• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Kajian Pustaka 1. Pengertian Kurikulum

a. Secara Bahasa

Kata kurikulum sendiri diturunkan dari kata Latin ‘currere’ yang berarti bahwa ‘lari’ yang kemudian dispesifikasikan lagi menjadi

‘berlari’ atau suatu proses yang dijalankan untuk meraih suatu tujuan tertentu (Jadhav & Patankar, 2013).

Menurut bahasa Yunani, kurikulum berasal dari kata curir yang berarti pelari dan curere yang berarti tempat berpacu atau tempat berlomba, sehingga dapat dikatakan bahwa kurikulum sebagai jarak perlombaan yang harus ditempuh oleh pelari dalam suatu arena lomba (Wahyuni, 2015).

Kurikulum secara bahasa ini kemudian dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan suatu proses untuk meraih tujuan tertentu, dimana dapat dianalogikan seperti pelari yang berlomba pada jarak tertentu.

b. Menurut UNESCO

Berdasarkan unesco.org, kurikulum dapat dipertimbangkan melalui berbagai perspektif yang berbeda, dimana masyarakat membayangkan bahwa apa yang disajikan dalam dokumen resmi dapat dikatakan sebagai kurikulum. Namun, kurikulum sebenarnya adalah apa yang dicapai atau dipelajari oleh siswa di kelas melalui berbagai interaksi kelas yang kompleks (unesco.org). Oleh karena itu, kurikulum adalah kemasan kompetensi yang sistematis yang berisi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang didukung oleh nilai yang harus dipelajari peserta didik melalui pengalaman belajar terorganisir, baik di lingkungan formal maupun non-formal.

Kurikulum dapat dikatakan baik apabila mampu memainkan peran penting dalam menempa kompetensi pembelajaran

8 commit to user

(2)

seumur hidup, serta sikap dan keterampilan sosial, seperti toleransi dan rasa hormat, dan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), kesetaraan jenis kelamin, keadilan, dan inklusivitas (unesco.org). Pada saat bersamaan, kurikulum berkontribusi pada pengembangan keterampilan berpikir dan perolehan pengetahuan yang relevan yang harus diterapkan peserta didik dalam konteks studi, kehidupan sehari- hari, dan pada karir mereka. Kurikulum juga dibutuhkan untuk mendukung pengembangan peserta didik dengan memberikan kontribusi untuk meningkatkan rasa percaya diri, motivasi, dan aspirasi mereka.

c. Menurut Zhou Nan-Zhao

Zhou Nan-Zhao (2004) mengatakan bahwa terdapat beberapa pengertian dari kurikulum itu sendiri. Kurikulum dapat berarti cara penyusunan konten pendidikan yang dilaksanakan dalam ruang kelas dan aktifitas setelah sekolah untuk memenuhi kebutuhan belajar yang berbeda (Nan-Zhao, 2004). Pada perubahan konteks pendidikan dan pembangunan, kurikulum bukan lagi sekedar produk dari suatu badan pendidikan tertentu, melainkan suatu proses dinamis dari penyelidikan pembelajaran aktual dari hal-hal yang tidak diketahui melalui interaksi dan kerjasama antara guru dan siswa. Berdasarkan sudut pandang pragmatis, kurikulum dapat dilihat baik sebagai proses dan produk, terdiri dari semua proses pembelajaran dan pengalaman lainnya di sekolah atau rancangan sistem pendidikan untuk peserta didik.

d. Menurut George A. Beauchamp

George A. Beauchamp (1982) menyatakan bahwa untuk mendefiniskan kurikulum, terdapat berbagai asumsi yang dapat mengarah pada pengertian tersebut, diantaranya adalah dimensi substansif dari kurikulum, pengembangan kurikulum, implementasi kurikulum, evaluasi yang menyatakan proses dari kurikulum, dan yang terakhir adalah bahwa harus adanya perbedaan antara kurikulum dan instruksi. Dalam buku yang berjudul Theory into Practice, Beauchamp (1982) menyatakan bahwa setidaknya ada tiga penggunaan logis atas kata kurikulum, yaitu pertama kurikulum yang dinyatakan sebagai commit to user

(3)

dokumen yang berisi rangkaian budaya untuk mencapai suatu cita-cita, kedua adalah sistem kurikulum, dan ketiga adalah kurikulum dalam pembelajaran.

Menurut Beauchamp “A curriculum is a written plan depicting the scope and arrangement of the projected educational program for a school.”

Selain itu, Beauchamp juga berpendapat, “A curriculum is the basic environmental structure from which teachers are to develop teaching strategies for spesific classroom groups.”

Jadi, dapat dikatakan bahwa kurikulum menurut Beauchamp adalah suatu rancangan tertulis mengenai program pendidikan untuk sekolah atau dapat dikatakan pula bahwa kurikulum adalah struktur lingkungan dasar yang dibangun oleh guru pada kelompok kelas tertentu.

