• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata kunci : Syndroma, Pramenstruasi, gejala fisik, gejala psikologik PENDAHULUAN - GAMBARAN SINDROMA PRAMENSTRUASI DARI GEJALA EMOSIONAL DAN FISIK PADA SISWI SMP MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kata kunci : Syndroma, Pramenstruasi, gejala fisik, gejala psikologik PENDAHULUAN - GAMBARAN SINDROMA PRAMENSTRUASI DARI GEJALA EMOSIONAL DAN FISIK PADA SISWI SMP MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN SINDROMA PRAMENSTRUASI DARI GEJALA EMOSIONAL DAN FISIK PADA SISWI SMP MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA

Wahyuni

Dosen STIKES Aisyiyah Surakarta

Abstrak

Latar Belakang. Sindrom pramenstruasi (PMS) adalah kumpulan gejala fisik, psikologis, dan emosi yang terkait dengan siklus menstruasi wanita. Sekitar 80 hingga 95 % perempuan pada usia melahirkan1,

mengalami gejala-gejala pramenstruasi yang dapat mengganggu beberapa aspek dalam kehidupan. Gejala tersebut dapat diperkirakan dan biasanya terjadi secara regular pada dua minggu periode sebelum menstruasi.

Tujuan. Mengetahui gambaran dari segi emosional maupun fisik sindroma pramenstruasi.

Metodologi Penelitian. penelitian Deskriptif dengan analisa univariat.

Hasil. sindroma pramenstruasi siswi SMP 1 Muhammadiyah Surakarta sebagian besar mengalami sindorma Pramenstruasi sedang atau sekitar 72,5 %, sedangkan yang paling sedikit dialami siswi adalah PMS ringan sekitar 9,8 % dan tingkat kecemasan siswi kelas 7 Muhammadiyah Surakarta sebagian besar mengalami tingkat kecemasan sedang atau sekitar 64,8 %, sedangkan yang paling sedikit dialami oleh siswi yaitu PMS berat sebesar 0,9 %.

Kesimpulan. Tingkat kecemasan yang paling banyak dialami siswi kecemasan sedang dan Sindroma Pramenstruasi yang paling banyak dialami siswi pada kategori sedang.

Kata kunci : Syndroma, Pramenstruasi, gejala fisik, gejala psikologik

PENDAHULUAN

Sindroma pramenstruasi atau

Pramenstruation syndrome (PMS) atau yang lebih dikenal dengan istilah PMDD {Premenstrual Dysphonic Disorder) adalah kumpulan gejala-gejala akibat perubahan hormonal yang berhubungan dengan siklus ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium) dan biasanya dialami oleh wanita yang terjadi 1-14 hari sebelum masa menstruasidimulai dan diikuti dengan tahap bebas jika masa itu telah lewat10.

PMS merupakan gabungan dari tanda-tanda fisik dan kejiwaan, suatu peningkatan ketegangan perasaan menjelang hari-hari datangnya haid, disertai mudah tersinggung, sakit kepala. perasaan tertekan dan payudara bengkak terasa sakit8.

Sindrom pramenstruasi (Bahasa Inggris:

premenstrual syndrome, PMS) adalah kumpulan gejala fisik, psikologis, dan emosi yang terkait dengan siklus menstruasi wanita. Sekitar 80 hingga 95 % perempuan pada usia melahirkan1,

mengalami gejala-gejala pramenstruasi yang dapat mengganggu beberapa aspek dalam kehidupannya. Gejala tersebut dapat diperkirakan dan biasanya terjadi secara regular pada dua minggu periode sebelum menstruasi. Hal ini dapat hilang begitu dimulainya pendarahan, namun dapat pula berlanjut setelahnya. Pada sekitar 14 % perempuan antara usia 20 hingga 35 tahun,

sindrom pramenstruasi dapat sangat hebat pengaruhnya sehingga mengharuskan mereka beristirahat dari sekolah.

