BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Wakaf merupakan ibadah dalam bentuk shadaqah yang sangat banyak
manfaatnya bagi kepentingan sosial kemasyarakatan. Wakaf yang berfungsi untuk
kepentingan umat dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT. Wakaf juga
merupakan juga salah satu ibadah diutamakan dalam Islam, karena disamping
taqarrub (pendekatan) diri kepada Allah SWT, juga sebagai wujud kesejahteraan sosial lainnya.1
Mengingat akan pentingnya tanah wakaf ini, maka Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1960 telah mencantumkan adanya suatu ketentuan khusus sebagaimana
tersebut di dalam Pasal 49 ayat 3 (tiga) yang menyatakan bahwa perwakafan tanah
milik dilindungi dan diatur oleh Peraturan Pemerintah.
Adanya Peraturan Pemerintah tersebut yakni Peraturan Pemerintah Nomor 28
Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik. Sehubungan dengan perwaqafan tanah
milik adanya pengaturan tentang Pendaftaran Tanah diselenggarakan dengan
mengingat keadaan Negara dan masyarakat, dan dengan demi kepastian hukum maka
pemerintah, mengadakan pendaftaran tanah dengan ketentuan yang diatur oleh
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.2
Terhadap sertipikat tanah wakaf yang belum bersertipikat terdapat sekitar 80
(delapan puluh) persen tanah wakaf yang berada di Kabupaten Rokan Hulu belum
bersertipikat. Perintah Kabupaten Rokan Hulu dan Kementrian Agama (kemenag)
1
Hasballah Thaib,Fiqih Wakaf, Konsentrasi Hukum Islam Program Pasca Sarjana Hukum Universitas Sumatra Utara, 2003. Hlm 14.
2 Muhammad Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, Beberapa Masalah Aktual Hukum
setempat sedang mengupayakan agar semua tanah wakaf bersertipikat. Sesuai data,
dari 802 (delapan ratus dua) persil tanah wakaf di Kabupaten Rokan Hulu, sekitar 80
persennya belum bersertipikat seperti tanah, masjid, pondok pesantren, dan lainnya di
16 Kecamatan. Sementara, 20 persen tanah lain belum bersertipikat masih
menggunakan Akta Ikrar Wakaf (AIW) yang dikeluarkan KUA setempat.3Sadar akan
arti pentingnya benda Wakaf, Pemerintah memprioritaskan pengaturan tanah wakaf,
dengan keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977, tentang Perwakafan
Tanah Milik. Selanjutnya untuk memperoleh penegasan dasar hukum Fiqih tentang
tanah wakaf, sebagaimana diatur dalam Kompilasi Hukum Islam Bab Wakaf
berdasarkan Impres Nomor 1 Tahun 1991. Maka dijadikanlah Kompilasi Hukum
Islam Indonesia menjadi pedoman bagi Hakim Pengadilan Agama untuk memeriksa
kasus wakaf.
Kesadaran untuk menghadirkan cinta kasih Islam melalui wakaf
memunculkan berbagai badan wakaf. Umat Islam mulai menyadari betapa besar
keutamaan dan keistimewaan amalan ibadah wakaf ini, hingga mereka membentuk
sebuah lembaga yang berada di bawah Presiden atau pemimpin Negara yang disebut
dengan kementerian wakaf. benar sekali, Kementerian yang dibentuk dalam
Negara-negara Islam itu bukan Menteri Agama seperti di Indonesia, namun Kementerian
Perwakafan.4
Al-qur’an sendiri penuh dengan firman-firman Allah S.W.T. tentang
pemanfaatan bumi dan penjelasannya terdapat pula dalam sejumlah hadist-hadist
yakni :
3
Wawancara dengan Ahmad Supardi Hasibuan, kakan kemenag Kabupaten Rokan Hulu, pada tanggal 05 April 2015, Pukul 14.35 WIB.
4 Nur Faizin Muhith, Dahsyatnya Wakaf Amalan Dahsyat Banyak Manfaat, Pahala Deras
Dalam SuratAt-Taubatayat 116 Allah berfirman :
Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan sekali-kali tidak ada perlindungan dan penolong bagimu selain Allah.
Dan juga dalam SuratThaahaaayat 4 dan 6, Allah berfirman :
Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada dilangit, semua yang dibumi, semua yang ada diantara keduanya dan semua yang ada dibawah tanah.
SuratAn-Nisaayat 126, 131 :
Kepunyaan Allah-lah apa dilangit dan apa yang dibumi dan adalah (pengetahuan) Allah Maha meliputi segala sesuatu.
Dan kepunyaan Allah-lah apa yang dilangit dan dibumi dan sesungguh kami tidak memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertaqwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu Kafir maka (ketahuilah) sesungguhnyaapa yang dilangit dan apa yang dibumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha terpuji.
Hadist Al-Qur’an mengandung pengertian bahwa kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah kembali (semua makhluk). Jadi jelaslah
bahwa apa yang terdapat dilangit, dibumi dan diantara bumi dan langit dan dibawah
bumi tersebut kesemuanya adalah milik dari Allah S.W.T. dan kalaulah kita ingin
memanfaatkannya tentulah kita harus melaksanakan ketentuan-ketentuan yang telah
digariskan oleh Allah baik yang berasal dari Al-qur’an maupun yang berdasarkan
SunnahNabi Muhammad S.A.W. Adapun Rasulullah S.A.W. yakni :
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW, bersabda : “ Bila manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakan kepadanya.”
