• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Keuangan sub risiko risk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Manajemen Keuangan sub risiko risk "

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN KEUANGAN

Referensi Pustaka

Brigham, dan Gapensky, 2002, Financial Management: Theory & Practice10th ed.

Gitman, Lawrence, G., 2003, Principles of Managerial Finance, 10th ed.

Keown, Arthur J., et.al.,2005, Financial Management, Principles and Applications, 10th ed.

Suad Husnan dan E. Pudjiastuti, 2003, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Edisi Revisi Weston, dan Brigham, 2000, Essential of Financial Management, 12th ed.

(2)

DAFTAR ISI HAND-OUT MK

(Bagian 1)

101 - 116 Analisis BEP & Leverage

Nomor Slide Materi Pokok Bahasan

3 - 15 Pemahaman Manajemen Keuangan

18 - 41 Analisis Laporan Keuangan

42 - 65 Cash Budget & Profit Planning

66 - 77 Pengelolaan Modal Kerja

78 - 82 Pengelolaan Kas

83 - 90 Pengelolaan Piutang

(3)

PENGERTIAN MANAJEMEN KEUANGAN

Secara Makro:

Manajemen Keuangan adalah studi tentang lembaga-lembaga keuangan, pasar keuangan, dan pasar modal, serta bagaimana mereka beroperasi dalam sistem keuangan dan perekonomian secara global.

Secara Mikro:

Manajemen Keuangan adalah keseluruhan aktivitas pengelolaan keuangan yang meliputi keputusan bagaimana MENCARI dan MENGGUNAKAN dana bagi

(4)

AKTIVITAS UTAMA MK

Using Fund Decision

(5)

ASPEK PENCARIAN DANA

Aspek pencarian dana meliputi aktivitas

:

Penetapan jumlah dana yang dibutuhkan

Penetapan sumber dana, modal sendiri atau hutang

Penetapan jangka waktu hutang

Penetapan biaya modal

(6)

ASPEK PENGGUNAAN DANA

Aspek penggunaan dana meliputi aktivitas

:

Pengalokasian dana pada modal kerja

Pengalokasian dana pada investasi dalam aktiva tetap

Pengalokasian dana pada investasi dalam sekuritas

(7)

FUNGSI-FUNGSI MK

Fungsi-Fungsi Manajemen Keuangan meliputi

:

Fungsi Pendanaan

(akan dibahas di MK II)

Fungsi Operasional

(akan dibahas di MK I)

Fungsi Investasi

(akan dibahas di MK II)

Fungsi Pengelolaan Aktiva

(akan dibahas di MK I)

(8)

Fungsi

Operasional OperasionalFungsi

Fungsi

Investasi Fungsi

Pendanaan

(9)

ASPEK FUNGSI PENDANAAN

Aspek Fungsi Pendanaan meliputi

:

Analisis Kebutuhan Dana

Analisis Struktur Keuangan

Analisis Struktur Modal

Analisis

LeverageI Keuangan

Analisis Biaya Modal Individual

(10)

ASPEK FUNGSI OPERASIONAL

Aspek Fungsi Operasional meliputi

:

Analisis Pengelolaan Modal Kerja

(Kas, Piutang, Persediaan, dll)

Analisis Laporan Keuangan

(Balance Sheet & Income Statement)

> Analisis Posisi, Kondisi, & Kinerja Keuangan > Analisis Cash Flow

Analisis Perencanaan Laba

> Analisis Perencanaan Penjualan > Klasifikasi Biaya & Beban

(11)

ASPEK FUNGSI INVESTASI

Aspek Fungsi Investasi meliputi

:

Investasi Dalam Aktiva Tetap

(Mesin, Peralatan, Kendaraan, dll) > Pola Perhitungan Cash Flow

> Capital Budgeting Dalam Kondisi Kepastian

> Capital Budgeting Dalam Kondisi Ketidakpastian

> Metoda Penilaian Investasi (PP, Discounted PP, ARR, NPV, PI, IRR, MIRR)

Investasi Dalam Sekuritas

(Saham, Obligasi, Reksadana, Derivatif )

> Konsep Risiko dan Return (imbalhasil)

> Analisis Mean Variance, CAPM, APT, Portofolio

(12)

HUBUNGAN MK & AKUNTANSI

Akuntansi

:

 Menggunakan Metoda ACCRUAL

 Mencatat dan Menyusun Data Akuntansi

 Menyajikan Laporan Keuangan

Manajemen Keuangan

:

 Menggunakan Pendekatan CASH FLOWS

 Menganalisis dan Menginterpretasi Laporan Kuangan

(13)

TUJUAN PERUSAHAAN

Memaksimumkan Laba

(sudah tidak sesuai)

Memaksimumkan Kesejahteraan Pemegang Saham

Memaksimumkan Nilai Perusahaan

Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial

Memperhatikan Kepentingan Stakeholders

(14)

LABA MAKSIMUM

???

Tujuan memaksimumkan laba terbukti gagal untuk menentukan perbedaan tingkat laba mana yang lebih baik dalam kaitannya dengan

(15)

Memaksimumkan

Kesejahteraan Pemegang Saham

Mengapa?

Karena tujuan memaksimumkan Kesejahteraan pemegang

saham memperhatikan tingkat, timing, & risiko cash flows

.

Share Price = Future Dividends

Required Return

level & timing

of cash flows

(16)

LAPORAN KEUANGAN

Laporan Keuangan bagi pemilik perusahaan

dipersiapkan, disusun, dan dilaporkan berdasarkan

suatu pedoman yang disebut

generally accepted

accounting principles (GAAP).

GAAP

diotorisasi oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan

yang dikenal sebagai FASB

(Financial Accounting

(17)

Income statement atau Laporan Laba/ Rugi menyajikan ringkasan

kondisi keuangan operasional perusahaan, meliputi penerimaan,

biaya dan beban, serta laba selama satu perioda operasi.

Meskipun laporan ini dilaporkan secara tahunan, laporan ini

dipersiapkan secara bulanan untuk kepentingan manajemen dan

dihitung per kuartal untuk kepentingan penghitungan pajak.

(18)

Tabel 1

MYDINO CORPORATION INCOME STATEMENT

Untuk Perioda yang Berakhir pada 31 Desember 2003 dan 2004 (Rp Juta)

Sales Revenue 5.134 6.148

Cost of Goods Sold 3.422 4.176

Gross Profit 1.712 1.972

Operting Expenses 1.106 1.136 Operating Profit (EBIT) 606 836 Interest Expenses 182 186 Earning Before Taxes (EBT) 424 650

Tax 127 189

Net Profit After Taxes (EAT) 297 462

Dividend 20 20

Profit for Shareholders 277 442

2003 2004

(19)

Balance Sheet

Balance Sheet atau Neraca menyajikan ringkasan posisi

keuangan perusahaan pada akhir perioda tertentu.

Persamaan Neraca:

(20)

Tabel 2

MYDINO CORPORATION BALANCE SHEET

31 Desember 2003 dan 2004 (Rp Juta)

Cash 576 726 Marketable Securities 102 136 Account Receivables 730 1,006 Inventories 600 578 Total Current Assets 2.008 2.446

Lands & Buildings 3.806 4.144 Machines & Equipments 3.386 3.732 Other Fixed Assets 1.452 1.462 Total Gross Fixed Assets 8.644 9.338

Acc. Depreciation 4.112 4.590 Net Fixed Assets 4.532 4.748

Total Assets 6.540 7.194

Account Payables 540 764 Notes Payables 198 158 Accruals 228 318 Total Current Liabilities 966 1.240

Long-term Liabilities 1.934 2,046 Total Liabilities 2.900 3.286

Preferred Stocks 400 400 Common Stocks 380 382 Stocks Surplus 512 466 Retained Earnings 2.348 2.660 Total Equity 3.640 3.908

(21)

Statement of Retained Earnings atau Laporan Laba Ditahan

merekonsiliasi laba setelah pajak dan pembayaran dividen

selama satu tahun hingga menghasilkan perubahan

saldo laba ditahan pada akhir tahun

(22)

Tabel 3

MYDINO CORPORATION

LAPORAN LABA DITAHAN

31 Desember 2004 (Rp Juta)

Saldo Laba Ditahan 1 Januari 2004 2.348 Ditambah: Laba Setelah Pajak 2004 462 Dikurangi: Pembayaran Dividen Selama 2004

Saham Preferen ( 20) Saham Biasa (130)

(23)

Statement of Cash Flows (Laporan Arus Kas) menyajikan

ringkasan arus kas perusahaan selama satu perioda.

Laporan Arus Kas memberi gambaran aktivitas operasional,

pendanaan dan ivestasiselama satu perioda tertentu.

Laporan ini menginteraksikan informasi dalam

Balance Sheets dan Income Statements.

(24)

Arus Kas Operasional

Peningkatan Aktiva Tetap Bruto -694 Bertambahnya returnbisnis 0

Kas dari Kegiatan Investasi -694

Arus Kas Pendanaan

Penambahan Wesel Bayar -40 Peningkatan Hutang Jk.Panjang 112 Perubahan Ekuitas (dikurangi perubahan RE) -44

Tabel 4

MYDINO CORPORATION

STATEMENT OF CASH FLOWS

31 Desember 2004 (Rp Juta)

(25)

ANALISIS RASIO KEUANGAN

Analisis Rasio Keuangan meliputi, pembandingan, interpretasi,

evaluasi posisi keuangan (neraca), kondisi keuangan (Laporan

L/R), dan kinerja Keuangan.

Kinerja Keuangan uatama meliputi: Likuiditas, Solvabilitas,

Aktivitas, dan Profitabilitas.

Stakeholders

meliputi Internal Manajemen, Pemilik, Kreditor,

Pemerintah.

(26)

TIPE KOMPARASI RASIO

Trend Analysis

Tipe ini juga disebut Analisis Komparatif Historik, atau Analisis

Time Series

yang membandingkan data satu perusahaan yang

sama dari tahun ke tahun

Cross-sectional Analysis

Tipe ini juga disebut Analisis Komparatif Relasional yang

(27)

CONTOH PERHITUNGAN RASIO

Berdasarkan Laporan Keuangan

MYDINO Corporation

Balance Sheets 2004

Income Statements 2004

(28)

ANALISIS RASIO KEUANGAN

A. Liquidity Ratio

1.

Current Ratio

(CR)

Current ratio = total current assets

total current liabilities

(29)

Quick ratio = Total Current Assets - Inventory

total current liabilities

A. LIQUIDITY RATIO

Quick ratio =

2.446.000.000 – 578.000.000

= 1,51

1.240.000.000

(30)

Cash ratio = Cash + Efek

total current liabilities

A. LIQUIDITY RATIO

Quick ratio =

726.000.000 + 136.000.000

= 0,70

1.240.000.000

(31)

Debt Ratio = Total Liabilities/Total Assets

B. Leverage Ratio

DR =

3.286.000.000 / 7.194.000.000 = 0,46 = 46%

1. Debt Ratio (DR)

2. Debt to Equity Ratio (DER)

DER = Total Liabilities/Total Equity

(32)

B. Leverage Ratio

3. Long-term Debt to Equity Ratio (LDER)

LDER = Long-term Liabilities/Total Equity

DER =

2.046.000.000 / 3.908.000.000 = 0,52 = 52%

4. Time Interest Earned (TIE)

TIE = EBIT/ Interest

(33)

C. Activity Ratio

1. Assets Turnover (ATO)

ATO = Sales Revenue/ Total Assets

ATO =

6.148.000.000 / 7.194.000.000 = 0,85 kali

4. Receivable Turnover (RTO)

RTO =

Sales Revenue/ Acc. Receivables

(34)

C. Activity Ratio

3. Inventory Turnover at Cost (ITOc)

ITOc = Cost of Goods Sold/ Inventory

ITOc =

4176.000.000 / 578.000.000 = 7,22 kali

4. Inventory Turnover at Sales (ITOs)

ITOs =

Sales Revenue/ Inventory

(35)

C. Activity Ratio

5. Average Day’s Inventory at Cost (ADIc)

ADIc = (Inventory x360)/ Cost of Goods Sold

ADIc = (

578.000.000 X360) / 4176.000.000 = 50 hari

6. Average Day’s Inventory at Sales (ADIs)

ADIs = (

Inventory X360)/Sales Revenue

(36)

C. Activity Ratio

7.

Average Collection Period (ACP)

disebut juga sebagai

Day’s Sales Outstanding (DSO)

ACP = (Receivable

x360)/Sales Revenue

(37)

D. Profitability Ratio

1. Gross Profit Margin (GPM)

GPM = Gross Profit

/Sales Revenue x 100%

GPM =

1.972.000.000

/

6.148.000.000 = 32%

2. Operating Profit Margin (OPM)

OPM = EBIT

/Sales Revenue x

100%

(38)

D. Profitability Ratio

3. Net Profit Margin (NPM)

NPM = Net Profit

/Sales Revenue x 100%

NPM =

462.000.000

/

6.148.000.000 = 8 %

4. Return on Investment (ROI)

disebut juga

Return on Assets (ROA)

ROI = Net Profit/ Total Assets x

100%

(39)

D. Profitability Ratio

5. Earning Power (EP)

EP = EBIT

/Total Assets x 100%

EP =

836.000.000

/

7.194.000.000 = 12 %

6. Return on Equity (ROE)

ROE = Net Profit

/ Total EQuity

(40)

DuPont System of Analysis

DuPont system digunakan untuk menginteraksi data laporan keuangan dan menilai kinerja keuangan perusahaan.

DuPont system menggabungkan antara laporan L/R sebagai pembilang dan neraca sebagai penyebut dalam menghitung ROI (atau ROA) dan ROE.

 Kelebihan DuPont system adalah mengintegrasikan

(41)
(42)

PERENCANAAN KEUANGAN

 Perencanaan Keuangan meliputi pembuatan pedoman, pengkoordinasian, dan pengendalian aktivitas perusahaan dalam mewujudkan tujuan.

 Dua aspek kunci perencanaan keuangan adalah Perencanaan Kas dan Perencanaan Laba.

 Perencanaan Kas meliputi penyusunan Anggaran Kas.

 Perencanaan Laba meliputi penyusunan Anggaran Kas dan penyusunan Proyeksi Laporan Keuangan.

(43)

PERENCANAAN KEUANGAN

Jangka Panjang (Strategik)

 Perencanaan Keuangan jangka panjang menjangkau waktu 2 hingga 10 tahun.

 Perencanaan Keuangan jangka panjang membutuhkan aktivitas: > Perencanaan Investasi dalam Aktiva Tetap;

> Riset dan Pengembangan; > Penetapan Struktur Modal;

> Pencarian Sumber-Sumber Dana.

 Perencanaan Keuangan jangka panjang mensyaratkan bahwa pertumbuhan bidang operasi perusahaan tidak fluktuatif dalam jangka panjang

 Perencanaan Keuangan jangka panjang harus disusun secara integratif dengan

(44)

PERENCANAAN KEUANGAN

Jangka Pendek (Operasional)

 Perencanaan Keuangan jangka pendek menjangkau waktu 1 hingga 2 tahun.

 Perencanaan Keuangan jangka pendek dimulai dari prakiraan penjualan;

 Langkah berikutnya adalah perencanaan produksi, termasuk estimasi kebutuhan bahan baku; kebutuhan biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik, dan beban-beban operasional;

 Dari rencana produksi tersebut dapat diestimasi proforma income statement, cash budget, dan proforma balance sheet .

(45)
(46)

C

ash budget

adalah laporan yang meliputi

perkiraan arus kas masuk dan keluar.

C

ash budget

diperlukan untuk mengestimasi

kebutuhan kas dalam jangka pendek dan untuk

mengatur

timing

arus kas pada perioda tertentu.

Surplus harus disimpan dan defisit harus didanai.

Biasanya c

ash budget

selama satu tahun

dianggarkan secara bulanan.

(47)

Cash Budget

Jan. Feb. …. Nov. Des.

Kas diterima XXX XXG XXM XXT

(-) Pengeluaran XXA XXH XXN XXU

Arus Kas Neto XXB XXI XXO XXV

(+) Saldo Awal Kas XXC XXD XXJ XXP XXQ Saldo Akhir Kas XXD XXJ XXQ XXW (-) Saldo Kas Minimum XXE XXK XXR XXY

Tabel 4:

(48)

PT Kaum Globalindo (KG)

KG menyusun anggaran kas untuk bulan Maret, April, dan Mei 2005.

Realisasi penjualan bulan Januari dan Februari 2005 masing-masing

Rp100 juta dan Rp 200 juta. Estimasi Penjualan bulan Maret, April, Mei

2005 masing-masing sebasar Rp 400 juta, Rp 300 juta, dan Rp 200 juta.

Berdasarkan pengalaman, 20% penjualan dibayar tunai (

cash);

50%

dibayar setelah satu bulan; dan sisanya 30% dibayar setelah 2 bulan.

Pada bulan Mei 2005 KG akan menerima dividen sebesar Rp 30 juta.

Contoh

Cash Budget

(49)

Jan. Feb. Maret April Mei Estimasi Penjualan 100 200 400 300 200 Penjualan Tunai (20%) 20 40 80 60 40 Pengumpulan Piutang

Terlambat 1 bulan (50%) 50 100 200 150 Terlambat 2 bulan (30%) 30 60 120

Penerimaan Kas Lainnya 30

Total Penerimaan Kas 210 320 340

Contoh

Cash Budget

PT Kaum Globalindo (KG)

(50)

KG memiliki tambahan informasi tentang pengeluaran kas. Pembelian

sebesar 70% dari nilai penjualan. 10% dari pembelian dibayar tunai,

70%-nya terlambat 1 bulan, dan 20% sisa70%-nya dibayar terlambat 2 bulan

setelah saat pembelian. KG mengeluarkan secara kas untuk sewa, upah

dan gaji, pajak, aktiva tetap, bunga, dividen, dan cicilan pinjaman dengan

jumlah dan skedul pembayaran sebagai berikut (lihat Tabel 6).

Contoh

Cash Budget

PT Kaum Globalindo (KG)

(51)

Contoh

Cash Budget

PT Kaum Globalindo (KG)

Tabel 6: Skedul Pengeluaran Kas (Rp Juta)

Jan. Feb. Maret April Mei Pembelian (70% dari Penjualan) 70 140 280 210 140

Pembelian Tunai (10%) 7 14 28 21 14 Pembayaran Hutang

Terlambat 1 bulan (70%) 49 98 196 147 Terlambat 2 bulan (20%) 14 28 56

Pembayaran Sewa 5 5 5

Pembayaran Upah & Gaji 48 38 28

Pembayaran Pajak 25

Pembelian Aktiva Tetap 130

(52)

Contoh

Cash Budget

PT Kaum Globalindo (KG)

Penyusunan

Cash Budget

Cash Budget

untuk KG dapat disusun dengan menggabungkan antara

skedul penerimaan (Tabel 5) dan skedul pengeluaran (Tabel 6). Ada

tambahan informasi bahwa saldo kas KG pada akhir Februari 2005 adalah

sebesar Rp 50 juta, saldo hutang dagang Rp 0,-, efek Rp 0,-. Selain itu, KG

mengharapkan saldo kas pengaman minimum Rp 25 juta. Sebagai

(53)

Maret April Mei

Contoh

Cash Budget

PT Kaum Globalindo (KG)

(54)

Cash budget KG mengindikasi adanya kelebihan kas yang diinvestasikan ke efek, saldo kas pengaman, dan hutang jangka pendek untuk menutupi defisit dan saldo kas pengaman.

Evaluasi

Cash Budget

PT Kaum Globalindo (KG)

 Kelebihan kas sebesar Rp 22 juta pada bulan Maret harus diinvestasikan pada marketable securities. Defisit bulan April dan Mei harus didanai dengan hutang

Perkiraan Maret April Mei

Saldo Kas Pengaman 25 25 25 Marketabel Securities (Efek) 22 0 0 Hutang Jangka Pendek 0 76 41

(55)

 Laporan Keuangan yang diproyeksikan meliputi income statements dan balance sheets.

 Data masukan yang diperlukan meliputi:

 Laporan keuangan tahun sebelumnya;

 Estimasi penjualan tahun depan;

 Beberapa asumsi tentang sejumlah faktor.

 Penyusunan proyeksi laporan keuangan akan dicontohkan dengan menggunakan laporan keuangan PT Dinoku.

Profit Planning

(56)

Tabel 9:

PT DINOKU

INCOME STATEMENT

, 2004

(Rp Ribu)

Penerimaan Penjualan (Rp Ribu) (Rp Ribu) Produk X (1000 unit @ Rp 20) 20.000 Overhead Pabrik 38.000

(57)

Cash 6.000 Account Payable 7.000

Marketable Securities 4.000 Tax Payble 300

Account Receivables 13.000 Notes Payable & Others 11.700

Inventories 16.000 Total Current Liabilities 19.000

Total Current Assets 39.000 Long-term Debt 18.000

Common Stock 30.000

Net Fixed Assets 51.000 Retained Earnings 23.000

Total Assets 90.000 Total Liabilities & Equity 90.000

Tabel 10:

PT DINOKU

(58)

Unit (Rp Ribu)

Volume Penjualan

Model X 1.500 Model Y 1.950

Nilai Penjualan

Model X 37.500

Model Y 97.500

Langkah Pertama adalah Menyusun Prakiraan Penjualan

Tabel 11: Prakiraan Penjualan

PT DINOKU

PERENCANAAN LABA

(59)

Prakiraan Penjualan

 Prakiraan Penjualan 2005 didasarkan pada estimasi kenaikan harga per unit produk X dari Rp20.000,-

menjadi Rp25.000,- dan kenaikan harga produk Y dari Rp40.000,- menjadi Rp50.000,- dari tahun 2004.

 Prakiraan Penjualan didasarkan pada judgemental

approach untuk mengkompensasi dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya kenaikan berbagai biaya,

termasuk upah langsung, bahan baku, dan biaya overhead pabrik.

(60)

Langkah Kedua Mempersiapkan Persentase Penjualan

Tabel 12: Income Statement PT Dinoku

Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2004

PERENCANAAN LABA

(61)

Tabel 14

PT DINOKU

Pro Forma Income Statement 2005(Rp Ribu)

Pro Forma Laporan Keuangan

Langkah Ketiga Menyusun Pro Forma Income Statement

(Rp Ribu)

Penerimaan Penjualan (Lihat Tabel 11) 135.000

Harga Pokok Penjualan (80% dari Penjualan) 108.000

Laba Kotor 27.000

Total Beban Operasi (10% dari Penjualan) 13.500

Laba Operasi (EBIT) 13.500

Beban Bunga (1% dari Penjualan) 1.350

(62)

Pendekatan terbaik untuk menyusun

pro forma

balance sheet

adalah

judgmental approach.

Dengan metoda sederhana ini nilai pos-pos

balance

sheet

diestimasi dan diperlukan dana ekternal

sebagai perkiraan penyeimbang.

Penerapan metoda ini memerlukan sejumlah

asumsi dan penyederhanaan.

Profit Planning:

Pro Forma Financial Statements

(63)

1. Dibutuhkan

minimum cash balance

Rp

6.000.000,-2.

Marketable securities

dipertahankan sebesar Rp

4.000.000,-3. Piutang diperkirakan sebesar Rp 16.875.000,- dengan rata-

rata penjualan 45 hari

(45/360 x Rp 135.000.000,-).

4. Persediaan akhir diperkirakan Rp 16.000.000,- terdiri atas

25% bahan baku, dan 75% barang jadi.

5. Dibeli mesin baru seharga Rp 20.000.000,- dengan

penyusutan Rp 8.000.000,-. Aktiva tetap neto yang telah ada

senilai Rp 51.000.000,-.

Profit Planning:

Pro Forma Financial Statements

(64)

6.

Pembelian diperkirakan Rp 40.500.000 (30% dari penjualan)

Dibutuhkan minimum cash balance Rp 6.000.000,-. Pembayaran hutang dagang 72 hari, sehingga hutang dagang sebesar 72/360 x 40.500.000 =

Rp80.100.000,-7. Hutang pajak diperkirakan sebesar Rp

455.000,-8. Wesel Bayar dan other current liabilities diperkirakan tetap Rp 11.700.000,-

9. Tidak ada perubahan Long-term liabilities, dan ekuitas.

10. Laba ditahan akan berubah sesuai dengan perubahan pro

forma

income statement

.

Profit Planning:

Pro Forma Financial Statements

(65)

Pro Forma Laporan Keuangan

Tabel 15: Pro Forma Balance Sheet PT Dinoku, 2005 (Rp Ribu)

Kas 6.000 Account Payable 8.100

(66)

Modal Kerja adalah sejumlah dana jangka pendek dalam bentuk

aktiva lancar yang diperlukan untuk membelanjai kegiatan

operasional perusahaan.

Bentuk Modal Kerja meliputi:

Gross Working Capital (Total Current Assets)

Net Working Capital (Current Assets – Current Liabilities)

Modal Kerja selalu berputar selama perusahaan masih beroperasi,

sehingga tidak ada

istilah modal kerja per hari, per bulan, per tahun.

Kebutuhan Modal Kerja ditentukan oleh:

Working Capital Period (WCP):

Daily Cash Out Flow (DCO); dan

WORKING CAPITAL MANAGEMENT

(67)

Jumlah Modal Kerja (JMK) yang dibutuhkan oleh perusahaan:

JMK = (WCP x DCO) + MSCB

Working Capital Period (WCP)

adalah lamanya waktu keterikatan modal kerja dalam siklus operasi perusahaan. WCP terbentuk oleh:

Lead Time Pemesasanan Bahan Baku;

 Durasi Proses Produksi;

 Penyimpanan Barang Jadi dan Proses Penjualan; serta

Average Collection Period (Hari Rata-rata Pengumpulan Piutang).

Working Capital Period (WCP)

dapat juga dihitung dengan membagi antara jumlah hari rata-rata per tahun (360 hari) dan WCTO (Working Capital Turnover).

WORKING CAPITAL MANAGEMENT

(68)

Daily Cash Out Flows (DCO) adalah total pengeluaran operasional perusahaan (tidak termasuk depresiasi) yang dihitung secara rata-rata per hari. Misalnya:

Biaya Perawatan Rp 7,2 juta per tahun = Rp 7,2 juta/360 = Rp 20.000 per hari. Gaji Karyawan Rp 90 juta per bulan = Rp 90 juta/30 = Rp 3 juta per hari.

 Upah Pekerja Langsung Rp 7 juta per minggu = Rp 7 juta/7 = Rp 1 juta per hari.

Minimum Safety Cash Balance (MSCB)

adalah saldo minimum kas yang

harus selalu ada di perusahaan sebagai cadangan pengaman.

MSCB

hanya boleh digunakan dalam kondisi darurat, setelah itu harus

dikembalikan hingga sejumlah semula.

MSCB

adalah satu-satunya unsur modal kerja yang selalu tetap dan tidak pernah berputar, sehingga tidak ada istilah MSCB per hari, per bulan, atau per tahun.

WORKING CAPITAL MANAGEMENT

(69)

BBH4EVA

Corporation memiliki data operasional sebagai berikut.

 Volume produksi per tahun 36.000 unit;

 Harga bahan baku per unit produk Rp 3.000,- dengan lead time 5 hari;

 Harga bahan penolong per unit produk Rp 1.000.- secara cash & carry;

 Upah langsung Rp 21 juta per minggu;

 Biaya perawatan pabrik per tahun Rp 36 juta;

 Biaya administrasi & umum per bulan Rp 60 juta;

 Durasi proses produksi 10 hari;

 Penyimpanan produk 5 hari;

 Penagihan piutang (ACP) 15 hari.

