dan

minuman, dan lain-lain.

Jenis-jenis / macam industri berdasarkan jumlah tenaga kerja

1. Industri rumah tangga

Adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 1-4

(20)

11 2. Industri kecil

Adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara

5-19 orang.

3. Industri sedang atau industri menengah

Adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara

20-99 orang.

4. Industri besar

Adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 100

orang atau lebih.

Pembagian / penggolongan industri berdasakan pemilihan lokasi

1. Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada pasar (market

oriented industry)

Adalah industri yang didirikan sesuai dengan lokasi potensi target

konsumen. Industri jenis ini akan mendekati kantong-kantong di mana

konsumen potensial berada. Semakin dekat ke pasar akan semakin menjadi

lebih baik.

2. Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada tenaga kerja / labor

(man power oriented industry).

Adalah industri yang berada pada lokasi di pusat pemukiman penduduk

karena bisanya jenis industri tersebut membutuhkan banyak pekerja /

pegawai untuk lebih efektif dan efisien.

3. Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada bahan baku (supply

(21)

12

Adalah jenis industri yang mendekati lokasi di mana bahan baku berada

untuk memangkas atau memotong biaya transportasi yang besar.

Macam-macam / jenis industri berdasarkan produktifitas perorangan

1. Industri primer adalah industri yang barang-barang produksinya bukan

hasil olahan langsung atau tanpa diolah terlebih dahulu

Contohnya adalah hasil produksi pertanian, peternakan, perkebunan,

perikanan, dan sebagainya.

2. Industri sekunder industri sekunder adalah industri yang bahan mentah

diolah sehingga menghasilkan barang-barang untuk diolah kembali.

Misalnya adalah pemintalan benang sutra, komponen elektronik, dan

sebagainya.

3. Industri tersier Adalah industri yang produk atau barangnya berupa

layanan jasa.

Contoh seperti telekomunikasi, transportasi, perawatan kesehatan, dan

masih banyak lagi yang lainnya.

2.2

Pengertian dan Jenis-Jenis Proses Produksi

2.2.1 Pengertian produksi

Menurut Indriyo Gitosudarmo (2000:2) mengatakan bahwa ”Proses

produksi adalah interaksi antara bahan dasar, bahan-bahan pembantu, tenaga kerja

dan mesin-mesin serta alat-alat perlengkapan yang dipergunakan”.

Menurut Teguh Baroto (2002:13) “proses produksi adalah aktivitas

bagaimana produk jadi dari bahan baku yang melibatkan mesin, energi,

(22)

13

Menurut Arman Hakim Nasution (2003:1)”proses produksi, yaitu metode

dan teknik yang digunakan dalam mengolah bahan baku menjadi produk”.

Produksi adalah suatu kegiatan yang menghasilkan output dalam bentuk

barang maupun jasa. Contoh : pabrik batre yang memproduksi batu baterai, pabrik

mutifa yang memproduksi obat-obatan, dan lain sebagainya. Pengertian produksi

dapat diartikan sebagai usaha untuk menciptakan atau menambah faedah ekonomi

suatu benda dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sedangkan

orang, badan usaha, atau organisasi yang menghasilkan barang dan jasa disebut

produsen.

Menurut Pandji Anoraga (2000:197) ”produksi nampaknya berkonotasi

sebagai organisasi produk, yaitu aktivitas yang menghasilkan barang, baik barang

jadi maupun barang setengah jadi, bahan industri dan suku cadang, dan

komponen-komponen”.

Dari beberapa definisi diatas dapat diketahui bahwa untuk menghasilkan

barang atau jasa diperlukan usaha mendayagunakan masukan berupa tenaga kerja,

bahan baku, dan peralatan. Perkembangan dari pada proses produksi

menghasilkan banyak macam jenis-jenis proses produksi dalam perusahaan.

2.2.2 Jenis- Jenis proses produksi

Menurut Sofyan Assauri (1999:75) ada 2 jenis proses produksi :

1) Proses produksi yang terus-menerus (continuous processses)

2) Proses produksi yang terputus-putus (intermittent processses)

Sebenarnya perbedaan pokok antara kedua proses ini terletak pada panjang

(23)

14

untuk memproduksi sesuatu produk atau beberapa produk tanpa mengalami

perubahan. Sebagai contoh dapat dilihat apabila kita menggunakan mesin-mesin

untuk dipersiapkan (set up) dalam memproduksi produk dalam jangka waktu yang

pendek, dan kemudian diubah atau dipersiapkan (diset-up) kembali untuk

memproduksi produk lain, maka dalam hal ini prosesnya terputus-putus

tergantung dari produk yang dikerjakan. Proses yang terputus-putus disebut

intermitten processs / manufacturing. Dalam proses seperti ini terdapat waktu

yang pendek (short run) dalam persiapan (set up) peralatan untuk perubahan yang

tepat guna dapat menghadapi variasi produk yang berganti-ganti, misalnya terlihat

dalam pabrik yang menghasilkan produknya untuk atau berdasarkan pesanan

seperti : pabrik kapal, atau bengkel besi / las. Dalam contoh lain dapat dilihat

adanya perusahaan pabrik-pabrik yang menggunakan mesin-mesin untuk

dipersiapkan (set up) dalam memproduksi produk dalam jangka waktu yang

panjang / lama, tanpa mengalami perubahan, maka dalam hal ini prosesnya

terus-menerus selama jenis produk yang sama dikerjakan. Proses yang terus-terus-menerus

ini disebut continuous processs / manufacturing. Dalam proses ini terdapat waktu

yang panjang tanpa adanya perubahan-perubahan dari pengaturan dan penggunaan

mesin serta peralatannya. Proses seperti ini terdapat dalam pabrik yang

menghasilkan produknya untuk pasar (produksi massa) seperti pabrik susu atau

pabrik ban.

Sifat-sifat atau ciri-ciri proses produksi yang terus-menerus (continuous

(24)

15

1) Biasanya produk yang dihasilkan dalam jumlah yang besar (produksi

massa) dengan variasi yang sangat kecil dan sudah distandardisir.

2) Proses seperti ini biasanya menggunakan sistem atau cara penyusunan

peralatan berdasarkan urutan pengerjaan dari produk yang dihasilkan.