Peneliti menyimpulkan bahwa dari beberapa definisi tersebut, PMS adalah sejumlah gejala fisik dan emosi yang timbul menjelang haid dan hilang sesudah haid datang dan kadang-kadang berlangsung terus sampai haid berhenti.

Menurut Yatim8, penyebabterjadinya PMS

merupakan gabungan dari beberapa faktor antara Iain: 1) Faktor psikologis : PMS lebih jelas dikeluhkan seorang wanita yang sedang mengalami konflik dalam lingkungan kehidupannya. 2) Faktor sosial: keluhan PMSsangat dipengaruhi oleh tata cara atau kultur keluarga dan kehidupan masyarakat sekitarnya ketika haid, maka keluhannya akan lebih banyak dan lebih berat dibandingkan dengan wanita yang tidak memperdulikan saat-saat datangnya haid. 3) Faktor biologis: erat kaitannya dengan pengaruh neuro endokrin seperti hormon prolaktin, meningkatnya hormon aldosteron dan angiotensin, androgen, dan prostaglandin.

(2)

bertambah, hidung tersumbat, perubahan defekasi, jerawat, sakit punggung, gatal, kepanasan. 2) Gejala Emosional. Depresi, cemas, tidak mampu, lelah suka menangis, agresif, pelupa, tidak bisa tidur, tegang, rasa bermusuhan, suka marah, perubahan dorongan seksual, konsentrasi berkurang, merasa tidak aman, keinginan menyendiri, perasaan bersalah, kelelahan, pikiran bunuh diri.

Kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal yang normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau yang belum pernah dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti hidup11.

Etiologi kecemasan dapat ditimbulkan karena berbagai penyebab, tetapi secara umum kecemasan ditimbulkan oleh bahaya yang terdapat dalam diri manusia sendiri yaitu suatu stimuli internal atau juga keadaan berbahaya dari luar yang bersangkutan ditafsirkan lain, adanya pandangan persepsi dari realitas lingkungannya (Rahmafitria, 2006: 7).

Tanda dan Gejala Kecemasan, menurut Marasmis12, menyatakan tanda dan gejala pada

kecemasan antara lain: 1)Somatik. Napas sesak, dada tertekan seperti mengambang dan linu-linu, nyeri perut, cepat lelah, dan keringat dingin. 2)Psikologik. Rasa was-was, khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, prihatin dengan pikiran orang mengenai dirinya dan merasa tegang.

Tingkat Kecemasan, menurut Stuart & Sundeen13, menyebutkan bahwa tingkatan

kecemasan dibagi : 1)Kecemasan Ringan. Kecemasan ini berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas. 2)Kecemasan Sedang: Kecemasan yang memungkinkan sseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain, sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. 3)Kecemasan Berat: Kecemasan yang sangat mempengaruhi lahan persepsi seseorang. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak dapat berfikir tentang hal yang lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Orang tersebut memerlukan ban yak pengarahan untuk dapat memusatkan ada suatu area yang lain. 4) Panik Dari Kecemasan Berhubungan dengan ketakutan, karena

mengalami kehilangan kendali, orang yang mengalami panik tidak dapat melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Terjadi peningkatan

motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang rasional. Jika panik berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan bahkan kematian.

Gejala fisik dan emosional pada Sindrom Pramenstruasi, terdapat wanita yang menderita depresi dan kecemasan. Sekitar dua hari sampai dua minggu sebelum permulaan masa haid, mereka menderita berbagai gejala dari depresi dan kekhawatiran. Kebanyakan wanita yang mengalami PMS yang menderita stress dan tekanan lain maka PMS itu bisa berlangsung lama14.

Glasier & Gebbie (2006: 381-382), menyatakan banyak gejala-gejala PMS yang dialami sedemikian berat sehingga fungsi normal wanita dan hubungan antar pribadinya terganggu (terutama di lingkungan kerja dan keluarga) dan terdapat wanita yang memang sudah memiliki gangguan psikologis, yang terjadi bersama dengan PMS, serta mungkin terjadi gangguan psikologis pada masa PMS.

