Manajemen perpajakan
1. Overview KUP
2. Overview PPh
3. Overview PPN
4. Pengertian Dasar Manajemen Pajak
5. Pemilihan Sumber Pembiayaan (bagian 1) 6. Pemilihan Sumber Pembiayaan (bagian 2)
7 . Tax Planning dan Pengendalian atas Penghasilan Usaha dan Penghasilan Lainnya
8 .Tax Planning dan Pengendalian atas Unsur-unsur Harga Pokok Penjualan dan Pengurang Penghasilan Bruto
9 .Tax Planning dan Pengendalian atas PPh Pasal 21
10. Tax Planning dan Pengendalian atas unsur-unsur objek withholding tax (selain PPh Pasal 21)
11. Tax Planning dan Pengendalian atas Pajak Pertambahan Nilai
12. Tax Planning dalam pemanfaatan tax incentives
Pengertian Pajak
Prof. Dr. Rochmat Soemitro, S.H
iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat
jasa timbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar
pengeluaran umum
(Dasar-dasar hukum pajak dan pajak pendapatan 1990:5)
Badan
Penghasilan
Beban yang dapat dikurangkan
Penghasilan kena pajak X tarif pajak
Pajak terutang 1thn fiskal
Kredit pajak
• Angsuran pajak (PPh25)
• Dipotong pihak lain (22,23)
PAJAK dalam Perusahaan
Pajak atas Penghasilan Perusahaan – Dibayar langsung oleh perusahaan :
• Angsuran pajak (PPh 25)
• Pembayaran pajak akhir tahun (PPh 28/29)
– Dipotong oleh pihak lain (final, tidak final, 22, 23)
– Laporan laba rugi akan mempengaruhi jumlah beban pajak dan di Neraca utang pajak / pajak dibayar dimuka
Kewajiban memotong pajak pihak lain (with holding tax) – Pajak atas penghasilan yang diterima pihak lain (21, 23, 26) – PPN pajak atas penyerahan barang / jasa kena pajak
– Tidak muncul dalam laporan laba rugi, tetapi di Neraca sebagai utang atau pajak dibayar dimuka
Pajak Lainnya
– PBB, pajak daerah, PPnBM beban
– Pajak atas pengalihan hak atas tanah dan bangunan (BPHTP) – Pajak Daerah
– Bea Materai
PAJAK untuk Individu
Individu SPTnya berbeda
– Bekerja dari satu pemberi kerja
– Bekerja lebih dari satu pemberi kerja
– Pemilik usaha
Pajak atas Individu
– Dibayar langsung oleh individu:
• Angsuran pajak (PPh 25)
• Pembayaran pajak akhir tahun (PPh 28/29)
– Dipotong oleh pihak lain (PPh21, PPh23, PPh22, PPh24, tidak final, final, )
Kewajiban memotong pajak pihak lain (with holding tax) Pph 21, PPh
final
– Orang pribadi yang mempekerjakan pihak lain – PPN untuk individu yang menjalankan usaha
Pajak Lainnya
– PBB, pajak daerah, PPnBM beban
– Pajak atas pengalihan hak atas tanah dan bangunan (BPHTP) – Pajak Daerah
– Bea Materai
SELF-ASSESMENT SYSTEM
WP
Menghitung
Memperhitungkan
Membayar
Melaporkan
SPT
Tarip x DPP Pajak Terutang
Pelunasan Pajak Kredit Pajak
PT - KP
PT < KP PT = KP
PT > KP
SKPKB SKPN SKPLB
ENTITAS
BISNIS
PERATURAN PEMERINTAH UU PERPAJAKAN
KEP. MENKEU KEP. / SE DIRJEN PAJAK
Ilustrasi Hukum Formal:
Surat Administratif
Keterangan SPT SKP STP
Definisi Surat untuk
pelaporan, menagih pajak dan sanksi administrasi.
Fungsi Pelaporan dan
pertanggungjawab
Alat koreksi, sarana mengenakan sanksi,
dan alat menagih pajak.
Alat koreksi pajak terutang, sarana
mengenakan sanksi, dan alat
menagih pajak.
Pajak
UU PAJAK PENGHASILAN (UU 36/2008)
Perubahan keempat dari UU 7/1983
Subyek Pajak
• Obyek; bukan obyek; pengurang dan bukan pengurang
Obyek Pajak
• Tarif, struktur modal, harga transaksi, revaluasi
Cara Menghitung Pajak
• PPh 21; 22; 23; 24; 25
Pelunasan pajak dalam Tahun Berjalan
• PPh 28; PPh 29
Perhitungan pajak akhir tahun
Orang Pribadi (OP)
Badan
Bentuk usaha tetap (BUT),
merupakan subyek pajak yang
perlakuan pajaknya dipersamakan
dengan subyek pajak badan.
Warisan yang belum terbagi sebagai
satu kesatuan, bersifat
menggantikan yang berhak.
Subjek Pajak
Pasal 2 Ayat (1 dan 1a)
Merupakan
setiap tambahan
kemampuan ekonomis
yang:
-
Diterima
atau
diperoleh
wajib pajak.
- Berasal
dari Indonesia
maupun
dari
luar Indonesia
.
- Dapat dipakai
untuk konsumsi
atau
untuk menambah kekayaan
wajib
pajak.
Definisi Penghasilan
Pasal 4 Ayat (1)
Dengan nama dan dalam bentuk
apapun
UU PPN & PPnBM (UU 42/2009)
Perubahan keempat dari UU 8/1983
Pengukuhan pengusaha kena pajak
Kewajiban melaporkan usaha, memungut dan menyetor dan melaporkan pajak terutang
Obyek Pajak
Tarif dan Cara Menghitung Pajak
Saat dan tempat terutang
Laporan Perhitungan pajak
Ketentuan Khusus - pemungut
Definisi Manajemen Pajak
•
Upaya-upaya manajemen dalam memenuhi kewajiban
perpajakan yang benar, tetapi jumlah pajak dapat ditekan
serendah mungkin untuk memperoleh laba dan likuiditas
yang diharapkan.
•
SARANA MEMENUHI KEWAJIBAN PERPAJAKAN
DENGAN BENAR, TETAPI JUMLAH PAJAK YANG
DIBAYAR DAPAT DITEKAN SERENDAH MUNGKIN
Tujuan Manajemen Pajak
•
Umum:
•
Menerapkan peraturan perpajakan secara benar
•
Usaha efisiensi untuk mencapai laba dan likuiditas
yang seharusnya.
•
Manfaat Manajemen Pajak
–
Menghilangkan/menghapus pajak sama sekali
–
Menghilangkan/menghapus pajak dalam tahun berjalan
–
Menunda pengakuan penghasilan
Strategi Manajemen Pajak
• Memperluas bisnis atau melakukan ekspansi usaha
dalam bentuk badan usaha baru
• Menghindari pengenaan pajak berganda
• Menghindari bentuk penghasilan yang bersifat rutin
atau teratur atau membentuk, memperbanyak atau mempercepat pengurangan pajak.
