PENYIARAN ISLAM DIGITAL
Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Media Penyiaran Digital
DOSEN :
Dr. RAHMAWATI HARUNA, S.S., M.Si
DISUSUN OLEH : Muhammad Arpin NIM : 80800221010 Muhammad Usman NIM : 80800221011
PROGRAM MAGISTER KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2022
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur senantiasa terpanjatkan ke hadhirat Allah swt. yang atas berkat rahmat dan hidayah-Nya tulisan ini selesai disusun dengan baik. Shalawat teriring salam semoga selalu tercurahkan ke haribaan Nabi Besar Muhammad saw.
yang diutus sebagai teladan dan rahmat bagi sekalian alam. Tulisan ini berjudul
“Karakteristik Khalayak Dakwah Penyiaran Islam Digital”, disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Media Penyiaran Digital
Tulisan ini dapat terselesaikan berkat arahan dan bimbingan berbagai pihak.
Untuk itu penulis sampaikan ungkapan terima kasih yang tak terhingga kepada mereka semua yang telah membantu dan memfasilitasi sehingga tulisan ini dapat diselesaikan dengan baik. Terutama kepada dosen pembina mata kuliah Media Penyiaran Digital, Dr. Rahmawati Haruna, S.S., M.Si
Penulis sepenuhnya menyadari bahwa tulisan ini masih banyak kelemahan dan kekurangan. Untuk itu, tegur sapa dan kritik yang membangun sangat Penulis harapkan demi kesempurnaan dan perbaikan di masa mendatang. Akhirnya, hanya kepada Allah-lah penulis memohon petunjuk dan pertolongan. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi segenap pembaca, terutama demi pengembangan ilmu komunikasi di masa mendatang.
Penyusun
Muhammad Arpin Muhammad Usman
i
ii
HALAMAN JUDUL ………….……….. i KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI ... iii BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 1 C. Kegunaan ... 1 BAB II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Khalayak Dakwah Digital………... 3 B. Karakteristik Khalayak Dakwah Penyiaran Islam Digital ……... 4 C. Tantangan Dakwah Penyiaran Islam Digital di Indonesia…... 7 BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan ... 11 B. Implikasi Penelitian ... 12 DAPTAR PUSTAKA ... 13
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Di era di mana perubahan sudah menjadi ciri penting masyarakat dewasa ini, interaksi antar individu sudah semakin kohesif, dunia media telah begitu kuat dan hegemonik terhadap pola-pola kehidupan yang dilaluinya. Dalam keadaan seperti itu, gerakan dakwah Islam harus tetap survive melayani kebutuhan spiritual masyarakat yang menjadi sasaran utamanya.
Dakwah digital menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bukan saja karena tuntutan zaman, tapi juga berkaitan erat dengan efektifitas dan efisiensi pelaksanaannya. Digitalisasi dakwah Islam juga menjadi pilihan yang dikedepankan, mengingat selera masyarakat yang kian berubah seiring perubahan teknologi media yang menjadi fasilitas utamanya.
Karena itu, setiap juru dakwah kini dituntut memiliki kapasitas ekstra untuk menguasai dan memanfatkan media, khususnya media digital. Penguasaan medan dakwah kini bergeser bukan saja pada kekuatan kharisma untuk merebut konsentrasi publik, tapi juga penguasaan keterampilan komunikasi bermedia.
B. Rumusan Masalah
Dari berbagai gambaran yang telah dipaparkan di atas tentang khalayak dakwah penyiaran Islam digital, maka penulis mengangkat beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian khalayak dakwah penyiaran Islam digital?
2. Bagaimana karakteristik khalayak dakwah penyiaran Islam Digital?
3. Bagaimana tantangan dakwah penyiaran Islam digital di Indonesia ? C. Kegunaan
Dalam berbagai referensi pengetahuan tentang karakteristik khalayak dakwah penyiaran Islam digital, berguna untuk :
1
1. Dapat mengetahui arti dari khalayak dakwah penyiaran Islam digital 2. Dapat mengetahui karakteristik khalayak dakwah penyiaran Islam digital 3. Dapat mengetahui peluang dan tantangan dakwah penyiaran Islam digital di
Indonesia
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Khalayak Dakwah Penyiaran Islam Dgital
Khalayak adalah terminology yang menurut Ross dan Nightingale jauh lebih kompleks untuk dipahami. Kompleksitas ini tak lain karena khalayak bukanlah benda dan bukanlah penerima konten dengan apa adanya saja. Khalayak melibatkan pengertian manusia itu sendiri yang tidak sekadar dilihat dalam bentuk jumlah atau angka-angka, tetapi ada berbagai aspek seperti psikologi, sosial, dan politik yang setiap orang berbeda walau dalam satu kelompok/komunitas bahkan keluarga yang sama.1
Dalam konsep dakwah khalayak adalah mad’u. Secara etimologi kata mad’u berasal dari bahasa arab, diambil dari isim maf’ul (kata yang menunjukkan obyek atau sasaran). Menurut terminologi, mad’u adalah orang atau kelompok yang lazim disebut dengan jamaah yang sedang menuntut ajaran agama dari seorang da’i, baik mad’u itu orang dekat atau jauh, muslim atau non muslim, laki-laki atau perempuan.
Seorang da’i akan menjadikan mad’u sebagai obyek2 bagi transformasi keilmuan yang dimilikinya. Mad’u sebagai obyek dakwah bagi seorang da’i merupakan salah satu unsur yang penting dalam sistem dakwah. Sementara Ali Aziz3 , mad’u disini diposisikan bukan sebagai obyek atau sasaran dakwah, melainkan sebagai mitra dakwah dengan maksud agar para da’i menjadi kawan berfikir dan bertindak bersama dengan mitra dakwah.
Penyiaran Islam digital4 adalah segala bentuk penyiaran yang disampaikan melalui media dengan tujuan menyiarkan ajaran-ajaran agama Islam kepada
1 Ross, K., & Nightingale, V. (2003). Media and audiences. McGraw-Hill Education (UK).
2 Wahidin Saputra, Pengantar lmu Dakwah, (Jakarta ; Raja Grafindo, 2011),hlm. 279-280 3 Wahidin Saputra, Pengantar lmu Dakwah, hlm. 282
4 Alfajri, M, Defenisi dan Pengertian Penyiaran Islam, State Islamic University Of Sunan Kalijaga Yogyakarta Graduate Student
3
masyarakat agar mengerti dan menjalankannya demi kebahagiaan didunia dan diakhirat kelak
Dari berbagai gambaran yang telah disebutkan di atas maka yang dimaksud dengan khalayak dakwah penyiaran islam digital adalah orang atau kelompok yang menerima pesan-pesan agama islam melalui media digital kapan dan dimana saja tanpa mengenal Batasan ruang dan waktu.
B. Karakteristik Khalayak Dakwah Penyiaran Islam Digital
Khalayak di era digital saat ini memiliki karakter yang begitu kompleks.
Untuk dapat memahaminya secara konprehensip dan mendalam berikut dijelaskan terlebih dahulu tentang tipologi khalayak. Menurut Nightingale, yang membagi khalayak ke dalam 4 tipologi5:
1. Audience as ‘the people assembled’, khalayak jenis ini disebut penonton, yaitu kelompok orang yang memberi perhatian terhadap produk media pada waktu tertentu;
2. Audience as ‘the people addresed’, mengacu pada khalayak sasaran yang diimaginasikan oleh media;
3. Audience as ‘happening’, mengacu pada pengalaman interaktif dengan orang lain yang terkontekstualisasikan tempat dan hal-hal lain;
4. Audience as ‘hearing’ or ‘audition’, mengacu pada khalayak partisipatoris yang terlibat dalam program acara media.
Dari gambaran tipologi khalayak di atas maka dapat dirumuskan karakteristik khalayak media penyiaran digital. Menurut Dahlberg6 adalah :
1. Autonomy from state and economic power, forum haruslah bebas dari intervensi negara atau kekuatan ekonomi manapun. Diskursus yang terjadi di cyber-forum hendaknya bebas dari kekuatan pengelola negara maupun 5 Ross, K., & Nightingale, V. (2003). Media and audiences. McGraw-Hill Education (UK).
6 Dahlberg, L. (2001). The Internet and democratic discourse: Exploring the prospects of online deliberative forums extending the public sphere. Information, communication & society, 4(4), 615-633.
5 pasar baik dalam bentuk kapital maupun administrasi.
2. Exchange and critique of critizable moral-practical validity claims. Terdapat pertukaran dan perdebatan yang berlandaskan moral untuk melihat suatu peristiwa dibandingkan dengan dogma yang memaksa. Bahwa setiap anggota cyber-forum berada dalam posisi sama yang siap menyampaikan kritik dan siap pula dikritik.
3. Reflexivity, setiap anggota cyber-forum hendaknya secara kritis juga mempertimbangkan nilai-nilai budaya, asumsi yang terjadi di tengah realitas sosial, maupun ketertarikan mereka yang cenderung pada kepentingan umum.
4. Ideal role taking, ini menjadi aturan penting bahwa setiap anggota cyber- forum memiliki integritas untuk memahami argumen yang berkembang, meski itu datang dengan perspektif yang berbeda sekalipun.
5. Sincerity, setiap anggota cyber-forum melandasi dirinya dengan niat tulus, termasuk dalam hal keinginan, kebutuhan, bahkan tujuan yang tersembunyu untuk menemukan solusi terhadap suatu masalah dan bukan sebaliknya untuk kepentingan pribadi.
6. Discrusive inclusion and equality, cyber-forum beroperasi dengan menghormati setiap anggotanya dengan memberikan kesempatan untuk mempertanyakan dan termasuk menyanggah terhadap suatu isi. Karena tidak menutup kemungkinan ada yang ingin mendominasi dan/atau berusaha untuk didengar serta memaksakan argumen mereka dalam diskursus dalam cyber-forum.
Dipandang dari komponen komunikan atau khalayak, komunikasi yang efektif akan terjadi jika komunikan atau khalayak mengalami7 :
a. internalisasi, (internalization), proses ini terjadi jika komunikan menerima 7 Kelman, S. (1975). The social nature of the definition problem in health. International Journal of Health Services, 5(4), 625-642.
pesan yang sesuai dengan sistem nilai yang dianut. Komunikan merasa memperoleh sesuatu yang bermanfaat, pesan yang disampaikan memiliki rasionalitas yang dapat diterima. Internalisasi bisa terjadi jika komunikatornya memiliki ethos atau credibility (ahli dan dapat dipercaya), karenanya komunikasi bisa efektif.
b. identifikasi-diri (self identification), proses ini terjadi pada diri komunikan, jika komunikan merasa puas dengan meniru atau mengambil pikiran atau perilaku dari orang atau kelompok lain (komunikator). Identifikasi akan terjadi pada diri komunikan jika komunikatornya memiliki daya tarik (attractiveness)
c. ketundukan (compliance). Proses ini terjadi jika komunikan yakin akan mengalami kepuasan, mengalami reaksi yang menyenangkan, memperoleh reward (balasan positif) dan terhindar dari punishment (keadaan, kondisi yang tidak enak) dari komunikator, jika menerima atau menggunakan isi pesannya. Biasanya ketaatan akan terjadi bila komunikan berhadapan dengan kekuasaan (power) yang dimiliki komunikator
Khalayak pada era media interaktif dapat menjadi konsumen dan saat itu juga menjadi produsen dari informasi. Realitas virtual ini dijelaskan melalui empat level pendekatan8, yaitu
1. media interaktif memungkinkan komunikasi banyak pihak atau multilateral communication. Level ini menandakan dimensi ruang yang ditawarkan media digital yang dapat melibatkan banyak pengguna secara bersamaan.
2. Terjadinya sinkronisasi bahwa media interaktif dalam dimensi waktu ini menunjukkan interaksi antarpengguna yang dapat dilakukan baik melalui waktu yang sama maupun pengguna bebas menentukan sendiri waktu komunikasi tanpa menghilangkan atau menghambat proses komunikasi itu sendiri, misalnya dalam e-mail.
8 Van Dijk, J. A. (2006). Digital divide research, achievements and shortcomings. Poetics, 34(4-5), 221-235.
7 3. Terjadinya keleluasaan kontrol dari para pengguna yang melakukan interaksi. Ini adalah dimensi kebiasaan (behavioural) para pihak di media siber tidak lagi dibatasi oleh siapa yang sender dan siapa receiver, kedua fungsi ini dapat bertukar posisi dalam proses interaksi.
4. Proses interaksi sejalan dengan pemahaman terhadap makna dan konteks yang melibatkan para pengguna. Ini yang disebut dengan level tertinggi, yakni terkait dengan dimensi mental. Meskipun secara teknis setiap khalayak yang memiliki koneksi pada internet akan masuk dalam jejaring dan terhubung, namun dalam komunikasi termediasi komputer selalu saja ada bahasa universal yang diekspresikan melalui teks, simbol, atau lambang yang harus dipahami.
C. Tantangan dakwah penyiaran Islam digital di Indonesia
Masa peralihan yang secara signifikan melilit masyarakat Indonesia, masuknya teknologi informasi baru telah mengaburkan bahkan sedikit demi sedikit menghilangkan fasilitas tradisional sebagai media komunikasi masyarakat Muslim.
Media massa dewasa telah ini bergeser dengan ditemukannya media digital.
Lebih efisien, lebih memiliki privasi, dan begitu massif menyebar dan dimiliki masyarakat. Efeknya pun massif terjadi, terutama karena media itu telah dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan politik dan adanya rekayasa pembuatan pesan-pesan hoax. Dalam ungkapan Kasali, hampir semua industri tengah bertarung menghadapi lawan-lawan baru yang masuk tanpa mengikuti pola yang selama ini kita kenal. Mereka langsung masuk ke rumah-rumah konsumen secara online. Sangat instan. Para pemain lama (incumbent) tak bisa mendeteksi karena lawan-lawan mereka berada di luar jangkauan radar mereka.9
Saat ditemukan media digital, dunia pun berubah. Industri lama pun terdisrupsi tanpa bisa terelakkan lagi. Kegamangan psikologis masyarakat pun terjadi dan melibatkan banyak tatanan kehidupan. Jadi tak aneh jika dalam menghadapi perubahan yang sangat dahsyat ini, tidak sedikit masyarakat yang
9 Kasali, R. (2018). The Great Shifting Series on Disruption.
frustrasi dan bahkan pasif tak berdaya. Mereka give-up, menyerah tanpa menemukan solusi. Dikhawatirkan, mereka mencari dan menemukan solusinya sendiri, melalui ikhtiar tak terbimbing, yang pada gilirannya dapat berakibat pada kehidupan yang liar.
Inilah suatu perubahan yang harus diantisipasi, termasuk dalam ranah kehidupan beragama. Agama itu butuh bimbingan langsung (direct consuling). Jika tidak, tidak mustahil akan ditemukan sejumlah kesalahan praktik beragama.
Munculnya sikap-sikap radikal, misalnya, disinyalir oleh sebagian pihak karena telah terjadinya pencarian argument-argumen agama yang tidak selayaknya terjadi.
Adanya mispersepsi, misalnya, merupakan salah satu sumber munculnya kesalahan praktik beragama mereka. Padahal, pada saat yang sama, begitu mudahnya mereka menemukan sumber-sumber penjelasan tentang substansi agama. Penjelasan- penjelasan itu melimpah bertebaran di media
Lalu apa yang dapat dilakukan dalam kerangka dakwah Islam sebagai media sosialisasi ajaran? Dakwah kini sudah tidak popular lagi jika hanya mengandalkan media lisan. Mimbar-mimbar yang sebelumnya menjadi andalan penyampaian ajaran kini sudah bukan zamannya lagi. Jika dakwah masih mengandalkan mimbar, diperkirakan, ke depan dakwah Islam akan mengalami degradasi jamaah secara signifikan. Dakwah Islam kini sudah saatnya beralih pada pemanfaatan media digital yang lebih menzaman dengan masyarakatnya. Media digital merupakan alternatif yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, jika dakwah masih ingin dinilai tetap survive menghadapi masyarakat.
Ada keuntungan yang dapat diperoleh jika dakwah sudah dilakukan secara digital10 :
1. Aspek efisiensi. Dakwah akan lebih efisien, karena ia tidak membutuhkan waktu dan tempat yang lebih luas. Dakwah dengan digital juga akan dapat menjangkau jumlah jamaah yang jauh lebih besar. Jika jangkaun mimbar hanya berkisar puluhan atau bahkan ratusan orang audiens, dengan digital 10 Asep S. Muhtadi, dkk, Digitalisasi Dakwah di era Disrupsi, Jurnal Online, http://digilib.uinsgd.ac.id/30834/3/Digitalisasi%20Dakwah.pdf
9 dakwah akan dapat menjangkau ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan jamaah dan tersebar di berbagai pelosok geografis yang semakin luas
2. Aspek efektifitas, meski belum dilakukan penelitian serius dan mendalam, dengan mengacu pada efek yang dihasilkan media sosial dalam bidang yang lain, diperkirakan dakwah digital ini akan jauh lebih efektif dibanding dakwah lisan melalui mimbar. Kesempatan bertemu muka yang semakin terbatas, kini, dengan fasilitas digital,dakwah bisa masuk ke rumah-rumah dan bahkan menjumpai individu-individu dalam tempo dan tempat yang tak terbatas. Dakwah seperti itu juga dapat dikonsumsi kapan saja audiens memiliki kesempatan. Jadi dakwah tak lagi dibatasi waktu dan tempat Di Era Digital saat ini dalam upaya dakwah dibutuhkan kemampuan dan keterampilan yang khusus, paling tidak diperlukan dua hal penting11 :
1. Keterampilan mengoperasikan fasilitas baru yang sebelumnya mungkin tidak termasuk wawasan yang diagendakan, khususnya oleh para juru dakwah yang hanya bergelut dengan ilmu-ilmu keagamaan secara tekstual.
Dakwah digital memutlakkan dimilikinya keterampilan ini, dan untuk menguasasi keterampilan baru ini, saya kira, tidak terlalu sulit. Siapapun dapat mempelajarinya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Bahkan anak- anak sekarang bilang: “hanya dalam hitungan menit, siapapun dapat mengoperasikan fasilitas IT sebagai penunjang utama dakwah digital dimaksud”.
2. Keterampilan merumuskan pesan-pesan agama untuk disajikan lewat media online. Memang tidak mudah bagi orang-orang yang terbiasa berkomunikasi dalam tradisi lisan untuk bergeser pada tradisi baru, tradisi bermedia. Keterampilan menulis adalah salah satunya, khususnya menulis di media sosial. Menulis di media sosial juga tidak seperti menulis di media pada umumnya. Bertutur dalam bahasan panjang, misalnya, tidak dimungkinkan bagi para pembaca media sosial, karena kesempatannya yang 11 Fakhruroji, Moch. 2011. Islam Digital, Ekspresi Islam di Internet. Bandug: Sajjad.
tidak seperti ketika membaca di media cetak. Kalimat-kalimat pendek dengan panjang paragraf yang terbatas, salah satunya, menjadi pendekatan yang dimungkinkan cocok untuk berkomunikasi di media sosial. Ditambah dengan ilustrasi-ilustrasi visual akan menambah daya tarik bagi para pembacanya.
Dalam konteks digitalisasi dakwah ini, perlu dipertimbangkan karakteristik masyarakat yang menjadi sasaran dakwah. Mereka sudah akrab dengan teknologi informasi, tapi pada saat yang sama, mereka adalah individu-individu yang terhempas dari pola asuk orang tua yang menjadi korban perubahan itu. Masyarakat digital adalah masyarakat informasi yang telah terbiasa berkomunikasi lewat media digital, tapi belum tentu akrab dengan konsumsi-konsumsispiritual yang disajikan sumber-sumber tradisional yang berbeda. Mereka termasuk generasi masyarakat maju di satu sisi, dan di sisi lain, mereka juga masyarakat yang memiliki problem psikologis tersendiri. Sebagai sasaran dakwah, mereka tidak bisa diabaikan.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
1. Khalayak dakwah penyiaran islam digital adalah orang atau kelompok yang menerima pesan-pesan agama islam melalui media digital kapan dan dimana saja tanpa mengenal Batasan ruang dan waktu.Karakteristik mad’u atau khalayak dakwah dipetakan menjadi dua yaitu mad’u pasif dan mad’u aktif.
Pengkategorian mad’u pasif-aktif
2. Karakteristik khalayak media penyiaran digital. adalah :
a. Autonomy from state and economic power, forum haruslah bebas dari intervensi negara atau kekuatan ekonomi manapun. Diskursus yang terjadi di cyber-forum hendaknya bebas dari kekuatan pengelola negara maupun pasar baik dalam bentuk kapital maupun administrasi.
b. Exchange and critique of critizable moral-practical validity claims.
Terdapat pertukaran dan perdebatan yang berlandaskan moral untuk melihat suatu peristiwa dibandingkan dengan dogma yang memaksa.
Bahwa setiap anggota cyber-forum berada dalam posisi sama yang siap menyampaikan kritik dan siap pula dikritik.
c. Reflexivity, setiap anggota cyber-forum hendaknya secara kritis juga mempertimbangkan nilai-nilai budaya, asumsi yang terjadi di tengah realitas sosial, maupun ketertarikan mereka yang cenderung pada kepentingan umum.
d. Ideal role taking, ini menjadi aturan penting bahwa setiap anggota cyber- forum memiliki integritas untuk memahami argumen yang berkembang, meski itu datang dengan perspektif yang berbeda sekalipun.
e. Sincerity, setiap anggota cyber-forum melandasi dirinya dengan niat tulus, termasuk dalam hal keinginan, kebutuhan, bahkan tujuan yang tersembunyu untuk menemukan solusi terhadap suatu masalah dan bukan
11
sebaliknya untuk kepentingan pribadi.
f. Discrusive inclusion and equality, cyber-forum beroperasi dengan menghormati setiap anggotanya dengan memberikan kesempatan untuk mempertanyakan dan termasuk menyanggah terhadap suatu isi.
Karena tidak menutup kemungkinan ada yang ingin mendominasi dan/atau berusaha untuk didengar serta memaksakan argumen mereka dalam diskursus dalam cyber-forum.
3. Dalam upaya menjawab tantangan dakwah di era digital saat ini dibutuhkan kemampuan dan keterampilan yang khusus, paling tidak diperlukan dua hal penting :
a. Keterampilan mengoperasikan fasilitas baru yang sebelumnya mungkin tidak termasuk wawasan yang diagendakan, khususnya oleh para juru dakwah yang hanya bergelut dengan ilmu-ilmu keagamaan secara tekstual.
b. Keterampilan merumuskan pesan-pesan agama untuk disajikan lewat media online.
B. Implikasi
1. Dapat memberikan pemahaman yang konprehensip dan mendalam terhadap arti dan makna khalayak dakwah penyiaran Islam digital
2. Dapat mengenal dan memahami karakteristik khalayak dakwah penyiaran Islam digital.
3. Dapat mengenal dan memahami peranan regulasi media penyiaran di Indonesia.
4. Dapat dijadikan bahan referensi dan rujukan dalam penelitian dan pengembangan ilmu pegetahuan dalam bidan komunikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Arnett, Ronald C. 2006. “Through a Glass, Darkly”, dalam Journal of Communication and Religion.
Asep S. Muhtadi, dkk, Digitalisasi Dakwah di era Disrupsi, Jurnal Online, http://digilib.uinsgd.ac.id/30834/3/Digitalisasi%20Dakwah.pdf
Bakardjieva, M. (2005). Internet society. New York: SAGE Publications Inc.
Cangara, H. (2007). Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.
Castells, M. (2004). The Network Society. Massachusetts: Edward Elgar.
David Stillman dan Jonah Stillman. 2018. Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru yang Akan Mengubah Dunia Kerja. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Fakhruroji, Moch. 2011. Islam Digital, Ekspresi Islam di Internet. Bandug: Sajjad.
Fenton, Natalie (Ed). 2010. New Media, Old News: Journalism & Democracy in the Digital Age. e-book. London: Sage Publications. http://doi.org/10.1080/
10584609. 2016.1227000
Gotved, S. (2006b). Time and space in cyber social reality. New Media & Society, 8(3), 467–486. http://doi.org/10.1177/1461444806064484
Hine, C. (2015). Ethnography for the Internet. Embedded, embodied and everyday (1st ed.). New York: Bloomsbury Academic. h t t p : / / d o i . o r g / 1 0 . 1 0 1 7 /CBO9781107415324.004
Kim Christian Schroder. (2016). Teori Audience. In S. W. Littlejohn & K. A. Foss (Eds.), Ensiklopedia Teori Komunikasi (pp. 77–82). Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Lee, J., & Lee, H. (2010). The computermediated communication network:
Exploring the linkage between the online community and social capital.
New Media and Society, 12(5), 711–727. http://doi.org/10.1177/
1461444809343568
14 Malanchuk, Maureen. 1996. InfoRelief, Stay Afloat in the Info Flood. San Fransico:
Jossey-Bass Publishers.
Marc Prensky. 2019. “Digital Natives, Digital Immigrants.” Muhtadi, Asep Saeful.
2012. Komunikasi Dakwah: Teori, Pendekatan, dan Aplikasi. Bandung:
Simbiosa Rekatama Media.
Mullikin, Peggy Lynn. 2007. “Religious and Spiritual Identity. The Impact of Gender, Family, Peers and Media Communication in Post- Adolensenscence”, dalam Journal of Communication and Religion.
Machin, D. (2002). Ethnographic Research for Media Studies. New York: Oxford University Press Inc.
Manovic, L. (2001). The Language of New Media. Cambridge, Massachusetts: MIT Press.
McQuail, D. (2003). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Metzger, M. J., & Flanagin, A. J. (2002). Audience orientations toward new media.
Communication Research Reports, 19(4), 338–351. http://doi. og/10.1080/
08824090209384862
Nasrullah, R. (2012). Komunikasi Antarbudaya di Era Budaya Siber (2nd ed.).
Jakarta: Prenada Media.
Nasrullah, R. (2017). Etnografi Virtual. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Nimrod, G. (2017). Older audiences in the digital media environment. Information, Communication & Society, 20(2), 233–249.http://doi.org/10.1080/136911 8X.2016.1164740
Rheingold, H. (1993). The Virtual Community: Homesteading on the Electronic Frontier. Reading, MA: Addison-Wesley.
Ross, Karen & Nightingale, Virginia (Eds). 2003. Media and Audiences: New Perspective. e-book. UK: Open University Press.
Schroeder, K. C. (1994). Audience Semiotics, Interpretive Communities and the Ethnographic Turn in Media Research. Media, Culture & Society, 16(2), 337–347. http://doi..1177/016344379401600208
15 Shoemaker, P. J., & Reese, S. D. (2014). Mediating the Message in the 21st Century
(3rd ed.). New York: Routledge.
Tester, Keith. 2009. Immortalitas Media. Bantul: Juxtapose.
Ward, K. J. (1999). Cyber-ethnography and the emergence of the virtually new community. Journal of Information Technology, 14(1), 95–105. http://doi.
org/10.1080/026839699344773
Wise, R. (2000). Multimedia: A Critical Introduction. London: Routledge.