Universitas Kristen Petra
29
4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1. Uji Validitas Dan Reliabilitas
Kuesioner yang valid menunjukkan bahwa setiap pertanyaan dalam kuesioner telah memiliki kemampuan pengukuran yang baik dalam mengukur variabelnya. Untuk mengukur validitas digunakan korelasi pearson dengan kriteria jika signifikansi r pearson yang dihasilkan lebih kecil dari 0.05, maka indikator dapat dikatakan valid. Reliabilitas menunjukkan kehandalan atau kekonsistenan sebuah kuisioner. Untuk mengukur reliabilitas digunakan nilai cronbach alpha. Jika nilai cronbach alpha > 0.6 maka kuesioner dapat dikatakan reliabel. Berikut adalah hasil dari pengujian validitas dan reliabilitas indikator pernyataan pada kuesioner penelitian yaitu dengan menggunakan 30 data responden:
Tabel 4.1.
Hasil Uji Validitas Dan Reliabilitas Daya Tarik Pusat Belanja
Indikator r
Pearson Signifikansi Cronbach Alpha F1.1 Kemudahan memperoleh tempat parkir 0.749 0.000
0.876 F1.2 Kemudahan menemukan papan arahan (signage) 0.456 0.011
F1.3 Pengaturan cahaya yang baik 0.695 0.000
F1.4 Pemutaran musik selama beraktivitas di dalam
pusat belanja 0.473 0.008
F1.5 Lorong dan ruang yang luas di dalam pusat
belanja 0.412 0.024
F1.6 Pengaturan sirkulasi udara dan suhu yang nyaman 0.517 0.003
F1.7 Kebersihan pusat belanja 0.673 0.000
F1.8 Keamanan pusat belanja 0.722 0.000
F1.9 Keramahan staff dalam melayani 0.704 0.000
F1.10 Pilihan brand yang disediakan 0.634 0.000
F1.11 Kombinasi tenant yang baik 0.437 0.016
F1.12 Penempatan tenant yang baik 0.455 0.012
F1.13 Penempatan lift dan escalator yang strategis 0.741 0.000 F1.14 Kemudahan mencari fasilitas umum (toilet,
tempat duduk, concierge, dll) 0.536 0.002
F1.15 Event (pameran, bazaar, late night shopping, dll)
yang diadakan oleh pusat belanja 0.584 0.001
F1.16 Variasi barang yang dijual 0.504 0.005
F1.17 Keanekaragaman barang yang dijual 0.612 0.000 F1.18 Kemudahan dalam mendapatkan program
loyalitas (member) 0.395 0.031
Sumber: Lampiran 2
Universitas Kristen Petra
30
daya tarik pusat belanja menghasilkan nilai signifikansi r pearson yang lebih kecil dari 0.05, sehingga dengan demikian dapat disimpulkan bahwa indikator-indikator pernyataan yang mengukur variabel daya tarik pusat belanja dapat dinyatakan valid.
Nilai cronbach alpha yang dihasilkan sebesar 0.876 dimana nilai tersebut lebih besar dari 0.6, sehingga dapat disimpulkan bahwa indikator pernyataan pada variabel daya tarik pusat belanja dapat dinyatakan reliabel.
Tabel 4.2.
Hasil Uji Validitas Dan Reliabilitas Shopping Experience
Indikator r Pearson Signifikansi Cronbach
Alpha F2.1
Suasana hati yang baik membuat saya meluangkan waktu yang lebih lama di dalam pusat belanja
0.432 0.017
0.726 F2.2 Saya belanja lebih banyak ketika saya merasa
senang 0.817 0.000
F2.3
Saya lebih tetarik untuk meninjau
produk/layanan yang melibatkan panca indera sebelum membelinya
0.634 0.000
F2.4
Rasa ingin tahu terhadap suatu produk/layanan membuat saya merasa tidak bosan selama di dalam pusat belanja
0.720 0.000
F2.5 Lingkungan yang kondusif membuat pengalaman
berbelanja saya lebih menyenangkan 0.725 0.000 F2.6
Keberadaan teman/keluarga/pasangan saat berbelanja membuat saya merasa waktu cepat berlalu
0.539 0.002
F2.7
Motif/tujuan saya berbelanja mampu terpenuhi ketika saya berkunjung disuatu pusat belanja di Surabaya
0.436 0.016
Sumber: Lampiran 2
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa setiap indikator pada variabel shopping experience menghasilkan nilai signifikansi r pearson yang lebih kecil dari 0.05, sehingga dengan demikian dapat disimpulkan bahwa indikator-indikator pernyataan yang mengukur variabel shopping experience dapat dinyatakan valid.
Nilai cronbach alpha yang dihasilkan sebesar 0.726 dimana nilai tersebut lebih besar dari 0.6, sehingga dapat disimpulkan bahwa indikator pernyataan pada variabel shopping experience dapat dinyatakan reliabel.
Universitas Kristen Petra
31 4.2. Analisis Profil Responden
Data pada penelitian ini diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner pada responden masyarakat Surabaya yang berusia 25 tahun keatas dan sudah bekerja, berdomisili di Surabaya lebih dari 1 tahun dan pernah mengunjungi Tunjungan Plaza, Pakuwon Mall, dan Galaxy Mall lebih dari 5 kali selama berdomisili di Surabaya dengan total responden sebanyak 102 orang. Analisa profil responden dijabarkan sebagai berikut:
Tabel 4.3.
Profil Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
Pria 43 42.2
Wanita 59 57.8
Total 102 100
Sumber: Lampiran 3
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa responden pria pada penelitian ini ada sebanyak 43 orang (42.2%) dan responden wanita sebanyak 59 orang (57.8%). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa rata-rata pengunjung pusat belanja adalah wanita.
Tabel 4.4.
Profil Status Keluarga
Status Keluarga Frekuensi Persentase
Belum Menikah 69 67.6
Sudah Menikah, Belum Memiliki Anak 9 8.8
Sudah Menikah, Sudah Memiliki Anak 24 23.5
Total 102 100
Sumber: Lampiran 3
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa mayoritas respoden dalam penelitian ini merupakan responden yang belum menikah yaitu sebanyak 69 orang (67.6%) sebab pada waktu penyebaran kuesioner banyak ditemui responden yang belum menikah.
Sedangkan responden yang sudah menikah dan belum memiliki anak merupakan responden dengan jumlah paling sedikit yaitu sebanyak 9 orang (8.8%).
Universitas Kristen Petra
32
Orang yang Diajak ke Pusat Perbelanjaan Orang yang diajak ke pusat
perbelanjaan Frekuensi Persentase
Sendirian 2 2.0
Teman 33 32.4
Keluarga 34 33.3
Pasangan 30 29.4
Lain-lain 3 2.9
Total 102 100
Sumber: Lampiran 3
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini merupakan responden yang berbelanja ke pusat perbelanjaan dengan mengajak keluarga yaitu sebanyak 34 orang (33.3%). Sedangkan responden yang berkunjung sendirian merupakan responden dengan jumlah paling sedikit yaitu sebanyak 2 orang (2%).
Tabel 4.6.
Waktu Berkunjung ke Pusat Perbelanjaan Waktu berkunjung ke
pusat perbelanjaan Frekuensi Persentase
Weekdays 29 28.4
Weekend 73 71.6
Total 102 100
Sumber: Lampiran 3
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa responden yang berkunjung pada saat weekend ada sebanyak 73 orang (71.6%) sedangkan responden yang berkunjung pada saat weekdays ada sebanyak 29 orang (28.4%). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini berkunjung ke pusat perbelanjaan pada saat weekend dikarenakan responden memiliki waktu luang yang lebih banyak pada saat weekend. Sedangkan saat weekdays, mayoritas responden pergi bekerja sehingga memiliki waktu yang lebih sedikit untuk berkunjung ke pusat perbelanjaan.
Universitas Kristen Petra
33 Tabel 4.7.
Jam berkunjung ke pusat perbelanjaan Jam berkunjung ke pusat
perbelanjaan Frekuensi Persentase
10.00-12.00 4 3.9
13.00-16.00 21 20.6
17.00-19.00 44 43.1
19.00 ke atas 33 32.4
Total 102 100
Sumber: Lampiran 3
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini berbelanja pada pukul 17.00-19.00 yaitu sebanyak 44 orang (43.1%) dikarenakan pada hari Sabtu masih banyak perkantoran yang beroperasi hingga siang hari, sehingga mayoritas responden berkunjung ke pusat perbelanjaan pada jam tersebut.
Sedangkan responden yang berkunjung pada pukul 10.00-12.00 merupakan responden dengan jumlah paling sedikit yaitu sebanyak 4 orang (3.9%) dikarenakan jam tersebut merupakan jam buka pusat belanja sehingga masih belum banyak orang yang datang dan masih banyak toko yang belum siap beroperasi.
Tabel 4.8.
Waktu yang Dihabiskan Ketika Berkunjung ke Pusat Perbelanjaan Waktu yang Dihabiskan Ketika
Berkunjung ke Pusat Perbelanjaan Frekuensi Persentase
1-2 Jam 5 4.9
2-3 Jam 32 31.4
3-4 Jam 48 47.1
> 4 Jam 17 16.7
Total 102 100
Sumber: Lampiran 3
Tabel 4.8 menunjukkan bahwa responden yang berbelanja menghabiskan waktu antara 3-4 jam merupakan responden mayoritas dalam penelitian ini yaitu sebanyak 48 orang (47.1%) sedangkan responden yang berkunjung menghabiskan waktu 1-2 jam merupakan responden dengan jumlah paling sedikit yaitu sebanyak 5 orang (4.9%).
Universitas Kristen Petra
34
Tujuan Utama Berkunjung ke Pusat Perbelanjaan Tujuan utama berkunjung ke
pusat perbelanjaan Frekuensi Persentase
Belanja 29 28.4
Bersosialisasi 3 2.9
Window Shopping 14 13.7
Makan 38 37.3
Lain-lain 18 17.6
Total 102 100
Sumber: Lampiran 3
Tabel 4.9 menunjukkan bahwa responden yang berkunjung dengan tujuan utama untuk makan merupakan responden mayoritas dalam penelitian ini yaitu sebanyak 38 orang (37.3%) dikarenakan di dalam pusat belanja terdapat berbagai macam pilihan makanan. Sedangkan responden yang berkunjung untuk tujuan bersosialisasi merupakan responden dengan jumlah paling sedikit yaitu sebanyak 3 orang (2.9%) dikarenakan masyarakat Surabaya lebih memilih untuk bersosialisasi di café atau coffeeshop.
Tabel 4.10.
Pengeluaran dalam Satu Kali Kunjungan ke Pusat Perbelanjaan Pengeluaran dalam satu kali
kunjungan ke pusat perbelanjaan Frekuensi Persentase
< 100.000 5 4.9
100.000-500.000 73 71.6
500.000-1.000.000 17 16.7
> 1.000.000 7 6.9
Total 102 100
Sumber: Lampiran 3
Tabel 4.10 menunjukkan bahwa responden yang memiliki pengeluaran sebesar Rp.100.000-Rp.500.000 dalam sekali kunjungan merupakan responden mayoritas dalam penelitian ini yaitu sebanyak 73 orang (71.6%) sedangkan responden yang berkunjung dengan pengeluaran < Rp. 100.000 dalam sekali
Universitas Kristen Petra
35
kunjungan merupakan responden dengan jumlah paling sedikit yaitu sebanyak 5 orang (4.9%).
4.3. Analisis Deskriptif Variabel Penelitian
Pada deskripsi variabel penelitian ini akan dijelaskan jawaban responden mengenai variabel daya tarik pusat belanja dan shopping experience. Deskripsi jawaban responden dilakukan dengan menghitung nilai rata-rata (mean) dan nilai standar deviasi. Untuk mengkategorikan rata-rata jawaban responden digunakan interval kelas yang dicari dengan rumus sebagai berikut:
8 . 5 0
1 5 Kelas
Jumlah
Terendah Nilai
Tertinggi Nilai
Kelas
Interval - = - =
=
Dengan interval kelas 0.8 kemudian disusun kriteria rata-rata jawaban responden yang disajikan pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.11.
