• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KOHESI GRAMATIKAL DALAM SURAH AL- KAHFI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS KOHESI GRAMATIKAL DALAM SURAH AL- KAHFI"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KOHESI GRAMATIKAL DALAM SURAH AL- KAHFI

SKRIPSI SARJANA OLEH

DIAN MAHARDHIKA NIM150704066

PROGRAM STUDI BAHASA ARAB FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2020

(2)

ANALISIS KOHESI GRAMATIKAL DALAM SURAH AL-KAHFI

SKRIPSI SARJANA

OLEH

DIAN MAHARDHIKA NIM150704066

PROGRAM STUDI BAHASA ARAB FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(3)
(4)
(5)
(6)

(7)

KATA PENGANTAR

ميحرلا نمحرلا الله مسب

Syukur Alhamdulillah peneliti ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Analisis Kohesi Gramatikal Dalam Surah Al-Kahfi”, sebagai suatu karya tulis dalam memenuhi tugas akhir untuk mendapatkan gelar Sarjana Sastra (S.S) pada Departemen Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, Medan.

Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah SWT curahkan keharibaan junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umat-Nya dari alam yang gelap gulita ke alam yang penuh dengan nuansa keimanan dan keislaman. Begitu juga kepada keluarga, para sahabat, para shalihin, dan penerus risalahnya.

Peneliti sadar bahwasanya skripsi ini masih jauh dari sempurna, terutama dikarenakan terbatasnya ilmu pengetahuan dan pengalaman peneliti. Untuk itu, dengan kerendahan hati, peneliti senantiasa menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan skripsi ini.

Akhir kata peneliti berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti dan para pembaca khususnya para peminat bahasa Arab.

Medan, September 2020 Penulis,

Dian Mahardhika NIM. 150704066

(8)

UCAPAN TERIMA KASIH

Syukur Alhamdulillah senantiasa penulis haturkan kehadirat Allah SWT yang memiliki segala keistimewaan dan pemberian segala kenikmatan besar, baik nikmat iman, kesehatan, dan kekuatan dalam menyelesaikan skripsi ini. Begitu juga shalawat beriringkan salam penulis hadiahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan petunjuk jalan yang diridhaiNya.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ribuan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

1. Bapak Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU Dr. Budi Agustono, M.S., serta wakil Dekan I, II dan III yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada peneliti selama masa pendidikan untuk dapat mengikuti perkuliahan di Fakultas Ilmu Budaya Departemen Bahasa Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dra. Rahlina Muskar, M.Hum, Ph.D selaku ketua Program Studi Bahasa Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara juga selaku dosen penguji skripsi ini yang telah meluangkan waktu serta pikirannya dalam membantu proses penelitian ini hingga selesai tepat pada waktunya dan Bapak Drs. Bahrum Saleh, M.Ag selaku sekretaris Program Studi Bahasa Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Yang terhormat Ibu Dra. Murniati, M.Hum selaku Dosen Pembimbing yang dengan penuh perhatian telah memberikan motivasi, nasehat, bimbingan dan pengarahan bagi peneliti sehingga skripsi ini dapat peneliti rampungkan dengan baik.

4. Ibu Prof Dr. Khairina Nasution, M.S selaku dosen penasehat akademik yang telah ikhlas dan berbaik hati meluangkan waktu dan tenaganya untuk membimbing dan membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini dan selalu memberikan motivasi kepada peneliti di saat peneliti sangat membutuhkan arahan dalam proses akademik.

(9)

5. Ibu Dr. Nursukma Suri, M.Ag selaku dosen penguji skripsi ini yang juga telah meluangkan waktu serta pikirannya dalam membantu proses penelitian ini hingga selesai tepat pada waktunya.

6. Seluruh staf pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara khususnya Program Studi Bahasa Arab yang telah mendidik dan memberikan ilmu yang bermanfaat kepada peneliti selama proses perkuliahan berlanjut di Program Studi Bahasa Arab dan juga kakanda Fitri sebagai staf Tata Usaha di Program Studi Bahasa Arab.

7. Terkhusus dan teristimewa kepada kedua orang tua peneliti yaitu Ayahanda Sabri jambak dan Ibunda Warnita Padang karena usaha dan keikhlasan mereka peneliti dapat menjalani perkuliahan di Program Studi Bahasa Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara dan berkat doa mereka juga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini, serta moril dan materialnya kepada peneliti dari mulai perkuliahan hingga akhir penyelesaian skrips.Semoga Allah senantiasa memberikan Rahmat dan kasih sayang melimpah atas kalian berdua.

8. Ucapan terimakasih terkhusus juga kepada kakak tercinta Ovi Ditya Handayani yang selalu sabar dan tak pernah bosan untuk memberikan motivasinya juga bantuan pada peneliti hingga akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini.

9. Ucapan terimakasih juga kepada saudara-saudara peneliti Bang Ardi, kak Tera, Bang Faisal, Yeni, Alfi, Amanda, ayu, dan yang lainnya mungkin tak dapat peneliti sebutkan satu persatu karena doa dan dukungannya juga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.

10. Tidak lupa juga ucapan terimakasih kepada guru-guru peneliti dari SD, terkhusus guru SMP Bapak Sirait sampai guru-guru SMA Ma‟am Angkat , S.Pd yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat sehingga peneliti dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi hingga saat ini.

11. Terima kasih kepada sahabat-sahabat stambuk 2015, Eka Dianasih Nanlohy, Annisa Sastriana, Seftya, Dedek Andriani,Ummiani, Desi Milda, Nurul Syafira, Khairani, Fitri Tambunan, Alfi, Suwardini, Justmin, Irna,

(10)

Masra, Puja yang sudah membantu peneliti dan memberi semangat serta do‟a untuk dapat menyelesaikan skripsi ini, dan bang Boi, Kholiq, Sangkot Matua, Muhammad Ainul Yaqin, Khairuddin Annur yang selalu mengganggu setiap kali bertemu penulis, tapi penulis berterima kasih kepada mereka karena telah merusak liburan dan membuat penulis tidak lalai dalam menyelesaikan skripsi ini,dan teman-teman lainnya yang telah membantu peneliti untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. Semoga kita semua sukses dan persaudaraan kita selalu terjaga.

12. Kakak-kakak seperjuangan Dewi wati, Indah Utari, Nurintan, Kitri, Chynthia, Ros Indah, Siti Mulianita, Nurul Hasanah, Rubiah, Fera ika dan lainnya yang tidak bisa dituliskan satu persatu yang telah bersedia memberikan bantuan dan dukungan kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

13. Adik- adik seperjuangan Vanissa, Rahimal, Rahayu, Dwi ,Yulia, Deti, Dinda, Windy, Junaidah dan lainnya yang tidak bisa dituliskan satu persatu yang telah bersedia memberikan bantuan dan dukungan kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

14. Seluruh pihak yang tidak dapat peneliti tuliskan satu persatu, tetapi telah memberikan bantuan yang tak terhingga kepada peneliti.

Terima kasih atas segala bantuan dan doa yang diberikan kepada peneliti, semoga Allah membalasatas kebaikan dan bantuan yang telah diberikan.

Aamiin Yaa Rabbal „Alamin.

Medan, September 2020 Peneliti,

Dian Mahardhika 150704066

(11)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

UCAPAN TERIMA KASIH... ii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL... vii

ABSTRAK ... xi

PEDOMAN TRANSLITERASI ... xi

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 4

1.3. Tujuan Penelitian ... 4

1.4. Manfaat Penelitian ... 4

1.5. Metode Penelitian ... 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Pengertian Wacana ... 7

2.2 Pengertian Kohesi ... 8

2.3 Kohesi Gramatikal ... 9

2.3.1 Referensi ... 9

2.3.2 Substitusi ... 16

2.3.3 Elipsis ... 18

2.3.4 Konjungsi ... 18

BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 20

3.1 Hasil ... 20

3.2 Pembahasan ... 20

(12)

3.2.1 Jenis kohesi gramatikal yang terdapat pada surah Al-Kahfi ... 20

3.2.2 Kohesi gramatikal yang dominan pada surah Al-Kahfi ... 90

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN... 91

4.1 Kesimpulan ... 91

4.2 Saran ... 91

DAFTAR PUSTAKA ... 92 LAMPIRAN

(13)

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Pedoman transliterasi yang digunakan adalah Sistem Transliterasi Arab- Latin Berdasarkan SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 158/1987 dan No. 0543 b/U/1987 tertanggal 22 Januari 1988.

A. Konsonan Tunggal

Huruf Arab Nama Huruf Latin Keterangan

ا

Alif - Tidakdilambangkan

ب

bā` B -

ت

tā` T -

ث

ṡā` es (dengantitik di

atas)

ج

Jīm J -

ح

ḥā` ha (dengantitik di

bawah)

خ

khā` Kh -

د

Dāl D -

ذ

Żāl Ż zet (dengantitik di

atas)

ر

rā` R -

ز

Zai Z -

س

Sīn S -

ش

Syīn Sy -

(14)

ص

ṡad es (dengantitik di bawah)

ض

ḍad de (dengantitik di

bawah)

ط

ṭā` t (dengantitik di

bawah)

ظ

ẓa zet (dengantitik di

bawah)

ع

ʻain komaterbalik (di

atas)

غ

Gain G -

ف

fā` F -

ق

Qāf Q -

ك

kāf` K -

ل

Lām L -

م

Mīm M -

ن

Nūn N -

و

Wāwu W -

ه

hā` H -

ء

Hamzah ` Apostrof

ي

yā` Y -

(15)

B. KonsonanRangkap

Konsonanrangkap, termasuktandasyaddah, ditulisrangkap.

Contoh :

َّنحبحسْحتَ

ditulistahsabanna C. Tā` marbutāhdi akhir kata

1. Biladimatikanditulish, kecualiuntuk kata-kata Arab yang sudahterserapmenjadibahasa Indonesia, sepertisalat, zakat, dansebagainya.

