• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

LANDASAN TEORI

2.1 Entrepreneur

2.1.1. Definisi Entrepreneur

Menjadi seorang wirausaha berarti memadukan perwatakan pribadi, keuangan, dan sumber daya di dalam lingkungan sekitar. Menjadi entrepreneur berarti memiliki kemampuan untuk menemukan dan melihat peluang yang ada, mengumpulkan sumberdaya yang diperlukan dan berusaha untuk mencari keuntungan dari peluang tersebut.

Berikut ini terdapat beberapa istilah yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya David H. Holt (2003), yang mengatakan entrepreneur adalah orang yang menciptakan sebuah bisnis baru, mengambil inisiatif dan menerima resiko usaha baru tersebut serta dalam pelaksanakannya menciptakan “sesuatu” yang baru atau melalui pemanfaatan sumber – sumber daya dengan cara yang tidak lazim guna menciptakan nilai bagi pelanggan.

Lain halnya dengan pendapat dari Geoffrey G. Meredith et al, menurutnya para wirausaha adalah orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan bisnis ; mengumpulkan sumber-sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat guna memastikan sukses (Geoffrey G. Meredith et al, 2005, p. 5)

Seorang entrepreneur harus dapat meluangkan sebagian besar waktunya untuk merencanakan kegiatan bisnis. Jika sebuah perusahaan berkembang, kebutuhan akan perencanaan menjadi semakin besar. Kebanyakan entrepreneur mempunyai tujuan dan pengharapan tertentu. semakin jelas tujuan yang ingin dicapai, semakin besar kemungkinan tujuan tersebut akan tercapai.

2.1.2. Karakteristik Entrepreneur

Wirausaha adalah orang-orang yang: taking initiative, assuming considerable autonomy in the organization of resources, sharing risks, participating in uncertain rewards, and innovating in more than an incremental or marginal way. Berbagai karakteristik wirausaha tersebut memberikan gambaran bahwa seorang wirausaha adalah

(2)

seorang yang kreatif dan adaptif. Bagi usaha kecil yang beroperasi dalam lingkungan persaingan yang semakin tajam dan ketidakpastian lingkungan semakin tinggi menuntut adalah wirausaha-wirausaha yang kreatif dan adaptif tersebut.

Menurut Hermawan Kartajaya (2008) “untuk menjadi seorang entrepreneur tidak cukup hanya memiliki pendidikan dan pengalaman terhadap bisnis tetapi juga harus memiliki karakter seorang entrepreneur”, antara lain :

1. Creation

Adalah kemampuan untuk menciptakan suatu bisnis dari peluang yang ada.

Seorang entrepreneur harus jeli melihat peluang dan kesempatan yang ada, jangan hanya menunggu kesempatan datang tetapi harus mampu menciptakan kesempatan itu dan bertindak untuk merealisasikannya.

2. Innovation

Seorang entrepreneur harus mampu mengembangkan inovasi dalam lingkup bisnisnya, yang meliputi produk baru, proses, market, material, atau organisasi.

Dimana melalui inovasi – inovasi yang cemerlang dapat membangkitkan keingintahuan orang lain tentang apa yang dibisniskan.

3. Risk Undertake

Setiap entrepreneur harus dapat menerima dan mengambil resiko bahwa bisnis yang dijalankannya mungkin akan mengalami kegagalan ataupun kerugian.

Entrepreneur tidak boleh takut akan kegagalan karena masih adanya kemungkinan untuk berhasil dan harus dapat menerapkan pola pikir bahwa resiko adalah sesuatu yang lumrah dalam dunia bisnis.

4. General Management

Seorang pemilik bisnis harus dapat mengelola dan mengalokasikan sumber dayanya yang terbatas dengan semaksimal mungkin.

5. Performance Intention

Seorang entrepreneur harus mampu menciptakan pertumbuhan usaha yang tinggi dan menghasilkan laba. Dimana dalam usahanya seorang entrepreneur harus selalu memantau pertumbuhan bisnisnya secara terus menerus dan berusaha meningkatkannya supaya dapat berkembang ke arah yang lebih baik.

(3)

Wirausaha yang baik atau profesional memiliki kualifikasi atau berbagai karakteristik tertentu. Karakteristik-karakteristik yang dimaksud antara lain sebagai berikut: mampu menciptakan suatu bisnis dari peluang yang ada, mampu mengembangkan inovasi dalam lingkup bisnisnya, dapat menerima dan mengambil resiko bahwa bisnis yang dijalankannya mungkin akan mengalami kegagalan ataupun kerugian, dapat mengelola dan mengalokasikan sumber dayanya yang terbatas dengan semaksimal mungkin, dan menciptakan pertumbuhan usaha yang tinggi dan menghasilkan laba.

2.1.3. Resiko Entrepreneur

Situasi beresiko selalu terjadi ketika seseorang diminta untuk menentukan piihan diantara dua pilihan. hal itu pula yang dialami oleh para wirausaha ketika dihadapkan oleh beberapa piliha yang dapat menghasilkan resiko. Sebagai pengambil resiko seorang pengusaha harus mengambil keputusandalam situasi penuh ketidakpastian.

Dengan bertambah besar perusahaan, maka bertambah banyak permasalahan yang akan dihadapi. Dan hal itu akan menghendaki seorang pengusaha untuk tidak takut dalam mengambil keputusan dan bersiap untuk menghadapi resikonya. Kebanyakan orang takut untuk mengambi resiko karena mereka ingin aman.

Kemampuan mengambi resiko seorang wirausaha akan ditingkatan oleh (Geoffrey, 2005, p 47) :

• Keyakinan pada dirinya.

• Kesediaan mereka untuk menggunakan kemampuan mereka sepenuhnya untuk mengubah keadaan demi keuntungan mereka.

• Kemampuan mereka untuk menilai situasi resiko secara realistis dan kemampuan mereka untuk mengubah kesempatan.

• Menghadapi suatu situasi resiko menurut tujuan mereka yang telah ditentukan.

Para wirausaha menyukai mengambil resiko realistic karena mereka ingin berhasil. Mereka mendapat kepuasan besar dalam melaksanakan tugas yang sukar . Sehingga situasi risiko kecil dan situasi resiko tinggi dihindari karena biasanya para pengusaha lebih menyukai tantangan yang sukar tetapi dapat dicapai.

(4)

2.1.4. Faktor Pembentuk Karakter Entrepreneur

Wirausaha yang profesional sesungguhnya bukanlah bawaan dari lahir, tetapi merupakan suatu pembentukan yang pintar (smart building) dari proses yang dapat ditumbuh kembangkan dalam lingkungan yang dinamis.

Menurut Shane (2003, p. 308) dalam pembentukan karakter entrepreneur dipengaruhi oleh beberapa faktor baik secara internal maupun secara eksternal yaitu sebagai berikut :

1. Lingkungan Keluarga dan Masa Kecil

Lingkungan keluarga dan masa kecil sangat berpengaruh terhadap pembentukan semangat berwirausaha, hal ini disebabkan oleh pengaruh pekerjaan orang tua yang terus membayangi si anak untuk melanjutkan usaha orang tuanya ataupun karena naluri bisnis yang sudah terbentuk selama membantu pekerjaan orang tuanya.

2. Pendidikan

Faktor pendidikan juga tak kalah memainkan peran penting dalam penumbuhan semangat kewirausahaan. Pendidikan tidak hanya mempengaruhi seseorang untuk melanjutkan usahanya namun juga membantu dalam mengatasi masalah dalam menjalankan usahanya.

3. Nilai – nilai Personal

Faktor nilai – nilai personal akan mewarnai usaha yang dikembangkan seorang wirausaha dimana nilai inilah yang akan membedakan seorang entrepreneur dengan entrepreneur lainnya terutama dalam proses pengaturan organisasi usahanya serta menjalin hubungan dengan pelanggan, supplier, dan pihak – pihak lain yang berhubungan dengan usahanya.

4. Pengalaman Kerja

Faktor pengalaman kerja dapat menjadi sebuah motivasi bagi seseorang untuk menjadi seorang entrepreneur, dimana hal ini berhubungan dengan pengalaman ketidakpuasan seseorang saat menjadi bawahan atau pegawai yang lebih sering disuruh – suruh. Pada pengalaman ketidakpuasan inilah

(5)

yang mendorong seseorang dalam mengembangkan suatu usaha baru sebagai seorang entrepreneur.

Keberhasilan usaha termasuk usaha kecil akan sangat ditentukan oleh unsur manusia (human aspect) atau sumber daya manusianya sebagai penggerak utama suatu usaha, yang akan mengarahkan dan mengorientasikan usahanya dengan cara yang lebih baik (better). Sumber daya manusia yang dimaksud pada hakikatnya adalah wirausaha (entrepreneur) sebagai asset kunci keberhasilan suatu usaha.

2.1.5. Kelebihan Entrepreneur

Ada beberapa kondisi tertentu yang dihadapi entrepreneur namun tidak dihadapi oleh mereka yang bekerja sebagai bawahan. Hal yang ,menarik dalam lingkungan entrepreneur,. karena seseorang yang telah menjadi Entrepreneur yang berhasil akan memiliki kebanggan tersendiri, dan akan dapat memiliki pengalaman yang menarik dalam kehidupannya.

Berikut ini merupakan kelebihan dari entrepreneurship (Stekpi, 2005) : a. Peluang mengendalikan nasib Anda sendiri.

Memiliki suatu bisnis memberikan kebebasan dan peluang pada entrepreneur untuk mencapai sasaran yang penting baginya. Para entrepreneur ingin menjadi

“pemberi aba-aba” dalam hidup mereka, dan menggunakan bisnisnya untuk mewujudkan keinginannya dalam hidup. Mereka meraih kepuasan pribadi dengan menyadari bahwa mereka sendirilah daya dorong di balik bisnis mereka.

b. Kesempatan melakukan perubahan.

Semakin banyak entrepreneur yang memulai bisnis karena mereka melihat kesempatan untuk membuat perubahan yang menurut mereka penting, misalnya mengatasi pengangguran di Indonesia. Para entrepreneur kini menemukan cara untuk mengkombinasikan keprihatinan mereka terhadap masalah-masalah sosial dengan keinginan untuk menjalani kehidupannya yang lebih baik.

c. Peluang untuk menggunakan potensi sepenuhnya.

Terlalu banyak orang yang merasakan bahwa pekerjaan mereka membosankan, tidak menantang, dan tidak menarik. Kebanyakan entrepreneur tidak banyak

(6)

perbedaan antara kerja dan bermain game; keduanya sama saja. Bisnis-bisnis yang dimiliki para entrepreneur merupakan alat untuk aktualisasi diri. Tim McDonald, yang pada usia 31 telah mendirikan beberapa perusahaan, menjelaskan, “Saya ingin berada dalam situasi dimana pertumbuhan Anda hanya dibatasi oleh bakat dan kekuatan Anda sendiri”, dan itu berarti situasi kewirausahaan.

d. Peluang melakukan sesuatu yang Anda sukai.

Yang umum dirasakan para pemilik bisnis kecil adalah bahwa kegiatan kerja mereka sesungguhnya bukanlah kerja. Kebanyakan entrepreneur yang berhasil memilih masuk dalam bisnis tertentu, sebab mereka tertarik dan menyukai pekerjaan tersebut. Mereka membuat kegemaran mereka menjadi pekerjaan mereka dan mereka senang bahwa mereka melakukannnya! Para entrepreneur ini melakukan nasihat Harvey McKay:

“Carilah pekerjaan yang Anda sukai dan Anda tidak akan pernah harus bekerja seharipun dalam hidup Anda.”

2.2. Kepemimpinan

Wirausaha yang berhasil merupakan pemimpin yang berhasil, baik yang memimpin beberapa maupun yang beratus-ratus karyawan. Pada hakikat pekerjaannya mereka adalah pemimpin, karena mereka harus mencari peluang; memulai proyek mengumpulkam sumber daya manusiawi dan financial yang diperlukan untuk melaksanakan proyek, menentukan tujuan untuk mereka sendiri dan orang lain; dan memimpin serta membimbing orang lain untuk mencapai tujuan.

2.2.1 Ciri-ciri Kepemimpinan

Menurut Patric ( 2007, p. 48 ), pada teori pembawaan pemimpin memiliki batasan yang luas terhadap karakter-karakter yang diinginkan. Mereka harus pintar, percaya diri, berkemauan keras, menyukai tantangan, mampu berkomunikasi dan bisa berdiplomasi.

Mereka harus mentolerir frustasi, mengejar impian dengan penuh semangat, dan mampu membuat pekerjaan terselesaikan dengan baik. Pemimpin juga harus teliti dan bertanggung jawab.

(7)

Pemimpin selalu mencari cara untuk membuat diri mereka sendiri lebih baik (dalam tingkat kebutuhan yang tinggi). Hal itu melampaui dan merambah pada kebaikan yang diyakini oleh seorang pemimpin. Mereka mengejar dan membuat kebutuhan sosial mereka menjadi lebih baik, kebutuhan akan sebuah penghargaan diri dan semangat diri yang tinggi. Mereka mencoba untuk menjadi lebih unggul. Mereka mengejar sebuah keunggulan.

Kebutuhan sosial adalah suatu kebutuhan yang selalu ingin dekat dengan orang lain dan berhubungan dengan mereka. Mereka menikmati bekerja dengan orang lain.

Pemimpin suka membuat orang-orangnya merasa terikat satu dengan yang lainnya, baik dengan mereka maupun organisasi tempat dimana mereka bekerja.

Pemimpin yang baik juga memiliki harga diri yang tinggi, karena harga diri berarti mempercayai diri sendiri sebagai orang yang berguna. Harga diri yang rendah dapat membawa kepada masalah emosional dan pencapaian yang rendah. harga diri yang positif dan kuat membawa diri kepada cerminan diri sendiri yang kuat, dimana itu sangat penting bagi kesejahteraan seseorang. Kepercayaan diri yang tinggi membantu menyelesaikan suatu masalah dan membuat performa menjadi lebih baik.

Bersemangat adalah kemampuan dimana pemimpin ingin melakukan apa yang orang lain ingin lakukan dan dalam melakukan hal itu, mencapai pemenuhan diri sendiri.

Hal itu juga merupakan keinginan untuk melakukan suatu hal dengan benar, mencapai keunggulan dan membuat semua terlaksana dengan benar. Normalnya, hal ini mencakup menemukan sesuatu, melakukan tugas yang menantang atau maju selangkah ke depan.

2.3. Entrepreneurial Leadership

2.3.1. Dimensi Entrepreneurial Leadership

Entrepreneurial Leadership adalah kepemimpinan visioner yang membuat skenario yang digunakan untuk berkumpul dan memobilisasi sebuah 'pemain pembantu' menjadi peserta yang dilakukan oleh visi untuk penemuan dan eksploitasi penciptaan nilai strategis.

Berikut adalah beberapa dimensi yang berpengaruh kepada Entrepreneurial Leadership :

2.3.1.1 Innovativeness

(8)

Definisi dari inovasi menurut Taufik (http://www.scribd.com/doc/4423336/Kebijakan- Inovasi-Tatang-A-Taufik).

a. Proses dan/atau hasil pengembangan dan/atau pemanfaatan/ mobilisasi pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman untuk menciptakan (memperbaiki) produk (barang dan jasa), proses, dan/atau sistem yang baru yang memberikan nilai yang berarti.

b. Proses dimana gagasan, temuan tentang produk atau proses diciptakan, dikembangkan dan berhasil disampaikan kepada pasar.

Beberapa faktor yang dinilai sebagai sumber inovasi-inovasi antara lain : a. Perkembangan teknologi

b. Perubahan kebutuhan atau keinginan konsumen c. Tekanan persaingan yang semakin ketat

d. Peraturan atau kebijakan pemerintah e. Perubahan dalam segmen pasar .

2.3.1.2.Risk taking

“Risk taking comes from a willingness to commit significant resources, and perhaps borrow heavily, to venture into the unknown. The tendency to take risks can be assessed by considering whether people are bold or cautious, whether they require high levels of certainty before taking or allowing action, and whether they tend to follow tried-and-true paths”. (Bateman & Snell, 2007,p. 47).

Resiko yang diambil dalam setiap usaha biasanya adalah mengenai pilihan dalam pemanfaatan peluang yang ada yang tentunya memiliki efek samping pada kelangsungan perusahaan. Akan tetapi, pemimpin yang baik adalah seorang risk-taker, namun risk is calculated (resiko dapat diperhitungkan). Maka dari itu, kebijaksanaan dan penggunaan hati nurani yang tepat disertai penalaran yang sistematis dapat membantu perusahaan terhindar dari resiko yang sangat merugikan.

2.3.1.3.Proactiveness

“To be proactive is to act in anticipation of future problems and opportunities. A proactive firm changes the competitive landscape; other firms merely react. Proactive

(9)

firms are forward thinking and fast to act, and are leaders rather than followers.

Similarly, some individuals are more likely to be proactive, to shape and create their own environments, than others who more passively cope with the situations in which they find themselves. Proactive firms encourage and allow individuals and teams to be proactive”. (Bateman & Snell, 2007, p. 132).

Bersikap proaktif sangat penting dimiliki karena termasuk dalam tindakan menyikapi masalah-masalah yang akan datang dan memanfaatkan peluang yang ada.

2.3.1.4.Competitive aggressiveness

“Competitive aggressiveness is the tendency of the firm to challenge competitors directly and intensively in order to achieve entry or improve its position. In other words, it is a competitive tendency to outperform one’s rivals in the marketplace. This might take the form of striking fast to beat competitors to the punch, to tackle them head-to-head, and to analyze and target competitors’ weaknesses”. (Bateman & Snell, 2007, p. 134).

Agresivitas yang kompetitif baik dilakukan bila dalam skala yang masih terukur, artinya tidak berlebihan dan merugikan pihak-pihak lain, misalnya main serobot pelanggan orang dan tidak memperhatikan etika-etika yang lain sehingga akhirnya persaingan usaha yang seperti itu menghasilkan keadaan yang kurang sehat dan tidak dapat memiliki jaringan kerjasama yang baik dengan berbagai pihak.

2.3.1.5.Autonomy

Penghargaan ini berkaitan dengan penyelesaian pekerjaan yang diberikan dengan cara dan kemauannya tanpa diawasi secara ketat atau dikontrol pihak lain (Robbins,1989).

Autonomy merupakan sikap mandiri sebagai bagian dari karakteristik seorang Entrepreneur. Refleksi dari Autonomy ini adalah sikap yang tidak ingin mengandalkan orang lain dalam setiap usahanya karena adanya keyakinan bahwa ia mampu untuk melakukan pekerjaan tersebut dan mampu mengarahkan dirinya sendiri.

(10)

2.4 Usaha Kecil

2.4.1 Definisi Usaha Kecil

Usaha kecil mempunyai populasi yang cukup besar. Jenis usah aini tersebar di seluruh wilayah sampai ke pedesaan dan hamper semua jenis kegiatan uisaha.Usaha Kecil merupakan segala kegiatan ekonomi di luar sector pertanian dengan skala kecil

Ada dua definisi usaha kecil yang dikenal di Indonesia (Mudrajad Kuncoro, 2000) , yaitu :

a. definisi usaha kecil menurut Undang-Undang No. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rp 1 milyar dan memiliki kekayaan bersih, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, paling banyak Rp 200 juta (Sudisman & Sari, 1996: p. 5).

b. menurut kategori Biro Pusat Statistik (BPS), usaha kecil identik dengan industri kecil dan industri rumah tangga. BPS mengklasifikasikan industri berdasrakan jumlah pekerjanya, yaitu: (1) industri rumah tangga dengan pekerja 1-4 orang; (2) industri kecil dengan pekerja 5-19 orang; (3) industri menengah dengan pekerja 20-99 orang;

(4) industri besar dengan pekerja 100 orang atau lebih (BPS, 1999: p. 250).

Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.

2.4.2. Karakteritik Usaha Kecil

Jumlah usaha kecil sangat dominan dibandingkan dengan kelompok skala usaha lainnya. Di samping itu, peran usaha kecil dalam menyerap tenaga kerja relative besar.

Penyerapan tenaga kerja tersebut selanjutnya akan meningkatkan kesejahteraan

(11)

masyarakat. Dengan demikian, penumbuhan usaha kecil menjadi suatu kebijakan strategis dan efektif dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam upaya penumbuhan usaha kecil tersebut, perlu diketahui karakteristik serta permasalahan dan kendala yang dihadapi oleh usaha kecil. Pada umumnya, usaha kecil mempunyai cirri antara lain sebagai berikut ( Endang Sri Winarni, 2006) :

a. Biasanya berbentuk usaha perorangan dan belum berbadan hukum perusahaan b. Aspek legalitas usaha lemah

c. Struktur organisasi bersifat sederhana dengan pembagian kerja yang tidak baku

d. Kebanyakan tidak mempunyai laporan keuangan dan tidak melakukan pemisahan antara kekayaan pribadi dengan kekayaan perusahaan

e. Kualitas manajemen rendah dan jarang yang memiliki rencana usaha f. Sumber utama modal usaha adalah modal pribadi

g. Sumber Daya Manusia (SDM) terbatas

h. Pemilik memiliki ikatan batin yang kuat dengan perusahaan, sehingga seluruh kewajiban perusahaan juga menjadi kewajiban pemilik.

Karakteristik usaha kecil sebenarnya dapat dilihat dari namanya. usaha yang dimaksudkan disini adalah upaya ekonomi yang bertujuan untuk mengejar suatu keuntungan. Termasuk dalam kelomok ini berbagai jenis usaha. Misal kerajinan, manufacturing, perdagangan dan jasa lainnya. Kata sifat skala kecil menunjukkan bahwa unit usaha ekonomi menjadi focus pembicaraan mempunyai dimensi yang kecil dari satu atau beberapa ukuran

2.4.3. Masalah Usaha Kecil

Pembinaan pengusaha kecil harus lebih diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pengusaha kecil menjadi pengusaha menengah. Namun disadari pula bahwa pengembangan usaha kecil menghadapi beberapa kendala seperti tingkat kemampuan, ketrampilan, keahlian, manajemen sumber daya manusia, kewirausahaan, pemasaran dan keuangan. Lemahnya kemampuan manajerial dan sumberdaya manusia ini mengakibatkan pengusaha kecil tidak mampu menjalankan usahanya dengan baik.

(12)

Secara lebih spesifik, masalah dasar yang dihadapi pengusaha kecil adalah (Mudrajad Kuncoro, 2000) :

a. Kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar.

b. Kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan.

c. Kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia.

d. Keterbatasan jaringan usaha kerjasama antar pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran). Kelima,

e. Iklim usaha yang kurang kondusif, karena persaingan yang saling mematikan.

f. Pembinaan yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil.

2.4.4. Ciri Umum Usaha Kecil

Usaha kecil merupakan bagian integral dari dunia usaha nasional yang mempunyai kedudukan, potensi dan peranan yang sangat strategis dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Mengingat peranannya dalam pembangunan, usaha kecil harus terus dikembangkan dengan semangat kekeluargaan, saling isi mengisi, saling memperkuat antara usaha yang kecil dan besar dalam rangka pemerataan serta mewujudkan kemakmuran yang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sehubungan dengan adanya keragaman dalam batasan tersebut, tampaknya perlu untuk diketahui tentang ciri-ciri umum dari usaha kecil. Berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh Mitzerg dan Musselman serta Hughes (1992) dapat disimpulkan ciri-ciri umum usaha kecil, yaitu :

1. Kegiatannya cenderung tidak formal dan jarang yang memiliki rencana usaha;

2. Struktur organisasi bersifat sederhana;

3. Jumlah tenaga kerja terbatas dengan pembagian kerja yang longgar;

4. Kebanyakan tidak melakukan pemisahan antara kekayaan pribadi dengan kekayaan perusahaan;

5. Sistem akuntansi kurang baik, bahkan sukar menekan biaya;

6. Kemampuan pemasaran serta diversifikasi pasar cenderung terbatas;

7. Margin keuntungan sangat tipis.

(13)

Berdasarkan pada beberapa ciri tersebut di atas, maka dapatdiketahui bahwa kelemahan dari usaha kecil selain dipengaruhi oleh faktor keterbatasan modal juga tampak pada kelemahan manajerialnya. Hal ini terungkap baik pada kelemahan pengorganisasian, perencanaan, pemasaran, maupun pada kelemahan akuntansinya.

2.5. Kerangka Berpikir

Sumber : Thornberry (2006)

  Gambar 2.5. Kerangka Berpikir Sikap dan Penilaian Pemilik Industri Kreatif Tentang Entrepreneurial Leadership

 

Industri Kreatif yang dikelola Lulusan Perguruan TinggiTerdapat di Jawa Timur

Sikap dan Penilaian Pemilik Industri Kreatif mengenai Entrepreneurial Leadership

Innovativeness Risk Taking Proactiveness Competitive Aggresiveness

Autonomy

Referensi

Dokumen terkait

lain memiliki komitmen tinggi dan dengan penuh kesadaran mengikuti dan menjalani hasil pelatihan dan pendampingan yang telah dilakukan Kegiatan yang dilakukan diikuti oleh

Struktur Komunitas dan Keragaman Plankton Antara Perairan Laut di Selatan Jawa Timur, Bali dan Lombok.. Jakarta:

Karya yang diciptakan penulis adalah busana pesta Evening yang terbuat dari bahan kain katun sutra, katun satin dan batik tulis dengan teknik batik tutup celup dengan

Berdasarkan rumusan masalah tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis dan mengkaji; (1) tingkat kelayakan isi Buku Sekolah Elektronik (BSE) Penjasorkes SD Kelas 4 yang

Setelah kita menelusuri secara singkat sejarah praktek perbankan yang dilakukan oleh umat muslim, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa meskipun kosa kata fikih Islam

Inilah dorongan untuk membangun ilmu pengetahuan (science), termasuk pengetahuan pengobatan (medical science). Pada waktu islam berkembang keluar jazirah arab, umat

Artikel ini memaparkan hasil kegiatan pengembangan untuk pelatihan, pembinaan dan pendampingan pada kelompok ibu-ibu di daerah Dayeuhkolot, Manggahang dan Banjaran,

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik jenis mesin, exhaust type, jenis bahan bakar, distribusi umur kendaraan, jarak tempuh kendaraan (VKT),