MANAJEMEN KEUANGAN
Referensi Pustaka
Brigham, dan Gapensky, 2002, Financial Management: Theory & Practice10th ed.
Gitman, Lawrence, G., 2003, Principles of Managerial Finance, 10th ed.
Keown, Arthur J., et.al.,2005, Financial Management, Principles and Applications, 10th ed.
Suad Husnan dan E. Pudjiastuti, 2003, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Edisi Revisi Weston, dan Brigham, 2000, Essential of Financial Management, 12th ed.
DAFTAR ISI HAND-OUT MK
(Bagian 1)
101 - 116 Analisis BEP & Leverage
Nomor Slide Materi Pokok Bahasan
3 - 15 Pemahaman Manajemen Keuangan
18 - 41 Analisis Laporan Keuangan
42 - 65 Cash Budget & Profit Planning
66 - 77 Pengelolaan Modal Kerja
78 - 82 Pengelolaan Kas
83 - 90 Pengelolaan Piutang
PENGERTIAN MANAJEMEN KEUANGAN
Secara Makro:
Manajemen Keuangan adalah studi tentang lembaga-lembaga keuangan, pasar keuangan, dan pasar modal, serta bagaimana mereka beroperasi dalam sistem keuangan dan perekonomian secara global.
Secara Mikro:
Manajemen Keuangan adalah keseluruhan aktivitas pengelolaan keuangan yang meliputi keputusan bagaimana MENCARI dan MENGGUNAKAN dana bagi
AKTIVITAS UTAMA MK
Using Fund Decision
ASPEK PENCARIAN DANA
Aspek pencarian dana meliputi aktivitas
:
Penetapan jumlah dana yang dibutuhkan
Penetapan sumber dana, modal sendiri atau hutang
Penetapan jangka waktu hutang
Penetapan biaya modal
ASPEK PENGGUNAAN DANA
Aspek penggunaan dana meliputi aktivitas
:
Pengalokasian dana pada modal kerja
Pengalokasian dana pada investasi dalam aktiva tetap
Pengalokasian dana pada investasi dalam sekuritas
FUNGSI-FUNGSI MK
Fungsi-Fungsi Manajemen Keuangan meliputi
:
Fungsi Pendanaan
(akan dibahas di MK II)
Fungsi Operasional
(akan dibahas di MK I)
Fungsi Investasi
(akan dibahas di MK II)
Fungsi Pengelolaan Aktiva
(akan dibahas di MK I)Fungsi
Operasional OperasionalFungsi
Fungsi
Investasi Fungsi
Pendanaan
ASPEK FUNGSI PENDANAAN
Aspek Fungsi Pendanaan meliputi
:
Analisis Kebutuhan Dana
Analisis Struktur Keuangan
Analisis Struktur Modal
Analisis
LeverageI Keuangan
Analisis Biaya Modal Individual
ASPEK FUNGSI OPERASIONAL
Aspek Fungsi Operasional meliputi
:
Analisis Pengelolaan Modal Kerja
(Kas, Piutang, Persediaan, dll)
Analisis Laporan Keuangan
(Balance Sheet & Income Statement)> Analisis Posisi, Kondisi, & Kinerja Keuangan > Analisis Cash Flow
Analisis Perencanaan Laba
> Analisis Perencanaan Penjualan > Klasifikasi Biaya & Beban
ASPEK FUNGSI INVESTASI
Aspek Fungsi Investasi meliputi
:
Investasi Dalam Aktiva Tetap
(Mesin, Peralatan, Kendaraan, dll) > Pola Perhitungan Cash Flow> Capital Budgeting Dalam Kondisi Kepastian
> Capital Budgeting Dalam Kondisi Ketidakpastian
> Metoda Penilaian Investasi (PP, Discounted PP, ARR, NPV, PI, IRR, MIRR)
Investasi Dalam Sekuritas
(Saham, Obligasi, Reksadana, Derivatif )> Konsep Risiko dan Return (imbalhasil)
> Analisis Mean Variance, CAPM, APT, Portofolio
HUBUNGAN MK & AKUNTANSI
Akuntansi
:
Menggunakan Metoda ACCRUAL
Mencatat dan Menyusun Data Akuntansi
Menyajikan Laporan Keuangan
Manajemen Keuangan
:
Menggunakan Pendekatan CASH FLOWS
Menganalisis dan Menginterpretasi Laporan Kuangan
TUJUAN PERUSAHAAN
Memaksimumkan Laba
(sudah tidak sesuai)
Memaksimumkan Kesejahteraan Pemegang Saham
Memaksimumkan Nilai Perusahaan
Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial
Memperhatikan Kepentingan Stakeholders
LABA MAKSIMUM
???
Tujuan memaksimumkan laba terbukti gagal untuk menentukan perbedaan tingkat laba mana yang lebih baik dalam kaitannya dengan
Memaksimumkan
Kesejahteraan Pemegang Saham
Mengapa?
Karena tujuan memaksimumkan Kesejahteraan pemegangsaham memperhatikan tingkat, timing, & risiko cash flows
.
Share Price = Future Dividends
Required Return
level & timing
of cash flows
LAPORAN KEUANGAN
Laporan Keuangan bagi pemilik perusahaan
dipersiapkan, disusun, dan dilaporkan berdasarkan
suatu pedoman yang disebut
generally accepted
accounting principles (GAAP).
GAAP
diotorisasi oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan
yang dikenal sebagai FASB
(Financial Accounting
Income statement atau Laporan Laba/ Rugi menyajikan ringkasan
kondisi keuangan operasional perusahaan, meliputi penerimaan,
biaya dan beban, serta laba selama satu perioda operasi.
Meskipun laporan ini dilaporkan secara tahunan, laporan ini
dipersiapkan secara bulanan untuk kepentingan manajemen dan
dihitung per kuartal untuk kepentingan penghitungan pajak.
Tabel 1
MYDINO CORPORATION INCOME STATEMENT
Untuk Perioda yang Berakhir pada 31 Desember 2003 dan 2004 (Rp Juta)
Sales Revenue 5.134 6.148
Cost of Goods Sold 3.422 4.176
Gross Profit 1.712 1.972
Operting Expenses 1.106 1.136 Operating Profit (EBIT) 606 836 Interest Expenses 182 186 Earning Before Taxes (EBT) 424 650
Tax 127 189
Net Profit After Taxes (EAT) 297 462
Dividend 20 20
Profit for Shareholders 277 442
2003 2004
Balance Sheet
Balance Sheet atau Neraca menyajikan ringkasan posisi
keuangan perusahaan pada akhir perioda tertentu.
