SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Matematika Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan
Oleh :
LUSI KURNIA NINGSIH NIM: 2412.107
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BUKITTINGGI
1438 H / 2017 M
ii
Nama : LUSI KURNIA NINGSIH
NIM : 2412.107
Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan : Pendidikan Matematika
JudulSkripsi : Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Melalui Strategi Genius Learning di Kelas VIII MTs. Adat Syara’
Matua Mudiak Tahun Pelajaran 2016/2017
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya dengan judul di atas adalah asli karya saya sendiri, demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Bukittinggi, Februari 2017 Saya yang menyatakan
(Lusi Kurnia Ningsih) NIM. 2412.107
judul “PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI GENIUS LEARNING DI KELAS VIII MTS. ADAT SYARA’ MATUA MUDIAK TAHUN PELAJARAN 2016/2017” telah diperiksa dan disetujui untuk di syahkan ke sidang munaqasyah.
Demikian persetujuan ini diberikan untuk dapat digunakan seperlunya.
v MOTTO
Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.Sesunggunya bersama kesulitan ada kemudahan ”
(QS. Al-Insyirah 94: 5-6)
Tidak ada kesuksesan yang bisa dicapai seperti membalikkan telapak tangan. Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, keuletan, kegigihan, dan kedisiplinan
(Chairul Tanjung)
“Tak kan ada kegagalan selama kita tidak menyerah, tak ada kata terlambat dalam hidup”
Jangan takut mencoba hal baru dalam hidupmu.
Jika kamu berhasil, kamu akan bahagia.
Jika tidak, kamu akan lebih bijaksana Hidupmu akan berubah lebih baik
jika kamu bersedia untuk mengubah dirimu terlebih dahulu.
Hanya orang baik yang akan mendapat yang terbaik.
Katanya , ....
Hidup memerlukan pengorbananan Pengorbanan memerlukan perjuangan
Perjuangan memerlukan ketabahan Ketabahan memerlukan keyakinan Keyakinan pula menentukan kejayaan Kejayaan pula akan menentukan kebahagiaan.
Dari ibu, kita belajar mengasihi Dari ayah kita belajar tanggungjawab
Dari teman kita belajar memahami Dari Allah kita belajar cinta kasih yang tulus
Perjuangan adalah awal dari kesuksesan Namun halangan dan rintangan kunci kesabaran
vi
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta). Di tambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (di
tuliskan) kalimat Allah, sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana”.
(Q.S. Al Luqman : 27) Yang Utama Dari Segalanya..
Sembah sujud serta syukur kepada Allah SWT. Taburan cinta dan kasih sayang-Mu telah memberikan ku kekuatan, membekali kudengan ilmu serta memperkenalkan ku dengan cinta.
Atas karunia serta kemudahan yang Engkau berikan akhirnya skripsi yang sederhana ini dapat terselesaikan. Sholawat dan salam selalu terlimpahkan keharibaan Rasullah Muhammad SAW.
Alhamdulillahirabbil „alamiin…
Sebuah perjalanan panjang dan gelap... telah kau berikan secercah cahaya terang Meskipun hari esok penuh teka-teki dan tanda tanya yang aku sendiri belum tahu pasti jawabanya
Aku sering tersandung, terjatuh, terluka dan terkadang harus kutelan antara keringat dan air mata.
Namun aku tak pernah takut, aku takkan pernah menyerah karena aku tak mau, Aku akan terus melangkah berusaha dan berdo‟a tanpa mengenal putus asa.
Terimakasih ya Allah...Segala puji dan Syukur untuk-Mu...
Kini ku mengerti arti kesabaran dalam penantian.
Perjalanan panjang yang penuh Lika-liku itu tlah ku lewati...
Akhirnya kini,
Atas berkat rahmat Allah, Atas Ridho dan Izin-Nya karya sederhana ini dapat ku selesaikan
Ku persembahkan karya sederhana ini kepada orang yang sangat Ku kasihi dan ku sayangi…
Untuk pahlawan yang tak kan pernah terbalas jasanya sampai kapanpun, yang mencurahkan kasih dan sayangnya yang tak terhingga serta do‟a dan support hingga saat ini. Dengan cinta kasih dan perjuangan telah melahirkan, membesarkan dan mendidikku hingga saat ini.
Perjuangan hingga ku berhasil meraih impian ini atas usahamu.Perjuangan ini tak lepas dari do‟a-do‟a mu ayah..ibu....
vii
yakin untuk bertindak. Tanpa terasa tahun demi tahun telah berlalu, pengorbanan-mu Ibu telah mengantarkan anakmu mencapai kesuksesan.
Untuk Almarhum ayah yang selalu ku cinta “Mailis”.
Meski kita tak lagi bersama ayah, namun ayah kan selalu ada dihati ku. Nasehat dan pengjaranmu yang membuat ku tetap kuat menjlani hidup ini, menggapai cita cita ini.
Untukmu ayah, semoga kau bahagia disana amiin...
Trimasih buat Almarhum kakakku “Syawaldi”, kakak tertua yang selalu ku banggakan. Yang menggantikan peran ayah dalam keluarga ku, terima kasih kakak semoga kau juga bahagia disana...
Terima kasih juga untuk kakak-kakak ku “ Eriyanto, Lili Suryani, SH, Maria Susanti, S.Pd, Epera Fitriayanti, SPd.I dan Rika Puspita Sari S.Pd.I” yang selalu ngasih supportnya buatku. Kakak –kakak yang banyak membantu dalam segala hal. Yang telah mengarahkan ku tuk sampai ketitik ini. Teristimewa untuk adikku “Soni Aditiya”. Adikku satu-satunya yang sangat ku sayang.
Terimakasih untuk keluarga besarku yang telah banyak mensuport serta mendo‟akan kesuksesanku terutama dalam hal perkuliahan. Terimalah ini sebagai tanda terima kasihku atas dorongan, pengorbanan, doa, keiklhlasan, cinta dan kasih sayang demi kesuksesanku…
Kupersembahkan karya ini…
Untuk kedua pembimbingku Bapak Charles, S.Ag. M.Pd, dan Bapak Rusdi, S.Pd, M.Si yang dengan kesabaran dan ilmunya telah memberikan bimbingan serta dukungan demi selesainya skripsi ini, dan meluangkan waktunya untuk membimbingku, terima kasih Bapak....
Untuk Ibu Aniswita, M.Si sebagai Ketua Jurusan Pendidikan Matematika yang telah banyak membantu dan membimbing selama proses perkuliahan. Serta untuk semua dosen yang telah membagi ilmu berharga padaku,,
Untuk Sahabatku tercinta, “mahasiswa NR PMTK‟2012” sahabat yang udah bikin warna warni di masa perkuliahan. Sahabat yang selalu ada disetiap suka dan duka.
Pendengar curhat paling setia, yang udah ngasih semangat dan bantuannya.
Bf Lestri Yuenti, S.Pd sahabat dari awal perkuliahan sampai sekarang, dari ngekos bareng, makan bareng, maen bareng, tapi sayang wisudanya gak bareng,maksi ya Les tetap ngasih supportny.
Bf Siti Maryam, akhirnya kita tetap bisa bareng-bareng dari awal sampai akhir, jangan pernah berubah ya Mar maafin uchi...
viii
curhat dalam segala hal. makasih ya jel udah selalu bantu uci disaat-saat sulit pnyelesain ini.
