Batupasir, berwarna coklat kusam, kondisi agak lapuk ukuran butir pasir sedang, sub
rounded, pemilahan baik, kemas tertutup, porositas baik, nonkarbonatan.
Batulempung, abuabu gelap, karbonatan.
3.2.5 Lintasan E
Lintasan E (Gambar 3.8) merupakan lintasan yang paling timur dari daerah penelitian, lintasan ini kirakira menempuh jarak ± 5 km. Pengamatan dilakukan mulai dari lokasi KE01 di utara hingga berakhir di lokasi KE04 di selatan daerah penelitian.
KE04 KE 05
KE02 KE06
KE07
KE08
KE 01 KE09
KE10
KE03
36 43 43
U S
S U
Gambar 3.8 Sketsa Penampang Lintasan E
Dalam lintasan E dapat diamati singkapansingkapan batuan sedimen berlapis, dengan kedudukan lapisan batuan di utara kurang lebih N258ºE/36ºN dan kedudukan lapisan batuan di selatan kurang lebih lebih N80ºE/43ºS. Singkapan batuan yang dapat diamati pada lintasan ini mulai dari utara hingga ke selatan adalah berupa perlapisan batupasir
batulempung dan batupasir sisipan konglomerat.
Lokasi pengamatan untuk singkapan perlapisan batupasirbatulempung, adalah pada lokasi KE01 (Foto 3.13). Pada lokasi ini singkapan berada pada dinding tebing dari sungai kering berarah utaraselatan. Pada lokasi ini dapat diamati litologi batupasir dan batulempung dan dengan kedudukan lapisan N258ºE/36ºS.
Foto 3.13 Singkapan batuan pada lokasi KE01
Batupasir, berwarna coklat kusam, kondisi agak lapuk, ukuran butir pasir sedang, subrounded, pemilahan baik, kemas tertutup, porositas baik, nonkarbonatan.
Batulempung, abuabu gelap, karbonatan.
Sedangkan pada bagian selatan dari daerah penelitian, singkapan dapat diamati pada lokasi KE02. Pada lokasi ini, singkapan berada pada dasar jalan perkampungan berarah barattimur. Kedudukan lapisan batuan pada singkapan ini adalah N80ºE/43ºN dengan litologi berupa batupasir sisipan konglomerat.
Batupasir, berwarna putih kecoklatan atau abuabu gelap, ukuran butir pasir sangat halus hingga pasir sedang, semen nonkarbonatan dan setempat kerbonatan, sering dijumpai sifat tufaan, kandungan cangkang moluska atau nodul pada bagianbagian tertentu, dengan struktur sedimen yang berkembang adalah: paralel laminasi, ripple, lenticular, wavy, flaser dan graded bedding.
Konglomerat, warna coklat terang, dengan fragmen polimik, berupa andesit berukuran kerikil atau setempat dijumpai cangkang moluska, matriks pasir sedangkasar, kemas terbuka dengan setempat kemas tertutup, pemilah buruk, rounded, porositas baik – buruk, karbonatan, dijumpai pula struktur sedimen cross bedding.
Batulempung, berwarna abuabu gelap atau putih kusam, nonkarbonatan dan setempat karbonatan, sering dijumpai sifat tufaan pada bagianbagian tertentu, kadangkadang mengandung cangkang moluska.
3.3 Stratigrafi Daerah Penelitian
Berdasarkan hasil pengamatan pada lintasan geologi, maka stratigrafi daerah penelitian dapat dikelompokan menjadi 3 (tiga) satuan batuan tidak resmi, yaitu: Satuan Batulempung karbonatan, Satuan Batulempung karbonan dan Satuan Batupasir (Gambar 3.9).
Gambar 3.9 Kolom stratigrafi umum daerah penelitian
3.3.1 Satuan Batulempung karbonatan 3.3.1.1 Penyebaran dan Ketebalan
Satuan ini berada pada bagian tengah dari daerah penelitian, dengan penyebaran memanjang berarah barattimur. Satuan ini menempati + 20% dari luas daerah penelitian.
Pada peta geologi satuan ini diberi warna hijau muda (Foto 3.14 dan lampiran E3).
Satuan ini memiliki kedudukan jurus lapisan secara umum berarah barattimur dengan kemiringan lapisan ke arah utara di bagian utara dan ke arah selatan di bagian selatan sebesar 20º40º. Satuan ini tersingkap dengan baik di sebelah utara perumahan kota damai
pada daerah pertambangan galian c. Ketebalan satuan ini diperkirakan lebih dari 165 meter berdasarkan pengukuran penampang geologi.
Foto 3.14 Singkapan batuan satuan batulempung karbonatan
3.3.1.2 Ciri Litologi
Satuan ini disusun oleh litologi berupa batulempung dengan sisipan batugamping dan batulanau. Pada satuan ini juga banyak dijumpai nodul batulempung yang masif, sangat keras dan karbonatan.
Pada bagian bawah satuan ini didapatkan batulempung dengan sisipan batulanau (Foto 3.15 dan 3.16), batulempung, warna abuabu kebiruan, masif, karbonatan, mengandung banyak formaninifera kecil, ditemukan juga cangkang moluska dari kelas pelecypoda. Sisipan batulanau, warna abuabu kebiruan, masif, karbonatan, mengandung banyak foraminifera kecil.
Foto 3.15 Singkapan batuan satuan batulempung karbonatan
Pada bagian atas satuan ini didapatkan sisipan batugamping, berupa batugamping klastik (lihat Lampiran A), kalkarenit (Grabau, 1962 dalam Koesoemadinata, 1985), masif, ukuran butir pasir kasar, pemilahan baik, kemas tertutup.
Foto 3.16 Singkapan sisipan batugamping pada satuan batulempung karbonatan
3.3.1.3 Umur, Lingkungan dan Mekanisme Pengendapan
Berdasarkan analisis mikropaleontologi (Lampiran B) didapatkan spesies–spesies foraminifera plankton berupa Globoquadrina altispira dan Globorotalia tosaensis, sehingga menurut Blow (1969) dalam Bolli, et al. (1985) didapatkan kisaran umur dari Satuan Batulempung Karbonatan ini adalah Pliosen Atas (N21). Sedangkan keberadaan foraminifera bentos yang ditemukan adalah Cancris auriculus, Hyalinea sp. Lagena sulcata peculiaris dan Stilostomella sp. sehingga menurut Murray (1991) satuan ini diendapkan pada lingkungan neritik tengah.
Satuan Batulempung Karbonatan terdiri atas batuan sedimen klastik halus yang diendapkan dengan pada arus tenang. Satuan ini diendapkan dengan mekanisme suspensi pada lingkungan pengendapan marin.
3.3.1.4 Hubungan dan Kesebandingan Stratigrafi
Berdasarkan ciri litologi dari Satuan Batulempung Karbonatan ini, maka satuan ini dapat disebandingkan dengan Formasi Kalibeng Atas (Duyfjes, 1936) atau Formasi Sonde (Pringgoprawiro, 1983). Hubungan satuan ini dengan satuan dibawahnya tidak dapat diketahui karena tidak tersingkap di daerah penelitian.
3.2.2 Satuan Batulempung Karbonan 3.3.2.1 Penyebaran dan Ketebalan
Satuan ini berada bagian dalam utara dan selatan dari daerah penelitian, dengan penyebaran memanjang ke arah barattimur. Satuan ini menempati + 20% dari luas daerah penelitian. Pada peta geologi satuan ini diberi warna hijau tua (lampiran E3).
Satuan ini memiliki kedudukan jurus lapisan secara umum berarah barattimur dengan kemiringan lapisan sebesar 20°40°. Satuan ini tersingkap dengan baik pada anak sungai S. Banyuurip, di sebelah selatan perumahan Kota Damai. Berdasarkan pengukuran penampang geologi, diperkirakan ketebalan satuan ini adalah ± 272 meter.