• manajemen pajak dapat dicapai melalui fungsi-fungsi
manajemen yang terdiri dari:
– Perencanaan Pajak (Tax Planning)
TAX PLANNING
TAX POLICY
TAX LAW
TAX ADMNST
SISTIM PERPAJAKAN
ENTITAS BISNISTAX PLANNING
TINDAKAN LEGAL PENGENDALIAN TRANSAKSI
TERKAIT DENGAN KONSEKUENSI POTENSI PAJAK PAJAK YANG DAPAT MENGEFISIENSIKAN JUMLAH PAJAK YANG DITRANSFER KE PEMERINTAH.
TRANSAKSI TERKENA PAJAK DIUPAYAKAN DIKURANGI
ATAU DITUNDA SECARA LEGAL
ASPEK FORMAL DAN ADMININISTRATIF HUKUM PAJAK
FORMIL
NPWP DAN NPKP, PEMBUKUAN, MEMBAYAR PAJAK SELF ASSESMENT SYSTEM
PAYMENT SYSTEM
ASPEK MATERIIL : OPTIMALISASI ALOKASI SUMBER
TAX PLANNING
HAL YANG PENTING :
TIDAK MELANGGAR KETENTUAN PERPAJAKAN SECARA
BISNIS MASUK AKAL
BUKTI PENDUKUNG MEMADAI (MIS. PERJANJIAN;
FAKTUR; KEBIJAKAN AKUNTANSI )
PENGENDALIAN PAJAK (TAX CONTROL) PERSYARATAN FORMAL DAN MARIIL PENGENDALIAN PEMBAYARAN PAJAK
DOING THING RIGHT, DOING THE RIGHT THING AND WORK
TAX LAW
UNDANG - UNDANG PERPAJAKAN
TIDAK MENGATUR SEMUA PERMASALAHAN PAJAK
KETENTUAN BERTENTANGAN DENGAN UU PENYESUAIAN KEBIJAKAN TERTENTU
PERATURAN PEMERINTAH, KEPMENKEU, SE DIRJEN PAJAK
TIDAK MENGATUR SECARA TEKNIS
ANALISIS CELAH (LOOPHOLES)
PERBEDAAN TARIF PAJAK (TAX RATES)
KESEMPATAN PENGHEMATAN PAJAK
PERBEDAAN PERLAKUAN OBJEK PAJAK SEBAGAI
TAX ADMINISTRATION
PERSYARATAN ADMINISTRASI PAJAK
MENGHINDARI SANKSI ADMINISTRASI & PIDANA PENGISIAN SPT DAN PEMBAYARAN PAJAK
KATEGORI TAX EVASION...
IGNORANCE ( KETIDAKTAHUAN )
ERROR ( KESALAHAN )
Perencanaan Pajak
• Perencanaan Pajak adalah langkah awal dalam manajemen pajak
dimana pada tahap ini dilakukan pengumpulan dan penelitian
terhadap peraturan perpajakan, dengan maksud dapat diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan.
• Tujuan perencanaan pajak adalah agar beban pajak (Tax Burden)
serendah mungkin dengan memanfaatkan peraturan yang ada tetapi berbeda dengan tujuan pembuatan Undang-undang maka tax
planning disini sama dengan tax avoidance karena secara hakikat ekonomis kedua-duanya berusaha untuk memaksimalkan
Motivasi Perencanaan Pajak
Kebijaksanaan Perpajakan (Tax Policy)
Kebijaksanaan perpajakan merupakan alternatif dari berbagai sasaran yang hendak dituju dalam sistem perpajakan.
Faktor yang mendorong dilakukannya suatu perencanaan pajak, yaitu:
− Pajak yang akan dipungut
− Siapa yang akan dijadikan subjek pajak − Apa saja yang merupakan objek pajak − Berapa besarnya tarif pajak
Motivasi Perencanaan Pajak
– Undang-undang Perpajakan (Tax Law) mengatur setiap permasalahan
secara sempurna namun pelaksanaannya diikuti ketentuan-ketentuan pelaksana.
– Tidak jarang ketentuan pelaksanaan tersebut bertentangan dengan Undang-undang itu karena disesuaikan dengan kepentingan pembuat kebijaksanaan dalam mencapai tujuan lain yang ingin dicapainya.
– Administrasi Perpajakan (Tax Administration)
• Motivasi perencanaan pajak adalah memaksimalkan laba setelah pajak
karena pajak itu ikut mempengaruhi dalam pengembalian keputusan atas suatu tindakan dalam operasi perusahaan untuk melakukan investasi dengan cara menganalisis secara cermat dan memanfaatkan peluang atau kesempatan yang ada dalam ketentuan peraturan yang sengaja dibuat oleh pemerintah untuk memberikan perlakuan yang berbeda atas objek yang secara ekonomi hakikatnya sama (karena pemerintah
mempunyai tujuan lain tertentu) dengan memanfaatkan: − Perbedaan tarif pajak (Tax Rates)
Tahap-tahap Perencanaan Pajak
Agar Tax Planning berhasil sesuai dengan yang diharapkan,
maka perencanaan itu seharusnya dilakukan melalui berbagai
urutan tahap-tahap berikut:
–
Analisis informasi yang ada
–
Buat satu model atau lebih rencana kemungkinan
besarnya pajak
–
Evaluasi pelaksanaan rencana pajak
–
Mencari kelemahan dan kemudian memperbaiki kembali
rencana pajak
KARAKTERISTIK PERENCANAAN PAJAK
•
Legal, tidak bertentangan dengan peraturan perpajakan
yang berlaku
•
Integral, merupakan bagian integral dari perencanaan
menyeluruh perusahaan
•
Valid, didukung dengan bukti-bukti yang memadai,
misalnya: agreement. invoice dan accounting treatment.
•
Cash
flow,
berhubungan
dengan
kegiatan
mengendalikan cash flow.
TAHAP-TAHAP PERENCANAAN PAJAK
1. Tahap Pemahaman
a. Memahami Peraturan Perpajakan. b. Memahami Kondisi Internal.
c. Memahami Kondisi Eksternal.