3) Mesin-mesin yang dipakai dalam proses produksi seperti ini adalah

mesin-mesin yang bersifat khusus untuk menghasilkan produk

tersebut, yang dikenal dengan nama Special Purpose Machines.

4) Oleh karena mesin-mesinnya bersifat khusus dan biasanya agak

otomatis, maka pengaruh individual operator terhadap produk yang

dihasilkan kecil sekali, sehingga operatornya tidak perlu mempunyai

keahlian atau skill yang tinggi untuk pengerjaan produk tersebut.

5) Apabila terjadi salah satu mesin / peralatan terhenti atau rusak, maka

seluruh proses produksi akan terhenti.

6) Oleh karena mesin-mesinnya bersifat khusus dan variasi dari

produknya kecil maka job structurenya sedikit dan jumlah tenaga

kerjanya tidak perlu banyak.

7) Persediaan bahan mentah dan bahan dalam proses adalah lebih rendah

daripada intermitten processs / manufacturing.

8) Oleh karena mesin-mesin yang dipakai bersifat khusus maka proses

seperti ini membutuhkan maintenance specialist yang mempunyai

(25)

16

9) Biasanya bahan-bahan dipindahkan dengan peralatan handling yang

fixed (fixed path equipment) yang menggunakan tenaga mesin seperti

ban berjalan (conveyer).

Sifat-sifat atau ciri-ciri dari proses produksi yang terputus-putus

(intermitten processs / manufacturing) ialah :

1) Biasanya produk yang dihasilkan dalam jumlah yang sangat kecil

dengan variasi yang sangat besar (berbeda) dan didasarkan atas

pesanan.

2) Proses seperti ini biasanya menggunakan sistem, atau cara

penyusunan peralatan berdasarkan atas fungsi dalam proses produksi

atau peralatan yang sama dikelompokkan pada tempat yang sama,

yang disebut dengan processs lay out atau departmentation by

equipment.

3) Mesin-mesin yang dipakai dalam proses produksi seperti ini adalah

mesin-mesin yang bersifat umum yang dapat digunakan untuk

menghasilkan bermacam-macam produk dengan variasi yang hampir

sama, mesin mana dikenal dengan nama General Purpose Machines.

4) Oleh karena mesin-mesinnya bersifat umum dan biasanya kurang

otomatis, maka pengaruh individual operator terhadap produk yang

dihasilkan sangat besar, sehingga operatornya perlu mempunyai

keahlian atau skill yang tinggi dalam pengerjaan produk tersebut.

5) Proses produksi tidak mudah / akan terhenti walaupun terjadi

(26)

17

6) Oleh karena mesin-mesin bersifat umum dan variasi dari produknya

besar, maka terhadap pekerjaan (job) yang bermacam-macam

menimbulkan pengawasan (control) nya lebih sukar.

7) Persediaan bahan mentah biasanya tinggi, karena tidak dapat

ditentukan pesanan apa yang akan dipesan oleh pembeli dan juga

persediaan bahan dalam proses lebih tinggi daripada continuous

processs / manufacturing, karena prosesnya terputus-putus /

terhenti-henti.

8) Biasanya bahan-bahan dipindahkan dengan peralatan handling yang

dapat flexible (varied path equipment) yang menggunakan tenaga

manusia seperti kereta dorong atau forklift.

9) Dalam proses seperti ini sering dilakukan pemindahan bahan yang

bolak balik sehingga perlu adanya ruangan gerak (aisie) yang besar

dan ruangan tempat bahan-bahan dalam proses (work in processs)

yang besar.

Kekurangan / kerugian proses produksi yang terus menerus (continuous

manufacturing) adalah :

1) Terdapat kesukaran untuk menghadapi perubahan produk yang

diminta oleh konsumen atau pelanggan. Jadi proses produksi seperti

ini khusus untuk menghasilkan produk-produk yang :

a) Permintaan (demand) nya besar dan stabil

(27)

18

2) Proses produksi mudah terhenti, karena apabila terjadi kemacetan di

suatu tempat / tingkat proses (di awal, di tengah atau di belakang),

maka kemungkinan seluruh proses produksi akan terhenti yang

disebabkan adanya saling hubungan dan urut-urutan antara

masing-masing tingkat proses.

3) Terdapat kesukaran dalam menghadapi perubahan tingkat permintaan,

karena biasanya tingkat produksi (rate of production) nya telah

tertentu, sehingga sangat kaku (rigid).

Kebaikan / kelebihan proses produksi yang terus menerus (continuous

manufacturing) adalah :

1) Dapat diperoleh tingkat biaya produksi per unit (unit production cost)

yang rendah apabila :

a) Dapat dihasilkannya produk dan volume yang cukup besar.

b) Produk yang dihasilkan distandarsir.

2) Dapat dikuranginya pemborosan-pemborosan dari pemakaian tenaga

manusia, terutama karena sistem pemindahan bahan yang

menggunakan tenaga mesin / listrik.

3) Biaya tenaga kerja (labor cost) nya adalah rendah, karena jumlah

tenaga kerjanya yang sedikit dan tidak memerlukan tenaga yang ahli

(cukup yang setengah ahli) dalam pengerjaan produk yang dihasilkan.

4) Biaya pemindahan bahan di dalam pabrik juga lebih rendah, karena

jarak antara mesin yang satu dengan mesin yang lain lebih pendek dan

(28)

19

Kekurangan / kerugian proses produksi yang terputus-putus (intermitten

manufacturing) adalah :

1) Scheduling dan routing untuk pengerjaan produk yang akan dihasilkan

sangat sukar dilakukan karena kombinasi urut-urut pekerjaan yang

banyak sekali di dalam memprodusir satu macam produk, dan

disamping itu dibutuhkan scheduling dan routing yang banyak sekali

karena produknya yang berbeda tergantung dari pemesanannya.

2) Oleh karena pekerjaan routing dan scheduling banyak sekali dan sukar

dilakukan, maka pengawasan produksi (production control) dalam

proses produksi seperti ini sangat sukar dilakukan.

3) Dibutuhkannya investasi yang cukup besar dalam persediaan bahan

mentah dan bahan-bahan dalam proses, karena prosesnya

terputus-putus dan produk yang dihasilkan tergantung dari pesanan.

4) Biaya tenaga kerja dan biaya pemindahan bahan sangat tinggi, karena

banyak dipergunakannya tenaga manusia dan tenaga yang dibutuhkan

adalah tenaga yang ahli dalam pengerjaan produk tersebut.