Sunnah tersebut bermakna : Bahwa amal orang yang telah mati terputus
berasal dari kasabnya : anaknya, ilmu yang ditinggalkanya dan sedekah jariyahnya itu
semuanya berasal dari usahanya. Tafsiran serta penjelasan dari para ahli fiqih. Allah
telah mensyari’atkan wakaf, menganjurkannya dan menjadikannya sebagai salah satu
cara untuk mendekatkan diri kepada-Nya.5
Pada umumnya wakaf di Indonesia digunakan untuk masjid, musholla,
sekolah/yayasan, makam, rumah yatim piatu dan sedikit sekali tanah wakaf yang
dikelola secara produktif dalam bentuk suatu usaha yang hasilnya dapat dimanfaatkan
bagi pihak-pihak yang memerlukan khususnya kaum fakir miskin. Pemanfaatan
tersebut dilihat dari segi sosial khususnya untuk kepentingan peribadatan memang
efektif, tetapi dampaknya kurang berpengaruh positif dalam kehidupan ekonomi
masyarakat. Apabila peruntukan wakaf hanya terbatas pada hal-hal diatas tanpa
diimbangi dengan wakaf yang dikelola secara produktif, maka kesejahteraan sosial
ekonomi masyarakat yang diharapkan dari lembaga wakaf, tidak akan dapat
terealisasi secara optimal. Wakaf bisa dijadikan sebagai lembaga ekonomi yang
potensial untuk dikembangkan selama bisa dikelola secara optimal. Karena institusi
perwakafan merupakan salah satu asset kebudayaan Nasional dari aspek sosial yang
perlu mendapatkan perhatian sebagai penopang hidup dan harga diri bangsa. Untuk
itu, kondisi wakaf di Indonesia saat ini perlu mendapat perhatian ekstra apalagi wakaf
yang ada di Indonesia pada umumnya berbentuk benda tidak bergerak dan tidak
dikelola secara produktif.6
5As-Sayyid Saabiq di Indonesiakan Oleh Mudzakir AS,Fikih Sunnah, Percetakan Offset. Hlm
148.(terjemahan)
6
http://www.academia.edu/1986023/TINJAUAN_PERWAKAFAN_TANAH_MENURUT_U
NDNG-UNDANG_NOMOR_41_TAHUN_2004_TENTANG_WAKAF_DI_KABUPATEN_SEMARANG .
Berkaitan dengan administrasi pendaftaran tanah, wakaf masuk ke dalam
kategori penetapan hak atas tanah karena terdapat kegiatan penetapan hak atas tanah
karena terdapat kegiatan penetapan tanah wakaf tersebut melalui keputusan pejabat
yang berwenang. Masalah perwakafan tanah mendapat tempat tersendiri dalam aturan
hukum di bidang keagrariaan/ pertanahan di Indonesia.
Pemberian hak atas tanah oleh Pemerintah kepada subyek hak terutama
kepada badan hukum keagamaan, dengan kewenangan untuk mempergunakan tanah
tersebut dalam rangka pengembangan kehidupan keagamaan, ditujukan dalam rangka
mencapai kesejahteraan spiritual dan material menuju masyarakat adil dan makmur.7
Secara umum perwakafan tunduk pada Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004
tentang wakaf, namun secara khusus ketentuan hukum yang mengatur tentang
perwakafan tanah milik diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28
Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik8. Jadi dengan peraturan tersebut
masalah perwakafan bersifat untuk selama-lamanya (abadi), oleh karena itu hak atas
tanah yang jangka waktunya terbatas tidak dapat diwakafkan.9
Keberadaan wakaf telah mendapat pengakuan dalam UUPA, yakni Pasal 49
yang menegaskan :
7 Pemerintah setempat memberikan arahan-arahan yang sebaiknya dilakukan oleh
masyarakat sehingga termotivasi untuk mewakafkan tanahnya, pada umumnya digunakan untuk masjid, mushola, sekolah, makam.
8 Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977 pasal 1 ayat 1, yaitu Waqaf adalah perbuatan
hukum seseorang atau badan yang memisahkan sebahagian harta kekayaannya yang berupa Tanah Milik dan melembagakannya untuk selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau kepentingan umum lainnya sesuai dengan ajaran agama islam.
9Muhammad Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis,Hukum Pendaftaran Tanah, Edisi Revisi,
1. Hak milik tanah badan-badan keagamaan dan sosial sepanjang dipergunakan
untuk usaha dalam bidang keagamaan dan sosial, diakui dan dilindungi.
Badan tersebut dijamin pula akan memperoleh tanah yang cukup untuk
bangunan dan usahanya dalam bidang keagamaan dan sosial.
2. Untuk keperluan peribadatan dan keperluan suci lainnya sebagaimana
dimaksud Pasal 14 dapat diberikan tanah yang dikuasai lansung oleh Negara
dengan hak pakai.
3. Perwakafan tanah milik dilindungi dan diatur dengan Peraturan Pemerintah.10
Ketentuan tersebut mengandung makna, bahwa perihal pertanahan erat
hubungannya dengan peribadatan dan keperluan suci lainya, yang salah satunya
adalah perwakafan tanah. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977,
wakaf tanah hak milik merupakan suatu perbuatan hukum seseorang atau badan
hukum yang memisahkan sebagian dari harta kekayaannya yang berupa tanah milik
dan melembagakannya untuk selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau
kepentingan umum lainnya sesuai dengan ajaran agama Islam.