d. Memahami Variabel-variabel Perencanaan Pajak. - Variabel Entitas
1) Memindahkan Penghasilan 2) Memindahkan Biaya
3) Melakukan Transfer Pricing - Variabel Waktu
- Variabel Peraturan Perpajakan
- Variabel Karakteristik (Kekhususan) Peraturan P33jak 2. Tahap Penentuan Tujuan
ASPEK STRATEGIS PERENCANAAN PAJAK
• Aspek Strategis Berkaitan Bentuk Entitas Usaha Wajib Pajak • Aspek Strategis Berkaitan Tujuan Wajib Pajak
– Mengoptimalkan Beban Pengeluaran – Menghindari Sanksi Perpajakan
– Menunda atau Mengangsur Pembayaran Pajak – Memaksimalkan Sumber Pendanaan Perusahaan
– Memaksimalkan Transaksi Dalam Satu Group Perusahaan
– Memaksimalkan Pembayaran Pajak-Pajak, dan Zakat, Sebagai Pengurang
Penghasilan
• Aspek Strategis Berkaitan Kondisi Internal Wajib Pajak
– Memaksimalkan Kompensasi Kerugian – Melakukan Merger
– Penentuan Metode Penyusutan Aktiva Tetap
FORMULA PAJAK PENGHASILAN
NO KOMPONEN PERHITUNGAN KETENTUAN
1 Jumlah seluruh penghasilan Pasal 4 ayat 1 2 Penghasilan tidak objek pajak penghasilan ( - ) Pasal 4 ayat 3 3 Penghasilan bruto ( = ) ( 1 - 2 )
4 Biaya fiskal boleh dikurangkan ( - ) Pasal 6 ayat 1
Koreksi : Pasal 11
Biaya yang tidak boleh dikurangkan ( - ) Pasal 11A
Pasal 9 ayat 1 dan 2 5 Penghasilan neto ( = ) ( 3 - 4 )
6 Kompensasi kerugian ( - ) Pasal 6 ayat 2 7 Penghasilan Tidak Kena Pajak ( Wajib Pajak ( - ) Pasal 7 ayat 1
Orang Pribadi )
12 Pajak Penghasilan Kurang Bayar / Lebih Bayar / ( 10 - 11 )
BIAYA DAPAT DIKURANGKAN
BIAYA UNTUK MENDAPATKAN PENGHASILAN PENYUSUTAN DAN AMORTISASI
IURAN DANA PENSIUN YANG DISAHKAN MENKEU KERUGIAN PENJUALAN HARTA
KERUGIAN SELISIH KURS
BIAYA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BIAYA BEA SISWA, MAGANG DAN PELATIHAN PIUTANG YANG TIDAK TERTAGIH, syarat :
a. TELAH DIBEBANKAN SEBAGAI BIAYA
b. DISERAHKAN BADAN URUSAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA (BUPLN)
c. DIPUBLIKASIKAN DALAM PENERBITAN
PENGHASILAN BUKAN OBJEK
PAJAK
BANTUAN ATAU SUMBANGAN WARISAN
SETORAN TUNAI PENYERTAAN SAHAM DITERIMA BADAN IMBALAN DALAM BENTUK NATURA
PENERIMAAN ASURANSI KEPADA ORANG PRIBADI DEVIDEN YANG DITERIMA BADAN, syarat :
a. BERASAL DARI LABA DITAHAN
b. BAGI PT, BUMN DAN BUMD PENERIMA DEVIDEN PALING RENDAH 25% DAN MEMPUNYAI USAHA AKTIF DILUAR KEPEMILIKAN SAHAM
IURAN PENSIUN
PENGHASILAN MODAL YANG DITANAMKAN
BAGIAN LABA YANG TIDAK TERBAGI ATAS SAHAM
PRINSIP TAXABLE & DEDUCTIBLE
MERUBAH DEDUCTIBLE MENJADI TAXABLE
BEBAN YANG TIDAK DAPAT DIKURANGKAN MENJADI
DAPAT DIKURANGKAN
PENGHASILAN SEBAGAI OBJEK PAJAK MENJADI BUKAN
OBJEK PAJAK
ILUSTRASI !!
PT. DHANA MEMPEROLEH PENGHASILAN Rp10,000,000 RIBU DAN BEBAN KOMERSIAL Rp7,500,000 RIBU, TERMASUK
PENGHEMATAN PAJAK Rp54,000,000.00
PERHI TUNGAN FI SKAL
KETERANGAN TANPA PERENCANAAN TAX PLANNI NG Penghasilan 10,000,000,000.00 10,000,000,000.00 Beban komersial (7,500,000,000.00) (7,500,000,000.00) Laba sebelum paj ak 2,500,000,000.00 2,500,000,000.00
Koreksi :
Biaya tidak boleh
dikurangkan 180,000,000.00
Laba Fiskal 2,680,000,000.00 2,500,000,000.00
Paj ak penghasilan (786,500,000.00) (732,500,000.00)
Penyebaran penghasilan & biaya
PERPANJANGAN JANGKA WAKTU PENGENAAN PAJAK
PENJUALAN SECARA ANGSURAN / KREDIT
PERPENDEK JANGKA WAKTU BIAYA YANG DAPAT
DIKURANGKAN
PEMBELIAN TUNAI MENJADI LEASING BIAYA LEASING LEBIH BESAR PENYUSUTAN
FISKAL
DIVERSIFIKASI USAHA PENUNJANG
PEMBENTUKAN ENTITAS BISNIS BARU
TAX SAVING
USAHA MEMINIMALISASI JUMLAH UTANG PAJAK YANG
TIDAK TERMASUK DALAM LINGKUP PERPAJAKAN (Zain, 2003)
MENGHINDARI UTANG PAJAK DENGAN TIDAK MEMBELI
TAX HEAVENS
FASILITAS PAJAK YANG DAPAT DINIKMATI DENGAN
ADANYA KETENTUAN PERPAJAKAN YANG BERLAKU
JUSTIFIKASI :
DOMISILI TIDAK ADA PAJAK YANG HARUS DIPUNGUT PAJAK HANYA DIPUNGUT UNTUK INTERNATIONAL
TAXABLE EVENT
PERLAKUAN KHUSUS, MIS TAX HOLIDAYS
TAX EVASION
MANIPULASI SECARA ILEGAL ATAS PENGHASILANNYA UNTUK MEMPERKECIL JUMLAH PAJAK TERUTANG
(Barr NA, 1997)
PENYELUNDUPAN PAJAK YANG MELANGGAR
UNDANG-UNDANG PAJAK (Anderson, dalam Zain, 2003)
Sumber
Pemilihan sumber Dana – Aset tetap
1.
Dampak dari menahan laba (pendanaan internal).
2.
Dampak dari pendanaan melalui modal (
equity
financing
) dan distribusi laba (
distributing dividend
).
3.
Dampak dari pendanaan melalui utang (
debt
financing
) terutama oleh pemegang sahamnya.
4.
Factoring
and leasing.
Klasifikasi Umum Penghasilan
Penghasilan dari pekerjaan dan hubungan kerja dan pekerjaan bebas seperti gaji, honorarium, dan sebagainya.
Penghasilan dari usaha dan kegiatan.
Penghasilan dari modal berupa harga gerak ataupun tidak gerak, seperti bunga, dividen, royalti, sewa dan
keuntungan penjualan harga atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha.
Ketentuan Khusus atas Penghasilan
Semua penghasilan digabungkan dalam
satu tahun pajak.
Jika menderita kerugian dikompensasikan
dengan penghasilan lain kecuali kerugian
dari luar negeri.
Untuk penghasilan dikenakan final atau
dikecualikan dari objek pajak tidak boleh
digabungkan.
Semua penghasilan digabungkan dalam
satu tahun pajak.
Jika menderita kerugian dikompensasikan
dengan penghasilan lain kecuali kerugian
dari luar negeri.
