• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRINSIP FIRST TO FILE DALAM PENDAFTARAN HAK MEREK DI INDONESIA (STUDI PUTUSAN PK NOMOR : 179PK/PDT.SUS/2012) TESIS. Oleh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PRINSIP FIRST TO FILE DALAM PENDAFTARAN HAK MEREK DI INDONESIA (STUDI PUTUSAN PK NOMOR : 179PK/PDT.SUS/2012) TESIS. Oleh"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

PRINSIP FIRST TO FILE DALAM PENDAFTARAN HAK MEREK DI INDONESIA (STUDI PUTUSAN PK

NOMOR : 179PK/PDT.SUS/2012)

TESIS

Oleh

MOHAMMAD GHUFFRAN 147011013/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh

MOHAMMAD GHUFFRAN 147011013/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(3)

Judul Tesis : PRINSIP FIRST TO FILE DALAM PENDAFTARAN HAK MEREK DI INDONESIA (STUDI PUTUSAN PK NOMOR : 179PK/PDT.SUS/2012)

Nama Mahasiswa : MOHAMMAD GHUFFRAN Nomor Pokok : 147011013

Program Studi : KENOTARIATAN

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Dr. OK. Saidin, SH, MHum)

Pembimbing Pembimbing

(Dr. Jelly Leviza, SH, MHum) (Dr.T.Keizerina Devi A,SH,CN,MHum)

Ketua Program Studi, Dekan,

(Prof.Dr.Muhammad Yamin,SH,MS,CN) (Prof.Dr.Budiman Ginting,SH,MHum)

Tanggal lulus : 02 February 2017

(4)

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Saidin, SH, MHum

Anggota : 1. Dr. Jelly Leviza, SH, MHum

2. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum 3. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN 4. Dr. Dedi Harianto, SH, MHum

(5)

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : MOHAMMAD GHUFFRAN

Nim : 147011013

Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU

Judul Tesis : PRINSIP FIRST TO FILE DALAM PENDAFTARAN HAK MEREK DI INDONESIA (STUDI PUTUSAN PK NOMOR : 179PK/PDT.SUS/2012)

Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.

Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.

Medan,

Yang membuat Pernyataan

Nama : MOHAMMAD GHUFFRAN Nim : 147011013

(6)

sebagai pembeda, merek tertentu dalam kehidupan sehari-hari sering dianggap sebagai jaminan kualitas atas suatu barang atau jasa. Ada dua sistem yang dikenal dalam pendaftaran merek, yaitu sistem deklaratif (first to use) dan sistem konstitutif (first to file). Undang- Undang Merek No 20 Tahun 2016 menganut sistem pendaftaran konstitutif, sama dengan undang-undang sebelumnya, yaitu Undang-Undang No. 15 tahun 2001,Undang-Undang No.

19 Tahun 1992 dan Undang-Undang No.14 Tahun 1997. Hal ini merupakan perubahan mendasar dalam Undang-Undang Merek di Indonesia yang semula menganut sistem deklaratif (Undang-Undang No. 21 Tahun 1961). Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah pertama : Bagaimana Prinsip First To File dalam Undang-Undang No.

20 tahun 2016 tentang Merek di Indonesia. Kedua : Bagaimana Perlindungan Hukum Dalam hal terjadi pelanggaran terhadap pemegang Merek Dagang. Ketiga : Bagaimana Dasar Pertimbangan Hakim dalam Sengketa Merek Kok Tong Kopitiam dan Kopitiam setelah Putusan PK Nomor : 179 PK/PDT.SUS/2012.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Metode penelitian normatif disebut juga sebagai penelitian doktrinal (doctrinal research) yaitu suatu penelitian yang menganalisis hukum baik yang tertulis didalam buku (law as it is written in the book), maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan (law it is decided by the judge through judicial process). Penelitian hukum normatif ini menggunakan data sekunder.

Hasil Penelitian diketahui bahwa pengaturan prinsip first to file yaitu diatur dalam UU Hak Merek Nomor 20 tahun 2016 yang menganut sistem pendaftaran Konstitutif, yaitu siapa yang mendaftar pertama suatu merek, dialah yang dianggap berhak menurut hukum atas merek yang bersangkutan. Perlindungan Hukum apabila terjadi pelanggaran terhadap pemegang Merk Dagang yaitu dengan perlindungan Hukum Preventif dan Perlindungan Hukum Represif. Dasar Pertimbangan Hakim setelah Putusan PK Nomor : 179 PK/PDT.SUS/2012 yaitu berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2016, pasal 21dan Prinsip First to file.

Kata Kunci : Hak Merek, UU No. 20 tahun 2016, Prinsip First to file

(7)

ABSTRACT

Trademark is symbol such as pictures, names, words, letters, number or combinations of all of these which possess a particular characteristic that distinguishes a product from the others in the trade of goods and services. In addition, certain trademarks in daily life are frequently rated as the quality guarantee to some goods or services. There are two systems recognized concerning trademark, namely declarative system (first to use) and constitutive system (first to file). The Trademark Law Year 2016 follows the constitutive registration system; it is similar to the previous law; namely, the Law No. 15/2001, Law No.

19/1992 and Law No. 14/1997. It is a fundamental change in the Trademark Law in Indonesia which used to implement the declarative system (the Law No. 21/1961). The problems in the research are: how the First to File Principle in the Law No.20/2016 concerning Trademark in Indonesia is, how the legal protection in case there are violations to the Trademark holder is and how the Judge’s basic consideration and the legal consequences after the PK (Judicial Review) Verdict No. 179 PK/PDT.SUS/2012 are.

The research uses the judicial normative method. It is also called a doctrinal research; namely, a research which analyzes either the law as it is written in the book or the law as it is decided by the judge through judicial process. This normative legal research used secondary data.

The results show that the regulation of the first to file principle is stipulated in the Trademark Law No. 20/2016 which follows the Constitutive Registration system; namely, the first to register a trademark is considered legally entitled to the concerned trademark. The legal protection in case there are some violations to the Trademark holder is the Preventive Legal Protection and the Repressive Legal Protection. The Judge’s consideration after the PK Verdict No. 179 PK/PDT.SUS/2012 is based on the Law No. 20/2016 article 6 concerning the First to file Principle.

Keywords: Trademark Right, the Law No. 20/2016, First to File Principle.

(8)

TO FILE DALAM PENDAFTARAN HAK MEREK DI INDONESIA (STUDI PUTUSAN PK NOMOR : 179PK/PDT.SUS/2012)”

Penulis tesis ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam menyelesaikan Program Studi Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Dalam kesempatan ini dengan kerendahan hati,Penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang tulus kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada Penulis untuk mengikuti pendidikan Program Studi Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan menjadi mahasiswa Program Studi Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin SH, MS, CN, selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus Pen guji I yang telah memberikan petunjuk, arahan, dan bimbingan selama pendidikan;.

4. Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar SH, CN, M.Hum, selaku Sekretaris Program studi Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus Dosen Pembimbing yang telah memberikan masukan serta kritik yang membangun kepada Penulis.

(9)

5. Bapak Dr. OK. Saidin, SH, M.Hum, selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah memberikan perhatian, dukungan dan masukan serta kritik yang membangun kepada Penulis.

6. Bapak Dr. Jelly Leviza, SH, M.Hum, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan perhatian, dukungan dan masukan serta kritik yang membangun kepada Penulis.

7. Dr. Dedi Harianto, SH, M.Hum selaku dosen penguji saya yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun kepada Penulis.

8. Bapak-bapak dan Ibu-ibu staf pengajar serta para pegawai di Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

9. Kepada yang terhormat dan terkasih kedua orang tuaku ayahanda H. Ir. Muchlis Hoesin dan ibunda Hj. Wardaty M. Amin, B.Sc yang dengan penuh perjuangan telah selalu mendoakan, membesarkan dan mendukung serta mendidik sedemikian rupa sehingga Penulis dapat sampai pada jenjang ini.

10. Kepada Kakak dr. Reastuty, Abang Turhamun Muchlis, ST, dan Adik Zukirwan Muchlis yang telah memberikan semangat serta bantuan-bantuan lainya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan studi ini.

11. Kepada keluarga besar mahasiswa-mahasiswi Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Angkatan 2014 terkhusus group B, semoga kita semua sukses selalu.

12. Kepada rekan-rekan pengurus Ikatan Mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara (IMMK) 2015, terima kasih atas kerjasamanya selama kepengurusan, semoga kita sukses selalu.

(10)

pihak.

Medan, 2 Februari 2017 Penulis

Mohammad Ghuffran NIM. 147011013

(11)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS PRIBADI

Nama : Mohammad Ghuffran

Tempat/Tanggal lahir : Lhokseumawe / 20 Oktober 1991 Jenis Kelamin : Laki laki

Status : Lajang

Agama : Islam

Alamat : Komp. TASBIH Blok MM No. 4 Medan

II. KELUARGA

Nama Ayah : H. Ir. Muchlis Hoesin Nama Ibu : Hj. Wardaty M. Amin, B.Sc

III. PENDIDIKAN

1. SD Swasta YPAA (1997-2003) 2. SMP Negeri 1 Medan (2003-2006) 3. SMA Negeri 1 Medan (2006-2009)

4. S-1 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (2009-2013) 5. S-2 Program Studi Magister Kenotariatan FH USU (2014-2017)

(12)

KATA PENGANTAR... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 12

C. Tujuan Penelitian ... 12

D. Manfaat Penelitian ... 13

E. Keaslian Penelitian... 14

F. Kerangka Teori dan Konsepsi... 15

1. Kerangka Teori ... 15

2. Konsepsi... 17

G. Metodelogi Penelitian ... 18

1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 18

2. Sumber Data Penelitian... 20

3. Teknik Pengumpulan Data... 21

4. Alat Pengumpul Data ... 22

5. Analisa data... 22

BAB II PRINSIP FIRST TO FILE DALAM UNDANG-UNDANG NO. 20 TAHUN 2016 TENTANG MEREK DI INDONESIA ... 24

A. Undang-Undang Merek dalam Persepektif Hak Kekayaan Intelektual... 24

1. Pengertian Merek ... 25

2. Jenis Merek ... 29

3. Fungsi Merek ... 33

(13)

B. Prinsip First to Use dalam Pengaturan Hukum Merek di

Indonesia ... 37

C. Prinsif First to File dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2016 tentang Merek... 47

BAB III PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMEGANG MEREK DAGANG DALAM HAL TERJADI PELANGGARAN... 57

A. Sistem Pendaftaran Dan Penghapusan Pendaftaran Merek ... 57

1. Sistem Pendaftaran Merek ... 57

2. Penghapusan Pendaftaran Merek ... 67

B. Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Hak Merek Yang Terdaftar... 72

1. Jangka Waktu Perlindungan Merek ... 72

2. Konsep Perlindungan Merek... 76

C. Bentuk Perlindungan Hukum Bagi Pemegang Hak Atas Merek 78 1. Perlindungan Hukum Preventif... 85

2. Perlindungan Hukum Represif... 88

BAB IV PERTIMBANGAN HAKIM DALAM SENGKETA MEREK KOK TONG KOPITIAM DAN KOPITIAM DALAM PUTUSAN PK NOMOR : 179 PK/PDT.SUS/2012 ... 93

A. Deskripsi Kasus... 93

B. Pertimbangan Hukum Hakim... 96

C. Analisis Pertimbangan Hukum Hakim... 110

D. Akibat Hukum ... 120

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 122

A. Kesimpulan ... 122

B. Saran... 124

DAFTAR PUSTAKA ... 125

(14)

A. Latar Belakang

Hak Kekayaan Intelektual adalah kekayaan manusia yang tidak berwujud nyata tetapi berperan besar dalam memajukan peradaban umat manusia, sehingga perlindungan Hak Kekayaan Intelektual diberikan oleh negara untuk merangsang minat para Pencipta, Penemu, Pendesain, dan Pemulia, agar mereka dapat lebih bersemangat dalam menghasilkan karya-karya intelektual yang baru demi kemajuan masyarakat.1

Pada dasarnya Hak Kekayaan Intelektual merupakan suatu hak yang timbul sebagai hasil kemampuan intelektual manusia dalam berbagai bidang yang menghasilkan suatu proses atau produk yang bermanfaat bagi umat manusia. Karya- karya di bidang ilmu pengetahuan, seni, sastra, ataupun invensi di bidang teknologi merupakan contoh karya cipta sebagai hasil kreativitas intelektual manusia, melalui cipta, rasa, dan karsanya. Karya cipta tersebut menimbulkan hak milik bagi pencipta atau penemunya.2

Hukum Hak Kekayaan Intelektual merupakan sebuah hukum yang harus terus mengikuti perkembangan tekhnologi untuk melindungi kepentingan pencipta. Kata milik atau kepemilikan dalam Hak Kekayaan Intelektual memiliki ruang lingkup

1Hariyani, Iswi, Prosedur Mengurus HAKI yang Benar, Yogyakarta: Penerbit Pustaka Yustisia, 2010, hal. 6.

2Santoso, Budi, Pengantar HKI Dan Audit HKI Untuk Perusahaan, Semarang: Penerbit Pustaka Magister, 2009, hal 4.

(15)

2

yang lebih khusus dibandingkan dengan istilah kekayaan. Hal ini juga sejalan dengan konsep hukum perdata Indonesia yang menerapkan istilah milik atas benda yang dipunyai seseorang.3

Seiring dengan era globalisasi dalam dunia perdagangan, maka undang- undangan mengenai hak merek dianggap penting. Terutama Indonesia sebagai salah satu anggota masyarakat Internasional yang secara resmi telah mengesahkan keikutsertaannya dan menerima persetujuan pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (Agreement Estabilishing The World trade Organization)..4Dengan demikian Indonesia terikat untuk melaksanakan persetujuan tersebut.

Salah satu persetujuan dibawah pengelolaan World Trade Organization (WTO) ialah Agreement Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights, Including Trade in Counterfeit Goods (Persetujuan mengenai aspek-aspek dagang yang terkait dengan Hak Kekayaan Intelektual, termasuk perdagangan barang palsu) yang disingkat dengan TRIPs.5Pemerintah menyadari bahwa implementasi sistem Hak Kekayaan Intelektual merupakan tugas besar maka dengan itu untuk melaksanakan persetujuan Trade Related Aspects Of Intellectual Property Rights tersebut sekaligus membangun sistem hukum nasional di bidang Hak Kekayaan Intelektual, Indonesia telah membuat peraturan perundang-undangan di bidang Hak Kekayaan Intelektual yaitu Undang-Undang nomor 20 tahun 2016 tentang Hak Merek.

3O.K. Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual ( Intellectual Property Right ), Cetakan Keempat, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2007, hal. 254.

4Asian Law Group, Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, Bandung, Alumni, 2004, hal.3

5Ibid, hal. 4

(16)

Dalam perkembangannya, Hak Kekayaan Intelektual telah memiliki pengaturan di Indonesia adalah:

1. Merek diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1961 yang telah dicabut dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1992 jo. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1997. Tahun 2001 telah dikeluarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek yang mencabut ketentuan Undang-Undang Merek lama dan Tahun 2016 di keluarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi geografis..

2. Paten diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1989 diubah dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1997, kemudian dicabut dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten. Tahun 2016 dikeluarkan Undang-Undang nomor 13 Tahun 2016 tentang Hak Paten.

3. Hak Cipta diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987, diubah lagi dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997, dan diubah lagi dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002, terakhir dicabut dengan di keluarkannya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014.

4. Persaingan Tidak Sehat, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat.

5. Desain Industri diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000.

6. Undisclosed Information/Rahasia Dagang yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000.

(17)

4

7. Topography Right (Semi konduktor) (Tata Letak Sirkuit Terpadu) diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2000.

Kondisi saat ini, setiap barang dan jasa yang diperdagangkan semestinya menggunakan merek dagang, sebab sebagaimana diketahui bahwa fungsi dasar merek dagang adalah menjadi pembeda antara produk barang atau jasa dari satu produsen dengan produsen lainnya. Merek berfungsi sebagai tanda pengenal yang menunjukkan asal barang dan jasa, sekaligus menghubungkan barang dan jasa yang bersangkutan dengan produsennya.6

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 itu sendiri disebut bahwa merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo,nama, kata, huruf, angka,susunan warna dalam bentuk,dua atau tiga dimensi,suara atau hologram,atau kombinasi dari kesemuanya yang mempunyai ciri khas sendiri sehingga menjadi daya pembeda dengan produk lain dan digunakan dalam perdagangan barang maupun jasa. Selain sebagai pembeda, merek tertentu dalam kehidupan sehari-hari sering dianggap sebagai jaminan kualitas atas suatu barang atau jasa. Merek menggambarkan jaminan kepribadian (individuality) serta reputasi suatu barang dan jasa hasil usaha sewaktu diperdagangkan.7

Menurut Tim Lindsey, sebuah merek dapat menjadi kekayaan yang sangat berharga secara komersial.8 Merek suatu perusahaan seringkali lebih bernilai dibanding aset riil perusahaan.9Perusahaan dengan merek besar memiliki aset besar.

6Muhammad Djumhana dan R. Djubaedillah, “Hak Milik Intelektual Sejarah Teori dan Prakteknya di Indonesia Edisi Revisi”, Cetakan Ketiga, Bandung: PT.Citra Aditya Bakti, 2003, hal.170.

7 Ibid. hal. 176

8 Tim Lindsey, et all, Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, PT Alumni, 2005, Bandung, hal. 131.

(18)

Bagaimanapun juga merek adalah aset jangka panjang, dan perusahaaan dapat meraup keuntungan darinya selama bertahun-tahun, bagaikan seorang bintang filmatau politisi yang hidup dari reputasi mereka bertahun-tahun lamanya.10

Ada dua sistem yang dikenal dalam pendaftaran merek, yaitu sistem deklaratif (first to use) dan sistem konstitutif (first to file). Undang-Undang Merek Tahun 2001 menganut sistem pendaftaran konstitutif, sama dengan undang-undang sebelumnya, yaitu Undang-Undang No. 19 Tahun 1992, dan Undang-Undang No.14 Tahun 1997.

Hal ini merupakan perubahan mendasar dalam Undang-UndangMerek di Indonesia yang semula menganut sistem deklaratif (Undang-UndangNo. 21 Tahun 1961).11

Pada sistem deklaratif, titik berat diletakan pada pemakai pertama. Siapa yang memakai pertama suatu merek, dialah yang dianggap berhak menurut hukum atas prasangka menurut hukum, sebaliknya dalam sistem pendaftaran konstitutif, prinsip penerimaan merek adalah first to file, artinya siapapun yang mendaftar lebih dahulu akan diterima pendaftarannya dengan tidak mempersoalkan apakah si pendaftar benar-benar menggunakan merek tersebut untuk kepentingan usahanya.

Salah satu perubahan yang terjadi dari revisi Undang-Undang Merek adalah terkait sistem pemberian hak, pada awalnya Undang-undang Merek menganut system deklaratif atau first to use yaitu perlindungan hukum bagi pihak yang menggunakan merek terlebih dahulu, kemudian berubah menjadi sistem konstitutif atau first to file

9 Ibid. hal. 134

10David Arnold, Pedoman Manajemen Merek, PT Kentindo Soho, Surabaya, 1996, hal. 5.

11Atmajaya. Pentingnya Pendaftaran Merek, http://yudicare.wordpress.com /2011/03/17/

/15/03/2014. 10.37, diakses tanggal 10 Mei 2016

(19)

6

yaitu perlindungan hukum diberikan kepada pihak yang dengan itikad baik mendaftarkan mereknya ke kantor pendaftaran merek di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI). Hal lain yang disempurnakan adalah terkait penyelesaian permohonan pendaftaran merek yang tidak hanya melalui pemeriksaan substantif juga harus memenuhi syarat administratif, sehingga dapat diketahui dengan cepat apakah permohonan tersebut disetujui atau ditolak. Terkait penyelesaian sengketa merek, sanksinya dipertegas selain sanksi pembayaran ganti rugi juga ada sanksi pidana.

Jaminan terhadap aspek keadilan nampak pula dalam pelimpahan kewenangan penyelesaian sengketa merek yang pada mulanya berada dalam kewenangan absolut Pengadilan Negeri, dengan adanya revisi Undang-undang Merek kewenangan absolute penyelesaian sengketa merek terletak pada Pengadilan Niaga. Tujuannya adalah agar penyelesaiannya dapat berjalan dengan cepat sehingga tidak menghambat kegiatan usahanya.12

Perlindungan hukum atas suatu merek yang dimiliki oleh seseorang perlu diberikan oleh negara kepada pemiliknya yang sah secara tepat, karena hak atas merek memiliki potensi yang besar untuk menciptakan sengketa. Bagi pemilik merek yang telah terdaftar secara sah, jika terjadi pemalsuan terhadap mereknya dapat mengurangi pemasukan, karena volume penjualan menurun atau bilamana barang yang diproduksi si pemalsu merek tidak memadai kualitasnya, sehingga pada

12O. C. Kaligis, Teori dan Praktik Hukum Merek Indonesia, Alumni, Bandung , 2008, hal. 19

(20)

akhirnya nama baik dari merek itu yang akan tercemar, begitu juga konsumen akan kehilangan kepercayaan atas kualitas barang yang dibelinya.13

Salah satu contoh sengketa hak atas merek yang menjadi perhatian publik adalah mengenai merek “Kopitiam”. Bermula pada tahun 2010 pemilik merek terdaftar “Kopitiam” yaitu Abdul Alek Soelystio melakukan gugatan pembatalan merek “Kok Tong Kopitiam” yang dimiliki oleh Paimin Halim. Sengketa hak atas merek dagang ini sangat menarik, baik dari proses permohonan pendaftaran mereknya dan terkait penyelesaian sengketanya.

Kopitiam adalah gabungan dari dua kata yang melibatkan banyak budaya.

Tiam merupakan kata Hokkien untuk Toko. Sebagian besar imigran Cina di Asia Tenggara berasal dari Provinsi Hokkien (Mandarin: Fujian) dan sudah ratusan tahun bahasa dan adat istiadat Hokkien di antara mereka bercampur dengan Melayu. Jadi, Kopitiam tak lain berarti kedai kopi.

Gambar 1.1. Kopitiam

Sumber : http://nutscoffee.com

13 Ibid, hal . 23

(21)

8

Sengketa Merek antara Abdul Alek Soelystio dan Paimin Halim Pada tanggal 6 Juli 1995 Abdul Alek Soelystio mengajukan permohonan pendaftaran Merek

“Kopitiam” kepada Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek Departemen Kehakiman RI pada tanggal 6 Juli 1995 dan disetujui pendaftarannya dengan diberikan Sertifikat Merek Nomor Pendaftaran: 371718 tanggal 18 Oktober 1996 untuk jenis jasa kelas 42 yaitu jasa-jasa dibidang penyediaan makanan dan minuman, sebagai nama cafe dan restauran miliknya dalam wilayah Indonesia.

Abdul Alek Soelystio kemudian pada tanggal 15 Desember 2004 telah mengajukan perpanjangan permohonan pendaftaran merek “Kopitiam” kepada DitJen HKI untuk jenis jasa kelas 43 yang meliputi: “Jasa-jasa di bidang penyediaan makanan dan minuman, penginapan (akomodasi) sementara”.

Setelah DitJen HKI melakukan pemeriksaan sesuai ketentuan prosedur sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek, Abdul Alek Soelistyo telah diberikan Sertifikat Merek Nomor IDM 000030899 tanggal 14 Maret 2005.

Pada tanggal 4 Desember 2006, Paimin Halim seorang pengusaha kedai kopi di Pematang Siantar, Sumatera Utara telah mengajukan permohonan pendaftaran merek “Kok Tong Kopitiam” dalam Agenda Nomor Permohonan: 0002006039276, untuk kelas jasa 43. Ketika proses pengumuman dilakukan Abdul Alek Soelystio mengajukan keberatan tertulis atas pendaftaran merek “Kok Tong Kopitiam” milik Paimin Halim. Bahwa ternyata kemudian berdasarkan putusan Komisi Banding Merek Nomor 237/KBM/HKI/2009 tanggal 14 Agustus 2009, Merek “Kok Tong

(22)

Kopitiam” milik Paimin Halim boleh untuk didaftarkan dan selanjutnya memperoleh Sertifikat Pendaftaran Merek nomor: IDM000226705 tanggal 13 November 2009 dibolehkan untuk didaftarkan dan selanjutnya memperoleh Sertifikat Pendaftaran Merek nomor: IDM000226705 tanggal 13 November 2009.

Gambar 1.2. Kok Tong Kopi Tiam

Sumber : http://news.detik.com

Di dalam putusan Komisi Banding dalam pertimbangan huruf b dan c merek

“Kok Tong Kopitiam” memiliki daya pembeda yang cukup berupa kata “Kok Tong”

dan masih dapat dilihat sebagai dua merek yang tidak sama sehingga tidak akan mengecoh konsumen apabila terdaftar untuk jenis barang yang sama. Berdasarkan sumber data yang diperoleh baik melalui media cetak maupun elektronik mengatakan kata “Kopitiam” merupakan Bahasa Melayu, yang sering digunakan masyarakat melayu termasuk di daerah asal pemohon banding, sebagai sebutan bagi “Kedai Kopi”. Kata “Kopitiam” memiliki konsep demikian maka daya pembeda terletak pada

“Kok Tong” sedangkan kata “Kopitiam” merupakan kata keterangan yang berkaitan

(23)

10

dengan jenis jasa yang dimintakan pendaftarannya dan sangat tidak merupakan implementasi dari ide, khusus untuk merek tertuang dalam ketentuan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016.

Akibat diterimanya pendaftaran Kok Tong Kopitiam, Abdul Alek Soelystio mengajukan gugatan pembatalan merek Kopitiam ke Pengadian Niaga Medan. Hakim memberi putusannya Nomor: 5/Merek/2010/PN. Niaga. Medan:

1. Mengabulkan gugatan penggugat (Abdul Alek Soelystio) seluruhnya.

2. Menyatakan Penggugat (Abdul Alek Soelystio) adalah pemilik satu-satunya dan pemegang hak eksklusif atas merek “KOPITIAM” di Indonesia untuk jenis kelas 43.

3. Menyatakan Penggugat (Abdul Alek Soelystio) sebagai Pendaftar Pertama atas merek “KOPITIAM” sebagaimana Sertifikat Merek No. Pendaftaran: 371718 tanggal 18 Oktober 1996 telah diperpanjang dengan No. IDM000030899.

4. Menyatakan merek “KOK TONG KOPITIAM” milik Tergugat I (Paimin Halim) yang terdaftar Nomor IDM226705, tanggal 13 November 2009 (untuk kelas 43) mempunyai persamaan pada pokoknya dengan merek “KOPITIAM” milik Penggugat yang terdaftar IDM000030899 tanggal 14 Maret 2005.

5. Menyatakan pendaftaran merek “KOK TONG KOPITIAM” milik Tergugat I (Paimin Halim) yang terdaftar Nomor IDM000226705, tanggal 13 November 2009 (untuk kelas 43) didaftarkan atas dasar itikad tidak baik.

6. Membatalkan atau setidak-tidaknya menyatakan Batal Pendaftaran Merek No. 43 atas nama Tergugat I (Paimin Halim) dari Daftar Umum Merek.

(24)

7. Memerintahkan Tergugat II (Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual) untuk tunduk dan taat pada putusan ini, dengan melaksanakan pembatalan pendaftaran merek No. IDM000226705 “KOK TONG KOPITIAM” dari Daftar Umum Merek dan mengumumkannya dalam Berita Resmi Merek; Abdul Alek Soelystio sebagai pemilik merek Kopitiam mengajukan gugatan pembatalan merek Kopitiam kepada Pengadilan Niaga Medan. Ia mengemukakan alasan dalam gugatannya bahwa merek “Kopitiam” terdaftar miliknya berhak mendapat perlindungan oleh Direktorat Merek karena telah melalui pemeriksaan substantif yang tertuang dalam Keputusan Pemeriksa Merek pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Menurut Abdul Alek Soelystio merek Kopitiam miliknya adalah merek yang dilindungi Undang-undang. Ia mendasarkan pada Direktorat Jenderal Hak yang telah menolak permohonan pendaftaran merek yang dianggap mempunyai persamaan pada pokoknya dengan merek-merek terdaftar Kopitiam milik Abdul Alek Soelystio.

Terakhir Tergugat melakukan upaya hukum yaitu Kasasi Ke Mahkamah Agung dengan putusan Mahkamah Agung Nomor : 179 PK/PDT.SUS/2012 dengan putusannya menolak gugatan penggugat dengan dasar pertimbangan hakim telah sesuai dengan Prinsip First To File yang sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2016 Pasal 21 :

a. Mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan Merek milik pihak lain yang sudah terdaftar lebih dahulu untuk barang dan/atau jas yang sejenis;

(25)

12

b. Mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan Merek yang sudah terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau sejenisnya.

c. Mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan indikasi-geografis yang sudah dikenal.

Berdasarkan Uraian diatas, maka Penelitian tentang prinsip pendaftaran merek penting untuk dilakukan agar diketahui menurut peraturan perundang-undangan nasional di Indonesia.

B. Perumusan Masalah

Beragamnya permasalahan yang ada dan cukup luas masalah yang diamati dalam penelitian ini maka dikemukakan beberapa permasalahan yang terjadi antara lain :

1. Bagaimana Prinsip First To File dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2016 tentang Merek di Indonesia?

2. Bagaimana perlindungan hukum dalam hal terjadi pelanggaran terhadap pemegang merek dagang?

3. Bagaimana pertimbangan hukum hakim dalam sengketa merek antara Kok Tong Kopitiam dan Kopitiam dalam Putusan PK Nomor : 179 PK/PDT.SUS/2012?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang tersebut diatas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

(26)

1. Untuk mengetahui dan menganalisa Prinsip First To File dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2016 tentang Merek di Indonesia.

2. Untuk mengetahui dan menganalisa Perlindungan Hukum Dalam Hal Terjadi Pelanggaran Terhadap Pemegang Merek Dagang

3. Untuk mengetahui dan menganalisa Dasar Pertimbangan hukum Hakim dalam sengketa merek antara Kok Tong Kopitiam dan Kopitiam dalam Putusan PK Nomor : 179 PK/PDT.SUS/2012.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis dan praktis agar dapat memberikan manfaat bagi orang lain :

1. Manfaat secara Teoritis

a. Diharapkan dapat digunakan sebagai sumbangan pemikiran dan pengembangan ilmu hukum pada umumnya dan hukum hak kekayaan intelektual pada khusunya dan penelitian ini dapat menambah bahan terutama bahan masalah hak merek terhadap pedaftaran hak merek.

b. Diharapkan dapat menambah refrensi/literatur sebagai bahan acuan bagi penelitian yang akan dating apabila melakukan penelitian di bidang yang sama dengan bahan yang di teliti.

2. Manfaat secara Praktis

a. Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam penelitian ini.

(27)

14

b. Diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat umum dan menambah pengetahuan penelitian yang berkaitan dengan hukum hak kekayaan intelektual terutama tentang hak merek.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan hasil penelusuran kepustakaan dan pemeriksaan yang telah penulis lakukan, baik di Kepustakaan Penulisan Karya Ilmiah Magister Hukum, maupun di Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, dan ditemukan beberapa hasil penulisan yang menyangkut dengan permasalahan dan pembahasan cacat tersembunyi, yakni :

1. Nama : VANA ISURA SITEPU

Nim : 117011120

Judul Tesis : Pelaksanaan prinsip first to file dalam penyelesaian sengketa merk dagang asing di pengadilan (studi kasus tentang gugatan pencabutan hak merek Toast Box oleh breadtalk PTE Nomor 02/Merek/2011/PN Niaga/Medan

Perumusan Masalah:

1. Bagaimana Perlindungan hukum terhadap merek dagang asing di Indonesia menurut Undang-Undang No. 15 tahun 2001 tentang Merek?

2. Bagaimana pelaksanaan prinsip first to file dalam penyelesaian sengketa merek dagang asing dalam peradilan di Indonesia?

(28)

3. Bagaimana Penyelesaian Sengketa dalam Hal Merek Dagang Asing Mempunyai Persamaan Pada Pokoknya atau keseluruhannya dengan Merek Terdaftar di Indonesia?

2. Nama : FACHRIAL

Nim : 047005025

Judul Tesis : Tinjauan Yuridis Penerapan Prinsip Itikad Baik Dalam Sengketa Merek (Studi Kasus Di Pengadilan Niaga Medan) Perumusan Masalah:

1. Bagaimana pengaturan hukum atas prinsip itikad baik dalam Hukum Merek di Indonesia?

2. Bagaimana perlindungan prinsip itikad baik bagi pelaku usaha yang telah mendaftarkan produknya bila ditinjau dariUndang-Undang Nomor 15 tahun 2001 tentang Merek?

3. Bagaimana penerapan prinsip itikad baik jika terjadi sengketa merek di Pengadilan Niaga Medan ?

F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

Teori memberikan petunjuk-petunjuk terhadap kekurangan-kekuragan pada pengetahuan peneliti.14 Konsep teori menurut M. Solly Lubis ialah : “Kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, mengenai suatu kasus ataupun permasalahan

14Soerjono Soekanto, Ringkasan Metodolgi Penelitian Hukum Empiris, Jakarta, IND-HLL- CO, 1990, hal. 67.

(29)

16

(problem) yang bagi si pembaca menjadi bahan perbandingan, pegangan teori, yang mungkin ia setuju ataupun tidak disetujuinya, ini merupakan masukan eksternal bagi peneliti.15

Teori yang digunakan dalam penulisan tesis ini adalah Teori Kepastian Hukum, Teori kepastian hukum dikemukakan oleh Roscoe Pound.16Teori kepastian hukum berarti bahwa dengan adanya hukum setiap orang mengetahui yang mana dan seberapa besar hak dan kewajibannya.Kepastian bukan hanya berupa pasal-pasal dalam Undang-undang melainkan juga adanya konsistensi dalam putusan hakim antara putusan hakim yang satu dengan putusan hakim lainnya untuk kasus yang serupa yang telah diputuskan.17

Menurut Utrecht, Kepastian Hukum mengandung dua pengertian, yaitu pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua, berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu.18

Kepastian Hukum itu diwujudkan oleh hukum dengan sifatnya yang hanya membuat suatu aturan hukum yang bersifat umum.Sifat umum dari aturan-aturan hukum membuktikan bahwa hukum tidak bertujuan untuk mewujudkan keadilan atau kemanfaatan, melainkan semata-mata untuk kepastian.19

15M. Solly Lubis, Filsafat ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung, 1994, hal. 80.

16Peter Mahmud Marzuki, Pengantar lmu Hukum, Jakarta, Kencana Pranada Media Group, 2008, hal. 158.

17Ibid, hal. 159

18Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Penerbit Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, Hal. 24

19Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum (suatu kajian filosofis dan sosiologis), Penerbit Toko Gunung Agung, Jakarta, 2002, hal 82-83

(30)

Teori yang dipakai kaitannya dengan penelitian tesis ini adalah pentingnya pendaftaran pertama dalam hak merek agar terciptanya kepastian hukum bagi pemegang hak merek.

2. Konsepsi

Konsepsi adalah salah satu bagian terpenting dari teori, peranan konsepsi dalam penelitian ini untuk menggabungkan teori dengan observasi, antara abstrak dan kenyataan. Konsep diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang disebutdefenisi operasional.

Menurut Burhan Ashshofa, suatu konsep merupakan bagian abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari jumlah karakteristik kejadian, keadaan, kelompok atau individu tertentu. Adapun uraian dari pada konsep yang dipakai dalam penelitian ini adalah:

a. Prinsip First to file adalah Siapa yang mendaftar pertama suatu merek, dialah yang dianggap berhak menurut hukum atas merek yang bersangkutan.

b. Merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo,nama, kata, huruf, angka,susunan warna dalam bentuk,dua atau tiga dimensi,suara atau hologram,atau kombinasi dari kesemuanya yang mempunyai ciri khas sendiri sehingga menjadi daya pembeda dengan produk lain dan digunakan dalam perdagangan barang maupun jasa.".20

20H.M N. Purwo Sutjipto, Pengertian Pokok-pokok Hukum Dagang Indonesia, Djambatan, 1983, hal. 82.

(31)

18

c. Merek dagang adalah merek yang dipergunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan barang-barang sejenis lainnya21 d. Hak Merek adalah Hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada pemilik merek yang terdaftar untuk jamgka waktu tertentu dengan menggunakan sendiri merek tersebut atau memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakannya”.22

e. Perlindungan Merek adalah kekuatan hukum yang melindungi suatu merekyang terdiri dari tiga standar perlindungan yang berlaku umum terhadap suatu kemungkinan yang membingungkan diantara merek, suatu persamaan atau penambahan dari merek-merek dan persaingan curang merek.23

G. Metodelogi Penelitian

Untuk memperoleh kajian yang relevan dengan tema pokok bahasan dan untuk mempermudah pengertian serta arah penulisan yang sesuai dengan permasalahan pada judul, maka dalam mengumpulkan suatu daftar yang mempergunakan perangkat metodologi dan menganalisa semua data yang terkumpul.

Adapun perangkat-perangkat metodologi yang dimaksud ialah:

1. Jenis dan Sifat Penelitian

21 Pasal 1 UU No. 20 Tahun 2016

22 Ibid

23 H. D. Effendy Hasibuan, Perlindungan Merek Studi Mengenai Putusan Pengadilan Indonesia dan Amerika Serikat (Depok: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia) 2003, hal. 22.

(32)

Dalam penelitian ini menggunakan jenis penilitian yuridis normatif, yang disebabkan karena penelitian ini merupakan penelitian ini hukum doktriner yang disebut juga penelitian hukum kepustakaan atau studi dokumen yang dilakukan atau ditujukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau badan hukum lain.24 Penelitian hukum yuridis normatif adalah penelitian hukum yang menggunakan sumber data sekunder atau data yang diperoleh melalui bahan-bahan pustaka dengan meneliti sumber-sumber bacaan yang relevan dengan tema penelitian, meliputi penelitian terhadap azas-azas hukum, sumber-sumber hukum, teori hukum, buku- buku, peraturan perundangan yang bersifat teoritis ilmiah serta dapat menganalisa permasalahan yang dibahas.25

Penelitian hukum normatif dikonsepsikan sebagai apa yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan (law in the books) yang merupakan patokan berprilaku manusia yang dianggap pantas.26Penelitian hukum normatif dilakukan dengan cara melakukan pengumpulan peraturan perundangan. Peraturan tersebut dikumpulkan dengan cara mengoleksi publikasi-publikasi dan dokumen-dokumen yang mengandung peraturan-peraturan hukum positif. Setelah bahan-bahan tersebut terkumpul, kemudian diklasifikasi secara sitematis untuk melakukan inventaris data sabagai bahan kepustakaan saat melakukan penelitian serta mengacu pada norma- norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundangan di Indonesia.27

24Bambang Waluyo, Metode Penelitian Hukum, GhaliaIndonesia, Semarang, 1996, hal.13

25Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Rajawali Press, Jakarta, 2010, hal. 13-14

26Muslin Abdurrahman, Sosiologi Dan MetodologiPenelitian Hukum, UMM Press, Malang, 2009, hal. 27

27Bambang Sunggono, Metodelogi Penelitian Hukum, Rajawali Press, Jakarta, 2011, hal. 81-82

(33)

20

Penelitian ini bersifat deskriptif analisis, bersifat deskriptif analisis maksudnya dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti. Analisis dimaksudkan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh akan dilakukan analisis secara cermat untuk menjawab permasalahannya.28 Deskriptif maksudnya untuk mengetahui dan memperoleh gambaran secara menyeluruh dan sistematis tetang peraturan yang dipergunakan berkaitan dengan Hak merek. Analisis maksudnya mengungkapkan karakteristik objek dengan cara menguraikan karakteristik objek dengan cara menguraikan dan menafsirkan fakta-fakta tentang konvensi bahasa dan pokok persoalan yang diteliti.29

Penelitian ini menggunakan metode pendekatan studi kasus (case study).

Pendekatan kasus dalam penelitian normatif bertujuan untuk mempelajari norma- norma atau atau kaidah hukum yang dilakukan dalam prektek hukum. 30 Dalam menggunakan pendekatan kasus yang perlu dipahami oleh peneliti adalah ratio decidenci, yaitu alasan hukum yang digunakan oleh hakim untuk sampai kepada putusannya.31

2. Sumber Data Penelitian

Data penelitian menggunakan data hukum sekunder dengan menggunakan bahan-bahan hukum primer, sekunder maupun tertier yang dikumpulkan melalui studi dokumen dan kepustakaan yang terdiri dari :

28 Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, Alumni, Bandung, 2006, hal.101

29Johni Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normative, Bayu Media Publshing, Malang, 2005, hal. 336

30Ibid, hal. 268

31Peter Mahmud Marzuki, op-cit, hal. 41

(34)

a. Bahan Hukum Primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, seperti peraturan perundang-undangan. Dalam penelitian ini bahan hukum primer adalah Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Hak Merek dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan Hak Merek dan Putusan PK Nomor 179PK/PDT.SUS/2012.

b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, misalnya Rancangan Undang-undang (RUU), hasil penelitian hukum, hasil karya ilmiah dari kalangan hukum, dan sebagainya.

Bahan hukum sekunder terutama adalah buku-buku teks karena buku teks berisi mengenai prinsip-prinsip dasar ilmu hukum dan pandangan-pandangan klasik para sarjana yang mempunyai klasifikasi tinggi.32

c. Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan-bahan yang memberi petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, misalnya kamus hukum, ensiklopedia, indeks kumulatif, dan sebagainya.

3. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data-data dari penelitiaan ini diperoleh dari Library Research yaitu penelitian yang dilaksanakan melalui tinjauan kepustakaan atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer untuk memperoleh informasi dan data yang dapat dipergunakan sebagai dasar dalam penelitian dan analisa terhadap masalah yang akan dibahas dipenelitian ini. Adapun data-data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain berasal dari buku-buku baik milik pribadi maupun dari

32Ibid, hal. 141

(35)

22

perpustakaan, dokumen-dokumen pemerintah termasuk peraturan perundang- undangan, karya ilmiah, jurnal-jurnal ilmiah.

4. Alat Pengumpul Data

Alat Pengumpul datadapat dilakukan dengan cara studi dokumen. Studi dokumen merupakan langkah awal dari setiap penelitian hukum (baik normatif maupun sosiologis), karena penelitian hukum selalu bertolak dari premis normatif.

Studi dokumen bagi penelitian hukum meliputi studi bahan-bahan hukum yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Setiap bahan hukum ini harus diperiksa ulang validitas dan realibilitasnya, sebab hal ini sangat menetukan hasil suatu penelitian.33

5. Analisa Data

Analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan menguraikan data kedalam pola, kategori, dan suatu uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesa kerja seperti yang disarankan data.34

Setelah data dikumpulkan maka akan di analisa data dengan menggunakan metode kualitatif. Kualitatif digunakan karena data bersifat monografis atau kasus- kasus yang tidak dapat disusun ke dalam suatu struktur klasifikasi Data yang diperoleh disajikan dan dianalisa secara kualitatif dengan langkah-langkah yaitu data diklasifikasikan sesuai dengan permasalahan penelitian, hasilnya disestemasikan

33 Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT. Raja Grafindo Persada, 2004, hal 68

34 Lexi J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1993, hal 103.

(36)

kemudian dianalisa untuk dijadakan dasar dalam mengambil kesimpulan. Dalam penelitian ini teknik pendekatan yang digunakan adalah yuridis normatif dimana pendekatan ini menganalisa permasalahan dari sudut pandang atau menurut ketentuan hukum perundang-undangan yang berlaku.

Adapun mekanisme yang dilakukan peneliti dalam menganalisa data secara kualitatif adalah dengan mengolah dan mengorganisasikan data kualitatif sebagai berikut:

a. Peneliti mengorganisasikan data kualitatif seperti peraturan perundang- undangan yang berkaitan dengan diroganisasikan kedalam kelompok, fokus, tema dan identifikasi masalah tertentu kemudian keseluruhan data harus direduksi dan dikelompokan secara khusus.

b. Setelah data telah direduksi, peneliti akan menampilkan data hasil reduksi tersebut dengan menganalisa dan mengidentifikasikan pola atau tema yang ada dalam data-data tersebut kemudian menyusunnya menjadi suatu laporan data.

Adapun metode berpikir yang digunakan adalah metode berpikir deduktif yaitu membahas dari hal-hal yang bersifat umum lalu menjelaskan ke hal-hal yang bersifat khusus.

(37)

BAB II

PRINSIP FIRST TO FILE DALAM UNDANG-UNDANG NO. 20 TAHUN 2016 TENTANG MEREK DI INDONESIA

A. Undang-Undang Merek dalam Persepektif Hak Kekayaan Intelektual 1. Pengertian Merek

Merek adalah alat untuk membedakan barang dan jasa yang di produksi oleh suatu perusahaan. Menurut Mollengraaf, merek yaitu “dengan mana di pribadikanlah sebuah barang tertentu untuk menunjukkan asal barang dan jaminan kualitasnya sehingga bisa di bandingkan dengan barang-barang sejenis yang di buat dan di perdagangkan oleh orang-orang atau perusahaan lain”.

Dari pengertian di atas, dapat dilihat bahwa pada mulanya merek hanya di akui untuk barang, pengakuan untuk merek jasa baru di akui pada Konvensi Paris pada perubahan di Lisabon 1958. di Inggris, merek jasa baru bisa di daftarkan dan mempunyai konsekuensi yang sama dengan merek barang setelah adanya ketentuan yang baru di berlakukan pada Oktober 1986 yaitu Undang-Undang hasil revisi pada tahun 1984 atas Undang-Undang Trade Marks 1938. mengenai merek jasa tersebut di Indonesia baru di cantumkan pada Undang-Undang Merek No. 19 Tahun 1992.35

Pencantuman pengertian merek sekarang ini, pada dasarnya banyak kesamaannya di antara Negara peserta Uni Paris, hal ini di karenakan mereka mengacu pada ketentuan Konvensi Paris tersebut. Hal ini terjadi pula pada Negara

35Muhammad Djumhana dan R. Djubaedillah, Opcit. Hal. 121.

(38)

berkembang, mereka banyak mengadopsi pengertian merek dari model hukum untuk negara-negara berkembang yang di keluarkan oleh BIRPI tahun 1967.

Dalam Pasal 1 butir 1 Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 Tentang Merek diberikan pengertian atau batasan tentang merek yaitu “Merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo,nama, kata, huruf, angka,susunan warna dalam bentuk dua dimensi atau tiga dimensi,suara atau hologram,atau kombinasi dari kesemuanya yang mempunyai ciri khas sendiri sehingga menjadi daya pembeda dengan produk lain dan digunakan dalam perdagangan barang maupun jasa. ”.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, memberikan pengertian tentang merek sebagai berikut36Merek adalah tanda yang dikenakan oleh pengusaha (pabrik, produsen, dan lain sebagainya) pada barang-barang yang dihasilkan sebagai tanda pengenal, cap (tanda) yang menjadi pengenal untuk menyatakan nama dan sebagainya.

Banyak para pakar lain yang juga memberikan batasan yuridis pengertian merek, antara lain:37

a. H.M.N. Purwo Sutjipto, "Merek adalah suatu tanda, dengan mana suatu benda tertentu dipribadikan, sehingga dapat dibedakan dengan benda lain yang sejenis".38

36Getas I Gusti Gede, Peranan Merek Dalam Dunia Usaha, Upada Sastra, Denpasar, 1996, hal. 2.

37OK. Saidin, Op.Cit. Hal. 267-268.

38H.M N. Purwo Sutjipto, Op.Cit, hal. 82.

(39)

26

b. K. Soekardono, "Merek adalah sebuah tanda (Jawa: ciri atau tengger) dengan mana dipribadikan sebuah barang tertentu, di mana perlu juga dipribadikan asalnya barang atau menjamin kualitetnya barang dalam perbandingan dengan barang-barang sejenis yang dibuat atau diperdagangkan oleh orang-orang atau badan-badan perusahaan lain".39

c. Mr. Tirtaamidjaya yang mensitir pendapat Prof. Vollmar, "Suatu merek pabrik atau merek perniagaan adalah suatu tanda yang dibubuhkan di atas barang atau di atas bungkusannya, gunanya membedakan barang itu dengan barang- barang yang sejenis lainnya".40

Dari beberapa rumusan pengertian mengenai merek tersebut di atas, maka ada beberapa unsur yang harus dipenuhi untuk suatu merek. Unsur itu adalah :41

a. Merupakan suatu tanda b. Mempunyai daya pembeda c. Digunakan dalam perdagangan

d. Digunakan pada barang atau jasa yang sejenis.

Tanda yang dapat dipakai sebagai merek tanda yang dapat memiliki daya pembeda. Untuk merek dagang tanda dapat dilekatkan pada barangnya, pembukusnya atau kedua-duanya. Sedangkan untuk merek jasa dapat dicantumkan secara tertentu pada hal-hal yang bersangkutan dengan merek jasa.42

39R. Soekardono, Hukum Dagang Indonesia, Jilid I, Cetakan ke-8, Dian Rakyat, Jakarta, 1962, hal. 149

40Mr. Tirtaamidjaya, Pokok-Pokok Hukum Perniagaan, Djambatan, 1962, hal. 80

41Agung Sudjatmiko, Perlindungan Hukum hak atas Merek, Yuridika, 2000, hal. 355

42 Muhamad Djumhana dan Djubaedillah, Op. Cit, hlm. 156.

(40)

Menurut Muhamad Djumhana dan R. Djubaedillah, merek merupakan alat untuk membedakan barang dan jasa yang diproduksi oleh sesuatu perusahaan.43 Pengertian itu menekankan pada fungsi merek untuk membedakan antara barang dan jasa yang sejenis. Mengenai daya pembeda menurut Sudargo Gautama memberikan ilustrasi bahwa suatu merek harus dapat memberikan penentuan atau individuali sering barang yang bersangkutan, sehingga pihak ketiga dapat membedakan merek yang satu dengan merek yang lain.44

Seiring perjalanan waktu, peranan merek berkembang dalam enam kategori peran: unbranded, brand as reference, brand as personality, brand as icon, brand as company, dan brand as policy. Unbranded products bercirikan komoditas yang satu sama lain sulit dibedakan kualitasnya, sehingga biasanya harga menjadi kriteria pembelian utama. Sebagai referensi/acuan, nama merek lazimnya sekaligus merupakan nama produsen. Nama digunakan untuk identifikasi dan jaminan konsistensi kualitas. Sebagai kepribadian, merek mampu berdiri ‘mandiri’, di mana komunikasi pemasaran dirancang untuk memberikan makna bagi merek bersangkutan sesuai dengan konteks yang diharapkan pemilik merek.

Dukungan pemasaran biasanya difokuskan pada daya tarik emosional.

Sebagai ikon, merek bukan lagi sekedar properti produsen, namun telah menjadi

‘kepunyaan’ konsumen. Merek menjadi bagian dari keseharian konsumen dan masyarakat secara umum. Brand as company mencerminkan situasi merek yang

43 Ibid, hal. 154.

44 Sudargo Gautama, Hukum Merek Indonesia, Alumni, Bandung, 1977, hal. 34. (selanjutnya disebut Sudargo Gautama I).

(41)

28

memiliki identitas kompleks. Pemilik merek harus mampu memfokuskan manfaat- manfaat korporasi (corporate benefits) bagi beraneka macam segmen pelanggan.

Dalam hal ini, kemampuan mengintegrasikan strategi komunikasi pemasaran menjadi aspek krusial. Sementara itu, brand as policy menggambarkan keselarasan antara perusahaan, merek, dan isu-isu sosial maupun politik. Konsumen ‘menyuarakan’ isu- isu sosial dan politik melalui perusahaan dan merek.45

Dalam pasal 15 TRIPs dikatakan bahwa yang disebut suatu merek adalah:46 Any sign, or any combination of sign, capable of distinguishing the goods or services of one undertaking from those of undertaking, shall be capable of constituting a trade mark. Such signs, in particular words, including personal names, letters, numerals, figurative elements and combinations of colours as well any combination of such signs, shall be eligible for registration as trademarks.

Mengenai jenis-jenis merek sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 2 dan angka 3 Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 Tentang Merek ada 2 (dua) yaitu : Merek Dagang dan Merek Jasa.

a. Merek dagang adalah merek yang dipergunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan barang-barang sejenis lainnya.

b. Merek jasa adalah merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan jasa-jasa sejenis lainnya.

45Casavera, Ibid, hal. 8.

46Sudargo Gautama dan Rizawanto Winata, Pembaharuan Hukum Merek Indonesia Dalam Rangka WTO, TRIPs, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1977, hal. 248. (selanjutnya disebut Sudargo Gautama dan Rizawanto Winata II).

Gambar

Gambar 1.1. Kopitiam
Gambar 1.2. Kok Tong Kopi Tiam

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Analisa konsistensi Putusan Mahkamah Agung dalam upaya melakukan perlindungan hukum terhadap merek terdaftar/merek terkenal atas tindakan peniruan / pendaftaran

Perlindungan atas Merek Terdaftar yaitu adanya kepastian hukum atas Merek Terdaftar, baik untuk digunakan, diperpanjang, dialihkan, dan dihapuskan sebagai alat bukti

Dalam pasal 3 dan 4 Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 disebutkan bahwa salah satu tujuan pendaftaran tanah adalah untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum

Keterkaitan prinsip itikad baik (good faith) pada pembatalan merek terdaftar adalah karena wujud perlindungan dari negara terhadap pendaftaran merek adalah merek

15 Tahun 2001 tentang Merek, Pelaksanaan prinsip First to File dalam penyelesaian sengketa merek dagang asing dalam peradilan di Indonesia dan Penyelesaian sengketa dalam hal

Keterkaitan prinsip itikad baik (good faith) pada pembatalan merek terdaftar adalah karena wujud perlindungan dari negara terhadap pendaftaran merek adalah merek

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul : Perlindungan Hukum Bagi Pemegang Hak Atas Merek Berdasarkan Undang– Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek

Perlindungan Hukum Terhdap Pelanggaran Hak Merek Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek Dan Indikasi Geografis Studi Kasus Distri88 Pekanbaru Terhadap Merek 3second,