Sebelum terbitnya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004, adanya Peraturan
Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik, adapun
beberapa peraturan tentang pelaksanaan peraturan pemerintah tersebut, diantaranya :
1. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 1977 tentang Pendaftaran
Tanah Mengenai Perwakafan Tanah Milik;
10 Adrian Sutedi, Peralihan Hak Atas Tanah dan Pendaftarannya, Jakarta, Sinar Grafika,
2. Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1978 tentang Peraturan
Pelaksanaan PP Nomor 28 Tahun 1977 tentang perwakafan Tanah Milik;
3. Instruksi Bersama antara Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 1
Tahun 1978 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun
1977 tentang Perwakafan Tanah Milik;
4. Peraturan Direktorat Jenderal Bimas Islam Departemen Agama Nomor
Kep/D/75/D/1978 tentang Formulir dan pedoman pelaksanaan peraturan
tentang perwakafan tanah milik;
5. Keputusan Menteri Agama Nomor 73 Tahun 1978 tentang Pendelegasian
Wewenang kepada Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama
Provinsi/setingkat di seluruh Indonesia untuk mengangkat/memberhentikan
setiap kepala KUA Kecamatan sebagai Pejabat Pembuatan Akta Ikrar Wakaf;
6. Instruksi Menteri Agama RI Nomor 3 Tahun 1979 tanggal 19 Juni 1979
tentang Petunjuk Pelaksanaan Keputusan Menteri Agama Nomor 73 Tahun
1978;
7. Surat Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor D.Ii/5/07/1981 tanggal 17
Februari 1981 kepada Gubernur KDH Tk. I di seluruh Indonesia, tentang
pendaftaran perwakafan tanah milik dan permohonan keringanan atau
pembebasan dari semua pembebanan biaya pendaftaran.11
11Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia, Jakarta, Kencana
Sejak berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang
Perwakafan Tanah Milik, semua peraturan perundang-undangan tentang perwakafan
sebelumnya, sepanjang bertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini dinyatakan
tidak berlaku lagi. Adapun hal-hal yang belum diatur, akan diatur lebih lanjut oleh
menteri Agama Republik Indonesia dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia
sesuai dengan bidang wewenang dan tugas masing-masing langkah-langkah yang
diambil oleh Departemen Agama Republik Indonesia sehubungan dengan terbitnya
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 ini antara lain, pertama, mendata
seluruh tanah wakaf hak milik diseluruh wilayah tanah air guna menentukan tolak
ukur pengelolaan, pemberdayaan, dan pembinaan, kedua, memberikan sertifikasi
tanah wakaf yang belum disertifikasi dan memberikan advokasi terhadap tanah wakaf
yang bermasalah.12
Terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977, maka semakin jelaslah
pemerintah berkehendak selain menertibkan perwakafan tersebut juga untuk
menginventarisir agar dapat berdaya guna yang sebaik-baiknya dan terhindarlah
penyelewengan-penyelewengan yang mungkin terjadi atas benda perwakafan.
Dengan pendaftaran dan diawasi oleh Kantor Urusan Agama.13 Dengan demikian
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977, pelaksanaan wakaf tanah
milik harus dilakukan secara tertulis, artinya tidak cukup hanya dengan ikrar saja.
Tujuannya untuk memperoleh bukti yang otentik yang dapat dipergunakan untuk
berbagai persoalan seperti untuk bahan pendaftaran pada Kantor Badan Pertanahan
12
Suhrawadi K. Lubis,Wakaf dan Pemberdayaan Umat, Jakarta, Sinar Grafika, 2010. Hlm 154. 13A.P. Parlindungan, Bunga Rampai Hukum Agraria Serta Landreform, Bandung, Mandar
Nasional Kabupaten/Kota dan untuk keperluan penyelesaian sengketa yang mungkin
timbul kemudian hari tentang tanah yang diwakafkan.14
Ruang lingkup semacam mewakafkan tanahnya untuk kepentingan seorang
pribadi atau keluarga (wakaf ahli), maka guna tidak menyulitkan nantinya setelah
orang yang menerima wakaf (nadzir) meninggal dunia mengingat wakaf tidak dapat dialihkan15, baik dengan cara hibah, jual beli, warisan dan lain-lainnya. Dari uraian
tersebut, maka yang menjadi ruang lingkup pengaturannya perwakafan mencakup16:
1. Tanah yang dapat diwakafkan adalah tanah yang berstatus hak milik, karena
ia mempunyai sifat terkuat dan terpenuh bagi si pemilik tanah tersebut,
sehingga dari sifat tersebut si pemilik tanah tidak terikat dengan tenggang
waktu dan persyaratan tertentu dengan pemilikan dan penggunaannya. Oleh
karena itu, apabila tanah tersebut diwakafkan, tidak menimbulkan akibat yang
dapat mengganggu sifat kekekalan kelembagaan wakaf tanah.
2. Perwakafan harus diperuntukkan untuk masyarakat banyak, bukan untuk
kepentingan pribadi, karena akan mendatangkan manfaat dan maslahat bagi
masyarakat. Ketentuan ini melekat pada hak atas tanah yang dianut
Undang-Undang Pokok Agraria.
3. Tanah wakaf terlembagakan untuk selama-lamanya dalam waktu yang kekal
dan abadi. Tidak ada wakaf yang bertenggang waktu tertentu.
14Rachmadi Usman,Hukum Perwakafan Di Indonesia, Jakarta, Sinar Grafika, 2009. Hlm 87. 15
Karena ketidak professional nazhir banyak harta benda wakaf yang tidak memberi manfaatdan banyak pula harta wakaf yang dijadikan bahan warisan dari para sanak keturunan nazhir.
4. Tujuan peruntukan sebagai kepentingan peribadatan atau kepentingan umum.
5. Wakaf memutuskan hubungan kepemilikan antara wakif dengan mauqufbih-nya dan selanjutnya status kepemilikannya menjadi milik untuk kepentingan
masyarakat.
6. Wakif tidak dapat menarik kembali terhadap tanah yang telah diwakafkan.
7. Ikrar harus dilakukan di hadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf, guna
mendapatkan akta autentik yang akan dapat dipergunakan dalam berbagai hal
seperti untuk mendaftarkan tanahnya kepada Kepala Kantor Badan
Pertanahan Nasional ataupun sengketa yang terjadi dikemudian hari.
