8 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Durasi Penggunaan Komputer
Menurut KBBI, durasi memiliki arti yaitu lamanya sesuatu berlangsung (KBBI, 2019). Jadi arti durasi penggunaan komputer yaitu lamanya penggunaan komputer. Dalam konteks ini yaitu lamanya pegawai menggunakan komputer dalam satu hari bekerja.
Durasi seseorang bekerja dengan baik dalam sehari pada umumnya 6-10 jam, sisanya dipergunakan untuk kehidupan dalam keluarga dan masyarakat, istirahat, tidur, dan lain-lain. Memperpanjang waktu kerja lebih dari kemampuan lama kerja tersebut biasanya tidak disertai efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja yang optimal, bahkan biasanya terlihat penurunan kualitas dan hasil kerja serta bekerja dengan waktu yang berkepanjangan timbul kecenderungan untuk terjadinya kelelahan, gangguan kesehatan, penyakit dan kecelakaan serta ketidakpuasan (Suma’mur, 2014).
Komputer memiliki banyak bagian, salah satunya yaitu monitor.
Monitor komputer memancarkan radiasi yang dapat diserap oleh mata saat menggunakan komputer. Jumlah dosis radiasi yang diserap oleh mata tergantung pada durasi paparan radiasi tersebut. Lamanya seorang pekerja terpajan suatu faktor risiko yang dapat diukur berdasarkan menit atau jam
perhari dari suatu risiko. Secara umum seorang pekerja yang mengalami lama paparan dan terpajan lebih besar, akan mengalami tingkat risiko yang lebih besar Menurut American Optometric Association, siapapun yang menghabiskan waktu lebih dari 2 jam untuk bekerja di depan komputer mungkin berada dalam risiko berkembangnya ketegangan mata dan kesulitan untuk memusatkan perhatian. Asosiasi ini melaporkan bahwa komputer dapat memperburuk kondisi, seperti miopia (Hanum, 2008).
Pengelompokan beban kerja pekerja komputer berdasarkan durasi kerjanya pernah dibahas The University of North Carolina di Asheville dalam (Zubaidah, 2012) sebagai berikut:
a. Pekerja komputer dengan beban kerja berat adalah pekerja dengan lama waktu kerja 4 jam sehari secara terus-menerus.
b. Pekerja komputer dengan beban kerja sedang adalah pekerja dengan lama waktu kerja antara 2-4 jam sehari secara terus-menerus.
c. Pekerja komputer dengan beban kerja ringan adalah pekerja dengan lama waktu kerja kurang dari 2 jam sehari secara terus-menerus.
Menurut Kartika dalam skripsi Azizah dinyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap individual yang menggunakan komputer lebih dari enam jam dibandingkan yang kurang dari enam jam (Azizah, 2019). Ketika seorang pengguna komputer memfokuskan pandangan mereka pada layar dalam jangka waktu yang lama, otot- otot kecil dalam mata mereka akan terus berkontraksi dan hal tersebut
mengakibatkan kelelahan, kaburnya penglihatan dan juga kesulitan untuk memfokuskan pikiran (Firdaus, 2013).
Penggunaan komputer tanpa diselingi waktu istirahat dapat menurunkan kemampuan akomodasi mata sehingga gejala dari computer vision syndrome ini semakin berat. Penelitian menunjukan bahwa, apabila diselingi istirahat secara regular selama pemakaian komputer, terjadi peningkatan kualitas kerja. The National Institute of Occupational Safety and Health menyatakan bahwa istirahat yang dilakukan beberapa kali menurunkan ketidaknyamanan yang dirasakan pengguna komputer dan meningkatakan produktivitas kerja dibandingkan istirahat sekali dalam waktu yang lama di waktu -waktu tertentu.
Tenaga pendidik di era ini adalah pegawai kantor yang menggunakan komputer sebagai alat utama dalam pekerjaan mereka. Di era modern seperti sekarang ini sudah banyak yang meninggalkan mesin ketik manual dan beralih menggunakan komputer yang memiliki lebih banyak kelebihan dibandingkan mesin ketik. Durasi penggunaan komputer pada pekerja kantor bervariasi tergantung pekerjaan dan kebutuhan dalam bekerja, namun rata-rata menggunakan komputer selama lebih dari 2 jam. Sehingga sangat besar peluang bagi pekerja kantoran untuk mengalami keluhan CVS. Penelitian mengenai hubungan antara durasi penggunaan komputer dengan keluhan CVS pada pegawai kantoran pengguna komputer pernah dilakukan oleh Berliana dan didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara
statistik antara durasi penggunaan komputer dengan keluhan kelelahan mata pada pengguna komputer dimana nilai p value=0,000 (Berliana 2017).
2. Jarak Pandang
Pekerjaan dengan komputer merupakan pekerjaan melihat dalam jarak dekat. Proses melihat jarak dekat memerlukan suatu mekanisme akomodasi sehingga mata dapat memfokuskan objek penglihatan ke retina dan terbentuk bayangan yang jatuh tepat di retina. Mekanisme tersebut menyebabkan objek yang terlihat menjadi jelas.
Mata memiliki resting point of accommodation (RPA) yaitu suatu suatu titik di mana mata akan fokus tanpa suatu stimulus visual atau ketika dalam keadaan gelap. Nilai RPA masing-masing individu bervariasi antara 20-37 inci (50,8 cm- 93,98 cm). Ada pula istilah lain yang disebut dengan lag yang merupakan selisih antara RPA seseorang dengan jarak penglihatan orang tersebut. Kebiasaan memfokuskan objek penglihatan pada jarak yang lebih pendek dari RPA yang seharusnya, seperti pada pekerja komputer, dapat memicu stress pada mata dan semakin besar lag maka semakin besar pula stressor pada mata (Herman Miller Inc., 2001).
Menurut Occupational Safety and Health Association (OSHA) (1997) jarak antara mata dengan layar monitor komputer yang baik yaitu 18-24 inch atau 46–61 cm, sedangkan jarak ideal yaitu 20 inch atau sekitar 50,80 cm. Penelitian oleh Chiemeke et al. melaporkan bahwa
keluhan adanya gangguan penglihatan lebih banyak pada pekerja dengan jarak penglihatan kurang dari 10 inci (25,4 cm) (Chiemeke, et al., 2007).
Pekerja umumnya menggunakan komputer dengan posisi duduk saat bekerja. Dalam posisi duduk menyebabkan jarak pandang ke komputer semakin dekat dibandingkan posisi berdiri. Jarak pandang mata dengan layar komputer pada pekerja kantoran dapat bervariasi berdasarkan kenyamanan, pengetahuan, dan penyakit pada mata yang menyebabkan mata tidak dapat melihat objek secara jelas. Penelitian mengenai hubungan antara jarak penglihatan dengan keluhan CVS pada karyawan pengguna komputer pernah dilakukan oleh Nopriadi dan didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan antara jarak penglihatan dengan keluhan CVS pada pengguna komputer dimana nilai p value=0,016 (Nopriadi et al., 2019).
3. Penyakit Akibat Penggunaan Komputer a. Postur tubuh melengkung (Kifosis)
Kifosis (kyphosis) adalah kelainan di lengkungan tulang belakang yang membuat punggung bagian atas terlihat membulat atau bengkok tidak normal. Setiap orang memiliki tulang belakang yang melengkung, pada kisaran 25 sampai 45 derajat. Akan tetapi pada penderita kifosis, kelengkungan tulang belakang bisa mencapai 50 derajat atau lebih. Kondisi tersebut membuat orang menjadi bungkuk (Marianti, 2018).
Duduk dalam waktu yang cukup lama dengan satu posisi tertentu dapat merusak postur tubuh. Para pekerja kantoran sering
melakukannya, karena lebih sering mengerjakan tugas di belakang meja komputer. Hal ini disebabkan oleh posisi duduk yang keliru.
