• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Air merupakan sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan bagi kehidupan mahkluk hidup. Mahkluk hidup terutama manusia tidak dapat melepaskan ketergantungannya pada air. Pemanfaatan sumberdaya air sudah seharusnya dilakukan dengan bijaksana agar keberadaannya tetap lestari, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Sumber air yang dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan berasal dari sungai, airtanah dan danau/waduk. Salah satu sumber air yang dimanfaatkan oleh manusia adalah danau yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Kawasan Dataran Tinggi Dieng memiliki danau kawah yang sudah mati dan kemudian terisi oleh air sehingga menjadi danau yang dapat dimanfaatkan oleh manusia (Kusumawati, 2010), salah satunya adalah Danau Merdada (Gambar 1.1).

Danau sendiri merupakan perairan lentik dengan sirkulasi yang lambat karena pergerakan arusnya lambat (Barus, 2002). Danau Merdada yang terletak di kawasan Dataran Tinggi Dieng terbentuk akibat hasil aktivitas vulkanik. Menurut klasifikasi Shaw, dkk. (2004), Danau Merdada merupakan groundwater drainage lake karena hanya memiliki outlet berupa saluran kecil, tanpa memiliki inlet

sehingga masukan air danau hanya berasal dari rembesan air tanah dan hujan. Outlet Danau Merdada hanya akan terisi air pada saat musim penghujan karena adanya peningkatan volume danau oleh air hujan dan tidak adanya penurapan air danau.

Saat musim kering, outlet tersebut juga akan kering karena letaknya yang lebih tinggi dari permukaan danau.

Kegiatan pertanian merupakan mata pencaharian utama bagi masyarakat

Dieng. Hal tersebut dikarenakan tanah vulkanik Dieng yang subur sehingga

pertanian Dieng berkembang dengan pesat. Pertanian yang ada di Dieng dapat

ditemukan hampir di seluruh kawasan Dieng, salah satunya di sekitar Danau

Merdada. Wilayah sekitar Danau Merdada dikelilingi oleh lereng bukit yang telah

dijadikan lahan pertanian (Gambar 1.2). Danau Merdada digunakan sebagai sumber

(2)

2

air untuk kegiatan pertanian yang berada di sekitarnya, selain itu air danau juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga oleh masyarakat sekitar.

Irigasi dilakukan dengan melakukan pemompaan pada air di Danau Merdada kemudian mengalirkannya dengan menggunakan peralon-peralon ke lahan pertanian di sekitar Danau Merdada seperti yang terlihat pada Gambar 1.3, sedangkan masyarakat yang menggunakan air danau untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga hanya menggunakan paralon dan menerapkan konsep kapilaritas air.

Kegiatan pertanian yang intensif di sekitar Danau Merdada ini menimbulkan permasalahan yang tidak bisa dihindari berupa erosi tanah, sedimentasi dan pendangkalan Danau Merdada, serta berpotensi menurunkan kualitas air pada Danau Merdada.

Gambar 1.1 Danau Merdada (Sumber : Survei Lapangan, 2014)

Gambar 1.2 Lahan Pertanian di Sekitar Danau Merdada

(Sumber : Survei Lapangan, 2014)

Gambar 1.3 Peralon Penyalur Air Irigasi

(Sumber : Survei Lapangan, 2014)

(3)

3

Pertanian kentang yang intensif membuat tanah berkurang kesuburannya.

Hal tersebut menyebabkan perlunya penggunaan pupuk untuk menambah kesuburan tanah sehingga tanaman kentang dapat tumbuh dengan baik, akan tetapi pupuk tersebut menjadi limbah pertanian. Morfologi di sekitar Danau Merdada menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas air di Danau karena dapat mempengaruhi proses limnologi yang terjadi (Welch, 1948). Morfologi di sekitar danau yang berbukit dengan lereng yang cukup curam membuat limbah tersebut menjadi limpasan dan masuk ke danau. Hal tersebut berpotensi membuat danau menjadi tercemar. Air yang tercemar tentunya akan menyebabkan kerugian dari segi produktivitas air. Limbah yang masuk ke dalam danau akan cenderung mengendap dan tidak mengalir sehingga apabila hal tersebut akan menyebabkan sedimentasi atau pendangkalan danau, serta berpotensi menurunkan kualitas air danau. Hal tersebut berbahaya bila terus menerus dibiarkan tanpa adanya penanganan khusus. Pergerakan air danau yang kecil juga akan menghambat pemulihan alami air danau. Danau memiliki karakteristik yang khas. Perairan danau cenderung lebih statis, pergerakannya tidak banyak (Ji, 2008).

Davis dan Cornwell (1991) dalam Effendi (2003) mengemukakan bahwa limbah pertanian merupakan jenis limbah dengan sumber tidak menentu. Jenis pencemar yang dibawa dari limbah pertanian adalah limbah yang dapat menurunkan kadar oksigen, nutrien, pathogen, sedimen, garam dan bahan organik beracun. Limbah pertanian akan menimbulkan penurunan produktivitas air danau dari segi kualitas airnya. Kondisi kualitas air dapat digunakan untuk menentukan status mutu air berdasarkan baku mutu air yang telah dietapkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001. Status mutu air tersebut menunjukkan kondisi air apakah dalam keadaan tercemar atau tidak tercemar setelah dibandingkan dengan baku mutu air sesuai dengan peruntukannya.

Menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 28 Tahun

2009, daya tampung beban pencemaran air danau dan/atau waduk adalah

kemampuan air danau dan air waduk untuk menerima masukan beban pencemaran

tanpa mengakibatkan air danau dan air waduk menjadi cemar. Beban pencemaran

(4)

4

yang sanggup diterima oleh Danau Merdada perlu diperhitungkan agar dapat diketahui sampai batas mana pencemaran air dapat ditampung oleh Danau Merdada. Hal tersebut kemudian dapat digunakan sebagai landasan dalam penentuan kebijakan yang dapat diambil oleh pemerintah setempat untuk mengelola Danau Merdada agar tetap dapat bermanfaat bagi wilayah sekitarnya.

