Ressa Oktrianti, 2014
PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU DI SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI BANDUNG
PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU DI SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI
BANDUNG
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Jurusan Administrasi Pendidikan
Oleh
RESSA OKTRIANTI 1006403
Ressa Oktrianti, 2014
PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU DI SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI BANDUNG
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 2014
PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL
TERHADAP KINERJA GURU DI SMA
LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI
BANDUNG
Oleh
Ressa Oktrianti
Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Ilmu Pendidikan
© Ressa Oktrianti 2014 Universitas Pendidikan Indonesia
Ressa Oktrianti, 2014
PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU DI SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI BANDUNG
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian, dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI RESSA OKTRIANTI (1006403)
PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU DI SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI BANDUNG
DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH :
PEMBIMBING I
Prof. Dr. H. Djam’an Satori, MA NIP. 1950080 2107303 1 002
PEMBIMBING II
Ressa Oktrianti, 2014
PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU DI SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI BANDUNG
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
MENGETAHUI,
KETUA JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kinerja Guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung”. Permasalahan yang dibahas
dalam penelitian ini adalah mengenai pentingnya kecerdasan emosional untuk memperoleh kinerja yang optimal. Penelitian ini dilakukan di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung dengan objek penelitian seluruh guru mata pelajaran yang memiliki pengalaman mengajar minimal satu tahun. Adapun permasalahan yang ingin diselesaikan dalam penelitian ini adalah mengenai : (a) gambaran kecerdasan emosional guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung; (b) gambaran kinerja para guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung; dan (c) seberapa besar pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung. Dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu : (a) dapat diketahuinya gambaran mengenai kecerdasan emosional guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung; (b) dapat diketahuinya mengenai gambaran kinerja guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung; dan (c) dapat diketahuinya besaran dari pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan melalui pendekatan kuantitatif. Dalam teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode angket tertutup yang didukung dengan metode dokumentasi. Adapun pemilihan pupulasi serta sampel atas dasar asumsi empiris dan teoritis. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non probability sampling – sampling jenuh yang artinya
menjadikan seluruh anggota populasi yang relatif kecil menjadi sampel penelitian. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus WMS (Weight Means
Score), diketahui gambaran umum variabel X (Kecerdasan Emosional) berada
pada kategori sangat baik dengan skor rata-rata sebesar 4,01. Begitu pula pada gambaran umum variabel Y (Kinerja Guru) berada pada kategori sangat baik dengan skor rata-rata sebesar 4,11. Hasil analisis dari koefisien korelasi (rxy)
dengan menggunakan rumus spearman-rank diperoleh nilai sebesar 0,723 , yang termasuk kategori memiliki derajat korelasi yang kuat. Korelasi variabel X dan Y memiliki hubungan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan uji signifikan dengan perolehan Thitung > Ttabel (6,212> 2,030), dengan koefisien
Ressa Oktrianti, 2014
ABSTRACT
This research entitled “The Effect of Emotional Intelligence towards Teachers’ Capability in SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung”. Problem discussed in this research was centered to the importance of emotional intelligence to attain maximum capability. The research was conducted in SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung by having all teachers in all subjects with teaching experience for at least a year as the subject. Problems intended to be solved by this research were: (a) The picture of teachers’ emotional intelligences in SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung; (b) The picture of teachers’ capabilities in SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung; dan (c) The effects of teachers’ emotional intelligences towards teachers’ capability in SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung. The objectives of this research were: (a) To find out the picture of teachers’ emotional intelligences in SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung; (b)To figure out the picture of teachers’ capabilities in SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung; dan (c) To discover the effect of teachers’ emotional intelligences towards teachers’ capability in SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung. The research used qualitative approach by having descriptive as its method. Data collection was conducted by closed-questionnaire and documentation method. The population and sample were selected by considering empirical and theoretical evidence. Sample was taken by using non probability sampling – sampling jenuh technique where all members of population which were relatively small become the sample. According to the calculation using WMS (Weight Means Score) formula, it could be seen that the general picture of X variable (Emotional Intelligence) was in excellent category in which the average score was 4,01. It went hand in hand with the general picture of Y variable (Teacher’s Capability) which was in excellent category with 4,11 as the average score. The correlation coefficient (rxy) analysis
by using spearman-rank formula resulted in 0,723 as its value which was categorized as strong correlation. The correlation between X variable and Y variable was significantly related. It was proven by the calculation of significance test which resulted in Thitung > Ttabel (6,212> 2,030), with 52,3 % of determination
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
UCAPAN TERIMAKASIH ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ...1
B. Identifikasi Masalah Penelitian ... 8
C. Rumusan Masalah ... 11
D. Tujuan Penelitian ... 12
E. Manfaat Penelitian ... 13
F. Stuktur Organisasi Skripsi ... 13
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS ... 16
Kajian Penelitian Dalam Kerangka Ilmu Administrasi Pendidikan ... 16
A. Kajian Pustaka ... 20
1. Hakikat Kecerdasan Emosional ... 20
a. Definisi Emosi ... 20
b. Definisi Kecerdasan Emosional ... 24
c. Pengelolaan Kecerdasan Emosional ... 27
2. Kinerja Guru ... 30
a. Definisi Kinerja ... 30
b. Definisi Guru ... 31
d. Tugas dan Peran Profesi Guru ... 36
e. Standar Kompetensi Guru ... 38
f. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru ... 44
g. Indikator Kinerja Guru ... 47
3. Kecerdasan Emosional dan Kinerja Guru ... 48
B. Kerangka Pemikiran ... 50
C. Hipotesis Penelitian ... 53
BAB III METODE PENELITIAN ... 55
A. Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian ... 55
1. Lokasi ... 55
2. Populasi dan Sampel ... 55
B. Desain Penelitian ... 57
C. Metode Penelitian ... 61
D. Definisi Operasional ... 63
E. Instrumen Penelitian ... 67
1. Variabel Penelitian dan Sumber Data Penelitian... 68
2. Teknik Pengukuran Variabel Penelitian ... 68
3. Kisi-kisi Instrumen ... 69
F. Proses Pengembangan Instrumen ... 73
1. Uji Validitas ... 74
2. Uji Reliabilitas ... 79
G. Teknik Pengumpulan Data ... 83
H. Analisis Data ... 85
1. Seleksi Data ... 85
2. Klasifikasi ... 86
3. Pengolahan Data ... 86
4. Teknik Hipotesis Penelitian ... 91
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 94
A. Hasil Penelitian ... 94
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 127
A. Kesimpulan ... 127
B. Rekomendasi ... 129
DAFTAR PUSTAKA ... 130
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Menggagas persoalan mengenai pendidikan, pada dasarnya
merupakan persoalan kebudayaan dan peradaban. Secara spesifik gagasan
pendidikan akan merambah ke wilayah pembentukan peradaban dimasa
depan, suatu upaya merekonstruksi pengalaman-pengalaman peradaban
manusia secara berkelanjutan guna untuk memenuhi kehidupannya,
generasi demi generasi.
Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah merupakan tempat
pengembangan ilmu pengetahuan, keterampilan, kecakapan, nilai dan
sikap yang diberikan secara lengkap kepada generasi muda. Hal ini
dilakukan bertujuan untuk membantu proses perkembangan potensi dan
kemampuan yang dimiliki peserta didik agar bermanfaat bagi kepentingan
hidupnya.
Secara keseluruhan proses pendidikan khususnya disekolah, guru
memliki peran penting dalam keberlangsungan dan keberhasilan dari
proses pendidikan. Perilaku guru dalam proses pendidikan memberikan
pengaruh besar dalam pembinaan perilaku dan kepribadian siswa
disekolah.