Beauchamp (1982) juga menyatakan bahwa secara optimal, suatu kurikulum harus mengandung empat komponen, yaitu 1) dokumen yang berupa rencana strategi-strategi instruksional, 2) tujuan yang ingin dicapai sekolah tertentu, 3) kandungan budaya yang mungkin dapat dicapai dengan adanya implementasi kurikulum, dan 4) skema evaluasi sistem.

Sistem kurikulum sendiri diartikan Beauchamp (1982) sebagai,

“A curriculum system is a system for decision making and action with respect to the three primary curriculum functions: planning, implementing and evaluating”, selain itu ia juga mengartikannya sebagai,

“A curriculum systems of schooling, provides a framework for the planning, implementing, and evaluating of the curriculum,” sehingga dapat dikatakan bahwa sistem kurikulum menurut Beauchamp adalah perwujudan dari perencanaan, pengimplementasian, dan evaluasi dari kurikulum itu sendiri.

e. Menurut James Seymour Bruner

James Seymour Bruner (Fields, 1996) mendefinisikan bahwa suatu kurikulum haruslah mencakup penguasaan keterampilan yang akan mengarah pada penguasaan yang lebih kuat sehingga mampu membentuk commit to user

(4)

serangkaian penghargaan diri. Bruner kemudian menyarankan bahwa kurikulum haruslah dipersiapkan oleh para ahli dalam materi pelajaran, guru, dan psikolog dengan memperhatikan struktur material yang melekat, sekuensingnya, serta mempertahankan kecenderungan untuk memecahkan masalah (Fields, 1996).

f. Menurut Elliott Eisner

Elliott Eisner dalam Fields (1996) memandang kurikulum kedalam tiga bentuk, yaitu tidak sah, eksplisit, dan implisit, dimana menurutnya kurikulum yang tidak sah adalah semua hal yang tidak diajarkan dan tidak dipelajari dalam sekolah, dimana tidak ada kemungkinan untuk mempelajarinya. Kurikulum secara implisit menurut Eisner adalah bahwa kurikulum merupakan gagasan, nilai, sikap dan proses tidak diajarkan secara eksplisit, namun tidak ada yang kurang dipelajari (Fields, 1996). Kemudian kurikulum eksplisit adalah kurikulum yang harus dididik oleh guru dan administrator di sekolah pada siswa, hal inilah yang diharapkan oleh orang tua dan masyarakat untuk dapat dipelajari oleh siswa dan apa yang mereka coba ukur sebagai suatu ukuran kesuksesan (Fields, 1996).

g. Menurut M. Frances Klein

M. Frances Klein dalam Fields (1996) mendefiniskan kurikulum sebagai kegiatan, proses, dan pengaturan struktural yang dimaksudkan untuk dikerjakan atau dialami di sekolah dan kelas dengan tujuan untuk memenuhi fungsi pendidikan.

h. Menurut Benjamin S. Bloom

Benjamin S. Bloom dalam Fields (1996) memandang kurikulum kedalam dua bentuk, yaitu terlihat dan tidak terlihat, dimana yang pertama menjadi mata pelajaran sekolah yang diajarkan dan yang terakhir adalah pelajaran yang mengajarkan satu tempat di sekolahnya.

Berdasarkan pengertian kurikulum secara bahasa dan berbagai pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan suatu proses yang harus dipersiapkan secara matang, proses ini dapat dipelajari di kelas melalui commit to user

(5)

apa yang guru ajarkan dan dapat pula diperoleh melalui pengalaman, dimana keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu sebagai bentuk perolehan pengetahuan.

2. Faktor Penting dalam Kurikulum

J. J. Hoover (2011) menyatakan bahwa ada tiga faktor penting yang terdapat dalam kurikulum, dimana faktor ini dapat dilihat melalui kurikulum dan komponen penting yang menyusunnya. Gambar 2.1. menunjukkan tiga faktor penting yang harus ada dalam pengimplentasian dari kurikulum.

Gambar 2.1. Tiga Faktor Penting dalam Kurikulum (Sumber: Hoover, 2011)

Ketiga faktor penting yang dinyatakan oleh Hoover (2011) adalah sebagai berikut.

Faktor 1: Implementasi dari kurikulum harus dijalankan sesuai dengan apa yang telah direncanakan, secara konsisten, dan dengan memberikan tantangan kepada siswa agar mereka mampu mengembangkan pola pikir tingkat tinggi.

Faktor 2: Adanya perbedaan kurikulum dirancang agar mampu mencapai kebutuhan atau hasil yang diinginkan, sesuai dengan kebutuhan siswa, dan diimplementasikan selama jam pelajaran.

commit to user

(6)

Faktor 3: Penilaian dibutuhkan untuk menunjukkan keefektifan kurikulum dan implementasinya berdasarkan apa yang telah dilaksanakan selama sistem pembelajaran.

