• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN PEMBINAAN/PENINGKATAN KAPASITAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL PENELITIAN PEMBINAAN/PENINGKATAN KAPASITAS"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

i

PEMBINAAN/PENINGKATAN KAPASITAS

KEMAMPUAN LITERASI MATEMATIK SERTA KESALAHAN SISWA SMP/MTS NEGERI DI KOTA KENDARI DALAM MENYELESAIKAN

MASALAH MATEMATIKA

Disusun Oleh :

Ketua Tim : Tandri Patih, S.Pd., M.Si.

Anggota : Luthfiah Jufri, S.Si., M.Pd.

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KENDARI

2018

(2)

ii DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul ... i

Daftar Isi ... ii

Daftar Gambar ... iii

Daftar Tabel ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Fokus Penelitian ... 2

C. Rumusan Masalah ... 3

D. Tujuan Penelitian ... 3

E. Signifikansi Penelitian ... 3

F. Penelitian Relevan ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3

A. Kemampuan Literasi Matematik Siswa ... 5

B. Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matematika ... 7

C. Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Literasi Matematik dan Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matematika ... 3

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 11

A. Metode Penelitian ... 11

B. Data dan Sumber Data ... 11

C. Jadwal Penelitian ... 11

D. Teknik Pengumpulan Data ... 11

E. Teknik Analisis Data ... 14

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 15

A. Analisis Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 15

B. Hasil Analisis Deskriptif ... 18

C. Hasil Analisis Inferensia ... 40

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 49

A. Kesimpulan ... 49

B. Saran ... 49

DAFTAR PUSTAKA ... 50

BIODATA PENELITI ... 52

LAMPIRAN ... 54

(3)

iii

Halaman Gambar 3.1 Peta Wilayah Administratif Kota Kendari Tahun 2017 ... 12 Gambar 3.2 Skema Penarikan Sampel Sekolah (SMPN/MTsN) Penelitian di Kota

Kendari ... 13 Gambar 3.2 Skema Penarikan Sampel Sekolah (SMPN/MTsN) Penelitian di Kota

Kendari ... 13 Gambar 4.1 Persentase Rata-rata KLM Siswa SMP dan MTS Negeri di Kota Kendari

Berdasarkan Level ... 18 Gambar 4.2 Persentase Rata-rata KLM Berdasarkan Konten KLM siswa SMP/MTS

Negeri di Kota Kendari ... 20 Gambar 4.4 Persentase Rata-rata KLM siswa SMP Negeri di Kota Kendari

Berdasarkan Konten Soalnya ... 23 Gambar 4.5 Persentase Rata-rata KLM Berdasarkan Level KLM siswa MTsN di Kota

Kendari ... 24 Gambar 4.6 Persentase KLM Siswa MTsN di Kota Kendari Berdasarkan Konten

Soalnya ... 26 Gambar 4.7 Persentase Kesalahan yang dilakukan Siswa SMP/ dan MTs Negeri di

Kota Kendari dalam Menyelesaikan Masalah Matematika ... 27 Gambar 4.8 Persentase Kesalahan yang dilakukan Siswa SMP Negeri di Kota Kendari

dalam Menyelesaikan Masalah Matematika ... 29 Gambar 4.9 Persentase Kesalahan yang dilakukan Siswa MTs Negeri di Kota Kendari

dalam Menyelesaikan Masalah Matematika ... 31 Gambar 4.10 Deskripsi Minat Belajar Siswa Kelas IX SMPN.MTsN di Kota Kendari

secara Keseluruhan ... 33 Gambar 4.11 Deskriptif Minat Belajar Matematika Siswa yang Berasal dari SMPN ... 33 Gambar 4.12 Deskriptif Minat Belajar Matematika Siswa yang Berasal dari MTsN ... 34 Gambar 4.13 Deskriptif Minat Belajar Matematika Siswa yang Berlokasi di Pinggir

Kota ... 35 Gambar 4.14 Deskriptif Minat Belajar Matematika Siswa yang Berlokasi di Pinggir

Kota ... 35 Gambar 4.15 Deskriptif Pengetahuan Awal Matematika Siswa SMPN/MTsN di Kota

Kendari Secara Keseluruhan ... 37

(4)

iv

Gambar 4.16 Deskriptif Pengetahuan Awal Matematika Siswa yang Berasal dari

SMPN di Kota Kendari ... 38 Gambar 4.17 Deskriptif Pengetahuan Awal Matematika Siswa yang Berasal dari

MTsN di Kota Kendari ... 38 Gambar 4.18 Deskriptif Pengetahuan Awal Matematika Siswa yang Berlokasi di

Pinggir Kota Kendari ... 39 Gambar 4.19 Deskriptif Pengetahuan Awal Matematika Siswa yang Berlokasi di Pusat

Kota Kendari ... 40 Gambar 4.20 Diagram Uji-T Path Anaysis dengan Estimasi Partial Least Square Hasil

pengujian dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut ... 39

(5)

iv

Halaman

Tabel 1.1 Deskripsi Skala/Level Kemampuan Matematika Menurut PISA ... 6

Tabel 4.1 Hasil Analisis Validitas Item pada Instrumen Minat Belajar Matematika Siswa SMPN/MTsN di Kota Kendari ... 16

Tabel 4.2 Hasil Analisis Validitas Item pada Instrumen Kemampuan Literasi Matematik (KLM) Siswa SMPN/MTsN di Kota Kendari ... 17

Tabel 4.3 Hasil Analisis Reliabilitas Instrumen Minat Belajar Matematika dan Kemampuan Literasi Matematik Siswa ... 17

Tabel 4.4 Deskripsi Pengetahuan Awal Matematika (PAM) Siswa Kelas IX SMPN/MTsN di Kota Kendari ... 36

Tabel 4.5 Hasil Pengujian Kebebasan Antar Variabel Respon Menggunakan Bartlett Sphericity Test ... 41

Tabel 4.6 Hasil Pengujian Normalitas Univariat Variabel Respon ... 42

Tabel 4.7 Hasil Pengujian Normalitas Multivariat Variabel Respon ... 42

Tabel 4.8 Hasil Pengujian Hipotesis Penelitian ... 44

(6)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Matematika merupakan satu dari sekian banyak bidang ilmu pengetahuan yang manfaatnya telah banyak dirasakan dalam menyelesaikan masalah-masalah berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam Standar Proses yang dikemukakan National Council of Teachers of Mathematics (NCTM), belajar matematika menuntut siswa untuk memiliki kemampuan pemecahan masalah matematik (mathematic problem solving), penalaran serta pembuktian matematik (mathematic reasoning and proof), koneksi matematik (mathematic connection), komunikasi matematik (mathematiccommunication), dan representasi matematik (mathematic representatiuon)

1

. Namun, nyatanya mata pelajaran matematika di sekolah maupun perguruan tinggi khususnya pada program studi non-eksakta masih menjadi momok.Tidak semua peserta didik menyukai dan tertarik pada matematika. Pada saat proses pembelajaran matematika berlangsung, siswa yang menyukai/tertarik pada matematika akan tampak aktif dan antusias, sedangkan bagi siswa yang tidak begitu menyukai matematika akan menunjukkan sikap acuh pada proses pembelajaran ketika guru sedang menjelaskan materi/pokok bahasan. Kurangnya perhatian peserta didik pada saat proses pembelajaran berlangsung, berdampak pada lemahnya pemahaman dan penguasaan matematika siswa pada pokok bahasan tertentu. Pada akhirnya siswa akan kesulitan dalam menyelesaikan masalah- masalah matematika, terlebih lagi yang berhubungan dengan permasalahan dalam kegiatan sehari-hari. Peserta didik tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan berhitung saja, peserta didik juga harus memiliki kemampuan bernalar yang logis dan kritis, serta mampu menghubungkan konsep-konsep dasar matematika agar dapat menemukan solusi dari permasalahan dalam kehidupan, dimana kemampuan tersebut dikenal juga sebagai kemampuan literasi matematik.

Programme for Internasional Student Assesment (PISA), mendefinisikan literasi matematik (Mathematical Literacy) sebagai kemampuan individu dalam merumuskan, menerapkan, dan menerjemahkan/memaknai matematika dalam berbagai situasi/konteks

2

. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mahdiansyah dan Rahmawati, diketahui bahwa capaian literasi matematika siswa SMA/MA di Indonesia masih tergolong rendah.

Solusi siswa atas butir-butir pertanyaan/soal matematika yang diberikan, dijawab tanpa

1 NCTM, Principles and Standards for School Mathematics, (Reston: NCTM, 2000), h. 29.

2 OECD, PISA 2015: Draft Mathematics Framework, (Paris: OECD Publishing, 2013), h. 5.

(7)

menuliskan penjelasan ataupun langkah kerja perhitungannya

3

. Berdasarkan wilayah di Indonesia, capaian literasi siswa SMA/MA di kota Kendari memiliki skor terendah, disusul Palembang, Kupang, Medan, Bandung, Samarinda, kemudian yang tertinggi yakni Yogyakarta

4

. Lebih jauh lagi Maulana dan Hasnawati mengungkapkan bahwa siswa di SMP Negeri 15 Kendari mengalami kesulitan dalam menyelesaikan materi soal matematika yang diteskan, khususnya pada materi perbandingan

5

. Rendahnya kemampuan literasi siswa tidak terlepas dari kesalahan siswa dalam menjawab soal.

Kesalahan atau kekeliruan tersebut dapat berupa kesalahan konsep yang diterapkan, kesalahan proses/prosedural, dan kesalahan komputasi. Kesalahan atau kekeliruan siswa dalam menyelesaikan soal/masalah matematika serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya perlu untuk dianalisis dan dikaji, agar guru dapat membantu memperbaiki kesalahan dan mengatasi kesulitan yang dialami siswa. Hal ini juga berlaku untuk calon guru/pendidik. Setiap calon guru/pendidik harus dapat lebih awal mengetahui kesalahan- kesalahan yang sering dialami siswa dalam mengerjakan soal/permasalahan matematika.

Sehingga, calon guru dapat menyiapkan diri terlebih dahulu, dengan menyiapkan metode atau strategi pembelajaran yang sesuai untuk siswa yang mengalami masalah dalam memahami permasalahan-permasalahan matematika.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti bermaksud untuk melakukan pemetaan Kemampuan Literasi Matematika dan Kesalahan Siswa SMP/MTs Negeri di Kota Kendari dalam menyelesaikan masalah matematika. Pemetaan dilakukan dengan mengambil sampel berdasarkan letak geografis sekolah yang dilihat dari lokasi sekolah yang berada di pusat dan pinggir Kota Kendari.Selanjutnya penelitian ini penulis beri judul “Kemampuan Literasi Matematik serta Kesalahan Siswa SMP/MTs Negeri di Kota Kendari dalam Menyelesaikan Masalah Matematika”.

B. Fokus Penelitian

Permasalahan pada penelitian ini dibatasi hanya pada Kemampuan Literasi Matematika serta Kesalahan-kesalahan Siswa SMP/MTs Negeri di kota Kendari dalam Menyelesaikan Soal/Permasalahan Matematika, ditinjau dari Minat Belajar dan Pengetahuan

3 Mahdiansyah dan Rahmawati.“Literasi Matematika Siswa Pendidikan Menengah: Analisis Menggunakan Desain Tes Internasional dengan Konteks Indonesia”, (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol.

20, No. 4, Desember 2014), h. 467.

4Ibid, h. 458.

5Agus Maulana dan Hasnawati.“Deskripsi Kemampuan Literasi Matematika Siswa Kelas VIII-2 SMP Negeri 15 Kendari”, (Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika, Vol.4, No. 2, Mei 2016), h. 7.

(8)

3

Awal Matematika siswa. Kesalahan-kesalahan yang dimaksud dapat berupa kesalahan konsep matematik, kesalahan proses, maupun kesalahan komputasi/perhitungan.

C. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini, yaitu:

1. Bagaimana pemetaan Kemampuan Literasi Matematika Siswa Kelas VIII SMP/MTs Negeri di Kota Kendari ?

2. Apa sajakah Kesalahan-kesalahan yang dilakukan Siswa Kelas VIII SMP/MTs Negeri di Kota Kendari dalam menyelesaikan soal/permasalahan matematika?

3. Apakah faktor minat belajar dan pengetahuan awal matematika siswa berpengaruh terhadap kemampuan literasi matematik dan kesalahan siswa kelas VIII SMP/MTs Negeri di Kota Kendari dalam menyelesaikan masalah matematika?

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui jawaban dari permasalahan yang dipaparkan pada rumusan masalah di atas, yaitu:

1. Untuk mengetahui serta memberikan gambaran pemetaan Kemampuan Literasi Matematika Siswa Kelas VIII SMP/MTs Negeri di Kota Kendari.

2. Untuk mengetahui serta memberikan gambaran Kesalahan-kesalahan yang dilakukan Siswa Kelas VIII SMP/MTs Negeri di Kota Kendari dalam menyelesaikan soal/permasalahan matematika.

3. Untuk mengetahui dan mengkaji pengaruh faktor minat belajar dan pengetahuan awal matematika terhadap Kemampuan Literasi Matematik dan kesalahan siswa Kelas VIII SMP/MTs Negeri di Kota Kendari dalam menyelesaikan soal/masalah matematika.

E. Signifikansi Penelitian

Penelitian ini dapat memberikan gambaran dan peta sebaran kemampuan literasi matematika siswa dan kesalahan-kesalahan apa saja yang dilakukan siswa kelas VIII SMP/MTS Negeri di Kota Kendari dalam menyelesaikan soal/masalah matematika.

Penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi pemerintah khususnya Dinas Pendidikan Kota Kendari dan pihak sekolah dalam meningkatkan ataupun memperbaiki mutu pendidikan di Sekolah, khususnya Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs).

F. Penelitian Relevan

Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini, antara lain yaitu:

(9)

1. Khannatul Fitriyani (2009) yang melakukan penelitian tentang analisis kesalahan siswa kelas X Semester 1 SMA Negeri 1 Guntur dalam menyelesaikan soal matematika, dimana pemberian soal/masalah matematika berbentuk Uraian pada Pokok Bahasan Persamaan dan Pertidaksamaan Kuadrat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa, kesalahan yang paling banyak dilakukan siswa yaitu pada tahap memeriksa kembali jawaban, dimana secara keseluruhan siswa tidak dapat memahami soal yang diberikan.

6

;

2. Maulana dan Hasnawati (2016) yang meneliti tentang deskripsi kemampuan literasi matematika Siswa Kelas VIII-2 di SMP Negeri 15 Kendari. Penelitiannya menyimpulkan bahwa rata-rata kemampuan literasi matematika siswa kelas VIII-2 SMP Negeri 15 Kendari masih rendah, yakni hanya sebesar 12,82;

7

3. Mahdiansyah dan Rahmawati (2014) yang meneliti tentang analisis literasi matematika siswa Pendidikan Menengah, menggunakan desain tes internasional dengan konteks Indonesia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa, capaian literasi matematika siswa SMA/MA yang menjadi sampel studi masih rendah, dimana siswa kurang mampu memberikan uraian atau argumentasi terhadap persoalan matematika yang diujikan dalam tes matematika tersebut. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa terdapat beberapa faktor yang berperan besar dalam ketercapaian literasi matematika, yaitu 1) presepsi siswa terhadap matematika, 2) kepercayaan diri siswa terhadap kemampuan matematika siswa, 3) faktor intensitas, kualitas, dan metode pembelajaran, 4) faktor karakteristik guru, dan 5) keberadaan media belajar di sekolah.

8

6Khannatul Fitriyani, “Analisis Kesalahan dalam Mengerjakan Soal Matematika Bentuk Uraian pada Pokok Bahasan Persamaan dan Pertidaksamaan Kuadrat Kelas X Semester 1 SMA Negeri 1 Guntur”, (Skripsi Sarjana, UNNES, Semarang, 2009), h. 1-118.

7Agus, M dan Hasnawati, op. cit, h.1-14.

8Mahdiansyah dan Rahmawati, op. cit, h. 452-469.

(10)

5 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kemampuan Literasi Matematik Siswa

Matematika yang merupakan salah satu kajian keilmuan berasal dari bahasa Yunani kuno yang memiliki arti pengkajian, ilmu, pembelajaran, yang ruang lingkupnya kemudian menyempit dan bermakna “pengkajian matematika”

9

. Tambunan menyatakan bahwa matematika adalah pengetahuan tentang kuantiti serta ruang dan merupakan salah satu cabang ilmu yang teratur, sistematis dan eksak

10

. Matematika ditempatkan sebagai ilmu pengetahuan dasar untuk mempelajari disiplin ilmu lain, seperti fisika, biologi, akuntansi, ekonomi, elektro, kimia dan ilmu lainnya. Oleh sebab itu, matematika digunakan dan ditetapkan menjadi salah satu mata pelajaran yang wajib diberikan pada setiap lembaga pendidikan baik ditingkat sekolah dasar, sekolah menengah, maupun ditingkat perguruan tinggi

11

.

Literasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca

12

. Literasi (literacy) berasal dari bahasa Latin “littera” yang berarti “huruf”

yang mengandung makna adanya keterlibatan penguasaan sistem-sistem tulisan dan konvensi- konvensi yang menyertainya

13

. Stacey, mengungkapkan bahwa literasi matematika merupakan kecakapan/kemampuan seseorang dalam menafsirkan, merumuskan dan menggunakan matematika dalam berbagai situasi/konteks termasuk bagaimana melakukan penalaran matematik serta menggunakan konsep, proses, fakta, dan alat matematika dalam menjelaskan serta memprediksi suatu fenomena

14

. Terdapat tiga hal pokok pemikiran konsep literasi matematika. Pokok utama itu, yakni: 1) Kemampuan untuk merumuskan, menerapkan, dan menerjemahkan matematika kedalam berbagai situasi/konteks yang disebut sebagai suatu prosedur matematika; 2) Keterlibatan kemampuan penalaran matematik dan penggunaan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika dalam mengambarkan, menjelaskan, serta melakukan prediksi terhadap suatu fenomena; dan 3) Kemampuan literasi matematika membantu seseorang mengaplikasikan matematika dalam menyelesaikan masalah-masalah

9Afidah dan Khairunnisa, Matematika Dasar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. ix.

10Karso, dkk, “Pendidikan Matematika 1”, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2009), cetakan V, h. 1.42.

11Halistin, Kadir dan La Masi, “Deskripsi Pengetahuan Dasar Matematika Siswa Kelas IX SMP Se- Kota Kendari”, (Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 6, No. 1. Januari 2015), h. 1.

12Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

www.kbbi.kemdikbud.go.id

13Mahdiansyah dan Rahmawati, op. cit, h. 454.

14Stacey, K, “Mathematical and Scientific Literacy Around The World”, (Journal of Science and Mathematics Education in Southeast Asia, 33(1), 2010 ), h.1.

(11)

yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari sebagai bentuk keterlibatan masyarakat yang bersifat konstruktif dan reflektif

15

.

Kemampuan matematik dapat dikategorikan kedalam lima kategori utama yaitu, pemecahan masalah (mathematical problem solving), pemahaman matematik (mathematical understanding), komunikasi matematik (mathematical communication), koneksi matematik (mathematical connection), dan penalaran matematik (mathematical reasoning). Kemampuan matematik lainnya yang lebih tinggi adalah kemampuan berpikir kritis matematik dan kemampuan berpikir kreatif matematik

16

. Lebih lanjut, PISA membagi kemampuan (kecakapan) matematika siswa menjadi enam tingkatan (level) yang ditunjukkan pada tabel 1 berikut

17

.

Tabel 1.1 Deskripsi Skala/Level Kemampuan Matematika Menurut PISA

Level 6

Di level 6 ini, siswa dapat melakukan konseptualisasi dan generalisasi dengan menggunakan informasi berdasarkan modelling dan penelaahan dalam suatu situasi yang kompleks. Mereka dapat menghubungkan sumber informasi berbeda dengan fleksibel dan menerjemahkannya. Para siswa pada tingkatan ini telah mampu berpikir dan bernalar secara matematika. Mereka dapat menerapkan pemahamannya secara mendalam disertai dengan penguasaan teknis operasi matematika, mengembangkan strategi dan pendekatan baru untuk menghadapi situasi baru. Mereka dapat merumuskan dan mengkomunikasikan apa yang mereka temukan. Mereka melakukan penafsiran dan berargumentasi secara dewasa.

Level 5

Di Level 5, siswa dapat bekerja dengan model untuk situasi yang kompleks, mengetahui kendala yang dihadapi, dan melakukan dugaan-dugaan. Mereka dapat memilih, membandingkan, dan mengevaluasi strategi untuk memecahkan masalah yang rumit yang berhubungan dengan model ini. Para siswa pada tingkatan ini dapat bekerja dengan menggunakan pemikiran dan penalaran yang luas, serta secara tepat menguhubungkan pengetahuan dan keterampilan matematikanya dengan situasi yang dihadapi. Mereka dapat melakukan refleksi dari apa yang mereka kerjakan dan mengkomunikasikannya.

Level 4

Di level 4, siswa dapat bekerja secara efektif dengan model dalam situasi yang konkret tetapi kompleks. Mereka dapat memilih dan mengintegrasikan representasi yang berbeda, dan menghubungkannya dengan situasi nyata. Para siswa pada tingkatan ini dapat menggunakan keterampilannya dengan baik dan mengemukakan alas an dan pandangan yang fleksibel sesuai dengan konteks.

Mereka dapat memberikan penjelasan dan mengkomunikasikannya disertai argumentasi berdasar pada interpretasi dan tindakan mereka.

Level 3

Dilevel 3, siswa dapat melaksanakan prosedur dengan baik, termasuk prosedur yang memerlukan keputusan secara berurutan. Mereka dapat memilih dan menerapkan strategi memecahkan masalah yang sederhana. Para siswa pada tingkatan ini dapat menginterpretasikan dan menggunakan representasi berdasarkan sumber informasi yang berbeda dan mengemukakan alasannya.

15Agus, M dan Hasnawati, op. cit, h.1

16 Dr. H. Heris Hendriana, M.Pd. dan Prof. Dr. Hj. Utari Soemarmo, “Penilaian Pembelajaran Matematika”, (Bandung: PT.Refika Aditama, 2014), h. 19.

17OECD, op. cit., h. 27.

(12)

7

Mereka dapat mengkomunikasikan hasil interpretasi dan alasan mereka.

Level 2

Dilevel 2, siswa dapat menginterpretasikan dan mengenali situasi dalam konteks yang memerlukan inferensi langsung. Mereka dapat memilah informasi yang relevan dari sumber tunggal dan menggunakan cara representasi tunggal. Para siswa pada tingkatan ini dapat mengerjakan algoritma dasar, menggunakan rumus, melaksanakan prosedur atau konvensi sederhana. Mereka mampu memberikan alasan secara langsung dan melakukan penafsiran harfiah.

Level 1

Dilevel 1, siswa dapat menjawab pertanyaan yang konteksnya umum dan dikenal serta semua informasi yang relevan tersedia dengan pertanyaan yang jelas. Mereka bias mengidentifikasi informasi dan menyelesaikan prosedur rutin menurut instruksi eksplisit. Mereka dapat melakukan tindakan sesuai dengan stimuli yang diberikan.

Setiap levelnya menunjukkan tingkatan kompetensi (kecakapan) matematika, dimana siswa diharapkan dapat mencapai setiap level kemampuan tersebut. Level 6 merupakan tingkatan pencapaian yang tertinggi, dimana siswa telah mampu melakukan konseptualisasi dan generalisasi dengan menggunakan data/informasi yang mengacu pada model dan telaah suatu situasi yang bersifat kompleks. Siswa juga mampu mengkoneksikan sumber-sumber data/informasi yang berbeda dengan lebih fleksibel dan dapat menerjemahkannya. Setiap siswa pada level ini telah memiliki kemampuan untuk berpikir dan bernalar secara matematik.

Para Siswa mampu mengaplikasikan pemahaman mereka dengan lebih mendalam dan dengan penguasaan teknik operasi matematika, mengembangkan pendekatan dan strategi baru sehingga dapat menghadapi situasi/suasana yang baru. Siswa mampu untuk merumuskan dan mengkomunikasikan apa saja yang mereka temukan. Siswa mampu menerjemahkan dan dapat berpendapat secara dewasa. Sedangkan level 1 merupakan tingkatan pencapaian siswa yang paling rendah, dimana siswa hanya mampu memberikan jawaban atas pertanyaan yang konteksnya umum, dikenal, dan semua data/informasi yang relevan telah tersedia dengan pertanyaan yang jelas. Siswa juga mampu untuk mengidentifikasi data/informasi, kemudian mampu menyelesaikan prosedur rutin menurut perintah/instruksi yang terperinci/eksplisit.

Siswa mampu untuk bertindak sesuai dengan stimulus yang telah diberikan.

B. Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matematika

Peserta didik sering kali mengalami kesulitan ketika memberikan penyelesaian

terhadap masalah matematika yang diberikan. Kesulitan itulah yang mengakibatkan siswa

melakukan kekeliruan/kesalahan. Menurut Nasoetion, kekeliruan/kesalahan siswa

(13)

digolongkan menjadi tiga yaitu: kesalahan konsep, kesalahan prosedur, dan kesalahan perhitungan/komputasi

18

.

1. Kesalahan Konsep

Konsep adalah suatu ide yang abstrak dan digunakan untuk mengelompokkan sekumpulan objek. Matematika dibentuk dari konsep-konsep yang bersifat abstraksi ini bermanfaat bagi siswa dalam memecahkan masalah matematika. Kesalahan konsep memiliki beberapa indikator, yaitu: 1) Kesalahan dalam memilih teorema atau rumus untuk menyelesaikan suatu masalah serta penggunaannya; 2) Tidak dapat menuliskan teorema atau rumus untuk menjawab suatu permasalahan dan mampu menggunakannya; 3) Tidak dapat merumuskan suatu konsep matematika dengan menggunakan bahasa atau simbol yang benar.

2. Kesalahan Prosedur

Prosedur adalah langkah-langkah yang digunakan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Langkah-langkah ini memiliki keterkaitan dengan urutan-urutan penyelesaian masalah. Dalam aplikasinya, siswa tidak hanya dapat memperoleh jawaban yang benar dengan langkah yang benar, tetapi juga dapat memperoleh jawaban yang benar melalui langkah yang salah. Sehingga penting bagi seorang pendidik untuk mengoreksi atau memeriksa prosedur yang digunakan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengetahui Kesalahan prosedur, yaitu: 1) Keterkaitan langkah-langkah dalam menyusun permasalahan; 2) Ketidakmampuan memanipulasi langkah-langkah untuk menjawab suatu masalah matematik; 3) Penyimpulan tidak digunakan penalaran yang benar.

3. Kesalahan Perhitungan/Komputasi

Salah satu faktor yang mempengaruhi kebenaran solusi dari masalah matematika adalah kebenaran perhitungan. Siswa memerlukan keterampilan berhitung yang baik untuk dapat menyelesaikan masalah matematika dengan benar. Kesulitan yang siswa alami dalam menyelesaikan masalah juga dapat terjadi ketika siswa memiliki kemampuan berhitung yang kurang. Kesalahan komputasi siswa dapat dilihat dari: 1) Kesalahan dalam perhitungan/komputasi; 2) Kesalahan dalam melakukan manipulasi operasi; 3) Tidak memeriksa hasil perhitungannya kembali.

18Khannatul Fitriyani, op. cit., h. 21.

(14)

9

C. Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Literasi Matematik dan Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matematika

Keberhasilan belajar matematika siswa tidak terlepas dari seberapa besar kemampuan siswa tersebut dalam memahami dan menerapkan konsep matematika, dimana hal tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor yang bersumber dari dalam (faktor internal) maupun dari luar (faktor eksternal) siswa. Keadaan fisik dan psikologi yang meliputi variabel kognitif yaitu kemampuan khusus (atau bakat) dan kemampuan umum (faktor intelegensi), serta minat, motivasi, dan variabel–variabel kepribadian lainnya yang tercakup dalam variabel non- kognitif merupakan bagian dari faktor internal. Tempat belajar, sarana, prasarana dan perlengkapan belajar, materi pelajaran serta kondisi lingkungan belajar yang termasuk dalam aspek lingkungan fisik, serta aspek sosial yang merupakan suatu dukungan sosial dan pengaruh budaya, merupakan bagian dari faktor eksternal

19

.

1. Minat Belajar

Minat adalah suatu kecenderungan yang tetap untuk mengenang dan memperlihatkan beberapa kegiatan.

20

. Pada dasarnya minat merupakan sebuah penerimaan interaksi/hubungan antara diri sendiri terhadap hal-hal lain yang berada di luar diri. Semakin erat atau kuat interaksi/hubungan tersebut, semakin besar minat seseorang

21

. Minat belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah minat siswa dalam belajar matematika dengan aspek yang diukur meliputi: (1) Perhatian, yakni pemusatan tenaga dan energi psikis dalam menghadapi suatu objek; (2) daya tarik, yakni kekuatan dari suatu objek yang telah menyita perhatian seseorang;

(3) kesenangan, yakni wujud perasaan seseorang pada suatu objek, yang dihayatinya sebagi sesuatu yang berharga, biasanya memberikan suatu rasa yang lebih spesifik, seperti rasa puas, rasa gembira; (4) kemauan untuk tahu lebih banyak; (5) Ketekunan, yakni kesungguhan hati dalam mempelajari sesuatu

22

.

2. Pengetahuan Awal Matematika Siswa

Pengetahuan awal matematika pada dasarnya juga dikenal dengan pengetahuan dasar matematika meskipun keduanya memiliki perbedaan. Perbedaannya yaitu pengetahuan dasar matematika (mathematical basic knowledge) lebih mengarah pada pengetahuan matematika dasar, misalnya pengetahuan mengenai bilangan desimal, bilangan pecahan, bilangan bulat,

19Syah, M. Psikologi Belajar. (Bandung: Grafindo Persada. 2004), h. 37.

20Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. (Jakarta: Rineka Cipta. 2010), h. 57

21Ibid, h. 180.

22Sunaenah, “Perbandingan Minat BelajarMatematika Antara Siswa yang Menggunakan Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Tehnik TPS (Think-Pair-Share) dengan Siswa yang Menggunakan Metode Pemberian Tugas”, (Skripsi Sarjana, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta,, 2007), h. 19-20.

(15)

persentase, koordinat geometri, analisis data, dan himpunan. Sedangkan pengetahuan awal matematika siswa adalah pengetahuan awal siswa terhadap materi matematika yang akan dipelajarinya atau yang sudah dipelajarinya untuk mendukung/membantu penguasaan siswa pada materi matematika yang akan dipelajari selanjutnya

23

.

Dalam pembelajaran matematika di sekolah, pengetahuan awal atau dasar matematika ini sangat penting untuk membawa siswa dalam menyukseskan pelaksanaan proses belajar

24

. Pengetahuan awal matematika dapat menjadi faktor yang ikut mempengaruhi kemampuan literasi matematik siswa, serta besar-kecilnya kesalahan siswa dalam menyelesaikan masalah- masalah matematika. Siswa yang memiliki pengetahuan awal matematika yang baik,akan lebih memiliki ide dan dapat meminimalisir kesalahan dalam menyelesaikan masalah.

23Mira Sri Setyowaty, Faad Maonde, Asrul Sani, Pengaruh Pembelajaran Kooperatif, Perilaku Berkarakter dan Pengetahuan Dasar Siswa terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa, (Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 5, Nomor 2, Juli 2014), h. 146.

24Kadir dan La Masi, Penggunaan Konteks dan Pengetahuan Awal Matematika dalam Pembelajaran Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa, (Jurnal Pendidikan Matematika),Vol.5, No. 1, Januari 2014), h. 46.

(16)

11 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian ex post facto dengan desain survey, yang bertujuan untuk menggambarkan hubungan kausalitas antara variabel bebas terhadap variabel terikat Dalam penelitian ini variabel independen yang digunakan adalah minat belajar siswa dan pengetahuan awal matematika siswa dan variabel dependen yang digunakan adalah kemampuan literasi matematika siswa dan kesalahan/kekeliruan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika.

B. Data dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam peneltian ini terdiri data primer, yaitu data minat, kemampuan literasi matematik, dan kesalahan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika, serta data sekunder, yaitu data pengetahuan awal matematika siswa yang diperoleh dari nilai hasil belajar siswa di sekolah sebelum tes kemampuan literasi matematika diberikan. Responden dalam penelitian adalah siswa kelas VIII SMP/MTs di Kota Kendari.

C. Jadwal Pelaksanaan

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April - Oktober Tahun 2018.

D. Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan seperangkat instrumen yang terdiri atas tiga instrumen, yaitu: lembar kuesioner minat belajar siswa, Tes Kemampuan Literasi Matematika Siswa (TKLM), serta pedoman wawancara. Pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner dilakukan dengan mengajukan daftar pertanyaan atau pernyataan kepada siswa kelas VIII SMP/MTs di Kota Kendari yang menjadi sampel (objek penelitian) dalam penelitian ini, sebagai upaya untuk memperoleh informasi minat belajar matematika siswa. Pemberian tes berupa uraian (essay test) yang diadaptasi dari soal PISA, dilakukan untuk mengukur kemampuan literasi matematik siswa kelas VIII SMP/MTs di Kota Kendari. Wawancara dilakukan untuk memperoleh keterangan lebih lanjut terkait TKLM yang diberikan kepada siswa dan kesulitan/kesalahan apa saja yang dialami siswa dalam menjawab soal TKLM tersebut.

Populasi pada penelitian ini adalah siswa SMP/MTs kelas VIII di Kota Kendari,

dimana terdapat 24 SMP/MTs Negeri. Terdapat 7 SMP/MTs Negeri yang berada di pusat

(17)

kota dan pada wilayah pinggiran kota terdapat 17 SMP/MTs Negeri. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik pengampilan sampel dua tahap (two-stage random sampling).

Tahap pertama menggunakan teknik Stratified Random Sampling, kemudian pengambilan sampel tahap kedua dilakukan dengan Cluster Random Sampling. Stratified Random Sampling dilakukan untuk memilih sampel sekolah, sedangkan Cluster Random Sampling digunakan untuk memilih sampel kelas dari sekolah yang telah terpilih pada tahap pertama.

Kelas-kelas terpilih pada tahap kedua inilah yang akan digunakan sebagai sampel.

Sumber: Kota Kendari Dalam Angka 2017 BPS Kota Kendari

Gambar 3.1 Peta Wilayah Administratif Kota Kendari Tahun 2017

Pada tahap pertama, strata dibagi atas dua dilihat dari lokasi sekolah berdasarkan peta wilayah administratif Kota Kendari, yaitu: pusat kota dan pinggiran kota. Penentuan strata ini didasarkan pada teori faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Seperti yang dikemukakan oleh Richard Clark dalam penelitiannya, bahwa hasil belajar siswa di sekolah 30% dipengaruhi oleh lingkungan

25

. Hal ini didukung juga oleh hasil penelitian Nur Belian, yang menyimpulkan bahwa rendahnya pencapaian wajib belajar 9 tahun erat kaitannya dengan kurangnya layanan pendidikan

26

. Dalam hal ini, sekolah-sekolah yang berlokasi di wilayah pusat kota Kendari memiliki sarana dan prasarana yang lebih baik dan akses layanan

25Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. (Cet. 13; Bandung: Grafindo Persada. 2004), h. 37.

26Nur Berlian, Faktor-faktor yang Terkait Rendahnya Pencapaian Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan,Vol.17, No. 1, ( 2011): h. 53-54.

(18)

13

pendidikan yang lebih dekat dibanding dengan sekolah-sekolah yang berada di wilayah pinggir kota Kendari, seperti perpustakaan daerah, toko-toko buku, dan lain-lain.

Berdasarkan peta wilayah administratif Kota Kendari dapat dilihat bahwa kecamatan Kadia, Wua-wua dan Kambu berada di pusat Kota Kendari, sedangkan kecamatan Kendari, Kendari Barat, Mandonga, Puuwatu, Baruga, Poasia, dan Abeli berada di pinggiran kota Kendari. Pada tahap pertama ini, kedua strata dibagi berdasarkan status sekolah, yaitu: SMP Negeri dan MTs Negeri untuk masing-masing strata. Sehingga ukuran sampel untuk pada strata pusat kota dan pinggiran kota dibagi menjadi dua strata berdasarkan status sekolah.

Sampel Sekolah tersebut ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin dan rumus proportional stratified random sampling sebagai berikut

27

:

Proportional Stratified Random Sampling

= × , dimana =

SMP/MTs di

Pinggir Kota Sekolah Terpilih

Populasi (N

1

) = 17 1. MTsN 2 Kendari

2. SMPN 5 Kendari Sampel (n

1

) = 9 3. SMPN 6 Kendari

SMP/MTs Negeri di Kota

Kendari

4. SMPN 12 Kendari

5. SMPN 19 Kendari

Populasi (N) = 24 6. SMPN 2 Kendari

7. SMPN 10 Kendari

Sampel (n) = 13 8. SMPN 13 Kendari

9. SMPN 3 Kendari

SMP/MTs di Pusat

Kota

10. MTsN 1 Kendari

11. SMPN 9 Kendari Populasi (N

2

) = 7 12. SMPN 15 Kendari

13. SMPN 4 Kendari Sampel (n

2

) = 4

Gambar 3.2 Skema Penarikan Sampel Sekolah (SMPN/MTsN) Penelitian di Kota Kendari

Setelah memperoleh jumlah sampel sekolah pada setiap strata ditahap pertama, penggambilan sampel dilanjutkan pada tahap kedua, yaitu menggunakan Cluster Random Sampling. Metode Cluster Random Sampling digunakan untuk menentukan jumlah sampel

27 Prof. Abuzar Asra, BSt., M.Sc., Ph.D, dan Achmad Prasetyo, B.St., S.Si., M.M., Pengambilan Sampel Dalam Penelitian Survei. (Cet. 1; Jakarta: PT Rajawali Pers, 2015), h. 98.

(19)

kelas pada masing-masing sekolah terpilih pada tahap pertama. Metode Cluster Random Sampling diberlakukan pada setiap kelompok strata. Cluster Random Sampling menggunakan kelas sebagai unit sampelnya, sehingga semua siswa dalam kelas terpilih merupakan sampel dalam penelitian ini.

Untuk menentukan kelas mana yang dipilih sebagai sampel digunakan metode simple random sampling (SRS), dengan mengambil sebanyak dua sampel kelas. Selanjutnya, keselurahan siswa pada kelas terpilih merupakan sampel dari penelitian ini.

E. Teknik Analisis Data

Data penelitian ini dianalisis secara deskriptif dan inferensia. Analisis secara deskriptif

dilakukan untuk mengidentifikasi atau memberikan gambaran tentang minat belajar,

pengetahuan awal matematika, kemampuan literasi matematika siswa, dan kesalahan-

kesalahan/kekeliruan siswa dalam menyelesaikan soal/permasalahan matematika yang

diberikan. Informasi dari hasil analisis deskriptif dapat digunakan untuk melakukan pemetaan

mengenai kemampuan literasi matematika siswa, dan kesalahan-kesalahan siswa dalam

menjawab soal/permasalahan matematika berdasarkan wilayah (pusat dan pinggir kota) dan

status sekolah (SMP dan MTs). Hasil pemetaan dapat menjadi sumber informasi mengenai

kemampuan literasi matematika siswa, beserta kesalahan-kesalahan apa saja yang dilakukan

siswa dalam menjawab soal matematika. Analisis inferensia, bertujuan untuk melihat

seberapa besar pengaruh minat belajar dan pengetahuan awal matematika siswa terhadap

kemampuan literasi matematika dan kesalahan siswa dalam menyelesaikan masalah/soal

matematika, dimana pengujiannya dilakukan dengan menggunakan analisis regresi multivariat

(multivariate regression analysis) dengan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan

terpenuhinya uji prasyarat analisis pada data.

(20)

15 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengumpulan data yang diperoleh melalui kuesioner minat belajar matematika dan soal tes Kemampuan Literasi Matematik yang diberikan kepada siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) dan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kota Kendari. Data yang diperoleh dianalsis secara deskriptif dan inferensia (menggunakan analisis regresi multivariat jika telah memenuhi pengujian asumsi). Analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui karakteristik Minat belajar matematika, Kemampuan Literasi Matematik dan Kesalahan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika yang dilihat secara keseluruhan dan berdasarkan asal sekolah. Analisis inferensia dilakukan dengan tujuan untuk menguji hipotesis penelitian. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis regresi multivariat (multivariate regression) jika telah memenuhi uji prasyarat analisis (uji dependensi antar variabel respon dan uji normalitas univariat dan multivariat. Jika uji prasyarat dependensi antar variabel respon tidak terpenuhi, maka pengujian hipotesis menggunakan analisis regresi multivariat tidak dapat dilakukan. Jika asumsi normalitas data tidak terpenuhi maka pengujian dilakukan menggunakan statistika nonparametik. Hasil dan pembahasannya dapat digunakan sebagai sumber informasi dan masukan bagi pihak SMPN/MTsN di kota kendari dalam memaksimalkan proses pembelajaran di kelas, sehingga dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa.

A. Analisis Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Analisis validitas dilakukan pada instrumen Minat belajar matematika siswa dan pada

instrument Kemampuan Literasi Matematik (KLM) siswa. Hasil analisis validitas item

instrument Minat belajar matematika siswa disajikan pada Tabel 4.1 dan hasil analisis

validitas item instrument Kemampuan Literasi Matematik (KLM) disajikan pada Tabel 4.2.

(21)

Tabel 4.1 Hasil Analisis Validitas Item pada Instrumen Minat Belajar Matematika Siswa SMPN/MTsN di Kota Kendari

No Item R

hitung

R

tabel

Ket.

Item 1 0,480 0,268 Valid

Item 2 0,425 0,268 Valid

Item 3 0,513 0,268 Valid

Item 4 0,477 0,268 Valid

Item 5 0,555 0,268 Valid

Item 6 0,554 0,268 Valid

Item 7 0,480 0,268 Valid

Item 8 0,580 0,268 Valid

Item 9 0,550 0,268 Valid

Item 10 0,562 0,268 Valid

Item 11 0,643 0,268 Valid

Item 12 0,547 0,268 Valid

Item 13 0,560 0,268 Valid

Item 14 0,527 0,268 Valid

Item 15 0,613 0,268 Valid

Item 16 0,737 0,268 Valid

Item 17 0,682 0,268 Valid

Item 18 0,678 0,268 Valid

Item 19 0,583 0,268 Valid

Item 20 0,498 0,268 Valid

Item 21 0,662 0,268 Valid

Item 22 0,722 0,268 Valid

Item 23 0,523 0,268 Valid

Item 24 0,661 0,268 Valid

Item 25 0,392 0,268 Valid

Item 26 0,546 0,268 Valid

Item 27 0,703 0,268 Valid

Item 28 0,564 0,268 Valid

Item 29 0,660 0,268 Valid

Item 30 0,722 0,268 Valid

Item 31 0,666 0,268 Valid

Item 32 0,603 0,268 Valid

Item 33 0,659 0,268 Valid

Item 34 0,620 0,268 Valid

Item 35 0,407 0,268 Valid

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa nilai R

hitung

untuk semua item lebih

besar dari R

Tabel

= 0,268. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua item dalam

instrument minat belajar matematika siswa SMPN/MTsN adalah valid. Dengan validnya

semua item dalam instrument ini, maka keseluruhan item dapat digunakan dalam mengukur

Minat belajar matematika siswa SMPN/MTsN di Kota Kendari.

(22)

17

Hasil analisis validitas item instrument Kemampuan Literasi Matematik (KLM) disajikan pada Tabel 4.2 berikut.

Tabel 4.2 Hasil Analisis Validitas Item pada Instrumen Kemampuan Literasi Matematik (KLM) Siswa SMPN/MTsN di Kota Kendari

No Item Aiken’s V Ket.

Item 1 0,75 Valid

Item 2 0,975 Valid

Item 3 0,9 Valid

Item 4 1 Valid

Item 5 0,825 Valid

Item 6 0,975 Valid

Item 7 0,875 Valid

Item 8 0,925 Valid

Item 9 0,825 Valid

Item 10 0,9 Valid

Item 11 0,925 Valid

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa nilai Aiken’s V untuk setiap item dalam instrument Kemampuan Literasi Matematik (KLM) lebih besar dari 0,6. Artinya setiap item dalam instrument Kemampuan Literasi Matematik (KLM) memiliki validitas isi yang baik dan mendukung validitas isi secara keseluruhan. Dengan demikian semua item dalam instrument Kemampuan Literasi Matematik (KLM) adalah valid sehingga dapat digunakan

28

.

Setelah melakukan pengujian validitas instrument, selanjutnya dilakukan pengujian reliabilitas instrument untuk melihat reliabel tidaknya instrument yang digunakan. Hasil analisis reliabilitas instrument Minat belajar matematika dan Kemampuan Literasi Matematik (KLM) disajikan pada Tabel 4.3 berikut.

Tabel 4.3 Hasil Analisis Reliabilitas Instrumen Minat Belajar Matematika dan Kemampuan Literasi Matematik Siswa

Variabel Jumlah Item Cronbach’s

Alpha (r

11

)

Minat Belajar Matematika 35 0,942

Kemampuan Literasi Matematik (KLM) 11 0,805

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa nilai 80 < r

11

≤ 100 dari kedua variabel berada pada kategori sangat tinggi. Artinya bahwa meskipun instrument yang digunakan diujikan pada tempat dan waktu yang berbeda akan tetap dapat mengukur apa yang hendak diukur.

28Hendryadi. “Validitas isi: Tahap Awal Pengembangan Kuesioner”, (Jurnal Riset Manajemen dan Bisnis

(JRMB)

Fakultas Ekonomi UNIAT, Vol. 2, No. 2, Juni 2017), h. 173.

(23)

B. Hasil Analisis Deskriptif

Analisis secara Deskriptif dilakukan untuk menggambarkan karakteristik Kemampuan Literasi Matematik (KLM), Kesalahan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika, secara keseluruhan dan berdasarkan asal sekolah (SMPN dan MTsN), minat belajar matematika dan Pengetahuan Awal Matematika (PAM) Siswa secara keseluruhan.

1. Deskipsi Kemampuan Literasi Matematik (KLM) Siswa Kelas IX SMPN dan MTsN di Kota Kendari Berdasarkan Levelnya

Deskipsi Kemampuan Literasi Matematik (KLM) siswa kelas IX SMPN dan MTsN di kota Kendari berdasarkan levelnya disajikan pada Gambar 4.1 berikut.

Gambar 4.1 Persentase Rata-rata KLM Siswa SMP dan MTS Negeri di Kota Kendari Berdasarkan Level

Berdasarkan Gambar 4.1 di atas dapat dilihat bahwa rata–rata kemampuan literasi matematik (KLM) siswa SMP/MTs Negeri di Kota Kendari pada level 1 sebesar 71,57% dari total skor maksimal yang diharapkan, atau dengan kata lain SMP/MTs Negeri di Kota Kendari mampu menyelesaikan soal level 1 KLM dengan rata-rata keseluruhan sebesar 7,15 dari total skor yang diharapkan yakni sebesar 10. Pada level 2, 3, 4, 5, dan 6 berturut-turut sebesar 38,47%, 27,92%, 23,12%, 10,06% dan 10,92% dari total skor maksimal yang diharakan untuk masing-masing level KLM. Jika dirata–ratakan, perolehan siswa untuk keseluruhan level sebesar 32,62% dari total skor maksimal keseluruhan. Artinya, secara keseluruhan rata-rata kemampuan literasi matematik siswa belum mencapai setengah dari total skor kemampuan literasi matematik standar PISA yang diharapkan.

0.00%

10.00%

20.00%

30.00%

40.00%

50.00%

60.00%

70.00%

80.00%

Level 1

Level 2

Level 3

Level 4

Level 5

Level 6 71.57%

38.47%

27.92%

23.12%

10.06% 10.92%

(24)

19

Dari hasil pencapaian tersebut dapat dilihat bahwa kemampuan siswa pada tingkatan level 1 ke level 5 berturut-turut mengalami penurunan yang artinya semakin tinggi level soal semakin rendah pula skor kemampuan literasi matematik yang diperoleh siswa. Namun pada level 5 ke level 6 mengalami peningkatan persentase. Walaupun tingkatan soal pada level 6 semakin rumit siswa mampu menginterpretasikan dan menyelesaikan masalah setingkat lebih baik dibandingkan dengan soal pada level 5. Hal ini juga menjelaskan bahwa rata-rata siswa, telah mampu menggunakan keterampilannya dengan baik dan mengemukakan alasan/pandangan yang fleksibel sesuai dengan konteks soal yang diberikan. Dilihat dari level KLM, soal pada level 5 memiliki tingkat kesulitan yang lebih rendah dibandingkan soal pada level 6. Soal pada level 5 mengharuskan siswa untuk dapat mengerjakan model untuk situasi yang kompleks, mengetahui kendala yang dihadapi dan melakukan dugaaan, menggunakan pemikiran dan penalaran yang luas, serta secara tepat menguhubungkan pengetahuan dan keterampilan matematikanya dengan situasi yang dihadapi, sedangkan soal pada level 6 mengharuskan siswa untuk mampu berpikir dan bernalar secara matematika, menerapkan pemahamannya secara mendalam disertai dengan penguasaan teknis operasi matematika, mengembangkan strategi dan pendekatan baru untuk menghadapi situasi baru. Adanya perbedaan persentase level KLM tersebut dapat disebabkan oleh jumlah soal yang tidak sebanding pada level 5 dan level 6, penggunaan konten dan redaksi soal yang digunakan pada soal. Pada soal level 5 redaksi soal menggunakan kalimat yang lebih panjang dibandingkan dengan soal level 6 yang hanya menggunakan gambar, walaupun konsep matematika yang digunakan itu lebih mudah tetapi rata-rata siswa cenderung kurang berminat menyelesaikan soal yang berbentuk cerita. Perolehan rata-rata kemampuan siswa pertingkatan level juga tidak dapat dilepaskan dari kemampuan dasar matematika siswa yang berbeda-beda serta kemampuan siswa dalam memahami konteks, konten dan proses yang melekat pada soal. Jika ditinjau dari segi kemampuan individu dalam menyelesaikan soal secara keseluruhan ada beberapa siswa yang memperoleh nilai tinggi untuk level 1, namun dalam menyelesaikan soal secara keseluruhan, siswa yang memperoleh nilai paling rendah yaitu pada soal-soal level 5.

2. Deskipsi Kemampuan Literasi Matematik (KLM) Siswa Kelas IX SMPN/MTsN di Kota Kendari Berdasarkan Konten Soalnya

Deskipsi Kemampuan Literasi Matematik (KLM) siswa kelas IX SMPN dan MTsN di

kota Kendari berdasarkan konten soalnya disajikan pada Gambar 4.2 berikut.

(25)

Gambar 4.2 Persentase Rata-rata KLM Berdasarkan Konten KLM siswa SMP/MTS Negeri di Kota Kendari

Berdasarkan Gambar 4.2 di atas dapat dilihat bahwa rata–rata kemampuan literasi matematik (KLM) siswa di SMP/MTs Negeri di Kota Kendari pada soal Konten 1 sebesar 58,31% dari total skor maksimal yang diharapkan. Pada level 2, 3, dan 4 berturut-turut sebesar 25,42%, 24,55%, dan 16,59% dari total skor maksimal yang diharakan untuk masing- masing konten KLM. Jika dirata–ratakan, perolehan siswa untuk keseluruhan konten yaitu sebesar 32,62% dari total skor maksimal keseluruhan. Artinya, secara keseluruhan rata-rata kemampuan literasi matematik siswa belum mencapai setengah dari total skor kemampuan literasi matematik standar PISA yang diharapkan. Secara keseluruhan siswa banyak yang dapat menjawab soal konten 1, dan paling sedikit yang dapat menjawab soal dengan konten 4.

Soal konten 1 adalah soal yang berkaitan dengan Ketidakpastian dan Data yaitu soal yang menguji siswa dalam membaca diagram dan tabel. Kemudian soal konten 4 adalah soal yang berkaitan dengan Perubahan dan Keterkaitan, yaitu soal yang menguji siswa dalam aljabar dan deret.

3. Deskipsi Kemampuan Literasi Matematik (KLM) Siswa Kelas IX SMPN di Kota Kendari Berdasarkan Levelnya

Deskipsi Kemampuan Literasi Matematik (KLM) siswa kelas IX SMPN di kota Kendari berdasarkan levelnya disajikan pada Gambar 4.3 berikut.

0.00%

10.00%

20.00%

30.00%

40.00%

50.00%

60.00%

Konten 1 Konten 2 Konten 3 Konten 4

58.31%

25.42% 24.55%

16.59%

(26)

21

Gambar 4.3 Persentase Rata-rata KLM Berdasarkan Level KLM siswa SMP Negeri di Kota Kendari

Berdasarkan Gambar 4.3 di atas dapat dilihat bahwa rata–rata kemampuan literasi matematik (KLM) siswa SMP/MTs Negeri di Kota Kendari pada level 1 sebesar 70,78% dari total skor maksimal yang diharapkan, atau dengan kata lain SMP/MTs Negeri di Kota Kendari mampu menyelesaikan soal level 1 KLM dengan rata-rata keseluruhan sebesar 7,07 dari total skor yang diharapkan yakni sebesar 10. Pada level 2, 3, 4, 5, dan 6 berturut-turut sebesar 37,8%, 27,31%, 20,73%, 6,64% dan 10,11% dari total skor maksimal yang diharakan untuk masing-masing level KLM. Jika dirata–ratakan, perolehan siswa untuk keseluruhan level sebesar 31,52% dari total skor maksimal keseluruhan. Artinya, secara keseluruhan rata- rata kemampuan literasi matematik siswa belum mencapai setengah dari total skor kemampuan literasi matematik standar PISA yang diharapkan.

Dari hasil pencapaian tersebut dapat dilihat bahwa kemampuan siswa pada tingkatan level 1 ke level 5 berturut-turut mengalami penurunan yang artinya semakin tinggi level soal semakin rendah pula skor kemampuan literasi matematik yang diperoleh siswa. Namun pada level 5 ke level 6 mengalami peningkatan persentase. Walaupun tingkatan soal pada level 6 semakin rumit siswa mampu menginterpretasikan dan menyelesaikan masalah setingkat lebih baik dibandingkan dengan soal pada level 5. Hal ini juga menjelaskan bahwa rata-rata siswa, telah mampu menggunakan keterampilannya dengan baik dan mengemukakan alasan/pandangan yang fleksibel sesuai dengan konteks soal yang diberikan. Dilihat dari level KLM, soal pada level 5 memiliki tingkat kesulitan yang lebih rendah dibandingkan soal pada

0.00%

10.00%

20.00%

30.00%

40.00%

50.00%

60.00%

70.00%

80.00%

Level 1 Level 2 Level 3 Level 4 Level 5 Level 6 70.78%

37.80%

27.31%

20.73%

6.64% 10.11%

(27)

level 6. Soal pada level 5 mengharuskan siswa untuk dapat mengerjakan model untuk situasi yang kompleks, mengetahui kendala yang dihadapi dan melakukan dugaaan, menggunakan pemikiran dan penalaran yang luas, serta secara tepat menguhubungkan pengetahuan dan keterampilan matematikanya dengan situasi yang dihadapi, sedangkan soal pada level 6 mengharuskan siswa untuk mampu berpikir dan bernalar secara matematika, menerapkan pemahamannya secara mendalam disertai dengan penguasaan teknis operasi matematika, mengembangkan strategi dan pendekatan baru untuk menghadapi situasi baru. Adanya perbedaan persentase level KLM tersebut dapat disebabkan oleh jumlah soal yang tidak sebanding pada level 5 dan level 6, penggunaan konten dan redaksi soal yang digunakan pada soal. Pada soal level 5 redaksi soal menggunakan kalimat yang lebih panjang dibandingkan dengan soal level 6 yang hanya menggunakan gambar, walaupun konsep matematika yang digunakan itu lebih mudah tetapi rata-rata siswa cenderung kurang berminat menyelesaikan soal yang berbentuk cerita. Perolehan rata-rata kemampuan siswa pertingkatan level juga tidak dapat dilepaskan dari kemampuan dasar matematika siswa yang berbeda-beda serta kemampuan siswa dalam memahami konteks, konten dan proses yang melekat pada soal. Jika ditinjau dari segi kemampuan individu dalam menyelesaikan soal secara keseluruhan ada beberapa siswa yang memperoleh nilai tinggi untuk level 1, namun dalam menyelesaikan soal secara keseluruhan, siswa yang memperoleh nilai paling rendah yaitu pada soal-soal level 5.

4. Deskipsi Kemampuan Literasi Matematik (KLM) Siswa Kelas IX SMPN di Kota Kendari Berdasarkan Konten Soalnya

Deskipsi Kemampuan Literasi Matematik (KLM) siswa kelas IX SMPN di kota

Kendari berdasarkan konten soalnya disajikan pada Gambar 4.4 berikut.

(28)

23

Gambar 4.4 Persentase Rata-rata KLM siswa SMP Negeri di Kota Kendari Berdasarkan Konten Soalnya

Berdasarkan Gambar 4.4 di atas dapat dilihat bahwa rata–rata kemampuan literasi matematik (KLM) siswa di MTsN Kota Kendari pada soal Konten 1 sebesar 57,81% dari total skor maksimal yang diharapkan. Pada level 2, 3, dan 4 berturut-turut sebesar 23,91%, 25,12%, dan 13,68% dari total skor maksimal yang diharakan untuk masing-masing konten KLM. Jika dirata–ratakan, perolehan siswa untuk keseluruhan konten yaitu sebesar 31,52%

dari total skor maksimal keseluruhan. Artinya, secara keseluruhan rata-rata kemampuan literasi matematik siswa belum mencapai setengah dari total skor kemampuan literasi matematik standar PISA yang diharapkan. Secara keseluruhan siswa banyak yang dapat menjawab soal konten 1, dan paling sedikit yang dapat menjawab soal dengan konten 4. Soal konten 1 adalah soal yang berkaitan dengan Ketidakpastian dan Data yaitu soal yang menguji siswa dalam membaca dan menginterpretasikan suatu diagram dan atau tabel. Kemudian soal konten 4 adalah soal yang berkaitan dengan Perubahan dan Keterkaitan, yaitu soal yang menguji siswa dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan aljabar dan deret.

5. Deskipsi Kemampuan Literasi Matematik (KLM) Siswa Kelas IX MTsN di Kota Kendari Berdasarkan Levelnya

Deskipsi Kemampuan Literasi Matematik (KLM) siswa kelas IX MTsN di kota Kendari berdasarkan levelnya disajikan pada Gambar 4.5 berikut.

0.00%

10.00%

20.00%

30.00%

40.00%

50.00%

60.00%

Konten 1 Konten 2 Konten 3 Konten 4

57.81%

23.91% 25.12%

13.68%

(29)

Gambar 4.5 Persentase Rata-rata KLM Berdasarkan Level KLM siswa MTsN di Kota Kendari

Berdasarkan Gambar 4.5 di atas dapat dilihat bahwa rata–rata kemampuan literasi matematik (KLM) siswa di MTsN Kota Kendari pada level 1 sebesar 75% dari total skor maksimal yang diharapkan, atau dengan kata lain siswa MTsN di Kota Kendari mampu menyelesaikan soal level 1 KLM dengan rata-rata keseluruhan sebesar 7,5 dari total skor yang diharapkan yakni sebesar 10. Pada level 2, 3, 4, 5, dan 6 berturut-turut sebesar 42%, 31%, 34%, 25% dan 15% dari total skor maksimal yang diharakan untuk masing-masing level KLM. Jika dirata–ratakan, perolehan siswa untuk keseluruhan level sebesar 35% dari total skor maksimal keseluruhan. Artinya, secara keseluruhan rata-rata kemampuan literasi matematik siswa belum mencapai setengah dari total skor kemampuan literasi matematik standar PISA yang diharapkan.

Dari hasil pencapaian tersebut dapat dilihat bahwa kemampuan siswa pada tingkatan level 1 ke level 3 berturut-turut mengalami penurunan yang artinya semakin tinggi level soal semakin rendah pula skor kemampuan literasi matematik yang diperoleh siswa, begitu pula pada tingkatan level 4 ke 6 yang mengalami penurunan. Namun pada level 3 ke level 4 mengalami peningkatan persentase. Walaupun tingkatan soal pada level 4 semakin rumit siswa mampu menginterpretasikan dan menyelesaikan masalah setingkat lebih baik dibandingkan dengan soal pada level 3. Hal ini juga menjelaskan bahwa rata-rata siswa, telah mampu menggunakan keterampilannya dengan baik dan mengemukakan alasan/pandangan yang fleksibel sesuai dengan konteks soal yang diberikan. Dilihat dari level KLM, soal pada

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

Level 1 Level 2 Level 3 Level 4 Level 5 Level 6 75%

42%

31% 34%

25%

15%

(30)

25

level 3 memiliki tingkat kesulitan yang lebih rendah dibandingkan soal pada level 4. Soal pada level 3 mengharuskan siswa untuk dapat mengkomunikasikan hasil interpretasi dan alasan mereka, sedangkan pada level 4 siswa dituntut untuk dapat memberikan penjelasan, mengkomunikasikannya disertai argumentasi yang berdasarkan pada interpretasi dan tindakan mereka. Adanya perbedaan persentase level KLM tersebut dapat disebabkan oleh jumlah soal yang tidak sebanding pada level 3 dan level 4, dimana soal pada level 3 ada sebanyak 3 soal dan pada level 4 sebanyak 1 soal. Faktor lain juga dapat disebabkan penggunaan konten dan redaksi soal yang digunakan pada soal. Pada soal level 3 redaksi soal menggunakan kalimat yang lebih panjang dibandingkan dengan soal level 4 yang hanya menggunakan gambar, walaupun konsep matematika yang digunakan itu lebih mudah tetapi rata-rata siswa cenderung kurang berminat menyelesaikan soal yang berbentuk cerita. Perolehan rata-rata kemampuan siswa pertingkatan level juga tidak dapat dilepaskan dari kemampuan dasar matematika siswa yang berbeda-beda serta kemampuan siswa dalam memahami konteks, konten dan proses yang melekat pada soal. Jika ditinjau dari segi kemampuan individu dalam menyelesaikan soal secara keseluruhan ada beberapa siswa yang memperoleh nilai tinggi untuk level 1, namun dalam menyelesaikan soal secara keseluruhan, siswa yang memperoleh nilai paling rendah yaitu pada soal-soal level 6.

6. Deskipsi Kemampuan Literasi Matematik (KLM) Siswa Kelas IX MTsN di Kota Kendari Berdasarkan Konten Soalnya

Deskipsi Kemampuan Literasi Matematik (KLM) siswa kelas IX MTsN di kota

Kendari berdasarkan konten soalnya disajikan pada Gambar 4.6 berikut.

(31)

Gambar 4.6 Persentase KLM Siswa MTsN di Kota Kendari Berdasarkan Konten Soalnya Berdasarkan Gambar 4.6 di atas dapat dilihat bahwa rata–rata kemampuan literasi matematik (KLM) siswa di MTsN Kota Kendari pada soal Konten 1 sebesar 75% dari total skor maksimal yang diharapkan. Pada level 2, 3, dan 4 berturut-turut sebesar 25%, 34%, dan 41% dari total skor maksimal yang diharakan untuk masing-masing konten KLM. Jika dirata–

ratakan, perolehan siswa untuk keseluruhan konten yaitu sebesar 43,75% dari total skor maksimal keseluruhan. Artinya, secara keseluruhan rata-rata kemampuan literasi matematik siswa belum mencapai setengah dari total skor kemampuan literasi matematik standar PISA yang diharapkan. Secara keseluruhan siswa banyak yang dapat menjawab soal konten 1, dan paling sedikit yang dapat menjawab soal dengan konten 2. Soal konten 1 adalah soal yang berkaitan dengan Ketidakpastian dan Data (Uncertainty and Data) yaitu soal yang menguji siswa dalam membaca diagram dan tabel. Kemudian soal konten 2 adalah soal yang berkaitan dengan Ruang dan Bentuk (Space and Shape), yaitu soal yang menguji siswa dalam membaca pola.

7. Deskipsi Kesalahan Siswa Kelas IX SMPN dan MTsN di Kota Kendari dalam Menyelesaikan Masalah Matematika

Kesalahan Siswa SMP dan MTs Negeri di Kota Kendari, dapat dilihat pada diagram berikut ini:

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

Konten 1 Konten 2 Konten 3 Konten 4

75%

25%

34%

41%

(32)

27

Gambar 4.7 Persentase Kesalahan yang dilakukan Siswa SMP/ dan MTs Negeri di Kota Kendari dalam Menyelesaikan Masalah Matematika

Berdasarkan Gambar 4.7 diatas dapat dilihat bahwa rata-rata siswa SMP dan MTs Negeri di Kota Kendari melakukan kesalahan prosedur dalam menjawab soal nomor 1 dengan persentase yakni sebesar 94%, 5% siswa melakukan kesalahan konsep, 0% siswa tidak menjawab, 0% siswa melakukan kesalahan perhitungan dan 0% siswa tidak melakukan kesalahan. Pada soal nomor 2 rata-rata siswa melakukan kesalahan prosedur dalam menjawab soal dengan persentase yakni sebesar 66%, 19% siswa tidak melakukan kesalahan, 14% siswa melakukan kesalahan konsep, 0% siswa tidak menjawab dan 0% siswa melakukan kesalahan perhitungan, hal ini menunjukan bahwa siswa lebih cenderung melakukan kesalahan prosedur dalam menjawab soal nomor 2. Pada soal nomor 3 rata-rata siswa melakukan kesalahan konsep dalam menjawab soal dengan persentase yakni sebesar 53%, 32% siswa melakukan kesalahan prosedur, 15% siswa tidak menjawab, 0% siswa melakukan kesalahan perhitungan dan 1% siswa tidak melakukan kesalahan. Pada soal nomor 4 rata-rata siswa melakukan kesalahan prosedur dalam menjawab soal dengan persentase yakni sebesar 53%, 41% siswa melakukan kesalahan konsep, 6% siswa tidak menjawab, 0% siswa melakukan kesalahan perhitungan dan 0% siswa tidak melakukan kesalahan, hal ini menunjukan bahwa siswa lebih cenderung melakukan kesalahan prosedur dalam menjawab soal nomor 4. Pada soal nomor 5 rata-rata siswa melakukan kesalahan konsep dalam menjawab soal dengan persentase yakni

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

90%

100%

No 1 No 2 No 3 No 4 No 5 No 6 No 7 No 8 No 9 No 10 No 11

0% 0%

15%

6%

36% 33% 30% 35%

66%

51% 55%

5%

14%

53%

41% 48%

36% 40% 42%

27%

46% 42%

94%

66%

32%

53%

16%

29%

7%

21%

7% 2% 2%

0% 0% 0% 0 0% 0% 0% 0% 0% 2% 0%

0%

19%

1% 0% 0% 3%

23%

1% 0% 1% 1%

Tidak Menjawab Salah Konsep Salah Prosedur Salah Hitung Tidak Salah

(33)

sebesar 48%, 36% siswa tidak menjawab, 16% siswa melakukan kesalahan prosedur, 0%

siswa melakukan kesalahan perhitungan dan 0% siswa tidak melakukan kesalahan. Pada soal nomor 6 rata-rata siswa melakukan kesalahan konsep dalam menjawab soal dengan persentase yakni sebesar 36%, 33% siswa tidak menjawab, 29% siswa melakukan kesalahan prosedur, 0% siswa melakukan kesalahan perhitungan dan 3% siswa tidak melakukan kesalahan, hal ini menunjukan bahwa siswa lebih cenderung melakukan kesalahan konsep dalam menjawab soal nomor 6. Pada soal nomor 7 rata-rata siswa melakukan kesalahan konsep dalam menjawab soal dengan persentase yakni sebesar 40%, 30% siswa tidak menjawab, 7% siswa melakukan kesalahan prosedur, 0% siswa melakukan kesalahan perhitungan dan 23% siswa tidak melakukan kesalahan. Pada soal nomor 8 rata-rata siswa melakukan kesalahan konsep dalam menjawab soal dengan persentase yakni sebesar 42%, 35% siswa tidak menjawab, 21% siswa melakukan kesalahan prosedur, 0% siswa melakukan kesalahan perhitungan dan 1% siswa tidak melakukan kesalahan, hal ini menunjukan bahwa siswa lebih cenderung melakukan kesalahan konsep dalam menjawab soal nomor 8. Pada soal nomor 9 rata-rata siswa tidak menjawab soal dengan persentase yakni sebesar 66%, 27% siswa melakukan kesalahn konsep, 7% siswa melakukan kesalahan prosedur, 0% siswa melakukan kesalahan perhitungan dan 0% siswa tidak melakukan kesalahan. Pada soal nomor 10 rata-rata siswa tidak menjawab soal dengan persentase yakni sebesar 51%, 46% siswa melakukan kesalahn konsep, 2% siswa melakukan kesalahan prosedur, 2% siswa melakukan kesalahan perhitungan dan 1% siswa tidak melakukan kesalahan, hal ini menunjukan bahwa siswa lebih cenderung tidak menjawab soal nomor 10. Pada soal nomor 11 rata-rata siswa tidak menjawab soal dengan persentase yakni sebesar 55%, 42% siswa melakukan kesalahan konsep, 2% siswa melakukan kesalahan prosedur, 0% siswa melakukan kesalahan perhitungan dan 1% siswa tidak melakukan kesalahan.

8. Deskipsi Kesalahan Siswa Kelas IX SMPN di Kota Kendari dalam Menyelesaikan Masalah Matematika

Kesalahan Siswa SMP Negeri di Kota Kendari, dapat dilihat pada Gambar 4.8 berikut

ini:

(34)

29

Gambar 4.8 Persentase Kesalahan yang dilakukan Siswa SMP Negeri di Kota Kendari dalam Menyelesaikan Masalah Matematika

Berdasarkan Gambar 4.8 di atas dapat dilihat bahwa rata-rata siswa SMP Negeri di Kota Kendari melakukan kesalahan prosedur dalam menjawab soal nomor 1 dengan persentase yakni sebesar 94%, 6% siswa melakukan kesalahan konsep, 0% siswa tidak menjawab, 0% siswa melakukan kesalahan perhitungan dan 0% siswa tidak melakukan kesalahan. Pada soal nomor 2 rata-rata siswa melakukan kesalahan prosedur dalam menjawab soal dengan persentase yakni sebesar 67%, 15% siswa tidak melakukan kesalahan, 15% siswa melakukan kesalahan konsep, 0% siswa tidak menjawab dan 0% siswa melakukan kesalahan perhitungan, hal ini menunjukan bahwa siswa lebih cenderung melakukan kesalahan prosedur dalam menjawab soal nomor 2. Pada soal nomor 3 rata-rata siswa melakukan kesalahan konsep dalam menjawab soal dengan persentase yakni sebesar 53%, 32% siswa melakukan kesalahan prosedur, 15% siswa tidak menjawab, 0% siswa melakukan kesalahan perhitungan dan 1% siswa tidak melakukan kesalahan. Pada soal nomor 4 rata-rata siswa melakukan kesalahan prosedur dalam menjawab soal dengan persentase yakni sebesar 52%, 42% siswa melakukan kesalahan konsep, 6% siswa tidak menjawab, 0% siswa melakukan kesalahan perhitungan dan 0% siswa tidak melakukan kesalahan, hal ini menunjukan bahwa siswa lebih cenderung melakukan kesalahan prosedur dalam menjawab soal nomor 4. Pada soal nomor 5 rata-rata siswa melakukan kesalahan konsep dalam menjawab soal dengan persentase yakni sebesar 48%, 35% siswa tidak menjawab, 17% siswa melakukan kesalahan prosedur, 0%

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

90%

100%

No 1 No 2 No 3 No 4 No 5 No 6 No 7 No 8 No 9 No 10 No 11

0% 0%

15%

6%

35% 35% 32% 38%

71%

54% 58%

6%

15%

53%

42% 48%

32% 41% 42%

27%

44% 39%

94%

67%

32%

52%

17%

31%

6%

19%

2% 1% 2%

0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0%

0%

18%

1% 0% 0% 2%

20%

1% 0% 1% 1%

Tidak Menjawab Salah Konsep Salah Prosedur Salah Hitung Tidak Salah

Referensi

Dokumen terkait

Pendekatan Teknis , pekerjaan Perancangan Aplikasi Sistem pelayanan kesehatan di puskesmas kabupaten Bogor dilakukan secara terstruktur, terpola dalam melakukan

Pada penelitian lain, juga telah diteliti HD pada nanologam bola (NB) menggunakan persamaan elektrodinamika klasik Maxwell, hasil yang diperoleh adalah FR

Perhitungan disamakan dari 3 alternatif dalam penyebutan KPK berdasarkan umur aset untuk RE didapatkan 0,71 dibuatkan perhitungan ke profil analisa biaya siklus

Dari Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar fisika peserta didik kelas VIII SMP Negeri 1 Tanete Rilau Kabupaten Barru terhadap konsep getaran

(1) Guru dapat memberikan masalah-masalah matematika untuk mengasah intuisi siswa dalam menyelesaikan masalah, baik pada siswa dengan kecerdasan matematis logis,

Dalam praktek persidangan, pasal peraturan hukum pidana itu selalu dihubungkan dengan perbuatan terdakwa. Dalam hal ini, penuntut umum dan hakim berusaha untuk

Untuk keperluan ini pokok permasalahan harus diuraikan dahulu menjadi beberapa aspek yang akan dibagikan kepada tiap kelompok (tiap kelompok menyelesaikan satu

Resistance training adalah bentuk latihan fisik yang dirancang untuk meningkatkan kebugaran otot, kekuatan otot, dan daya ledak (power) dengan melatih otot