• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

PT Kereta Api Logistik merupakan perusahaan yang bergerak dalam jasa logistik menggunakan moda transportasi kereta api (railway freight). PT Kereta Api Logistik memiliki cakupan bisnis antara lain, labelling, packing, warehousing, pengelolaan Terminal Peti Kemas (TPK), manajemen logistik, tracking dan pengawalan logistik.

Salah satu unit bisnis yang dimiliki oleh PT Kereta Api Logistik adalah Kereta ONS (Over Night Services) yang merupakan kereta khusus angkutan ritel yang memiliki rute Jakarta Gudang (JAKG) – Pasar Turi (SBI) dan sebaliknya yang memilki kapasitas angkut sebesar 265 ton.

Menurut data (Indonesia Infrastructure Initiative, 2016) berikut merupakan perbandingan persentase penggunaan moda transportasi pengiriman barang yang ada di Indonesia.

Gambar I. 1 Persentase Mode Share Antar Moda Indonesia

Sementara itu dihimpun dari (Mulyono, 2017) diketahui bahwa penggunaan moda transportasi barang dengan menggunakan kereta adalah 0,1% penggunaan moda transportasi di pulau jawa masih didominasi oleh truk dengan persentase sebesar

Truk Kereta Api Laut/Kapal Pesawat 1%

90%

9% 0,1-1%

(2)

target pangsa pasar layanan transportasi barang dengan moda kereta api adalah 11-13%

dari keseluruhan layanan transportasi nasional.

Rendahnya mode share kereta api angkutan barang diakibatkan masih tingginya biaya operasional kereta angkutan barang. Berdasarkan penelitian (Wicaksana, 2017), berikut merupakan perbandingan total biaya antar moda transportasi angkutan barang dengan rute Jakarta-Surabaya dimana kereta api merupakan moda transportasi yang memiliki total biaya tertinggi.

Gambar I. 2 Perbandingan Biaya Moda Transportasi

Pada penelitian yang dilakukan oleh (Wicaksana, 2017) diketahui bahwa biaya terbesar untuk melakukan pengiriman barang di pulau jawa adalah dengan menggunakan moda kereta api. Dimana skema untuk pengiriman dengan menggunakan kereta adalah mulai dari gudang asal mejunu ke stasiun asal (JAKG) kemudian penggunaan kereta lalu dilakukan bongkar di stasiun tujuan (skema railroad).

Dimana dengan skema tersebut akan menimbulkan tambahan biaya selain biaya transportasi truk yaitu biaya bongkar muat. Berdasarkan (Peraturan Presiden No. 26 Tahun 2012), guna merealisasikan sistem logistik nasional yang efektif dan efisien sangat berhubungan erat dengan mekanisme perpindahan dan pergerakan barang antar

Rp- Rp100.000 Rp200.000 Rp300.000 Rp400.000 Rp500.000 Rp600.000 Rp700.000 Rp800.000

Ro-Ro Kapal

Petikemas

Kereta Api Truk Series1 Rp380.096 Rp497.929 Rp719.482 Rp670.604

Total Cost (Juta-Rp)

(3)

moda transportasi atau kegiatan bongkar muat yang lancar, cepat, akurat dan dengan mengeluarkan biaya yang minimum untuk kegiatan bongkar muat.

Selain regulasi pemerintah, kompetisi, dan isu-isu politik mengenai perkeretaapian, waktu dan biaya yang tidak sesuai (tinggi) terdapatnya simpul (transshipments) antar moda dalam hal ini adalah biaya bongkar muat menjadi salah satu alasan ketidakpuasan pelanggan terhadap angkutan kereta api barang (Konings, Priemus, &

Nijkamp, 2008). Dikarenakan terdapatnya biaya bongkar muat disetiap simpulnya (transshipment) hal tersebut akan menimbulkan biaya ekstra yang dikeluarkan pengirim barang.

extra-cost extra-cost

Gambar I. 3 Koordinasi Antarmoda Barang (Kereta Api)

Berdasarkan data yang diolah oleh (Supply Chain Indonesia, 2016) diketahui bahwa biaya total logistik perpindahan barang dari Jakarta sampai Surabaya dengan menggunakan truk menghabiskan dana Rp. 6.730.000 sementara dengan menggunakan kereta api pengirim barang harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 7.600.000. Menurut (Setijadi, 2016) Transportasi barang sulit di konversi ke multi moda dikarenakan harus diawali dengan aktivitas bongkar muat mulai dari hulu hingga hilir, implikasinya terdapat biaya tambahan yang menyebabkan biaya logistik dengan kereta api menjadi lebih mahal. Maka fokus isu yang diangkat dalam penelitian ini terkait dengan terdapatnya inefisiensi dalam kegiatan operasional bongkar muat.

Untuk memahami proses yang terdapat pada kegiatan bongkar muat maka disajikan bagan proses operasional bongkar muat barang yang terdapat di PT Kereta Api Logistik dapat dilihat di Gambar I.1.

(4)

Gambar I. 4 Proses Bongkar Muat PT KALOG

Biaya pengambilan barang memberikan proporsi yang diestimasi 60 – 65% dari seluruh proses operasi yang ada, kegiatan ini berlangsung berulang-ulang serta melibatkan banyak tenaga manusia didalamnya (operator) untuk melakukan handling (Henn dkk, 2003). Berikut merupakan kontribusi biaya bongkar muat yang terdapat di PT Kereta Api Logistik.

Gambar I. 5 Kontribusi Biaya Bongkar Muat PT KALOG

Berdasarkan data yang dihimpun dari PT Kereta Api Logistik diketahui bahwa kontribusi biaya tertinggi terdapat pada biaya pekerja bongkar muat yang mencapai angka Rp. 424.835.197 untuk operasional seluruh stasiun gudang yang terdapat di

GERBONG KERETA KEDATANGAN

BARANG

PENIMBANGAN BARANG

PEYIMPANAN SEMENTARA

PENERIMAAN BARANG Handling

Muat

Bongkar

Bongkar Muat

Rp- Rp50.000.000 Rp100.000.000 Rp150.000.000 Rp200.000.000 Rp250.000.000 Rp300.000.000 Rp350.000.000 Rp400.000.000 Rp450.000.000

Biaya Pekerja

Biaya Investasi

Pallet

Biaya Investasi

MHE

Managem ent Fee Series1 Rp424.835.1 Rp1.662.500 Rp4.555.556 Rp43.967.43

per bulan (25 hari kerja)

(5)

Menteri Keuangan No. 80 Tahun 2012) tentang Jasa Angkutan Umum di Darat dan Jasa Angkutan Umum di Air menetapkan bahwa jasa kereta api angkutan barang dan penumpang dikenakan pajak sebesar 10%.

Dari data-data yang telah disajikan sebelumnya diketahui bahwa kontribusi terbesar yang membuat biaya bongkar muat kereta menjadi lebih mahal adalah biaya pekerja bongkar muat (porter) yang berkontribusi sebesar Rp. 424.835.197 dari total biaya.

Management fee sebesar 10% yaitu Rp. 43.967.423 dari total biaya operasional bongkar muat merupakan regulasi sehingga tidak dapat dirubah dalam penelitian ini agar moda kereta dapat lebih bersaing dengan moda lainnya. Sehingga berdasarkan pemaparan dan kondisi yang ada, diperlukan alokasi jumlah pekerja (porter) bongkar muat guna meminimasi biaya operasional bongkar muat serta penentuan tarif bongkar muat yang wajar / sesuai.

Setelah melihat gejala yang muncul dari tingginya biaya bongkar muat dalam hal ini adalah biaya pekerja bongkar muat. Selanjutnya akan dipaparkan mengenai akar masalah dari tingginya biaya pekerja bongkar muat pada operasional PT Kereta Api Logistik. Setelah melakukan simulasi awal untuk mengetahui akar permasalahan yang ada diketahui bahwa utilisasi pekerja hanya mencapai 74,04% sehingga dapat dikatakan terdapat inefisiensi pada pekerja bongkar muat hal ini juga menyebabkan terdapatnya over costing yang menyebabkan harga tidak dapat kompetitif.

(6)

Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Agustina, 2012) dengan menggunakan pendekatan activity based costing tidak mempertimbangkan randomness dari waktu proses operasional demikian juga yang dilakukan oleh (Syawalaxa dkk, 2019). Hasil dari penelitian (Agustina, 2012) dan (Syawalaxa dkk, 2019) dapat meminimalkan biaya operasional bongkar muat masing-masing sebesar 21% dan 2,4% biaya pada penelitian tersebut dapat diturunkan karena mengurangi pembebanan biaya pada biaya pekerja bongkar muat. Namun pembebanan pekerja tidak mempertimbangkan randomness dari waktu proses sehingga tidak diketahui apakan dengan keputusan mengurangi pemebeban (cost driver) terhadap biaya pekerja bongkar muat adalah keputusan yang optimal. Pada penilitian ini digunakan integrasi antara model discrete event simulation dengan activity based costing dimana perhitungan activity based costing merupakan perkalian antara pool rate dengan waktu aktivitas bongkar muat yang merupakan output dari discrete event simulation.