Berdasarkan teori tersebut maka disimpulkan bahwa banyak gejala yang menyertai

PMS. Psikologis seseorang yang mengalami kecemasan (emosional) dan lingkungan mempengaruhi keteraturan siklus PMS. Faktor stress baik stressor dari dalam atau luar responden mempengaruhi siklus PMS baik dari keteraturan maupun volume darah menstruasi. Faktor psikologis dapat dikumpulkan oleh hilangnya kekuatan pada diri seseorang yang mengalami kecemasan. Sehingga sejumlah gejala pada fisik dan emosi yang muncul menjelang haid dan menghilang sesudah haid dan kadang-kadang berlangsung terus-menerus sampai haid berhenti. Hal ini bisa disebabkan karena banyak masalah pada wanita mengenai menstruasi yang hampir setiap bulan banyak yang mengeluhkannya yaitu PMS. Bahkan ada juga yang dapat mengganggu aktivitasnya pada saat haid mulai dan mengakibatkan seseorang tersebut cenderung mengalami kecemasan.

(3)

mengalami satu atau lebih tanda atau gejala PMS. Berdasarkan data dari Divisi Imunoendokrinologi Reproduksi Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RSCM, PMS merupakan kondisi medis umum yang memengaruhi hubungan wanita, aktivitas sosial, produktivitas kerja dan kualitas hidup. Berbagai gejala emosional yang paling umum dialami wanita saat pra-haid meliputi perasaan mudah tersinggung sebanyak 48% dan timbul suatu kecemasan ketika menghadapi PMS, kurang berenergi atau lemas 45% dan mudah marah 39%. Gejala fisik yang paling umum dialami wanita meliputi kram atau nyeri perut 51%, nyeri sendi, otot atau punggung 49%, nyeri pada payudara 46% dan perut kembung 43%3.

Dari beberapa penelitian disimpulkan bahwa ada hubungan peran orang tua dengan tingkat kecemasan menghadapi menarche.

Rahmafitria (2006), menyatakan bahwa ada hubungan antara sindrom pramenstruasi dengan tingkat kecemasan pada siswi SMU, karena sindrom pramenstruasi dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya kecemasan sehingga pengaruh sindroma pramenstruasi dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.

SMP Muhammadiyah 1 Surakarta berdasarkan hasil dari wawancara siswi kelas 7 jumlah siswi yang belum mengalami menstruasiadalah 53 siswi, sedangkan jumlah keseluruhan siswi yang sudah mengalami menstruasi adalah 102 siswi. Sekitar 50% siswi mengalami gejala fisik maupun emosional dan kecemasan dan PMSsaat menjelang menstruasi. Pada saat dilalukan penyuluhan kesehatan dengan tema "perawatan menjelang dan saat menstruasi" pada sekolah tersebut banyak pertanyaan mengenai gejala, maupun cara penanganan menstruasi yang diajukan oleh sebagian besar siswi. Adapun gejala yang dirasakan antara lain payudara nyeri, perut kembung, mual dan muntah, timbul jerawat, mudah marah dan tersinggung, gelisah, cemas, bingung dan suka menyendiri.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran dari segi emosional maupun fisik sindroma pramenstruasi pada siswi SMP Muhammadiyah 1 Surakarta sehingga dapat diketahui gejala fisik, psikologis serta tingkat kecemasan siswi saat mengalami sindroma pramenstruasi.

METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan merupakan jenis penelitian Deskriptif yang

diajukan untuk mengetahui gambaran dari segi fisik dan emosional sindroma pramenstruasi.

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Muhammadiyah 1 Surakarta, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta.

Populasi yang digunakan adalah semua siswi kelas 7 SMP Muhammadiyah 1 Surakarta yang berjumlah 156 siswi. Besar sampel yang didapatkan adalah dari total populasi yaitu 102 responden. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan total populasi yaitu semua populasi diambil sebagai sampel. Sedangkan teknik pemilihan subyek atau sampel dilakukan dengan cara menggunakan kriteria

inklusi. Kriteria inklusi sebagai berikut: 1. Siswi Kelas 7.

