• Tidak ada hasil yang ditemukan

Semarang, undip.ac.id Pengetahuan tentang sel punca sudah lama dikenal di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Semarang, undip.ac.id Pengetahuan tentang sel punca sudah lama dikenal di"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Semarang, undip.ac.id Pengetahuan tentang sel punca sudah lama dikenal di

dunia biologi sel. Potensi penggunaan sel punca sangat luas, antara lain untuk memahami awal perkembangan embrio yang kompleks dan menguji efek toksisitas dan efek teratogenik dari berbagai obat.

Namun, potensi yang lebih besar lagi dan ditunggu – tunggu oleh umat manusia adalah teknik pembiakan pembiakan sel punca dan  penggunaann ya untuk terapi klonasi

(therapeutical cloning ).

Adanya berita dari media massa mengenai keberhasilan pengobatan sel punca dan banyak bermunculan bank sel punca

(umbilical cord banking

), baik yang dimiliki swasta maupun milik pemerintah telah mendorong minat masyarakat untuk memiliki sel punca sendiri yang disimpan di bank sel

punca. Laporan para peneliti mengenai keberhasilan mendeferensiasi sel punca

 

menjadi sel-sel dengan fungsi khusus seperti misalnya sel saraf, sel jantung, dan sebagainya dapat menimbulkan harapan masyarakat untuk menyimpan sel punca -nya antara lain yang berasal dari darah tali pusat.

Bidang sel punca  mengalami kemajuan amat pesat akhir-akhir ini, bila pada awalnya hanya digunakan untuk transplantasi sumsum tulang seperti yang pernah dilakukan oleh Fakutas Kedokteran Undip yang bekerja sama

dengan Rumah Sakit Telogorejo dan Rumah sakit Dr. Kariadi pada tahun 1987, terhadap penderita Leukemia. Saat ini berbagai penelitian telah mengusulkan penggunaannya untuk mengobati beberapa penyakit non-degeneratif (misalnya: leukemia) maupun penyakit degeneratif

(misalnya: penyakit jantung koroner, diabetes melitus, Alz heimer dan Parkinson) yang dalam tahap penelitian telah terbukti berhasil.

(2)

Di luar negeri pemanfaatan sel punca sudah sering dilakukan. Untuk itu, di Indonesia saat ini sudah banyak diterima tawaran untuk menjalankan

praktek penggunaan sel punca untuk terapi dari para ahli luar negeri. Juga peneliti di Indonesia sudah mulai melakukan berbagai penelitian sel punca. Saat ini, justru penelitian ini lebih dititikberatkan ke aspek hilirnya.

Di Indonesia penelitian ini dimulai oleh para industriwan yang

mengembangkan pemanfaatan sel punca yang berada di tali pusat ( umbilical cord ). Dari pandangan etika para budayawan dan ahli agama, terapi klonasi dianggap bisa dilaksanakan karena mempunyai manfaat yang sangat besar dibandingkan dengan mudharatnya. Apalagi bila digunakan dari sel bukan embrio. Masalah etikanya, dalam arti kesesuaian atau pengabaian norma atau prinsip bioetika yang sudah disepakati, dapat disetujui selama dilakukan dengan baik dan benar oleh para ahli yang sesuai dengan dukungan infrastruktur penelitian dan laboratorium yang layak.  

Definisi dan Klasifikasi Sel punca Sel punca adalah sekelompok sel tubuh manusia dengan kemampuan istimewa yang mempunyai tiga ciri utama, yaitu sel yang mampu membelah diri sendiri (self regenerate/self renewal) secara terus – menerus, spesialisasi pembelahannya belum terarah dan dengan induksi yang spesifik, sel punca dapat membelah menjadi sel yang diinginkan seperti sel jantung, sel syaraf, sel otot dsb.  

Klasifikasi sel punca  berdasarkan sumber Sel punca Embrionik Diambil dari inner cell mass suatu blastocyst (embrio yang terdiri dari 50 ­- 150 sel,

kira-kira pada hari ke-5 pasca pembuahan). Embryonic stem  cells biasanya didapatkan dari sisa embrio yang tidak dipakai pada IVF (in vitro

fertilization). Namun, saat ini telah dikembangkan teknik sel punca  sejenis sel yang unspesialized (blank) yang mempunyai kemampuan yang unik  yaitu :  ”self renewal” tetap menjadi sel punca  , dan /atau berdiferensiasi

(3)

menjadi berbagai jenis sel “khusus” (specialized), misalnya sel   darah , otot dll.

Sel punca Non Embrionik ( adult stem cells) Berasal dari darah tali pusat, sumsum tulang, darah tepi dan berbagai jaringan lain. Sel punca  darah tali pusat diambil dari darah plasenta dan tali pusat segera setelah bayi lahir. Sel punca  dari darah tali pusat merupakan jenis hematopoietic sel punca , dan ada yang menggolongkan jenis sel punca  ini ke dalam adult sel punca .  

Klasifikasi sel stem  berdasarkan potensi atau kemampuan

berdiferensiasi Totipoten bila sel dapat berdiferensiasi menjadi semua jenis sel, contohnya adalah zigot (telur yang telah dibuahi). Pluripoten sel dapat berdiferensiasi menjadi 3 lapisan germinal: ektoderm, mesoderm, dan endoderm, tapi tidak dapat menjadi jaringan ekstra embrionik seperti plasenta dan tali pusat, contohnya adalah embryonic stem cells.

Multipoten sel dapat berdiferensiasi menjadi banyak jenis sel, misalnya: hematopoietic stem cells.  Unipoten sel hanya dapat menghasilkan 1 jenis sel. Namun, berbeda dengan non-sel stem , sel stem  unipoten mempunyai sifat dapat memperbaharui atau meregenerasi diri

(self-regenerate/self-renew)  Penelitian dan pelayanan Melihat kaitan yang erat antara penelitian sel punca dan pemanfaatannya di bidang pelayanan medis, maka penyelenggaraan pelayanan medis sel punca  harus berada di fasilitas yang memiliki fungsi penelitian yang berkesinambungan dan

pelayanan medis.

Rumah Sakit Pendidikan merupakan fasilitas yang tepat untuk

(4)

selain mempunyai fungsi pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pelatihan juga melaksanakan penelitian, pengembangan dan penapisan teknologi bidang kesehatan. Bagi Rumah Sakit, pelayanan medis sel punca dapat menjadi sebuah layanan unggulan setara dengan RS di negara maju lainnya ( World Class ).Kenyataan-kenyataan ini menunjukkan bahwa berbagai

kegiatan sel punca  betapapun dapat mendatangkan berbagai manfaat bagi manusia, namun bila tidak ditata dengan cermat bisa mengakibatkan

kerugian bagi masyarakat dan  atau pemberi pelayanan. 

Hal tersebut menunjukkan pentingnya peraturan dan standarisasi berbagai kegiatan yang menyangkut sel punca, yang mencakup aspek mutu

pelayanan, aspek sumber daya manusia, aspek fasilitas, sarana serta prasarana, aspek pembiayaan, aspek administrasi manajemen, dan aspek etik dan medikolegal.Peraturan dan pengorganisasian pelayanan sel punca saat ini masih digodok oleh pemerintah. Instalasi Sel Punca adalah unit

pelayanan non struktural yang menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan, pengolahan, pendidikan, dan penelitian sel punca  di Rumah Sakit yang akan menerima permintaan dari para spesialis yang memiliki kompetensi yang akan melakukan pelayanan.

Rumah Sakit  yang diperbolehkan melakukan terapi sel punca  adalah RS Kelas A dan B yang memiliki dokter spesialis dengan keahlian terapi sel punca  di bidangnya. Bank Sel Punca adalah unit di dalam rumah sakit atau di luar rumah sakit yang memenuhi persyaratan untuk menerima, melakukan seleksi, menyimpan,  mendistribusikan dan atau memusnahkan sesuai

dengan prosedur standar yang  ditetapkan oleh instalasi sel punca. Tempat pengambilan dan penyimpanan sel punca, dapat dilakukan di Rumah Sakit minimal Kelas B atau setara.

Sel punca yang berasal dari manusia harus diambil atas persetujuan donor setelah diberikan penjelasan yang cukup dan adekuat, dengan

(5)

memperhatikan kesehatan dan keselamatan donor, dan tanpa kompensasi finansialPenelitian, pengembangan dan pemanfaatan sel punca  sangat penting untuk dikembangkan di Indonesia beserta berbagai kebijakan dan pengaturan hukumnya yang bersumber dari kaidah bioetika universal yang secara internasional sudah diterima. Pengembangan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia di Indonesia khususnya di laboratorium harus

diperkuat agar bangsa Indonesia dapat menguasai dan berada sejajar dengan bangsa lain dalam ilmu dan teknologi sel punca.

Observasi sel selama penyimpanan harus sesuai standar untuk mengetahui adanya perubahan mutasi yang berkaitan dengan efektivitas

terapiPenggunaan sel punca  non embrionik dapat dilakukan di Indonesia baik oleh peneliti dalam negeri maupun peneliti atau penyedia jasa sel punca  dari luar negeri, sepanjang memenuhi standar/pedoman dan berbagai pengaturan / perundangan di Indonesia. Sel punca  embrionik (Reproductive stem cells) yang pluripoten dan totipoten masih dilarang karena mengganggu martabat manusia. 

Ada 3 jenis pengobatan / pencangkokan sel punca, yaitu autologous (stem cell diperoleh dari pasien sendiri), allogeneic (sel punca dari orang lain), dan xenotransplantasi (sel punca dari makhluk lain/ binatang). Pengobatan sel punca autologous kelebihannya adalah tidak ada risiko penolakan, tetapi bila akan diberikan pada penderita keganasan maka sel tumornya harus dibasmi terlebih dahulu kemudian sel punca dimasukkan kembali. 

Pengobatan sel punca allogeneic, pasien akan lebih nyaman karena tidak diambil sel puncanya dari tulang pinggul atau tulang perisai dada, namun harus mengatasi kemungkinan risiko penolakan terhadap sel punca dari orang lain tersebut.

Xenotranplantasi, adalah terapi sel dari binatang yang masih menimbulkan perdebatan di Indonesia. Sel dari binatang yang dipakai mungkin bukan sel

(6)

punca yang mampu terus menerus berkembang biak dan membentuk sel khusus sehingga terapi sel dari binatang  tidak bisa disebut sebagai

pengobatan sel punca tapi pengobatan sel(cell-therapy).

Efek samping pengobatan sel punca harus diwaspadai karena mungkin  bisa terjadi teratoma atau sel kanker, apalagi bila yang diberikan sel

binatang karena mungkin bisa terjadi ikatan (chimeric) antara sel manusia dan sel binatang membentuk sel baru yang mempunyai fungsi yang

berbeda. Pengobatan sel punca dewasa dari manusia hingga sekarang belum dilaporkan terbentuknya teratoma tersebut. Sampai saat ini belum ada ijin dari pemerintah untuk pelaksanaan Xenotransplant. 

Penggunaan sel punca dari binatang buatan luar negeri (komersial) ke Indonesia harus melalui ketentuan kefarmasian yaitu pabrik yang

menghasilkan sel punca tersebut mempunyai lisensi dinegerinya dan produknya terdaftar atau ada ijin dari badan Pengawasan Obat dan

Makanan (POM) untuk menggunakan produk tersebut. Dari diskusi panel dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada acara Terapi Stem Sel di

Indonesia : Realitas Baru Dan Prospek Perkembangannya PB IDI tanggal 24 Mei 2008 dinyatakan bahwa Transplantasi Xeno dari hewan ke manusia masih memerlukan penelitian lebih lanjut dan lebih lengkap, sehingga  IDI berpendapat bahwa aplikasi klinis  sel punca transplantasi xeno masih belum boleh dilakukan di Indonesia, namun memperbolehkan untuk

kepentingan riset dasar ataupun aplikatif di bidang sel punca transplantasi xeno dengan memperhatikan aspek menjaga harkat dan martabat manusia.

Pelaksanaan pelayanan sel punca hanya dapat dilakukankan untuk penyakit-penyakit yang sudah terbukti klinis (evidence based) dapat disembuhkan dengan transplantasi sel puncaPenggunaan sel punca dewasa untuk tujuan terapeutik harus ditujukan kepada penyakit-penyakit yang telah diketahui pasti penyebabnya sebagai kelainan genetika, serta

(7)

telah diperhitungkan secara matang tidak akan mengubah sifat-sifat baik manusia yang diwariskan ke keturunannya.

Penggunaan sel punca tersebut juga harus memperhatikan seluruh hak-hak pasien, termasuk prosedur persetujuan pasien (informed consent) serta menyediakan kompensasi minimal bagi klien pasien yang mengalami kejadian buruk yang tidak diinginkan. Pelayanan sel punca juga harus mempertimbangkan agar pelayanan dapat diakses oleh sebagian terbesar masyarakat yang memerlukan secara murah, tidak diskriminatif, tidak

menimbulkan stigmatisasi dan bukan ditujukan semata-mata untuk eugenika sekelompok suku bangsa tertentu.Riset terapan penggunaan sel punca

harus mempertimbangkan tumbuhnya rasa tanggung jawab terhadap kemanusiaan dan tidak boleh dilakukan apabila akibat masa depannya terhadap martabat kemanusiaan tidak teramalkan.

Setiap ilmuwan harus mematuhi standar metodologi dan kaidah praktek terbaik dan memperhatikan adanya transfer teknologi dari negara maju untuk memberdayakan negara terbelakang, menghormati hak-hak asasi manusia (HAM) rakyat negara terbelakang tersebut secara demokratis, dan tidak semata-mata bertujuan komersial. Menyongsong perkembangan riset dan pelayanan pengobatan sel punca, pada tanggal 28-30 November

Universitas Diponegoro akan menyelenggarakan International Seminar dan Workshop dengan mengundang para pakar dari Australia dan Belanda serta dari Malaysia yang sudah berpengalaman dalam bidang ini. Sultana MH FaradzDosen FK Undip/ Anggota Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI)

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur tercurahkan kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam karena berkat rahmat serta ridloNya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “STUDI

Pendapat serupa di sampai kan oleh Bimo Walgito 11 studi kasus merupakan suatu metode untuk menyelidiki atau mempelajari suatu kejadian mengenai perseorangan (riwayat

Kepuasan kerja adalah suatu keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan menurut persepsi dan pandangan karyawan. Yang meliputi beberapa faktor yaitu

perubahan harga rata-rata tertinggi antar waktu dari tahun 2002-2010 untuk komoditi pangan pokok adalah gula pasir, sedangkan rasio perubahan harga rata- rata

Data pada Tabel 9 menunjukkan bahwa jarak pagar genotipe Medan I-5-1, Dompu, IP-2P- 3-4-1, Sulawesi, dan Bima M tergolong toleran tanah masam karena pada pH 5.0

Menurut Pendit (1999) yang dikutip oleh Andiani (2014:7) dalam buku berjudul Pengelolaan Wisata Konvensi bahwa Usaha jasa konvensi, perjalanan insentif, dan

Tinjauan Manajemen: capaian dari sasaran mutu belum ditambahkan, nilai IKM belum dikonversi dalam bentuk angka (bisa mengacu pada laporan IKM UB), evaluasi kinerja

Tujuan yang diharapkan terda- pat beberapa kendala sehingga belum dapat terwujud sepenuhnya, adapun kendala yang sering terjadi adalah pendataan dan pencatatan yang