Sebagai salah satu komponen dalam Proses Belajar Mengajar
(PBM), guru memiliki posisi yang sangat kuat dalam menentukan
keberhasilan pembelajaran dalam merancang, mengelola, melaksanakan
serta mengevaluasi pembelajaran. Guru juga memiliki kedudukan sebagai
figur sentral dalam meningkatkan proses belajar mengajar. Selain itu,
perilaku guru dalam mendidik siswanya sangat menentukan berhasil atau
tidaknya pencapaian tujuan belajar mengajar di sekolah. Maka diharapkan
dalam mengembangkan kemampuan dan kompetensinya guna membentuk
kematangan pribadinya.
Guru dapat mendidik siswa dalam bentuk teori dan perilaku
sehingga anak didik merasa termotivasi untuk melaksanakan nasihat serta
himbauan dari guru. Sebuah bentuk pengajaran tersebut merupakan bentuk
kinerja yang optimal dari seorang guru. Kinerja guru yang optimal
dijadikan sebagai modal dasar dalam pengembangan sumber daya manusia
Indonesia pada tatanan pendidikan formal. Dapat dikemukakan
bahwasanya kinerja guru yang optimal ini dinilai dari kesesuaian kerja
dengan standar kompetensi guru yang telah ditetapkan. Dengan adanya
tugas dan tanggung jawab yang besar ini menuntut seorang guru untuk
mampu memberikan mutu layanan pendidikan dan kompetensi yang tinggi
agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik. Dalam proses upaya
peningkatan mutu guru telah dilakukan dengan berbagai macam usaha
baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun dari pihak gurunya sendiri,
namun pada kenyataannya masih sangat jauh dari harapan dan standar
yang telah ditetapkan.
Guru sebagai tenaga pendidik yang menjadi arahan tercapainya
peningkatan profesi dengan memiliki kinerja yang optimal, dan kinerja
tersebut sebagai suatu usaha untuk mempersiapkan sumberdaya manusia
yang berkualitas dengan memiliki karakteristik yang mandiri, tekun,
bekerja keras, optimis, menghargai waktu, dan mampu mencari solusi
akan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dimasa yang akan datang.
Berangkat dari sebuah permasalahan yang terjadi pada lingkungan
sekolah yaitu masalah tindak kekerasan yang tentunya tidak diinginkan
oleh semua orang, khususnya pada lembaga pendidikan yang sepatutnya
menyelesaikan masalah secara edukatif. Namun tidak bisa dipungkiri,
bahwa di lembaga pendidikan masih sering terjadi tindak kekerasan.
Contoh kasusnya terjadi pada akhir 1997, pada salah satu SD Negeri di
yang tidak mengerjakan PR dengan menusukkan paku yang dipanaskan ke
tangan siswa. Di surabaya, seorang guru olahraga menghukum lari seorang
siswa yang terlambat datang dengan hukuman lari beberapa kali putaran.
Akan tetapi, karena fisiknya lemah, siswa tersebut akhirnya tewas. Dalam
periode yang tidak berselang lama, seorang guru SD Lubuk Gaung,
Bengkalis, Riau, menghukum siswanya dengan lari keliling lapangan
dalam kondisi telanjang bulat. (Ginanjar Agustian Ary 2001:56)
Setelah melihat fenomena ini, beberapa analisis dapat diajukan.
Pertama, kekerasan dalam pendidikan muncul akibat adanya pelanggaran
yang disertai dengan hukuman, terutama fisik. Jadi, ada pihak yang
melanggar dan ada pihak yang memberi sanski. Bila sanksi melebihi batas
atau tidak sesuai dengan kondisi pelanggaran, maka terjadilah apa yang
disebut dengan tindakan kekerasan. Tawuran antarpelajar atau mahasiswa
merupakan contoh kekerasan ini. Selain itu kekerasan dalam pendidikan
tidak selamanya dalam bentuk fisik, melainkan bisa berbentuk
pelanggaran atas kode etik dan tata tertib sekolah. Misalnya, siswa
membolos sekolah dan pergi jalan-jalan ke tempat hiburan.
Kekerasan yang dilakukan guru di sekolah menunjukkan bahwa
penyebab mengapa guru memukul siswa, ada empat hal, yaitu siswa nakal
di sekolah, siswa tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru untuk
dikerjakan di rumah, siswa tidak menaati disiplin sekolah, dan alasan yang
lainnya. Sebagian besar kekerasan yang terjadi di sekolah disebabkan oleh
banyaknya siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Selain itu, masalah
malasnya siswa untuk mengerjakan PR menjadi pemicu munculnya
kekerasan di sekolah, selain kecenderungan siswa yang ingin berkelahi
dengan sesama temannya. Kedua, kekerasan dalam pendidikan bisa
diakibatkan oleh buruknya sistem dan kebijakan pendidikan yang berlaku.
Muatan kurikulum yang hanya mengandalkan kemampuan aspek kognitif
dan mengabaikan pendidikan afektif menyebabkan berkurangnya proses
dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dan tayangan media massa yang
memang belakangan ini kian vulgar dalam menampilkan aksi-aksi
kekerasan. Keempat, kekerasan bisa diibaratkan sebagai refleksi dari
perkembangan kehidupan masyarakat yang mengalami pergeseran cepat,
sehingga menimbulkan sikap instant solution maupun jalan pintas.
Kelima, kekerasan bisa dipengaruhi oleh latar belakang sosial-ekonomi.
Mengingat pendidikan ilmu normatif, maka fungsi institusi
pendidikan merupakan pusat tumbuh kembangnya subjek didik ke tingkat
yang normatif lebih baik. Dengan cara atau jalan yang baik, serta dalam
konteks yang positif. Disebut subjek didik karena peserta didik bukan
merupakan objek yang dapat diperlakukan semaunya pendidik, bahkan
seharusnya dipandang sebagai manusia lengkap dengan harkat
kemanusiaannya.
Menurut Freire (2001:51) dalam buku Teori Kinerja dan
Pengukurannya, mendefinisikan fitrah manusia sejati sebagai berikut:
Fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku atau subjek, bukan penderita atau objek. Panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar, yang bertindak mengatasi dunia serta realitas yang menindasnya. Dunia dan realitasnya bukan “sesuatu yang ada
dengan sendirinya”, dan karena itu “harus diterima menurut apa adanya”, sebagai suatu takdir atau nasib yang tak terelakan. Oleh
karena itu, pendidikan harus berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri, dan harus mampu mendekatkan manusia dengan lingkungannya.
Mengajar merupakan suatu usaha guru dalam mengelola perhatian
dan waktu siswa yang dimulai dari awal sampai akhir di dalam kelas.
Mengajar adalah usaha guru dalam menciptakan kondisi-kondisi atau
mengatur lingkungan sedemikian rupa, sehingga terjadi interaksi antara
siswa dengan lingkungan, termasuk guru dan media pengajaran. Peranan
guru dalam mengelola proses belajar mengajar, antara lain sebagai
fasilitator, yang berusaha menciptakan kondisi belajar mengajar yang
mengembangkan bahan belajar dengan baik, dan meningkatkan
kemampuan siswa dalam belajar, agar tujuan belajar dapat dicapai.
