• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKNA UPACARA PERABUAN (ANTIM SANSKAR) DALAM UMAT SIKH. (Studi Kasus di Kecamatan Medan Petisah) SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MAKNA UPACARA PERABUAN (ANTIM SANSKAR) DALAM UMAT SIKH. (Studi Kasus di Kecamatan Medan Petisah) SKRIPSI"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

MAKNA UPACARA PERABUAN (ANTIM SANSKAR) DALAM UMAT SIKH

(Studi Kasus di Kecamatan Medan Petisah)

SKRIPSI

Diajukan Guna Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Ilmu Sosial Dalam Bidang Antropologi

OLEH

IRMA PUSPITA SIREGAR

150905022

PROGRAM STUDI ILMU ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)
(3)
(4)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PERNYATAAN ORIGINALITAS

MAKNA UPACARA PERABUAN (ANTIM SANSKAR) DALAM UMAT SIKH DI KECAMATAN MEDAN PETISAH KOTA MEDAN

SKRIPSI

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi saya ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau di terbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.

Apabila dikemudian hari terbukti lain atau tidak sesuai seperti yang saya nyatakan disini, saya bersedia diproses hukum dan siap meninggalkan gelar sarjana saya.

Medan, September 2021 Penulis

Irma PuspitaSiregar NIM. 150905022

(5)

ABSTRAK

Irma PuspitaSiregar, 2021. Judul Skripsi: MAKNA UPACARA PERABUAN (ANTIM SANSKAR) DALAM UMAT SIKH (STUDI KASUS DI KECAMATAN MEDAN PETISAH) Skripsi terdiri dari 5 bab 100 halaman.

Skripsi ini mengkaji tentang proses pelaksaan upacara kematian (antim sanskar), judul skripsi ini dapat digolongkan ke dalam Antropologi Religi yang ditulis berdasarkan hasil penelitian. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui makna simbol yang digunakan pada pelaksanaan upacara kematian (antim sanskar) dan mengetahui pihak-pihak yang terlibat pelaksanaan upacara kematian (antim sanskar) dalam umat Sikh di Gurdwara Shree Guru Nanak Dev Ji.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode etnografi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yakni observasi, wawancara, dokumentasi serta studi pustaka yang berkaitan dengan penelitian. Penulis mengikuti upacara kematian langsung dengan didampingi oleh keluarga almarhum. Observasi serta wawancara terhadap beberapa informan, giani (pendeta) dan pathee, Pak Kemi sebagai petugas krematorium, serta keluarga almarhum.

Hasil penelitianini adalah proses dalam upacara kematian (antim sanskar) dilakukan untuk membantu jenazah menuju kesatuannya dengan Tuhan (Waheguru). Upacara tersebut diantaranya adalah (a) Sanskar yaitu proses memandikan serta mengkafani atau memakaikan pakaian jenazah, (b) Kremasi yaitu proses pembakaran jenazah, dan (c) Antim Ardas meruapakan proses akhir yaitu mendoakan jenazah selama 10 (sepuluh) hari kematiannya.Makna simbol dalam upacara kematian (antim sanskar) adalah (a) kitab Guru Granth Sahib yang meruapakan Guru abadi Sikh sehingga harus dihormati sebagaimana menghormati sepuluh Guru, (b) bunga yang mempunyai makna agar tubuh yang meninggal wangi saat bertemu dengan Tuhan, (c) panj kakars yang merupakan simbol identitas umat Sikh, dan (d) karha parshad yang merupakan simbol media memanjatkan doa.Kematianinisebagai proses penyucianterhadapdosa-dosa yang tidakbisakitabersihkansepanjanghidup.

Kata Kunci : Sanskar, Kremasi, AntimSanskar

(6)

UCAPAN TERIMA KASIH

Pertama saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT. Yang telah memberikan kesehatan, kemudahan, kelancaran, dan kemurahan rezeki sehingga saya dapat menyelesaikan perkuliahan di Departemen Antropologi Sosial FISIP USU dan menyelesaikan skripsi mengenai “MAKNA UPACARA PERABUAN (ANTIM SANSKAR) DALAM UMAT SIKH DI KECAMATAN MEDAN PETISAH KOTA MEDAN” Saya juga menyadari bahwa tidak akan dapat menyelesaikan skripsi ini tanpa adanya saran, bimbingan dan dukungan dari semua pihak.

Saya menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh keluarga saya yang senantiasa mengasih, mendidik, membimbing dan memotivasi saya. Terutama kepada kedua orang tua saya Irwan Siregar dan Halimah Tuzzahra Nasution yang senantiasa ada di sepanjang hidup saya dengan segala jerih payah, kesesakan dan kesakitan dalam menyekolahkan saya hingga saat ini. Mereka yang selalu memperhatikan, dan menjadi tempat sandaran kami anaknya.

Saya juga menyampaikan terima kasih yang sangat tulus kepada ibu Dra.

Rytha Tambunan, M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi saya yang telah banyak memberikan waktu, tenaga, perhatian dan bimbingan serta kesabaran mulai dari awal saya bimbingan. Saya juga berterima kasih kepada BapakAgustrisno.M.Siselakudosenpenguji seminar hasil yang sudahmeluangkanwaktuuntuk proses penyempurnaanskripsi. Taklupakepadabapak

(7)

Drs. Zulkifli, MA. Selaku Dosen penasehat akademik saya selama perkuliahan.

Saya juga menyampaikan terimakasih kepada Bapak Dr. Fikarwin Zuska selaku ketua Departemen Antropologi Sosial FISIP USU dan Bapak Agustrisno selaku Seketaris Departemen atas dukungan, bimbingan, arahan dan motivasi yang selama ini diberikan kepada saya. Kepada seluruh Dosen Antropologi Sosial, kepada Buk Nita Safitri, Buk Sabariah Bangun, Buk Tjut, Buk Aida Safitri, Pak Zulkifli Lubis, alm. Pak Ermansyah, Pak Yance, Pak Wan, Pak Nurman, Pak Hamdani, Pak Farid dan yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu persatu saya mengucapkan banyak terima kasih atas ilmu, pengalaman dan pembelajaran yang telah disampaikan dan di berikan kepada saya dalam proses belajar mengajar, saya dapat menyelesaikan studi ini karena adanya jasa dan campur tangan dari Bapak/Ibu sekalian, kiranya ilmu yang di terima dapat saya gunakan sebaik-baiknya.

Ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada informan dan seluruh masyarakat umat Sikh yang telah memberikan waktu, menerima saya selama penelitian dan juga memberikan segala informan yang saya butuhkan selama penelitian berlangsung. Kepada seluruh Kerabat Antropologi Sosial 2015 yang selalu menjadi teman dan sahabat selama proses perkuliahan berlangsung kepada Devi Rustiana Dewi Ritonga, Kiki Fahlevi Depari, Risqa Indah Widsyah Dwinanda, dan yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, saya ucapkan terima kasih.

Kepada sahabat saya Yasmin Khan, M. Ikhsan, juga Andrew Siallagan

(8)

maupun duka dan membantu saya dalam pengerjaan skripsi ini saya mengucapkan terima kasih. Kepada seluruh pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu namun membantu saya dalam proses perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini, saya mengucapkan terimaksih banyak kiranya Allah SWT. Membalas atas segala kebaikan yang telah saya terima. Semoga kita terus bersahabat walaupun pendidikan dan pekerjaan nantinya memisahkan kita.

Saya sangat menyadari banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, untuk itu saya berharap akan masukan, kritik dan saran dari berbagai pihak untuk kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca, peneliti, dan pihak-pihak yang memerlukan nantinya.

Medan, September 2021 Penulis

Irma PuspitaSiregar NIM. 150905022

(9)

RIWAYAT SINGKAT PENULIS

Irma Puspita Siregar lahir di Medan pada tanggal 22 Maret 1998, anak pertama dari pasangan Irwan Siregar dan Halimah Tuzzahra Nasution.

Penulis menyelesikn pendidikan Taman Kanak-kanak Al-Kautsar Medan Tahun 2002 s/d 2003 Medan.

Kemudian, penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Dasar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Medan Tembung Tahun 2003 s/d 2009. Penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Swasta Prayatna Medan Tahun 2009 s/d 2012. Juga penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah ke atas di Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Medan 2013/2015. Pada tahun 2015 penulis melanjutkan pendidikan Perguruan Tinggi Negeri di Universitas Sumatera Utara (USU) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Antropologi Sosial.

Alamat email penulis: [email protected]

Kegiatan yang pernah penulis ikuti selama perkulihan adalah sebagai berikut:

1. Peserta Inisiasi dalam kegiatan penyambutan mahasiswa baru Departemen Antropologi Sosial FISIP USU tahun 2015.

2. Peserta seminar sosialisasi Pilkada Kota Medan “Mahasiswa Sebagai Agen Pensukses Peserta Demokrasi” pada tanggal 24 November 2015.

3. Peserta Mentoring Akbar pada tangal 11-12 Desember 2015.

4. Melakukan Pelatihan “Training Of Facilitator (TOF)” pada mata kuliah Pengembangan Masyarakat di Hotel Grand Sentra Medan tahun 2017.