Kebaikan / kelebihan dari proses produksi yang terputus-putus (intermitten

manufacturing) adalah :

1) Mempunyai fleksibilitas yang tinggi dalam menghadapi perubahan

produk dengan variasi yang cukup besar.

Fleksibilitas ini diperoleh terutama dari :

a) Sistem penyusunan peralatan (lay out) nya yang berbentuk

(29)

20

b) Jenis / type mesin yang digunakan dalam proses yang bersifat

umum (general purpose machines)

c) Sistem pemindahan bahan yang tidak menggunakan tenaga kerja

mesin tetapi tenaga manusia.

2) Oleh karena mesin-mesin yang digunakan dalam proses bersifat

umum (general purpose machines), maka biasanya dapat diperoleh

penghematan uang dalam investasi mesin, sebab harga

mesin-mesin ini lebih murah daripada mesin-mesin-mesin-mesin yang khusus (special

purpose machines).

3) Proses produksi tidak mudah terhenti akibat terjadinya kerusakan atau

kemacetan di suatu tempat / tingkat proses.

2.2.3 Faktor-Faktor Produksi

Proses produksi mempuyai hubungan yang erat antara input dari proses

produksi dengan output proses produksi pada pelaksanaan kegiatan proses

produksi terdapat pola atau tahap urutan tertentu. Urutan penyelesaian proses

produksi akan berbeda-beda dan bermacam-macam antara satu produk dengan

produk lainnya.

Untuk kegiatan pelaksanaan proses produksi akan menggunakan

sumber-sumber yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Sumber-sumber-sumber tersebut adalah

unsur terpenting dalam proses produksi dengan demikian penyelesaian pekerjaan

dapat dilakukan dengan efektif, efisien, serta memperkecil kemungkinan

(30)

21

Suatu perusahaan memerlukan sumber daya yang akan dipergunakan

untuk memproduksi barang-barang. Sumber daya tersebut adalah bahan mentah ,

bahan pembantu, mesin-mesin dan peralatan-peralatan lain, tenaga kerja, modal

serta tanah untuk lokasi perusahaan. Tiap-tiap perusahaan tentu saja akan

mempunyai jumlah dan jenis sumber-sumber produksi yang berbeda-beda satu

dengan yang lain. Pengusaha akan berusaha agar dengan faktor-faktor produksi

tertentu yang ada padanya itu menghasilkan barang-barang yang mendatangkan

keuntungan yang sebesar-besarnya. Jenis dan jumlah faktor-faktor produksi inilah

yang menentukan jenis serta jumlah barang-barang yang dapat dihasilkan oleh

perusahaan yang bersangkutan. Jenis serta jumlah faktor-faktor produksi ini

sangat terbatas adanya. Di sinilah letak pentingnya kebijaksanaan pimpinan

perusahaan untuk mengatur jenis dan jumlah barang-barang yang harus

diproduksinya dengan faktor-faktor yang terbatas adanya itu agar keuntungan

yang diperolehnya maksimal. Kurang tepatnya penentuan luas produksi akan

berakibat semakin kecilnya keuntungan yang diperoleh perusahaan. Kerugian ini

terjadi karena orang berproduksi kurang dari optimal, sehingga biaya tetap hanya

ditanggung oleh satuan-satuan hasil (unit-unit produk) yang sedikit sehingga

biaya tetap per unit menjadi terlalu tinggi. Berproduksi lebih dari optimal berarti

adanya sebagian barang-barang hasil yang tidak akan terjual. Hal ini akan

menimbulkan tanggungan beban biaya pergudangan yang terlalu besar, lagi pula

sebenarnya faktor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan

barang-barang yang berkelebihan ini dapat digunakan untuk membuat barang-barang-barang-barang

(31)

22

Disamping itu penentuan luas produksi yang tepat akan berarti pula suatu

pengusahaan lebih efektif memanfaatkan faktor-faktor produksi yang tersedia bagi

perusahaan yang bersangkutan. Ketidaktepatan penentuan luas produksi akan

berakibat ketidaktepatan alokasi faktor-faktor produksi. Hal ini membuat semakin

besarnya kerugian finansial yang diderita oleh perusahaan. Disamping

faktor-faktor produksi yang tersedia, jumlah permintaan akan menentukan luas produksi

yang paling menguntungkan. Dari uraian di atas jelas bahwa luas produksi yang

optimal akan dipengaruhi atau dibatasi oleh beberapa faktor yaitu :

1) Tersedianya bahan dasar

2) Tersedianya kapasitas mesin-mesin yang dimiliki

3) Tersedianya tenaga kerja

4) Batasan permintaan

5) Tersedianya faktor-faktor produksi yang lain

Pentingnya luas produksi untuk masing-masing perusahaan berbeda-beda :

1) Bagi perusahaan yang memproduksi barang-barang yang

bermacam-macam jenisnya.

Hal ini disebabkan karena sifat alat-alat produksi / mesin-mesin yang

dimilikinya) harus diselenggarakan perencanaan yang teliti terhadap

penentuan luas produksi. Tiap jenis barang yang dihasilkan akan

mendatangkan keuntungan yang berbeda-beda besarnya. Oleh karena

itu harus dianalisa, diteliti secermat-cermatnya, sampai seberapa besar

jumlah yang harus diproduksi untuk masing-masing jenis barang

(32)

23

2) Bagi perusahaan yang karena alat-alat produksinya (mesin-mesin

digunakan)

Mengakibatkan barang-barang yang diproduksi itu tertentu / telah

pasti dan tidak mudah untuk diubah-ubah dalam jangka pendek, maka

bagi perusahaan ini menentukan apa dan berapa yang harus diproduksi

tidak atau kurang penting dibandingkan dengan perusahaan jenis

pertama di atas.

3) Perusahaan yang memproduksikan barang-barang untuk keperluan

pasar

Penentuan luas produksi dalam perusahaan ini sangat penting, sebab

dalam hal ini perusahaan harus mengadakan ramalan-ramalan untuk

masa-masa yang akan datang terhadap jumlah serta jenis barang yang

diminta oleh para pembeli potensial, kemudian menyesuaikan jumlah

dan jenis yang diramalkan tersebut dengan kemampuan yang ada pada

perusahaan untuk memproduksinya. Untuk keperluan ini perusahaan

perlu metode analisa yang baik

4) Perusahaan yang memproduksikan barang-barang untuk keperluan

langganan (pesanan)

Tidakla begitu sulit untuk merencanakan penentuan luas produksinya.