2. Siswi yang sudah mengalami menstruasi. 3. Siswi yang bersedia untuk menjadi responden.

Analisa data yang digunakan adalah analisis univariat dan dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif untuk memperoleh gambaran distribusi frekuensi responden baik gejala fisik dan psikologis serta gambaran tingkat kecemasan yang dialami oleh siswi SMP 1 Muhammadiyah Surakarta.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

1. Sindroma pramenstruasi

Gambar 1. Sindroma Pramenstruasi Siswi Kelas 7 SMP Muhammadiyah 1 Surakarta.

Berdasarkan gambar diatas dapat disimpulkan bahwa Sindroma Pramenstruasi siswi kelas 7 SMP 1 Muhammadiyah Surakarta sebagian besar mengalami sindorma Pramenstruasi sedang atau sekitar 72,5 %, sedangkan yang paling sedikit dialami siswi adalah PMS ringan sekitar 9,8 %.

10%

72% 18%

Ditribusi Frekuensi Sindroma Pramenstruasi siswi SMP Muhammadiyah I Surakarta

RINGAN

SEDANG

(4)

2. Tingkat Kecemasan

Gambar 2. Tingkat Kecemasan Siswi Kelas 7 SMP Muhammadiyah 1 Surakarta

Berdasarkan gambar diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat kecemasan siswi kelas 7 SMP Muhammadiyah 1 Surakarta sebagian besar mengalami tingkat kecemasan sedang atau sekitar 64,8 %, sedangkan yang paling sedikit dialami oleh siswi PMS berat sebesar 0,9 %.

Pembahasan

1. Tingkat Kecemasan Pada Siswi kelas 7 SMP Muhammadiyah 1 Surakarta

Hasil penelitian tentang tingkat kecemasan menunjukkan bahwa sebagian besar siswi kelas 7 SMP Muhammadiyah 1 Surakarta mengalami tingkat kecemasan sedang saat menghadapi PMS sebanyak responden (64,8%), sedangkan paling sedikit cemas berat yaitu 1 responden (0,9%). Hal ini disebabkan karena banyak siswi yang merasa cemas ketika menjelang atau menghadapi PMS sehingga ada suatu kecenderungan responden bahwa semakin ringan tingkat kecemasannya maka semakin ringan PMSnya. Hasil penelitian ini juga diperkuat penelitian yang sebelumnya telah dilakukan oleh Aida1, melakukan penelitian tentang

Daya Tahan Stress dan Premenstrual Syndrome pada Mahasiswi Program A PSIK FK-UGM bahwa ada perbandingan yang mencolok antara individu yang memiliki daya tahan stress rendah dengan daya tahan stress tinggi dan 100% responden mengalami PMS ringan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mengalami PMS tetapi stressor itu bukan hal yang menggangu aktivitas sehari-harinya.

Kecemasan dapat ditimbulkan karena berbagai penyebab, tetapi secara umum kecemasan ditimbulkan oleh bahaya yang

terdapat dalam diri manusia sendiri yaitu suatu stimuli internal atau juga keadaan berbahaya dari luar yang bersangkutan ditafsirkan lain, adanya pandangan persepsi dari realitas lingkungannya (Rahmafitria, 2006: 7). Menurut teori Glasier & Gebbie4, menyatakan

banyak gejala-gejala PMS yang dialami sedemikian berat sehingga fungsi normal wanita dan hubungan antar pribadinya terganggu (terutama di lingkungan kerja dan keluarga) dan terdapat wanita yang memang sudah memiliki gangguan psikologis, yang terjadi bersama dengan PMS, serta mungkin terjadi gangguan psikologis pada masa PMS.