Berbicara soal kinerja guru yang bahwasanya memang dipengaruhi
oleh faktor psikologis yaitu kecerdasan emosional. Dimana kecerdasan
emosional dapat membawa keberhasilan pada sebuah kinerja seorang guru
pada khususnya, karena kecerdasan emosional yang baik melahirkan
pemikiran, perasaan, perilaku, dan tujuan pengelola dengan sikap (1)
disiplin diri, jujur dan tulus kepada diri sendiri, membangun kekuatan
pribadi, termasuk kesadaran diri, mendengarkan suara hati, hormat,
tanggungjawab dan koneksi, (2) memantapkan diri dan maju terus,
membangun inspirasi diri sendiri dan orang lain, termasuk keaslian,
keuletan, dan hubungan saling percaya, (3) membangun watak dan
kewibawaan, mengembangkan potensi, integritas, dan tujuan hidup, dan
(4) merasakan peluang dan menciptakan masa depan, membangun titik
temu, inovasi, intuitif, transformasi, situasional, dan kecerdasan yang
luwes.
Kecerdasan emosional merupakan suatu bagian dari daya manusia
yang mulai diyakini dengan menggunakan istilah EQ. Emosi dan pikiran
adalah dua bagian dari suatu keseluruhan. Itulah sebabnya, istilah yang
baru-baru ini diciptakan untuk menggambarkan kecerdasan hati adalah
EQ. (Segal, 2000:5, dialihbahasakan oleh Ary Nilandari). Dalam
perkembangan hidup manusia suatu kecerdasan emosi memiliki kontribusi
yang sangat besar dalam kehidupan dibandingkan dengan kecerdasan yang
lainnya. Kecerdasan intelektual yang selama ini kita anggap sebagai tolak
ukur keberhasilan seseorang ternyata memiliki peranan hanya sebesar 20
persen, dan 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan yang lainnya, dimana
45 persen diantaranya dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. Angka tersebut
menunjukkan peranan kecerdasan emosi memiliki tingkat keterhubungan
yang sangat besar dengan keberhasilan seseorang. Seperti yang
“Dari berbagai hasil penelitian telah banyak terbukti bahwa
kecerdasan emosi memiliki peran jauh lebih significant dibanding kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan intelektual barulah sebatas syarat minimal meraih keberhasilan, namun kecerdasan emosilah yang sesungguhnya (hampir seluruhnya terbukti) mengantarkan seseorang menuju puncak prestasi. Terbukti, banyak orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi terpuruk di tengah persaingan. Sebaliknya banyak yang mempunyai kecerdasan intelektual yang biasa-biasa saja, justru sukses menjadi bintang-bintang kinerja; pengusaha-pengusaha sukses; dan pemimpin-pemimpin di berbagai kelompok. Disinilah kecerdasan emosi
membuktikan eksistensinya.”
Cara kerja baru yang mencakup intelektual dan seluk beluk teknik
yang memadai untuk mengerjakan tugas-tugas dan memusatkan perhatian
pada kualitas pribadi seperti inisiatif dan empati, adaptabilitas,
kemampuan persuasif, integritas, dan autentisitas. Cara kerja baru
mengikutsertakan kecerdasan emosional. Dalam melaksanakan
tugas-tugasnya, guru yang memiliki pemahaman kecerdasan emosional berarti
memiliki cara yang efektif untuk mengembangkan hubungan antarpribadi
karena dapat mengendalikan emosinya untuk kepentingan tersebut. Ia tahu
bagaimana harus mengekspresikan emosi dan menyadari bagaimana
memperlakukan orang untuk berbuat baik.
Seorang guru dalam melaksanakan tugas dan perannya di dalam
kelas, maupun tugas kependidikannya di luar kelas sangat mempengaruhi
berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Kinerja yang
dimiliki guru akan bermakna apabila diseimbangkan dengan sebuah niat
yang tulus, dan selalu menyadari akan kekurangannya, dan berupaya untuk
memperbaiki kekurangan tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan ke
arah yang lebih positif.
Gagasan pendirian Sekolah Laboratorium bersamaan dengan
lahirnya PTPG (20 Oktober 1954) yang berubah menjadi FKIP kemudian
menjadi IKIP, dan pada akhirnya menjadi UPI. Pada tahun 1964, SMA
Pembangunan (PPSP). Sekolah Laboratorium Percontohan merupakan
kebutuham bagi UPI untuk mengkaji, mengembangkan, dan melakukan
pengujian berbagai inovasi serta temuan-temuan dalam bidang ilmu
pendidikan, baik tatanan model dan teori maupun praktis pendidikan.
Sekolah ini menawarkan layanan pendidikan yang tidak hanya untuk
mengembangkan bidang akademik saja, akan tetapi mengembangkan
bidang non akademiknya juga. Hal tersebut bertujuan untuk mewujudkan
lulusan yang tidak hanya cerdas intelektual saja, akan tetapi cerdas secara
emosional dan spiritual. Adapaun tujuan dari SMA Laboratorium
Percontohan UPI Bandung yaitu sebagai berikut :
1. Menghasilkan lulusan yang mandiri, bermutu, terampil, dan
memiliki kecakapan hidup (life skill) yang dapat membantu
dirinya dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahn
serta memiliki keimanan dan ketaqwaan yang tinggi.
2. Mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta
didik melalui kerjasama hasil penelitian para pakar pendidikan
di lingkungan UPI.
3. Mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi (IT/ICT)
“e-learning”.
4. Melaksanakan pembelajaran “Bilingual Teaching”.
5. Meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris warga skeolah (staf,
guru, dan siswa).
6. Menata sistem pengeluaran sekolah yang efektif dan efisien,
produktif dan demokratis dalam suatu tata kelola yang baik
(good governance) yang akuntabel.
7. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi manajemen pelayanan
sekolah melalui peningkatan pelaksanaan manajemen berbasi
sekolah (MBS) menggunakan IT/ICT.
8. Meningkatkan kualitas minimum dan sertifikasi bagi tenaga
9. Meningkatkan peran serta Orang tua/Masyarakat dalam
pengembangan sekolah. (sumber:www.smalabupi.sch.id)
Setelah menjabarkan tujuan dari SMA Laboratorium Percontohan
UPI Bandung, perlu diketahui bahwa untuk mewujudkan lulusan yang
berprestasi dan memiliki akhlak yang baik, maka seluruh guru SMA
Laboratorium Percontohan UPI merupakan peran penting dalam
menanamkan perilaku-perilaku positif terhadap siswanya serta
mengarahkan dan membimbing siswanya menjadi bukti keteladanan
seorang guru sebagai seorang pendidik.
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengadakan suatu penelitian
lebih lanjut mengenai “Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kinerja
Guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung”
B. IDENTIFIKASI MASALAH PENELITIAN
Identifkasi masalah adalah pengenalan masalah atau inventarisasi
masalah. Dengan mengidentifikasi masalah, penulis pun dapat
menentukan batasan permasalahan sehingga dapat terjadi pemfokusan
teori dan variabel serta kaitan antarvariabel yang akan diteliti. (Noor,
2012:28).
Adapun identifikasi masalah yang akan diuraikan yaitu mengenai
permasalahan mengenai fenomena yang terjadi didalam lingkungan
sekolah saat ini. Adanya beberapa bentuk kekerasan dalam pendidikan
yang masih merajalela merupakan indikator bahwa proses atau aktivitas
pendidikan kita masih jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Disinilah urgensi
humanisasi pendidikan. Humanisasi pendidikan merupakan upaya untuk
menyiapkan generasi yang cerdas nalar, cerdas emosional, dan cerdas
spiritual, bukan menciptakan manusia yang kerdil, pasif, dan tidak mampu
Kecerdasan emosional seorang guru merupakan faktor penting
dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Seorang guru dituntut untuk
mempunyai sifat-sifat penyabar, lapang dada, pengertian, penyayang,
simpatik, dan antusias. Seorang guru juga dituntut untuk lebih
mengedepankan perasaannya ketika berinteraksi dengan anak-anak didik
dengan berbagai macam karakter yang unik. Karena pada kondisi saat ini
sudah terjadi banyak kasus-kasus yang mulai bermunculan yang
melibatkan pihak guru dan siswanya, dimana guru terkadang tidak secara
proporsional dalam menempatkan emosinya yang dapat mengakibatkan
timbulnya perlakuan yang tidak menyenangkan terhadap siswanya. Hal ini
mengindikasikan bahwa kualitas kinerja guru yang dimiliki sangat rendah.
