PROFIL KEBUTUHAN PENDIDIKAN SEKS REMAJA DI MTsS NAGARI BINJAI
JURNAL
YERMANSYAH NPM. 11060282
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT PADANG
2015
Profil Kebutuhan Pendidikan Seks Remaja Di MTsS Nagari Binjai
By:
Yermansyah *
Dr. Yuzarion Zubir. S.Ag. S.Psi., M.Si **
Rici Kardo., M.Pd **
*Student
** lecturers
Student Guidance and Counseling, STKIP PGRI Sumatera Barat ABSTRACK
The problems of this study based on phenomenom are the limited in giving information about sex and the right way in delivering to adolescents by guidance and counseling teacher.
Based on the phenomenom, the researcher formulate the problem into: (1) profile of MTsS Nagari Binjai (2) Students’ background knowledge about sex education (3) Students’ attitude on sex education. This study is descriptive quantitative research that discribe the situation as it is. The population of this study was all of eight grade students. They are 190 students. The researcher use random sampling technique in determine the sample. The researcher take sample randomly. They are 65 students. The instrument in this study was questionnaire. In technique of data analysis, The researcher use SPSS software version 20.0 and Microsoft Excel 2010.The result of this study reveal that : (1) Students of MTsS Nagari Binjai need sex education, (2) Students of MTsS Nagari Binjai have enough knowledge about sex education, (3) Students of MTsS nagari Binjai agree in giving sex education. The significant of this study recommends to: (1) Teacher of guidance and counseling should add sex education on each semester program. It caused based on the researcher found that students of MTsS Nagari Binjai need sex education. (2) Headmaster of MTsS Nagari Binjai, Tigo Nagari Subdistrict, Pasaman Regency can give support and facilitate the implementation of the guidence and counseling, especially in consultation services to students.
Keyword: Sex Edication Needs
Pendahuluan
Manusia adalah makhluk sosial atau seksualitas diartikan sebagai, bagaimana laki-laki dan perempuan berbeda (dan mirip) satu sama lain, secara fisik, psikologis, dan dalam istilah-istilah perilaku. Aktivitas, perasaan, dan sikap yang dihubungkan reproduksi dan bagaimana laki-laki dan perempuan berinteraksi berpasangan didalam kelompok. Jika diterjemahkan dalam bahasa yang sederhana, seksualitas adalah bagaimana orang merasakan dan mengekpresikan sifat dasar dan ciri-ciri seksualnya yang khusus.
Seksual dimulai dengan beberapa perubahan pubertas selama masa remaja dan dilanjutkan seluruhnya dalam kehidupan dewasa. Dibandingkan dengan pembatas seksualitas pada periode ketika seseorang memulai aktivitas seksual, kita perlu memikirkan definisi yang lebih tepat yang dikombinasikan dengan cara
perkembangan sikap seseorang dan perasaan tentang menjadi laki-laki atau perempuan. Cara dia berhubungan secara fisik dan emosional menjadi anggota jenis kelamin yang sama dan yang berlawanan dan bagaimana menyenangkan orang yang menjadi laki-laki dan perempuan.
Pendidikan seks bukanlah tanggung jawab guru, pastor, guru agama, atau pun para ulama, tetapi adalah tanggung jawab orangtua. Orangtua diharapkan bisa membantu anak-anak agar dapat berkembang menjadi seorang pria atau wanita dewasa yang matang, beriman dan mampu menyesuaikan diri dengan baik.
Menurut Hurlock (1980:124) masalah kesehatan reproduksi memang merupakan sebuah masalah yang sulit bagi remaja, karena masa remaja merupakan masa di mana manusia mengalami perkembangan yang pesat baik fisik, psikis maupun sosial.
Berdasarkan observasi awal yang telah peneliti lakukan pada tanggal 05
September 2014 di MTsS Nagari Binjai Kecamatan Tigo Nagari maka terlihat beberapa kejanggalan yang terjadi pada peserta didik MTsS Nagari Binjai, seperti adanya peserta didik yang berpegangan tangan dengan lawan jenis tanpa rasa canggung (remaja laki-laki dan perempuan saling bersentuhan), adanya siswa laki-laki dan perempuan yang duduk berdekatan tanpa rasa canggung.
Berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan pada tanggal 06 September 2014 dengan seorang guru BK diperoleh informasi tentang, adanya peserta didik yang menonton video porno, adanya peserta didik yang berpacaran di belakang gedung sekolah, adanya peserta didik yang bercerita tentang seks, tidak ada pendidikan seks yang diberikan kepada peserta didik di MTsS Nagari Binjai, dan bagi mereka hal yang demikian itu merupakan dan menganggap hal yang biasa saja.