Untuk penghasilan dikenakan final atau
Objek Pajak (1)
Pasal 4 Ayat (1)
a. Penggantian atau imbalan berkenaan
dengan pekerjaan atau jasa yang diterima
atau diperoleh termasuk gaji, upah,
tunjangan, honorarium, komisi, bonus,
gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan
dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan
lain dalam UU Pajak Penghasilan;
b. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau
kegiatan, dan penghargaan;
Objek Pajak (2)
Pasal 4 Ayat (1)
d. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan
harta termasuk:
i. Keuntungan karena pengalihan harta sebagai
pengganti saham atau penyertaan modal;
ii. Keuntungan karena pengalihan harta kepada
pemegang saham, sekutu, atau anggota yang
diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan
lainnya;
iii.Keuntungan
karena
likuidasi,
penggabungan,
peleburan,
pemekaran,
pemecahan,
pengambilalihan usaha, atau reorganisasi dengan
nama dan dalam bentuk apa pun;
iv.Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah,
bantuan, atau sumbangan, kecuali yang diberikan
kepada keluarga sedarah garis keturunan lurus satu
derajat dan badan keagamaan, pendidikan, sosial
termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi
yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang
ketentuannya diatur lebih lanjut dengan PMK,
sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha,
pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara
pihak yang bersangkutan; dan
Objek Pajak (3)
Pasal 4 Ayat (1)
e. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang
telah
dibebankan
sebagai
biaya
dan
pembayaran tambahan pengembalian pajak;
f. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan
karena jaminan pengembalian utang;
g. Dividen, dengan nama dan dalam bentuk
apapun, termasuk dividen dari perusahaan
asuransi
kepada
pemegang
polis,
dan
pembagian sisa hasil usaha koperasi;
h. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak;
i. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan
penggunaan harta;
j. Penerimaan
atau
perolehan
pembayaran
berkala;
Objek Pajak (4)
Pasal 4 Ayat (1)
l. Keuntungan selisih kurs mata uang asing;
m. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;
n. Premi asuransi;
o. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan
dari anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak
yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
p. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari
penghasilan yang belum dikenakan pajak;
q. Penghasilan dari usaha berbasis syariah;
Definisi Pajak Final
Pajak yang terutang dan dibayarkan seketika penghasilan
diperoleh atau diterima. Pemotongan dilakukan oleh
pemberi penghasilan, atau pihak lain yang ditentukan.
Ketika dilakukan penghitungan pajak terutang di akhir
tahun, penghasilan yang dikenakan pajak final bukan
sebagai penambah penghasilan dan pajak final tidak
dapat menjadi kredit pajak.
Pertimbangan Pengenaan
Kesederhanaan Pemotongan
Pengurangan Beban Administratif
Pemerataan Pengenaan Pajak Dorongan Pengembangan Investasi dan Tabungan
a. Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi; b. Penghasilan berupa hadiah undian;
c. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura;
d. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau bangunan; dan
e. Penghasilan tertentu lainnya, yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
a. Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi; b. Penghasilan berupa hadiah undian;
c. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura;
d. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau bangunan; dan
e. Penghasilan tertentu lainnya, yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
Objek Pajak Dikenai Pajak Final
Penghasilan dari persewaan tanah dan/ atau
bangunan. PP No. 5 Tahun 2002
Penghasilan dari hadiah undian. PP No. 132
Tahun 2000
Penghasilan dari pengalihan hak atas tanah
dan/ atau bangunan.
PP No. 71 Tahun 2008
Penghasilan dari bunga deposito dan tabungan
serta diskonto SBI.
PP No. 131 Tahun 2000
Penghasilan dari transaksi penjualan saham di
bursa efek.
PP No. 14 Tahun 1997
Penghasilan berupa bunga/ diskonto obligasi
yang dijual di bursa efek.
PP No. 16 tahun 2009
Penghasilan dari usaha jasa konstruksi. PP No. 40
Tahun 2009
Peraturan Pelaksana Pajak Final
Peraturan Pemerintah 46 – Pajak UKM Final
• Ketentuan Pajak Penghasilan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2013, merupakan kebijakan Pemerintah yang mengatur mengenai Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.
• Yang dikenai Pajak Penghasilan (PPh) ini adalah Penghasilan dari USAHA
yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dengan peredaran bruto (omzet)
yang tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 tahun Pajak. Peredaran bruto (omzet) merupakan jumlah peredaran bruto (omzet) semua
gerai/counter/outlet atau sejenisnya baik pusat maupun cabangnya.
• Pajak yang terutang dan harus dibayar adalah: 1% dari jumlah peredaran bruto.
Peraturan Pemerintah 46 – Pajak UKM Final
• Objek Pajak TIDAK DIKENAI PAJAK MENURUT PP 46 :
• Penghasilan dari jasa sehubungan dengan Pekerjaan Bebas, seperti misalnya: dokter, advokat/pengacara, akuntan, notaris, PPAT, arsitek, pemain musik, pembawa acara, dan
sebagaimana diuraikan dalam penjelasan PP tersebut;
• Penghasilan dari usaha yang dikenai PPh Final (Pasal 4 ayat (2)), seperti misalnya sewa kamar kos, sewa rumah, jasa
konstruksi (perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan), PPh usaha migas, dan lain sebagainya yang diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah tersendiri.
Peraturan Pemerintah 46 – Pajak UKM Final
Yang dikenai Pajak Penghasilan sesuai PP Nomor 46, adalah: • Orang Pribadi;
• Badan, tidak termasuk Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang menerima penghasilan dari usaha dengan peredaran bruto (omzet) yang tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 (satu) Tahun Pajak.
Yang tidak dikenai Pajak Penghasilan sesuai PP Nomor 46 adalah:
• Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang menggunakan sarana yang dapat dibongkar pasang dan
menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum. misalnya: pedagang keliling, pedagang asongan, warung tenda di area kaki-lima, dan sejenisnya.
• Badan yang belum beroperasi secara komersial atau yang dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh
Peraturan Pemerintah 46 – Pajak UKM Final
• Pajak Penghasilan yang diatur oleh PP Nomor 46 Tahun 2013 termasuk dalam:
PAJAK FINAL (Pasal 4 ayat 2)
• Setoran bulanan bukan PPh Pasal 25, Jika penghasilan semata-mata dikenai PPh nal, tidak wajib PPh Pasal 25.
• Penyetoran paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya dengan
menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP). Jika SSP sudah validasi NTPN, Wajib Pajak tidak perlu melaporkan SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2) karena dianggap telah menyampaikan SPT Masa PPh
Pasal 4 ayat (2) sesuai tanggal validasi NTPN.