Persamaan Neraca:
Tabel 2
MYDINO CORPORATION BALANCE SHEET
31 Desember 2003 dan 2004 (Rp Juta)
Cash 576 726 Marketable Securities 102 136 Account Receivables 730 1,006 Inventories 600 578 Total Current Assets 2.008 2.446
Lands & Buildings 3.806 4.144 Machines & Equipments 3.386 3.732 Other Fixed Assets 1.452 1.462 Total Gross Fixed Assets 8.644 9.338
Acc. Depreciation 4.112 4.590 Net Fixed Assets 4.532 4.748
Total Assets 6.540 7.194
Account Payables 540 764 Notes Payables 198 158 Accruals 228 318 Total Current Liabilities 966 1.240
Long-term Liabilities 1.934 2,046 Total Liabilities 2.900 3.286
Preferred Stocks 400 400 Common Stocks 380 382 Stocks Surplus 512 466 Retained Earnings 2.348 2.660 Total Equity 3.640 3.908
Statement of Retained Earnings atau Laporan Laba Ditahan
merekonsiliasi laba setelah pajak dan pembayaran dividen
selama satu tahun hingga menghasilkan perubahan
saldo laba ditahan pada akhir tahun
Tabel 3
MYDINO CORPORATION
LAPORAN LABA DITAHAN
31 Desember 2004 (Rp Juta)
Saldo Laba Ditahan 1 Januari 2004 2.348 Ditambah: Laba Setelah Pajak 2004 462 Dikurangi: Pembayaran Dividen Selama 2004
Saham Preferen ( 20) Saham Biasa (130)
Statement of Cash Flows (Laporan Arus Kas) menyajikan
ringkasan arus kas perusahaan selama satu perioda.
Laporan Arus Kas memberi gambaran aktivitas operasional,
pendanaan dan ivestasiselama satu perioda tertentu.
Laporan ini menginteraksikan informasi dalam
Balance Sheets dan Income Statements.
Arus Kas Operasional
Peningkatan Aktiva Tetap Bruto -694 Bertambahnya returnbisnis 0
Kas dari Kegiatan Investasi -694
Arus Kas Pendanaan
Penambahan Wesel Bayar -40 Peningkatan Hutang Jk.Panjang 112 Perubahan Ekuitas (dikurangi perubahan RE) -44
Tabel 4
MYDINO CORPORATION
STATEMENT OF CASH FLOWS
31 Desember 2004 (Rp Juta)
ANALISIS RASIO KEUANGAN
Analisis Rasio Keuangan meliputi, pembandingan, interpretasi,
evaluasi posisi keuangan (neraca), kondisi keuangan (Laporan
L/R), dan kinerja Keuangan.
Kinerja Keuangan uatama meliputi: Likuiditas, Solvabilitas,
Aktivitas, dan Profitabilitas.
Stakeholders
meliputi Internal Manajemen, Pemilik, Kreditor,
Pemerintah.
TIPE KOMPARASI RASIO
Trend Analysis
Tipe ini juga disebut Analisis Komparatif Historik, atau Analisis
Time Series
yang membandingkan data satu perusahaan yang
sama dari tahun ke tahun
Cross-sectional Analysis
Tipe ini juga disebut Analisis Komparatif Relasional yang
CONTOH PERHITUNGAN RASIO
Berdasarkan Laporan Keuangan
MYDINO Corporation
Balance Sheets 2004
Income Statements 2004
ANALISIS RASIO KEUANGAN
A. Liquidity Ratio
1.
Current Ratio
(CR)
Current ratio = total current assets
total current liabilities
Quick ratio = Total Current Assets - Inventory
total current liabilities
A. LIQUIDITY RATIO
Quick ratio =
2.446.000.000 – 578.000.000= 1,51
1.240.000.000
Cash ratio = Cash + Efek
total current liabilities
A. LIQUIDITY RATIO
Quick ratio =
726.000.000 + 136.000.000
= 0,70
1.240.000.000
Debt Ratio = Total Liabilities/Total Assets
B. Leverage Ratio
DR =
3.286.000.000 / 7.194.000.000 = 0,46 = 46%1. Debt Ratio (DR)
2. Debt to Equity Ratio (DER)
DER = Total Liabilities/Total Equity
B. Leverage Ratio
3. Long-term Debt to Equity Ratio (LDER)
LDER = Long-term Liabilities/Total Equity
DER =
2.046.000.000 / 3.908.000.000 = 0,52 = 52%4. Time Interest Earned (TIE)
TIE = EBIT/ Interest
C. Activity Ratio
1. Assets Turnover (ATO)
ATO = Sales Revenue/ Total Assets
ATO =
6.148.000.000 / 7.194.000.000 = 0,85 kali4. Receivable Turnover (RTO)
RTO =
Sales Revenue/ Acc. Receivables
C. Activity Ratio
3. Inventory Turnover at Cost (ITOc)
ITOc = Cost of Goods Sold/ Inventory
ITOc =
4176.000.000 / 578.000.000 = 7,22 kali4. Inventory Turnover at Sales (ITOs)
ITOs =
Sales Revenue/ Inventory
C. Activity Ratio
5. Average Day’s Inventory at Cost (ADIc)
ADIc = (Inventory x360)/ Cost of Goods Sold
ADIc = (
578.000.000 X360) / 4176.000.000 = 50 hari6. Average Day’s Inventory at Sales (ADIs)
ADIs = (
Inventory X360)/Sales Revenue
C. Activity Ratio
7.
Average Collection Period (ACP)
disebut juga sebagai
Day’s Sales Outstanding (DSO)
ACP = (Receivable
x360)/Sales Revenue
D. Profitability Ratio
1. Gross Profit Margin (GPM)
GPM = Gross Profit
/Sales Revenue x 100%
GPM =
1.972.000.000/
6.148.000.000 = 32%2. Operating Profit Margin (OPM)
OPM = EBIT
/Sales Revenue x
100%D. Profitability Ratio
3. Net Profit Margin (NPM)
NPM = Net Profit
/Sales Revenue x 100%
NPM =
462.000.000/
6.148.000.000 = 8 %4. Return on Investment (ROI)
disebut juga
Return on Assets (ROA)
ROI = Net Profit/ Total Assets x
100%D. Profitability Ratio
5. Earning Power (EP)
EP = EBIT
/Total Assets x 100%
EP =
836.000.000/
7.194.000.000 = 12 %6. Return on Equity (ROE)
ROE = Net Profit
/ Total EQuity
DuPont System of Analysis
DuPont system digunakan untuk menginteraksi data laporan keuangan dan menilai kinerja keuangan perusahaan.