Contoh:

ةنس

ditulissanah 2. Biladihidupkanditulist

Contoh:

لىولأاَّةسردم

ditulismadrasatu al-ūla D. VokalPendek

Fathahditulis “a” contoh:

سنك

dituliskanasa Kasrahditulis “i” contoh:

حرف

ditulisfariḥa Dhammahditulis “u” contoh:

بتك

dituliskutubun

E. VokalPanjang

apanjangditulis “ā”: contoh:

مان

ditulisnāma ipanjangditulis “ī” : contoh:

بيرق

ditulisqarībun upanjangditulis “ū”: contoh:

روطف

ditulisfuṭūrun

F. VokalRangkap

Vokalrangkap

ي

(fathahdanya`) ditulis “ai”.

Contoh:

نيب

ditulisbaina

(16)

VokalRangkap

و

(fathahdanwaw) ditulis “au”.

Contoh:

موص

ditulisṣaumun

G. Vokal-vokalpendek yang berurutandalamsatu kata Dipisahkandenganapostrof (`)

Contoh:

متنأأ

ditulisa`antum

H. Hamzah

Hurufhamzah (ء) di awal kata

ditulisdenganvokaltanpadidahuluiolehtandaapostrof („) Contoh :

ناميإ

ditulisīmānu

I. Lafzul- Jalalah

Lafzul- jalalah (kata للها) yang

berbentukfrasenominaditransliterasikantanpahamzah Contoh:

للها بتك

dituliskitabullah

J. Kata SandangAlif + Lām

1. Biladiikutihurufqamariyahditulis al- Contoh :

نارقلا

ditulisAl- Qur`ān

2. Biladiikutihurufsyamsiah, hurufpertamadigantidenganhurufsyamsiah yang mengikutinya.

Contoh:

سمشلا

ditulisasy-syamsu

(17)

ABSTRAK

Dian Mahardhika (150704066) 2020. Analisis Kohesi Gramatikal Dalam Surah Al-Kahfi.

Penelitian mengkaji tentang kohesi gramatikal yang terdapat dalam surah Al- Kahfi serta kohesi gramatikal yang paling dominan pada surah Al-Kahfi.

Penelitian ini merupakan studi kepustakaan (Library Research) dengan metode analisis deskriptif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Kohesi yang dikemukakan oleh Halliday dan Hassan (1976) dan teori kohesi oleh al- Ghulayaini (2009). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kohesi gramatikal berjumlah 550 (lima ratus lima puluh) meliputi pronomina persona sebanyak 261 (dua ratus enam puluh satu) kata, pronomina demonstratif sebanyak 14 (empat belas) kata, pronomina komparatif sebanyak 14 (empat belas) kata. Sedangkan substitusi sebanyak 4 (empat) kata, dan konjungsi sebanyak 257 (dua ratus lima puluh tujuh) kata.

(18)

ةٌدٌرجت ةروص

،كٌدرحم ناٌد ٠٢٠٢

فهكلا ةروس ًف ةٌدعاوقلا كسامت لٌلحت

ةفرعملو .فهكا ةروسٌف ًتأت ًتلا ةٌدعاوقلا كسامت عاونأةفرعمل فدهٌ ثحبلا اذه كسامت

ًف رثكت ًتلا ةٌدعاوقلا ةٌرطب ًبتكم ثحب مدخسٌ ثحبلا اذه .فهكا ةروسٌف

( نسح و يدٌلاه ةٌرظن ًه ثحبلا اذهمدختسٌ يذلاةٌرظنلاو فٌصو لٌلحت ٦٧٩١

و )

( ًنٌٌلاغلل ةٌرظن ٠٢٢٧

ىلع لدٌ لٌاحتلا اذه نم ثحبلا اذه لصاحلا .) ةئامسمخ

نوسمخو

،ةرم نوتسودحاوو ناتئام ةٌدعوقلا نم نوكتت ًتلا ةعبرأ رٌمض نٌعست

ةرشع

ةٌفطاع ،ةرم ةرشع ةعبرأ

،ةرم

ةعبرأ ةٌلادبتسإ

.نوسمخو ةعبسو ناتئاا فطعلا و، ةرم

(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa merupakan suatu simbol dan alat komunikasi yang digunakan oleh masyarakat untuk berinteraksi satu sama lainnya. Sehingga bahasa sangat erat kaitannya dengan wacana.Bila di lihat dari ayat demi ayat di dalam Al-Qur'an yang memuat berbagai hal baik berupa hukum syara' yang mengatur kehidupan manusia, perkara ilmiah, dan kisah-kisah terdahulu,maka dapat di anilis ayat-ayat tersebut sebagai sebuah wacana.

Adapun pengertian dari wacana menurut Mulyana (2005:1) ialah unsur kebahasaan yang relatif paling kompleks dan paling lengkap. Satuan pendukung kebahasaannya meliputi fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, hingga karangan utuh. Namun, wacana pada dasarnya juga merupakan unsur bahasa yang bersifat pragmatis.

Bila dilihat dari satuan hierarki kebahasaan maka wacana (discourse) adalah satuan bahasa terlengkap juga satuan gramatikal tertinggi atau terbesar.

(Kridalaksana 1984:208) hal ini disebabkan karena wacana memiliki semua unsur kebahasaan yang diperlukan dalam berkomunikasi.

Wacana yang baik dan utuh mensyaratkan kalimat-kalimat yang kohesif.

Dalam penulisan wacana harus diperhatikan penggunaan kohesi, yaitu keterkaitan semantis antara unsur pembentuk wacana (Moeliono dalam Mulyana 2005: 26).

Dalam bahasa Arab Al-Khuli (1982:45) mendefinisikan kohesi yakni : ﺓﺪﺣﺍﻭ ﺔيﻤﺟ ًﻓ ﻦٌٍﻮﻐى ﻦٌﺮﺼﻨﻋ ﻦٍﺑ ﺏﺫﺎﺠﺘىﺍ ﺔﺟﺭﺩ: لﺳﺎﻤﺗ /tamāsukun: darajatu al-tajāżubi baina unşuraini lugawayayni fī jumlatin wāḥidatin/ “Kohesi (pertalian) adalah tingkatan saling tarik menarik antara dua unsur bahasa pada suatu kalimat”.

Kohesi wacana terbagi ke dalam dua aspek, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal yakni referensi, substitusi, elipsis, konjungsi, sedangkan yang termasuk kohesi leksikal adalah sinonim, repetisi, kolokasi.

(20)

Menurut (Halliday & Hasan dalam Pangaribuan, 2008 : 59) kohesi gramatikal merupakan hubungan makna yang direalisasikan piranti referensi, substitusi dan elipsis.

Referensi (Penunjuk) merupakan bagian kohesi gramatikal yang berkaitan dengan penggunaan kata atau kelompok kata untuk menunjukkan kata atau kelompok kata atau satuan gramatikal lainnya. Dalam konteks wacana, penunjuk (referensi) terbagi atas dua jenis, yaitu penunjuk eksoforik (diluar teks) dan penunjukan endoforik (didalam teks). Dalam aspek referensi, terlihat juga adanya bentuk-bentuk pronomina (kata ganti orang, kata ganti tempat, dan kata ganti lainnya). Referensi endoforik terbagi dalam dua pola, yaitu anafora dan katafora.

Unsur wacana yang menunjuk pada unsur lain yang telah disebutkan sebelumnya disebut sebagai anaforis (M. Ramlan, 1993:12).

Berikut ini merupakan salah satu contoh Surah Al-kahfi yang terdapat kohesi gramatikal didalamnya:

ۜ ﺎ ًﺟَﻮِﻋ ُﻪَى ْوَع ْﺠٌَ ْمَىَﻭ َﺏﺎَﺘِنْىﺍ ِﻩِﺪْﺒَﻋ ٰىَيَﻋ َهَزْﻧَأ يِﺬهىﺍ ِ ه ِلِلّ ُﺪْﻤ َحْىﺍ

/al-ḥamdu lillāhillażī anzala 'alā 'abdihil-kitāba wa lam yaj'al lahụ 'iwajā/"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak menjadikannya bengkok."(Q.S Al-kahfi:1)

Pada ayat diatas terdapat kata / ِﻩِﺪْﺒَﻋ /'abdihi/"hamba-Nya" yang mengacu pada kata / ِ هلِلّ/allah/"Allah". Kata ﻩ /hi/"nya" tersebut merupakan pronomina persona ﻮﻫ/huwa/ “dia” menunjukkan orang ketiga tunggal dan ini dinamakan anafora, karena yang diacu dituturkan sebelum pronominanya. Maka bila dilihat dari sisi wacananya ayat diatas memenuhi semua unsur kebahasaan.

Al-Qur‟an adalah wahyu atau firman Allah SWT, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, melalui malaikat Jibril. Al-Qur‟an sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia khususnya umat islam.

Umat islam wajib mengimani Al-Qur‟an sebagai kitab suci yang terakhir, dan mukjizat Nabi Muhammad SAW, yang selalu dijaga kemurniannya oleh Allah

(21)

SWT sampai akhir zaman. Allah menyuruh manusia untuk memahami isi dari kandungan ayat Al- Qur‟an.

Adapun alasan peneliti memilih judul analisis kohesi gramatikal adalah karena kohesi gramatikal merupakan bagian terpenting untuk mengkaji sebuah makna dalam satu teks. Dengan mengetahui kohesi, pembaca akan lebih mudah untuk memahami apa maksud dari teks tersebut, terkhusus bagi orang yang kurang menguasai bahasa arab atau bahkan tidak memiliki basic ilmu bahasa arab.