• Penyetoran dimaksud dengan mencantumkan kode pada SSP Akun
pajak 411128 kode setoran 420
Dikecualikan Sebagai Objek Pajak (1)
Pasal 4 Ayat (3)
a. Bantuan atau sumbangan, zakat yang diterima
oleh badan/ lembaga amil zakat yang disahkan
oleh pemerintah dan yang diterima oleh
penerima zakat yang berhak atau sumbangan
keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk
agama yang diakui di Indonesia, yang diterima
oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau
disahkan oleh pemerintah dan yang diterima
oleh penerima sumbangan yang berhak, yang
ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Pemerintah;
Dikecualikan Sebagai Objek Pajak (2)
Pasal 4 Ayat (3)
c. Warisan;
d. Harta,
termasuk
setoran
tunai,
sebagai
pengganti saham atau sebagai pengganti
penyertaan modal;
e. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan
pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh
dalam bentuk natura dan/ atau kenikmatan dari
Wajib Pajak atau pemerintah, kecuali yang
diberikan oleh bukan WP, WP yang dikenakan
pajak secara final atau WP dengan Norma
Penghitungan Khusus (deemed profit);
Dikecualikan Sebagai Objek Pajak (3)
Pasal 4 Ayat (3)
g. Dividen atau bagian laba yang diterima atau
diperoleh PT sebagai WP dalam negeri, koperasi,
badan usaha milik negara, atau badan usaha
milik daerah, dari penyertaan modal pada badan
usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan
di Indonesia dengan syarat:
Dividen berasal dari cadangan laba yang
ditahan; dan
Bagi perseroan terbatas, badan usaha milik
negara dan badan usaha milik
daerah yang
menerima dividen, kepemilikan saham pada badan
yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua
puluh lima persen) dari jumlah
modal yang
disetor;
Dikecualikan Sebagai Objek Pajak (4)
Pasal 4 Ayat (3)
i. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh
dana pensiun dalam bidang-bidang tertentu
yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Keuangan;
j. Bagian laba yang diterima atau diperoleh
anggota dari perseroan komanditer yang
modalnya tidak terbagi atas saham-saham,
persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi,
termasuk pemegang unit penyertaan kontrak
investasi kolektif;
k. Penghasilan yang diterima atau diperoleh
perusahaan modal ventura berupa bagian laba
dari badan pasangan usaha yang didirikan dan
menjalankan usaha di Indonesia, dengan syarat
badan pasangan usaha tersebut:
Merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah,
atau yang menjalankan
kegiatan dalam
sektor-sektor usaha yang diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan; dan
Dikecualikan Sebagai Objek Pajak (5)
Pasal 4 Ayat (3)
l. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu
yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan
atau berdasarkan PMK;
m. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan
atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam
bidang pendidikan dan/ atau bidang penelitian
dan pengembangan, yang telah terdaftar pada
instansi yang membidanginya, yang ditanamkan
kembali dalam bentuk sarana dan prasarana
kegiatan pendidikan dan/ atau penelitian dan
pengembangan, dalam jangka waktu paling
lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa
lebih tersebut, yang ketentuannya diatur lebih
lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan; dan
Pengendalian
Deductible
Unsur Beban
1. Tax planning
pengelompokkan jenis penghasilan
untuk menghitung angsuran masa PPh Pasal 25.
2. Foreign exchange revenue.
3. Rekonsiliasi peredaran usaha dan penghasilan
lainnya dengan DPP PPN Keluaran dan DPP PPh
yang dipotong/dipungut.
4. Berbagai pengujian untuk menguji kebenaran
perhitungan peredaran usaha.
5. Pengendalian atas bea keluar (pajak ekspor) atas
penjualan ekspor yang terutang bea keluar.
Biaya 3M bersifat dapat dikurangkan (
deductible)
atas penghasilan bruto :
a. Biaya yang berkaitan dengan kegiatan usaha,
meliputi:
i. Biaya pembelian bahan baku;
ii. Biaya tenaga kerja;
iii. Bunga, sewa, dan royalti;
iv. Biaya perjalanan;
v. Biaya pengolahan limbah;
vi. Premi asuransi;
vii. Biaya promosi, sesuai ketentuan PMK;
viii.Biaya administrasi
ix. Pajak selain PPh.
b. Biaya penyusutan fiskal dan/atau amortisasi;
c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya
telah disahkan Menkeu;
d. Kerugian karena penjualan atau pengalihan
harta ;
e. Kerugian dari selisih kurs;
f. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan
yang dilakukan di Indonesia;
g. Biaya bea siswa, magang, dan pelatihan;
h. Piutang yang nyata – nyata tak dapat ditagih,
dengan syarat:
•
Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan
laba rugi komersial;
•
Daftar piutang yang tidak dapat ditagih telah
diserahkan kepada Ditjen Pajak;
•
Telah
diserahkan
perkara
penagihannya
kepada PN atau BUPLN;
•
Ada
perjanjian
tertulis
mengenai
penghapusan piutang/ pembebasan utang
antara kreditur dan debitur;
•
Telah dipublikasikan dalam penerbitan umum
dan khusus.
i. Sumbangan dalam rangka bencana nasional yang
diatur oleh PP.
j. Sumbangan
dalam
rangka
penelitian
dan
pengebangan yang diatur oleh PP.
k. Sumbangan dalam rangka infrastruktur sosial yang
diatur oleh PP.
l. Sumbangan dalam rangka fasilitas pendidikan yang
diatur PP
m. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga
yang diatur oleh PP.
Biaya untuk Mendapatkan, Menagih, dan Memelihara (3M) Penghasilan (1)
Ketentuan Khusus Atas Biaya 3M
Biaya 3M yang dapat dibebankan hanyalah biaya – biaya yang dikeluarkan terkait penghasilan yang ditetapkan sebagai objek pajak.
Biaya 3M yang dikeluarkan terkait penghasilan yang dikenai pajak final atau penghasilan yang bukan merupakan objek pajak, tidak dapat dibebankan.
Jika diketahui nilai biaya secara total, penghitungan biaya 3M yang dapat dibebankan atau tidak, dapat ditetapkan berdasar metode pro rata berdasar proporsi penghasilan
Biaya 3M yang dapat dibebankan hanyalah biaya – biaya
yang dikeluarkan terkait penghasilan yang ditetapkan sebagai objek pajak.
Biaya 3M yang dikeluarkan terkait penghasilan yang
dikenai pajak final atau penghasilan yang bukan merupakan objek pajak, tidak dapat dibebankan.
Jika diketahui nilai biaya secara total, penghitungan biaya
Meliputi biaya yang berkenaan dengan penghasilan kantor pusat:
Sehubungan dengan:
- usaha atau kegiatan;
- penjualan barang;
- pemberian jasa;
yang sejenis dengan yang dijalankan BUT
di Indonesia.
Deductible Expenses
atas Penghasilan BUT
Pasal 5 Ayat (2)
Penghasilan sebagaimana tersebut dalam
Pasal 26, selama terdapat hubungan
efektif antara BUT dengan harta/ kegiatan
Biaya yang tidak dapat dikurangkan (
non
deductible)
atas penghasilan bruto, meliputi:
a. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk
apapun;
b. Biaya yang dibebankan untuk kepentingan
pribadi pemegang saham, sekutu, anggota atau
anggota;
c. Pembentukan dana cadangan, kecuali:
Cadangan untuk jenis usaha tertentu yang
ditetapkan KMK;
Cadangan untuk usaha asuransi;
Cadangan jaminan sosial dibentuk BPJS;
Cadangan penjaminan yang dibentuk LPS;
Cadangan
biaya
reklamasi
untuk
usaha
pertambangan;
Cadangan biaya reforestasi untuk usaha
kehutanan;
Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan
tempat limbah industri untuk usaha pengelolaan
limbah;
Non Deductible Expenses
(1)
d. Premi asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa,
dwiguna, dan asuransi beasiswa yang dibayar
oleh WP orang pribadi;
e. Penggantian/ imbalan atas pekerjaan/jasa yang
diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan,
kecuali:
Penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh
pegawai ;
Diberikan di daerah tertentu atau diberikan
berkaitan
dengan
pelaksanaan
pekerjaan
sebagaimana ditetapkan KMK;
f. Jumlah
yang
melebihi
kewajaran
yang
dibayarkan kepada pemegang saham atau pihak
yang mempunyai hubungan istimewa;
g. Harta
yang
dihibahkan,
bantuan,
atau
sumbangan, selain sumbangan yang ditetapkan
sebagai
deductible
expense
serta
selain
sumbangan keagamaan yang bersifat wajib
kepada lembaga yang dibentuk atau disahkan
pemerintah;
h. Pajak penghasilan;
Non Deductible Expenses
(2)
i. Biaya yang dibebankan/ dikeluarkan untuk
kepentingan pribadi WP atau orang yang
menjadi tanggungan;
j. Gaji anggota persekutuan, firma, atau
perseroan komanditer yang modalnya tidak
terbagi atas saham;
k. Sanksi administrasi dan pidana di bidang
perpajakan.