Guru harus memiliki dukungan dan kemampuan untuk melayani sebaik
mungkin, baik dilihat dari sisi interpersonalnya maupun sisi ability.
Ada beberapa indikator yang dapat menunjukkan bahwa seseorang
telah mampu mengelola emosinya menurut Slovey (Goleman 2005:58).
Pertama, kesadaran diri. Seseorang memiliki kesadaran diri mengetahui
kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dan mampu menerima
kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya. Hal ini dijadikan sebagai panduan untuk
mengambil keputusan terhadap diri sendiri, sekaligus sebagai tolak ukur
yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat. Kedua,
pengaturan diri. Seseorang dapat dikatakan mampu mengatur dirinya jika
dia memiliki kepekaan terhadap kata hati dan sanggup menunda
kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran. Disamping itu, pada saat
dia mendapat tekanan emosi, dia mampu untuk pulih dan keluar dari
tekanan tersebut. Ketiga, motivasi. Adanya kemampuan kita untuk
menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakan dan menuntun
kita menuju sasaran, dan membantu kita dalam mengambil inisiatif untuk
bertindak secara efektif, menunjukkan bahwa kita memiliki motivasi.
Keempat, empati. Mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain
seseorang itu memiliki empati. Kelima, keterampilan sosial. Hal ini
berkaitan dengan kemampuan untuk berempati. Seseorang yang memiliki
keterampilan sosial mampu menangani emosi dengan baik ketika
berhubungan dengan orang lain dan mampu membaca dengan cermat
situasi dan jaringan sosial kemasyarakatan yang ada.
Untuk mengetahui optimal atau tidaknya suatu kinerja dapat dilihat
dari indikator-indikator yang timbul dan yang digunakan untuk mengukur
kinerja tersebut. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Dwiyanto
(dalam Mangkunegara, 2006: 50-51) mengenai indikator yang digunakan
untuk mengukur kinerja yaitu sebagai berikut :
a) Produktivitas, bahwa produktivitas tidak hanya mengukur tingkat efisiensi, tetapi juga mengukur efektivitas pelayanan. Dan pada umumnya dipahami sebagai ratio antara input dan output.
b) Kualitas layanan, maksudnya bahwa kualitas dari pelayanan yang diberikan sangat penting untuk dipertahankan.
c) Responsivitas, maksudnya bahwa birokrasi harus memiliki kemampuan untuk mengenali kebutuhan masyarakat, menyusun agenda dan prioritas pelayanan serta mengembangkan program-program pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat.
d) Responsibilitas, maksudnya bahwa pelakasanaan kegiatan harus dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar dan kebijakan birokrasi baik yang eksplisit maupun yang implisit.
e) Akuntabilitas, maksudnya bahwa seberapa besar kebijakan dan kegiatan birokrasi tunduk kepada para pejabat politik yang dipilih oleh rakyat, dimana para pejabat politik tersebut dengan sendirinya akan selalu memprioritaskan kepentingan rakyat.
Dari semua indikator yang telah diuraikan, maka ada keterkaitan
antara sub indikator kecerdasan emosional yaitu pengaturan diri dengan
sub indikator kinerja yaitu responsivitas. Dimana pengaturan diri ini
mempunyai kapasitas dalam mengendalikan diri dalam kondisi apapun
sehingga berhubungan dengan bagaimana cara mengenali kebutuhan yang
diharapkan oleh masyarakat. Khususnya bagi seorang guru yang harus
masyarakat dengan menyeimbangkan faktor pengaturan diri dalam
melayani semua kebutuhan dan aspirasi dari masyarakat agar terciptanya
keselarasan dalam pencapain tujuan.
Kinerja guru sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan, yang
berdampak secara langsung kepada peserta didik dan sekolah. Guru harus
mampu mengelola kecerdasan emosional yang dimilikinya, dimana pada
hakikatnya kecerdasan emosional ini meliputi beberapa indikator sebagai
berikut : (a) Kesadaran diri; (b) Pengaturan diri; (c) Motivasi; (d) Empati;
dan (e) Keterampilan sosial. Dalam penelitian ini penulis membatasi
masalah pada tingkat kecerdasan emosional dalam hal ini adalah
pengaturan diri pada guru SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung,
sebagai variabel X.
Secara konseptual, strategi dalam memperoleh suatu kinerja guru
yang optimal, penerapannya dapat dilakukan melalui beberapa hal, yaitu :
(a) Produktivitas; (b) Kualitas layanan; (c) Responsivitas; (d)
Responsibilitas; dan (e) Akuntabilitas. Dalam penelitian ini, penulis
membatasi masalah mengenai responsivitas, khususnya responsivitas pada
guru SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung, sebagai variabel Y.
Dalam upayanya untuk melahirkan generasi muda yang berprestasi
dan memiliki akhlakul kharimah, maka diperlukannya pendidik yang
mampu memberikan suatu keteladanan dalam akhlak, dan ahli dalam
bidangnya masing-masing, serta menyadari peran generasi muda dalam
kebiasaannya bertindak atau berperilaku di masa yang akan datang.
C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian diatas, untuk mengetahui sejauh mana emosi
serta peranannya dalam proses keberhasilan seseorang dan pengaruhnya
terhadap kinerja seseorang, maka peneliti perlu mengkaji dan
emosional terhadap kinerja guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI
Bandung.
Perumusan masalah dalam penelitian yaitu berkaitan dengan
“Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Kinerja Guru di SMA
Laboratorium Percontohan UPI Bandung”. Berangkat dari fokus kajian
diatas, maka jabaran rumusan masalah yang akan dicari dalam kajian ini
adalah sebagai berikut :
1) Bagaimana gambaran mengenai kecerdasan emosional yang
dimiliki oleh guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI
Bandung?
2) Bagaimana gambaran mengenai kinerja yang dimiliki oleh guru
di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung?
3) Bagaimana pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja
guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung?
D. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini merupakan pegangan atau pedoman bagi
peneliti dalam melaksanakan penelitiannya. Tujuan dalm penelitian ini
meliputi :
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kecerdasan emosional
terhadap kinerja guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI
Bandung.
2. Tujuan Khusus
a) Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai kecerdasan
emosional yang dimiliki oleh guru di SMA Laboratorium
b) Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai kinerja yang
dimiliki oleh guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI
Bandung
c) Untuk memperoleh gambaran mengenai seberapa besar pengaruh
kecerdasan emosional terhadap kinerja guru di SMA Laboratorium
Percontohan UPI Bandung.
E. MANFAAT PENELITIAN
Dalam penelitian ini peneliti memiliki pandangan penting terhadap
permasalahan mengenai pengaruh antara kecerdasan emosional yang
dimiliki seseorang terhadap keberhasilan individu yang dianggap penting.
Khususnya, dalam dunia pendidikan kecerdasan emosional yang dimiliki
oleh seorang guru akan mempengaruhi tingkat keberhasilan seorang guru
pula dalam melaksanakan tanggung jawab dan tugasnya sebagai seorang
pendidik.