Penelitian ini dibatasi pada bagian referensi, subtitusi dan konjungsi. Kohesi gramatikal merupakan hubungan semantic antarunsur bahasa yang dimarkahi oleh alat gramatikal, yang terdiri dari kata atau kalimat yang disusun secara padu dan utuh.Dengan demikian peneliti merasa perlu mengadakan penelitian tentang kohesi khususnya kohesi gramatikal dalam Al-Qur‟an.

Sedangkan alasan memilih Al-Qur‟an sebagai objek kajian adalah karena Al-Qur‟an merupakan kitab suci umat Islam dan peneliti menganggap penting untuk memahami tentang makna yang terkandung dalam Al-Qur‟an. Disamping itu Al-Qur‟an dapat ditinjau dari berbagai disiplin ilmu salah satunya dari sisi kohesi gramatikalnya sebagaimana contoh potongan surah Al-kahfi yang telah peneliti paparkan sebelumnya.

Secara khusus dipilihnya surah Al-Kahfi karena di dalam surah ini banyak terdapat kohesi gramatikal dan di dalam surah ini juga terdapat fakta yang erat kaitannya dengan penggunaan alat-alat kohesi, sehingga perlu untuk dikaji lebih dalam guna memahami hubungan makna antar kalimat dalam ayat hingga mampu menghasilkan sebuah wacana yang utuh. Penelitian ini mengkaji keseluran surah Al-Kahfi yang mencakup kohesi gramatikal.

(22)

1.2 Rumusan Masalah

Agar penelitian ini terstruktur dan tidak menyimpang dari pokok bahasan, maka diperlukan adanya rumusan masalah sebagai berikut :

1. Apa saja jenis kohesi gramatikal yang terdapat pada surah Al-Kahfi?

2. Apakah jenis kohesi gramatikal yang paling dominan pada surah Al-Kahfi?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui berapa banyak jumlah kohesi gramatikal yang terdapat pada surah Al-Kahfi?

2. Untuk mengetahui kohesi gramatikal yang lebih dominan yang terdapat pada surah Al-Kahfi?

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun maksud dari Penelitian ini adalah sebagai syarat kelulusan memenuhi tugas akhir pada prodi Sastra Arab FIB USU guna mendapatkan gelar sarjana, adapun manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Menambah pengetahuan baik bagi peneliti maupun pembaca terkait kohesi gramatikal yang terdapat dalam surah Al-Kahfi. Untuk menambah daftar referensi bacaan perpustakaan Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya USU berkaitan dengan kohesi gramatikal yang terdapat dalam surah Al-Kahfi

(23)

1.5 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Analisis Deskriptif dengan melakukan studi kepustakaan (Library Research) yang bersifat penelitian kualitatif. Agustinova (2015:15) Penelitian kualitatif adalah untuk memahami fenomena yang sedang terjadi secara alamiah (natural) dalam keadaan yang sedang terjadi secara alamiah. Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer, Menurut Bugin (2008:52) Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber asli atau tidak melalui media, sumber data primer dapat berupa opini subjek atau orang secara individu atau kelompok. Adapun data primer dalam penelinitian ini bersumber dari Al-Qur‟an Al-Karim dan peneliti berkonsentrasi pada surah Al-Kahfi. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini adalah literatur-literatur yang berhubungan dengan judul penelitian. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Kohesi yang dikemukakan oleh Halliday dan Hassan (1976) dan teori kohesi oleh al-Ghulayaini (2009).

Sistem penulisan dalam penelitian ini menggunakan pedoman transliterasi Arab-Latin berdasarkan SK bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No.158 tahun 1987 dan No.0543b/U/1987.

Adapun tahapan dari metode penelitian ini adalah:

1. Membaca buku-buku yang berkaitan dengan penelitian.

2. Membaca Al-Qur‟an yakni surah Al-Kahfi secara berulang - ulang dan mengklasifikasikannya.

3. Menganalisis data yang telah di kumpulkan dan menyusun secara sistematis

4. Menyusun laporan akhir berupa skripsi.

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kajian terdahulu tentang kohesi gramatikal di Universitas Sumatera Utara yang pernah dilakukan antara lain:

1. Adinda (2014) meneliti tentang Kohesi Gramatikal dalam Surah Al- Baqarah Ayat 1 – Ayat 30. Penelitian itu menitik beratkan pada analisis kohesi gramatikal yang mengacu pada teori Halliday & Hassan. Hasil dari penelitian tersebut adalah perwujudan kohesi gramatikal dalam Surah Al- Baqarah Ayat 1 – Ayat 30 antara lain referensi persona 198 buah, referensi demonstratif 7 buah, referensi komparatif 4 buah, substitusi 9 buah, elipsi tidak ditemukan dan konjungsi 127 buah. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yakni dengan menggunakan data yang berbeda, penelitian ini menggunakan data Al-Qur‟an pada Surah Al-Kahfi, sedangkan penelitian terdahulu menggunakan data Surah Al-Baqarah Ayat 1 – Ayat 30.. Kontribusi penelitian terdahulu untuk penelitian ini yaitu peneliti menggunakan penelitian terdahulu sebagai acuan dalam pembuatan proposal penelitian ini.

2. Herdiansyah (2018) memfokuskan penelitiannya pada kohesi gramatikal yang terdapat dalam Surah Yusuf Ayat 1 - 50. Kohesi gramatikal meliputi referensi, substitusi, elipsis, dan konjungsi. Sedangkan kohesi leksikal terbagi kepada repetisi, sinonim, antonim, hiponim, kolokasi. Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan (Library Research) dengan metode analisis deskriptif.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kohesi yang dikemukakan oleh Saragih (2002), mulyana (2005) dan al- Ghulayaini (2009). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kohesi gramatikal meliputi pronomina persona sebanyak 393 (tiga ratus sembilan puluh tiga) buah, pronomina demonstratif sebanyak 8 (delapan) buah, pronomina komparatif sebanyak 9 (sembilan) buah. Sedangkan substitusi sebanyak 8 (delapan) buah, dan konjungsi sebanyak 187 (seratus delapan puluh tujuh) buah. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yakni dengan menggunakan data yang berbeda, penelitian ini

(25)

menggunakan data Al- Qur‟an pada Surah Al-Kahfi, sedangkan penelitian terdahulu menggunakan data Al- Qur‟an Surah Yusuf Ayat 1 – 50.

3. Wijayanti (2016) meneliti tentang “Kohesi Gramatikal dalam Hadist Shahih Bukhari Muslim kitab Thaharah (bersuci). Penelitian itu menitik beratkan pada analisis kohesi gramatikal yang mengacu pada teori Mulyana, Saragih dan Ghulayayni. Hasil penelitian tersebut adalah perwujudan kohesi gramatikal dalam hadist shahih Bukhari Muslim kitab thaharah (bersuci) antara lain pronomina persona 429 buah, pronomina demonstratif 3 buah, pronomina komparatif tidak ditemukan, substitusi 6 buah, elipsi 1 buah dan konjungsi 196 buah. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yakni dengan menggunakan data yang berbeda, penelitian ini menggunakan data Al- Qur‟an pada Surah Al- Kahfi, sedangkan penelitian terdahulu menggunakan data kumpulan hadits Bukhari-Muslim pada Kitab thaharah (bersuci). Teori yang digunakan pada penelitian ini juga berdeda, yaitu teori kohesi gramatikal oleh Halliday & Hassan (2005) dan al- Ghulayaini (2009). Kontribusi penelitian terdahulu untuk penelitian ini yaitu peneliti menggunakan penelitian terdahulu sebagai acuan dalam pembuatan proposal penelitian ini.

2.1 Pengertian Wacana / ثٌﺪﺣ /“ḥadīṡun”

Tarigan (1987:27) wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang berkesinambungan dan mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan atau tertulis.

Menurut Halliday & Hasan dalam Pangaribuan (2008:55) wacana merupakan tuturan dalam bentuk lisan atau tulisan yang membentuk suatu kesatuan makna yang utuh.

Moeliono (1988:334) dalam Mulyana (2005:5) menjelaskan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan lainnya dalam kesatuan makna. Disamping itu, wacana juga

(26)

berarti satuan bahasa terlengkap, yang dalam hirarki kebahasaan merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesar.

Deese dalam Tarigan (1987:25) menyatakan, wacana adalah seperangkat proposisi yang saling berhubungan untuk menghasilkan suatu rasa kepaduan atau rasa kohesi bagi penyimak atau pembaca. Kohesi atau kepaduan itu sendiri harus muncul dari isi wacana, tetapi banyak sekali rasa kepaduan yang dirasakan oleh penyimak atau pembaca harus muncul dari cara pengutaraan atau pengutaraan wacana itu.

Al-Khuli (1982 : 76) mengistilahkan wacana dalam bahasa Arab disertakan dengan kata ثﻳدح/ḥadīŚun/”wacana”, yaitu:

ﻡلاﻜﻟا قﻳسط ﻦػ غﻣبعﻟا ﻰﻟا ﻰﻨؼﻤﻟا ﻝبصﻳا : ثﻳدح /ḥadīśun īşālu al-ma‟nā ilā as-sāmi‟i „an ṭarīqi al-kalāmi/ “wacana adalah menyampaikan pesan yang bermakna kepada pendengar (pembaca) melalui bahasa atau kata-kata”

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa wacana adalah serangkaian kata, baik lisan maupun tulisan yang membentuk sebuah kesatuan makna dan merupakan satuan bahasa terlengkap dan utuh yang menghasilkan suatu rasa kepaduan atau rasa kohesi bagi pembaca.

Kohesi atau kepaduan itu sendiri harus muncul dari isi wacana.

2.2 Kohesi /لﺳﺎﻤﺗ “/tamāsukun/ ”

Dalam penulisan wacana harus diperhatikan penggunaan kohesi, yaitu keterkaitan semantis antara unsur pembentuk wacana (Moeliono dalam Mulyana 2005: 26).