5. Panitia Inti Inisiasi Antropologi Sosial sebagai Koordinator Kesehatan tahun 2017.

6. Peserta Seminar “Program Arkeolog Prancis-Indonesia di Kota Cina (Medan-Sumatera Utara) pada tanggal 16 Mei 2018.

7. Melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Dinas Kesehatan Sumatera Utara pada tahun 2018.

ORGANISASI :

 Komunitas Cosplay Medan ( 2016 – 2018 )

 MarchingBand BIMANDA ( Bina Musika Man 2 Model Medan ) ( 2015 – 2019 )

 Tradisional Dance Japan YOSHAKOI ( 2017 )

(10)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT, atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “MAKNA UPACARA PERABUAN (ANTIM SANSKAR) DALAM UMAT SIKH(STUDI KASUS DI KECAMATAN MEDAN PETISAH).Skripsi ini dibuat untuk memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana jurusan Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

Skripsi ini membahas tentang upacara kematian dari umat Sikh, yang dimana masih terdengar awam bagi masyarakat, khususnya di kota Medan.Upacara ini untuk menyucian diridari dosa-dosa yang tidak bisa dibersihkan sepanjang hidup, sehingga dapat diterima oleh Sang pencipta. Penulis akan menguraikan makna yang terkandung dalam upacara perabuan (antim sanskar) dalam skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna. Untuk itu, jika ada kekurangan maupun kesalahan peneliti mohon maaf. Penulis mengharapkan adanya kritik dan saran atau sumbangan pemikiran yang bersifat membangun sehingga dapat bermanfaat untuk penelitian-penelitian selanjutnya.

Demikian dapat penulis sampaikan, semoga bermanfaat, sekian dan terimakasih

Medan, September 2021 Penulis

Irma Puspita Siregar

(11)

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN

LEMBAR PERSETUJUAN

PERNYATAAN ORIGINALITAS ... i

ABSTRAK ... ii

UCAPAN TERIMA KASIH... iii

RIWAYAT HIDUP PENULIS ... vi

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR TABEL... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LatarBelakangMasalah ... 1

1.2. Tinjauan Pustaka ... 11

1.3. RumusanMasalah ... 19

1.4. Tujuan dan Manfaat ... 19

1.5. MetodePenelitian ... 20

1.6. Lokasi Penelitian ... 21

1.7. PengalamanPenelitian ... 22

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 2.1. Sejarah Lahirnya Agama Sikh ... 28

2.2. Keberadaan Agama Sikh di Kota Medan ... 36

2.2.1. Sejarah Agama Sikh di Kota Medan ... 36

2.2.2. Sistem Bahasa ... 37

2.2.3.AspekPendukungLainnya ... 38

2.3. PokokAjaran Sikh ... 41

2.4. Kesepuluh Guru ... 42

2.5. Hari-hariBesar Sikh ... 51

2.6. Sejarah Berdirinya Gurdwara Shree Guru Nanak Dev Ji ... 54

2.6.1. Sarana dan Prasarana Gurdwara Shree Guru Nanak Dev Ji .... 56

BAB III MAKNA PELAKSANAAN UPACARA KEMATIAN AGAMA SIKH 3.1. Persiapan Pelaksanaan Upacara ... 58

3.2. Sebelum Upacara Kremasi ... 59

3.3. Upacara Kremasi Jenazah ... 65

3.4. Upacara Setelah Kremasi ... 70

BAB IV UNSUR-UNSUR UPACARA PERABUAN UMAT SIKH 4.1 Pelaku Pelaksaan Upacara Perabuan ... 84

4.2 Simbol Upacara Perabuan ... 87

4.3 Doa-doa Pujian Upacara Perabuan ... 90

4.4 Makanan Setelah Upacara Perabuan ... 91

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 93

5.2. Saran ... 95

(12)

DAFTAR PUSTAKA ...

LAMPIRAN

1. GLOSARIUM

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Denah Lokasi Penelitian... 22

Gambar 2.1 Umat Sikh menggunakanpenutupkepala ... 31

Gambar 2.2Karra(Gelang yang terbuatdaribaja) ... 32

Gambar 2.3 Sisir Umat Sikh ... 33

Gambar 2.4Rambutsebagai symbol kepercayaankepadaTuhan ... 33

Gambar 2.5Kirpan (Pedangkecilumat Sikh) ... 34

Gambar 2.6 Penggunaan cirri laki-laki Sikh ... 35

Gambar 2.7 Penggunaanciriperempuan Sikh ... 35

Gambar 2.8Sistemkekrabatan Patrilineal Sikh ... 40

Gambar 2.9Guru Nanak GuruPertamaumat Sikh... 43

Gambar 2.10Guru Angad Dev Guru KeduaUmat Sikh ... 44

Gambar 2.11Guru Amar Das Guru KetigaUmat Sikh ... 44

Gambar 2.12Guru Ramdas Ji Guru Keempatumat Sikh ... 45

Gambar 2.13 Guru Arjan Dev Guru Kelimaumat Sikh... 46

Gambar 2.14 Guru Har Gobind Guru keenamumat Sikh ... 47

Gambar 2.15 GuruHar Rai Guru Ketujuhumat Sikh ... 48

Gambar 2.16 Guru Har Krishan Guru Kedelapanumat Sikh ... 49

Gambar 2.17 Guru Tegh Bahadur Guru kesembilanumat Sikh ... 50

Gambar 2.18 Guru Gobind Singh Guru Kesepuluhumat Sikh ... 51

Gambar 3.1 Yayasan Krematorium... 65

Gambar 3.2 Kayu Bakar yang digunakanuntukkreasijenazah ... 66

Gambar 3.3 Jenazah yang dikremasi ... 67

Gambar 3.4. Setelah Apimembakarkeseluruhantubuhjenazah ... 68

Gambar3.5. Abu yang dikumpulkan ... 69

Gambar 3.6. Pak Kemimemasukkanabukedalamgoni ... 69

Gambar 3.7. Patheemembaca kitab Guru Granth Sahib ... 71

Gambar 3.8 Gianimembacahukamnama ... 76

Gambar 3.9. Pemotongankarha parshad denganmenggunakankirpan ... 77

Gambar 3.10. Kirpan yang digunakanuntukmemotongkarha parshad ... 77

Gambar 3.11 PembagianKarha Parshad oleh Giani ... 78

Gambar 3.12 Ardasyang dilakukan oleh Giani ... 80

Gambar 3.13 Karha Parshad yang dibagikan oleh Giani ... 81

Gambar 3.14 Makan Bersama di Langgar ... 82

Gambar 3. 15 Makanan yangdisediakankeluargaAlmarhum ... 83

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Hari Besar Umat Sikh ... 52

(15)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Kebudayaan lahir tidak hanya serta merta, namun karena adanya berbagai tahapan. Salah satu tahapan tersebut adalah sistem religi. Hal ini terjadi disebabkan bahwa sistem religi menjadi salah satu unsur kebudayaan yang tampak paling lahir (Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi1990:375).

Kata “agama” berasal dari bahasa Sanskerta yang secara umum berarti suatu tradisi, dimana “a” artinya tidak dan “gama” artinya kacau. Sehingga bisa dilihat dari asal katanya, definisi agamanya adalah suatu peraturan yang dapat menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengarahkan manusia menjadi lebih teratur dan tertib.1

Menurut Emile Durkheim (1912:32),suatu agama tercipta karena manusia ingin mencapai tujuan tertentu didalam hidupnya, dan agama dianggap dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Adapun beberapa tujuan agama adalah sebagai berikut:

1. Untuk membimbing manusia dalam menjalani kehidupannya dengan cara lebih baik melalui pengajaran dan aturan, dimana ajaran dan aturan tersebut dipercaya berasal dari Tuhan.

2. Untuk meyampaikan firman Tuhan kepada umat beragamaan, berupa ajaran-ajaran kebaikan dan aturan berperilaku bagi manusia.

3. Untuk membuka jalan bagi manusia yang ingin bertemu dengan penciptaannya, yaitu: Tuhan yang Maha Esa, kelak kita akan mati.

(16)

Dalam suatu sistem religi, hal yang penting meliputi sistem ini adalah emosi keagamaan, yakni suatu getaran jiwa yang mencakup didalam aktifitas manusia.

Karena adanya suatu getaran jiwa inilah yang mendorong adanya aktifitas yang bersifat religi. Religi ini pun yakni berasal dari hati nurani yang dipacu oleh Ireplitian brain. Selain emosi keagamaan, terbentuknya sistem religi juga dipengaruhi oleh unsur penting seperti sistem keyakinan, sistem upacara keagamaan dan suatu umat yang menganut religi itu (Koentjaraningrat, PengantarIlmuAntropologi1990:378).

Disamping itu, ketika keyakinan terbentuk maka dorongan-dorongan melakukan upacara kegaman karena biasanya upacara keagamaan mengandung suku rangkaian yang terdiri aspek-aspek: dalam Koentjaraningrat (PengatarIlmuAntropologi1990:378) yakni aspek pertama, yang berhubungan dengan tempat-tempat keramat dimana upacara akan dilakukan di Pemakaman, Candi, Kuil, Gereja, Surau, Masjid, dsb. Aspek kedua, aspek mengenai benda- benda yang dipakai dalam upacara termasuk patung-patung yang melambangkan dewa-dewa, alat-alat, bunyi-bunyian, seperti: lonceng, seruling suci, genderang suci, dsb. Aspek ketiga, aspek mengenai saat-saat beribadah, hari-hari keramat dan suci. Aspek keempat, mengenai para pelaku upacara keagamaan, seperti para pendeta, biksu, syaman, duku, dll.

Upacara keagamaan dianggap sakral untuk memenuhi sistem keyakinan melalui aspek-aspek tersebut. Jika hal ini mempengaruhi bukan sekedar satu orang saja melainkan banyak orang mejadikan sistem religi ini bertahan didalam kehidupan mereka. Tampak juga bahwa sistem religi memiliki kecenderungan

(17)

yang sama terhadap ilmu ghaib. Akan tetapi, kedua hal tersebut berbeda, seperti:

sistem religi adalah suatu rangkaian yang menimbulkan getaran hati yang disebut dengan emosi keagamaan dalam melakukan aktifitas manusia, sehingga sikap- sikap manusia menyadari adanya pedoman kehidupan yang hakiki. Adanya zat yang Maha Tinggi diluar batas kemampuan manusia. Ini juga mengakibatkan terdorongnya manusia untuk melakukan kebaikan dengan menyakini konsep- konsep yang telah dijelaskan sebelumnya (salah satunya konsepsi hidup dan mati). Ilmu ghaib lebih cenderung menyakini hal-hal yang diluar kemampuan batas manusia sebagai elemen yang dapat memenuhi keinginan atau mencapai suatu maksud dari manusia, sehingga nilai keikhlasan melakukan hal tersebut bersifat fiktif. Meski unsur ritualnya hampir menyerupai, namun keyakinan yang terbentuk itulah yang menjadi tolak ukur perbedaan diantara keduanya.

Salah satu upacara yang penulis bahas adalah upacara kematikan (antim sanskar). Ritual tersebut tetap dijalankan oleh pemeluk agama dan sudah menjadi suatu budaya serta tradisi yang sangat melekat pada diri setiap pemeluk agama.

Ritual tersebut menjadi pranata keagamaan yang sudah dianggap baku oleh masyarakat. Keadaan tersebut sulit untuk berubah karena keberadannya didukung oleh kesadaran bahwa pranata tersebut menyangkut kehormatan, harga diri dan jati diri masyarakat pendukungnya.

Kedatangan orang-orang Punjabi yang beragama Sikh ini telah dimulai sejak masa pemerintahan kolonial Belanda yakni sekitar tahun 1880 (Nadroh, Agama- agama Minor 2015:216). Mereka umumnya datang tidak secara berkelompok dalam jumlah yang besar. Namun, mereka datang dalam kelompok yang lebih sedikit. Karena masyarakat Punjabi datang bukan sebagai pekerja di perkebunan

(18)

milik Belanda tetapi karena ingin mencari tempat untuk memperbaiki perekonomian mereka.

Kematian menurut agama Sikh: bahwa kematian adalah sebagai proses penyucian diri terhadap dosa-dosa yang tidak bisa dibersihkan sepanjang hidup.

Dan juga mereka mempercayai adanya Reinkarnasi. Reinkarnasi ini adalah percaya dengan adanya penghidupan kembali seelah mati. Sebab bisa saja setelah mati si jenazah dihidupkan kembali sebagai Hewan, Tumbuhan, dsb, dilihat dari amalan semasa hidup dan tergantung kepada Tuhan dia ma menghidupkan kembali seperti apa.

Bapak Dalbir Singh juga menambahkan, jenis pekerjaan diatas merupakan pekerjaan umum dari Suku Punjabi tetapi tidak tertutup kemungkinan untuk bekerja dengan profesi yang lain seperti: dokter dan pengusaha. Namun terdapat satu pekerjaan yang dilakukan secara turun menurun yaitu beternak sapi untuk mendapatkan susu dan minyak sapi karena dalam ibadah keduanya harus selalu ada dalam bentuk kharha parshad.

Menurut Hertz tentang upacara kematian adalah upacara kematian yang selalu dilakukan manusia dalam rangka adat istiadat dan struktur sosial dari masyarakatnya yang terwujud sebagai gagasan kolektif. Upacara kematian juga mengandung nilai-nilai budaya yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam keidupan bersama dan bekal kehidupan di kemudian hari. Nilai-nilai itu antara lain gotong-royong, kemanusiaan, dan religius (Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi 1:1987). Konsep ini Hertz menunjukkan bagaimana dalam rangka upacara kematian dari banyak suku-suku di dunia iniada lima anggapan yang juga ada di belakang upacarainisiasi pada umumnya. Kelima anggapan itu adalah:

(19)

1. Anggapan bahwa peralihan dari satu kedudukan social kekedudukan social yang lain adalah suatu masa krisis, suatu masa penuh bahaya gaib, tidak hanya bagi individu bersangkutan tetapi juga bagi seluruh masyarakat;

2. Anggapan bahwa jenazah dan juga semua orang yang ada hubungan dekat dengan orang meninggal itu, dianggap mempunyaisifatkeramat (scare);

3. Anggapan bahwa peralihan dari suatu kedudukan social kesuatu kedudukan social lain itu tak dapat berlangsung sekaligus, tetapi setingkat demi setigkat, melalui serangkaian masa antara yang lama;

4. Anggapan bahwa upacara inisiasi harus mempunyai tiga tahap, yaitu tahap yang melepaskan siobyek dari hubungannya dengan masyarakatnya yang lama, tingkat yang mengangkat kedalam kedudukan yang baru;

5. Anggapan bahwa dalam tingkat persiapan dari masa inisiasi, siobyek merupakan seorang makhluk yang lemah sehingga harus dikuatkan dengan berbagai upacara ilmu gaib.

Upacara yang bernada kesedihan adalah upacara kematian yang terkadang menghabiskan uang, terutama dikalangan orang kaya, sebab memberi pesangon atau disebut dengan salawat kepada semua yang hadir di upacara kematian, ada juga serangkaian upacara disini yaitu upacara 3hari, 7hari, 40hari, 100hari, dan 1000 hari.

(20)

Setelah mereka meninggal dan abunya sudah di angkat dan di bawa ke tengah laut dan mereka sudah mempercayai bahwasannya mereka sudah menghadap pada Tuhan dan siap untuk diberikan sanksi kepada Tuhan selama masih hidup.

Upacara kematian merupakan masalah yang sosial, karena ia tidak hanya melibatkan anggota keluarganya tetapi juga masyarakatnya. Maka dari itu jika ada kematian seluruh warga datang membantu keluarga yang sedang berkabung.

Biasanya salah seorang perempuan dari setiap keluarga yang sedang berduka cita sambil membawa sejumlah beras. Sementara itu lelakinya disamping membantu dalam persiapan penguburan juga mempersiapkan kayu-kayu yang diperlukan untuk masal dalam rangka slametan.

Bahwa berkaitan dengan konsep kematian mengatakan bahwa kematian adalah sebagai proses penyucian terhadap dosa-dosa yang tidak bisa kita bersihkan sepanjang hidup.2 Maksud adanya kematian tersebut, manusia akan kembali lagi pada proses pensucian. Dan hasil dari setelah meninggal dunia, masih banyak dosa-dosa yang belum terputihkan ketika didunia, baik oleh taubat maupun musibah. Maka dari itu kasih sayang Tuhan telah melakukan proses pembersihan.

Hanya saja proses pembersihan itu tidak lagi berasal dari amal, melainkan setelah mati, putuslah segala amalannya.

Menurut Ibnu Qayyimdalambukuperjalananruh, pada waktu mati ada proses pembersihan terhadap diri sendiri. Ialah, sakitnya pada saat sakaratul maut. Ia menjadi penebus dari beberapa dosa. Perbuatan dosa yang paling besar pada sakitnya sakaratul maut adalah berbuat dzalim terhadap sesama hamba Tuhan dan menyakini hati orang lain.

2K.H Jalaluddin Rahmat, Memaknai Kematian (Bandung : Pustaka II Man, 2006), 15

(21)

Ada orang yang ketika maut menjemput masih banyak dosa-dosa yang belum terhapus, baik oleh taubat maupun musibah. Umumnya orang yang ahli dalam maksiat itu sehat-sehat. Sakit yang menghapuskan dosa juga tak dialaminya.

Pendeknya mereka membutuhkan proses penyucian lagi. Maka kematian itu termasuk proses penyucian. Kematian bukanlah akhir dari kehidupan, pertama makna kematian adalah kehidupan sementara. Apa yang disebut dengan Barzah ? Barzah adalah sebuah perjalanan hidup yang kedua setelah perjalanan hidup didunia. Oleh karena itu, kematian itu bukan akhir dari kehidupan. Kematian adalah permulaan kehidupan konsep yang kedua. Sebelumnya kita hidup di alam arwah, berpindah ke alam rahim ibu, kemudian hidup di dunia ini. Di Dunia ini, sebenarnya kita mengalami beberapa ahli kehidupan. Pertama, kehidupan kita didunia. Kedua, kehidupan Barzah, dan Ketiga, kehidupan diakhirat.3

Tuhan telah menempatkan kehidupan manusia di alam dunia ini untuk menguji siapa-siapa yang diantara mereka yang beramal baik pada amal ibadahnya.

Selanjutnya mereka dipindahkan ke alam Barzah. Mereka bertahan sampai pada hari kiamat tiba. Setiap manusia akan mendapatkan pembalasan dari Tuhan secara terperinci menurut ukuran amalanya. Mereka tinggal dialam barzahhanya bertemankan amal. Barzahadalah dinding penghalang yang menghalangi manusia setelah mati dan kembali lagi ke dunia.4

Kematian adalah salah satu dari dua hal yang dibenci umat manusia. Padahal seandainya manusia tau, mati itu lebih baik dari pada fitnah. Selain mati, hal lain yang dibenci manusia adalah miskin harta. Padahal dengan harta yang sedikit, diakhirat manusia akan lebih mudah dihisab. Kematian manusia adalah jalan

3Ibid, 26

(22)

manusia untuk dapat berpindah dari alam satu ke yang lain. Yang dimaksud dengan pemilik abadian adalah Ruh.

Setiap agama tentu mempunyai upacara keagamaan yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada sang khalik, begitu juga dengan Umat Sikh. Hal ini sesuai dengan pendapat Koentjaraningrat dalam bukunya yang berjudul Beberapa Pokok Antropologi Sosial (1985:230) yang menyebutkan ada 4 hal komponen religi, yaitu: emosi keagamaan, sistem kepercayaan, sistem upacara kematian, dan kelompok keagamaan.

Upacara yang masih dilaksanakan adalah upacara yang berkaitan dengan lingkar hidup seseorang dimulai sejak berada didalam kandungan sampai pada kematian. Dalam agama Sikh, pernyataan ini sesuai dengan disiplin sakramen.

Disiplin sakramen menyatakan bahwa seseorang Sikh harus mengikuti upacara kelahiran, perkawinan, dan kematian dalam suatu keluarga (Nadroh, Agama- agama Minor 2015:221).

Agama Sikh ini mungkin tidak akrab di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Pasalnya pengant agama Sikh di indonesia secara administrasi kependudukannya terdaftar dalam binaan Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu, Kementrian Agama Republik Indonesia. Ini artinya kolom agama di KTP penganut Sikh tersebut digolongkan dalam agama Hindu. di kota Medan ini sendiri, sudah ada sekitar 3000 kepala keluarga (10 Januari 2020, bapak Baldev Singh/manager operasional gudwara shree arjun dev ji Medan).

Penganut agama Sikh ini juga terbesar di Kota Medan dan sekitarnya. Kurang hampir 1.000.000 orang umat Sikh yang berdomilisi didaerah sini. Akan tetapi jumlah ini tidak dapat dijadikan sebagai patokan dikarenakan dalam KTP mereka

(23)

tidak tertera agamna sikh. Meski demikian, perlahan-lahan penganut agama Sikh ini mulai menunnjukkan eksistensinya salah satunya yakni dengan menggunakan penutup kepala khas agama Sikh yang dinamanakan dengan turban.

Umat Sikh bisa ditandai dengan lima perlengkapan yang bisa mereka gunakan.

Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Kesh yang berarti memelihara rambut sebagai suatu simbol kepercayaan kepada Tuhan yang mengajarkan kerendahan hati., setelah dibaptis, umat Sikh dilarang untuk memotong rambut yang ada disekujur tubuhnya.

2. Khanga yang berarti sisir. Umat Sikh harus terlihat rapi. Dengan menggunakan sisir ini mereka merapikan rambut dari kekusutan dan membersihkan rambut dari kotoran.

3. Karra yang berarti pertalian atau persaudaraan yang erat diantara pengikut agama Sikh. Karra merupakan sebuah Gelang yang terbuat dari baja tertentu.Maknanya ialah ikutilah agama secara menyeluruh, melambangkan suatu kebulatan antara sesama umat Sikh. Dan yang terakhir adalah sebagai penangkal dari aura-aura dan kekutan negatif.

4. Kirpan merupakan pedang kecil. Hal ini merupakan simbol dari aktifitas kebaikan, penghormatan dan juga penghormatan pada diri sendiri. Namun pada zaman sekarang kirpan banyak digantikan dengan pedang-pedangan karena takut dianggap sebagai teroris.

Untuk perempuan Sikh biasanya menggunakan pakaian yang menutup aurat, celana longgar, baju selutut, selendang 2meter. Pemberian nama para pengikut Sikh terlihat dari marga dibelakang nama mereka. Untuk laki-laki dengan “Singh”

dan perempuan “Khaur”.

(24)

Berkaitan dengan konsep ketuhanan, umat Sikh percaya dengan konsep “mul mantra”. Konsep ini menjadi landasan fundamental agama sikh yang termuat didalam bagian permulaan kitab suci agama Sikh yaitu shree guru Granth Sahib.

Dalam kitab Shree Guru Granth sahib volume 1, pasal 1 ayat 1 disebutkan istilah

“japoji mul mantra”. Ayat tersebt berbunyi “hanya aku Allah Tuhan yang Esa”

tuhan itu disebut dengan Dadru yaitu “sang pencipta” atau “dia yang terbebas dari rasa takut dan rasa kebencian”, “dia yang kekal, dia yang tidak dilahirkan”.

Agama Sikh ini secara tegas menyatakan diri sebagai agama monothaisme. Dan Tuhan yang Maha Kuasa yang tidak tampak wujudnya itu disebut dengan “Ek Omkara”, sedangkan Tuhan yang nampak wujudnya disebut dengan “Omkara”.

Sehingga berdasarkan hal-hal tersebut, maka penulis tertarik untuk menulis lebih lanjut agar mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai Upacara Kematian (antim sanskar) dalam agama Sikh di Kecamatan Medan Petisah.

1.2.Tinjauan Pustaka

Upacara adat yang dilakukan dengan memiliki berbagai unsur. Menurut Koenjaraningrat (Sejarah TeoriAntropologi 1:1980) ada beberapa unsur yang terkait dalam pelaksanaan upacara adat diantaranya adalah:

1. Tempat berlangsungnya upacara yang digunakan untuk melangsungkan suatu upacara, biasanya adalah tempat keramat atau yang bersifat sakral/suci, tidak setiap orang dapat mengunjingi tempat tersebut. Tempat tersebut hanya dikunjungi oleh orang-orang yang berkepentingan. Dalam hal ini adalah orang yang terlibat dalam pelaksanaan upacara seperti pemimpin upacara.

(25)

2. Saat berlangsungnya upacara pelaksaan waktu upacara adalah saat-saat tertentu yang dirasakan tepat untuk melangsungkan upacara.

3. Benda-benda atau alat upacara dalam pelaksanaan upacara adalah suatu yang harus ada semacam sesaji yang berfungsi sebagai alat dalam sebuah upacara adat.

4. Orang-orang yang terlibat didalamnya orang-orang yang terlibat dalam upacara adat adalah meeka yang bertindak sebagai pemimin jalannya upacara dan beberapa orang yang paham dalam ritual upacara adat (Koentjaraningrat dalamPengantarAntropologi1980:241).

Ritus adalah alat manusia religius untuk melakukan perubahan, ia juga dikatakan sebagai simbolik agama, atau ritual itu merupakan “agama dan tindakan” (Ghazali, 2011:50). Ritual keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat, kepercayaan seperti inilah yang mendorong manusia untuk melakukan sebgai perbuatan atau tindakan yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia ghaib penguasa alam dalam melalui ritual-ritual adat lainnya yang dirasakan oleh masyarakat sebagi saat-saat genting, yang bisa membawa bahaya ghaib, kesengsaraan dan penyakit kepada mansuia maupun tanaman (Koentajaraningrat, PengantarIlmuAntropologi1985:243-246).

Konsep religi kedalam lima komponen yang memiliki peran-peran sendiri dan memilikii ketertarikan dari satu bagian dengan bagian lainnya, lima komponen itu ialah:

a. Emosi keagamaan merupakan suatu getaran yang menggerakan jiwa manusia. Dan dapat dikatakan sikap kagum maupun terpesona bahkan takut terhadap hal ghaib atau keramat, serta mempercayainya.

(26)

b. Sistem keyakinan merupakan pikiran dan gagasan mansuia untuk menyakini tentang hal-hal yang diluar nalar mansuia seperti menyakini sifat-sifat Tuhan, wujud alam ghaib (kosmologi) tentang terjadinya alam dan dunia (kosmonologi), tentang zaman akhirat (esyatologi), tentang wujud dan kekuatan sakti seperti roh, ataupun makhluk halus. Sistem keyakinan juga mengandung norma-norma, nilai-nilai untuk mengatur perilaku manusia.

c. Sistem ritus dan upacara meruapakan perilaku manusia untuk menyembah Tuhan, seperti: berdoa, bersujud, bersaji, berkorban, makan bersama, menari, berpuasa, bertapa, dsb.

d. Peralatan ritus dan upacara tentu saja harus memiliki gedung ibadah atau gedung pemujaan. Memiliki peralatan ataupun pakaian khusus untuk dikenakan saat berlangsungnya upacara, yang paling penting harus adanya pemimpin upacara (Koentajaraningrat, 1985:246-247).

a. Tafsir Kebudayaan

Menurut Geertz dalam Kebudayaan dan Agama (1992) kebudayaan adalah sesuatu hal semiotik. Hal-hal yang berhubungan dengan simbol yang tersedia didepan umum dan dikenal oleh warga masyarakat yang bersangkutan. Simbol adalah sesuatu yang bisa ditangkap maknanya dan pada giliran berikutnya dibagikan oleh dan kepada warga masyarakat, diwariskan kepada anak cucu.

Menurut Koentjaraningrat simbol-simbol tersebut merupakan salah satu bahagian dari budaya yang hadir dari hasil karya cipta dan karsamanusia dalam menjalani kehidupannya.

(27)

Mengingat bahwa simbol budaya adalah kendaraan pembawa makna, Geertz berkesimpulan bahwa selama ini sistem simbol yang tersedia dikehidupan umum sebuah masyarakat sesungguhnya meunjukkan bagaimana para warga masyarakat yang bersangkutan : melihat, merasa dan berfikir tentang dunia mereka dan bertindak berdasarkan pada nilai-nilai yang sesuai.

Gagasan, nilai, tindakan, bahkan emosi-emosi kita seperti sistem saraf kita sendiri merupakan hasil kebudayaan yaitu hasil-hasil yang diciptakan.

Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa makna merupakan suatu konsep yang dibawakan oleh kebudayaan masyarakat dimana kebudayaan tersebut diwujudkan dalam bentuk simbol dan masyarakat yang melakukan kebudayaan tersebut yang memberikan makna melalui penafsirannya.

b. Ritus Peralihan

Upacara keagamaan adalah suatu kegiatan yang berhadapan dengan sesuatu yang sakral. Kepercayaan kepada kesakralan sesuatu menuntut ia diperlakukan secara khusus. Upacara dan perlakuan secara khusus ini tidak dapat dipahami secara ekonomi dan rasional (Agus, Agama dalam kehidupan manusia 2007:95).

Upacara ini dilakukan oleh umat beragama dan masyarakat primitif dari dulu, sekarang dan yang akan datang. Upacara ini dinamakan rites dalam bahasa inggris diantaranya adalah upacara penguburan mayat, upacara pembaptisan, sakramen, jamuan suci atau yang lainnya.

Dalam Antropologi upacara ritual ini dikenal dengan istilah ritus. Ritus dilakukan ada yang untuk mendapatkan berkah atau rezeki, mengobati penyakit, dan adapula upacara karena perubahan atau siklus dalam kehidupan manusia (Agus, Agama dalamkehidupanmanusia2007:97). Menurut Arnold Van Gennep

(28)

dalam Koentjaraningrat (1985:224), manusia selalu mengalami berbagai krisis yang sangat ditakuti dalam kehidupannya terutama terhadap bencana, sakit, dan maut. Maka pada saat-saat seperti itu manusia merasa perlu melakukan sesuatu untuk memperteguh imannya dengan cara melakukan upacara-upacara. Dan menurut Van Geenep pada kematian Sikh ini untuk sebagai pengingat diri pada Tuhan atau kematian. Bahwa manusia ini akan mengalami kematian.

c. Kematian

Kematian pasti akan dialami oleh setiap makhluk hidup. Setiap budaya dan agama memberikan ajaran bagaimana memahami kematian dan menghadapinya.

Secara teoritis kaum materialis memahaminya sebagai berhentinya proses fisik manusia. Akan tetapi jawaban ini tidak memuaskan kaum materialis itu sendiri sehingga mereka banyak yang lari ke petunjuk agama (Agus, Agama dalamkehidupanmanusia2007:275). Kepercayaan yang didasarkan pada gambaran serta pendirian mengenai kehidupan dan kematian adalah unsur yang sangat penting dalam sistem kepercayaan dari hampir setiap religi (Koentjaraningrat, 2002:207). Menurut kepercayaan berbagai suku bangsa di dunia, ruh yang telah meninggalkan tubuh sesorang kemudian ada yang menghuni (a) tempat ruh, (b) tubuh yang baru, atau (c) tetap berada disekeliling tempat tinggal manusia (Koentjaraningrat, 2002:208).

Konsep kematian menurut satu budaya dengan budaya lain berbeda-beda.

Misalnya, konsep kematian menurut Agama Sikh merupakan hal yang natural dan juga sering disebut tahapan awal menuju kesatuan dengan Tuhan (Waheguru).

Umat Sikh meyakini adanya konsep kehidupan setelah kematian (reinkarnasi) jika manusia tersebut masih melakukan keburukan selama hidupnya.

(29)

Menurut H. Simanjuntak (Reinkarnasi2008:1), reinkarnasi merupakan ajaran tentang kelahiran kembali. Tenaga pendorong cakra kelahiran ini adalah hukum karma yang merupakan hukum sebab-akibat dari seluruh perbuatan. Proses reinkarnasi akan berhenti jika manusia melakukan kebaikan yang mencukupi.

Hanya dengan melakukan meditasi (samadhi) dalam nama Tuhan, dan dengan melayani orang lain, pembebasan dari lingkaran kelahiran, kehidupan, dan kematian akan dicapai (Kenee, Agama-agama dunia 2010:154).

Sementara dalam perspektif Jawa, kematian hakekatnya adalah muleh (pulang ke asal mulanya). Etnis Jawa memahami kehidupan dan kematian dalam filosofi

“sangkat panaring dumadi” yaitu untuk mengetahui kemana tujuan kita setelah hidup berada diakhir hayat (Karim, 2015:43).

Manalu (Ritual Kremasi2016:3) dalam skripsinya mengatakan etnis Tionghoa yang mayoritasnya beragama Buddha menganggap bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, namun kematian berarti putusnya seluruh ikatan yang mengikat kita terhadap keberadaan kita yang sekarang. Sementara dalam Agama Hindu Bali kematian diidentikkan dengan seseorang yang mengganti pakaian lama yang telah usang dengan pakaian baru. Mengganti pakaian sama hakekatnya dengan dengan kematian sementara mengambil pakaian baru sama hakekatnya dengan kelahiran (Astuti, Ritual kematiandalam agama Hindu Bali di desa Tegal 2016:5).

Bagaimana keadaan kehidupan sesudah mati pada umumnya dipercayai sebagai kelanjutan dari kehidupan di dunia. Kehidupan setelah mati adalah balasan dari kehidupan sewaktu hidup di dunia. Jika selama di dunia seseorang bersikap baik maka sesudah mati dia juga akan mengalami kehidupan yang baik. Sebaliknya,

(30)

jika selama didunia tidak baik maka sesudah mati dia juga akan mengalami kehidupan yang tidak baik. Dengan demikian, kematian punya fungsi positif terhadap integrasi dan keharmonisan sosial (Agus, Agama dalam kehidupan manusia 2007:277).

Adapun makna kematian menurut masyarakat Batak sebagai berikut:

Junita S, (2016:11) 5dalam jurnalnya Upacara Kematian Saur Matua pada adat masyarakat Batak Toba (Studi Kasus Tentang Kesiapan Keluarga) di Desa Purbatua Kecamatan Purbatua Kabupaten Tapanuli Utara mengatakan “saur matua adalah orang yang meninggal dunia telah memiliki keturunan dan cara baik dari anak laki-laki maupun dari anak perempuan. Saur artinya lengkap atau sempurna dimana dikatakan bahwa orang yang telah meninggal dunia itu telah sempurna dalam kekerabatan, telah memiliki anak dan memiliki cucu. Sehingga jika yang meninggal sempurna dalam kekerabatan maka acara adat penguburannya pun dilaksanakan dengan sempurna (saur matua)”. Hal ini sejalan dengan pernyataan Simatupang (2016:19).

“…Mate Saur adalah sebutan kepada suami atau istri yang meninggal mempunyai anak laki-laki maupun anak perempuan, dan semuanya sudah berumah tangga dan sudah memiliki cucu baik anak laki-laki mapupun perempuan, meskipun belum semuanya belum puny anak. Apabila seseorang telah menerima ulos sampetua, maka ia akan menduda atau menjanda seumur hidupnya. Boan atau ternak yang disembelih sudah sepantasnya gaja toba (kerbau) yang bulunya tidak dibuang (namarimbulu) dan tempat membagi daging adat tersebut dari anjungan atau pansa dlemparkan ke bawah dan seseorang petugas menyerahkannya kepada yang berhak menerimanya. Gondang sariu raja sudah dapat diacarakan agar semua handai taulan manortor (menari) dan bergembira serta adat ungkap hombung atau piso na ganjang tentu dalam “jumlah yang besar”serta pasituak na tonggi untuk rombongan hula-hula tentu dengan jumlah rupiah yang banyak pula…”

Tata cara saur matua terangkum dalam kebudayaan dan unsure dalihan na tolu yang merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam setiap upacara adat dan merupakan suatu hal ynag mendasari kehidupan bermasyarakat etnik

5Eva, Junita S.2016. Upacara Kematian Saur Matua Pada Adat Masyarakat Batak Toba (Studi Kasus Tentang Kesiapan keluarga) Di Desa Purbatua Kecamatan Purbatua Kabupaten Tapanuli Utara. JOM FISIP Vol. 3 No.1.

(31)

Batak Toba. Ketiga unsure Dalihan Na Tolu yakni: (1) hula-hula, (2) dongan tubu, dan (3) boru harus hidup dengan selaras, seimbang, dan teguh terutama dalam setiap upacara adat. Berikut penjelasan tentang ketiga istilah diatas:

1) Hula-hula, peranannya sebaga pemberi berkat. Symbol ikan mas arsik dan mengulosi melambangkan sebagai berkat yang diturunkan hula-hula kepada pihak boru-nya. Hal itu diberikan tujuannya agar nantinya seorang anak yang lahir kedunia tersebut akan menjadi anak yang berbakti pada orng tuanya dan diharapkan anak ini juga tumbuh sehat sampai ia dewasa. Untuk itu masyarakat Batak Toba sangat memerlukan hula-hula sebagai pemberi saluran berkat.

2) Dongan Tubu, sebagai pemberi informasi kpada masyarakat Batak Toba yang lainnya. Dimana masyarakat Batak Toba di perantauan jika tidak mengadirkan keluarga kandungya dalam upacara adat maka hal yang harus dilakukan hula-hula akan mencari keluarga terdekat yang berada di perantauan yang jelas usianya harus lebih tua dari hula-hula agar bersama- sama member berkat dan mendukung kesuksesan upacara adat tersebut.

3) Boru, peranannya tidak jauh dari hula-hula dan dongan tubu. Yng sedikit membedakan adalah pihak Boru ini dengan Hula-hula bersama-sama mengutamakan kesuksesan acara adat tersebut. Dengan demikian peran Boru ini merupakan rangkaian satu kesatuan yang tidak bias terlepas oleh pihak hula-hula. Hula-hula sebagai penggerak pelaksaan suatu upacara adat Batak Toba dan boru sebagai eksekusi yang ada dalam upacara adat Batak Toba.

(Simanjuntak:2017).

(32)

Dalam upacara adat, perlu adanya komunikasi antara pihak hula-hula, dongan tubu, dan juga boru. Dari interaksi social yang dilakukan oeh ketiga pihak tersebut dalam upacara adat Batak Toba menggnakan bahasa Batak Toba.

1.3. Rumusan Masalah

Dengan adanya latar belakang yang telah dijelaskan, maka dengan ini topik permasalahan diajukan dalam penelitian adalah bagaimana proses upacara kematian (antim sanskar) dalam agama Sikh di Kecamatan Medan Petisah.Dalam perumusan masalah tersebut dapat digolongkan menjadi 3 pertanyaan terkait dengan topik penelitian. Adapun yang menjadi pernyataan adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana proses pelaksanaan upacara kematian (antim sasnkar) dalam agama Sikh di Kecamatan Medan Petisah?

2. Apa makna simbol yang digunakan pada pelaksaan upacara kematian (antim sanskar) dalam agama Sikh di Keamatan Medan Petisah?

3. Siapa yang telibat pada pelaksanaan upacara kmatian (antim sanskar) dalam agama Sikh di Kecamatan Medan Petisah?

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan penelitian tersebut untuk:

1. Untuk mengetahui proses pelaksaan upacara kematian (antim sanskar) dalam agama Sikh di Kecamatan Medan Petisah.

2. Untuk mengetahui makna simbol yang digunakan pada pelaksaan upacara kematian (antim sanskar) dalam agama Sikh di Kecamatan Medan Petisah.

3. Untuk mengtahui pihak-pihak yng terlibat ppelaksaan upacara kematian (antim sanskar) dalam agama Sikh di Kecamatan Medan Petisah.

(33)

Manfaat penelitian merupakan sumber informasi untuk mengembangkan kegiatan ataupun wawasan. Adapun manfaat dari hasil penelitian adalah:

1. Secara teoritis penelitian ini dapat memberikn wawasan untuk mahasiswa dibidang Antropologi. Khususnya dalam Antropologi religi yang berkaitan dengan umat Sikh. Selain itu dapat menjadikan bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.

2. Secara praktis penelitian ini dapat menambah wawasan bagi masyarakat.

Khususnya umat Sikh ini berguna bagi lembaga keagamaan khususnya sikh. Lembaga pemerintahan agar dapat melestraikan kebudayaan etnis umat sikh.

1.5. Metode Penelitian

Bagi seorang antropolog, penelitian menjadi hal yang wajib dilakukan guna mendapatkan sebuah informasi. Hal itu dikarenakan informasi adalah hal yang mutlak dan tidak bisa ditawar. Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan etnografi. Etnografi secara pengertian umum adalah gambaran mengenai suatu suku bangsa. Sebagaimana telah diketahui bahwa aktivitas utama dari etnografi bertujuan untuk memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan pandangannya mengenai dunianya (Spradley, 2006:4). Pendekatan ini telah memberikan gambaran dengan jelas dan menyeluruh tentang suatu gejala dan fenomena yang menghasilkan suatu realitas. Penulis mejelaskan semua informasi yang didapatkan secara alamiah sesuai dengan fakta yang ada dilapangan.

Kemudian penulis telah menafsirkan berdasarkan apa yang dilihat dan didengar sesuai dengan prinsip etnografi.

(34)

Dalam aktivitasnya, seorang antropolog ataupun seorang peneliti yang menggunakan metode etnografi harus bisa menjelaskan dengan rinci tentang semua informasi dan data yang didapat dilapangan. Oleh karena itu, metode etnografi adalah metode yang paling cocok digunakan seorang peneliti khususnya bagi seorang antropolog karena melibatkan aktivitas belajar mengenal dunia orang yang telah belajar melihat, mendengar, berbicara, berfikir, dan bertindak dengan cara yang berbeda (Spradley, 2006:4). Etnografi tidak hanya semata-mata mempelajari kehidupan masyarakat melainkan lebih dari itu, etnografi belajar dari masyarakat. Artinya semua pengetahuan yang terdapat di dalam masyarakat harus bisa dijadikan sebuah hal yang bernilai karena bersumber langsung dari masyarakat.

Adapun yang menjadi kriteria informan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Dalam hal informan kunci, yang penulis pilih adalah tokoh agama Sikh di Gudwara Shree Guru Nanak Dev Ji dengan alasan seorang tokoh ini memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai upacara kematian (antim sanskar) dalam agama Sikh. Tokoh agama dalam hal ini adalah Giani (Pendeta) atau Pathee (pembaca kitab) sebagai pemimpin upacara kematian (antim sanskar) masyarakat Sikh dan tokoh yang membaca kitab Guru Granth Sahib.

b. Tokoh-tokoh yang bekerja di Gudwara Shree Guru Nanak Dev Ji dan krematorium Yayasan Krishna Lakhsmi. Informan ini dipilih karena beliau ikut membantu mempersiapkan segala keperluan upacara.

c. Warga dalam hal ini keluarga yang sedang melakukan upacara kematian.

(35)

1.6. Lokasi Penelitian

Maka untuk menjawab rumusan masalah penelitian maka penulis memilih Yayasan Gudwara Sri Guru Nanak Dev Jijalan. Teuku Umar, No. 14-16, Petisah Tengah, Kec. Medan Petisah, Kota Medan, Sumatera Utara 20112. Lokasi ini dipilih karena merupakan tempat berlangsungnya salah satu rangkaian upacara kematian (antim sanskar).

Gambar 1.1 Denah lokasi peneitian. Sumber. google maps 2021 1.7. Pengalaman Penelitian

Pertama kali untuk melakukan penelitian penulis sedikit kebingungan mau ke Gudwara yang terlebih dahulu didatangi, karena penulis tidak mengenal satu pun etnis India di wilayah Kampung Madras. Lalu teman saya menyarankan untuk pergi ke Gudwara Sri Guru Nanak Dev Ji untuk penelitian disana. Jadi, pada tanggal 20 Desember 2019, saya memulai penelitian di Jalan Teuku Umar di Kecamatan Medan Petisah dalam tepatnya berlokasi di dekat Gudwara Sri Guru Nanak Dev Ji. Saya pergi ke lokasi tersebut bersama Mama saya dan terkadang

(36)

dengan tema saya yang bernama Yasmin Khan. Saya memilih mereka sebagai teman untuk ke lokasi penelitian agar mempermudah saya berinteraksi dengan penduduk daerah tersebut yang mayoritas etnis Punjabi dan juga mengikuti sarannya untuk mewawancarai beberapa kerabatnya saja dahulu untuk mendapatkan info awal.

Saya sampai di lokasi sekitar pukul 10.30 WIB, saya datang dengan mengendarai sepeda motor bersama dengan teman sayaatau dengan Mama saya.

Orang-orang sekitar daerah tersebut awalnya membuat saya merasa sedikit canggung, mereka melirik-lirik saya dan teman saya atau mama saya, yang mungkin bagi mereka asing karena kami bukan warga di daerah tersebut. Lalu saya berdiskusi dengan teman saya atau mama saya tersebut untuk memulai darimana wawancaranya. Lalu teman saya menawarkan untuk mewawancarai Gianinya terlebih dahulu. Gianinya bernama Paviter Raj Kaur, beliau berumur 17 tahun. Awalnya saya melihat gaya berpakaian Giani tersebut berbeda dari yang lain, yakni Giani tersebut memakai simbol 5K yaitu : Kes (rambut dan jenggot yang tidak boleh dipotong), Khanga (sisir), Kirpan (pedang), Kach (celana pendek sampai selutut), Kara (sebuah gelang yang terbuat dari baja). lalu beliau menerima ajakan saya dengan dan ramah untuk mewawancarai dirinya. Awalnya Gianitersebut sedikit bingung atas kedatangan saya apalagi ketika saya mewawancarainya. Tapi teman saya membantu meyakinkan beliau, bahwa saya sedang melakukan penelitian untuk skripsi. Lalu Gianinya pun bersedia diwawancarai dengan menceritakan segala hal yang diketahuinya terkait upacara kematian. Kesan saya saat memasuki Gudwara tersebut adalah saya melihat mimbar umat Sikh ini. Kenapa? Karena saya melihat di mimbar itu ada seperti

(37)

bunga dan simbol umat mereka yaitu Sikh dan di atas mimbar tersebut ada sebuah kitab Guru Granth Sahib Ji dan beberapa kain yang menyelimuti kitab tersebut, hal tersebut dilakukan agar kesucian dari kitab tersebut tetap terjaga karena mereka menganggap Tuhannya ada dalam kitab tersebut. Sehingga setiap mereka membuka kitab tersebut, mereka membacanya sambil mengipas – ngipaskan kitab tersebut. Selama proses wawancara saya sedikit bingung karena Giani tersebut berbicara sedikit rancu sebab beliau terkadang menggabungkan Bahasa Punjabi, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Jadi saat merekam dan mencatat saya sedikit bingung mengartikan makna perkataan beliau. Untungnya teman saya sedikit paham bahasanya sehingga mempermudah saya untuk memahami setelah mendengar rekaman. Dan dalam wawancara tersebut Gianinya terkadang lupa tahapan dalam tradisi upacara kematian sehingga informasi yang didapatkan dari beliau sangat sedikit.

Setelah dari Gudwara tersebut kami mencari informan lainnya. Namun informan yang kedua ini saya tidak mendapatkan dari warga daerah tersebut.

Karena di hari tersebut hampir seluruh umat sedang ada acara khusus umat Sikh.

Jadi kami pergi ke wilayah lain, kami pergi ke daerah kampung anggrung tepatnya berada di belakang Hermes. Di sana kami mewawancarai salah satu warga yang bernama bapak Singh. Kami mewawancarai beliau karena bertepatan ada di Gudwara Tegh Bahadur.

Saat saya mendatangi Gudwara Tegh Bahadur tersebut, beliau sedang beristirahat di ruang tunggu sambil makan siang yang sudah disediakan oleh pihak Gudwara. Dan Gudwara tersebut tidak ramai, ada beberapa orang yang makan dan sambil ngobrol di ruang tunggu Gudwara Tegh Bahadur tersebut. Di sini saya

(38)

dan teman saya disambut dengan sangat baik dan ramah. Malahan sebelum saya merekam isi wawancara dengan beliau, beliau menanyakan kepada saya perihal tentang apa saja pertanyaan yang akan saya tanyakan kepada beliau, agar isi rekamannya berurut sesuai dengan daftar pertanyaan yang saya buat. Saya menyelesaikan wawancara di sore hari dan setelah itu saya dan teman saya pulang ke rumah.

Lalu, saya pergi lagi wawancara di tanggal 23 Januari 2020. Di sini saya pergi ditemani oleh mama saya. Saya pergi sekitar pukul 09.00 WIB, dan kami langsung bergerak ke tempat tujuan wawancara yakni di Gudwara Sri Guru Nanak Dev Ji. Awalnya saya sedikit ragu untuk ke Gudwara, karena bertepatan dengan acara yang sakral bagi mereka, sehingga masyarakat umum dilarang untuk meihat ataupun menghadirinya. Tapi saya tetap ke Gudwara tersebut untuk menggali informasi lebih dalam dan memastikan anggapan atau pendapat dari informan.

Namun beliau menyarankan untuk datang Gudwara yang berada di jalan.

Polonia untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas, berhubung di Gudwara Sri Guru Nanak Dev Ji ada acara yang sakral dan tidak boleh diganggu. Kemudian saya dan mama saya bergegas ke Gudwara tersebut. Kami sedikit bingung karena tidak ada orang di Gudwara tersebut, lalu kami masuk kedalam gedung dan di situlah kami menemukan kantor kepengurusan Gudwara Sri Guru Nanak Dev Ji.

Di sana kami bertemu dengan Pak Valsingh, beliau saat itu sedang sibuk menangani beberapa surat sehingga kami diminta untuk menunggu beliau di ruangan sebelahnya.

(39)

Kami menunggu beliau di ruangan tersebut, kurang lebih dalam jangka waktu 15 menit beliau menghampiri kami.Lalu kami berkenalan terlebih dahulu dengan beliau. Beliau menyambut kami dengan sangat baik dan ramah. Lalu beliau mempersilahkan kami duduk, kemudian beliau menanyakan perihal apa saja yang ingin saya ketahui tentang upacara tersebut. Beliau pun menjelaskan dengan sangat baik sehingga wawancara kami dengan beliau berlangsung sangat lama.

Informasi yang saya dapatkan dari beliau sangat membantu tulisan saya ini. Dan beliau pun menawarkan untuk bergabung bila ada acara-acara etnis Punjabi, dan saya pun menerimanya dengan senang hati.

Pada tanggal 25 Maret 2020 saya melakukan penelitian lagi. Saya pergi penelitian bersama teman saya Yasmin. Kami menjumpai informan kembali di Gudwara Sri Guru Nanak Dev Ji , di sana saya menemui Kak Sumitha dan Kak Salwin di Kantornya Gudwara Sri Guru Nanak Dev Ji, beliau menerima kedatangan kami dengan sangat baik. Namun saat wawancara berlangsung ada beberapa pertanyaan yang beliau kurang tahu jawabannya. Sehingga beliau mengajak saya untuk datang masuk kembali dan menemui Giani yag berasal dari India yang bernama Japnas Singh yang saat itu beliau lagi istirahat untuk menunggu ibadah dimulai. Saya ditemani oleh kakak yang dua itu kak Salwin dan kak Sumitha untuk berwawancara dengan Giani yang berasal dari India tersebut, disebabkan saya kurang dalam berbahasa Inggris walau beliau bisa berbahasa Inggris. Dan mereka berdua akhirya berbicara dengan bahasa Punjabi.

Kemudian saya pergi penelitian di tanggal 30 April 2020, saya ditemani oleh teman saya sendiri yang bernama Salim Rasyid. Kami kembali pergi ke Gudwara

(40)

dengan terlambat dengan pukul 12.05 wib bahwasannya ibadah sudah selesai pada pukul 12.00 wib dan pada akhirnya kami akhiri dengan pulang.

Adapun kendala yang dihadapi penulis selama penelitian, yaitu kurangnya informasi tentang orang yang sedang melaksanakan upacara ini, karena upacara ini dibuat secara mendadak. Sehingga penulis hanya pernah mengikuti dan melihat tradisi tersebut beberapa kali.

(41)

BAB II

GAMBARAN UMUM UMAT SIKH

2.1. Sejarah Lahirnya Agama Sikh

Sikishme (bahasa:Punjab) adalah agama keenam terbesar di dunia. Agama ini berkembang pesat pada abad ke 16 dan ke 17 di India (Nadroh, Agama-agama Minor 2015:205). Kata Sikishme berasal dari kata Sikh,yang berarti “murid” atau

“pelajar”. Agama Sikh atau Sikishme adalah sebuah agama orang India, agama baru ini mengandung sedikit ajaran Islam dan Hindu di bawah Semboyan “Bukan Hindu dan bukan Muslim”.

Agama Sikh bermula di Sultanpur, berhampiran dengan Amritsar di wilayah Punjab, India. Pendiri dari agama Sikh ini ialah Guru Nanak (1469-1539), seorang yang pada asalnya beragama Hindu tetapi atas keinginannya untuk menjaikan sebuah agama yang doleh diterima oleh semua orang India, Guru Nanak telah menggabungkan ciri-ciri terbaik agama Islam dan Hindu. Beliau dilahirkan dalam keluaraga Hindu yang ketat pada tahun 1469. Guru Nanank sejak kecil sudah menunjukkan pemberontakan terhadap ajaran Hindu. Sebuah kisah yang paling terkenal adalah bagaimana Guru Nanak kecil menolak pemasangan benang suci janeu. (janeu adalah benang suci umat Hindu). Dalam tradisi Brahmin, bocah kecil yang beranjak dewasa akan mendapatkan benang suci putih yang diikatkan melingkar dari pundak kiri ke pinggang kanan. Benang ini dipakai terus sepanjang hidup. Setidaknya sekali dalam setahun, janeu kaum Brahmin diganti dalam upacara khusus. Hanya orang kasta Sudra (kasta terendah) yang tidak melingkarkan janeu di tubuh mereka. Tetapi Guru Nanak tidak peduli,tetap tak

(42)

mau memasang benang itu ke tubuhnya. Baginya, kualitas manusia bukan ditentukan oleh benang.

Beliau bersabda,

“Meskipun mereka melakukan pencurian, perzinahan, kebohongan, pelecehan, perampokan, dosa yang tak terbilang jumlahnya, meyakiti sesama makhluk siang malam, tetapi benang kapas selalu dilingkarkan Brahmana ke tubuh mereka. Mereka melanggar upacara, membunuh kambing, menyiapkan makanan, dan orang suci berkata „pasangla janeu‟. Ketika janeu itu sudah tua, benang itu dibuang, diganti dengan yang lain. Tidaklah dawai itu kekal dan abadi kalau ia selalu rusak dan dibuang.”

Semasanya, Guru Nanak sering berdebat dengan pemuka agama Hindu dan Muslim. Saripati keagungan kedua agama besar itu juga nampak dalam ajarannya.

Guru Nanak adalah musafir, menempuh perjalanan beribu-ribu kilometer untuk mencari kebenaran hidup, pencerahan batin, dan keagungan Tuhan. Ia melintasi gunung-gunung salju Himalaya menuju Tibet, melintasi padang pasir Sindh, menyebrangi lautan Arabia, menempuh perjalana suci ke tanah Mekkah, Baghdad, Persia, Afghanistan, untuk belajar dari alam semesta raya. Shri Guru Granth Sahib, kitab suci umat Sikh, bukan hanya ditulis oleh guru-guru Sikh, tetapi juga oleh orang suci dari kepercayaan dan agama lain.

Hanya ada satu (1) Tuhan, manusia bisa berhubungan langsung dengan Tuhan dan tanpa perlu perantara ritual dan pendeta, dan penolakan terhadap pembedaan manusa berdasarkan kasta dan gender adalah poin-poin utama dalam ajaran Sikh.

Oleh karena itu, agama Sikh seperti Islam percaya kepada adanya satu (1) Tuhan tetapi Tuhan penganut Sikh dipanggil dengan Waheguru. Selepas beliau meninggal dunia, penggantinya juga diberikan pangkat guru. Sebanyak sepuluh Guru telah mengambil alih tempat Guru Nanak dan secara perlahan-lahan, mereka

(43)

telah menjauhkan diri dari agama Hindu dan Islam.Rangkaian ini berakhir pada tahun 1708 selepas kematian Shri Guru Gobind Singh yang tidak meninggalkan pengganti manusia tetapi meninggal satu himpunan skip suci yang dipanggil dengan Adi Granth. Skrip ini kemudia diberi nama dengan Shri Guru Granth Sahib (yang merupakan kitab suci umat Sikh). Shri Gobind Singh juga telah menumbuhkan sebuah persatuan “Persaudaraan Khalsa Sikh”.

