• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "1. PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sejalan dengan perkembangan dunia pada era globalisasi sekarang ini disertai dengan pertumbuhan negara-negara berkembang salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia. Banyaknya perusahaan yang mulai gulung tikar akibat dari krisis global yang melanda negara-negara, bukan saja negara berkembang negara maju pun kena imbasnya. Untuk mengatasinya diperlukan suatu siasat agar keadaan ekonomi tetap berjalan pada jalurnya. Mungkin bagi sebagian negara maju krisis ekonomi tidak begitu berpengaruh pada perekonomian mereka, akan tetapi bagi negara berkembang seperti Indonesia krisis global itu sangat berpengaruh. Akibat dari krisis global yang sangat terasa adalah banyak terjadi Pemutusan Hubungan Kerja yang disebabkan perusahaannya tidak mampu lagi membiayai banyak pegawai. Berdasarkan Data Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi per 13 Maret 2009 menyebutkan, jumlah karyawan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja meningkat menjadi 41.109 orang dalam waktu sepekan. Dalam hal ini, pada 6 Maret 2009 jumlahnya mencapai 37.909 orang. Jumlah ini berada di Provinsi Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Khusus Istimewa Jakarta, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Papua. Sementara jumlah pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja dan bekerja di wilayah Sumatera Selatan, Riau, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur sebanyak 16.229 orang per 13 Maret 2009. ( Peningkatan penggunaan produksi dalam negri serap tenaga kerja, 2009, par. 12 )

Telah terjadi Pemutusan Hubungan Kerja besar-besaran di sejumlah

perusahaan ternama, berdasarkan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jawa Timur

(Jatim) mencatat sebanyak 22 perusahaan di Jatim mengajukan permohonan

(2)

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 44.696 karyawannya selama tahun 2004. Sebanyak 12 perusahaan di antaranya sudah tutup, termasuk PT Kyung Dong Indonesia (KDI) dan PT Kasogi Internasional Tbk. ( Tempo Interaktif, 1 September 2004: 22 perusahaan Jatim Pemutusan Hubungan Kerja 44.696 karyawannya ) dan juga Pemutusan Hubungan Kerja besar-besaran terjadi di Malang, seperti yang di utarakan Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Malang Samuel Molindo mengatakan, dari total 600 perusahaan, sekitar 120 perusahaan mulai merumahkan para buruh. Para buruh dirumahkan karena produksi menurun. ( Perusahaan di Malang mulai lakukan Pemutusan Hubungan Kerja, 2009, par. 10 ). Setelah di Pemutusan Hubungan Kerja apa yang akan dilakukan oleh mantan-mantan pegawai tersebut, tidak mungkin mereka akan berhenti bekerja dan juga tidak mungkin bagi mereka untuk mencari pekerjaan di tempat lain karena perusahaan-perusahaan sedang melakukan penghematan dengan mengurangi pengeluaran mereka dan juga untuk melamar di suatu perusahaan pasti memerlukan waktu. Sehingga dari situ banyak pegawai-pegawai yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja beralih profesi bergerak di bidang kreatif yang pertamanya dengan alasan coba-coba dan akhirnya berakhir menjadi pekerjaan tetap.

Salah satu pertimbangan banyaknya orang yang lebih memilih untuk terjun di bidang industri kreatif adalah jika industri lain lebih banyak di topang oleh modal dan tenaga kerja, maka industri kreatif bertumpu pada karya. Hal ini sesuai dengan karakter industri kreatif yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan dan lapangan kerja dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Pengertian ini sejalan dengan definisi industri kreatif yang menyebutkan : ”Creatives Industries as those industries which have their origin in individual creativity, skill & talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property and content” (Tim Riset Dep. Perdagangan RI, 2008).

Industri Kreatif adalah industri yang unsur utamanya adalah kreativitas,

keahlian dan talenta yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan melalui

(3)

penawaran kreasi intelektual. Industri kreatif terdiri dari penyediaan produk kreatif langsung kepada pelanggan dan pendukung penciptaan nilai kreatif pada sektor lain yang secara tidak langsung berhubungan dengan pelanggan. Produk kreatif mempunyai ciri-ciri: siklus hidup yang singkat, risiko tinggi, margin yang tinggi, keanekaragaman tinggi, persaingan tinggi, dan mudah ditiru.

Sektor Industri Kreatif menurut Mari Elka Pangestu yaitu sebagai berikut:

Periklanan, Arsitektur, Pasar Seni dan Antik, Kerajinan, Desain, Desain Fesyen, Film, Video, dan Fotografi, Permainan Interaktif, Musik, Seni Pertunjukan, Penerbitan dan Percetakan, Jasa Komputer dan Piranti Lunak, Televisi dan Radio, Riset dan Pengembangan. ( Bisnis Indonesia, 24/10/2007 )

Berdasarkan studi pemetaan industri kreatif yang dilaksanakan Departemen Perdagangan Tahun 2007 maka:

• Tahun 2006 industri kreatif di Indonesia telah menyumbangkan Produk Domestik Bruto sebesar 104,73 triliyun rupiah atau menyumbang 6,28% dari total Produk Domestik Bruto Indonesia.

Rata-rata pertumbuhan Produk Domestik Bruto periode 2003-2006 hanyalah 0,74% yang disebabkan karena merosotnya kontribusi subsektor kerajinan dan feysen pada tahun 2002-2003 dan tahun 2005-2006.

• Jumlah tenaga kerja yang berhasil diserap oleh sektor industri kreatif ini pada tahun 2006 mencapai 5,4juta pekerja dengan tingkat partisipasi pekerja sebesar 5,8%

• Nilai ekspor industri kreatif di Indonesia tahun 2006 mencapai 81,4 triliyun rupiah dan berkontribusi sebesar 9,13% terhadap total nilai ekspor nasional.

( Studi industri kreatif Indonesia, 2008, p24 )

Dari sisi kontribusi terhadap ekspor nasional, peranan industri

kreatif Indonesia masih kecil. Selama 2002-2006, kontribusi industri kreatif

di Indonesia rata-rata Rp 79,08 triliun, atau 4,74 persen dari total nilai Produk

Domestik Bruto nasional. Angka ini cenderung meningkat, mencapai 8 persen

pada 2006 (Rp 45,13 miliar). Angka ini masih di bawah rata-rata negara

(4)

berkembang, yang kontribusinya mencapai 29 persen dari total ekspor tahun 1999 dan 41 persen tahun 2005. Ketika dunia dilanda resesi global, menghantam hampir semua sektor di Tanah Air, terutama manufaktur yang diproduksi massal dengan orientasi ekspor, ceruk pasar untuk industri kreatif di Indonesia justru terbuka. Khususnya industri kreatif yang berbasis pada kreativitas desain dan berbahan baku lokal. ( Ceruk peluang disaat krisis, 2009, par 7 )

Dari hasil studi ini, dapat disimpulkan bahwa sektor industri kreatif di Indonesia, juga merupakan sektor industri yang menjanjikan untuk menndukung pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Dari 14 jenis industri kreatif yang berkembang itu, tiga diantaranya menjadi penopang terhadap nilai Produk Domestik Bruto, yakni kerajinan, fesyen, dan periklanan. Relevan dengan fenomena industri kreatif, pemerintah saat ini menyiapkan rancangan pengembangan industri kreatif dalam tiga tahap, yakni jangka pendek (2008-2009), jangka menengah (2009-2015), dan jangka panjang (2009-2025). ( Daya tarik industri kreatif, 2008, par 15 ).

Tidak selamanya korban-korban Pemutusan Hubungan Kerja merasa dirugikan, apabila mereka pandai memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada maka mereka akan mendapatkan pengalaman yang berharga misalnya dari merintis sebuah usaha baru di bidang kreatif, menjadi seorang entrepreneur yang menciptakan lapangan pekerjaan yang baru bagi orang-orang yang membutuhkannya sehingga secara tidak langsung mengurangi jumlah angka pengangguran yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan data-data diatas dapat dilihat bahwa perkembangan industtri kreatif di Indonesia benar-benar bertumbuh dengan baik sehingga menjadi salah satu industri yang mempunyai peran yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan berkembangnya industri kreatif membantu Indonesia sedikit demi sedikit keluar dari krisis global yang masih saja membelit perekonomian negara maju dan berkembang.

Untuk memulai suatu industri tidak perlu mempunyai modal yang besar

dan tempat yang bagus, semua bisa berawal dari nol dan bila seorang entrepreneur

dapat mengelolanya maka akan dapat berkembang dan sukses. Sebagai contoh

(5)

industri kreatif yang sukses adalah Joseph Theodorus Wulianadi alias Mr Joger.

Pemilik pabrik kata-kata Joger ini bahkan disebut sebagai orang kreatif yang mampu memunculkan ide gila, aneh, menipu semua orang tapi bagaimana yang ditipu tidak merasa ditipu, dan malah merasa senang. Sejak pertama berdiri tahun 1981, “Art and Batik Shop Joger” bermula dari sebuah toko mungil (bekas gudang) di Jl Sulawesi 37 Denpasar. Dengan modal awal Rp 500 ribu, bersama istrinya terus menjajakan batik yang diambil dari Solo dan Pekalongan untuk dijual dari rumah ke rumah (door to door). Berkat bantuan dari segala arah, tahun 1984 berhasil membuka toko kedua yang letaknya tidak jauh dari toko pertama (Jl Sulawesi 41 Denpasar). Tahun 1986, pria yang sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mandala Surabaya tapi akhirnya drop out mulai merintis usahanya yang semakin berkembang dengan keberhasilan membuka toko Joger ketiga di Kuta. Sayangnya tahun 1987, lelaki 45 tahun yang memiliki semboyan favorit ”Lebih baik sedikit tapi cukup daripada banyak tapi kurang” menutup dua dari tiga toko yang saat itu sedang laris. Tak disangka, akibat ide gilanya, Joger yang hobi kerja keras banting tulang ini membelokkan orientasi perusahaan dari profit oriented jadi happiness oriented. Artinya, tidak melulu mengejar materi atau keuntungan semata tapi kebahagiaan hakiki yang dituju. ”Saya ini kan bukan ahli bahasa. Saya juga bukan orang pintar. Tapi tampaknya saya punya keyakinan yang cukup untuk mendukung keberanian saya mengemukakan niat-niat baik melalui karya-karya saya yang jelek-jelek. Tapi bukan salah saya kalau ternyata banyak masyarakat dalam maupun luar negeri yang jatuh hati dan secara rutin mau membeli produk-produk Joger yang jelek- jelek tapi unik ini,” tegas Mr Joger. Sebetulnya dalam bisnis yang berbasis kreatifitas dan inovasi tidak mengenal persaingan, karena jika kita melukis dan ada yang hanya menyukai lukisan kita, maka berapa pun harganya, dan betapapun lebih bagusnya lukisan yang lain, orang akan tetap mencari dan membeli lukisan tersebut. Di Joger memilih untuk lebih leluasa menciptakan konsep dan sebetulnya kami tidak punya strategi dan tidak punya taktik kami hanya punya sikap dan komitmen yang kami jalankan secara konsisten dan konsekuen.

Berdasarkan fenomena dan fakta di atas penulis dapat menemukan alasan

banyak orang yang lebih bertahan untuk tetap bergerak di bidang industri kreatif

(6)