Dan untuk Akasendo Fadil Ahmad yang telah banyak membantu dari segala hal untuk kelancaran penyelesaian skripsi ini.
Intinya,,
“Makasih banyak teman-teman atas segalanya, semoga persahabatan kita tetap abadi selamanya”.. amiin ...
Dan untuk semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini yang tidak dapat dituliskan satu per satu, terimakasih atas semua dukungannya. Ku sadari ini bukan akhir perjuangan. Masih tinggi puncak yang harus ku daki, masih banyak jurang yang kan ku temui. Oleh karenanya yaa Allah berilah hamba kemudahan dan kelapangan serta kekuatan dalam menghadapi semua ujian yang Engkau berikan. Amin … Amin … YaaRabbal
„Alamin.
Segala puji bagi Allah yang senantiasa selalu membimbing hambanya kejalan yang benar.
By : Lusi Kurnia Ningsih
ix Syara’ Matua Mudiak”.
Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya permasalahan yang ditemukan di Kelas VIII MTs. Adat Syara’ Matua Mudiak berdasarkan pengalaman peneliti selama menjadi guru yaitu kondisi pembelajaran yang belum kondusif, kurangnya aktivitas siswa selama pembelajaran, siswa tidak mampu mengeluarkan pendapat dan ide mereka dalam pembelajaran dan hasil belajar matematika siswa rendah. Salah satu upaya yang diduga dapat mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan strategi Genius Learning dengan dalam pembelajaran matematika. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana peningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIII MTs. Adat Syara’
Matua Mudiak melalui strategi Genius Learning pada materi pokok Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas VIII MTs. Adat Syara’ Matua Mudiak melalui strategi Genius Learning.
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Sesuai dengan jenis penelitian, maka penelitian ini memiliki tahap-tahap penelitian berupa siklus. Siklus penelitian ini dilakukan sebanyak 2 siklus. Siklus I dilakukan 3 kali pertemuan dan siklus II dilakukan 3 kali pertemuan. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII Mts. Adat Syara’ Matua Mudiak dengan jumlah siswa sebanyak 23 orang. Teknis analisis data dari penelitian dilakukan dengan cara menghitung ketuntasan hasil belajar siswa, mengamati aktifitas mengajar guru dan aktifitas belajar siswa.
Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil belajar matematika siswa sebelum didterapkan strategi Genius Learning belum mencapai ketuntasan. Hal ini ditunjukan oleh hasil tes awal yang diberikan kepada 23 orang siswa hanya terdapat 5 orang siswa (21,72%) yang tuntas belajar dan 18 orang siswa (78,26%) yang tidak tuntas belajar.
Setelah di terapkan strategi pembelajaran Genius Learning, mengalami peningkatan.
Pada siklus I diperoleh 11 orang siswa (47,82%) memperoleh ketuntasan belajar dan 12 orang siswa (52,17%) yang tidak tuntas belajar. Pada siklus II diperoleh 19 orang siswa (82,6%) memperoleh ketuntasan belajar dan 4 orang siswa (17,39) yang tidak tuntas belajar. Berdasarkan observasi aktifitas mengajar guru pada siklus I ketegori “cukup baik” dan pada siklus II meningkat pada kategori “sangat baik”. Sedangkan respon belajar siswa pada siklus I ketegori “cukup baik” dan pada siklus II kategori “sangat baik”. Dari hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran Genius Learning pada materi sistem persamaan linear dua variabel dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa di kelas VIII MTs. Adat Syara’ Matua Mudiak.
x
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat, Nikmat, dan Karunia-Nya sehingga dengan izin-Nyalah penyusunan skripsi dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Melalui Strategi Genius Learning di Kelas VIII MTs Adat Syara’ Matua Mudiak”
dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang diharapkan. Shalawat beserta salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah mewariskan Al- Quran dan Sunnah sebagai petunjuk kebenaran sampai akhir zaman. Skripsi ini disusun guna memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika pada FakultasTarbiyah dan Ilmu Keguruan.
Penghargaan, penghormatan dan cinta tebesar penulis tujukan kepada kedua orang tua penulis, ayah dan ibu yang senantiasa memberikan kasih sayang, semangat, dan motivasi kepada penulis. Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak, baik moril maupun materil. Berkenaan dengan itu, izinkanlah penulis mengucap kanterima kasih kepada:
1. Ibu Dr. Ridha Ahida, M. Hum selaku Rektor IAIN Bukittinggi.
2. Bapak/Ibu Wakil Rektor IAIN Bukittinggi.
3. Bapak Dr. Nunu Burhanuddin, Lc., M.Ag selaku Dekan Fakultas Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Bukittinggi.
4. Ibu Aniswita, S.Pd, M.Si selaku Ketua Jurusan Pendidikan Matematika IAIN Bukittinggi.
xi
7. Bapak/Ibu dosen serta staf pengajar Jurusan Pendidikan Matematika.
8. Ibu Lili Suryani, SH selaku Kepala MTs Adat Syara’ Matua Mudiak .
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Seperti kata pepatah “Tak ada gading yang takretak“, untuk itu kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan skripsi ini. Terakhir penulis berharap mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Bukittinggi, Februari 2017
Penulis
xii
HALAMAN JUDUL ... i
SURAT PERNYATAAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iv
MOTTO ... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 9
C. Batasan Masalah ...10
D. Rumusan Masalah ...10
E. Tujuan Penelitian ...10
F. Manfaat Penelitian ...10
G. Definisi Operasional ...11
xiii
1. Pembelajaran Matematika ... 13
2. Strategi Genius Learning ... 19
3. Hasil Belajar ... 33
B. Kerangka Berfikir... 36
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...38
A. Lokasi dan Waktu Penelitian ...38
B. Subjek dan Objek Penelitian ...38
C. Jenis Penelitian ...38
D. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas...42
E. InstrumenPenelitian ...45
F. Validasi Instrumen Penelitian ...47
G. Teknik Analisis Data ...53
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 56
A. Temuan Umum ...56
B. Temuan Khusus ...58
C. Pembahasan Hasil Temuan ...79
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...83
A. Kesimpulan ...83
B. Saran ...85 DAFTAR KEPUSTAKAAN
LAMPIRAN
xv
1.1 Persentase Nilai Ulangan Tengah Semester 1 Pada Mata Pelajaran
Matematika MTs. Adat Syara’ Tahun Ajaran 2016/2017 ...5
2.1 Penerapan gaya belajar visual, auditori dan kinestik pada tahap pemasukan informasi ...28
2.2 Tahapan strategi Genius Learning pada proses pembelajaran ...31
4.1 Tenaga pendidik MTs. Adat Syara’ ...57
4.2 Peserta didik MTs. Adat Syara’ ...58
4.3 Hasil uji pra tindakan (pre-tes) ...59
4.4 Hasil observasi aktifitas mengajar guru siklus I ...63
4.5 Hasil observasi aktifitas belajar siswa siklus I ...65
4.6 Hasil belajar siswa siklus I ...67
4.7 Hasil observasi aktifitas mengajar guru siklus II ...73
4.8 Hasil observasi aktifitas belajar siswa siklus II...75
4.9 Hasil belajar siswa siklus I ...77
4.10 Rekapitulasi ketuntasan klasikal ...78
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Hal.