3. Kurikulum di Indonesia

a. Prinsip dan tujuan umum pendidikan

Menurut UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Republik Indonesia, 1989).

UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 1 telah menuliskan mengenai pendidikan nasional, dimana menurut undang-undang ini maka pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman (Republik Indonesia, 2003). Pada undang-undang dan pasal yang sama pun dijelaskan mengenai sistem pendidikan nasional, dimana sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (Republik Indonesia, 2003).

UU No. 20 tahun 2003 pada pasal 3 kemudian menuliskan mengenai fungsi dan tujuan pendidikan nasional, dimana pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Republik Indonesia, 2003). commit to user

(7)

b. Perkembangan kurikulum

Penjelasan mengenai perkembangan kurikulum di Indonesia dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode sebelum kemerdekaan dan periode sesudah kemerdekaan.

1) Periode sebelum kemerdekaan

Pada tahun 1819, Indonesia kemudian masuk kedalam bagian dari negara bentukan Belanda yang disebut dengan Hindia Belanda, dimana Belanda pun memperkenalkan sekolah publik yang sayangnya masih terbatas dan privat yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang Belanda dan Eropa saja (Faisal & Martin, 2019). Kemudian pada tahun 1870, dibukalah sekolah untuk pribumi, namun sekolah pada masa ini masihlah minim dalam hal pendanaan dan hanya mengajarkan mengenai literasi dasar dan matematika dengan masa studi selama 2 hingga 3 tahun dan umumnya sekolah ini hanya terletak diperkotaan (Fasial & Martin, 2019).

Pemerintah Belanda pada tahun 1920 hingga 1940 pun selanjutnya membuka beberapa sekolah medis, perdagangan, seni, dan pertanian yang hingga saat ini sekolah yang mereka dirikan pun masih dapat digunakan oleh masyarakat Indonesia, diantaranya adalah Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Pertanian Bogor (Faisal & Martin, 2019).

Pada tahun 1942, terjadi perpindahan kekuasaan di Indonesia, dimana Belanda yang kala itu kalah perang pada Perang Dunia ke-II pun harus rela menyerahkan Indonesia ketangan Jepang, sehingga Indonesia pun berada dibawah pemerintahan Jepang kala itu. Ketika Jepang menduduki Indonesia, mereka memperkenalkan sistem pendidikan umum pertama, dimana hal ini ditandai dengan dibukanya sekolah- sekolah untuk semua siswa dengan bahasa pengantarnya adalah Bahasa Indonesia (Faisal & Martin, 2019). Namun, pada masa penjajahan Jepang ini pendidikan Indonesia masihlah dijalankan atas kepentingan Jepang, dimana pembukaan sekolah ini semata-mata hanya untuk mendukung

commit to user

(8)

keperluan Jepang apabila terjadi perang sebagai lanjutan Perang Dunia ke-II (Faisal & Martin, 2019).

2) Periode setelah kemerdekaan a) Kurikulum 1947

Sejak tahun 1945 hingga tahun 1950, Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya dibawah kepemimpinan Soekarno, namun pada masa ini perjuangan melawan penjajah masihlah terus dilakukan agar tidak terjadi dekolonisasi di Indonesia (Faisal &

Martin, 2019). Pada awalnya, Indonesia hanya memiliki beberapa guru dan kepala sekolah saja, hal ini dikarenakan guru dan kepala sekolah merupakan bagian dari kekuatan kolonial dan saat Indonesia menyatakan kemerdekaannya mereka haruslah kembali ke negaranya masing-masing (Faisal & Martin, 2019).

Pada tahun 1947 ini, pemerintah pun kemudian mengeluarkan suatu kurikulum yang dikenal dengan nama Rencana Pelajaran 1947, dimana pendidikan pada tahun ini berasaskan Pancasila, namun kurikulum ini barulah dapat dilaksanakan pada tahun 1950 dikarenakan adanya gejolak revolusi (Wahyuni, 2015).

Pendidikan pada tahun ini mengutamakan pada pendidikan watak serta kesadaran bernegara dan bermasyarakat, dimana materi pelajaran yang ada dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga dibuatlah suatu kelas masyarakat dengan lama waktu pendidikan selama 6 tahun dengan harapan agar anak-anak yang kurang mampu tidak perlu melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) (Wahyuni, 2015). Mata pelajaran yang diajarkan pada kelas masyarakat ini adalah berupa keterampilan, yaitu meliputi keterampilan pertukangan, pertanian, dan perikanan (Wahyuni, 2015).

b) Kurikulum 1952

Kurikulum 1952 ini merupakan kurikulum penyempurna dari Kurikulum 1947, yang kemudian diberi nama Rancangan Pelajaran Terurai 1952, dimana hal menonjol yang ada pada kurikulum ini commit to user

(9)

adalah pada setiap rancangan pelajaran haruslah memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari (Wahyuni, 2015). Mata pelajaran yang ada pada tahun ini pun bertambah dari sebelumnya, yaitu berupa moral, kecerdasan, emosional atau artistik, keprigelan atau keterampilan, dan jasmaniah (Wahyuni, 2015).

c) Kurikulum 1964

Kurikulum 1964 atau lebih dikenal dengan Rancangan Pelajaran 1964 ini dilaksanakan dengan dasar bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang Sekolah Dasar (SD), sehingga pembelajaran pun dipusatkan pada Pancawardhana yang berarti bahwa pembelajaran dipusatkan pada daya cipta, rasa, karsa, dan moral (Wahyuni, 2015).

d) Kurikulum 1968

Sejak tahun 1967, pendidikan Indonesia dapat disebut mulai memasuki masa modernisasi sistem pendidikan, dimana hal ini ditandai pada tahun 1967 saat Soeharto diangkar menjadi presiden (Faisal & Martin, 2019). Kurikulum yang diterapkan pada tahun 1968 ini merupakan suatu kurikulum yang telah mengalami perubahan struktur dari kurikulum sebelumnya, dimana pendidikan Indonesia pada tahun ini dipusatkan pada pembinaan jiwa Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus (Wahyuni, 2015). Tujuan pendidikan pada tahun 1968 ini adalah berupaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, sehingga isi pendidikan yang ada diarahkan pada kegiatan yang mempertinggi kecerdasaan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehar dan kuat (Wahyuni, 2015).

e) Kurikulum 1975

Pada tahun 1973, melalui Instruksi Presiden, hampir sebanyak 40.000 fasilitas sekolah dasar dibangun atau diperbaiki, dimana hal ini dilakukan guna mengakomodasi siswa-siswa yang akan bersekolah pada jenjang Sekolah Dasar (Faisal & Martin, 2019). Pada commit to user

(10)

pelaksanaannya, pada setiap bidang studi harus dicantumkan tujuan kurikulum, sedangkan pada setiap pokok bahasan diberikan tujuan instruksional umum yang dijabarkan lebih lanjut dalam berbagai satuan bahasan yang memiliki tujuan instruksional khusus (Abdullah, 2007).

f) Kurikulum 1984 (Kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif)

Pada akhir 1980, pemerintah mengumumkan bahwa pendidikan dasar secara umum dan bebas telah tercapai, sehingga dimulailah ekspansi program pendidikan wajib yang awalnya hanya 6 tahun kemudian menjadi 9 tahun (Faisal & Martin, 2019). Kurikulum pada tahun 1984 ini mengusung pendekatan proses keterampilan (process skill approach), sehingga kurikulum pada tahun ini dikenal dengan nama Kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) (Wahyuni, 2015). Asumsi atas penyempurnaan Kurikulum 1975 didasari bahwa kurikulum merupakan wadah atau proses belajar mengajar yang berlangsung secara dinamis, sehingga perlu adanya penilaian dan pengembangan secara terus menerus yang disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan masyarakat (Abdullah, 2007). Pendidikan pada masa ini menekankan bahwa siswa merupakan subjek belajar, sehingga siswa haruslah mengamati mengenai suatu hal, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga kemudian melaporkan hasil pengamatannya, hal ini dikarenakan kurikulum didasari pada pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas, sehingga pembelajaran haruslah dimulai dari perumusan tujuan yang akan siswa raih (Wahyuni, 2015).

g) Kurikulum 1994

Pada tahun 1994, pemerintah mengeluarkan suatu aturan yang mendukung adanya 9 tahun wajib belajar dengan mengeluarkan aturan yang berisi bahwa adanya pendidikan gratis selama 9 tahun, yaitu sejak SD hingga SMP (Faisal & Martin, 2019). Kurikulum 1994 pun diterbitkan dengan pelaksanaan berdasarkan pada UU No. 2 tahun 1989, dimana pada waktu itu terdapat perubahan waktu pelajaran dari commit to user

(11)

sistem semester menjadi sisstem caturwulan, dimana tujuan pendidikannya adalah menekankan pada pemahaman konsep dan keterampilan menyelesaikan soal dan masalah (Wahyuni, 2015).

h) Kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi)

Pelaksanaan Kurikulum 2004 atau lebih dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) didasari pada kewajiban pemerintah untuk menyediakan kurikulum yang mampu memenuhi pengembangan iman dan karakter, kebutuhan perkembangan kognitif dan keterampilan siswa, keragaman nasional dan perkembangan kebutuhan nasional dan regional, permintaan bisnis, globalisasi, dan kesatuan nasional dan nilai-nilai (ACDP, 2017). Tujuan pendidikan pada pelaksanaan kurikulum ini diekspresikan sebagai pengembangan potensi setiap siswa sebagai makhluk hidup yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan dan pengembangan karakter, gaya hidup sehat, kecerdasan, keterampilan, dan masyarakat yang mandiri serta bertanggung jawab (ACDP, 2017).

i) Kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

Kurikulum 2006 ini dikenal dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dimana pada pelaksanaannya terdapat perbedaan dengan KBK, yaitu pada KTSP guru dibebaskan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta sekolah (Wahyuni, 2015). Sejak awal diberlakukannya kurikulum ini, guru dinilai belum siap dalam hal perangkat pembelajaran, sehingga ini dianggap sebagai suatu beban tambahan bagi guru dan banyak dari mereka yang tidak seutuhnya mengapresiasi adanya demokratisasi pendidikan semenjak diberlakukannya kurikulum ini (ACDP, 2017). Hal lain yang menjadi alasan banyak dikritiknya kurikulum ini oleh guru adalah bahwa sejak adanya pelatihan guru dan latihan lapangan sebelum menjadi seorang guru, sistem yang diberlakukan menggunakan pendekatan atas-awah (top-down), dimana pada pendekatan ini pengambilan keputusan tidak

commit to user

(12)

sepenuhnya berada pada guru melainkan ditentukan dari pemerintah, sehingga pelaksanaan KTSP ini dinilai kurang sesuai (ACDP, 2017).

j) Kurikulum 2013

Pada tahun 2013, pemerintah mengumumkan bahwa pendidikan wajib gratis ditambah masa studinya hingga mencapai 12 tahun (ACDP, 2017). Inti pelaksanaan Kurikulum 2013 adalah bahwa sistem pendidikan yang awalnya berdasarkan pada standar pada KTSP digeser menuju suatu kurikulum yang berbasis kompetensi (ACDP, 2017). Pemberlakuan Kurikulum 2013 ini sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003, dimana kurikulum ini merupakan pengembangan KBK yang dilengkapi dengan kompetensi sikap (Wahyuni, 2015). Adanya pemberlakuan kurikulum ini disertai dengan beberapa keinginan pemerintah, yaitu sebagai berikut (ACDP, 2017).

i. Agar mampu mengurangi adanya pelajaran yang dianggap terlalu padat terurama pada jenjang sekolah dasar.

ii. Persiapan untuk mendukung siswa menjadi pelajar yang independen dengan kemampuan untuk berpikir kritis dan berkomunikasi secara efektif.

iii. Mengatasi masalah atas siswa yang tidak mendapatkan cukup waktu pada pembelajaran tatap muka.

iv. Meningkatkan alokasi waktu keseluruhan untuk pendidikan karakter pada mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan dan Ideologi serta Pendidikan Agama.

4. Pelaksanaan Kurikulum Thailand

Kurikulum yang dilaksanakan di Thailand saat ini adalah mengacu pada Basic Education Core Curriculum atau B.E. 2551, dimana pada pelaksanaanya kurikulum ini diberlakukan sebagai kurikulum inti untuk pendidikan nasional pada sekolah dasar dan menengah (Kementerian Pendidikan Thailand, 2008).

Pelaksanaan B.E 2551 ini sejalan dengan tujuan kurikulum yang ingin dicapai pada National Education Act1999 dan amandemennya pada tahun

commit to user

(13)

2002 (Kementerian Pendidikan Thailand, 2008). Berdasarkan National Education Act 1999, makna pendidikan diartikan sebagai berikut.

Education means the learning process for personal and social development through imparting of knowledge;practice; training;

transmission of culture; enhancement of academic progress; building a body of knowledge by creating a learning environment and learning society and the availability of factors conducive to continuous lifelong learning.

Jika dilihat dari pernyataan diatas, dapat dikatakan bahwa pendidikan menurut National Education Act 1999 proses pembelajaran untuk seseorang dan perkembangan sosial melalui pengetahuan, latihan, penyebaran budaya dengan menciptakan lingkungan pembelajaran dan mengadakan faktor kondusif untuk pembelajaran yang berkelanjutan. Tujuan pendidikan yang ingin dicapai dengan adanya B.E. 2551 ini adalah bahwa pendidikan bertujuan penuh pada pembangunan masyarakat Thailand dalam segala aspek, yaitu kesehatan fisik dan mental, intelektual, pengetahuan, moral, integritas, dan cara hidup yang diinginkan sehingga dapat hidup secara bahagia dengan masyarakat lainnya (National Education Act, 1999).

Sistem pendidikan yang ada di Thailand saat ini dilaksanakan sesuai dengan Konstitusi 1997 dan National Education Act 1999, dimana dengan adanya kedua dasar ini pemerintah menetapkan prinsip-prinsip dan dasar- dasar untuk meningkatkan pendidikan Thailand agar mampu mempersiapkan seluruh masyarakat Thailand untuk menjadi masyarakat terpelajar (International Business Publications of USA, 2011). National Education Plan (2002-2016) juga telah dipersiapkan oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Thailand.

Berdasarkan Konstitusi Kerajaan Thailand 1997, menyatakan pada pasal 81 bahwa “the State will improve education to be in harmony with economic and social change” yang berarti pemerintah berkomitmen untuk terus melakukan perubahan dalam pendidikan apabila hal ini diperlukan sehingga mampu mencapai suatu keharmonian dengan ekonomi. Dalam konstitusi ini juga dinyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan untuk minimal 12 tahun. commit to user

(14)

5. Empat Pilar Pendidikan UNESCO

Empat pilar pendidikan UNESCO ini bukanlah suatu hal yang dapat berdiri sendiri, melainkan pilar-pilar yang berhubungan antara satu dengan yang lainnya, sehingga menurut Jaques Delors (2013) pilar pendidikan tersebut sangat perlu untuk diwujudkan, hal ini dikarenakan saat ini masih banyaknya ketidaksetaraan untuk memperoleh pendidikan, selain itu kebudayaan yang ada juga mulai tergeser dengan adanya pengaruh dari media dan teknologi informasi yang modern. Fransisco Cua (2013), sependapat dengan Jaques Delors, dimana menurutnya empat pilar pendidikan ini haruslah berjalan dalam satu fase yang utuh dalam kehidupan seseorang dan bukanlah pada pilar yang berdiri secara sendiri-sendiri. Berikut adalah empat pilar pendidikan UNESCO.

a. Belajar untuk tahu (learning to know)

Manusia haruslah belajar untuk memahami dunia disekitar mereka, setidaknya sebanyak yang mereka butuhkan untuk mengarahkan mereka pada kehidupan yang lebih bermartabat, mengembangkan kemampuan mereka dan berkomunikasi dengan orang lain. Menurut Fransisco Cua (2013), pilar belajar untuk tahu ini memprioritaskan penguasaan keahlian sebagai yang pertama, yang kedua adalah penyusunan pengetahuan dari data yang tidak terstruktur, dan ketiga adalah penyusunan pengetahuan dari data yang terstruktur. Pengetahuan terstruktur yang dimaksud disini adalah pengetahuan dengan unsur-unsur yang terstruktur atau statis, sedangkan pengetahuan tidak terstruktur adalah yang tidak disusun dengan cara yang telah ditentukan sebelumnya (Cua, 2013). Tujuan utama dari belajar untuk tahu ini adalah untuk meningkatkan rasa percaya diri dengan cara menjadi pandai dikarenakan berkembangnya kemampuan dan puas dengan pengetahuan yang telah ia disusun (Cua, 2013).

Berpikir merupakan sesuatu hal yang dipelajari pertama kali oleh anak-anak dari orangtuanya dan kemudian oleh guru-gurunya, sehingga proses ini meliputi baik penyelesaian masalah secara praktis dan pemikiran abstrak (Cua, 2013). Baik pendidikan maupun penelitian commit to user

(15)

haruslah menggabungkan pemikiran deduktif maupun induktif, dimana hal ini sering disebut sebagai proses menentang (Cua, 2013). Pemikiran deduktif menyimpulkan bahwa apabila ada sesuatu yang benar dari kelas, maka hal ini juga berlaku untuk semua anggota kelas itu; sedangkan pemikiran induktif dimulai dengan observasi secara spesifik yang menuju ke generalisasi yang lebih luas lagi (Cua, 2013).

Menurut Zhou Nan-Zhao (2004) belajar untuk tahu dapat dianggap sebagai sarana dan tujuan dalam belajar maupun dalam kehidupan, dimana sebagai sarana, hal ini memungkinkan siswa untuk memahami setidaknya tentang alam, manusia dan sejarahnya, lingkungannya, dan masyarakat luas.

b. Belajar melakukan (learning to do)

Pilar belajar melakukan (leaning to do) ini merupakan penerapan atas apa yang telah dipelajari oleh siswa atau apa yang telah siswa ketahui dalam hal praktik, sehingga pilar ini lebih erat kaitannya dengan pendidikan teknik kejuruan dan pelatihan keterampilan kerja namun arti yang sesungguhnya dari pilar ini jauh lebih luas dari hanya sekedar mampu melakukan hal-hal tertentu, dimana belajar melakukan lebih mengarah pada jenis keterampilan baru (Nan-Zhao, 2004).

Pada abad 20 ini masyarakat yang umumnya merupakan para pekerja industri, mereka membutuhkan pengetahuan yang lebih ditekankan pada kemampuan untuk menghasilkan inovasi-inovasi agar mampu menghasilkan bisnis dan pekerjaan baru, sehingga melalui hal ini dapat diketahui bahwa belajar melakukan tidak lagi diartikan sebagai apa yang dilakukan oleh orang-orang yang untuk melakukan pekerjaan tertentu dalam suatu proses industri (Cua, 2013).

Belajar melakukan, kemudian bermakna bahwa adanya pergeseran dari keterampilan menuju kompetensi atau gabungan keterampilan tingkat tinggi yang spesifik untuk setiap individu. Belajar untuk melakukan berarti menunjuk pada kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan orang lain, bakat menuju kerja tim, keterampilan sosial dalam membangun hubungan interpersonal yang berarti, commit to user

(16)

kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dalam dunia kerja dan dalam kehidupan sosial.

c. Belajar untuk hidup bersama (learning to live together)

Salah satu tugas dari pendidikan adalah untuk mengajarkan kepada siswa mengenai keberagaman manusia dan untuk menanamkan pada mereka kesadaraan terhadap persamaan dan adanya ketergantungan antara satu individu dengan individu lain (Nan-Zhao, 2004). Bahkan apabila pendidikan diperkenalkan oleh keluarga, komunitas ataupun sekolah, anak-anak tetap harus diajarkan untuk memahami reaksi orang lain dengan melihat hal-hal melalui sudut pandangnya sendiri, sebagai contoh, mengajarkan remaja untuk melihat dunia melalui cara pandang dari suku atau kelompok agama lain adalah salah satu cara untuk menghindari kesalahpahaman yang mampu memunculkan kebencian dan kekerasan diantara remaja (Nan-Zhao, 2004).

Adanya perbedaan atau bahkan konflik dalam suatu kelompok umumnya menjadi alasan bagi individu untuk menghindarinya, namun sebenarnya hal ini merupakan suatu pembelajaran yang dapat diperoleh individu sehingga mereka mendapatkan nilai-nilai untuk mengatasi masalah yang mungkin akan mereka hadapi dalam rutinitas kehidupannya (Nan-Zhao, 2004). Dalam olahraga misalnya, ketegangan seringkali muncul, namun hal ini justru menjadi semangat solidaritas dan dijadikan komitmen bersama untuk mencapai suatu tujuan. Pada dunia kerja, prestasi tidak mungkin diraih oleh seseorang apabila ia tidak mampu melalui suatu masalah yang umumnya muncul dalam organisasi hierarkis melalui keterlibatan mereka dalam sebuah proyek bersama (Nan-Zhao, 2004).

Zhou Nan-Zhao (2004) menyatakan bahwa pilar ini menyiratkan sebuah pendidikan dengan dua jalur pelengkap, yaitu pengenalan orang lain dan berbagi tujuan hidup bersama. Secara khusus, hal ini menyiratkan adanya pengetahuan dan pemahaman diri sendiri serta orang lain, apresiasi terhadap keragaman umat manusia dan kesadaran akan adanya persamaan, dan saling ketergantungan antar manusia; empati dan commit to user

(17)

perilaku sosial kooperatif; penghormatan terhadap orang lain dan budaya serta sistem nilai yang dianut mereka; kemampuan untuk menghadapi orang lain dan menyelesaikan konflik melalui dialog; dan kemampuan dalam bekerja untuk mencapai tujuan bersama.

UNESCO menyatakan bahwa pilar belajar untuk hidup bersama ini dapat diperoleh melalui perkembangan suatu pemahaman mengenai orang lain dan apresiasi atas interdipendensasi (kemampuan untuk mengerjakan tugas bersama dan belajar mengelola konflik) dalam suatu semangat atas penghargaan unruk nilai-nilai pluralisme, pemahaman bersama, dan kedamaian (Delors, 1996).

Belajar untuk hidup bersama ini kemudian dapat disimpulkan sebagai suatu proses agar siswa mampu hidup berdampingan dengan orang lain, dimana dapat menghargai perbedaan yang ada di lingkungannya.

d. Belajar menjadi (learning to be)

Komisi UNESCO menyatakan bahwa pendidikan haruslah berkontribusi dalam perkembangan manusia secara utuh, baik dalam hal pola pikir dan perkembangan tubuh, intelegensi, sensitivitas, apresiasi aestetik dan spiritualitas (Delors, 1996). Pendidikan haruslah dirasakan oleh setiap orang pada masa kecil maupun masa remajanya, sehingga melengkapi perkembangan independen, cara berpikir kritis, maupun pengambilan keputusan, sehingga mereka mampu mengambil tindakan terbaik dalam situasi apapun (Cua, 2013).

Perkembangan manusia yang dimulai sejak lahir dan berlanjut selama kehidupannya merupakan suatu proses yang didasari pada pengetahuan diri dan pada hubungan dengan orang lain. Sebagai suatu sarana latihan pribadi, pendidikan seharusnya menjadi proses yang sangat individual dan pada saat yang bersamaan merupakan pengalaman sosial interaktif (Cua, 2013).

Edgar Faure et al menyatakan bahwa jenis pembelajaran ini pertama kali terkonsep dalam Laporan untuk UNESCO pada 1972, dimana hal ini muncul karena adanya ketakutan bahwa dunia ini akan commit to user

(18)

menjadi tidak manusiawi sebagai akibat adanya perubahan teknis (Nan- Zhou, 2004). Hal ini berdasarkan pada prinsip bahwa tujuan pembangunan adalah pemenuhan manusia seutuhnya, yaitu dalam semua kekayaan kepribadiannya, kompleksitas bentuk ekspresinya dan berbagai komitmennya sebagai individu, anggota keluarga dan komunitas, warga negara, penemu dan pemimpi (Nan-Zhou, 2004). Belajar untuk menjadi ini kemudian dapat ditafsirkan sebagai suatu cara belajar menjadi manusia seutuhnya melalui perolehan pengetahuan, keterampilan dan nilai yang mendukung pengembangan kepribadian dalam dimensi intelektual, moral, budaya, dan fisiknya (Nan-Zhou, 2004: 3).

Belajar untuk menjadi ini kemudian dapat disimpulkan sebagai proses pembelajaran untuk menjadi manusia seutuhnya, dimana manusia seutuhnya merupakan manusia yang dianggap memiliki kemampuan intelektual, moral, dan budaya yang baik.

B. Kerangka Berpikir

Perbandingan implementasi kurikulum antara dua negara dalam satu kawasan regional menjadi suatu hal yang menarik untuk diteliti, dimana dengan mengidentifikasi perbandingan ini maka akan dapat diketahui kelebihan dan kekurangan dari implementasi kurikulum tersebut. Implementasi kurikulum sendiri menurut Mulyasa (2014) haruslah melibatkan berbagai komponen, dimana komponen-komponen tersebut adalah kurikulum, rencana pembelajaran, proses pembelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan pengembangan diri peserta didik, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, serta etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Komponen terpenting yang menjadi penentu implementasi kurikulum adalah terletak pada komponen proses pembelajaran, hal ini dikarenakan pada proses ini merupakan inti dari pembelajaran tersebut serta pada komponen ini pula lah tersampaikan materi pelajaran yang ditujukan kepada siswa.

Perbandingan implementasi kurikulum antara dua negara, tentu tidak dapat dilakukan tanpa adanya suatu acuan yang jelas, dimana acuan ini haruslah diakui oleh kedua negara tersebut. UNESCO pada tahun 1996 telah mengeluarkan empat commit to user

(19)

pilar pendidikan yang dijadikan acuan pendidikan untuk berbagai negara-negara di dunia, sehingga empat pilar pendidikan inilah yang kemudian dapat dijadikan acuan untuk perbandingan implementasi kurikulum tersebut.

Analisis implementasi Kurikulum 2013 di SMA Negeri 1 Surakarta, Indonesia dan B.E. 2551 di SMA Triam Udomsuksa Pattanakarn Bangkok, Thailand dalam pembelajaran kimia berdasarkan empat pilar pendidikan UNESCO kemudian menjadi suatu hal yang menarik untuk diteliti, dimana tantangan yang dihadapi guru diantara kedua negara ini akan berbeda. Melalui penelitian ini maka dapat diketahui ada atau tidaknya perbedaan implementasi kurikulum pada satu kawasan regional yang sama sehingga akan diperoleh profil perbandingan implementasi kurikulum yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi berdasarkan empat pilar pendidikan UNESCO.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat digambarkan bagan kerangka berpikir sebagai pada Gambar 2.2. berikut.

commit to user

(20)

Gambar 2.2. Diagram Alir Kerangka Berpikir

commit to user

Gambar

Gambar 2.1.  Tiga Faktor Penting dalam Kurikulum  (Sumber: Hoover,  2011)
Gambar 2.2.  Diagram Alir Kerangka Berpikir

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil pembahasan yang dikemukakan dalam laporan akhir ini, kesimpulan yang didapatkan ialah untuk tingkat likuiditas perusahaan dianggap likuid tetapi

Penelitian mengenai pengaruh gelombang mikro terhadap tubuh manusia menyatakan bahwa untuk daya sampai dengan 10 mW/cm2 masih termasuk dalam nilai ambang batas aman

Sedangkan untuk mengetahui tingkat akuntabilitas tersebut, perlu adanya Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) yang merupakan bahan utama untuk monitoring dan evaluasi

Kami juga akan memberikan dukungan dan pantauan kepada yang bersangkutan dalam mengikuti dan memenuhi tugas-tugas selama pelaksanaan diklat online. Demikian

Penyesuaian bentuk sel darah merah terhadap proses fisiologis tubuh unggas antara lain dengan tingkat fleksibilitas sel darah untuk mampu bergerak bebas dengan

In measuring phase the sequences (i.e. patterns) of HO and LAU zones can be determined and stored in database on each road. There are operating solutions and IPRs based

meminta informasi tentang kegiatan pemberantasa tindak pidana korupsi kepada instansi yang.. terkait, melaksanan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang

Pembina dapat mengadakan tantangan bagi anak-anak supaya menerima Yesus Kristus dalam hati sebagai Tuhan dan mengakui bahwa tidak ada jalan lain untuk bisa bertemu