• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU DI SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI BANDUNG.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU DI SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI BANDUNG."

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

Ressa Oktrianti, 2014

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU DI SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI BANDUNG

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU DI SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI

BANDUNG

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Jurusan Administrasi Pendidikan

Oleh

RESSA OKTRIANTI 1006403

(2)

Ressa Oktrianti, 2014

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU DI SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI BANDUNG

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 2014

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL

TERHADAP KINERJA GURU DI SMA

LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI

BANDUNG

Oleh

Ressa Oktrianti

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Ilmu Pendidikan

© Ressa Oktrianti 2014 Universitas Pendidikan Indonesia

(3)

Ressa Oktrianti, 2014

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU DI SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI BANDUNG

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian, dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI RESSA OKTRIANTI (1006403)

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU DI SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI BANDUNG

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH :

PEMBIMBING I

Prof. Dr. H. Djam’an Satori, MA NIP. 1950080 2107303 1 002

PEMBIMBING II

(4)

Ressa Oktrianti, 2014

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU DI SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI BANDUNG

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

MENGETAHUI,

KETUA JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(5)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kinerja Guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung”. Permasalahan yang dibahas

dalam penelitian ini adalah mengenai pentingnya kecerdasan emosional untuk memperoleh kinerja yang optimal. Penelitian ini dilakukan di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung dengan objek penelitian seluruh guru mata pelajaran yang memiliki pengalaman mengajar minimal satu tahun. Adapun permasalahan yang ingin diselesaikan dalam penelitian ini adalah mengenai : (a) gambaran kecerdasan emosional guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung; (b) gambaran kinerja para guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung; dan (c) seberapa besar pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung. Dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu : (a) dapat diketahuinya gambaran mengenai kecerdasan emosional guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung; (b) dapat diketahuinya mengenai gambaran kinerja guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung; dan (c) dapat diketahuinya besaran dari pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan melalui pendekatan kuantitatif. Dalam teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode angket tertutup yang didukung dengan metode dokumentasi. Adapun pemilihan pupulasi serta sampel atas dasar asumsi empiris dan teoritis. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non probability sampling – sampling jenuh yang artinya

menjadikan seluruh anggota populasi yang relatif kecil menjadi sampel penelitian. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus WMS (Weight Means

Score), diketahui gambaran umum variabel X (Kecerdasan Emosional) berada

pada kategori sangat baik dengan skor rata-rata sebesar 4,01. Begitu pula pada gambaran umum variabel Y (Kinerja Guru) berada pada kategori sangat baik dengan skor rata-rata sebesar 4,11. Hasil analisis dari koefisien korelasi (rxy)

dengan menggunakan rumus spearman-rank diperoleh nilai sebesar 0,723 , yang termasuk kategori memiliki derajat korelasi yang kuat. Korelasi variabel X dan Y memiliki hubungan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan uji signifikan dengan perolehan Thitung > Ttabel (6,212> 2,030), dengan koefisien

(6)

Ressa Oktrianti, 2014

ABSTRACT

This research entitled “The Effect of Emotional Intelligence towards Teachers’ Capability in SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung”. Problem discussed in this research was centered to the importance of emotional intelligence to attain maximum capability. The research was conducted in SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung by having all teachers in all subjects with teaching experience for at least a year as the subject. Problems intended to be solved by this research were: (a) The picture of teachers’ emotional intelligences in SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung; (b) The picture of teachers’ capabilities in SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung; dan (c) The effects of teachers’ emotional intelligences towards teachers’ capability in SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung. The objectives of this research were: (a) To find out the picture of teachers’ emotional intelligences in SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung; (b)To figure out the picture of teachers’ capabilities in SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung; dan (c) To discover the effect of teachers’ emotional intelligences towards teachers’ capability in SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung. The research used qualitative approach by having descriptive as its method. Data collection was conducted by closed-questionnaire and documentation method. The population and sample were selected by considering empirical and theoretical evidence. Sample was taken by using non probability sampling – sampling jenuh technique where all members of population which were relatively small become the sample. According to the calculation using WMS (Weight Means Score) formula, it could be seen that the general picture of X variable (Emotional Intelligence) was in excellent category in which the average score was 4,01. It went hand in hand with the general picture of Y variable (Teacher’s Capability) which was in excellent category with 4,11 as the average score. The correlation coefficient (rxy) analysis

by using spearman-rank formula resulted in 0,723 as its value which was categorized as strong correlation. The correlation between X variable and Y variable was significantly related. It was proven by the calculation of significance test which resulted in Thitung > Ttabel (6,212> 2,030), with 52,3 % of determination

(7)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

UCAPAN TERIMAKASIH ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ...1

B. Identifikasi Masalah Penelitian ... 8

C. Rumusan Masalah ... 11

D. Tujuan Penelitian ... 12

E. Manfaat Penelitian ... 13

F. Stuktur Organisasi Skripsi ... 13

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS ... 16

Kajian Penelitian Dalam Kerangka Ilmu Administrasi Pendidikan ... 16

A. Kajian Pustaka ... 20

1. Hakikat Kecerdasan Emosional ... 20

a. Definisi Emosi ... 20

b. Definisi Kecerdasan Emosional ... 24

c. Pengelolaan Kecerdasan Emosional ... 27

2. Kinerja Guru ... 30

a. Definisi Kinerja ... 30

b. Definisi Guru ... 31

(8)

d. Tugas dan Peran Profesi Guru ... 36

e. Standar Kompetensi Guru ... 38

f. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru ... 44

g. Indikator Kinerja Guru ... 47

3. Kecerdasan Emosional dan Kinerja Guru ... 48

B. Kerangka Pemikiran ... 50

C. Hipotesis Penelitian ... 53

BAB III METODE PENELITIAN ... 55

A. Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian ... 55

1. Lokasi ... 55

2. Populasi dan Sampel ... 55

B. Desain Penelitian ... 57

C. Metode Penelitian ... 61

D. Definisi Operasional ... 63

E. Instrumen Penelitian ... 67

1. Variabel Penelitian dan Sumber Data Penelitian... 68

2. Teknik Pengukuran Variabel Penelitian ... 68

3. Kisi-kisi Instrumen ... 69

F. Proses Pengembangan Instrumen ... 73

1. Uji Validitas ... 74

2. Uji Reliabilitas ... 79

G. Teknik Pengumpulan Data ... 83

H. Analisis Data ... 85

1. Seleksi Data ... 85

2. Klasifikasi ... 86

3. Pengolahan Data ... 86

4. Teknik Hipotesis Penelitian ... 91

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 94

A. Hasil Penelitian ... 94

(9)

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 127

A. Kesimpulan ... 127

B. Rekomendasi ... 129

DAFTAR PUSTAKA ... 130

(10)
(11)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Menggagas persoalan mengenai pendidikan, pada dasarnya

merupakan persoalan kebudayaan dan peradaban. Secara spesifik gagasan

pendidikan akan merambah ke wilayah pembentukan peradaban dimasa

depan, suatu upaya merekonstruksi pengalaman-pengalaman peradaban

manusia secara berkelanjutan guna untuk memenuhi kehidupannya,

generasi demi generasi.

Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah merupakan tempat

pengembangan ilmu pengetahuan, keterampilan, kecakapan, nilai dan

sikap yang diberikan secara lengkap kepada generasi muda. Hal ini

dilakukan bertujuan untuk membantu proses perkembangan potensi dan

kemampuan yang dimiliki peserta didik agar bermanfaat bagi kepentingan

hidupnya.

Secara keseluruhan proses pendidikan khususnya disekolah, guru

memliki peran penting dalam keberlangsungan dan keberhasilan dari

proses pendidikan. Perilaku guru dalam proses pendidikan memberikan

pengaruh besar dalam pembinaan perilaku dan kepribadian siswa

disekolah.

Sebagai salah satu komponen dalam Proses Belajar Mengajar

(PBM), guru memiliki posisi yang sangat kuat dalam menentukan

keberhasilan pembelajaran dalam merancang, mengelola, melaksanakan

serta mengevaluasi pembelajaran. Guru juga memiliki kedudukan sebagai

figur sentral dalam meningkatkan proses belajar mengajar. Selain itu,

perilaku guru dalam mendidik siswanya sangat menentukan berhasil atau

tidaknya pencapaian tujuan belajar mengajar di sekolah. Maka diharapkan

(12)

dalam mengembangkan kemampuan dan kompetensinya guna membentuk

kematangan pribadinya.

Guru dapat mendidik siswa dalam bentuk teori dan perilaku

sehingga anak didik merasa termotivasi untuk melaksanakan nasihat serta

himbauan dari guru. Sebuah bentuk pengajaran tersebut merupakan bentuk

kinerja yang optimal dari seorang guru. Kinerja guru yang optimal

dijadikan sebagai modal dasar dalam pengembangan sumber daya manusia

Indonesia pada tatanan pendidikan formal. Dapat dikemukakan

bahwasanya kinerja guru yang optimal ini dinilai dari kesesuaian kerja

dengan standar kompetensi guru yang telah ditetapkan. Dengan adanya

tugas dan tanggung jawab yang besar ini menuntut seorang guru untuk

mampu memberikan mutu layanan pendidikan dan kompetensi yang tinggi

agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik. Dalam proses upaya

peningkatan mutu guru telah dilakukan dengan berbagai macam usaha

baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun dari pihak gurunya sendiri,

namun pada kenyataannya masih sangat jauh dari harapan dan standar

yang telah ditetapkan.

Guru sebagai tenaga pendidik yang menjadi arahan tercapainya

peningkatan profesi dengan memiliki kinerja yang optimal, dan kinerja

tersebut sebagai suatu usaha untuk mempersiapkan sumberdaya manusia

yang berkualitas dengan memiliki karakteristik yang mandiri, tekun,

bekerja keras, optimis, menghargai waktu, dan mampu mencari solusi

akan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dimasa yang akan datang.

Berangkat dari sebuah permasalahan yang terjadi pada lingkungan

sekolah yaitu masalah tindak kekerasan yang tentunya tidak diinginkan

oleh semua orang, khususnya pada lembaga pendidikan yang sepatutnya

menyelesaikan masalah secara edukatif. Namun tidak bisa dipungkiri,

bahwa di lembaga pendidikan masih sering terjadi tindak kekerasan.

Contoh kasusnya terjadi pada akhir 1997, pada salah satu SD Negeri di

(13)

yang tidak mengerjakan PR dengan menusukkan paku yang dipanaskan ke

tangan siswa. Di surabaya, seorang guru olahraga menghukum lari seorang

siswa yang terlambat datang dengan hukuman lari beberapa kali putaran.

Akan tetapi, karena fisiknya lemah, siswa tersebut akhirnya tewas. Dalam

periode yang tidak berselang lama, seorang guru SD Lubuk Gaung,

Bengkalis, Riau, menghukum siswanya dengan lari keliling lapangan

dalam kondisi telanjang bulat. (Ginanjar Agustian Ary 2001:56)

Setelah melihat fenomena ini, beberapa analisis dapat diajukan.

Pertama, kekerasan dalam pendidikan muncul akibat adanya pelanggaran

yang disertai dengan hukuman, terutama fisik. Jadi, ada pihak yang

melanggar dan ada pihak yang memberi sanski. Bila sanksi melebihi batas

atau tidak sesuai dengan kondisi pelanggaran, maka terjadilah apa yang

disebut dengan tindakan kekerasan. Tawuran antarpelajar atau mahasiswa

merupakan contoh kekerasan ini. Selain itu kekerasan dalam pendidikan

tidak selamanya dalam bentuk fisik, melainkan bisa berbentuk

pelanggaran atas kode etik dan tata tertib sekolah. Misalnya, siswa

membolos sekolah dan pergi jalan-jalan ke tempat hiburan.

Kekerasan yang dilakukan guru di sekolah menunjukkan bahwa

penyebab mengapa guru memukul siswa, ada empat hal, yaitu siswa nakal

di sekolah, siswa tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru untuk

dikerjakan di rumah, siswa tidak menaati disiplin sekolah, dan alasan yang

lainnya. Sebagian besar kekerasan yang terjadi di sekolah disebabkan oleh

banyaknya siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Selain itu, masalah

malasnya siswa untuk mengerjakan PR menjadi pemicu munculnya

kekerasan di sekolah, selain kecenderungan siswa yang ingin berkelahi

dengan sesama temannya. Kedua, kekerasan dalam pendidikan bisa

diakibatkan oleh buruknya sistem dan kebijakan pendidikan yang berlaku.

Muatan kurikulum yang hanya mengandalkan kemampuan aspek kognitif

dan mengabaikan pendidikan afektif menyebabkan berkurangnya proses

(14)

dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dan tayangan media massa yang

memang belakangan ini kian vulgar dalam menampilkan aksi-aksi

kekerasan. Keempat, kekerasan bisa diibaratkan sebagai refleksi dari

perkembangan kehidupan masyarakat yang mengalami pergeseran cepat,

sehingga menimbulkan sikap instant solution maupun jalan pintas.

Kelima, kekerasan bisa dipengaruhi oleh latar belakang sosial-ekonomi.

Mengingat pendidikan ilmu normatif, maka fungsi institusi

pendidikan merupakan pusat tumbuh kembangnya subjek didik ke tingkat

yang normatif lebih baik. Dengan cara atau jalan yang baik, serta dalam

konteks yang positif. Disebut subjek didik karena peserta didik bukan

merupakan objek yang dapat diperlakukan semaunya pendidik, bahkan

seharusnya dipandang sebagai manusia lengkap dengan harkat

kemanusiaannya.

Menurut Freire (2001:51) dalam buku Teori Kinerja dan

Pengukurannya, mendefinisikan fitrah manusia sejati sebagai berikut:

Fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku atau subjek, bukan penderita atau objek. Panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar, yang bertindak mengatasi dunia serta realitas yang menindasnya. Dunia dan realitasnya bukan “sesuatu yang ada

dengan sendirinya”, dan karena itu “harus diterima menurut apa adanya”, sebagai suatu takdir atau nasib yang tak terelakan. Oleh

karena itu, pendidikan harus berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri, dan harus mampu mendekatkan manusia dengan lingkungannya.

Mengajar merupakan suatu usaha guru dalam mengelola perhatian

dan waktu siswa yang dimulai dari awal sampai akhir di dalam kelas.

Mengajar adalah usaha guru dalam menciptakan kondisi-kondisi atau

mengatur lingkungan sedemikian rupa, sehingga terjadi interaksi antara

siswa dengan lingkungan, termasuk guru dan media pengajaran. Peranan

guru dalam mengelola proses belajar mengajar, antara lain sebagai

fasilitator, yang berusaha menciptakan kondisi belajar mengajar yang

(15)

mengembangkan bahan belajar dengan baik, dan meningkatkan

kemampuan siswa dalam belajar, agar tujuan belajar dapat dicapai.

Berbicara soal kinerja guru yang bahwasanya memang dipengaruhi

oleh faktor psikologis yaitu kecerdasan emosional. Dimana kecerdasan

emosional dapat membawa keberhasilan pada sebuah kinerja seorang guru

pada khususnya, karena kecerdasan emosional yang baik melahirkan

pemikiran, perasaan, perilaku, dan tujuan pengelola dengan sikap (1)

disiplin diri, jujur dan tulus kepada diri sendiri, membangun kekuatan

pribadi, termasuk kesadaran diri, mendengarkan suara hati, hormat,

tanggungjawab dan koneksi, (2) memantapkan diri dan maju terus,

membangun inspirasi diri sendiri dan orang lain, termasuk keaslian,

keuletan, dan hubungan saling percaya, (3) membangun watak dan

kewibawaan, mengembangkan potensi, integritas, dan tujuan hidup, dan

(4) merasakan peluang dan menciptakan masa depan, membangun titik

temu, inovasi, intuitif, transformasi, situasional, dan kecerdasan yang

luwes.

Kecerdasan emosional merupakan suatu bagian dari daya manusia

yang mulai diyakini dengan menggunakan istilah EQ. Emosi dan pikiran

adalah dua bagian dari suatu keseluruhan. Itulah sebabnya, istilah yang

baru-baru ini diciptakan untuk menggambarkan kecerdasan hati adalah

EQ. (Segal, 2000:5, dialihbahasakan oleh Ary Nilandari). Dalam

perkembangan hidup manusia suatu kecerdasan emosi memiliki kontribusi

yang sangat besar dalam kehidupan dibandingkan dengan kecerdasan yang

lainnya. Kecerdasan intelektual yang selama ini kita anggap sebagai tolak

ukur keberhasilan seseorang ternyata memiliki peranan hanya sebesar 20

persen, dan 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan yang lainnya, dimana

45 persen diantaranya dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. Angka tersebut

menunjukkan peranan kecerdasan emosi memiliki tingkat keterhubungan

yang sangat besar dengan keberhasilan seseorang. Seperti yang

(16)

“Dari berbagai hasil penelitian telah banyak terbukti bahwa

kecerdasan emosi memiliki peran jauh lebih significant dibanding kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan intelektual barulah sebatas syarat minimal meraih keberhasilan, namun kecerdasan emosilah yang sesungguhnya (hampir seluruhnya terbukti) mengantarkan seseorang menuju puncak prestasi. Terbukti, banyak orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi terpuruk di tengah persaingan. Sebaliknya banyak yang mempunyai kecerdasan intelektual yang biasa-biasa saja, justru sukses menjadi bintang-bintang kinerja; pengusaha-pengusaha sukses; dan pemimpin-pemimpin di berbagai kelompok. Disinilah kecerdasan emosi

membuktikan eksistensinya.”

Cara kerja baru yang mencakup intelektual dan seluk beluk teknik

yang memadai untuk mengerjakan tugas-tugas dan memusatkan perhatian

pada kualitas pribadi seperti inisiatif dan empati, adaptabilitas,

kemampuan persuasif, integritas, dan autentisitas. Cara kerja baru

mengikutsertakan kecerdasan emosional. Dalam melaksanakan

tugas-tugasnya, guru yang memiliki pemahaman kecerdasan emosional berarti

memiliki cara yang efektif untuk mengembangkan hubungan antarpribadi

karena dapat mengendalikan emosinya untuk kepentingan tersebut. Ia tahu

bagaimana harus mengekspresikan emosi dan menyadari bagaimana

memperlakukan orang untuk berbuat baik.

Seorang guru dalam melaksanakan tugas dan perannya di dalam

kelas, maupun tugas kependidikannya di luar kelas sangat mempengaruhi

berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Kinerja yang

dimiliki guru akan bermakna apabila diseimbangkan dengan sebuah niat

yang tulus, dan selalu menyadari akan kekurangannya, dan berupaya untuk

memperbaiki kekurangan tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan ke

arah yang lebih positif.

Gagasan pendirian Sekolah Laboratorium bersamaan dengan

lahirnya PTPG (20 Oktober 1954) yang berubah menjadi FKIP kemudian

menjadi IKIP, dan pada akhirnya menjadi UPI. Pada tahun 1964, SMA

(17)

Pembangunan (PPSP). Sekolah Laboratorium Percontohan merupakan

kebutuham bagi UPI untuk mengkaji, mengembangkan, dan melakukan

pengujian berbagai inovasi serta temuan-temuan dalam bidang ilmu

pendidikan, baik tatanan model dan teori maupun praktis pendidikan.

Sekolah ini menawarkan layanan pendidikan yang tidak hanya untuk

mengembangkan bidang akademik saja, akan tetapi mengembangkan

bidang non akademiknya juga. Hal tersebut bertujuan untuk mewujudkan

lulusan yang tidak hanya cerdas intelektual saja, akan tetapi cerdas secara

emosional dan spiritual. Adapaun tujuan dari SMA Laboratorium

Percontohan UPI Bandung yaitu sebagai berikut :

1. Menghasilkan lulusan yang mandiri, bermutu, terampil, dan

memiliki kecakapan hidup (life skill) yang dapat membantu

dirinya dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahn

serta memiliki keimanan dan ketaqwaan yang tinggi.

2. Mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta

didik melalui kerjasama hasil penelitian para pakar pendidikan

di lingkungan UPI.

3. Mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi (IT/ICT)

e-learning”.

4. Melaksanakan pembelajaran “Bilingual Teaching”.

5. Meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris warga skeolah (staf,

guru, dan siswa).

6. Menata sistem pengeluaran sekolah yang efektif dan efisien,

produktif dan demokratis dalam suatu tata kelola yang baik

(good governance) yang akuntabel.

7. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi manajemen pelayanan

sekolah melalui peningkatan pelaksanaan manajemen berbasi

sekolah (MBS) menggunakan IT/ICT.

8. Meningkatkan kualitas minimum dan sertifikasi bagi tenaga

(18)

9. Meningkatkan peran serta Orang tua/Masyarakat dalam

pengembangan sekolah. (sumber:www.smalabupi.sch.id)

Setelah menjabarkan tujuan dari SMA Laboratorium Percontohan

UPI Bandung, perlu diketahui bahwa untuk mewujudkan lulusan yang

berprestasi dan memiliki akhlak yang baik, maka seluruh guru SMA

Laboratorium Percontohan UPI merupakan peran penting dalam

menanamkan perilaku-perilaku positif terhadap siswanya serta

mengarahkan dan membimbing siswanya menjadi bukti keteladanan

seorang guru sebagai seorang pendidik.

Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengadakan suatu penelitian

lebih lanjut mengenai “Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kinerja

Guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung”

B. IDENTIFIKASI MASALAH PENELITIAN

Identifkasi masalah adalah pengenalan masalah atau inventarisasi

masalah. Dengan mengidentifikasi masalah, penulis pun dapat

menentukan batasan permasalahan sehingga dapat terjadi pemfokusan

teori dan variabel serta kaitan antarvariabel yang akan diteliti. (Noor,

2012:28).

Adapun identifikasi masalah yang akan diuraikan yaitu mengenai

permasalahan mengenai fenomena yang terjadi didalam lingkungan

sekolah saat ini. Adanya beberapa bentuk kekerasan dalam pendidikan

yang masih merajalela merupakan indikator bahwa proses atau aktivitas

pendidikan kita masih jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Disinilah urgensi

humanisasi pendidikan. Humanisasi pendidikan merupakan upaya untuk

menyiapkan generasi yang cerdas nalar, cerdas emosional, dan cerdas

spiritual, bukan menciptakan manusia yang kerdil, pasif, dan tidak mampu

(19)

Kecerdasan emosional seorang guru merupakan faktor penting

dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Seorang guru dituntut untuk

mempunyai sifat-sifat penyabar, lapang dada, pengertian, penyayang,

simpatik, dan antusias. Seorang guru juga dituntut untuk lebih

mengedepankan perasaannya ketika berinteraksi dengan anak-anak didik

dengan berbagai macam karakter yang unik. Karena pada kondisi saat ini

sudah terjadi banyak kasus-kasus yang mulai bermunculan yang

melibatkan pihak guru dan siswanya, dimana guru terkadang tidak secara

proporsional dalam menempatkan emosinya yang dapat mengakibatkan

timbulnya perlakuan yang tidak menyenangkan terhadap siswanya. Hal ini

mengindikasikan bahwa kualitas kinerja guru yang dimiliki sangat rendah.

Guru harus memiliki dukungan dan kemampuan untuk melayani sebaik

mungkin, baik dilihat dari sisi interpersonalnya maupun sisi ability.

Ada beberapa indikator yang dapat menunjukkan bahwa seseorang

telah mampu mengelola emosinya menurut Slovey (Goleman 2005:58).

Pertama, kesadaran diri. Seseorang memiliki kesadaran diri mengetahui

kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dan mampu menerima

kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya. Hal ini dijadikan sebagai panduan untuk

mengambil keputusan terhadap diri sendiri, sekaligus sebagai tolak ukur

yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat. Kedua,

pengaturan diri. Seseorang dapat dikatakan mampu mengatur dirinya jika

dia memiliki kepekaan terhadap kata hati dan sanggup menunda

kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran. Disamping itu, pada saat

dia mendapat tekanan emosi, dia mampu untuk pulih dan keluar dari

tekanan tersebut. Ketiga, motivasi. Adanya kemampuan kita untuk

menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakan dan menuntun

kita menuju sasaran, dan membantu kita dalam mengambil inisiatif untuk

bertindak secara efektif, menunjukkan bahwa kita memiliki motivasi.

Keempat, empati. Mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain

(20)

seseorang itu memiliki empati. Kelima, keterampilan sosial. Hal ini

berkaitan dengan kemampuan untuk berempati. Seseorang yang memiliki

keterampilan sosial mampu menangani emosi dengan baik ketika

berhubungan dengan orang lain dan mampu membaca dengan cermat

situasi dan jaringan sosial kemasyarakatan yang ada.

Untuk mengetahui optimal atau tidaknya suatu kinerja dapat dilihat

dari indikator-indikator yang timbul dan yang digunakan untuk mengukur

kinerja tersebut. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Dwiyanto

(dalam Mangkunegara, 2006: 50-51) mengenai indikator yang digunakan

untuk mengukur kinerja yaitu sebagai berikut :

a) Produktivitas, bahwa produktivitas tidak hanya mengukur tingkat efisiensi, tetapi juga mengukur efektivitas pelayanan. Dan pada umumnya dipahami sebagai ratio antara input dan output.

b) Kualitas layanan, maksudnya bahwa kualitas dari pelayanan yang diberikan sangat penting untuk dipertahankan.

c) Responsivitas, maksudnya bahwa birokrasi harus memiliki kemampuan untuk mengenali kebutuhan masyarakat, menyusun agenda dan prioritas pelayanan serta mengembangkan program-program pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat.

d) Responsibilitas, maksudnya bahwa pelakasanaan kegiatan harus dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar dan kebijakan birokrasi baik yang eksplisit maupun yang implisit.

e) Akuntabilitas, maksudnya bahwa seberapa besar kebijakan dan kegiatan birokrasi tunduk kepada para pejabat politik yang dipilih oleh rakyat, dimana para pejabat politik tersebut dengan sendirinya akan selalu memprioritaskan kepentingan rakyat.

Dari semua indikator yang telah diuraikan, maka ada keterkaitan

antara sub indikator kecerdasan emosional yaitu pengaturan diri dengan

sub indikator kinerja yaitu responsivitas. Dimana pengaturan diri ini

mempunyai kapasitas dalam mengendalikan diri dalam kondisi apapun

sehingga berhubungan dengan bagaimana cara mengenali kebutuhan yang

diharapkan oleh masyarakat. Khususnya bagi seorang guru yang harus

(21)

masyarakat dengan menyeimbangkan faktor pengaturan diri dalam

melayani semua kebutuhan dan aspirasi dari masyarakat agar terciptanya

keselarasan dalam pencapain tujuan.

Kinerja guru sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan, yang

berdampak secara langsung kepada peserta didik dan sekolah. Guru harus

mampu mengelola kecerdasan emosional yang dimilikinya, dimana pada

hakikatnya kecerdasan emosional ini meliputi beberapa indikator sebagai

berikut : (a) Kesadaran diri; (b) Pengaturan diri; (c) Motivasi; (d) Empati;

dan (e) Keterampilan sosial. Dalam penelitian ini penulis membatasi

masalah pada tingkat kecerdasan emosional dalam hal ini adalah

pengaturan diri pada guru SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung,

sebagai variabel X.

Secara konseptual, strategi dalam memperoleh suatu kinerja guru

yang optimal, penerapannya dapat dilakukan melalui beberapa hal, yaitu :

(a) Produktivitas; (b) Kualitas layanan; (c) Responsivitas; (d)

Responsibilitas; dan (e) Akuntabilitas. Dalam penelitian ini, penulis

membatasi masalah mengenai responsivitas, khususnya responsivitas pada

guru SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung, sebagai variabel Y.

Dalam upayanya untuk melahirkan generasi muda yang berprestasi

dan memiliki akhlakul kharimah, maka diperlukannya pendidik yang

mampu memberikan suatu keteladanan dalam akhlak, dan ahli dalam

bidangnya masing-masing, serta menyadari peran generasi muda dalam

kebiasaannya bertindak atau berperilaku di masa yang akan datang.

C. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian diatas, untuk mengetahui sejauh mana emosi

serta peranannya dalam proses keberhasilan seseorang dan pengaruhnya

terhadap kinerja seseorang, maka peneliti perlu mengkaji dan

(22)

emosional terhadap kinerja guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI

Bandung.

Perumusan masalah dalam penelitian yaitu berkaitan dengan

“Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Kinerja Guru di SMA

Laboratorium Percontohan UPI Bandung”. Berangkat dari fokus kajian

diatas, maka jabaran rumusan masalah yang akan dicari dalam kajian ini

adalah sebagai berikut :

1) Bagaimana gambaran mengenai kecerdasan emosional yang

dimiliki oleh guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI

Bandung?

2) Bagaimana gambaran mengenai kinerja yang dimiliki oleh guru

di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung?

3) Bagaimana pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja

guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung?

D. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini merupakan pegangan atau pedoman bagi

peneliti dalam melaksanakan penelitiannya. Tujuan dalm penelitian ini

meliputi :

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kecerdasan emosional

terhadap kinerja guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI

Bandung.

2. Tujuan Khusus

a) Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai kecerdasan

emosional yang dimiliki oleh guru di SMA Laboratorium

(23)

b) Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai kinerja yang

dimiliki oleh guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI

Bandung

c) Untuk memperoleh gambaran mengenai seberapa besar pengaruh

kecerdasan emosional terhadap kinerja guru di SMA Laboratorium

Percontohan UPI Bandung.

E. MANFAAT PENELITIAN

Dalam penelitian ini peneliti memiliki pandangan penting terhadap

permasalahan mengenai pengaruh antara kecerdasan emosional yang

dimiliki seseorang terhadap keberhasilan individu yang dianggap penting.

Khususnya, dalam dunia pendidikan kecerdasan emosional yang dimiliki

oleh seorang guru akan mempengaruhi tingkat keberhasilan seorang guru

pula dalam melaksanakan tanggung jawab dan tugasnya sebagai seorang

pendidik.

Penelitian ini mempunyai manfaat (konstribusi) baik pada tataran

teoritis maupun secara praktis yaitu sebagai berikut :

1) Pada tataran teoritis, hasil penelitian ini diharapkan ikut memperkaya

perbendaharaan teoritis tentang kecerdasan emosional yang harus

dimiliki seorang guru serta pengaruhnya terhadap kinerja yang dimiliki

oleh guru

2) Pada tataran praktis, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan

kinerja guru yang dipengaruhi oleh kecerdasan emosional guru di

(24)

F. STRUKTUR ORGANISASI SKRIPSI 1. Judul

Judul skripsi ini adalah “Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap

Kinerja Guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung”.

2. Halaman Pengesahan

Skripsi ini telah di setujui dan disahkan oleh Tim Pembimbing:

1) Pembimbing 1: Prof. Dr. H. Djam’an Satori, MA

NIP. 19500812 197303 1 002

2) Pembimbing II: Dr. Nur Aedi, M.Pd

NIP. 19720528 200501 1 001

3) Dan diketahui oleh Bpk. Dr. H. Endang Herawan, M.Pd sebagai

Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Pendidikan Indonesia.

3. Pernyataan Tentang Keaslian Karya Ilmiah

Penulis telah menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa Skripsi ini

merupakan Karya Tulis Ilmiah asli karya penulis yang merupakan

hasil pemikiran penulis dengan di bimbingan oleh dosen pembimbing.

4. Kata Pengantar

Berisi kalimat-kalimat pengantar dalam skipsi.

5. Ucapan Terima Kasih

Bentuk apresiasi yang setinggi-tingginya serta ungkapan rasa syukur

kepada Allah SWT serta kepada seluruh pihak yang telah membantu

dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini.

6. Abstrak

Uraian singkat yang termuat dalam abstrak adalah: judul, hakikat

penelitian, tujuan dilakukannya penelitian, metode penelitian yang

dipakai dan teknik pengumpulan datanya, serta hasil temuan,

kesimpulan dan saran.

(25)

Memuat penyajian sistematika isi skripsi secara rinci agar bisa

mempermudah para pembaca mencari judul atau subjudul bagian yang

ingin dibaca.

8. Daftar Tabel

Menyajikan tabel secara berurutan mulai dari tabel pertama sampai

dengan tabel terakhir yang tercantum dalam skripsi.

9. Daftar Gambar

Menyajikan gambar secara berurutan mulai dari gambar pertama

sampai dengan gambar terakhir yang tercantum dalam skripsi.

10.BAB I Pendahuluan

Berisi uraian tentang pendahuluan skripsi yang memuat : latar

balakang penelitian, identifikasi masalah penelitian, rumusan masalah,

tujuan penelitian, manfaat penelitian dan struktur organisasi skripsi .

11. BAB II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran, dan Hipotesis

Berisi konsep-konsep, teori-teori, hasil penelitian terdahulu yang

relevan, yang merupakan landasan penelitian secara teoritik. Selain

itu berisi kerangka fikir peneliti dalam melakukan penelitian. Dan

yang terakhir berisi hipotesis.

12. BAB III Metode Penelitian

Berisi penjabaran yang rinci mengenai metode penelitian serta

komponen- komponen penelitiannya. Dalam hal ini, penulis

menjelaskan mengenai lokasi dan subjek populasi/sampel penelitian,

desain penelitian, metode penelitian, definisi operasional, instrumen

penelitian (variabel penelitian dan sumber data : teknik pengukuran

variabel; kisi-kisi) , proses pengembangan instrumen, teknik

pengumpulan data, dan analisis data.

(26)

Memuat pengolahan atau analisis data beserta pembahasan dan

analisis hasil temuan di lapangan dengan pemaparan data dan

pembahasan data.

14. BAB V Kesimpulan dan Rekomendasi

Menyajikan penafsiran dan pemaknaan peneliti terhadap hasil analisis

temuan penelitian.

15. Daftar Pustaka

Berisi daftar rujukan/referensi baik berupa buku, artikel, jurnal,

dokumen resmi, atau sumber-sumber lain dari internet yang pernah

dikutip dan digunakan dalam penulisan skripsi.

16. Lampiran

(27)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. LOKASI DAN SUBJEK POPULASI/SAMPEL PENELITIAN

1. Lokasi

Lokasi atau tempat penelitian ini dilakukan di SMA

Laboratorium Percontohan UPI Bandung dengan lokasi sekolah berada

di dalam Kampus Bumi Siliwangi Universitas Pendidikan Indonesia

Bandung.

2. Populasi dan Sampel

Populasi merupakan ruang lingkup yang menjadi sumber data

penelitian yang sesuai dengan masalah yang diteliti. Sugiyono

(2004:90) menjelaskan bahwa “populasi adalah wilayah generalisasi

yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan

karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan

kemudian di tarik kesimpulannya”. Pendapat lain, Surakhmad (1998) dalam Sugiyono (2010:93) mengemukakan bahwa “populasi

merupakan sekelompok subjek penyelidikan, baik manusia, gejala,

benda-benda, nilai-nilai atau peristiwa-peristiwa yang ada

hubungannya dengan sutau penyelidikkan”.

Dalam populasi tidak terfokus pada keilmuan dan menjadi

sumber data yang relevan dengan permasalahan yang diteliti. Sesuai

dengan permaslahan penelitian, maka yang menjadi populasi dalam

penelitian ini adalah seluruh guru SMA Laboratorium Percontohan

(28)

Tabel 3.1

Jumlah Populasi Penelitian

JUMLAH GURU TOTAL

37 37

Sementara sampel penelitian merupakan dari populasi yang

diambil sebagai sumber data yang dapat mewakili seluruh potensi yang

ada didalam populasi (representatif). Sugiyono (2006:91)

mengemukakan : “Sampel adalah sebagian dari jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Sementara Riyanto

(2001:64) mengemukakan bahwa : “Sampel dapat didefinisikan

sebagai sembarang himpunan yang merupakan bagian dari suatu

populasi”. Selanjutnya Arikunto (2002) dalam Akdon dan Hadi

(2005:98) mengatakan “Sampel adan bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang diteliti). Sampel penelitian adalah sebagian

dari populasi yang diambil sebagian sumber data dan dapat mewakili

seluruh populasi”.

Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik

sampling nonprobability sampling jenuh. Berdasarkan asumsi bahwa

menurut Gey dan pendapat Bailey, penelitian yang menggunakan

metode deskriptif korelasional dengan analisis data statistik dan jumlah

populasi yang relatif kecil yaitu kurang dari 30 orang, maka

keseluruhan anggota populasi tersebut dijadikan sampel penelitian

(29)

dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh guru SMA

Laboratorium Percontohan UPI Bandung dengan jumlah 37 orang.

B. DESAIN PENELITIAN

“Rancangan penelitian pada dasarnya merupakan keseluruhan

proses pemikiran dan penentuan secara masal hal-hal yang akan dilakukan

dan akan dijadikan pedoman selama pelaksanaan penelitian (Malhotra

(2006) dalam Noor 2012 :72)”. “Desain penelitian merupakan rencana

tentang cara mengumpulkan dan menganalisis data agar dapat

dilaksanakan secara ekonomis serta serasi dengan tujuan penelitian itu

(Nasution, 2003:23)”. Shah (1972) dikutif dalam (Nazir, 1999:84)

mengemukakan bahwa :

Desain penelitian dalam arti hanya mengenai pengumpulan dan analisis data, sementara dalam arti luas, desai penelitian mencakup hal-hal sebagai berikut :

1. Identifikasi dan pemilihan masalah penelitian

2. Pemilihan kerangka konseptual untuk masalah penelitian serta hubungan-hubungan dengan penelitian sebelumnya

3. Memformasikan masalah penelitian termasuk membuat spesifikasi dari tujuan, luas jangkau (scope), dan hipotesis untuk diuji

4. Membangun penyelidikan atau oercobaan

5. Memilih serta memberi definisi terhadap pengukuran variavel-variabel

6. Memilih prosedur dan teknik sampling yang digunakan 7. Menyusun alat serta teknik mengumpulkan data

8. Membuat coding serta mengadakan editing dan

processing data

9. Menganaliss data serta pemilihan prosedur statistik untuk mengadakan generalisasi serta inferensi statistik 10.Pelaporan hasil penelitian, termasuk proses penelitian,

diskusi serta interpretasi data, generalisasi, kekurangan-kekurangan dalam penemuan, serta mengajukan beberapa sara dan kerja peneliti yang akan datang.

Desain penelitian merupakan suatu gambaran atau pola penelitian

(30)

efektivitas dan efisiensi akan optimal, terlebih dalam menggunaan waktu,

tenaga,biaya, serta sumber daya lainnya yang dibutuhkan dalam penelitian.

Nasution (2003:23-24) memaparkan kegunaan desain penelitian, sebagai

berikut :

1. Desain memberikan pegangan yang lebih jelas kepada peneliti dalam melakukan penelitiannya. Dalam penelitian, desain merupakan syarat mutlak agar dapat meramalkan sifat pekerjaan serta kesulitan yang akan dihadapi.

2. Desain menentukan batas-batas peneltian yang bertalian dengan tujuan penelitian.

3. Desain penelitian selain memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang harus dilakukan juga memberi gambaran tentang macam-macam kesulitan yang akan dihadapi yang mungkin juga telah dihadapi oleh peneliti lain.

Menurut Malthora (2006) dalam Noor (2012: 107) menjelaskan

bahwa, desain penelitian adalah kerangka atau cetak biru dalam

melaksanakan suatu proyek atau riset. Suatu prosedur penting untk

informasi yang dibutuhkan untuk menyusun pemecahan masalah

penelitian. Adapun menurut Philips dalam (Cooper, 2002:340) desain

penelitian untuk membantu penelitian dalam pengalokasian sumber daya

yang terbatas dengan menempatkan pilihan pengalokasian sumber daya

yang terbatas dengan menempatkan pilihan penting dalam metodologi.

Sedangkan menurut Kerlinger dalam (Cooper, 2002:340), desain

penelitian diklasifikasikan sebagai rencana dan struktur investigasi yang

dibuat sedemikian rupa sehingga diperoleh jawaban atas pertanyaan

penelitian. Rencana penelitian mencakup garis besar dari apa yang akan

dilakukan seorang peneliti mulai dari penulisan hipotesis serta implikasi

(31)

Dari pemaparan diatas, terlihat bahwa dengan adanya desian

penelitian, maka akan mempermudah peneiliti dalam melaksanakan

penelitian dan mencapai tujuan yang diharapkan dari penelitiannya.

Pendapat para ahli diatas sebagai acuan peneliti dalam

memaparkan desain dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :

(32)

Desain Penelitian

Peneliti mencoba untuk menggambarkan desain penelitian dalam

konsep sistem, yaitu penelitian ini terdiri dari tiga bagian sistem yang

diantaranya terdiri dari sistem input, proses, dan output. Pada bagian

input,menggambarkan latar belakang penelitian yang terdiri dari gambaran

fenomena makro dan fenomena mikro, yang pada bagian-bagiannya telah

dijelaskan dalam kerangka pikir pada Bab II. Pada dasarnya, latar belakang

penelitian ini lahir dari hasil studi pendahuluan peneliti terhadap masalah

penelitian. Dalam input juga menyangkut aspek-aspek konseptual dan

fakta empirikal yang tergambar pada latar belakang. Hal terpenting lainnya

setelah melakukan studi pendahuluan yaitu perumusan masalah penelitian.

Pada rumusan masalah penenlitian ini akan memperjelas gamabran atau

alur peneltian terhadap pengujian hipotesis penelitian. Dari rumusan

masalah penelitian ini, akan muncul asumsi-seumsi dasar peneliti terhadap

variabel yang diteliti, sehingga lahirlah hipotesis peneltian berdasarkan

anggapan dasar yang diperoleh peneliti dari kerangka pemikiran, kerangka

konseptual, dan praktis. Dengan adanya hipotesis penelitian akan

menentukan metode dan pendekatan penelitian yang akan digunakan. Oleh

karena ini, pada bagian input lebih mengacu pada perencanaan penelitian.

Selanjutnya adalah bagian proses, merupakan keterkaitan dengan

operasional penelitian, meliputi pengumpulan data, analisis data, dan

pengolahan data yang diarahkan pada pengujian hipotesis penelitian. Pada

bagian proses penelitian ini dilakukan sebelum melakukan pengumpulan

data, seperti mendefinisikan variabel penelitian, menyusun alat

pengumpulan data, dan lain sebagainya. Bagian proses ini, dapat juga

dinamakan lahan interpretasi data. Maka dari hal tersebut, akan muncul

kesimpulan dari penelitian yang merupakan pengujian hipotesis itu sendiri.

Pada tahap penarikan kesimpulan atas dasar hasil analisis data dan

pengujian hipotesis merupakan sistem output penelitian. Adanya output ini

(33)

yang disusun oleh peneliti sama dengan hasil penelitian ataupun

sebaliknya. Pada bagian ini juga akan menghasilkan berbagai macam

rekomendasi atau feedback yang pada akhirnya nanti akan digunakan

untuk kepentingan beberapa pihak, baik untuk kepentingan penelitian

kembali atau dapat juga dimanfaatkan untuk keperluan lainnya.

C. METODE PENELITIAN

Metode merupakan cara utama yang digunakan untuk mencapai

tujuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

deskriptif. Metode deskriptif merupakan metode penelitian yang

digunakan untuk menggambarkan masalah yang terjadi pada masa

sekarang, sebagaimana yang dikemukakan Muhammad Ali (1999) dalam

Sugiyono 2010:120) bahwa : “metode deskriptif digunakan untuk

berupaya memecahkan atau menjawab permasalahan yang dihadapi pada

situasi sekarang”.

Menurut Sukardi (2004:14) metode penelitian deskriptif adalah

penelitian yang berusaha menggambarkan kegiatan penelitian. Penelitian

deskriptif ini juga disebut dengan penelitian pra eksperimen karena dalam

penelitian ini dilakukan eksplorasi, menggambarkan, dengan tujuan untuk

dapat menerangkan dan memprediksi terhadap suatu gejala yang berlaku

atas dasar data yang diperoleh di lapangan. Penelitian deskriptif ini hanya

berusaha menggambarkan secara jelas dan sekuensial terhadap pertanyaan

penelitian yang telah ditentukan sebelum para peneliti terjun ke lapangan

dan mereka tidak menggunakan hipotesis sebagai petunjuk arah dalam

penelitian.

Metode penelitian merupakan suatu cara yang digunakan dalam

mengumpulkan serta mengolah data-data yang diperlukan dalam mencapai

(34)

Pada dasarnya metode penelitian merupakan suatu strategi yang

dilakukan untuk mencapai tujuan penelitian atau menjawab serangkaian

permasalahan yang dirumuskan, dengan mengumpulkan berbagai data

yang relevan untuk kemudian dianalisis sehingga menghasilkan suatu

fakta atau informasi yang bermanfaat. Adapun metode yang digunakan

dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan

kuantitatif. Muhamad Nazir (1999: 54), mengemukakan bahwa :

Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang, dan tujuan dari metode deskriptif ini adalah untuk membantu deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

Sementara, yang dimaksud dengan pendekatan kuantitatif

dikemukakan oleh Arikunto (2002: 86) yaitu : “Pendekatan yang

digunakan oleh peneliti dalam meneliti dengan cara mengukur

indikator-indikator variabel sehingga diperoleh gambaran umum dan kesimpulan

masalah penelitian”.

Dari penjabaran diatas maka dalam penelitian ini peneliti

menggunakan metode penelitian deskriptif untuk menggambarkan

masing-masing variabel yang akan diteliti secara empiris, yaitu gambaran empiris

pada variabel X (kecerdasan emosional) dan gambaran empiris pada

variabel Y (kinerja guru).

Selain itu, dalam menggunakan metode penelitian deskriptif ini

dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :

1. Melakukan studi kepustakaan (mencari sumber referensi yang

berkaitan dengan penelitian yang dilakukan).

2. Memusatkan diri pada pemecahan masalah yang ada pada

kondisi saat ini.

(35)

Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu “Pengaruh

Kecerdasan Emosional Terhadap Kinerja Guru”. Persoalan pertama yang

harus diketahui adalah gambaran tentang kecerdasan emosional, lalu yang

kedua adalah gambaran tentang kinerja guru. Apabila telah diperoleh hasil

gambaran dari masing-masing variabel, maka selanjutnya dipakai untuk

menjawab pertanyaan penelitian yang berikutnya, yaitu apakah terdapat

pengaruh antara kecerdasan emosional terhadap kinerja guru. Untuk dapat

mengetahui hal tersebut, maka metode yang kedua menggunakan metode

korelasional, yang dipakai untuk menguji validitas instrumen penelitian.

Adapun metode lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

dokumentasi. Dalam metode dokumentasi ini berupa studi kepustakaan

dengan mengkaji, mendalami, menelaah, mencermati, serta

mengidentifikasi keseluruhan literatur yang dianggap relevan dengan

objek penelitian. (Arikunto, 2002:135 ; Hasan, 2003:44).

Adapun pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini

menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu penedekatan yang dilakukan

dengan proses pencatatan dan menganalisis semua

perhitungan-perhitungan statistik. Menurut Sugiyono (2006:16-17) mengungkapkan

bahwa pendekatan kuantitatif digunakan astas dasar :

Asumsi pertama bahwa objek/fenomena dapat diklasifikasikan menurut sifat, jenis, stuktur, bentuk, warna dan sebagainya... Asumsi ilmu yang kedua adalah determinisme (hubungan sebab-akibat). Asumsi ini menyatakan bahwa setiap geajala ada yang menyebabkan... Asumsi ilmu yang ketiga, adalah bahwa suatu gejala tidak akan mengalami perubahan dalam waktu tertentu.

Pada proses penelitiannya melalui instrumen yang dibuat sebelum

melakukan penelitian. Dalam proses pengolahan datanya pun

menggunakan rumus-rumus statistik dengan tujuan untuk menguji

(36)

D. DEFINISI OPERASIONAL

Definisi operasional merupakan bagian yang mendifinisikan sebuah

konsep/variabel agar dapat diukur, dengan cara melihat pada dimensi

(indikator) dari suatu konsep/variabel. Dimensi (indikator dapat berupa :

perilaku, aspek, atau sifat/karakteristik. (Sekaran,2006:97).

Definisi operasional menggambarkan secara spesifik

indikator-indikator pada variabel yang diteliti berdasarkan pada konsep penelitian

yang dibangun dari teori-teori yang relevan dengan variabel yang diteliti,

karena konsep penelitian merupakan kerangka acuan dalam menentukan

konsep operasional atau definisi operasional.

Komaruddin (1986) dalam Noor (2012 :57) mengemukakan bahwa :

“Definisi operasional merupakan pengertian yang lengkap tentang suatu

variabel yang mencakup semua unsur yang menjadi ciri utama variabel

itu”. Sementara pendapat lain mengenai definisi operasional dikemukakan oleh Nazir (1999:152), yaitu sebagai berikut :

Definisi operasional adalah definisi yang diberikan kepada suatu variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti, atau menspesifikasikan kegiatan, ataupuan memberikan suatu operasionalisasi yang diperlukan untuk mengukur konstrak atau variabel tertentu.

Adapun definisi operasional dari setiap masing-masing variabel dalam

penelitian ini, sebagai berikut :

1. Pengaruh

Menurut Poerwadinata (1993:137) pengaruh merupakan suatu

daya yang timbul dari sesuatu (orang, benda, dan lain sebagainya)

yang berkuasa atau memiliki kekuatan (ghaib). Pada penelitian ini

kecerdasan emosional sebagai variabel X (variabel bebas) dan kinerja

guru sebagai variabel Y (Variabel Terikat). Agar mengetahui seberapa

(37)

penelitian nanti akan menggunakan rumus korelasi, uji signifikansi, uji

korelasi determinasi, dan regresi.

2. Kecerdasan Emosional

Begitu banyaknya para ahli yang mendefinisikan mengenai

kecerdasan emosional. Hal tersebut mengindikasikan bahwasanya

begitu luas makna kecerdasan emosional. Akan tetapi, pada dasarnya

terdapat satu kesamaan bahwa dalam kecerdasan emosional mencakup

kemampuan pribadi (self awareness) dan kecakapan sosial

(social-awareness) (Stein and Book, 2002:30 ; Goleman, 2005:45 ; Goleman,

2005:512).

Dalam peneilitian ini, kecerdasan emosional merupakan

kemampuan untuk mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang

lain, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan memotivasi orang

lain, dan kemampuan untuk mengelola emosi diri sendiri dan dalam

menjalani hubungan dengan orang lain. Didalam

kepribadianmasing-masing individu memiliki karakteristik kecerdasan emosional dengan

ciri sebagai berikut :

1. Kecakapan pribadi, yang terdiri dari :

a. Kesadaran diri, yang memiliki indikator : kesadaran

emosi, penilaian pribadi, dan percaya diri;

b. Pengaturan diri, yang memiliki indikator : pengendalian

diri, sifat dapat dipercaya, kewaspadaan, adaptabilitas,

inovasi, dan sikap asertif;

c. Motivasi, yang memiliki indikator : dorongan

berprestasi, komitmen, inisiatif, optimisme, dan

kebahagiaan.

(38)

a. Empati, yang memiliki indikator : memahami orang lain,

orientasi pelayanan, mengembangkan orang lain,

mengatasi keragaman, dan kesadaran politis;

b. Keterampilan sosial, yang memiliki indikator : pengaruh,

komunikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan,

pengikat jaringan, manajemen konflik, kolaborasi dan

kooperasi, dan kemampuan tim.

Berdasarkan hal tersebut, maka kecerdasan emosional

merupakan totalitas dari penilaian yang dilakukan oleh para guru

terhadap dirinya sendiri sesuai dengan indikator-indikator tersebut.

3. Kinerja Guru

Guru sebagai tenaga kependidikan merupakan salah satu faktor

penentu keberhasilan tujuan pendidikan, karena guru yang langsung

bersinggungan dengan peserta didik, untuk memberikan bimbingan

yang akan menghasilkan tamatan yang diharapkan. Guru merupakan

sumber daya manusa yang menjadi perencana, pelaku, dan penentu

tercapainya tujuan pendidikan.

Untuk itu dalam menunjang kegiatan guru diperlukan iklim

sekolah yang kondusif dan hubungan yang baik antar unsur-unsur yang

ada disekolah antara lain kepala sekolah, guru, tenaga administrasi,

dan siswa. Serta hubungan baik antar unsur-unsur yang ada disekolah

dengan orangtua siswa atau masyarakat.

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja guru adalah

kecerdasan emosional. Oleh karena itu, upaya-upaya yang dilakukan

untuk meningkatkan kinerja guru adalah dengan meningkatkan faktor

kecakapan pribadi dalam kecerdasan emosional yang dimilikinya.

(39)

pendidikan untuk menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang

mampu bersaing di era globalisasi yag semakin ketat.

Kinerja dapat diartikan sebagai hasil kerja secara kualitas dan

kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan

tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

(Mangkunegara, 2006:9). Namun, yang dimaksud dalam penelitian ini

adalah totalitas penilaian terhadap kinerja guru yang ditampilkan

dalam melaksanakan tugas yang sesuai dengan sikap, pengetahuan,

keterampilan dan inisiatif guru, yang meliputi kemampuan penguasaan

akademik, kemampuan profesional pribadi, dan kemampuan sosial

guru.

E. INSTRUMEN PENELITIAN

Akdon (2005: 130), mengemukakan bahwa : “Instrumen penelitian

digunakan untuk mengukur nilai variabel yang akan diteliti”. Pendapat

lain, Sugiyono (2006: 119) mengemukakan bahwa : “Instrumen penelitian

adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun

sosial”. Instrumen penelitian digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan, yang secara spesifik berhubungan dengan variabel penelitian.

Alat ukur dalam instrumen harus berdasarkan pada karakteristik sumber

data dari variable yang diteliti, sehingga mempermudah peneliti dalam

memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan.

Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah angket.

“Angket atau kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang

digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan

tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui” (Arikunto, 2002: 151).

Selain itu, Akdon (2005: 132), mendefinisikan “Angket berstruktur

(angket tertutup) adalah angket yang disajikan sedemikian rupa sehingga

responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan

(40)

checklist (√)”. Nana Syaodih (2009: 210) mengemukakan bahwa : “Angket atau kuesioner adalah suatu teknik atau cara pengumpulan data

secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan

responden)”. Angket tidak selalu berbentuk pertanyaan, melainkan dapat pula berupa pernyataan. Jenis angket yang digunakan adalah angket

bersruktur atau tertutup. Pendapat lain, Burhan Bungin (2009) dalam

Sugiyono (2006:123), mengemukakan bahwa :

Angket langsung tertutup adalah angket yang dirancang sedemikian rupa untuk merekam data tentang keadaan yang dialami oleh responden sendiri, kemudian semua alternatif jawaban yang harus dijawab oleh responden tertera dalam angket tersebut.

Angket yang digunakan dalam penelitian untuk meminta

keterangan atau informasi kepada responden yang berhubungan dengan

variabel yang diteliti. Dengan demikian, variabel serta sumber data

penelitian harus jelas, sehingga instrumen yang dirumuskan sesuai dengan

karakteristik sumber data.

1. Variabel Penelitian dan Sumber Data Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel X

(Kecerdasan Emosional) dan variabel Y (Kinerja Guru). Adapaun yang

menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah seluruh guru SMA

Laboratorium Percontohan UPI Bandung yang berada di dalam Kampus

Bumi Siliwangi Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Guru dipilih

sebagai responden yang akan memberikan gambaran terkait dengan

variabel-variabel yang akan diteliti.

2. Teknik Pengukuran Variabel Penelitian

Pada teknik pengukuran masing-masing variabel, disusun format

instrumen penelitian yang sesuai dengan variabel yang diteliti, yaitu

format isntrumen variabel X dan variabel Y. Dalam teknik pengukuran

(41)

(2010:134) mengungkapkan bahwa : “Skala Likert digunakan utnuk

mengukur pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang

tentang fenomena sosial”.

Dalam tahap pengukuran dengan menggunakan Skala Likert,

masing-masing variabel penelitian dijabarkan menjadi indikator yang akan

dijadikan titik tolak dalam merumuskan item-item pertanyaan atau

penyataan. Skala Likert yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah

lima gradasi atau skala yang masing-masing memiliki skor untuk

kepentingan analisis kuantitatif. Adapun analisis jawaban yang digunakan

dalam Skala Likert terdapat dalam tabel dibawah ini, yaitu sebagai berikut:

Tabel 3.2 Tabel Skala Likert

Alternatif Jawaban Variabel

Bobot

Selalu (S) 5

Sering (SR) 4

Kadang-Kadang (KD) 3

Jarang (J) 2

Tidak Pernah (TP) 1

3. Kisi-kisi Instrumen

Dalam kisi-kisi instrumen penelitian sanagat dibutuhkan untuk

mempermudah penyusunan isntrumen penelitian, karena akan terlihat

dimensi dan indikator dari masing-masing variabel yang selanjutnya

dijabarkan dalam bentuk pertanyaan aau pernyataan sebagai instrumen,

yaitu kisi-kisi instrumen variabel X dan kisi-kisi instrumen variabel Y,

(42)

Tabel 3.3

Kisi-kisi Instrumen Penelitian Variabel X (Kecerdasan Emosional)

Variabel Dimensi Indikator No. item

instrumen

Kecerdasan Emosional (Variabel X)

Kecakapan

Pribadi

Kesadaran diri 1,2,3,4,6

Pengaturan diri 5,7,8,9,10,11

Motivasi 12,13,14,17,28,19

Kecakapan

Sosial

(43)

Keterampilan Sosial 21,22,23

Tabel 3.4

Kisi-kisi Instrumen Penelitian Variabel Y (Kinerja Guru)

Variabel Dimensi Indikator No. item

Instrumen

Kinerja Guru

Kompetensi

Akademik

Wawasan

Kependidikan

1

Penguasaan Bahan

Ajar

2

(44)

(Variabel Y)

Kompetensi

Pribadi

Keseimbangan emosi 4

Adil 5

Antusias 6

Sabar 7

Realistis 8

Kompetensi

Profesional

Merencanakan

Pembelajaran

9,10,11

Melaksanakan

Pembelajaran

12,13,14

Mengevaluasi

Pembelajaran

15

Menindaklanjuti Hasil

Evaluasi Pembelajaran

(45)

Memberikan

Bimbingan dan

Konseling

19

Mengembangkan

Profesi

20,21,22

Kompetensi

Sosial

Interaksi di dalam

Lingkungan Sekolah

23,24,25

Interaksi di luar

Lingkungan Sekolah

26

F. PROSES PENGEMBANGAN INSTRUMEN

Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap

fenomena sosial maupun alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih

tepat kalau dinamakan membuat laporan dari pada melakukan penelitian.

Namun demikian dalam skala yang paling rendah laporan juga dapat

dinyatakan sebagai bentuk penelitian (Emory, 1985:90).

Angket sebagai instrumen dalam penelitian ini tidak langsung

(46)

terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat akurasinya terhadap responden

yang memiliki karakteristik sama dengan objek penelitian yang digunakan.

Kegiatan ini dilakukan untuk menghindari kegagalan total dalam

pengumpulan data, karena instrumen yang telah siap untuk digunakan

namun belum diujicobakan seringkali memiliki beberapa kelemahan, baik

dari segi bahasa, dimensi, dan indikator dari masing-masing variabel,

maupun pengukurannya. Selain itu, yang terpenting dalam uji coba angket

ini adalah untuk memberi gambaran tingkat validitas dan reabilitas dari

instrumen tersebut.

Instrumen yang diperlukan adalah untuk mengungkapkan dua

variabel ; Kecerdasan Emosional dan Kinerja Guru dari populasi yang

telah ditentukan. Sumber datanya adalah para guru. Bentuk instrumennya

adalah checklist. Untuk itu dapat digunakan sebagai pedoman observasi,

wawancara, maupun sebagai kuesioner.

1. UJI VALIDITAS

Sugiyono (2010:363), mengemukakan bahwa : “Validitas

merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada ibejek

penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti”.

Berdasarkan penelitian tersebut menunjukkan bahwa adanya kesamaan

antara data yang dikumpulkan dengan kondisi atau data objek yang

sesungguhnya sehingga dapat dikatakan valid (sahih). Sementara

pendapat lain, Suharsmi Arikunto (2002:168), memaparkan bahwa :

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. Sebuah instrumen dapat dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauhmana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud.

Gambar

Tabel 3.1
Gambar 3.1
Tabel Skala Likert
Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Penelitian
+6

Referensi

Dokumen terkait

Maksud penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai kecerdasan emosional guru SMP ”X” Bandung, serta bertujuan untuk mengetahui secara lebih rinci dan

Studi Komparatif Kompetensi Interpersonal Remaja Pengguna Dan Bukan Pengguna Smartphone Di SMA Laboratorium Percontohan UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Pada penelitian ini telah dideskripsikan mengenai gambaran citra diri siswa kelas X SMA Laboraatorium Percontohan UPI Bandung, hasil dari penelitian tersebut telah

Penelitian ini berjudul “ Pembelajaran Tari Ayam Berbasis Pembelajaran Kreatif Pada Siswa Kelas VI di SD Laboratorium Percontohan UPI Bandung ”. Ketertarikan peneliti

Sabada ngayakeun panalungtikan sarta tina pangalaman sacara langsung nganalisis naskah binatara siswa kelas X SMA Laboratorium Percontohan UPI, panulis baris nepikeun

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Ilmu Pendidikan. © Ressa Oktrianti 2014 Universitas

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU DI SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI BANDUNG.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

iii LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI Skripsi yang berjudul: PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KINERJA GURU PADA SMA KATOLIK SANTO ALBERTUS MALANG Yang dipersiapkan dan disusun