Pertanyaan: Berapakah Kebutuhan modal kerja perusahaan ini?

Contoh Kasus

(70)

Langkah 1:

Menghitung WCP (Waktu Keterikatan Modal Kerja)

 Waktu keterikatan bahan baku = lead time + pros prod + penyimpanan + ACP = 5 hari + 10 hari + 5 hari + 5 hari = 35 hari

 Waktu keterikatan Biaya Lain = pros prod + penyimpanan + ACP = 10 hari + 5 hari + 5 hari = 35 hari

Langkah 2:

Menghitung DCO (Pengeluaran Per Hari)  Bahan Baku = 36.000/360 x Rp 3.000,- = Rp

300.000,- Bahan Penolong = 36.000/360 x Rp 1.000,- = Rp100.000,-

 Upah Langsung = Rp 21 juta/7 = Rp

3.000.000,- Biaya Perawatan = Rp 36 juta/360 = Rp

100.000,- Biaya Administrasi & Umum = Rp 60 juta/30 = Rp

2.000.000,-Penyelesaian Kasus

(71)

Kebutuhan Modal Kerja BBH4EVA Corporation adalah:

 Bahan Baku = 35 hari x Rp 300.000,- = Rp

10.500.000,- Bahan Penolong = 30 hari x Rp 100.000,- = Rp

3.000.000,- Upah Langsung = 30 hari x Rp 3.000.000,- = Rp 90.000.000,-

 Biaya Perawatan = 30 hari x 100.000,- = Rp

3.000.000,- Biaya Adm. & Umum = 30 hari x Rp 2.000.000,- = Rp

60.000.000,- Minimum Safety Cash Balance ……… = Rp

10.000.000,-Jumlah Kebutuhan Modal Kerja ……… = Rp

176.500.000,-Penyelesaian Kasus

(72)

 Tiga variabel yang berpengaruh terhadap siklus kas:

Inventory Conversion Period (ICP)

Receivable Conversion Period (RCP)Payables Deferral Period (PDP)

Inventory Conversion Period (ICP)

Rumus perhitungan ICP atau p

erioda konversi persediaan sama dengan

rumus rasio

Average Day’s Inventory

at Sales

(ADIs)

ICP = ADIs = (Inventory * 360)/ Sales atau

ICP = ADIs = 360/ Inventory Turnover at Sales

Cash Conversion Cycle (CCC)

(73)

Receivable Conversion Period (RCP)

Rumus perhitungan RCP atau p

erioda rata-rata pengumpulan piutang

sama dengan rumus rasio

Average Collection Period (ACP)

atau

Day’s Sales Outsanding (DSO)

RCP = ACP = DSO = (Account Receivable * 360)/ Sales atau

RCP = ACP = DSO = 360/ Receivable Turnover (RTO)

Payables Deferral Period (PDP)

PDP adalah perioda penangguhan pembayaran hutang usaha, seperti penagguhan pembayaran bahan baku kepada pemasok dan penangguhan gaji atau upah

pekerja. Lamanya PDP didasarkan pada standar normal (kebiasaan) yang

dilakukan oleh perusahaan. Pada umumnya perusahaan menetapkan PDP 30 hari.

Cash Conversion Cycle (CCC)

(74)

Cash Conversion Cycle (CCC)

Siklus Arus Kas Modal Kerja

=

+

-Contoh PT RinCay, tahun 2005 memiliki penjualan Rp 300.000.000,-

persediaan Rp 50.000.000,- piutang dagang Rp 30.000.000,-dan penangguhan pembayaran hutang dagang 26 hari

(75)

PT Dydewe pada tahun 2005 memiliki penjualan kredit sebesar $30,000 dengan NPM (net profit margin) 10% INTOs (inventory turnover at Sales) 10 kali, RTO (receivable turnover) 15 kali, PDP (payables deferral period) 20 hari, NFA (Net Fixed Assets) $ 9,000; SCB (Safety Cash Balance) $ 1,000.

Instruksi Soal:

Berapakah CCC perusahaan?

Hitunglah ATO (Assets Turnover) dan ROI (Return on Investment) perusahaan!

Jika piutang berkurang menjadi $ 1,000 dan persediaan naik sebesar 25%, hitunglah CCC, ATO, dan ROI yang baru!

Cash Conversion Cycle (CCC)

(76)

CCC = ICP + RCP - PDPICP = ADIs = 360/10 = 36 hariRCP = ACP = 360/15 = 24 hariPDP = 20 hari

CCC = 36 hari +24 hari – 20 hari = 40 hari

(77)

Jika piutang $1,000 dan persediaan naik 25% menjadi $ 3,750,

maka: ATO = Sales/ Total Assets

(78)

Kas adalah aktiva perusahaan yang paling likuid.

Pengelolaan kas didasarkan pada 3 motif, yaitu: motif

transaksi, motif berjaga-jaga, dan motif spekulasi.

Motif transaksi meliputi pendanaan kegiatan operasional.

Motif berjaga-jaga berkaitan dengan penyediaan

minimum

safety cash balance

(persediaan kas pengaman).

Motif spekulasi berkaitan dengan investasi likuid pada

CASH MANAGEMENT

(79)

Model Boumol

Model ini menggunakan pendekatan persediaan. Dalam hal ini

persediaan sekuritas yang dapat segera dikonversi menjadi kas.

Rumus: Q =

2oD

i

 o adalah biaya transaksi konversi sekuritas

 D adalah kebutuhan kas selama satu tahun

 i adalah tingkat return sekuritas

CASH MANAGEMENT

(80)

Model Miller

dan

Orr

Model ini didasarkan pada kondisi penerimaan dan pengeluaran kas yang bersifat random. Dalam hal ini perlu ditetapkan batas atas dan batas bawah saldo kas.

i

 Jika saldo kas melebihi batas atas, maka sebagian kas perlu dikonversi menjadi sekuritas.

 Jika saldo kas mencapai atau lebih rendah daripada batas bawah, maka

perusahaan harus segera menjual sekuritas guna meningkatkan saldo kas ke batas aman.

 Rumus: z = [ 3oσ2 ]1/3

4i

o adalah biaya tetap untuk melakukan transaksi

CASH MANAGEMENT

(81)

CASH MANAGEMENT

Contoh Kasus Pengelolaan Kas

PT Sepha memiliki arus pengeluaran kas yang relatif stabil dengan rata-rata per bulan sebesar Rp 90.000.000,- dengan sumber dana dari pinjaman Bank Patrio dengan bunga 12% per tahun. Apabila uang tersebut dibelikan sekuritas, akan menghasilkan return 1.5% per bulan atau 18% per tahun. Perusahaan memiliki minimum safety cash balance (MSCB) sebesar Rp 7.500.000,- (batas bawah). Biaya setiap kali traksaksi (membeli atau menjual) sekuritas adalah sebesar Rp 60.000,-. Namun demikian pihak Bank mensyaratkan agar PT Sepha memiliki MSCB Rp 15.000.000,-. Jika syarat ini dilanggar maka pihak bank akan mendenda PT Sepha dengan tambahan bunga 1% di atas bunga pinjaman semula.

Pertanyaan:

Berapakah nilai sekuritas yang seharusnya dijual setiap kali transaksi?

(82)

CASH MANAGEMENT

Jawaban Kasus PT Sepha

Q =

2 x 60.000 x 90.000.000 = Rp 26.832.816,- (dibulatkan) 0,015

Nilai sekuritas yang seharusnya dijual setiap kali transaksi adalah Rp

26.832.816,- Saldo Kas Rata-rata = Q/2 + MSCB = 26.832.816/2 + 7.500.000 = Rp 20.916.048

,- Jika perusahaan meningkatkan saldo kas dari Rp 7.500.000,- menjadi Rp 15.000.000,- berarti perusahaan mengeluarkan biaya ekstra 12% x Rp 7,5 juta = Rp

900.000,-Jika perusahaan tidak meningkatkan saldo kas, maka akan menanggung denda sebesar 0,01 x Rp 90.000.000,- = Rp

(83)

Jumlah

Account Receivable

(piutang usaha)

ditentukan oleh:

Volume penjualan kredit

Kebijakan kredit yang diterapkan

Kebiasaan perilaku pelanggan

Hari rata-rata pengumpulan piutang

(ACP)

Perputaran piutang per tahun

(RTO)

Menghitung Jumlah

Account Receivable (AR)

AR = Sales / RTO

RECEIVABLE MANAGEMENT

(84)

Account Receivable Investment (ARI)

ARI

(Investasi Dalam Piutang) =

(1 – NPM) x AR

Account Receivable Cost (ARC)

ARC

(Biaya Investasi dalam Piutang Usaha) =

AR x COC

Discount Receivable Collection Cost (DRCC)

DRCC = % Diskon x %Pelanggan Pengambil Diskon x Penjualan

RECEIVABLE MANAGEMENT

(85)

RECEIVABLE MANAGEMENT

Contoh Soal PT Idewiz

PT Idewiz tahun 2004 memiliki perputaran piutang (RTO) 2 kali dalam setahun. Dalam rangka meningkatkan RTO, mulai tahun 2005 perusahaan ini menerapkan kebijakan kredit 3/30 net 180. Hasil evaluasi selama bulan Januari 2005 ditemukan bahwa 60% pelanggan tertarik mengambil diskon tersebut dan hal ini diperkirakan akan berlangsung untuk seterusnya. Data yang dimiliki oleh perusahaan ini adalah:

 Nilai Penjualan kredit tahun 2005 diperkirakan sebesar Rp

250.000.000,- NPM (net profit margin) akan dipertahankan sebesar 15% per tahun

 COC (cost of capital) untuk investasi dalam piutang adalah 12% per tahun

(86)

RECEIVABLE MANAGEMENT

Langkah 1 Penyelesaian Soal PT Idewiz

Sebelum Kebijakan:

ACP = 360/RTO = 360/2 = 180 hari RTO = 2 kali

Jumlah AR = Sales/RTO = Rp 250.000.000/2 = Rp 125.000.000,-ARI = (1-NPM) x AR = 0,85 x Rp 125.000.000,- = Rp 106.250.000,-ARC = 0,12 x Rp 106.250.000,- = Rp

12.750.000,-Setelah Kebijakan:

ACP = (60% x 30 hari) + (40% x 180 hari) = 90 hari RTO = 360/90 = 4 kali

Jumlah AR = Sales/RTO = Rp 250.000.000/4 = Rp 62.500.000,-ARI = (1-NPM) x AR 0,85 x Rp 62.500.000,- = Rp 53.125.000,-ARC = 0,12 x Rp 53.125.000,- = Rp

(87)

RECEIVABLE MANAGEMENT

Langkah 2 Penyelesaian Soal PT Idewiz

Hasil Perhitungan Langkah 1:

Penghematan ARC = 12.750.000 - 6.375.000 = Rp 6.375.000,-

Langkah 2: Menghitung DRCC (Biaya Diskon)

DRCC = % Diskon x % Pelanggan x Penjualan

DRCC = 3% x 60% x Rp 250.000.000 = Rp

4.500.000,-Economic Value Added = Rp 6.375.000,- - Rp

= Rp 1.875.000,-

Simpulan: Kebijakan kredit tersebut laik diterapkan oleh

(88)

RECEIVABLE MANAGEMENT

Contoh Soal PT Fajap

PT Fajap, pada tahun 2004 menerapkan penjualan kredit atas 1000 unit produk per hari dengan harga jual @ Rp1.000.000,-dan biaya produksi Rp750.000,- per unit. ACP ditetapkan 36 hari, ditemukan 4% piutang tidak tertagih(bad debt). Biaya modal (coc) atas investasi dalam piutang 6% per hari. Seiring dengan semakin ketatnya tingkat persaingan, perusahaan ini berniat menurunkan harga jualnya di tahun 2005 menjadi @ Rp 975.000,- dan menekan biaya produksi per unitnya menjadi hanya Rp 700.000,-. Sebagai kompensasi penurunan harga, PT Fajap memperkirakan volume penjualan naik menjadi 1500 unit per hari; ACP diduga akan meningkat menjadi 45 hari, sehingga perusahaan akan menekan piutang tidak tertagih menjadi hanya 2%.

(89)

RECEIVABLE MANAGEMENT

Penyelesaian Soal PT Fajap

Langkah 1: Identifikasi Variabel & Rumus:

(90)

RECEIVABLE MANAGEMENT

Penyelesaian Soal PT Fajap

Langkah 2: Menghitung dan Membandingkan antara NPV0 dan NPV1

Kebijakan Tahun 2004 Kebijakan Tahun 2005

Hasil Perhitungan NPV0 = 25.775.582,12 NPV1 = 27.843.140,99

Nilai Tambah Rp 2.067.578,88

(91)

INVENTORY MANAGEMENT

Pengelolaan Persediaan

Klasifikasi

Inventories

(Persediaan)

raw materials

work-in-progress

finished goods

Jumlah

Inventories

(persediaan)

ditentukan oleh

:

Volume Produksi & Penjualan

Kebijakan Pengelolaan Persediaan

Ketersediaan Bahan Baku di pasar

(92)

INVENTORY MANAGEMENT

Pengelolaan Persediaan

Setiap bidang dalam perusahaan memiliki pandangan yang

berbeda tentang penetapan jumlah persediaan:

Bagian Pemasaran

menghendaki persedian dalam jumlah

besar untuk menjamin segera terpenuhinya pesanan pelanggan.

Bagian Produksi

menghendaki persedian dalam jumlah

besar untuk menghindari keterlambatan produksi.

(93)

INVENTORY MANAGEMENT

Teknik Pengelolaan Persediaan

Just-In-Time (JIT)

JIT

adalah sistem pengelolaan persediaan yang meminimumkan investasi

dalam persediaan dengan

“zero inventory”

melalui pengaturan agar

kedatangan bahan baku tepat waktu pada saat bahan baku tersebut

dibutuhkan untuk produksi.

Syarat utama untuk dapat teraplikasikannya sistem

JIT

ialah adanya

koordinasi yang sempurna antara perusahaan dan pihak pemasok serta pihak

ekspedisi pengiriman barang yang memiliki komitmen kuat dalam mendukung

sistem

JIT

.

(94)

INVENTORY MANAGEMENT

Teknik Pengelolaan Persediaan

MRP

(Material Requirement Planning) Systems

Sistem ini digunakan untuk menentukan apa, kapan,dan berapa besar

jumlah bahan baku yang harus dipesan.

MRP

menggunakan

konsep EOQ

untuk menentukan seberapa besar

jumlah bahan baku yang harus dipesan setiap kali pesan dengan

menggunakan program komputer.

MRP

mengorganisasikan

seluruh struktur bahan baku, status persediaan,

dan status proses produksi.

(95)

Economic Order Quantity (EOQ)

INVENTORY MANAGEMENT

Teknik Pengelolaan Persediaan

EOQ = 2

x

D

x

Oc

Cc

x

P

Keterangan:

D

= Kebutuhan bahan baku selama satu tahun

Oc

= Ordering Costs setiap kali pesan

(96)

 Frekuensi Pemesanan (FP) selama satu tahun = D/Q

Total Ordering Costs (TOc) selama satu tahun = Oc x FP

 Nilai Rata-rata Persediaan (NRP) = (Q x P)/2

Total Carrying Costs (TCc) selama satu tahun = Cc x NRP

Total Inventory Costs (TIc) selama satu tahun = TOc + TCc

Lead Time (LT) adalah tenggang waktu pemesanan

Procurement Lead Time (PLT) = LT x Kebutuhan/ hari

Safety Stock (SS) adalah Persediaan Pengaman

INVENTORY MANAGEMENT

(97)

INVENTORY MANAGEMENT

Teknik Analisis EOQ

Reorder Point (ROP)

ROP adalah

titik pemesanan kembali untuk menjaga agar pesanan

berikutnya tiba tepat pada saat persediaan habis (tidak termasuk

safety stock

).

ROP = PLT + SS

EOQ

dan seterusnya…

ROP

PLT

(98)

PT Henril selama tahun 2005 membutuhkan 3000 bahan baku seharga $1000. Bahan baku ini diimpor dari Jepang dengan ordering costs (Oc) $15,000 setiap kali pesan. Carrying costs (Cc) per unitnya adalah 25% dari harga bahan baku per unit. Perusahaan menetapkan safety stock 200 unit. Lead time pengiriman 12 hari.

Pertanyaan:

1. Hitunglah kuantitas oder yang paling ekonomis setiap kali pesan!

2. Berapakah frekuensi pemesan selama satu tahun?

3. Berapakah total biaya pemesanan, total biaya penyimpanan, dan total biaya persediaan selama tahun 2005?

4. Tentukan besarnya reorder point (ROP)!

INVENTORY MANAGEMENT

(99)

1. EOQ =

(2 x 3,000 x 15,000)/(0.25 x 1,000) = 600 unit 2. Frekuensi Pemesanan (FP) = 3,000/600 = 5 x

3. Total Oc= 5 x $ 15.000 = $ 75,000

Total Cc = {(600 x 1,000)/2} x 0.25 = $ 75,000 Total Ic = $75,000 + $75,000 = $ 150,000 4. ROP = PLT + SS

PLT = 12 hari x (3,000/360) = 100 unit SS = 200 unit

ROP = 100 unit + 200 unit = 300 unit

INVENTORY MANAGEMENT

(100)

PT Zoelly selama tahun 2005 membutuhkan 4000 bahan baku seharga $1,200. Bahan baku ini diimpor dari Jerman dengan ordering costs (Oc) $60,000 setiap kali pesan. Carrying costs (Cc) per unitnya adalah 40% dari harga bahan baku per unit. Perusahaan menetapkan safety stock 150 unit. Lead time pengiriman 9 hari.

Pertanyaan:

1. Hitunglah kuantitas oder yang paling ekonomis setiap kali pesan!

2. Berapakah frekuensi pemesan selama satu tahun?

3. Berapakah total biaya pemesanan, total biaya penyimpanan, dan total biaya persediaan selama tahun 2005?

4. Tentukan besarnya reorder point (ROP)!

INVENTORY MANAGEMENT

(101)

BEP Analysis

(Break Event Point Analysis)

Difinisi:

Analisis BEP merupakan suatu metoda sistematik untuk menguji hubungan antara penjualan, biaya-biaya, dan laba operasi perusahaan dalam jangka pendek.

Asumsi:

Validitas analisis BEP dibatasi oleh sejumlah asumsi, antara lain: semua faktor yang terkait bersifat konstan

analisis hanya dapat diterapkan pada rentangan kapasitas yang relevan biaya-biaya terklasifikasi secara jelas menjadi biaya tetap dan biaya variabel total biaya tetap, harga jual per unit, dan biaya variabel per unit selalu konstan laba dikalkulasi atas dasar variable costing basis

(102)

Tujuan:

Tujuan utama analisis BEP adalah terukurnya kondisi tidak untung maupun tidak rugi dalam suatu aktivitas ekonomi. Kondisi ini dimaksudkan sebagai pedoman dalam melakukan perencanaan penjualan, biaya-biaya, dan laba untuk waktu yang akan datang.

Margin of Safety (MOS):

MOS adalah salah satu instrumen dalam analisis BEP yang mengukur rentangan tingkat aman antara penjualan aktual dan penjualan dalam kondisi BEP baik dalam unit, rupiah, maupun dalam persentase. MOS ini dimaksudkan sebagai warning system agar perusahaan tidak mengalami kerugian.

MOS dalam unit = unit penjualan aktual – unit penjualan BEP

MOS dalam rupiah = laba operasi / rasio margin kontribusi

BEP Analysis

(103)

Contribution Margin (CM):

CM adalah selisih antara penjualan dan biaya variabel, baik secara total maupun per unit.

CM dalam unit :

P – AVC

P = harga jual; AVC = biaya variabel per unit

CM secara total : TR – TVC

TR = total revenue; TVC = total variable costs

CM dalam rasio : (P-AVC)/P atau

BEP Analysis

(104)

BEP Analysis

(Break Event Point Analysis)

BEP

terjadi pada kondisi titik impas antara

total revenue

(TR)

dan

total costs

(TC)

sehingga

net operating profit

(NOP)

adalah nol.

NOP = TR – TC

NOP = PxQ – {TFC + (AVCxQ)}

BEP NOP = 0 0 = PQ – (TFC + AVCQ)

Keterangan:

TFC = Total Fixed Costs

AVC = Average Variable Costs (Biaya Variabel per unit)

(105)

BEP Analysis

Istilah-istilah dalam BEP Analysis

Q = kuantitas produksi atau kuantitas penjualan

P = unit selling price (harga jual per unit) = TR/Q

TR = total revenue = P x Q

TFC = total fixed costs = AFC x Q

AFC = average fixed cost atau FC per unit = TFC/Q

TVC = total variable costs = AVC x Q

AVC = average variable costs atau VC per unit = TVC/Q

TC = total costs = TFC + TVC atau AC x Q

(106)

BEP Analysis

Q dalam menghendaki laba sebesar X

Q = (TFC + X)/CMu

TR dalam menghendaki laba sebesar X

(107)
(108)
(109)

BEP Analysis

Contoh Soal BEP

PT Anis

adalah produsen tas wanita dengan kapasitas produksi pada

relevant range

antara 4.000 s/d 12.000 unit pe tahun. Setiap tahunnya PT

Anis mengeluarkan total biaya tetap sebesar Rp 60 juta dan biaya variabel

per unit sebesar Rp 10.000,-. Volume penjualan pada tahun 2004 adalah

sebesar 8.000 unit dengan harga jual per unit Rp

20.000,-Pertanyaan:

1. Berapakah CMu, CMt, dan CMr PT Anis tahun 2004?

2. Berapakah BEPQ dan BEPRp PT Anis pada tahun 2004?

3. Jika semua kondisi diasumsikan konstan, berapakah Q dan TR yang harus dicapai oleh PT Anis tahun 2005 untuk memperoleh laba Rp10 juta?

(110)

BEP Analysis

Perhitungan BEP dengan Pendekatan Matematik

BEPQ = Q dalam persamaan: PQ – TFC – AVCQ = 0

20.000Q - 60.000.000 - 10.000Q = 0

10.000Q = 60.000.000 Q = 6.000 unit

(111)

BEP Analysis

Jawaban Soal BEP

Perhitungan BEP dengan Pendekatan MK

BEP

Q

= TFC/CMu

=

Rp60.000.000/ Rp10.000 = 6.000 unit

BEP

Rp

= TFC/CMr

=

Rp60.000.000/ 0,50 =

Rp120.000.000,-

Perhitungan Q dan TR untuk mencapai laba Rp

Q = (TFC+L)/CMu

= (

60 juta + 10 juta)/10.000 = 7.000 unit

TR = (TFC+L)/CMr

=

(

60 juta+10 juta)/0,5 = Rp140.000.000,-

Laba Operasi jika AVC Rp9.000, TFC Rp 50 juta, Q=10.000

(112)

BEP Analysis

Jawaban Soal BEP

Perhitungan

Margin of Safety

PT Anis

MOSu = Actual Q – BEPQ

=

8.000 - 6.000 = 2.000 unit

MOS

Rp

= NOP/CMr

=

(20.000x8.000) - 60juta - (10.000x8.000)

=

Rp160.000.000,- - Rp140.000.000,-

=

Rp 20.000.000,-

MOSr = TR aktual - BEP

Rp

=

{(20.000x8.000)

120 juta}

(113)

Leverage Analysis

Rumus DOL, DFL, DCL

Degree of Operating Leverage

(DOL)

DOL = (PQ - AVCQ)/ (PQ-AVCQ-TFC) x 100%

Degree of Financial Leverage

(DFL)

DFL = (PQ - AVCQ-TFC)/ (PQ-AVCQ-TFC-i) x 100%

Degree of Combined Leverage

(DCL)

DCL = (PQ - AVCQ)/ (PQ-AVCQ-TFC-i) x 100%

(114)

Leverage Analysis

Contoh Soal

PT Lingling

adalah produsen sepatu olah raga yang memiliki

harga jual per pasang (P) $ 50; biaya variabel per unit (AVC) $ 20;

dan total biaya tetap (TFC) $ 12,000. Setiap tahunnya perusahaan

ini menanggung beban bunga hutang $ 5,000.

Pertanyaan:

1.

Hitunglah BEP

Q

dan Q untukBEP

Rp

2.

Hitunglah TR untuk mencapai laba operasi $ 3,000

3.

Hitung dan jelaskan DOL pada tingkat penjualan 2.000 unit!

4.

Hitung dan jelaskan DFL pada tingkat penjualan 2.000 unit!

(115)

Leverage Analysis

Jawaban Soal BEP & Leverage

Perhitungan BEP dengan Pendekatan MK

BEPQ = TFC/CMu = $ 12,000/ ($50-$20) = 400 unit

BEPRp = TFC/CMr = $ 12,000/ 0,60 = $ 20,000

Perhitungan TR untuk mencapai laba operasi $ 3,000

TR = (TFC+L)/CMr = ($12,000+ $3,000)/0,60 = $ 25,000

Perhitungan DOL pada 2.000 unit

DOL = (PQ - AVCQ)/ (PQ-AVCQ-TFC) x 100% = $ 60,000 / $48,000 = 1,25 = 125%

(116)

Leverage Analysis

Jawaban Soal BEP & Leverage

Perhitungan DFL pada 2.000 unit

DFL = (PQ – AVCQ-TFC)/ (PQ-AVCQ-TFC-i) x 100%

= $ 48,000 / $43,000 = 1,116 = 111,6%

Artinya: Setiap kenaikan EBIT 100% akan mengakibatkan kenaikan EPS 111,6%

Perhitungan DCL pada 2.000 unit

DFL = (PQ – AVCQ )/ (PQ-AVCQ-TFC-i) x 100%

= $ 60,000 / $43,000 = 1,395 = 139,5%

Referensi

Dokumen terkait

A NO NO NO YES YES YES YES.. Berikut ini adalah tahap prosesnya :Proses overlay ini dilakukan antara data spasial peta ketinggian dengan informasi suhu. 1) Peta

pertanggungjawaban, biaya dikelompokkan dan dilaporkan untuk tiap tingkatan manajemen yang hanya dibebani dengan biaya-biaya yang berada di bawah pengendaliannya

S1 Teknik Informatika-Unijoyo 1 METODOLOGI PENULISAN ILMIAH Pertemuan Ke-3 Penelitian :: Noor Ifada :: [email protected] POKOK BAHASAN • Unsur Pencetus Penelitian •

Koefisien keragaman ukuran-ukuran linear kepala burung dara laut yang ditemukan pada Anous minutus worcesteri , Anous stolidus pileatus , Chlidonias hybrida

Dari responden yang berperilaku kurang aktif dalam mencegah osteoporosis, 11 responden diantaranya memiliki tingkat pengetahuan tinggi, hal tersebut bisa terjadi

Di tengah perjalanan kehidupan jemaat GPIB Pniel (Majelis Jemaat GPIB Pniel Pasuruan, 2006:70-71), beragam permasalahan yang dihadapi, namun mendorong jemaat

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pretasi belajar adalah proses hasil belajar yang berwujud angka- angka yang dapat diukur. Prestasi belajar siswa dapat

dapat dikatakan bahwa antara interaksi sosial dalam keluarga dan minat belajar siswa berpengaruh positif dan signifikan secara bersama-sama terhadap prestasi