• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA SISA MATERIAL KONSTRUKSI DAN PENANGANANNYA PADA PROYEK GEDUNG PENDIDIKAN PROFESI GURU UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA (177K)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISA SISA MATERIAL KONSTRUKSI DAN PENANGANANNYA PADA PROYEK GEDUNG PENDIDIKAN PROFESI GURU UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA (177K)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISA SISA MATERIAL KONSTRUKSI DAN PENANGANANNYA PADA

PROYEK GEDUNG PENDIDIKAN PROFESI GURU UNIVERSITAS NEGERI

SURABAYA

(177K)

Farida Rahmawati1dan Diana Wahyu Hayati1

1Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Email: [email protected]

ABSTRAK

Pada proyek pembangunan gedung Pendidikan Profesi Guru Universitas Negeri Surabaya, banyak dijumpai sisa material proyek. Sisa material disebabkan antara lain oleh proses bongkar muat yang tidak sempurna sehingga menyebabkan kerusakan atau tidak dapat digunakannya kembali material tersebut dan menjadi construction material waste . Penyebab lain, luas area proyek gedung yang terbatas dan kurang memadai menyebabkan kontraktor kesulitan dalam penyimpanan material yang akan dipakai, sehingga menyebabkan penumpukan material yang dapat menimbulkan kerusakan atau tidak dapat digunakan kembali. Sisa-sisa material ini bila tidak direncanakan pengendalian atau pemanfaatannya akan merugikan proyek dan kelestarian lingkungan di sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui material yang berpotensi menjadi waste, mengetahui waste

index serta waste cost yang dihasilkan oleh material sisa dan mengidentifikasi penyebab waste

menggunakan fishbone diagram sehingga dapat disusun strategi meminimalkan waste, agar waste serupa tidak muncul lagi pada proyek selanjutnya. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara penanganan waste yang tepat untuk setiap sisa material yang ada dengan menggunakan metode waste hierarchy. Dari hasil analisa Pareto maka material yang berpotensi menjadi waste dan memiliki waste cost terbesar yaitu : Bata ringan dengan waste cost sebesar = Rp 41.587.835,21. Faktor penyebab terjadinya waste material pada proyek Gedung Pendidikan Profesi Guru Universitas Negeri Surabaya adalah faktor man, measures dan

management yang dilaksanakan kurang baik. Langkah-langkah Yang harus dilakukan untuk

meminimalkan waste antara lain yaitu : Melakukan pengawasan dan pembimbingan/arahan kepada pekerja, koordinasi tim lapangan, tim teknik dan procurement harus intens dilaksanakan, bekerja sama dengan proyek lain untuk mengalihkan material yang tidak terpakai.

Kata kunci Waste Material, Fishbone Diagram, Waste Hierarchy.

1.

PENDAHULUAN

Pada pelaksanaan sebuah proyek konstruksi bangunan, tidak akan dapat dihindari munculnya sisa material konstruksi atau biasa disebut dengan construction waste. Sisa material konstruksi didefinisikan sebagai sesuatu yang sifatnya berlebih dari yang disyaratkan baik itu berupa hasil pekerjaan maupun material konstruksi yang tersisa/tercecer/rusak sehingga tidak dapat digunakan lagi sesuai fungsinya (J.R. Illingworth, 1998). Material adalah salah satu komponen penting yang memiliki pengaruh cukup erat dengan biaya suatu proyek, maka dengan adanya sisa material konstruksi yang cukup besar dapat dipastikan terjadi pembengkakan pada sektor pembiayaan. Selain itu, sisa material konstruksi adalah salah satu limbah yang menghasilkan prosentase yang cukup tinggi dalam pencemaran lingkungan.

Pembangunan gedung Pendidikan Profesi Guru Universitas Negeri Surabaya memiliki 10 lantai dengan luas bangunan sebesar 2990 m2, membutuhkan berbagai jenis material. Pada proyek pembangunan gedung Pendidikan Profesi Guru Universitas Negeri Surabaya, banyak dijumpai sisa material proyek. Salah satu penyebabnya adalah proses bongkar muat yang tidak sempurna sehingga menyebabkan kerusakan atau tidak dapat digunakannya kembali material tersebut. Selain itu, luas areal proyek gedung yang terbatas dan kurang memadai menyebabkan kontraktor kesulitan dalam penyimpanan material yang akan dipakai, sehingga menyebabkan penumpukan material yang dapat menimbulkan kerusakan atau tidak dapat digunakan kembali. Itu artinya material tersebut akan menjadi construction waste . Sisa material ini bila tidak direncanakan pengendalian atau pemanfaatannya akan merugikan proyek dan kelestarian lingkungan di sekitarnya.

Untuk itu, dibutuhkan suatu studi untuk mengidentifikasi material yang berpotensi untuk menghasilkan

(2)

sisa material proyek agar tidak merugikan proyek serta lingkungan di sekitar pembangunan gedung pada umumnya dan proyek pembangunan gedung Pendidikan Profesi Guru Universitas Negeri Surabaya khususnya.

2.

TINJAUAN PUSTAKA

Material yang digunakan dalam konstruksi dapat digolongkan dalam dua bagian besar (Gavilan dan Bemold, 1994), yaitu:

1. Consumable material, merupakan material yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari struktur fisik

bangunan, misalnya: semen, pasir, kerikil, batu bata, besi tulangan, baja, dan lain-lain.

2. Non-consumable material, merupakan material penunjang dalam proses konstruksi, dan bukan merupakan

bagian fisik dari bangunan setelah bangunan tersebut selesai, misalnya: perancah, bekisting, dan dinding penahan sementara.

Terjadinya sisa material konstruksi dapat disebabkan oleh satu atau kombinasi dari beberapa sumber dan penyebab. Gaspers (2001) membedakan sumber-sumber permasalahannya menjadi enam yaitu : metode, pengukuran, manusia, lingkungan, mesin, dan material.

2.1. Waste Cost

Pengelolaan limbah lebih lanjut akan menghemat pengeluaran, menaikkan pendapatan, dan juga mengurangi waste. Banyak kontraktor tidak menyadari bahwa sebenarnya dari material waste (The true cost of

material waste) (Branz,2002 dalam Gatu, 2011) adalah :

Metode pendekatan waste cost bisa dilakukan bila dalam proyek tidak ada management waste plan, yaitu dengan rumus :

Keterangan:

% Bobot Pekerjaan = Jumlah harga material 2.2. Waste Level

Waste level ini dihitung untuk mengetahui volume waste dari masing- masing item material yang di teliti. Waste level ini dihitung menggunakan metode pendekatan dengan rumus umum :

Keterangan :

Vol. waste = vol. material terpakai – Vol. material terpasang Vol. kebutuhan material = vol. kebutuhan material yang ditinjau 2.3. Waste Hierarchy

Pada setiap proyek jenis material yang digunakan bermacam-macam. Dan hal itu berpengaruh pada sisa material yang dihasilkan. Adapun cara-cara penanganan terhadap sisa material konstruksi salah satunya dengan

waste hierarcy.

Waste hierarchy mengarah pada konsep 3R yaitu reduce (mengurangi), reuse (penggunaan ulang), recycle

(daur ulang).

a. Reduce

Reduce (pengurangan) material konstruksi dalam hal ini dibagi menjadi 2 cara, yaitu:



Prevention (pencegahan), usaha yang dilakukan untuk mencegah penggunaan

material yang dapat menghasilkan sisa material konstruksi..



Minimalization (minimalisasi), usaha yang dilakukan untuk mengurangi sisa material

Waste Cost = waste level x % Bobot Pekerjaan

x Total Nilai Kontrak

(3)

c. Recycle

Recycle (daur ulang) merupakan proses pengolahan sisa material konstruksi

menjadi material konstruksi yang memiliki kualitas yang hampir sama dengan material

yang baru.

3.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian analisis yang akan menganalisa volume waste dan waste cost. Untuk material dengan waste cost terbesar akan dirumuskan rekomendasi penanganannya sesuai waste hierarchy. Langkah-langkah penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pengumpulan data:

a. Rencana Anggaran Biaya untuk mengetahui harga material yang digunakan b. Bill of Quantity untuk mengetahui volume material yang direncanakan

c. Laporan logistik untuk mengetahui volume material yang digunakan (real)

d. As-built drawing

2. Mengidentifikasi material berbiaya tinggi dengan analisa Pareto, yaitu dengan membuat daftar material yang digunakan, menghitung volume dan harga. Material dengan biaya tinggi akan berpotensi menghasilkan waste cost yang tinggi pula

3. Setelah didapatkan material yang akan diteliti, akan dihitung volume waste dan waste cost serta meranking material berdasarkan waste cost

4. Untuk material dengan waste cost terbesar, akan diidentifikasi penyebabnya dengan fishbone diagram, berdasarkan kriteria manusia, mesin, metode, metode, dan lingkungan

5. Menentukan cara penanganan waste berdasarkan waste hierarchy

4.

ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1. Identifikasi Material Yang Berbiaya Besar dan Berpotensi Menimbulkan Waste

Dalam melakukan identifikasi material, pertama kali yang harus dilakukan adalah merangking trading

consumable material berdasarkan harganya, sehingga di dapatkan harga yang besar menjadi urutan pertama.

Selanjutnya, dibuat kolom persen biaya yang kemudian dikomulatifkan sehingga menghasilkan kolom persen biaya. Cara menentukan persen biaya adalah harga material dibagi dengan harga seluruh material lalu dikalikan 100%.

Tabel 1 Analisa Trading Consumable Material

Setelah kumulatif persen biaya didapat maka bisa dibuat grafik analisa yang dikombinasikan dengan grafik pareto yang akan menghasilkan grafik analisa pareto.

1 Besi Polos 10 kg 574.461,49 7.100,00 4.078.678.023,77 4.078.678.023,77 41,12 41,12 2 Besi Ulir 22 kg 548.396,62 7.100,00 3.893.617.392,11 7.972.295.415,88 39,25 80,37 3 bata ringan m3 1.046,36 815.000,00 852.780.058,50 8.825.075.474,38 8,60 88,96 4 Besi Polos 16 kg 64.724,82 7.100,00 459.546.373,34 9.284.621.847,71 4,63 93,60 5 Keramik 50 x 50 sekualitas Roman m2 7.777,21 39.000,00 303.311.217,30 9.587.933.065,01 3,06 96,65 7 Genteng sekualitas Abadi bh 20.194,00 5.000,00 100.970.000,00 9.688.903.065,01 1,02 97,67 8 Besi Ulir 16 kg 13.342,04 7.100,00 94.728.535,58 9.783.631.600,59 0,95 98,63 9 Besi polos 8 kg 6.113,11 6.973,00 42.626.714,94 9.826.258.315,53 0,43 99,06 10 Keramik 20 x 25 sekualitas Roman m2 1.118,50 37.100,00 41.496.424,20 9.867.754.739,73 0,42 99,48 11 Keramik 20 x 20 KM sekualitas Roman m2 887,36 33.000,00 29.282.992,20 9.897.037.731,93 0,30 99,77 12 Keramik 30 x 30 sekualitas Roman m2 296,29 28.600,00 8.473.751,00 9.905.511.482,93 0,09 99,86 13 Non Slip Keramik 338,25 24.500,00 8.287.125,00 9.913.798.607,93 0,08 99,94 14 Bubung Genteng sekualitas Abadi bh 607,60 9.900,00 6.015.240,00 9.919.813.847,93 0,06 100,00

9.919.813.847,93 100,00

No. Material Sat Vol HSPK Total Harga Komulatif Harga %

Biaya Kom %

Biaya

(4)

Gambar 1. Grafik Pareto

Gambar 1. Analisa Pareto

Dari gambar 1 dapat dilihat bahwa pada saat nilai X= 20, maka nilai Y=88 dan pada saat nilai Y=80, maka nilai X=14. Dari hasil tersebut dapat diketahui P dan C dengan cara mengambil selisih angka dari grafik pareto dan analisa. Sehingga didapat :

P = 20% - 14% = 6% dan C = 88% - 80% = 8%

Empat item pekerjaan yang akan dipilih adalah empat item pekerjaan yang memiliki nilai tertinggi dalam analisa trading consumable material. Empat material tersebut adalah besi polos Ø10, besi ulir D22, bata ringan, dan besi polos Ø16.

4.2. Waste Level

Waste level dihitung untuk mengetahui volume waste dari masing-masing material yang sudah diperoleh dari hasil

analisa Pareto

Tabel 2 Rekapitulasi Waste Level

No Material Sat Kedatangan

Logistik Terpasang (As Built Drawing) Vol. Waste Waste Level (%) 1 Bata ringan m3 1.100,00 1.046,36 53,64 4,88 2 Besi Polos Ø 16 Kg 89.301,60 88.030,31 1.271,29 1,42 3 Besi Ulir D 22 Kg 730.576,80 729.463,46 1.113,34 0,15 4 Besi Polos Ø 10 Kg 792.170,00 791.967,95 202,05 0,03

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa material yang memiliki presentase waste level terbesar adalah bata ringan dengan volume waste sebesar 53,63 m3 dan waste level sebesar 4,88%. Sedangkan material yang memiliki presentase waste level terkecil adalah besi polos Ø10 dengan volume waste sebesar 202,05 kg dan waste level sebesar 0,03%. Dari tabel juga dapat dilihat bahwa material yang memiliki volume waste tinggi tidak selalu memiliki waste level yang tinggi juga karena waste level dipengaruhi bukan hanya oleh volume waste tetapi rasio volume waste dengan kedatangan logistik.

4.3. Waste Cost

Perhitungan waste cost dilakukan karena ingin mengetahui apakah volume waste yang besar juga menghasilkan waste cost yang besar pula. Perhitungan dilakukan dengan rumus pendekatan sebagai berikut :

Waste cost = waste level x bobot pekerjaan x total nilai kontrak

P ro se n ta se B ia y a (% )

Prosentase Item Pekerjaan (%)

              0:*/249*:.<8 0:*/24*7*52;* X Y

(5)

Tabel 3. Rekapitulasi Waste Cost

4.4. Analisa Penyebab Sisa Material dengan Fishbone Diagram

Dalam penelitian ini, penentuan faktor-faktor penyebab terjadinya waste akan dianalisa menggunakan

fishbone diagram sehingga dapat diketahui akar permasalahan yang menjadikan material waste. Menurut Vincent

Gaspers dalam bukunya yang berjudul Total Quality Management faktor-faktor yang berpengaruh menyebabkan

waste material adalah man, measures, management, machines, material, dan environment. Dalam proyek

pembangunan Gedung Pendidikan Profesi Guru Universitas Negeri Surabaya ada beberapa faktor yang tidak mempngaruhi waste material pada proyek tersebut yaitu machines, material, dan environment, lebih jelasnya dapat dilihat dalam penjabaran faktor penyebab waste berdasarkan jenis materialnya dibawah ini:

Gambar 2. Diagram Fishbone untuk bata ringan 1. Man

a) kurangnya pengetahuan dan pengalaman kerja i. Membuang atau melempar material

ii. Menangani material tidak hati-hati pada saat pembongkaran untuk dimasukkan ke dalam gudang

iii. Memasang material tidak sesuai gambar sehingga perlu diganti karena material tidak bisa dipakai lagi.

iv. Kesalahan pada pemotongan material yang mengakibatkan sisa potongan material tidak dapat dipakai lagi

2. Measure

a) pengukuran dilapangan tidak tepat, jauh lebih besar dari pada apa yang dibutuhkan, sehingga menimbulkan waste .

3. Management

a) Pesanan tidak dapat dilakukan dalam jumlah kecil b) Kondisi penerimaan kurang baik :

i. Material tidak dikemas dengan baik

ii. Kerusakan material akibat transportasi ke/di lokasi proyek

c) Penyimpanan material yang tidak benar akhirnya menyebabkan kerusakan sehingga tidak bisa dipakai lagi

d) Kurangnya pengawasan pada saat pelaksanaan

Identifikasi penyebab waste untuk material besi polos Ø16, besi ulir D22, besi polos Ø10 ditabelkan sebagai berikut: #*7 , + #*7*0.6.7< #.*;=:. -* 2 22 222 2> / . > >2 1 Bata ringan 1.046,36 1.100,00 53,64 4,88 815.000,00 896.500.000,00 0,02 41.587.835,21 2 Besi Polos Ø 16 88.030,31 89.301,60 1.271,29 1,42 7.100,00 634.041.586,43 0,01 6.542.073,47 3 Besi Ulir D 22 729.463,46 730.576,80 1.113,34 0,15 7.100,00 5.187.097.132,45 0,08 5.933.544,66 4 Besi Polos Ø 10 791.967,95 792.170,00 202,05 0,03 7.100,00 5.624.409.008,62 0,08 1.040.303,31 NO KETERANGAN VOLUME MATERIAL TERPASANG VOLUME MATERIAL TERPAKAI VOLUME WASTE WASTE LEVEL HARGA

SATUAN JUMLAH HARGA

BOBOT

(6)

Tabel 4. Identifikasi penyebab waste

Man Measure Management

besi polos Ø16 kurangnya pengetahuan dan pengalaman kerja : Kesalahan pada pemotongan material yang mengakibatkan sisa potongan material tidak dapat dipakai lagi

pengukuran dilapangan tidak tepat, jauh lebih besar dari pada apa yang dibutuhkan, sehingga menimbulkan waste

Pesanan tidak dapat dilakukan dalam jumlah kecil sehingga kontraktor harus membeli besi lebih, sesuai standart minimal yang akhirnya kelebihan tersebut menjadi waste

besi ulir D22 kurangnya pengetahuan dan pengalaman kerja : Kesalahan pada pemotongan material yang mengakibatkan sisa potongan material tidak dapat dipakai lagi

pengukuran dilapangan tidak tepat, jauh lebih besar dari pada apa yang dibutuhkan, sehingga menimbulkan waste

Pesanan tidak dapat dilakukan dalam jumlah kecil sehingga kontraktor harus membeli besi lebih, sesuai standart minimal yang akhirnya kelebihan tersebut menjadi waste

besi polos Ø10 kurangnya pengetahuan dan pengalaman kerja: Kesalahan pada pemotongan material yang mengakibatkan sisa potongan material tidak dapat dipakai lagi

pengukuran dilapangan tidak tepat, jauh lebih besar dari pada apa yang dibutuhkan, sehingga menimbulkan waste

Pesanan tidak dapat dilakukan dalam jumlah kecil sehingga kontraktor harus membeli besi lebih, sesuai standart minimal yang akhirnya kelebihan tersebut menjadi waste

4.5. Penanganan Sisa Material Menggunakan Waste Hierarchy

Dari akar-akar permasalahan penyebab waste yang dijabarkan dalam fishbone diagram, bisa dianalisa penanganan sisa material menggunakan waste hierarcy. Analisa waste hierarcy ini didapat dari hasil wawancara kepada site manager proyek guna mendapatkan penanganan sisa material yang paling tepat. Hasil waste hierarcy pada proyek Proyek Pembangunan Gedung Pendidikan Profesi Guru Universitas Negeri Surabaya bisa dilihat dari tabel 5 dibawah ini :

Tabel 5 Penanganan Waste yang Tepat Sesuai Waste Hierarcy

Langkah-Langkah Meminimalkan Waste (Waste Reduction)

Dalam penelitian ini, untuk mengetahui langkah-langkah dalam mengatasi waste dilakukan tanya jawab dengan pelaku proyek, dalam hal ini pelaku proyek yang dimaksud adalah site manager proyek. Langkah-langkah yang dihasilkan yaitu bersifat opini pelaku proyek yang berasal dari pengalaman-pengalaman dilapangan dan pengalaman khususnya dari pelaksanaan Pembangunan Gedung Pendidikan Profesi Guru Universitas Negeri Surabaya.

Secara umum langkah-langkah meminimalkan waste berdasarkan materialnya adalah sebagai berikut: 1. Man

a) Melakukan pengawasan dan pembimbingan/arahan kepada pekerja. b) Memilih mandor yang berintegritas

2. Measure

&.=;. &.-=,. &.,@,5. &.=;. &.-=,. &.,@,5. &.=;. &.-=,. &.,@,5. &.=;. &.-=,. &.,@,5. #*7 > > > > > > > > > #.*;=:. > > > > > > > > > #*7*0.6.7< > > > > > > > > #*,127. 7>2:876.7< .;2 A .;2  .;2 *<*&270*7

(7)

c) Pembuatan program penyimpanan material yang baik. Sistem perencanaan penyimpanan material yang baik akan sangat berpengaruh terhadap peminimalisiran waste.

d) Menambah tim QA/QC dan pengawas di lapangan.

5.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisa Pareto maka material pada Proyek Gedung Pendidikan Profesi Guru Universitas Negeri Surabaya yang berpotensi memberikan kontribusi terbesar terhadap waste cost yaitu Bata ringan dengan

waste cost sebesar = Rp 41.587.835,21. Sedangkan nilai waste index pada proyek gedung Pendidikan Profesi Guru

Universitas Negeri Surabaya yaitu sebesar 0,0531. Faktor-faktor yang berpengaruh menyebabkan waste material pada bata ringan, besi polos Ø16, besi ulir D22, dan besi polos Ø10 dalam proyek gedung Pendidikan Profesi Guru Universitas Negeri Surabaya adalah faktor man, measure, dan management.

Langkah-langkah untuk mereduksi waste dapat dirumuskan sesuai kriteria manusia, pengukuran dan manajemen. Cara-cara tersebut antara lain melakukan pengawasan, melakukan pengawasan yang tepat dan program penyimpanan material dengan lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA (DAN PENULISAN PUSTAKA)

Bossink, B. A. G, dan H. J. H. Brouwers, 1996. Construction Waste : Quantification And Source Evaluation. Gatu, L.A. 2011. Analisa Sisa Material Konstruksi Pada Proyek Gedung KPKNL Sidoarjo. Penelitian Jurusan

Teknik Sipil ITS, tidak dipublikasikan.

Gaspers, V.2001. Total Quality Management. Manajemen Bisnis Total.

Gavilan, R. M., dan Bernold, L. E. 1994. Source Evaluation Of Solid Waste In Building Construction. Journal of Construction Engineering and Management.

Illingworth, J.R. 1998. Waste in the construction process.

Intan, S.,Aliefen, R.S.,Arijanto, L. 2005. Analisa dan Evaluasi Sisa Matrial Konstruksi : Sumber Penyebab, Kuantitas, Dan Biaya. Jurnal Jurusan Teknik Sipil Universitas Petra.

Ismail. 2010. Penyebab Waste Material Pada Saat Pelaksanaan Pembangunan Konstruksi Bangunan Gedung. Poon, C. S., Yu, A. T. W, Wong, S.W., Cheung , Esther. 2004. Management of Construction Waste in Public

Gambar

Tabel 1 Analisa Trading Consumable Material
Gambar 1. Grafik Pareto
Tabel 3. Rekapitulasi Waste Cost
Tabel 5 Penanganan Waste yang Tepat Sesuai Waste Hierarcy

Referensi

Dokumen terkait

Seseorang yang memiliki ghamophobia tetap bisa menyukai atau mencintai sesorang, namun ketika mereka mengetahui bahwa orang yang mereka sukai juga menyukai dan

(1) Kegiatan penciptaan dan pengembangan budaya satuan pendidikan sebagaimana dimaksud Pasal 16 ayat (1) huruf c dilakukan dalam kerangka pengembangan karakter

Merespon dan mengungkap- kan makna dalam teks transaksiona/ interpersonal • Memberi dan menerima pujian • Memberi dan menerima ucapan selamat • Meminta, memberi, dan

Penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah pembentukan dispersi padat ibuprofen-PEG 6000 pada perbandingan 1:1 yang dibuat dengan metode peleburan dapat meningkatkan efek

Penerimaan yang diperoleh petani dan total biaya produksi yang dikeluarkan petani dalam melakukan usahatani kemudian dilakukan analisis ekonomi penerimaan

Alasan melakukan internalisasi pendidikan karakter yang dilakukan oleh pengasuh di Pondok Asih Sesami adalah pendidikan dirasakan sebagai modal utama dalam

Dalam pelaksanaan proyek konstruksi, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya sisa material (waste) besi tulangan memiliki pengaruh besar dalam pembiayaan proyek

Untuk kategori lainnya atau kategori tambahan, baik responden proyek gedung maupun responden perumahan menjawab penyebab terjadinya sisa material adalah buruknya