• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENTERI DALAM JJJHFHUKUYHDHJMJhvjhvuhvuhvb

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MENTERI DALAM JJJHFHUKUYHDHJMJhvjhvuhvuhvb"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

MENTERI DALAM JJJHFHUKUYHDHJMJhvjhvuhvuhvb

MENTERI DALAM NEGERI

REPUBLIK INDONESIAMWNDF;OKJ HKHBM

BNMNM

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 21 TAHUN 2010

TENTANG

PEDOMAN EVALUASI DAERAH OTONOM HASIL PEMEKARAN SETELAH BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999

TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI DALAM NEGERI,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pembinaan dan menjamin terselenggaranya pemerintahan daerah pada daerah otonom hasil pemekaran setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah secara efektif, meningkatnya kualitas pelayanan publik, dan pemerataan pembangunan daerah serta percepatan terwujudnya kesejahteraan masyarakat, perlu melakukan evaluasi daerah otonom hasil pemekaran;

b. bahwa efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah pada daerah otonom hasil pemekaran setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah tersebut, perlu untuk diukur dan dievaluasi secara transparan dan akuntabel untuk memperoleh peta kapasitas penyelenggaraan pemerintahan daerah otonom hasil pemekaran dalam rangka percepatan pencapaian tujuan otonomi daerah;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam

(2)

Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355;

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan 4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, 5. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 200 Nomor 166,

T b h L b N R blik I d i N 4916)

6. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2008 tentang Anggaran

Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 171, Tambahan Lembaran 7. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman

Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, 8. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran 9. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan

Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat 10. Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 tentang Tata Cara

Pembentukan, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 162, Tambahan

(3)

11. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PEDOMAN EVALUASI DAERAH OTONOM HASIL PEMEKARAN SETELAH BERLAKUNYA UNDANG- UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH.

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:

1. Daerah Otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah, yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. Daerah Otonom Hasil Pemekaran yang selanjutnya disingkat DOHP adalah daerah otonom yang dibentuk setelah berlakunya Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

3. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau sebutan lainnya, menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

4. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

5. Evaluasi adalah proses yang sistematis untuk mengukur, memberi nilai secara obyektif dan valid, mengetahui dampak dari suatu kegiatan, dan untuk membantu dalam pengambilan keputusan, dengan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran (output), dan hasil (outcome) terhadap keberhasilan yang diharapkan.

(4)

Hasil Pemekaran adalah pengelompokkan daerah otonom hasil pemekaran berdasarkan faktor peningkatan kesejahteraan masyarakat, tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), ketersediaan pelayanan publik, dan peningkatan daya saing daerah.

7. Tim Evaluasi adalah Tim yang dibentuk Kementerian Dalam Negeri sesuai tugas dan fungsinya untuk melakukan persiapan, memfasilitasi, melaksanakan, dan menindaklanjuti hasil evaluasi daerah otonom hasil pemekaran setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

Pasal 2

(1) Menteri melakukan evaluasi daerah otonom hasil pemekaran setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

(2) Menteri dalam melakukan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) membentuk Tim Evaluasi Daerah Otonom Hasil Pemekaran setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

Pasal 3

(1) Tim Evaluasi Daerah Otonom Daerah Otonom Hasil Pemekaran Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) terdiri atas:

a. Tim Pengarah;

b. Tim Pelaksana;

c. Tim Penilai Teknis; dan d. Tim Kesekretariatan.

(2) Tim Evaluasi Daerah Otonom Hasil Pemekaran setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Menteri.

(5)

Pasal 4

(1) Tim Pengarah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a terdiri atas unsur:

a. Sekretariat Jenderal Kementerian Dalam Negeri;

b. Direktorat Jenderal Otonomi Daerah;

c. Direktorat Jenderal Bina Administrasi Keuangan Daerah;

d. Direktorat Jenderal Bina Administrasi Pembangunan Daerah;

e. Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa; dan f. Deputi Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan Daerah Badan

Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.

(2) Unsur Tim Pengarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Pasal 5

(1) Tim Pengarah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 mempunyai tugas:

a. menyusun kebijakan, strategi, dan sasaran evaluasi DOHP setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah; dan

b. memberikan arahan umum dan teknis kepada Tim Pelaksana, Tim Penilai Teknis, dan Tim Kesekretariatan dalam melakukan evaluasi DOHP setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

(2) Tim Pengarah dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab kepada Menteri.

Pasal 6

(1) Tim Pelaksana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b terdiri atas unsur:

a. Direktorat Pengembangan Kapasitas dan Evaluasi Kinerja Daerah Direktorat Jenderal Otonomi Daerah;

b. Sekretariat Direktorat Jenderal Otonomi Daerah;

c. Direktorat Penataan Daerah dan Otonomi Khusus Direktorat Jenderal Otonomi Daerah;

(6)

Otonomi Daerah;

e. Direktorat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dan Hubungan Antar Lembaga Direktorat Jenderal Otonomi Daerah;

f. Direktorat Pejabat Negara Direktorat Jenderal Otonomi Daerah;

g. Biro Hukum Sekretariat Jenderal;

h. Sekretariat Inspektorat Jenderal; dan

i. Deputi Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan Daerah Wilayah I Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.

(2) Unsur Tim Pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Pasal 7

(1) Tim Pelaksana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 mempunyai tugas:

a. merumuskan pelaksanaan evaluasi DOHP sejak proses persiapan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta penanganan pasca evaluasi DOHP; dan

b. melakukan kerjasama dengan pihak-pihak lain yang terkait demi kelancaran kegiatan evaluasi DOHP setelah berlakunya Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

(2) Tim Pelaksana dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab kepada Tim Pengarah.

Pasal 8

(1) Tim Pelaksana Teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf c terdiri atas unsur:

a. perguruan tinggi/akademisi;

b. perwakilan dunia usaha/asosiasi profesi;

c. organisasi kemasyarakatan/peneliti/pemerhati otonomi daerah;

d. lembaga swadaya masyarakat/non government organization/

lembaga donor; dan

e. perwakilan media massa (cetak dan/atau elektronik).

(7)

(2) Unsur Pelaksana Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Pasal 9

(1) Tim Pelaksana Teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 mempunyai tugas:

a. melakukan evaluasi DOHP setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah;

b. melakukan analisis kebijakan pemekaran daerah dalam kerangka penanganan pasca evaluasi DOHP;

c. merumuskan peta kapasitas penyelenggaraan pemerintahan DOHP; dan

d. merekomendasikan penanganan DOHP.

(2) Tim Pelaksana Teknis dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab kepada Tim Pelaksana.

Pasal 10

(1) Tim Kesekretariatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf d terdiri atas unsur:

a. Sub Direktorat pada Direktorat Pengembangan Kapasitas dan Evaluasi Kinerja Daerah Direktorat Jenderal Otonomi Daerah;

b. Bagian Perencanaan Sekretariat Direktorat Jenderal Otonomi Daerah;

c. Dosen Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN);

d. Seksi dan/atau Sub Bagian pada Direktorat Pengembangan Kapasitas dan Evaluasi Kinerja Daerah Direktorat Jenderal Otonomi Daerah; dan

e. Staf pada Direktorat Jenderal Otonomi Daerah.

(2) Unsur Tim Kesekretariatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Pasal 11

(1) Tim Kesekretariatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10

(8)

a. membantu Tim Pengarah, Tim Pelaksana, dan Tim Penilai Teknis dalam proses persiapan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring- evaluasi, analisis kebijakan pemekaran daerah otonom, dan penanganan pasca evaluasi DOHP; dan

b. memberikan dukungan administratif, mendokumentasikan, dan mempublikasikan kegiatan Tim Pengarah, Tim Pelaksana, dan Tim Penilai Teknis.

(2) Tim Kesekretariatan dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bertanggung jawab kepada Tim Pelaksana.

Pasal 12

Tim Pengarah, Tim Pelaksana, Tim Pelaksana Teknis, dan Tim Kesekretariatan dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pasal 7, Pasal 9, dan Pasal 11 berdasarkan pedoman evaluasi daerah otonom hasil pemekaran setelah berlakunya Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

Pasal 13

Pedoman evaluasi daerah otonom hasil pemekaran setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini.

Pasal 14

Peta Kapasitas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Otonom Hasil Pemekaran dikategorikan menjadi 5 (lima) sebagai berikut:

a. sangat mampu;

b. Mampu;

c. Kurang Mampu;

d. Tidak Mampu; dan e. Sangat Tidak Mampu.

Pasal 15

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

(9)

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 23 Februari 2010 MENTERI DALAM NEGERI,

GAMAWAN FAUZI

(10)

Lampiran  : Peraturan Menteri Dalam Negeri       Nomor  : 21 Tahun 2010        Tanggal  : 23 Februari 2010 

 

PEDOMAN EVALUASI 

 DAERAH OTONOM HASIL PEMEKARAN  

SETELAH BERLAKUNYA UNDANG­UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999   TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH 

   

                     

                                                       

Sepuluh tahun penyelenggaraan desentralisasi dan otonomi daerah, telah membentuk  205 DOHP, yang terdiri dari 7 provinsi, 164 kabupaten, dan 34 kota. Mencermati laju  pertumbuhan  DOHP  yang  relatif  tinggi,  pemerintah  melakukan  beberapa  upaya  pengendalian,  diantaranya  melalui  moratorium/penghentian  sementara  proses  pembentukan  daerah  otonom,  serta  penyempurnaan  peraturan  perundang­undangan  tentang  persyaratan  dan  tata  cara  pembentukan  daerah  otonom.  Idealnya  upaya  pengendalian  ini  disinergikan  dengan  evaluasi  terhadap  efektivitas  penyelenggaraan  pemerintahan daerah. 

Evaluasi ini bersifat umum yang difokuskan terhadap kinerja 205 DOHP. Kegiatan ini  dimaksudkan  Kegiatan  evaluasi  DOHP  ini  dimaksudkan  untuk  memetakan  kapasitas  penyelenggaraan pemerintahan daerah,  mengukur kinerja DOHP,  merekomendasikan  kebijakan tentang pengaturan pembentukan DOHP agar pembentukan daerah dimasa  mendatang  benar­benar  mampu  meningkatkan  kesejahteraan  masyarakat  di  daerah  yang  bersangkutan.    Lebih  dari  itu,  evaluasi  DOHP  juga  dilakukan  untuk  mengidentifikasi  isu­isu  strategis  dalam  perumusan  kebijakan  untuk  peningkatan  kinerja DOHPTujuan kegiatan evaluasi ini adalah:  

(a)  memahami,  menganalisis,  dan  memberikan  penilaian  terhadap  perkembangan  kinerja  DOHP  dan  daerah  induk,  utamanya  dalam:  peningkatan  kemakmuran,  kualitas tata pemerintahan, pelayanan publik, dan daya saing daerah;  

(b)  memetakan  kinerja  pemerintahan  daerah  pada  205  DOHP  dan  daerah  induknya,  serta  mengelompokannya  ke  dalam  berbagai  kategori  sesuai  dengan  ukuran  kinerjanya;  

(c)  mengembangkan program dan strategi yang tepat untuk perbaikan kinerja DOHP  dan daerah induk; dan  

(d)  merumuskan  kebijakan  yang  terkait  dengan  pembentukan,  penghapusan,  dan  penggabungan suatu daerah otonom di Indonesia.  

Semboyan  (tagline)  yang  digunakan  dalam  evaluasi  DOHP  ini  adalah:  “Menuju  Tata  Kelola Pemerintahan Daerah yang Lebih Baik (Towards Better Local Governance)”.  

Akselerator  kegiatan  evaluasi  DOHP  terdiri  atas  4  (empat)  elemen,  yaitu:  1)  Tim  Pengarah; 2) Tim Pelaksana; 3) Tim Penilai Teknis; dan 4) Tim Kesekretariatan.  

(11)

DAFTAR ISI   

 

TIM EVALUATOR/PENILAI     

     

KATA PENGANTAR     

     

DAFTAR ISI     

     

I.  PENDAHULUAN   

  1.1.  Latar Belakang    3

  1.2.  Maksud, Tujuan, dan Sasaran    3

  1.3.  Periodisasi Daerah Pemekaran    4

  1.4.  Semboyan (Tagline)    6

  1.5.  Organisasi Evaluator    6

  1.6.  Landasan Hukum    7

         

II.  KONSEP DAN METODA EVALUASI   

  2.1.  Kerangka Konseptual Evaluasi Daerah Otonom Hasil  Pemekaran (DOHP) 

  9

  2.2.  Faktor, Variabel, dan Indikator Evaluasi    12

  2.3.  Definisi Operasional    15

    2.3.1.  Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat    15     2.3.2.  Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik (Good 

Governance)     20

    2.3.3.  Ketersediaan Pelayanan Publik    32

    2.3.4.   Peningkatan Daya Saing Daerah     43

         

III.  PROSEDUR DAN TATA CARA PENILAIAN    53 

  3.1.  Tahapan Evaluasi DOHP    53

  3.2.  Metode Penilaian Dalam Rangka Evaluasi DOHP    61

         

IV.  PENUTUP    59 

         

         

LAMPIRAN: 

1. Formulir F – 01   Kuesioner Data Umum  

2. Formulir F – 02   Kuesioner Indikator Kinerja Daerah Otonom Hasil 

  Pemekaran (DOHP) 

3. Daftar Daerah Otonom Hasil Pemekaran (DOHP) dan Daerah Induk (DI)   

                 

 

(12)

I. PENDAHULUAN   

1.1. Latar Belakang   

Memasuki  10  (sepuluh)  tahun  era  otonomi  daerah,  pemerintahan  daerah  dituntut  dapat  mewujudkan  tujuan  otonomi  daerah  (TOD)  sesuai  amanah  Undang‐Undang  (UU)  Nomor  32  Tahun  2004  Tentang  Pemerintahan  Daerah. 

Dalam  konteks  ini,  sampai  saat  ini  telah  terjadi  pemekaran  terhadap  beberapa  provinsi, kabupaten, dan kota. Landasan kebijakan yang memberi  peluang bagi  pembentukan daerah otonom hasil pemekaran (DOHP), atau yang lazim disebut  sebagai pemekaran daerah telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor  129  Tahun  2000  Tentang  Tata  Cara  Pembentukan,  Penghapusan,  dan  Penggabungan  Daerah  yang  kemudian  direvisi  menjadi  PP  Nomor  78  Tahun  2007. 

 

Berdasarkan  UU  Nomor  32  Tahun  2004,  pembentukan  daerah  pada  dasarnya  bertujuan  untuk  meningkatkan  kualitas  pelayanan  publik  dan  memeratakan  pembangunan  guna  mempercepat  terwujudnya  kesejahteraan  masyarakat. 

Proses  pembentukan  daerah  didasari  pada  3  (tiga)  persyaratan,  yakni  administratif,  teknis,  dan  fisik  kewilayahan.  Dengan  persyaratan  dimaksud  diharapkan  agar  daerah  yang  baru  dibentuk  dapat  tumbuh,  berkembang  dan  mampu  menyelenggarakan  otonomi  daerah  dalam  rangka  meningkatkan  pelayanan  publik  yang  optimal  guna  mempercepat  terwujudnya  kesejahteraan  masyarakat  dan  dalam  rangka  memperkokoh  keutuhan  Negara  Kesatuan  Republik Indonesia. 

 

Sejak  1999  hingga  Februari  2009  telah  dibentuk  205  daerah  otonom  hasil  Pemekaran  (DOHP),  yang  terdiri  dari  7  provinsi,  164  kabupaten,  dan  34  kota. 

Mencermati  laju  pertumbuhan  DOHP  yang  relatif  tinggi  ini,  pemerintah  telah  melakukan beberapa upaya pengendalian, diantaranya melalui moratorium atau  penghentian  sementara  proses  pembentukan  daerah  otonom  hasil  pemekaran  (DOHP),  serta  penyempurnaan  peraturan  perundang‐undangan  tentang  persyaratan  dan  tatacara  pembentukan  daerah  otonom.  Upaya  pengendalian  tersebut perlu disinergikan dengan upaya untuk mencari berbagai terobosan dan  inovasi  dalam  peningkatan  kualitas  pelayanan  publik  dan  pemerataan  pembangunan demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat yang menjadi tujuan  pemekaran  daerah  itu  sendiri.  Hal  mendasar  yang  perlu  segera  diwujudkan  adalah melakukan evaluasi daerah otonom hasil pemekaran daerah di 205 DOHP  serta mencermati kembali keberadaan dan kinerja pemerintah daerah induknya. 

