1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bencana kebakaran sudah sering terjadi di Indonesia, salah satunya yaitu kebakaran hutan dan lahan yang menjadikan Indonesia krisis lingkungan tahunan.
Sebagian besar kebakaran di Indonesia disebabkan oleh manusia. Data kementerian lingkungan hidup dan kehutanan menyatakan bahwa selama 3 tahun terakhir kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mengalami kenaikan. Data tersebut memaparkan kejadian kebakaran hutan dan lahan seluas 165.483,92 Ha pada tahun 2017, 529.266,64 Ha pada tahun 2018 dan 1.649.258,00 Ha pada tahun 2019 (KLHK, 2020) Kebakaran hampir terjadi setiap tahun dengan luas yang lebih luas pertahunnya. Dampak kebakaran ini perlu mendapat pengawasan yang lebih ketat, karena dampak kebakaran ini akan merugikan manusia, hewan, tumbuhan dan ekosistem lingkungannya.
Wilayah Indonesia hanya seluas 1,3% dari luas bumi, akan tetapi Indonesia memiliki tingkat keberagaman kehidupan yang sangat tinggi.
Tumbuhan di Indonesia diperkirakan berjumlah 25% dari spesies tumbuhan berbunga yang ada di dunia dan merupakan negara terbesar ketujuh dengan jumlah spesies mencapai 2.000 spesies, dengan persentase 40% merupakan tumbuhan endemik atau tumbuhan asli Indonesia (Kusmana & Hikmat, 2015)
Tingginya tingkat keanekaragaman hayati dikarenakan Indonesia merupakan negara yang tropis dengan tingkat curah hujan, suhu dan kelembaban yang tinggi. Menurut pendapat (Efendi, Hapsari, & Zilaikha, 2013) Indonesia memiliki keanekaragaman flora dan fauna dikarenakan letak geografisnya berada disekitar garis khatulistiwa serta diantara benua Asia dan benua Australia sehingga menimbulkan munculnya ciri dan karakteristik tertentu pada sumber daya yang berupa ekosistem hutan tropis. Menurut Nurhadi (2015) hutan tropis terletak di sepanjang khatulistiwa, yaitu terdapat di daerah dengan intensitas penyinaran yang tinggi, dengan amplitudo harian maupun tahunan yang kecil.
2
Secara umum Indonesia memiliki curah hujan yang tinggi, yaitu lebih dari 2000 mm per tahun. Curah hujan dan sinar matahari yang cukup membuat kelembaban udara yang tinggi yaitu 70-90%. Tanah yang subur, temperatur yang hangat, dan curah hujan yang tinggi mendukung keanekaragaman yang tinggi. Maka Indonesia memiliki hutan yang luas nomor dua di dunia setelah Brasil (Slamet, 2018). Oleh sebab itulah Indonesia mendapat julukan “Mega Biodiversity” yang berarti negara dengan tanah subur dan kaya akan sumber daya alam (Sulistyowati, Kendarini, & Respatijarti, 2014)
Kabupaten Malang terletak di bagian tengah Jawa Timur tepatnya berada di posisi 112 035’10090” sampai 112’57’00” Bujur Timur 7044’55011” sampai 8026’35045” Lintang Selatan. Dengan luas wilayahnya 3.530,35 km2 dan ketinggian berkisar 0-3.3636 mdpl. Iklim di Kabupaten Malang adalah tropis dengan kisaran suhu antara 230C-320C (“Badan Pusat statistik Kab. Malang,”
2016). Kabupaten Malang memiliki wilayah yang hampir semuanya dataran tinggi dan dikelilingi oleh beberapa gunung. Maka sebagian besar wilayah di kabupaten Malang merupakan kawasan hijau yang terdiri dari hutan, sawah, tegal, bukit, dan perkebunan (Andrean, 2019).
Kecamatan Poncokusumo merupakan salah satu kecamatan dari beberapa kecamatan yang berada di kabupaten Malang dan terletak di kaki gunung Semeru dengan luas wilayah 20.623 hektare dan berada pada wilayah ketinggian antara 1200-1700 mdpl. Jamun Spot Sunset Poncokusumo merupakan salah satu dari bagian contoh terkecil kelimpahan sumber daya alam dengan bentuk kawasan wisata pendakian dengan jalur yang relatif pendek. Selain menyimpan keindahan pegunungan yang khas dan menyejukkan, Jamun Spot Sunset Poncokusumo juga memiliki beragam macam tumbuhan yang ada di sekitar kawasan Jamun Spot Sunset Poncokusumo. Tempat ini masih alami dan menyimpan banyak tumbuhan serta bisa diteliti dan dijadikan sumber belajar terutama sebagai sumber belajar biologi.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 10 sebagai berikut:
3
اَهَو ْوَرَت ٍدَمَعِرْيَغِب ِتاَىَمَّسلا َقَلَخ
ىلص
ىَقْلَأَو َدْيِمَت ْنَأ َيِساَوَر ِضْرَ ْلْأ ىِف
اٍةَّبآَد ِّلُك ْهِم َاهْيِف َّثَبَو ْمُكِب ِّلُك ْهِم اَهْيِف اَىْتَبْوَؤَف ًءآَم ِءآَمَّسلأ َهِم َاىْلَسْوَأَو
ج{ ٍمْيِرَك ٍجْوَز ٠١
}
“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik” (Kemenag, 2013)
Menurut Jaiz selaku petugas dan pengelola wisata Jamun Spot Sunset Poncokusumo, Jamun Spot Sunset Poncokusumo merupakan tempat wisata millenial yang banyak diminati sebagai wisata pendakian dengan jalur yang relatif pendek dan mudah, terlebih bagi para wisatawan muda hingga usia menengah.
Wisata ini merupakan salah satu tempat wisata yang dibuka saat masa pandemi dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Selain untuk berwisata, Jamun Spot Sunset Poncokusumo juga bisa dijadikan sebagai tempat alternatif pembelajaran berbasis alam.
Bagi masyarakat sekitar Poncokusumo, Jamun Spot Sunset Poncokusumo ini merupakan tempat untuk mencari mata pencaharaian sebagai ladang untuk berkebun. Dari aktivitas berkebun masyarakat ini, sering terjadi kebakaran akibat pembuangan puntung rokok yang sembarangan maupun kebakaran pembukaan lahan baru. Menurut pendapat Jaiz selaku petugas setempat bahwa terakhir kali terjadi kebakaran yaitu pada bulan Desember 2019.
Dampak kebakaran tersebut dapat merusak tumbuhan bawah yang ada di sekitar kawasan wisata pendakian Jamun Spot Sunset. Kerusakan kawasan lingkungan terutama terjadi di daerah Poncokusumo, sebagai dampak aktivitas masyarakat yang dilakukan di sekitar Jamun Spot Sunset Poncokusumo. Akibat dari kebakaran ini dapat mempercepat laju air ke dalam tanah sehingga akan memperlemah daya rekat akar ke tanah. Akibat kebakaran tersebut akan berdampak pada punahnya spesies tumbuhan (Ardiani, 2012) Terutama yang rentan terhadap gangguan yang terjadi di kawasan Jamun Spot Sunset
4
Poncokusumo. Arifin (2019) menyatakan bahwa sepanjang tahun 2019 kebakaran hutan dan lahan melanda wilayah jalur pendakian Gunung Semeru. Kebakaran sudah mulai terjadi pada selasa 17 September 2019. Lokasi yang terbakar berada di sumber Mani-Arcopodo Kelik atau masuk Resort Senduro, kabupaten Malang.
Area yang terbakar berupa semak belukar, rerumputan dan anting-anting.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti kepada petugas Jamun Spot Sunset Poncokusumo, penelitian di tempat ini hanya pernah dilakukan sekali, dan penelitian itupun juga hanya berfokus pada ekonomi pendapatan pariwisata.
Sedangkan penelitian terkait tumbuhan belum pernah dilakukan. Bahkan pendataan tumbuhan yang ada di kawasan Jamun Spot Sunset Poncokusumo juga belum pernah dilakukan sama sekali. Sehingga memang perlu diadakannya pendataan tumbuhan khususnya tumbuhan herba yang ada di kawasan Jamun Spot Sunset Poncokusumo
Penelitian tentang tumbuhan herba, pernah dilakukan oleh Enisa Fitri (2018) dengan judul “Kekayaan Jenis Tumbuhan Herba di Kawasan Sumber Air Panas Ie Jue Seulawah Agam sebagai Penunjang Mata Kuliah Ekologi Tumbuhan” pada penelitian ini, lokasi penelitian ini berada di daerah Banda Aceh Pulau Sumatera. Selain itu, perbedaan pada penelitian ini yaitu, lokasi penelitian ini letaknya berada pada kawasan sumber air panas. Pada penelitian ini berhasil ditemukan sebanyak 34 spesies tumbuhan herba.
Penelitian hampir serupa juga pernah dilakukan di wilayah TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) namun berfokus pada lokasi TNBTS Blok Puyer, Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Dengan bahasan kasus dinamika tumbuhan bawah. Penelitian yang dilakukan oleh Evi Octaviany (2017) dengan judul Dinamika Tumbuhan Bawah di Hutan Hujan Tropis Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebagai Sumber Belajar Biologi berhasil menemukan 8 species dan 7 famili. Dari hasil penelitian tersebut dijadikan sebagai sumber belajar biologi berupa leaflet.
Melihat pentingnya penelitian mengenai identifikasi tumbuhan herba dan ditinjau dari perbedaan lokasi penelitian, serta perbedaan fokus bahasan penelitian
5
diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian terkait tumbuhan herba perlu dilakukan penelitian lanjutan, baik dari segi lokasi penelitian dan fokus bahasan yang akan dicapai. Sehingga penelitian terkait tumbuhan herba angisopermae di jalur pendakian Jamun Spot Sunset Poncokusumo perlu dilakukan.
Informasi dari penelitian ini dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan kawasan tersebut. Selain itu hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi tambahan sumber belajar biologi. Hasil yang didapatkan dalam penelitian berupa foto, klasifikasi serta keterangan ciri dari setiap tumbuhan herba yang berbeda dan informasi yang ada. Data dari proses identifikasi dapat digunakan sebagai sumber belajar Biologi SMA kelas X semester I pada materi Keanekaragaman Hayati.
Maka dari itu berdasarkan latar belakang diatas penulis membuat penelitian yang berjudul “Studi Kekayaan Jenis Tumbuhan Herba Angiospermae di Jalur Pendakian Jamun Spot Sunset Poncokusumo Sebagai Sumber Belajar Biologi”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa saja jenis dan manfaat dari tumbuhan herba angiospermae yang terdapat di jalur pendakian Jamun Spot Sunset Poncokusumo?
2. Bagaimana indeks kekayaan jenis tumbuhan herba angiospermae yang terdapat di jalur pendakian Jamun Spot Sunset Poncokusumo?
3. Bagaimanakah hasil penelitian tumbuhan herba angiospermae di jalur pendakian Jamun Spot Sunset Poncokusumo sebagai sumber belajar?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui macam-macam dan manfaat tumbuhan herba angisopermae yang terdapat di jalur pendakian Jamun Spot Sunset Poncokusumo
6
2. Mengetahui indeks kekayaan jenis tumbuhan herba angiospermae yang terdapat di jalur pendakian Jamun Spot Sunset Poncokusumo
3. Mengetahui hasil penelitian tumbuhan herba angiospermae di jalur Pendakian Jamun Spot Sunset Poncokusumo sebagai sumber belajar biologi
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Secara Teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan informasi tentang kekayaan jenis tumbuhan herba Angiospermae di jalur pendakian Jamun Spot Sunset Poncokusumo 1.4.2 Secara Praktis
a. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat menambah pengalaman dan informasi terkait kekayaan jenis tumbuhan herba Angisopermae di jalur pendakian Jamun Spot Sunset Poncokusumo
b. Bagi Masyarakat Sekitar
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wawasan masyarakat terkait tumbuhan herba Angiospermae di jalur pendakian Jamun Spot Sunset Poncokusumo dan memanfaatkannya sebagaimana semestinya.
d. Bagi Pembaca
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan meningkatkan motivasi dalam segala hal yang bisa dipetik dari penelitian ini dan dijadikan sumber informasi untuk penelitian selanjutnya.
1.5 Batasan Penelitian
7
1.5.1 Daerah penelitian difokuskan pada 20 lokasi yang tersebar sepanjang jalur pendakian di kiri dan kanan jalur, dari gapura pintu masuk hingga sebelum puncak.
1.5.2 Pengukuran penelitian ini meliputi faktor abiotik, identifikasi tumbuhan herba dan indeks kekayaan jenis tumbuhan herba yang ditemukan
1.6 Batasan Istilah
1.6.1 Kekayaan jenis adalah jumlah jenis dalam persatuan komunitas dan dihitung dengan indeks jenis.
1.6.2 Tumbuhan Herba merupakan tumbuhan dengan batang lunak karena tidak membentuk kayu. Tumbuhan semusim, dwimusim maupun tahunan.
1.6.3 Identifikasi adalah kegiatan mencari, menemukan, mengumpulkan, meneliti, mendaftarkan, mencatat data dan informasi dari kebutuhan lapangan.
1.6.4 Jamun Spot Sunset merupakan lokasi wisata pendakian yang terletak di lereng gunung Semeru dekat dengan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tepatnya berada di Kecamatan Ponckusumo Malang.