Apa dan berapa yang harus diproduksi tergantung pada apa dan berapa

yang dipesan oleh para langganan. Perusahaan cukup

(33)

24

2.3

Persediaan

2.3.1 Pengertian Persediaan

Keberadaan persediaan dalam suatu unit usaha perlu diatur sedemikian

rupa sehingga kelancaran pemenuhan kebutuhan pemakai dapat dijamin dan

timbulnya sumber daya menganggur (idle resources) yang keberadaannya

menunggu proses lebih lanjut tetap membuat ongkos yang ditimbulkan efisien.

Menurut Sofjan Assauri (1993; 219) :

“Persediaan merupakan sejumlah bahan-bahan, parts yang disediakan dan

bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses

produksi, serta barang-barang jadi/produk yang disediakan untuk

memenuhi permintaan dari komponen atau langganan setiap waktu.”

Menurut Roger G. Schroeder (1994; 4) :

“Sediaan (inventory) adalah stok bahan yang digunakan untuk

memudahkan produksi atau untuk memuaskan permintaan pelanggan.”

Menurut Lalu Sumayang (2003; 197) :

“Inventori atau persediaan merupakan simpanan material yang berupa

(34)

25

Berdasarkan definisi di atas disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan

persediaan adalah barang jadi, barang setengah jadi, dan bahan baku yang

disimpan dan dirawat dalam tempat persediaan agar selalu siap pakai memenuhi

kebutuhan.

2.3.2 Jenis Persediaan

Menurut Sofjan Assauri (1993; 219), persediaan yang terdapat dalam

perusahaan dapat dibedakan menurut beberapa cara. Dilihat dari fungsinya,

persediaan dapat dibedakan atas :

a) Batch Stock atau Lot Size Inventory yaitu persediaan yang diadakan

karena kita membeli atau membuat bahan-bahan/barang-barang dalam

jumlah yang lebih besar daripada jumlah yang dibutuhkan pada saat itu.

b) Fluctuation Stock adalah persediaan yang diadakan untuk menghadapi

fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan.

c) Anticipation Stock yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi

fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman

yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau

penjualan permintaan yang meningkat.

Di samping perbedaan menurut fungsi, persediaan itu dapat pula

dibedakan atau dikelompokkan menurut jenis dan posisi barang tersebut di dalam

urutan pengerjaan produk yaitu :

a) Persediaan Bahan Baku (Raw Materials stock) yaitu persediaan dari

barangbarang berwujud yanng digunakan dalam proses produksi, barang

(35)

26

supplier atau perusahaan yang menghasilkan bahan baku bagi perusahaan

pabrik yang menggunakannya.

b) Persediaan bagian produk atau parts yang dibeli (purchased

parts/komponent stock) yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari

parts yang diterima dari perusahaan lain, yang dapat secara langsung

diassembling dengan parts lain, tanpa melalui proses produksi sebelumnya.

c) Persediaan bahan-bahan pembantu atau barang-barang perlengkapan

(supplies stock) yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang

diperlukan dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi

atau yang dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan, tetapi tidak

merupakan bagian atau komponen dari barang jadi.

d) Persediaan barang setengah jadi atau barang dalam proses (work in

processs/progress stock) yaitu persediaan barang-barang yang keluar dari

tiaptiap bagian dalam satu pabrik atau bahan-bahan yang telah diolah

menjadi suatu bentuk, tetapi lebih perlu diproses kembali untuk kemudian

menjadi barang jadi.

e) Persediaan barang jadi (finished good stock) yaitu persediaan

barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk

(36)

27

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang,

obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Variabel penelitian dalam hal

ini adalah sistem pengelolaan stock material SWH 150 LXC dalam proses

produksi.

Definisi operasional dari pengelolaan stock material SWH 150 LXC dalam

proses produksi yaitu suatu sistem yang dilakukan oleh manajemen dalam

mengatur stock material pada saat proses produksi berlangsung untuk mencapai

efisiensi produksi.

Tabel 3.1

Variabel, Indikator, dan Skala Pengukuran

Variabel Indikator Skala Pengukuran

(37)

28

3.2Jenis dan Sumber Data

Sumber data berasal dari sumber internal perusahaan. Data yang

digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data-data tersebut meliputi:

Data Primer, berupa :

 Aliran Proses Produksi

 Data Permintaan Produksi

 Data Kebutuhan Material

 Data rencana produksi

 Data Pengebonan material

 Data realisasi produksi

 Data Work in processs

 Prosedur pengebonan saat ini

3.3Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data adalah:

 Wawancara, yaitu dengan melakukan tanya jawab langsung dengan pihak yang berwenang dalam perusahaan.

 Dokumentasi perusahaan, mencatat data dari arsip atau dokumen-dokumen dari perusahaan.

3.4 Teknik Analisis

Setelah semua data yang diperlukan sudah diperoleh, maka selanjutnya

(38)

29

3.4.1 Analisis aliran proses produksi

Dari bagan arus aliran proses produksi, penulis menganalisis data tersebut

menjadi data deskriptif untuk mempermudah dalam merencanakan stock

sistem.

3.4.2 Analisis data permintaan produksi

Dari data permintaan produksi ini akan di sinkronkan dengan data rencana

produksinya.

3.4.3 Analisis data kebutuhan material

Dari data kebutuhan material ini, akan digunakan dalam membantu

perencanaan stock sistem.

3.4.4 Analisis rencana produksi

Dari data analisis rencana produksi ini, akan digunakan dalam membantu

perencanaan stock sistem, serta mencari gap dengan realisasi produksi.

3.4.5 Analisis data realisasi produksi

Dari data analisis rencana produksi ini, akan digunakan dalam membantu

perencanaan stock sistem kemudian membandingkan dengan hasil

produksi setelah penerapan stok sistem.