Sesuai dengan fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Profil Kebutuhan Pendidikan Seks Remaja di MTsS Nagari Binjai.
Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif yaitu penelitian yang bertujuan menggambarkan atau menjelaskan peristiwa atau kejadian pada masa sekarang.
Menurut Sugiyono (2013:31) Penelitian deskriptif kuantitatif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan mendeskripsikan secara sistematis, aktual , faktal dan akurat menegani faktor-faktor dan sifat populasi tertentu atau mencoba menggambarkan fenomena secara detail.
Disimpulkan bahwa penelitian deskriptif kuantitatif adalah penelitian yang dilaksanakan berdasarkan kepada masalah yang sedang terjadi sekarang dan bertujuan untuk menggambarkan secara tepat suatu keadaan , sehingga pemahaman terhadap permasalahan lebih jelas. Penelitian ini akan mengungkapkan dan menggambarkan apa adanya mengenai bagaimana Profil Kebutuhan Pendidikan Seks Remaja di MTsS Nagari Binjai.
Waktu pelaksanaan penelitian dilaksanakan 23 Maret 2015 sampai 30 Maret 2015. Tempat penelitian ini adalah di MTsS Nagari Binjai Kecamatan Tigo Nagari Kabupaten Pasaman.
karena pada saat melakukan pengamatan di Sekolah Dasar tersebut, peneliti menemukan beberapa kejanggalan
yang terjadi pada peserta didik MTsS Nagari Binjai, seperti adanya peserta didik yang berpegangan tangan dengan lawan jenis tanpa rasa canggung (remaja laki-laki dan perempuan saling bersentuhan), adanya siswa laki-laki dan perempuan yang duduk berdekatan tanpa rasa canggung serta peneliti ingin mengetahui profil kebutuhan pendidikan seks remaja di MTsS Nagari Binjai.
Peneliti mengambil sasaran yang akan diteliti yaitu kelas VIII. Populasi dari penelitian ini sebanyak 190 peserta didik dan sampel penelitian sebanyak 65 responden, pengambilan sampel dengan menggunakan teknik random sampling.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden. Data primer yang dikumpulkan dalam pene1itian ini adalah data mengenai “Profil Kebutuhan Pendidikan Seks Remaja Kelas VIII di MTsS Nagari”. Data diperoleh langsung dari sampel penelitian yaitu peserta didik kelas VIII di MTsS Nagari Binjai, sehingga semua data dan informasi yang diperlukan dalam penelitian ini dikumpulkan langsung dari peserta didik.
Agar pengumpulan data berjalan dengan lancar maka peneliti menjalankan prosedur sebagai berikut:
1. Mengimput data mentah hasil penelitian kedalam Microsoft excel 2010.
2. Mengkonfrom data mentah kedalam software SPSS versi 20.0 dan melakukan analisis statistik deskriptif.
3. Menetapkan interval skor berdasarkan skala 5, untuk variabel kebutuhan pendidikan seks dan indikatornya, menggunakan rumus. Menurut Sturgess (Notoatmodjo, 2007:37) mencari interval skor sebagai berikut:
Skor tertinggi-Skor terendah Interval =
Alternatif Jawaban
4. Menetapkan lima kategori berdasarkan kriteria kurva normal, untuk variabel dan masing-masing indikator. Variabel kebutuhan pendidikan seks dengan kategori sangat butuh, butuh sekali, butuh, kurang butuh, dan tidak butuh.
Indikator pengetahuan peserta didik tentang pendidikan seks, kategori;
sangat mengetahui, mengetahui, cukup mengetahui, kurang mengetahui, dan tidak mengetahui. Indikator sikap peserta didik tentang pendidikan seks,
kategori; sangat setuju, setuju, cukup setuju, kurang setuju, dan tidak setuju.
5. Mencari frekuensi untuk setiap total skor pernyataan subyek penelitian, dengan mengelompokkan dalam lima kategori skor interval yang ditetapkan.
6. Mencari presentase untuk setiap data atau total skor pernyataan sabyek penelitian dengan rumus presentase yang dikemukakan oleh Yusuf (2007:365) sebagai berikut:
× 100
= N P F
Keterangan : P = Persentase F = Frekuensi n = Jumlah sampel 100 = Bilangan tetap
7. Mencermati hasil analisis dan mendeskripsikannya serta menarik kesimpulan penelitian dengan memperhatikan skor minimum, maksimum, mean, median, dan standar deviasi.
8. Menganalisis data hasil penelitian dan pembahasan.
Hasil dan Pembahasan
1. Profil Kebutuhan Pendidikan Seks Remaja
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan mengenai kebutuhan pendidikan seks peserta didik kelas VIII MTsS Nagari Binjai dalam merespon skala Kebutuhan pendidikan seks berada pada kategori butuh dan butuh sekali, data ini diperkuat oleh mean skor peserta didik 114,23 berada pada posisi interval 88,41 - 115,60, median 115,00 berarti butuh, skor mimimum 97,00 dan skor maksimum 139,00 standar deviasi 9,34. (dapat dilihat pada lampiran).
Berdasarkan uraian di atas hasil analisis deskriptif menyatakan siswa MTsS Nagari Binjai butuh dengan pendidikan seks.
Berdasarkan hal tersebut, Menurut Desmita (2010: 60) Setiap individu mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang hendak dipenuhi. Dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, setiap individu mempunyai sikap dan perilaku yang berbeda satu sama lain.
Menurut Hurlock (1980:124) Pendidikan seksualitas merupakan sebuah kebutuhan bagi remaja, untuk
mengurangi dahaganya atas informasi seksualitas yang benar dan bertanggung jawab yang tidak pernah kita dapatkan dari manapun, dari keluarga, sekolah maupun dari sumber- sumber lain. Apalagi saat ini tantangan yang dihadapi oleh remaja tidaklah ringan di mana kita musti berada di jaman yang serba modern, semua serba ada dan tersedia sehingga hanya kita sendirilah yang bisa mengontrol perilaku berkaitan dengan masalah seksualitas. Sehingga dengan adanya bekal pendidikan seksualitas ini harapannya adalah kita bakal menjadi lebih berdaya, bisa memutuskan mana yang terbaik untuk kita dengan segala resiko yang harus ditanggung.
2. Profil Pengetahuan Peserta Didik Tentang Pendidikan Seks Remaja
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan mengenai profil Pengetahuan peserta didik tentang pendidikan seks remaja kelas VIII MTsS Nagari Binjai dalam merespon skala pengetahuan peserta didik tentang pendidikan seks remaja berada pada kategori cukup mengetahui dan sangat mengetahui, data ini diperkuat oleh mean skor peserta didik 59,28 berada pada posisi interval 46,81 - 61,20, median 58,00 berarti cukup mengetahui, skor mimimum 97,00 dan skor maksimum 139,00 standar deviasi 9,34.
Berdasarkan uraian di atas hasil analisis statistik deskriptif menyatakan siswa MTsS Nagari Binjai cukup pengetahuannya dengan pendidikan seks.
Menurut Sarwono (2007:9) pentingnya pengetahuan peserta didik tentang pendidikan seks sebagai berikut:
a. Dapat mencegah penyimpangan dan kelainan seksual.
Pencegahan abnormalitas masturbasi sesungguhnya bias secara optimal diperankan oleh orang tua. Sikap dan reaksi yang tepat dari orang tua terhadap anaknya yang melakukan masturbasi sangat penting.
b. Dapat memelihara tegaknya nilai- nilai moral.
Orangtua perlu mengawasi secara bijaksana hal-hal yang bersifat
pornografis dan pornoaksi yang terpapar pada anak.
c. Dapat mengatasi gangguan psikis.
Menekankan kebiasaan masturbasi sebagai sebuah dosa dan pemberian hukuman hanya akan menyebabkan anak putus asa dan menghentikan usaha untuk mencontohnya.
d. Dapat memberi pengetahuan dalam menghadapi perkembangan anak sangat berguna dalam mencegah remaja pada kebiasaan masturbasi. Pendidikan seks dimaksudkan sebagai suatu proses yang seharusnya terus-menerus dilakukan sejak anak masih kecil.
Menurut pendapat peneliti, rasa ingin tahu terhadap masalah seksual pada remaja sangat penting dalam penting dalam pembentukan hubungan bu yang lebih matang dengan lawan jenis. Pada masa remaja, informasi masalah seksual seharusnya diberikan supaya remaja tidak mendapatkna informasi yang slah dari sumber- sumber yang tidak jelas.
Pemberian informasi masalah seksual menjadi penting, terlebih lagi mengingat remaja berada dalam potensi seksual yang aktif karena berkaitan dengan dorongan seksual yang dipengaruhi hormone dan tidak cukupnya informasi mengenai aktifitas seksual akan sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa remaja. Informasi yang salah tentang seks akan mengantarkan remaja pada perilaku seks bebas. Untuk itu orang tua dan pihak-pihat terkait seperti guru BK, guru mata pelajaran dan masyarakat sekitar remaja harus memberikan pengetauan yang benar tentang seks kepada remajanya.
3. Profil Sikap Peserta Didik Tentang Pendidikan Seks Remaja
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan mengenai sikap peserta didik tentang pendidikan seks remaja kelas VIII MTsS Nagari Binjai dalam merespon skala sikap peserta didik tentang pendidikan seks remaja berada pada kategori setuju dan cukup setuju, data ini diperkuat oleh mean skor peserta didik 54,95 berada pada posisi interval 54,41 - 67,20, median 50,00 berarti cukup setuju, skor mimimum 43,00 dan skor maksimum 67,00 standar deviasi 5,18.
Berdasarkan uraian di atas hasil analisis statistuk deskriptif menyatakan siswa MTsS Nagari Binjai setuju dengan diberikan pendidikan seks.
Menurut Dianawati (2006) mengatakan bahwa pendidikan seks dapat membantu para remaja laki-laki dan perempuan untuk mengetahui risiko dari sikap seksual dan mereka mengajarkan pengambilan keputusan seksualnya secara dewasa, sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang merugikan diri sendiri maupun orang tuanya. Pentingnya memberikan pendidikan seks bagi remaja, sudah seharusnya dipahami. Memberikan pendidikan seks pada remaja, maksudnya membimbing dan menjelaskan tentang perubahan fungsi organ seksual sebagai tahapan yang harus dilalui dalam kehidupan manusia.
Selain itu, harus memasukkan ajaran agama dan norma-norma yang berlaku.
Menurut peneliti, untuk menghilangkan kesempatan remaja melakukan perilaku seks bebas dapat dilakukan melalui menghilangkan ruang dan waktu untuk remaja berinteraksi lebih dengan lawan jenis, mengontrol remaja dalam bergaul, tidak memberikan izin yang terlalu berlebihan kepada remaja untuk pergi keluar dengan lawan jenis, membatasi remaja untuk melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat, mengurangi atau mengontrol atau pun mendamping remaja dalam berpacaran atau melarang anak untuk berpacaran.
Mengikutsertakan remaja dalam kegiatan positif untuk menghindari remaja melakukan hal-hal negatif Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan analisis data dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan mengenai profil kebutuhan pendidikan seks remaja di MTsS Nagari Binjai. Temuan penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Profil kebutuhan pendidikan seks remaja di MTsS Nagari Binjai dapat disimpulkan bahwa siswa MTsS Nagari Binjai butuh dengan pendidikan seks.
2. Pengetahuan peserta didik tentang pendidikan seks remaja di MTsS Nagari Binjai dapat disimpulkan bahwa siswa MTsS Nagari Binjai cukup
pengetahuannya tentang pendidikan seks.
3. Sikap peserta didik tentang pendidikan seks remaja di MTsS Nagari Binjai dapat disimpulkan bahwa siswa MTsS Nagari Binjai setuju untuk diberikan pendidikan seks.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti mengemukakan beberapa saran bagi:
1. Peserta didik, setelah memperoleh pendidikan seks agar dapat mengarahkan dorongan seksualnya kea rah yang lebih positif dan mampu memahami setiap perkembangan yang dialaminya saat remaja.
2. Guru Bimbingan dan Konseling, sebaiknya dapat menambahkan setiap program semester tentang pendidikan seks. Karena berdasarkan temuan peneliti siswa MTsS Nagari Binjai butuh dengan pendidikan seks, cukup pengetahuannya tentang pendidikan seks dan setuju bila diberikan pendidikan seks.
3. Orangtua, agar dapat memberikan informasi tentang pendidikan seks sedini mungkin kepada anak-anak mereka, supaya mereka tidak mencari tahu persoalan seks dari sumber yang salah.
4. Kepala MTsS Nagari Binjai Kecamatan Tigo Nagari Kabupaten Pasaman, agar dapat mendukung dan memfasilitasi pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling terutama dalam kegiatan pemberian layanan kepada peserta didik.
5. Pengelola program studi bimbingan dan konseling STKIP PGRI Sumatera barat, agar dapat lebih meningkatkan potensi dan kemampuan calon guru bimbingan dan konseling untuk kedepannya.
6. Penelitian selanjutnya, agar dapat menjadikan penelitian ini sebagai pedoman dan acuan serta dapat melanjutkan penelitian ini dengan melihat variabel yang berbeda.
Kepustakaan
Desmita. (2007). Psikologi perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Dianawati. (2006). Pendidikan seks untuk remaja. Depok. PT Kawan Pustaka.
Hurlock, E.B. (1980). Psikologi Perkembangan. Jakarta:
Erlangga.
Notoatmodjo, Soekidjo. (2007).
Kesehatan masyarakat ilmu dan seni. Jakarta: Rieneka Cipta.
Sarwono, W. Sarlito. (2007).
Psikologi remaja. Jakarta:
Rajawali Pers.
Sugiyono. (2013). Metodologi
penelitian pendidikan (pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D) Bandung: Alfabeta.
Yusuf, A. Muri. (2012). Metodologi penelitian. Padang: UNP Press.