Al-Khuli (1982: 45) memberi definisi kohesi dalam bahasa Arab disertakan sebagai berikut:

حدحاﻭ خﻠﻤج ﻲﻓ ﻦﻴﻳﻮغﻟ ﻦﻳسصﻨػ ﻦﻴث ةذبجتﻟاخجزد : ﻚظبﻤت /tamāsukun: darajatu al-tajāżubi baina „unşuraini lugawayayni fī jumlatin wāḥidatin/ “Kohesi (pertalian) adalah tingkatan saling tarik menarik antara dua unsur bahasa pada suatu kalimat”.

Halliday dan Hasan (1992:65) kohesi merupakan suatu konsep semantis yang mengacu pada hubungan makna yang ada di dalam sebuah teks.

(27)

(Gutwinsky dalam Tarigan 1987: 96) kohesi ialah organisasi sintaksis, merupakan wadah kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Hal ini berarti pula bahwah kohesi adalah hubungan antar kalimat di dalam sebuah wacana baik dalam strata gramatikal maupun strata leksikal tertentu.

Mulyana (2005 : 26) kohesi dalam wacana diartikan sebagai kepaduan bentuk yang secara struktural membentuk ikatan sintaktikal. Anton M. Moeliono (1988 : 34) menyatakan bahwa wacana yang baik dan utuh mensyaratkan kalimat- kalimat yang kohesif. Kohesi wacana terbagi ke dalam dua aspek, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal antara lain adalah referensi, substitusi, elipsis, konjungsi, sedangkan yang termasuk kohesi leksikal adalah sinonim, repetisi, kolokasi.(Halliday, 1976 : 21)

2.2.1 Kohesi Gramatikal /يﻮحﻨىﺍ لﺳﺎﻤﺗ “/tamāsuku an-naḥwiyyi/ ”

Kohesi dapat diidentifikasi atas kohesi leksikal dan kohesi gramatikal (Halliday & Hasan dalam Pangaribuan, 2008 : 59). Kohesi gramatikal merupakan hubungan makna yang direalisasikan piranti referensi, substitusi dan elipsis.

Menurut Mulyana (2005 : 26) kohesi gramatikal diklasifikasikan sebagai berikut: Referensi (penunjukan), Substitusi (penggantian), Elipsis (penghilangan/pelesapan) dan konjungsi (kata sambung).

Selajutnya Halliday & Hassan dalam (Mulyana, 2005 : 26) mengemukakan bahwa kohesi gramatikal terdiri dari reference (referensi), substitution (substitusi), ellipsis (elipsis) dan conjuction (konjungsi).

2.2.1.1 Referensi (Penunjukan) عﺎﺟﺭﺍ“/`irjā'un/”

Dalam bahasa Arab, Al-Khuli (1982: 238) memberi definisi referensi sebagai berikut:

عبجزا قثبعﻟا ﻢظا ﻰﻟإسﻴﻤضﻟاسﻴعﻳ بﻤﻛسخأ ﻰﻟاخﻣبﻛدﻮؼت ﻥا : دبﻨظا،

/`irjā‟un, isnādun : `an ta‟ūdu kalimatan `ilā `ukhrā, kamā yasīru al-ḍamīru `ilā ismin al-sābiqin/ “pengembalian (referensi) : mengembalikan kata kepada yang lain, seperti mengambil kata ganti dari kata benda yang mendahuluinya”.

(28)

Djajasudarma (1994 : 48) refensi dalam analisis wacana harus dipertambahkan sebagai sikap atau tingkah laku pembicara atau penulis. Refensi sebuah kalimat ditentukan oleh pembicara atau penulis. Referensi dapat berupa endofora (anafora dan katafora) dan eksofora. Endofora bersifat tekstual, referensi (acuan) ada di dalam teks. sedangkan eksofora bersifat situasional (acuan atau referensi berada di luar teks). Endofora terbagi atas anafora dan katafora berdasarkan posisi (distribusi) acuannya (referensinya). Anafora merujuk silang pada unsur yang disebutkan terdahulu; katafora merujuk silang pada unsur yang disebutkan kemudian.

Referensi (penunjukan) merupakan bagian kohesi gramatikal yang berkaitan dengan penggunaan kata atau kelompok kata untuk menunjuk kata atau kelompok kata atau satuan gramatikal lainnya. (Ramlan, dalam Mulyana, 2005:27).

Halliday dan Hassan juga membedakan referensi menjadi dua macam, referensi eksofora dan endofora. Referensi eksofora adalah pengacuan terhadap antesenden di luar bahasa.

Contohnya: itu taman wisata

Kata itu pada kalimat tersebut mengacu kepada sesuatu diluar teks. Sedangkan, referensi endofora adalah pengacuan terhadap antesenden yang terdapat didalam teks. Anteseden adalah salah satu unsur dalam kalimat/klausa terdahulu yang ditunjuk oleh ungkapan dalam suatu kalimat/klausa.

Berikut ini merupakan contoh dari referensi anafora dalam Al-Qur‟an Surah Yusuf ayat 4 yang berbunyi:

َﻦٌِﺪِﺟﺎَﺳ ًِى ْمُﻬُﺘٌَْأَﺭ َﺮَﻤَقْىﺍَﻭ َسْﻤهشىﺍَﻭ ﺎًﺒَمْﻮَم َﺮَشَﻋ َﺪ َﺣَأ ُتٌَْأَﺭ ًِّﻧِإ ِتَﺑَأ ﺎٌَ ِﻪٍِﺑلأ ُﻒُﺳﻮٌُ َهﺎَق ْﺫِإ / Iż qāla yụsufu li`abīhi yā abati innī ra`aitu aḥada 'asyara kaukabaw wasy- syamsa wal-qamara ra`aituhum lī sājidīn / ”Ingatlah ketika Yusuf berkata kepada ayahnya:”wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

Pada ayat diatas terdapat kata / ِﻪٍِﺑلأ / li`abīhi /" kepada ayahnya " yang mengacu pada kata / ُﻒُﺳﻮٌُ /Yūsufu/ " Yusuf ". Kata ﻩ /hi/"nya" merupakan

(29)

pronomina persona ﻮﻫ /huwa/ “dia” yakni kata ganti orang ketiga tunggal dan ini dinamakan anafora, karena yang diacu dituturkan sebelum pronominanya.

Berikut ini merupakan contoh dari referensi katafora dalam Al-Qur‟an Surah Yusuf ayat 4 yang berbunyi :

َﻦٌِﺪِﺠ َٰﺳ ىِى ْمُﻬُﺘٌَْأَﺭ َﺮَﻤَقْىٱَﻭ َسْﻤهشىٱَﻭ ﺎًﺒَمْﻮَم َﺮَشَﻋ َﺪ َﺣَأ ُتٌَْأَﺭ ىِّﻧِإ ِتَﺑَأٌََٰٰٓ ِﻪٍِﺑَ ِلأ ُﻒُﺳﻮٌُ َهﺎَق ْﺫِإ /Iż qāla yụsufu li`abīhi yā abati innī ra`aitu aḥada 'asyara kaukabaw wasy- syamsa wal-qamara ra`aituhum lī sājidīn/”(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku".

Pada ayat di atas terdapat kata / هﺎق / qāla “berkata” yang merupakan fi‟il māḍi yang memiliki ḍamīr (kata ganti) ﻮﻫ /huwa/ “dia” yang tersembunyi (mustatir) merupakan pronomina persona ketiga tunggal. Pronomina ini mengacu kepada / ُﻒُﺳﻮٌُ / yụsufu “Yusuf” disebut katafora karena yang diacu dituturkan sesudah pronominanya.

Rani (2004: 100) mengatakan bahwa referensi yang bersifat anafora maupun katafora menggunakan pronomina persona, pronomina penunjuk dan pronomina komparatif.

2.2.1.1.1 Pronomina Persona

Menurut Halliday dan Hassan (Rani, dkk., 2004: 101) baik pronominal yang anafora maupun katafora, selain ada yang bersifat insani terdapat pula yang noninsani. Pronomina insani mengacu pada orang sedangkan pronomina persona noninsani mengacu selain manusia. Selain itu, terdapat pronomina insani (persona yang memiliki hubungan posesif (milik). Yang dimaksud dengan pronomina persona dalam relasi posesif adalah pronomina persona yang berelasi pemilikan, baik anafora maupun katafora.

Sebagai alat kohesi, perujuk terdiri atas pronomina atau pengacuan persona atau kata ganti diri yang dalam bahasa Arab disebut /ﺮٍﻤﺿ ḍamīr/. Al- Ghulayayni (2009 : 88) menyatakan ḍamīr sebagai berikut :

تﺋبﻏ ﻭأ تطبﺨﻣ ﻭأ ﻢﻠﻜتﻣ ﻦػ ﻪث ﻰﻨﻜﻳ بﻣ: سﻴﻤضﻟا

(30)

/al- ḍamīru : mā yuknī bihi ‘an mutakallimin au mukhāṭabin au ghā`ibin/ “damir adalah kata ganti yang terdiri dari sipembicara, orang yang diajak bicara dan orang yang dibicarakan”.

Definisi /ﻞصتﻤﻟا سﻴﻤضﻟا al- ḍamīru muttașilun/ dan pembagiannya menurut Al- Ghulayayni (2009 : 88) sebagai berikut :

ﻟا سﻴﻤضﻟا دتجﻳ ﻻبﻣ: ﻞصتﻤ

ﻪث أ ، ( دؼث غﻘﻳ ﻻﻭ ﻻإ

) سؼﺸﻟا حزﻭسﺿ ﻲﻓ ﻻإ

، ﻲﻫﻭ خؼعت خﻠصتﻤﻟا سﺋبﻤضﻟا ﻭ

بتﻟا:

،ء بﻧﻭ ، ﻭاﻮﻟاﻭ ، ﻒﻟﻷاﻭ ، ﻥﻮﻨﻟاﻭ ، ﻑبﻜﻟاﻭ ، بﻴﻟاﻭ ،ء بﻬﻟاﻭ ،ء

بﻫﻭ .

/al- ḍamīru muttașilun : mā lā yubtada`u bihi, wa lā yuqa’u ba’da (illā) illā fi ḍarūrati al-syi’ri, wa ḍamā`iru al-muttașilatu tis’atu wa hiya : attā`u wa nā wa al-wāwu wa al-ālifu wa al-nūnu wa al-kāfu wa al-yā`u wa al-hā`u wa hā/ “damir muttasil adalah kata ganti yang tidak terletak diawal kalimat, tidak terletak setelah kata (illia) kecuali dalam sebuah syair yang memerlukan (kata ganti tersebut), dan damir muttasil terdiri dari sembilan yaitu : ﺎﺗء /tā’/, / ﺎﻧ nā/, /ﻭﺍﻭ wāw/, /ﻒىأ ālif/,ﻥﻮﻧ/nūn/, /ﻑﺎم kāf/, / ﺎٌء yā’/, / ﺎﻫء hā/, /ﺎﻫ hā/”.

Sedangkan definisi /ﻞصﻔﻨﻤﻟا سﻴﻤضﻟا al- ḍamīru al- munfașilu/ sebagai berikut :

ادتثﻻا ﺢصﻳ بﻣ: ﻞصﻔﻨﻤﻟا سﻴﻤضﻟا ء

ﻪث ، ﻝبح ﻞﻛ ﻰﻠػ( ﻻإ) دؼث ﻪػﻮﻗﻭ ﺢصﻳ بﻤﻛ

/al- ḍamīru al- munfașilu : mā yușiḥḥu al-ibtidā’u bihi, kamā yușiḥḥu wa qū’ahu ba’da (illa) ‘alā kulli ḥālin/ “damir munfasil adalah kata ganti yang terletak diawal kalimat, sebagai mana dia juga dapat terletak setelah kata (illa)‟ atas tiap- tiap keadaan”.

Dhamir munfasil terbagi atas 24 macam, diantaranya 12 macam Rafa‟ dan 12 macam Nasab (Al-Ghulayayni, 2009: 124), sebagai berikut :

No. Damīr Munfasil

Arti

Marfu’ Mansub

1. ﻮﻫ /huwa/ ﻩﺎٌإ / iyāhu/ Ia seorang (lk) 2. ًﻫ /hiya/ ﺎﻫﺎٌإ / iyāhā/ Ia seorang (pr) 3. ﺎﻤﻫ /humā/ ﺎﻤﻫﺎٌإ / iyāhumā/ Ia berdua (lk/pr) 4. مﻫ /hum/ مﻫﺎٌإ / iyāhum/ Mereka (lk) 5. ﻦﻫ /hunna/ ﻦﻫﺎٌإ / iyāhunna/ Mereka (pr) 6. تﻧأ /anta/ َكﺎٌإ / iyāka/ Kamu seorang (lk) 7. تﻧأ /anti/ كﺎٌإ / iyāki/ Kamu seorang (pr) 8. ﺎﻤﺘﻧأ /antumā/ ﺎﻤمﺎٌإ / iyākumā/ Kamu berdua (lk/pr)

(31)

9. مﺘﻧأ /antum/ ممﺎٌإ / iyākum/ Kalian (lk) 10. ﻦﺘﻧأ /antunna/ ﻦمﺎٌأ / iyākunna/ Kalian (pr) 11. ﺎﻧأ /anā/ يﺎٌإ / iyāya/ Saya (lk/pr) 12. ﻦحﻧ /nahnu/ ﺎﻧﺎٌإ / iyānā/ Kami (lk/pr)

Tabel Klasifikasi Dhamir Munfasil (Ghulayaini, 2009: 124)

Menurut Tarigan (1987 : 98) pronomina atau kata ganti diri terdiri dari kata ganti diri, kata ganti penunjuk,dan lain-lain. Kata ganti diri dalam bahasa Indonesia adalah :

a) saya, aku, kita, kami

b) engkau, kamu,kau, kalian, anda c) dia, mereka

Berikut ini merupakan contoh pronomina persona dalam Al-Qur‟an Surah Yusuf ayat 7 yang berbunyi :

َﻦﻴِﻠِﺋٓبَّعﻠِّﻟ ٌتََٰﻳاَء ٓۦِﻪِتَﻮْخِإَﻭ َﻒُظﻮُﻳ ﻰِﻓ َﻥبَﻛ ْدَﻘَّﻟ /Laqad kāna fī yụsufa wa ikhwatihī āyātul lis-sā`ilīn/“Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.

Pronomina persona tunggalﻮﻫ /huwa/ “dia” yakni pada ﻩ /hi/ “nya” telah mengacu pada unsur lain yang dituturkan sebelumnya, yaitu ِ َلِلّ /allah/"Allah"

yang terdapat pada ayat 1. Dengan demikian makna ﻩ /hi/ “nya” yang melekat pada kata ُﻥُﺪهى / ladun / “sisi” menimbulkan makna kepemilikan pada َِلِلّ

/allah/"Allah". pronomina ini merupakan pronomina persona tunggal yang bersifat anafora karena yang diacu lebih dahulu dituturkan sebelum pronominanya.

2.2.1.1.2 Pronomina Demonstratif

Dalam bahasa Arab pronomina demonstratif (penunjuk) disebut dengan مﺳﺍ

ﺓﺭﺎﺷﺍ /ismu isyāratu/ sebagaimana Al-Ghulayayni (2009:97) menyebutkan definisi ism isyarah sebagai berikut :

(32)

بﻫﻮﺤﻧ ﻭ دﻴﻟبث خﻴعح حزبﺷإ خﻄظاﻮث ﻦﻴؼﻣ ﻰﻠػ ﻝدﻳبﻣ: حزبﺷﻹا ﻢظا ،

اسﺿبح ﻪﻴﻟإ زبﺸﻤﻟا ﻥبﻛ ﻥإ ،

حزبﺷإ ﻭأ

ﻰﻨؼﻣ ﻪﻴﻟإ زبﺸﻤﻟا ﻥبﻛ اذإ خﻳﻮﻨؼﻣ ،

حسﺿبح سﻴﻏ بتاذ ﻭأ .

/ismu isyāratu : mā yadullu ‘alā mu’ayyanin biwāsaṭati isyāratin ḥisayyatin bi al- yadi wa naḥwahā, in kāna al-musyāru ilaihi ḥaḍiran, au isyāratu ma’nawiyyatu iŻa kāna al-musyāru ilaihsi ma’na, au Żātan ghaira ḥadiratin/ “ism isyarah adalah ism yang dipergunakan untuk menunjukkan sesuatu yang tertentu dengan perantara isyarat gerak tangan atau seumpamanya jika yang ditunjuk hadir (nyata) atau dengan isyarat makna jika yang ditunjuk tidak kelihatan”

Tarigan (1987 : 99) Dalam bahasa Indonesian kata ganti penunjuk yakni ini, itu, sini, situ, sana, disini, disitu, disana, kesini, kesitu, kesana. Seperti cotoh berikut :

Ini rumah kami. Kami tinggal disini sejak tahun 2000

Kata ini pada contoh diatas menunjukkan jarak dekat, yakni menunjuk pada kata rumah. kata ini pada kalimat tersebut merupakan pronomina demonstratif katafora karena antesedennya terdapat setelah pronomina.

Al-Ghulayaini (2009:133) mengklasifikasikan ﺓﺭﺎﺷﺍ مﺳﺍ /ismu isyārati/

adalah sebagai berikut:

ﺪعﺒيى طﺳﻮﺘﻤيى ﺐٌﺮقيى

- ﻚﻟاذ - ﻙاذ - ارﻫ ﺩﺮﻔم

ﺮمﺬم

ﻚﻨﻳذ ﻚﻧاذ ﻚﻨﻳذ ﻚﻧاذ ﻦﻳرﻫ ِﻥﺍﺬﻫ ىﻨثم

- ﻚئﻟﻭأ - ﻚئﻟﻭأ - ِء َﻻُؤﻫ عﻤﺟ

- ﻚﻠت - ﻚﻴت - ﻩرﻫ ﺩﺮﻔم

ثﻧؤم

ﻚﻨﻴت ﻚﻧبت ﻚﻨﻴت ﻚﻧبت ﻦﻴتبﻫ ِﻥبتبﻫ ىﻨثم

- ﻚئﻟﻭأ - ﻚئﻟﻭأ - ِء َﻻُؤﻫ عﻤﺟ

ﻚﻟبﻨﻫ –

ﻢث ﻙبﻨﻫ بﻨﻫ ﻥﺎنﻤيى ﺔﺼﺘخم

Tabel Klasifikasi Isim Isyarah (Ghulayayni, 2009 : 133)

Berikut ini merupakan contoh referensi demonstratif dalam Al-Qur'an Surat Yusuf ayat 3yang berbunyi:

َﻦﻴِﻠِﻔ ََٰغْﻟٱ َﻦِﻤَﻟ ۦِﻪِﻠْجَﻗ ﻦِﻣ َتﻨُﻛ ﻥِإَﻭ َﻥاَءْسُﻘْﻟٱ ﺍَﺬَٰﻫ َﻚْﻴَﻟِإ ٓبَﻨْﻴَحْﻭَأ ٓبَﻤِث ِصَصَﻘْﻟٱ َﻦَعْحَأ َﻚْﻴَﻠَػ ُّصُﻘَﻧ ُﻦْﺤَﻧ

(33)

/Naḥnu naquṣṣu 'alaika aḥsanal-qaṣaṣi bimā auḥainā ilaika hāżal-qur`āna wa ing kunta ming qablihī laminal-gāfilīn/ “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.”

Pada ayat Al-Qur‟an di atas terdapat kata ﺍَﺬ َٰﻫ /hāża/ “ini” merupakan pronomina demonstratif jama‟ yang diacu pada َﻥﺍَءْﺮُقْىٱ/ qur`āna / “Al-Quran”, dan pronomina ini juga merupakan pronomina katafora karena yang diacu ditemukan sesudah pronominanya.

2.2.1.1.3 Pronomina Komparatif

Dalam bahasa Arab pronomina komparatif dikenal dengan istilah ﻢظا ﻞﻴضﻔتﻟا/ismu al-tafḍīl/. Al-Ghulayayni (2009:150) :

خﻔﺻ ﻲﻓ بﻛستﺷا ﻦﻴئﻴﺷ ﻥأ ﻰﻠػ ﻝدتﻟ ﻞؼﻔﻟا ﻦﻣ رخؤت خﻔﺻ: ﻞﻴضﻔتﻟا ﻢظا ،

بﻬﻴﻓ سخﻵا ﻰﻠػ بﻤﻫدحأ داشﻭ .

/ismu al-tafḍīl : șifatun tu`khaŻu mina al-fi’li litadulla ‘alā ‘anna syai`aini

`isytarakā fi șifatin wazāda `aḥaduhumā ‘alā al-ākhari fihā/ “kata lebih : kata sifat yang diambil dari kata kerja untuk menunjukkan dua hal yang bersekutu di dalam kata sifat, dan salah satunya dilebihkan dari yang lain.”

Rani, dkk (2004:104) mendefinisikan pronomina komparatif adalah deiktis yang menjadi bandingan bagi antesedennya. Kata-kata yang termasuk katagori pronomina komparatif antara lain: sama, persis, identik, serupa, segitu serupa, selain, berbeda, dan sebagainya.

Berikut ini merupakan contoh pronomina komparatif dalam Al-Qur‟an Surah Al-kahfi ayat 12 yang berbunyi:

اًدَﻣَأ ۟آﻮُثِجَﻟ بَﻤِﻟ َٰﻰَصْحَأ ِﻦْﻴَثْصِﺤْﻟٱ ُّﻯَأ َﻢَﻠْؼَﻨِﻟ ْﻢُﻬََٰﻨْثَؼَث َّﻢُث /ṡumma ba'aṡnāhum lina'lama ayyul-ḥizbaini aḥṣā limā labiṡū amadā/

“Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu).

Berdasarkan pada ayat diatas terdapat kata “ى َﺼ ْﺣَأ” /aḥṣā/ “lebih tepat”

merupakan pronomina komparatif yang menunjukkan perbandingan antara dua golongan yaitu pemuda-pemuda itu sendiri yang bersilisih tentang berapa lamanya mereka tinggal didalam gua itu.

(34)

2.2.1.2 Substitusi

Dalam bahasa Arab, Al-Khuli (1982:273) memberi definisi substitusi dengan kata ﻝادجتظا/istibdāl/ “pergantian” yaitu :

خﻴﻟﻮجﻘﻣ ﻰﻠػ : ءبﻘثﻻا غﻣ خﻳﻮﺤﻟا خﻔﻴﻅﻮﻟا طﻔﻧ ءادﻷ تﻴﻛست ﻥبﻜﻣ ﻭأ ﻯسخأ ﻥبﻜﻣ خﻤﻠﻛ غﺿﻭ ﻝادجتظا خﻠﻤجﻟا ﻰﻨؼﻣ /istibdāl : waḍa’a kalimatun makānun `ukhrā aw makānun tarkībun li`adā`in nafsa al-waẓīfati al-ḥiwayati ma’a al-abqā`i ‘alā maqbūliyati ma’na al-jumlati/

“pergantian (substitusi): meletakkan kata di tempat yang lain atau di tempat yang teratur untuk menggantikan tugas suatu kata yang terhimpun dengan yang tinggal terhadap makna kalimat yang datang”.

Substitusi (penggantian) adalah proses dan hasil penggantian unsur bahasa oleh unsur lain dalam satuan yang lebih besar. Penggantian dilakukan untuk memperoleh unsur pembeda atau menjelaskan struktur tertentu(Kridalaksana dalam Mulyana 2005:28)

Tarigan (1987:100) substitusi merupakan hubungan gramatikal, lebih bersifat hubungan kata dan makna. Substitusi dalam bahasa Indonesia dapat bersifat nominal, verbal, klausal, atau campuran; misalnya satu, sama, seperti itu, sedemikian rupa, demikian, begitu, melakukan hal yang sama. Seperti contoh berikut :

"Saya dan Paman masuk ke warung kopi. Paman memesan kopi susu.Saya juga mau satu. Keinginan kami rupanya sama "

Hubungan ini adalah kohesi yang dicapai melalui substitusi, karena kata satu diatas merupakan substitusi dari kata kopi susu pada kalimat sebelumnya. Dan dalam substitusi nominal ini, hubungan antar bentuk yang saling menggantikan.

Berikut ini merupakan contoh subtitusi dalam Al-Qur‟an surah An-Nisa ayat 3 yang berbunyi:

َغََٰثُزَﻭ َثََٰﻠُثَﻭ َٰﻰَﻨْثَﻣ ِءٓبَعِّﻨﻟٱ َﻦِّﻣ ﻢُﻜَﻟ َةبَط بَﻣ ۟اﻮُﺤِﻜﻧٱَﻓ َٰﻰَﻤََٰتَﻴْﻟٱ ﻰِﻓ ۟اﻮُﻄِعْﻘُت َّﻻَأ ْﻢُتْﻔِخ ْﻥِإَﻭ ًحَدِح ََٰﻮَﻓ ۟اﻮُﻟِدْؼَت َّﻻَأ ْﻢُتْﻔِخ ْﻥِئَﻓ

۟اﻮُﻟﻮُؼَت َّﻻَأ َٰٓﻰَﻧْدَأ َﻚِﻟ ََٰذ ۚ ْﻢُﻜُﻨ ََٰﻤْﻳَأ ْتَﻜَﻠَﻣ بَﻣ ْﻭَأ /Wa in khiftum allā tuqsiṭụ fil-yatāmā fangkiḥụ mā ṭāba lakum minan-nisā`i maṡnā wa ṡulāṡa wa rubā', fa in khiftum allā ta'dilụ fa wāḥidatan au mā malakat aimānukum, żālika adnā allā ta'ụlụ/ “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua,

(35)

tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Berdasarkan pada ayat di atas terdapat kata َلِىَٰﺫ/Żālika/ “yang demikian”

merupakan substitusi atau penggantian kari kalimat jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka nikahilah seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki.

2.2.1.3 Elipsis

Dalam bahasa Arab, Al-Khuli (1982:83) memberi definisi elipsis sebagai berikut :

ﻦﻴجت خﻨﻳسﻗ دﻮجﻭ غﻣ ﻱﻮغﻠﻟا ﻝبصتﻻبث زاسﺿﻻا ﻥﻭد خﻠﻤج ﻦﻣ سثﻛأ ﻭأ حدحاﻭ خﻤﻠﻛ ﻑرح: ﻑرﺤﻟا شبجﻳإ

ﻑﻭرﺤﻤﻟا /ījazu al- ḥaŻfu : ḥaŻfu kalimatin wāḥidatin `aw `akŚaru min jumlatin dūna al-

iḍrāri bi al-`ittișāli al-lugawiyi ma’a wujūdin qarīnatin tubayyinu al-maḥŻūfi/

“pembuangan kata (elipsis) : pembuangan satu kata atau lebih dalam kalimat tanpa mempersempit (makna), menyambungkan bahasa dengan penyambung untuk memperjelasnya”.

Menurut Kridalaksana (1984:45), elipsis adalah peniadaan kata atau satuan lain yang ujud asalnya dapat diramalkan dari konteks bahasa atau konteks luar bahasa.

Tarigan (1987:101) Elipsis dapat juga dikatakan penggantian nol (zero);

sesuatu yang ada tetapi tidak diucapkan atau tidak dituliskan. Hal ini dilakukan demi kepraktisan. Elipsis pun dapat dibedakan atas elipsis nominal, elipsis verbal, elipsis klausal.

Contoh elipsis dalam surah Al-Baqarah ayat 124:

َﻦﻴِﻤِﻠََّٰظﻟٱ ﻯِدْﻬَػ ُﻝبَﻨَﻳ َﻻ َﻝبَﻗ ﻰِتَّﻳِّزُذ ﻦِﻣَﻭ َﻝبَﻗ بًﻣبَﻣِإ ِضبَّﻨﻠِﻟ َﻚُﻠِػبَج ﻰِّﻧِإ َﻝبَﻗ َّﻦُﻬَّﻤَتَأَﻓ ٍتََٰﻤِﻠَﻜِث ۥُﻪُّثَز َﻡۦِﻩََٰسْثِإ َٰٓﻰَﻠَتْثٱ ِذِإَﻭ /wa 'iŻibtalā 'ibrāhīma rabbuhu bikalimātin fa'atammahunna qāla 'innī jā`iluka linnāsi 'imāmāan qāla wa min Żurriyatī qāla lā yanālu `ahdī aẓ-ẓālimīna/ “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”..

(36)

Elipsis pada ayat diatas berbunyi: Dan ingatlah, ketika Ibrahim diuji oleh Tuhan nabi Ibrahim dengan beberapa kalimat lalu ia melaksanakan kalimat- kalimat itu yaitu kalimat perintah dan larangan.Dia berfirman sesungguhnya Aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia". Ia berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Dia berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim”.

2.2.1.4 Konjungsi

Dalam bahasa Arab, Al-Khuli (1982:53) memberi definisi konjungsi dengan kata /ﻒطبػ āṭifun/ “penyambung(konjungsi)” yaitu :

ﻰﻠػ بﻓسﻅ ﻭأ ﻢظا ﻰﻠػ بﻤظا ﻭأ ، ﻞؼﻓ ﻰﻠػ لاؼﻓ ﻒﻄؼت ﻱأ تجاﻭ عﻮﻧ ﻦﻣ ﻦﻴتدحﻭ ﻒﻄؼت خﻤﻠﻛ: ﻒطبػ خﻠﻤج ﻰﻠػ خﻠﻤج ﻭأ ﻑسﻅ /āṭifun : kalimatun ta’ṭifu wa ḥidataini min nau’in wājibin `ay ta’ṭifu fi’lan ‘alā fi’lin, `aw isman ‘alā ismin `aw ẓarfan ‘alā ẓarfin `aw jumlatan ‘alā jumlatin/

“penyambung: mencondongkan dua kata dari bagian yang penting, atau mengarahkan kata kerja dengan kata kerja, kata benda dengan kata benda, frasa dengan frasa atau kalimat dengan kalimat”.

Al-Ghulayaini (1992:352) membagi huruf „āṭaf menjadi sembilan : 1. ﻭ /wa/ “dan” untuk menjumlah

2. ﻰتح /ḥattā/ “sehingga” untuk pembatas

3.ﻞث /ball/ “tetapi” atau “bahkan” untuk menyusul 4.ﻑ /fa/ “lalu” untuk tertib dan runtun

5.ﻭأ /aw/ “atau” untuk memilih atau masih ragu-ragu 6.ﻻ /lā/ “tidak” untuk menidakkan

7. ﻢث /Śumma/ “kemudian” untuk tertib dan tenggang waktu 8.ﻡأ /am/ “atau” untuk meminta menegaskan

9.ﻦﻜﻟ /lakin/ “akan tetapi” untuk koreksi

Menurut Chaer (1994:269), konjungsi merupakan alat untuk menghubung- hubungkan bagian-bagian kalimat atau menghubungkan paragraf dengan paragraf.

Konjungsi digunakan sebagai salah satu jenis kohesi gramatikal sekaligus alat gramatikalnya. Dengan penggunaan konjungsi ini, hubungan antar kalimat dengan

(37)

kalimat maupun paragraf dengan paragraf menjadi lebih jelas bila dibandingkan dengan hubungan yang tanpa konjungsi.

Tarigan (1987:101) dalam bukunya Pengajaran Wacana membagi konjungsi sebagai berikut :

a). Konjungsi adversatif : tetapi, namun b). Konjungsi kausal : sebab, karena c). Konjungsi koordinatif : dan, atau, tetapi

d). Konjungsi korelatif : entah/entah, baik/maupun e). Konjungsi subordinatif : meskipun, kalau, bahwa f). Konjungsi temporal : sebelum, sesudah

(38)

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil

Adapun hasil dari penelitian kohesi gramatikal yang dilaksanakan secara keseluruhan peneliti memperoleh data kohesi gramatikal yang terdapat pada surah Al-Kahfi yaitu: Referensi (pronomina persona sejumlah 261, pronomina demonstratif sejumlah 14, pronomina komparatif 14), substitusi sejumlah 4 dan konjungsi sejumlah 257.

3.2. Pembahasan

3.2.1. Jenis Kohesi Gramatikal Pada Surah Al-Kahfi

Berdasarkan analisis yang dilaksanakan secara keseluruhan peneliti memperoleh data jenis kohesi gramatikal yang terdapat pada surah Al-Kahfi yaitu

A. Referensi

Kohesi gramatikal referensi yang bersifat anafora maupun katafora terbagi dalam tiga bentuk yakni:

a. Pronomina persona

Adapun Pronomina persona tersebar pada seluruh surah Al-Kahfi sebagai berikut:

1. Surah Al -Kahfi ayat 1

ۜ بًجَِٛعۜٗٗۜ ًٌَْۜع ْجَ٠ٌَََُْۜۜٚۜۜتٰزِىٌْاِِۜيِذْجَعٍَٰۜٝعَۜيَضَْٔاۜۜ ِْٞز ٌاِِّٰۜۜلُِۜذَّْذٌَْا /al-ḥamdu lillāhillażī anzala 'alā 'abdihil-kitāba wa lam yaj'al lahụ 'iwajā/

”Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok. (Q.S. Al-Kahfi: 1).

Pada ayat diatas terdapat 2 (dua) pronomina persona yakni: pada kata /ِِيِذْجَعِ

/'abdihi/"hamba-Nya" yang mengacu pada kata /ِِ َللّ/allah/"Allah". Pronomina persona ٌُ/huwa/ “dia” yakni pada kata kata ي /hu/"nya" merupakan pronomina persona ketiga tunggal. Selanjutnya ي /hu/"nya" yang melekat pada kata ًّى /lahu/

(39)

“baginya” merupakan pronomina persona ketiga tunggal, pronomina ini mengacu kepada kata َِتٰزِنْىا /kitāba/”Kitab (Al-Qur'an)”. Referensi (acuan) dalam ayat diatas berada di dalam teks (endofora) dan pronomina ini disebut anafora karena yang diacu dituturkan sebelum pronominanya. Keterkaitan antar kalimat diatas diikat oleh salah satu alat kohesi yakni referensi persona ٌُ/huwa/ “dia” untuk menciptkan sebuah wacana yang utuh.

2. Surah Al -Kahfi ayat 2

ۜۙبًَٕغَدۜاًش ْجَاٌَُُْۜۜٙۜ َْاِۜذ ٰذٍِ ّٰصٌاۜ َْ ٍَُّْْٛعَ٠َْۜۜٓ٠ِز ٌاۜ َْٓ١ِِِْٕؤٌُّْاَۜشِّشَجُ٠َُُْۜٚۜۜٗٔذ ٌۜ ِِّْٓۜاًذْ٠ِذَشۜبًعْأَثَۜسِزُْٕ١ٌِّۜبًِّّ١َل /qayyimal liyunżira ba`san syadīdam mil ladun-hu wa yubasysyiral- mu`minīnallażīna ya'malụnaṣ-ṣāliḥāti anna lahum ajran ḥasanā/”sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik”. (Q.S Al-Kahfi: 2).

Pada ayat diatas terdapat 2 (dua) pronomina persona yaitu: pronomina persona ٌُ/huwa/ “dia” yakni pada kata ي /hu/"nya" yang melekat pada kata ًُِْوُذَىۜ

/ladun-hu/”sisi-Nya” merupakan pronomina persona ketiga tunggal, pronomina ini mengacu kepada kata /ِِ َللّ/allah/"Allah" yang terdapat pada ayat 1. Referensi (acuan) yang pertama berada diluar teks (eksofora) dan pronomina ini disebut anafora karena yang diacu dituturkan sebelum pronominanya Selanjutnya pronominal persona ِْمٌُ/hum/ “mereka” yang terdapat pada ayat di atas, merupakan pronomina persona ketiga jamak, pronomina ini mengacu kepada َِهِْٕىِم ْإُمْىا /mu`minīn/ “orang-orang mukmin”. Referensi (acuan) yang kedua berada di dalam teks (endofora) dan pronomina ini disebut anafora karena yang diacu dituturkan sebelum pronominanya. Keterkaitan antar kalimat diatas diikat oleh salah satu alat kohesi yakni referensi persona ٌُ/huwa/ “dia” dan ِْمٌُ/hum/ “mereka” untuk menciptkan sebuah wacana yang utuh.

(40)

3. Surah Al -Kahfi ayat 3

ۜۙاًذَثَاِْۜۜٗ١ِـۜ َْٓ١ِضِوب ِ /mākiṡīna fīhi abadā/ “mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.

(Q.S Al-Kahfi: 3).

Pada ayat diatas terdapat 1 (satu) pronomina persona yaitu: pronomina persona ٌُ/huwa/ “dia” yakni pada kata ي /hu/"nya" yang melekat pada kata ًِِِْٕۜف / fīhi /”didalamnya” merupakan pronomina persona ketiga tunggal, pronomina ini mengacu kepada kata ِ بًىَس َحِاًش ْجَا / ajran ḥasanā/ " balasan yang baik " pada ayat 2.

Referensi (acuan) pada ayat diatas berada diluar teks (eksofora) dan ini dinamakan anafora karena yang diacu lebih dahulu dituturkan sebelum pronominanya.

Keterkaitan antar kalimat diatas dengan kalimat pada ayat sebelumnya diikat oleh salah satu alat kohesi yakni referensi persona ٌُ/huwa/ “dia” untuk menciptkan sebuah wacana yang utuh.

Menurut tafsir Ibnu Katsir, mereka orang-orang mukmin mendapat pahala di sisi-Nya, yaitu surga dan mereka kekal di dalamnya, tidak pernah hilang dan tidak pernah habis nikmat yang diperoleh.

4. Surah Al -Kahfi ayat 4

ۜاًذٌََُٚۜ ّٰاللَّۜزَخ راۜاٌُٛبَۜلَْۜۜٓ٠ِز ٌاَۜسِزُْٕ٠ۜ ٚ /wa yunżirallażīna qāluttakhażallāhu waladā/“Dan untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, „Allah mengambil seorang anak ”. (Q.S Al-Kahfi: 4).

Pada ayat diatas terdapat 1 (satu) pronomina persona yaitu: kata اُُىبَق /qālu/

“mereka berkata” merupakan fi‟il māḍhi yang memiliki ḍhamīr (kata ganti) مٌُ/hum/ “mereka” dan terdapat pronomina persona ketiga jamak yang ditandai dengan َاَ /wā/ dan ﻒىﺃ /alif/. Pronomina ini mengacu kepada kata ِ َز َخَراِاُُىبَقَِهِْٔزَىا اًذَىََِ ُ ّٰاللّ /allażīna qāluttakhażallāhu waladā/ “orang yang berkata, „Allah mengambil seorang anak”. Referensi (acuan) diatas berada di dalam teks

(41)

(endofora) dan pronomina ini disebut anafora karena yang diacu dituturkan sebelum pronominanya.

Menurut tafsir Ibnu Katsir, makna yang dimaksud ialah orang-orang musyrik arab, karena mereka mengatakan, “kami menyembah malaikat-malaikat, mereka adalah anak-anak perempuan Allah.”

5. Surah Al -Kahfi ayat 5

بًثِزَوۜۜ لِّاَْۜۜ ٌُُْْٛٛم ٠ۜ ِْْاۜ ُِِْْۗٙ٘اَْٛـَاۜ ُِِْٓۜطُشْخَرًۜخٍََِّوۜ ْدَشُجَوُِِْْۜۜۗٙۜ ىۤبَثٰ ِلَّۜۜلّ ٍٍُِْٚۜعۜ ِِِْٖٓۜٗۜثٌَُُْۜۜٙۜب ِ /mā lahum bihī min 'ilmiw wa lā li`ābā`ihim, kaburat kalimatan takhruju min afwāhihim, iy yaqụlụna illā każibā/ “Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka;

mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka”(Q.S Al-Kahfi: 5) Pada ayat di atas ditemukan 5 (lima) pronomina persona yaitu : Kata مٌُ

/hum/”mereka” yang melekat pada Kata ِْمٍَُى /lahum/”bagi mereka” , kata ِْمٍِِ ىۤبَثٰلا /li`ābā`ihim/”begitu pula nenek moyang mereka” dan kata ِْمٌٍِِاَُْفَا /afwāhihim/”

mulut mereka “, juga kata َِن ُُْىُُْقَٔ /yaqụlụna/ “mereka mengatakan” merupakan fi‟il muḍhāri‟ yang memiliki ḍhamīr mustatir (kata ganti) yang tersembunyi yaitu مٌُ /hum/ “mereka” dan terdapat pronomina persona ketiga jamak yang ditandai dengan َاَ /wā/ dan نُو /nūn/ dan keempat pronomina ini mengacu kepada ayat 4.

Referensi (acuan) pada ayat diatas berada diluar teks (eksofora). Seluruh pronomina diatas dinamakan anafora karena yang diacu dituturkan sebelum pronominanya. Berikutnya pronomina persona ٌُ/huwa/ “dia” pada kataۜ يِ /hi/

“nya” yang melekat pada kata ًِث /bihī/ “dengannya” merupakan pronomina persona ketiga tunggal, pronomina ini mengacu kepada kata ِ مْيِع /'ilmi/

“pengetahuan”. Referensi (acuan) pada ayat diatas berada didalam teks (endofora) pronomina ini dinamakan katafora, karena yang diacu dituturkan sesudah pronominanya. Keterkaitan antar kalimat diatas diikat oleh salah satu alat kohesi yakni referensi persona ِْمٌُ/hum/ “mereka” dan ٌُِ/huwa/ “dia” untuk menciptakan sebuah wacana yang utuh.

(42)

Menurut tafsir Ibnu Katsir, mereka tidak mengetahui ucapan yang mereka buat-buat dan mereka dustakan dari diri mereka sendiri itu, yakni tidak memiliki suatu bukti pun melainkan hanya kedustaan.

6. Surah Al -Kahfi ayat 6

بًفَعَاِۜشْ٠ِذَذٌْاۜاَزِٰٙثۜإُِِْْٛؤُ٠ُْۜ ٌۜ ِْْاُِِْۜ٘سبَصٰاۜٝ ٍَٰعَۜۜهَغْف ٌٔۜعِخبَثَۜۜه ٍَعٍََـ /fa la'allaka bākhi'un nafsaka 'alā āṡārihim il lam yu`minụ bihāżal-ḥadīṡi asafā/ “Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur'an).” (Q.S Al-Kahfi: 6)

Pada ayat di atas terdapat 3 (tiga) pronomina persona yaitu: kata َِك/ka/

“kamu” yang melekat pada kata َِلَيَعَى /la'allaka/ “barangkali engkau“ dan kata َِلَسْفَو /nafsaka/ “dirimu” terdapat pronomina persona kedua tunggal di dalamnya, yang memiliki kata ganti ذوا/anta/ “kamu” Pronomina ini mengacu kepada

„Muhammad‟. Referensi (acuan) pada ayat diatas berada diluar teks (eksofora).

Selanjutnya kata اُُْىِم ْإُِٔ ْمَى /lam yu`minụ/ “mereka tidak beriman” merupakan fi‟il muḍhāri‟ yang memiliki kata ganti مزوﺃ /antum/ “kamu” dan terdapat pronomina persona kedua jamak yang ditandai dengan َاَ /wā/ dan ﻒىﺃ /alif/. Pronomina ini mengacu kepada ayat 4. Referensi (acuan) pada ayat diatas berada diluar teks (eksofora) dan ketiga pronomina ini dinamakan anafora karena yang diacu dituturkan sebelum pronominanya.

7. Surah Al -Kahfi ayat 7

ًۜلََّعَُۜۜٓغْدَاُُُّْۜۜٙ٠َاٍَُُُْْۜۜ٘ٛجٌَِٕۜبَٙ ًٌۜخَْٕ٠ِصِۜضْسَ ْلّاٍََۜٝعۜبَِۜبٍََْٕعَجۜب ِٔا /innā ja'alnā mā 'alal-arḍi zīnatal lahā linabluwahum ayyuhum aḥsanu 'amalā/”Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.” (Q.S Al-Kahfi: 7).

(43)

Pada ayat di atas terdapat 5 (lima) pronomina persona yaitu: kata بَوِا /`innā/

“sesungguhnya kami” dan Kata َِهْيَع َجۜ /ja'alnā/ “Kami telah menjadikan” terdapat pronomina persona kedua jamak (mutakalim) yang ditandai dengan بوۜ/nā/ “kami”.

Pronomina ini mengacu pada kata ِِ َللّ/allah/"Allah" yang terdapat pada ayat 1.

Referensi (acuan) pada ayat diatas berada diluar teks (eksofora). Berikutnya pronominal persona ٌُ/huwa/ “dia” yakni pada kataۜبٌ/hā/ “nya” yang melekat pada kata بٍََىِ ًخَىِْٔص /zīnatal lahā/ “perhiasan baginya” merupakan pronomina persona ketiga tunggal, pronomina ini mengacu pada kata ِِض ْسَ ْلاا /al-arḍi/ “bumi”.

Referensi (acuan) pada ayat diatas berada didalam teks (endofora). Kata مٌُ

/hum/”mereka” yang melekat pada Kata ۜ ِْمٌَُُُيْجَىِى / linabluwahum/ “Kami menguji mereka” dan kata ِْۜمٍَُُّٔا /ayyuhum/ “siapakah diantara mereka” mengacu pada ayat 4. Referensi (acuan) pada ayat diatas berada diluar teks (eksofora). Kelima pronomina ini merupakan anafora karena yang diacu dituturkan sebelum pronominanya. Keterkaitan antar kalimat diatas diikat oleh salah satu alat kohesi yakni referensi persona هحو /nahnu/ ”kami”, ٌُِ /huwa/ “dia”, dan ِْمٌُ/hum/

“mereka” untuk menciptakan sebuah wacana yang utuh.

8. Surah Al -Kahfi ayat 8

ْۜۗاًصُشُجۜاًذْ١ِعَصۜبَْٙ١ٍََعۜبٍََُِِْْۜۜٛعبَجٌَۜب ِٔاَٚ

/wa innā lajā'ilụna mā 'alaihā ṣa'īdan juruzā/”Dan Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering. (Q.S Al-Kahfi: 8).

Pada ayat di atas terdapat 2 (dua) pronomina persona yaitu: Kata بو /nā/ “kami”

yang melekat pada kata بَوِا / innā/ “sesungguhnya kami” kata ini terdapat pronomina persona kedua jamak di dalamnya yang memiliki kata ganti هحو /naḥnu/ “kita”. pronomina ini mengacu kepada kata /ِِ َللّ/allah/"Allah" yang terdapat pada ayat 1. Referensi (acuan) pada ayat diatas berada diluar teks (eksofora). Berikutnya pronomina persona ٌُ/huwa/ “dia” yakni pada kata ۜ بٍََْٕيَع /'alaihā/ “diatasnya” pronomina ini mengacu pada kata ِِضْسَ ْلاا /al-arḍi/ “bumi”.

Referensi (acuan) pada ayat diatas berada didalam teks (endofora) dan ini disebut

Gambar

Tabel Klasifikasi Dhamir Munfasil (Ghulayaini, 2009: 124)
Tabel Klasifikasi Isim Isyarah (Ghulayayni, 2009 : 133)

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan kegiatan ini adalah: (1) Mampu memproduksi beras organic dan pupuk kompos super secara mandiri, (2) Mampu meningkatkan pendapatan petani anggota, (3) Sebagai

Peptida antimikroba dari bakteriosin yang dihasilkan dari bakteri asam laktat potensial untuk diterapkan pada industri pangan dan farmasi.. Karakteristik bakteriosin kelas

Pada tahap perencanaan ini dijelaskan bahwa model pembelajaran kooperatif ( picture and picture ) perlu dilakuakan dalam proses pembelajaran IPS dengan menggunakan

Indonesia merupakan negara dengan berbagai macam keanekaragaman yang unik dan indah. Setiap masyarakatnya memiliki adat, bahasa, kebiasaan, serta berbagai hal

DAFTAR LAMPI

S., Pengenalan Komputer (Seri Diktat Kuliah), Penerbit Gunadarma, Jakarta, Tahun 1992. Pengantar Algoritma dan pemrograman : Teknik Diagram Alur dan Bahasa Basic Dasar,

Partisipan dalam penelitian ini yaitu 42 mahasiswa semester 3, 5, dan 7 pada program studi PG PAUD di Universitas X di Purwokerto.Alat pengumpulan data menggunakankuesioner

Pada Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah Provinsi Sumatera Utara yang secara substansi telah sesuai dengan Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang,