• Tidak ada hasil yang ditemukan

IKATAN KELUARGA BAYUR (IKB) DI KOTA MEDAN ( )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IKATAN KELUARGA BAYUR (IKB) DI KOTA MEDAN ( )"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

IKATAN KELUARGA BAYUR (IKB) DI KOTA MEDAN (1952-2000) Skripsi Sarjana

Dikerjakan O

L E H

Nama : Rani Mayda Sari NIM : 120706006

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi

IKATAN KELUARGA BAYUR (IKB) DI KOTA MEDAN (1952-2000) Yang Dikerjakan Oleh :

Nama : Rani Mayda Sari NIM: 120706006

Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh : Pembimbing

Dra. Ratna, MS

NIP. 195408091984032001

Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra dalam Bidang Ilmu Sejarah.

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(3)

Lembar Persetujuan Ujian Skripsi

IKATAN KELUARGA BAYUR (IKB) DI KOTA MEDAN (1952-2000) Yang Dikerjakan Oleh :

Nama : Rani Mayda Sari NIM : 120706006

Telah disetujui untuk diajukan dalam ujian skripsi oleh : Pembimbing

Dra. Ratna, MS Tanggal :

NIP. 195408091984032001 Ketua Departemen Sejarah

Drs. Edi Sumarno, M.Hum Tanggal : NIP. 19640922989031001

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

(4)

Lembar Persetujuan Ketua Departemen

Disetujui Oleh :

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

DEPARTEMEN SEJARAH Ketua Departemen,

Drs. Edi Sumarno, M.Hum NIP. 196409221989031001

Medan, Januari 2017

(5)

PENGESAHAN

Diterima oleh:

Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra dalam bidang Ilmu Sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan,

Pada : Tanggal :

Hari :

Fakultas Ilmu Budaya USU Dekan,

Dr. Budi Agustono

NIP. 196008051987031001

Panitia Ujian:

No. Nama Tanda Tangan

1. Drs. Edi Sumarno, M. Hum ………

2. Dra. Nurhabsyah, M.Si ………

3. Dra. Ratna, MS ………

4. Dra. Sri Pengestri Dewi Murni, M.A ………

5. Dra. Nina Karina, M.SP ………

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis limpahkan kepada Allah Subhanllahu Wa Ta’ala, karena berkat rahmat dan ridho-Nya Allah penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Karena penulisan skripsi ini selesai semua atas Izin Allah bukan karena kehebatan penulis sendiri. Sholawat berangkaikan salam penullis curahkan kepada baginda besar kita, Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam, karena atas Izin Allah kita dapat mengharapkan syafaatnya dari beliau, allahumma Amin.

Alhamdulillah, suatu Anugerah yang tidak terhingga, Allah berikan kepada penulis, sehingga karena-Nya penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini yang berjudul Ikatan Keluarga Bayur (IKB) Di Kota Medan.1952-2000. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan sekaligus untuk meraih gelar kesarjanaan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari, bahwa penuisan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan dan banyak memiliki kekurangan-kekurangan. Oleh Sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritikan dan masukan yang membangun , sehingga dapat disempurnakan dikemudian hari. Penulis berharap bahwa, tulisan ini dapat memberi manfaat dan menjadi sumber wawasan, baik kepada penulis sendiri, Mahasiswa, dan masyarakat pada umumnya.

Medan, Januari 2017

Rani Mayda Sari

(7)

UCAPAN TERIMA KASIH

Rasa syukur yang sangat besar saya panjatkan kepada Allah Subhanallah Wata’ala, yang dengan karunianya , rahmatnya memudahkan semua urusan saya, dan dengan izinya pula saya mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini. Shalawat berangkaikan salam juga saya curahkan kepada junjungan besar umat islam, Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam. Tak lupa juga saya ingin mengucapkan rasa terima kasih yang luar biasa kepada pihak-pihak yang turut berperan dalam membantu penulisan saya, mereka adalah :

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S. Selaku Dekan FIB USU, beserta Pembantu Dekan dan seluruh staf atas bantuan dan fasilitas yang penulis peroleh di FIB USU selama masa studi.

2. Bapak Drs. Edi Sumarno, M. Hum. sebagai Ketua Departemen Sejarah FIB USU beserta Ibu Dra. Nurhabsyah, M. Si. sebagai Sekretaris Departemen Sejarah yang telah mengingatkan dan membantu lancarnya penyelesaian skripsi ini.

3. Ibu Dra. Ratna, M. S. selaku pembimbing skripsi penulis. Terimakasih banyak ibu atas semua bimbingan dan arahan ibu selama penulis dibimbing oleh ibu.

Terimakasih dengan semua nasehat, masukan, dan kritikan dari ibu, kerena semua itu sangat membantu penulis mengerjakan skripsi juga memberi pengaruh yang sangat baik untuk diri penulis dan masa depan penulis kedepannya. Terima kasih juga atas kebaikan ibu yang telah meminjamkan penulis beberapa referensi

(8)

berupa buku-buku dan saran referensi lain yang terkait dengan topik penulisan skripsi ini.

4. Bapak Dr. Suprayitno, M. Hum. sebagai Dosen Penasehat Akademik penulis yang telah banyak memberikan nasehat-nasehat terbaiknya kepada penulis selama masa studi. Seluruh staf pengajar Departemen Sejarah FIB USU, yang telah memberikan penulis banyak pencerahan, pengetahuan, pengalaman, serta wawasan. Dan juga kepada staf administrasi Departemen Sejarah, Bang Ampera yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan persoalan administrasi selama masa studi.

5. Kemendikbud, atas program beasiswa Bidikmisi. Terimakasih telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat berkuliah di PTN USU ini , tanpa adanya program bidikmisi mungkin saat ini penulis tidak akan pernah melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

6. Skripsi ini penulis persembahkan kepada kedua orang tua penulis, Ayahanda Syafril dan Ibunda Sumiati yang telah memberikan semua dukungan dan harapan kepada penulis, terima kasih abi dan umi yang telah banyak mengurusi penulis sejak kecil hingga sekarang, terima kasih dengan semua bentuk perhatian yang abi dan umi berikan dan terimakasih telah mengajari penulis cara memegang pena yang baik, mengenal huruf dan mengerti semua tentang dunia. Terimakasih juga dengan semua doa yang abi dan umi berikan, tanpa itu semua penulis tidak akan mampu duduk di bangku kuliah ini, tanpa itu juga penulis tidak akan dapat menyelesaikan kuliah ini. Terimakasih juga kepada adik saya tersayang Tia,

(9)

Ridho, Nurul, terimakasih dengan semua kebersamaan yang kita lalui, dengan semua tawa, tangis dan kebahagiaan, semoga persaudaraan kita kekal hingga surganya Allah. Terimakasih juga kepada Adang (abang umi) M. Yunan, Tek Rahma, Tek Aini, Om Ikbal, Nenek yang telah membantu dan mensupport penulis selama penulisan skripsi dan studi ini.

7. Bapak Irianif Sani St Bagindo, selaku Ketua IKB Medan telah banyak membantu penulis selama dilapangan, terimakasih banyak atas semua bantuan dan kebaikan mamak dalam membantu penulis menyelesaikan skripsi studi ini. Semua pengurus, anggota dan Niniak Mamak yang telah berperan aktif dalam membantu penulis menyelesaikan Skripsi ini. Terimakasih dengan semua kebaikan dalam meluangkan waktunya untuk berbagi informasi dan membantu mendapatkan data- data yang dibutuhkan dalam skripsi ini. Terimakasih juga kepada Pegawai Kantor Wali Nagari Bayur, yang telah membantu dan memudahkan penulis dalam mendapatkan dokumen-dokumen tentang Bayur.

8. Sahabatku Lisma, Putri, Rika, dan Arief. Kalian adalah is the best, semoga persahabatan kita tidak sampai disini saja, dan akan terus seperti ini selamanya, dan semua rekan angkatan 2012 semoga kebersamaan kita tetap terjalin selama- lamanya. Terima Kasih juga kepada, bang Junaidi, bang Jan Bruana, bang Roni, bang Wisnu, kak Dara, Kak Novia, dan Kak Rini, selaku abang dan kakak angkatan yang telah banyak memberikan nasihat, masukan dan dukungan positif kepada penulis dalam memudahkan penulis menyelesaikan skripsi ini.

(10)

9. Sobat Relawanku kak Cut, kak Eva, kak Rudang, kak Wina, Ayu , Cut Nurviqah, Maharani, Niza, Novi, Nurul, Melly, Poetry, Sugi Prawansyah, bang Arif , bang Azmi , bang Azka, bang Doni, bang Dimas, bang Guntur, bang Joe, bang Karim, bang Ridho, kalian adalah yang terbaik. Dan semua Sorel KRN dan RZ Cabang Medan tidak tersebuttkan namanya, yang telah banyak memberikan dukungan serta doa kepada penulis. Semoga persaudaraan, persahabatan, dan kebersamaan kita akan tetap kompak dan terjalin hingga jannahnya.

10. Gamadiksi ( Keluarga Mahasiswa Bidikmisi ) USU. Terimakasih dengan semua kebersamaan yang kita lalui, dengan semua kenangan yang kita lewati. Disini kita dipertemukan karena senasib, dan berjuang bersama-sama untuk meraih mimpi kita.

11. Sahabatku Siti Aminah Harahap, yang telah banyak membantu penulis selama penelitian. Semoga persahabatan kita meski dimulai dari SMA namun akan teru berlanjut sampai seterusnya.

Akhirnya, penulis mengucapkan terima kasih banyak atas segala kontribusi yang diberikan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga kebaikan ini dibalas oleh Allah Subhanallahu Wa Ta’ala.

Medan, Januari 2017, Penulis

Rani Mayda Sari Nim. 120706006

(11)

ABSTRAK

Secara umum skripsi ini bertujuan untuk mengetahui sejarah lahirnya Ikatan Keluarga Bayur yang didirikan oleh para perantau bayur yang bermukim di Kota Medan dan perkembangan Ikatan keluarga Bayur dari setiap periodenya. Adanya Ikatan keluarga Bayur yang dibentuk pada 13 juli 1953 yang di latarbelakangi oleh masuknya orang-orang Minang yang berasal dari Nagari Bayur di kota Medan.

Setelah terbentuknya Ikatan Keluarga Bayur aktivitas ini terus berlanjut dan menjadi langkah awal bagi berkembangnya perantau-perantau asal Bayur dan sekaligus menjadi tonggak keberhasilan para warga Bayur dalam menghimpun warganya yang tersebar dalam setiap daerah menjadi satu wadah.

metode yang digunakan dalam penulisan sejarah yakni heuristik ( pengumpulan sumber), verifikasi (kritik sumber) yang terdiri dari kritik ekstern dan intern , interpretasi (penafsiran sumber) dan historiografi (penulisan sejarah). Pada tahap heuristik peneliti memakai sumber tertulis dan lisan. Untuk sumber tertulis peneliti memakai tinjauan pustaka, dan pada sumber lisan peneliti mewawancarai beberapa informan yang sesuai dengan interview guide.

Skripsi ini menjelaskan tentang geografis Nagari Bayur, kehidupan orang- orang Bayur di kota Medan, sejarah lahirnya Ikatan orang-orang Bayur di kota Medan, dan perkembangan serta kontribusi yang di lakukan oleh orang-orang Bayur baik di sesama anggota Bayur, maupun kampung halaman yang di mulai dari tahun 1952 sampai tahun 2000, dan diikuti dengan perkembangan selanjutnya di tahun 2017.

Kata kunci : Ikatan Keluarga Bayur, Nagari Bayur

(12)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

UCAPAN TERIMA KASIH... ii

ABSTRAK... vi

DAFTAR ISI... vii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 6

1.3. Tujuan dan Manfaat... 6

1.4. Tinjauan Pustaka ... 7

1.5. Metode Penelitian... 9

Bab II GAMBARAN UMUM MASYARAKAT BAYUR 2.1. Nagari Bayur... 12

2.2. Tradisi Merantau Orang-Orang Minangkabau... 14

2.3. Kedatangan Perantau Bayur Di Kota Medan... 20

2.4 Kehidupan Masyarakat Perantau Minang Asal Bayur Di Medan ... 23

BAB III LATAR BELAKANG IKB KOTA MEADAN (IKB) 3.2. Lahirnya Ikatan Keluarga Bayur... 38

3.4. Struktur Organisasi... 42

3.3. Visi dan Misi... 52

(13)

3.5. Rekruitmen Anggota... 53

BAB IV PERKEMBANGAN IKATAN KELUARGA BAYUR 4.1. Periode 1952-1965... 54

4.2. Periode 1965-1976... 55

4.3. Periode 1976-2000... 55

4.4. Periode 2000-2017... 56

BAB V PERAN IKATAN KELUARGA BAYUR ( IKB) 5.1. Peran IKB Bagi Masyarakat Perantau... 59

5.2. Peran IKB Bagi Kampung Halaman... 63

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan... 68

6.2. Saran... 70

DAFTAR PUSTAKA... 72

DAFTAR INFORMAN... 74

LAMPIRAN... 76

(14)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Merantau sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Minangkabau.1 Merantau artinya pergi meninggalkan kampung halamannya dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan dengan tujuan mencari kehidupan, ilmu serta pengalaman.

Kebiasaan merantau orang minang juga karenakan susahnya kehidupan yang dirasakan oleh masyarakat pada saat penjajahan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, sehingga untuk dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik orang Minang yang ada di kampung halaman, terutama kaum laki-laki, mulai merantau dan meninggalkan kampung halamannya sementara yang perempuan tetap tinggal di kampung.2 Tradisi merantau ini sudah lama di kenal oleh masyarakat Minang tetapi intesitasnya mulai terjadi pada saat masuknya pengaruh Belanda ke Pagarruyung (akhir abad ke-18). Untuk memperlemah wilayah Pagarruyung, pemerintah kolonial Belanda menjalankan aksi pecah belah, dan wilayah Pagarruyung kemudian dibagi menjadi beberapa wilayah kecil.3

______________

1 Konsep merantau orang-orang Minangkabau adalah orang Minangkabau mendorong kaum muda merantau, namun ketika mereka kembali dari daerah rantau, mereka harus membawa sesuatu , harta atau pengetahuan, sebagai simbol berhasilnya misi mereka, lihat Usman Pelly, Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing, Jakarta: PT Pustaka LP3ES Indonesia.

1994, hlm. 10.

2 Wawancara dengan H. Sjofyan Nurdin, Dt Radjo Mangkuto pada 27 April 2016, pukul 11.00 WIB. Beliau adalah Niniak Mamak warga bayur dan sekaligus menjabat sebagai seksi dakwah sosial dan Kemasyarakatan Ikatan Keluarga Bayur dan Badan Penasehat Badan Musyawarah Masyarakat Minang.

3 Sarifah Aini, “Migran Minangkabau ke Sukaramai” Skripsi, belum diterbitkan, Medan : Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, 2012, hlm. 41.

(15)

Pembangunan sarana jalan dilakukan pemerintah kolonial, yang dapat menembus wilayah pedalaman, semakin mendekatkan orang Minang ke dunia luar.4

Merantaunya orang Minangkabau ke kota kota besar dengan memilih wilayah yang mampu menopang kebutuhan hidupnya, baik dalam pendidikan, ekonomi, maupun keamanan. Ada 2 gelombang yang terjadi saat migrasi besar-besaran di wilayah kota Medan pada akhir abad 19 dan diawal abad 20. Gelombang pertama arus migrasi yang di ikuti oleh etnis Tionghoa dan Jawa, serta yang kedua adalah etnis Minangkabau dan Mandailing.5 Pada masa itu Medan masih menjadi Sumatera Timur yang terkenal dengan perkebunannya, sejak dibukanya perkebunan pada akhir abad 18 membawa perubahan dan perbaikan baik dalam sektor komunikasi, lembaga- lembaga perdagangan dan kegiatan.6

Semakin pesatnya kemajuan teknologi transportasi memberikan dorongan besar terhadap orang Minangkabau yang akan bermigrasi ke Kota Medan. Tidak hanya orang Minang yang tertarik bermukim dan menetap di Medan tetapi juga etnik-etnik lainnya, sehingga komposisi etnik di wilayah Medan menjadi beragam seperti Minangkabau, Mandailing, Melayu, Nias, Jawa, Batak Toba dan Simalungun.8 Bagi orang Minang hidup dirantau menjalin suatu ikatan dengan orang-orang ______________

4 Ibid.

5 http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27381/3/Chapter%20III-VI.pdf. Di akses pada 2 Mei 2016.

6 Mochtar Naim, Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabau, Jakarta PT RajaGrafindo Persada, 2013, hlm. 104

7 Sarifah Aini, op.cit., hlm. 4

8 Usman Pelly, op.cit., hlm. 135.

(16)

yang berasal dari luhak dan kampung yang sama sudahlah menjadi kebutuhan batiniah, karena dengan adanya sebuah ikatan mereka dapat dengan mudah menjalin silahturrahmi dan membina serta melestarikan budaya. Semenjak Indonesia merdeka banyak dari para perantau yang tidak lagi pulang ke kampung halamannya, mereka memilih tinggal menetap di rantau dan menerima kabar tentang keadaan yang berlangsung di kampung kemudian terdapatnya generasi muda yang lahir di rantau dan kurang mewarisi keterikatan yang erat dengan kampung.9

Di kota Medan banyak organisasi-organisasi daerah yang lahir, kemudian masih terus berkembang hingga saat ini, organisasi tersebut menjadi perekat hubungan terhadap sesama daerahnya dan berkontribusi terhadap sesama daerahnya dan kampung.10

Salah satu organisasi daerah yang berdiri di kota Medan adalah organisasi Minangkabau yang didalamnya ada organisasi perantau Bayur yakni Ikatan Keluarga Bayur ( IKB). Hubungan komunikasi yang di jalin oleh para perantau Minang asal Bayur dengan kampung halamannya menjadikan mereka memelihara komunikasi yang erat, sehingga dengan demikian para perantau dapat dengan mudah mengadakan kegiatan seperti acara pulang kampung bersama.

Terbentuknya Ikatan Keluarga Bayur, maka pengenalan terhadap budaya sekaligus interaksi terhadap sesama orang bayur dapat diwujudkan. Keberadaan ______________

9 Mochtar Naim, op.cit., hlm. 110.

10 http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/48347/4/Chapter%20II.pdf. Di akses pada 2 Mei 2016.

(17)

Ikatan Keluarga Bayur menjadi daya tarik untuk diteliti karena organisasi tersebut merupakan organisasi Minang pertama yang berdiri di kota Medan. Organisasi Bayur merupakan organisasi perantau yang didirikan oleh para perantau minang asal Bayur di Medan sehingga berpusat di kota Medan. Pada 11 Mei 1952, Ikatan Keluarga Bayur mulai mengadakan kegiatan rutin seperti pengajian yang dilakukan dari rumah ke rumah salah satu anggota.11 Tidak hanya pengajian para perantau Minang asal bayur juga mengadakan kegiatan Halal bi Halal setiap tahun sekali.

Dengan adanya kegiatan tersebut dapat mempereratkan ikatan antar sesama perantau dan eksistensi mereka yang berada di rantau menjadi lebih kuat. Sedangkan organisasi Ikatan Keluarga Bayur adalah organisasi para perantau asal Bayur. Bayur adalah sebuah nagari yang setingkat dengan pemerintahan desa dibawah kecamatan Tanjung Raya diatas kabupaten Agam, Sumatera Barat, seingga kawasan Bayur berada di seluruh wilayah yang ada di salingka (lingkaran/putaran) Danau Maninjau.12

Pada dasarnya Ikatan Keluarga Bayur merupakan sebuah organisasi yang bersifat otonom dengan membawahi beberapa organisasi lainnya. Diantara sifat organisasi otonom ini adalah menjadi pendukung program organisasi yang diantaranya.

______________

11 Wawancara dengan H. Sjofyan Nurdin, Dt Radjo Mangkuto pada 27 April 2016.

12 Safri Lubis. 2012, “IKB (Ikatan Keluarga Bayur)”.

http://antropologisafrilubis.blogspot.co.id/2012/05/ikbikatan-keluarga-bayur.html.Diakses 10 Januari 2016.

(18)

1. Ikatan Kaum Ibu Bayur

2. Seni Budaya Minang Keluarga Bayur 3. Ikatan Pemuda/Pemudi Mahasiswa Bayur 4. Ikatan Cendikiawan Bayur

Dari organisasi otonom ini banyak melahirkan orang-orang Bayur yang sukses yang diantaranya adalah Prof. Usman Pelly, PhD guru besar UNIMED, (Alm) Dr, H Arbi sebagai pemilik hotel Garuda Plaza, dan Prof. dr. Delfi Lutan, M.sc, Sp.OG(k) sebagai ketua Departemen Obstetri dan Genekologi Fakultas Kedokteran USU. IKB didirikan oleh perantau asal Bayur yaitu Bulek Sidi Salim, Loethan Sutan Toenaro, Muhd Dien, Yatim Sutan Rais dan Joesoef Soey’ib Datuk Simaradjo, pada tahun 1952. Anggotanya adalah seluruh masyarakat perantau Minang asal Nagari Bayur, yang saat ini sudah berjumlah sekitar 1.000 orang.13 Dalam perkembangan organisasi IKB tidak hanya terdapat di Kota Medan, tetapi kemudian memiliki banyak cabang di Sumatera Utara, di antaranya Deli Serdang, Dairi, Langkat dan Sibolga.

Penelitian ini mengambil scope temporal dari tahun 1952-2000 karena tahun 1952 merupakan awal terbentuknya Ikatan Keluarga Bayur di kota Medan. Kemudian diakhiri tahun 2000 karena pada tahun tersebut Ikatan Keluarga Bayur(IKB) organisasinya masih berbentuk keanggotaan, belum berbentuk yayasan.

______________

13 Ibid.

(19)

Kantor IKB sendiri berada di Jalan Utama No 135/71 Medan. Kantor tersebut sering dinamakan dengan mushalla/Balerong Bayua, tempat ini berfungsi sebagai wadah berkumpul para perantau asal Bayur sehingga mempermudah organisasi dalam mengadakan kegiatan-kegiatan. Tempat tersebut juga menjadi gedung pusat dalam menampung cabang-cabang organisasi yang telah tersebar di berbagai wilayah 1.2. RUMUSAN MASALAH

Dari penjelasan di atas, adapun rumusan masalah yang menjadi acuan dalam sebuah penelitian ini adalah:

1. Bagaimana latar belakang terbentuknya Ikatan Keluarga Bayur (IKB) di kota Medan?

2. Bagaimana perkembangan Ikatan Keluarga Bayur (IKB) dari awal berdiri hingga tahun 2000?

3. Apa kontribusi yang diberikan Ikatan Keluarga Bayur (IKB) ? 1.3. TUJUAN PENULISAN

Maka adapun tujuan dari pelaksanaan sebuah penelitian yang sesuai dengan acuan rumusan masalah adalah

1. Mengetahui Latar Belakang terbentuknya Ikatan Keluarga Bayur Bayur (IKB) 2. Mengetahui Perkembangan Ikatan Keluarga Bayur Bayur (IKB) tahun 1952-2000

di kota Medan.

3. Menjelaskan Kontribusi yang diberikan Organisasi Perantau Minang Ikatan keluarga Bayur terhadap kota Medan dan kampung halamannya..

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :

(20)

Memberikan sumbangan pemikiran, wawasan, pengalaman dan refrensi tentang organisasi para perantau Minang asal Bayur mulai dari latar belakang berdirinya, perkembangan dan kontribusi baik untuk sesama warga bayur , sesama penduduk sekitar maupun dengan penulis, sehingga dengan demikian organisasi tersebut dapat menjadi pemupuk rasa solidaritas dan kekeluargaan dengan sesama warga baik yang tinggal di kota Medan maupun kampung halaman.

1.4. TINJAUAN PUSTAKA

Kajian tentang organisasi perantau Minangkabau cukup banyak, tetapi studi yang mengkaji organisasi Ikatan Keluarga Bayur cukup terbatas. Salah satu studi organisasi adalah : Thamrin K. Piliang St Bandaro dalam buku saku yang berjudul Address Warga Ikatan Keluarga Bayur Medan dan Sekitarnya (2005) menjelaskan sejarah terbentuknya organisasi Ikatan Keluarga Bayur di kota Medan yang dituangkan ke dalam bentuk AD/ART IKB, buku itu juga mencantumkan nama kepengurusan dan keanggotaan warga Bayur. Buku ini menjadi sumber utama dan sekaligus sangat bermanfaat bagi penulis dalam melakukan suatu penelitian.

Meskipun dalam buku tersebut tidak menjelaskan secara mendalam mengenai bagaimana terbentuknya organisasi IKB namun dapat dimanfaatkan sebagai landasan pemikiran untuk meneliti sejarah IKB di kota Medan.

Selain itu, Mochtar Naim dalam bukunya Merantau Pola Migrasi Suku Minangkabau (2013), menjelaskan mengenai pola merantau dalam budaya Minangkabau dan arah tujuannya. Dalam penjelasan tersebut Mochtar Naim menguraikan bagaimana kehidupan para perantau Minangkabau setelah menetap di

(21)

daerah rantaunya. Buku ini sangat membantu penulis dalam mengetahui apa yang dilakukan Masyarakat Minangkabau perantauan yang ada di kota Medan dalam melangsungkan dan menyesuaikan kehidupannya di wilayah yang baru,

Karya lain adalah buku karangan Usman Pelly yang berjudul Urbanisasi dan Adaptasi : Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing (1994). Karya ini menguraikan mengenai bentuk urbanisasi dan adaptasi yang dilakukan para perantau Minangkabau di kota Medan. Di dalam bukunya Usman Pelly juga memaparkan mengenai misi budaya yang dijalankan oleh para perantau minang dalam mempertahankan identitas mereka di rantau yang penuh persaingan etnis dan selanjutnya dapat dijadikan prospek bagi perantau kota. Buku ini sangat bermanfaat bagi penulis dalam sebuah penelitian karena dapat dijadikan sebagai refrensi karena.

didalamnya ada menginformasikan tentang organisasi para perantau yang terbentuk di kota Medan serta hubungan yang terjadi baik antar sesama perantau, atau yang di luar etnik Minangkabau.

Selain itu, buku tulisan Hamka yang berjudul Merantau ke Deli (1977). Buku ini ada menceritakan tentang kehidupan orang Minangkabau selama berada di tanah Deli. Didalamnya juga Hamka juga ada menjelaskan tentang perjuangan anak Minangkabau dalam mempertahankan adat dan budayanya. Buku ini menjadi salah satu sumber pustaka yang dapat membantu penulis dalam sebuah penelitian skripsi.

Karena dengan adanya buku ini penulis dapat dengan mudah mengamati perjalanan hidup para perantau, dan aktivitas apa yang dilakukannya selama berada di perantauan.

(22)

Tidak hanya buku yang menjadi kepustakaan tetapi juga ada beberapa skripsi salah satunya adalah skripsi sarjana yang ditulis oleh Sarifah Aini berjudul Migran Minangkabau ke Sukaramai (2012), membantu penulis dalam menjelaskan peran organisasi yang bersifat sosial sebagai wadah guna menjalin persatuan dan kesatuan dalam upaya mempererat pembangunan juga pengenalan antar budaya sekaligus interaksi di antara suku bangsa segera dapat diwujudkan.

Selain itu penulis juga menggunakan Jurnal Harmoni Sosial yang yang memuat tulisan Inneke Rahma Dewi dan Ermansyah yang berjudul “Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3), StudiDeskriptif tentang Fungsi Organisasi Sosial Suku Bangsa Minangkabau di Kota Medan” yang diterbitkan pada januari 2007 . Tulisan ini juga menginformasikan peran penting organisasi yang dijadikan sebagai wadah perkumpulan masyarakat Minangkabau. Dalam tulisan ini memang tidak sepenuhnya memaparkan tentang IKB secara langsung namun justru organisasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan IKB sendiri yakni sebagai wadah atau

“payung panji” yang menampung berbagai macam organisasi sosial di dalamnya.

Sehingga semua organisasi Minangkabau yang jumlahnya cukup banyak kemudian dihimpun kembali dalam satu organisasi.

1.5. METODE PENELITIAN

Adapun langkah-langkah metode sejarah yang akan dijadikan pedoman penelitian ini adalah ; Pertama tahap heuristik yakni tahap mencari dan mengumpulkan data dari berbagai sumber, baik sumber tertulis ataupun lisan. Dalam mendapatkan dan mengumpulkan sumber tertulis, seperti buku; skripsi; jurnal dan

(23)

dokumen, peneliti telah mengunjungi Balerong Ikatan Keluarga Bayur di kota Medan. Peneliti juga mengunjungi Perpustakaan Departemen Ilmu Sejarah USU, Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Tengku Lukman Sinar. Di samping itu peneliti juga mengunjungi kantor Wali Nagari Bayua, untuk mendapatkan dokumen yang terkait dengan penelitian.

Adapun sumber lisan dapat diperoleh melalui wawancara. Wawancara dilakukan dengan informan-informan terpilih, misalnya pengurus IKB Medan Misalnya Irianif Sani St Bagindo, Salmi Saleh SH, dan para anggota IKB Medan seperti Edimas Putra, Sofyan Nurdin Rajo Mangkuto serta warga Bayur di kota medan. Wawancara yang dilakukan berpedoman pada interview guide. Pertanyaan yang di ajukan tidak sama, tergantung dari kategori informan.

Kedua adalah tahap verifikasi atau kritik sejarah. Tahap verifikasi dapat dibagi dalam dua macam yakni kritik ekstern dan intern. Adapun kritik ekstern adalah pengujian terhadap keaslian sumber yang dilakukan dengan menilai keaslian pembuatan sumber sejarah. Misalnya mengenai waktu dan bahan yang dipakai dalam pembuatan sumber-sumber sejarah. Serta mengindentifikasi tulisan tangan, tanda tangan, materai dan jenis huruf yang dipakai. Adapun kritik intern adalah kebenaran isi dari sumber-sumber sejarah yang mengacu pada otensitas dan kredibilitas sumber.

Di dalam kritik intern peneliti membandingkan kesaksian-kesaksian sebagai sumber penelitiannya.

Setelah tahap verifikasi maka dilakukan pula tahap interpretasi atau yang sering disebut dengan tahap analisis sejarah. Dalam tahap ini penulis mencoba

(24)

menganalisis masalah penelitian sehingga dapat melahirkan pemahaman kisah sejarah sesuai dengan apa yang diharapkan. Terakhir adalah historiografi yakni tahap penulisan sejarah yang dilakukan secara kronologis sesuai dengan sumber-sumber yang ada dengan menggunakan pemikiran dan emosi penulis yang mengacu pada interpretasi sejarah.

(25)

BAB II

GAMBARAN UMUM MASYARAKAT BAYUR 2.1 NAGARI BAYUR

Nagari Bayur merupakan satu wilayah yang berada di kawasan salingka (selingkar) Danau Maninjau Kabupaten Agam Kecamatan Tanjung Raya Provinsi Sumatera Barat. Wilayah ini memiliki luas ± 4.528, 6 Ha, yang membentang dari utara sampai selatan lingkar Danau Maninjau, dan sampai daerah perbukitan Dalko14.

Bayur memiliki 10 jorong ( dusun ) dengan masing-masing luas wilayahnya sebagai berikut; Kampung jambu (±602,7 Ha); Sungai Rangeh (± 613, 4 Ha) ; Panji (

± 360,8 Ha); Jalan Batuang (431, 6 Ha) ; Sawah Rang Salayan ( ±624,7 Ha) ; Kapalo Koto ( ± 462, 4 Ha) Pincuran Tujuah ( ±522,5 Ha) ; Lubuak Kandang ( ±257,4 Ha) ; Lubuak Anyia (± 283,6 Ha) ; Banda Tangah ( ± 351,5 Ha).15

Dari sisi geografisnya Nagari Bayua memiliki 500-1000 meter dari permukaan laut dengan keadaan suhu rata-rata 35o C. Bayur juga memiliki relief alam perbukitan dan pantai yang membentang sepanjang tepian Danau Maninjau sampai areal perbukitan iklim subtropisnya. Wilayah ini juga memiliki hutan heterogen dengan berbagai jenis tanaman yang hidup didalamnya, selain itu Bayur juga memiliki 2 musim yang menemaninya yaitu musim hujan dan musim panas.

______________

14 Perbukitan Dalko meliputi wilayah Dama Gadang, Arikir, Lubuak Sao, Koto Panjang. Lihat http://lubasz.blogspot.co.id/2014/03/nagari-tanjung-sani.html?m=1, diakses pada hari minggu 22 januari 2017 pukul 20.41 WIB.

15 Profil Nagari, Bayur : Bagian Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Nagari, 2015.

(26)

Bayur memiliki batas-batas wilayah yang diantaranya adalah sebelah Utara berbatasan dengan Nagari II Koto; sebelah Selatan berbatasan dengan Gasang Nagari Maninjau; kemudian sebelah Barat berbatasan dengan Danau Maninjau/Nagari Tanjung Sani; dan sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Palembayan dan Kecamatan Matua (Matur).16

Awalnya wilayah ini masih berbentuk hutan belukar, namun abad ke 17 berdatanglah orang-orang yang ada hubungannyya dengan Pagaruyung, mereka mendirikan taratak (teratak) yang kemudian menjadi dusun sampai akhirnya menjadi sebuah kampuang (kampung). Artinya sebelum menjadi Nagari, wilayah Bayur masih berbentuk taratak.17, kemudian berlanjut menjadi sebuah dusun18, lalu berkembang menjadi koto19 dan terakhir berkembang lagi menjadi sebuah Nagari.20

Wilayah ini terletak didaerah yng cukup strategis dan mudah di jangkau melalui perhubungan darat dan air. Secara umum Bayur sendiri tidak hanya di huni oleh orang-orang Bayur sendiri, namun juga orang-orang yang bukan berasal ______________

16 Ibid.

17 Taratak (teratak) adalah tempat awal nenek moyang Minangkabau menetap

18 Dusun artinya tersusun. Masyarakatnya yang mulai berkembang, namun dengan adanya adat, kehidupan masyarakatnya mulai tersusun aturannya.

19 Setelah dusun berkembang, karena bertambahnya populasi masyarakat, maka timbullah pemikiran untuk meningkatkan adat aturan masing-masing dusun, berbagai pemikiran kelompok dapat satu kato berarti satu mufakat, daerah ini dinamakan sakato( sekata), kemudian berdirilah beberapa koto.

20 Nagari berasal dari kata pagar berarti daerah yang terdiri dari beberapa koto, kemudian di beri batas atau di pagari karena tiap-tiap Nagari memiliki aturan adat sendiri.

(27)

dari Bayur, bahkan orang-orang yang bukan berasal dari Minangkabau juga ikut mendiami wilayah tersebut.

2.2 TRADISI MERANTAU ORANG-ORANG MINANGKABAU

Merantau merupakan kegiatan yang umumnya dilakukan oleh kebanyakan kaum muda laki-laki di Minangkabau. Hal ini telah menjadi bagian dari kebudayaan yang harus diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi, sehingga akar budaya itu akan selalu melekat dan terpatri dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Orang tua yang menetap dikampung pada umumnya selalu mengajarkan anak- anaknya terutama laki-laki yang telah beranjak dewasa untuk dapat hidup mandiri.

Mereka mulai dibiasakan untuk tidak lagi tinggal di rumah yang di dalamnya ada saudara perempuannya. Dengan demikian hanya ada 2 pilihan yang harus mereka tempuh yakni tinggal di surau atau pergi merantau.

Surau dalam masyarakat minangkabau bukan hanya sebagai tempat ibadah, melainkan tempat menggembleng40 para generasi muda menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri. Di lingkungan masyarakat, anak-anak laki-laki akan malu jika terus hidup di bawah bantuan orang tuanya. Mereka akan dipandang rendah oleh masyarakat sekitarnya, sehingga untuk dapat memenuhi kebutuhan dia akan pergi merantau. Tidak ada rasa khawatir bagi orangtua yang ditinggal oleh anak laki ______________

40 Tempat Menggambleng artinya tempat mengumpul dan mencetak pemuda tangguh.

(28)

lakinya merantau. Mereka percaya dengan misi anak-anak mereka bahwa kelak akan kembali ke kampung halamannya untuk memperbesar dan memperbanyak harta benda kaumnya.

Akan tetapi ada juga diantara mereka tetap tinggal bersama orang tuanya, namun dia akan mengurusi semua urusan rumah, saudara perempuan dan sawah atau ladang milik orang tuanya, disebabkan orang tuanya sudah tidak sanggup untuk bekerja lagi.

Maka mereka yang tetap menetap di kampung masih memiliki harga diri, karena masih memikul semua beban dan tanggung jawab dari orang tuanya.

Kehadiran mereka di kampung sangat diperlukan oleh orang tuanya, sehingga mereka tidak diharuskan untuk pergi merantau ke luar wilayah.

Saat mereka akan menikah barulah mereka akan diberi kebebasan untuk tetap tinggal di kampung halamannya atau pergi merantau bersama istrinya. Jadi sebenarnya tradisi merantau akan tetap berjalan meski waktunya berbeda. Ada yang ketika masih anak-anak sudah diajak oleh ayahnya merantau, ada yang sudah dewasa baru mau ikut teman atau saudaranya tinggal di kota, dan bahkan ada pula yang setelah menikah dia meninggalkan kampung halamannya, untuk mencari kehiudpan ekonomi yang lebih baik.

Di samping faktor budaya, maka faktor lain yang mempengaruhi orang-orang Minang untuk dapat keluar dari kampung halamannya atau bermigrasi ke luar wilayah, khususnya kota Medan diantaranya adalah

a. Faktor Ekonomi

(29)

Faktor ekonomi menjadi suatu kebutuhan pokok yang harus di penuhi oleh setiap individu, karena di dalamnya terdapat berbagai jenis kebutuhan sandang, pangan dan papan. Hal inilah yang membuat masyarakat Minangkabau merantau khususnya ke kota Medan. Meskipun mereka yang tinggal di kampung halaman memiliki sawah yang cukup untuk kelangsungan hidup, namun kaum muda tetap di dorong untuk pergi merantau. Dengan demikian ia akan memiliki penghasilan sendiri untuk dapat menghidupi keluarga setelah berumah tangga. Dorongan ini semakin kuat saat sawah sudah tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan hidup.

b. Faktor Pendidikan

Pada abad ke 19 motif merantau orang Minangkabau tidak saja untuk mencari kekayaan, namun juga untuk menuntut ilmu. Maka dengan adanya budaya merantau mereka akan mengetahui betapa sempitnya alam yang mereka pijak, sehingga motif merantau untuk menuntut ilmu menjadi lebih tinggi.21

Pendidikan menjadi faktor penting bagi orang Minangkabau untuk dapat meninggalkan kampung halamannya. Pengalaman selama mereka merantau, baik diluar wilayah ataupun diluar negeri memberikan kesadaran mereka untuk memperbaiki keadaan di “ Alam Minangkabau”. Alasan pendidikan umumnya selalu terbatas kepada anak-anak yang memiliki kehidupan ekonomi yang mapan. Hal inilah yang mendorong orang-orang Bayur segera menempuh pendidikan yang lebih baik.

______________

21 Mardjani Martanin, Ishaq Taher, Amir B, Mahyuddin, Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Sumatera Barat, Jakarta ; Departemen Pendidikan danKebudayaan, 1982, hlm 50.

(30)

Meski mereka harus pergi meninggalkan kampung halamannya, mereka lakukan agar dapat setara kehidupannya dengan mereka yang memiliki kekayaan.22

Cerita-cerita tentang kemajuan dan keberhasilan yang terdengar dengan pencapaian pendidikan oleh para pelajar dirantau mendorong para pemuda untuk mengikuti jejak langkah itu. Para lulusan yang masih muda ini biasanya tidak kembali pulang tetapi sebaliknya menetap di rantau.

Konsep merantau adalah mencari ilmu dan pengalaman untuk mempersiapkan diri agar dapat hidup berguna dikampung nanti sesudah kembali dari rantau. Faktor ini yang mendorong banyak dari orang menempuh pendidikan di luar kampung halaman, diantaranya yang berhasil menempuh pendidikannya dan sukses di berbagai bidang yaitu ;

1. Prof dr H. Ramsi Lutan Sp. THT sebagai Datuk Batuah

2. Prof Dr. H. Usman Pelly, M.A sebagai Ketua Umum Yayasan UISU 3. Prof Dr. H Delfi Lutan sebagai Guru Besar USU

4. Prof dr. H. Rozaimah Zein sebagai Guru Besar USU 5. Prof Dr. Hj. Yurmain, M.A

6. Drs. H. Yuris Danilwan, M.si, PHd sebagai Direktur Akademi Maritim Indonesia 7. Drs. H. Rosihan Arbi, Hendra Arbi, Hj Rahmawaty Arbi sebagai Pemilik ,

Pengusaha RS Permata Bunda, Garuda Plaza Hotel, Garuda Citra Hotel, Percetakan, Penerbit Madju dan Pesantren Al Mukhlisin

8. Drs. H. Sofyan Raz/ Hj Etty sebagai Pemilik dan Ketua Yayasan Perguruan Internasional Ashafiyatul Amaliyah

9. Drs. H. Erwan Arbi sebagai Pemilik dan Pengusahan Hotel Chery Grouv 10. Dra. H. Meilizar Latif, M.M sebagai Anggota DPRD Sumut

11. H. Ahmad Arif, SE, MM sebagai Ketua F PAN DPRD kota Medan 12. Ir. H. Ahamas Parlindungan sebagai Ketua F. PPP

13. AKBP Suryadi Bahar, SH, M.Hum sebagai Mantan Kapolres Pak-Pak (POLRI).

(lihat lampiran).

______________

22 Ibid.,hlm. 23.

(31)

Mereka memilih sekolah dirantau karena kualitas dan fasilitas pendidikan dianggap lengkap sehingga menjadi pendorong semangat untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya.Berkat kegigihannya mereka berhasil menjadi orang-orang sukses

di wilayah perantau. Dengan kesuksesan yang mereka miliki menjadi pendukung bagi kemajuan wilayah perantauan khususnya Medan.

c. Faktor Sosial

Minangkabau merupakan suatu kelompok masyarakat yang menganut matrilineal, yaitu seluruh kehidupan sosial diatur oleh adat istiadat dan kebiasaan menurut ketentuan matrilineal.23 Dalam hal ini keberadaan perempuan menjadi sangat di hormati, sehingga kedudukan laki-laki tidak memiliki ruang yang bebas. Artinya ia tidak memiliki kekuasaan yang kuat di rumah istrinya dan juga di rumah ibunya sendiri.

Kedudukan laki-laki Minangkabau yang tidak kokoh, bukan berarti mereka meninggalkan tanggungjawabnya begitu saja, namun ia memiliki peran ganda di kampung halamannya, tidak hanya sebagai bapak untuk anaknya namun juga sebagai mamak.24 Mamak bertanggung jawab atas kehidupan kemenakannya dan juga ______________

23 Matrilineal adalah sistem yang menarik garis keturunan ibu, hal ini sangat tampak pada pengambilan gelar ataupun pembagian harta. Baca Salmi Saleh, Adat Minangkabau Menjawab Tantangan Zaman. Medan : LAHP, 2002, hlm. 3.

24 Mamak adalah Pembimbing atau pengarah dari pada kemenakan dan saudara perempuannya, lihat Auda Murad, Merantau : Out Migration In A Matrilineal Society Of West Sumatra, Australia : Australian National University, 1980, hlm. 13.

(32)

tanggung jawab terhadap anak-anaknya.

Untuk Laki-laki yang belum berumah tangga, walaupun dia merupakan keluarga tetapi tidak dapat mengerjakan sawah milik keluarganya kecuali atas izin dari saudara perempuannya, sehingga laki-laki tidak merasa terlalu diikat dengan tanah dan tanah pun tidak mengikatnya untuk tetap tinggal di kampung.25 Akibat sistem ini membuat para kaum muda laki-laki menilai rendah terhadap kehidupan di sawah, sehingga membuat mereka lebih memilih pekerjaan yang bernilai tinggi seperti berdagang.

Pilihan ini yang akhirnya membuat mereka tetap tinggal di wilayah rantau, karena apabila mereka mampu hidup sukses mereka akan banyak mendapat pujian saat mereka kembali ke kampung halamannya. Dorongan kaum muda laki-laki untuk merantau sudah dilakukan sejak mereka berusia muda, seperti pantun yang tertuang

“Karantau madang di hulu, Babuah babungo alun, Marantau bujang dahulu, Dikampung baguno balun”.

Dalam pantun tersebut dijelaskan bahwa adanya kewajiban bagi seorang lali- laki muda Minang untuk merantau, sehingga semenjak kecil mereka mulai dibiasakan tidur di surau dan belajar mempersiapkan diri agar di kemudian hari mereka akan ______________

25Harta pusaka terbagi kedalam 2 bentuk yakni harta pusaka tinggi dan harta pusaka rendah.

Harta pusaka tinggi adalah harta yang diwariskan secara turun temurun dari Inyiak (ibu) turun ke mamak dan dari mamak turun ke kemenakan, tetapi seorang mamak tidak bisa membawa harta tersebut ke rumah istrinya karena dia milik kemenakan perempuan.Baca Salmi Saleh, op.cit., hlm. 62.

26 Usman Pelly, op.cit., hlm. 29.

(33)

mudah menghadapi kehidupan yang sulit. Hal tersebut membuat laki-laki Minang merasa terombang ambing dan akhirnya memutuskan untuk pergi merantau.26

d. Faktor keresahan politik/ Keamanan

Peristiwa PRRI yang terjadi di Sumatera Barat pada tahun 1958 mengakibatkan mereka yang semula ikut memberontak, namun karena tekanan dan penderitaan dialami mereka selama berada di kekampung halaman sampai akhirnya sebagian dari mereka ada yang memutuskan untuk pergi merantau, sehingga pada periode PRRI dianggap sebagai kulminasi arus merantau, dan terus berlanjut hingga tahun 60-an.28 . Faktor ekonomi dan pendidikan menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap tradisi merantau orang-orang Minangkabau sampai saat ini. Mereka yang di kampung akan berlomba-lomba untuk mendapatkan status dimasyarakat.

2.3 KEDATANGAN PERANTAU BAYUR DI KOTA MEDAN

Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa kedatangan orang-orang Bayur di kota Medan, secara umum dilatarbelakangi oleh tradisi dalam adat dan budaya orang-orang Minangkabau. Setelah Indonesia merdeka, sebagian dari orang- orang Bayur sebenarnya sudah ada yang mulai meninggalkan kampung halamannya.

Para perantau mulai bergerak dan bermigrasi ke wilayah-wilayah yang menjanjikan kehidupan mereka. Mereka berangkat ke kota tujuan secara bersama- sama dengan sembunyi kemudian berjalan kaki menyusuri hutan-hutan. Oleh ______________

27 Metha Dwi Utami, op.cit., hlm. 22.

28 Mochtar Naim, op.cit., hlm. 101.

(34)

karenanya tidak heran jika mereka sampai ke wilayah tujuan memakan waktu yang lama ada yang sampai satu bulan atau bahkan ada yang berbulan-bulan. 29 Tidak ditemukan tahun yang tepat orang-orang Bayur mulai mendiami kota Medan, namun kebanyakan para perantau Minang khususnya orang-orang Bayur memilih wilayah tujuan adalah Kota Medan. Disamping karena jaraknya juga tidak terlalu jauh tetapi juga Kota Medan sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik dalam bidang transportasi, komunikasi dan juga pembangunan jalan. Perkembangan ini yang pada hakikatnya sangat mendukung keinginan orang-orang Bayur untuk dapat mengadu nasib di negeri tetangga, apalagi didukung oleh arus mobilitas perantauan saat itu sangat tinggi.30

Medan saat itu merupakan bagian dari sentra kegiatan pembangunan ekonomi, karena pada dasarnya yang dituju oleh para perantau bukanlah desa, melainkan kota.

Hal ini menjadi daya tarik untuk dapat mengembangkan dunia perdagangan, jasa, dunia urban dan sektor modern lainnya. Sebenarnya tujuan mereka mencari wilayah perkotaan adalah untuk menghindarkan aktivitas pertanian, seperti ladang dan sawah.31

Keadaan tersebut membuka peluang bagi orang-orang Bayur dalam memulai kehidupan dan usahanya di Kota Medan. Setelah berada di kota Medan, mereka ______________

29 Wawancara, dengan H. Sjofyan, Dt Radjo Mangkuto, di Balairong, pada 27 April 2016, pukul 11.00 WIB.

30 Ibid.

31 Mochtar Naim, op.cit., hlm. 337.

(35)

kemudian mulai mencari cara untuk dapat mempertahankan kehidupannya. Apalagi sebagian dari mereka ada yang tidak memiliki ijazah, dan sebagian dari mereka lagi ada yang memiliki ijazah. Mereka yang tidak memiliki ijazah kemudian membuka usaha sendiri dengan cara meminjam modal baik kepada sanak saudaranya, maupun kepada teman-temannya.

Adapula mereka yang memiliki ijazah, segera melanjutkan pendidikannya, sehingga saat mereka keluar dari kampung halamannya menjadi kesempatan emas untuk menimba ilmu lebih tinggi lagi. Mereka menyebar ke berbagai wilayah untuk melanjutkan studinya, seperti ke Jakarta.32

Umumnya orang-orang Bayur yang datang ke kota Medan, bukanlah dari orang-orang kaya, tetapi dari orang yang susah. Mereka merantau tidaklah membawa harta apapun dari orang tuanya, sehingga di Medan mereka memulai kehidupan dari nol. Bahwa karena misi yang mereka percayai, orang-orang Minang harus menjadi orang yang sukses dan terpelajar, sehingga mereka tidak hanya dapat membantu kehidupan keluarganya, namun juga kehidupan kampung halamannya. Orang-orang Minangkabau ketika kembali dari rantau harus membawa sesuatu untuk kampung halaman, baik dalam hal harta atau pengetahuan. Hal ini dikarenakan bagian dari simbol keberhasilan mereka.

Mereka akan malu pulang ke kampung halamannnya jika mereka tidak membawa sesuatu untuk dipamerkan di kampung halaman. Ketika berada di ______________

32 Ibid.

(36)

perantauan mereka akan bekerja keras agar mereka berhasil. Pilihannya hanya ada 2 yakni jika berhasil ia akan dapat pulang, jika gagal ia akan selamanya berada di perantauan.

2.4 KEHIDUPAN MASYARAKAT PERANTAU MINANG ASAL BAYUR DI MEDAN

Suku Minangkabau merupakan suatu kelompok etnik yang telah menyebarluas keseluruh pantai Sumatera Timur terutama setelah adanya perkebunan- perkebunan.33 Mereka merupakan salah satu dari banyak etnik yang memiliki nilai, tradisi dan kebudayaan yang berbeda dengan etnik lain dalam menjalankan kehidupan.

Hal ini memberikan peluang lebih bagi masyarakat Minangkabau untuk mengenalkan identitas dirinya kepada etnik lain. Masyarakat Minangkabau yang meninggalkan kampung halamannya adalah bagian dari proses hijrah untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Kebanyakan anak muda yang pergi merantau tanpa bekal yang memadai, namun mereka mampu untuk dapat bertahan dan berdaptasi dengan cepat. Mereka yang merantau juga mampu melakukan penyesuaian diri dengan sangat baik, sehingga mereka dapat mengetahui keadaan daerah yang dikunjungi.

Inilah yang menjadi jembatan masyarakat Minangkabau untuk dapat menjalankan misinya. Banyak falsafah hidup yang menjadi acuan orang-orang

____________

33 Ibid., hlm. 181.

(37)

Minangkabau di perantauan34, sehingga pada akhirnya mereka sangat sukses di perantauan. Diantara falsafah Minangkabau itu adalah; 35

1. Dima bumi dipijak disinan langit dijunjung(Dimana bumi dipijak disitu langit di junjung ).

Falsafah ini memberikan kesan bahwa orang-orang Minang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Mereka yang menyesuaikan produk dan dagangannya dengan keadaaan dan permintaan pembeli.

2. Takuruang nak dilua, tahimpik nak diateh ( terkurung mau keluar, terhimpit mau keatas ).

Kalimat ini memberikan arti bahwa masyarakat Minangkabau meskipun dalam situasi sulit, mereka harus mampu mengubah situasi sulit menjadi peluang.

Maka tidak heran bila banyak orang-orang Minangkabau yang mampu betahan dan sukses di perantauan.

3. Alam takambang jadi guru(alam terkembang jadi guru).

Ini bermakna bahwa salah satu sumber kehidupen manusia adalah fenomena alam semesta, sehingga pada ahakikatnya bahwa alam semesta adalah bersifat dinamis yakni cenderung selalu mengalami perubahan.

_____________

34 Usman Pelly, op.cit., hlm. 83.

35 http://www.beringaz.com/2015/02/inilah-6-rahasia-mengapa-orang-minang-selalu-sukses- dirantau.html?m=1, diakses pada tanggal 29 desember 2016, pukul 10.52.

(38)

4. Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah(adat bersendikan syariat, syariat bersendikan kitabullah ).

Masyarakat minangkabau sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama yang telah diajarkan oleh orangtuanya sedari kecil. Mereka sangat mempercayai bahwa adat dan agama sangat berperan besar dalam keberhasilan hidup. Pada hakikatnya setiap perbuatan selalu berpegang teguh pada ajaran al-quran dan hadist, sehingga akan membawa mereka selalu kepada kesuksesan dunia dan akhirat.

5. Baraja ka nan manang, mencontoh ka nan sudah(belajar dari yang menang, mencontoh dari yang terdahulu)

Sebuah nasihat yang ditanamkan orangtua kepada anak-anaknya bahwa untuk belajar kepada mereka yang telah memiliki pengalaman lebih. Mereka yang telah memiliki banyak pengalaman tentu telah banyak merasakan asam garam kehidupan., sehingga nantinya tidak terjebak dua kali dikesalahan yang sama.

Dalam melakukan proses hijrah, orang-orang Minangkabau dari Sumatera Barat banyak melakukan perjalanan panjang untuk dapat sampai di kota Medan.

Mereka kemudian mencari tempat tinggal untuk dapat didiami sementara waktu. Ada yang tinggal bersama kerabatnya dan ada pula yang mencari pemukiman baru yang tujuannya untuk dapat memudahkan mereka dalam mempertahankan dan memelihara hubungan-hubungan dan kegiatan sosial tradisional dari kampung halaman.

Bahwa proses migrasi yang dilakukan orang Minangkabau adalah bagian dari sebuah dorongan oleh keinginan kuat untuk mendapatkan kehidupan lebih baik.

Untuk itu masyarakat minangkabau mulai mencari tempat tinggal yang dapat dihuni

(39)

sementara waktu, dan bahkan ada pula yang membentuk sebuah pemukiman baru bagi perantau. Pemukiman ini tentu dapat memelihara hubungan-hubungan dan kegiatan tradisional kelompok etnik dari kampung halaman.

Banyaknya masyarakat Minangkabau yang melakukan migrasi ke kota Medan, membuka banyak peluang baik dalam hal meningkatkan kesejahteraan penduduk yang bermigrasi dan setempat. Meskipun pada awal merantau orang-orang Minangkabau menyiapkan bekal dengan seadanya, dan bahkan tanpa memiliki rumah ataupun modal yang banyak, namun mampu untuk tetap bertahan dan sukses ditanah perantauan.

Berbagai kehidupan sulit yang dijalankan masyarakat Minangkabau selama berada di perantauan, tetapi mereka mampu untuk bangkit dan pantang menyerah.

Sebelum mereka memiliki modal atau usaha sendiri. Pada umumnya mereka yang tinggal bersama kerabatnya akan mulai bekerja ditempat kerabat tersebut.

Kemudian setelah mereka berhasil dan memiliki modal yang cukup baru mereka berusaha untuk membangun usaha sendiri atau lebih tepatnya hidup mandiri.

Pada dasarnya banyak tanggungjawab yang harus mereka pikul, mengingat kampung halaman sudah menjadi tanggung jawab juga. Mereka yang merantau harus dapat mengirimkan sebagian dari hasil usahanya ke kampung halamannya untuk dapat di pergunakan membiayai kehidupan keluarga dan sanak saudararanya.

Pada dasarnya baru di akui dan dianggap sebagai anak minang jika seseorang mampu melaksanakan adat dan tradisi di Nagari Minangkabau36. Semakin banyaknya masyarakat dari berbagai etnik yang melakukan perdagangan di kota Medan, semakin

(40)

meningkat pula aktivitas perekonomian dan perdagangan di kota tersebut. Hal ini membuat keadaan di kota Medan menjadi tambah ramai dan semakin di minati terutama oleh masyarakat perantau Minangkabau yang berasal dari Bayur.

Untuk masyarakat Minangkabau sendiri itu terdiri dari beragam kelompok etnik lainnya yang diantaranya adalah Bayur. Pada umumnya prinsip hidup orang Bayur sama halnya dengan kelompok Minang lainnya. Memiliki prinsip yang sangat berpegang teguh dengan adat dan agama. Mereka hidup merantau di kota Medan pada awalnya dulu dikarenakan adanya; tekanan penjajahan; pemberontakan; dan keterpaksaan, karena tidak tahan dengan gotong royong. Namun, sekitar tahun 70-an mereka yang pergi merantau karena untuk mengubah nasib dan menghindarkan diri dari pekerjaan bertani.

a. Kehidupan Sosial

Perkembangan kehidupan masyarakat Minangkabau di kota Medan, yang tumbuh karena adanya proses migrasi yang secara terus menerus dilakukan. Maka di dalam kelompok Minangkabau terbentuk suatu kelompok komunitas yang berkembang di daerah perantauan. Kebiasaan hidup yang selalu di terapkan di

kampung halaman, membuat mereka yanng merantau untuk menerapkan pula kebiasaan hidup tersebut di wilayah perantauan.

Segala bentuk aktivitas manusia dalam bermasyarakat harus mengandung nilai-nilai adat yang dilahirkan oleh masyarakat melalui niniak mamak, urang tuo- ______________

36 Hamka, Merantau Ke Deli, Jakarta; Bulan Bintang, 1977, hlm. 141.

(41)

tuo,37 dan cadiak pandai serta alim jo ulama.38 Pada hakikatnya aturan tersebut bersifat mengikat, harus ditaati, dan jika melakukan pelanggaran akan mendapatkan sanksi keras pelakunya memang tidak di hukum secara fisik, namun secara batin.

Mereka dengan sendirinya kan merasa tersisihkan didalam pergaulan dan tidak akan diikutsertakan lagi dalam perundingan. Seperti yang digambarkan dalam pantun

Dima lah padi indak ka rimbo (Dimana padi tidak rimbun) Padi basasok jo hilalang (Padi bersesak dengan ilalang) Dima lah hati indak ka ibo (Dimana hati tidak iba)

Badan disisiah samo gadang (Badan disisih sama yang besar)

Hukum yang tercipta di dalam adat Minangkabau menjadi pengikat hubungan antara gejala sosial masyarakat dengan kelompok yang tumbuh di masyarakat karena didasarkan pada moralitas yang tinggi. Moral ini sengaja bermoral dan mandiri.

Tujuan adat Minang pada umunya adalah untuk dapat membentuk individu yang berbudi luhur, manusia yang berbudaya dan manusia yang beradab.

Adapun orang-orang besar yang hidupnya dulu di surau adalah: Mohammad Natsir, H. Agus Salim, Dr. Karim Amarullah, H. Abdul Malik Karim Amarullah, Mohammad hatta. Mereka inilah yang mendapat gamblengan sebelum pergi Adat dan tradisi dalam masyarakat telah mampu membangun sikap dan mental masyarakat, yang di penuhi dengan rasa malu untuk melakukan kesalahan terutama dalam bentuk

______________

37 Urang tuo-tuo maksudnya adalah orang yang dituakan di kampung, mereka juga berperan sebagai pengawas dan pemantau keadaan anak muda, jadi mereka disini tidak hanya orangtua saja, namun bia nenek/kakek, bisa yang memiliki pertalian darah/ suku.

38 Salmi Saleh, op.cit., hlm. 22.

(42)

kejahatan, kerena secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap nama baik keluarga.

Adat mengatur segala aspek kehidupan orang Minang dan merupakan bagian dari susunan peraturan hidup. Orang-orang Minangkabau sangat berhati-hati dalam melakukan semua aktivitas sosial atau yang berhubungan dengan masyarakat, meski sesulit apapun kehidupan yang ada di rantau, biarlah mereka hidup susah, namun memiliki nilai moral yang sangat tinggi.

Pada dasarnya orang-orang Minangkabau memiliki beragam kelompok daerah yang termasuk salah satunya adalah Bayur. Kehidupan antara orang Bayur dengan seluruh kelompok Minang semuanya adalah sama. Mereka sama-sama memiliki aturan yang telah diatur dalam adat Minangkabau itu sendiri, dan juga sama-sama memiliki misi dan kebiasaan yang sama pula.

Mereka umumnya manusia secara alami tidak mungkin dapat hidup dengan sendirinya, sehingga akan membutuhkan orang lain untuk dapat hidup dan tinggal mengembangkan kehidupannya, baik di kampung maupun di perantauan42. Jika orang-orang Bayur yang di Medan sangat kental dengan tradisi dan budayanya, namun tetap tidak melupakan keadaan disekitarnya. Mereka tetap berinteraksi dengan masyarakat yang ada dilingkungannya.

_______________

41 Usman Pelly, op.cit., hlm. 28.

(43)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, para perantau Bayur sangat pandai dalam menyesuaikan diri dilingkungannya. Salah satunya adalah Edimas, beliau merupakan salah seorang perantau yang berasal dari Bayur. Kediamannya berada di Deli Tua yang pada umunya dihuni oleh masyarakat Karo. Ia tinggal disana sudah hampir 27 tahun dan hampir tidak di temukan konflik yang ada didaerah tersebut.43

Di dalam berinteraksi dengan masyarakat lain ia menggunakan bahasa indonesia namun disisi lain saat dia berkumpul dengan kawanan sekampungnya dia tetap memakai dan mempertahankan bahasa dan juga budayanya.

Di samping menjaga nila-nilai kemasyarakatannya, Edimas juga sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budayanya. Di kota Medan ia juga mendirikan kesenian Minang, sehingga memudahkan bagi anak-anak Minang perantauan untuk tetap mengembangkan bakat dan kebudayaan di wilayah perantauan. Selain itu ia juga berharap meskipun ia harus berbaur dengan lingkungan sekitarnya, namun ia juga tetap mempertahankan kebudayaan yang menjadi ciri khas mereka.

Oleh karenanya, masyarakat Bayur sangat memahami dan berhati-hati dalam berinteraksi dan bergaul dengan masyarakat. Sesuai dengan petatah dan petitih orang Minang;

Kok manyauak di hilie hilie ( kalau menimba air di hilr-hilir ) Kok mangecek dibawah-bawah ( kalau bicara bersahaja )

Tibo dikandang kambiang mangambek (Tiba di kandang kambing mengembek) ______________

42 Amir MS, Adat Minangkabau:Pola dan tujuan hidup orang Minang, Jakarta Pusat: PT Mutiara Sumber Widya, 1999, hlm. 98.

43 Wawancara dengan Edimas, di Deli Tua, pada hari kamis, 26 Desember 2016, pukul 15.00 Wib.

(44)

Tibo dikandang kabau manguak ( Tiba dikandang kerbau menguak) Dimano langik di junjuang ( Dimana langit di junjung)

Di sinan bumi dipijak (Di sana bumi di pijak ) Di situ rantiang di patahkan (Disitu ranting di patah)

Petatah dan petitih inilah yang mengajarkan bahwa jika hidup didalam lingkungan yang minoritas harus tahu diri dan menempatkan diri. Dari petatah tidak jarang banyak orang Minang menjadi Imam Mesjid, Ketua Ormas dan pemuka

masyarakat.

Interaksi dan komunikasi yang terjalin antara sesama orang Bayur dan diluar Minang sangatlah baik, selain mereka mengikuti kegiatan yang ada dalam satu ikatan tersebut yakni IKB tetapi mereka juga mengikuti kegiatan dan aktivitas yang ada di lingkungannya seperti STM dan juga perwiritan. Mereka tetap berpartisipasi didalamnya. Karena bagaimana pun kondisi daerahnya orang Bayur harus mampu beradaptasi dan turut serta didalamnya.

Tidaklah heran banyak orang Bayur disamping menguasai bahasa Minangnya namun juga menguasai bahasa etnik lain, karena semangatnya menguasai bahasa etnik lainnya hampir tidak dapat di tebak jika dia berasal dari Bayur. Beberapa sifat orang Minang yang membuatnya sukses dalam hal adaptasi dan penyesuaian diri di kota Medan diantaranya adalah ; Hidup berakal; Basa basi- malu jo sopan; Tenggang rasa; Setia;Adil; Waspada; Arif, bijaksana dan tanggap; Rajin; Rendah hati; Berani karena benar.45

______________

44 Amir MS, op.cit.,hlm. 108.

(45)

Hal ini lah yang membuat orang Bayur di perantauan sangat sukses dalam penyesuaian diri di perantauan khususnya kota Medan. Mereka tidak pernah memihak dan memisahkan diri dari etnis lain. Mereka justru memilih untuk menyebar di lingkungan semua etnis yang ada di kota Medan dan tidak menggabungkan diri dalam memilih tempat tinggal. Maka hampir dapat dipastikan orang-orang Bayur tidak memiliki pemukiman khusus Bayur.

Umumnya tidak memiliki kecendrungan untuk tinggal menumpuk sesama mereka, bila mereka lebih banyak di jumpai di daerah kelas rendah hal tersebut di karena kan situasi ekonomi, namun untuk masyarakat Bayur tidak memiliki pemukiman, misalnya khusus orang Bayur.46 Kemudian kerena kebiasaan dikampung yang mereka sehingga dapat terbentuklah organisasi IKB Medan.

Maka sekitar tahun 60-an, saat mahasiswa Bayur berkuliah di Medan mereka sama sekali tidak ada membentuk komunitas lagi selain IKB, mereka menyerahkan sepenuhnya kepada organisasi tersebut. Di awal merantau hubungan-hubungan yang terjalin masih sangat erat, terutama hubungan antara mamak dan kemenakan. Mamak menjadi pelindung dan pengayom bagi kemenakan yang tingga dan besar di perantauan dan kemenakan begitu pula masih kental dengan adat Minangkabaunya.

Hubungan mamak dan kemenakan yang baik menjadi tonggak keberhasilan orang Minang itu sendiri.

______________.

45 Ibid., hlm. 98.

(46)

Karena jika seorang mamak dia memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat berat, namun begitu pula dengan kemenakan dia juga memiliki kewajiban yang harus di penuhi agar dapat terpenuhi haknya. Mamak Edimas memiliki beberapa orang kemenakan, beliau tidak hanya bertanggung jawab dalam kesejahteraan anak dan istrinya saja tetapi juga kemenakannya, sehingga saat ini beliau tidak hanya menguliahkan anakanya saja namun juga menguliahkan keponakan atau kemenakannya.47

Namun menjelang tahun 90-an hubungan mamak dan kemenakan menjadi sangat renggang. Hal ini dikarenakan orangtua sudah tidak lagi mengenalkan dan mengajarkan tentang adat Minangkabau yang sebenarnya, orangtua sudah tidak agresif lagi mewariskan semua tradisi dan adat yang telah diajarkan oleh orangtuanya terdahulu.

Mereka lebih bersifat modern, sehingga saat berjumpa dan bersilaturrahmi dengan kawanan sekampungnya mereka tidak memperkenalkan siapa mamak dari anak tersebut. Bahkan orangtua juga tidak pernah lagi mengajak anak-anaknya bersilahturrahmi dengan dunsanak yang ada di perantauan, mereka lebih memilih menjalin hubungan sesama orang tua saja dan membiarkan anaknya dirumah. Dapat di pastikan bahwa generasi yang kelahirannya di tanah rantau kota Medan, sudah ______________

46 Mochtar Naim, op.cit., hlm 197.

47 Wawancara dengan Edimas, di Deli Tua, pada hari kamis, 26 Desember 2016, pukul 15.00 Wib.

(47)

benar-benar tidak lagi mengenalkan siapa mamak-mamaknya, sehingga saat berjumpa pun mereka sangat enggan untuk menyapa .

2. Kehidupan Ekonomi

Salah satu yang menjadi tujuan orang-orang Minang khususnya bayur merantau ke kota Medan adalah untuk mencari kehidupan yang lebih baik, kehidupan itu dapat berupa pekerjaan bagus dan ekonomi yang mapan. Pada dasarnya anak laki- laki Minang tidak Minang tidak memiliki hak atas apapun, baik rumah, sawah ataupun warisan lainnya, karena pada umumnya semua hak tersebut jatuh ke tangan saudara perempuannya, dikarenakan menurut adat tidaklah pantas laki-laki tinggal sepanjang hari di rumah istri ataupun ibunya.48

Selain dalam bentuk keterpaksaan, orang-orang Minang merantau ada memang karena keinginan sendiri, untuk dapat mengais ekonomi dengan tangan sendiri. Beragam cara yang mereka lakukan untuk dapat memperoleh ekonomi yang baik, diantara ada yang mengikut kerabat, sehingga mereka ikut bekerja dengan kerabatnya, sampai mereka mampu untuk hidup mandiri dan memiliki usaha sendiri.

Di awal merantau, Edimas memulai kehidupannya nol, dan dia mengusahkannya secara mandiri, tanpa bantuan dari orangtuanya. ia merantau pada tahun 1987, awal mula ia merantau adalah ke Padang. Kedua oranguanya masih tinggal dikampung, setelah tamat SMA dia mencoba untuk masuk ke AKABRI, namun kemudian dia juga mencoba lagi masuk AKABRI di Aceh, dan gagal.

Kemudian setelah itu dia berangkat ke Tapanuli dengan berjualan kain, arus merantaunya pun berubah ke Aceh kemudian berpindah lagi ke Tapanuli. Di sana

Referensi

Dokumen terkait

Pemahaman dan kebiasaan masyarakat terhadap budaya Islam jawa juga dapat dilihat di Desa Kandangsapi, Jenar, Sragen. Setelah melakukan penelitian pendahuluan di

bertugas di Polsek wilayah Polres Purbalingga yang berusia madya akan. banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang

JIMPMAT Vol.1, No.1, Agustus 2016 Berdasarkan latar belakang, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah melalui penerapan model discovery learning

Documented digital cultural heritage by using cloud computing technology, which is done by recording and processing large amounts of data and is stored in

Silahkan konsultasikan dengan guru anda apabila menemukan jawaban atau pembahasan yang kurang tepat pada latihan soal ujian nasional berikut... interaksi antara komponen biotic

Berdasarkan penelitian desain dan uji coba bahan ajar e-magazine dengan pendekatan Social Emotional Learning (SEL) menggunakan software kvisoft flipbook pada materi

Bahwa benar selama melakukan ketidakhadiran tanpa ijin dari Komandan/atasan yang berwenang Terdakwa pergi ke rumah kakaknya yang bernama Sdr Sudarmo di Karang

di dalam persil atau lahan bangunan cagar budaya dimungkinkan adanya bangunan tambahan yang menjadi suatu kesatuan yang utuh dengan bangunan utama, dengan