3.4.6 Analisis data Work in processs

Dari data ini, akan digunakan untuk membandingkan dengan data WIP

dari hasil sistem yang baru

3.4.7 Analisis gap material masuk dengan unit jadi

di sini akan dicari gap antara material masuk dengan barang jadi yang

(39)

30

3.5 Obyek Penelitian

Obyek dalam penelitian ini adalah sistem pengebonan untuk produk SWH

150 LXC yang diproduksi oleh PT. WIKA Industri Energi di Jalan Raya

(40)

31

BAB IV

ANALISA SISTEM

4.1 Deskripsi Umum Perusahaan

4.1.1 Sejarah Perusahaan

PT. Wika Intrade Energi (PT WINNER) secara resmi berdiri pada tanggal

18 Juni 2010 sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar Perseroan No 32

tanggal 18 Juni 2010 yang ditandatangani dan disahkan oleh Notaris Ryan Bayu

Candra, SH, M.kn. dan telah mendapat pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak

Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-32045.AH.01.01 tanggal 24 Juni

Tahun 2010.

Saat ini PT. Wika Intrade Energi sudah berubah nama menjadi PT. Wika

Industri Energi sebagaimana ditetapkan pada akta nomor 35 tanggal 20 Mei 2013

yang ditandatangani dan disahkan oleh Notaris M. Nova Faisal, SH, M.Kn. Dan

Anggaran Dasar Perseroan tetap yaitu yang telah mendapat pengesahan dari

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor

AHU-39922.AH.01.02 tahun 2013 tanggal 23 Juli 2013.

Dibentuknya PT. WINNER sebagai Entitas yang terpisah dari PT Wika

Intrade adalah untuk mempermudah terlaksananya Kerjasama Strategis dengan

pihak luar dalam rangka pengembangan usaha atas bisnis dan produk yang

dikelola. Selain itu peluang pasar atas produk-produk Konversi Energi, khususnya

energi terbarukan yang semakin besar dan terbuka di masa-masa mendatang juga

merupakan pertimbangan dikembangkannya Bisnis Unit Konversi Energi dibawah

(41)

32

Hal ini tidak terlepas dari “Road Map Portofolio Energi” Pemerintah yang akan

meningkatkan porsi energi terbarukan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan

energi nasional dan “Target Elektrifikasi” PT. PLN (Persero).

Produk-produk yang dihasilkan dan dikelola Perseroan pada saat awal

berdirinya perusahaan yaitu Solar Water Heater (SWH), AirCon Water Heater

(AWH) dan Solar Home System sebagai aplikasi dari Photovoltaik (PV). Dalam

perkembangannya, sampai dengan akhir tahun 2013 perusahaan telah menambah

dan mengembangkan beberapa varian produk dari Water Heater. Produk-produk

water heater yang telah dikembangkan yaitu Electric Water Heater (EWH), Heat

Pump (HP) dan Pool Heating (PH) agar dapat meraih berbagai segmen pasar

Water Heater yang selama ini belum dikuasai.

Selain pengembangan atas produk water heater, perusahaan juga telah

melaksanakan pengembangan atas produk Photovoltaik. Jika sebelum ini

pemasaran Photovoltaik masih berupa Solar Home System (SHS) yang tersebar,

saat ini perusahaan telah berhasil membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya

(PLTS) serta PLT Hybrid Surya dan Angin sebagai 1 (satu) kesatuan aplikasi

Photovoltaik yang terpusat. Melalui kerjasama strategis, perusahaan juga telah

membangun pabrik Laminasi Solar Sel untuk Modul Surya. Kerjasama strategis

tersebut selain mendasarkan pertimbangan pada besarnya potensi pasar atas

kebutuhan Modul Surya di dalam negeri, juga sebagai antisipasi adanya

persyaratan “Tingkat Kandungan Dalam Negeri” (TKDN) dalam proses

(42)

33

Dengan mempertimbangkan potensi pasar dari produk Water Heater dan

Photovoltaik yang diyakini cukup besar, pada tahun 2013 perusahaan telah

melaksanakan Restrukturisasi Organisasi dengan mengembangkan dan menambah

organ pemasaran dari yang semula terpisah antara Water Heater dengan

Photovoltaik menjadi satu kesatuan dalam wilayah. Hal ini dengan tujuan agar

pembinaan dan pemberdayaan Distributor Water Heater sekaligus juga sebagai

agen pemasaran produk-produk Photovoltaik bisa lebih fokus dan optimal.

4.1.2 Struktur Organisasi

Organisasi adalah adanya orang-orang yang usahanya harus

dikoordinasikan, tersusun dari sejumlah sub sistem yang saling berhubungan dan

saling tergantung, bekerja sama atas dasar pembagian kerja, peran, dan

wewenang, serta mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai.

(43)

34

(44)

35

- Kartu Stock 1/2 jadi

9. Formulir Perbaikan

Menerima WO (Work Order) & SPM (Surat Pengambilan Material / Suku Cadang)

Mengklasifikasi Proses dan penyerahan SPM ke masing-masing regu.

Pengambilan Material di Gudang

Melakukan pemeriksaan, jika alat rusak buat laporan kerusakan alat

Membuat komponen sesuai Instruksi Kerja (IK)

Memeriksa hasil pembuatan komponen

Mengisi label inspeksi kualitas dan menempatkan komponen ke stock 1/2 jadi

Pengambilan Material di Gudang dan di stock 1/2 Jadi

Melakukan pemeriksaan alat, jika alat rusak buat laporan kerusakan alat

Melaksanakan proses pengelasan sesuai IK

(45)

36

- Kartu Stock 1/2 Jadi

12.

19. Laporan Harian Produk jadi

20.

21. Laporan Harian Produk jadi

Bagian

Pengambilan Material di Gudang dan Stock 1/2 Jadi

Melakukan Pemeriksaan alat, jika alat rusak buat laporan kerusakan alat

Mengisi form laporan hasil produksi

Membuat laporan hasil produksi

(46)

37

Gambar 4.3

NO. URAIAN KEGIATAN DOKUMEN/

EKSTERNAL PROSES PROSES PROSES REKAMAN

ASSEMBLING PENGEMASAN PENGIRIMAN

- SPB 1.

2. - Rencana Produksi

3.

4. - Form Peminjaman Alat

- Form Control Alat

5. - Form Instruksi Produksi

6.

7. - Laporan Hasil Produksi

8.

Menerima surat perintah produksi dari Bisnis Unit/M. Produksi.

Memerintahkan fungsi PEP membuat rencana produksi sesuai SPB, membuat rencana produksi & mendistribusikan ke fungsi terkait.

PEP membuat rencana produksi & mendistribusikan ke fungsi-fungsi terkait.

Fungsi terkait menerima program produksi & menyiapkan sarana maupun kebutuhannya sesuai fungsi serta melakukan koordinasi dengan staf di bagiannya.

Kasi. Prod Assembling melakukan koordinasi dengan Karu untuk melakukan program produksi, penyiapan mould & peralatan2 lainnya.

Karu & Operator menyiapkan proses dan sarana untuk produksi.

Karu & Operator melakukan proses produksi Assembling.

Fungsi-fungsi QC, Teknik, Peralatan & Workshop melakukan proses kontrol terhadap tugasnya & melakukan perbaikan bila ada kerusakan-kerusakan alat sesuai tugasnya.

Fungsi QC melakukan program inspeksi terhadap pelaksanaan & hasil produksi.

Fungsi Pelaksana/Karu assembling menerima hasil inspeksi & meneruskan ke proses lanjutan (packing/pengemasan) & melaporkan hasil pekerjaan secara harian ke PEP.

Fungsi PEP menerima laporan produksi dari proses produksi assembling & meneruskan instruksi proses lanjutan ke fungsi pengemasan serta pengiriman.

Proses Assembling telah selesai dan proses berpindah ke pengemasan & pengiriman.

(47)

38

Gambar 4.4

NO. URAIAN KEGIATAN DOKUMEN/

EKSTERNAL PROSES FUNGSI REKAMAN

PENGEMASAN QC

8. - Laporan produk dalam

kemasan

9.

UNIT KERJA

PROSES PENGEMASAN

PEP meminta penanggung jawab produksi/fungsi gudang melakukan pengemasan .

Fungsi Produksi/Gudang menerima instruksi pengemasan & meneruskan ke fungsi QC untuk dilakukan pemeriksaan, kemudian fungsi pengemasan melakukan pengemasan/ pemeriksaan kemasan.

Fungsi QC menginformasikan produk-produk yang telah lulus pemeriksaan/inspeksi ke fungsi Pengemasan.

Fungsi Pengemasan melakukan pengemasan (perbaikan pengemasan) berdasarkan instruksi dari Kasi/Koordinator Produksi/Gudang.

Fungsi Pengemasan meminta Fungsi QC untuk melakukan pemeriksaan hasil pengemasan & memberikan pengesahan.

Produk/barang/material hasil pengemasan disimpan di tempat penyimpanan/dimasukkan ke dalam truk.

Fungsi Gudang/Pengangkutan menerima kiriman produk/ barang/material dalam kemasan untuk ditindak lanjuti dalam penyimpanan atau di proses pengiriman.

Proses selesai.

(48)

39

4.1.4 Kebutuhan Material

Berikut ini adalah komponen material utama yang dibutuhkan untuk

membuat satu buah SWH:

Tabel 4.2 Kebutuhan Material

No MATERIAL SPESIFIKASI SAT VOL

1 Cover LXC SUS 430 BA 0.4 x 1860 x 1000 mm Lbr 1

2 Tangki Dalam Enamel 150 Plat Low Carbon 2mm coating Enamel Unit 1

3 Plat Box Panel SWH Zincalume 0.3 x 1190 x 2190 mm Lbr 1

4.1.5 Rencana Produksi Oktober – Desember 2013

Tabel 4.3

Dari data di atas dapat dilihat bahwa Biro Produksi membuat rencana

produksi berdasar Forcast, stock serta standar buffer stock sejumlah 176 unit

(49)

40

dengan masing – masing sejumlah 36, 35, 35, 35, 35 unit untuk tangki dan masing

– masing sejumlah 52, 53, 53, 52 untuk panel.

Tabel 4.4

Dari data di atas dapat dilihat bahwa Biro Produksi membuat rencana

produksi berdasar Forcast, stock serta standar buffer stock sejumlah 152 unit

untuk tangki dan 378 untuk panel, yang kemudian di bagi menjadi empat minggu

dengan masing – masing sejumlah 38, 38, 38, 38 unit untuk tangki dan masing –

masing sejumlah 96, 94, 94, 94 untuk panel.

Tabel 4.5

Dari data di atas dapat dilihat bahwa Biro Produksi membuat rencana

produksi berdasar Forcast, stock serta standar buffer stock sejumlah 352 unit

(50)

41

untuk tangki dan 653 unit panel, yang kemudian di bagi menjadi empat minggu

dengan masing – masing sejumlah 88, 88, 88, 88 unit untuk tangki dan masing –

masing sejumlah 164, 163, 163, 163 unit untuk panel..

4.1.6 Pengebonan material Oktober – Desember 2013

Tabel 4.6

Pengebonan material Bulan Oktober 2013

No MATERIAL SAT OKTOBER

8 Tutup Samping Kanan

LXT/ LXC Pcs 36 71 41 74 23

9 Tutup Samping Kiri

LXT/ LXC Pcs 36 71 41 74 23

Tabel 4.7

Pengebonan material Bulan November 2013

No MATERIAL SAT

8 Tutup Samping Kanan

LXT/ LXC Pcs 24

9 Tutup Samping Kiri

(51)

42

Tabel 4.8

Pengebonan material Bulan Desember 2013

No MATERIAL SAT

8 Tutup Samping Kanan

LXT/ LXC Pcs 100 72 139

9 Tutup Samping Kiri

LXT/ LXC Pcs 100 72 139

4.1.7 Realisasi Produksi Oktober – Desember 2013

Tabel 4.9

Realisasi Produksi Bulan Oktober 2013

Tabel 4.9

Realisasi Produksi Bulan November 2013

(52)

43

Tabel 4.10

Realisasi Produksi Bulan Desember 2013

4.1.8 Work in processs Oktober – Desember 2013

Tabel 4.11

WIP Bulan Oktober 2013

No MATERIAL SAT OKTOBER

8 Tutup Samping Kanan

LXT/ LXC Pcs

WIP Bulan November 2013

No MATERIAL SAT NOVEMBER

8 Tutup Samping Kanan

(53)