Lampiran I Silabus ... 87
Lampiran II Kisi kisi uji pra tindakan ... 89
Lampiran III Soal uji pra tindakan ... 90
Lampiran IV Kunci jawaban uji pra tindakan ... 91
Lampiran VI RPP Siklus I Pertemuan pertama ... 93
Lampiran VII LKS Siklus I Pertemuan pertama ... 98
Lampiran VIII RPP Siklus I Pertemuan kedua ... 103
Lampiran IX LKS Siklus I Pertemuan kedua ... 107
Lampiran X RPP Siklus I Pertemuan ketiga ... 112
Lampiran XI LKS Siklus I Pertemuan ketiga ... 116
Lampiran XII Kisi-kisi tes hasil belajar siklus I ... 120
Lampiran XIII Soal tes hasil belajar siklus I ... 121
Lampiran XIV Kunci jawaban tes hasil belajar siklus I ... 122
Lampiran XVI Lembar observasi aktifitas mengajar guru siklus I ... 124
Lampiran XVII Lembar observasi aktifitas belajar siswa siklus I ... 126
Lampiran XVIII RPP Siklus II Pertemuan pertama ... 128
Lampiran XIX LKS Siklus II Pertemuan pertama ... 133
Lampiran XX RPP Siklus II Pertemuan kedua ... 137
Lampiran XXI LKS Siklus II Pertemuan kedua ... 142
Lampiran XXII RPP Siklus II Pertemuan ketiga ... 146
Lampiran XXIII LKS Siklus II Pertemuan ketiga ... 150
xvii
Lampiran XXIV Kisi-kisi tes hasil belajar siklus II ... 153
Lampiran XXV Soal tes hasil belajar siklus II ... 154
Lampiran XXVI Kunci jawaban tes hasil belajar siklus II ... 155
Lampiran XXVIII Lembar observasi aktifitas mengajar guru siklus II ... 158
Lampiran XXIX Lembar observasi aktifitas belajar siswa siklus II ... 160
Lampiran XXX Lembar Validasi Perangkat dengan Dosen ... 196
Lampiran XXXI Dokumentasi ... 170
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia, karena dimanpun dan kapanpun di dunia ini terdapat pendidikan1. Pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia, karena dalam kesehariannya manusia berkembang seiring dengan perkembangan pendidikan.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dari proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritural keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan emosional, ahklak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.2
Dalam islam, perintah yang pertama kali diperintahkan oleh Allah kepada hamba-nya bukanlah perintah shalat, zakat, puasa, ataupun haji melainkan membaca. Sebagaimana terdapat dalam firman-Nya yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW Surat Al-Álaq ayat 13:
Artinya : Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.
1 Syafril, dkk, Pengantar Pendidikan, (Padang: Sukabima Press, 2012) hal.36
2 Undang-undang RI Sistem Pendidikan Nasional, Sinar Grafida, Jakarta, 2003, hal.2
3Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya .(Bandung:CV Penertbit Diponegoro, 2005) hal. 597
Membaca berarti belajar. Jadi Allah memerintahkan kepada hamba-Nya adalah untuk belajar. Sebagai balasan Allah kepada hamba-Nya yang telah belajar terdapat dalam firman-Nya dalam surat Al-mujaadilah ayat 114:
خَ يرٌ بِ خَ نوُلخَمْعخَ تاخَبِبِ ُللَّهُا خَ تٍااخَ خَ خَ خَ ْلبِعْا وُت ُأ خَي بِ للَّهُا خَ ْ ُ ْ بِ وُ خَ آ خَي بِ للَّهُا ُللَّهُا بِ خَ ْ خَ ...
Artinya: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Islam tidak menyuruh kepada penganutnya untuk belajar agama saja, tetapi juga ilmu umum. Ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibn Abdul Barr5 yang artinya: “Tuntutlah ilmu walau di negeri cina”. Pada masa tersebut negeri cina merupakan negara yang maju dalam dunia pendidikan dan teknologinya.
Salah satu cabang ilmu dalam dunia pendidikan adalah matematika.
Matematika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang mempunyai peranan penting dalam dunia pendidikan. Dapat dikatakan Matematika sebagai jembatan antar ilmu, karena matematika menghubungkan berbagai macam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi misalnya ilmu fisika, kimia, biologi, kedokteran, ekonomi, farmasi, dan teknologi informatika. sehingga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang terjadi tidak terlepas dari ilmu matematika.
Mengingat pentingnya pelajaran matematika dalam kehidupan, maka seorang guru diharapkan mampu mendidik, melatih, memotivasi, dan
4 Departemen Agama RI, ...hal. 434
5 Salim Bahreisy, Irsyadul ‘ibad ilasabilirrasyad, (Surabaya: Darussaggaf, 1997), hal. 34
membuat siswa senang belajar matematika, agar tujuan pelajaran matematika dapat dicapai. Adapun tujuan pelajaran matematika tersebut termuat dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006, yaitu:6
1. Peserta didik dapat memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Menurut Erman Suherman, dalam bukunya juga menjelaskan tujuan pembelajaran matematika yaitu7:
1. Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien.
2. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari- hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
Secara umum tujuan pembelajaran matematika adalah untuk membantu siswa mempersiapakan diri agar sanggup menghadapi perubahan keadaan dalam kehidupan dan didasar pemikiran secara logis, rasional, dan kritis serta mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan
6 Depdiknas. Permendiknas No 22 Tahun 2006 Tentang Standar Sekolah Dasar dan Menengah.
7 Erman Suherman, Strategi Pembelpelajaran Matematika Kontemporer ,(Bandung: JICA 2001), hal. 56
pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan8. Tujuan pembelajaran matematika disekolah lebih ditentukan pada penetaan nalar, dasar, dan pembentukan sikap, serta keterampilan dalam menerapkan matematika. Selain itu, matematika juga merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern dan daya pikir manusia. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi dimasa depan perlu penguasaan matematika yang kuat.
Mengingat begitu pentingnya peran matematika, maka pemerintah melalui departemen pendidikan nasional melakukan berbagai usaha perbaikan dalam pengajaran matematika. Hal ini terlihat dengan diadakannya penyempurnaan kurikulum, peningkatan kualitas guru matematika dengan diadakannya sertifikasi guru, pelatihan-pelatihan dan sosialisasi suatu program pendidikan dan banyak lagi lainnya. Pemerintah berupaya menyediakan buku-buku pelajaran guna menunjang proses pembelajaran.
Untuk meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran matematika, pemerintah melaksanakan pelajaran matematika melalui siaran pendidikan pada media elektronik seperti televisi, dengan adanya TV e-dukasi . Semua usaha yang dilakukan pemerintah tersebut seharusnya dapat mendukung dan meningkatkan keberhasilan siswa dalam belajar. Akan tetapi kenyataan dilapangan khususnya di MTs. Adat Syara’ Matua Mudiak terlihat bahwa hasil belajar matematika siswa masih rendah.
8 Riswanti, Strategi Pembelajaran Matematika, (Pekanbaru: Suska Press, 2008), hal.11
MTs. Adat Syara’ Matua Mudiak adalah satu satunya madrasah yang ada di Nagari Matua Mudiak yang didirikan pada tahun 2003. Banyak sudah prestasi yang sudah di torehkan oleh madrasah dalam berbagai bidang. Akan tetapi dalam bidang studi matematika masih banyak siswa yang tidak tuntas dalam pembelajarannya. Hal ini terlihat bahwa belum sepenuhnya hasil belajar matematika siswa mencapai target Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah yakni 70, ini terlihat dari persentase ketuntasan nilai ujian tengah semester matematika siswa MTs. Adat Syara’
pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Persentase Ketuntasan Hasil Ujian Tengah Semester 1 MTs. Adat Syara’ Tahun Pelajaran 2016 - 2017
Kelas Jumlah Siswa
Siswa Tuntas Siswa Tidak Tuntas Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase
VII 18 5 27,7% 13 72,2%
VIII 23 7 30,4% 16 69,6%
IX 10 4 40 % 6 60 %
(Sumber: Guru Matematika MTs. Adat dan Syara’ Tahun Pelajaran 2016-2017)
Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa rata-rata Ujian Tengah Semester 1 MTs Adat Syara’ tahun pelajaran 2016 – 2017 rata- rata nilai siswa dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah yaitu 70. Selain itu, rata- rata jumlah siswa yang tidak tuntas melebihi setengah dari jumlah siswa di kelas.
Rendahnya hasil belajar siswa dipengaruhi beberapa hal yang lazim terjadi pada pembelajaran matematika di MTs. Adat Syara’ Matua Mudiak adalah (1) Strategi yang digunakan dalam pembelajran belum berfariasi dan metode guru dalam menyampaikan materi masih terbatas dengan metode ceramah, hanya mendikte atau menuliskan catatan atau tugas siswa, demikian halnya pada saat pembahasan soal-soal latihan. (2) Interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa yang ada di MTs. Adat Syara’ Matua Mudiak termasuk lemah. Guru tidak ubahnya seperti pendongeng cerita, yang akan berakhir dengan soal atau pertanyaan dan seolah-olah tidak begitu bermakna. Hal yang menyebabkan kegiatan kosultatif antara guru dan siswa untuk menyelesaikan soal-soal yang berkategori sulit jarang terjadi. (3) Di dalam kelas, guru jarang sekali berkeliling melihat pekerjaan siswa dibarisan belakang, guru lebih sering berinteraksi dengan anak-anak dibarisan depan. Bagi siswa yang ada dibarisan belakang, baru akan mendapatkan peran apabila ada giliran untuk maju ke depan mengerjakan soal. Padahal beberapa siswa yang ada dibelakang mungkin sekali mengalami kesulitan belajar matematika yang apabila dibiarkan dapat melemahkan motivasi belajar siswa. (4) Matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang menakutkan atau bahkan membosankan.
Siswa-siswa MTs. Adat Syara’ Matua Mudiak seringkali masih merasa kesulitan, ragu-ragu, agak takut, dan kuatir salah jika menjawab pertanyaan dari guru, dan terlebih lagi siswa malu untuk bertanya. Hal ini salah satu hal yang menyebabkan disetiap jam pelajaran matematika siswa cenderung merasa enggan dan malas.
Keadaan ini jika dibiarkan maka nilai pelajaran matematika akan semakin menurun dan gagal dalam memperoleh nilai ketuntasan minimal yang telah ditentukan. Untuk mengatasi masalah tersebut seorang guru harus mampu memberikan motivasi terhadap siswa melalui pengelolaan kelas yang menarik dan melibatkan siswa dalam menemukan konsep.
Pengalaman peneliti sebagai guru matematika di MTs. Adat Syara’
Matua Mudiak sebelum melaksanakan pembelajaran sudah berusaha maksimal, mulai dari persiapan RPP, media hingga strategi pembelajaran dan pengelolaan kelas. Namun disisi lain peneliti sebagai guru memang masih cenderung menggunakan metode mengajar yang monoton yaitu metode ceramah, kondisi ini ternyata membuat siswa menjadi bosan, jemu dan tidak tertarik untuk belajar. Guru kurang mampu mengelola kelas dengan baik, sehingga banyak diantara siswa yang acuh tak acuh terhadap pembelajaran yang sedang dilakukan oleh guru bahkan sebagian diantaranya lebih sering mengerjakan tugas lain. Dalam pembelajaran guru tidak menggunakan alat bantu pembelajaran. Hal inilah yang diduga menyebabkan lemahnya siswa dalam memahami konsep-konsep dasar matematika, hal ini bisa dilihat dari hasil belajar yang rendah.
Dalam proses pembelajaran matematika seharusnya guru matematika mengerti bagaimana memberikan stimulus kepada siswa sehingga siswa mencintai belajar matematika dan lebih memahami materi yang diberikan oleh guru. Sehingga guru mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan muncul kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan
berusaha mengetahui dan mengatasi faktor yang menghambat proses belajar siswa.
Proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila timbul perubahan tingkah laku pembelajaran yang positif pada siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Keberhasilan itu dapat dilihat dari tingkat pemahaman, penguasan materi, keaktifan siswa belajar siswa.
Semakin tinggi pemahaman, penguasan materi, keaktifan belajar siswa maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pembelajaran.
Seorang guru juga bertugas untuk menyajikan sebuah pelajaran dengan tepat, jelas, menarik, efektif dan efesien. Hal ini dilakukan dengan terlebih dahulu memiliki pendekatan atau strategi pembelajaran yang tepat.
Para guru terus berusaha menyusun dan menerapkan strategi pembelajaran yang bervariasi agar siswa lebih tertarik dan bersemangat dalam belajar matematika. Salah satunya adalah menerapkan strategi pembelajaran yaitu strategi genius learning.
Genius Learning adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan suatu rangkaian pendekatan praktis dalam upaya meningkatkan hasil proses pembelajaran. Upaya peningkatan ini dicapai dengan menggunakan pengetahuan yang berasal dari berbagai disiplin ilmu seperti pengetahuan tentang cara kerja otak, cara kerja memori, motivasi, konsep diri, kepribadian, emosi, perasaan, pikiran, metagoknisi, gaya belajar, multiple intelligence atau kecerdasan jamak, teknik memori, teknik membaca, teknik mencatat, dan teknik belajar lainnya. Dasar genius learning adalah metode accelerated
learning atau cara belajar cepat. Di luar negeri metode ini dikenal dengan beragam nama, seperti accelerated learning, quantum learning, quantum teaching, super learning, efficient and effective learning.9
Pada dasarnya dalam strategi genius learning kita menempatkan siswa sebagai pusat dari proses pembelajaran, sebagai objek pendidikan.10 Dengan pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa menghasilkan siswa yang berkepribadian, pintar, cerdas, aktif, mandiri, tidak bergantung pada pengajar, melainkan mampu bersaing atau berkompetisi dan memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik11. Sehingga akan meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk meneliti tentang “Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siwa Melalui Strategi Genius Learning di Kelas VIII MTs. Adat Syara’Matua Mudiak”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan Latar Belakang Masalah yang telah dikemukakan dapat diidentifikasi beberapa masalah, yaitu:
1. Hasil belajar siswa masih rendah.
2. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran.
3. Siswa sulit mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru.
4. Strategi pembelajaran yang digunakan masih belum berfariasi
9 Adi W Gunawan. Genius Learning Strategy. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2007), hal. 3
10 Adi W Gunawan. Genius Learning... Hal 6
11 Munir, Pembelajaran Student Centered, (Bandung : Alfabeta, 2008), hal. 80-81
C. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terfokus, maka permasalahan dibatasi pada upaya untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIII MTs.
Adat Syara’ Matua Mudiak melalui strategi Genius Learning pada materi pokok Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan, maka dirumuskan permasalahannya sebagai berikut: Bagaimana peningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIII MTs. Adat Syara’ Matua Mudiak melalui strategi Genius Learning pada materi pokok Sistem Persamaan Linear Dua Variabel?”
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas VIII MTs. Adat Syara’ Matua Mudiak melalui strategi Genius Learning pada materi pokok Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.
F. Manfaat Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah:
1. Bagi kepala sekolah, sebagai bahan pertimbangan dalam rangka perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan
2. Bagai guru, sebagai informasi bagi guru Matematika tentang penerapan strategi Genius Learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa
3. Bagi siswa, diharapkan siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan dapat memahami secara utuh pembelajaran matematika.
4. Bagi peneliti, hasil penelitian sebagai persyaratan untuk mendapatkan gelas S1 di IAIN Bukittinggi. Kemudian penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan peneliti.
G. Defenisi Operasional
Agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami proposal ini, maka penulis akan menjelaskan beberapa istilah yang terdapat dalam tulisan ini, antara lain:
a. Strategi Genius Learning
Genius Learning adalah sebuah model pembelajaran yang dikemas sedemikian rupa yang menggunakan pengetahuan yang berasal dari berbagai disiplin ilmu seperti pengetahuan tentang cara kerja otak, cara kerja memori, neuro-linguistic programming, motivasi, konsep diri, kepribadian, emosi, perasaan, pikiran, metakognisi, gaya belajar, multiple intelligences atau kecerdasan majemuk, teknik memori, teknik membaca, teknik mencatat, dan teknik belajar lainnya
b. Pembelajaran Matematika
Pembelajaran matematika merupakan proses komunikasi antara siswa dengan guru, dalam rangka perubahan sikap dan pola pikir yang
akan menjadi kebiasaan bagi siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya dalam mempelajari ilmu yang bersifat abstrak namun konsep- konsepnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari hari dan membantu dalam mempelajari ilmu pengetahuan lainnya.
c. Hasil belajar
Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran dan merupakan gambaran tingkat penguasaan siswa terhadap apa yang telah dipelajari. Hasil belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah hasil kognitif yang diperoleh siswa setelah melakukan atau mengikuti pembelajaran dengan strategi genius learning yang dilakukan melalui pemberian tes hasil belajar.
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. Pembelajaran Matematika
a. Belajar dan pembelajaran Matematika
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkahlaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.1 Selain itu belajar juga didefinisikan sebagai suatu perubahan tingkahlaku yang relatif permanen sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat atau kecelakaan) dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengkomunikasikannya pada orang lain.2 Juga diartikan sebagai perubahan tingkahlaku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengar, meniru dan lain sebagainya.3
Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses tingkahlaku seseorang untuk membentuk pengetahuan baru atau perubahan melalui pengalaman seperti membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya.
1 Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), h.2
2Made Pidarta, Landasan Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), h.197
3 Sadirman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h.21
Menurut Ngalim Purwanto ada beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian belajar, yaitu :
a. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkahlaku.
b. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman.
c. Untuk dapat dikatakan belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap.
d. Tingkahlaku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis.4
Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan atau berlangsung dalam diri seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkahlaku, menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik pisik maupan psikis. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik.
Secara etimologi, matematika merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar. Hal ini bukan berarti ilmu lain diperoleh tidak melalui nalar, akan tetapi matematika menekankan aktifitas dalam dunia rasio (penalaran), sedangkan ilmu lain menekankan pada hasil observasi atau eksperimen di samping penalaran. Matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris, karena matematika sebagai aktifitas
4 Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), h.84
manusia kemudian pengalaman itu di proses dalam dunia rasio, diolah secara analisis dan sintesis dengan penalaran di dalam struktur kognitif, sehingga sampailah pada suatu kesimpulan berupa konsep-konsep matematika.
James dan James dalam Erman Suherman mengatakan bahwa :
”Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi kedalam tiga bidang, yaitu aljabar,analisis dan geometri”.5
Berdasarkan kutipan di atas, bahwa dalam belajar matematika siswa di tuntut untuk menguasai konsep-konsep, struktur dan prinsip-prinsip agar dapat menerapkannya dan memecahkan berbagai masalah.
Pembelajaran adalah suatu proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Menurut Djahiri dalam Kunandar dikatakn bahwa dalam proses pembelajaran prinsip utamanya adalah adanya proses keterlibatan seluruh atau sebagian besar potensi diri siswa(fisik atau nonfisik) dalam kebermaknaanya bagi diri dan kehidupannya saat ini dan dan dimasa yang akan datang (life skill).6 Jadi dengan proses pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan perkembangan potensi peserta didik secara optimal sehingga mampu menghadapi tantangan dan perubahan zaman.
Teori mengenai pembelajaran terdiri dari beberapa pandangan para ahli pendidikan. Menurut Fontana pembelajaran merupakan upaya penataan
5 Erman Suherman, Strategi Pembelpelajaran Matematika Kontemporer ,(Bandung: JICA 2001), hal. 16
6 Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru. (Jakarta, Raja Grafindo Persada. 2007), hal. 293
lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal7. Kemudian menurut konsep sosiologi, pembelajaran adalah rekayasa sosio-psikologis untuk memelihara kegiatan belajar tersebut sehingga tiap individu yang belajar akan belajar secara optimal dalam mencapai tingkat kedewasaan dan dapat hidup sebagai anggota masyarakat yang baik8. Sedangkan menurut konsep komunikasi pembelajaran adalah proses komunikasi fungsional antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa, dalam rangka perubahan sikap dan pola pikir yang akan menjadi kebiasaan bagi siswa yang bersangkutan. Guru berperan sebagai komunikator, siswa sebagai komunikasikan, dan materi yang dikomunikasikan berisi pesan berupa ilmu pengetahuan9. Sementara itu menurut Oemar Hamalik pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran10.
Ada tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran menurut Oemar Hamalik, yaitu:
1. Rencana, ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran dalam suatu recana khusus.
2. Kesalingtergantungan (interdependence) antara unsur-unsur sistem pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan. Tiap unsur bersifat
7 Erman suherman..., h. 8
8 Erman suherman..., h. 9
9 Erman Suherman..., h.9
10 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008) h. 57
esensial, dan masing-masing memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran.
3. Tujuan, sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai.11
Erman Suherman menjelaskan bahwa dalam pembelajaran matematika, para siswa dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstraksi)12.Tujuan umum pembelajaran matematika pertama adalah memberikan penekanan pada penataan nalar dan pembentukan sikap siswa. Dan tujuan kedua adalah memberikan penekanan pada keterampilan dalam penerapan matematika, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam membantu mempelajari ilmu pengetahuan lainnya13.
Dalam pembelajaran matematika, seorang guru semestinya tidak hanya sebatas mengajar pelajaran matematika sebagai penyajian materi-materi matematika belaka. Topik-topik dalam matematika sebaiknya tidak disajikan sebagai materi secara parsial, tetapi harus diintegrasikan antara satu topik dengan topik lainnya, bahkan dengan bidang lain. Matematika harus diperkenalkan dan disajikan kedalam kehidupan kita. Menyajikan matematika hanya sebagai kumpulan fakta-fakta saja tidak akan menumbuhkan kebermaknaan dan hakekat matematika sebagai queen of the scince dan sebagai pelayan ilmu lainnya.
11 Oemar Hamalik, … , h. 66
12 Erman Suherman , … ,h. 55
13 Erman Suherman , … , h. 56-57
b. Tujuan pembelajaran Matematika
Tujuan adalah sesuatu yang diharapkan atau diinginkan dari belajar, sehingga memberikan arah kemana kegiatan belajar mengajar itu harus di bawa dan dilaksanakan. Tujuan utama pertama, pembelajaran matematika pada jenjang pendidikan dan menenggah adalah memberikan penekanan pada nalar dan pembentukan sikap siswa. Tujuan umum adalah memberikan penekanan pada keterampilan dalam penalaran matematika, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam membantu mempelajari ilmu pengetahuan yang lainnya. Adapun tujuan khusus pembelajaran matematika di jenjang pendidikan dasar dan menengah terbagi dua bagian besar, pertama tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar dan kedua tujuan pengajaran matematika di SMP. Sedangkan tujuan khusus pengajaran matematika di SMU secara tersendiri dimuat di dalam kurikulum pendidikan menengah.
Perlu diketahui, tujuan umum matematika di jenjang pendidikan dasar dan menengah merupakan tujuan yang paling umum. Sedangkan tujuan yang lebih khusus yang merupakan tujuan pembelajaran matematika di SD, SMP dan SMU. Semua tujuan tersebut bersifat dinamis dan cukup luwes sesuai dengan tuntutan yang mungkin muncul. Namun demikian secara umum setiap tujuan tersebut penjabarannya tetap mengacu pada materi matematika itu sendiri.
Jadi tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran matematika pada dasarnya merupakan sasaran yang ingin dicapai sebagai hasil dari proses
pembelajaran matematika tersebut. Karenanya sasaran tujuan pembelajaran matematika tersebut dianggap tercapai bila siswa telah memiliki sejumlah pengetahuan dan kemampuan di bidang matematika yang dipelajari.
B. Strategi Genius Learning
Istilah strategi sering digunakan dalam banyak konteks dengan makna yang tidak selalu sama. Dalam konteks pengajaran strategi bisa diartikan sebagai suatu pola umum tindakan guru-persta didik dalam manifestasi aktifitas pengajaran.14 Menuru Oemar Hamalik dalam bukunya strategi pengajaran merupakan penerjemahan filsafat atau teori mengajar menjadi rumusan tentang cara mengajar yang harus ditempuh dalam situasi-situasi khusus atau dalam keadaan tertentu secara spesifik.15
Harus dipahami, bahwa dalam suatu event pengajaran sering kali harus diperlukan lebih dari satu strategi yang digunakan sebab tujuan-tujuan yang hendak dicapai biasanya juga saling berkaitan satu dengan yang lainnya dalam rangka usaha pencapaian tujuan yang lebih umum.
Drs. Syaiful Bahri Djamaroh dan Drs. Aswan Zaini, dalam bukunya Strategi Belajar Mengajar menjelaskan bahwa secara umum strategi mempunyai pengertian garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan
14 Ahmad Rohani, Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran,(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1995), h.31
15 Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem,(Jakarta: PT.
Bumi Aksara, 2002), h.183.
anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.16
Selanjutnya dijelaskan bahwa ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi hal-hal berikut:
a) Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan.
b) Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
c) Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya.
d) Menetapkan norma-norma serta batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan sistem instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.17
Oleh sebab itu, Dr. Nana Sudjana (1988) mengatakan bahwa: "Strategi mengajar adalah “taktik” yang digunakan guru dalam melaksanakan proses
16 Drs. Syaiful Bahri Djamaroh, Drs. Aswan Zaini,Strategi Belajar Mengajar, (jakarta,Rineka Cipta, 1996), h.5
17 Drs. Syaiful Bahri Djamaroh, Drs. Aswan Zaini,...h.5-6.
belajar mengajar (pengajaran) agar dapat mempengaruhi para siswa (peserta didik) mencapai tujuan pengajaran (TIK) secara lebih efektif dan efisien.18
Hal in sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik yang berbeda satu dengan yang lain dan sangat mempengaruhi dalam proses pembelajaran.
Dari sini penulis simpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah garis-garis besar tindakan guru-peserta didik dalam usaha untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Karena dalam setiap proses pembelajaran, akan selalu ada tiga komponen penting yang saling terkait satu sama lain. Diantaranya :
a. Kurikulum, materi yang akan diajarkan b. Proses, bagaimana materi diajarkan c. Produk, hasil dari proses pembelajaran.19
Dari ketiga komponen diatas sama pentingnya karena merupakan komponen yang membentuk lingkungan pembelajaran. terjadinya kesenjangan antara murid dan guru terjadi karena kurangnya pendekatan yang dilakukan guru terhadap peserta didik. Secara bahasa Genius Learning berasal dari dua kata, Genius yang berarti cerdas dan Learning yang berarti pembelajaran.20
Adapun yang dimaksud strategi genius learning dalam penelitian ini adalah suatu rangkaian kegiatan belajar mengajar dalam upaya meningkatkan hasil proses pembelajaran dengan menggunakan kemampuan pengetahuan dan pengalaman, seperti pengetahuan tentang kepribadian, kecerdasan, gaya
18 Ahmad Rohani, ... h.33
19 Adi W. Gunawan, Genius Learning, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2006), h.1
20 Jhon M. Echol dan Hassan Shadily,Kamus Inggris..., h.265/352
belajar, emosi dan pengetahuan lainsebagainya yang bisa membantu efektifitas proses belajar mengajar. Selain itu keahlian atau profisionalisme seorang pendidik (guru) juga sangat mendukung dalam penerapan strategi genius learning. Namun bila melihat penerapannya maka strategi genius learning disini dapat diartikan dengan kemampuan untuk memahami dan mengerti sesuatu kemudian merespon sesuatu tersebut dengan cepat dan tepat.
Kita jarang menemukan guru yang benar-benar memperhatikan aspek perasaan atau emosi murid, kesiapan mereka untuk belajar baik secara fisik maupun psikis. Yang kerap terjadi adalah guru masuk ke kelas, murid duduk manis dan diam, lalu guru langsung mengajar. Dengan adanya seorang guru dan anak didik didalam kelas, tidak berarti proses pendidikan dapat berlangsung secara otomatis. Bila ada proses pengajaran, tidak berarti pasti diikuti dengan proses pembelajaran. Kedua proses ini memang diusahakan untuk bisa dicapai secara bersamaan. Namun perlu dipahami bahwa keduannya merupakan dua kegiatan yang berbeda.
Dalam usaha untuk menghormati pribadi anak, menjauhkannya dari frustasi dan konflik, maka guru berusaha mencari agar pelajaran itu menyenangkan dan mudah dilaksanakan.21 Untuk itulah Genius Learning dirancang, yakni untuk menjembatani jurang yang memisahkan antara proses mengajar dan proses belajar. Adapun proses pembelajaran terbaik yang dapat kita berikan kepada anak didik kita adalah suatu proses pembelajaran yang
21 Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), h.124.
diawali dengan menggali dan mengerti kebutuhan anak didik. Berangkat dari sini, kita sebagai pendidik harus bisa membawa anak didik melalui suatu metode pembelajaran yang benar, untuk bisa berkembang sesuai dengan potensi mereka seutuhnya.