Posisi duduk yang kurang tepat, misalnya misalnya duduk dambil membungkuk, bisa memicu kelainan postur tubuh hingga kerusakan pada tulang belakang (Suwagi, 2017).
b. Carpal Tunnel Syndrome (CTS)
CTS adalah cedera yang berhubungan dengan stres yang disebabkan oleh gerakan berulang sendi di pergelangan tangan. CTS timbul dari kompresi median saraf di mana ia melewati terowongan karpal di pergelangan tangan. Itu menjadi umum karena komponen komputer yang ditempatkan dengan buruk dan pengetikan yang luas untuk periode waktu yang lama (Akinbinu dan Mashalla, 2014).
Andersen et al., (2003) melaporkan bahwa satu dari delapan pengguna profesional komputer menderita CTS dan mengutip mouse sebagai penyebab utama gangguan dan kesemutan / mati rasa di tangan kanan dikaitkan dengan waktu yang dihabiskan menggunakan mouse. Gejala kesemutan / mati rasa pada malam hari mengungkapkan hubungan yang signifikan ketika waktu yang dihabiskan menggunakan mouse melebihi 30 jam per minggu.
Mereka menyimpulkan bahwa penggunaan mouse merupakan risiko pekerjaan yang penting dalam timbulnya CTS.
c. Computer vision syndrome (CVS)
American Optometric Association (AOA) mendefinisikan CVS sebagai kumpulan gejala pada mata dan penglihatan yang berhubungan dengan aktivitas yang memberatkan penglihatan jarak dekat dan berlangsung selama atau setelah penggunaan komputer, tabelt, e-reader, dan telepon seluler (AOA, 2019). Keluhan computer vision syndrome (CVS) merupakan variabel terikat yang diambil dalam penelitian ini.
Peneliti menentukan untuk mengambil topik mengenai keluhan computer vision syndrome di Sekolah Vokasi UNS karena penyakit keluhan CVS ini merupakan penyakit yang sering terjadi kepada pekerja kantoran yang menggunakan komputer sebagai alat utama mereka dalam bekerja. Sekolah Vokasi memiliki banyak pekerja yang bekerja di depan komputer, dan penelitian mengenai keluhan CVS belum pernah dilakukan di tempat ini.
4. Computer Vision Syndrome
a. Pengertian Computer Vision Syndrome (CVS)
Berikut ini adalah beberapa definisi Computer vision syndrome (CVS) yang diperoleh dari berbagai sumber, yaitu:
American Optometric Association (AOA) mendefinisikan CVS sebagai kumpulan gejala pada mata dan penglihatan yang berhubungan dengan aktivitas yang memberatkan penglihatan jarak dekat dan berlangsung selama atau setelah penggunaan komputer, tabelt, e-reader, dan telepon seluler (AOA, 2019). Computer vision syndrome (CVS) juga merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan kumpulan gejala berupa rasa tegang pada mata, rasa tidak nyaman pada mata, sakit
kepala, mata kering, penglihatan buram pada jarak dekat, dan penglihatan ganda yang terjadi pada pengguna komputer. Keluhan lain yang dapat dirasakan pasien adalah rasa gatal pada mata, mata merah, rasa panas pada mata, dan mata berair (Agarwal, Goel and Sharma, 2013).
b. Penyebab Keluhan Computer Vision Syndrome 1) Faktor Internal
a) Usia
Semakin tua seseorang, lensa semakin kehilangan kekenyalan sehingga daya akomodasi makin berkurang dan otot- otot semakin sulit dalam menebalkan dan menipiskan mata. Hal ini disebabkan setiap tahun lensa semakin berkurang kelenturannya dan kehilangan kemampuan untuk menyesuaikan diri. Sebaliknya semakin muda seseorang, kebutuhan cahaya akan lebih sedikit dibandingkan dengan usia yang lebih tua dan kecenderungan mengalami kelelahan mata lebih sedikit. Seseorang mempunyai kondisi kesehatan mata normal antara umur 20-40 tahun (Ilyas, 2013). Usia diatas 50 tahun akan mengalami penurunan daya akomodasi yang kemudian akan mempengaruhi kerja otot mata (Hall and Guyton, 2014).
b) Jenis Kelamin
Jenis kelamin dapat menentukan tingkat kelelahan.
Perempuan biasanya lebih mudah merasa lelah dibandingkan
dengan laki-laki. Perempuan dan laki-laki memiliki kemampuan fisik, ukuran tubuh dan kekuatan otot yang berbeda. Perempuan relatif memiliki ukuran tubuh, kemampuan fisik, dan kekuatan otot yang lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki (Suma’mur, 2014).
Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa kejadian CVS pada perempuan lebih banyak dari pada laki- laki walaupun tidak berbeda secara bermakna. Secara fisiologis, lapisan tear film pada perempuan cenderung lebih cepat menipis seiring dengan meningkatnya usia. Penipisian tear film menyebabkan mata terasa kering, yang juga merupakan salah satu gejala CVS. Perbedaan fisiologis lainnya adalah penurunan sekresi air mata, perbedaan ukuran atau massa tubuh, dan fungsi hormon. Selain itu, perempuan memiliki tingkat stress yang lebih tinggi yang tidak berkaitan dengan pekerjaan, yaitu mengurus anak dan pekerjaan rumah. Perempuan juga lebih sering mendatangi pelayanan kesehatan jika merasakan suatu ketidaknyamanan pada tubuhnya. (Azkadina, 2012)
c) Penggunaan Kacamata
Pengguna kacamata menunjukkan keluhan yang signifikan pada penelitian di Malaysia (Sen and Richardson, 2007). Hasil yang sama dilaporkan oleh Reddy yang meneliti
hubungan penggunaan kacamata dengan kejadian keluhan pada penderita CVS adalah signifikan dibandingkan dengan responden yang tidak menggunakan kacamata (Reddy et al., 2013). Afifah (2014) menyimpulkan bahwa pengguna kacamata memiliki risiko 3,5 lebih besar untuk mengeluhkan gejala CVS. Hasil yang berbeda didapatkan dari penelitian oleh Agarwal yang melaporkan bahwa keluhan CVS, seperti mata merah, mata tegang, dan sakit kepala banyak terjadi pada responden yang tidak menggunakan kacamata dibandingkan dengan responden dengan refractive errors yang telah dikoreksi dengan kacamata (Agarwal, Goel and Sharma, 2013).
d) Frekuensi istirahat
Pekerja komputer dianjurkan untuk istirahat selama 15 menit setelah bekerja terus-menerus dengan komputer selama 2 jam dengan beban kerja sedang dan 1 jam pada beban kerja berat. Hal ini dimaksudkan untuk memotong rantai kelelahan sehingga akan menambah kenyamanan lebih lama bagi pengguna komputer. Interaksi dengan komputer yang cukup lama sangat potensial menyebabkan terjadinya keluhan pada mata yang berakibat pada penurunan produktivitas kerja (Ilyas, 2013).
Penelitian oleh Azkadina (2012), menunjukkan bahwa lama istirahat berhubungan secara signifikan dengan kejadian CVS. Pekerja pengguna komputer yang menyempatkan istirahat selama kurang dari 10 menit bensiko mendenta CVS sebesar tiga belas setengah kali lipat dibandingkan dengan pekerja pengguna komputer yang menyempatkan istirahat selama lebih dari atau sama dengan 10 menit.
e) Riwayat Penyakit Tertentu
Beberapa penyakit dapat mengurangi sekresi air mata atau meningkatkan penguapan air mata yang memperberat terjadinya mata kering pada pekerja komputer. Penurunan sekresi air mata bisa terjadi akibat diabetes mellitus, hipertensi, Sjogren’s syndrome (suatu keadaan autoimun yang juga mempengaruhi kelenjar air mata dan kelenjar ludah), arthritis, adanya suatu obstruksi pada kelenjar air mata, dan reflek hiposekresi akibat adanya penurunan respon sensorik pada cedera nervus trigeminus atau nervus fasialis.
Peningkatan penguapan air mata bisa berasal dari disfungsi kelenjar Meibom, konjungtivitis alergi, defisiensi vitamin A, dan penyakit tiroid (Rosenfield, 2011).
2) Faktor Eksternal
a) Intensitas Pencahayaan
Intensitas pencahayaan yang kurang dapat mengakibatkan kelelahan pada mata yang akhirnya menjadi CVS, namun penerangan yang terlalu kuat juga dapat menyebabkan kesilauan. Penerangan yang memadai bisa mencegah terjadi keduanya. Penerangan yang kurang bukan menyebabkan penyakit mata tetapi menimbulkan kelelahan mata. Tingkat pencahayaan yang baik memungkinkan seseorang untuk bekerja dengan efisiensi kerja yang maksimal (Ilyas, 2013).
Sesuai dengan Permenaker RI No. 5 tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja, standar pencahayaan untuk ruang administrasi dengan jenis pekerjaan rutin sebesar 300 lux.
Tabel 1. Standar Tingkat Pencahayaan Jenis Kegiatan Pencahayaan
Minimal (LUX)
Keterangan
Pekerjaan kasar dan tidak terus menerus
100 Ruang penyimpanan dan ruang peralatan/instalasi yang memerlukan pekerjaan yang kontinyu
Pekerjaan kasar dan terus menerus
200 Pekerjaan dengan mesin dan perakitan kasar
Pekerjaan rutin 300 Ruang administrasi, ruang kontrol, pekerjaan mesin dan perakitan/
penyusun Pekerjaan agak
halus
500 Pembuatan gambar atau bekerja dengan mesin kantor pekerja
pemeriksaan atau pekerjaan dengan mesin
Pekerjaan halus 1000 Pemilihan warna, pemrosesan tekstil, pekerjaan mesin halus dan perakitan halus
Pekerjaan amat halus
1500 Mengukir dengan tangan, pemeriksaan pekerjaan mesin dan perakitan yang sangat halus
Pekerjaan terinci 3000 Tidak menimbulkan bayangan pemeriksaan pekerjaan, perakitan sangat halus
Sumber: Permenaker RI No. 5 tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja
b) Sikap Kerja
Sikap kerja dan cara kerja yang salah ketika bekerja akan mengganggu performa kerja, membatasi penggunaan kapasitas kerja yang menyebabkan banyak munculnya kesalahan, menurunkan produktivitas, dan kualitas produk.
Sikap tubuh saat bekerja dipengaruhi oleh bentuk, ukuran, susunan, dan penempatan mesin dan peralatan. Selain itu cara kerja pengoperasian peralatan dan mesin juga mempengaruhi sikap tubuh dalam bekerja. Arah penglihatan untuk pekerjaan berdiri adalah 23-37° ke bawah, dan 32-44°
ke bawah untuk pekerjaan duduk (Suma’mur, 2014).
Menurut Ramdan (2013), sikap kerja adalah sikap tubuh seorang pekerja saat melakukan pekerjaan. Sikap tubuh dalam bekerja adalah sikap ergonomi sehingga mencapai
efisiensi dalam bekerja dan produktivitas yang optimal dengan memberikan rasa nyaman ketika bekerja. Apabila sikap tubuh saat bekerja salah dalam melakukan pekerjaan akan meningkatkan rasa lelah dan gangguan lainnya ketika bekerja.
c. Gejala Kelelahan Mata / Computer Vision Syndrome
Menurut Ramdan (2013), gejala-gejala keluhan kelelahan mata disebabkan karena penggunaan otot-otot di sekitar mata yang terlalu berlebihan. Gejala-gejala kelelahan mata ditandai adanya:
1) Iritasi pada mata (mata pedih, merah dan berair) 2) penglihatan rangkap / ganda
3) Sakit sekitar mata
4) Berkurangnya kemampuan akomodasi
5) Menurunnya ketajaman penglihatan, kepekaan kontras dan kecepatan persepsi.
d. Dampak Computer Vision Syndrome (CVS) terhadap Kesehatan Computer vision syndrome berdampak pada kesehatan fisik seseorang, antara lain terhadap mata dan fungsi penglihatan, selain itu juga dapat mempengaruhi sistem muskuloskeletal. Gejala sistem muskuloskeletal yang paling sering dikeluhkan adalah nyeri di daerah bahu, punggung, dan lengan. Computer vision syndrome ternyata juga berdampak pada kesehatan mental seseorang.
Penelitian oleh Ye et al., (2007) melaporkan bahwa bekerja di depan
komputer selama lebih dari sama dengan lima jam sehari berasosiasi secara signifikan dengan menurunnya status kesehatan mental.
Penelitian ini juga mendapatkan adanya hubungan antara gejala fisik dengan status mental yang buruk.
e. Pengukuran Keluhan Computer Vision Syndrome
Salah satu cara untuk mengukur kelelahan mata yang diakibatkan oleh paparan radiasi gelombang elektromagnetik dari layar komputer adalah dengan mengajukan pertanyaan atau kuesioner. Kuesioner mengenai kelelahan mata ini telah mengalami perbaikan berberapa kali dalam sepuluh tahun terakhir. Berawal dari sebuah kuesioner yang disebut Kuesioner keluhan CVS diambil dari kuesioner yang dibuat oleh Segui, Cabrero-Garcia, Crespo, et al.
(Seguí et al., 2015). Kuesioner tersebut terdiri dari 16 gejala termasuk di dalamnya yaitu frekuensi dan intensitas masing-masing gejala. Sensitivitas dan spesifitas kuesioner ini yaitu lebih dari 70%.
Kuesioner kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan dilakukan uji validitas dan relibialitas. Validitas kuesioner diambil dari nilai Pearson Correlation yang nilainya harus lebih dari nilai r tabel (r hitung > r tabel). Sampel yang digunakan dalam penelitian Valentina sebanyak 50 responden sehingga nilai r tabel adalah 0,2787. Hasil yang didapatkan adalah 15 dari 16 pertanyaan valid dan satu pertanyaan yang tidak valid dihilangkan dari kuesioner.
Reliabilitas kuesioner dihitung dengan membandingkan nilai
Cronbach’s Alpha hasil perhitungan dengan nilai minimal (0,6).
Nilai Cronbach’s Alpha yang didapatkan adalah 0,629 dan nilai ini lebih dari nilai minimal (Valentina, 2018).
f. Pencegahan
Pencegahan terhadap CVS dapat dilakukan yaitu dengan modifikasi faktor lingkungan dan perawatan mata oleh pengguna komputer (Valentina, 2018).
1) Modifikasi Faktor Lingkungan
a) Penggunaan filter atau penyesuaian pencahayaan ruangan dapat mengurangi kelelahan penglihatan akibat cahaya terang dari jendela lampu fluorescent yang dipakai sebagai penerangan yang dapat menyebabkan cahaya silau.
b) Pencahayaan komputer dan pencahayaan ruangan harus sama untuk mencegah gejala mata tegang.
c) Penggunaan screen filter untuk mengurangi pantulan pada layar komputer.
2) Perawatan Mata
1) Melakukan Sebuah relaksasi mata yang dilakukan per dua puluh menit untuk menurunkan kelelahan mata akibat paparan radiasi layar komputer (The Vision Council, 2015).
2) Menggunakan obat tetes mata untuk mengurangi mata
kering karena berkurangnya refleks kedip.
3) Menggunakan kacamata koreksi pada pengguna komputer dengan kelainan refraksi.
g. Hubungan Durasi Penggunaan Komputer dan Jarak Pandang dengan Keluhan Computer Vision Syndrome (CVS)
CVS pada pengguna komputer disebabkan oleh stres yang terjadi pada fungsi penglihatan. Stres pada otot akomodasi dapat terjadi pada saat seseorang berupaya untuk melihat pada objek berukuran kecil dan pada jarak yang dekat dalam waktu yang lama.
Pada kondisi demikian, otot-otot mata akan pengakomodasi (otot- otot siliar) makin besar sehingga terjadi peningkatan asam laktat dan sebagai akibatnya terjadi kelelahan mata, stres pada retina dapat terjadi bila terdapat kontras yang berlebihan dalam lapangan penglihatan dan waktu pengamatan yang cukup lama (Ilyas, 2013).
Susila (2001) menyatakan, apabila melihat obyek pada jarak dekat, maka mata akan mengalami konvergensi. Konvergensi mata ini berusaha menempatkan bayangan pada daerah retina yang sama di kedua bola mata. Bila usaha ini gagal mempertahankan konvergensi, maka bayangan akan jatuh pada dua tempat yang berbeda pada retina. Bila diteruskan ke otak, maka orang akan melihat dua obyek. Penglihatan ini menyebabkan rasa tidak nyaman.
Hal ini akan lebih diperparah jika dilakukan dalam waktu yang lama.
Notoadmojo (2012) menyatakan, lamanya paparan layar monitor yang memancarkan radiasi yang dapat diserap oleh mata saat menggunakan computer. Jumlah dosis radiasi yang diserap oleh mata tergantung pada lama paparan radiasi tersebut. Lamanya seseorang pekerja terpajan suatu faktor resiko yang dapat diukur berdasarkan menit atau jam perhari dari suatu resiko. Secara umum seorang pekerja yang mengalami lama paparan yang terpajan lebih besar akan mengalami tingkat resiko yang lebih besar. Computer vision syndrome terjadi setelah penggunaan komputer dalam jangka waktu lama atau lebih 30 menit perhari, namun ada yang baru terjadi setelah beberapa hari kemudian (Suma’mur, 2014).
Tenaga pendidik adalah pekerja yang membutuhkan waktu yang lama di depan komputer apalagi jika ditambah jarak pandang yang tidak tepat maka akan lebih cepat menyebabkan kelelahan pada mata yang disebut dengan computer vision syndrome (CVS).
Penelitian oleh Nopriadi (2019) yang dilakukan pada pekerja kantoran yang menggunakan komputer menunjukkan adanya hubungan antara jarak penglihatan (nilai p=0,016) dan lama bekerja (nilai p=0,000) dengan keluhan CVS.
B. Kerangka Pemikiran
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Keterangan:
Jarak pandang Durasi
penggunaan komputer
Otot siliaris menjadi tegang
Mata terlalu dekat dengan komputer
Akomodasi mata dalam waktu lama
Penurunan Fisiologis
Akomodasi berlebih pada mata
Ketegangan pada otot mata
Faktor Internal:
1. Usia
2. Jenis Kelamin 3. Penggunaan
kaca mata 4. Frekuensi
Istirahat
5. Riwayat Penyakit Tertentu
Keluhan CVS Faktor Eksternal:
1. Intensitas Pencahayaan 2. Sikap Kerja
: Diteliti : Tidak Diteliti
C. Hipotesis
Ho: Tidak terdapat hubungan durasi penggunaan komputer dan jarak pandang dengan keluhan computer vision syndrome pada tenaga pendidik Sekolah Vokasi UNS.
Ha: Terdapat hubungan durasi penggunaan komputer dan jarak pandang dengan keluhan computer vision syndrome pada tenaga pendidik Sekolah Vokasi UNS.