44

Tabel 4.13

WIP Bulan Desember 2013

No MATERIAL SAT DESEMBER

8 Tutup Samping Kanan

LXT/ LXC Pcs

5

9 Tutup Samping Kiri

LXT/ LXC Pcs

5

4.1.9 Prosedur pengebonan dari Produksi ke Gudang Oktober – Desember

2013

Sistem bon yang dimaksud di sini adalah sistem yang digunakan dalam

permintaan barang material dari produksi ke gudang yang akan digunakan

dalam proses produksi. Terdapat dua point yang perlu diperhatikan di sini,

yaitu dari segi waktu dan jumlah material.

a. Waktu

Waktu yang dimaksud di sini adalah kapan biro produksi melakukan

bon ke gudang. Yang ber hak melakukan bon adalah orang dari

Administrasi produksi. Mereka melakukannya ketika material di

proses produksi telah habis. Apabila di ilustrasikan, ketika jam masuk

kerja, yaitu jam 8 pagi material ternyata habis, barulah mereka

melakukan bon ke gudang. Atau selain itu, apabila material habis saat

(54)

45

juga. Dapat disimpulkan bahwa waktu bon terjadi saat dibutuhkannya

material itu sendiri.

b. Jumlah

Jumlah yang dimaksud di sini adalah jumlah material yang akan di bon

ke gudang. Prosedur yang berlaku adalah material yang di bon sesuai

dengan material yang dibutuhkan untuk hari itu. Apabila di

ilustrasikan, ketika suatu hari produksi membutuhkan 10 cover LXC

dan 5 tabung enamel, maka mereka akan melakukan bon sejumlah itu

juga.

4.1.10 Gap analisis pengebonan material dengan penyerahan barang jadi

oleh produksi Oktober 2013

Tabel 4.14

WIP Bulan September 2013 Tangki

No MATERIAL SAT SEPTEMBER

1 Cover LXC Lbr 8

2 Tangki Dalam Enamel 150 Unit 15

3 Tutup Samping Kanan

(55)

46

8 Tutup Samping Kanan

LXT/ LXC Pcs 36 71 41 74 23 245

2 Tangki Dalam Enamel 150 Plat Low Carbon 2mm coating Enamel Unit 1

3 Plat Box Panel SWH Zincalume 0.3 x 1190 x 2190 mm Lbr 1

WIP bulan lalu adalah sebagai berikut:

(56)

47

dari data di atas, sisanya akan masuk ke WIP.

Tabel 4.17 WIP

No MATERIAL SAT OKTOBER

1 Cover LXC Lbr 13

2 Tangki Dalam Enamel 150 Unit 20

3 Tutup Samping Kanan

LXT/ LXC Pcs

Oktober seperti pada tabel di atas, maka berikut barang jadi Tangki yang

(57)

48

Pipa Header : (116+35) x 4 = untuk 604 unit SWH

Pipa Raiser : (2183+17) : 7= untuk 314 unit SWH

Al. Sunstrip : (2446+200) : 7= untuk 378 unit SWH

Akan mungkin dihasilkan 314 unit Panel A, didapat dari angka terkecil

dari data di atas, sisanya akan masuk ke WIP.

Tabel 4.19 WIP

No MATERIAL SAT OKTOBER

1 Plat Box Panel SWH Lbr 26

2 Kaca Es LXT / NXG pcs 30

3 Pipa Header Roll 74

4 Pipa Riser SWH Btg 37

5 Al. SunStrip Anode

LXT/ NXG Btg

483

Karena terdapat beberapa material yang masuk WIP pada akhir bulan

Oktober seperti pada tabel di atas, maka berikut barang jadi Panel A yang

bisa dihasilkan:.

Tabel 4.20 Realisasi Produksi

40 41 42 43 44

Ra 58 58 58 58 57 Ra 289

Ri 42 60 35 94 14 Ri 245

Ra 75 75 74 74 74 Ra 372

Ri 62 71 60 32 84 Ri 309

Tangki 150 LXC Panel " A " LXC

(58)

49

4.1.11 Gap analisis pengebonan material dengan penyerahan barang jadi

oleh produksi November 2013

Tabel 4.21

Material Masuk ke Produksi

No MATERIAL SAT

8 Tutup Samping Kanan

LXT/ LXC Pcs 24

2 Tangki Dalam Enamel 150 Plat Low Carbon 2mm coating Enamel Unit 1

3 Plat Box Panel SWH Zincalume 0.3 x 1190 x 2190 mm Lbr 1

(59)

50

Akan mungkin dihasilkan 31 Unit Tangki, didapat dari angka terkecil dari

data di atas, sisanya akan masuk ke WIP.

Tabel 4.23 WIP

No MATERIAL SAT NOVEMBER

1 Cover LXC Lbr 11

2 Tangki Dalam Enamel 150 Unit 31

3 Tutup Samping Kanan

LXT/ LXC Pcs

November seperti pada tabel di atas, maka berikut barang jadi Tangki yang

(60)

51

dari data di atas, sisanya akan masuk ke WIP.

(61)

52

4.1.12 Gap analisis pengebonan material dengan penyerahan barang jadi

oleh produksi Desember 2013

Tabel 4.27

8 Tutup Samping Kanan

LXT/ LXC Pcs 100 72 139 311

2 Tangki Dalam Enamel 150 Plat Low Carbon 2mm coating Enamel Unit 1

3 Plat Box Panel SWH Zincalume 0.3 x 1190 x 2190 mm Lbr 1

(62)

53

dari data di atas, sisanya akan masuk ke WIP.

Tabel 4.29 WIP

No MATERIAL SAT DESEMBER

1 Cover LXC Lbr 7

2 Tangki Dalam Enamel 150 Unit 25

3 Tutup Samping Kanan

LXT/ LXC Pcs

Desember seperti pada tabel di atas, maka berikut barang jadi Tangki yang

(63)

54

dari data di atas, sisanya akan masuk ke WIP.

(64)

55

Kesimpulan Sistem Sekarang

- Waktu

Berpotensi lama, karena terjadi line stop apabila komponen belum di bon

sebelumya

- Kontrol

Sulit untuk mengkontrol material masuk denga unit yang dihasilkan,

karena setiap material akan berbeda jumlahnya dalam proses produksi

- Kemungkinan Kehilangan

Akan berpotensi terjadinya kehilangan material, dikaremakan kontrol yang

susah

- WIP

Jumlah setiap material akan berbeda, ada yang tinggi dan rendah, tidak

sesuai dengan set.

- Produktivitas

Dengan tidak ratanya jumlah material di WIP dan waktu produksi yang

relatif lama, hal ini akan menurunkan produktivitas barang jadi.

(65)

56

BAB V

PERANCANGAN SISTEM LOT

5.1.

Pengantar

Sistem lot ini merupakan usulan prosedur baru mengenai sistem bon

material dari produksi ke gudang pada PT Wika Industri Energi. Sistem ini akan

dikembangkan pada jumlah material yang akan di bon, dari sini akan timbul

beberapa point yang perlu diperhitungkan yaitu waktu dan reject material.

a. Jumlah

Jumlah yang dimaksud di sini adalah jumlah material yang akan di

bon ke gudang. Prosedur yang berlaku adalah material yang di bon

sesuai dengan material yang dibutuhkan untuk hari itu juga. Apabila di

ilustrasikan, ketika suatu hari produksi membutuhkan 10 cover LXC

dan 5 tabung enamel, maka mereka akan melakukan bon sejumlah itu

juga.

Untuk sistem bon yang di usulkan, jumlah bon akan diterapkan

dengan sistem lot. Sistem lot ini merupakan lot untuk satu set produk

SWH 150 LXC. Jadi bon di sini dilakukan sekaligus satu lot set

produk, tidak per komponen seperti yang sekarang. Berikut beberapa

tahapan sistem lot ini:

- Pertama, dari gudang telah menyiapkan satu set komponen untuk

satu product Tangki 150 LXC dan Panel A, yang merupakan

(66)

57

- Kedua, dari satu set itu kemudian di bentuk satu lot product. Untuk

jumlah lot yang diusulkan adalah 10 unit. Jadi satu lot Tangki 150

LXC adalah 10 Set Tangki, serta satu lot Panel A adalah 10 Set

Panel A. Alasan pemilihan satu lot sama dengan 10 set didapatkan

dari rata-rata produksi SWH LXC dalam sehari yaitu 10 unit.

- Ketiga, setelah dibentuk lot, maka bon yang dilakukan oleh

produksi untuk mengambil material dari gudang adalah beberapa

lot sesuai dengan kebutuhan produksi, tergantung dari rencana

produksi setiap bulannya, dengan syarat masih dalam kelipatan lot.

- Keempat, membuat cadangan material sebesar satu set setiap

harinya yang berfungsi sebagai tempat retur sementara di produksi.

b. Waktu

Waktu yang dimaksud di sini adalah kapan biro produksi

melakukan bon ke gudang. Mereka melakukannya ketika material di

proses produksi telah habis. Apabila di ilustrasikan, salah satu contoh

nya ketika jam masuk kerja, yaitu jam 8 pagi material ternyata habis,

barulah mereka melakukan bon ke gudang. Selain itu, apabila material

habis saat proses produksi berlangsung, mereka akan melakukan bon

saat itu juga. Dapat disimpulkan bahwa waktu bon terjadi saat

dibutuhkannya material itu sendiri.

Untuk sistem yang diusulkan, waktu bon yang dilakukan adalah

setiap sore hari sebesar lot tertentu sesuai dengan rencana produksi,

(67)

58

berjalan tanpa menunggu barang datang. Dalam sistem ini akan

diberlakukan dua kali jenis bon. Bon pertama adalah untuk permintaan

material. Yang kedua adalah bon untuk menukarkan barang retur

sementara pada produksi akibat proses produksi. Untuk bon barang

retur, waktu yang dilakukan adalah setiap hari pada sore hari,

sehingga pada hari berikutnya cadangan material sudah bisa digunakan

secara utuh sebagai cadangan material.

c. Reject

Reject yang diterapkan pada sistem saat ini adalah ketika terjadi

barang reject pada proses produksi, barang ini langsung diserahkan ke

gudang yang kemudian akan diolah kelanjutannya oleh gudang. bagian

produksi hanya sebatas menerima, memproduksi, ataupun

mengembalikan ketika ada reject pada proses produksi.

Untuk sistem yang diusulkan, barang reject di sini akan ditukarkan

langsung oleh produksi pada cadangan material sebesar satu set yang

telah dicadangkan oleh produksi. Setiap sore hari, material cadangan

sebesar satu set itu akan ditukarkan ke gudang dengan satu set baru,

sehingga bisa digunakan sebagai cadangan material pada hari

berikutnya.

d. Kelebihan sistem Lot

- Jumlah Produksi untuk per unit lebih terkontrol

- Memudahkan penghitungan gap produk jadi dengan material

Gambar

Gambar 4.3 PROSES ASSEMBLING
Tabel 4.8 Pengebonan material Bulan Desember 2013
Tabel 4.11 WIP Bulan Oktober 2013
Tabel 4.14 WIP Bulan September 2013
+7

Referensi

Dokumen terkait

Perencanaan kapasitas produksi dilakukan untuk semua mesin, peralatan, dan faktor produksi lainnya sesuai dengan rencana jumlah produk akhir yang akan dihasilkan. Dengan

Perencanaan kapasitas produksi dilakukan untuk semua mesin, peralatan, dan faktor produksi lainnya sesuai dengan rencana jumlah produk akhir yang akan dihasilkan. Dengan

Perencanaan kapasitas produksi dilakukan untuk semua mesin, peralatan, dan faktor produksi lainnya sesuai dengan rencana jumlah produk akhir yang akan dihasilkan. Dengan

khusus untuk pengerjaan produk tersebut. 5) Apabila salah satu mesin rusak maka proses produksi akan berhenti. 6) Jumlah tenaga kerja yang diperlukan tidak perlu banyak

garis sering disebut sebagai produk, artinya pengaturan letak mesin-mesin atau fasilitas produksi dalam suatu pabrik yang berdasarkan atas urutan-urutan proses produksi

Dengan cara memilih metode dan memakai prosedur dekontaminasi yang tepat dan efisien maka akan dihasilkan produk dekontaminasi yang sesuai tujuan yaitu peralatan yang dapat

menggunakan mesin melainkan keahJian tangan pengrajin," kata dia. Selain itu, dari sekian banyak produksi grabah yang dihasilkan oleh pengrajin, namun pihaknya mengaku

efisiensi produktifitas kerja yang ditandai dengan jumlah kapasitas produksi, stasiun kerja yang dibuat, jadwal kerja, urutan kerja, mesin yang dipakai, sehingga dalam produksi