• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

PENELITIAN TUGAS AKHIR

PENGARUH PEMBERIAN DOSIS Rhizobium sp TERHADAP PERTUMBUHAN NODULASI Mucuna bracteata

WILLIAM JUNI FERSON SILALAHI 11011166

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERKEBUNAN

SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN AGROBISNIS PERKEBUNAN

MEDAN 2016

(2)

LAPORAN

PENELITIAN TUGAS AKHIR

Diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan Diploma IV Pada Program Studi Budidaya Perkebunan

Sekolah Tinggi Ilmu Pedidikan Agribisnis Perkebuan

PENGARUH PEMBERIAN DOSIS Rhizobium sp TERHADAP PERTUMBUHAN NODULASI Mucuna bracteata

WILLIAM JUNI FERSON SILALAHI 11011166

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERKEBUNAN

SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN AGROBISNIS PERKEBUNAN

MEDAN 2016

(3)

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR

Nama : WILLIAM JUNI FERSON SILALAHI

Nomor Induk Mahasiswa : 11011166

Program Studi : BUDIDAYA PERKEBUNAN

JudulTugasAkhir : PENGARUH PEMBERIAN DOSIS Rhizobium sp TERHADAP PERTUMBUHAN NODULASI Mucuna bracteata

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Mardiana Wahyuni, M.P. Dr. Mariani Sembiring, S.P., M.P.

Mengetahui,

Ketua Ka, PS BDP

(4)

Pembimbing Tugas Akhir : 1. Ir. Mardiana Wahyuni, M.P. 2. Dr. Mariani Sembiring S.P., M.P.

Tim Penguji : 1. Ir. P. Sembiring

2. Ir. W.A. Tambunan, M.P.

(5)

RINGKASAN

WILLIAM JUNI FERSON SILALAHI. PENGARUH PEMBERIAN Rhizobium s. TERHADAP PERTUMBUHAN DAN NODULASI Mucuna bracteata . Tugas akhir mahasiswa STIP-AP program studi budidaya perkebunan dibimbing oleh Ir. Mardiana Wahyuni, M.P. dan Dr. Mariani Sembiring, S.P., M.P.

Mucuna bracteata merupakan tanaman penutup tanah yang banyak dipergunakan

oleh perkebunan kelapa sawit dan karet. Keunggulan Mucuna bracteata adalah pertumbuhannya cepat, menghasilkan biomassa yang tinggi, menambat N dari udara, toleran terhadap serangan hama penyakit dan tidak disukai oleh ternak. Aktifitas penambatan Nitrogen dari udara oleh bakteri Rhizobium sp ditandai oleh terbentuknya bintil akar. Di beberapa lahan perkebunan tanaman Mucuna

bracteata lambat membentuk bintil akar, bahkan bintil terbentuk 1-2 tahun setelah

penanaman. Dengan adanya bakteri Rhizobium sp. dapat mempercepat pembentukan bintil akar pada Mucuna bracteata. Berdasarkan hal ini dilakukan penelitian efektivitas nodulasi bakteri Rhizobium sp terhadap pembentukan bintil akar dan pertumbuhan tanaman Mucuna bracteata.

Penelitian dilaksanakan di areal pembibitan STIP-AP Medan. Waktu penelitian 5 bulan, dari bulan Februari-Juli 2017. Penelitian ini menggunakan rancangan factorial 4x4 dengan ulangan 4x. Pengujian parameter disusun pada daftar sidik ragam dan dilakukan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf 5% dan 1%.

Pengamatan panjang sulur hasil uji statistik menunjukkan tidak nyata terhadap panjang sulur, dan jumlah daun Mucuna bracteata. Perlakuan R3 (12 tetes

Rhizobium sp). Dengan panjang sulur 333.1 cm dan jumlah daun 25.6 helai. Sama

seperti jumlah dan berat bintil akar, uji statistik menunjukkan berpengaruh tidak nyata terhadap bintil akar Mucuna bracteata. Perlakuan R4 (18 tetes Rhizobium

sp) rata- rata jumlah bintil akar 113.25 butir dan yang terendah adalah perlakuan

R0 ( tanpa Rhizobium sp ) dengan jumlah 54 butir.

(6)

DAFTAR ISI

Hal

RINGKASAN ... i

DAFTAR ISI ... ii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... .. viii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1.Latar Belakang ... 1 1.2.Urgensi Penelitian ... 2 1.3.Tujuan Khusus ... 3 1.4.Target Temuan ... 3 1.5.Kontribusi Penelitian ... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1. Mucuna bracteata ... 3

2.1.1. Botani ... 3

2.1.2. Morfologi ... 3

2.2. Syarat Tumbuh Mucuna bracteata... 6

2.2.1. Iklim ... 6

2.2.2.Tanah ... 9

2.3.Pemanfaatan M.bracteata Sebagai LCC ... 8

2.3.1. Pengendalian gulma ... 10

2.3.2. Bintil Akar Yang Mampu Memfiksasi N bebas ... 11

2.4. Bakteri Rhizobium Sp ... 11

2.4.1. Penambatan Nitrogen oleh Rhizobium ... 11

2.4.2. Mekanisme Pembentukan Bintil Akar ... 13

BAB 3 METODE PENELITIAN ... 14

3.1.Tempat dan waktu penelitian ... 14

3.2.Desian dan Rancangan penelitian ... 14

3.3.Bahan dan Alat ... 15

3.4.Tahapan Penelitian ... 16

3.5. Pengamatan dan Indikator ... 17

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN... 18

4.1. Panjang Sulur ... 18

(7)

4.3. Jumlah Bintil Akar ... 22

4.4. Berat Kering Sulur dan Daun ... 23

4.5. Berat Kering dan Bintil Akar ... 25

4.6. Kadar Nitrogen Pada Daun ... 26

4.7. Hasil dan Pengamatan ... 27

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 28

5.1. Kesimpulan ... 28

5.2. Saran ... 28

DAFTAR PUSATAKA ... 29

LAMPIRAN ... 30

1. Jadwal Penelitian ... 30

2. Data Panjang Sulur Mucuna bracteata Pengamatan (4MST) ... 31

3. Data Panjang Sulur Mucuna bracteata Pengamatan (6MST) ... 32

4. Data Panjang Sulur Mucuna bracteata Pengamatan (8MST) ... 33

5. Data Panjang Sulur Mucuna bracteata Pengamatan (10MST) ... 34

6. Data Jumlah Daun Mucuna bracteata Pengamatan (4MST) ... 35

7. Data Jumlah Daun Mucuna bracteata Pengamatan (6MST) ... 36

8. Data Jumlah Daun Mucuna bracteata Pengamatan (8MST) ... 37

9. Data Jumlah Daun Mucuna bracteata Pengamatan (10MST) ... 38

10. Data Pengamatan Jumlah Bintil Akar ... 39

11. Data Pengamatan Berat Kering Sulur dan Daun ... 40

12. Data Pegamatan Berat Kering Akar dan Bintil Akar ... 41

(8)

KATA PENGHANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kasih dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir dengan sebaik mungkin.

Dengan pengetahuan dan pengalaman terbatas akhirnya penulis menyelesaikan tugas akhir ini yang diberi judul; Pengaruh Pemberian Dosis Rhizobium sp terhadap Pertumbuhan dan Nodulasi Mucuna bracteata. Yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP).

Dalam penulisan Tugas Akhir ini, banyak pihak yang telah memberikan bantuan saran/masukan secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Bapak Wagino, S.P., M.P selaku ketua STIPAP beserta staff jajarannya. 2. Bapak Guntoro, S.P., M.P selaku ketua Prodi Budidaya Perkebunan STIPAP. 3. Ibu Ir. Mardiana Wahyuni, M.P selaku Dosen Pembimbing I, dan

Ibu Dr. Mariani Sembiring, S.P., M.P selaku Dosen Pembimbing II yang telah mendukung, membimbing, mengarahkan dan memberikan masukan kepada penulis dalam menyelsaikan Tugas Akhir ini.

4. Bapak Ir. W.A Tambunan, M.P dan Bapak Ir. P. Sembiring selaku Dosen Penguji atas saran, ilmu yang membangun pola pemikiran penulis dalam menyempurnakan Tugas Akhir ini.

5. Kedua orangtua penulis yang terkasih, Bapak A. Silalahi dan Ibu T br Dabukke atas segala doa, usaha, cinta kasih, dukungan, pengorbanan, semangat yang diberikan kepada penulis hingga sampai detik ini.

6. Abangda Palko Abdul Manan Marbun SST, Daniel Siallagan SST, Fransiscus Napitupulu SST, Hendrik Ambarita SST, Raja Simbona Purba SST, Radot Tua Panjaitan SST, Yosiadi Rumapea SST yang telah memberikan semangat, doa, dukungan kepada penulis.

(9)

7. Rekan seperjuangan Team Mucuna bracteata (Ronald Octavianus Panjaitan, Frans Nico Naibaho, Atika Novianti Rajagukguk, Awal Darizki Situmorang, Vander Hizkia Sinaga, Gerry, Egi Sembiring, Gio Meilala). Dan UKM penulis di kampus PDMK STIPAP yang selalu memberikan dukungan kepada penulis saat menyelesaikan Tugas Akhir.

8. Teman-teman UKM PDMK STIPAP Medan Rudi Hasudungan Marpaung, Merenda Tua Manurung, Angelus Pacis Nababan dan adik – adik ku yang selalu mendukung.

Penulis menyadari Tugas Akhir ini belum sempurna. Semoga Tugas Akhir ini memberi manfaat untuk para pelaku dunia perkebunan kelapa sawit dan pembaca pada umumnya.

Medan, Oktober 2017

(10)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir pada tanggal 15Juni 1993 di Pematangsiantar. Anak Pertama dari 2 bersaudara dari Bapak A. Silalahi dan T br Dabukke

Penulis menyelesaikan pendidikan di SD Budi Mulia Pematangsiantar pada tahun 2004, kemudian melanjutkan ke SMP Bintang Timur Pematangsiantar pada tahun 2007, melanjutkan ke SMA Negeri 1 Pematangsiantar pada tahun 2011.

Tahun 2011 penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi llmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan dengan jurusan Budidaya Perkebunan. Pada Tahun 2013 mengikuti PKL I di PTPN IV Bandar Pasir Mandoge. Pada tahun 2015 mengikuti PKL II di Langkat Nusantara Kepong, Stabat. Serta mengikuti Program Pengabdian Masyarakat di Desa Durian Tinggung, Kecamatan STM Hilir pada tahun 2016.

(11)

DAFTAR TABEL

No. Judul Hal.

4.1 Rekapitulasi Panjang Sulur ( cm ) ... 18

4.2 Rekapitulasi Jumlah Daun ( Helai ... 20

4.3 Hasil Pengamatan Jumlah Bintil Akar ... 22

4.4 Berat Kering Sulur dan Daun ... 23

4.5 Berat Kering Akar dan Bintil Akar ... 25

4.6 Pengamatan Kadar Nitrogen ... 26

(12)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Hal.

2.1 Daun Mucuna bracteata ... 4

2.2 Batang Mucuna bracteata ... 5

2.3 Akar Mucuna bracteata ... 5

2.4 Daun Mucuna bracteata ... 6

2.5 a. Gambar Buah Mucuna bracteata, b. Gambar biji Mucuna bracteaa 6

2.6 Bintil Akar ... 13

4.1 Grafik Pertumbuhan Panjang Sulur ... 19

4.2Grafik Pertumbuhan Jumlah Daun ... 21

4.3 Grafik Jumlah Bintil Akar Mucuna bracteata ... 23

4.4 Grafik Jumlah Bintil Akar Mucuna Bracteata ... 24

4.5 Grafik Berat Kering Sulur dan Daun ( gr ) ... 25

(13)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Penutup tanah Legume Cover Crops (LCC) yaitu campuran antara Colapogonium mucunoides, Pueraria phaseoloides dan Centrosema pubescens dikenal sebagai penutup tanah yang tahan tanpa naungan, dan berdasarkan pengaruhnya terhadap kesuburan tanah ternyata kacangan penutup tanah Mucuna bracteata memenuhi syarat sebagai tanaman penutup tanah selain LCC.

Tanaman ini penghasil bahan organik yang tinggi dan akan sangat bermanfaat jika tanaman di tempat yang sering mengalami kekeringan pada areal yang rendah kandungan bahan organiknya.Pembangunan kacangan penutup tanah dilakukan untuk menanggulangi erosi permukaan tanah dan pencucian hara tanah, memperkaya bahan organik dan fiksasi nitrogen untuk memperkaya hara N tanah, memperbaiki struktur tanah, dan menekan pertumbuhan gulma.

Mucuna bracteata merupakan kacangan penutup tanah yang pada mulanya

banyak dijumpai di Negara bagian Tripura India bagian Utara, yang diintroduksikan oleh Golden Hope di Malaysia pada tahun 1991. Ini merupakan kacangan yang dapat hidup tanpa naungan dan tidak disukai ternak ruminansia seperti lembu dan kambing.

Selain memiliki kedua keunggulan tersebut Mucuna bracteata juga memiliki sifat pertumbuhan yang cepat dan menghasilkan biomassa yang tinggi, mudah ditanam dengan input yang rendah, tidak disukai ternak karena daunnya mengandung kadar venol tinggi, toleran terhadap serangan hama dan penyakit, memiliki sifat alelopati.

(14)

Sehingga memiliki daya kompetisi yang tinggi terhadap gulma, memiliki perakaran yang dalam, sehingga dapat memperbaiki sifat fisik tanah, dan mengasilkan serasah tinggi sebagai humus yang teruraikan lambat, sehingga menambah kesuburan tanah, mengendalikan erosi, sebagai leguminosa dapat menambat N bebas dari udara (PPKS, 2011 ).

1.2. Urgesi Penelitan

Indonesia pada umumnya memiliki beberapa jenis tanah diantaranya tekstur tanah pasir, lempeng, dan liat. Perbedaan dosis tetes Bakteri Rhizobium sp pertumbuhan vegetatif Mucuna bracteata dan , oleh sebab itu penulis akan mencoba melakukan penelitian Pengaruh Pemberian Dosis Rhizobium sp terhadap Pertumbuhan dan Nodulasi Mucuna bracteata.

1.3. Tujuan Khusus

Beberapa tujuan khusus penelitian ini adalah :

a. Untuk mengetahui/ memperoleh dosis Rhizobium sp yang terbaik untuk

pertumbuhan nodulasi Mucuna bracteata.

b. Untuk mengetahui/ memperoleh data pertumbuhan bintil akar Mucuna bracteata.

1.4. Target Temuan

Penelitian ini diharapkan dapat menemukan pertumbuhan vegetatif dan nodulasi yang terbanyak terhadap pengaruh dosis tetes Rhizobium sp.

1.5. Kontribusi Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkandapat menjadi masukan dalam penggunaan dosis Rhizobium sp dalam pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan bintil akar pada Mucuna bracteata.

(15)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Mucuna bracteata

2.1.1 Botani

Mucuna bracteata adalah jenis kacangan penutup tanah yang berasal dari

dataran tinggi Kerela India Selatan. Menurut Germplas Resource Information. Nama latin dari kacangan ini adalah Mucuna bracteata dengan klasifikasi sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Devisio : Spermatophyta Sub devision : Angiospermae Class : Dicotyledoneae Ordo : Fabales

Famili : Fabaceae Sub family : Faboideae Genus : Mucuna

Species : Mucuna bracteata

2.1.2. Morfologi a. Daun

Helaian daun tanaman Mucuna bracteata berbentuk oval, satu tangkai daun terdiri dari 3 helai anak daun (trifoliate), berwarna hijau, muncul di setiap ruas batang. Ukuran daun dewasa dapat mencapat 15x10 cm. Helaian daun akan menutup apabila suhu lingkungan tinggi, sehingga sangat efisien dalam mengurangi penguapan di permukaan daun tanaman.

(16)

b. Batang

Tumbuh menjalar, merambat/membelit/memanjat, berwarna hijau muda samapai hijau kecoklatan. Batang ini memiliki diameter 0,4-1,5 cm berbentuk bulau berbuku dengan panjang buku 25-34 cm, tidak berbulu, tekstur nya cukup lunak, lentur, mengandung banyak serat dan berair.

Berbeda dengan kacangan lainnya batang kacangan ini bila di potong akan mengeluarkan banyak getah yang erwarna putih dan berubah menjadi coklat setelah kering, dan noda getah ini sangat sulit untuk dibersihkan. Batang yang telah tua akan mengeluarkan bintil-bintil kecil berwarna putih yang bila bersinggungan dengan tanah akan berdiferensiasi menjadi akar baru.

Gambar 2.2 Batang Mucuna bracteata

c. Akar

Mucuna bracteata memiliki system perakaran tunggang sebagai nama

kacangan lain, berwarna putih kecoklatan, tersebar di atas permukaan tanah dan dapat mencapai 1 meter di bawah permukaa tanah. Tanaman ini juga memiliki bintil akar yang menandakan adanya simbiosis mutualisme antara tanaman dengan bakteri Rhizobium sp sehingga dapan memfiksasi nitrogen bebas menjadi nitrogen yang tersedia bagi tanaman. Bintil akar ini berwarna merah muda segar dan dan relativ sangat banyak, berbentuk bulat dan berukuran diameter 0,2-2.0 cm.

(17)

Gambar 2.3 Akar Mucuna bracteata

d. Bunga

Bunga berbentuk tandan menyerupai rangkaian bunga anggur dengan panjang 20-35 cm, terdiri dari tangkai bunga 15- 20 tangkai dengan 3 bunga setiap tangkai nya. Bunga MonoCeus ini berwarna biru terung, dengan bau yang sangat menyengat untuk menarik perhatian kumbang penyerbuk.

Gambar 2.4 Daun Mucuna bracteata

e. Buah dan biji

Dalam satu rangkaian bunga yang berhasil menjadi polong sebanyak 4- 15 polong, tergantung dari umur tanaman dan lingkungan setempat termasuk perubahan musim. Polong- polong ini di selimuti oleh bulu- bulu halus berwarna merah keemasan yang berubah warna menjadi hitam ketika matang, bulu- bulu ini juga dapan menimbulkan alergi dan iritasi ringan pada kulit.

(18)

Polong yang berbulu ini memiliki 2- 4 biji setiap polong nya. Biji berwarna coklat tua sampai hitam mengkilap, dari 1 kg polong basah dapat menghasilkan 250 g biji kering dengan berat 45 /100 gram. Dari mulai munculnya bunga sampai polong siap dipanen dibutuhkan sekitar 50- 60 hari.

Gambar 2.5 Biji Mucuna bracteata

2.2. Syarat tumbuh 2.2.1. Iklim

Dalam merupakan salah satu faktor utama yang mempengarui pertumbuhan dan produksi kacangan, namun setiap jenis kacangan juga memiliki respons yang berbeda-beda terhadap faktor iklim tersebut termasuk Mucuna

bracteata.

Oleh sebab itu pemilihan lokasi untuk penanaman kacangan ini terutama dengan tujuan untuk memproduksi biji harus sesuai dengan kondisi lingkungan yang dikehendaki oleh kacangan itu sendiri. Berikut merupakan komponen-komponen iklim yang dikehendaki oleh kacangan Mucuna

bracteata.

a. Ketinggian Tempat

Secara umum Mucuna bracteata dapat tumbuh dengan subur di semua tingkat ketinggian, baik dataran rendah maupun dataran tinggi. Namun untuk dapat memasuki fase generatif yang sempurna Mucuna bracteata membutuhkan daerah dengan ketinggian >1.000 meter dpi. Dengan demikian ketinggian tempat merupakan kunci utama untuk sampai mendapatkan biji Mucuna bracteata, karena jika di tanam di dataran rendah <1.000 meter dpi tanaman akan tumbuh dengan jagur namun tidak

(19)

dapat menghasilkan bunga. Ketiggian tempat juga mempengaruhi unsur-unsur iklim lain seperti temperatur, curah hujan, dan kelembaban.

b. Temperatur

Keadaan temperatur harian suatu daerah sangat menentukan jenis tanaman yang dapat tumbuh di atasnya. Ada tanaman yang menghendaki temperatur tinggi namun tidak sedikit juga tanaman menghendaki suhu rendah untuk pertumbuhannya Mucuna bracteata merupakan salah satu jenis tanaman yang dapat tumbuh di daerah temperatur tinggi maupun rendah, namun untuk berbunga Mucuna bracteata menghendaki temperatur harian minimum 12°C dan maksimum 23°C. Jika suhu minimum di atas 18°C maka dapat mencegah atau memperlambat proses pembungaan, hal inilah yang menyebabkan kacangan Mucuna bracteata yang di tanaman di dataran rendah tidak pernah menghasilkan bunga.

c. Curah Hujan

Air merupakan suatu unsur yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman mulai dari perkecambahan sampai tanaman berproduksi. Namun agar proses pembentukan polong tidak terganggu sebaiknya Mucuna bracteata ditanam di lokasi yang cukup hujan 1000-2500 m/m/tahun, dan 3-10 hari hujan/bulan.

d. Kelembaban

Mucuna bracteata menghendaki areal yang tinggi dari permukaan laut

untuk dapat memasuki fase generatif, dan umumnya semakin tinggi suatu tempat maka kelembaban udaranya juga semakin tinggi yang disebabkan oleh tingginya curah hujan terutama untuk daerah tropis seperti dataran tinggi Sumatera Utara, Walaupun begitu Mucuna bracteata tidak menyukai kelembaban udara yang terlalu tinggi. Jika kelembaban udara terlalu tinggi, maka bunga-bunga yang telah terbentuk akan busuk, layu

(20)

dan kering. Kelembaban udara yang dikehendaki oleh kacangan ini ialah <80%.

e. Lama penyinaran matahari

Kacangan penutup tanah ini termasuk ke dalam tanaman berhari pendek dan hanya membutuhkan 6- 7 jam penyinaran matahari penuh untuk setiap harinya. Jika ditanam di daerah panas dengan penyinaran matajari panjang maka Mucuna bracteata akan merundukkan daunnya dan batang nya untuk mengurangi penguapan yang umumnya terjadi tepat siang hari. Walaupun begitu dari pengamatan yang dilakukan di lakukan Mucuna

bracteata dapat beradaptasi dengan baik untuk daerah tropis seperti

Indonesia.

2.2.2. Tanah

Pada umumnya Mucuna bracteata dapat tumbuh baik pada semua tekstur tanah, yaitu tanah liat, liat berpasir, lempung berpasir atau tanah pasir. Tanaman ini juga dapat tumbuh pada kisaran pH yang cukup luas yaitu antara 4,5 — 6,5. Pertumbuhan Mucuna bracteata akan lebih baik, jika ditanam di tanah yang kaya bahan organik, gembur, dapat menyimpan air, dan tidak tergenang air. Pertumbuhan vegetatif akan sedikit jika Mucuna bracteata ditanam di areal yang tergenang air. (Imam, dkk. 2008).

2.3. Pemanfaatan Mucuna bracteata Sebagai LCC

Pembanguan Legumme Cover Crops (LCC) atau kacangan penutup tanah pada perkebunan dilakukan untuk menanggulangi erosi permukaan tanah dan pencucian hara tanah, memperkaya hara N tanah, memperbaiki struktur tanah, dan menekan pertumbuhan gulma.

Kacangan penutup tanah yang di tanam pada perkebunan umumnya merupakan campuran antara tiga jenis kacangan utama, yaitu Calopogonium

(21)

tanah ini umumnya tidak mampu bersaing dengan gulma tanpa adanya bantuan berupa pengendalian guhna secara manual ataupun khemis utamanya pada tahun pertama penanaman.

Selain itu dengan semakin bertambahnya umur tanaman, kacangan tersebut tidak tahan naungan sehingga populasinya semakin berkurang sehingga daya tutup terhadap permukaan tanah akan semakin berkurang.

Menurut Sebayang, E.S. Sutarta, dan I.Y. Harahap (2004) Mucuna bracteata merupakan kacangan penutup tanah yang dinilai relative lebih mampu menekan pertumbuhan gulma pesaing disamping memiliki keunggulan lainnya yaitu:

a. Pertumbuhan yang cepat dan menghasilkan biomasa yang tinggi b. Mudah ditanam dengan hiput yang rendah

c. Tidak disukai ternak karena daunnya mengandung kadar fenol yang tinggi

d. Toleran terhadap serangan hama dan penyakit

e. Memiliki perakaran yang dalam, sehingga dapat memperbaiki sifat fisik tanah.

f. Menghasilkan serasah yang tinggi sebagai humus yang terurai lambat sehingga menambah kesuburan tanah

g. Mengurangi laju erosi tanah

h. Serta sebagai leguminosa yang dapat menambat N bebas dari udara.

2.3.1. Pengendalian Gulma

Hampir seluruh gulma utama yang tumbuh di lingkungan pertanaman perkebunan dapat dikendalikan oleh kacangan Mucuna bracteata. Pengendalian gulma akan lebih efektif jika kacangan Mucuna bracteata ditanam pada musim hujan untuk mengurangi tingkat cekaman air yang dapat menimbulkan kematian. Adapun populasi efektif untuk perkebunan kelapa sawit adalah 300 - 400 bibit/ha. Semakin tinggi populasi Mucuna bracteata

(22)

maka semakin cepat ia menutupi semua areal yang terbuka dan semakin efektif pulalah pengendalian semua gulma.

2.3.2. Bintil Akar Yang Mampu Memfiksasi N bebas

Selain hal diatas kacangan Mucuna bracteata juga memiliki bintil akar yang dapat memfiksasi N bebas di udara menjadi N dalam bentuk ion yang tersedia bagi tanaman. Dengan demikian jumlah ion N yang di kandung tanah juga meningkat sehingga dapat diserap oleh tanaman.

Secara umum jumlah unsur hara yang dikandung oleh tanah akibat penanaman Mucuna bracteata di perkebunan kelapa sawit dan karet akan bertambah baik dari sumbangan biomassa dalam bentuk serasah maupun fiksasi N bebas menjadi N tersedia bagi tanaman.

2.4. Bakteri Rhizobium sp

Bakeri Rhizobium sp adalah salah satu kelompok bakteri yang berkemampuan sebagai penyedia hara bagi tanaman. Bila bersimbiosis dengan tanaman legum, kelompok bakteri akan menginfeksi akar tanaman dan membentuk bintil akar dari mitra legumnya.

2.4.1. Penambatan Nitrogen oleh Rhizobium

Nitrogen merupakan unsur hara makro esensial, menyusun sekitar 1,5% bobot tanaman dan berfungsi terutama dalam pembentukan protein. Kurang lebih 80% dari udara di atmosfer adalah gas nitrogen (N). Namun N tidak dapat digunakan secara langsung oleh sebagian besar organisme. Kebanyakan organisme menggunakan nitrogen dalam bentuk NH sebagai penyusun asam amino, protein, dan asam nukleat Fiksasi nitrogen merupakan proses yang mengubah N2 menjadi NH4 yang kemudian akan digunakan secara biologi. Proses ini dapat terjadi secara alamiah oleh mikroba.

Mikroba yang fungsi utamanya sebagai penyedia unsur nitrogen melalui penambatan nitrogen atmosfer dapat dibedakan ke dalam dua kelompok yaitu mikroba yang hidup bebas (free-living microbes) artinya bekerja secara non-simbiotik atau tidak memiliki asosiasi spesifik dengan tanaman tertentu, dan

(23)

mikroba yang melakukan hubungan simbiotik dengan tanaman tertentu (Yuwono,2006). Salah satu contoh yang saat ini sudah banyak diteliti adalah hubungan simbiotik Rhizobium dengan tanaman legum.

Rhizobium merupakan bakteri yang bersimbiosis secara mutualis dengan

tamanan Leguminosae (Imas et al, 1999). Bakteri ini gram negatif, bersifat aerob, tidak membentuk spora, berbentuk batang dengan ukuran panjang 1,2 – 3,0 mm x lebar 0,5-0,9 mm, berflagella dengan susunan hipotris atau peritris dan termasuk familia Rhizobiaceae (Jordan,1994 cit. Gunalan et al., 1994).

Bakteri ini banyak terdapat di daerah perakaran (rizosfer) tanaman legum dan membentuk hubungan simbiotik dengan inang khusus (Yuwono, 2006).

Rhizobium merapakan simbion fakultatif, dapat hidup sebagai komponen

normal dari mikroflora tanah dalam keadaan tidak ada tanaman inang, tetapi tetap hidup bebas sebagai heterotrof tergantung kehadiran akar tanaman inang. Populasi Rhizobium pada rhizosfer tanaman legum biasa mencapai 10 sel/gram atau lebih. Di tanah, bakteri ini hidup bebas dan motil, memperoleh nutrisi dari sisa organisme yang telah mati. Rhizobium yang hidup bebas tidak dapat memfiksasi nitrogen dan punya bentuk yang berbeda dari bakteri lain yang ditemukan pada bintil akar tanaman.

Rhizobium yang efektif pada bintil akar mampu memenuhi seluruh atau

sebagian kebutuhan N bagi tanaman. Berdasarkan kemampuan tersebut

Rhizobium memiliki andil yang cukup besar dalam peningkatan produktivitas

pertanian terutama kacang-kacangan (Rao, 1994). Dalam jaringan bintil akar bakteri tersebut memfiksasi nitrogen dan mengubahnya menjadi ammonium yang selanjutnya dimanfaatkan oleh tanaman. Hal ini menyebabkan kondisi pertumbuhan tanaman berbintil akar lebih baik dibandingkan tanpa bintil akar.

(24)

2.4.2. Mekanisme Pembentukan Bintil Akar

Simbiosis Rhizobium dengan tanaman legum dicirikan oleh pembentukan bintil akar pada tanaman inang. Pembentukan bintil akar diawali dengan sekresi produk metabolisme tanaman ke daerah perakaran (nod factors) yang menstimulasi pertumbuhan bakteri, berupa liposakarida. Eksudat akar yang dihasilkan tanaman legum tersebut memberikan efek yang menguntungkan untuk pembelahan Rhizobium di tanah (Yuwono, 2006).

Nodulasi dan fiksasi nitrogen tergantung pada kerjasama dari faktor-faktor yang berbeda yaitu kehadiran strain Rhizobium yang efektif pada sel akar, peningkatan jumlah sel Rhizobium di rizosfer, infeksi akar oleh bakteri, pertumbuhan, dan aktivitas Rhizobium itu sendiri (Rao, 1994).

Pelekatan Rhizobium pada rambut akar juga dapat terjadi karena pada permukaan sel Rhizobium terdapat suatu protein pelekat yang disebut rikodesin. Senyawa ini adalah suatu protein pengikat kalsium yang berfungsi dalam pengikatan kompleks kalsium pada permukaan rambut akar (Yuwono, 2006).

Menurut Yuwono (2006), secara umum pembentukan bintil akar pada tanaman legum terjadi melalui beberapa tahapan:

1. Pengenalan pasangan sesuai antara tanaman dengan bakteri yang diikuti oleh pelekatan bakteri Rhizobium pada permukaan rambut akar tanaman. 2. Invasi rambut akar oleh bakteri melalui pembentukan benang-benang

infeksi (infection thread).

3. Perjalanan bakteri ke akar utama melalui benang-benang infeksi.

4. Pembentukan sel-sel bakteri yang mengalami deformasi, yang disebut sebagai bakteroid, di dalam sel akar tanaman.

(25)

BAB 3

METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu

Penelitian tugas akhir ini dilakukan di areal pembibitan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan ( STIPAP ) Medan. Waktu penelitian dilakukan selama 5 bulan di mulai dari bulan Februari - Juli tahun 2016. Realisasi kegiatan terdapat pada Lampiran Tabel 3.1.

3.2. Rancangan Penelitian.

Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok non Faktorial terdiri dari 1 faktor yaitu :

Rhizobium sp R1 : Tanpa Rhizobium sp

R2 : 6 Tetes Rhizobium sp R3 : 12 Tetes Rhizobium sp R4 : 18 Tetes Rhizobium sp

Rancangan penelitian adalah Non Faktorial dengan ulangan 4x.

Uraiannya adalah sebagai berikut :

Jumlah perlakuaan 4 x 4 = 16 x

Jumlah ulangan = 4 x

Ukuran plot per perlakuan = 1.5 x 1.5 m

Dari hasil penelitian dianalisis dengan Analisis Sidik Ragam berdasarkan model linear sebagai berikut :

Yij : µ + τi + β j + εij

Dimana :

Yij : Hasil pengamatan ulangan ke- i, perlakuan ke- j µ : Nilai tengah umum

τi : Pengaruh ulangan ke- i β j : Pengaruh perlakuan ke- j

εii

: Galat percobaan pada ulangan ke- i yang mendapat perlakuan ke j

(26)

Pengujian parameter disusun pada daftar sidik ragam dan dilakukan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf 5% dan 1%.

3.3. Bahan dan Peralatan.

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah : - Biji Mucuna bracteata

- Inokulum Rhizobium sp dari Laboratorium Fakultas Pertanian USU - Polybag ukuran 10 kg

- Rhizobium sp

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah :

- Cangkul - Gembor

- Ayakan - Meteran kain

3.4. Tahapan Penelitian .

a. Persiapan Areal Tanaman

Areal penelitian dibesihkan dari batu-batuan dan gulma dengan cangkul.

b. Pembuatan Bendengan

Bedengan dibuat dengan arah memanjang Utara – Selatan, dengan lebar 1.5 meter dan panjang 2.5 meter, didalam bedengan diisi dengan tanah dengan tinggi 20 cm dan sekeliling dibuat parit.

c. Persiapan Media Tanam

Media tanam yang digunakan adalah tanah biasa yang sudah di ayak menggunakan ayakan.

d. Pengisian polybag

Media tanam yang tela diayak diisi kedalam polybag telah disiapkan sapmpai batas ± 4 cm dari bibir polybag

(27)

e. Penanaman Biji

Biji yang telah diberi perlakuan (cara mekanis) ditanam pada polybag yang telah diisi dengan tanam.

f. Inokulasi Rhizobium sp

Inokulasi bakteri Rhizobium sp dengan menggunakan pipet tetes dilakukan pada saat bibit berumur 2 minggu setelah penanaman di polibag dengan cara diteteskan pada daerah perakaran Legum Mucuna

bracteata, dengan dosis tetes :

- R1, tanpa di tetesi Rhizobium sp - R2, 6 tetes Rhizobium sp - R3, 12 tetes Rhizobium sp - R4, 18 tetes Rhizobium sp

g. Pemeliharaan

Seluruh tanaman dilaksanakan pemeliharaan yaitu penyiraman rutin 1x/hari dengan springkle, pengendalian gulma, hama penyakit sesuai dengan kondisi yang terjadi.

3.5. Pengamatan dan Indikator

Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan vegetatif dan indikator yang jelas adalah pembentukan nodul/bintil akar.

a. Panjang sulur Mucuna bracteata

Pengukuran dilakukan dengan interval 1x2 minggu dengan alat ukur meteran kain dari pangkal sampai ujung tanaman.

b. Jumlah daun

Pengamatan jumlah daun dilakukan 1x/minggu

c. Nodul/Bintil Akar

Pengamatan dilakukan dengan menghitung bintil akar yang terbentuk. Pada akhir pengmatan masing-masing tanaman dicabut dengan hati-hati, bintil akar dipotong dengan gunting, dihitung dan ditimbang.

(28)

d. Biomassa

Penimbangan biomassa dilakukan pada akhir penelitian (4 bulan), masing-masing tanaman dikumpulkan, ditimbang berat basah, dikeringkan dengan oven 1000 C selama 24 jam untuk ditimbang berat keringnya.

e. Kadar N daun

Contoh daun dikirimkan ke Pusat Penelitian Pusat Kelapa Sawit (PPKS) Medan untuk dianalisa kadar N nya. Dengan Metode KCELDAHL

(29)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Panjang Sulur

Hasil pengamatan dan analisa statistik pengamatan panjang sulur secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 2, lampiran 3, lampiran 4, dan lampiran 5 dan rekapitulasinya terdapat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Rekapitulasi Panjang Sulur (cm) Perlaku

an

4 MST 6 MST 8 MST 10 MST

Indeks Indeks Indeks Indeks

R1 16.00 100.00 149.6 100.0 422.0 100.0 465.6 100.0 R2 33.60 210.00 268.4 179.41 444.0 105.21 554.0 118.9 R3 28.80 180.00 265.6 177.54 470.0 111.37 568.0 121.9 R4 17.60 110.00 147.6 98.66 384.8 91.18 456.0 97.9 Rata-rata 24.00 207.80 430.20 510.90 + / Perlaku an 0.00 183.80 406.20 486.90 Indeks 100.00 865.83 1792.50 2128.75 Uji F F Hit F 5% F 1% F Hit F 5% F 1% F Hit F 5% F 1% F Hit F 5% F 1% R 0.9 1 2.9 9 4.6 8 1.2 9 2.9 9 4.6 8 0.3 7 2.9 9 4.6 8 0.9 9 2.9 9 4.6 8 BNT tn tn tn tn

Keterangan: Minggu Setelah Tanam (MST), tidak nyata (tn)

Dari Tabel tersebut rata- rata panjang sulur pada 4 MST adalah 24.0 cm (100%), kemudian mengalami peningkatan menjadi 207.8 cm (865%) pada minggu ke 6, minggu ke 8 adalah 430.2 cm (1792.5 %), dan pada minggu ke 10 peningkatan nya menjadi 510.9 cm (2128.9 %). Hal ini menunjukkan bahwa pada umur 2 bulan 2 minggu, panjang sulur tersebut rata-rata pertumbuhannya perbulan adalah 204.36 cm atau 7.30 cm per hari. Menurut harahap,dkk (2011) pada kondisi yang terbaik pertumbuhan Mucuna

bracteata dapan mencapai 10 cm/hari.

(30)

tidak nyata dan pola ini selalu kontiniu pada pengamatan ke-4, ke-6, ke-8, dan pengamatan ke-10 MST.

Pada penelitian pemberian beberapa dosis Rhizobium sp pertumbuhan panjang sulur Mucuna bracteata, perlakuan yang memberikan hasil panjang sulur yang terbaik adalah R3 (12 Tetes Rhizobium sp) dengan rata-rata panjang sulur 293.23 cm (121.9 %), kemudian diikuti perlakuan R2 (6 tetes

Rhizobium sp) dengan rata-rata panjang sulur 325 cm (118.9 %), R1 (tanpa Rhizobium sp) dengan rata-rata panjang sulur 263.3 cm (100 %), sedangkan

perlakuan R4 (18 tetes Rhizobium sp) menghasilkan panjang sulur terendah diantara semua perlakuan dengan panjang 251.5 cm (97.9 %).

Dalam hal ini pemberian Rhizobium sp dengan dosis 18 (R4) tetes tidak memberikan respon yang baik terhadap panjang sulur sedangkan dengan menggunakan dosis 12 tetes (R3) Rhizobium sp memberikan respon yang baik terhadap pertumbuhan panjang sulur. Hal ini sesuai dengan pendapat Ramadhani (2009) bahwa pemberian Rhizobium sp tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman.

(31)

Pengaruh Perlakuan terhadap pengamatan panjang sulur juga disajikan pada gambar 4.1.

Gambar 4.1. Grafik Pertumbuhan Panjang Sulur

4.2. Jumlah Daun

Hasil pengamatan dan analisa statistik pengamatan panjang sulur secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 6, lampiran 7, lampiran 8 dan lampiran 9 dan rekapitulasinya terdapat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2. Rekapitulasi Jumlah Daun (Helai)

Perlakuan 4 MST 6 MST 8 MST 10 MST

Indeks Indeks Indeks Indeks

R1 6.00 100.00 12.00 100.00 20.4 100.00 30.4 100.0 R2 7.20 120.00 15.60 130.00 23.6 115.69 40.4 132.8 R3 6.80 113.33 14.40 120.00 26.4 129.41 54.8 180.2 R4 5.20 86.67 11.20 93.33 17.6 86.27 45.6 150.0 Rata-rata 6.30 13.30 22.00 42.80 + / Perlakuan 0.00 7.00 15.70 36.50 Indeks 100.00 211.11 349.21 679.37 Uji F F Hit F 5% F 1% F Hit F 5% F 1% F Hit F 5% F 1% F Hit F 5% F 1% R 1.8 2 2.9 9 4.6 8 1.2 5 2.9 9 4.6 8 2.2 3 2.9 9 4.6 8 0.9 8 2.99 4.6 8 BNT tn tn tn tn

Keterangan: Minggu Setelah Tanam (MST), tidak nyata (tn) 28.80 265.60 470.00 568.00 17.60 147.60 384.80 456.00 0.00 100.00 200.00 300.00 400.00 500.00 600.00 4 MST 6 MST 8 MST 10 MST Pa n ja n g (c m )

Minggu Setelah Tanam (MST)

R1 R2 R3 R4

(32)

Dari Tabel tersebut rata- rata Jumlah Daun pada 4 MST adalah 6.3 helai (100%), kemudian mengalami peningkatan menjadi 13.3 helai (211.1%) pada minggu ke 6, minggu ke 8 adalah 22 helai (349.2 %), dan pada minggu ke 10 peningkatan nya menjadi 42.8 helai (679.3 %). Hal ini menunjukkan bahwa pada umur 2 bulan 2 minggu, panjang sulur tersebut rata-rata pertumbuhannya perbulan adalah 204.36 cm atau 7.30 cm per hari. Menurut Goeswono Soepardi ( 1983 ) Struktur penyusun Rhizobium sp sangat penting untuk produksi khlorofil pada daun.

Hasil Analisis Statistik menunjukkan bahwa pengamatan jumlah daun pada perlakuan pemberian beberapa dosis Rhizobium sp menunjukkan pengaruh tidak nyata dan pola ini selalu kontiniu pada pengamatan ke-4, ke-6, ke-8, dan pengamatan ke-10 MST.

Pada penelitian pemberian beberapa dosis Rhizobium sp pertumbuhan panjang sulur Mucuna bracteata, perlakuan yang memberikan hasil jumlah daun yang terbaik adalah R3 (12 Tetes Rhizobium sp) dengan rata-rata jumlah daun 25.6 helai (148.8 %), kemudian diikuti perlakuan R2 (6 tetes Rhizobium

sp) dengan rata-rata panjang sulur 21.7 helai (126.1 %), R4 (18 tetes Rhizobium sp) dengan rata-rata panjang sulur 19.9 (115.7 %), sedangkan

perlakuan R1 (tanpa tetes Rhizobium sp) menghasilkan panjang sulur terendah diantara semua perlakuan dengan panjang 17.2 helai (100 %).

Dalam hal ini tanpa pemberian Rhizobium sp memberikan respon yang tidak baik terhadap jumlah daun sedangkan dengan menggunakan dosis 12 tetes

Rhizobium sp memberikan respon yang baik terhadap pertumbuhan jumlah

daun. Pengaruh Perlakuan terhadap pengamatan panjang sulur juga disajikan pada gambar 4.2.

(33)

Gambar 4.2. Grafik Pertumbuhan Jumlah Daun 4.3. Jumlah Bintil Akar

Hasil pengamatan dan analisa statistik pengamatan Jumlah Bintil Akar secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 10 dan rekapitulasinya terdapat pada tabel 4.3.

Tabel 4.3. Hasil Pengamatan Jumlah Bintil Akar

Perlakuan ULANGAN Total Rataan Indeks

I II III IV R1 55 50 65 46 216.00 54.00 100.00 R2 75 70 80 90 315.00 78.75 145.83 R3 86 78 90 85 339.00 84.75 156.94 R4 103 180 45 125 453.00 113.25 209.72 TOTAL 319.00 378.00 280.00 346.00 1323.00 RATAAN 79.75 94.50 70.00 86.50 330.75 82.69 Perlakuan Indeks(%) R1 54.00 100.00 R2 78.75 145.83 R3 84.75 156.94 R4 113.25 209.72 Uji F F Hit F 5% F 1% R 16.47 2.99 4.68 BNT **

Keterangan: (**) Sangat Nyata menurut Uji BNT 1%

6.00 12.00 20.40 30.40 6.80 14.40 26.40 54.80 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 4 MST 6 MST 8 MST 10 MST H ela i

Minggu Setelah Tanam (MST)

R1 R2 R3 R4

(34)

Dari Tabel tersebut rata- rata Jumlah Bintil Akar pada perlakuan R1 (Tanpa

Rhizobium sp) adalah 54 bintil (100 %), R2 (6 Tetes Rhizobium sp) 78.75

bintil (145.8 %), R3 (12 Tetes Rhizobium sp) 84.7 bintil (156.9 %), dan R4 (18 Tetes Rhizobium sp) 113. 2 (209.7 %). Dari data tabel diatas perlakuan terbaik adalah R4 (18 Tetes Rhizobium sp) dengan rata-rata 113.2 (209.7 %).

Dalam hal ini pemberian Rhizobium sp sebanyak 18 Tetes, memberikan respon yang baik terhadap pertumbuhan bintil akar pada Mucuna bracteata. Sedangkan Tanpa memberikan Rhizobium sp, pertumbuhan bintil akar pada Mucuna bracteata memiliki respon yang kurang baik terhadap pertumbuhan bintil akar.

Menurut Nugroho, dkk (2006) pada konsep pembentukan bintil akar ini memerlukan waktu lebih kurang secara alami 2 tahun. Dengan adanya pemberian isolate yang di peroleh dari Universitas Sumatera Utara menunjukkan bahwa isolate tersebut sangat efektif dalam periode 11 minggu, isolate mampu menghasilkan bintil akar yang dengan jumlah yang cukup banyak. Untuk lebih jelas nya Jumlah Bintil Akar di sajikan dalam gambar 4.3.

Gambar 4.3. Grafik Jumlah Bintil Akar Mucuna bracteata 54.00 78.75 84.75 113.25 0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 R1 R2 R3 R4 Ju m lah (B u tir ) Perlakuan

(35)

4.4. Berat Kering Sulur dan Daun

Hasil pengamatan dan analisa statistik pengamatan Berat Kering Sulur dan Daun secara lengkap dapat dilihat pada lampiran lampiran 11 dan pada tabel 4.4.

Tabel 4.4. Berat Kering Sulur dan Daun (gr)

Perlakuan ULANGAN Total Rataan Indeks

I II III IV R1 19.30 19.50 17.20 11.00 67.00 16.75 100.00 R2 25.50 15.10 26.30 44.10 111.00 27.75 165.67 R3 16.10 33.10 17.00 50.34 116.54 29.14 173.94 R4 19.00 35.40 8.30 20.90 83.60 20.90 124.78 TOTAL 79.90 103.10 68.80 126.34 378.14 RATAAN 19.98 25.78 17.20 31.59 94.54 23.63 Perlakuan Indeks(%) R1 16.75 100.00 R2 27.75 165.67 R3 29.14 173.94 R4 20.90 124.78 Uji F F Hit F 5% F 1% R 1.07 2.99 4.68 BNT tn

Keterangan: tidak nyata (tn)

Hasil Analisis Statistik menunjukkan bahwa berat kering sulur dan daun pada perlakuan pemberian beberapa dosis Rhizobium sp menunjukkan pengaruh tidak nyata dan pola ini selalu kontiniu. Dari tabel 4.4. menunjukkan bahwa perlakuan R1 ( Tanpa Rhizobium sp), R2 (6 Tetes Rhizobium), R3 (12 Tetes Rhizobium sp), R4 (18 Tetes Rhizobium sp) berpengaruh tidak nyata terhadap hasil berak kering sulur dan daun. Perlakuan R3 (12 Tetes Rhizobium sp) dengan berat rata-rata 29.14 (173.94 %) merupakan perlakuan terbaik diantara perlakuan yang lain karena Rhizobium sp pada perlakuan ini cepat diterima oleh Khlorofil dan mempercepat pertumbuhan daun Mucuna

bracteata.

Berat rataan yang terberat keringnya di mulai dari yang terberat sampai teringan adalah R3 (29.14 gr), R2 (27.75 gr), R4 (20.9 gr), dan R1 (316.75gr). Untuk lebih jelas nya rataan berat kering sulur dan daun dapat dilihat pada Gambar 4.4.

(36)

Gambar 4.4. Grafik Berat Kering Sulur dan Daun (gr)

4.5. Berat Kering Akar dan Bintil Akar

Hasil pengamatan dan analisa statistik pengamatan Berat Kering Akar dan Bintil Akar secara lengkap dapat dilihat pada lampiran dalam lampiran 12 dan tabel 4.5.

Tabel 4.5. Berat Akar dan Bintil Akar (gr)

Perlakuan ULANGAN Total Rataan Indeks

I II III IV R1 4.00 3.80 4.30 3.70 15.80 3.95 100.00 R2 3.70 4.00 5.50 7.10 20.30 5.08 128.48 R3 4.40 6.00 5.60 6.40 22.40 5.60 141.77 R4 5.40 5.50 4.40 5.60 20.90 5.23 132.28 TOTAL 17.50 19.30 19.80 22.80 79.40 RATAAN 4.38 4.83 4.95 5.70 19.85 4.96 Perlakuan Indeks (%) R1 3.95 100.00 R2 5.08 128.48 R3 5.60 141.77 R4 5.23 132.28 Uji F F Hit F 5% F 1% R 2.02 2.99 4.68 BNT tn

Keterangan: tidak nyata (tn)

16.75 27.75 29.14 20.90 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 R1 R2 R3 R4 bera t (g r) Perlakuan Rataan

(37)

Dari tabel 4.5. menunjukkan bahwa perlakuan R1, R2, R3, R4 tidak berpengaruh nyata. Perlakuan R3 (5.60 gr) merupakan perlakuan terbaik diantara perlakuan lainnya. Rataan berat kering nya dimulai dari yang terberat sampai teringan adalah R3 (5.6 gr), R4 ( 5.23 gr), R2 (5.08 gr), R1 (3.95 gr). Menunjukkan bahwa perlakuan tersebut tidak nyata terhadap rataan berat kering akar dan bintil akar. Rataan berat kering akar dan bintil akar disajikan pada gambar 4.5.

Gambar 4.5. Grafik Berat Kering Akar dan Bintil Akar

4.6. Kadar Nitrogen Pada Daun

Hasil pengamatan dan analisa statistik pengamatan Kadar Nitrogen secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 13 dan pada tabel 4.6.

Perlakuan 11MST kategori R1 3.04 S R2 2.97 S R3 2.90 S R4 3.04 S Rata-rata 2.99 S Keterangan: t : Kategori Tinggi (>3.1) s : Kategori Sedang (2.6-3.0) r: Kategori Rendah(<2.5) 3.95 5.08 5.60 5.22 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 R1 R2 R3 R4 B e rat (gr) Perlakuan Rataan

(38)

Hasil analisa Kadar N daun Mucuna bracteata pada tabel 4.6. menunjukkan bahwa pada semua perlakuan termasuk kedalam kategori N daun yang sedang 2.6 – 2.9. Dikemukakkan oleh Harahap, et al (2011) Mucuna bracteata merupakan salah satu sumber penambah N pada tanah yang baik. Rataan kadar N daun Mucuna bracteata juga disajikan pada Gambar 4.6.

Gambar 4.6. Grafik kadar N daun Mucuna bracteata 3.04 2.97 2.9 3.04 2.8 2.85 2.9 2.95 3 3.05 3.1 R1 R2 R3 R4 Kadar N Daun

(39)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

Dari pengamatan 4 MST sampai pada pengamatan 10 setelah tanam (MST) dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Pada pengamatan panjang sulur hasil uji statistik menunjukkan tidak nyata terhadap pertumbuhan panjang sulur Mucuna bracteata. Perlakuan R3 (12 tetes Rhizobium sp) merupakan perlakuan terbaik dengan rata – rata panjang sulur 333.1 cm.

2. Pada pengamatan jumlah daun dari hasil uji statistik menunjukkan tidak nyata terhadap jumlah daun Mucuna bracteata. Perlakuan R3 (12 tetes

Rhizobium sp) merupakan perlakuan terbaik dengan rata – rata jumlah

daun 25.6 helai.

3. Pada pengamatan jumlah dan berat bintil akar dari hasil uji statistik menunjukkan tidak berpengaruh nyata terhadap bintil akar Mucuna

bracteata. Perlakuan R4 (18 tetes Rhizobium sp) merupakan perlakuan

terbaik dengan rata – rata jumlah daun 113.25.

4. Pada pengamatan kadar hara N pada daun Mucuna bracteata hasil analisa laboratorium yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan menunjukkan bahwa rata – rata dari keseluruhan perlakuan termasuk kedalam kadar hara N daun yang sedang yaitu 2.6 – 2.9. Dan rata – rata kadar N tertinggi adalah 3.04.

5.2. Saran

Untuk penelitian berikut nya perlakuan pemberian dosis Rhizobium sp perlu diperbanyak lagi karena pada penelitian ini data yang dapat diambil masih terbatas karena asumsi semakin banyak Rhizobium sp yang diberikan maka semakin banyak pula pembentukan bintil akar .

(40)

DAFTAR PUSTAKA

Edy, P.R., Sriwijaya, Susanto, A., Sutarta, E.S., Harahap, I.Y., Lubis, A.F., Prasetyo, A E., Dongoran, A.P, 2007. Mucuna bracteata Sebagai Tanaman Pengendalian Gulma, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan. Buku Saku Seri 27.

Harahap, I.Y., Hidayat, T.C., Simangunsong, G., Sutarta, E.D., Pangaribuan, Y., Listia, E., Rahutomo, S., 2011. Mucuna bracteata Pengembangan dan Pemanfaatannya di Perkebunan Kelapa Sawit, Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.

Kemas Ali Hanafiah, 2008. Dasar – Dasar ILMU TANAH.

Meisarah, P. 2012. Problema Perbanyakan Tanaman Penutup Tanah (Mucuna

bracteata) Secara Generatif. Tugas Akhir.

Rao, Subda. N.S. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Edisi II. Jakarta : UI-Press

Sebayang, S.Y., Sutarta, E.D., dan Harahap, I.Y., 2004. Penggunaan Mucuna

bracteata pada Kelapa Sawit : Pengalaman di kebun Tinjowan II PTPN

IV, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan. Warta Vol 12 No2-3:5-12.

Siagian, Nurhawaty. 2005. Perbanyakan Tanaman Penutup Tanah (Mucuna

bracteata). Pusat Penelitian Karet, Medan

Subronto., Harahap, I.Y., 2002. Kacangan Penutup Tanah Mucuna bracteata Pada Pertanaman Kelapa Sawit, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan. Warta Vol 10 (1): 1-6

Wahyuni, M., Sembiring M., 2007. Diktat Jenis Pupuk dan Sifat-Sifatnya. STIPAP, Medan.

(41)

Lampiran 1. Jadwal Penelitian

No Tanggal Kegiatan Keterangan

1 14-01-2016 Persiapan areal penelitian

Membersihkan areal dari gulma, batu krikil, palstik, mendatarkan areal penelitian, pembuatan plot penelitian ukuran plot penelitian P x L x T (0.75m x 1.50 m x 0,20 m) dan pemberian pupuk dasar 60 gr/plot

2 20-01-2016 Persiapan media tanam bibit

Persiapan wadah bibit berupa cawan plastik (gelas minuman plastik), media tanah diayak, dan pemberian pupuk RP.

3 21-01-2016 Seleksi benih

Dengan cara merendam biji kedalam air.

4 21-01-2016 Pemecahan masa dormansi

Menggunakan alat gunting kuku dengan melukai kedua sisi biji 5 21-01-2016 Penanaman biji Ditanam dengan kedalaman 2 cm dari

permukaan tanah. 6 11-02-2016 Persiapan media tanam

dalam polibag

Tanah di ayak dan di masukkan ke dalam polibag yg berukuran 10 kg 7 12-02-2016 Pembuatan lubang tanam Lubang tanam ukuran 15 cm x 10 cm 8 12-02-2016 Penanaman bibit Umur bibit 1 bulan

9

12-02-2016 s/d 30-04-2016

Pemeliharaan

Areal penelitian dibersihkan dari gulma dan hama.

10 07-03-2016 Pemberian Rhizobium Sp

Pemberian Inokulan Rhizobium Sp menggunakan alat Pipet tetes sebanyak 6 tetes.

11 08-03-2016 Pembuatan anjang-ajang Ajang-anjang dibuat mengguanakan bambu dan kawat

12 01-05-2016 Panen Pemanenan batang, daun, akar dan bintil akar.

13 01-05-2016

Penghitungan jumlah bintil akar dan Penimbangan berat basah

Bintil akar di hitung jumlahnya

14 02-05-2016 Pengeringan

Pengeringan menggunakan oven di Lab kimia dan fisika kampus STIPAP Medan suhu 1000C selama 24 jam. 15 03-05-2016 Penimbangan bobot

kering

Penimbangan menggunakan timbnagan analitik

16 08-06-2016 Uji N daun

Sampel daun dimasukkan kedalan kantong plastic dan kemudian dikirim ke lab Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan

(42)

Lampiran 2. Hasil Pengamatan Panjang Sulur Mucuna bracteata 4 MST

Perlakuan ULANGAN total rataan Indeks

I II III IV R1 11.00 10.00 13.00 6.00 40.00 16.00 100.00 R2 45.00 10.00 14.00 15.00 84.00 33.60 210.00 R3 10.00 36.00 10.00 16.00 72.00 28.80 180.00 R4 8.00 18.00 11.00 7.00 44.00 17.60 110.00 TOTAL 74.00 74.00 48.00 44.00 240.00 96.00 RATAAN 18.50 18.50 12.00 11.00 60.00 24.00 FK 3600 JK TOTAL 1682 JK PERLAKUAN 344 JK ULANGAN/BLOK 198 JK Sisa 1140

Daftar sidik ragam

SK Db JK KT F Hitung F Tabel 0.05 F Tabel 0.01 Ket JK BLOK 3 198 66.00 0.52 2.99 4.68 tn JK PERLAKUAN 3 344 114.67 0.91 2.99 4.68 tn JK SISA 9 1140 126.67 JK TOTAL 15 1682 kk 46.89 Keterangan: tn : Tidak Nyata

* : Nyata Menurut Uji BNT 5%

** : Sangat Nyata menurut Uji BNT 1%

(43)

Lampiran 3. Hasil Pengamatan Panjang Sulur Mucuna bracteata 6 MST

Perlakuan ULANGAN total rataan Indeks

I II III IV R1 81 62 148 83 374 149.6 100.00 R2 176 97 174 224 671 268.4 179.41 R3 108 225 87 244 664 265.6 177.54 R4 198 119 45 7 369 147.6 98.66 TOTAL 563 503 454 558 2078 831.2 RATAAN 140.75 125.75 113.5 139.5 519.5 207.8 Fk 269880.3 Jk Total 74987.75 Jk Perlakuan 21913.25 Jk Ulangan/ Blok 1984.25 Jk Sisa 51090.25

SK db JK KT F Hitung F Tabel 0.05 F Tabel 0.01 Ket Jk Blok 3 1984.25 661.42 0.12 2.99 4.68 tn Jk Perlakuan 3 21913.25 7304.4 1.29 2.99 4.68 tn Jk Sisa 9 51090.25 5676.6 Jk Total 15 74987.75 KK 36.25786 BNT 5 % 54.39494 Keterangan: tn : Tidak Nyata

* : Nyata Menurut Uji BNT 5%

(44)

Lampiran 4. Hasil Pengamatan Panjang Sulur Mucuna bracteata 8 MST

Perlakuan ULANGAN total rataan Indeks

I II III IV R1 290 280 230 255 1055 422 100.00 R2 270 205 300 335 1110 444 105.21 R3 255 315 280 325 1175 470 111.37 R4 325 320 47 270 962 384.8 91.18 Total 1140 1120 857 1185 4302 1720.8 Rataan 285 280 214.25 296.25 1075.5 430.2 Fk 1156700 Jk Total 72283.75 Jk Perlakuan 6098.25 Jk Ulangan/Blok 16468.25 JK Sisa 49717.25

SK Db JK KT F Hitung F Tabel 0.05 F Tabel 0.01 Ket

Jk Blok 3 16468.25 5489.42 0.99 2.99 4.68 tn Jk Perlakuan 3 6098.25 2032.75 0.37 2.99 4.68 tn Jk Sisa 9 49717.25 5524.14 Jk Total 15 72283.75 KK 17.27674 Keterangan: tn : Tidak Nyata

* : Nyata Menurut Uji BNT 5%

(45)

Lampiran 5. Hasil Pengamatan Panjang Sulur Mucuna bracteata 10 MST

Perlakuan ULANGAN total rataan Indeks

I II III IV R1 310 292 280 282 1164 465.6 100.00 R2 355 235 350 445 1385 554 118.99 R3 370 345 320 385 1420 568 121.99 R4 360 355 100 325 1140 456 97.94 TOTAL 1395 1227 1050 1437 5109 2043.6 RATAAN 348.75 306.75 262.5 359.25 1277.25 510.9 Fk 1631368 Jk Total 87495.44 Jk Perlakuan 15912.69 Jk Ulangan/ Blok 23388.19 JK Sisa 48194.56 SK db JK KT F Hitung F Tabel 0.05 F Tabel 0.01 Ket Jk Blok 3 23388.19 7796.06 1.46 2.99 4.68 tn Jk Perlakuan 3 15912.69 5304.23 0.99 2.99 4.68 tn Jk Sisa 9 48194.56 5354.95 Jk Total 15 87495.44 KK 14.32326 Keterangan: tn : Tidak Nyata

* : Nyata Menurut Uji BNT 5%

(46)

Lampiran 6. Hasil Pengamatan Jumlah Daun Mucuna bracteata 4 MST

Perlakuan ULANGAN Total Rataan Indeks

I II III IV R1 4.00 4.00 4.00 3.00 15.00 6.00 100.00 R2 5.00 3.00 5.00 5.00 18.00 7.20 120.00 R3 4.00 5.00 4.00 4.00 17.00 6.80 113.33 R4 3.00 4.00 4.00 2.00 13.00 5.20 86.67 Total 16.00 16.00 17.00 14.00 63.00 25.20 Rataan 4.00 4.00 4.25 3.50 15.75 6.30 Fk 248.0625 Jk Total 10.9375 Jk Perlakuan 3.6875 Jk Ulangan/ Blok 1.1875 Jk Sisa 6.0625

Sk Db JK KT F Hitung F Tabel 0.05 F Tabel 0.01 Ket

Jk Blok 3 1.19 0.40 0.59 2.99 4.68 tn Jk Perlakuan 3 3.69 1.23 1.82 2.99 4.68 tn Jk Sisa 9 6.06 0.67 Jk Total 15 10.94 KK 13.02759 Keterangan: tn : Tidak Nyata

* : Nyata Menurut Uji BNT 5%

(47)

Lampiran 7. Hasil Pengamatan Jumlah Daun Mucuna bracteata 6 MST SK db JK KT F Hitung F Tabel 0.05 F Tabel 0.01 Ket Jk Blok 3 1984.25 661.42 0.12 2.99 4.68 tn Jk Perlakuan 3 21913.25 7304.4 1.29 2.99 4.68 tn Jk Sisa 9 51090.25 5676.6 Jk Total 15 74987.75 KK 36.257 86 BNT 54.394 94 Keterangan: tn : Tidak Nyata

* : Nyata Menurut Uji BNT 5%

** : Sangat Nyata menurut Uji BNT 1%

Perlakuan ULANGAN total rataan Indeks

I II III IV R1 81 62 148 83 374 149.6 100.00 R2 176 97 174 224 671 268.4 179.41 R3 108 225 87 244 664 265.6 177.54 R4 198 119 45 7 369 147.6 98.66 TOTAL 563 503 454 558 2078 831.2 RATAAN 140.75 125.75 113.5 139.5 519.5 207.8 Fk 269880.3 Jk Total 74987.75 Jk Perlakuan 21913.25 Jk Ulangan/ Blok 1984.25 Jk Sisa 51090.25

(48)

Lampiran 8. Hasil Pengamatan Jumlah Daun Mucuna bracteata 8 MST

Perlakuan ULANGAN total Rataan Indeks

I II III IV R1 290 280 230 255 1055 422 100.00 R2 270 205 300 335 1110 444 105.21 R3 255 315 280 325 1175 470 111.37 R4 325 320 47 270 962 384.8 91.18 Total 1140 1120 857 1185 4302 1720.8 Rataan 285 280 214.25 296.25 1075.5 430.2 Fk 1156700 Jk Total 72283.75 Jk Perlakuan 6098.25 Jk Ulangan/Blok 16468.25 JK Sisa 49717.25 SK db JK KT F Hitung F Tabel 0.05 F Tabel 0.01 Ket Jk Blok 3 16468.25 5489. 4 0.99 2.99 4.68 tn Jk Perlakuan 3 6098.25 2032. 7 0.37 2.99 4.68 tn Jk Sisa 9 49717.25 5524. 1 Jk Total 15 72283.75 KK 17.2767 Keterangan: tn : Tidak Nyata

* : Nyata Menurut Uji BNT 5%

(49)

Lampiran 9. Hasil Pengamatan Jumlah Daun Mucuna bracteata 10 MST

Perlakuan ULANGAN total rataan Indeks

I II III IV R1 15 20 20 21 76 30.4 100.00 R2 27 14 25 35 101 40.4 132.89 R3 20 41 25 51 137 54.8 180.26 R4 24 57 12 21 114 45.6 150.00 Total 86 132 82 128 428 171.2 Rataan 21.5 33 20.5 32 107 42.8 Fk 11449 Jk Total 2509 Jk Perlakuan 486.5 Jk Ulangan/ Blok 533 Jk Sisa 1489.5

Sk db JK KT F Hitung F Tabel 0.05 F Tabel 0.01 Ket

Jk Blok 3 533.00 177.67 1.07 2.99 4.68 tn Jk Perlakuan 3 486.50 162.17 0.98 2.99 4.68 tn Jk Sisa 9 1489.50 165.50 Jk Total 15 2509.00 KK 30.05766 Keterangan: tn : Tidak Nyata

* : Nyata Menurut Uji BNT 5%

(50)

Lampiran 10. Hasil Pengamatan Jumlah Bintil Akar Mucuna bracteata

PERLAKUAN JUMLAH BINTIL AKAR total Rataan Indeks

Ulangan I Ulangan II Ulangan III Ulangan IV

R1 55 50 65 46 216 54 100.00 R2 75 70 80 90 315 78.75 145.83 R3 86 78 90 85 339 84.75 156.94 R4 103 180 45 125 453 113.25 209.72 total 319 378 280 346 1323 330.75 rataan 79.75 94.5 70 86.5 330.75 82.6875 FK 109395.56 JK TOTAL 16959.438 JK PERLAKUAN 7107.1875 JK ULANGAN/BLOK 1294.6875 JK Sisa 8557.5625

SK db JK KT F Hitung F Tabel 0.05 F Tabel 0.01 Ket

JK BLOK 3 1294.69 431.56 3.00 2.99 4.68 * JK PERLAKUAN 3 7107.19 2369.06 16.47 2.99 4.68 ** JK SISA 9 1294.69 143.85 JK TOTAL 15 16959.44 Keterangan : tn : Tidak Nyata

* : Nyata Menurut Uji BNT 5%

(51)

Lampiran 11. Hasil Pengamatan Berat Kering Sulur dan Daun Mucuna bracteata

Perlakuan ULANGAN Total Rataan Indeks

I II III IV R1 19.30 19.50 17.20 11.00 67.00 16.75 100.00 R2 25.50 15.10 26.30 44.10 111.00 27.75 165.67 R3 16.10 33.10 17.00 50.34 116.54 29.14 173.94 R4 19.00 35.40 8.30 20.90 83.60 20.90 124.78 TOTAL 79.90 103.10 68.80 126.34 378.14 RATAAN 19.98 25.78 17.20 31.59 94.54 23.63 Perlakuan Indeks(%) R1 16.75 100.00 R2 27.75 165.67 R3 29.14 173.94 R4 20.90 124.78 Uji F F Hit F 5% F 1% R 1.07 2.99 4.68 BNT tn Keterangan : tn : Tidak Nyata * : Nyata ** : Sangat Nyata

(52)

Lampiran 12. Hasil Pengamatan Berat Kering Akar dan Bintil Akar Mucuna bracteata

Perlakuan ULANGAN Total Rataan Indeks

I II III IV R1 4.00 3.80 4.30 3.70 15.80 3.95 100.00 R2 3.70 4.00 5.50 7.10 20.30 5.08 128.48 R3 4.40 6.00 5.60 6.40 22.40 5.60 141.77 R4 5.40 5.50 4.40 5.60 20.90 5.23 132.28 TOTAL 17.50 19.30 19.80 22.80 79.40 RATAAN 4.38 4.83 4.95 5.70 19.85 4.96 Perlakuan Indeks(%) R1 3.95 100.00 R2 5.08 128.48 R3 5.60 141.77 R4 5.23 132.28 Uji F F Hit F 5% F 1% R 2.02 2.99 4.68 BNT tn Keterangan : tn : Tidak Nyata * : Nyata ** : Sangat Nyata

(53)

Lampiran 13. Hasil Pengamatan Kadar Nitrogen Daun Mucuna bracteata

Perlakuan 11MST kategori Indeks (%)

R1 3.04 s 100.00 R2 2.97 s 97.70 R3 2.90 s 95.39 R4 3.04 s 100.00 Rata-rata 2.99 s Keterangan : t : Kategori Tinggi (>3.1) s : Kategori Sedang (2.6 - 3.0) r: Kategori Rendah(<3.1)

(54)

Lampiran 14. Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian

Gambar 1. Tanah media tanam Gambar 2. Persiapan areal

Gambar 3. Media tanam benih Gambar 4. Seleksi benih

Gambar 5. Penanaman benih Gambar 6. Polibeg untuk media tanam

(55)

Gambar 7. Penanaman bibit Gambar 8. Pemeliharaan

Gambar 10. Pemberian Rhizobium Sp Gambar 11. Pembuatan anjang-anjang

(56)

Lampiran 15. Dokumentasi Hasil Pengamatan

Gambar 1. Pengamatan panjang sulur Gambar 2. Panen

Gambar 3. Pengamatan jumlah bintil Gambar 4. Pengeringan

Gambar

Gambar 2.1  Daun Mucuna bracteata
Gambar 2.2 Batang Mucuna bracteata  c.  Akar
Gambar 2.3 Akar Mucuna bracteata  d.  Bunga
Gambar 2.5 Biji Mucuna bracteata  2.2.  Syarat tumbuh
+7

Referensi

Dokumen terkait

Jika Tertanggung mengalami Kecelakaan dan dalam jangka waktu 90 (sembilan puluh) hari sejak tanggal terjadinya Kecelakaan tersebut Tertanggung meninggal dunia sebelum mencapai Usia

Berdasarkan hasil uji coba dari operasi date implementasi SQL dari database Nilai Mahasiswa dapat disimpulkan sebagai berikut: 1). Operasi date yang digunakan

bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap kebijakan hutang. Selain itu, penelitian Hasan (2014) menyatakan bahwa

● Sebagai ilmu, psikologi pendidikan bertujuan untuk menyajikan hasil2 penelitian yang dapat diterapkan secara efektif dalam

Lip balm merupakan sediaan kosmetik dengan komponen utama seperti lilin, lemak dan minyak dari ekstrak alami atau yang disintesis dengan tujuan untuk mencegah

Nama perusahaan ini adalah Karoongindo, arti kata Karoongindo tersebut diambil dari kata karoong dengan maksud karung dalam bahasa Indonesia dan karung juga

profitabilitas , dan leverage tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.. 2) Pengaruh Penerapan Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba

Jika ditinjau dari segi yuridis buruh mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan. pekerjaan dan penghasilan