KEDUDUKAN PERNIKAHAN POLIGAMI SECARA SIRRI DITINJAU DARI HUKUM KELUARGA LEGALITY OF SIRRI POLYGAMY MARRIAGE BASED ON POSITIVE LAWS IN INDONESIA
Teks penuh
Dokumen terkait
Sesuai dengan ketentuan pasal 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, bahwa perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum1. masing-masing agamanya
Dalam Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Perkawinan disebutkan bahwa ”Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya.” Ini
sah jika dilakukan menurut hukum masing-masing agam dan kepercayaannya; b) Namun keberadaan pasal 2 ayat 2 UU Perkawinan yang menyebabkan tiap-tiap perkawinan
Sementara itu sahnya perkawinan sebagaimana disebut dalam Undang-Undang Perkawinan pasal 2 ayat (1) dikatakan bahwa perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut
Perkawinan yang sah diatur pula dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan menyebutkan bahwa “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing
Penentuan keabsahan dari suatu perkawinan diatur di dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan yang berbunyi: “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum
dari segi syarat-syarat perkawinan.13 Dalam Pasal 2 ayat 1 dikatakan, bahwa perkawinan itu sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya.14 Secara umum,
Kemudian di pasal 2 ayat 1 dijelaskan bahwa perkawinan itu sah jika dilakukan menurut hukum agama dan kepercayaannya masing-masing.5 Menurut definisi Sajuti Thalib, pernikahan adalah