Menurut teori Bobak et al5, yang

menyatakan bahwa pemahaman yang kurang tentang PMS dapat menimbulkan harga diri rendah dan hubungan yang dapat menimbulkan stres jika gangguan mencapai puncak. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Rochmadina6, meneliti tentang Hubungan

antara Kepribadian Introvert dengan Sindroma Pramenstruasi di Surakarta. Hasil Penelitiannya adalah ada hubungan antara kepribadian introvert dengan sindroma pramenstruasi. Tingginya prevalensi wanita yang mengalami PMS dan wanita yang

introvert dipersiapkan untuk menerima kenyataan bahwa dia mempunyai kecenderungan mengalami PMS agar tidak menjadi gangguan psikiatri

2. Sindroma Pramenstruasi (PMS) pada Siswi kelas 7 SMP Muhammadiyah 1 Surakarta

Hasil penelitian tentang PMS menunjukkan bahwa sebagian besar siswi kelas 7 SMP Muhammadiyah 1 Surakarta mengalami PMSpaling banyak kategori sedang yaitu 74 responden (72,5%), sedangkan paling sedikit kategori ringan yaitu 10 responden (9,8%). Hal ini disebabkan PMSmerupakan kondisi medis umum yang mempengaruhi hubungan siswi dengan teman yang lain, aktivitas sosial baik dilingkungan atau disekolah sehingga proses belajar siswi tersebut akan terganggu. Berbagai gejala emosional yang paling umum dialami siswi saat PMS meliputi perasaan mudah tersinggung, kurang berenergi atau lemas, cemas dan mudah marah. Gejala fisik yang paling umum dialami siswi meliputi kram atau nyeri perut, nyeri sendi, otot atau punggung, nyeri pada payudara dan perut kembung. Maka dari itu ada suatu kecenderungan siswi bahwa semakin ringan PMSnya maka semakin ringan tingkat kecemasannya.

34%

65%

1%

Distribusi Frekuensi

kecemasan Siswa

SMP

RINGAN

SEDANG

(5)

Hal ini sesuai dengan teori Brunner & Suddart7, menyatakan bahwa selama teori yang

telah dikenal tentang penyebab PMS adalah antara lain disebabkan karena kurangnya progesteron. Bila kadar progesteron yang menurun dapat ditemukan hampir pada semua wanita yang menderita PMS, maka dapat dipahami bahwa kekurangan hormon ini merupakan sebab utama. Sebagian wanita yang menderita PMS terjadi penurunan kadar progesteron dan dapat sembuh dengan penambahan progesteron, akan tetapi banyak juga wanita yang menderita gangguan PMS hebat tapi kadar progesteronnya normal. Teori lain menyatakan bahwa penyebab PMS adalah karena meningkatnya kadar estrogen dalam darah, akan menyebabkan gejala depresi dan khususnya gangguan mental. Hormon lain yang dikatakan penyebab gejala PMS adalah prolaktin. Wanita yang mengalami PMS tersebut kadar prolaktin dapat tinggi atau normal. Wanita yang mempunyai kadar prolaktin cukup tinggi dapat disembuhkan dengan menekan produksi prolakt'm.

Menurut Yatim8, penyebab terjadinya PMS

merupakan gabungan dari beberapa faktor antara lain faktor psikologis, sosial dan biologis. Ternyata hal ini sama juga yang diperkuat oleh teori Prawirohardjo9 bahwa

faktor psikologis (kejiwaan), masalah dalam keluarga, masalah sosial dan lain-lain juga memegang peranan penting. Seorang wanita yang mudah menderita PMSialah wanita yang lebih peka terhadap perubahan hormonal dalam siklus haid dan terhadap faktor-faktor psikologis.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pada analisis hasil penelitian serta pembahasan, maka dapat diperoleh kesimpulan gambaran tentang Tingkat Kecemasan dan gambaran Sindroma Pramenstruasi pada Siswi kelas 7 SMP Muhammadiyah 1 Surakarta sebagai berikut: 1. Tingkat kecemasan yang paling banyak

dialami siswi SMP Muhammadiyah 1 Surakarta yaitu kecemasan sedang.

2. Sindroma Pramenstruasi yang paling banyak dialami siswi SMP Muhammadiyah 1 Surakarta yaitu pada kategori sedang.

DAFTAR PUSTAKA

1. Aida.Y (2003)."Daya Tahan Stress dan Premenstrual Syndrome Pada Mahasiswi Program A PSIK FK-UGM."Skipsi, Program Sarjana Keperawatan UGM.Yogyakarta,hal. 32.

2. Mulyono .R (2008).'"Hubungan KarakteristikWanita Usia Produktif dengan Premenstruasi Syndrome di Poll Obstetri dan Ginekologi BPK. RSUD dr.ZaenalAbidin. ",hal.25

3. Hestiantoro(2009)."PMS Mempengaruhi Kualitas Hidup Wanita".Diakses 7 Juli 2009,Dari Kesehatan Wanita.http://www.okezone.com/PMS Mempengaruhi KuaJitas Hidup Wanita.html 4. Glasier.A dan Gebbie.A (2005).Keluarga

Berencana dan Kesehatan Reproduksi

Jakarta: EGC,hal.381-383

5. Bobak D, Lowdermilk D, Jensen M (2005).

Buku Ajar Keperawatan Maternitas.

Jakarta:EGC,hal.99O

6. Rochmadina.S (2007)."Hubungan antara Derajat Kepribadian Introvert dengan Sindroma Pramenstruasi."Skripsi, Program Sarjana Kedokteran Fakultas HNS. Surakarta.hal.4

7. B r u n n e r d a n S u d d a r t ( 2 0 0 1 ) . B u k u A j a r K e p e r a w a t a n M e d i k a l Bedah. Jakarta:EGC,hal. 1510 8. Yatim.F (2001).Haid Tidak Wajar dan

Me«opawse.Jakarta:Pustaka Populer Obor, hal.3-10

9. Prawirohardjo.S (1999). Ilmu Kebidanan.iakavta: Yayasan Bina Pustaka,hal.95,181

10. Dongoes, (2007).Kesehatan Pediatrik Jakarta: £GC,hai 564

11. Fausiah,J (2005). Psikologi Abnormal Klinis Dewasa .Jakarta:UI-Press,hal.73

12. Marasmis.W.F (2001).Catatan Ilmu Kedokteran

Jiwa.Jakarta:Erlangga,hal.231,528

13. Stuart G dan Sundeen.W, 1998. Keperawatan J/wa.Jakarta: EGC,hal.l75-178,181

Gambar

Gambar 2. Tingkat Kecemasan Siswi Kelas 7 SMP Muhammadiyah 1 Surakarta

Referensi

Dokumen terkait

Investasi pada produk unit link mengandung risiko, termasuk namun tidak terbatas pada risiko politik, risiko perubahan peraturan pemerintah atau perundang-undangan lainnya,

Terdiri dari pengaruh jejaring sosial terhadap aktivitas mahasiswa Manajemen Pemasaran Politeknik Negeri Bandung Angkatan 2012, dampak positif dan negatif

Oleh sebab itu, hasil penelitian yang menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang manajemen laktasi dengan pemberian ASI Eksklusif telah memberikan

Tanjung karang TSO in proceeding auction over land to be payment of Company’s tax liability is in accordance to requirements set in Article 32 title (2) of Tax Law dan

Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek Intelektual (tingkat daya tangkap, kecerdasan, penguasaan pengetahuan, dll), dikelompokkan sesuai dengan

Berdasarkan jumlah aset, omset tahunan dan jumlah tenaga kerja, perusahaan-perusahaan di sentra UKM yang menjadi sampel penelitian ini, disimpulkan bahwa sebagian

Rekreasi Olahraga adalah aktivitas indoor maupun outdoor yang didominasi unsur-unsur olahraga (gerak), sehingga dapat menyenangkan. Olahraga rekreasi adalah jenis

“ untuk keperluan pendaftaran hak, hak atas tanah yang berasal dari konversi hak-hak lama dibuktikan dengan alat-alat bukti mengenai adanya hak tersebut berupa bukti-bukti