   

1.2. Maksud, Tujuan, dan Sasaran   

Kegiatan  evaluasi  DOHP  ini  dimaksudkan  untuk  memetakan  kapasitas  penyelenggaraan  pemerintahan  daerah,  mengukur  kinerja  DOHP,  merekomendasikan  kebijakan  tentang  pengaturan  pembentukan  DOHP  agar  pembentukan  daerah  dimasa  mendatang  benar‐benar  mampu  meningkatkan  kesejahteraan masyarakat di daerah yang bersangkutan.  Lebih dari itu, evaluasi 

(13)

DOHP juga dilakukan untuk mengidentifikasi isu‐isu strategis dalam perumusan  kebijakan untuk peningkatan kinerja DOHP.  

 

Cakupan  lokasi  kegiatan  evaluasi  meliputi  205  (dua  ratus  lima)  DOHP  yang  terdiri atas 7 (tujuh) provinsi, 164 (seratus enam puluh empat) kabupaten, dan  34  (tiga  puluh  empat)  kota  (Daftar  DOHP  Terlampir).  Selain  itu,  evaluasi  juga  dilakukan terhadap sekitar 140 (seratus empat puluh) pemerintah daerah induk  (DI) sebelum dilakukan pemekaran daerah. Dengan mengevaluasi kinerja daerah  induk,  pasca  pemekaran  daerah,  kajian  ini  diharapkan  juga  dapat  memberi  informasi tentang efek pemekaran terhadap kinerja daerah induk. 

 

Memperhatikan  hal‐hal  tersebut,  terdapat  4  (empat)  tujuan  evaluasi  DOHP,  yaitu: 

a. Memahami,  menganalisis,  dan  memberikan  penilaian  terhadap  perkembangan  kinerja  DOHP  dan  daerah  induk,  utamanya  dalam: 

peningkatan kemakmuran, kualitas tata pemerintahan, pelayanan publik, dan  daya saing daerah. 

b. Memetakan  kinerja  pemerintahan  daerah  pada  205  DOHP  dan  daerah  induknya,  serta  mengelompokannya  ke  dalam  berbagai  kategori  sesuai  dengan ukuran kinerjanya. 

c. Mengembangkan  program  dan  strategi  yang  tepat  untuk  perbaikan  kinerja  DOHP dan daerah induk. 

d. Merumuskan kebijakan yang terkait dengan pembentukan, penghapusan, dan  penggabungan suatu daerah otonom di Indonesia.  

 

Berdasarkan maksud dan tujuan tersebut, maka sasaran yang ingin dicapai dari  evaluasi DOHP, yaitu: 

a. Tersedianya informasi tentang kinerja penyelenggaraan pemerintahan pada  DOHP; 

b. Teridentifikasikannya  faktor‐faktor  yang  memengaruhi  efektivitas  penyelenggaraan pemerintahan daerah pada DOHP; 

c. Terpetakannya kebutuhan pengembangan kapasitas pada DOHP; 

d. Melakukan  pembinaan  dan  pengawasan  terhadap  penyelenggaraan  urusan  pemerintahan pada DOHP.  

    

1.3. Periodisasi Daerah Pemekaran   

Dalam  10  tahun  pertama  sejak  kemerdekaan,  jumlah  kabupaten/kota  di  Indonesia terhitung baru sekitar 101 yurisdiksi. Antara tahun 1956‐1959, jumlah  ini cepat membesar dari 149 (1956), menjadi 177 (1958), dan berubah menjadi  254  kabupaten/kota  (1959).  Namun,  sejak  tahun  1960  hingga  33  tahun  kemudian, kecepatan pertambahan jumlah kabupaten/kota praktis rendah.  

 

Tahun  1966,  hanya  dibentuk  6  kabupaten/kota  baru,  sehingga  secara  keseluruhan  ada  260  kabupaten/kota  yang  mewarnai  landscape  administrasi  Indonesia.  Jumlah  ini  bertambah  9  daerah  saja  untuk  menjadi  269  kabupaten/ 

kota  di  tahun  1970,  lalu  meningkat  6  daerah,  sehingga  menjadi  275  kabupaten/kota  di  tahun  1980‐an.  Diparuh  akhir  1980‐an  terbentuk  tak  lebih  dari 2 daerah kabupaten/kota baru untuk menjadi 277, sebelum ia naik menjadi 

(14)

280  yurisdiksi  memasuki  tahun  1990‐an.  Secara  total  340  kabupaten/kota  mewarnai awal reformasi pemerintahan daerah di Indonesia. 

 

Dimasa  reformasi  pemerintahan  dan  kebijakan  pengguliran  desentralisasi,  jumlah  kabupaten/kota  menjadi  lebih  besar  lagi.  Tahun  2001  tak  kurang  dari  353  kabupaten/kota.  Tahun  2002  menjadi  390,  sebelum  melonjak  ke  440  (2003). Tahun 2007 tercatat 465 kabupaten/kota dan di tahun 2008 mencapai  498 kabupaten/kota.  

 

Pada  tahun  1999,  Timor  Timur  memisahkan  diri  dari  Indonesia  dan  berada  di  bawah PBB hingga merdeka penuh pada tahun 2002. Indonesia kembali memiliki  26 Provinsi. Sementara itu, pada era reformasi, terdapat pemekaran disejumlah  Provinsi di Indonesia.  

Ketujuh provinsi pemekaran di Indonesia sejak tahun 1999 adalah: 

a. Maluku  Utara  dengan  Ibukota  Sofifi‐Ternate,  dimekarkan  dari  Provinsi  Maluku, menjadi Provinsi Indonesia ke‐27 pada tanggal 4 Oktober 1999; 

b. Banten dengan Ibukota Serang dimekarkan dari Provinsi Jawa Barat, menjadi  Provinsi Indonesia ke‐28 pada tanggal 17 Oktober 2000; 

c. Kepulauan Bangka Belitung dengan Ibukota Pangkal Pinang, menjadi Provinsi  Indonesia ke‐29 pada tanggal 4 Desember 2000; 

d. Gorontalo  dengan  Ibukota  Gorontalo,  dimekarkan  dari  Provinsi  Sulawesi  Utara, menjadi Provinsi ke‐30 pada tanggal 22 Desember 2000; 

e. Irian Jaya Barat dengan Ibukota Manokwari, dimekarkan dari Provinsi Papua  menjadi  Provinsi  Indonesia  ke‐31  pada  tanggal  21  November  2001.  Pada  tanggal 11 November 2001,  Provinsi Papua dimekarkan pula Provinsi baru  Irian  Jaya  Tengah.  Namun  pemekaran  ini  akhirnya  dibatalkan  karena  mendapat banyak tentangan; 

f. Kepulauan  Riau  dengan  Ibukota  Tanjung  Pinang,  dimekarkan  dari  Provinsi  Riau, menjadi Provinsi Indonesia ke‐32 pada tanggal 25 Oktober 2002; 

g. Sulawesi Barat dengan Ibukota Mamuju, dimekarkan dari Provinsi  Sulawesi  Selatan, menjadi Provinsi Indonesia ke‐33 pada tanggal 5 Oktober 2004. 

 

Kelahiran  ratusan  DOHP  tersebut  menambah  daftar  daerah  sebelumnya,  sehingga pada awal tahun 2009 terdapat 524 daerah otonom yang meliputi 33  provinsi,  398  kabupaten,  dan  93  kota.  Laju  perkembangan  setiap  tahun  menunjukan kecenderungan yang fluktuatif, dengan beberapa tahun diantaranya  pernah  mencapai  nol  (zero)  pemekaran  sebagaimana  disajikan  pada  tabel  berikut. 

                     

(15)

Tabel 1.1. 

Perkembangan Daerah Otonom Hasil Pemekaran (DOHP)  Setelah Berlakunya UU Nomor 22 Tahun 1999  

Tentang Pemerintahan Daerah   

No.  Tahun  Provinsi  Kabupaten  Kota  ∑ 

Prov/Kab/Kota  DOHP 

  Sebelum 1999  26  234  59  319 

1.  1999  2 34 9 45 

2.  2000  3

3.  2001  12 12 

4.  2002  1 33 4 38 

5.  2003  0 47 2 49 

6.  2004  1

7.  2005 

8.  2006 

9.  2007  21 4 25 

10.  2008  27 3 30 

11.  2009  2

  DOHP  Pasca  UU  No. 

22/1999  7 164 34 205 

  Total Pemda (2009)  33  398  93  524 

Sumber: Data Diolah dari berbagai sumber. 

 

Data pemekaran provinsi/kabupaten/kota di Indonesia yang sudah berlangsung  pasca  ditetapkannya  UU  Nomor  22  Tahun  1999  tentang  Pemerintahan  Daerah  beserta daerah induknya disajikan dalam lampiran tersendiri.  

   

1.4. Semboyan (Tagline)   

Menuju Tata Kelola Pemerintahan Daerah yang Lebih Baik (Towards  Better Local  Governance). 

   

1.5. Organisasi Evaluator   

Akselerator kegiatan evaluasi DOHP terdiri atas 4 (empat) elemen, yaitu: 

1) Tim  Pengarah,  diketuai  oleh  Direktur  Jenderal  Otonomi  Daerah  dan  beranggotakan  beberapa  pejabat  Eselon  I  dan  Eselon  II  dari  lingkungan  Departemen  Dalam  Negeri  dan  Badan  Pengawasan  Keuangan  dan  Pembangunan  (BPKP).  Lingkup  tugas  Tim  Pengarah  adalah  memberi  arahan  dalam  proses  penyusunan  rencana,  pelaksanaan  evaluasi  sampai  dengan  penetapan,  pemetaan  kapasitas  penyelenggaraan  pemerintahan  DOHP,  dan  penyampaian  apresiasi/penghargaan  serta  upaya  penanganan  pasca evaluasi. 

   

(16)

2) Tim  Pelaksana,  diketuai  oleh  Direktur  Pengembangan  Kapasitas  dan  Evaluasi Kinerja Daerah (PK‐EKD) Direktorat Jenderal Otonomi Daerah dan  beranggotakan  beberapa  pejabat  Eselon  II  dan  Eselon  III  dari  lingkungan  Departemen  Dalam  Negeri  dan  Badan  Pengawasan  Keuangan  dan  Pembangunan (BPKP). Lingkup tugas Tim Pelaksana adalah melaksanakan  program evaluasi DOHP yang diawali dari proses persiapan, perencanaan,  pelaksanaan,  monitoring  dan  evaluasi,  pendampingan,  peninjauan  lapangan, serta penanganan pasca evaluasi; 

 

3) Tim Penilai Teknis (Pakar Independen), adalah Tim yang dibentuk dan  ditetapkan  dengan  keputusan  pejabat  Eselon  I.  Berkedudukan  di  bawah  koordinasi Direktur Pengembangan Kapasitas dan Evaluasi Kinerja Daerah  (PK‐EKD)  Direktorat  Jenderal  Otonomi  Daerah.  Keanggotaan  Tim  Penilai  teknis  terdiri    dari  9  (sembilan)  orang  anggota  yang  bersifat  profesional  dan mandiri meliputi unsur: a) Perguruan Tinggi/Akademisi; b) Perwakilan  Dunia  Usaha/Asosiasi  Profesi;  c)  Organisasi  Kemasyarakatan/Peneliti/ 

Pemerhati  Otonomi  Daerah;  d)  LSM/NGO/Lembaga  Donor;  dan  e)  Perwakilan Media Massa (cetak dan/atau elektronik).  

Tim  Penilai  Teknis  bertugas  melakukan  evaluasi,  penilaian,  peninjauan  lapangan  (fact  finding  mission),  melakukan  analisis  kebijakan  pemekaran,  dan pemetaan kapasitas penyelenggaraan pemerintahan daerah (DOHP). 

 

4) Tim Kesekretariatan, diketuai oleh pejabat Eselon III dan beranggotakan  beberapa  pejabat  Eselon  IV  dan  Staf  di  lingkungan  Departemen  Dalam  Negeri.  Lingkup  tugas  Tim  Kesekretariatan  adalah  membantu  Tim  Pengarah,  Tim  Pelaksana,  dan  Tim  Penilai  Teknis  (Pakar  Independen)  dalam  proses  persiapan,  perencanaan,  pelaksanaan,  monitoring  dan  evaluasi,  pendampingan/peninjauan  lapangan  (fact  finding  mission)  serta  membantu penanganan pasca evaluasi DOHP. 

   

1.6. Landasan Hukum   

1. Undang‐Undang  Nomor  17  Tahun  2003  Tentang  Keuangan  Negara  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2003  Nomor  47,  Tambahan  Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 

2. Undang‐Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan  dan  Tanggung  Jawab  Keuangan  Negara  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2004  Nomor  66,  Tambahan  Lembaran  Negara  Republik  Indonesia Nomor 4400); 

3. Undang‐Undang  Nomor  25  Tahun  2004  Tentang  Sistem  Perencanaan  Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004  Nomor  104,  Tambahan  Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Nomor  4421); 

4. Undang‐Undang  Nomor  32  Tahun  2004  Tentang  Pemerintahan  Daerah  (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan  Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Nomor  4437)  sebagaimana  telah  diubah  beberapa  kali,  terakhir  dengan  Undang‐Undang  Nomor  12  Tahun  2008  Tentang  Perubahan  Kedua  atas  Undang‐Undang  Nomor  32  Tahun 

(17)

2004  Tentang    Pemerintahan  Daerah  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2008  Nomor  59,  Tambahan  Lembaran  Negara  Republik  Indonesia Nomor 4844); 

5. Undang‐Undang  Nomor  33  Tahun  2004  Tentang  Perimbangan  Keuangan  Antara  Pemerintah  Pusat  dan  Pemerintahan  Daerah  (Lembaran  Negara  Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara  Republik Indonesia Nomor 4438); 

6. Undang‐Undang  Nomor  17  Tahun  2007  Tentang  Rencana  Pembangunan  Jangka  Panjang  Nasional  Tahun  2005‐2025  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2007  Nomor  33,  Tambahan  Lembaran  Negara  Republik  Indonesia Nomor 4700); 

7. Undang‐Undang  Nomor  39  Tahun  2008  Tentang  Kementerian  Negara  (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan  Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916); 

8. Peraturan  Pemerintah  Nomor  58  Tahun  2005  Tentang  Pengelolaan  Keuangan  Daerah  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2005  Nomor  140,  Tambahan  Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Nomor  4578); 

9. Peraturan  Pemerintah  Nomor  65  Tahun  2005  Tentang  Pedoman  Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara  Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara  Republik Indonesia Nomor  4585); 

10. Peraturan  Pemerintah  Nomor  79  Tahun  2005  Tentang  Pedoman  Pembinaan  dan  Pengawasan  Penyelenggaraan  Pemerintahan  Daerah  (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan  Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); 

11. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Pelaporan Keuangan  dan  Kinerja  Instansi  Pemerintah  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2006  Nomor  25,  Tambahan  Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Nomor 4614); 

12. Peraturan  Pemerintah  Nomor  39  Tahun  2006  Tentang  Tata  Cara  Pengendalian  dan  Evaluasi  Pelaksanaan  Rencana    Pembangunan  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2006  Nomor  96,  Tambahan  Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663); 

13. Peraturan  Pemerintah  Nomor  3  Tahun  2007  Tentang  Laporan  Penyelenggaraan  Pemerintahan  Daerah  Kepada  Pemerintah,  Laporan  Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah Kepada Dewan Perwakilan  Rakyat  Daerah,  dan  Informasi  Laporan  Penyelenggaraan  Pemerintahan  Daerah  Kepada  Masyarakat  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2007  Nomor  19,  Tambahan  Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Nomor  4693); 

14. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan  Pemerintahan  Antara  Pemerintah,  Pemerintahan  Daerah  Provinsi,  dan  Pemerintahan  Daerah  Kabupaten/Kota  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2007  Nomor  82,  Tambahan  Lembaran  Negara  Republik  Indonesia Nomor 4737); 

15. Peraturan  Pemerintah  Nomor  78  Tahun  2007  Tentang  Tata  Cara  Pembentukan, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah (Lembaran Negara  Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 162, Tambahan Lembaran Negara  Republik Indonesia Nomor 4791); 

(18)

16. Peraturan  Pemerintah  Nomor  6  Tahun  2008  Tentang  Pedoman  Evaluasi  Penyelenggaraan  Pemerintahan  Daerah  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2008  Nomor  19,  Tambahan  Lembaran  Negara  Republik  Indonesia Nomor 4815); 

17. Peraturan  Pemerintah  Nomor  8  Tahun  2008  Tentang  Tahapan,  Tata  Cara  Penyusunan,  Pengendalian  dan  Evaluasi  Pelaksanaan  Rencana  Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008  Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); 

18. Keputusan  Menteri  Dalam  Negeri  Nomor  130  Tahun  2003  Tentang  Organisasi  dan  Tata  Kerja  Departemen  Dalam  Negeri  Sebagaimana  Telah  Diubah  Dua Kali Terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor  50 Tahun 2008. 

   

II. KONSEP DAN METODA EVALUASI   

2.1. Kerangka Konseptual Evaluasi Daerah Otonom Hasil Pemekaran  Aktivitas  evaluasi  terhadap  205  daerah  otonom  hasil  pemekaran  (DOHP)  ini  dilandasi  semangat  untuk  mengetahui  sejauhmana  keberhasilan  pencapaian  tujuan  otonomi  daerah  setelah  suatu  daerah  mengalami  pemekaran.  Beberapa  peraturan yang mendasari pelaksanaan evaluasi tematik ini diantaranya adalah  amanat  PP  Nomor  6  Tahun  2008  Tentang  Pedoman  Evaluasi  Penyelenggaraan  Pemerintahan  Daerah  dan  PP  Nomor  39  Tahun  2006  Tentang  Tata  Cara  Pengendalian  dan  Evaluasi  Pelaksanaan  Rencana  Pembangunan  dengan  tetap  memperhatikan  PP  Nomor  78  Tahun  2007  yang  secara  spesifik  mengatur  tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah.  

 

Berdasarkan Pasal 1 Angka 3 PP Nomor 39 Tahun 2006 yang dimaksud dengan 

“Evaluasi” adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input),   keluaran (output), dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Sementara  itu, menurut Pasal 1 Angka 13 PP Nomor 6 Tahun 2008, yang dimaksud dengan 

“Evaluasi  Penyelenggaraan  Pemerintahan  Daerah  (EPPD)  adalah  suatu  proses  pengumpulan  dan  analisis  data  secara  sistematis  terhadap  kinerja  penyelenggaraan  pemerintahan  daerah,  kemampuan  penyelenggaraan  otonomi  daerah,  dan  kelengkapan  aspek‐aspek  penyelenggaraan  pemerintahan  pada  daerah yang baru dibentuk (DOHP). 

 

Evaluasi  yang  akan  dilakukan  ini  adalah  evaluasi  yang  bersifat  khusus  untuk  menilai  kinerja  DOHP  dan  daerah  induk  dalam  rangka  merumuskan  kebijakan  untuk  penataan  daerah,  terutama  dalam  pengendalian  pembentukan  daerah  otonom  baru.  Evaluasi  dilakukan  untuk  menilai  apakah  pembentukan  DOHP  mampu  mewujudkan  tujuan  dari  pembentukan  daerah  otonom,  yaitu: 

peningkatan  kesejahteraan  rakyat,  terwujudnya  good  governance,  penyelenggaraan pelayanan publik, dan daya saing daerah.  Melalui evaluasi ini  maka  diharapkan  pemerintah  dan  pemangku  kepentingan  lainnya  memiliki  informasi  yang  memadai  tentang  kinerja  DOHP,  unsur‐unsur  yang  membentuk  kinerja DOHP, dan klasifikasi daerah menurut ukuran kinerjanya. Hasil evaluasi  dapat  digunakan  untuk  merumuskan  kebijakan  dalam  rangka  pengaturan 

(19)

kembali persyaratan dan mekanisme pembentukan daerah, peningkatan  kinerja  daerah, dan penataan kembali daerah otonom.  

 

Secara  visual  faktor,  variabel,  dan  indikator  yang  digunakan  untuk  melakukan  evaluasi kinerja DOHP dapat dilihat dalam grafik berikut. 

                                                                                         

(20)

       

     

                                 

     

       

     

          Gambar 2.1. 

Kerangka Konseptual Evaluasi Daerah Otonom Hasil Pemekaran (DOHP) 

   

Faktor­faktor Evaluasi  205 

DOHP 

Variabel/Indikator  1.   Peningkatan 

Kemakmuran  Masyarakat  a. Laju Pertumbuhan 

PDRB Per Kapita  b. Pengurangan Angka 

Kemiskinan  c. Kebijakan (Perda, 

Program, Renstra,  Kegiatan)  Pemberdayaan  Penduduk miskin   

2.   Berkurangnya  Ketimpangan Gender  a. Produk Hukum 

(Perda,  Peraturan/Keputus an Kepala Daerah)  Tentang Kesetaraan  Gender dan/atau  Pemberdayaan  Perempuan   b. Bentuk 

Kelembagaan Yang  Menangani  Kesetaraan Gender  dan/atau  Pemberdayaan  Perempuan  (Badan/Dinas/ 

Kantor) 

MetodAnalisiVariabel &  Indikator 

Variabel/Indikator  1. Efektivitas 

a. Ketepatan Waktu Daerah  Menetapkan APBD  b. Daya Serap Anggaran 

(APBD) Per Tahun  2. Tranparansi 

a.  Produk Hukum Daerah  Untuk Transparansi  b.  Publikasi APBD dan  Pengadaan Barang/Jasa  (Procurement)  3.  Akuntabilitas 

a.   Pelembagaan  Penanganan Pengaduan  Masyarakat  b.  Pakta Integritas/Kontrak 

Kinerja  c.  Publikasi 

Pertanggungjawaban  Pelaksanaan APBD  d.  Persentase Belanja DPRD 

dan Persentase Belanja  Kepala Daerah Terhadap  APBD 

4.  Partisipasi  a.   Konsultasi Publik Dalam 

Setiap Proses  Penyusunan Perda,  APBD, dll. 

b.  Jumlah Perda Inisiatif  DPRD 

Variabel/Indikator  1. Pendidikan 

a. Persentase Anggaran  Pendidikan Terhadap  APBD 

b. Angka Partisipasi Kasar  Kasar (APK) Pendidikan  SD/Sederajat, SMP/ 

Sederajat, dan SMA/ 

Sederajat  2. Kesehatan  

a. Persentase Anggaran  Kesehatan Terhadap  APBD  b. Persentase Balita Gizi 

Buruk (BGB)  3. Penyediaan Sarana dan 

Prasarana Pelayanan  Umum 

a. Akses Terhadap Air  Bersih dan Sanitasi  b. Panjang Jalan Per Luas 

Wilayah  (Prov/Kab/Kota)  c. Inisiatif Pemda untuk 

Menangani Krisis Listrik  4. Pelayanan Tata Kelola 

Administrasi  Kependududukan  a. Persentase Kepemilikan 

Kartu Tanda Penduduk  (KTP) 

b. Persentase Kepemilikan     Akta  Kelahiran

Analisis  Kuantitatif  Analisis 

Kualitatif 

Kualifikasi   Kinerja DOHP 

Pasca Evaluasi DOHP: Penyusunan Konsep Pengembangan Kapasitas Aparatur Pemda  (Capacity Building Action Plans) 

Peningkatan  Kesejahteraan 

Masyarakat 

Good  

Governance  Ketersediaan 

Pelayanan   Publik 

  TOD 

Daerah Otonom Hasil Pemekaran  (DOHP) 

Daerah Induk  (DI)  Pola   Analisis   

Rekomendasi  Kebijakan/Regulasi 

Pemekaran Daerah 

Variabel/Indikator  1. Kebijakan Daerah 

a. Perda “Tata Ruang” 

b. Produk Hukum Daerah (Perda,  Per./Kep. KDH) yang  Memberikan Perlindungan  Lingkungan Hidup   c. Produk Hukum Daerah yang 

Memberikan Insentif dan/atau  Kemudahan Kepada Investor  untuk Keringanan/Penghapusan  Biaya Pajak dan Retribusi  Daerah (yang Tertera dalam  Perda, Per./Kep. KDH)  2. Kelembagaan Daerah 

a.  Tipologi Institusi Pelayanan  Terpadu 

b.  Ketersediaan Informasi Potensi  Ekonomi Daerah yang  Ditampilkan Dalam Situs Web  Pemda 

3. Fasilitasi Investasi  a. Anggaran Program 

Pengembangan Usaha untuk  UMKM  

b. Forum Komunikasi Reguler KDH  (dan Jajaran SKPD Terkait)  dengan Pelaku Usaha yang  Menjamin Terlaksananya  Kebijakan Pro‐investasi secara  Konsisten  

4. Realisasi Investasi  a. Jumlah Realisasi Investasi  b. Nilai Realisasi Investasi 

Peningkatan  Daya Ssaing  Daerah  

 Langkah­langkah Kualifikasi Kinerja DOHP: 

a. Pengumpulan Data dengan Instrumen yang sama untuk  DOHP dan DI; 

b. Melakukan  Pembobotan  untuk  data  yang  terkumpul  sebagai  dasar  penentuan  “Angka  Capaian”  kinerja  DOHP  setiap  tahunnya,  baik  untuk  DOHP  maupun  DI. 

“Angka  Capaian”  kinerja  DOHP  ini  menjadi  dasar  penentuan  kualifikasi  sebagai  “Daerah  Mampu”  atau  

“Daerah  Belum  Mampu”.  Patokan  angka  batas  kemampuan ditetapkan dari rata‐rata “Angka Capaian” 

kinerja  DI  secara  regional  (rata‐rata  DI  di  suatu  provinsi  untuk  kabupaten/kota,  atau  rata‐rata  DI  secara nasional untuk provinsi). 

c. Dihitung angka perkembangan (trend) untuk DOHP dan  DI. Angka tersebut kemudian diperbandingkan, dengan  tujuan  untuk  mengidentifikasi  kemajuan  yang  telah  dicapai DOHP dibandingkan dengan DI‐nya. 

(21)

Evaluasi  terhadap  daerah  induk  dilakukan  untuk  melihat  efek  dari  pemekaran  terhadap daerah induk. Observasi terhadap beberapa daerah induk menunjukan  adanya pengalaman‐pengalaman yang berbeda‐beda antardaerah. Untuk melihat  secara umum efek dari pemekaran terhadap daerah induk, maka dalam kajian ini  evaluasi  yang  sama  dilakukan  pada  daerah  yang  mengalami  pemekaran.  Hasil  kajian  ini  diharapkan  dapat  menghasilkan  informasi  tentang  dinamika  yang  terjadi di daerah sebagai akibat dari terpecahnya daerah tersebut kedalam dua  atau lebih daerah otonom. 

   

2.2. Faktor, Variabel, dan Indikator Evaluasi   

Kinerja DOHP dalam evaluasi ini dilihat dari 4 (empat) aspek atau faktor, yaitu: 

kesejahteraan  masyarakat,  tata  pemerintahan  yang  baik  (good  governance),  pelayanan  publik,  dan  daya  saing  daerah.  DOHP  dinilai  memiliki  kinerja  yang  baik  apabila  daerah  tersebut  mampu  meningkatkan  kesejahteraan  masyarakatnya  di  daerah,  mewujudkan  tata  pemerintahan  yang  baik,  menyelenggarakan  pelayanan  publik,  dan  meningkatkan  daya  saing  daerah.  

Keempat faktor ini nantinya membentuk kinerja DOHP.  

Untuk  menilai  peningkatan  kesejahteraan  masyarakat,  evaluasi  ini  akan  mengukur  peningkatan  kemakmuran  masyarakat  dan  berkurangnya  ketimpangan gender. Dua variabel ini diharapkan dapat menggambarkan bukan  hanya  peningkatan  kemakmuran  tetapi  juga  bagaimana  peningkatan   kemakmuran itu terdistribusi secara adil, setidak‐tidaknya dilihat dari perspektif  gender.  Peningkatan  tata  pemerintahan  yang  baik  (good  governance)  yang  terjadi  di  DOHP  akan  dilihat  dari  perubahan  pada  4  (empat)  variabel,  yaitu: 

efektivitas  penyelenggaraan  pemerintahan,  transparansi,  akuntabilitas,  dan  partisipasi.  DOHP  dinilai  memiliki  kualitas  tata  pemerintahan  yang  baik,  jika  daerah tersebut memiliki nilai yang tinggi pada keempat variabel tersebut. 

 

Faktor ketiga yang digunakan untuk menilai kinerja DOHP adalah  ketersediaan  pelayanan  publik.  Ketersediaan  pelayanan  publik  akan  dinilai  dari  4  (empat)  variable,  yaitu:  pelayanan  pendidikan,  kesehatan,  penyediaan  sarana  dan  prasarana  umum,  dan  pelayanan  administrasi  kependudukan.    Keempat  jenis  pelayanan  publik  ini  dinilai  mampu  menggambarkan  kebutuhan  dasar  masyarakat  untuk  dapat  mewujudkan  kesejahteraan  sosial  dan  ekonominya. 

Pendidikan,  kesehatan,  prasarana  umum,  dan  identitas  kewargaaan  adalah  bagian dari kebutuhan dasar yang penting dari kehidupan masyarakat. 

Faktor  yang  terakhir  adalah  peningkatan  daya  saing  daerah.  Faktor  ini  akan  dinilai  dari  berbagai  variabel  sebagai  berikut:  kebijakan  daerah  yang  pro‐

investasi,  kelembagaan  daerah,  fasilitasi  investasi,  dan  kinerja  investasi.  

Keempat  variabel  ini  diharapkan  mampu  menggambarkan  secara  lengkap  perbaikan  daya  saing  daerah  sebagai  akibat  dari  terbentuknya  daerah  otonom  baru.  Perbaikan  daya  saing  dalam  evaluasi  ini  dilihat  secara  menyeluruh  mencakup  perubahan  kebijakan,  penguatan  kelembagaan,  implementasi,  dan  hasil  dari  perbaikan  daya  saing  daerah  yang  diukur  dari  jumlah  dan  nilai    realisasi investasi.  

Secara  lengkap  faktor,  variabel,  dan  indicator  dari  kinerja  DOHP  dapat  dilihat  pada tabel berikut ini. 

 

(22)

Tabel 2.1. 

Faktor, Variabel, dan Indikator Evaluasi DOHP   

FAKTOR 1.  PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT  Variabel 1  Peningkatan Kemakmuran Masyarakat 

Indikator: 

1.1.1. Laju Pertumbuhan PDRB Per Kapita  1.1.2. Pengurangan Angka Kemiskinan 

1.1.3. Kebijakan (Perda, Program, Renstra, Kegiatan) Pemberdayaan  Penduduk Miskin 

Variabel 2  Berkurangnya Ketimpangan Gender  Indikator: 

1.2.1. Produk Hukum (Perda, Peraturan/Keputusan Kepala Daerah)  Tentang Kesetaraan Gender dan/atau Pemberdayaan Perempuan  1.2.2. Bentuk Kelembagaan Yang Menangani Kesetaraan Gender 

dan/atau Pemberdayaan Perempuan (Badan/Dinas/Kantor) 

FAKTOR 2.      GOOD GOVERNANCE   Variabel 1  Efektivitas 

Indikator: 

2.1.1. Ketepatan Waktu Daerah Menetapkan APBD  2.1.2. Daya Serap Anggaran (APBD) Per Tahun   Variabel 2   Transparansi 

Indikator: 

2.2.1.  Produk Hukum Daerah Untuk Transparansi 

2.2.2.  Publikasi APBD dan Pengadaan Barang/Jasa (Procurement)    

Variabel 3  Akuntabilitas  Indikator: 

2.3.1. Pelembagaan Penanganan Pengaduan Masyarakat   2.3.2. Pakta Integritas/Kontrak Kinerja 

2.3.3. Publikasi Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 

2.3.4. Persentase Belanja DPRD dan Persentase Belanja Kepala Daerah  Terhadap APBD 

Variabel 4  Partisipasi  Indikator: 

2.4.1.  Konsultasi Publik Dalam Setiap Proses Penyusunan Perda, APBD,  dll. 

2.4.2.  Jumlah Perda Inisiatif DPRD   

       

(23)

FAKTOR 3.       KETERSEDIAAN PELAYANAN PUBLIK  Variabel 1  Pendidikan 

Indikator: 

3.1.1.     Persentase Anggaran Pendidikan Terhadap APBD  3.1.2.    Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan SD/Sederajat, 

SMP/Sederajat, dan SMA/Sederajat  Variabel 2  Kesehatan 

Indikator: 

3.2.1.   Persentase Anggaran Kesehatan Terhadap APBD  3.2.2.   Persentase Balita Gizi Buruk   

Variabel 3  Penyediaan Sarana dan Prasarana Pelayanan Umum    Indikator: 

3.3.1.     Akses Terhadap Air Bersih dan Sanitasi 

3.3.2.  Panjang  Jalan Per Luas Wilayah (Provinsi/Kabupaten/Kota)    3.3.3.  Inisiatif Pemda untuk Menangani Krisis Listrik   

Variabel 4  Pelayanan Tata Kelola Administrasi Kependudukan   Indikator: 

3.4.1.  Persentase Kepemilikan Kartu Tanda Penduduk (KTP)  3.4.2.   Persentase Kepemilikan Akte Kelahiran 

FAKTOR 4.   PENINGKATAN DAYA SAING DAERAH  Variabel 1  Kebijakan Daerah 

Indikator: 

4.1.1.  Perda Tata Ruang 

4.1.2.  Produk Hukum Daerah (Perda, Peraturan/Keputusan Kepala  Daerah) yang Memberikan Perlindungan Lingkungan Hidup  4.1.3.  Produk Hukum Daerah yang Memberikan Insentif dan/atau 

Kemudahan Kepada Investor untuk Keringanan/Penghapusan  Biaya Pajak dan Retribusi Daerah (yang Tertera dalam Perda,  Peraturan/Keputusan Kepala Daerah) 

Variabel 2  Kelembagaan Daerah  Indikator: 

4.2.1.   Tipologi Institusi Pelayanan Terpadu 

4.2.2.  Ketersediaan informasi Potensi Ekonomi Daerah yang  Ditampilkan Dalam Situs Web Pemda 

Variabel 3  Fasilitasi Investasi   Indikator: 

4.3.1. Anggaran Program Pengembangan Usaha untuk UMKM 

(Anggaran APBD untuk Kegiatan‐kegiatan yang Terkait dengan  Pengembangan Kapasitas UMKM) dalam hal: 

a. Produksi; 

b. Pemasaran; 

c. Akses Finansial; dan 

d. Administrasi Keuangan Daerah. 

4.3.2. Forum Komunikasi Reguler Kepala Daerah (dan Jajaran SKPD  Terkait) dengan Pelaku Usaha yang Menjamin Terlaksananya  Kebijakan Pro‐investasi secara Konsisten 

 

(24)

Variabel 4  Realisasi Investasi   Indikator: 

4.4.1. Jumlah Realisasi Investasi  4.4.2. Nilai Realisasi Investasi 

 

Evaluasi  kinerja  DOHP  ini  akan  menggunakan  data  sekunder  yang  bersifat  obyektif  dari  berbagai  sumber,  antara  lain  dari  Badan  Pusat  Statistik  (BPS),  Departemen  Dalam  Negeri,  Departemen  Keuangan,  Departemen  Kesehatan,  Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Pekerjaan Umum, Bappenas, dan  Pemerintah Daerah serta institusi lainnya. Penggunaan data obyektif diharapkan  akan membuat evaluasi ini dapat menghasilkan informasi tentang kinerja DOHP  yang reliabel. Evaluasi ini akan menggunakan data antar‐waktu per tahun, yang  dikumpulkan sejak DOHP tersebut secara resmi dibentuk.  Dengan menggunakan  data antar‐waktu, maka kecenderungan (trend) perubahan kinerja DOHP dapat  diamati. 

   

2.3. Definisi Operasional   

2.3.1. Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat 

Dalam  Faktor  TOD  ‐  1,  terdapat  2  (dua)  variabel  yang  akan  diukur,  yaitu:  1)  Peningkatan  Kemakmuran  Masyarakat;  dan  2)  Berkurangnya  Ketimpangan  Gender.  Pada  kedua  variabel  tersebut  terdapat  5  (lima)  indikator.  Berikut  ini  penjelasan masing‐masing variabel dan indikator tersebut.  

 

2.3.1.1. Variabel 1 : Peningkatan Kemakmuran Masyarakat 

Pada  Variabel  1  –  Peningkatan  Kemakmuran  Masyarakat  –  terdapat  3  (tiga)  indikator, yaitu: 1) Laju Pertumbuhan PDRB Per Kapita; 2) Pengurangan Angka  Kemiskinan;  dan  3)  Kebijakan  (Perda,  Program,  Renstra,  Kegiatan)  Pemberdayaan  Penduduk  Miskin.  Secara  rinci,  penjelasan  terhadap  indikator‐

indikator tersebut diuraikan berikut ini. 

 

2.3.1.1.1. Laju Pertumbuhan PDRB Per Kapita  Definisi 

PDRB  merupakan  singkatan  dari  Produk  Domestik  Regional  Bruto,  yaitu  penjumlahan  nilai  output  bersih  perekonomian  yang  dihasilkan  dari  seluruh  kegiatan  ekonomi  (mulai  kegiatan  pertanian,  pertambangan,  industri  pengolahan,  sampai  jasa)  di  suatu  wilayah  tertentu  (provinsi,  kabupaten/kota)  dalam  kurun  waktu  tertentu  (biasanya  dihitung  dalam  satu  tahun  kalender). 

PDRB per Kapita adalah angka perbandingan antara PDRB suatu daerah dengan  jumlah penduduk di daerah tersebut. 

 

Kegunaan 

PDRB, seperti telah dijelaskan sebelumnya, digunakan sebagai salah satu ukuran  untuk  menjelaskan  kinerja  ekonomi  suatu  daerah  selama  suatu  periode  waktu  tertentu.  PDRB  per  kapita  berguna  untuk  memperkirakan  tingkat  kinerja 

(25)

ekonomi rata‐rata penduduk di suatu daerah. Semakin tinggi PDRB suatu daerah,  semakin tinggi kemampuan rata‐rata kinerja penduduk di daerah tersebut, dan  semakin tinggi kemampuan kinerja ekonomi daerah tersebut. 

  Cara Menghitung 

PDRB dapat dihitung dengan 2 (dua) cara, yaitu: 

1) Nilai  tambah  barang  dan  jasa  atas  dasar  harga  yang  berlaku  setiap  tahun. 

Angka ini berguna untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi; 

2) Nilai  tambah  barang  dan  jasa  atas  dasar  harga  konstan,  yaitu  nilai  tambah  barang dan jasa tersebut dihitung dengan menggunakan harga yang berlaku  pada satu tahun tertentu. Angka ini berguna untuk memonitor pertumbuhan  ekonomi dari tahun ke tahun. 

 

Dalam  kasus‐kasus  data  dalam  harga  berlaku  tidak  tersedia,  dimungkinkan  untuk  melakukan  estimasi  dengan  melihat  perkembangan  PDRB  atas  dasar  harga konstan. Terdapat 3 (tiga) metode yang dapat digunakan, yaitu: 

1) Revaluasi,  yaitu  perkalian  kuantum  produksi  tahun  berjalan  dengan  harga  tahun  dasar  (tahun  2000),  menghasilkan  langsung  PDRB  atas  dasar  harga  konstan; 

2) Ekstrapolasi,  yaitu  dengan  cara  mengalikan  nilai  tahun  dasar  dengan  suatu  indeks kuantum dibagi 100; 

3) Deflasi, yaitu dengan membagi nilai pada tahun berjalan dengan suatu indeks  harga di bagi 100. 

 

Penghitungan  PDRB  per  Kapita  dapat  dilakukan  dengan  menggunakan  rumus  sebagai berikut: 

             

Sumber Data 

Elemen data tersebut dapat diperoleh dari BPS dan BAPPEDA. 

   

2.3.1.1.2. Pengurangan Angka Kemiskinan  Definisi 

Persentase penduduk di atas garis kemiskinan adalah proporsi penduduk yang  berada di atas garis kemiskinan. 

Angka  Kemiskinan  adalah  prosentase  penduduk  yang  masuk  kategori  miskin  terhadap jumlah penduduk.  

Definisi  kemiskinan  yang  digunakan  dalam  konteks  ini  mengacu  pada  definisi  kemiskinan BPS. Pada tahun 1994, BPS merumuskan kemiskinan sebagai kondisi  dimana  seseorang  hanya  dapat  memenuhi  kebutuhan  makannya  kurang  dari  2.100 kalori per kapita per hari.  

     

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)  Penduduk Pertengahan Tahun 

(26)

Kegunaan 

Indikator  ini  mencerminkan  kemampuan  suatu  daerah  dalam  meningkatkan  kesejahteraan ekonomi penduduk daerah tersebut.  

Keberadaan  kebijakan  pemberdayaan  penduduk  miskin  terkait  dengan  sasaran  penanggulangan  kemiskinan,  yakni  menurunnya  jumlah  penduduk  miskin  laki‐

laki dan perempuan dan terpenuhinya hak‐hak dasar masyarakat miskin secara  bertahap.  

Semakin tinggi nilai indikator ini, semakin mampu suatu daerah  meningkatkan  kesejahteraan  penduduk  daerah  tersebut.  Artinya,  semakin  tinggi  kemampuan  daerah tersebut dalam menyelenggarakan otonomi. 

 

Cara Menghitung 

Angka Kemiskinan dihitung dengan cara membandingkan persentase penduduk  yang masuk kategori miskin terhadap jumlah seluruh penduduk. 

Nilai indikator ini diperoleh dengan menggunakan formula sebagai berikut: 

           

Di mana: 

Penduduk miskin dihitung berdasarkan garis kemiskinan. 

Persentase penduduk di atas garis kemiskinan adalah penduduk yang memiliki  rata‐rata pengeluaran per kapita perbulan di atas garis kemiskinan. 

Garis  Kemiskinan  itu  sendiri  adalah  nilai  rupiah  pengeluaran  per  kapita  setiap  bulan  untuk  memenuhi  standar  minimum  kebutuhan–kebutuhan  konsumsi  pangan dan non pangan yang dibutuhkan oleh individu untuk hidup layak. 

 

Sumber Data 

Elemen data tersebut dapat diperoleh dari BPS yang secara periodik melakukan  pengukuran  kemiskinan  dengan  menggunakan  konsep  kemampuan  memenuhi  kebutuhan dasar (basic needs approach). 

   

2.3.1.1.3. Kebijakan  (Perda,  Program,  Renstra,  Kegiatan)  Pemberdayaan  Penduduk Miskin 

Definisi 

Kebijakan (Perda, Program, Renstra, Kegiatan) Pemberdayaan Penduduk Miskin  adalah  keberadaan  Peraturan  Daerah  dan/atau  Peraturan/Keputusan  Kepala  Daerah dalam upaya pemberdayaan penduduk miskin. 

 

Kebijakan  pemberdayaan  penduduk  miskin  dapat  berupa  perda,  program,  renstra, dan/atau kegiatan untuk percepatan penanggulangan kemiskinan secara  terpadu dan berkelanjutan di daerah. Kebijakan ini terutama dimaksudkan untuk  pencapaian  kesejahteraan  dan  kemandirian  masyarakat  miskin  perdesaan. 

Kesejahteraan  berarti terpenuhinya  kebutuhan  dasar  masyarakat.  Kemandirian  berarti mampu mengorganisir diri untuk memobilisasi sumber daya yang ada di 

Jumlah Penduduk Miskin  x  100         Jumlah Penduduk 

(27)

lingkungannya,  mampu  mengakses  sumber  daya  di  luar  lingkungannya,  serta  mengelola sumber daya tersebut untuk mengatasi masalah kemiskinan.  

 

Kegunaan 

Kebijakan  pemberdayaan  penduduk  miskin  bermanfaat  untuk  penyediaan  lapangan  kerja  dan  pendapatan  bagi  kelompok  rakyat  miskin,  efisiensi  dan  efektivitas  kegiatan,  menguatkan  sistem  pembangunan  partisipatif,  mengembangkan  kelembagaan  kerja  sama  antardesa  serta  menumbuhkan  kebersamaan dan partisipasi masyarakat.  

Melalui  kebijakan  pemberdayaan  penduduk  miskin  diharapkan  masyarakat  miskin,  terutama  kelompok  perempuan  dapat  meningkatkan  partisipasinya  melalui  pelembagaan  pengelolaan  pembangunan  partisipatif  dengan  menggunakan sumber daya lokal. 

Semakin tinggi nilai indikator ini, semakin mampu suatu daerah  meningkatkan  kemakmuran penduduknya.  

 

Cara Menghitung 

Sebutkan Nama/Judul, Nomor, dan Tanggal Perda, Peraturan/Keputusan Kepala  Daerah,  Renstra,  Program,  dan/atau  Kegiatan  yang  mendukung  upaya  pemda  dalam rangka memberdayakan penduduk miskin. 

 

Sumber Data 

Elemen  data  tersebut  dapat  diperoleh  dari  SKPD  yang  menangani  produk‐

produk hukum, pemberdayaan masyarakat, dan BAPPEDA. 

   

2.3.1.2. Variabel 2 : Berkurangnya Ketimpangan Gender 

Pada  Variabel  2  –  Berkurangnya  Ketimpangan  Gender  –  terdapat  2  (dua)  indikator, yaitu: 1) Produk Hukum (Perda, Peraturan/Keputusan Kepala Daerah)  Tentang Kesetaraan Gender dan/atau Pemberdayaan Perempuan; dan 2) Bentuk  Kelembagaan  yang  Menangani  Kesetaraan  Gender  dan/atau  Pemberdayaan  Perempuan (Badan/Dinas/Kantor). Secara rinci, penjelasan terhadap indikator‐

indikator tersebut diuraikan berikut ini. 

 

2.3.1.2.1. Produk  Hukum  (Perda,  Peraturan/Keputusan  Kepala  Daerah)  Tentang Kesetaraan Gender dan/atau Pemberdayaan Perempuan  Definisi 

Produk Hukum Tentang Kesetaraan Gender dan/atau Pemberdayaan Perempuan  adalah  keberadaan  peraturan  daerah,  peraturan/keputusan  kepala  daerah  dan/atau  kebijakan  berupa  renstra,  program,  kegiatan,  dsb.  yang  dikeluarkan  oleh  pemerintah  daerah  dalam  rangka  meningkatkan  partisipasi  perempuan  dalam pembangunan, sebagai akibat dari adanya praktek diskriminasi terhadap  perempuan. 

Keberadaan  produk  hukum  terkait  kesetaraan  gender  merupakan  wujud  perhatian  pemerintahan  daerah  untuk  membuka  akses  sebagian  besar  perempuan  terhadap  layanan  kesehatan  yang  baik,  pendidikan  yang  tinggi,  ketenagakerjaan,  dan  keterlibatan  perempuan  dalam  bidang  politik  serta  kegiatan  publik  lainnya  sekaligus  untuk  meningkatkan  Indeks  Pembangunan  Gender (Gender­related Development Index, GDI). 

Gambar

Tabel 2.1.  Faktor, Variabel, dan Indikator Evaluasi DOHP    FAKTOR 1.  PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT  Variabel 1  Peningkatan Kemakmuran Masyarakat  Indikator:  1.1.1

Referensi

Dokumen terkait

memberikan saran sebagai masukan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka dalam merumuskan kebijakan penataan ruang berkaitan dengan aktifitas tambang timah rakyat. Survei

mengkoordinasikan dan merumuskan serta mempertanggungjawabkan kebijakan daerah yang bersifat sfesifik di bidang pembinaan, pelayanan, pengelolaan dan peningkatan

Berdasarkan hasil evaluasi penataan kelembagaan perangkat daerah khusus bagi perangkat daerah yang menyelenggarakan fungsi penunjang urusan pemerintahan bidang keuangan

Evaluasi empiris dalam arti luas menekankan teknik-teknik untuk menilai efisiensi dan efektivitas kebijakan publik. Evaluasi empiris berusaha menilai dampak kebijakan

Terkait dengan hal tersebut, Pemerintah daerah berusaha merumuskan kebijakan daerah yang bersifat spesifik dalam urusan pemerintah di bidang lingkungan hidup pada

Terkait dengan hal tersebut, Pemerintah daerah berusaha merumuskan kebijakan daerah yang bersifat spesifik dalam urusan pemerintah di bidang lingkungan hidup yang

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk merumuskan model kebijakan hukum desentralisasi dan otonomi daerah pengelolaan lingkungan yang berbasis pendekatan ekosistem, yang

Evaluasi Kebijakan Menurut Dunn 2019: "Evaluasi kebijakan adalah pendekatan sistematis untuk menilai dampak dan kualitas dari kebijakan pemerintah, serta untuk memahami apakah kebijakan