Menurut Adi Gunawan dalam bukunya Genius Learning adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan suatu rangkaian pendekatan praktis dalam upaya meningkatkan hasil proses pembelajaran22. Dalam penyusunan strategi genius learning, Adi terbantu dengan latar belakang pendidikan Accelerated Learning yang Ia dapatkan dari Accelerated Learning Institute and Training Center di Las Vegas, Amerika. Dengan bekal dasar pengetahuan itu, Ia lalu mempelajari secara lebih mendalam berbagai metode yang digunakan oleh para pakar accelerated learning dunia, seperti Jeanette Vos, Bobbi Deporter, Colin Rose, Dave Meier, Eric Jensen, Bill Lucas, dan David Sousa. Dari berbagai sumber ini Adi Gunawan meringkasnya menjadi suatu langkah yang mudah dipahami dan dipraktekkan berupa sebuah strategi pembelajaran dengan nama Genius Learning. Pada awalnya, strategi ini diuji cobakan oleh Adi kepada anaknya sendiri, ternyata hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Pada tahun 2004, Adi Gunawan bersama istrinya mendirikan sebuah sekolah yang menerapkan strategi ini pada pembelajarannya.23
Dasar genius learning adalah metode accelerated learning atau cara belajar yang dipercepat. Dimana tujuan metode ini yaitu menciptakan proses pembelajaran yang efisien, efektif dan menyenangkan. Dalam menerapkan
22Adi Gunawan. Genius Learning Strategy( Jakarta: Gramedia Pustaka Utama 2007) cet. Ke- 4, xiv
23Adi Gunawan,..., h. xv-xvi
strategi genius learning ini, anak didik ditempatkan sebagai pusat dari proses pembelajaran, sebagai subyek pendidikan.
Asumsi dasar yang dipakai dalam mendefinisikan kecerdasan dalam Genius Learning adalah sebagai berikut24:
1. Setiap orang dilahirkan jenius, kondisi sosial dan budaya serta sifat dan proses pembelajaran yang kita alami akan menentukan seberapa cepat atau lambat proses perkembangan kecerdasan ini terjadi.
2. Kecerdasan adalah suatu fenomena yang unik. Ada banyak cara di mana seseorang melihat dan mengerti dunia di sekelilingnya dan cara ia mengungkapkan pengertian yang ia dapatkan.
3. Konsep diri seseorang berbanding lurus dengan potensi yang ia gali dan kembangkan.
4. IQ tinggi sangat membantu keberhasilan akademik namun bukan satu- satunya faktor utama. IQ rendah bukan garansi kegagalan.
5. Guru dapat mempengaruhi dan meningkatkan kecerdasan anak didik.
6. Kecerdasan berkembang secara bertahap 7. Berpikir dapat diajarkan
Sementara itu, prinsip- prinsip yang dipakai dalam Genius Learning adalah sebagai berikut25:
1. Otak akan berkembang dengan maksimal dalam lingkungan yang kaya akan stimulus multi sensori dan tantangan berpikir.
24Adi W Gunawan,..., h.7-8
25Adi W Gunawan,..., h.9-10
2. Besarnya pengharapan /ekspektasi berbanding lurus dengan hasil yang dicapai
3. Lingkungan belajar yang aman adalah lingkungan belajar yang memberikan tantangan tinggi namun dengan tingkat ancaman yang rendah
4. Otak sangat membutuhkan umpan balik yang bersifat segera dan mempunyai banyak pilihan
5. Musik membantu proses pembelajaran
6. Ada berbagai alur dan jenis memori yang berbeda yang ada pada otak kita
7. Kondisi fisik dan emosi saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan 8. Setiap otak adalah unik dengan kapasitas pengembangan yang berbeda
berdasarkan pada pengalaman pribadi
9. Walaupun terdapat perbedaan fungsi antara otak kiri dan otak kanan, namun keduanya bisa bekerja sama dalam mengolah informasi.
Lingkaran sukses padapembelajaran dengan menggunakan Genius Learning terdiri dari delapan tahap sebagai berikut26 :
1. Suasana Kondusif
Inti dari Genius Learning adalah strategi pembelajaran yang membangun dan mengembangkan lingkungan pembelajaran yang positif dan kondusif. Guru bertanggung jawab untuk menciptakan suasan belajar yang kondusif sebagai persiapan untuk masuk ke dalam
26Adi W Gunawan...hal .143-151, 334-361
proses pembelajaran yang sebenarnya. Kondisi kondusif ini merupakan syarat mutlak untuk tercapainya hasil yang maksimal.
Penciptaan suasana kondusif ini dapat berupa penyampaian pengharapan dan keyakinan guru akan kemampuan siswa. Selain itu juga berupa senyuman dan kepedulian guru terhadap keberhasilan siswa. Hal lain yang dapat dilakukan yaitu dengan mengontrol kondisi kelas, baik dari segi kerapian atau sebersihannya.
2. Hubungkan
Setiap proses pembelajaran dimulai dengan menghubungkan apa yang akan dipelajari dengan apa yang telah dipelajari. Siswa menghubungkan materi dengan pengetahuan yang telah dipelajari sebelumnya (masa lalu) dan memikirkan aplikasi dalam kehidupan nyata (masa depan). Cara yang paling mudah yaitu dengan mengajukan pertanyaan. Dalam hal ini siswa harus mencatat apa saja ide yang muncul. Cara lainnya adalah dengan menggunakan gambar atau poster sebagai pemicu. Selain itu dapat menggunakan latihan untuk mengakses apa yang telah dipelajari dan perkiraan apa yang akan dipelajari berikutnya. Proses menghubungkan akan sangat efektif dan kuat pengaruhnya apabila berhasil melibatkan emosi dalam belajar.
3. Gambaran Besar
Untuk lebih membantu menyiapkan pikiran siswa dalam menyerap materi yang diajarkan, sebelum proses pembelajaran
dimulai, guru harus memberikan gambaran besar (big picture) dari keseluruhan materi. Ini berfungsi untuk menciptakan “folder” yang nantinya akan diisi dengan informasi yang akan dimasukan pada tahap pemasukan informasi. Dalam tahap ini guru memberikan ringkasan dari apa yang akan dipelajari dengan memberikan kata-kata kunci.
4. Tetapkan Tujuan
Pada tahap inilah proses pembelajaran akan dimulai. Apa hasil yang akan dicapai pada akhir sesi harus dijelaskan dan dinyatakan kepada siswa. Tujuan yang akan dicapai dapat dijelaskan langsung kepada seluruh kelas atau per kelompok. Tujuan pembelajaran dituliskan di papan tulis dengan huruf yang besar dan jelas agar siswa senantiasa melihat tujuan dari proses pembelajaran yang akan segera dimulai. Selanjutnya guru meminta siswa untuk membuat tujuan pembelajaran secara detail dan tertulis.
5. Pemasukan Informasi
Pada tahap ini, informasi yang akan diajarkan harus disampaikan dengan berbagai gaya belajar. Metode yang dipakai harus bisa mengakomodasikan gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik.
Berdasarkan pendekatan Neuro-Linguistic Programming pada Genius Learning menggunakan tiga gaya belajar yaitu visual (penglihatan), auditori (pendengaran) dan kinestetik (sentuhan dan gerakan). Secara lebih rinci pemasukan informasi dengan menerapkan gaya belajar visual, auditori dan kinestetik dapat dilihat pada Table 2.
Tabel 2.1 Penerapan gaya belajar visual, auditori dankinestetik padatahap pemasukan informasi.27
Gaya belajar Menggunakan
Visual Gerakan tubuh/ body language
Buku, majalah
Grafik, diagram
OHP/ komputer
Poster
Flow chart
Highlighting (memberikan warna pada bagian yang dianggap penting)
Kata-kata kunci yang dipajang di sekeliling kelas
Tulisan dengan warna yang menarik
Model/ peralatan
Auditori Suara yang jelas dengan intonasi yang terarah dan bertenaga
Membaca dengan keras
Pembicara tamu
Sesi tanya jawab
Rekaman ceramah/ kuliah
Diskusi dengan teman
Belajar dengan mendengarkan atau menyampaikan informasi
Kuliah
Permainan peran (role play)
Musik
Kerja kelompok
Kinestetik Merancang dan membuat aktivitas
Keterlibatan fisik
Membuat model
Memainkan peran/ scenario
Highlighting
Berjalan
Membuat mind mapping (peta pikiran)
Menggunakan gerakan tubuh untuk menjelaskan sesuatu
27Adi W Gunawan, ... h.151
Selain itu gunakan metode yang berbeda sesuai dengan situasinya.
Dalam proses pemasukan informasi, guru harus memperhatikan pemilihan kata dan penggunaan kalimat yang tepat.
6. Aktivasi
Informasi atau materi pelajaran yang diterima siswa melalui proses pembelajaran (pemasukan informasi) masih bersifat pasif. Untuk meyakinkan bahwa siswa telah mengerti dan merasa memiliki pengetahuan atau informasi yang diberikan, guru perlu melakukan proses aktivasi. Proses aktivasi merupakan proses yang membawa siswa pada satu tingkat pemahaman yang lebih dalam terhadap materi yang diajarkan. Aktivasi dapat dilakukan dengan menggunakan aktivitas yang dilakukan seorang diri, secara berpasangan atau secara berkelompok guna membangun kemampuan komunikasi dan kerja sama/kelompok. Pada tahap ini siswa mengintegrasikan apa yang telah dipelajarinya dan menemukan makna yang sesungguhnya dari yang telah dipelajari.
7. Demonstrasi
Pada tahap demonstrasi guru langsung menguji pemahaman siswa pada saat itu juga.Ini bertujuan untuk mengetahui sampai dimana pemahaman siswa dan sekaligus merupakan saat yang sangat tepat untuk bisa memberikan umpan balik (feedback).Dalam genius learning, guru diminta untuk menyediakan waktu yang cukup guna memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan bahwa mereka mengerti
materi yang diajarkan.Demonstrasi meliputi praktik langsung, membuat tes dan mengerti jawabannya, mengajar, dan mengerti aplikasi pengetahuan yang telah diterima. Guru memberikan umpan balik yang bersifat segera, mendidik serta membangun dan mendorong siswa untuk melakukan pemikiran lebih lanjut atas proses yang digunakan dalam pembelajaran.
8. Tinjau Ulang (review)
Pada akhir setiap sesi dilakukan pengulangan dan sekaligus membuat kesimpulan dari apa yang telah dipelajari. Ini bermanfaat untuk meningkatkan daya ingat dan meningkatkan efektivitas dari proses pembelajaran. Setelah itu dilakukan self-test atau tes oleh siswa sendiri terhadap pemahamannya. Bisa juga dilakukan pengujian dengan cara berpasangan dengan siswa lainya. Intinya adalah menciptakan suasana yang menyenangkan dan bebas dari stres saat dilakukan tes.
Hal ini diperkuat dengan enam prinsip yang harus dikelola seorang guru yang terlibat (involver) bukan seorang penceramah (lecturer) yang bertindak sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran agar belajar jadi lebih cepat, lebih singkat dan lebih mudah28:
1. “Kondisi” terbaik untuk belajar;
2. Bentuk presentasi yang melibatkan seluruh indra dan sekaligus membuat relaks, menyenangkan, bervariasi, cepat, dan menggairahkan;
3. Berpikir kreatif dan kritis untuk membantu “proses internal”;
4. “Rangsangan” dalam mengakses materi pelajaran, dengan permainan, lakon pendek dan drama, serta berbagai kesempatan untuk praktik;
28Gordon Dryden, Revolusi Cara Belajar.(Jakarta: Kaifa, 2004) h. 199
5. Pengalihan ke hubungan dan terapan nyata;
6. Peninjauan ulang dan evaluasi secara teratur; dengan merayakan keberhasilan di setiap tahap.
Penerapan strategi Genius Learning memiliki beberapa keunggulan, yaitu sebagai berikut:29
1. Meningkatkan motivasi belajar siswa.
2. Meningkatkan pemahaman dan penguasaan siswa tentang materi pelajaran.
3. Menggunakan gaya belajar visual, auditori dan kinestetik.
4. Dapat menggunakan berbagai sumber informasi dalam proses pembelajaran.
Dari teori – teori mengenai Genius Learning di atas dapat diambil kesimpulan bahwa strategi ini merupakan suatu strategi pembelajaran yang dapat membangun lingkungan pembelajaran yang positif dan kondusif yang menempatkan anak didik sebagai pusat pembelajaran untuk menciptakan proses pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan. Adapun kegiatan- kegiatan yang dapat dilakukan selama melaksanakan pembelajaran dengan strategi Genius Learning dapat dilihat dalam tabel 3.
Tabel 2.2 Tahapan strategi Genius Learning pada proses pembelajaran
No. Tahap Kegiatan
1 2 3
1. Menciptakan suasana yang kondusif
a. Menucapkan salam sambil memberikan senyuman kepda siswa.
b. Melihat kondisi lokal siswa, baik dari segi
29 Adi Gunawan,... h.14-15
kerapian, ataupun kebersihannya.
c. Memulai pelajaran dengan do’a
d. Memberikan senam otak untuk menarik perhatian siswa sebelum memulai pelajaran 2. Hubungkan e. Menghubungkan materi pelajaran yang telah
dipelajari sebelumnya dengan materi yang baru dipelajari.
3. Gambaran besar f. Memberikan garis-garis besar dari materi yang akan dipelajari
4. Tetapkan tujuan g. Menuliskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
5. Pemasukan informasi
h. Memberikan materi yang akan diajarkan dengan mengakomodasikan 3 gaya belajar visual:
- highlighting (memberikan warna pada bagian yang dianggap penting
- tulisan dengan warna yang menarik - flowchart
auditorial:
- suara yang jelas dengan intonasi terarah - membaca dengan keras
- sesi tanya jawab kinestetik
- merancang dan membuat aktivitas - membuat model
i. menggunakan gerakan tubuh untuk menjelaskan sesuatu
5. Aktivasi j. Siswa saling berdiskusi mengenai materi yang dipelajari
6. Demonstrasi k. Melakukan praktek langsung kepada siswa dengan menjawab contoh soal di papan tulis.
8. Tinjauan ulang l. Membuat kesimpulan m. Evaluasi dengan tes
C. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu30.
Secara umum hasil belajar selalu di pandang sebagai perwujudan yang di peroleh siswa melalui proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran ada dua jenis penilaian yang dapat digunakan yaitu penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung yang tujuannya untuk menilai sikap siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Sedangkan penilaian hasil dilakukan berdasarkan hasil belajar siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.
30 Nana Sudjana, penilaian hasil belajar mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001) h. 3