Penelitian ini mempunyai manfaat (konstribusi) baik pada tataran
teoritis maupun secara praktis yaitu sebagai berikut :
1) Pada tataran teoritis, hasil penelitian ini diharapkan ikut memperkaya
perbendaharaan teoritis tentang kecerdasan emosional yang harus
dimiliki seorang guru serta pengaruhnya terhadap kinerja yang dimiliki
oleh guru
2) Pada tataran praktis, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan
kinerja guru yang dipengaruhi oleh kecerdasan emosional guru di
F. STRUKTUR ORGANISASI SKRIPSI 1. Judul
Judul skripsi ini adalah “Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap
Kinerja Guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung”.
2. Halaman Pengesahan
Skripsi ini telah di setujui dan disahkan oleh Tim Pembimbing:
1) Pembimbing 1: Prof. Dr. H. Djam’an Satori, MA
NIP. 19500812 197303 1 002
2) Pembimbing II: Dr. Nur Aedi, M.Pd
NIP. 19720528 200501 1 001
3) Dan diketahui oleh Bpk. Dr. H. Endang Herawan, M.Pd sebagai
Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia.
3. Pernyataan Tentang Keaslian Karya Ilmiah
Penulis telah menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa Skripsi ini
merupakan Karya Tulis Ilmiah asli karya penulis yang merupakan
hasil pemikiran penulis dengan di bimbingan oleh dosen pembimbing.
4. Kata Pengantar
Berisi kalimat-kalimat pengantar dalam skipsi.
5. Ucapan Terima Kasih
Bentuk apresiasi yang setinggi-tingginya serta ungkapan rasa syukur
kepada Allah SWT serta kepada seluruh pihak yang telah membantu
dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini.
6. Abstrak
Uraian singkat yang termuat dalam abstrak adalah: judul, hakikat
penelitian, tujuan dilakukannya penelitian, metode penelitian yang
dipakai dan teknik pengumpulan datanya, serta hasil temuan,
kesimpulan dan saran.
Memuat penyajian sistematika isi skripsi secara rinci agar bisa
mempermudah para pembaca mencari judul atau subjudul bagian yang
ingin dibaca.
8. Daftar Tabel
Menyajikan tabel secara berurutan mulai dari tabel pertama sampai
dengan tabel terakhir yang tercantum dalam skripsi.
9. Daftar Gambar
Menyajikan gambar secara berurutan mulai dari gambar pertama
sampai dengan gambar terakhir yang tercantum dalam skripsi.
10.BAB I Pendahuluan
Berisi uraian tentang pendahuluan skripsi yang memuat : latar
balakang penelitian, identifikasi masalah penelitian, rumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian dan struktur organisasi skripsi .
11. BAB II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran, dan Hipotesis
Berisi konsep-konsep, teori-teori, hasil penelitian terdahulu yang
relevan, yang merupakan landasan penelitian secara teoritik. Selain
itu berisi kerangka fikir peneliti dalam melakukan penelitian. Dan
yang terakhir berisi hipotesis.
12. BAB III Metode Penelitian
Berisi penjabaran yang rinci mengenai metode penelitian serta
komponen- komponen penelitiannya. Dalam hal ini, penulis
menjelaskan mengenai lokasi dan subjek populasi/sampel penelitian,
desain penelitian, metode penelitian, definisi operasional, instrumen
penelitian (variabel penelitian dan sumber data : teknik pengukuran
variabel; kisi-kisi) , proses pengembangan instrumen, teknik
pengumpulan data, dan analisis data.
Memuat pengolahan atau analisis data beserta pembahasan dan
analisis hasil temuan di lapangan dengan pemaparan data dan
pembahasan data.
14. BAB V Kesimpulan dan Rekomendasi
Menyajikan penafsiran dan pemaknaan peneliti terhadap hasil analisis
temuan penelitian.
15. Daftar Pustaka
Berisi daftar rujukan/referensi baik berupa buku, artikel, jurnal,
dokumen resmi, atau sumber-sumber lain dari internet yang pernah
dikutip dan digunakan dalam penulisan skripsi.
16. Lampiran
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. LOKASI DAN SUBJEK POPULASI/SAMPEL PENELITIAN
1. Lokasi
Lokasi atau tempat penelitian ini dilakukan di SMA
Laboratorium Percontohan UPI Bandung dengan lokasi sekolah berada
di dalam Kampus Bumi Siliwangi Universitas Pendidikan Indonesia
Bandung.
2. Populasi dan Sampel
Populasi merupakan ruang lingkup yang menjadi sumber data
penelitian yang sesuai dengan masalah yang diteliti. Sugiyono
(2004:90) menjelaskan bahwa “populasi adalah wilayah generalisasi
yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian di tarik kesimpulannya”. Pendapat lain, Surakhmad (1998) dalam Sugiyono (2010:93) mengemukakan bahwa “populasi
merupakan sekelompok subjek penyelidikan, baik manusia, gejala,
benda-benda, nilai-nilai atau peristiwa-peristiwa yang ada
hubungannya dengan sutau penyelidikkan”.
Dalam populasi tidak terfokus pada keilmuan dan menjadi
sumber data yang relevan dengan permasalahan yang diteliti. Sesuai
dengan permaslahan penelitian, maka yang menjadi populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh guru SMA Laboratorium Percontohan
Tabel 3.1
Jumlah Populasi Penelitian
JUMLAH GURU TOTAL
37 37
Sementara sampel penelitian merupakan dari populasi yang
diambil sebagai sumber data yang dapat mewakili seluruh potensi yang
ada didalam populasi (representatif). Sugiyono (2006:91)
mengemukakan : “Sampel adalah sebagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Sementara Riyanto
(2001:64) mengemukakan bahwa : “Sampel dapat didefinisikan
sebagai sembarang himpunan yang merupakan bagian dari suatu
populasi”. Selanjutnya Arikunto (2002) dalam Akdon dan Hadi
(2005:98) mengatakan “Sampel adan bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang diteliti). Sampel penelitian adalah sebagian
dari populasi yang diambil sebagian sumber data dan dapat mewakili
seluruh populasi”.
Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik
sampling nonprobability sampling jenuh. Berdasarkan asumsi bahwa
menurut Gey dan pendapat Bailey, penelitian yang menggunakan
metode deskriptif korelasional dengan analisis data statistik dan jumlah
populasi yang relatif kecil yaitu kurang dari 30 orang, maka
keseluruhan anggota populasi tersebut dijadikan sampel penelitian
dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh guru SMA
Laboratorium Percontohan UPI Bandung dengan jumlah 37 orang.
B. DESAIN PENELITIAN
“Rancangan penelitian pada dasarnya merupakan keseluruhan
proses pemikiran dan penentuan secara masal hal-hal yang akan dilakukan
dan akan dijadikan pedoman selama pelaksanaan penelitian (Malhotra
(2006) dalam Noor 2012 :72)”. “Desain penelitian merupakan rencana
tentang cara mengumpulkan dan menganalisis data agar dapat
dilaksanakan secara ekonomis serta serasi dengan tujuan penelitian itu
(Nasution, 2003:23)”. Shah (1972) dikutif dalam (Nazir, 1999:84)
mengemukakan bahwa :
Desain penelitian dalam arti hanya mengenai pengumpulan dan analisis data, sementara dalam arti luas, desai penelitian mencakup hal-hal sebagai berikut :
1. Identifikasi dan pemilihan masalah penelitian
2. Pemilihan kerangka konseptual untuk masalah penelitian serta hubungan-hubungan dengan penelitian sebelumnya
3. Memformasikan masalah penelitian termasuk membuat spesifikasi dari tujuan, luas jangkau (scope), dan hipotesis untuk diuji
4. Membangun penyelidikan atau oercobaan
5. Memilih serta memberi definisi terhadap pengukuran variavel-variabel
6. Memilih prosedur dan teknik sampling yang digunakan 7. Menyusun alat serta teknik mengumpulkan data
8. Membuat coding serta mengadakan editing dan
processing data
9. Menganaliss data serta pemilihan prosedur statistik untuk mengadakan generalisasi serta inferensi statistik 10.Pelaporan hasil penelitian, termasuk proses penelitian,
diskusi serta interpretasi data, generalisasi, kekurangan-kekurangan dalam penemuan, serta mengajukan beberapa sara dan kerja peneliti yang akan datang.
Desain penelitian merupakan suatu gambaran atau pola penelitian
efektivitas dan efisiensi akan optimal, terlebih dalam menggunaan waktu,
tenaga,biaya, serta sumber daya lainnya yang dibutuhkan dalam penelitian.
Nasution (2003:23-24) memaparkan kegunaan desain penelitian, sebagai
berikut :
1. Desain memberikan pegangan yang lebih jelas kepada peneliti dalam melakukan penelitiannya. Dalam penelitian, desain merupakan syarat mutlak agar dapat meramalkan sifat pekerjaan serta kesulitan yang akan dihadapi.
2. Desain menentukan batas-batas peneltian yang bertalian dengan tujuan penelitian.
3. Desain penelitian selain memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang harus dilakukan juga memberi gambaran tentang macam-macam kesulitan yang akan dihadapi yang mungkin juga telah dihadapi oleh peneliti lain.
Menurut Malthora (2006) dalam Noor (2012: 107) menjelaskan
bahwa, desain penelitian adalah kerangka atau cetak biru dalam
melaksanakan suatu proyek atau riset. Suatu prosedur penting untk
informasi yang dibutuhkan untuk menyusun pemecahan masalah
penelitian. Adapun menurut Philips dalam (Cooper, 2002:340) desain
penelitian untuk membantu penelitian dalam pengalokasian sumber daya
yang terbatas dengan menempatkan pilihan pengalokasian sumber daya
yang terbatas dengan menempatkan pilihan penting dalam metodologi.
Sedangkan menurut Kerlinger dalam (Cooper, 2002:340), desain
penelitian diklasifikasikan sebagai rencana dan struktur investigasi yang
dibuat sedemikian rupa sehingga diperoleh jawaban atas pertanyaan
penelitian. Rencana penelitian mencakup garis besar dari apa yang akan
dilakukan seorang peneliti mulai dari penulisan hipotesis serta implikasi
Dari pemaparan diatas, terlihat bahwa dengan adanya desian
penelitian, maka akan mempermudah peneiliti dalam melaksanakan
penelitian dan mencapai tujuan yang diharapkan dari penelitiannya.
Pendapat para ahli diatas sebagai acuan peneliti dalam
memaparkan desain dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :
Desain Penelitian
Peneliti mencoba untuk menggambarkan desain penelitian dalam
konsep sistem, yaitu penelitian ini terdiri dari tiga bagian sistem yang
diantaranya terdiri dari sistem input, proses, dan output. Pada bagian
input,menggambarkan latar belakang penelitian yang terdiri dari gambaran
fenomena makro dan fenomena mikro, yang pada bagian-bagiannya telah
dijelaskan dalam kerangka pikir pada Bab II. Pada dasarnya, latar belakang
penelitian ini lahir dari hasil studi pendahuluan peneliti terhadap masalah
penelitian. Dalam input juga menyangkut aspek-aspek konseptual dan
fakta empirikal yang tergambar pada latar belakang. Hal terpenting lainnya
setelah melakukan studi pendahuluan yaitu perumusan masalah penelitian.
Pada rumusan masalah penenlitian ini akan memperjelas gamabran atau
alur peneltian terhadap pengujian hipotesis penelitian. Dari rumusan
masalah penelitian ini, akan muncul asumsi-seumsi dasar peneliti terhadap
variabel yang diteliti, sehingga lahirlah hipotesis peneltian berdasarkan
anggapan dasar yang diperoleh peneliti dari kerangka pemikiran, kerangka
konseptual, dan praktis. Dengan adanya hipotesis penelitian akan
menentukan metode dan pendekatan penelitian yang akan digunakan. Oleh
karena ini, pada bagian input lebih mengacu pada perencanaan penelitian.
Selanjutnya adalah bagian proses, merupakan keterkaitan dengan
operasional penelitian, meliputi pengumpulan data, analisis data, dan
pengolahan data yang diarahkan pada pengujian hipotesis penelitian. Pada
bagian proses penelitian ini dilakukan sebelum melakukan pengumpulan
data, seperti mendefinisikan variabel penelitian, menyusun alat
pengumpulan data, dan lain sebagainya. Bagian proses ini, dapat juga
dinamakan lahan interpretasi data. Maka dari hal tersebut, akan muncul
kesimpulan dari penelitian yang merupakan pengujian hipotesis itu sendiri.
Pada tahap penarikan kesimpulan atas dasar hasil analisis data dan
pengujian hipotesis merupakan sistem output penelitian. Adanya output ini
yang disusun oleh peneliti sama dengan hasil penelitian ataupun
sebaliknya. Pada bagian ini juga akan menghasilkan berbagai macam
rekomendasi atau feedback yang pada akhirnya nanti akan digunakan
untuk kepentingan beberapa pihak, baik untuk kepentingan penelitian
kembali atau dapat juga dimanfaatkan untuk keperluan lainnya.
C. METODE PENELITIAN
Metode merupakan cara utama yang digunakan untuk mencapai
tujuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif. Metode deskriptif merupakan metode penelitian yang
digunakan untuk menggambarkan masalah yang terjadi pada masa
sekarang, sebagaimana yang dikemukakan Muhammad Ali (1999) dalam
Sugiyono 2010:120) bahwa : “metode deskriptif digunakan untuk
berupaya memecahkan atau menjawab permasalahan yang dihadapi pada
situasi sekarang”.
Menurut Sukardi (2004:14) metode penelitian deskriptif adalah
penelitian yang berusaha menggambarkan kegiatan penelitian. Penelitian
deskriptif ini juga disebut dengan penelitian pra eksperimen karena dalam
penelitian ini dilakukan eksplorasi, menggambarkan, dengan tujuan untuk
dapat menerangkan dan memprediksi terhadap suatu gejala yang berlaku
atas dasar data yang diperoleh di lapangan. Penelitian deskriptif ini hanya
berusaha menggambarkan secara jelas dan sekuensial terhadap pertanyaan
penelitian yang telah ditentukan sebelum para peneliti terjun ke lapangan
dan mereka tidak menggunakan hipotesis sebagai petunjuk arah dalam
penelitian.
Metode penelitian merupakan suatu cara yang digunakan dalam
mengumpulkan serta mengolah data-data yang diperlukan dalam mencapai
Pada dasarnya metode penelitian merupakan suatu strategi yang
dilakukan untuk mencapai tujuan penelitian atau menjawab serangkaian
permasalahan yang dirumuskan, dengan mengumpulkan berbagai data
yang relevan untuk kemudian dianalisis sehingga menghasilkan suatu
fakta atau informasi yang bermanfaat. Adapun metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan
kuantitatif. Muhamad Nazir (1999: 54), mengemukakan bahwa :
Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang, dan tujuan dari metode deskriptif ini adalah untuk membantu deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.
Sementara, yang dimaksud dengan pendekatan kuantitatif
dikemukakan oleh Arikunto (2002: 86) yaitu : “Pendekatan yang
digunakan oleh peneliti dalam meneliti dengan cara mengukur
indikator-indikator variabel sehingga diperoleh gambaran umum dan kesimpulan
masalah penelitian”.
Dari penjabaran diatas maka dalam penelitian ini peneliti
menggunakan metode penelitian deskriptif untuk menggambarkan
masing-masing variabel yang akan diteliti secara empiris, yaitu gambaran empiris
pada variabel X (kecerdasan emosional) dan gambaran empiris pada
variabel Y (kinerja guru).
Selain itu, dalam menggunakan metode penelitian deskriptif ini
dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :
1. Melakukan studi kepustakaan (mencari sumber referensi yang
berkaitan dengan penelitian yang dilakukan).
2. Memusatkan diri pada pemecahan masalah yang ada pada
kondisi saat ini.
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu “Pengaruh
Kecerdasan Emosional Terhadap Kinerja Guru”. Persoalan pertama yang
harus diketahui adalah gambaran tentang kecerdasan emosional, lalu yang
kedua adalah gambaran tentang kinerja guru. Apabila telah diperoleh hasil
gambaran dari masing-masing variabel, maka selanjutnya dipakai untuk
menjawab pertanyaan penelitian yang berikutnya, yaitu apakah terdapat
pengaruh antara kecerdasan emosional terhadap kinerja guru. Untuk dapat
mengetahui hal tersebut, maka metode yang kedua menggunakan metode
korelasional, yang dipakai untuk menguji validitas instrumen penelitian.
Adapun metode lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
dokumentasi. Dalam metode dokumentasi ini berupa studi kepustakaan
dengan mengkaji, mendalami, menelaah, mencermati, serta
mengidentifikasi keseluruhan literatur yang dianggap relevan dengan
objek penelitian. (Arikunto, 2002:135 ; Hasan, 2003:44).
Adapun pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu penedekatan yang dilakukan
dengan proses pencatatan dan menganalisis semua
perhitungan-perhitungan statistik. Menurut Sugiyono (2006:16-17) mengungkapkan
bahwa pendekatan kuantitatif digunakan astas dasar :
Asumsi pertama bahwa objek/fenomena dapat diklasifikasikan menurut sifat, jenis, stuktur, bentuk, warna dan sebagainya... Asumsi ilmu yang kedua adalah determinisme (hubungan sebab-akibat). Asumsi ini menyatakan bahwa setiap geajala ada yang menyebabkan... Asumsi ilmu yang ketiga, adalah bahwa suatu gejala tidak akan mengalami perubahan dalam waktu tertentu.
Pada proses penelitiannya melalui instrumen yang dibuat sebelum
melakukan penelitian. Dalam proses pengolahan datanya pun
menggunakan rumus-rumus statistik dengan tujuan untuk menguji
D. DEFINISI OPERASIONAL
Definisi operasional merupakan bagian yang mendifinisikan sebuah
konsep/variabel agar dapat diukur, dengan cara melihat pada dimensi
(indikator) dari suatu konsep/variabel. Dimensi (indikator dapat berupa :
perilaku, aspek, atau sifat/karakteristik. (Sekaran,2006:97).
Definisi operasional menggambarkan secara spesifik
indikator-indikator pada variabel yang diteliti berdasarkan pada konsep penelitian
yang dibangun dari teori-teori yang relevan dengan variabel yang diteliti,
karena konsep penelitian merupakan kerangka acuan dalam menentukan
konsep operasional atau definisi operasional.
Komaruddin (1986) dalam Noor (2012 :57) mengemukakan bahwa :
“Definisi operasional merupakan pengertian yang lengkap tentang suatu
variabel yang mencakup semua unsur yang menjadi ciri utama variabel
itu”. Sementara pendapat lain mengenai definisi operasional dikemukakan oleh Nazir (1999:152), yaitu sebagai berikut :
Definisi operasional adalah definisi yang diberikan kepada suatu variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti, atau menspesifikasikan kegiatan, ataupuan memberikan suatu operasionalisasi yang diperlukan untuk mengukur konstrak atau variabel tertentu.
Adapun definisi operasional dari setiap masing-masing variabel dalam
penelitian ini, sebagai berikut :
1. Pengaruh
Menurut Poerwadinata (1993:137) pengaruh merupakan suatu
daya yang timbul dari sesuatu (orang, benda, dan lain sebagainya)
yang berkuasa atau memiliki kekuatan (ghaib). Pada penelitian ini
kecerdasan emosional sebagai variabel X (variabel bebas) dan kinerja
guru sebagai variabel Y (Variabel Terikat). Agar mengetahui seberapa
penelitian nanti akan menggunakan rumus korelasi, uji signifikansi, uji
korelasi determinasi, dan regresi.
2. Kecerdasan Emosional
Begitu banyaknya para ahli yang mendefinisikan mengenai
kecerdasan emosional. Hal tersebut mengindikasikan bahwasanya
begitu luas makna kecerdasan emosional. Akan tetapi, pada dasarnya
terdapat satu kesamaan bahwa dalam kecerdasan emosional mencakup
kemampuan pribadi (self awareness) dan kecakapan sosial
(social-awareness) (Stein and Book, 2002:30 ; Goleman, 2005:45 ; Goleman,
2005:512).
Dalam peneilitian ini, kecerdasan emosional merupakan
kemampuan untuk mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang
lain, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan memotivasi orang
lain, dan kemampuan untuk mengelola emosi diri sendiri dan dalam
menjalani hubungan dengan orang lain. Didalam
kepribadianmasing-masing individu memiliki karakteristik kecerdasan emosional dengan
ciri sebagai berikut :
1. Kecakapan pribadi, yang terdiri dari :
a. Kesadaran diri, yang memiliki indikator : kesadaran
emosi, penilaian pribadi, dan percaya diri;
b. Pengaturan diri, yang memiliki indikator : pengendalian
diri, sifat dapat dipercaya, kewaspadaan, adaptabilitas,
inovasi, dan sikap asertif;
c. Motivasi, yang memiliki indikator : dorongan
berprestasi, komitmen, inisiatif, optimisme, dan
kebahagiaan.
a. Empati, yang memiliki indikator : memahami orang lain,
orientasi pelayanan, mengembangkan orang lain,
mengatasi keragaman, dan kesadaran politis;
b. Keterampilan sosial, yang memiliki indikator : pengaruh,
komunikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan,
pengikat jaringan, manajemen konflik, kolaborasi dan
kooperasi, dan kemampuan tim.
Berdasarkan hal tersebut, maka kecerdasan emosional
merupakan totalitas dari penilaian yang dilakukan oleh para guru
terhadap dirinya sendiri sesuai dengan indikator-indikator tersebut.
3. Kinerja Guru
Guru sebagai tenaga kependidikan merupakan salah satu faktor
penentu keberhasilan tujuan pendidikan, karena guru yang langsung
bersinggungan dengan peserta didik, untuk memberikan bimbingan
yang akan menghasilkan tamatan yang diharapkan. Guru merupakan
sumber daya manusa yang menjadi perencana, pelaku, dan penentu
tercapainya tujuan pendidikan.
Untuk itu dalam menunjang kegiatan guru diperlukan iklim
sekolah yang kondusif dan hubungan yang baik antar unsur-unsur yang
ada disekolah antara lain kepala sekolah, guru, tenaga administrasi,
dan siswa. Serta hubungan baik antar unsur-unsur yang ada disekolah
dengan orangtua siswa atau masyarakat.
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja guru adalah
kecerdasan emosional. Oleh karena itu, upaya-upaya yang dilakukan
untuk meningkatkan kinerja guru adalah dengan meningkatkan faktor
kecakapan pribadi dalam kecerdasan emosional yang dimilikinya.
pendidikan untuk menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang
mampu bersaing di era globalisasi yag semakin ketat.