3.3.2.2 Ciri Litologi
Satuan ini disusun oleh litologi berupa batulempung karbonan berwarna kehitaman (Foto 3.17). Batulempung, warna abuabu kehitaman, masif, nonkarbonatan, karbonan, mengandung foraminifera kecil.
Foto 3.17 Singkapan batuan pada satuan batulempung karbonan
3.3.2.3 Umur, Lingkungan dan Mekanisme Pengendapan
Berdasarkan analisis mikropaleontologi (Lampiran B), pada satuan ini hanya didapatkan satu spesies foraminifera plankton berupa Sphaerodinella dehiscens, yang memiliki rentang umur yang panjang (N23 hingga N12) sehingga diperkirakan umur satuan ini sama dengan satuan sebelumnya (N21) atau lebih muda (N22) berdasarkan hukum superposisi. Sedangkan foraminifera bentos yang ditemukan berupa Ammonia becarii, Bullimina sp. dan Elphidium sp. menunjukkan lingkungan pengendapan neritik dangkal.
Satuan Batulempung Karbonan ini terdiri atas batuan sedimen klastik halus yang diendapkan dengan pada arus tenang. Satuan ini diendapkan dengan mekanisme suspensi pada lingkungan pengendapan marin.
3.3.2.4 Hubungan dan Kesebandingan Stratigrafi
Berdasarkan ciri litologi dari satuan batulempung karbonatan ini, maka satuan ini dapat disebandingkan dengan Formasi Pucangan Fasies Marin (Duyfjes, 1936) atau Formasi Pucangan Bawah (Pringgoprawiro, 1983). Hubungan satuan ini dengan satuan dibawahnya adalah selaras.
3.3.3 Satuan Batupasir
3.3.3.1 Penyebaran dan Ketebalan
Satuan ini berada pada bagian luar, utara dan selatan dari daerah penelitian, dengan penyebaran memanjang ke arah barattimur. Satuan ini menempati + 60% dari luas daerah penelitian. Pada peta geologi satuan ini diberi warna kuning (lampiran E3).
Satuan ini memiliki kedudukan jurus lapisan secara umum berarah barattimur dengan kemiringan lapisan sebesar 21°43° (Foto 3.18). Satuan ini tersingkap dengan baik
disepanjang torehan jalan, dan proyek pembangunan perumahan di Dusun Karangandong, Dusun Karangasem, Dusun Mojosari dan Dusun Tanjungan. Ketebalan satuan ini diperkirakan ±776 meter.
Foto 3.18 Singkapan perlapisan batupasir dan batulempung pada satuan batupasir
3.3.3.2 Ciri Litologi
Satuan ini disusun oleh litologi berupa batupasir, batupasir tufaan, batulempung, batulempung tufaan, konglomerat dan sisipan batugamping coquina. Pada satuan ini juga banyak ditemukan fosil cangkang moluska (Foto 3.19).
Pada bagian bawah satuan ini didapatkan, perselingan tipis dari batupasir tufaan dan batulempung tufaan, kemudian di atasnya diendapkan perselingan batupasir tufaan dan batulempung tufaan yang lebih tebal, konglomerat, batupasir hingga diendapkan batugamping coquina. Batulempung tufaan berwarna putih kecoklatan, nonkarbonatan, kompak (Foto 3.19 d). Batupasir tufaan, warna coklat terang, ukuran butir pasir halus hingga sedang, butir sub
angular – subrounded, kemas tertutup, porositas baik, pemilahan baik, nonkarbonatan (Foto 3.19 d), lapisan tertentu banyak dijumpai cangkang moluska. konglomerat berwarna hitam dengan fragmen monomik batuan beku andesitis dan matriks berupa pasir kasar (Foto 3.19 a).
Sedangkan batugamping coquina (lihat Lampiran A), berwarna abuabu, masif, kompak, terdiri dari cangkangcangkang moluska sebagai fragmen dalam matrix pasir sedanghalus, terpilah buruk. Sekurangkurangnya terdapat 3 genus moluska dalam batugamping coquina ini, yaitu : Placuna sp., Anadara sp. dan Trisidos sp. (Foto 3.19 e).
Sedangkan pada bagian atas dari satuan ini, didapatkan batupasir dengan sisipan konglomerat. Batupasir (lihat Lampiran A), berwarna coklat terang, ukuran butir sedang
kasar, butir subangular, pemilahan baik, kemas tertutup, porositas sedang, nonkarbonatan.
Dan konglomerat (lihat Lampiran A) berwarna coklat terang, dengan fragmen monomik batuan beku andesitis dan matriks berupa pasir kasar.
Struktur sedimen yang berkembang pada satuan ini berupa paralel lamination, flaser, wavy, lenticular, graded bedding dan cross bedding (Foto 3.19 b, c, d dan f)
a.) Konglomerat dengan kontak erosional pada bagian bawahnya
c.) Batupasir dengan struktur sedimen planar crossbedding
e.) Batugamping coquina yang tersusun atas fragmen moluska
b.) Struktur sedimen planar crossbedding dan paralel laminasi
d.) Batupasir dengan struktur flaser
f.) Batulempung dengan struktur berlapis
Foto 3.19 Singkapan pada Satuan Batupasir
3.3.3.3 Umur, Lingkungan dan Mekanisme Pengendapan
Berdasarkan analisis mikropaleontologi (Lampiran B), pada conto batulempung dan batulempung tufaan yang diambil dari satuan ini didapatkan foraminifera plankton berupa Globorotalia tosaensis dan Sphaerodinella dehiscens, yang memiliki rentang umur N21N22.
Berdasarkan analisis foraminifera plankton dan posisi stratigrafinya maka umur satuan ini
diperkirakan adalah N21. Sedangkan foraminifera bentos yang ditemukan berupa Triloculina trigonula, Quinqueloculina reticulata, Quinqueloculina biscotoides vella, Quenquiloculina lamarckiana, Operculina complanata, Eponides procerus, Elphidium sp., Cibicides sp., Asterorotalia multispina, Ammonia yabei, Ammonia anectens menunjukkan lingkungan pengendapan neritik dangkal hingga transisi.
Satuan Batupasir ini terdiri atas batuan sedimen klastik kasar dengan struktur sedimen yang berkembang berupa paralel lamination, flaser, wavy, lenticular, graded bedding dan cross bedding. Sedimen dengan butiran yang kasar dengan struktur sedimen cross bedding menunjukan bahwa sedimen tersebut diendapkan dengan mekanisme arus traksi pada lingkungan dengan energi yang tinggi. Sedangkan struktur sedimen paralel lamination menunjukan arus dengan energi yang lemah. Berkembangnya struktur sedimen flaser, wavy dan lenticular menunjukan adanya arus yang berubahubah antara arus traksi dan pengendapan secara suspensi. Berdasarkan interpretasi mekanisme pengendapan dan kandungan foraminifera kecil, dapat disimpulkan bahwa satuan ini diendapkan pada daerah transisi. Arah sedimentasi ditafsirkan menuju ke utara dengan sumber sedimen berasal dari selatan, hal ini berdasarkan kondisi geologi regional daerah penelitian.
Kandungan material vulkanik pada satuan ini berupa tufa, fragmen litik andesit, pumice dan sifat tufaan diperkirakan berasal dari aktifitas vulkanisme berumur kuarter. Hal ini didasarkan pada hubungan antara umur satuan dan aktifitas vulkanik yang terjadi pada kala itu. Sumber vulkanik tersebut diperkirakan berasal dari kompleks gunung api Arjuna
WelirangArgopuro berumur kuarter yang berada kirakira 40 km di selatan daerah penelitian.
3.3.3.4 Hubungan dan Kesebandingan Stratigrafi
Berdasarkan ciri litologi dari satuan batupasir ini, maka satuan ini dapat disebandingkan dengan Formasi Pucangan Fasies Gunung Api (Duyfjes, 1936) atau Formasi Pucangan Atas (Pringgoprawiro, 1983). Hubungan satuan ini dengan satuan dibawahnya adalah selaras.
3.4 Struktur Geologi Daerah Penelitian 3.4.1 Interpretasi Struktur Geologi
Berdasarkan analisis kelurusan pada daerah penelitian, maka didapatkan pola kelurusan bukit dan pola kelurusan sungai (Gambar 3.10) yang digambarkan dalam diagram bunga. Pola kelurusan bukit yang dominan yaitu pada arah E – W yang ditafsirkan sebagai arah jurus kedudukan lapisan dan sumbu perlipatan. Sedangkan pola kelurusan sungai yang berkembang adalah pada arah NNWSSE, WNWESW, NESW dan ENEWSW yang ditafsirkan sebagai kedudukan rekahan dan sesar sebagai bidangbidang lemah (Gambar 3.11).
'
Keterangan :
Kelurusan bukit Kelurusan sungai
Gambar 3.10 Kelurusan pada Peta Topografi
5 5
5
5 10
10
10
10 15
15
15
15 20
20
20
20 25
25
25
25
0
45
90
135
180
225 270
315
a.) Diagram bunga kelurusan bukit
0
30
60
90
120
15 180 0
21 0 240 270
300 330
b.) Diagram bunga kelurusan sungai Gambar 3.11 Diagram bunga kelurusan bukit dan kelurusan lembah
3.4.2 Analisis Struktur Geologi
Berdasarkan pengamatan di daerah penelitian, maka struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian adalah berupa antiklin dan sesar geser mengiri (lihat Lampiran C).
3.4.2.1 Antiklin Guyangan
Antiklin ini terletak di tengah daerah penelitian, dengan sumbu antiklin berarah barat timur. Puncak antiklin ini dapat diamati dengan baik, di sebelah utara perumahan Kota Damai
pada daerah pertambangan bahan galian c. Gejala struktur antiklin ini dapat diamati dengan adanya perubahan kedudukan lapisan yaitu N35ºE/ 35ºSE dan N250º E/ 20ºNW.
Foto 3.20 Singkapan yang menunjukan sumbu antiklin
Berdasarkan analisa dinamik (lihat Lampiran C) dari antiklin guyangan ini, didapatkan besar sayap antiklin N79ºE/42ºS dan N281ºE/30º N, bidang sumbu N268ºE/85ºN serta sumbu antiklin 7º E, N87ºE (Foto 3.20). Berdasarkan analisa dinamik ini, didapatkan arah tegasan utamanya adalah berarah relatif utara – selatan.
3.4.2.2 Sesar Kedamean
Sesar ini merupakan sesar geser mengiri yang memotong struktur antiklin. Sesar ini berarah NESW dan memanjang dari selatan, mulai dari Desa Karangandong, Desa Mojosarirejo hingga Desa Wedoroanom di Utara. Sesar ini ditafsirkan melalu interpretasi citra satelit dan peta topografi serta pengukuran kekar gerus di lapangan.
Secara kuantitatif pada diagram bunga (lihat Gambar 3.30 b) didapatkan kelurusan yang berarah NESW, kemudian pada pola aliran sungai (lihat Gambar 3.1) terjadi pergeseran garis pemisah air yang arah pergeserannya mengiri. Begitu pula pada citra satelit (lihat Gambar 3.4), terlihat nampak adanya pergeseran kelurusan yang berarah barattimur. Pada model elevasi digital (lihat Gambar 3.5) terlihat punggungan yang dipisahkan oleh kelurusan lembah yang berarah NESW. Pada pengamatan di lapangan juga dijumpai gejala struktur berupa flexure (Foto 3.21) dan shear fracture (Foto 3.22).
Foto 3.21 Singkapan yang menunjukan adanya flexure
Foto 3.22 Shear fracture pada batupasir
Berdasarkan analisis kinematik dan dinamik (lihat Lampiran C) dari Sesar Kedamean ini, maka didapatkan kedudukan bidang sesar yaitu N32ºE/57ºNW dengan arah pergerakan 32º, N136ºE dan pitch 25º. Menurut arah pergerakannya, sesar ini dinamakan sesar mengiri turun. Berdasarkan analisis dinamik ini didapatkan arah tegasan utamanya relatif utara – selatan.