1.2.Rumusan Masalah

Kondisi kualitas air pada Danau Merdada yang terjadi akibat adanya pertanian intensif perlu diketahui. Kegiatan pertanian di sekitar wilayah Danau Merdada menggunakan air yang dipompa dari Danau Merdada untuk keperluan irigasi. Lokasi danau yang terletak pada lembah perbukitan dengan lahan pertanian hampir menutupi perbukitan tersebut menjadi salah satu penyebab terjadinya erosi tanah dan juga pencemaran air Danau Merdada. Erosi tanah dapat menyebabkan pendangkalan pada danau, sedangkan limbah yang masuk ke dalam danau akan mempengaruhi produktivitas air Danau Merdada. Berangkat dari hal tersebut perlu dilakukan kajian mengenai daya tampung beban pencemaran Danau Merdada untuk mengetahui kemampuan danau menerima masukan pencemaran tanpa mengakibatkan danau tersebut menjadi cemar. Berdasarkan pemikiran tersebut maka dapat dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut.

1. Bagaimana kondisi kualitas air Danau Merdada dengan adanya kegiatan pertanian yang intensif?

2. Bagaimana kondisi status mutu air Danau Merdada dengan adanya kegiatan pertanian intensif di sekitarnya?

3. Berapa beban pencemaran yang dapat ditampung Danau Merdada?

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang sudah disampaikan tersebut

maka penelitian yang akan dilakukan ini berjudul “Kajian Daya Tampung

Pencemaran Danau Merdada di Kecamatan Dieng Kabupaten

Banjarnegara”.

(5)

5

1.3.Tujuan Penelitian

Mengacu pada permasalahan yang telah dijabarkan, maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut.

1. Mengetahui kondisi kualitas air Danau Merdada yang telah terpengaruh dengan adanya kegiatan pertanian intensif di sekitarnya.

2. Mengetahui kondisi status mutu air Danau Merdada berdasarkan hasil uji kualitas air yang telah terpengaruh dengan adanya kegiatan pertanian intensif di sekitarnya.

3. Mengkaji daya tampung Danau Merdada terhadap pencemaran yang diakibatkan oleh kegiatan pertanian intensif.

Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan, maka dapat diketahui sasaran penelitian yang akan dilakukan meliputi parameter yang mempengaruhi daya tampung beban pencemaran Danau Merdada.

1.4.Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki manfaat untuk mengetahui kualitas air danau yang dipengaruhi oleh kegiatan pertanian di sekitar Danau Merdada serta mengetahui status mutu dan daya tampung beban pencemaran yang tidak menyebabkan danau dikategorikan sebagai danau yang cemar. Penelitian mengenai danau tidak terlalu banyak dilakukan, oleh karena itu penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu referensi terkait penelitian mengenai danau di Indonesia.

1.5.TINJAUAN PUSTAKA 1.5.1. Danau

Danau merupakan wilayah perairan yang airnya cenderung stagnan atau

tidak mengalami pergerakan yang dinamis. Pergerakan air pada danau jauh lebih

kecil daripada pergerakan air di sungai sehingga danau memiliki pola sirkulasi serta

proses pencampuran material yang kompleks dipengaruhi oleh kondisi geometri,

stratifikasi vertical, hidrologi dan meteorologinya (Ji, 2008). Danau merupakan

perairan lentik yang merupakan perairan dengan kecepatan arus yang lambat, oleh

karena itu terjadi sirkulasi air terjadi pada waktu yang cukup yang cukup panjang

(6)

6

(Barus, 2002). Menurut Welch (1952), Danau merupakan perairan luas yang terpisah dari lautan dan memiliki area yang cukup luas serta kedalaman yang cukup untuk memicu angin yang dapat menimbulkan gelombang pada danau.

Menurut pembentukannya, danau dibagi menjadi dua, yaitu danau yang terbentuk dari proses destruktif dan konstruktif (Davis, 1882 dalam Loffer, 2004).

Menurut Loffer (2004), danau diklasifikasikan menurut cara terbentuknya sebagai berikut :

a. Danau tektonik terbentuk karena adanya pergerakan lempeng tektonik.

b. Danau vulkanik terbentuk karena adanya aktivitas gunungapi, biasanya membentuk danau kaldera atau kawah.

c. Danau yang terbentuk karena adanya longsoran.

d. Danau yang terbentuk karena aktivitas glasial

e. Danau karst yang terbentuk karena proses solusional

f. Danau fluvial, danau yang berada di dataran banjir dan di daerah delta biasanya merupakan bekas sungai.

g. Danau pesisir memiliki material pesisir, tetapi tidak terhubung dengan delta.

h. Danau yang terbentuk karena deflasi.

i. Danau yang terbentuk karena adanya akumulasi tumbuhan dan karena aktivitas hewan.

j. Waduk yang merupakan buatan manusia.

k. Danau yang terbentuk karena ada meteorit besar yang jatuh dan membentuk cekungan yang akhirnya terisi air.

Welch (1952) mengklasifikasikan pembentukan danau sesuai dengan tempat terbentuknya dan material yang membentuknya. Pembentukan danau dapat berasal dari adanya aktivitas glasial, adanya longsor yang merusak lembah, pelarutan pada daerah solusional sehingga membentuk cekungan, pergerakan lempeng bumi yang mengakibatkan terbentuknya basin pada sebuah daerah, kawah pada gunungapi dan aktivitas yang ditimbulkan oleh sungai seperti pembentukan oxbow lake.