Kinerja dapat diartikan sebagai hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan
tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
(Mangkunegara, 2006:9). Namun, yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah totalitas penilaian terhadap kinerja guru yang ditampilkan
dalam melaksanakan tugas yang sesuai dengan sikap, pengetahuan,
keterampilan dan inisiatif guru, yang meliputi kemampuan penguasaan
akademik, kemampuan profesional pribadi, dan kemampuan sosial
guru.
E. INSTRUMEN PENELITIAN
Akdon (2005: 130), mengemukakan bahwa : “Instrumen penelitian
digunakan untuk mengukur nilai variabel yang akan diteliti”. Pendapat
lain, Sugiyono (2006: 119) mengemukakan bahwa : “Instrumen penelitian
adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun
sosial”. Instrumen penelitian digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan, yang secara spesifik berhubungan dengan variabel penelitian.
Alat ukur dalam instrumen harus berdasarkan pada karakteristik sumber
data dari variable yang diteliti, sehingga mempermudah peneliti dalam
memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan.
Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah angket.
“Angket atau kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang
digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan
tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui” (Arikunto, 2002: 151).
Selain itu, Akdon (2005: 132), mendefinisikan “Angket berstruktur
(angket tertutup) adalah angket yang disajikan sedemikian rupa sehingga
responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan
checklist (√)”. Nana Syaodih (2009: 210) mengemukakan bahwa : “Angket atau kuesioner adalah suatu teknik atau cara pengumpulan data
secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan
responden)”. Angket tidak selalu berbentuk pertanyaan, melainkan dapat pula berupa pernyataan. Jenis angket yang digunakan adalah angket
bersruktur atau tertutup. Pendapat lain, Burhan Bungin (2009) dalam
Sugiyono (2006:123), mengemukakan bahwa :
Angket langsung tertutup adalah angket yang dirancang sedemikian rupa untuk merekam data tentang keadaan yang dialami oleh responden sendiri, kemudian semua alternatif jawaban yang harus dijawab oleh responden tertera dalam angket tersebut.
Angket yang digunakan dalam penelitian untuk meminta
keterangan atau informasi kepada responden yang berhubungan dengan
variabel yang diteliti. Dengan demikian, variabel serta sumber data
penelitian harus jelas, sehingga instrumen yang dirumuskan sesuai dengan
karakteristik sumber data.
1. Variabel Penelitian dan Sumber Data Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel X
(Kecerdasan Emosional) dan variabel Y (Kinerja Guru). Adapaun yang
menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah seluruh guru SMA
Laboratorium Percontohan UPI Bandung yang berada di dalam Kampus
Bumi Siliwangi Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Guru dipilih
sebagai responden yang akan memberikan gambaran terkait dengan
variabel-variabel yang akan diteliti.
2. Teknik Pengukuran Variabel Penelitian
Pada teknik pengukuran masing-masing variabel, disusun format
instrumen penelitian yang sesuai dengan variabel yang diteliti, yaitu
format isntrumen variabel X dan variabel Y. Dalam teknik pengukuran
(2010:134) mengungkapkan bahwa : “Skala Likert digunakan utnuk
mengukur pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang
tentang fenomena sosial”.
Dalam tahap pengukuran dengan menggunakan Skala Likert,
masing-masing variabel penelitian dijabarkan menjadi indikator yang akan
dijadikan titik tolak dalam merumuskan item-item pertanyaan atau
penyataan. Skala Likert yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah
lima gradasi atau skala yang masing-masing memiliki skor untuk
kepentingan analisis kuantitatif. Adapun analisis jawaban yang digunakan
dalam Skala Likert terdapat dalam tabel dibawah ini, yaitu sebagai berikut:
Tabel 3.2 Tabel Skala Likert
Alternatif Jawaban Variabel
Bobot
Selalu (S) 5
Sering (SR) 4
Kadang-Kadang (KD) 3
Jarang (J) 2
Tidak Pernah (TP) 1
3. Kisi-kisi Instrumen
Dalam kisi-kisi instrumen penelitian sanagat dibutuhkan untuk
mempermudah penyusunan isntrumen penelitian, karena akan terlihat
dimensi dan indikator dari masing-masing variabel yang selanjutnya
dijabarkan dalam bentuk pertanyaan aau pernyataan sebagai instrumen,
yaitu kisi-kisi instrumen variabel X dan kisi-kisi instrumen variabel Y,
Tabel 3.3
Kisi-kisi Instrumen Penelitian Variabel X (Kecerdasan Emosional)
Variabel Dimensi Indikator No. item
instrumen
Kecerdasan Emosional (Variabel X)
Kecakapan
Pribadi
Kesadaran diri 1,2,3,4,6
Pengaturan diri 5,7,8,9,10,11
Motivasi 12,13,14,17,28,19
Kecakapan
Sosial
Keterampilan Sosial 21,22,23
Tabel 3.4
Kisi-kisi Instrumen Penelitian Variabel Y (Kinerja Guru)
Variabel Dimensi Indikator No. item
Instrumen
Kinerja Guru
Kompetensi
Akademik
Wawasan
Kependidikan
1
Penguasaan Bahan
Ajar
2
(Variabel Y)
Kompetensi
Pribadi
Keseimbangan emosi 4
Adil 5
Antusias 6
Sabar 7
Realistis 8
Kompetensi
Profesional
Merencanakan
Pembelajaran
9,10,11
Melaksanakan
Pembelajaran
12,13,14
Mengevaluasi
Pembelajaran
15
Menindaklanjuti Hasil
Evaluasi Pembelajaran
Memberikan
Bimbingan dan
Konseling
19
Mengembangkan
Profesi
20,21,22
Kompetensi
Sosial
Interaksi di dalam
Lingkungan Sekolah
23,24,25
Interaksi di luar
Lingkungan Sekolah
26
F. PROSES PENGEMBANGAN INSTRUMEN
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap
fenomena sosial maupun alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih
tepat kalau dinamakan membuat laporan dari pada melakukan penelitian.
Namun demikian dalam skala yang paling rendah laporan juga dapat
dinyatakan sebagai bentuk penelitian (Emory, 1985:90).
Angket sebagai instrumen dalam penelitian ini tidak langsung
terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat akurasinya terhadap responden
yang memiliki karakteristik sama dengan objek penelitian yang digunakan.
Kegiatan ini dilakukan untuk menghindari kegagalan total dalam
pengumpulan data, karena instrumen yang telah siap untuk digunakan
namun belum diujicobakan seringkali memiliki beberapa kelemahan, baik
dari segi bahasa, dimensi, dan indikator dari masing-masing variabel,
maupun pengukurannya. Selain itu, yang terpenting dalam uji coba angket
ini adalah untuk memberi gambaran tingkat validitas dan reabilitas dari
instrumen tersebut.
Instrumen yang diperlukan adalah untuk mengungkapkan dua
variabel ; Kecerdasan Emosional dan Kinerja Guru dari populasi yang
telah ditentukan. Sumber datanya adalah para guru. Bentuk instrumennya
adalah checklist. Untuk itu dapat digunakan sebagai pedoman observasi,
wawancara, maupun sebagai kuesioner.
1. UJI VALIDITAS
Sugiyono (2010:363), mengemukakan bahwa : “Validitas
merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada ibejek
penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti”.
Berdasarkan penelitian tersebut menunjukkan bahwa adanya kesamaan
antara data yang dikumpulkan dengan kondisi atau data objek yang
sesungguhnya sehingga dapat dikatakan valid (sahih). Sementara
pendapat lain, Suharsmi Arikunto (2002:168), memaparkan bahwa :
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. Sebuah instrumen dapat dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauhmana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud.