• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI. Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini"

Copied!
125
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIVITAS MEDIA REALIA TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK KELOMPOK A RA Al-HIDAYAH DESA TENJOLAYAR KECAMATAN PANCALANG

KABUPATEN KUNINGAN”

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini

Oleh :

ERLY NURWIDYA

NIM : 2015.4.3.1.00453

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM IAI BUNGA BANGSA CIREBON

TAHUN 2019

(2)

i

FEKTIVITAS MEDIA REALIA TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK KELOMPOK A

RA Al-HIDAYAH DESA TENJOLAYAR KECAMATAN PANCALANG KABUPATEN KUNINGAN

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini

Oleh :

ERLY NURWIDYA

NIM : 2015.4.3.1.00453

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM IAI BUNGA BANGSA CIREBON

TAHUN 2019

(3)

ii

(4)

iii

(5)

iv

(6)

v

MOTTO HIDUP

“ Selalu ada harapan bagi mereka yang sering berdoa, selalu ada jalan bagi mereka yang sering berusaha. ”

(7)

vi

ABSTRAK

ERLY NURWIDYA, NIM. 2015.4.3.1.00453. “EFEKTIVITAS MEDIA REALIA TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK KELOMPOK A RA Al-HIDYAH DESA TENJOLAYAR KECAMATAN PANCALANG KABUPATEN KUNINGAN”

Penelitian ini membahas perihal “Efektivitas Media Realia terhadap Peningkatan Keterampilan Motorik Halus Anak Kelompok A RA Al- Hidayah DESA Tenjolayar KECAMATAN PANCALANG KABUPATEN KUNINGAN”. Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan, diperoleh informasi bahwa keterampilan motorik halus anak kelompok A RA Al- Hidayah belum memperlihatkan kemampuan yang optimal karena 8 diantara 14 anak masih mengalami kesulitan dalam aspek fisik motorik halus.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen kuantitatif dengan desain penelitian One Group Pretest and Posttest dengan menggunakan observasi sebagai alat pengumpulan data. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel jenuh dimana semua anggota populasi dijadikan sebagai sampel penelitian. Data hasil penelitian yang didapat kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif data sebelum dan sesudah perlakuan dengan menggunakan tabel konversi persentase untuk menentukan tingkat kemampuan motorik halus anak.

Kemudian tabulasi data hasil penelitian dengan menggunakan analisis statistic inferensial yaitu uji beda rerata dengan rumus Uji t untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan penelitian. Selanjutnya, hasil dari perhitungan statistic dengan uji t dapat diketahui perbedaan keterampilan motorik halus anak sebelum dan sesudah perlakuan media realia. Pada hasil pretest keterampiln motorik anak hanya 37,5 % atau berada pada klasifikasi presentase kurang, dan pada hasil posttest keterampilan motorik halus anak 86 % atau berada pada klasifikasi persentase sangat baik. Keterampilan motor halus sebelum dan sesudah terdapat perbedaan yang signifikan, ini ditunjukkan oleh 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 (19,81) > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 (2,145), dengan taraf signifikan 5% yang berarti pernyataan H0 ditolak.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa tingkat efektivitas media realia terhadap peningkatan keterampilan motorik halus sangat signifikan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu

(8)

vii

masukan untuk kegiatan RA Al-Hidayah dalam meningkatkan keterampilan motorik halus.

Kata Kunci : media realia, motorik halus, efektivitas

(9)

viii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusun skripsi dengan judul “Efektivitas Media Realia Terhadap Peningkatan Keterampilan Motorik Halus Anak Kelompok A RA Al-Hidayah Desa Tenjolayar Kecamatan Pancalang Kabupaten Kuningan “, dalam rangka menyelesaikan studi strata 1 untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Tarbiyah Institus Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis telah menerima banyak dukungan, bimbingan serta motivasi dari berbagai pihak, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Drs. H. A. Basuni, Ketua Yayasan Pendidikan Bunga Bangsa Cirebon.

2. Bapak Dr. H. Oman Faturohman, MA selaku Rektor Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon yang memberikan kesempatan untuk dapat menuntut ilmu di Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon.

3. Bapak Drs. Sulaiman, M.M Pd selaku Dekan Fakultas Tarbiyah yang telah memberikan ijin dan kesempatan untuk mengadakan penelitian.

4. Bapak Erik, M.Pd.I dan Bunda Cucum Novianti, M.Si selaku dosen pembimbing I dan II, yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dengan penuh perhatian.

(10)

ix

5. Kepala Sekolah beserta Guru-guru RA Al-Hidayah Desa Tenjolayar Kecamatan Pancalang Kabupaten Kuningan yang telah bersedia memberikan ijin dan fasilitas penulis melakukan penelitian.

6. Ayah, Ibu dan Suami tercinta yang senantiasa memberikan do’a, motivasi, perhatian yang tak terhingga.

7. Adik-adik serta keluarga besar yang telah memberikan do’a, motivasi serta dukungan moril atau materil.

8. Semangat, dukungan moril atau materil serta do’a dari keluarga bapak Edhy widodo dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Rekan-rekan seangkatan dan persahabatan, kebersamaan selama menempuh pendidikan di Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon.

Semoga segala amal kebaikan tersebut mendapatkan balasan dari Allah SWT. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Aamiin.

(11)

x

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL... i

NOTA DINAS... ii

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN... iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING... v

MOTO HIDUP... vi

ABSTRAK... vii

KATA PENGANTAR... ix

DAFTAR ISI... xi

DAFTAR TABEL... xiv

DAFTAR GAMBAR... xvi

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah... 11

C. Pembatasan Masalah... 11

D. Rumusan Masalah... 12

E. Tujuan Penelitian... 12

(12)

xi

F. Kegunaan Penelitian...13

BAB II LANDASAN TEORI A. Deskripsi Teori... 15

1. Pengertian Anak Usia dini... 15

2. Pengertian Media Realia... 16

3. Pengertian Motorik Halus... 19

4. Hubungan Media Realia dengan Motorik Halus... 27

B. Hasil Penelitian yang Relevan... 29

C. Kerangka Berpikir... 31

D. Hipotesi Penelitian... 33

BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian... 34

B. Tempat dan Waktu Penelitian... 37

C. Populasi dan Sampel... 38

D. Teknik Pengumpulan Data... 40

E. Teknik Analisi Data... 43

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data... 52

B. Pengujian Persyaratan Analisis... 57

C. Analisis Statistik Inferensial... 66

D. Pembahasan Hasil Penelitian... 72

E. Keterbatasan Penelitian... 73

(13)

xii BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan... 74 B. Saran... 74 DAFTAR PUSTAKA... 77 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(14)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 : Desain Penelitian One Group Pre Test and Post Test Desaign... 37 Tabel 3.2 : Jadwal Penelitian... 38 Tabel 3.3 : Daftar Anggota Sampel Kelompok A... 39 Tabel 3.4 : Kisi-kisi Isi Instrument Kemampuan Motorik Halus

Anak... 41 Tabel 3.5 : Data Kemampuan Motorik Halus Anak Sebelum Menggunakan

Media Realia... 42 Tabel 3.6 : Konversi Presentase... 44 Tabel 3.7 : Data Kemampuan Fisik Motork Halus Anak Sesudah

Menggunakan Media Realia... 45 Tabel 3.8 : Tabel Penolong Keterampilan Motorik Halus Anak Sebelum/

Sesudah Menggunakan Media Realia... 46 Tabel 3.9 : Tabel Data Hasil Penelitian... 49 Tabel 3.10 : Tabel Penolong... 50 Tabel 4.1 : Data Hasil Observasi Keterampilan Motrik Halus Anak Sebelum

Menggunakan Media Realia... 53

(15)

xiv

Tabel 4.2 : Konversi Persentase... 54 Tabel 4.3 : Data Hasil Observasi Keterampilan Motrik Halus Anak Sesudah

Menggunakan Media Realia... 55 Tabel 4.4 : Tabel Penolong Keterampilan Motorik Halus Anak Sebelum

Menggunakan Media Realia... 58 Tabel 4.5 : Tabel Liliefors Untuk Uji Normalitas Data Sebelum

Menggunakan Media Realia... 59 Tabel 4.6 : Tabel Penolong Keterampilan Motorik Halus Anak Sesudah

Menggunakan Media Realia... 61 Tabel 4.7 : Tabel Liliefors Untuk Uji Normalitas Data Sesudah

Menggunakan Media Realia...63 Tabel 4.8 : Tabel Tabulasi Data Hasil Penelitian... 66 Tabel 4.9 : Tabel Penolong... 68

(16)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 : Kurva Normal... 72

(17)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak usia dini merupakan periode perkembangan yang cepat yang yang terjadi dalam banyak aspek perkembangan dan memiliki potensi yang masih harus di kembangkan. Ia memiliki karakteristik tertentu yang khas dan tidak sama dengan orang dewasa serta akan berkembang menjadi manusia dewasa seutuhnya.Dalam hal ini anak merupakan seorang manusia atau individu yang memiliki pola perkembangan dan kebutuhan tertentu yang berbeda dengan orang dewasa.Anak memiliki berbagai macam potensi yang harus dikembangkan. Meskipun pada umumnya anak memiliki pola perkembangan yang sama, tetapi ritme perkembangannya akan berbeda satu sama lainnya karena pada dasarnya anak bersifat individual.1

Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Usia dini merupakan usia ketika anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini merupakan periode awal yang paling penting dan mendasardalam sepanjang rentang pertumbuhan serta perkembangan kehidupan manusia.

1Dr.H.UYU WAHYUDIN,M.Pd,Dr MUBIAR AGUSTIN,M.Pd, penilaian perkembangan anak usia dini, (Bandung:Refika Aditama,2012). Hal 7

(18)

2

Pendidikan merupakan satu kewajiban untuk kemajuan bangsa yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Pendidikan juga diartikan sebagai upaya manusia secara historis turun temurun, yang merasa dirinya terpanggil untuk mencari kebeneran atau kesempurnaan.

Adapun pengertian pendidikan menurut Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional :

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajatar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat dipahami bahwa pendidikan pada intinya ialah suatu bentuk pembimbingan dan pengembangan potensi peserta didik supaya terarah dengan baik dan mampu tertanam menjadi kepribadainya dalam kehidupan sehari-hari.Bentuk bimbingan dan pengembangan tersebut dilakukan secara sadar, terencana, dan sistematis oleh orang dewasa (pendidik) kepada anak-anak (peserta didik) guna mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan.2

Memahami arti pendidikan sebagaimana telah dikemukakan diatas, dapat dikatakan bahwa peranan pendidikan dalam kehidupan pribadi , masyarakat, bangsa dan negara sangat penting. Hal ini disebabkan karena pendidikan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan generasi bangsa dapat dibentuk menjadi generasi yang unggul,

2Fadillah, Muhammad, Pendidikan Karakter Anak Usia Dini (Jogjakarta, Ar-Ruzz Media, 2013) h. 19

(19)

3

yakni di samping menjadi generasi yang beriman dan bertawakkal kepada Allah SWT, juga menjadi generasi yang berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan demokrasi serta bertanggung jawab.

Betapa pentingnya pendidikan dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan manusia dapat belajar mengetahui apa yang sebelumnya tidak diketahui. Di samping itu, derajat manusia akan ditinggikan oleh Allah SWT.

Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam al qur’an surat al mujadalah ayat 11, Allah SWT berfirman :

ۚ مكل الله حسفي اوحسف اف سلجملا ىف اوحسفت مكل ليق اذا اونما ني ذلا اهيااي

امب لله او ۗ تجرد ملعلا اوت وا نيذل او ۙ مكعم اونما نيذلا الله عفري اوزشنا ليق اذاو ريبخ نولمعت

Sementara terjemahannya sebagai berikut:

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang- lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat al qur’an diatas menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, antara orang yang berpendidikan dengan yang tidak berpendidikantampak perbedaan yang begitu jelas.Orang yang berpendidikan memiliki kualitas dalam tutur kata, sopan santun, etika,

(20)

4

pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan hidup sedangkan yang tidak berpendidikan tidak memiliki semua itu.Hal ini disebabkan rendahnya motivasi seorang pendidikan untuk menulis atau membuat suatu karya.3

Dampak dari rendahnya motivasi untuk mengembangkan diri adalah banyak seorang pendidik yang tidak mampu menyelenggarakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Keadaan ini salah satunya tidak lepas dari minoritasnya media pembelajaran yang inovatif sebagai penunjang proses pembelajaran. Para pendidik pada umumnya hanya menggunakan metode ceramah dalam kegiatan belajar mengajar. Padahal seorang pendidik mengetahui bahwa metode yang digunakan oleh guru adalah salah satu kunci pokok di dalam keberhasilan suatu kegiatan belajar yang dilakukan oleh anak.

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Salah satu satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yaitu Raudatul Athfal (RA) atau Taman Kanak-Kanak (TK) yang bertujuan membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar akademik di sekolah.4

3 Rostini, Suryadin, Pengembangan Profesi Guru Penelitian Tindakan Kelas (Bandung, CV Amalia Book, 2011) h. 12

4 Hasan, R, Melatih Anak Berpikir Analisis Kritis dan Kreatif (Jakarta, Grasindo, 2013) h.

17

(21)

5

Taman kanak-kanak (TK) atau Raudatul Athfal (RA) termasuk pendidikan formal dalam jajaran pendidikan dasar dan menengah. Namun, TK atau RA tetap dikategorikan sebagai prasekolah untuk anak usia dini, sehingga tidak ada mata pelajaran yang mengikat untuk siswa kecuali, bermain dan bermain. Sesuai, dengan namanya, TK atau RA hanyalah taman, sehingga menyenangkan. Mereka bias bebas berekspresi tanpa dihalangi oleh berbagai macam aturan yang mengekangnya. Inilah masa kehidupan yang begitu menggairahkan, penuh semangat dan menyenangkan.

Seiring dengan berbagai perkembangannya, anak usia dini sebagai peserta didik sangat menuntut gurunya untuk mengajar lebih kreatif dan tidak membosankan, sehingga dapat membantu memotivasi perkembangan yang sedang terjadi. Oleh karena itu, guru sangat memerlukan metode dan teknik-teknik baru yang lebih interaktif dalam mengajar. Termasuk mencari media pembelajaran sebagai bagian dari alat bantu mengajar (teaching aids) yang cocok dan sesuai dengan pembelajaran dan perkembangan anak usia dini. Di samping itu, peran guru dalam menyampaikan pembelajaran pada anak usia dini harus betul-betul memperhatikan tahap-tahap perkembangan dan masa peka setiap anak. Guru harus luwes dalam memberikan pelajaran supaya tidak membebani dan tidak membosankan anak. Untuk itu, sebelum memberikan pembelajaran, guru hendaknya terlebih dahulu guru harus bisa membangkitkan minat anak dalam mengikuti pembelajaran.

(22)

6

Dalam melaksanakan pembelajaran, guru tidak lepas dari penggunaan media pembelajaran, tanpa menggunakan media pembelajaran maka proses belajar mengajar menjadi kurang bermakna. Guru dituntut menggunakan alat peraga yang mudah, murah dan efisien serta mengembangkan keterampilan dalam membuat media pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Pembelajaran motorik dapat diartikan sebagai proses belajar keahlian gerakan dan penghalusan kemampuan motorik, serta variabel yang mendukung atau menghambat kemahiran maupun keahlian motorik. Aspek pembelajaran motorik dalam pendidikan merupakan aspek yang berhubungan dengan tindakan atau perilaku yang ditampilkan oleh para siswa setelah menerima materi tertentu dari guru.Artinya, mereka bertindak atau berperilaku berdasarkan pengetahuan dan perasaan mereka.5

Ada pula pengertian pembelajaran motorik lainya, yakni proses belajar para siswa dalam hal keahlian gerakan dan penghalusan kemampuan motorik secara variable/keahlian motorik yang digunakan secara berkelanjutan dari pergerakan yang sangat terampil.

Keterampilan motorik adalah kemampuan seseorang untuk melakukan gerakan terkoordinasi menggunakan kombinasi berbagai tindakan otot.Keterampilan motorik halus cenderung dilakukan oleh otot-

5 Richard Decaprio, Aplikasi Teori Pembelajaran Motorik disekolah, (Jogjakarta: januari, 2013), cet 1, h. 15-16

(23)

7

otot yang lebih kecil seperti yang di tangan dan menghasilkan tindakan seperti menulis dan menggambar.6

Keterampilan motorik berasal dari bahasa Inggris yaitu motor, menurut Gallahue gerak (motorik) merupakan suatu kemampuan yang menghasilkan gerak.Keterampilan motorik merupakan hasil gerak individu dalam melakukan gerak, baik gerak yang bukan gerak olahraga maupun gerak dalam olahraga atau kematangan penampilan keterampilan motorik.

Keterampilan motorik mempunyai pengertian yang sama dengan kemampuan gerak dasar yang merupakan gambaran umum dari kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas. Aktivitas tersebut dapat membantu berkembangnya pertumbuhan anak.Berkembangnya keterampilan motorik ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor pertumbuhan dan faktor perkembangan.7

Keterampilan motorik halus adalah kemampuan mengkoordinasi gerakan otot kecil dari anggota tubuh.Keterampilan motorik halus terutama melibatkan jari tangan, dan biasanya dengan koordinasi mata.Contohketerampilan motorik halus adalah memegang, menulis, menggunting, dan lain sebagainya.Keterampilan motorik halus melibatkan kekuatan, kontrol motorik otot, dan deksteritas.Dalam Permen 58 hlm. 13, menyatakan bahwa:

6Samsudin, Pembelajaran Motorik Di Taman Kanak-Kanak, Pranada Media Group, Jakarta, 2008, hlm. 8 5

7 Samsudin, Ibid., hlm. 10

(24)

8

“Pola perkembangan atau tingkat pencapaian anak usia lima sampai enam tahun yaitu; menggambar sesuai gagasannya, meniru bentuk, melakukan eksplorasi dengan berbagai media dan kegiatan, menggunakan alat tulis dengan benar, menggunting dengan sesuai pola, menempel gambar dengan tepat, dan mengekspresikan diri melalui gerakan menggambar secara detail.” 8

Motorik halus merupakan keterampilan fisik yang melibatkan otot- otot ujung jari serta koordinasi mata dan tangan. Bagian tubuh lain yang terlibat dalam kegiatan motorik halus adalah pergelangan tangan, lengan, sampai pangkal lengan atas dan bagian sendi di bahu. Motorik halus dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan stimulasi secara rutin, seperti bermain puzzle, menyusun balok, memasukan benda ke dalam lubang sesuai bentuknya dan sebagainya.

Gerakan motorik halus mempunyai peranan yang penting dalam pengembangan seni.Motorik halus adalah gerakan yang hanya melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu yang dilakukan oleh otot-otot kecil.Seperti, gerakan jari dan pergelangan tangan.

Keterampilan motorik halus bagi anak usia dini memberikan stimulasi perkembangan motorik halus sangat penting bagi anak, karena pemberian stimulasi ini dapat melatih keterampilan jari-jemari anak untuk persiapan menulis seperti menggunting, menjiplak, memotong, menggambar, mewarnai, menempel, meremas, dan meronce.

8 Ajeng Nuazizah, Umar dan Susilowati, 2015, Ibid., hlm. 3

(25)

9

peneliti memilih media realia yang berupa pecahan kulit telur ayam, bulu ayam, pecahan kulit telur bebek, dan bulu bebek. Kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan fisik motorik halus melalui media realia ini yaitu kegiatan menempel atau kolase.Menurut Asyhar (2011) kelebihan dari media realia adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada anak sehingga pembelajaran bersifat lebih konkret dan waktu retensi/daya ingat lebih panjang.Pembuatan kolase merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-kanak untuk meningkatkan kemampuan fisik motorik halus anak, sehingga dengan kegiatan membuat kolase anak-anak dapat melatih koordinasi gerak mata dan tangan anak.

Kolase, dengan produknya yang cepat dan bermotif, berefek tiga dimensi merupakan kesukaan anak-anak usia 3-5 tahun (Wiyani, 2014).

Perbedaan dari peneliti diatas dapat dibedakan dari kegiatan ini akan lebih menyenangkan karena menggunakan bahan-bahan yang lebih menarik seperti playdough, tanah liat dan adonan bubur kertas. Dalam kegiatan ini anak akan diajak bermain membentuk membuat suatu karya, sehingga anak tidak akan merasa bosan dan tanpa terasa motorik halus anak akan terstimulasi dengan baik.

Dengan menggunakan media realia tersebut, diharapkan dapat menyajikan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan fisik motorik halus pada anak terutama pada aspek mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan gerakan yang rumit.Kegiatan membentuk dengan berbagai media dapat melatih motorik halus anak sekaligus

(26)

10

mengembangkan kreativitasnya. Hal ini akan terlihat dari berbagai macam bentuk berhasil karya yang dibuat oleh anak. Oleh karena itu, kegiatan membentuk dengan berbagai media diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih bervariasi dan menstimulasi kemampuan motorik halus anak.

Menanggapi masalah tersebut, guru mencoba menggunakan metode pembelajaran yang lebih bervariasi supaya pembelajaran menjadi menyenangkan dan menarik minat untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak.Salah satu kegiatan yang dapat digunakan yaitu kegiatan membentuk dengan berbagai media, kegiatan membentuk dapat mengembangkan keterampilan kedua tangan, mengembangkan kecepatan koordinasi dan gerakan tangan dan melatih penguasaan emosi.Sejalan dengan itu guru dapat mengenalkan benda di sekitar, mengembangkan fungsi otak dan rasa serta mengembangkan keterampilan teknis kecakapan hidup.Selain itu, membentuk dapat menarik minat anak karena menggunakan berbagai macam media yang bervariasi.

Berdasarkan hasil penelitian terlebih dahulu yang telah memperlihatkan adanya hubungan erat antara penggunaan media yang ada dalam lingkungan anak perkembangan motorik anak usia dini, maka muncul pertanyaan yang berhubungan dengan media realia dalam pembelajaran terhadap peningkatan keterampilan motorik halus pada masa anak usia dini.

Apakah dengan digunakannya media realita dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak?Dari pertanyaan tersebut

(27)

11

maka peneliti membahas tentang media realia yang bisa meningkatkan motorik halus anak. Dengan pembahasan tersebut peneliti memberikan judul“Efektivitas Media Realia terhadap Peningkatan Keterampilan Motorik Halus Anak Kelompok A RA Al-Hidayah di DESA Tenjolayar KECAMATAN PANCALANG KABUPATEN KUNINGAN”

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang permasalahan yang muncul dapat diidentifikasi sebagai berikut :

1. Tanpa menggunakan media pembelajaran maka proses belajar mengajar menjadi kurang bermakna.

2. Media pembelajaran harus dibuat sebagus dan seideal mungkin.

3. Pemberian stimulasi atau latihan yang tepat bagi anak usia dini pada aspek perkembangan motorik halus

4. Permainan media realia, guna meningkatkan kemampuan motorik halus anak

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dikemukakan di depan, maka penelitian dibatasi pada Efektifitas Media Realia terhadap Peningkatan Keterampilan Motorik Halus Anak Kelompok A RA Al- Hidayah Desa Tenjolayar Kecamatan Pancalang Kabupaten Kuningan.

(28)

12

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan masalah diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

1. Seberapa tinggi keterampilan motorik halus sebelum menggunakan media realia kelompok A RA Al-Hidayah ?

2. Sebrapa tinggi keterampilan motorik halus sesudah menggunakan media realia kelompok A RA Al-Hidayah ?

3. Seberapa besar perbedaan keterampilan motorik halus sebelum dan sesudah menggunakan media realia kelompok A RA Al-Hidayah ?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan penelitian diatas, maka tujuan penelitian dirumuskan sebagai berikut :

1. Mendeskripsikan keterampilan motorik halus sebelum menggunakan media realia kelompok A RA Al-Hidayah.

2. Mendeskripsikan keterampilan motorik halus sesudah menggunakan media realia kelompok A RA Al-Hidayah.

3. Mendeskripsikan perbedaan keterampilan motorik halus sebelum dan sesudah menggunakan media realia kelompok A RA Al-hidayah.

F. Kegunaan Penelitian 1. Kegunaan Teoritis

a. Untuk menguatkan teori keterampilan motorik anak usia dini dan media realia

(29)

13

b. Sebagai referensi pembelajaran keterampilan motorik melalui kegiatan media realia

2. Kegunaan Praktis a. Bagi Peneliti

1) Dapat menambah wawasan dan pengalaman langsung tentang cara keterampilan motorik, khususnya melalui media realia.

2) Meningkatkan kecermatan dan ketangkasan saat menjumpai suatu problem dalam mengajar.

3) Menjadikan pribadi sebagai guru yang memiliki tingkat kreativitas yang selalu berkembang, demi meningkatkan aspek perkembangan pada Anak Usia Dini.

4) Menyelesaikan tugas akhir guna memperoleh gelar strata satu dalam bidang studi Pendidikan Anak Usia Dini,

b. Bagi RA

1) Memperoleh data tingkat kemampuan anak dalam aspek fisik motorik halus.

2) Mempermudah RA Al-Hidayah dalam menentukan atau menyusun program kegiatan menggunakan media realia.

c. Bagi Anak

Dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak, menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diterimanya, percaya diri, lebih aktif dalam menggunakan media realia

(30)

14

d. Bagi Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon (IAI BBC)

1) Menambah referensi atau bahan rujukan mahasiswa saat hendak membuat Proposal Penelitian

2) Menambah khasana keilmuan Penelitian tentang bidang studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Deskripsi Teoritik

1. Pengertian Anak Usia Dini

(31)

15

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikiran, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap dan perilaku serta beragama), Bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keuinikan dan tahap- tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Contohnya, ketika menyelenggarakan lembaga pendidikan seperti kelompok bermain (KB), taman kanak-kanak (TK), atau lembaga PAUD yang berbasis pada kebutuhan anak.

Pengertian lain menjelaskan bahwa pendidikan anak usia dini adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan anak. Pendidikan bagi anak usia dini merupakan sebuah pendidikan yang dilakukan pada anak yang baru lahir sampai dengan delapan tahun. Pendidikan pada tahap ini memfokuskan pada physical, intelligence/cognitive, emotional, & social education.9

Sementara menurut Biechler dan Snowman (1993) yang dimaksud dengan pendidikan anak usia dini prasekolah adalah mereka yang berusia 6 tahun. Mereka biasanya mengikuti program tempat penitipan anak (3

9 Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar PAUD, (Jakarta: Permata Puri Media, 2011), h.

6-7

(32)

16

bulan – 5 tahun) dan kelompok bermain (usia 3 tahun), sedangkan pada usia 4-6 tahun biasanya mereka mengikuti program taman kanak-kanak.

Perbedaan batasan usia sebetulnya tidak menjadi masalah kalau konsep pendidikan anak usia dini diterapkan dengan belajar melalui bermain (learning through playing). Sejauh ini system pendidikan anak usia dini 0-6 tahun di Indonesia memang sudah diterapkan sejak sekitar tahun 1998, banyak lembaga prasekolah yang mengadopsi sistem pendidikan anak usia dini dari luar negeri. Meski sistem tersebut kerap

“dituduh” tidak sesuai dengan latar budaya kita. Seiring berjalannya waktu dan pemahaman mengenai pendidikan anaka usia dini (PAUD).10 2. Pengertian Media Realia

Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari medium. Secara harfiah berarti perantara atau pengantar, yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan.Pengenian umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.

Menurut Sudjana (2005:196), media realia adalah media benda- benda nyata atau makhluk hidup (real life materials). Sedangkan menurut Wibawa (1992:55) menyebutkan bahwa media realita adalah benda-benda nyata seperti apa adanya atau aslinya tanpa perubahan. Dari pernyataan di atas madia realita adalah semua media nyata yang ada di lingkungan alam

10 Mursid, Manajemen Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), (Semarang: AKFI Media, 2010), h. 2-3

(33)

17

baik yang digunakan dalam keadaan hidup maupun sudah diawetkan.Misalnya tumbuhan, binatang, batuan, insectarium, benda- benda, air, sawah, makanan dan sebagainya.11

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru/fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran.

Oleh karena itu guru/fasilitator perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.

Media realia adalah benda nyata.Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek.Kelebihan dari media realia ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa.Misal untuk mempelajari keanekaragaman makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ tanaman.

Kelebihan penggunaan media realia sebagai berikut :

a. Dapat memberikan kesempatan semaksimal mungkin pada siswa untuk mempelajari sesuatu ataupun melaksanakan tugas-tugas dalam situasi nyata.

11 Jurnal, S Sumarsono, PENGGUNAAN MEDIA REALIA TERHADAP PENINGKATAN KREATIVITAS DAN MOTORIK, Hal 23,

(34)

18

b. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami sendiri situasi yang sesungguhnya dan melatih keterampilan mereka dengan menggunakan sebanyak mungkin alat indra.

Penggunaan media realia mempunyai beberapa keunggulan adalah sebagai berikut:

1) Dapat memberikan kesempatan semaksimal mungkin pada anak untuk mempelajarai sesuatu atapun melaksanakan tugas dalam situasi nyata.

2) Memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami sendiri dalam situasi yang sesungguhnya

3) Melatih keterampilan anak dengan menggunakan sebanyak mungkin alat indera.

Selanjutnya penggunaan media realia dalam pembelajaran menurut Wibowo (1992) berpendapat bahwa :”dengan memanfaatkan media realia dalam proses belajar siswa akan lebih aktif dapat mengamati menangani, mendiskusikan dan akhirnya dapat menjadi alat untuk meningkatkan kemauan siswa menggunakan sumber-sumber belajar serupa”. Dengan kata lain media realia mempunyaan keunggulan pada waktu anak membangun pengalaman belajar dengan lingkungan sekitarnya.

Pemanfaatan Media Realia

a) Memungkinkan anak berinteraksi secara langsungdengan lingkungannya

(35)

19

b) Memungkinkan adanya keseragaman pengalaman atau persepsi belajar pada masing-masing anak

c) Membangkitkan motivasi belajar anak untuk lebih berkreasi

d) Menyajikan informasi belajar secara secara konsisten dan dapat diulang menurutkebutuhan

e) Menyajikan pesan atau informasi belajar secara serempak bagi semua anak

f) Mengatasi keterbatasan waktu dan ruang 3. Pengertian Motorik Halus

Motorik merupakan terjemahan dari kata motor yang artinya “dasar mekanika yang menyebabkan terjadinya suatu gerak”. Gerak (movement) adalah suatu aktivitas yang didasari oleh proses motorik. Proses motorik ini melibatkan sebuah sistem pola gerakan yang terkoordinasi (otak, saraf, otot, dan rangka) dengan proses mental yang sangat kompleks, yang disebut sebagai proses cipta gerak.

Keterampilan motorik adalah kemampuan seseorang untuk melakukan gerakan terkoordinasi berbagai tindakan otot.Keterampilan motorik halus cenderung dilakukan oleh otot-otot yang lebih kecil seperti yang di tangan dan menghasilkan tindakan seperti menulis dan menggambar.12

12Samsudin, Pembelajaran Motorik Di Taman Kanak-Kanak, Pranada Medias Group, Jakarta, 2008, hlm. 8

(36)

20

Keterampilan motorik berasal dari Bahasa Inggris yaitu motor, menurut Gallahue gerak (motorik) merupakan suatu kemampuan yang menghasilkan gerak.Keterampilan motorik merupakan hasil gerak individu dalam melakukan gerak, baik gerak yang bukan gerak olahraga maupun gerak dalam olahraga atau kematangan penampilan keterampilan motorik. Keterampilan motorik mempunyai pengertian yang sama dengan kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas. Aktivitas tersebut dapat membantu berkembangnya pertumbuhan anak.Berkembangannya keterampilan motorik ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor pertumbuhan dan faktor perkembangan.13

Motorik halus adalah gerakan yang dilakukan oleh bagian-bagian tubuh tertentu dan hanya melibatkan sebagian kecil otot tubuh.Gerakan ini tidak memerlukan tenaga, tapi perlu adanya koordinasi antara mata dan tangan.Gerak motorik halus merupakan hasil latihan dan belajar dengan memperhatikan kematangan fungsi organ motoriknya.

Motorik halus merupakan suatu kegiatan yang menggunakan otot- otot kecil yang perlu adannya koordinasi anatara mata dan jari-jari tangan, dalam Depdiknas, Mengemukakan bahwa :

“Motorik halus adalah gerakan yang melibatkan bagian tubuh tertentu yang dilakukan oleh otot-otot kecil serta memerlukan koordinasi yang cermat, seperti menggunting garis, menulis, meremas, menggenggam, menggambar, menyusun balik, memasukan kelereng ke lubang, membuka dan menutup objek dengan mudah, menuangkan air ke dalam gelas tanpa berceceran, menggunakan kuas, krayon, dan spidol serta melipat.”14

13 Samsudin, Ibid, hlm. 10

14 Ajeng Nuazizah, Umar dan Susilowati, 2015, Op.Cit.,hlm. 5

(37)

21

Dalam perkembangan anak usia dini biasanya keterampilan motorik kasarnya lebih dahulu berkembang dibandingkan dengan motorik halus anak. Hal ini terlihat ketika anak sudah bisa berjalan dengan menggunakan otot-otot kakinya kemudian anak baru mengontrol tangan dan jari-jarinya untuk menggambar atau menggunting.Keterampilan motorik halus anak pada umumnya memerlukan jangka waktu yang cukup lama. Hal ini merupakan suatu proses bagi anak untuk mencapainya.

Maka diperlukan identitas kegiatan untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak.Keterampilan motorik halus anak berbeda-beda, ada yang berjalan dengan cepat, ada pula yang sesuai dengan perkembangan tergantung pada kematangan anak.

Perkembangan motorik halus anak taman kanak-kanak ditekankan pada koordinasi gerakan motorik halus dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan. Pada usia 4 tahun, koordinasi gerakan motorik halus anak sangat berkembang bahkan hampir sempurna. Walaupun demikian anaknusia ini masih mengalam kesulitan dalam menyusun balok-balok menjadi suatu bangunan.Pada usia 5 atau 6 tahun, koordinasi gerakan motorik halus berkembang pesat. Pada masa ini anak telah mampu

(38)

22

mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti: mengoordinasikan gerakan mata denga tangan, lengan dan tubuh secara bersamaan.15

Ada beberapa faktor yang melatar belakangi keterlambatan perkembangan motorik halus anak:

a. Kurangnya kesempatan untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungan sejak kecil dan pola asuh orang tua yang cenderung overproktektif dan kurang dalam memberikan fasilitas dan rangsangan belajar.

b. Tidak memberikan kebebasan pada anak untuk mengerjakan aktifitas sendiri sehingga anak terbiasa selalu ingin di bantu oleh orang lain dalam memenuhi kebutuhannya.

Berikut adalabh Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) dalam aspek perkembangan fisik motorik anak usia 4-5 tahun, yang peneliti peroleh dari permendikbud Nomor 137 tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Uisa Dini :

Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak Lingkup Perkembangan Fisik Motorik Halus Usia 4-5 Tahun Lingkup

Perkembangan

Tingkat Pencapaian Perkembangan

1. Membuat garis vertikal, horizontal, lengkung kiri/ kanan, miringkiri/kanan, dan lingkaran

15Suryana, Dadan, Stimulasi dan Aspek Perkembangan Anak (Padang: November, 2016), hal. 23

(39)

23 Fisik motorik halus

2. Mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan gerakan yang rumit

3. Melakukan gerakan manipulatif untuk menghasilkan suatu bentuk dengan menggunakan berbagai media

4. Mengekspresikan diri dengan berkarya seni menggunakan berbagai media

5. Mengontrol gerakan tangan yang menggunakan otot halus (menjumput, mengelus, mencolek, mengepal, memelintir, memilin, memeras)

Selain itu, terdapat pula pencapaian perkembangan anak dalam kurikulum 2013 sebagai berikut :

Aspek

Perkembangan Kompetensi Dasar Indikator

Fisik Motorik 2.1

3.3

Memiliki perilaku yang mencerminkan hidup sehat

Mengenal anggota tubuh, fungsi, dan gerakannya

- Makan makanan yang mengandung gizi seimbang - Rajin mermbersihkan anggota

tubuh

(40)

24 3.4

untuk pengembangan motorik kasar dan halus

Mengetahui cara hidup sehat

- Memutar dan mengayunkan lengan

- Meliukkan tubuh

- Melompat ke berbagai arah dengan satu atau dua kaki - Memanjat, bergelantung, dan

berayun

- Membuat berbagai bentuk dengan menggunakan plastisin, playdough/tanah liat - Meremas kertas/koran

meremas parutan kelapa dll.

- Menjiplak dan meniru membuat garis tegak, datar, miring, lengkung, dan lingkaran

- Memegang pensil (belum sempurna)

- Mengetahui cara menjaga kesehatan

- Mengetahui cara mencuci tangan dengan baik

(41)

25 4.3

4.4

Menggunakan anggota

tubuh untuk

pengembangan motorik kasar dan halus

Mampu menolong diri sendiri untuk hidup sehat

Mampu menolong diri sendiri untuk hidup sehat

- Membuang sampah pada tempatnya

- Memutar dan mengayunkan lengan

- Meliukkan tubuh

- Melompat ke berbagai arah dengan satu atau dua kaki - Memanjat, bergelantung, dan

berayun

- Membuat berbagai bentuk dengan menggunakan plastisin, playdough/tanah liat - Meremas kertas/koran

meremas parutan kelapa dll.

- Menjiplak dan meniru membuat garis tegak, datar, miring, lengkung, dan lingkaran

- Memegang pensil (belum sempurna)

(42)

26

- Anak terbiasa cara menjaga kesehatan

- Anak dapat mencuci tangan dengan baik

- Anak terbiasa membuang sampah pada tempatnya

Dari indikator-indikator perkembangan motorik halus yang dilontarkan oleh para pakar, peneliti mengambil beberapa indikator yang akan dijadikan sebagai instrument untuk mengobservasi perkembangan motorik halus anak yaitu sebagai berikut :

Aspek yang dikembangkan Indikator

Fisik Motorik halus

Membuat berbagai bentuk dengan

menggunakan plastisin,

playdough/tanah liat,pasir ajaib Meremas kertas/koran meremas parutan kelapa dll.

Menjiplak dan meniru membuat garis tegak, datar, miring, lengkung, dan lingkaran

Menyusun berbagai bentuk dengan balok

(43)

27

Memegang pensil (dengan baik)

4. Hubungan Media Realia dengan Motorik Halus

Media adalah perantara dari sumber informasi ke penerima informasi.Media pembelajaran bukan hanya berupa alat dan bahan saja, akan tetapihal-hal yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengetahuan.

Aqib (2013:50) menyatakan bahwa:Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan merangsang terjadinya proses belajar pada siswa. Maka media pembelajaran lebih luas adalah alat peraga, alat bantu mengajar, media atau visual.

Sanjaya (2012:61) mengemukakan bahwa: Media pembelajaran adalah segala sesuatu seperti alat, lingkungan,dan segala bentuk kegiatan yang dikondisikan untuk menambahpengetahuan, mengubah sikap atau menanamkan keterampilan padasetiap orang yang memanfaatkannya.

Penggunaan media merupakan penggunaan alat atau benda yang ada dilingkungan dan dapat digunakan serta dimanfaatkan untuk merangsangdaya pikir, perasaan, perhatian dan perkembangan anak sehingga mampumendorong terjadinya proses pembelajaran pada anak usia dini. Hasnida(2015:34) mengemukakan bahwa “penggunaan media sering diidentikkandengan penggunaan berbagai jenis alat atau sarana yang disajikan dalamproses pembelajaran”. Sedangkan Arsyad (2010:4-

(44)

28

5) mengemukakanbahwa “penggunaan media yaitu penggunaan alat yang secara nyatadigunakan dari lingkungan yang dapat merangsang anak untuk belajar”.

Perkembangan motorik halus anak memiliki pengaruh terhadap perkembangan otak (kecerdasan) dan kepercayaan diri. nilai sikap, maupun keterampilan gerak itu sendiri. Penyelenggaraan pendidikan di Taman Kanak-Kanak bertujuan membantu mengembangkan kemampuan anak yang salah satunya adalah kemampuan motorik halus anak, PAUD harus dapat menyediakan sumber daya manusia (Pendidik) yang berkualitas dan sarana prasarana yang dapat mendukung tujuan pendidikan di PAUD.

Kemampuan motorik dapat berkembang secara alami tanpa dilatih karena adanya pengaruh pertumbuhan dan kematangan anak.

Perubahan kematangan itu hanya meningkatkan keterampilan sampai batas minimal. Contoh sederhana adalah keterampilan memegang pensil.

Tanpa berlatih pun kemampuan anak memegang pensil tetap akan berkembang. Namun, perlu dipertanyakan seberapa jauh tingkat keterampilan itu dapat berkembang jika tidak dilatih secara khusus sesuai dengan tujuan dan fungsinya.

Di usia ini adalah saat yang paling tepat untuk melatih dasar- dasar pengembangan kemampuan fisik motorik halus, sehingga anak dapat tumbuh dengan jasmani yang kuat dan sehat. Karena pada masa ini merupakan masa yang tepat bagi anak.Anak mulai merasakan dalam

(45)

29

menerima berbagi upaya perkembangan seluruh potensi dirinya. Oleh karena itu dibutuhkan kondisi dan stimulasiyang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal.

Untuk mengembangkan kemampuan fisik motorik halus anak, penulis memilih metode pemberian tugas. Dengan tugas-tugas tertentu diharapkan dapat melatih pengembangan dan peningkatan fisik motorik halus anak.

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Adapun hasil penelitian dengan penelitian yang telah dilakukan dalam pembelajaran media realia dalam meningkatkan dan motorik halus anak usia dini :

1. Penelitian yang dilakukan oleh Fatiha Rahma Puspitaningrum yang berjudul “ Upaya Meningkatkan Kemampuan Fisik Motorik Halus MelaluiMedia Realia Pada Anak Kelompok A TK Tunas Bangsa Pati.”

Yang diterbitkan oleh Universitas Sebelas Maret.16 Disimpulkan bahwa hasil belajar pada anak kelompok A TK Tunas Bangsa Pati tahun ajaran 2015/2016 mengenai kemampuan fisik motorik halus belum sesuai harapan. Berdasarkan hasil observasi peneliti pada tanggal 1 Februari 2016 sebagian besar memperoleh nilai belum tuntas. Hal itu bisa dibuktikan pada tes awal sebelum tindakan yang menunjukkan bahwa dari jumlah keseluruhan anak kelompok A yaitu 22 anak, pada tiga aspek

16 Fatiha Rahma Puspitaningrum, Upaya Meningkatkan Kemampuan Fisik Motorik Halus Melalui Media Realia Pada Anak Kelompok A TK Tunas Bangsa Pati, (Universitas Sebelas Maret,2015)

(46)

30

penilaian berupa kecepatan koordinasi mata dan tangan dalam melakukan kegiatan, kelenturan jari-jari tangan dalam melakukan kegiatan, dan ketepatan tangan anak untuk melakukan gerakan yang rumit. Rendahnya kemampuan fisik motorik halus anak ditandai dengan beberapa masalahyang muncul yaitu ada beberapa anak yang belum mengerti tentang perintah dari guru untuk mengerjakan tugas, anak merasa bosan dengan kegiatan yang diberikan guru, dan kurang mengkondisikan keadaan kelas sehingga ada beberapa anak yang gaduh, anak sering keluar masuk kelas.

Media yang digunakan oleh guru juga kurang bervariasi dan guru sering memberikan tugas kepada anak dengan kegiatan yang monoton dalam meningkatkan kemampuan fisikmotorik halus anak.Peranan guru dalam mengembangkan minat anak pada kemampuan fisik motorik halus diperlukan kombinasi dan inovasi dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan fisik motorik halus anak.

2. Penelitian yang dilakukan Heni Primasari (2014) yang berjudul

”Meningkatkan KemampuanMotorik Halus Melalui Kegiatan Membentuk Menggunakan Media Tanah Liat diKelompok A TK Gita Insani Sleman”. Hasil penelitian menunjukkan bahwakegiatan membentuk menggunakan media tanah liat dapat meningkatkankemampuan motorik halus anak.Selain penelitian yang dilakukan oleh Heni Primasari, penelitian lain yangrelevan yaitu penelitian yang dilakukan oleh Hanifatun Nisak (2013) yangberjudul

(47)

31

“Pengembangan Motorik Halus melalui Kegiatan Membentuk padaKelompok A1 di TKIT Bhakti Insani Sleman”. Hasil penelitian menunjukkanbahwa kegiatan membentuk dapat meningkatkan kemampuan motorik halus.

Selain itu pula yang membedakan penelitian ini dengan penelitian di atas ialah jenis penelitian yang digunakan.Jika dalam penelitian sebelumnya menggunakan penelitian tindakan kelas, maka penelitian yang dilakukan peneliti ialah menggunakan penelitian Eksperimen Kuantitatif (One Group Pretest Design).

Yang membedakan penelitian ini dengan sebelumnya adalah hubungan media realia dengan motorik halus anak sangat signifikan sehingga pembelajaran menggunakan media realia anak menjadi lebih terlatih untuk menggunakan jari jari tangan dan berimajinasi sesuai yang disukai dengan permainan anak tersebut.

C. Kerangka Berpikir

Media dalam proses pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pembelajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Berbagai penelitian yang dilakukan terhadap penggunaan media dalam pembelajaran sampai pada kesimpulan, bahwa proses dan hasil belajar pada siswa menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pembelajaran tanpa

(48)

32

media dengan pembelajaran menggunakan media. Oleh karenaitu penggunaan mediapembelajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pembelajaran.

Menurut Pujita ( 2008 :15) mengungkapkan bahwa ciri media realia adalah benda asli benda dalam keadaan utuh, dapat dioperasikan, hidup, dalam ukuran yang sebenarnya dan dapat dikenali sebagaimana ujud aslinya. Dari beberapa pengertian media di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa media realia itu adalah media nyata atau objek nyata yang dapat dilihat,diraba, dipegang, dan dimanipulasi.

Salah satu kemampuan anak yang sedang berkembang saat usia dini yaitu kemampuan motorik. Pada anak-anak tertentu, latihan tidak selalu dapat membantu memperbaiki kemampuan motoriknya. Sebab ada anak yang memiliki masalah pada susunan syarafnya sehingga menghambatnya keterampilan motorik tertentu. Ada beberapa penyebab yang mempengaruhi perkembangan motorik anak yaitu faktor genetik, kekurangan gizi, pengasuhan serta latar belakang budaya.Perkembangan motorik terbagi atas dua yaitu motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar memerlukan koordinasi kelompok otot-otot anak yang tertentu yang dapat membuat mereka melompat, memanjat, berlari, menaiki sepeda.

Sedangkan motorik halus memerlukan koordinasi tangan dan mata seperti menggambar, menulis, menggunting.

(49)

33

Menurut Susanto (2011 : 164) motorik halus adalah gerakan halus yang melibatkan bagian-bagian tertentu saja yang dilakukan oleh otot-otot kecil saja, karenatidak memerlukantenaga. Namun begitu gerakan yang halus ini memerlukan koordinasi yang cermat17

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan pertanyaan penelitian diatas, dapat di rumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :

Ha : Terdapat perbedaan yang signifikan antara keterampilan motorik halussebelum dan sesudah menggunakan media realia kelompok A RA Al-Hidayah Kecamatan Pancalang Kabupaten Kuningan.

H0 : Tidak terdapat yang signifikan antara keterampilan motorik halus sebelum dansesudah menggunakan media realia kelompok A RA Al- Hidayah TenjolayarKecamatan Pancalang Kabupaten Kuningan

17Jurnal Pesona PAUD Vol.1.No.1 Lolita Indraswari. email : [email protected]

(50)

34 BAB III

METODOLIGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Metode penelitian adalah ilmu yang mempelajari metode penelitian, ilmu tentang alat-alat dalam penelitian.Di lingkungan filsafat, logika dikenal sebagai ilmu tentang alat untuk mencari kebeneran.Apabila ditata dalam sistematika, metodologi penelitian merupakan bagian dari logika.18

Metode penelitian kuantitatif statistic bersumber dari wawasan filsafat positivisme Comte, yang menolak metafisik dan teologis atau setidak-tidaknya mendudukkan metafisik dan teologis sebagai sesuatu yang berbau primitive.Materialisme mekanistik-mekanistik sebagai perintis pengembangan metodologi ini mengemukakan bahwa hokum-hukum gambar dunia secara lebih meyakinkan didasarkan pada penelitian empiris dari pada spekulasi filosofik.

Apabila diringkas, metode penelitian kuantitatif dimulai dengan penetapan objek studi yang spesifik, dieliminasikan dari totalitas atau konteks besarnya, sehingga eksplist jelas objek studinya.Disusun kerangka teori sesuai dengan objek studi spesifiknya. Dari situ, dihasilkan hipotesis atau problematika penelitian, instrumentasi pengumpulan data, dan teknik

18 Toto Syatori Nasehudin. Buku Metodologi Penelitian Kuantitatif oleh Nanang Gozali, (Bandung: April 2015), Cet. 2. H. 29

Gambar

Tabel 4.2  Konversi Presentase  Presentase  Penafsiran  80 % - 100 %  Sangat baik  60 % - 79,99 %  Baik  40 % - 59,99 %  Cukup  20 % - 39,99 %  Kurang  < 20 %  Sangat baik
Tabel Penolong Keterampilan Motorik Halus Anak  Sebelum Menggunakan Media Realia
Tabel Liliefors untuk Uji Normalitas Data Sesudah Menggunakan   Media Realia  No.
Tabel Penolong
+7

Referensi

Dokumen terkait

penyertaan modal ke dalam modal saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pindad yang statusnya sebagai Perusahaan Perseroan (Persero) ditetapkan berdasarkan Peraturan

Daftar Hasil Penelitian yang Relevan dengan Pengembangan Program IPA Terintegrasi guna Membekali Kompetensi Pendidik Calon Guru IPA SMP. Nama, Jurnal/Prosiding

Adapun alasan peneliti memilih lirik lagu ﷲءﺎﺷﻧﺇ / `in sy ā `a `all ā hu / versi bahasa Arab dari Maher Zain sebagai objek kajian penelitian karena lirik lagu ini

akurasi tendangan long pass adalah metode yang lebih baik dan dapat. digunakan oleh para pelatih sepakbola sebagai salah satu materi

Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, yang selanjutnya disingkat KKNI, adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan,

diajukan untuk memenuhi sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah

Hubungan Hygiene Perorangan dan Pemakaian Alat Pelindung Diri Dengan Keluhan Gangguan Kulit Pada kerja Pengupas udang di Kelurahan Pekan Labuhan Kecamatan Medan

Hla tersebut terungkap dalam diskusi yang bertajik Indonesia kamu atau Indonesia kita yang diadakan di gereja HKBP yogyakarta /belum lama ini /// hadir dalam kesempatan