Kategori Rata-Rata Jawaban Responden
Interval Kategori
4.20 < a =< 5.00 Sangat Tinggi/ Sangat Baik 3.40 < a =< 4.20 Tinggi/ Baik
2.60 < a =< 3.40 Cukup
1.80 < a =< 2.60 Rendah/ Buruk
1.00 < a =< 1.80 Sangat Rendah/ Sangat Buruk Sumber: Lampiran 4
a. Daya Tarik Pusat Belanja
Berikut adalah deskripsi jawaban responden mengenai daya tarik pusat belanja:
Universitas Kristen Petra
36
Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Daya Tarik Pusat Belanja
Indikator Rata-rata Std. Deviasi
F1.1 Kemudahan memperoleh tempat parkir 3.69 1.034
F1.2 Kemudahan menemukan papan arahan (signage) 3.79 0.825
F1.3 Pengaturan cahaya yang baik 3.93 0.787
Accessibility 3.80
F1.4 Pemutaran musik selama beraktivitas di dalam
pusat belanja 3.73 0.785
F1.5 Lorong dan ruang yang luas di dalam pusat
belanja 4.14 0.675
F1.6 Pengaturan sirkulasi udara dan suhu yang nyaman 4.33 0.680
Atmosphere 4.07
F1.7 Kebersihan pusat belanja 4.54 0.640
F1.8 Keamanan pusat belanja 4.39 0.747
Environment 4.47
F1.9 Keramahan staff dalam melayani 4.22 0.766
Service Personnel 4.22
F1.10 Pilihan brand yang disediakan 4.10 0.802
F1.11 Kombinasi tenant yang baik 4.11 0.770
Tenant/ Retail Mix 4.10
F1.12 Penempatan tenant yang baik 4.00 0.771
F1.13 Penempatan lift dan escalator yang strategis 4.03 0.826 F1.14 Kemudahan mencari fasilitas umum (toilet,
tempat duduk, concierge, dll) 4.17 0.822
Design and Layout 4.07
F1.15 Event (pameran, bazaar, late night shopping, dll)
yang diadakan oleh pusat belanja 4.05 0.849
Event 4.05
F1.16 Variasi barang yang dijual 4.24 0.663
F1.17 Keanekaragaman barang yang dijual 4.24 0.648
Variety and Assortments 4.24
F1.18 Kemudahan dalam mendapatkan program
loyalitas (member) 3.73 0.946
Loyalty Programs 3.73
Keseluruhan 4.08
Sumber: Lampiran 4
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa secara keseluruhan rata-rata jawaban pada vaiabel daya tarik pusat belanja yaitu sebesar 4.08 (Setuju), hal ini dapat diartikan bahwa responden beranggapan bahwa pusat perbelanjaan memiliki daya tarik yang tinggi. Persepsi tertinggi dari konsumen mengenai daya tarik pusat belanja yaitu
Universitas Kristen Petra
37
terletak pada aspek environment, yaitu dengan rata-rata tertinggi sebesar 4.47.
Sedangkan persepsi terendah mengenai daya tarik pusat belanja terletak pada aspek loyalty programs, yaitu dengan rata-rata sebesar 3.73. Standar deviasi menunjukkan keragaman data jawaban di masing-masing indikator. Diketahui bahwa standar deviasi terendah yaitu sebesar 0.640 pada indikator F1.7. Hal ini menunjukkan bahwa pernyataan tentang kebersihan pusat belanja memiliki variasi jawaban yang paling rendah, dengan kata lain responden memiliki tanggapan yang sama pada pernyataan tersebut.
b. Shopping Experience
Berikut adalah deskripsi jawaban responden mengenai shopping experience:
Tabel 4.13.
Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Shopping Experience
Indikator Rata-rata Std. Deviasi
F2.1 Suasana hati yang baik membuat saya meluangkan
waktu yang lebih lama di dalam pusat belanja 4.02 0.844 F2.2 Saya belanja lebih banyak ketika saya merasa senang 3.55 1.030
Emosi/ Suasana Hati 3.78
F2.3 Saya lebih tetarik untuk meninjau produk/layanan yang
melibatkan panca indera sebelum membelinya 4.00 0.771
Panca Indera 4.00
F2.4
Rasa ingin tahu terhadap suatu produk/layanan membuat saya merasa tidak bosan selama di dalam pusat belanja
3.94 0.806
Pengalaman Kogntif 3.94
F2.5 Lingkungan yang kondusif membuat pengalaman
berbelanja saya lebih menyenangkan 4.25 0.696
F2.6 Keberadaan teman/keluarga/pasangan saat berbelanja
membuat saya merasa waktu cepat berlalu 4.19 0.805
Lingkungan Sosial 4.22
F2.7 Motif/tujuan saya berbelanja mampu terpenuhi ketika
saya berkunjung disuatu pusat belanja di Surabaya 3.93 0.761
Motif Belanja 3.93
Keseluruhan 3.98
Sumber: Lampiran 4
Secara keseluruhan rata-rata jawaban pada variabel shopping experience yaitu sebesar 3.98 (Setuju), hal ini dapat diartikan bahwa responden memiliki pengalaman berbelanja yang baik. Persepsi tertinggi dari konsumen mengenai
Universitas Kristen Petra
38
rata tertinggi sebesar 4.22. Persepsi terendah mengenai shopping experience terletak pada aspek emosi/ suasana hati, yaitu dengan rata-rata sebesar 3.78. Standar deviasi menunjukkan keragaman data jawaban di masing-masing indikator.
Diketahui bahwa standar deviasi terendah yaitu sebesar 0.696 pada indikator F2.5.
Hal ini menunjukkan bahwa pernyataan tentang lingkungan yang kondusif membuat pengalaman berbelanja lebih menyenangkan, memiliki variasi jawaban yang paling rendah, dengan kata lain responden memiliki tanggapan yang sama pada pernyataan tersebut.
4.4. Partial Least Square 4.4.1. Evaluasi Outer Model
Tahap awal yang harus dilakukan dalam analisis Partial Least Square (PLS) yaitu memeriksa atau mengevaluasi pengukuran dalam model yang dianalisis, yaitu melalui evaluasi Outer Model. Berikut gambar hasil evaluasi Outer Model yang dihasilkan:
Gambar 4.1. Gambar Evaluasi Outer Model
Universitas Kristen Petra
39 a. Convergent Validity
Evaluasi pertama pada Outer Model adalah Convergent Validity. Untuk mengukur Convergent Validity yaitu dengan melihat nilai dari masing-masing Outer Loading. Suatu indikator dikatakan memenuhi Convergent Validity jika memiliki nilai Outer Loading > 0.5. Berikut adalah nilai Outer Loading masing- masing indikator pada variabel penelitian:
Tabel 4.14.
Nilai Outer Loading
Variabel Indikator Outer Loadings
Daya Tarik Pusat Belanja
Accesibility 0.648
Atmosphere 0.725
Environment 0.643
Serv. Personnel 0.710
Tenant/ RetailMix 0.747
Design and Layout 0.801
Events 0.683
Variety Assortments 0.714
Loyalty Programs 0.650
Shopping Experience
Emosi/Suasana Hati 0.762
Panca Indera 0.654
Pengalaman Kognitif 0.732
Lingkungan Sosial 0.808
Motif Belanja 0.660
Sumber: Lampiran 5
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa nilai Outer Loading masing- masing indikator pada kedua variabel penelitian semuanya bernilai lebih dari 0.5.
Hal ini berarti indikator-indikator yang digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi Convergent Validity. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa indikator-indikator yang digunakan di masing-masing variabel dapat mengukur dengan baik variabel daya tarik pusat belanja maupun Shopping Experience.
b. Discriminat Validity
Evaluasi kedua pada Outer Model adalah Discriminant Validity. Untuk mengukur Discriminant Validity digunakan nilai Cross Loading. Suatu indikator dikatakan memenuhi Discriminant Validity jika nilai Cross Loading indikator
Universitas Kristen Petra
40
lainnya. Berikut ini disajikan tabel nilai Cross Loading:
Tabel 4.15.
Nilai Cross Loading Indikator Daya Tarik
Pusat Belanja Shopping Experience
Accesibility 0.648 0.254
Atmosphere 0.725 0.413
Environment 0.643 0.225
Serv. Personnel 0.710 0.309
Tenant/ RetailMix 0.747 0.427
Design and Layout 0.801 0.378
Events 0.683 0.381
Variety Assortments 0.714 0.364
Loyalty Programs 0.650 0.532
Emosi/Suasana Hati 0.478 0.762
Panca Indera 0.250 0.654
Pengalaman Kognitif 0.353 0.732
Lingkungan Sosial 0.452 0.808
Motif Belanja 0.387 0.660
Sumber: Lampiran 5
Berdasarkan nilai Cross Loading, dapat diketahui bahwa setiap indikator yang menyusun masing-masing variabel dalam penelitian ini (nilai yang dicetak tebal) telah memenuhi Discriminant Validity karena memiliki nilai Outer Loading terbesar untuk variabel yang dibentuknya dan tidak pada variabel yang lain. Dengan demikian setiap indikator di masing-masing variabel dalam penelitian ini telah memenuhi Discriminant Validity.
Cara lain yang dapat digunakan untuk menguji Discriminant Validity pada analisis PLS yaitu dengan membandingkan nilai dari akar AVE tiap variabel dengan korelasi antar variabel. Jika nilai dari akar AVE lebih besar dibandingkan korelasi- korelasi antar variabel, maka dapat disimpulkan bahwa Discriminant Validity telah terpenuhi. Berikut adalah pengujian Discriminant Validity dengan menggunakan perbandingan antara akar AVE dan korelasi antar variabel:
Universitas Kristen Petra
41 Tabel 4.16.
Akar AVE dan Korelasi Antar Variabel
Variabel AVE Akar
AVE
Korelasi antar variabel Daya Tarik
Pusat Belanja
Shopping Experience Daya Tarik Pusat
Belanja 0.496 0.704 1
Shopping
Experience 0.526 0.726 0.547 1
Sumber: Lampiran 5
Berdasarkan Tabel 4.9 dapat diketahui bahwa secara umum nilai akar AVE setiap variabel adalah lebih besar jika dibandingkan dengan nilai korelasi antara variabel dengan variabel lainnya di dalam model, sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap variabel pada penelitian ini telah memiliki Discriminant Validity yang cukup baik.
c. Composite Reliability
Evaluasi berikutnya pada Outer Model adalah Composite Reliability.
Composite Reliability menguji nilai reliabilitas indikator-indikator pada suatu konstruk. Suatu konstruk atau variabel dikatakan memenuhi Composite Reliability jika memiliki nilai Composite Reliability > 0.7. Berikut adalah nilai Composite Reliability masing-masing konstruk atau variabel:
Tabel 4.17.
Nilai Composite Reliability
Variabel Composite Reliability Daya Tarik Pusat Belanja 0.898
Shopping Experience 0.847
Sumber: Lampiran 5
Tabel 4.10 menunjukkan bahwa nilai Composite Reliability dari setiap variabel penelitian nilainya lebih dari 0.7. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masing-masing variabel telah memenuhi reliabilitas yang diharapkan.
Universitas Kristen Petra
42 a. Nilai R-Square
Berdasarkan pengolahan data dengan SmartPLS 2.0, dihasilkan nilai R- Square sebagai berikut:
Tabel 4.18.
Nilai R-Square
Variabel R-Square
Shopping Experience 0.300 Sumber: Lampiran 5
Nilai R-Square pada variabel Shopping Experience sebesar 0.300, yang berarti bahwa prosentase besarnya keragaman data Shopping Experience yang dapat dijelaskan oleh daya tarik pusat belanja adalah sebesar 30%, dengan kata lain juga dapat disimpulkan bahwa daya tarik pusat belanja dapat mempengaruhi sebesar 30% Shopping Experience dari pengunjung pusat perbelanjaan dalam penelitian ini.
Pada model PLS, penilaian ketepatan prediksi (Predictive Relevance) diketahui dari nilai Q2. Nilai Q2 > 0 menunjukkan bahwa model secara umum memiliki ketepatan prediksi yang baik. Dari Tabel 4.11 dapat dihitung nilai Q2 sebagai berikut:
Nilai Q2 = 1 – (1 – 0.0300) = 0.300
Dari hasil perhitungan diketahui nilai Q2 sebesar 0.300, dimana nilai ini lebih besar dari nol, yang menunjukkan bahwa model structural yang dikembangkan pada penelitian ini memiiki ketepatan prediksi yang baik. Dapat diinterpretasikan juga bahwa model struktural yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat memprediksi dengan baik sebesar 30% Shopping Experience dari pengunjung pusat perbelanjaan dalam penelitian ini.
b. Uji Hipotesis
Hipotesis penelitian dapat diterima jika nilai T Statistik > t tabel pada tingkat kesalahan (α) 5% yaitu 1.96. Berikut adalah nilai koefisien (Original Sample Estimate) dan nilai T Statistik yang dihasilkan pada Inner Model:
Universitas Kristen Petra
43 Tabel 4.19
Nilai Koefisien dan T Statistik Hubungan Original
Sample (O)
Sample Mean
(M)
Standard Deviation (STDEV)
Standard Error (STERR)
T Statistics (|O/STERR|) Daya Tarik Pusat
Belanja è Shopping Experience
0.547 0.575 0.072 0.072 7.596 Sumber: Lampiran 5
Nilai T Statistics pengaruh daya tarik pusat belanja terhadap Shopping Experience adalah sebesar 7.596 yang lebih besar dari 1.96, hal ini menunjukkan bahwa daya tarik pusat belanja berpengaruh signifikan terhadap Shopping Experience dari pengunjung. Nilai koefisien yang dihasilkan bernilai positif sebesar 0.547, hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi daya tarik pusat belanja, maka semakin tinggi pula Shopping Experience dari pengunjung. Hasil ini mendukung hipotesis penelitian yang menduga bahwa daya tarik pusat belanja berpengaruh signifikan terhadap Shopping Experience.
4.5. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat simpulkan bahwa terdapat 9 faktor pembentuk daya tarik pusat belanja di Surabaya antara lain Accessibility, Atmosphere, Environment, Service Personnel, Tenant/Retail Mix, Design &
Layout, Events, Variety & Assortments dan Loyalty Programs. 9 faktor tersebut memiliki nilai outer loading terbesar untuk variabel daya tarik pusat belanja pada nilai cross loading, sehingga dapat dipastikan bahwa 9 faktor tersebut memenuhi faktor pembentuk daya tarik pusat belanja. Design & Layout merupakan faktor yang paling dominan dalam membentuk daya tarik pusat belanja dikarenakan faktor tersebut memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan suasana yang nyaman serta memudahkan pengunjung untuk berbelanja ketika berada di dalam suatu pusat belanja. Design & Layout meliputi penempatan tenant, escalator dan lift yang strategis serta kemudahan dalam mencari fasilitas umum (toilet, concierge, tempat duduk, dll) dalam suatu pusat belanja.
Sedangkan untuk Shopping Experience, terdapat 5 faktor pembentuk antara lain emosi/suasana hati, panca indera, pengalaman kognitif, lingkungan sosial dan
Universitas Kristen Petra
44
pembentuk Shopping Experience tersebut memiliki nilai outer loading terbesar pada nilai cross loading, sehingga dapat dinyatakan bahwa 5 faktor tersebut memenuhi faktor pembentuk Shopping Experience. Lingkungan sosial merupakan faktor yang paling dominan dalam membentuk Shopping Experience dikarenakan keberadaan teman/keluarga/pasangan dan lingkungan yang kondusif saat berbelanja menciptakan suasana yang lebih menyenangkan ketika berada di dalam suatu pusat belanja. Pergi berbelanja dengan keluarga/teman dapat menambah informasi mengenai produk atau tren terbaru serta pengunjung juga dapat berinteraksi dengan konsumen lainnya yang memiliki minat yang sama.
Berdasarkan perhitungan nilai R-Square, dapat dilihat faktor pembentuk daya tarik pusat belanja berpengaruh terhadap Shopping Experience. Daya tarik pusat belanja memiliki kontribusi sebesar 30% terhadap shopping experience pengunjung pada pusat belanja. Dari hasil perhitungan, terbukti bahwa faktor pembentuk daya tarik pusat belanja berpengaruh signifikan terhadap Shopping Experience. Hal ini didukung oleh penelitian terdahulu bahwa pengalaman berbelanja yang positif berdasarkan daya estetika sangat efektif dalam meningkatkan omset serta mendorong pengunjung untuk meluangkan waktu yang lebih lama di dalam pusat belanja (Srinivasan & Srivastava, 2010).
Selain daya tarik pusat belanja, faktor yang dapat membentuk Shopping Experience terletak pada kepuasan pengunjung terhadap sebuah ritel. Berdasarkan penelitian terhadulu, kepuasan sebuah ritel meliputi nilai dan kualitas, suasana ritel dan loyalitas toko. Menurut Terblanche & Boshoff (2006), memberikan pengalaman yang unik di dalam sebuah ritel dapat mempengaruhi pengalaman berbelanja seseorang secara menyeluruh. Riset menyatakan bahwa konsumen mengharapkan nilai uang yang dikeluarkan sebanding terhadap kualitas produk atau jasa yang dibeli (Singh, 2013, dikutip dalam Paul, Sangkaranarayan & Mekoth, 2016). Selain itu, Shopping Experience seseorang juga dibentuk oleh suasana ritel dimana toko memiliki design yang menarik, atmosfer dan lingkungan sosial yang menyenangkan serta Customer Services yang baik (Davis, 2013).