Non Deductible Expenses
(3)
Ketentuan Khusus Atas Natura
Natura yang diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah tertentu adalah imbalan yang terkait dengan:
Tempat tinggal bagi pegawai dan keluarganya.
Pelayanan kesehatan.
Pendidikan.
Peribadatan.
Pengangkutan.
Olahraga, selain golf, power beating, pacuan kuda, dan terbang layang.
Natura yang diberikan akibat keharusan suatu pekerjaan di antaranya dapat berupa seragam bagi petugas pengamanan, atau penginapan bagi kru pelayaran atau penerbangan.
Natura yang diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah tertentu adalah imbalan yang terkait dengan:
Tempat tinggal bagi pegawai dan keluarganya.
Pelayanan kesehatan.
Pendidikan.
Peribadatan.
Pengangkutan.
Olahraga, selain golf, power beating, pacuan kuda, dan terbang layang.
Penghasilan yang dikategorikan sebagai
bukan objek
pajak
bagi pihak yang menerima penghasilan bersangkutan
biaya –
biaya dari pihak yang melakukan pengeluaran terkait
penghasilan tersebut,
tidak dapat dikurangkan (non
deductible)
.
Dialektika Pajak: Asas Resiprokalitas
Non
Pengeluaran Pihak Menerima
Penghasilan
Bantuan atau sumbangan, selain sumbangan keagamaan yang bersifat wajib, serta sumbangan
bencana alam, litbang, sosial, pendidikan, dan olahraga yang ditetapkan PP.
Warisan
Imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan, selain yang diberikan oleh bukan WP, WP dikenai
pajak final, atau WP menggunakan Norma Penghitungan Khusus.
Penghasilan dan Biaya sesuai Asas Resiprokalitas (1)
Premi dan polis asuransi kesehatan,
kecelakaan, jiwa, dwiguna, dan beasiswa
bagi WP orang pribadi.
Iuran dana pensiun yang dibayarkan oleh
perusahaan.
Bagian laba yang diterima anggota
persekutuan yang tidak terdiri atas saham.
Penghasilan dan Biaya sesuai Asas Resiprokalitas (2)
Pajak Penghasilan Pasal 21
• Pemotongan pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri wajib dilakukan oleh:
– pemberi kerja yang membayar gaji, dll sebagai imbalan pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai atau bukan pegawai;
– bendahara pemerintah yang membayar gaji, dll sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan;
– dana pensiun atau badan lain yang membayarkan uang pensiun dll;
– badan yang membayar honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan jasa termasuk jasa tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas; dan
– penyelenggara kegiatan yang melakukan pembayaran sehubungan dengan pelaksanaan suatu kegiatan.
Definisi
Pajak yang dikenakan terhadap WP Orang
Pribadi Dalam Negeri atas penghasilan yang
terkait dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan.
Pajak yang dikenakan terhadap WP Orang
Pribadi Dalam Negeri atas penghasilan yang
terkait dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan.
Penghasilan yang dimaksud dapat berbentuk gaji,
upah, honorarium, tunjangan, pensiun, atau
pembayaran lain dengan nama apapun.
Penghasilan yang dimaksud dapat berbentuk gaji,
upah, honorarium, tunjangan, pensiun, atau
pembayaran lain dengan nama apapun.
Saat yang lebih dahulu antara akhir bulan diterimanya pembayaran atau akhir bulan diperolehnya penghasilan.
Saat yang lebih dahulu antara akhir bulan diterimanya pembayaran atau akhir bulan diperolehnya penghasilan.
Saat Terutang
Pajak yang dikenakan terhadap WP Orang Pribadi Dalam Negeri atas penghasilan yang terkait dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan.
Pajak yang dikenakan terhadap WP Orang Pribadi Dalam Negeri atas penghasilan yang terkait dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan.
Penghasilan yang dimaksud dapat berbentuk gaji, upah, honorarium, tunjangan, pensiun, atau pembayaran lain dengan nama apapun.
Penghasilan yang dimaksud dapat berbentuk gaji, upah, honorarium, tunjangan, pensiun, atau pembayaran lain dengan nama apapun.
Perbedaan Pengenaan
PPh 21
•
WP Dalam
Negeri (DN).
PPh 21
•
WP Dalam
Negeri (DN).
PPh 26
•
Subjek Pajak
Luar Negeri
(SPLN).
PPh 26
•
Subjek Pajak
Luar Negeri
(SPLN).
Subjek Pajak
Pegawai.
Pegawai.
Penerima uang pesangon, pensiun, Tunjangan/ Jaminan Hari Tua (THT/ JHT), termasuk ahli waris.
Penerima uang pesangon, pensiun, Tunjangan/ Jaminan Hari Tua (THT/ JHT), termasuk ahli waris.
Bukan Pegawai
Tenaga ahli yang terdiri dari pengacara, akuntan, arsitek, dokter,
konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris.
Pekerja seni.
Olahragawan.
Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator. Pengarang, peneliti, dan penerjemah.
Pemberi jasa dalam segala bidang atau kepada suatu kepanitiaan. Agen iklan.
Pengawas atau pengelola proyek.
Pembawa pesanan atau perantara.
Petugas penjaja barang dagangan. Petugas dinas luar asuransi.
Distributor MLM, direct selling, atau sejenis.
Tenaga ahli yang terdiri dari pengacara, akuntan, arsitek, dokter,
konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris.
Pekerja seni.
Olahragawan.
Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator.
Pengarang, peneliti, dan penerjemah.
Pemberi jasa dalam segala bidang atau kepada suatu kepanitiaan. Agen iklan.
Pengawas atau pengelola proyek.
Pembawa pesanan atau perantara.
Petugas penjaja barang dagangan. Petugas dinas luar asuransi.
Distributor MLM, direct selling, atau sejenis.
Subjek Pajak
Pengecualian Subjek
• Bukan WNI.
• Di Indonesia tidak memperoleh penghasilan di luar
jabatannya.
• Berasal dari negara yang memberikan perlakuan timbal
balik.
Pejabat negara asing seperti perwakilan
diplomatik atau konsulat, berikut orang yang
diperbantukan kepadanya, dengan syarat:
Pejabat negara asing seperti perwakilan
diplomatik atau konsulat, berikut orang yang
diperbantukan kepadanya, dengan syarat:
• Bukan WNI.