adalah usaha ini lebih fokus kepada keahlian dan kreativitas yang dimiliki seorang entrepreneur. Semakin kreatif pemilik usaha tersebut maka mampu memancing banyak minat pengunjung. Usaha kreatif tidak membutuhkan modal terlalu banyak pada awal pendirian, karena fokus kepada produk yang dibuat dengan desain-desain sehingga perlu bantuan beberapa Sumber Daya Manusia untuk memproduksi produk tersebut. Pemilik usaha selain harus mempunyai banyak ide dan kreativitas, pemilik usaha juga harus memiliki sifat kepemimpinan yang dibutuhkan untuk mempimpin usaha kreatif yang telah didirikiannya. Tanpa adanya sifat kepemimpinan usaha tersebut mungkin saja bisa berjalan akan tetapi akan tidak jelas arah tujuannya. Setiap entrepreneur yang ingin usahanya lancar harus bisa memimpin perusahaannya, dia dapat belajar menjadi pemimpin yang baik bagi perusahaannya. Sebagai seorang entrepreneur sebaiknya memiliki sifat- sifat kepemimpinan salah satu contohnya adalah berani mengambil resiko bagi usahanya, setiap tindakan pasti ada resikonya tetapi disamping itu hasil yang akan diperoleh akan lebih besar dibanding resiko tersebut. Pengalaman kerja adalah sebuah pelajaran yang berharga sama berharganya dengan kegagalan. Setiap orang sukses pasti pernah gagal mungkin untuk percobaan pertama tetapi bila seseorang belajar dari kegagalan itu maka ia akan menuai kesuksesan yang besar.

1.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah :

“Bagaimana entrepreneurial leadership pemilik/pengelola usaha kecil pada industri kreatif di Jawa Timur? “

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Mendeskripsikan profil alumni Universitas Kristen Petra sebagai pemilik/pengelola usaha kecil pada industri kreatif di Jawa Timur.

2. Mendeskripsikan profil bisnis dari usaha kecil pada industri kreatif

yang dimiliki/dikelola oleh alumni Universitas Kristen Petra di Jawa

Timur.

(7)

3. Mendeskripsikan tingkat entrepreneurial leadership menurut profil pemilik/pengelola dan profil bisnis usaha kecil pada industri kreatif di Jawa Timur.

1.4. Manfaat Penelitian

Penulis berharap penelitian ini dapat bermanfaat bagi:

1. Penulis

Penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan penulis mengenai sikap pemilik usaha kecil pada industri kreatif di Jawa Timur tentang peranan entrepreneurial leadership dan menambah pengalaman untuk menerapkan ilmu di bidang Manajemen Bisnis yang selama ini diperoleh di perkuliahan serta sebagai syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra.

2. Pelaku Industri Kreatif di Jawa Timur

Melalui penelitian ini diharapkan para pelaku industry kreatif dapat mengetahui bagaimana entrepreneurial leadership memberikan pengaruh terhadap kemajuan dari usaha mereka.

3. Universitas Kristen Petra

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan referensi yang bisa dimanfaatkan sebagai kepustakaan.

4. Pembaca

Melalui penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan

pembaca, khususnya tentang hal-hal yang berhubungan dengan pengaruh

dari entrepreneurial leadership pemilik usaha kecil pada industri kreatif di

Jawa Timur.

Referensi

Dokumen terkait

Berangkat dari pentingnya sebuah pengampunan dalam proses pemulihan sang korban, penyusun merasa tertarik untuk melihat secara lebih mendalam mengenai metode apa saja yang

Pada bab ini, penulis akan menguraikan mengenai latar belakang masalah mengenai pengupahan dan pemutusan hubungan kerja, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

Maksud pembuatan Profil Puskesmas Pasir Mulya ini adalah untuk mendapatkan gambaran situasi dan kondisi serta pelaksanaan pelayanan kesehatan dan kinerja Puskesmas

Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Hubungan Promosi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan Perilaku

Maksud pembuatan Profil Puskesmas Lawang Gintung ini adalah untuk mendapatkan gambaran situasi dan kondisi serta pelaksanaan pelayanan kesehatan dan kinerja Puskesmas

Orang kecil adalah kelompok masyarakat yang dianggap kurang beruntung (disadvantage groups), karena mereka berada dalam situasi serba kekurangan serta di balut oleh berbagai

Adanya konflik di Rakhine State yang menitikberatkan pada Etnis Muslim Rohingya sebagai korban yang paling dirugikan dan dalam faktanya telah terdiskriminasi

Bila pasien mendapatkan pengalaman yang baik pada saat melakukan pemeriksaan di puskesmas maka pasien akan merasa sangat puas dengan pelayanan yang diberikan, namun bila pasien