Morfologi danau merupakan salah satu karakteristik utama danau yang

dapat langsung mempengaruhi proses yang berlangsung pada sebuah danau.

(7)

7

Pengukuran aspek morfologi disebut morfometri. Pengukuran morfologi tersebut diperlukan untuk mengetahui hubungan antara morfologi dengan fenomena proses limnologi yang terjadi (Welch, 1948). Morfologi dan morfometri danau berpengaruh pada waktu tinggal air, persebaran sedimen, stratifikasi, produktifitas dan suspensi yang pada di danau serta berpengaruh terhadap kualitas air danau (Moses, dkk. 2011). Tipe morfologi danau menurut Loffer (2004) adalah sebagai berikut :

a. Berbentuk lingkaran b. Berbetuk sub lingkaran c. Berbentuk elipse d. Berbentuk agak kotak e. Berbentuk seperti bulan f. Berbentuk segitiga g. Danau dendritik

h. Berbentuk tidak teratur

Morfometri juga dapat mempengaruhi proses yang terjadi di dalam danau dan mempengaruhi kualitas air danau. Morfometri danau meliputi pengukuran panjang, lebar, kedalaman, luas area, volume, keliling garis pantai dan perkembangan pantai.

Danau dapat diklasifikasikan berdasarkan sumber airnya. Menurut Shaw, dkk. (2004), terdapat empat tipe danau yakni :

a. Seepage Lake

b. Groundwater Drainage Lake c. Drainage Lake

d. Impoundment

Seepage lake merupakan danau yang tidak memiliki saluran input maupun output.

Masukan danau ini berasal dari hujan, limpasan dan airtanah. Groundwater drainage lake merupakan danau alami yang sumber airnya berasal dari airtanah,

limpasan dan hujan. Danau tersebut memiliki oulet, tetapi tidak memiliki saluran

masuk. Danau dengan tipe drainage memiliki outlet sebagai saluran keluarnya air

dan inlet yang berfungsi sebagai saluran masuk air. Tipe yang terakhir merupakan

(8)

8

impoundment. Danau tersebut berfungsi sebagai bendungan, biasanya merupakan danau buatan manusia atau lebih sering dikenal dengan sebutan waduk.

1.5.2. Kualitas Air

Kualitas air merupakan kondisi tubuh air berdasarkan komposisi sifat fisik, kimia dan biologinya yang berhubungan dengan tujuan penggunaan air pada tubuh air tersebut (USDA, 2003). Kondisi kualitas air tidak hanya dipengaruhi oleh limbah hasil kegiatan manusia yang masuk ke tubuh air, tetapi juga dipengaruhi oleh keberadaan sedimen pada tubuh air, selain itu faktor lingkungan seperti iklim, kondisi geologi, proses pelapukan dan vegetasi juga dapat mempengaruhi kualitas

Seepage Lake Groundwater

drainage lake

Drainage Lake Impoundment

Gambar 1.4. Tipe Danau Berdasarkan Sumber Air

(Sumber : Shaw, dkk, 2004)

(9)

9

air dan membuat variasi spasial kualitas air di dunia (Davie, 2008). Air merupakan kebutuhan utama bagi kehidupan, untuk itu diperlukan adanya pengelolaan kualitas air. Pemantauan kualitas air merupakan salah satu bentuk pengelolaan kualitas air (Sanders, 1983 dalam USDA, 2003). Tujuan pemantauan kualitas air menurut USDA (2003), yakni sebagai berikut :

a. Menganalisis perubahan kualitas air yang terjadi dari waktu ke waktu b. Menentukan wilayah yang kualitas airnya berada dalam tahap kritis c. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas air

d. Mengukur efektifitas dari tindakan konservasi yang telah dilakukan e. Validasi dan kalibrasi

f. Penelitian

g. Mengetahui masalah kualitas air agar dapat ditentukan langkah konservasi yang harus dilakukan.

Menurut Mason (1993 dalam Effendi, 2003), Pemantauan kualitas air bertujuan untuk mengukur pengaruh pencemaran terhadap lingkungan, mengetahui kualitas air pada suatu tempat dan mengetahui hubungan antara variabel ekologi dengan kualitas airnya Indikator kualitas air yang diukur terbagi dalam tiga parameter, yakni parameter fisik, kimia dan biologi. Parameter fisik yang diukur adalah Debit, total suspended solid, total dissolved solid, suhu dan kekeruhan.

Parameter kimia yang diukur adalah pH, DO, BOD, COD, fosfat, sulfat, sedangkan parameter biologinya adalah bakteri koli. Setiap parameter di atas akan menggambarkan kondisi kualitas air pada Danau Merdada.

Parameter Fisik 1. Suhu

Temperatur dalam suatu ekosistem air akan mengikuti pola temperatur udara di sekitarnya serta dipengaruhi oleh faktor ketinggian geografis suatu daerah (Barus, 2002). Suhu mempengaruhi proses yang terjadi pada badan air, biasanya suhu air tercemar akan lebih tinggi daripada suhu pada badan air yang tidak tercemar. Kondisi suhu akan mempengaruhi jumlah oksigen terlarut di dalam air (Fardiaz, 1992).

2. Total Suspended Solid (TSS)

(10)

10

TSS terdiri atas lumpur, pasir halus serta jasad renik yang disebabkan oleh erosi yang terbawa ke badan air. TSS ini dapat mengurangi penetrasi cahaya ke dalam air, mempengaruhi kekeruhan dan kecerahan badan air (Fardiaz, 1992)

3. Total Dissolved Solid (TDS)

Total Dissolved Solid atau TDS terdiri dari mineral, garam, kation atau anion berupa material padat yang terlarut di dalam air. TDS biasanya terjadi air melewati tanah atau batu sehingga air bercampur dengan kandungan mineral, garam, kation atau anion dari material yang dilewatinya (Spellman, 2009).

4. Kekeruhan

Kekeruhan perairan biasanya disebabkan oleh TSS. Semakin tinggi nilai kekeruhan akan mengurangi efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan air (Effendi, 2003). Hal tersebut juga mempengaruhi terjadinya hamburan dan penyerapan cahaya (Spellman, 2008).

Parameter Kimia 1. pH

pH menggambarkan tingkat keasaman atau kebasaan suatu perairan. Apabila pH bernilai 7 berarti netral, apabila pH di bawah 7 berarti dinyatakan asam, sedangkan di atas 7 berarti kondisi perairannya bersifat basa. Nilai pH dapat mempengaruhi senyawa kimia dan toksisitas dari unsur renik (Effendi, 2003).

2. Biochemical Oxygen Demand (BOD)

BOD merupakan jumlah zat oksigen yang digunakan untuk mengoksidasi zat organic dalam keadaan aerob. BOD ini adalah salah satu indikator pencemaran zat organik pada perairan (Effendi, 2003).

3. Chemical Oxygen Demand (COD)

COD merupakan jumlah total oksigen yang diperlukan dalam proses oksidasi bahan organic secara kimiawi (Effendi, 2003).

4. Dissolved Oxygen (DO)

(11)

11

DO merupakan kandungan oksigen yang terlarut di dalam perairan. oksigen bebas akan berkurang apabila terdapat limbah di dalam tubuh air. Persentase oksigen terlarut dipengaruhi oleh suhu, salinitas, kedalaman dan planton.

Semakin kecil nilai DO, maka kemampuan air untuk memulihkan diri dari pencemar akan semakin rendah (Effendi, 2003).

5. Fosfat (PO

4

)

Fosfat merupakan limbah yang berasal dari pestisida dan insektisida dari lahan pertanian (Peavy, et al., 1986). Senyawa fosfat terdapat pada perairan dengan kondisi terlarut atau tersuspensi. Pada daerah pertanian, ortofosfat berasal dari sisa material pupuk yang masuk ke badan air melalui sungai dan aliran air hujan. Bahan insektisida bersifat racun apabila masuk ke dalam air dan sulit untuk dipecah kembali (Wardhana, 2001).

Parameter Biologi Bakteri Koli

Bakteri koli merupakan bakteri yang hidup di dalam kotoran manusia atau hewan. Bakteri koli ini banyak terdapat pada pupuk kandang yang diolah dari kotoran hewan (Effendi, 2003).

1.5.3. Status Mutu Air

Status mutu air merupakan kondisi mutu air, yakni kondisi cemar atau tidak

saat dibandingkan dengan peraturan baku mutu air. Menurut Peraturan Pemerintah

Nomor 82 Tahun 2001, klasifikasi mutu air dibedakan menjadi 4 kelas, kelas satu

untuk air baku air minum, kelas dua untuk sarana prasana rekreasi air,

pembudidayaan ikan air tawar, peternakan dan pengairan tanaman. Mutu air kelas

tiga digunakan untuk budidaya ikan air tawar, peternakan dan pengairan tanaman,

sedangkan mutu air kelas empat hanya untuk mengairi tanaman. Berdasarkan

peraturan tersebut, maka status mutu air kelas satu hingga kelas empat dapat

digunakan untuk pengairan tanaman. Penentuan status mutu air biasanya dilakukan

dengan metode STORET dan juga metode Indeks Pencemaran. Metode STORET

adalah metode yang membandingkan antara kualitas air dengan baku mutu air untuk

menentukan status mutu air, sedangkan metode indeks pencemaran menentukan

(12)

12

tingkat pencemaran relatif terhadap kualitas air yang diijinkan. Pengelolaan sumberdaya air dilakukan salah satunya dengan mengetahui kondisi kualitas air pada suatu tubuh air. Salah satunya seperti yang telah diatur pada Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 mengenai status mutu air. Hasil uji laboratorium dan pengukuran lapangan dari semua parameter kemudian dibandingkan dengan baku mutu sesuai dengan kegunaannya (Tabel 1.1) untuk mengetahui kelayakan penggunaan air pada suatu perairan.

Tabel 1.1. Baku Mutu Kelas II

Indikator Baku Mutu Kelas II

TSS (mg/L) 50

TDS (mg/L) 1000

Kekeruhan -

Suhu Deviasi 3

BOD (mg/L) 3

DO (mg/L) 4

pH 6 sd 9

COD (mg/L) 25

Fosfat (mg/L) 0,2

5000 (Sumber : Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001)

1.5.4. Daya Tampung Beban Pencemaran

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 28 Tahun 2009, daya tampung beban pencemaran air danau dan/atau waduk adalah kemampuan air danau dan air waduk untuk menerima masukan beban pencemaran tanpa mengakibatkan air danau dan air waduk menjadi cemar. Berdasarkan peraturan tersebut, perhitungan daya tampung beban pencemaran pada danau perlu dilakukan untuk melakukan pengelolaan kualitas air dan mengendalikan pencemaran air dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup dan sumberdaya air.