DuPont system menggabungkan antara laporan L/R sebagai pembilang dan neraca sebagai penyebut dalam menghitung ROI (atau ROA) dan ROE.
Kelebihan DuPont system adalah mengintegrasikan
PERENCANAAN KEUANGAN
Perencanaan Keuangan meliputi pembuatan pedoman, pengkoordinasian, dan pengendalian aktivitas perusahaan dalam mewujudkan tujuan.
Dua aspek kunci perencanaan keuangan adalah Perencanaan Kas dan Perencanaan Laba.
Perencanaan Kas meliputi penyusunan Anggaran Kas.
Perencanaan Laba meliputi penyusunan Anggaran Kas dan penyusunan Proyeksi Laporan Keuangan.
PERENCANAAN KEUANGAN
Jangka Panjang (Strategik)
Perencanaan Keuangan jangka panjang menjangkau waktu 2 hingga 10 tahun.
Perencanaan Keuangan jangka panjang membutuhkan aktivitas: > Perencanaan Investasi dalam Aktiva Tetap;
> Riset dan Pengembangan; > Penetapan Struktur Modal;
> Pencarian Sumber-Sumber Dana.
Perencanaan Keuangan jangka panjang mensyaratkan bahwa pertumbuhan bidang operasi perusahaan tidak fluktuatif dalam jangka panjang
Perencanaan Keuangan jangka panjang harus disusun secara integratif dengan
PERENCANAAN KEUANGAN
Jangka Pendek (Operasional)
Perencanaan Keuangan jangka pendek menjangkau waktu 1 hingga 2 tahun.
Perencanaan Keuangan jangka pendek dimulai dari prakiraan penjualan;
Langkah berikutnya adalah perencanaan produksi, termasuk estimasi kebutuhan bahan baku; kebutuhan biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik, dan beban-beban operasional;
Dari rencana produksi tersebut dapat diestimasi proforma income statement, cash budget, dan proforma balance sheet .
C
ash budget
adalah laporan yang meliputi
perkiraan arus kas masuk dan keluar.
C
ash budget
diperlukan untuk mengestimasi
kebutuhan kas dalam jangka pendek dan untuk
mengatur
timing
arus kas pada perioda tertentu.
Surplus harus disimpan dan defisit harus didanai.
Biasanya c
ash budget
selama satu tahun
dianggarkan secara bulanan.
Cash Budget
Jan. Feb. …. Nov. Des.
Kas diterima XXX XXG XXM XXT
(-) Pengeluaran XXA XXH XXN XXU
Arus Kas Neto XXB XXI XXO XXV
(+) Saldo Awal Kas XXC XXD XXJ XXP XXQ Saldo Akhir Kas XXD XXJ XXQ XXW (-) Saldo Kas Minimum XXE XXK XXR XXY
Tabel 4:
PT Kaum Globalindo (KG)
KG menyusun anggaran kas untuk bulan Maret, April, dan Mei 2005.
Realisasi penjualan bulan Januari dan Februari 2005 masing-masing
Rp100 juta dan Rp 200 juta. Estimasi Penjualan bulan Maret, April, Mei
2005 masing-masing sebasar Rp 400 juta, Rp 300 juta, dan Rp 200 juta.
Berdasarkan pengalaman, 20% penjualan dibayar tunai (
cash);
50%
dibayar setelah satu bulan; dan sisanya 30% dibayar setelah 2 bulan.
Pada bulan Mei 2005 KG akan menerima dividen sebesar Rp 30 juta.
Contoh
Cash Budget
Jan. Feb. Maret April Mei Estimasi Penjualan 100 200 400 300 200 Penjualan Tunai (20%) 20 40 80 60 40 Pengumpulan Piutang
Terlambat 1 bulan (50%) 50 100 200 150 Terlambat 2 bulan (30%) 30 60 120
Penerimaan Kas Lainnya 30
Total Penerimaan Kas 210 320 340
Contoh
Cash Budget
PT Kaum Globalindo (KG)
KG memiliki tambahan informasi tentang pengeluaran kas. Pembelian
sebesar 70% dari nilai penjualan. 10% dari pembelian dibayar tunai,
70%-nya terlambat 1 bulan, dan 20% sisa70%-nya dibayar terlambat 2 bulan
setelah saat pembelian. KG mengeluarkan secara kas untuk sewa, upah
dan gaji, pajak, aktiva tetap, bunga, dividen, dan cicilan pinjaman dengan
jumlah dan skedul pembayaran sebagai berikut (lihat Tabel 6).
Contoh
Cash Budget
PT Kaum Globalindo (KG)
Contoh
Cash Budget
PT Kaum Globalindo (KG)
Tabel 6: Skedul Pengeluaran Kas (Rp Juta)
Jan. Feb. Maret April Mei Pembelian (70% dari Penjualan) 70 140 280 210 140
Pembelian Tunai (10%) 7 14 28 21 14 Pembayaran Hutang
Terlambat 1 bulan (70%) 49 98 196 147 Terlambat 2 bulan (20%) 14 28 56
Pembayaran Sewa 5 5 5
Pembayaran Upah & Gaji 48 38 28
Pembayaran Pajak 25
Pembelian Aktiva Tetap 130
Contoh
Cash Budget
PT Kaum Globalindo (KG)
Penyusunan
Cash Budget
Cash Budget
untuk KG dapat disusun dengan menggabungkan antara
skedul penerimaan (Tabel 5) dan skedul pengeluaran (Tabel 6). Ada
tambahan informasi bahwa saldo kas KG pada akhir Februari 2005 adalah
sebesar Rp 50 juta, saldo hutang dagang Rp 0,-, efek Rp 0,-. Selain itu, KG
mengharapkan saldo kas pengaman minimum Rp 25 juta. Sebagai
Maret April Mei
Contoh
Cash Budget
PT Kaum Globalindo (KG)
Cash budget KG mengindikasi adanya kelebihan kas yang diinvestasikan ke efek, saldo kas pengaman, dan hutang jangka pendek untuk menutupi defisit dan saldo kas pengaman.
Evaluasi
Cash Budget
PT Kaum Globalindo (KG)
Kelebihan kas sebesar Rp 22 juta pada bulan Maret harus diinvestasikan pada marketable securities. Defisit bulan April dan Mei harus didanai dengan hutang
Perkiraan Maret April Mei
Saldo Kas Pengaman 25 25 25 Marketabel Securities (Efek) 22 0 0 Hutang Jangka Pendek 0 76 41
Laporan Keuangan yang diproyeksikan meliputi income statements dan balance sheets.
Data masukan yang diperlukan meliputi:
Laporan keuangan tahun sebelumnya;
Estimasi penjualan tahun depan;
Beberapa asumsi tentang sejumlah faktor.
Penyusunan proyeksi laporan keuangan akan dicontohkan dengan menggunakan laporan keuangan PT Dinoku.
Profit Planning
Tabel 9:
PT DINOKU
INCOME STATEMENT
, 2004
(Rp Ribu)Penerimaan Penjualan (Rp Ribu) (Rp Ribu) Produk X (1000 unit @ Rp 20) 20.000 Overhead Pabrik 38.000
Cash 6.000 Account Payable 7.000
Marketable Securities 4.000 Tax Payble 300
Account Receivables 13.000 Notes Payable & Others 11.700
Inventories 16.000 Total Current Liabilities 19.000
Total Current Assets 39.000 Long-term Debt 18.000
Common Stock 30.000
Net Fixed Assets 51.000 Retained Earnings 23.000
Total Assets 90.000 Total Liabilities & Equity 90.000
Tabel 10:
PT DINOKU
Unit (Rp Ribu)
Volume Penjualan
Model X 1.500 Model Y 1.950
Nilai Penjualan
Model X 37.500
Model Y 97.500
Langkah Pertama adalah Menyusun Prakiraan Penjualan
Tabel 11: Prakiraan Penjualan
PT DINOKU
PERENCANAAN LABA
Prakiraan Penjualan
Prakiraan Penjualan 2005 didasarkan pada estimasi kenaikan harga per unit produk X dari Rp20.000,-
menjadi Rp25.000,- dan kenaikan harga produk Y dari Rp40.000,- menjadi Rp50.000,- dari tahun 2004.
Prakiraan Penjualan didasarkan pada judgemental
approach untuk mengkompensasi dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya kenaikan berbagai biaya,
termasuk upah langsung, bahan baku, dan biaya overhead pabrik.
Langkah Kedua Mempersiapkan Persentase Penjualan
Tabel 12: Income Statement PT Dinoku
Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2004
PERENCANAAN LABA
Tabel 14
PT DINOKU
Pro Forma Income Statement 2005(Rp Ribu)
Pro Forma Laporan Keuangan
Langkah Ketiga Menyusun Pro Forma Income Statement
(Rp Ribu)
Penerimaan Penjualan (Lihat Tabel 11) 135.000
Harga Pokok Penjualan (80% dari Penjualan) 108.000
Laba Kotor 27.000
Total Beban Operasi (10% dari Penjualan) 13.500
Laba Operasi (EBIT) 13.500
Beban Bunga (1% dari Penjualan) 1.350
Pendekatan terbaik untuk menyusun
pro forma
balance sheet
adalah
judgmental approach.
Dengan metoda sederhana ini nilai pos-pos
balance
sheet
diestimasi dan diperlukan dana ekternal
sebagai perkiraan penyeimbang.
Penerapan metoda ini memerlukan sejumlah
asumsi dan penyederhanaan.
Profit Planning:
Pro Forma Financial Statements
1. Dibutuhkan
minimum cash balance
Rp
6.000.000,-2.
Marketable securities
dipertahankan sebesar Rp
4.000.000,-3. Piutang diperkirakan sebesar Rp 16.875.000,- dengan rata-
rata penjualan 45 hari
(45/360 x Rp 135.000.000,-).4. Persediaan akhir diperkirakan Rp 16.000.000,- terdiri atas
25% bahan baku, dan 75% barang jadi.
5. Dibeli mesin baru seharga Rp 20.000.000,- dengan
penyusutan Rp 8.000.000,-. Aktiva tetap neto yang telah ada
senilai Rp 51.000.000,-.
Profit Planning:
Pro Forma Financial Statements
6.
Pembelian diperkirakan Rp 40.500.000 (30% dari penjualan)Dibutuhkan minimum cash balance Rp 6.000.000,-. Pembayaran hutang dagang 72 hari, sehingga hutang dagang sebesar 72/360 x 40.500.000 =
Rp80.100.000,-7. Hutang pajak diperkirakan sebesar Rp
455.000,-8. Wesel Bayar dan other current liabilities diperkirakan tetap Rp 11.700.000,-
9. Tidak ada perubahan Long-term liabilities, dan ekuitas.
10. Laba ditahan akan berubah sesuai dengan perubahan pro
forma
income statement
.
Profit Planning:
Pro Forma Financial Statements
Pro Forma Laporan Keuangan
Tabel 15: Pro Forma Balance Sheet PT Dinoku, 2005 (Rp Ribu)
Kas 6.000 Account Payable 8.100
Modal Kerja adalah sejumlah dana jangka pendek dalam bentuk
aktiva lancar yang diperlukan untuk membelanjai kegiatan
operasional perusahaan.
Bentuk Modal Kerja meliputi:
Gross Working Capital (Total Current Assets)
Net Working Capital (Current Assets – Current Liabilities)
Modal Kerja selalu berputar selama perusahaan masih beroperasi,
sehingga tidak ada
istilah modal kerja per hari, per bulan, per tahun.
Kebutuhan Modal Kerja ditentukan oleh:
Working Capital Period (WCP):
Daily Cash Out Flow (DCO); dan
WORKING CAPITAL MANAGEMENT
Jumlah Modal Kerja (JMK) yang dibutuhkan oleh perusahaan:
JMK = (WCP x DCO) + MSCB
Working Capital Period (WCP)
adalah lamanya waktu keterikatan modal kerja dalam siklus operasi perusahaan. WCP terbentuk oleh: Lead Time Pemesasanan Bahan Baku;
Durasi Proses Produksi;
Penyimpanan Barang Jadi dan Proses Penjualan; serta
Average Collection Period (Hari Rata-rata Pengumpulan Piutang).
Working Capital Period (WCP)
dapat juga dihitung dengan membagi antara jumlah hari rata-rata per tahun (360 hari) dan WCTO (Working Capital Turnover).WORKING CAPITAL MANAGEMENT
Daily Cash Out Flows (DCO) adalah total pengeluaran operasional perusahaan (tidak termasuk depresiasi) yang dihitung secara rata-rata per hari. Misalnya:
Biaya Perawatan Rp 7,2 juta per tahun = Rp 7,2 juta/360 = Rp 20.000 per hari. Gaji Karyawan Rp 90 juta per bulan = Rp 90 juta/30 = Rp 3 juta per hari.
Upah Pekerja Langsung Rp 7 juta per minggu = Rp 7 juta/7 = Rp 1 juta per hari.
Minimum Safety Cash Balance (MSCB)
adalah saldo minimum kas yang
harus selalu ada di perusahaan sebagai cadangan pengaman.
MSCB
hanya boleh digunakan dalam kondisi darurat, setelah itu harus
dikembalikan hingga sejumlah semula.
MSCB
adalah satu-satunya unsur modal kerja yang selalu tetap dan tidak pernah berputar, sehingga tidak ada istilah MSCB per hari, per bulan, atau per tahun.WORKING CAPITAL MANAGEMENT
BBH4EVA
Corporation memiliki data operasional sebagai berikut.
Volume produksi per tahun 36.000 unit;
Harga bahan baku per unit produk Rp 3.000,- dengan lead time 5 hari;
Harga bahan penolong per unit produk Rp 1.000.- secara cash & carry;
Upah langsung Rp 21 juta per minggu;
Biaya perawatan pabrik per tahun Rp 36 juta;
Biaya administrasi & umum per bulan Rp 60 juta;
Durasi proses produksi 10 hari;
Penyimpanan produk 5 hari;
Penagihan piutang (ACP) 15 hari.
Pertanyaan: Berapakah Kebutuhan modal kerja perusahaan ini?
Contoh Kasus
Langkah 1:
Menghitung WCP (Waktu Keterikatan Modal Kerja) Waktu keterikatan bahan baku = lead time + pros prod + penyimpanan + ACP = 5 hari + 10 hari + 5 hari + 5 hari = 35 hari
Waktu keterikatan Biaya Lain = pros prod + penyimpanan + ACP = 10 hari + 5 hari + 5 hari = 35 hari
Langkah 2:
Menghitung DCO (Pengeluaran Per Hari) Bahan Baku = 36.000/360 x Rp 3.000,- = Rp300.000,- Bahan Penolong = 36.000/360 x Rp 1.000,- = Rp100.000,-
Upah Langsung = Rp 21 juta/7 = Rp
3.000.000,- Biaya Perawatan = Rp 36 juta/360 = Rp
100.000,- Biaya Administrasi & Umum = Rp 60 juta/30 = Rp
2.000.000,-Penyelesaian Kasus
Kebutuhan Modal Kerja BBH4EVA Corporation adalah:
Bahan Baku = 35 hari x Rp 300.000,- = Rp
10.500.000,- Bahan Penolong = 30 hari x Rp 100.000,- = Rp
3.000.000,- Upah Langsung = 30 hari x Rp 3.000.000,- = Rp 90.000.000,-
Biaya Perawatan = 30 hari x 100.000,- = Rp
3.000.000,- Biaya Adm. & Umum = 30 hari x Rp 2.000.000,- = Rp
60.000.000,- Minimum Safety Cash Balance ……… = Rp
10.000.000,-Jumlah Kebutuhan Modal Kerja ……… = Rp
176.500.000,-Penyelesaian Kasus
Tiga variabel yang berpengaruh terhadap siklus kas:
Inventory Conversion Period (ICP)
Receivable Conversion Period (RCP) Payables Deferral Period (PDP)
Inventory Conversion Period (ICP)
Rumus perhitungan ICP atau p
erioda konversi persediaan sama dengan
rumus rasio
Average Day’s Inventory
at Sales
(ADIs)ICP = ADIs = (Inventory * 360)/ Sales atau
ICP = ADIs = 360/ Inventory Turnover at Sales
Cash Conversion Cycle (CCC)
Receivable Conversion Period (RCP)
Rumus perhitungan RCP atau p
erioda rata-rata pengumpulan piutang
sama dengan rumus rasio
Average Collection Period (ACP)
atau
Day’s Sales Outsanding (DSO)
RCP = ACP = DSO = (Account Receivable * 360)/ Sales atau
RCP = ACP = DSO = 360/ Receivable Turnover (RTO)
Payables Deferral Period (PDP)
PDP adalah perioda penangguhan pembayaran hutang usaha, seperti penagguhan pembayaran bahan baku kepada pemasok dan penangguhan gaji atau upah
pekerja. Lamanya PDP didasarkan pada standar normal (kebiasaan) yang
dilakukan oleh perusahaan. Pada umumnya perusahaan menetapkan PDP 30 hari.
Cash Conversion Cycle (CCC)
Cash Conversion Cycle (CCC)
Siklus Arus Kas Modal Kerja
=
+
-Contoh PT RinCay, tahun 2005 memiliki penjualan Rp 300.000.000,-
persediaan Rp 50.000.000,- piutang dagang Rp 30.000.000,-dan penangguhan pembayaran hutang dagang 26 hari
PT Dydewe pada tahun 2005 memiliki penjualan kredit sebesar $30,000 dengan NPM (net profit margin) 10% INTOs (inventory turnover at Sales) 10 kali, RTO (receivable turnover) 15 kali, PDP (payables deferral period) 20 hari, NFA (Net Fixed Assets) $ 9,000; SCB (Safety Cash Balance) $ 1,000.
Instruksi Soal:
Berapakah CCC perusahaan?
Hitunglah ATO (Assets Turnover) dan ROI (Return on Investment) perusahaan!
Jika piutang berkurang menjadi $ 1,000 dan persediaan naik sebesar 25%, hitunglah CCC, ATO, dan ROI yang baru!
Cash Conversion Cycle (CCC)
CCC = ICP + RCP - PDP ICP = ADIs = 360/10 = 36 hari RCP = ACP = 360/15 = 24 hari PDP = 20 hari
CCC = 36 hari +24 hari – 20 hari = 40 hari
Jika piutang $1,000 dan persediaan naik 25% menjadi $ 3,750,
maka: ATO = Sales/ Total Assets
Kas adalah aktiva perusahaan yang paling likuid.
Pengelolaan kas didasarkan pada 3 motif, yaitu: motif
transaksi, motif berjaga-jaga, dan motif spekulasi.
Motif transaksi meliputi pendanaan kegiatan operasional.
Motif berjaga-jaga berkaitan dengan penyediaan
minimum
safety cash balance
(persediaan kas pengaman).
Motif spekulasi berkaitan dengan investasi likuid pada
CASH MANAGEMENT
Model Boumol
Model ini menggunakan pendekatan persediaan. Dalam hal ini
persediaan sekuritas yang dapat segera dikonversi menjadi kas.
Rumus: Q =
√
2oDi
o adalah biaya transaksi konversi sekuritas
D adalah kebutuhan kas selama satu tahun
i adalah tingkat return sekuritas
CASH MANAGEMENT
Model Miller
dan
Orr
Model ini didasarkan pada kondisi penerimaan dan pengeluaran kas yang bersifat random. Dalam hal ini perlu ditetapkan batas atas dan batas bawah saldo kas.
i
Jika saldo kas melebihi batas atas, maka sebagian kas perlu dikonversi menjadi sekuritas.
Jika saldo kas mencapai atau lebih rendah daripada batas bawah, maka
perusahaan harus segera menjual sekuritas guna meningkatkan saldo kas ke batas aman.
Rumus: z = [ 3oσ2 ]1/3
4i
o adalah biaya tetap untuk melakukan transaksi
CASH MANAGEMENT
CASH MANAGEMENT
Contoh Kasus Pengelolaan Kas
PT Sepha memiliki arus pengeluaran kas yang relatif stabil dengan rata-rata per bulan sebesar Rp 90.000.000,- dengan sumber dana dari pinjaman Bank Patrio dengan bunga 12% per tahun. Apabila uang tersebut dibelikan sekuritas, akan menghasilkan return 1.5% per bulan atau 18% per tahun. Perusahaan memiliki minimum safety cash balance (MSCB) sebesar Rp 7.500.000,- (batas bawah). Biaya setiap kali traksaksi (membeli atau menjual) sekuritas adalah sebesar Rp 60.000,-. Namun demikian pihak Bank mensyaratkan agar PT Sepha memiliki MSCB Rp 15.000.000,-. Jika syarat ini dilanggar maka pihak bank akan mendenda PT Sepha dengan tambahan bunga 1% di atas bunga pinjaman semula.
Pertanyaan:
Berapakah nilai sekuritas yang seharusnya dijual setiap kali transaksi?
CASH MANAGEMENT
Jawaban Kasus PT Sepha
Q =
√
2 x 60.000 x 90.000.000 = Rp 26.832.816,- (dibulatkan) 0,015Nilai sekuritas yang seharusnya dijual setiap kali transaksi adalah Rp
26.832.816,- Saldo Kas Rata-rata = Q/2 + MSCB = 26.832.816/2 + 7.500.000 = Rp 20.916.048
,- Jika perusahaan meningkatkan saldo kas dari Rp 7.500.000,- menjadi Rp 15.000.000,- berarti perusahaan mengeluarkan biaya ekstra 12% x Rp 7,5 juta = Rp
900.000,-Jika perusahaan tidak meningkatkan saldo kas, maka akan menanggung denda sebesar 0,01 x Rp 90.000.000,- = Rp
Jumlah
Account Receivable
(piutang usaha)
ditentukan oleh:
Volume penjualan kredit
Kebijakan kredit yang diterapkan
Kebiasaan perilaku pelanggan
Hari rata-rata pengumpulan piutang
(ACP)
Perputaran piutang per tahun
(RTO)
Menghitung Jumlah
Account Receivable (AR)
AR = Sales / RTO
RECEIVABLE MANAGEMENT
Account Receivable Investment (ARI)
ARI
(Investasi Dalam Piutang) =
(1 – NPM) x AR
Account Receivable Cost (ARC)
ARC
(Biaya Investasi dalam Piutang Usaha) =
AR x COC
Discount Receivable Collection Cost (DRCC)
DRCC = % Diskon x %Pelanggan Pengambil Diskon x Penjualan
RECEIVABLE MANAGEMENT
RECEIVABLE MANAGEMENT
Contoh Soal PT Idewiz
PT Idewiz tahun 2004 memiliki perputaran piutang (RTO) 2 kali dalam setahun. Dalam rangka meningkatkan RTO, mulai tahun 2005 perusahaan ini menerapkan kebijakan kredit 3/30 net 180. Hasil evaluasi selama bulan Januari 2005 ditemukan bahwa 60% pelanggan tertarik mengambil diskon tersebut dan hal ini diperkirakan akan berlangsung untuk seterusnya. Data yang dimiliki oleh perusahaan ini adalah:
Nilai Penjualan kredit tahun 2005 diperkirakan sebesar Rp
250.000.000,- NPM (net profit margin) akan dipertahankan sebesar 15% per tahun
COC (cost of capital) untuk investasi dalam piutang adalah 12% per tahun
RECEIVABLE MANAGEMENT
Langkah 1 Penyelesaian Soal PT Idewiz
Sebelum Kebijakan:
ACP = 360/RTO = 360/2 = 180 hari RTO = 2 kali
Jumlah AR = Sales/RTO = Rp 250.000.000/2 = Rp 125.000.000,-ARI = (1-NPM) x AR = 0,85 x Rp 125.000.000,- = Rp 106.250.000,-ARC = 0,12 x Rp 106.250.000,- = Rp
12.750.000,-Setelah Kebijakan:
ACP = (60% x 30 hari) + (40% x 180 hari) = 90 hari RTO = 360/90 = 4 kali
Jumlah AR = Sales/RTO = Rp 250.000.000/4 = Rp 62.500.000,-ARI = (1-NPM) x AR 0,85 x Rp 62.500.000,- = Rp 53.125.000,-ARC = 0,12 x Rp 53.125.000,- = Rp
RECEIVABLE MANAGEMENT
Langkah 2 Penyelesaian Soal PT Idewiz
Hasil Perhitungan Langkah 1:
Penghematan ARC = 12.750.000 - 6.375.000 = Rp 6.375.000,-
Langkah 2: Menghitung DRCC (Biaya Diskon)
DRCC = % Diskon x % Pelanggan x Penjualan
DRCC = 3% x 60% x Rp 250.000.000 = Rp
4.500.000,-Economic Value Added = Rp 6.375.000,- - Rp
= Rp 1.875.000,-
Simpulan: Kebijakan kredit tersebut laik diterapkan oleh
RECEIVABLE MANAGEMENT
Contoh Soal PT Fajap
PT Fajap, pada tahun 2004 menerapkan penjualan kredit atas 1000 unit produk per hari dengan harga jual @ Rp1.000.000,-dan biaya produksi Rp750.000,- per unit. ACP ditetapkan 36 hari, ditemukan 4% piutang tidak tertagih(bad debt). Biaya modal (coc) atas investasi dalam piutang 6% per hari. Seiring dengan semakin ketatnya tingkat persaingan, perusahaan ini berniat menurunkan harga jualnya di tahun 2005 menjadi @ Rp 975.000,- dan menekan biaya produksi per unitnya menjadi hanya Rp 700.000,-. Sebagai kompensasi penurunan harga, PT Fajap memperkirakan volume penjualan naik menjadi 1500 unit per hari; ACP diduga akan meningkat menjadi 45 hari, sehingga perusahaan akan menekan piutang tidak tertagih menjadi hanya 2%.
RECEIVABLE MANAGEMENT
Penyelesaian Soal PT Fajap
Langkah 1: Identifikasi Variabel & Rumus:
RECEIVABLE MANAGEMENT
Penyelesaian Soal PT Fajap
Langkah 2: Menghitung dan Membandingkan antara NPV0 dan NPV1
Kebijakan Tahun 2004 Kebijakan Tahun 2005
Hasil Perhitungan NPV0 = 25.775.582,12 NPV1 = 27.843.140,99
Nilai Tambah Rp 2.067.578,88
INVENTORY MANAGEMENT
Pengelolaan Persediaan
Klasifikasi
Inventories
(Persediaan)
raw materials
work-in-progress
finished goods
Jumlah
Inventories
(persediaan)
ditentukan oleh
:
Volume Produksi & Penjualan
Kebijakan Pengelolaan Persediaan
Ketersediaan Bahan Baku di pasar
INVENTORY MANAGEMENT
Pengelolaan Persediaan
Setiap bidang dalam perusahaan memiliki pandangan yang
berbeda tentang penetapan jumlah persediaan:
Bagian Pemasaran
menghendaki persedian dalam jumlah
besar untuk menjamin segera terpenuhinya pesanan pelanggan.
Bagian Produksi
menghendaki persedian dalam jumlah
besar untuk menghindari keterlambatan produksi.
INVENTORY MANAGEMENT
Teknik Pengelolaan Persediaan
Just-In-Time (JIT)
JIT
adalah sistem pengelolaan persediaan yang meminimumkan investasi
dalam persediaan dengan
“zero inventory”
melalui pengaturan agar
kedatangan bahan baku tepat waktu pada saat bahan baku tersebut
dibutuhkan untuk produksi.
Syarat utama untuk dapat teraplikasikannya sistem
JIT
ialah adanya
koordinasi yang sempurna antara perusahaan dan pihak pemasok serta pihak
ekspedisi pengiriman barang yang memiliki komitmen kuat dalam mendukung
sistem
JIT
.
INVENTORY MANAGEMENT
Teknik Pengelolaan Persediaan
MRP
(Material Requirement Planning) Systems
Sistem ini digunakan untuk menentukan apa, kapan,dan berapa besar
jumlah bahan baku yang harus dipesan.
MRP
menggunakan
konsep EOQ
untuk menentukan seberapa besar
jumlah bahan baku yang harus dipesan setiap kali pesan dengan
menggunakan program komputer.
MRP
mengorganisasikan
seluruh struktur bahan baku, status persediaan,
dan status proses produksi.
Economic Order Quantity (EOQ)
INVENTORY MANAGEMENT
Teknik Pengelolaan Persediaan
EOQ = 2
xD
xOc
Cc
xP
Keterangan:
D
= Kebutuhan bahan baku selama satu tahun
Oc
= Ordering Costs setiap kali pesan Frekuensi Pemesanan (FP) selama satu tahun = D/Q
Total Ordering Costs (TOc) selama satu tahun = Oc x FP
Nilai Rata-rata Persediaan (NRP) = (Q x P)/2
Total Carrying Costs (TCc) selama satu tahun = Cc x NRP
Total Inventory Costs (TIc) selama satu tahun = TOc + TCc
Lead Time (LT) adalah tenggang waktu pemesanan
Procurement Lead Time (PLT) = LT x Kebutuhan/ hari
Safety Stock (SS) adalah Persediaan Pengaman
INVENTORY MANAGEMENT
INVENTORY MANAGEMENT
Teknik Analisis EOQ
Reorder Point (ROP)
ROP adalah
titik pemesanan kembali untuk menjaga agar pesanan
berikutnya tiba tepat pada saat persediaan habis (tidak termasuk
safety stock
).
ROP = PLT + SS
EOQ
dan seterusnya…ROP
PLT
PT Henril selama tahun 2005 membutuhkan 3000 bahan baku seharga $1000. Bahan baku ini diimpor dari Jepang dengan ordering costs (Oc) $15,000 setiap kali pesan. Carrying costs (Cc) per unitnya adalah 25% dari harga bahan baku per unit. Perusahaan menetapkan safety stock 200 unit. Lead time pengiriman 12 hari.
Pertanyaan:
1. Hitunglah kuantitas oder yang paling ekonomis setiap kali pesan!
2. Berapakah frekuensi pemesan selama satu tahun?
3. Berapakah total biaya pemesanan, total biaya penyimpanan, dan total biaya persediaan selama tahun 2005?
4. Tentukan besarnya reorder point (ROP)!
INVENTORY MANAGEMENT
1. EOQ =
√
(2 x 3,000 x 15,000)/(0.25 x 1,000) = 600 unit 2. Frekuensi Pemesanan (FP) = 3,000/600 = 5 x3. Total Oc= 5 x $ 15.000 = $ 75,000
Total Cc = {(600 x 1,000)/2} x 0.25 = $ 75,000 Total Ic = $75,000 + $75,000 = $ 150,000 4. ROP = PLT + SS
PLT = 12 hari x (3,000/360) = 100 unit SS = 200 unit
ROP = 100 unit + 200 unit = 300 unit
INVENTORY MANAGEMENT
PT Zoelly selama tahun 2005 membutuhkan 4000 bahan baku seharga $1,200. Bahan baku ini diimpor dari Jerman dengan ordering costs (Oc) $60,000 setiap kali pesan. Carrying costs (Cc) per unitnya adalah 40% dari harga bahan baku per unit. Perusahaan menetapkan safety stock 150 unit. Lead time pengiriman 9 hari.
Pertanyaan:
1. Hitunglah kuantitas oder yang paling ekonomis setiap kali pesan!
2. Berapakah frekuensi pemesan selama satu tahun?
3. Berapakah total biaya pemesanan, total biaya penyimpanan, dan total biaya persediaan selama tahun 2005?
4. Tentukan besarnya reorder point (ROP)!
INVENTORY MANAGEMENT
BEP Analysis
(Break Event Point Analysis)
Difinisi:
Analisis BEP merupakan suatu metoda sistematik untuk menguji hubungan antara penjualan, biaya-biaya, dan laba operasi perusahaan dalam jangka pendek.
Asumsi:
Validitas analisis BEP dibatasi oleh sejumlah asumsi, antara lain: semua faktor yang terkait bersifat konstan
analisis hanya dapat diterapkan pada rentangan kapasitas yang relevan biaya-biaya terklasifikasi secara jelas menjadi biaya tetap dan biaya variabel total biaya tetap, harga jual per unit, dan biaya variabel per unit selalu konstan laba dikalkulasi atas dasar variable costing basis
Tujuan:
Tujuan utama analisis BEP adalah terukurnya kondisi tidak untung maupun tidak rugi dalam suatu aktivitas ekonomi. Kondisi ini dimaksudkan sebagai pedoman dalam melakukan perencanaan penjualan, biaya-biaya, dan laba untuk waktu yang akan datang.
Margin of Safety (MOS):
MOS adalah salah satu instrumen dalam analisis BEP yang mengukur rentangan tingkat aman antara penjualan aktual dan penjualan dalam kondisi BEP baik dalam unit, rupiah, maupun dalam persentase. MOS ini dimaksudkan sebagai warning system agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
MOS dalam unit = unit penjualan aktual – unit penjualan BEP
MOS dalam rupiah = laba operasi / rasio margin kontribusi
BEP Analysis
Contribution Margin (CM):
CM adalah selisih antara penjualan dan biaya variabel, baik secara total maupun per unit.
CM dalam unit :
P – AVC
P = harga jual; AVC = biaya variabel per unit
CM secara total : TR – TVC
TR = total revenue; TVC = total variable costs
CM dalam rasio : (P-AVC)/P atau
BEP Analysis
BEP Analysis
(Break Event Point Analysis)
BEP
terjadi pada kondisi titik impas antara
total revenue
(TR)
dan
total costs
(TC)
sehingga
net operating profit
(NOP)
adalah nol.
NOP = TR – TC
NOP = PxQ – {TFC + (AVCxQ)}
BEP NOP = 0 0 = PQ – (TFC + AVCQ)
Keterangan:
TFC = Total Fixed Costs
AVC = Average Variable Costs (Biaya Variabel per unit)
BEP Analysis
Istilah-istilah dalam BEP Analysis
Q = kuantitas produksi atau kuantitas penjualan
P = unit selling price (harga jual per unit) = TR/Q
TR = total revenue = P x Q
TFC = total fixed costs = AFC x Q
AFC = average fixed cost atau FC per unit = TFC/Q
TVC = total variable costs = AVC x Q
AVC = average variable costs atau VC per unit = TVC/Q
TC = total costs = TFC + TVC atau AC x Q
BEP Analysis
Q dalam menghendaki laba sebesar X
Q = (TFC + X)/CMu
TR dalam menghendaki laba sebesar X
BEP Analysis
Contoh Soal BEP
PT Anis
adalah produsen tas wanita dengan kapasitas produksi pada
relevant range
antara 4.000 s/d 12.000 unit pe tahun. Setiap tahunnya PT
Anis mengeluarkan total biaya tetap sebesar Rp 60 juta dan biaya variabel
per unit sebesar Rp 10.000,-. Volume penjualan pada tahun 2004 adalah
sebesar 8.000 unit dengan harga jual per unit Rp
20.000,-Pertanyaan:
1. Berapakah CMu, CMt, dan CMr PT Anis tahun 2004?
2. Berapakah BEPQ dan BEPRp PT Anis pada tahun 2004?
3. Jika semua kondisi diasumsikan konstan, berapakah Q dan TR yang harus dicapai oleh PT Anis tahun 2005 untuk memperoleh laba Rp10 juta?
BEP Analysis
Perhitungan BEP dengan Pendekatan Matematik
BEPQ = Q dalam persamaan: PQ – TFC – AVCQ = 0
20.000Q - 60.000.000 - 10.000Q = 0
10.000Q = 60.000.000 Q = 6.000 unit
BEP Analysis
Jawaban Soal BEP
Perhitungan BEP dengan Pendekatan MK
BEP
Q= TFC/CMu
=
Rp60.000.000/ Rp10.000 = 6.000 unit
BEP
Rp= TFC/CMr
=
Rp60.000.000/ 0,50 =
Rp120.000.000,-
Perhitungan Q dan TR untuk mencapai laba Rp
Q = (TFC+L)/CMu
= (
60 juta + 10 juta)/10.000 = 7.000 unit
TR = (TFC+L)/CMr
=
(
60 juta+10 juta)/0,5 = Rp140.000.000,-
Laba Operasi jika AVC Rp9.000, TFC Rp 50 juta, Q=10.000
BEP Analysis
Jawaban Soal BEP
Perhitungan
Margin of Safety
PT Anis
MOSu = Actual Q – BEPQ
=
8.000 - 6.000 = 2.000 unit
MOS
Rp= NOP/CMr
=
(20.000x8.000) - 60juta - (10.000x8.000)
=
Rp160.000.000,- - Rp140.000.000,-
=
Rp 20.000.000,-
MOSr = TR aktual - BEP
Rp=
{(20.000x8.000)
–
120 juta}
Leverage Analysis
Rumus DOL, DFL, DCL
Degree of Operating Leverage
(DOL)
DOL = (PQ - AVCQ)/ (PQ-AVCQ-TFC) x 100%
Degree of Financial Leverage
(DFL)
DFL = (PQ - AVCQ-TFC)/ (PQ-AVCQ-TFC-i) x 100%
Degree of Combined Leverage
(DCL)
DCL = (PQ - AVCQ)/ (PQ-AVCQ-TFC-i) x 100%
Leverage Analysis
Contoh Soal
PT Lingling
adalah produsen sepatu olah raga yang memiliki
harga jual per pasang (P) $ 50; biaya variabel per unit (AVC) $ 20;
dan total biaya tetap (TFC) $ 12,000. Setiap tahunnya perusahaan
ini menanggung beban bunga hutang $ 5,000.
Pertanyaan:
1.
Hitunglah BEP
Qdan Q untukBEP
Rp2.
Hitunglah TR untuk mencapai laba operasi $ 3,000
3.
Hitung dan jelaskan DOL pada tingkat penjualan 2.000 unit!
4.
Hitung dan jelaskan DFL pada tingkat penjualan 2.000 unit!
Leverage Analysis
Jawaban Soal BEP & Leverage
Perhitungan BEP dengan Pendekatan MK
BEPQ = TFC/CMu = $ 12,000/ ($50-$20) = 400 unitBEPRp = TFC/CMr = $ 12,000/ 0,60 = $ 20,000
Perhitungan TR untuk mencapai laba operasi $ 3,000
TR = (TFC+L)/CMr = ($12,000+ $3,000)/0,60 = $ 25,000 Perhitungan DOL pada 2.000 unit
DOL = (PQ - AVCQ)/ (PQ-AVCQ-TFC) x 100% = $ 60,000 / $48,000 = 1,25 = 125%
Leverage Analysis
Jawaban Soal BEP & Leverage
Perhitungan DFL pada 2.000 unit
DFL = (PQ – AVCQ-TFC)/ (PQ-AVCQ-TFC-i) x 100%
= $ 48,000 / $43,000 = 1,116 = 111,6%
Artinya: Setiap kenaikan EBIT 100% akan mengakibatkan kenaikan EPS 111,6%
Perhitungan DCL pada 2.000 unit