Ciri yang didapat dilihat dari agama Sikh bahwa mereka menggunakan tutup kepala baik laki-laki maupun perempuan. Penutup kepala yang mereka gunakan adalah dastar atau sorban. Sorban tersebut digunakan untuk menutup rambut mereka. Hal ini dilakukan karena menurut perintah agama mereka bahwa mereka tidak boleh memotong rambutnya dan harus menutupi rambut mereka.

Penggunaan sorban ini adalah pilihan bagi umat Sikh. Artinya dalam kehidupan sehari-hari mereka berhak memilih untuk menggunakan penutup kepala atau tidak. Namun dalam kegiatan ibadah ataupun upacara keagamaan umat Sikh harus menggunakan penutup kepala. Aturan ini juga berlaku bagi setiap orang yang memasuki kawasan Gudwara, baik itu umat Sikh ataupun tamu dan para pengunjung yang datang. Selain itu, umat Sikh yang bersuku punjabi memiliki marga yang terletak dibelakang namanya seperti Sekhon, Maan, Dieol, Sran, Sandhu, Gill, Dhillon, Siwia, Senggah, Sidhu, dan lain sebagainya.

(44)

Gambar 2.1 Umat Sikh menggunakan penutup kepala di dalam kawasan Gudwara (dokumentasi pribadi 2019)

Umat Sikh juga memelihara ketentuan yang disebut dengan disiplin sakramen.

Disiplin sakramen menyatakan bahwa seorang Sikh harus mengikuti upacara- upacara pada waktu kelahiran, perkawinan dan kematian dalam satu keluarga.

Didalam setiap upacara ia garus bersikap penuh kewibawaan dan seimbang dengan menghaturkan doa sesuai dengan keadaan (Nadroh, Agama-agama Minor 2015:203).

Selain ciri diatas, ciri-ciri masyarakat Sikh secara khusus dapat diketahui melalui Khalsa. Kata “Khalsa” berarti “murni”, para Khalsa adalah umat Sikh yang telah mengikuti upacara suci „amrit‟ yang diprakasai oleh Guru Sikh ke-10, Guru Gobind Singh. Upacara baptisan Khalsa dilakukan sebagai bagian dari evolusi spiritual yang pribadi ketika memulai siap untuk sepenuhnya hidup sesuai dengan harapan yang tinggi dari Guru Gobind Singh. Semua Singh diharapkan mengikuti Khalsa atau bisa bekerja sama menuju tujuanitu. (www.sikhs.org)

(45)

Upacara baptisan Khalsa termasuk minum dari Amrit (air gula yang diaduk dengan belati) di hadapan lima Khalsa sikh serta Guru Granth Sahib. Para Khalsa diperintahkan untuk menuruti perintah atau peraturan berikut ini:

a. Anda tidak akan pernah menghilangkan rambut dari bagian tubuh-Mu, b. Anda tidak akan menggunakan temabakau, alkohol, atau minuman keras lainnya,

c. Anda tidak akan makan daging dari hewan yang disembelih dengan cara Islam,

d. Anda tidak berzinah.

Para Khalsa kemudia diperbolehkan memakai simbol-simbol fisik Khalsa di sepanjang waktu serta mengikuti kode etik Khalsa. (wawancara dengan bapak Singh, 17 November 2019). Setelah melakukan Khalsa maka mereka harus menggunakan benda-benda kepercayaan jasmaniah berikut ini:

(1) Karra

Karra yang berarti pertalian atau persaudaraan yang erat diantara pengikut agama Sikh. Karra merupakan sebuah Gelang yang terbuat dari baja tertentu.

Maknanya yaitu: ikutilah agama secara menyeluruh, melambangkan suatu kebulatan antara sesama umat Sikh, dan yang terakhir adalah sebagai penangkal dari aura-aura dan kekuatan negatif.

(46)

Gambar 2.2 Karra (gelang yang terbuat dari baja) dokumentasi pribadi 2019

(2) Khanga

Khanga yang berarti sisir. Umat Sikh harus terlihat rapi. Dengan menggunakan sisir ini mereka merapikan rambut yang kekusutan dan membersihkan dari kotoran.

Gambar 2.3 Sisir umat Sikh,

(3) Kesh

Kesh yang berarti memelihara rambut sebagai suatu simbol kepercayaan kepada Tuhan (waheguru) dan mengajarkan kerendahan hati. Setelah dibaptis Umat Sikh dilarang untuk memotong rambut yang ada di sekujur tubuhnya.

(47)

Gambar 2.4 Rambut sebagai simbol kepercayaan kepada Tuhan.

Saat ini penggunaan Kesh mengalami perubahan. Dimana, tidak semua lelaki Sikh menggunakan Kesh tersebut. Hal ini dilakukan karena pada saat ini juga tidak semua lelaki Sikh rambut panjang.

(4) Kirpan

Kirpan merupakan pedang kecil. Ini merupakan simbol dari aktifitas kebaikan, penghormatan dan juga penghormatan pada diri sendiri. Namun pada zaman sekarang Kirpan banyak digantikan dengan pedang-pedangan karena takut dianggap sebagai teroris.

Gambar 2.5 Kirpan (Pedang Kecil umat Sikh).

(48)

Uraian diatas merupakan ciri-ciri kaum Sikh pada masa awal agama ini berdiri.

Di dalam perkembangannya, beberapa penggunaan ciri ini banyak bergeser.

Sebagai contoh saat ini tidak semua laki-laki Sikh memanjangkan rambutnya. Di dalam beberapa kali ibadah yang penulis ikuti, penulis menjumpai banyak menjumpai pria Sikh yang saat ini tidak berambut panjang. Tetapi pemuka agama mereka seperti pendeta dan beberapa orang-orang tertentu masih memanjangkan rambut mereka. Hal ini ditandai dengan penggunaan sorban oleh para pendeta.

Jemaat laki-laki yang lain, ada umumnya hanya memakai penutup kepala saja.

Dari keadaan ini, penulis juga melihat adanya perkembangan penggunaan sorban oleh para laki-laki Sikh. Yang dimana, karena rambut mereka saat ini tidak lagi panjang, maka mereka tidak lagi menggunakan sorban.

Gambar 2.6 Penggunaan ciri laki-laki Sikh

Untuk perempuan Sikh, biasanya menggunakan penutup kepala dan pakaian yang menutup aurat, celana longgar,baju selutut, selendang 2 meter. Dan pakaian yang mereka kenakan ataupun hampir sama dengan baju sari yang sering digunakan oleh perempuan India pada umumnya.

(49)

Gambar 2.7 Penggunaan ciri perempuan Sikh. dokumentasi pribadi 2020

2.2. Keberadaan Agama Sikh di Kota Medan

Dalam bagian ini penulis akan menjelaskan tentang keberadaan Agama Sikh di Kota Medan. Beberapa hal yang menyangkut didalamnya seperti sejarah agama Sikh, sistem ibadah yang dimana nanti akan dibahas juga tentang tempat ibadah yang merupakan lokasi penelitian penulis yaitu Gudwara Sri Guru Nanak, Medan.

Sistem bahasa dan sistem kesenian juga akan menjadi bagian dari pembahasan pada topik karena ini dianggap penting dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari umat Sikh.

2.2.1. Sejarah Agama Sikh di Kota Medan

Ajaran Sikh masuk ke Indonesia melalui pedagang India dan Gujarat. Namun menurut pengakuan dari salah seorang penganut agama Sikh bernama Baldev Singh (41) disamping masuk melalui jalur perdagangan namun ada juga beberapa yang dibonceng oleh tentara sekutu pada perang dunia kedua. Mereka dipekerjakan pada perkebunan-perkebunan milik pemerintah. Namun kurang

Gambar

Gambar 1.1 Denah lokasi peneitian. Sumber. google maps 2021  1.7. Pengalaman Penelitian
Gambar 2.1 Umat Sikh menggunakan penutup kepala di dalam kawasan Gudwara  (dokumentasi pribadi 2019)
Gambar 2.2 Karra (gelang yang terbuat dari baja) dokumentasi pribadi 2019
Gambar 2.5 Kirpan (Pedang Kecil umat Sikh).
+7

Referensi

Dokumen terkait

EVALUASI PENGUKURAN PRESTASI KERJA PUSAT LABA KEPALA BAGIAN PEMASARAN dan dimajukan untuk diuji pada tanggal Juni 2010 adalah hasil karya saya.. Dengan ini saya menyatakan

Dari hasil analisis data yang telah diperoleh sehingga dapat disimpulkan bahwa secara keseluruahan (1) aktivitas guru dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar dalam penerapan

Panjang HEPP Merangin HEPP Peusangan 1-2 HEPP Blangkjeren Kuta Cane Lawe Mamas HEPP Pasir Putih Perbaungan Lamhotma Aur Duri PLTU Jambi (KPS) Lahat Bukit Asam Betung PLTU S..

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian, dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin

Hal ini dapat dilihat dari pernyataan bahwa PNS yang akan duduk sebagai wakil kepala daerah adalah orang yang memiliki pengalaman yang lama dalam bidang pemerintahan. Pengalaman

 Title: Community Forestry in New Era of encouraging local livelihoods under international climate change and forest conservation policies.  Fund: Japanese

Yang terakhir Mengurangi jumlah pajak (Pemerintah dapat mengurangi beban pajak yang dikenakan terhadap produk-produk batik dalam negeri agar para pengrajin

Merupakan model perilaku pembelian yang mempunyai ciri-ciri terdapat keterlibatan mendalam oleh konsumen dalam memilih produk yang akan dibeli dan adanya perbedaan pandangan