Beban pencemaran air akan meningkat seiring dengan adanya pertumbuhan pada

suatu daerah. Kegiatan penduduk akan menambah limbah yang berpotensi untuk

(13)

13

mencemari lingkungan sekitarnya. Daya tampung beban pencemaran yang sanggup diterima oleh Danau Merdada perlu diperhitungkan agar dapat diketahui sampai batas mana pencemaran air dapat ditolerir oleh Danau Merdada. Hal tersebut termasuk dalam pengendalian pencemaran dengan pendekatan kualitas air. Secara sederhana, perhitungan daya tampung beban pencemaran dapat dihitung dengan menggunakan neraca massa sebagai berikut :

DTBP = BCBM – BCT…….……… (1)

DTBP : Daya tampung beban pencemaran

BCBM : Beban pencemar sesuai baku mutu

BCT : Beban cemaran terukur

Perhitungan daya tampung beban pencemaran dikembangkan oleh streeter- Phelps, akan tetapi kebanyakan perkembangannya yang berupa pemodelan- pemodelan yang dilakukan untuk menghitung daya tampung beban pencemaran di sungai. Perhitungan daya tampung beban pencemaran danau dilakukan dengan perhitungan yang telah diatur dalam KEPMEN LH No. 28 Tahun 2009, namun dalam pemodelannya dapat disesuaikan mengingat kondisi setiap danau yang ada berbeda-beda permasalahannya (Machbub, 2010).

Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tampung beban pencemaran pada danau adalah morfometri danau, kualitas air, baku mutu air, alokasi beban pencemar yang masuk ke dalam danau. Morfometri danau yang perlu diukur untuk perhitungan daya tampung beban pencemaran adalah luas danau, volume danau, kedalaman rata-rata, debit keluaran dan laju pergantian air danau, sedangkan kualitas air yang diukur meliputi tiga parameter berupa parameter fisik, kimia dan biologi (Menteri Negara Lingkungan Hidup, 2009).

1.6.Penelitian Sebelumnya

Penelitian sebelumnya yang mengkaji mengenai danau, kualitas air, status

mutu air dan daya tampung beban pencemaran (Tabel 1.2) merupakan acuan untuk

(14)

14

melalukan penelitian ini. Penelitian Susanti, dkk. pada tahun 2013 mengenai status trofik Waduk Manggar Kota Balikpapan dan strategi pengelolaannya menggunakan dua pendekatan, yakni pendekatan kuantitatif untuk menggambarkan kondisi status trofik Waduk Manggar dengan mengambil sampel air dan mengujinya di laboratorium. Parameter yang diuji adalah nitrogen, fosfor dan klorofil-a.

Pendekatan kualitatif dilakukan untuk melakukan wawancara kepada keyperson untuk menganalisa strategi kebijakan pengelolaan Waduk Manggar. Hasil penelitian ini adalah status trofik Waduk Manggar adalah mesotropik dan eutrofik ringan, sedangkan strategi kebijakan pengelolaan yang dapat diterapkan adalah konservasi daerah hulu, relokasi serta pembatasan kegiatan masyarakat, pembentukan badan pengelola DAS Manggar, pembersihan waduk dari akasia dan salvinia, pembuatan cek DAM. Setahun sebelumnya, yakni pada tahun 2012, Susanti, dkk. melakukan penelitian kualitas air Waduk Manggar dengan metode STORET. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Waduk Manggar dikategorikan sebagai waduk tercemar.

Gilang, dkk. membuat penelitian untuk mengetahui status trofik dan daya tampung beban pencemaran Waduk Sutami pada tahun 2013. Hasil penelitiannya adalah beban daya tampung pencemaran waduk Sutami untuk Fosfor total (kg/tahun) pada lo-kasi hulu, tengah dan hilir waduk masing-masing ada-lah 39 Kg P/Tahun, 195 Kg P/Tahun, 178,5 Kg P/Tahun. Satus trofik Waduk Sutami adalah eutrofik hingga hipertrofik. Perhitungan daya tampung beban pencemaran yang digunakan memperhitungkan keramba jarring apung karena terdapat budidaya ikan di Waduk Sutami yang dapat menjadi salah satu sumber pencemaran waduk.

Machbub pada tahun 2010 mengadakan penelitian untuk menentukan daya tampung beban pencemaran air dengan berbagai kondisi. Hal tersebut dikarenakan kegiatan manusia yang berada di sekitar waduk atau danau akan mempengaruhi kondisi waduk atau danau, sehingga perhitungan daya tampungnya pun berbeda- beda dengan memperhatikan karakteristik waduk.

Fatimah (2013) melakukan penelitian untuk mengetahui daya tampung

beban pencemaran air Sungai Serang di Kabupaten Kulonprogo. Penelitan tersebut

bertujuan untuk mengetahui kualitas, status mutu dan daya tampung beban

(15)

15

pencemaran air Sungai Serang. Metode yang digunakan untuk mengetahui status mutu air ditentukan dengan menggunakan metode indeks pencemaran, sedangkan daya tampung beban pencemaran menggunakan metode neraca massa. Perhitungan daya tampung beban pencemaran pada sungai dan danau cenderung berbeda. Hal tersebut dikarenakan sungai merupakan perairan yang airnya mengalir sedangkan danau cenderung tenang. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa kualitas air Sungai Serang mengalami fluktuasi, sedangkan parameter yang melebihi baku mutu kelas II adalah TDS, TSS, DO, fosfat dan bakteri koli total. Status mutu Sungai Serang termasuk dalam kelas tercemar ringan hingga sedang. Parameter kualitas air yang melebihi daya tampung beban pencemaran adalah TDS, TSS, pH, DO, COD, fosfat dan bakteri koli total.

Kusumawati (2010) meneliti mengenai status trofik sebagai dasar strategi penataan lingkungan di Danau Merdada, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa status trofik Danau Merdada berdasarkan kandungan nutrient dan transparansi air berada pada kategori eutrofik- hipertrofik, namun belum terjadi blooming age. Juma, Wang, Li (2014) melakukan penelitian dengan tujuan untuk Mengetahui dampak pertumbuhan populasi dan ekonomi terhadap kualitas air Danau Viktoria, Kenya. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah pertumbuhan populasi, pertumbuhan aktifitas komersil dan pertumbuhan industri di sekitar Danau Viktoria mempengaruhi kualitas air karena kurangnya pengaturan mengenai pembuangan limbah sehingga limbah mencemari danau. Rasyadi (2013) melakukan penelitian mengenai mengenai daya tampung beban pencemaran danau belum banyak dilakukan. Penelitian di danau biasanya hanya berkisar mengenai kualitas air atau status mutu saja. Oleh karena itu penelitian mengenai daya tampung beban pencemaran dilakukan agar dapat mengetahui daya tampung beban pencemaran yang terdapat di danau, selain itu juga digunakan untuk mengetahui kualitas dan status mutu air danau. Secara keseluruhan kondisi status mutu air Danau Merdada berada di kelas sedang yang berarti danau mengalami pencemaran ringan. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan lahan pertanian intensif pada DTA danau mempengaruhi kondisi kualitas air danau.

Limpasan yang masuk ke dalam danau membawa serta limbah pertanian yang

(16)

16

menurunkan kualitas air danau. Berdasarkan hasil perhitungan DTBP menunjukkan

bahwa fosfat dan TSS dalam Danau Merdada sudah melebihi daya tampung yang

diperbolehkan. Kadar fosfat pada Danau Merdada berasal dari limbah pertanian

terbawa limpasan air hingga masuk ke dalam danau, sedangkan kadar TSS lebih

dipengaruhi oleh tingginya laju erosi pada lereng igir DTA Danau Merdada.

(17)

17

Tabel 1.2 Penelitian Mengenai Danau, Kualitas Air, Status Mutu air dan Daya Tampung Beban Pencemaran

No Nama Tahun Judul Tujuan Metode Hasil

1 Anindya

Kusumawati 2010

Kajian Status Trofik sebagai Dasar Strategi Penataan Lingkungan di Telaga Merdada, Kabupaten

Banjarnegara, Jawa Tengah

Mempelajari kondisi aspek abiotik, biotik dan sosial di sekitar Danau Merdada.

Mempelajari status trofik di Danau Merdada.

Merumuskan upaya atau strategi penataan lingkungan di sekitar Danau Merdada agar status trofiknya bisa dikendalikan.

Metode survei, yakni

mengumpulkan fakta dari gejala yang ada. Titik sampel yang diambil di danau berjumlah lima titik.

Status trofik Danau Merdada berdasarkan kandunga nutrien dan transparansi air berada pada kategori eutrofik-hipertrofik, namun belum terjadi bloomng algae. Strategi jangka pendek untuk mereduksi nutrien berlebih adalah dengan metode aerasi dan pengerukan sedimen. Strategi jangka panjang dilakukan dengan pendekatan abiotik, biotik dan sosial. pendekatan abiotik yakni melakkan konservasi tanah secara mekanis dan kimiawi, pendekatan biotik melakukan reboisasidaerah tangkapan air, sedangkan pendekatan sosial dilakukan dengan mengadakan sosialisasi dan konsultasi publik tentang penataan lingkungan.

2 Machbub 2010

Model Perhitungan Daya Tampung Beban Pencemaran Air Danau dan Waduk

Penentuan daya tampung beban pencemaran air dengan berbagai kondisi

Metode deskriptif, Perhitungan daya tampung beban pencemaran dengan berbagai model sesuai kondisi danau atau waduk

Perhitungan daya tampung beban

pencemaran air dilakukan dengan metode dan model yang disesuaikan dengan kondisi danau atau waduk.

3

Sasongko Susanti dan Sudarno

2012

Kualitas Air Waduk Manggar sebagai Sumber Air Baku Kota Balikpapan

Mengetahui kondisi kualitas air Waduk Manggar

Pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Metode

penentuan kualitas air dengan metode STORET

Kualitas air Waduk Manggar termasuk dalam kategori cemar

(18)

18

Lanjutan Tabel 1.2

No Nama Tahun Judul Tujuan Metode Hasil

4

Sasongko Susanti dan Sudarno

2013

Status Trofik Waduk Manggar Kota Balikpapan dan Strategi Pengelolaannya

Menganalisa

kandungan nitrogen, fosfor dan klorofil a pada Waduk Manggar serta menentukan strategi kebijakan

pengelolaan Waduk Manggar

Pendekatan deskriptif kuatitatif untuk menggambarkan kondisi status trofik Waduk Manggar serta pendekatan kualitatif dengan wawancara keyperson untuk menganalisa strategi kebijakan pengelolaan Waduk Manggar

Status trofik Waduk Manggar adalah mesotropik dan eutrofik ringan, sedangkan strategi kebijakan pengelolaan yang dapat diterapkan adalah konservasi daerah hulu, relokasi serta pembatasan kegiatan

masyarakat, pembentukan badan pengelola DAS Manggar, pembersihan waduk dari akasia dan salvinia, pembuatan cek DAM

5 Fatimah 2013

Studi Daya Tampung Beban Pencemaran Air Sungai Serang Kabupaten Kulonprogo

Mengetahui kualitas , status mutu dan daya tampung beban pencemaran air Sungai Serang

Pendekatan Kuantitatif.

Parameter kualitas air yang diukur berupa parameter fisik, kimia dan biologi. Status mutu air ditentukan dengan

menggunakan metode indeks pencemaran, sedangkan daya tampung beban pencemaran menggunakan metode neraca massa

Kualitas air Sungai Serang mengalami fluktuasi, sedangkan parameter yang melebihi baku mutu kelas II adalah TDS, TSS, DO, Phosphat dan Coliform Total.

Status mutu Sungai Serang termasuk dalam kelas tercemar ringan hingga sedang.

Parameter kualitas air yang melebihi daya tampung beban pencemaran adala h TDS, TSS, pH, DO, COD, Phosphat dan Coliform Total

6 Gilang, Sayekti,

Harisuseno 2013

Status Trofik dan Daya Tampung Beban Pencemaran Waduk Sutami

Mengetahui status trofik dan daya tampung beban pencemaran Waduk Sutami

Pendekatan kuantitatif

Beban daya tampung pencemaran Waduk Sutami untuk Fosfor total (kg/tahun) pada lokasi hulu, tengah dan hlir waduk masing- masing adalah 39 Kg P/tahun, 195 Kg P/tahun, 178,5 Kg/tahun. Status trofik Waduk Sutami adalah eutrofik hingga hipertrofik

(19)

19

Lanjutan Tabel 1.2

No Nama Tahun Judul Tujuan Metode Hasil

7 Tismayuni 2013

Kajian Kualitas Fisik, Kimia dan Biologis Kawasan Perairan Danau Batur di Provinsi Bali

Mengetahui kualitas fisik, kimia dan biologis kawasan perairan Danau Batur sehingga mengetahui status mutu air Danau Batur

Metode untuk mengetahui status mutu air Danau Batur

menggunakan metode STORET

Danau Batur tergolong ke dalam kelas tercemar sedang karena adanya pengaruh dari limbah pertanian, perikanan serta limbah rumah tangga yang disekitarnya.

8 Juma, Wang, Li 2014

Impacts of

Population Growth dan Economic Development on Water Quality of a Lake : Case Study of Lake Victoria Kenya Water

Mengetahui dampak pertumbuhan populasi dan ekonomi terhadap kualitas air Danau Viktoria

Pendekatan kuantitatif dengan mengumpulkan data kualitas air dengan data pertumbuhan ekonomi dan populasi.

Pertumbuhan populasi, pertumbuhan aktifitas komersil dan pertumbuhan industri di sekitar Danau Viktoria mempengaruhi kualitas air karena kurangnya pengaturan mengenai pembuangan limbah sehingga limbah mencemari danau.

9 Rasyadi 2016

Kajian Daya Tampung Beban Pencemaran Danau Merdada di

Kecamatan Batur Kawasan Dieng

Mengetahui kualitas air, status mutu dan daya tampung beban pencemaran Danau Merdada

Pendekatan kuantitatif. Status mutu air diketahui dengan metode STORET sedangkan daya tampung beban pencemaran danau dihitung dengan rumus yang ditetapkan menteri negara lingkunga hidup tahun 2009

Status mutu air danau menunjukkan bahwa danau berada dalam keadaan tercemar sedang, sedangkan hasil perhitungan DTBP menunjukkan bahwa danau sudah tidak mampu lagi menampung kadar TSS dan fosfat.

(20)

20 1.7.Kerangka Pemikiran

Danau Merdada merupakan danau yang terbentuk hasil dari aktivitas gunungapi kawasan Dieng di masa lampau. Pada awalnya, Danau Merdada merupakan kawah gunungapi yang kemudian mati dan sekarang terisi air menjadi sebuah danau. Aktivitas gunungapi membuat tanah di Dieng menjadi tanah yang subur, hal tersebut kemudian menyebabkan Dieng menjadi tempat yang cocok untuk dijadikan lahan pertanian.

Aktivitas manusia akan mempengaruhi keseimbangan alam yang ada.

Kegiatan pertanian merupakan salah satu aktivitas manusia yang menimbulkan limbah pertanian. Limbah pertanian tersebut dihasilkan karena penggunaan pestisida dan insektisida serta penggunaan pupuk organik. Kawasan Dieng merupakan dataran tinggi dengan kegiatan pertanian yang intensif, komoditas utamanya adalah kentang. Kentang mulai masuk ke Kawasan Dieng sejak tahun 1980an sehingga mulai terjadi alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian hingga ke daerah tangkapan air Danau Merdada. Pertanian yang intensif menyebabkan kesuburan tanah berkurang sehingga pemakaian pupuk mulai dilakukan dengan intensif pula sehingga menambah zat zat kimia tertentu pada tanah. Tanaman kentang merupakan tanaman yang cocok untuk ditanam di daerah yang memiliki kelerengan yang cukup curam. Hal tersebut dikarenakan kentang membutuhkan banyak air, tetapi tidak bisa tergenang karena rentan akan jamur. Air irigasi akan meresap dan sisanya akan menjadi limpasan permukaan dan langsung masuk ke dalam danau. Saat menjadi limpasan permukaan, air akan melewati tanah yang telah terkena pupuk dan zat-zat kimia lainnya dan akan berpotensi mencemari air Danau Merdada.

Letak Danau Merdada yang berada pada sebuah lembah yang dikelilingi

lereng dengan pertanian intensif menyebabkan limbah hasil pertanian lebih mudah

masuk ke dalam danau. Hal tersebut dapat menurunkan kualitas air danau yang

dapat berakibat menurunkan status mutu air danau. Air Danau Merdada digunakan

untuk pengairan bagi pertanian di sekitarnya, oleh karena itu harus diketahui status

mutu airnya agar dapat diketahui apakah air Danau Merdada masih baik untuk

digunakan sebagai pengairan bagi pertanian sekitar. Perhitungan daya tampung

(21)

21 beban pencemaran air danau juga perlu diperhitungkan untuk mengetahui beban pencemar yang dapat ditampung oleh Danau Merdada. Kerangka pemikiran tersebut dapat dilihat seperti Gambar 1.3.

Kondisi kualitas air di Danau Merdada yang diukur terbagi dalam tiga parameter, yakni parameter fisik, kimia dan biologi. Parameter fisik yang akan diukur adalah debit, TSS, TDS, suhu, kekeruhan. Parameter kimia yang diukur adalah DHL, pH, DO, BOD, COD dan fosfat, sedangkan parameter biologinya adalah bakteri koli. Parameter yang dipilih merupakan parameter-parameter yang penting ntuk mengetahui kondisi kualitas air danau. Bahan organik dan bahan anorganik yang berasal dari erosi dan resuspensi sedimen dasar danau akan mempengaruhi kondisi kekeruhan danau dan kadar padatan tersuspensi yang ada di dalam danau. Kadar padatan terlarut dipengaruhi oleh limbah yang masuk ke danau yang berasal dari limpasan yang masuk ke danau.

Parameter Suhu di dalam danau akan mempengaruhi kehidupan biota yang hidup di dalamnya. Suhu yang lebih tinggi akan menyebabkan laju metabolism dari organisme meningkat sehingga konsumsi oksigen meningkat, akan tetapi suhu yang semakin tinggi juga akan mengurangi kelarutan oksigen dalam air. Parameter Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan nilai total oksigen yang dibutuhkan

untuk melakukan oksidasi pada bahan organik secara kimiawi. Nilai pH dipengaruhi oleh aktivitas biologi, suhu, kandungan oksigen dan ion-ion. Kegiatan respirasi yang dilakukan oleh organime menghasilkan karbondioksida yang membentuk ion penyangga untuk menjaga pH agar tetap stabil.

Kadar fosfat dapat digunakan untuk mengetahui limbah residu hasil

pertanian (pupuk) yang terkandung dalam Danau Merdada. Fosfat sendiri

merupakan bentuk fosfor yang dimanfaatkan oleh tumbuhan. Kandungan bakteri

koli yang ada di dalam Danau Merdada berasal dari residu hasil pertanian karena

pupuk yang digunakan adalah pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan atau

pelapukan tumbuhan. Kondisi suatu parameter – parameter tersebut saling

mempengaruhi dan akan menentukan kelayakan air Danau Merdada untuk

digunakan sebagai irigasi bagi pertanian di sekitarnya dan juga sebagai pemenuh

kebutuhan rumah tangga bagi masyarakat di sekitarnya.

(22)

22 Tujuan pertama dari penelitian ini adalah pemeriksaan kualitas air pada Danau Merdada dilakukan untuk mengetahui pengaruh lahan pertanian kentang terhadap kualitas air Danau Merdada. Tujuan kedua dari penelitian ini adalah mengetahui status mutu air di Danau Merdada. Status mutu air dihitung dengan menggunakan metode STORET. Metode tersebut memperhitungkan status mutu air berdasarkan semua parameter kualitas air yang diuji. Parameter fisik, kimia dan biologi memiliki bobot yang berbeda. Hasil pembobotan kemudian dijumlah untuk mendapatkan suatu nilai yang akan menentukan status mutu air pada setiap titik sampel.

Tujuan ketiga dari penelitian ini adalah menghitung daya tampung beban

pencemaran danau untuk mengetahui kemampuan danau dalam menampung suatu

beban pencemar yang masuk. Saat beban pencemar yang masuk sudah terlalu

banyak dan melebihi daya tampung beban pencemarannya, maka danau dapat

dikatakan tercemar. Berdasarkan hasil perhitungan rumus daya tampung beban

pencemarannya, dapat diketahui berapa kelebihan beban pencemar yang masuk ke

dalam danau. Perhitungan dilakukan dengan rumus yang telah diatur dalam

KEPMEN LH No. 28 Tahun 2009. Berdasarkan rumus tersebut seharusnya

dilakukan pengambilan sampel pada inlet danau untuk mengetahui kondisi kualitas

airnya, akan tetapi Danau Merdada tidak memiliki inlet sehingga sampel masukan

yang diambil adalah sampel limpasan dari lereng di sekeliling danau. Sampel

limpasan tersebut diasumsikan sebagai inlet atau masukan danau. Daya tampung

beban pencemaran tidak hanya memperhitungkan faktor kualitas air saja, tetapi juga

mempertimbangkan faktor morfometri danau, hal tersebut dikarenakan kondisi

morfometri juga mempengaruhi kondisi kualitas air yang ada untuk menetukan

daya tampung beban pencemaran.

(23)

23 Gambar 1.3. Diagram Alir Kerangka Pemikiran Penelitian

Lahan pertanian kentang

Penggunaan pupuk dan pestisida serta

insektisida Lereng yang

curam di sekitar danau

Limbah pertanian

Danau Merdada

Perubahan tutupan lahan di sekitar danau

Lahan non pertanian

Potensi pencemaran Kualitas air danau

menurun

Kondisi kualitas air Status mutu air

dengan metode STORET

Daya tampung beban pencemaran

danau

Referensi

Dokumen terkait

Di era globalisasi, persaingan ritel yang semakin ketat pada saat ini dikarenakan Indonesia sudah sepakat berada dalam MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), dimana arus masuknya

Bah\!a untuk keperluan dirnaksud perlu diangkat konsullan vang ditetepkan dengan kcpulLrsar dekan. Mengineat I LJndang-undlne

Analisis stilistika pada ayat tersebut adalah Allah memberikan perintah kepada manusia untuk tetap menjaga dirinya dari orang-orang yang akan mencelakainya dengan jalan

algoritma kompresi LZW akan membentuk dictionary selama proses kompresinya belangsung kemudian setelah selesai maka dictionary tersebut tidak ikut disimpan dalam file yang

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dinas pariwisata pemuda dan olahraga kabupaten siak dalam mempromosikan kesenian budaya melayu lebih memamnfaatkan

Perbuatan yang dikriminalisasi dalam Pasal 28 ayat (1) UU ITE merupakan bentuk penanggulangan tindak pidana penipuan online yaitu untuk mengatur perbuatan yang

Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang pemenuhannya setelah kebutuhan primer terpenuhi, namun tetap harus dipenuhi, agar kehidupan manusia berjalan dengan baik. Contoh: pariwisata

Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan atau pembayaran kas di masa datang (mencakup seluruh komisi dan bentuk