• Di Indonesia tidak menjalankan usaha/ kegiatan/ pekerjaan
lain untuk memperoleh penghasilan.
Pejabat perwakilan organisasi internasional,
dengan syarat:
Pejabat perwakilan organisasi internasional,
dengan syarat:
Objek Pajak (1)
Penghasilan Pegawai Tetap.
Penghasilan Pegawai Tetap.
Penghasilan teratur penerima pensiun.
Penghasilan teratur penerima pensiun.
Pembayaran sekaligus uang pesangon, pensiun, THT, JHT selepas 2 tahun sejak berhenti bekerja.
Pembayaran sekaligus uang pesangon, pensiun, THT, JHT selepas 2 tahun sejak berhenti bekerja.
Upah pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas secara harian, mingguan, satuan, borongan atau yang dibayarkan secara bulanan.
Upah pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas secara harian, mingguan, satuan, borongan atau yang dibayarkan secara bulanan.
Objek Pajak (2)
Imbalan kepada Bukan Pegawai yang melakukan pemberian jasa.
Imbalan kepada Bukan Pegawai yang melakukan pemberian jasa.
Imbalan kepada peserta kegiatan.
Imbalan kepada peserta kegiatan.
Penghasilan anggota Dewan Komisaris atau Dewan Pengawas non pegawai.
Penghasilan anggota Dewan Komisaris atau Dewan Pengawas non pegawai.
Pembayaran kepada mantan pegawai.
Pembayaran kepada mantan pegawai.
Penarikan dana pensiun oleh pegawai.
Penarikan dana pensiun oleh pegawai.
Pengecualian Objek
Santunan asuransi kesehatan, kecelakaan,
jiwa, dwiguna, dan asuransi beasiswa.
Natura yang diberikan oleh WP atau
Pemerintah.
Iuran kepada dana pensiun , THT, JHT
dibayar pemberi kerja.
Zakat atau sumbangan keagamaan wajib
yang diterima OP.
Beasiswa.
Ketentuan Khusus
Natura dan/ atau kenikmatan lain diperhitungkan sebagai
penghasilan, jika dan hanya jika, diberikan oleh: bukan
WP, WP yang dikenai PPh final, atau WP yang
menggunakan norma penghitungan khusus.
Natura dan/ atau kenikmatan lain diperhitungkan sebagai
penghasilan, jika dan hanya jika, diberikan oleh: bukan
WP, WP yang dikenai PPh final, atau WP yang
menggunakan norma penghitungan khusus.
Natura dan/ atau kenikmatan lainnya yang diukur
berdasarkan harga pasar atau nilai wajar.
Natura dan/ atau kenikmatan lainnya yang diukur
berdasarkan harga pasar atau nilai wajar.
Objek PPh 21 Final
Penghasilan tidak tetap atau tidak teratur yang menjadi beban APBN atau APBD.
(PMK No. 262/ PMK.03/ 2010)
Penghasilan tidak tetap atau tidak teratur yang menjadi beban APBN atau APBD.
(PMK No. 262/ PMK.03/ 2010)
Dana pensiun yang dialihkan dengan membeli anuitas seumur hidup.
(Kepdirjen No. 333/ PJ/ 2001)
Dana pensiun yang dialihkan dengan membeli anuitas seumur hidup.
(Kepdirjen No. 333/ PJ/ 2001)
Uang tebusan pensiun. (PP No. 68 Tahun 2009)
Uang tebusan pensiun. (PP No. 68 Tahun 2009)
Uang pesangon. (PP No. 68 Tahun 2009)
Tax Planning PPh 21
Kompensasi karyawan: tunai versus natura.
Gross method, net method, dan gross-up method.
Konsep taxable dan deductible terkait dengan unsur-unsur
biaya karyawan.
Pemberian tunjangan kesehatan
Pemberian tunjangan dalam bentuk natura
Rekonsiliasi objek pph pasal 21 dengan unsur-unsur biaya
karyawan:
Identifikasi atas objek-objek withholding tax.
Penghasilan
1. Foreign exchange loss.
2. Capital expenditure versus revenue expenditure. 3. Pemilihan metode persediaan.
4. Pemilihan metode penyusutan. 5. Menyiasati SE-46/PJ.4/1995
6. Cadangan kerugian piutang tak tertagih. 7. Biaya entertainment.
8. Persyaratan-persyaratan beban promosi sesuai peraturan perpajakan.
9. Berbagai pengujian untuk menguji kebenaran beban pokok penjualan.
PPh withholding lain
•
Gross method, net method, dan gross-up
method.
•
Konsep taxable dan deductible terkait dengan
unsur-unsur biaya yang dikeluarkan
perusahaan.
•
Rekonsiliasi objek pph withholding dengan
unsur-unsur biaya seperti sewa, jasa konsultasi
•
Identifikasi atas objek-objek withholding tax.
PPN
1.
Kapan seharusnya mendaftar sebagai PKP?
2.
Pengendalian atas faktur pajak keluaran
maupun faktur pajak masukan agar memenuhi
syarat formil dan materil.
3.
Tax planning pemilihan tempat pajak terutang.
4.
Strategi menghadapi temuan pemeriksa tentang
konfirmasi PPN yang dinyatakan ”tidak ada”.
Wajib pajak yang
melakukan
penanaman modal di
bidang – bidang usaha
tertentu.
Fasilitas Perpajakan
Pasal 31A
Wajib pajak yang
melakukan
penanaman modal di
daerah – daerah
tertentu.
Berdasar penetapan PP
dapat memperoleh
fasilitas berupa:
a. Pengurangan
penghasilan
paling
tinggi 30% dari jumlah
penanaman
modal
yang dilakukan.
b. Penyusutan
dan
amortisasi
yang
dipercepat (tarif dua
kali lebih tinggi).
c. Kompensasi kerugian
yang lebih lama,
tetapi tidak lebih dari
10 tahun.
Fasilitas dalam bentuk pengurangan penghasilan sebesar 30% dari
penanaman modal diberikan secara bertahap dalam jangka 6 tahun, dengan besaran pengurangan 5% dari penaman modal di setiap tahunnya.
Fasilitas dalam bentuk perpanjangan masa kompensasi kerugian diberikan
jika kegiatan memenuhi persyaratan berikut:
Penanaman modal dilakukan di kawasan industri dan kawasan berikat. Mempekerjakan minimal 500 tenaga kerja Indonesia selama 5 tahun
berturut - turut.
Penanaman modal memerlukan investasi untuk infrastruktur ekonomi
dan sosial minimal Rp 10.000.000.000,00.
Mengeluarkan biaya litbang di dalam negeri minimal 5% dari investasi
dalam jangka 5 tahun.
Menggunakan minimal 70% bahan baku atau komponen produksi
dalam negeri sejak tahun ke – 4.
Untuk setiap satu persyaratan yang dipenuhi, perusahaan berhak atas satu tahun perpanjangan masa kompensasi.
Fasilitas dalam bentuk pengurangan penghasilan sebesar 30% dari
penanaman modal diberikan secara bertahap dalam jangka 6 tahun, dengan besaran pengurangan 5% dari penaman modal di setiap tahunnya.