Ikrar Wakaf ini terdapat dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 dalam
pasal 18 menyatakan :
Dalam hal wakif tidak dapat menyatakan ikrar wakaf secara lisan atau tidak
dapat hadir dalam pelaksanaan ikrar wakaf karena alasan yang dibenarkan
oleh hukum, Wakif dapat menunjuk kuasanya dengan surat kuasa yang
diperkuat oleh 2 (dua) orang saksi.
Wakif memiliki otoritas penuh terhadap harta yang ingin diwakafkan, untuk
apa harta tersebut dimanfaatkan bagi kebajikan.17 Karena bila wakaf telah terjadi,
maka tidak boleh diperjual belikan, dihibahkan atau diwariskan18. Dan wakif
17
Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji,Paradigma Baru Wakaf di Indonesia, USU Press, 2004. Hlm 30.
18Hasballah Thaib,Perbandingan Mazhab Dalam Ilmu Hukum Islam, Fakultas Pasca Sarjana
perseorangan ini hanya dapat melakukan wakaf apabila memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut19:
1. Dewasa
2. Berakal Sehat
3. Tidak terhalang melakukan perbuatan hukum, dan
4. Pemilik sah harta benda wakaf.
Perwakafan tanah yang diwakafkan oleh pewakif sangat penting dalam
syaratnya perwakafan karena bila orang yang berwakaf mati, maka waris tidak dapat
mewariskan, sebab yang demikian inilah yang dikehendaki oleh wakaf.20 Sedangkan
pendaftaran tanah wakaf telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24
Tahun1997. Pada pasal 24 ditegaskan :
“ untuk keperluan pendaftaran hak, hak atas tanah yang berasal dari konversi hak-hak lama dibuktikan dengan alat-alat bukti mengenai adanya hak tersebut berupa bukti-bukti tertulis, keterangan saksi dan atau pernyataan yang bersangkutan yang kadar kebenarannya oleh Panitia Ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistematik atau oleh Kepala Kantor Pertanahan dalam mendaftarkan hak secara sporadik, dianggap cukup untuk mendaftarkan hak, pemegang hak dan hak-hak pihak lain yang membebaninya.21
Penelitian ini berawal dari ketertarikan peneliti terhadap permasalahan tanah
wakaf yang mana tanah tersebut dahulunya dipunyai oleh Almh Suduk yang
meninggal pada tahun 1963, sebelum meninggal Almh Suduk telah mewakafkan
tanahnya tersebut untuk membangun sebuah rumah sekolah madrasah kepada
anaknya Almh Sarah yang meninggal pada usia 96 Tahun. Dalam perwakafan tanah
tersebut tidak didukung oleh bukti fisik dari akta ikrar wakaf karena pada saat itu
masyarakat banyak mewakafkan tanahnya hanya dengan secara lisan saja. Dengan
adanya sertifikat hak milik atas tanah tersebut dan belum adanya Akta Ikrar Wakaf
maka dibangun sebuah sekolah MTS yang mana pada tahun tersebut baru dibangun
sekitar 3 (tiga) lokal saja, setelah tahun berganti tahun karena jumlah murid juga
bertambah maka dibangun kembali bangunan lokal lain dengan membeli tanah yang
ada disekitar tanah tersebut tetapi masih masuk kedalam tanah yang ingin diwakafkan
berdasarkan keputusan bersama atas nama ahli waris, dengan adanya kepala yayasan
sekolah tersebut memegang sertifikat hak milik tersebut yakni H. Achmad selaku
kepala sekolah MTS tersebut, tanpa pengetahuan ahli waris surat tanah hak milik
tersebut berubah nama atas kepala sekolah dan ternyata surat tersebut telah diambil
oleh Kementrian Agama Kabupaten Rokan Hulu karena terdapatnya sengketa diatas
tanah Wakaf tersebut. Kemudian anak dari Almh Sarah yakni Edi Warman
menggugat tanah wakaf ke Pengadilan Agama karena Kementrian Agama Kabupaten
Rokan Hulu ingin menasionalkan yayasan tersebut dari swasta atas kepemilikan
wakaf bersama ahli waris.22
Kegiatan mewakafkan tanah wakaf, sudah sah secara Islam bila orang
mewakafkan (Wakif) harta benda tidak bergeraknya ataupun tanah hak milik dan disaksikan oleh dua orang saksi. Namun demikian, untuk urusan administrasi dan
hukum pertanahan keabsahannya itu belumlah sempurna, artinya belum dapat
22Wawancara terhadap H. Ni’saiKepala Suku Adat Melayu Tengah Kecamatan Ujung Batu
memperoleh kepastian dan perlindungan hukum apabila perwakafan tersebut tidak
sampai diterbitkan Akta Ikrar Wakaf oleh PPAIW di KUA dan Sertifikat Tanah
Wakaf oleh Kepala Kantor Pertanahan.23 Setelah Tanah Wakaf di wakafkan, Nadzir
wajib mendaftarkan tanah kepada Kantor Badan Pertanahan. Dengan demikian
pendaftaran tanah perwakafan ini sangat penting artinya, baik ditinjau dari segi tertib
hukum maupun dari segi administrasi penguasaan dan penggunaan tanah sesuai
dengan peraturan perundang-undangan agraria.24
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana mendaftarkan tanah milik untuk wakaf menurut Undang-Undang
Pokok Agraria (UUPA) jo Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 ?
2. Bagaimana status hukum tanah wakaf yang belum terdaftar di Badan
Pertanahan Nasional (BPN) ?
3. Bagaimana cara mendapatkan kepastian hukum terhadap tanah wakaf setelah
adanya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas, maka penelitian
ini bertujuan untuk :
23Herman Hermit ,Cara Memperoleh Sertifikat Tanah Wakaf, Bandung, Mandar Maju, 2007.
Hlm21
1. Untuk mengetahui mendaftarkan tanah milik untuk wakaf menurut
Undang-Undang Pokok Agraria Jo. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997
2. Untuk mengetahui status hukum tanah wakaf yang belum terdaftar di Badan
Pertanahan Nasional (BPN)
3. Untuk mengetahui kepastian hukum terhadap tanah wakaf setelah adanya
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun
praktis.
1. Kegunaan secara teoritis dari hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat
dalam bentuk sumbangan saran untuk perkembangan Ilmu Hukum pada
umumnya serta ilmu Kenotariatan khususnya tentang tanah wakaf yang
mendaftarkan di Badan Pertanahan Nasional menurut Peraturan Pemerintah
Nomor 24 Tahun 1997 dan Undang-Undang Pokok Agraria.
2. Kegunaan secara praktis dari hasil penelitian ini dapat memberikan informasi
kepada pihak-pihak yang berhubungan dengan pendaftaran tanah wakaf.
selain itu, masyarakat dan praktisi hukum dapat menyadari bahwa kedudukan
tanah wakaf adalah untuk mensejahterakan masyarakat dan merupakan milik
bersama, bukan milik nadzir ataupun pihak tertentu yang menguasai tanah tersebut.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan hasil penelusuran sementara dan pemeriksaan yang telah
Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, ditemukan
beberapa penelitian mengenai pendaftaran tanah wakaf, tetapi dibahas secara terpisah.
1. Tesis saudara Abdul Rahim, NIM: 037011003/MKn, dengan judul Pelaksanaan
Pendaftaran Tanah Wakaf Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977
di Sumatera Barat (Studi kasus di Kota Padang), dengan permasalahan sebagai
berikut :
a. Bagaimanakah pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977
tentang pendaftaran tanah wakaf di Kota Padang .
b. Faktor-faktor apakah yang mendukung dan menghambat pelaksanaan
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 di Kota Padang .
c. Upaya apa saja yang telah dan akan ditempuh oleh pihak terkait dalam
mewujudkan terlaksananya Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 di
Kota Padang.
Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa tanah wakaf yang sudah
keluar sertifikatnya didukung oleh upaya yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak,
baik dari pihak yang mengurus maupun dari pihak Badan Pertanahan Nasional yang
berwenang mengeluarkan sertifikat, sedangkan tanah wakaf yang masih dalam proses
penerbitan sertifikatnya, memerlukan kegigihan dalam melakukan pengurusan
tersebut, menyelesaikan secepat mungkin perselisihan yang ada dalam kelompok
kaum, serta usaha yang maksimal dari berbagai pihak dalam mencari penyelesaian
Hasil yang didapat dalam tesis tersebut adalah bahwa pelaksanaan Peraturan
Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 di Kota Padang, terdapat hal-hal yang mendukung
peraturan tersebut antara lain adanya dukungan dari berbagai pihak seperti tokoh adat
dan tokoh agama, tingginya keinginan masyarakat untuk mewakafkan tanahnya demi
kepentingan sosial dan agama serta pemahaman kepastian hukum terhadap tanah
wakaf, adanya proyek departemen agama yang membebaskan persertifikasian tanah
wakaf disamping itu adapula faktor-faktor yang menjadi penghambat antara lain :
masih adanya masyarakat yang tidak memahami pentingnya persetifikasian tanah
wakaf, adanya perselisihan antara wakif dengan nadzir, wakif dengan anggota kaum,
serta kurangnya tenaga yang menangani urusan perwakafan tanah dan kurangnya
koordinasi antara Departemen Agama dengan Badan Pertanahan Nasional untuk
menyelesaikan pensertifikatan tanah wakaf yang menjadi program nasional ini.
2. Tesis saudara Rahmat Parlaungan Siregar, NIM 107011105/MKn, dengan judul
Problematika Pendaftaran Tanah Wakaf (Studi Di Kecamatan Percut Sei Tuan,
Kabupaten Deli Serdang, dengan permasalahan sebagai berikut :
a. Bagaimanakah wakaf menurut perspektif hukum Islam dan Hukum Agraria.
b. Bagaimakah pendaftaran perwakafan tanah di Kecamatan Percut Sei Tuan
Kabupaten Deli Serdang .
c. Bagaimanakah Problematika serta peran Kantor Urusan Agama (KUA) dan
Badan Pertanahan Nasional (BPN) dalam pendaftaran tanah wakaf di
Dari hasil penelitian pendaftaran perwakafan tanah yang terjadi di Kantor
Urusan Agama (KUA) Kecamatan Percut Sei Tuan terdapat kendalanya yakni wakif
tidak dapat menunjukkan alas hak atas tanah yang diwakafkan, oleh karenanya pihak
BPN tidak dapat menerbitkan sertifikat atas tanah yang diwakafkan tersebut, padahal
tanah wakaf tersebut sudah di ikrar wakafkan di Kantor Urusan Agama (KUA).
Berdasarkan uraian kedua judul tesis tersebut diatas, Maka penelitian ini
adalah asli adanya. Artinya secara akademik penelitian ini dapat
dipertanggungjawabkan keaslilan, karena belum ada yang melakukan penelitian yang
sama antara judul dengan permasalahan yang diambil dalam penelitian ini, sehingga
dapat dipertanggungjawabkan secara akademis berdasarkan nilai-nilai objektifitas dan
kejujuran.
F. Kerangka Teori dan Konsepsi
1. Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan pemikiran atas butir-butir pendapat, atau teori,
tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan (problematika) yang menjadi
perbandingan, pegangan teoritis.25 Penelitian hukum dalam tataran teori ini
diperlukan bagi mereka yang ingin mengembangkan suatu bidang kajian hukum
tertentu. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan dan memperkaya pengetahuannya
dalam penerapan aturan hukum. Dengan melakukan telah mengenai konsep-konsep
hukum.26 Teori dipergunakan sebagai landasan atau alasan mengapa suatu variable
25M. Solly Lubis,Filsafat dan Penelitian, Bandung, Mandar Maju, 1994. Hlm 80.
26Peter Mahmud Marzuki,Penelitian Hukum, Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2006.
bebas tertentu dimasukan dalam penelitian.27 Selain itu teori bermanfaat untuk
memberikan dukungan analisis terhadap topik yang sedang dikaji. Oleh karena itu
dalam meneliti tentang kajian terhadap analisis status tanah wakaf yang belum
terdaftar bila terjadi gugatan ahli waris di pengadilan agama digunakan teori sebagai
pisau analisis untuk menjelaskan permasalahan yang ada yaitu dengan Teori
Kemashlahatandan Teori Kepastian Hukum.
Teori yang pertama digunakan sebagai landasan analisis adalah teori hukum
Islam adanya TeoriKemashlahatan. Teori Kemashlahatan adalah teori manfaat atau suatu pekerjaan yang mengandung manfaat. Istilah ini dikemukakan ulama Ushul Fiqih dalam membahas metode yang dipergunakan saat melakukan istinbath
(menetapkan hukum berdasarkan dalil-dalil yang terdapat padanash).
Imam Al-Ghazali, ahli Fikih mazhab al-Syafi’I, mengemukakan bahwa : “Mengambil manfaat dan menolak kemudharatan dalam rangka memlihara tujuan-tujuan syarak”. Ia memandang bahwa suatu kemashlahatan harus sejalan dengan tujuan syarak, sekalipun bertentangan dengan tujuan-tujuan manusia. Alasannya, kemashlahatan manusia tidak selamanya didasarkan kepada kehendak syarak, tetapi sering didasarkan kepada kehendak hawa nafsu.28
Selanjutnya, Imam al-Ghazali berpendapat bahwa tujuan syarak yang harus dipelihara tersebut ada lima bentuk, yaitu : memelihara agama, jiwa, aqal, keturunan,
dan harta. Apabila seseorang melakukan suatu perbuatan yang intinya bertujuan
memelihara kelima aspek tujuan syarak tersebut, maka perbuatannya dinamakan
27J. Supranto,Metode Penelitian Hukum dan Statistik, Jakarta, Rineka Cipta,2003. Hlm 192 28 Zamakhsyari, Teori-Teori Hukum Islam Dalam Fiqh dan Ushul Fiqih, Bandung,
mashlahat. Di samping itu, upaya untuk menolak segala bentuk kemudharatan yang berkaitan dengan kelima aspek tujuansyaraktersebut juga dinamakanmashlahat.29
Dalam hal ini,Imam Asy-Syatibi, ahliushul Fiqih mazhab Maliki, mengatakan tidak dibedakan antara kemashlahatan dunia dan kemashlahatan akhirat, karena
apabila kedua kemashlahatan tersebut bertujuan untuk memelihara kelima tujuan
syarak diatas, maka keduanya termasuk ke dalam konsep mashlahat. Karena menurut
Imam Asy-Syatibi, kemashlahatan dunia yang dicapai seorang hamba Allah SWT
harus bertujuan untuk kemaslahatan di akhirat.30
Dari Ibnu ‘Umar r.a. berkata :
“Umar telah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, lalu dia datang kepada Nabi SAW untuk minta pertimbangan tentang tanah itu, maka katanya : Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, di mana aku tidak mendapatkan harta yang lebih berharga bagiku selain dari padanya. Maka apakah yang hendak engkau perintahkan kepadaku sehubungan dengannya? Maka kata Rasulullah SAW, kepadanya : “Jika engkau suka, tahankanlah tanah itu, dan engkau sedekahkan manfaatnya”.
Maka, ‘Umarpun menyedekahkan manfaatnya, dengan syarat tanah itu tidak akan dijual, tidak diberikan dan tidak diwariskan. Tanah itu dia wakafkan kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, memerdekakan hamba sahaya, sabilillah, ibnussabil dan tamu. Dan tidak ada halangan bagi orang yang mengurusinya untuk memakan sebagian darinya dengan cara ma’ruf, dan memakannya tanpa menganggap bahwa tanah itu miliknya sendiri.31
Teori yang kedua yang dipakai dalam penelitian ini adalah teori kepastian
hukum. Dalam asas kepastian hukum sudah umum bilamana kepastian sudah menjadi
bagian dari suatu hukum. Hal ini lebih diutamakan untuk norma hukum tertulis.
Kepastian hukum menghendaki adanya upaya pengaturan hukum dalam
perundang-29
Ibid. Hlm 37.
30 As-Syathibi, Al-Muwafaqaat Fi Ushul al-Syari’ah, jilid 4, diterjemahkan oleh Amir
Syarifuddin, Jakarta Kencana. Hlm 36.
undangan yang dibuat oleh pihak yang berwenang dan berwibawa, sehingga aturan
itu memiliki aspek yuridis yang dapat menjamin adanya kepastian hukum.
Menurut J.J.H. Bruggink mengatakan :
“seluruh pernyataan yang saling berkaitan berkenaan dengan sistem kospetual
aturan-aturan hukum dan putusan-putusan hukum, dan sistem tersebut untuk
sebagian yang penting dipositifkan”.32
Selanjutnya Sudikno Mertokusumo menyatakan :
Tanpa kepastian hukum orang tidak tahu apa yang harus diperbuatnya dan akhirnya timbul keresahan. Tetapi terlalu menitik beratkan kepada kepastian hukum, terlalu ketat menaati peraturan hukum akibatnya kaku dan akan menimbulkan rasa tidak adil. Adapun yang terjadi peraturannya adalah demikian dan harus ditaati atau dilaksanakan. Undang-undang itu sering terasa kejam apabila dilaksanakan secara ketat “lex dura set tamen scipta” (Undang-Undang itu kejam, tetapi demikianlah bunyinya.33
Kepastian hukum menunjuk kepada pemberlakuan hukum yang jelas, tetap,
konsisten yang pelaksanaannya tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang
sifatnya subjektif. Adapun kepastian hukum sangat diperlukan untuk menjamin
ketentraman dan ketertiban dalam masyarakat karena kepastian hukum dalam bentuk
peraturan atau ketentuan umum mempunyai sifat sebagai berikut :
a. Adanya paksaan dari luar (sanksi) dari penguasaan yang bertugas
mempertahankan dan membina tata tertib masyarakat dengan perantara
alat-alatnya.
32
Otje Salman dan Anthon. F, Susanto Teori Hukum mengingat, mengumpulkan, dan membuka kembali, Bandung, Refika Aditama, 2013. Hlm 60.
33 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum (suatu pengantar), Yogyakarta, Liberty, 1988.
b. Sifat Undang-Undang mengikat dan berlaku bagi siapa saja.34
Undang-Undang Pokok Agraria nomor 5 tahun 1960 juga telah menegaskan
pentingnya kepatian hukum akan status obyek, khusunya obyek yang diperuntukkan
untuk kegiatan sosial. Dalam Pasal 19 Undang-Undang tersebut ditegaskan bahwa :
1. Untuk menjamin kepastian hukum oleh Pemerintah diadakan pendaftaran
obyek diseluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan
yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.
2. Pendaftaran tersebut dalam ayat (1) pasal ini meliputi :
Pengukuran perpetaan dan pembukuan obyek;
Pendaftaran hak-hak obyek dan peralihan hak-hak tersebut;
Pemberian surat-surat tanda bukti hak, yang berlaku sebagai alat
pembuktian yang kuat.
Sudikno Mertokusumo memberikan ketegasan prinsip bahwa hukum haruslah
berfungsi sebagai perlindungan bagi kepentingan manusia, agar kepentingan manusia
terlindungi secara benar, maka hukum harus dilaksanakan/ditegakkan secara adil.
Dalam menegakkan hukum, menurut Sudikno, ada tiga unsure yang tidak boleh tidak
harus diperhatikan, yaitu : Kepastian hukum (Rechtssicherheit), Kemanfaatan
(Zweckmassigkeit), Keadilan (Gerechtigkeit).35
34Yahya.A.Z,Keadilan dan Kepastian Hukum,
http://yahyazeinin.blogspot.com/2008/07/keadilan-dan-kepastian-hukum.html,tanggal akses 30 November 2014, pukul 14.00 WIB.
35 Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-bab tentang Penemuan Hukum, Bandung: PT.
Wakaf itu bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sedang
bertasharruf (menafkahi) kepada diri sendiri itu juga merupakan pendekatan kepada
Allah SWT. karena kehidupan masyarakat Indonesia yang mayoritas pemeluk Agama
Islam, maka lembaga yang mengurusi tentang perwakafan tanah harus mengikuti
konsep-konsep hukum Islam serta menjamin tanah yang sudah diwakafkan.
2. Konsepsi
Konsepsi berasal dari bahasa latin,conceptusyang memiliki arti sebagai suatu
kegiatan atau proses berfikir, daya berpikir khususnya penalaran dan pertimbangan.
Konsepsi adalah salah satu bagian yang terpenting dari teori, peranan konsepsi dalam
penelitian ini untuk menghubungkan teori dan observasi, antara abstraksi dan
kenyataan. Konsep diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang
digeneralisasikan dari hal-hal khusus yang disebut defenisi operasional.36
Pengertian wakaf menurut pasal 25 Buku III Kompilasi Hukum Islam, adalah
perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang
memisahkan sebahagian dari benda miliknya dan kelembagaannya untuk selamanya
untuk kepentingan Ibadah, atau keperluan umum lainnya sesuai ajaran agama Islam.
Wakaf ialah : “Orang atau orang-orang atau Badan Hukum yang mewakafkan Tanah
miliknya”, (pasal 215 KHI dan pasal 1 ayat 2 Peraturan Pemerinrtah Nomor 28 Tahun
1977). Pengertian Ikrar yaitu pernyataan kehendak dari Waqif untuk mewaqafkan
benda miliknya, pasal 215 angka (3). Ikrar harus diucapkan/diikrarkan secara lisan,
dihadapan Pejabat atau sekurang-kurangnya dua saksi. Selanjutnya setelah diikrarkan
secara lisan, maksud pewaqaf itu dituangkan dalam bentuk tertulis. Apabila waqif itu
tidak mampu menyatakan ikrar secara lisan (bisu) dapat menyatakan dengan isyarat.
Sedangkan Nadzir ialah kelompok atau Badan Hukum yang diserahi tugas pemeliharaan dan pengurusan benda-benda waqaf (pasal 215 angka (5) Kompilasi
Hukum Islam.37
Nadzhir adalah pihak yang menerima harta benda wakafdari wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan peruntukannya.
Akta Ikrar Wakaf yang selanjutnya disingkat AIW adalah bukti pernyataan
kehendak wakif untuk mewakafkan harta benda miliknya guna dikelola Nadzhir
sesuai dengan peruntukan harta benda wakif yang dituangkan dalam bentuk akta.
Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf, yang selanjutnya disebut PPAIW adalah
pejabat yang berwenang yang ditetapkan oleh Menteri untuk membuat Akta Ikrar
Wakaf.38
Badan Wakaf Indonesia, yang selanjutnya disebut BWI adalah lembaga
independen dalam pelaksanaan tugasnya untuk mengembangkan perwakafan di
Indonesia.39
Kepala Kantor Urusan Agama, yang selanjutnya disingkat KUA adalah
pejabat Departemen Agama yang membidangi urusan agama Islam ditingkat
Kecamatan.
Badan Pertanahan Nasional adalah Lembaga Pemerintahan Departemen yang
berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Badan pertanahan Nasional
37Hasballah Thaib,Ibid, Hlm 15.
mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara
nasional, regional dan sektoral yakni melaksanakan pelayanan administrasi umum di
bidang pertanahan, penyelenggaraan dan pelaksanaan survey, pengukuran dan
pemetaan serta pelaksanaan pendaftaran tanah dalam rangka menjamin kepastian
hukum.40
Pendaftaran Tanah Wakaf adalah setiap perjanjian yang bermaksud
memindahkan sesuatu hak atas tanah, memberikan sesuatu hak baru atas tanah,
menggadaikan tanah atau meminjam uang dengan hak atas tanah sebagai tanggungan,
harus dibuktikan dengan suatu akta yang dibuat oleh dan dihadapan pejabat yang
ditunjuk oleh Menteri Agraria.41
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini problematika status
kepemilikan tanah wakaf adalah permasalahan-permasalahan yang terkandung di
dalam tanah wakaf yang belum terdaftar bila terjadi gugatan ahli waris.
G. Metode Penelitian
Metode Penelitian merupakan suatu sistem dan suatu proses yang mutlak
harus dilakukan dalam suatu kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan. Penelitian Hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah, yang didasarkan
pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari
satu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisannya, maka
diadakan pemeriksaan mendalam terhadap fakta hukum tersebut, untuk kemudian
40Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional.
41 Tampil Anshari Siregar,Pendalaman Lanjutan Undang-Undang Pokok Agraria, Medan,
mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul di
dalam gejala yang bersangkutan.42
1. Sifat dan Jenis Penelitian
Penelitian hukum dilakukan karena berbagai alasan. Penelitian hukum
dilakukan untuk mengidentifikasi sumber hukum yang dapat diterapkan pada
problem hukum tertentu dan menemukan solusi atas problem yang diidentifikasikan
tersebut.43Sebagaimana permasalahan yang telah dirumuskan diatas maka penelitian
yang akan dilakukan adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini bersifat dekriptif
analisis artinya hasil penelitian ini berusaha memberikan gambaran secara
menyeluruh tentang suatu keadaan atau gejala yang diteliti. Sehingga penelitian
memberikan gambaran secara rinci, sistematis, dan menyeluruh mengenai
mendaftarkan tanah wakaf di BPN menurut Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun
1997 dan UUPA, serta mendapatkan kepastian hukum terhadap tanah wakaf setelah
adanya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 yang berada di Kecamatan Ujung
Batu Kabupaten Rokan Hulu.
2. Sumber Data
Data yang digunakan sebagai bahan analisis penelitian tesis ini adalah data
sekunder. Data sekunder dalam hal ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu Bahan hukum
primer, sekunder dan tersier, yang dapat diuraikan sebagai berikut :
42
Soerjono Soekanto,Panduan Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2007. Hlm 43.
43 Dyah Ochtorina Susanti dan A’an Efendi, Penelitian Hukum (Legal Research), Jakarta,
a. Baham Hukum Primer adalah sumber hukum yang mempunyai kekuatan
mengikat yakni peraturan perundang-undangan, dokumen-dokumen yang
berkaitan dengan tanah wakah khususnya tanah wakaf di Kecamatan Ujung
Batu Kabupaten Rokan Hulu.
b. Bahan Hukum Sekunder adalah bahan hukum yang digunakan untuk
mengetahui informasi dan penerapan dari bahan hukum primer, diantaranya
bertujuan untuk mengetahui ajaran, doktrin dan pendapat para ahli. Untuk
penelitian ini bahan hukum sekunder tersebut diperoleh melalui buku-buku,
artikel ilmiah, makalah, tesis yang berhubungan dengan topik tesis.
c. Bahan Hukum Tersier adalah bahan-bahan yang memberikan petunjuk
maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.
Dalam penelitian ini yang digunakan adalah kamus, ensiklopedia dan
lain-lain.
3. Alat Pengumpul Data
Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Study Kepustakaan (library research), yaitu pengumpulan data dengan
melakukan penelaahan kepada pustaka atau data sekunder yang meliputi
bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.
b. Wawancara, dimaksudkan melakukan tanya jawab secara lansung antara
peneliti dengan nara sumber untuk mendapatkan informasi.44 Yakni, dengan
44 Soerjono Soekanto, dan Sri Mahmudji, Penelitian Hukum Normatif, Jakarta, PT Raja
menggunakan pedoman wawancara yang telah ditentukan (terstruktur) yang
ditujukan kepada responden yang telah ditetapkan, yakni :
1. Kepala Pengadilan Agama Kabupaten Rokan Hulu Kecamatan Ujung
Batu.
2. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Rokan Hulu Kecamatan Ujung
Batu.
3. Kementrian Agama Kabupaten Rokan Hulu.
4. Ahli Waris yang bernama Edy Tiawarman.
4. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini akan menggunakan metode analisis
kualitatif, yaitu penelitian dilakukan dengan menganalisis terhadap data-data atau
bahan-bahan hukum. Selanjutnya, ditarik kesimpulan dengan metode deduktif, yakni
berfikir dari hal yang umum menuju kepada hal yang khusus atau spesifik dengan
menggunakan perangkat normatif. Analisis data dilakukan setelah diperoleh data
sekunder berupa bahan hukum primer, sekunder dan tersier sehingga memberikan