Penelitian ini juga menggunakan pendekatan simulation optimization agar dapat mengoptimalkan banyak faktor secara simultan.

I.2 Perumusan Masalah

Pada bagian ini akan dijabarkan mengenai rumusan masalah pada penelitian ini.

Adapun perumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bagaimana cara meminimalkan biaya operasional bongkar muat dengan cara mengalokasikan jumlah pekerja bongkar muat yang optimal?

2. Berapa tarif yang sesuai berdasarkan untuk kegiatan operasional bongkar muat PT Kereta Api Logistik ?

I.3 Tujuan Penelitian

Pada bagian ini akan disampaikan mengenai tujuan dari penelitian ini yang berdasarkan perumusan masalah.

1. Meminimalkan total biaya operasional bongkar muat dengan alokasi jumlah pekerja bongkar muat yang optimal.

(7)

2. Menentukan besaran tarif yang sesuai untuk kegiatan operasinal bongkar muat.

I.4 Batasan Penelitian

Adapun batasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Data yang digunakan merupakan Rancangan Operasional Bongkar Muat Tahun Anggaran 2019.

2. Mengikuti aturan Peraturan Menteri Keuangan No. 80 Tahun 2012 tentang Jasa Angkutan Umum di Darat dan Jasa Angkutan Umum.

3. Tarif eksisting merupakan tarif 2019.

4. Permintaan bersifat deterministik.

I.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah dapat meminimasi total biaya operasional bongkar muat kereta angkutan ritel ONS (Over Night Services) PT Kereta Api Logistik.

Serta dapat menentukan tarif angkutan yang sesuai berdasarkan aktivitas dan total biaya operasional bongkar muat.

I.6 Sistematika Penulisan

Berikut merupakan sistematika penulisan yang digunakan pada penelian ini.

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini dijelaskan latar belakang diperlukanya sistem pendukung keputusan pada perusahaan, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah, dan sistematika penulisan. Pada penelitian ini latar belakang akan menjelaskan mengenai gejala yang terjadi berupa biaya yang tinggi kemudian melakukan investigasi mengenai akar permasalahan yang terjadi di operasional bongkar muat PT Kereta Api Logistik.

(8)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini berisikan literatur yang relevan dalam hal ini adalah mengenai simulasi, activity based costing, sistem transportasi serta kajian lainnya yang mendukung pengolahan data.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini dijabarkan mengenai langkah-langkah penelitian secara merinci mulai dari tahap perumusan masalah, merancang pengolahan data, mengembangkan model konseptual.

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Pada bab ini akan disajikan data-data yang telah dihimpun oleh peneliti baik data primer maupun sekunder, serta ditunjukkan metode / langkah dalam proses pengolahan data sampai mendapatkan hasil akhir.

BAB V ANALISIS

Pada bab ini akan dilakukan analisis terhadap hasil pengolahan data yang telah dilakukan di bab sebelumnya. Analisis dilakukan untuk mengetahui skenario terbaik sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan oleh peneliti.

BAB VI KESIMPULAN SARAN

Bab ini terkait dengan hasil akhir dari penelitian ini yang harus menjawab poin-poin yang terdapat pada rumusan masalah. Serta memberikan saran untuk penelitian kedepannya.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam meningkatan aspek pelayanan dan fasilitas dapat memenuhi kebutuhan akan memajukan dan memoderenisasikan sistem transportasi dengan kereta api yang sesuai

Sistranas pada Tatrawil adalah tatanan transportasi yang terorganisasi secara kesisteman dan antarmoda terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta api,

Sistranas pada Tatrawil adalah tatanan transportasi yang terorganisasi secara kesisteman dan antarmoda terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta api,

tujuan dan visi misi dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir H Djuanda PT Kereta Api Indonesia, struktur organisasi dan fungsi, logo Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir H Djuanda

Sistranas pada Tatranas adalah tatanan transportasi yang terorganisasi secara kesisteman dan antar moda, terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta api,

Maka peneliti mencoba menerapkan metode yang telah ada untuk menghilangkan defect pada saat proses bongkar muat barang, yang nantinya memiliki output mempercepat dan

Bagaimana pelaksanaan kegiatan Corporate Social Responsibility yang dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia dalam mengelola Marching Band Locomotive ?.. Bagaimana pemahaman

Data angkutan peti kemas dari wilayah Bandung Raya menunjukkan bahwa hanya 4,33% saja barang yang diangkut dengan kereta api dan sisanya diangkut melalui jalan raya menggunakan