Fasilitas dalam bentuk perpanjangan masa kompensasi kerugian diberikan
jika kegiatan memenuhi persyaratan berikut:
Penanaman modal dilakukan di kawasan industri dan kawasan berikat. Mempekerjakan minimal 500 tenaga kerja Indonesia selama 5 tahun
berturut - turut.
Penanaman modal memerlukan investasi untuk infrastruktur ekonomi
dan sosial minimal Rp 10.000.000.000,00.
Mengeluarkan biaya litbang di dalam negeri minimal 5% dari investasi
dalam jangka 5 tahun.
Menggunakan minimal 70% bahan baku atau komponen produksi dalam negeri sejak tahun ke – 4.
Untuk setiap satu persyaratan yang dipenuhi, perusahaan berhak atas satu tahun perpanjangan masa kompensasi.
Ketentuan Khusus Atas Fasilitas Perpajakan
Wajib pajak badan
yang memiliki nilai
peredaran bruto
sebesar 50% dari tarif
Pasal 17 (tarif flat
25%). untuk bagian
Penghasilan Kena
Pajak dari
Memperoleh
pengurangan tarif
sebesar 50% dari tarif
Pasal 17 (tarif flat
25%). untuk bagian
Penghasilan Kena
Pajak dari
Berlaku untuk bagian
Penghasilan Kena
Pajak dari bagian
penghasilan bruto
sampai dengan Rp
4.800.000.000,00.
Berlaku untuk bagian
Penghasilan Kena
Pajak dari bagian
penghasilan bruto
sampai dengan Rp
Pajak
Pajak Internasional
•
Konsep dasar perpajakan internasional.
•
Konsep juridical versus economic double
taxation.
•
Konsep anti-tax avoidance.
•
Pengertian dan tujuan penghindaran pajak
berganda (P3B).
INCOME TAXATION
UU PAJAK PENGHASILAN MENGENAKAN PAJAK ATAS SELURUH PENGHASILAN DARI SETIAP NEGARA DI SELURUH DUNIA (WORLD-WIDE INCOME)--ZAIN (2003)
GLOBAL INCOME TAXATION
TERITORIAL INCOME TAXATION
UU PAJAK PENGHASILAN MENGENAKAN PAJAK ATAS
PENGHASILAN YANG DIPEROLEH DALAM DAERAH
KEDUDUKAN HUKUM P3B
104
P3B adalah perjanjian antara
negara-negara yang berdaulat sesuai dengan
hukum internasional,
Negara-negara yang membuatnya wajib
memastikan bahwa P3B dapat
diterapkan dalam hukum domestiknya:
Terdapat dua aliran dalam menerapkan
PROSES PEMBERLAKUAN P3B
Latar Belakang
• Setiap negara mempunyai Undang-Undang Perpajakan Tersendiri. • Sistem Perpajakan yang berlainan menyebabkan Pajak Ganda.
• Untuk mengurangi resiko terjadinya Pajak ganda dan arus modal dari suatu
negara ke negara lain.
• Rekonsiliasi yurisdiksi Pajak dari negara yang bersangkutan (Tax Treaty atau
Tax Convention).
• Dalam Perpajakan Internasional tidak ada ketentuan atau kaidah yang
membatasi hak pemajakan suatu negara terhadap objek pajak dan subjek pajak luar negeri. Terdapat dua model persetujuan :
a. OECD Model (Organization Cooperation For Economic Cooperation and Development). b. UN (United Nations).
• UN model di Indonesia dijadikan acuan utama dalam perundingan P3B • Persetujuan pada hakekatnya rekonsiliasi dari 2 hukum pajak yang beda
Sistem Perpajakan Internasional
• Setiap negara mengatur perlakuan pajak OP dan Badan yang beraktivitas di
Luar Negeri atau sebaliknya.
• Sistem Perpajakan Internasional berbeda satu negara dan lainnya tetapi
beberapa prinsip terdapat kesamaan pengertian perpajakan.
• Kesamaan Pengertian dirumuskan dalam P3B. • Kebanyakan negara menganut prinsip Teritorial.
• Perlakuan Teritorial membenarkan aplikasi jurisdiksi pemajakan teritorial (Sumber Pemajakan).
• Indonesia mengaplikasikan prinsip pemajakan teritorial.
• Indonesia mengenakan Pajak atas Penghasilan Luar Negeri yang diperoleh OP
dan Badan Indonesia (WPDN).
• Norma dalam Sistem Perpajakan Internasional yang diterima dan diikuti secara
global yaitu untuk:
Menyerahkan hak pemajakan utama (Primary Taxing Right) kepada negara sumber. Mempertahankan wewenang pemajakan residual (Residual Tax Claim) kepada negara
Manfaat dan Tujuan ketentuan Pajak
Internasional
• Pajak Internasional memuat ketentuan pajak internasional yang
merujuk pada aspek internasional dari ketentuan perpajakan suatu negara.
• Aspek Internasional dari sistem perpajakan negara yang utama adalah
P3B (Tax Treaty).
• P3B bersifat membatasi hak pemajakan negara para pihak. Tidak mengenakan atau meringankan beban pajak.
• Cara lain selain P3B yaitu kerjasama ekonomi, kontrak bagi hasil.
• Ketentuan Pajak Internasional meliputi 2 dimensi luas:
– Pemajakan terhadap WPDN atas Penghasilan Luar negeri.
– Pemajakan terhadap WPLN atas Penghasilan dari Dalam Negeri
Tujuan Ketentuan Pajak Internasional.
• Memperoleh bagian penerimaan dari transaksi lintas perbatasan
secara adil.
• Meningkatkan keadilan (fairness) dalam perpajakan. • Memperkuat daya saing ekonomi domestik.
Penghasilan Kena Pajak.
• Dalam UU KUP maupun UU PPh tidak memberikan pengertian Badan
secara konsepsional.
• Pengertian Badan digunakan pendekatan daftar (Listing Approach).
Sedangkan pada KUP mendasarkan pada keperluan administrasi pengenaan pajak.
• Dari Source Concept of Income menjadi Accretion Concept of Income atau Komprehensif (Comprehensive Concept of Income).
• Dalam Pengertian Income terdapat 4 unsur : 1. Pengakuan (Income Recognition).
2. Cakupan Geografis (Geographical Source of Income). 3. Pemanfaatan.
JENIS PUNGUTAN
ENTITAS
BISNIS
PAJAK
PENGHASILAN PPN & PPnBM PBB BEA MATERAI
CUKAI BEA MASUK
Soal 1
Makan siang bagi seluruh pegawai yang diterima oleh
karyawan akan bersifat...
a. Menambah penghasilan karyawan dan dapat dibebankan pemberi kerja.
b. Tidak menambah penghasilan karyawan dan dapat dibebankan pemberi kerja.
c. Menambah penghasilan karyawan dan tidak dapat dibebankan pemberi kerja.
d. Tidak menambah penghasilan karyawan dan tidak dapat dibebankan pemberi kerja.
B.
Makan siang bagi seluruh pegawai bersifat non taxable bagi karyawan dandeductible bagi pemberi kerja.